Materi Hadits Level -1

Keterangan

Pelajaran hadits level pertama pada acara Daurah Syar’iyah yang diadakan di Kantor Jaliyat Rabwah.

Download

Deskripsi terperinci

 Panduan Hadits Level- 1

 Berbicara Baik dan Wajah Berseri

Hadits no :1

(( عن أبي ذرّ t قال : قالَ لي النبي e : لاَ تَحْقِرَنَّ منَ المعْرُوفِ شَيْئاً ولوْ أنْ تَلْقَ أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ)) رواه مسلم )[1](.

1.      Dari Abi Dzar t, berkata : “ Rasulullah e bersabda : “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri” (HR. Muslim)

Perawi hadits:

Abu Dzar t adalah termasuk kalangan sahabat yang zuhud dan dari kalangan muhajirin, masuk Islam sejak awal dan kisah-kisah hidupnya banyak sekali. Ia meninggal pada tahun 32 Hijrah pada masa khilafah Utsman t

 Makna Secara Umum

     Hadits ini membimbing kita bahwa selayaknya bagi seorang muslim tidak meremehkan apa yang dalam pandangan syar’i baik untuk dikerjakan. Dan seseorang hendaknya menjumpai teman-temannya dengan berseri, gembira dan senyuman sebab lahiriyah manusia merupakan tanda batinya maka menjumpai saudara dengan seperti itu dapat memberikan rasa cinta dan gembira kepada mereka.

Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits:

1.      Tidak boleh meremehkan kebaikan sekalipun sesuatu yang ringan.

2.      Menggunakan kelembutan dan keceriaan ketika bersama teman

3.      Anjuran kepada hal-hal yang dapat menguatkan ikatan persaudaraan Islam

4.      Keceriaan di hadapan saudaramu merupakan kebaikan

 Penunjuk Kebaikan Seperti Yang Berbuat

 Hadits no : 2

(( عن أبي هريرة t أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ e قالَ : منْ دعاَ إلى هُدَى كَانَ له من الأجرِ مثلُ أُجورِ منْ تَبِعَهُ لا ينْقُصُ ذَلِكَ منْ أُجْورِهمْ شَيْئاً ومنْ دعاَ إِلىَ ضَلاَلةِ كاَن عليهِ من الإثمِ مثْلُ آثامِ مَنْ تبعَهُ لاَ ينْقُصُ ذَلِكَ من آثامهم شَيئاً)) رواه مسلم.

2.      Dari Abu Hurairah t bahwasanya Rasulullah e bersabda: “ Barangsiapa menyeru kepada hidayah (petunjuk) maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim)([2])

 Perawi Hadits

     Dia adalah Abdurrahman bin Shakhr Ad Dausy, masuk Islam pada tahun Khaibar tahun 7 H, selalu menyertai Rasulullah e karena kecintaannya terhadap ilmu dan tergolong sahabat yang paling banyak hafalan haditsnya.

 Makna Secara Umum

     Rasul e sang pembawa petunjuk  menganjurkan umatnya untuk berbuat kebaikan dan menyerukannya. Bahwasanya siapa yang membimbing orang lain kepada petunjuk maka ia mendapatkan pahala besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa mengurangi pahala yang mengikutinya “Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya” dan barangsiapa menjerumuskan seseorang kepada perbuatan dosa sekalipun sedikit atau menyuruhnya atau membantu dalam mengerjakannya maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa manusia yang mengerjakannya. Lantas bagaimana halnya dengan orang-orang yang berpaling dari Syariat Allah dan menerapkan hukum dengan undang-undang buatan manusia serta mengakui ideologi atheis yang menghancurkan kehidupan. Mereka semua berpaling dari Kitabullah dan tersesat dari jalan yang lurus. Dan pasti akan ditimpakan pada mereka  dosa dari  penyimpangan-penyimpangan ini yang banyak membuat para pemuda menyeleweng dari kebenaran dan jalan Allah yang lurus.

 Faedah Yang Bisa Dipetik dari Hadits

1.      Keutamaan menunjukan kepada kebaikan dan anjuran mengerjakannya serta pahalanya yang besar

2.      Bahwa pahala yang diberikan kepada orang yang memberikan petunjuk tidak mengurangi pahala yang mengikutinya

3.      Ancaman keras bagi siapa yang menyeru kepada bid’ah atau kesesatan dan hal itu merupakan sebab penyimpangan manusia dari kebenaran

 Haramnya Saling Membenci dan Hasad

 Hadits no : 3

))عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ((   متفق عليه .

4.            dari Anas bin Malik t bahwasanya Rasulullah e bersabda: “ Janganlah kalian saling membenci, saling hasad (dengki), saling membelakangi. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak dihalalkan bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari” (Muttafaq Alaih)(([3]

 Perawi Hadits

     Dia adalah Anas bin Malik Al Anshori pembantu Rasulullah e meriwayatkan banyak hadits dan meninggal pada tahun 92 H t

 Makna Hadits Secara Umum

     Pada hadits ini Rasulullah e membimbing kita kepada perkara yang mengharuskan kita menjadi bersaudara, saling mencintai, bersatu hati serta saling berinteraksi antara kita dengan interaksi baik secara Islami, yang menunjukkan kita kepada akhlaq mulia dan menjauhkan kita dari keburukannya. Menghilangkan dari hati kita perasaan hasad dan benci serta menjadikan hubungan (muamalah) kita hubungan secara Islam yang mulia.

     Hadits tersebut juga menunjukan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan dalam Islam lebih kuat daripada ikatan nasab dan darah karena landasannya adalah iman kepada Allah. Maka tidak boleh bagi seorang muslim menjauhi saudaranya atau berpaling darinya lebih dari tiga hari selama hal itu tidak terdapat sebab yang diperbolehkan oleh agama yang diharapkan orang yang yang dijahui tersebut kembali dari penyimpangan dalam agama.

 Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits.

1.      Haramnya perbuatan  saling membenci, saling hasad, saling bertolak belakang dan saling memutuskan hubungan.

2.      Larangan untuk menyakiti/mengganggu seorang Muslim dalam bentuk apapun.

3.      Haramnya menjahui saudaranya Muslim lebih dari tiga hari.

4.      Semua perbuatan tersebut bukanlah dari akhlaq seorang Muslim.

5.      Anjuran untuk bersaudara dan bersatu hati diantara sesama Muslim

 Diantara Etika Makan dan Minum.

 Hadits no : 4

(( عن عمر بن سلمة قال : كُنْتُ فيِ حِجْرِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَتْ يَدِي تَطِيْشُ فيِ الصَحْفَةِ ، فَقَالَ ليِ : يَا غُلاَم سَمِّ اللهِ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ )). رواه مسلم

Dari Umar bin Abi Salamah berkata : “ Dulu aku berada dalam didikan Rasulullah e, adalah tanganku berpindah-pindah pada piring makan. Maka beliau bersabda padaku : “ Wahai anak, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang di dekatmu” (HR. Muslim)([4])

Perawi  Hadits :

     Dia adalah Umar bin Abi Salamah yang dididik di rumah Rasulullah e, dilahirkan pada tahun kedua hijrah, dan pernah diangkat Ali bin Abi Thalib untuk  memerintah di Bahrain. Wafat di Madinah tahun 83 H.

 Makna Hadits secara umum

     Dalam hadits ini terdapat petunjuk agar menyebut Nama Allah sebelum makan dan dengan tangan kanan dan menunjukkan akan haramnya makan dan minum dengan tangan kiri. Karena hal itu perbuatan dan perilaku syetan. Sedangkan seorang Muslim diperintahkan untuk menjahui cara-cara orang-orang yang fasik lebih-lebih dari syetan. Nafi’ telah memberikan tambahan : dalam hal mengambil  dan memberi. Demikian pula seorang muslim hendaknya makan dari makanan yang terdekat darinya.

 Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits.

  1. Disyariatkan menyebut nama Allah sebelum memulai makan.
  2. Jika lupa untuk mengucapkan basmalah di awalnya hendaklah mengucapkan “Dengan nama Allah di awalnya dan akhirnya”.
  3. Jika anda makan, maka makanlah dengan tangan kanan. Dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanan juga.
  4. Mengucapkan “ Al-Hamdulillah “ setelah selesai dari makan dan minum.
  5. Jika anda duduk untuk makan, maka makanlah yang dekat dari anda.

 Diantara Etika Bersin

 Hadits : 5

(( عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إِذاَ عَطِسَ أَحَدُكمْ فلْيَقُلْ الحمدُ للهِ وليَقُلْ أَخُوهُ أوْ صَاحِبهُ يرْحَمُكَ اللهُ فإذا قَالَ لهُ يَرْحَمُكَ اللهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحْ بَالَكُمْ )) رواه البخاري.

     Dari Abu Hurairah t dari Nabi e, Beliau bersabda : “ Jika salah seorang dari kamu bersin hendaklah mengucapkan : Al-Hamdulillah” Hendaklah saudaranya atau temannya menjawab :“Yarhamukallah” (semoga Allah mengasihimu), dan jika saudaranya mengucapkan “Yarhamukallah” maka hendaklah ia mengucapkan : “Yahdikumullah wa yuslihu balakum”, (Semoga Allah menunjukimu dan memperbaiki kondisimu)”.  (HR. Bukhari)([5])

Perawi Hadits.

Dia adalah Abdul Rahman bin Sakhr Ad-Dausy, masuk Islam pada tahun perang khaibar  7 H, senantiasa menyertai Rasulullah e karena kecintaannya terhadap ilmu dan tergolong sahabat yang paling banyak menghafal hadits.

Makna Hadits Secara Global .

     Dalam hadits ini terdapat dalil akan agungnya ni’mat Allah atas orang yang bersin. Hal itu diambil dari kebaikan yang mengikutinya. Dalam hadits juga mengandung isyarat akan keagungan karunia Allah atas hamba-Nya dimana Allah menghilangkan bahaya dengan nikmat bersin ini, kemudian diperintahkan baginya untuk bertahmid yang diberikan pahala karena mengucapkannya. Kemudian mendoakan kebaikan bagi siapa yang menjawab setelah do’anya dengan kebaikan baginya.

     Oleh karena bersin itu telah mendatangkan nikmat dan manfaat dari bersinnya dengan keluarnya udara yang tertahan di otak yang mana jika tetap berada di dalamnya akan dapat menimbulkan berbagai penyakit yang menyusahkan. Maka Allah mensyariatkan untuk bertahmid atas nikmat ini bersamaan anggota tubuhnya masih tetap pada posisinya setelah terjadi goncangan yang mana goncangan bagi tubuh tersebut layaknya goncangan gempa bagi bumi  .

 Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits.

1.      Melirihkan suara saat bersin sedapat mungkin.

2.      Menutup mulut dengan tangan atau tissue saat bersin.

3.      Orang yang bersin mengucapkan “Al-Hamdulillah” ketika selesai bersin.

4.      Ucapan “Yarhamukallah” (semoga Allah mengasihimu) untuk orang yang bersin yang mengucapkan Hamdalah.

5.      Ucapan “Yahdikumullah wa yuslihu baalakum” (semoga Allah senantiasa menunjukimu dan memperbaiki kondisimu) bagi yang mengucapkan “Yarhamukallah”.

6.      Anjuran untuk mendoakan orang yang bersin yang mana akan didapatkan rasa cinta dan persatuan diantara kaum muslimin.

 Anjuran Untuk Jujur dan Peringatan dari Dusta

Hadits ke :6

)) عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِيْقاً وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذاباً (( رواه مسلم .

6. Abdullah bin Mas’ud berkata: “Bersabda Rasulullah e: Kalian harus jujur karena sesungguhnya jujur itu menunjukan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada jannah. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan dan keburukan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta” (HR Muslim)([6])

Perawi hadits:

Dia adalah Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud salah seorang Assabiqun Al-awalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam), termasuk kalangan sahabat utama dan ahli fiqih, hafal dari Rasulullah saw 70 surat. Meninggal di Madinah tahun 32 H dalam usia 60 tahun t.

 Makna Secara Umum:

Dalam hadits ini mengandung isyarat bahwa siapa yang berusaha untuk jujur dalam perkataan maka akan menjadi karakternya dan barangsiapa sengaja berdusta  dan berusaha untuk dusta maka dusta menjadi karakterya. Dengan latihan dan upaya untuk memperoleh, akan berlanjut sifat-sifat baik dan buruk. 

Hadits diatas menunjukkan agungnya perkara kejujuran dimana ujung-ujungnya akan membawa orang yang jujur ke jannah serta menunjukan akan besarnya keburukan dusta dimana ujung-ujungnya membawa orang yang dusta ke neraka.

 Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits:

1.      Kejujuran termasuk akhlak terpuji yang dianjurkan oleh Islam.

  1. Diantara petunjuk Islam hendaknya perkataan orang sesuai dengan isi hatinya.
  2. Jujur merupakan sebaik-baik sarana keselamatan di dunia dan akhirat.
  3. Seorang mukmin yang bersifat jujur dicintai di sisi Allah Ta’ala dan di sisi manusia.
  4. Membimbing rekan lain bahwa jujur itu jalan keselamatan di dunia dan akhirat.
  5. Menjawab secara jujur ketika ditanya pengajar tentang penyebab kurangnya melaksanakan kewajiban.
  6. Dusta merupakan sifat buruk yang dilarang Islam.
  7. Wajib menasihati orang yang mempunyai sifat dusta.
  8. Dusta merupakan jalan yang menyampaikan ke neraka.

 Keutamaan Salam dan Perintah Menyebarkannya

Hadits No : 7

)) عن عبد الله بن عمرو أن رجلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَيُّ الإِسْلاَمِ خيرٌ ؟ قَالَ : تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لمَْ تَعْرِفُ (( رواه البخاري

7.      Dari Abdullah bin Amru: “Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah e: “Gerangan apa itu Islam yang paling baik? Beliau bersabda: “Kamu memberi makan dan mengucapkan salam pada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal” (HR Bukhari)[7]

 Perawi Hadits:

Dia dalah Abdullah bin Amru bin Ash Wa-il As Sahmy Al Qurosy bertemu dengan Nabi e pada garis kakeknya Ka’ab bin Luay, salah seorang golongan yang pertama-tama masuk Islam, meriwayatkan banyak hadits.

 Makna Secara Umum:

Sesungguhnya Salam termasuk diantara nama-nama Allah Ta’ala. Ucapannya: Assalamualaikum artinya kalian berada dalam penjagaan Allah sebagaimana, “Allah bersama anda”, “Allah menyertai anda”. Dikatakan salam, artinya keselamatan yaitu “keselamatan Allah menyertai anda”. Salam yang paling pendek mengucapkan Assalamualaikum (kesehateraan semoga terlimpahkan pada kalian) sekalipun orang yang disalami hanya satu namun mencangkup orang tersebut sekaligus malaikat yang menyertainya. Dan salam yang paling lengkap menambah warohmatullahi wabarakatuh. Jika yang disalami hanya seorang maka wajib ain menjawab salam. Dan jika yang disalami jamaah maka menjawab hukumnya fardhu kifayah bagi mereka.

 Tuntunan-Tuntunan:

1.      Mengucapkan salam adalah sunnah sedang menjawabnya wajib

2.      Selamat pagi atau selamat sore bukanlah ucapan penghormatan yang disyariatkan dalam Islam.

3.      Disyariatkan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak kenal

4.      Boleh menyampaikan salam dengan isyarat disertai mengucapkan salam (jika teman anda tidak mendengar)

5.      Memulai pembicaraan di pesawat telpon dengan salam

6.      Disyariatkan salam ketika meninggalkan majelis

7.      Anjuran memberi makan dan menyebarkan salam

 Adab Buang Hajat

Hadits no : 8

))عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : كانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إذاَ دَخَلَ الخَلاَءَ قَالَ : اللَّهُمَّ إِنيِّ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِ  ((رواه البخاري.

8. Dari Anas bin Malik t berkata: “Adalah Nabi e apabila masuk kamar kecil berdoa: “Ya Allah seseungguhnya aku berlindung kepadamu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan” (HR Bukhari)[8]

))عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الخَلاَءِ قَالَ غُفْرَانَكَ  ((رواه الترمذي وغيره.    

Dari Aisyah t bahwasanya Nabi e apabila keluar dari kamar kecil berdoa: “Aku mohon ampunan-Mu” (HR Turmudzi dan yang lain)([9])                                                                                                           

Perawi Hadits:

Anas bin Malik Al Anshory, pembantu Rasululah e, meriwayatkan banyak hadits.

Aisyah, dia adalah Aisyah binti Siddiq t, istri Rasul saw, ahli fikih dan ilmu, meriwayatkan banyak hadits.

Makna Secara Umum:

Dzikir ini disyariatkan pada tempat-tempat yang memang disiapkan (untuk buang hajat). Oleh karenanya disertai (lafadz) “masuk”. Dzikir ini juga disyariatkan pada tempat-tempat yang tidak disiapkan untuk buang hajat sekalipun hadits tersebut disebutkan pada kamar kecil karena tempat tersebut memang biasa didatangi syaitan. Dhohir hadits Anas bahwa Nabi e menyaringkan dzikir ini, maka labih baik menyaringkannya.

Tuntunan:

1.      Disunahkan berdoa:

اللَّهُمَّ إِنيِّ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِ

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan” ketika masuk tempat buang hajat

2.      Disunahkan mendahulukan kaki kiri ketika masuk kamar mandi dan kaki kanan ketika keluar

3.      Disunahkan ketika keluar dari tempat buang hajat berdoa:

غُفْرَانَكَ

 “Aku mohon Ampunan-Mu”

4.      Menjaga larangan (baca) dzikirullah di dalam kamar mandi

5.      Larangan Dzikrullah di dalam kamar mandi

 Peringatan Dari Marah

Hadits no :9

)) عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ، فَرَدَّ مِرَاراً قَالَ : لاَ تَغْضَبْ((  رواه البخاري.

9. Dari Abu Hurairah t bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi e: “Berilah aku wasiat. Beliau bersabda: “Janganlah kamu marah” Orang itu mengulang beberapa kali. Beliau bersabda: “Janganlah kamu marah” (HR Bukhari)([10])

Perawi Hadits:

Dia adalah Abdurrahman bin Shokhr Ad Dausy, masuk Islam tahun Khaibar tahun 7 H, senantiasa menyertai Rasulullah e karena kecintaannya terhadap ilmu dan tergolong sahabat yang paling banyak menghafal hadits.

Makna Secara Umum:

Dalam hadits tersebut mengandung larangan marah dan menjahui sebab-sebab timbulnya marah dan menghindari hal-hal yang membangkitkan amarah. Nabi e membatasi lafadz ini karena penanya adalah seorang pemarah. Adalah Rasul e memberikan fatwa kepada setiap orang dengan sesuatu yang memang sangat perlu (pas) untuk orang tersebut.

Dalam sabdanya “Jangan marah” Rasul e mengumpulkan kebaikan dunia dan akhirat. Karena marah bisa ditakwilkan saling mutus hubungan dan mencegah kelembutan dan bisa ditakwilkan menyakiti orang yang dimarahi dengan sesuatu yang tidak perbolehkan sehingga menjadi kekurangan pada agamanya.

Tuntunan-Tuntunan:

1.      Islam melarang marah karena hasilnya membahayakan untuk Islam.

2.      Peringatan dari marah karena marah itu dari syaitan

3.      Seorang muslim tidak boleh memarahi orang lain tanpa alasan yang benar

4.      Ramah tamah dan lemah lembut termasuk sifat terpuji

5.      Barangsiapa banyak marah akan banyak menyesal

 Berakhlak Baik

Hadits no : 10

))عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال : لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم فَاحِشاً وَلاَ مُتَفَحِّشاً وَكَانَ يَقُوْلُ : إِنَّ مِنْ خِيَارُكُمْ أَحْسَنُكُمْ أًخْلاَقاً((  رواه البخاري.

10. Dari Abdullah bin Amru t berkata: Nabi e tidak pernah berkata maupun berbuat kotor. Beliau bersabda: “Sesungguhnya termasuk sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (HR Bukhari)([11])

Perowi Hadits:

Dia adalah Abdullah bin Amru bin Ash Bin Wa-il Al Qurosy bertemu Nabi e pada garis kakeknya Ka’ab bin Luay, salah seorang golongan yang pertama masuk Islam (as sabiqunal awalun). Banyak meriwayatkan hadits.

Makna Secara Umum:

Dalam hadits tersebut terdapat dalil akan baiknya akhlaq Nabi t. Beliau adalah bukan seorang yang berbicara maupun berbuat kotor. “Fakhsy” adalah setiap sesuatu yang keluar dari kadarnya hingga dianggap buruk termasuk dalam perkataan, perbuatan dan sifat. Sedang “Fakhisy” orang yang berkata keji dan “Mutafakhisy” orang yang menggunakan kekejian supaya orang tertawa.

Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang berkata dan berbuat keji”

Tuntunan-Tuntunan:

1. Keagungan syariat Islam dimana menyeru kaum muslimin untuk memiliki sifat-sifat yang utama misalnya; menghilangkan gangguan, menyambut orang dengan senyuman serta mencurahkan kebaikan.

2. Wajib berpegang teguh dengan akhlak utama dan meninggalkan akhlak yang buruk.

3.      Berakhlaq baik mendekatkan kepada kedudukan Nabi e pada hari kiamat

4.      Menghormati kaum muslimin dan mempergauli mereka dengan akhlak baik

5.      Barangsiapa memiliki akhlaq baik memperoleh kecintaan Allah Ta’ala

6.      Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.

 Memberi Maaf dan Lapang Dada

Hadits no : 11.

)) عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت : مَا خُيِّرَ رَسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلاَّ أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَالَمْ يَكُنْ إِثماً فَإِنْ كَانَ إثماً كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ، وَمَا انْتَقَمَ رَسُوْلُ للهِ صلى الله عليه وسلم لِنَفْسِهِ إِلاَّ أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللهِ فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ بِهَا(( رواه البخاري

11. Dari Aisyah t bahwasanya ia berkata: “Tidaklah Rasul e diberikan pilihan antara dua hal melainkan beliau ambil yang paling mudah selama bukan dosa. Jika berupa dosa maka beliau manusia yang paling jauh dari dosa. Dan tidaklah Rasulullah e membalas dendam melainkan jika kehormatan Allah dirusak maka beliau membalaskannya karena Allah” (HR Bukhari)[12]

Perawi Hadits:

Dia adalah ‘Aisyah binti Abi Bakar As Siddiq –t-, istri Rasul e, ahli fikh dan ilmu. Meriwayatkan banyak hadits

Makna Secara Umum:

Dalam hadits tersebut menunjukkan akan kemudahan dan kelapangan Islam dan menunjukkan bahwa tidaklah Nabi e diberikan pilihan antara dua perkara dari perkara dunia melainkan beliau ambil yang termudah dan hal itu selama yang termudah tersebut tidak ada unsur dosa maka saat itu beliau memilih yang benar.

Adalah beliau e tidak pernah membalas dendam untuk membela dirinya sendiri seperti beliau pernah memaafkan seorang badui yang kurang ajar mengangkat suara kepada beliau dan terhadap orang lain yang menarik selendangnya sehingga membekas di pundaknya. Ini memberikan petunjuk untuk memberi maaf kecuali dalam hak-hak Allah Ta’ala.

Tuntunan-Tuntunan: 1. Penjelasan bahwa Islam itu agama yang mudah dan toleran selama hal itu tidak terdapat dosa

2. Memaafkan dan berlapang dada merupakan sebab saling bersatu dan bersaudara antara kaum muslimin.

3. Mencontoh Rasul e dalam hal pemberiaan maaf, toleransi dan kesabaran beliau

5.      Seorang muslim yang memaafkan dan berlapang dada mendapatkan pahala besar dari Allah Azza wa Jalla

6.      Memaafkan dan berlapang dada bukan karena lemah atau tak mampu melainkan semata-mata karena mencari pahala

7.      Mendiamkan kemungkaran bukan termasuk sifat pemaaf dan toleransi.

 Pengaruh Teman Terhadap Manusia

Hadits no : 12

))عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إِنَّمَا مَثَلُ الجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيْرِ، فَحَامِلِ المِسْكِ إِمَّا أَنْ يَحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحاً طَيِّبَة، وَنَافِخِ الكِيْرِ إِمَّا أَنْ يَحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحاً خَبِيْثَة (( رواه البخاري.

12. Dari Abi Musa Al Asy’ary t berkata: Bersabda Rasulullah e: “ Bahwasanya permisalan teman duduk yang baik dan yang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang besi. Penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya atau kamu turut mendapatkan bau wanginya. Sedang tukang besi bisa membakar bajumu atau kamu ikut mendapatkan bau tak sedap” (HR Bukhari)([13])

Perawi Hadits:

Abu Musa Abdullah bin Qais bin Muslim al Asy’ari seorang sahabat terkenal, memerintah Kufah, meninggal tahun 50 H t

Makna Secara Umum:

Dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa bergaul dengan orang-orang sholeh dan berakhlak mulia memiliki pengaruh pada kebaikan seseorang dan setiap teman akan mencontoh temannya. Sebaliknya bergaul dengan orang-orang hina dan jahat menjerumuskan pada kecelakaan manusia. Rasul e memberikan dua permisalan yang gamblang untuk mejelaskan hal itu.

Tuntunan-Tuntunan: 1. Perhatian Islam untuk mengarahkan pemeluknya kepada mempergauli orang-orang sholeh

2. Seseorang terpengaruh dengan teman dekatnya dalam kebaikan atau keburukan

3. Semangat untuk berteman dengan orang-orang baik.

5.      Diantara faedah berteman dengan orang-orang sholeh mereka dapat membantu manusia pada kebaikan dan memperingatkan dari keburukan

6.      Seorang muslim waspada dari berkawan dengan orang-orang yang mempunyai kebiasaan buruk. Misalnya meninggalkan sholat, merokok dan sebagainya

 Menjaga Lisan dan Tangan Dari Menyakiti

Hadits no : 13

))عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال : قلتُ يَا رَسُولَ اللهِ أيُّ الإِسْلاَمِ أَفْضَل ؟ قَالَ : مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ((  رواه البخاري.

13. Dari Abi Musa Al Asy’ari t berkata: “Saya bertanya: Wahai Rasulullah e gerangan apa Islam yang paling utama? Beliau bersabda: “Siapa yang kaum muslimin selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya” (HR Bukhari)([14]).

Perawi Hadits:

Abu Musa Abdullah bin Qais bin Muslim Al Asy’ari seorang sahabat terkenal, memerintah Kufah, meninggal tahun 50 t.

Makna Secara Umum:

Dalam hadits terdapat dalil untuk menjaga lisan karena penjagaan orang muslim dari  menahan menyakiti terhadap saudara muslimnya sangat ditekankan. Disebutkan lisan secara khusus karena lisan pengungkap apa yang ada dalam diri.

Dalam hadits juga terdapat dalil untuk menjaga tangan karena kebanyakan perbuatan dilakukan dengan tangan. Pada penyebutan tangan tanpa anggota lain terdapat rahasia. Masuk didalamnya tangan secara implisit seperti menguasai hak orang lain tanpa alasan yang benar.

Tuntunan-Tuntunan:

1.      Tidak boleh menyakiti hak-hak orang lain sekalipun sesuatu yang remeh.

2.      Diantara kaum muslimin yang paling utama adalah siapa yang kaum muslimin selamat dari gangguannya.

3.      Tidak boleh mencela salah seorang manusia

4.      Membicarakan orang dengan pembicaraan yang tidak mereka sukai termasuk menyakiti mereka.

5.      Meninggalkan menukil pembicaraan yang menyebabkan permusuhan dan perpecahan diantara kawan.

6.      Waspada dari mengambil sesuatu dari teman seperti pena, penggaris serta yang lainnya melainkan dengan keridhoan mereka

 Wajib Muslim Mencintai Saudaranya

Hadits no : 14.

))عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ  ((رواه البخاري

14. Dari Anas t dari Nabi e bersabda: “Tidak sempurna iman seorang kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri” (HR Bukhari)[15]

Perawi Hadits:

Anas bin Malik Al Anshory t, pembantu Rasulullah e, meriwayatkan banyak hadits.

Makna Secara Umum:

Dalam hadits tersebut terdapat dalil wajibnya seorang muslim mencintai saudaranya muslim. Maksud mencintai adalah condong terhadap apa yang disetujui orang yang dicintai. Kecintaan itu terkadang karena inderanya seperti baik rupa, karena perbuatan baik dzatnya seperti keutamaan dan kesempurnaan atau karena kebaikannya seperti mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Demikian pula mencintai saudaranya sebanding dengan apa yang ia peroleh, sama saja apakah dalam perkara nyata ataupun maknawi. Dhohir hadits ini menuntut persamaan dan anjuran tawadhu’ (merendah diri). Kecintaan ini tidak bisa sempurna melainkan dengan meninggalkan hasad, dengki dan curang yang semuanya sifat tercela.

Tuntunan-Tuntunan:

1.      Diantara kesempurnaan iman adalah seorang muslim mencintai saudara-saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri dan membenci bagi mereka apa yang ia benci untuk dirinya.

2.      Hasad dan dengki penyebab berkurangnya iman.

3.      Diantara kecintaan seorang muslim terhadap saudara adalah membimbingnya kepada setiap kebaikan dan mencegahnya dari perbuatan dzalim.

4.      Waspada dari sifat egois (kamu mencintai segala sesuatu untuk dirimu sendiri tanpa yang lain).

الحمد للله رب العالمين



)[1](  Shahih Muslim Hadits No: 6637.

([2] ) Shohih Muslim Hadits No : 6750.

)[3](  Shohih Bukhori Hadits no : 5840

([4] ) Shohih Muslim hadits no : 5221

([5] ) Shohih Bukhori hadits no : 5989.

([6] ) Shohih Muslim hadits no : 6586.

([7] ) Shohih Bukhori hadits no : 28

([8]) Shohih Bukhori hadits no : 6084.

([9]) Jami’ Tirmidzi Hadits no : 7

([10]) Shohih Bukhori Hadits no : 5888.

([11] ) Shohih Bukhori hadits no : 3419 .

([12] ) Shohih Bukhori hadits no : 5898.

([13] ) Shohih Bukhori hadits no : 5330.

([14] ) Shohih Bukhori Hadits no : 11.

([15] ) Shohih Bukhori hadits no : 13.

Tanggapan anda