Lanjutan: Cara Menyampaikan Kritik Di Antara Para Dai ()

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz

Pertanyaan yang dijawab oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah- yang berbunyi: Beberapa minggu yang lalu telah terbit dari Syaikh penjelasan sekitar cara menyampaikan kritik di antara para dai, maka sebagian orang memahami dengan pemahaman yang berbeda-beda. Bagaimana penjelasan Syaikh tentang hal itu?
Lanjutan: Cara Menyampaikan Kritik Di Antara Para Dai

|

Lanjutan : Cara Menyampaikan Kritik Di Antara Para Da`i

SyaikhAbdul Aziz bin Baz

Dinukil dari Buku Fatwa-fatwa UlamaNegeriHaram

(hal. 1090-1092)

Disusunoleh : Dr. Khalid bin Abdurrahman Al Juraisy

Terjemah: Muhammad Iqbal A. Gazali

Editor: Eko Haryanto Abu Ziyad

2011 - 1432

﴿تعقيب على موضوع نقد الدعاة﴾

« باللغة الإندونيسية »

الشيخ عبد العزيز بن باز

مقتبسة من كتاب فتاوى علماء البلد الحرام : (ص:1090-1092)

جمع وترتيب: د. خالد ين عبد الرحمن الجريسي

ترجمة: محمد إقبال أحمد غزالي

مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو

2011 - 1432

 بسم الله الرحمن الرحيم

Lanjutan: Cara Menyampaikan Kritik Di Antara Para Da`i

Pertanyaan: Beberapa minggu yang lalu telah terbit dari Syaikh penjelasan sekitar cara menyampaikan kritik di antara para dai, maka sebagian orang memahami dengan pemahaman yang berbeda-beda. Bagaimana penjelasan Syaikh tentang hal itu?

Jawaban:Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, serta yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du:

Inilah penjelasan yang disinggung oleh saudara penanya, kami ingin memberikan nasihat padanya kepada saudara-saudaraku para ulama dan du’at, agar kritik mereka kepada saudara-saudara mereka –yang muncul dari artikel-artikel, seminar-seminar, atau ceramah-ceramah- agar kritik itu jauh dari mencemarkan nama baik dan menyebutkan nama, karena sesungguhnya hal ini bisa menyebabkan sikap permusuhan di antara semua.

Kebiasaan Nabi saw dan metode beliau, bila sampai kepadanya sesuatu dari sebagian sahabatnya yang tidak sesuai syara’, beliau mengingatkan hal itu dengan sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوْا كَذَا وَكَذَا))

Rasulullah saw bersabda: "Kenapa suatu kaum mengatakan seperti dan seperti ini. "

Kemudian beliau menjelaskan perkara tersebut secara syara’.

Di antaranya: bahwa sampai berita kepada beliau bahwa sebagian orang berkata: Adapun saya, maka saya selalu shalat dan tidak tidur. Yang lain berkata: Adapun saya, maka saya selalu puasa dan tidak berbuka. Dan yang lain berkata: Adapun saya, maka saya tidak menikahi wanita. Maka Nabi saw berpidato, memuji Allah swt dan menyanjungnya, kemudian bersabda:

رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوْا كَذَا وَكَذَا وَلكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَصُوْمُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي)) (رواه مسلم)

Rasulullah saw bersabda: ‘Kenapa suatu kaum mengatakan seperti dan seperti ini. Akan tetapi aku shalat (di malam hari) dan tidur, puasa dan berbuka, dan aku menikahi wanita, maka barangsiapa yang benci terhadap sunnahku maka ia bukan dariku.”[1]

Maksud saya adalah apa yang diucapkan oleh Nabi saw, bahwa mengingatkan adalah seperti ucapan ini, sebagian orang berkata seperti ini dan yang disyari’atkan adalah seperti ini dan yang seharusnya seperti ini. Maka menyampaikan kritik tanpa harus mencemarkan nama baik secara khusus, akan tetapi dari sisi penjelasan secara syar’i, sehingga rasa cinta dan kasih sayang tetap terjalin di antara para saudara, di antara para da’i dan ulama. Saya sama sekali tidak bermaksud untuk kalangan tertentu, namun saya tujukan secara umum, yaitu semua da’i dan ulama di dalam dan luar negeri.

Maka nasihat saya kepada semua: bahwa pembicaraan yang berkaitan dengan nasihat dan kritik adalah lewat cara yang samar, bukan dengan cara menyebutkan secara khusus. Karena tujuannya adalah mengingatkan terhadap kesalahan dan kekeliruan, dan yang seharusnya berupa menjelaskan kebenaran tanpa harus mencemarkan nama baik si fulan dan fulan, semoga Allah swt memberi taufik kepada semua. Syaikh Abdul Aziz bin Baz – Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutanawwi’ah 7/315-316.

[1]HR. Muslim 1401