TANYA JAWAB AKIDAH SYI'AH IṠNĀ 'ASYARIYYAH ()

 

TANYA JAWAB AKIDAH SYI'AH IṠNĀ 'ASYARIYYAH

|

TANYA JAWAB

AKIDAH SYI'AH

IṠNĀ 'ASYARIYYAH

عقائد الشِّيعَةِ الاثنَيْ عَشْرِيَّة

سُؤالٌ وجوابٌ

باللغة الإندونيسية

Kata Pengantar

Syekh Abdullāh bin Abdurraḥmān Al-Jibrīn raḥimahullāh

Mantan Anggota Lembaga Fatwa dan Riset Ilmiah Pusat

Syekh Ṣāliḥ bin Muhammad Al-Luḥaidān

Mantan Ketua Dewan Yudisial Tertinggi dan Anggota Ulama Senior

Syekh Abdullāh bin Muhammad Al-Gunaimān

Dekan Pendidikan Pascasarjana Universitas Islam Madinah dan Pengajar Tetap di Masjid Nabawi

Syekh Abdurraḥmān bin Ṣāliḥ Al-Maḥmūd

Guru Besar Ilmu Akidah di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su'ūd

Syekh Abdullāh bin Abdurraḥmān As-Sa'd

Syekh Muhammad bin Abdullāh Al-Imām

Penulis

Abdurraḥmān bin Sa'd bin Ali Asy-Syaṡriy

Penerbit: Dār At-Tauḥīd


Abdurraḥmān bin Sa'd bin Ali Asy-Syaṡriy, 1441 H

Katalog Perpustakaan Nasional Raja Fahd Ketika Diterbitkan

Asy-Syaṡriy, Abdurraḥmān bin Sa'd bin Ali

Aqā`id Asy-Syī’ah Al-Iṡnai ‘Asyariyyah; Su`āl wa Jawāb / Abdurraḥmān bin Sa'd bin Ali Asy-Syaṡriy, Riyad, 1440 H

285 hlm, 24 x 17 cm

ISBN: 978-603-03-2349-4

1. Al-Iṡnā ‘Asyariyyah (Firqah Syī'iyyah) A. Judul

Dewey 247,8076                   1441/2190

L.D. no. 1441/2190

ISBN: 978-603-03-2349-4

Semoga Allah merahmati orang yang mencetak, menggandakan, menerjemah, atau menyusun ulang buku ini, baik semuanya maupun sebagian, atau merekamnya ke dalam kaset, memasukkannya ke dalam program komputer atau internet, atau ke dalam program CD -tanpa dikurangi dan ditambah- untuk dibagikan secara gratis atau dijual dengan harga normal. Semoga Allah Ta'ālā memberi mereka dengan kebaikan yang banyak, dan semoga Allah meneguhkan kami dan mereka di atas Islam dan Sunnah. Āmīn.

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ

Hak cetak dan terjemah untuk semua muslim dan muslimah dengan catatan menyerahkan kepada penulis 3 eksemplar di setiap cetakan

Cetakan Pertama Edisi Indonesia

Tahun 1440 H – 2019 M

Penerbit

Dār Al-Khizānah Al-Andalusiyyah

Kerajaan Saudi Arabia - Riyad

Telepon:  0590004711- 0551334545

Email: [email protected]


Bismillāhirraḥmānirraḥīm

 KATA PENGANTAR CETAKAN PERTAMA

 REVISI TERBARU

Segala puji hanya milik Allah yang telah memberi kita petunjuk kepada agama ini; kita tidak mungkin mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kita petunjuk.

Semoga selawat dan salam dilimpahkan kepada Muhammad utusan Allah, yang telah Allah katakan kepadanya,

ﮋ ﭩ  ﭪ  ﭫ     ﭬ  ﭭ   ﭮ  ﮊ.

"Dan sungguh engkau pasti telah menyeru mereka kepada jalan yang lurus." [QS. Az-Zukhruf: 52]

Juga semoga dilimpahkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya yang telah Allah puji dengan firman-Nya,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ   ﭗ  ﭘ  ﭙ  ﭚ  ﭛ  ﭜ  ﭝ  ﭞ    ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ  ﭣ     ﭤ  ﭥ  ﭦﭧ   ﭨ  ﭩ  ﭪ  ﭫ  ﮊ.

"Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung." [QS. At-Taubah: 100]

Dan kepada orang-orang yang mengikuti jejak mereka hingga hari kiamat.

Ammā ba’du.

Ini merupakan cetakan pertama untuk edisi revisi terbaru buku saya "Tanya Jawab Akidah Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah." Saya mempersembahkannya untuk para pembaca setelah banyak permintaan terhadap buku ini dan besarnya atensi para intelek terhadapnya, serta setelah para ulama besar satu kata dalam memandang urgensi pencetakan, penerbitan, penerjemahan, dan penyebarannya ke seluruh dunia Islam. Hanya milik Allah lah segala puji dan karunia.

Cetakan pertama untuk edisi revisi yang terbaru ini adalah cetakan ke-7 untuk berdasarkan edisi revisi terhadap cetakan sebelumnya, dan ke-15 untuk edisi cetakan fotocopy. Semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi diri pribadi penulis, penerbit, penyebar, dan semua yang ikut memberi andil dalam penyebarannya "pada hari tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih." [QS. Asy-Syu’arā`: 88-89]([1])

Dan segala puji bagi Allah di awal dan di akhir. Semoga ṣelawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, serta seluruh keluarga dan sahabat beliau.

Madinah Al-Munawwarah, 15/11/1432 H

Penulis

Abdurraḥmān bin Sa'd bin Ali Asy-Syaṡriy


Bismillāhirraḥmānirraḥīm

 KATA PENGANTAR CETAKAN KESEBELAS

Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta. Selawat dan salam semoga dilimpahkan kepada penghulu para rasul dan imam orang-orang yang bertakwa, nabi kita Muhammad, berikut semua keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Ammā ba’du.

Saya memuji Allah Ta'ālā atas karunia-Nya karena cetakan-cetakan buku ini" "Tanya Jawab Akidah Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah" yang terdaulu sudah habis, sembari berdoa kepada-Nya Yang Maha mendengar lagi mengabulkan doa agar Dia menjadikan buku ini bermanfaat dan membawa dampak positif terhadap pemikiran pemuda kaum Syi’ah, semoga di dalamnya mereka menemukan dalil kuat dan bukti yang jelas, yang akan meyakinkan mereka tentang wajibnya kembali berpegang teguh dengan mazhab As-Salaf Aṣ-Ṣāliḥ.

Alḥamdulillāh, buku ini telah menjadi ensiklopedi dan referensi bagi setiap orang yang ingin mengenal Sekte Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah, menguasai secara menyeluruh pembahasan-pembahasannya yang terpencar, memetakan akidah dan syariat-syariat mereka yang rusak, serta yang ingin membantah sebagian besar akidah dan syariat menyimpang yang mereka anut, sampai-sampai salah satu ulama mendeskripsikannya sebagai senjata bagi dai-dai Ahlussunnah.

Alḥamdulillāh, dengan kehadiran buku ini, kaum muslimin dapat mengenal akidah Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah dengan mudah dan gampang, juga mengetahui cara membantah akidah mereka yang menyimpang, serta mengenal buku-buku induk mereka, pokok-pokok pemikiran mereka, dan bagaimana akidah Syi'ah berkembang dalam bentuk ekstrem dan penuh penyimpangan.

Sungguh segala puji hanya bagi Allah. Ini merupakan cetakan kesebelas untuk buku ini, saya persembahkan ke hadapan kaum muslimin dalam bentuk edisi revisi, setelah cetakan-cetakan sebelumnya habis dan banyaknya permintaan untuk mencetaknya kembali.

Kami mengulang lagi pencetakannya agar manfaatnya terus mengalir, faedahnya merata secara umum, dan dampak positifnya tetap besar, insyaAllah. Semoga dengannya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjukinya jalan yang lurus, serta menjadikan kita dan pihak yang menjadi donatur dalam cetakan kali ini termasuk orang-orang yang Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam maksudkan dalam sabdanya,

(لأَن يَهديَ اللهُ بكَ رَجُلاً واحداً خيرٌ لَكَ من أن يكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ)

"Demi Allah, sungguh bila Allah memberikan petunjuk kepada satu orang dengan sebabmu, maka itu lebih baik bagimu dibanding engkau mendapatkan unta merah." ([2])

Juga sabda beliau,

(إذا ماتَ الإنسانُ انقَطَعَ عنهُ عَمَلُهُ إلا مِن ثلاثةٍ: إلاَّ من صَدَقَةٍ جاريةٍ، أو علمٍ يُنتفَعُ بهِ، أو وَلَدٍ صالحٍ يَدْعُو لهُ)

“Apabila manusia meninggal maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah yang mengalir, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak saleh yang mendokannya.” ([3])

Cetakan ini memiliki keistimewaan yang tidak ada dalam cetakan-cetakan sebelumnya, berupa tambahan beberapa penjelasan dan catatan, beberapa tambahan dalam takhrīj nukilan riwayat, tambahan nukilan dari ulama-ulama Syi’ah klasik dan kontemporer,([4]) dan tambahan referensi. Sehingga cetakan kesebelas ini lebih sempurna daripada cetakan-cetakan sebelumnya.

Dengan ini kami berharap telah membuka jalan di hadapan generasi Syi’ah untuk kembali kepada mazhab yang hak, yaitu mazhab as-Salaf aṣ-Ṣāliḥ riḍwānullāhi ‘alaihim, serta menyingkirkan rintangan yang menghalangi mereka untuk mengenal hakikat mazhab mereka yang batil.

Alḥamdulillāh, sebagian pemuda Syi’ah telah kembali kepada mazhab Ahlussunnah dengan karunia Allah, kemudian karena faktor mereka membaca buku ini, sebagaimana dikabarkan kepadaku oleh sebagian mahasiswa di Universitas Islam Madinah dan lainnya.

Hanya kepada Allah Subḥānahu wa Ta'ālā saya memohon agar menjadikan usaha saya dan usaha orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam pencetakan buku ini dan yang ikut berpartisipasi dalam menerbitkan serta membagikannya sebagai amalan yang ikhlas karena mengharap Wajah Allah Yang Mahamulia. Juga semoga Allah menjadikan amal kita diterima serta memberikan taufik kepada kita semua, orang tua, keturunan, dan pasangan kita serta saudara-saudara kita kaum muslimin untuk mengerjakan apa yang Dia cintai dan ridai, baik ucapan maupun perbuatan.

Dan semoga Allah menyatukan hati kita di atas agama yang Dia ridai untuk diri-Nya dan yang dengannya Dia mengutus Rasul-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.

Sebagaimana saya memohon kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā untuk meneguhkan hati kita di atas agama-Nya dan mengarahkannya kepada ketaatan. Karena, jika Allah tidak memberi keteguhan kepada hati, niscaya ia akan condong kepada orang-orang yang mengajak kepada dosa dan bergabung bersama orang-orang yang jahil.

Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada Muhammad pemilik telaga yang akan didatangi, kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

Penulis

Abdurraḥmān bin Sa'd bin Ali Asy-Syaṡriy

Malam kemenangan, 27 Ramadan 1431 H([5])


Bismillāhirraḥmānirraḥīm

 KATA PENGANTAR

 CETAKAN KEDELAPAN

Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta, serta selawat yang paling utama dan salam yang paling sempurna semoga dilimpahkan kepada penutup para nabi dan rasul, nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Ammā ba’du.

Dalam rangka mengungkapkan nikmat Allah Ta'ālā,

ﮋ ﮠ  ﮡ      ﮢ  ﮣ   ﮤ   ﮊ

"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)." [QS. Aḍ-Ḍuḥā: 11]

Juga dalam rangka memasukkan kegembiraan kepada jiwa setiap muslim,

(وأَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ تعالى سُرُورٌ تُدخلُهُ على مُسلمٍ)

"Dan amal yang paling dicintai Allah Ta'ālā adalah kebahagiaan yang engkau berikan kepada seorang muslim." ([6])

Saya menyampaikan bahwa buku ini, "Tanya Jawab Akidah Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah, mendapat sambutan bagus dari para ulama dan penuntut ilmu dari kalangan ahli tauhid. Sehingga, para dai tauhid berbondong-bondong mencetak, menyebarkan, menerjemahkan, dan membagikannya. Dan permintaan terhadap buku ini masih terus datang, baik dari dalam negeri KSA ataupun dari luar. Alḥamdulillāh.

Sebagian syekh menyarankan agar pada cetakan ini saya menambahkan nomor ayat dan surah serta daftar referensi utama, dan agar buku ini dicetak dua warna, maka saya pun mengabulkan usulan mereka. Semoga Allah memberikan mereka ganjaran yang baik. Saya lalu menambahkan nomor hadis dan menyebutkan nama bab dan pasal buku-buku mereka yang saya nukil, juga memperbaiki kesalahan cetak meskipun itu sangat langka, dan menambahkan tahun wafat para penulis.

Cetakan ini juga mendapat keistimewaan, walillāhil-ḥamd, berupa tambahan kata pengantar Syekh Ṣāliḥ bin Muhammad Al-Luḥaidān, Ketua Dewan Yudisial Tertinggi, dan ulama hadis Syekh Abdullāh bin Abdurraḥmān As-Sa’d. Semoga Allah Ta'ālā memberikan balasan yang lebih baik bagi keduanya.

Sekian yang perlu dijelaskan dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Penulis

Abdurraḥmān bin Sa'd bin Ali Asy-Syaṡriy


 Kata Pengantar

 Yang Mulia Syekh Ṣāliḥ bin Muḥammad Al-Luḥaidān ḥafiẓahullāh

Ketua Dewan Yudisial Tertinggi dan Anggota Majelis Ulama Besar Kerajaan Saudi Arabia

Segala puji bagi Allah semata. Semoga selawat serta salam terlimpahkan kepada sosok yang tidak ada nabi setelahnya, yakni nabi kita Muhammad, kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau.

Waba'du.

Saya diminta oleh Syekh Abdurraḥmān bin Sa’d bin Ali Asy-Syaṡriy untuk menelaah bukunya (Akidah Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah) yang beliau susun dalam bentuk tanya jawab.

Jumlah pertanyaan nya ada 162 buah, dan setiap pertanyaan diiringi dengan jawaban. Beliau menekankan permintaannya kepada saya, padahal telah diberikan resensi oleh tiga orang syekh yang beliau urutkan sebagai berikut: Syekh Abdullāh bin Abdurraḥmān Al-Jibrīn, Syekh Abdullāh bin Muḥammad Al-Gunaimān, dan Syekh Abdurrahmān bin Ṣāliḥ Al-Maḥmūd.

Menurutku, kata pengantar ketiga syekh ini sudah cukup, tetapi penulis tetap memintaku, sehingga saya pun mengiyakannya walaupun saya tetap memandang hal tersebut tidak perlu.

Lalu saya membacanya lebih dari 130 halaman dan saya dapatkan bahwa Sang Penulis -semoga Allah memberinya balasan kebaikan serta memberkahinya- sudah berusaha untuk mengkritisi akidah mereka berdasarkan buku-buku pegangan mereka, dan teks yang dikritisi bersumber dari buku-buku mereka sendiri, karena sikap amanah menuntut penulis untuk menyebutkan rujukan akidah mereka dari sumber yang mereka akui. Dalam hal ini penulis telah melakukannya dengan sangat baik.

Saya menasihatkan kepada orang yang mendapatkan buku ini agar membacanya secara saksama. Di dalamnya dia akan menemukan berbagai keanehan -akidah kaum Syi'ah- yang pasti menimbulkan rasa heran orang yang berakal, karena mereka membahas keyakinan dalam bentuk ajaran yang tidak logis.

Apabila berbicara tentang imam-imam mereka, mereka mengangkat derajat para imam itu lebih tinggi dari para nabi, rasul, serta malaikat, bahkan mereka membahas tentang malaikat secara tidak masuk akal.

Pembaca akan menemukan banyak keanehan akidah mereka. Orang yang berakal akan bertanya-tanya, “Apakah orang-orang Syi’ah itu memiliki akal?!"

Mereka mengklaim bahwa al-wilāyah (kepemimpinan) lebih utama daripada salat, zakat, haji, dan puasa. Klaim ini terdapat di dalam salah satu referensi utama mazhab mereka, yaitu kitab Al-Kāfī.

Mereka berkata tentang ‘Īdul-Gadīr, “Siapa yang mengingkarinya berarti ia mengingkari Islam.”

Mereka mengklaim bahwa para imam mereka memiliki kedudukan yang tidak akan dicapai oleh malaikat ataupun nabi yang diutus. Semua itu termasuk perkara aksioma yang harus diketahui dalam mazhab mereka. Mereka juga berkeyakinan bahwa seorang imam memiliki kedudukan terpuji, derajat yang tinggi, dan khilāfah takwīniyyah (kekuasaan mengatur alam), di mana seluruh isi alam semesta ini tunduk pada kekuasaan mereka.

Namun, sejauh mana kekuasaan dan kedudukan terpuji para imam mereka ini berfungsi melindungi mereka dari berbagai peperangan dan penderitaan yang menimpa mereka.

Di antara yang mereka katakan adalah seorang ulama Syi’ah memiliki kedudukan seperti kedudukan Nabi Musa dan Harun 'alaihimas-salām.

Sepertinya mereka membuat permisalan dengan Musa dan Harun karena mazhab ini memiliki hubungan sejak lama dengan Ibnu Saba` Al-Yahūdiy. Wallāhu a’lam.

Di sini, saya tidak ingin memaparkan kesesatan dan penyimpangan mereka yang telah dibahas panjang lebar oleh penulis di dalam buku ini. Saya hanya berharap agar pengikut sunni atau syi'ah bisa membacanya sendiri dalam buku ini. Karena yang menjadi tujuan kita adalah agar kebenaran diketahui dengan ketinggiannya, dan agar kebatilan serta kesesatannya ditelanjangi.

Saya berharap agar kaum Syi’ah yang menginginkan kebenaran bisa mendapat petunjuk dengan adanya penjelasan kebenaran ini, dan agar orang yang berada di atas manhaj yang lurus bisa berhati-hati terhadap kesesatan ajaran Syi’ah.

Saya tegaskan kepada para penuntut ilmu dan orang-orang yang menginginkan kejayaan Islam agar membaca buku ini untuk mengetahui perbedaan yang sangat jauh antara Ahli Sunnah dan kaum Syi'ah itu.

Kendati demikian, kita tetap berusaha menjelaskan kebenaran. Para penuntut ilmu harus ikut andil menjelaskan jalan yang menuntun kepada kebenaran itu, agar generasi Ahli Sunnah dapat mengetahui kesesatan yang dikatakan oleh ulama Syi’ah tentang Al-Qur`ān, tentang para sahabat, malaikat, dan tentang wahyu yang mereka yakini belum terputus.

Tidak diragukan lagi bahwa umat Islam sangat butuh kepada persatuan di atas manhaj yang jelas dan kembali kepada Al-Qur`ān dan As-Sunnah, serta memberikan loyalitas dan pembelaan kepada orang-orang yang diberikan kesaksian oleh Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam sebagai generasi terbaik.

Saya berharap para penuntut ilmu bersemangat melanjutkan tugas untuk menjelaskan dan menunjukkan kepada jalan petunjuk, serta menelanjangi jalan-jalan kesesatan dan mengingatkan manusia darinya.

Saya juga menasihati para pemuda Syi’ah untuk membaca buku seperti ini agar mereka bisa mengetahui kadar akal syekh-syekh mereka.

Mudah-mudahan itu menjadi sebab kebaikan bagi mereka, dan mereka bisa menempuh jalan Allah, sebagaimana Dia terangkan,

ﮋ ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ  ﭾﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂ   ﮃ  ﮄ  ﮅ  ﮆﮇ  ﮊ

"Bahwa inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya." [QS. Al-An’ām: 153]

Juga jalan yang telah dibuatkan perumpamaannya oleh Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Yaitu, beliau membuat satu garis lurus, kemudian membuat garis-garis lain di kanan dan kirinya. Beliau bersabda tentang garis yang lurus, "Ini adalah jalan Allah." Dan menyatakan tentang garis-garis yang lain bahwa itulah jalan-jalan lain yang ada setan di setiap jalannya, dan seterusnya.

Saya memohon kepada Allah agar ilmu yang diajarkan-Nya bermanfaat untuk kita, dan rezeki yang diberikan-Nya dipenuhi dengan keberkahan untuk kita.

Juga semoga Allah menjadikan buku ini bermanfaat dan tersebar di tengah-tengah umat manusia; agar para pengikut kebenaran dapat mengetahui apa yang disembunyikan oleh pengikut kebatilan, serta orang yang menginginkan kebaikan dari kalangan pengikut Mazhab Syi'ah Iṡnā 'Asyariyyah yang berakal bisa mendapat petunjuk, berlepas diri dari hawa nafsu, dan mengenal kebenaran untuk ia ikuti.

Hanya Allah-lah tempat memohon pertolongan dalam segala urusan dan hanya kepada-Nya tempat kembali.

Semoga Allah melimpahkan selawat kepada nabi kita, Muhammad, juga kepada keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka.

Ṣāliḥ bin Muḥammad Al-Luḥaidān

17/7/1428


 KATA PENGANTAR

 Yang Mulia Syekh Abdullāh bin Abdurraḥmān Al-Jibrīn raḥimahullāh

Mantan Anggota Lembaga Pusat Fatwa dan Riset Ilmiah

Segala puji hanya bagi Allah yang telah mengutus Nabi Muhammad sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan serta penyeru kepada jalan Allah dengan seizin-Nya, juga sebagai pelita yang menyinari.

Allah telah memuliakan para sahabatnya dan menganugerahkan kepada mereka keutamaan yang agung. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya.

Wa ba'du.

Saya telah membaca buku yang istimewa ini, yang disusun dan ditulis oleh seorang penuntut ilmu, yaitu Syekh Abdurraḥmān bin Sa'd Asy-Syaṡriy. Di dalamnya, beliau mengumpulkan semua yang terkait dengan akidah Rāfiḍah Iṡnā 'Asyariyyah, di mana mereka telah tersebar luas dan mendakwahkan akidah sesat mereka. Mereka menipu orang-orang awam dan jahil bahwa mereka mencintai Ahli Bait Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, padahal mereka membatasinya pada Imam Ali bin Abi Ṭālib dan dua orang anaknya saja, tanpa memasukkan paman-paman dan sepupu-sepupu beliau serta semua Bani Hāsyim.

Mereka juga telah menampakkan akidah sesat mereka terkait segenap sahabat, khususnya khalifah yang empat kecuali Ali. Mereka menyatakan bahwa para sahabat adalah orang-orang kafir, munafik lagi musyrik. Secara terang-terangan tanpa malu mereka melaknat dan mencaci para sahabat sebagaimana diterangkan oleh buku-buku mereka serta kaset dan dai-dai mereka.

Penulis -semoga Allah Ta'ālā memberinya taufik- telah menjelaskan apa yang mereka sembunyikan dan yang mereka yakini, dengan mengutip dari buku-buku yang tidak berani mereka sebarkan isinya; tetapi buku-buku itu telah mempermalukan mereka.

Kami berharap para pembaca mau menjelaskan kepada manusia tentang dendam dan kebencian mereka terhadap As-Sunnah dan pengikutnya, agar orang-orang yang tidak mengenal hakikat mereka tidak tertipu.

Kita memohon kepada Allah Ta'ālā agar memberi petunjuk kepada umat Islam yang, dan menggagalkan makar orang-orang yang membuat tipu daya. Akhirnya, hanya Allah Ta'ālā yang lebih mengetahui. Semoga Dia melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi Muhammad serta keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Abdullāh bin Abdurraḥmān Al-Jibrīn

Mantan Anggota Dewan Fatwa

8/1/1426 H


 KATA PENGANTAR

 Syekh Abdullāh bin Muḥammad Al-Gunaimān ḥafiẓahullāh

Mantan Dekan Program Pascasarjana Universitas Islam Madinah dan Pengajar di Masjid Nabawi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam

Segala puji hanya bagi Allah Tuhan alam semesta. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad, kepada keluarga, istri, dan seluruh sahabatnya.

Wa ba'du: Di antara kewajiban yang paling besar adalah menjaga akidah umat Islam dari penyelewengan dan penyimpangan. Di antara urusan penting dalam masalah ini adalah mengenal keburukan dan penyimpangan, sebagaimana dikatakan, "Sesuatu menjadi jelas dengan mengenal lawannya."

Dalam hadis sahih dari Ḥużaifah bin Al-Yamān raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berkata,

«كانَ الناسُ يسألونَ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم عن الخير، وكنتُ أسأله عن الشرِّ مَخافةَ أن أقعَ فيه»

"Para sahabat senantiasa bertanya kepada Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan karena saya takut terjatuh ke dalamnya." Hal ini menunjukkan ketajaman pemahaman Ḥużaifah raḍiyallāhu 'anhu.

Di antara persoalan yang mengancam akidah umat Islam adalah aliran Rāfiḍah. Sebuah aliran yang menyimpang dari ajaran Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Pada masa sekarang, aliran ini mulai memiliki kekuatan, karena ada beberapa negara yang menggelontorkan banyak dana serta menyiapkan banyak tokoh untuk mengiklankan dan menyebarkannya dengan masif di semua belahan bumi.

Buku ini, Tanya Jawab Akidah Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah, menutup salah satu celah yang besar serta menjadi tameng yang menghalangi tersebarnya akidah-akidah tersebut ke dalam hati umat Islam.

Semoga Allah memberi penulis, Saudara Abdurraḥmān bin Sa'd Asy-Syaṡriy, balasan yang terbaik serta memberinya tambahan ilmu dan kesungguhan perjuangan di jalan Allah Ta'ālā. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad, beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Disampaikan oleh

Abdullāh bin Muḥammad Al-Gunaimān


 KATA PENGANTAR

 Syekh Abdurraḥmān bin Ṣāliḥ Al-Maḥmūd ḥafiẓahullāh

Mantan Guru Besar Ilmu Akidah di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su'ūd

Segala puji hanya milik Allah, Tuhan alam semesta. Semoga selawat serta salam tercurahkan kepada nabi dan rasul yang paling mulia, Nabi kita Muhammad, beserta segenap keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Waba’du,

Saya telah menelaah buku yang bermanfaat ini, yang tertulis dalam bentuk tanya jawab untuk memudahkan pembaca dan orang-orang yang ingin mendapatkan faedah seputar pembahasan yang memiliki rambu-rambu jelas bagi orang yang Allah berikan cahaya Al-Qur`ān dan As-Sunnah, serta manhaj dan akidah as-Salaf aṣ-Ṣāliḥ.

Kita memohon kepada Allah dengan karunia dan kebaikan-Nya agar mengumpulkan kita bersama mereka. Tetapi, sangat disayangkan, rambu-rambu ini malah dirasakan tidak jelas, bahkan rancu oleh orang yang tidak memahami hakikat agama Islam dan akidahnya yang bersih, atau karena mereka terperangkap dalam fitnah tipuan dan penyamaran kebenaran yang dilemparkan ke dalam hati mereka oleh orang-orang sekuler, dai-dai Rāfiḍah serta antek-antek mereka, ahli bidah yang terpengaruh oleh mereka, dan lainnya.

Tema utama buku ini adalah menjelaskan hakikat Sekte Rāfiḍah Iṡnā ‘Asyariyyah. Buku yang mudah lagi jelas ini datang untuk mengupas hakikat mereka, serta mengupas ragam akidah mereka yang bersifat teori ataupun praktis, yang berdiri di atas syirik besar terkati tiga jenis tauhid: Rubūbiyyah, Ulūhiyyah, dan Asmā` wa Ṣifāt, serta berbagai kesesatan yang lahir dari syirik tersebut berupa sikap guluw (ekstrem) terhadap dua belas imam mereka; dan kebalikannya berupa sikap guluw dalam memusuhi Al-Qur`ān Al-Karīm, memusuhi Sunnah Rasul ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, serta mencela dan melaknat para sahabat raḍiyallāhu 'anhum dan menganggap mereka murtad.

Dari keyakinan tersebut, muncul puluhan ucapan dan perbuatan mereka yang aneh dan asing, di mana buku yang penuh faedah ini akan memaparkan mayoritasnya.

Di sini saya ingin mengingatkan beberapa hal:

Pertama, walaupun buku ini disusun dalam bentuk tanya jawab, tetapi dibutuhkan oleh para penuntut ilmu, karena mengandung berbagai intisari akidah mereka yang lengkap dengan referensinya. Seorang ulama dan penuntut ilmu tetap memerlukan buku yang meringkaskan baginya buku-buku besar dan berjilid-jilid, seperti buku ringkasan yang bermanfaat ini.

Kedua, keistimewaan buku ini adalah penukilan referensi; setiap riwayat, perkataan, dan kutipan disertai dengan penyebutan referensi utama dari buku-buku dan literatur mereka yang muktabar.

Ketiga, karena mazhab dan akidah kaum Syi'ah ini batil dan rusak, mengandung banyak kontradiksi, maka penyusun buku ini waffaqahullāh berupaya menunjukkan hal tersebut dari buku-buku mereka. Hal ini dilakukan dalam rangka memperlihatkan kontradiksi memalukan yang terdapat dalam mazhab mereka, sebagai peringatan bagi orang-orang yang teperdaya oleh mereka, serta ajakan untuk orang yang menginginkan kebenaran. Kita memohon agar Allah memberikan hidayah pada semuanya.

Keempat, perkara akidah serta walā` dan barā` tidak boleh masuk dalam urusan lelang politik yang dilalui umat Islam, yang biasanya menjadikan teman akrab dan saudara yang tidak ada perbedaan antara kita dan dia kecuali hanya seperti perbedaan antara pengikut Mazhab Syafi'i dan pengikut Mazhab Maliki, dianggap sebagai musuh yang kafir dan memiliki akidah rusak lagi sesat, bukan karena sebab akidah dan bukan juga pertimbangan agama, tetapi hanya karena perubahan kondisi politik.

Sikap seperti ini tidak bisa diterima dari siapa pun, terlebih dari orang yang berafiliasi kepada ilmu dan dakwah di jalan Allah yang seharusnya pendirian dan sikap adil mereka tetap teguh dan kukuh.

Terakhir, kami berterima kasih kepada saudara kami, Syekh Abdurraḥmān bin Sa’d Asy-Syaṡriy yang telah membekali umat dengan buku ringkas ini, yang datang tepat pada waktunya, sebagai teriakan peringatan terhadap umat Islam dari bahaya yang mengintai mereka.

Saya memohon kepada Allah Ta'ālā agar menjadikan buku ini bermanfaat serta tidak menghalangi penulisnya dan orang-orang yang menerbitkan dan mendistribusikannya dari meraih pahala dan ganjaran. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Riyad, 1/1/1428 H

Ditulis oleh,

Syekh Abdurraḥmān bin Ṣāliḥ Al-Maḥmūd


 KATA PENGANTAR

 Syekh Abdullāh bin Abdurraḥmān As-Sa'd ḥafiẓahullāh

Segala puji hanya bagi Allah semata. Selawat dan salam semoga dilimpahkan kepada orang yang tidak ada lagi nabi setelahnya.

Ammā ba’du.

Saya telah menelaah buku yang ditulis oleh saudara kami, Syekh Abdurraḥmān bin Sa’d Asy-Syaṡriy, yang berjudul "Akidah Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah". Saya menilai beliau telah menyusunnya dengan sangat baik dan memberikan banyak manfaat. Beliau menjelaskan akidah mereka secara sempurna dengan merujuk langsung pada referensi-referensi mereka yang diakui serta buku-buku mereka yang populer.

Orang yang mencermati apa yang beliau kutip dari buku-buku mereka dapat mengetahui secara yakin tentang kebatilan akidah Syi'ah dan kerusakan mazhab mereka.

Meskipun hal tersebut begitu jelas, tetapi beliau juga mengutip dari buku-buku mereka berbagai nukilan yang membantah sendiri kebatilan mazhab mereka, sebab doktrin-doktrin mazhab mereka saling meruntuhkan dan kontradiksi secara sempurna.

Wabillāhi Ta'ālā at-taufīq.

15/6/1428

Didiktekan oleh

Abdullāh bin Abdurraḥmān As-Sa'd


 KATA PENGANTAR

 Syekh Muhammad bin Abdullāh Al-Imām ḥafiẓahullāh

Segala puji hanya milik Allah. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya.

Ammā ba’du.

Saya telah menelaah buku saudara kami, Syekh Abdurraḥmān bin Sa’d Asy-Syaṡriy, yang berjudul “Tanya Jawab Akidah Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah”, dan saya menilai buku ini adalah kitab yang berharga dan bermanfaat luas bagi kaum muslimin. Saya berharap agar buku ini dapat dibaca oleh semua kalangan agar mereka bisa membentengi diri dari penyebaran akidah Sekte Rāfiḍah Iṡnā ‘Asyariyyah di dunia Islam.

Penulis telah menggunakan cara yang paling adil dan paling netral terhadap para dai Rāfiḍah, yaitu menjatuhkan mereka dengan buku-buku dan ucapan-ucapan yang mereka tulis dan mereka pegang, sehingga mereka tidak memiliki celah lagi untuk menuduh penulis bahwa dia mengambil materinya dari selain buku-buku mereka.

Cukuplah buku-buku mereka sebagai saksi atas kesesatan mereka dan berbicara dengan apa yang telah ditulis oleh tangan-tangan mereka. Penulis telah mengumpulkan kesesatan-kesesatan mereka secara sempurna dan memaparkannya secara lengkap.

Hanya kepada Allah saya memohon agar menjadikan buku ini diterima secara luas dan diambil faedahnya secara sempurna. Hanya Allah-lah tempat memohon pertolongan.

Darul Hadis di Ma'bar, 28/4/1434 H

Ditulis oleh

Muhammad bin Abdullāh Al-Imām


Bismillāhirraḥmānirraḥīm

 KATA PENGANTAR

 CETAKAN PERTAMA

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga selawat dan salam dilimpahkan kepada nabi dan rasul yang paling mulia.

Ammā ba'du.

Dalam rangka menunaikan sebagian dari kewajiban yang Allah wajibkan, yaitu kewajiban menyampaikan dan memberi nasihat, berdakwah dan saling mengajak kepada kebenaran, serta berupaya melindungi dan mengingatkan kaum muslimin dari berbagai keburukan, agar umat ini menjadi umat seperti yang diinginkan oleh Allah, yaitu umat yang bersatu padu dan saling menyayangi, menerapkan ajaran Islam, baik akidah, ucapan, maupun perbuatan, berpegang kuat dengan dua wahyu yang agung; Al-Qur`ān dan As-Sunnah, tidak dipecah belah oleh bidah, tidak dirusak oleh pemikiran-pemikiran yang menghancurkan, dan tidak pula dikalahkan oleh musuh-musuh mereka, sebagaimana Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭛ  ﭜ  ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ       ﭡ  ﭢ  ﭣ   ﮊ

"Siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh, dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Āli 'Imrān: 101)

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ  ﭾﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂ   ﮃ  ﮄ  ﮅ  ﮆﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮋ   ﮌ  ﮍ  ﮊ

"Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-An'ām:153)

Dahulu, kaum muslimin berada di atas agama yang dibawa oleh Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam berupa petunjuk dan kebenaran yang sesuai dengan dalil yang sahih dan akal yang sehat. Tetapi, setelah Amirul Mukminin Usman bin Affan raḍiyallāhu 'anhu terbunuh dan terjadi fitnah besar yang menyebabkan kaum muslimin saling berperang di Ṣiffīn, maka muncullah sekte Al-Māriqah atau Khawarij([7]) yang disebutkan oleh Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam,

(تَمْرُقُ مَارِقَةٌ عندَ فُرْقَةٍ مِنَ المسلمينَ، يقتُلُهَا أَولَى الطَّائِفَتَيْنِ بالْحَقِّ)

"Orang-orang khawarij akan keluar ketika terjadi perselisihan kaum muslimin, mereka akan dibunuh oleh kelompok yang paling dekat dengan kebenaran." ([8])

Mereka kemudian muncul ketika dua utusan kaum muslimin selesai berunding dan manusia bubar tanpa menghasilkan kesepakatan.

Setelah bidah Khawarij maka muncul bidah Syi'ah. ([9]) Setelah itu muncul sekte-sekte lain saling susul-menyusul, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dalam sejumlah hadis, di antaranya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah raḍiyallāhu 'anhu, dia berkata bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda,

( افترقت اليهودُ على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على إحدى أو اثنتين وسبعين فرقة، وتفترق أُمَّتي على ثلاث وسبعين فرقة)

"Orang-orang Yahudi pecah menjadi 71 kelompok, orang-orang Nasrani pecah menjadi 71 atau 72 kelompok, dan umatku akan pecah menjadi 73 kelompok." ([10])

Syi'ah pertama kali muncul di Kufah.([11]) Oleh karena itu disebutkan dalam sejarah Syi'ah bahwa tidak ada di antara kota Islam yang menerima ajaran mereka kecuali Kufah.([12]) Lalu dari Kufah, Syi'ah tersebar ke kota-kota yang lain, sebagaimana paham Murjiah yang juga muncul dari Kufah. Adapun Kadariah, Muktazilah, dan sekte-sekte lainnya yang rusak maka muncul dari Basrah. Sedangkan paham Jahmiyyah muncul dari wilayah Khurasan. Kemunculan bidah-bidah ini sesuai dengan kejauhan jaraknya dari kota Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam,([13]) karena bidah tidak akan tumbuh dan tersebar kecuali dalam kondisi kejahilan dan ketiadaan orang-orang yang berilmu dan beriman.

Oleh karena itu, Imam Ayyūb As-Sikhtiyāniy raḥimahullāh (131 H) berkata, "Termasuk kebahagiaan bagi generasi muda dan bangsa non-Arab apabila Allah menganugerahkan kepada mereka seorang ulama Ahli Sunnah." ([14])

Yang demikian itu mereka cepat terpengaruh oleh terpaan fitnah dan bidah lantaran ketidakmampuan mereka untuk memahami kesesatannya dan mengungkap penyimpangannya.

Oleh karena itu, metode yang paling baik untuk melawan bidah dan menolak perpecahan adalah dengan menyebar Sunnah di tengah-tengah manusia dan orang-orang yang tersesat yang keluar darinya. Ulama-ulama Ahli Sunnah telah bangkit melakukan tugas ini, menjelaskan keadaan ahli bidah serta membantah syubhat mereka, seperti yang dilakukan oleh Imam Ahmad raḥimahullāh ketika membantah orang-orang zindik dan Jahmiyyah, Imam Bukhari ketika membantah Jahmiyyah, Ibnu Qutaibah (276 H) ketika membantah Jahmiyyah dan Musyabbihah, dan Ad-Dārimiy (280 H) ketika membantah Bisyr Al-Marīsiy, dan lainnya.

Sekarang kita hidup di zaman globalisasi, sehingga di negara Islam terjadi percampuran berbagai jenis manusia, dan jumlah pengikut kelompok-kelompok yang menyimpang menjadi banyak lantaran kita dikepung oleh semua umat, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ṡaubān raḍiyallāhu 'anhu, dia berkata, Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda,

( يُوشكُ أنْ تَداعَى عليكم الأُمَمُ من كلِّ أُفُقٍ كما تَدَاعى الأَكَلَةُ على قَصْعَـتِها، قال: قلنا يا رسولَ الله: أَمِنْ قِلَّةٍ بنا يومئذٍ؟ قال  : أنتم يومئذٍ كثيرٌ، ولكنْ تكونونَ غُثاءً كغثاء السَّيلِ، تُـنْـتَزَعُ المهابةُ من قلوب عدوِّكم، ويُجعلُ في قلوبكم الوَهْنُ، قال: قلنا: وما الوَهْنُ؟ قالَ صلى الله عليه وسلم: حُبُّ الحياةِ، وكراهيةُ الموتِ )

“Kalian akan dikepung oleh semua umat dari semua arah sebagaimana orang-orang yang makan mengelilingi tempat makannya.” Ṣaubān mengatakan, Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah karena jumlah kami sedikit hari itu?” Beliau menjawab, “Hari itu kalian banyak. Tetapi kalian (tidak berkualitas) seperti buih di laut; rasa gentar dicabut dari dada musuh kalian sementara kalian diberikan penyakit wahn.” Kami bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Menginginkan tetap hidup dan takut mati.” ([15])

Di depan semua faktor ini, terdapat banyak tokoh ulama yang kadang-kadang berpangku tangan, sementara di waktu lain mereka tidak memberikan pengajaran akidah kepada umat.

Ketika kondisi lengah, permasalah tersebut merambah ke kurikulum pendidikan karena lemahnya pembekalan dan penanaman akidah kepada anak-anak muslim, serta adanya usaha merintangi penanaman dan perawatan akidah salaf pada umat. Semua itu menggoncang kaum muslimin, dengan berbagai tujuan yang tersimpul dalam dua target utama:

Pertama, menghilangkan rambu-rambu walā` dan barā` antara muslim dan kafir, antara Ahli Sunnah dan Ahli Bidah. Inilah yang disebut dalam istilah barat sebagai hambatan psikologis. Rambu-rambu loyalitas itu dihancurkan dengan semboyan-semboyan menyesatkan: toleransi, penyatuan hati, penghilangan berbagai penyimpangan, ekstremisme, fanatisme, kemanusiaan([16]), dan globalisasi([17]), dan istilah-istilah semisal yang memukau. Semua itu pada hakikatnya adalah propaganda-propaganda penghancur yang bermuara pada tujuan menghabisi seorang muslim yang taat pada agamanya.

Kedua, tersebarnya kejahilan terhadap agama yang menyebabkan umat berpecah belah dan seorang muslim jatuh tidak bernilai di tangan mereka, di bawah bendera organisasi mereka, dan hal buruk lainnya yang dihadapi oleh umat Islam dalam krisis pemikiran yang sangat berat, yang menghilangkan keseimbangan dalam hidup mereka dan menggoncang pijakan bermasyarakat bagi muslim yaitu kesatuan akidah.

Masing-masing mendapatkan kadar yang sesuai dengan keberadaan faktor-faktor ini pada dirinya, maka terjadilah kegoncangan, kerusakan tersebar, ilmu melemah, dan ketika itu pelaku bidah mendapatkan kesempatan yang terbuka luas untuk menanam dan menyebarkan bidah mereka, sehingga ada dalam genggaman setiap orang. Itu semua terkait berbagai urusan ibadah yang diada-adakan dan tidak ada dalilnya, keluar dari kaidah membatasi ibadah pada nas (dalil), sehingga para ahli bidah dan penyimpangan merajalela, dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi. Pemikiran-pemikiran bidah pun muncul bertubi-tubi dan turun-temurun. Betapa sering kita mendengar ribuan umat Islam di salah satu negeri Islam meyakini berbagai mazhab dan ajaran yang telah dihapus oleh Islam, dan berbagai jenis kerusakan lainnya yang diderita oleh umat Islam. ([18])

Oleh karena itu, saya memandang perlunya menerbitkan buku yang telah saya tulis tentang akidah Syi’ah Imāmiyyah - Iṡnā ‘Asyariyyah dalam bentuk tanya jawab, lalu saya pun meringkasnya.([19]) Kemudian ringkasan itu saya ringkas lagi dengan tujuan untuk mengingatkan tentang kewajiban agama dan untuk menyelamatkan kaum muslimin dari apa yang menimpa sebagian orang yang teperdaya dan jatuh ke dalam fitnah. Semua itu saya lakukan dalam rangka menjaga agama dan pemeluknya dari segala yang membahayakannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh berkata, “Kewajiban orang yang berilmu kepada umat ini adalah menjaga ilmu agama dan menyampaikannya. Apabila mereka tidak menyampaikannya atau lalai menjaganya maka itu adalah kezaliman yang paling besar terhadap umat Islam.

Oleh karena itu, Allah Tabāraka wa Ta’ālā berfirman,

ﮋ ﮠ  ﮡ   ﮢ  ﮣ  ﮤ  ﮥ  ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ  ﮪ  ﮫ   ﮬ  ﮭ  ﮮﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ  ﯕ    ﮊ

"Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur`ān), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat." (QS. Al-Baqarah: 159)

Dampak negatif dari tindakan mereka menyembunyikan ilmu itu berimbas kepada binatang ternak dan lainnya, sehingga mereka pun dilaknat oleh orang-orang yang melaknat hingga binatang.” ([20]) .

Beliau berkata juga, “Orang yang membantah ahli bidah adalah mujahid. Bahkan Yaḥya bin Yaḥya mengatakan, ‘Membela As-Sunnah lebih utama dari jihad."([21])

Aż-Żahabiy raḥimahullāh (748 H) menambahkan riwayat, Saya bertanya kepada Yahya, "Orang yang menginfakkan hartanya, mengorbankan dirinya hingga lelah, dan dia berjihad; apakah orang ini (yang membela As-Sunnah) masih lebih utama darinya?" Dia menjawab, "Ya, jauh lebih utama.” ([22])

Oleh sebab itu, pengingkaran para salaf dan juga imam-imam Ahli Sunnah terhadap bidah sangat keras. Mereka meneriaki para ahli bidah dari semua belahan bumi dan memperingatkan dengan keras tentang fitnah mereka. Mereka sangat keras dalam hal itu lebih dari sikap keras mereka dalam mengingkari perbuatan keji dan kezaliman, karena bahaya bidah dan tingkat pengrusakannya terhadap agama lebih tinggi. ([23])

Abu Al-Wafā` bin 'Aqīl raḥimahullāh (513 H) berkata, “Jika Anda ingin mengetahui kedudukan Islam pada umat suatu zaman, maka jangan melihat desak-desakan mereka di pintu-pintu masjid serta ramainya suara lantunan talbiah mereka di Arafah. Tetapi, lihatlah pada keserasian mereka dengan musuh-musuh agama.

Ibnu Ar-Rāwandiy dan Al-Ma’arriy -semoga laknat Allah menimpa keduanya- ketika hidup mereka berdua menulis banyak puisi dan prosa. Ibnu Ar-Rāwandiy mengatakan (tentang Al-Qur`ān), “Cerita khurafat.” Sedang Al-Ma’arriy mengatakan, “Mereka (umat islam) membaca kebatilan sembari menghunus pedang dan mengatakan, ‘Kami benar'." Kami pun katakan, "Ya.” Kebatilan yang dia maksudkan adalah Kitābullāh. Mereka berdua pun hidup sekian tahun secara bebas, kuburan mereka lalu diagungkan, dan tulisan-tulisan mereka laris dibeli. Ini menunjukkan lemahnya agama dalam hati.” ([24])

Lā ḥaula walā quwwata illā billāh!

Saya memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla agar Dia menjadikan buku kecil ini dan juga kitab induknya sebagai sebab yang diberkahi untuk memotivasi manusia mengamalkan As-Sunnah dalam kehidupan jihad umat Islam demi mempertahankan kesucian Islam.

Buku ini merupakan salah satu hak Allah Ta'ālā yang mesti dipenuhi, sebagai bagian dari jihad serta amar makruf nahi mungkar. Terlebih lagi karena tingkat kebutuhan kepadanya di waktu-waktu sekarang ini sangat tinggi dan mendesak. Sesungguhnya serangan bidah sangat keras dan sarana-sarananya sangat banyak, disebabkan banyaknya dai-dai yang menyesatkan sedang membuat makar di tengah-tengah kita, mereka menawan hati mereka dengan pemikiran-pemikiran rendahan yang saling menjatuhkan, berupa pemikiran sekuler dan liberal -yaitu kemunafikan-, ḥadāṡah (modernisasi agama), tanwīriyyah (pecerahan), ‘aṣrāniyah (modernitas), dan ibāhiyyah (kebebasan mutlak).

Seruan besar nan keji itu dibuat di bawah tameng kebebasan beragama, persatuan agama, dan persaudaraan agama internasional; di mana darinya muncul seruan -yang insya Allah gagal- untuk menyatukan Ahli Sunnah dengan sekte-sekte yang lain, dan juga berbagai seruan lainnya yang mencabut pondasi wāla` dan barā` dari hati.

Padahal Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﯠ  ﯡ  ﯢ  ﯣ  ﯤ  ﯥ  ﯦ   ﯧ  ﯨ  ﯩ  ﯪ  ﯫﯬ  ﮊ

“Dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS Al-Mā`idah: 49)

Di antara keinginan mereka yang paling keji adalah sebuah rencana yang berasal dari orang-orang kafir, yaitu melemparkan tuduhan kepada As-Sunnah dan para penganutnya, mengolok-olok dan mempermainkan mereka. Ini adalah lembah kebatilan paling luas yang mereka upayakan secara terang-terangan.

Di antara hawa nafsu yang paling buruk itu adalah adanya sikap ketidakpedulian orang-orang yang lalai di antara kita. Anda melihat mereka yang lalai, yang menyembunyikan kebenaran dan pelit untuk berbagi ilmu, apabila saudara-saudaranya seiman bangkit membela As-Sunnah, maka dia malah menambahkan pada kelalaian dirinya itu: sikap berpangku tangan dan tidak peduli.

Imam Ibnul-Qayyim raḥimahullāh berkata, “Ketaatan dan kebaikan apa yang dimiliki oleh orang yang melihat larangan-larangan Allah dilanggar, batasan-batasan Allah diterjang, agama Allah ditinggalkan, dan Sunnah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dibenci, tetapi hatinya malah dingin dan lisannya kaku, ia laksana setan bisu, sebagaimana orang yang berbicara mengajak kepada kebatilan adalah setan yang berbicara! Musibah yang menimpa agama ini tidak lain kecuali datang dari mereka, yaitu orang-orang yang tidak peduli terhadap apa yang terjadi pada agama selama makanan dan kedudukan mereka aman.

Yang terbaik di antara mereka adalah yang turut memberikan simpati. Seandainya dia dizalimi terkait sesuatu yang membahayakan kedudukan dan hartanya, niscaya dia akan mengerahkan kemampuannya dan berjuang keras serta menggunakan tiga tahapan nahi mungkar sebisa yang dia lakukan.

Orang-orang ini, di samping mereka telah jatuh di mata Allah dan Allah murka kepada mereka, di dunia mereka telah ditimpa dengan musibah paling besar tetapi mereka tidak merasakannya, yaitu kematian hati. Karena semakin sempurna kehidupan hati maka rasa marahnya karena Allah dan Rasul-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam akan semakin kuat dan pembelaannya kepada agama akan semakin sempurna.”([25])

Mungkin akan ada yang berkata, "Apa faedahnya menerbitkan buku seperti ini dalam mengungkap hakikat Sekte Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah karena itu tidak akan berkontribusi banyak di era globalisasi ini, kecuali jika Allah menghendaki?"

Jawabannya: Kitab Allah Ta'ālā dan Sunnah Rasul-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam telah menunjukkan bahwa akan selalu ada di antara umat ini sekelompok orang yang memegang kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam hingga kiamat nanti.

Seperti dalam sabda Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam,

( لا تَزَالُ مِن أُمَّتِي أُمَّةٌ قائمةٌ بأمرِ الله، لا يَضُرُّهُم مَنْ خَذلَهُم، ولا مَنْ خَالَفَهُمْ، حتَّى يأتيَهُمْ أمرُ الله وهُم على ذلك )

“Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang teguh menjalankan perintah Allah; mereka tidak akan ditimpa bahaya oleh orang-orang yang meninggalkan mereka dan tidak juga yang menyelisihi mereka, hingga datang keputusan Allah (hari kiamat) sementara mereka tetap berada di atas (kebenaran) itu.” ([26])

Dan juga bahwa umat beliau ṣallallāhu 'alaihi wa sallam tidak akan bersepakat di atas kesesatan berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abdullāh bin Umar raḍiyallāhu 'anhumā, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda,

( إنَّ الله لا يَجْمَعُ أُمَّتي - أو قال - أُمَّةَ محمدٍ  صلى الله عليه وسلم على ضلالَةٍ، ويَدُ الله على الجماعةِ )

“Sungguh Allah tidak akan menyatukan umatku (atau beliau mengatakan: umat Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam) di atas suatu kesesatan. Sungguh, Tangan Allah bersama jamaah.” ([27])

Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam juga bersabda,

( ما مِنْ نبيٍّ بعَـثَـهُ الله في أُمَّةٍ قبلي إلاَّ كان له من أُمَّتِهِ حَوارِيُّونَ وأصحابٌ يأخذونَ بسُنَّتهِ، ويَقتدُونَ بأمرِهِ، ثمَّ إنها تَخلُفُ من بعدهمِ خُلُوفٌ، يقولون ما لا يفعلونَ، ويفعلونَ ما لا يُؤمَرُونَ، فمَنْ جاهَدَهُمْ بيدهِ فهُوَ مُؤْمنٌ، ومَن جاهَدَهُمْ بلسانهِ فهُوَ مؤمنٌ، ومن جاهدهم بقلبه فهو مؤمنٌ، وليسَ وراءَ ذلكَ منَ الإيمانِ حبَّةُ خَرْدَلٍ )

"Tidak ada seorang nabi pun yang Allah utus pada suatu umat sebelumku kecuali ia memiliki para pengikut setia dan sahabat-sahabat yang mengamalkan sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian muncul para pengganti setelah mereka yang mengatakan apa yang tidak mereka perbuat dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Maka siapa yang berjihad melawan mereka dengan tangannya maka ia seorang mukmin, siapa yang berjihad melawan mereka dengan lisannya maka ia seorang mukmin, dan siapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya maka ia seorang mukmin. Dan tidak ada setelah itu keimanan meskipun sebesar biji sawi." ([28])

Pengingkaran dengan hati adalah meyakini hal itu mungkar serta membencinya. Apabila ini ada berarti ada iman di dalam hati, tetapi apabila hati kehilangan pengakuan terhadap yang makruf serta pengingkaran terhadap yang mungkar berarti iman telah terangkat dari hati.

Tidak diragukan lagi bahwa menjelaskan kelompok yang keluar dari Al-Jamā'ah dan menyimpang dari As-Sunnah adalah suatu keharusan, untuk menghilangkan kerancuan serta menjelaskan kebenaran kepada manusia, mendakwahkan agama Allah Subḥānahu wa Ta'ālā, dan menegakkan hujjah terhadap kelompok yang menyelisihi Al-Qur`ān dan As-Sunnah, agar orang yang binasa itu akan binasa di atas hujjah, dan orang yang selamat itu dia akan selamat di atas hujjah.

Kebenaran itu hampir tidak samar bagi setiap orang, hanya saja orang-orang itu menyesatkan para pengikutnya dengan menggunakan syubhat dan ucapan-ucapan yang menipu.

Oleh karena itu, para pengikut kelompok yang menyelisihi Al-Qur`ān dan As-Sunnah adalah kalangan orang-orang zindik atau jahil.

Dan sudah merupakan suatu kewajiban untuk mengajarkan orang yang jahil, serta menjelaskan karakter orang yang zindik agar dia bisa dijauhi, seperti tokoh-tokoh ahli bidah dari kalangan orang-orang yang memiliki pemikiran atau peribadatan-peribadatan yang menyelisihi Al-Qur`ān dan As-Sunnah; maka menjelaskan hakikat mereka dan mengingatkan umat dari bahaya mereka adalah perkara wajib menurut kesepakatan umat Islam.

Bahkan, pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad raḥimahullāh, "Apakah orang yang berpuasa, salat, dan beriktikaf lebih Anda sukai daripada yang berbicara menjelaskan tentang ahli bidah?" Beliau menjelaskan, “Apabila dia berpuasa, salat, dan iktikaf maka itu untuk dirinya. Adapun jika dia berbicara menjelaskan tentang ahli bidah, maka itu untuk kaum muslimin, dan itu yang lebih utama.”

Beliau menjelaskan bahwa manfaat orang yang kedua bersifat umum untuk kaum muslimin dalam agama mereka, sejenis dengan berjihad fi sabilillah. Karena membersihkan agama dan syariat Allah serta menangkal kekejian dan kezaliman musuh-musuh umat Islam adalah wajib kifayah menurut kesepakatan umat Islam.

Kalau bukan karena jasa orang-orang yang Allah bangkitkan untuk menangkal bahaya orang-orang itu, niscaya agama ini telah rusak. Kerusakan yang disebabkannya lebih besar daripada kerusakan akibat penguasaan pasukan musuh, karena pasukan musuh bila berkuasa, mereka tidak merusak hati dan agama manusia kecuali sebagai ekses ikutan, adapun orang-orang itu mereka merusak hati sejak awal.([29])

Musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani, kaum munafik, dan semua agama kafir yang membuat makar terhadap umat ini menemukan jalan untuk melemparkan fitnah kepada umat melalui kelompok-kelompok yang keluar dari Al-Jamā'ah.

Tidak diragukan, bahwa menjelaskan kebenaran terkait kelompok-kelompok ini akan menghilangkan kesempatan musuh untuk memperbesar celah perselisihan umat ini dan kelanjutannya. Sebab, membiarkan tokoh-tokoh ahli bidah berupaya menyesatkan manusia, memperbanyak jumlah mereka, dan menipu orang-orang yang mengikuti mereka lalu mengklaim apa yang mereka lalui itulah Islam adalah termasuk menghalangi agama dan syariat Allah Ta'ālā.

Bahkan, di antara sebab lahirnya orang-orang ateis adalah karena mereka menyangka bahwa Islam adalah ajaran yang dianut oleh kelompok-kelompok ahli bidah; mereka melihatnya rusak secara logika, maka mereka pun kafir terhadap agama secara keseluruhan. ([30])

Kemudian, seandainya kita mengetahui bahwa para pengikut Sekte Syi’ah tidak akan meninggalkan sekte mereka dan orang-orang yang berafiliasi kepada Ahli Sunnah tidak mengakui kesesatan Syi’ah, maka hal itu tetap tidak akan menjadi penghalang kita untuk menyampaikan agama dan menjelaskan ilmu. Bahkan, hal itu tidak menggugurkan kewajiban berdakwah, tidak juga kewajiban amar makruf nahi mungkar, sebagaimana menurut salah satu riwayat dari Imam Ahli Sunnah, Ahmad bin Hanbal raḥimahullāh dan pendapat banyak ulama. ([31])

Sungguh, demi Allah! Katakan kepadaku: Apabila ahli bidah menampakkan bidahnya, sementara orang-orang yang berilmu sebagiannya malah membiarkannya dan sebagian lainnya diam, maka kapan kebenaran akan tampak?

Ketahuilah, hasilnya adalah menangnya pemikiran-pemikiran yang batil dan mengalahkan agama yang hak, bahkan merubah peta agama di dalam fitrah umat Islam. Maka bagaimana bisa sikap diam terhadap kebatilan akan dibenarkan?!

Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﮒ  ﮓ  ﮔ    ﮕ  ﮖ    ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚﮛ  ﮜ  ﮝ   ﮞ  ﮟ   ﮠ  ﮊ

"Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap. Dan celakalah kalian karena kalian menyifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya)." (QS. Al-Anbiyā`: 18)

Ketahuilah! Bangkit untuk menarik anak panah dari tempatnya, baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, untuk membantah setiap orang yang menyelisihi akidah kita dan membantah syubhatnya serta mengungkap dan menelanjangi fitnah-fitnahnya merupakan hak Allah terhadap hamba-hamba-Nya dan hak umat Islam terhadap ulama-ulama mereka dalam rangka membantah setiap orang yang menyimpang beserta penyimpangannya, orang yang tersesat beserta kesesatannya, dan orang yang keliru beserta kekeliruannya, agar bidah-bidah tidak lagi menggerogoti umat Islam, merusak fitrah dan menghancurkan persatuan mereka, mengubah agama mereka dengan agama yang melenceng, syariat yang diselewengkan, dan setumpuk keyakinan sesat dan bidah. Lā ḥaula walā quwwata illā billāh!” ([32])

Di antara ulama-ulama besar yang mendapatkan ujian besar dalam memperjuangkan hal ini adalah para Syaikhul-Islām; Ibnu Taimiyyah, Ibnul-Qayyim, Muhammad bin Abdul-Wahhāb, ulama-ulama Najd, dan banyak lagi yang lainnya, raḥimahumullāh.

Dan di masa kita sekarang ada Asy-Syahīd in syā`allāh Syekh Iḥsān Ilāhī Ẓahīr, Muhammad Mālullāh raḥimahumallāh, Nāṣir bin Abdullāh Al-Qifāriy waffaqahullāh dan ulama-ulama mulia lainnya.

Terkait referensi, saya berpatokan pada buku-buku Syi’ah Imāmiyyah Iṡnā ‘Asyariyyah yang diakui di kalangan mereka, serta beberapa buku sekte-sekte Syi’ah, demi menjaga sikap adil dan netral, dan untuk menegakkan hujjah serta menyebutkan apa yang mereka bantah sendiri di dalam kebanyakan akidah mereka. Buku ini in syā`Allah akan menjadi salah satu faktor terbesar kembalinya orang-orang yang Allah berikan hidayah dari kalangan pemuda dan pemudi sekte Syi’ah kepada mazhab yang benar, yaitu mazhab sahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.

Tidak lupa saya memberikan ucapan terima kasih kepada para syekh dan ulama yang mulia:

Abdullāh bin Abdurraḥmān Al-Jibrīn raḥimahullāh, Ṣāliḥ bin Muhammad Al-Luḥaidān, Abdurraḥmān bin Nāṣir Al-Barrāk, Abdullāh bin Muhammad Al-Gunaimān, Ṣāliḥ bin Fauzān Al-Fauzān, Abdul Aziz bin Abdullāh Ar-Rājiḥiy, Abdurraḥmān bin Ḥammād Al-'Umar, Abdurraḥmān bin Ṣāliḥ Al-Maḥmūd, Nāṣir bin Abdullāh Al-Qifāriy, Muhammad bin Nāṣir As-Suḥaibāniy, Ibrahim bin Muhammad Al-Khar’ān raḥimahullāh, Abdul Aziz bin Sālim Al-'Umar, Abdurraḥmān bin Abdullāh Al-'Ajlān, Abdul Muḥsin bin Ḥamd Al-'Abbād Al-Badr, dan yang lainnya yang telah memberikan nasihat, arahan, dan doa untukku.

Semoga Allah Ta'ālā memberikan mereka balasan yang lebih baik atas jasa mereka pada diriku, pada Islam dan umat Islam, dan menempatkan mereka serta orang tua, keluarga, dan anak keturunan kita serta umat Islam seluruhnya yang masih hidup dan yang sudah meninggal di Surga Firdaus yang tertinggi. Āmīn.

Mari kita memasuki bahasan buku ini sembari memohon pertolongan kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya. Cukuplah Dia bagi kita, dan sungguh Dia Yang Mahamulia dan Mahatinggi adalah sebaik-baik tempat berserah diri dan sebaik-baik penolong.

Penulis,

Abdurraḥmān bin Sa'd bin Ali Asy-Syaṡriy

Awal Rajab 1425 H


بسم الله الرحمن الرحيم

 Pertanyaan (1): Siapakah orang-orang Syi’ah itu?

Jawab: Ulama mereka yang bernama Muhammad bin Muhammad An-Nu’mān, yang mereka beri gelar dengan Al-Mufīd memberikan jawaban, bahwa mereka adalah: pengikut Amirul Mukminin Ali bin Abi Ṭālib -ṣalawātullāhi 'alaihi- secara loyal, meyakini hak keimaman (kepemimpinan)nya setelah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam wafat tanpa jeda,([33]) menafikan keimaman khalifah-khalifah sebelumnya, dan menjadikannya dalam ranah akidah sebagai orang yang mereka ikuti, bukan sebagai pengikut salah seorang dari mereka dalam hal keteladanan. ([34]) ([35])

Tanggapan:

Kata Syi’ah -ketika disebutkan pada era sekarang- maka maksudnya tidak lain kecuali Sekte Iṡnā ‘Asyariyyah, ([36]) karena sekte ini adalah mayoritas Syi’ah hari ini di Iran, Irak, Suriah, Libanon, negara-negara Teluk Arab, dan tempat lainnya. Juga karena referensi mereka dalam hadis dan riwayat mencakup sebagian besar keyakinan sekte-sekte Syi’ah yang muncul sepanjang sejarah.

 Pertanyaan (2): Bagaimana awal munculnya Sekte Syi’ah?

Jawab: Pendapat yang paling kuat menurut para ulama bahwa Syi’ah dibentuk dan dimunculkan oleh Abdullāh bin Saba` al-Yahūdiy. Bahkan, inilah yang diakui oleh kitab-kitab Sekte Syi’ah sendiri.

Kitab-kitab tersebut menyebutkan bahwa Ibnu Saba` al-Yahūdiy adalah orang pertama kali mengenalkan keimaman (kepempimpinan) Ali raḍiyallāhu 'anhu. Ini adalah akidah mereka yang menyatakan keimaman Ali, dan ini merupakan dasar pemahaman Syi’ah. Kitab-kitab tersebut juga menyebutkan, bahwa dia adalah orang pertama yang memunculkan celaan terhadap Abu Bakr, Umar, dan Usman raḍiyallāhu 'anhum. Dialah orang pertama yang memunculkan keyakinan raj’ah dan menyatakan Ali raḍiyallāhu 'anhu sebagai tuhan, serta keyakinan-keyakinan lainnya.

Tokoh mereka, Hasan An-Nūbakhtiy berkata, “As-Saba`iyyah adalah para pengikut Abdullāh bin Saba`. Dia termasuk yang menginisiasi celaan kepada Abu Bakr, Umar, Usman, dan para sahabat serta berlepas diri dari mereka. Dia mengatakan, bahwa Ali 'alaihissalām yang memerintahkan hal tersebut kepadanya. Ali kemudian memanggilnya dan menanyakan perkataannya tersebut, dan dia mengakuinya. Maka Ali pun memerintahkan untuk membunuhnya.” ([37]) Sampai pada perkataannya, “Sejumlah ulama dari pengikut Ali 'alaihissalām menceritakan, bahwa Abdullāh bin Saba` adalah seorang Yahudi, kemudian dia masuk Islam dan loyal kepada Ali 'alaihissalām. Dia meyakini keyakinan ini ketika masih beragama Yahudi terkait kepemimpinan Yūsya’ bin Nūn setelah Nabi Musa 'alaihissalām wafatnya." ([38])

Ketika dia masuk Islam setelah Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam wafat, maka dia meyakini hal yang sama terhadap Ali 'alaihissalām. Dia adalah orang pertama yang mengenalkan wajibnya keimaman Ali 'alaihissalām, serta menyatakan sikap barā` (berlepas diri) dari musuh-musuhnya dan mengkafirkan mereka([39]). Dari sini([40]), orang-orang yang menyelisihi Syi’ah mengatakan bahwa asal paham Rāfiḍah diambil dari agama Yahudi. ([41])

Kemudian guru para ulama Sekte Syi’ah, Sa’d Al-Qummiy menyebutkan sikap Ibnu Saba` al-Yahūdiy ketika sampai kepadanya berita kematian Ali raḍiyallāhu 'anhu, yaitu dia meyakininya belum mati; dia meyakininya akan kembali dan kemudian bersikap guluw (ekstrem) kepadanya. ([42])

 Pertanyaan (3): Alangkah baiknya Anda memperkenalkan kepada kami; siapa dua belas imam yang wajib diikuti dalam akidah Sekte Syi’ah Imāmiyyah?

Jawab:

1.       Al-Khalīfah ar-Rāsyid Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu, memiliki kun-yah (nama panggilan); Abu Al-Hasan, sedang kaum Syi'ah menggelarinya dengan Al-Murtaḍā. Beliau lahir sekitar 23 tahun sebelum hijrah dan mati syahid tahun 40 H."

2.       Al-Hasan bin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhumā (2 H - 50 H); memiliki kun-yah; Abu Muhammad, dan digelari Az-Zakiy.

3.       Al-Ḥusain bin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhumā (3 H - 61 H); memiliki kun-yah Abu Abdillah dan digelari dengan Asy-Syahīd.

4.       Ali bin Ḥusain bin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhum (38 H - 95 H); memiliki kun-yah Abu Muhammad dan digelari dengan Zainul-Ābidīn raḥimahullāh.

5.       Muhammad bin Ali bin Ḥusain bin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhum (57 H - 114 H); memiliki kun-yah Abu Ja’far dan digelari dengan Al-Bāqir raḥimahullāh.

6.       Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Ḥusain bin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhum (83 H - 148 H); memiliki kun-yah Abu Abdillah dan digelari dengan Aṣ-Ṣādiq raḥimahullāh.

7.       Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Ḥusain bin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhum (128 H - 183 H); memiliki kun-yah Abu Ibrahim dan digelari dengan Al-Kāẓim raḥimahullāh.

8.       Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Ḥusain bin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhum (148 H - 203 H); memiliki kun-yah Abu Al-Hasan dan digelari dengan Ar-Riḍā raḥimahullāh.

9.       Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Ḥusain bin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhum (195 H - 220 H); memiliki kun-yah Abu Ja’far dan digelari dengan Al-Jawād raḥimahullāh.

10.    Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Ḥusain bin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhum (212 H - 254 H); memiliki kun-yah Abu Al-Hasan dan digelari dengan Al-Hādī raḥimahullāh.

11.    Al-Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Ḥusain bin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhum (232 H - 260 H); memiliki kun-yah Abu Muhammad dan digelari dengan Al-‘Askariy raḥimahullāh.

12.    Muhammad bin Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Ḥusain bin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhum; mereka memberinya kun-yah Abu Al-Qāsim dan digelari dengan Al-Mahdi. Mereka meyakininya lahir 255 H atau 256 H serta mereka meyakini dia masih hidup sampai hari ini. ([43])

 Pertanyaan (4): Apakah ada salah satu di antara Sekte Syi’ah yang meyakini bahwa Jibril 'alaihissalām keliru ketika menurunkan wahyu?

Jawab:

Ya! Sekte Syi’ah Al-Gurābiyyah mengatakan, "Muhammad dengan Ali lebih mirip daripada kemiripan satu burung gagak dengan burung gagak yang lain, dan daripada kemiripan seekor lalat dengan lalat yang lain. Allah lalu mengutus Jibril 'alaihissalām kepada Ali 'alaihissalām, tetapi Jibril salah dalam menyampaikan wahyu dari Ali kepada Muhammad, sehingga mereka melaknat si pemilik bulu, Jibril 'alaihissalām.”([44])

Catatan Penting:

Adakah perbedaan antara perkataan sekte Al-Gurābiyyah ini dengan perkataan para ulama Sekte Iṡnā ‘Asyariyyah terkati kedustaan ulama mereka, Al-Kulainiy, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Abu Ja’far raḥimahullāh, “Apakah Al-Qur`ān tidak cukup bagi mereka?” Dia menjawab, “Tentu cukup bila mereka mendapatkan orang yang bisa menafsirkannya.”

Dia balik bertanya, “Bukankah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam telah menafsirkannya?” Dia menjawab, “Tentu, beliau telah menafsirkannya kepada satu orang, dan beliau telah menjelaskan kepada umat sifat orang tersebut. Dia adalah Ali bin Abi Ṭālib 'alaihissalām.”([45])

Oleh karena itu, para ulama Syi’ah menamakan Al-Qur`ān dengan “Al-Qur`ān yang bisu”, sedangkan Imam Ali adalah “Al-Qur`ān yang berbicara”.

Syekh-syekh mereka berdusta atas nama Ali raḍiyallāhu 'anhu, bahwa dia berkata, “Ini adalah Kitab Allah yang bisu, dan aku adalah Kitab Allah yang berbicara." ([46])

Syekh mereka, Al-'Ayyāsyiy membuat kebohongan, Dari Abu Baṣīr terkait tafsir firman Allah Subḥānahu wa Ta'ālā,

ﮋ ﮓ  ﮔ  ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘ   ﮙ   ﮚ    ﮛ  ﮜﮝ  ﮊ

"Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya" (QS. Al-A’rāf: 157), Abu Ja’far 'alaihissalām berkata, “Maksud cahaya adalah Ali 'alaihissalām.”([47])

Kontradiksi:

Mereka membuat kebohongan dengan riwayat dari Abu Khālid Al-Kābiliy, ia berkata, "Saya pernah bertanya kepada Abu Ja’far 'alaihissalām tentang firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﯤ  ﯥ   ﯦ  ﯧ     ﯨ     ﯩﯪ  ﮊ

"Maka berimanlah kepada Allah, rasul-Nya, dan cahaya yang Kami turunkan." (QS. At-Tagābun: 8). Maka Abu Ja’far berkata, “Wahai Abu Khālid, demi Allah, cahaya yang dimaksud adalah imam-imam dari keluarga -Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hingga hari Kiamat. Demi Allah, mereka adalah cahaya yang Allah turunkan.” ([48])

Tanggapan:

Sekte Iṡnā ‘Asyariyyah menetapkan kerasulan pada Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu tanpa mengklaim bahwa Jibril telah salah menurunkan wahyu. Namun, mereka membuat kedustaan bahwa misi Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam hanya untuk mengenalkan Ali raḍiyallāhu 'anhu. Mereka mengklaim bahwa tugas Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam hanya menjelaskan Al-Qur`ān kepada Ali raḍiyallāhu 'anhu sendiri.

Padahal Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭢ  ﭣﭤ  ﭥ   ﭦ     ﭧ  ﭨ  ﭩ  ﭪ  ﭫ  ﭬ   ﭭ  ﭮ   ﭯ  ﮊ

"(Mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan Aż-Żikr (Al-Qur`ān) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka berpikir." (QS. An-Naḥl: 44)

Selebihnya saya biarkan Saudara Pembaca mencermati sendiri kedustaan mereka!

 Pertanyaan (5): Apakah ada di antara syekh Syi’ah yang mengatakan bahwa perkataan salah seorang imam mereka menasakhkan Al-Qur`ān? Atau membatasi ayat yang bersifat mutlak, dan mengkhususkan ayat yang bersifat umum?"

Jawab:

Ya! Dan jumlah mereka banyak.

Oleh karena itu, ulama mereka, Muhammad Ālu Kāsyif al-Giṭā` berkata, “Di antara hikmah diturunkannya Al-Qur`ān secara berangsur-angsur adalah menjelaskan sebagian hukum dan menyembunyikan sebagian yang lain. Tetapi beliau salāmullah ‘alaihi telah menyampaikannya kepada orang-orang yang menjadi pemegang wasiatnya; setiap pemegang wasiat menyampaikannya kepada pemegang wasiat setelahnya untuk dijelaskan pada waktu yang tepat secara hikmah, berupa ayat umum yang dikhususkan, ayat bersifat mutlak yang diberikan batasan, ayat bersifat global yang diberikan perincian, dan lain sebagainya.

Ada kalanya Nabi menyebutkan lafal yang umum lalu menyebutkan lafal yang mengkhususkannya setelah beberapa lama ketika beliau masih hidup. Dan ada kalanya beliau tidak menyebutkannya sama sekali, tetapi beliau menyampaikannya kepada pemegang wasiatnya untuk selanjutnya ia sampaikan pada waktunya.” ([49])

Keyakinan ini dibangun di atas keyakinan mereka bahwa imam adalah penafsir Al-Qur`ān, sehingga dia disebut juga sebagai Al-Qur`ān yang berbicara.

Mereka membuat kedustaan bahwa Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Ini adalah Kitab Allah yang bisu, dan aku adalah Kitab Allah yang berbicara.” ([50])

Mereka juga beryekainan bahwa imam-imam mereka adalah "penjaga ilmu Allah, penyimpan wahyu Allah, pemilik agama Allah; Al-Qur`ān turun hanya kepada kita, Allah disembah hanya dengan sebab perantaraan kita, kalau bukan karena kita maka Allah tidak akan dikenal.” ([51])

Di sebagian riwayat, “Dan mereka penjaga rahasia Allah.” ([52])

Dan di riwayat lain, “Tidak diketahui apa yang ada di sisi Allah kecuali dengan perantaraan kita.” ([53])

Tanggapan:

Berangkat dari itu, maka perkara pengkhususan ayat-ayat yang umum dalam Al-Qur`ān, memberikan qaid (batasan) pada ayat yang bersifat mutlak, atau perkara menasakhkannya di kalangan Syi’ah adalah perkara yang tidak berakhir dengan wafatnya Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, karena hadis Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan penetapan syariat ilahi masih terus berlanjut dalam keyakinan mereka…dst.

Ulama-ulama Syi’ah meyakini sebagaimana yang dikatakan oleh syekh mereka, Muhammad Al-Māzandarāniy, “Sesungguhnya ucapan setiap orang dari imam-imam yang suci adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada kontradiksi di antara ucapan mereka sebagaimana tidak ada kontradiksi dalam firman Allah. Sisi kesamaannya tampak jelas bagi siapa saja yang memiliki akal yang sehat dan watak yang lurus.” ([54])

Dia juga berkata, “Jika Anda berkata, bila demikian, maka orang yang mendengar sebuah ucapan dari Abu Abdillah 'alaihissalām boleh untuk meriwayatkannya dari ayahnya atau salah satu kakeknya, atau bahkan dia boleh mengatakan bahwa Allah Ta'ālā berfirman dengannya?"

Saya katakan, "Ini adalah permasalahan lain yang tidak disimpulkan dari hadis ini. Namun, dapat disimpulkan dari riwayat yang disebutkan sebelumnya, yaitu riwayat Abu Baṣīr dan riwayat Jamīl dari Abu Abdillah 'alaihissalām yaitu bolehnya mengatakan yang demikian itu, bahkan itu lebih utama.” ([55])

Syekh mereka, Al-Kulainiy membuat judul bab: "Bab penyerahan perkara agama kepada Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan kepada para imam 'alaihim as-salām.([56])

Tanggapan:

Orang yang mencermati keyakinan ini dan mengurai konsekuensinya akan mengetahui bahwa tujuannya adalah pengubahan agama Islam dan penggantian syariat Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam oleh ulama-ulama Syi’ah atau sebagian mereka, atau orang-orang jahil mereka, dan seterusnya.

Kenapakah mereka tidak mengambil apa yang mereka riwayatkan dari Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan dari para imam, bahwa mereka berkata, “Jika sampai kepada kalian dari kami dua buah hadis, maka timbanglah keduanya dengan Kitabullah. Apa yang sesuai dengan Kitabullah silakan diambil, dan apa yang bertentangan dengannya silakan dibuang.” ([57])

Hendaklah mereka mengingat firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﭵ  ﭶ  ﭷ  ﭸ  ﭹ       ﭺ  ﭻ     ﭼ  ﭽ   ﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂ  ﮃ      ﮄ  ﮅ  ﮆ   ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ

"Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, 'Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.' Dan mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)'." (QS. Al-Aḥzāb: 66-67).

 Pertanyaan (6): Apa keyakinan ulama Syi’ah tentang takwil Al-Qur`ān?

Jawab:

 Pertama, Para ulama Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur`ān memiliki makna batin yang berbeda dari maknanya yang lahir.

Oleh karena itu, mereka berdusta atas nama Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan atas nama Ali raḍiyallāhu 'anhu dengan mengklaim bahwa mereka berdua pernah berkata, “Sungguh Al-Qur`ān memiliki makna lahir dan makna batin.” ([58])

Tanggapan:

Yang mendorong para ulama Syi’ah untuk berkeyakinan seperti ini adalah karena Al-Qur`ān tidak pernah menyebutkan kedua belas imam mereka, dan juga tidak menyebutkan nas tentang permusuhan para imam tersebut dengan sahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Ketiadaan hal ini membuat para ulama Syi'ah tidak bisa tenang dan bahkan merusak berbagai urusan mereka, meskipun demikian, mereka tetap terang-terangan menyatakan bahwa Al-Qur`ān tidak pernah menyebutkan imam-imam mereka. Maka syekh mereka, Al-’Ayyāsyiy, membuat kedustaan dengan meriwayatkan dari Abu Abdillah 'alaihissalām, bahwa dia berkata, “Sekiranya Al-Qur`ān dibaca sebagaimana diturunkan maka pasti aku akan temukan nama-nama kami disebutkan.” ([59])

Mari perhatikan paparan berikut ini, semoga Allah Ta'ālā memberikan kepadaku dan kepada Anda petunjuk ke jalan yang lurus.

Pada awalnya mereka menyatakan bahwa dalam satu ayat terdapat satu makna lahir dan satu lagi makna batin!

Kemudian perkara ini terus berkembang hingga mereka mengatakan, “Al-Qur`ān memiliki makna lahir dan batin. Dan sisi batinnya memiliki satu sampai tujuh makna.” ([60])

Kemudian asumsi-asumsi yang dibuat oleh para ulama Syi’ah ini terus meningkat secara ceroboh, mereka berkata, “Di antara hal yang paling nyata dan paling tampak serta perkara yang paling jelas dan paling populer adalah bahwa setiap satu ayat dari kalāmullāh yang agung dan setiap satu bagian dari Kitabullah yang mulia memiliki makna lahir dan batin, serta tafsir dan takwil. Bahkan, sebagaimana yang tampak dari riwayat-riwayat mereka yang banyak, setiap satu ayat memiliki tujuh makna batin, atau tujuh puluh makna batin.”

Sangat banyak hadis, bahkan hampir mencapai derajat mutawātir, menunjukkan bahwa makna batin dan takwil tersebut, bahkan kebanyakan dari aplikatif dan tafsirnya, rata-rata membahas tentang keutamaan para imam yang suci serta memaparkan keagungan para imam tersebut, yaitu Nabi dan Ahlu Baitnya yang merupakan para imam yang saleh 'alaihim ṣalawātullāh. Bahkan perkara hak yang jelas lagi nyata -sebagaimana tidak samar bagi orang yang berilmu tentang rahasia kalam Allāh Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa yang diambil dari mata air ilmu orang-orang kepercayaan Allah Yang Mahabijaksana lagi Mahabesar- adalah; bahwa sebagian besar ayat-ayat yang berisikan pemberian karunia dan pujian, bahkan seluruhnya, turun terkait mereka dan wali-wali mereka. Dan bahwa kebanyakan pembahasan yang berisi celaan dan ancaman, bahkan seluruhnya, turun terkait orang-orang yang menyelisihi mereka dan musuh-musuh mereka.

Dan Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan semua makna batin Al-Qur`ān pada ajakan pengakuan terhadap imamah dan kekuasaan (para imam), sebagaimana juga Allah menjadikan sebagian besar makna lahir Al-Qur`ān pada ajakan kepada tauhid, kenabian, dan kerasulan." ([61])

 Kedua, mereka meyakini bahwa sebagian besar Al-Qur`ān turun tentang mereka dan musuh-musuh mereka dari kalangan sahabat raḍiyallāhu 'anhum.

Ulama besar mereka, Al-Faiḍ Al-Kāsyāniy berkata, “Sungguh, sebagian besar Al-Qur`ān turun tentang mereka (para imam), pengikut mereka, dan musuh-musuh mereka.” ([62]) Bahkan ulama mereka, Hāsyim bin Sulaimān Al-Baḥrāniy Al-Katkāniy (1107 H) berkata, “Sungguh Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu sendiri disebutkan dalam Al-Qur`ān sebanyak 1154 kali.”

Dia juga menulis buku yang diberi judul "Al-Lawāmi’ An-Nūrāniyyah fī Asmā`i 'Aliy 'alaihissalām wa Ahli Baitihi Al-Qur`āniyyah" (Buku yang menghimpun nama-nama Ali dan Ahli Bait yang disebutkan dalam Al-Qur`ān).

Tanggapan:

Pembaca yang budiman! Seandainya Anda membuka lembaran Al-Qur`ān Al-Karīm dan mengambil semua kamus Bahasa Arab, Anda tidak akan dapatkan nama satu pun di antara imam-imam mereka yang berjumlah dua belas itu.

Kemudian perkara ini berkembang di kalangan ulama Syi’ah sebagaimana kebiasaan mereka dalam mengembangkan hadis palsu dan berbuat dusta, lalu mereka membagi Al-Qur`ān menjadi empat bagian.

Ulama panutan mereka, Al-Kulainiy membuat kedustaan terhadap Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Sungguh Al-Qur`ān turun dengan empat bagian: seperempat tentang perkara halal, seperempat tentang perkara haram, seperempat tentang perkara sunnah dan hukum, dan seperempat tentang berita peristiwa sebelum kalian, berita peristiwa setelah kalian, dan pemutus perkara di antara kalian.” ([63])

Tanggapan:

Lalu di manakah penyebutan imam-imam yang dua belas?!

Sebagian ulama Syi’ah berusaha mengatasi hal ini, di mana kedua belas imam mereka tidak disebutkan dalam riwayat di atas, maka syekh mereka, Al-Kulainiy mengarang lagi satu riwayat bohong yang berbunyi, Dari Al-Aṣbag bin Nubātah, dia berkata, Saya mendengar Amirul Mukminin 'alaihissalām berkata, “Al-Qur`ān turun menjadi tiga bagian: sepertiga tentang kita dan tentang musuh-musuh kita, sepertiga tentang sunnah dan permisalan, dan sepertiga tentang kewajiban dan hukum.” ([64])

Kemudian syekh-syekh mereka berusaha melengkapinya dengan menambah jumlah bagian tersebut, maka mereka pun membuat-buat riwayat, dari Abu Ja’far 'alaihissalām dia berkata, “Al-Qur`ān turun menjadi empat bagian: seperempat tentang kita, seperempat tentang musuh kita, seperempat tentang sunnah dan permisalan, dan seperempat lagi tentang kewajiban dan hukum.” ([65])

Sebagian umat Islam mencermati bahwa para imam tersebut tidak memiliki keistimewaan khusus dalam Al-Qur`ān yang berbeda dengan orang-orang yang menyelisihi mereka menurut pembagian ini.

Ternyata hal itu disadari oleh syekh mereka, Al-’Ayyāsyiy, maka dia pun mengarang riwayat keempat dengan redaksi yang sama persis dengan sebelumnya, namun di dalamnya dia tambahkan, “Dan hanya bagi kitalah kemuliaan-kemuliaan Al-Qur`ān itu.” ([66]) Tetapi, syekh mereka, Al-Kāsyāniy malah membuka kedoknya di dalam tafsirnya, Aṣ-Ṣāfī, dia berkata, “Namun Al-’Ayyāsyī menambahkan, “Dan hanya bagi kitalah kemuliaan-kemuliaan Al-Qur`ān itu.” ([67])

 Pertanyaan (7): Apa dasar dan pangkal takwil-takwil Al-Qur`ān yang mereka sebutkan? Dan sertakan beberapa contohnya!"

Jawab:

Kitab pertama yang meletakkan pondasi tafsir Syi’ah model ini adalah Tafsīr Al-Qur`ān yang ditulis oleh ulama mereka, Jābir bin Yazīd bin Al-Ḥāriṡ Al-Ju’fiy al-Kūfiy yang wafat tahun 127 H." Dia dikenal dengan pengkafirannya terhadap sahabat-sahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.

Tanggapan:

Yang sangat mengherankan, ada kontradiksi dalam buku-buku Syi'ah terkait penentuan derajat dirinya antara ṡiqah dan ḍa'īf.

Beberapa riwayat menjadikan orang ini sebagai sosok yang pada dirinyalah ilmu Ahli Bait berkumpul, bahkan ditambahkan lagi sifat ketuhanan bahwa dia mengetahui yang gaib dan yang ada dalam kandungan, dan seterusnya.

Syekh mereka, Muḥsin Al-Amīn berkata, “Jābir Al-Ju’fiy meriwayatkan dari Al-Bāqir 'alaihissalām tujuh puluh ribu hadis.” ([68])

Namun, ada riwayat-riwayat lain di dalam kitab mereka yang mencelanya dan menyebutkan bahwa dia pendusta dan dajal!

Mereka meriwayatkan dari Zurārah, dia berkata, “Saya bertanya kepada Abu Abdillah 'alaihissalām tentang hadis-hadis riwayat Jābir, maka dia berkata, 'Saya belum pernah melihatnya sama sekali ada di sisi ayahku, kecuali satu kali. Dan dia belum pernah sama sekali datang kepadaku'.” ([69])

Ini termasuk kontradiktif. Dan yang seperti ini banyak ditemukan dalam penilaian tokoh-tokoh Syi’ah dan ulama mereka.

Intinya, buku-buku Sekte Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah telah mewariskan dari ulama mereka, Jābir, tentang penakwilan kata setan dalam firman Allah Subḥānahu wa Ta'ālā,

ﮋ ﯯ  ﯰ  ﯱ  ﯲ  ﯳ  ﯴ    ﯵ  ﯶ   ﯷ  ﯸ  ﯹ  ﯺ  ﯻ  ﯼ  ﯽ  ﯾ  ﯿﮊ

(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, "Kafirlah kamu!" Kemudian setelah manusia itu menjadi kafir ia berkata, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam." (QS. Al-Hasyr: 16)

Bahwa yang dimaksud dengan setan dalam ayat di atas adalah Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu 'anhu, dan bahwa Umar raḍiyallāhu 'anhu akan diazab lebih banyak daripada Iblis.

Takwil ini telah diwarisi oleh Sekte Iṡnā ‘Asyariyyah, dan ulama-ulama mereka mencatatnya di dalam referensi-referensi utama mereka yang terpercaya serta saling menukilnya. Bahkan mereka mengkafirkan orang yang tidak turut mengatakannya padahal sumbernya dari seorang yahudi! ([70])

Para ulama Syi’ah telah memalsukan riwayat dari Abu Ja’far bahwa dia berkata, "Allah tidak pernah sama sekali mengutus seorang nabi kecuali dengan kepemimpinan kami dan berlepas diri dari musuh-musuh kami. Itulah firman Allah dalam Kitab-Nya, "Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut,' kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan." (QS. An-Naḥl: 36). Yakni mereka sesat karena pendustaan mereka terhadap keluarga Muhammad. ([71])

Ulama-ulama pendahulu mereka menyifati Abu Bakar dan Umar raḍiyallāhu 'anhumā "dengan Al-jibt (tukang sihir) dan tagut."

Ulama mereka yang paling terpercaya, Al-Kulainiy, membuat riwayat palsu atas nama Abu Ja’far bahwa dia berkata, “Al-Jibt (tukang sihir) dan Tagut adalah fulan dan fulan.” ([72])

Al-Majlisiy berkata, “Fulan dan fulan tersebut maksudnya Abu Bakar dan Umar.”([73])

Mereka menggelari Amirul Mukminin Umar raḍiyallāhu 'anhu dengan "yang kedua". Mereka membuat kebohongan dalam tafsir ayat:

ﮋ ﰄ  ﰅ ﰆ  ﰇ  ﰈ   ﮊ

"Orang-orang kafir adalah penolong (setan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya." (QS. al-Furqān: 55). Dia berkata, "Orang yang kafir maksudnya yang kedua (yaitu Umar), dahulu ia penolong setan dalam memusuhi Amirul Mukminin (Ali) 'alaihissalam." ([74])

Syekh mereka, Aṣ-Ṣaffār membuat kebohongan atas nama Abu Ja’far raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Makna (dari kata "Tuhannya") menurut makna batin Al-Qur`ān adalah Ali, dia adalah tuhannya dalam kekuasaan dan ketaatan.” ([75])

Mereka juga berkata tentang firman Allah Ta'ālā,

ﮋ  ﯞ  ﯟ  ﯠ  ﯡ  ﯢ     ﯣﯤ  ﯥ    ﯦ  ﯧ         ﯨﯩ  ﮊ

"Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya dialah Tuhan Yang Maha Esa." (QS. An-Naḥl: 51). Maksudnya: "Janganlah kalian mengambil dua imam, sesungguhnya dia adalah imam yang tunggal.” ([76])

Mereka membuat kebohongan (dengan riwayat) dari Al-Mufaḍḍal bahwa dia mendengar Abu Abdillah 'alaihissalam berkata tentang firman Allah,

ﮋ ﭩ  ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﮊ

"Dan bumi (padang Mahsyar) menjadi terang-benderang dengan cahaya Tuhannya." (QS. Az-Zumar: 69). Ia berkata, "Tuhan bumi maksudnya imam di bumi." Aku bertanya, "Apabila dia telah keluar, apa yang akan terjadi?" Dia menjawab, "Ketika itu manusia tidak membutuhkan sinar matahari maupun cahaya bulan; cukup dengan cahaya Imam." ([77])

Juga seperti firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏﮐ  ﮑ   ﮒ  ﮓ      ﮔﮕ  ﮖ    ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚﮛ  ﮊ

"Dan Jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya." (QS. Al-Qaṣaṣ: 88). Maksud "kecuali wajah-Nya" adalah kecuali imam-imam mereka.

Syekh mereka juga, Al-Qummiy membuat riwayat bohong atas nama Abu Ja’far raḥimahullāh, bahwa dia berkata, “Kamilah wajah yang darinya Allah didatangi.” ([78]) Dalam riwayat lain, “Kamilah wajah Allah yang tidak akan binasa.” ([79])

Mereka juga membuat kebohongan, dari Aṣ-Ṣādiq 'alaihissalām,

ﮋ ﮄ   ﮅ  ﮆ  ﮊ

"Tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal." (QS. Ar-Raḥmān: 27). Dia berkata, "Kami adalah wajah Allah." ([80])

Imam besar mereka, Al-Khumainiy berkata, "Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭹ  ﭺ   ﭻ  ﭼ  ﭽ  ﭾ     ﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮊ

'Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu.' (QS. Ar-Ra'd: 2). Maksud Tuhanmu di sini adalah imam." ([81])

Tanggapan:

1.       Contoh-contoh penafsiran ulama Syi’ah terhadap ayat-ayat Al-Qur`ān yang telah disebutkan mengandung penyebutan kedua belas imam mereka dan orang-orang yang menyelisihi mereka. Dalam hal ini ulama-ulama Syi’ah telah membuat ribuan nas bohong untuk menetapkannya.

Pernah disampaikan kepada Abu Abdillah raḥimahullāh tentang apa yang dikatakan oleh ulama Syi’ah berupa penakwilan ayat-ayat Allah dengan takwil-takwil batin, dikatakan kepadanya, “Telah diriwayatkan dari Anda bahwa minuman keras, perjudian, berhala, dan undi nasib maksudnya adalah beberapa lelaki?” Maka beliau menjawab, “Tidak mungkin Allah 'Azza wa Jalla berbicara kepada hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui.” ([82])

Perkataan Abu Abdillah raḥimahullāh ini dan apa yang disebutkan di dalam kitab rijāl (biografi perawi) paling terpercaya dalam mazhab Syi’ah menghancurkan semua penyelewengan yang dibangun oleh ulama mereka di dalam Kitab Allah Ta'ālā dan ayat-ayat-Nya.

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﮩ  ﮪ  ﮫ  ﮬ   ﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮊ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur`ān berbahasa Arab, agar kalian mengerti.” (QS. Yūsuf: 2)

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚ      ﮛ  ﮜ   ﮝ  ﮞ   ﮊ

“Dan setiap kali seorang rasul datang kepada mereka, mereka selalu memperolok-oloknya.” (QS. Al-Ḥijr: 9)

Bantahan Telak Terhadap Para Ulama Syi’ah

Sesungguhnya takwil-takwil batin yang dilakukan oleh para ulama Syi’ah di dalam kitab-kitab induk mereka dan yang disepakati menjadi pedoman mereka semua, telah divonis oleh Imam Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa orang-orang yang mengucapkannya lebih buruk daripada orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan orang-orang musyrik.

Ulama-ulama Syi’ah sendiri telah meriwayatkan dari Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa beliau berkata tentang mereka, “Mereka lebih buruk daripada orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan orang-orang musyrik. Demi Allah! Tidak pernah sama sekali keagungan Allah dikecilkan sebagaimana mereka menganggap kecil sesuatu. Demi Allah! Seandainya aku membenarkan apa yang dikatakan oleh penduduk Kufah tentangku, pasti bumi akan membinasakanku. Aku tidak lain hanyalah seorang hamba (Allah). Aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu apa pun, baik mudarat ataupun manfaat.” ([83])

2.       Takwil-takwil ini bukan sebatas pendapat yang bersifat ijtihad yang dapat didiskusikan di antara ulama Syi’ah, tetapi bagi mereka takwil-takwil ini adalah nas-nas yang dikultuskan lagi benar secara pasti, memiliki sifat wahyu, bahkan lebih tinggi dari wahyu karena tidak dapat dimansukh, sementara wahyu Al-Qur`ān kadang dapat dimansukh oleh imam mereka.

Mereka telah membuat kebohongan, Dari Sufyān As-Samṭ, dia berkata, Saya bertanya kepada Abu Abdillah 'alaihissalām, "Semoga aku dijadikan sebagai tebusanmu! Kami didatangi oleh seseorang dari negeri Anda; dia dikenal pendusta, lalu dia menyampaikan hadis (tentangmu), lalu (bagaimana bila) kami menilai hadis itu buruk?" Abu Abdillah 'alaihissalām menjawab, "Apakah ia berkata kepadamu, bahwa saya berkata tentang malam bahwa dia siang, atau tentang siang bahwa dia malam?” Aku menjawab, “Tidak.” Abu Abdillah berkata, “Jika dia berkata begini kepadamu, maka janganlah kamu mendustakannya, karena hakikatnya kamu sedang mendustakanku.” ([84])

3.       Sebagaimana disebutkan sebelumnya, menurut ulama-ulama Syi’ah, tafsir memiliki makna lahir dan makna batin, dan semuanya diakui. Makna yang lahir disampaikan kepada semua pengikut mereka, adapun yang batin maka disampaikan hanya kepada orang-orang khusus di antara pengikut mereka yang diberi kemampuan untuk menerimanya.

Dari Abdullah bin Sinān, dari Żuraiḥ al-Muḥāribiy, dia berkata, Aku berkata kepada Abu Abdillah 'alaihissalām, “Sungguh Allah telah memerintahkanku di dalam Kitab-Nya dengan sebuah perintah dan aku ingin melaksanakannya.” Dia berkata, “Apakah itu?” Aku menjawab, “Yaitu firman Allah 'Azza wa Jalla,

ﮋ ﮬ  ﮭ  ﮮ  ﮯ   ﮰ  ﮊ

“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka dan menyempurnakan nazar-nazar mereka.” (QS. Al-Ḥajj: 29). Dia berkata, “Makna kalimat (hendaklah mereka menghilang kotoran yang ada di badan mereka) adalah menghadap kepada imam. Sedangkan makna (menyempurnakan nazar-nazar mereka) adalah manasik.” Abdullah bin Sinān berkata, maka aku pun datang kepada Abu Abdillah 'alaihissalām dan bertanya, “Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu! Apa maksud firman Allah 'Azza wa Jalla,

ﮋ ﮬ  ﮭ  ﮮ  ﮯ   ﮰ  ﮊ

“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka dan menyempurnakan nazar-nazar mereka?” Dia menjawab, “Yaitu memotong kumis, memotong kuku, dan yang semisalnya.” Dia berkata, aku pun bertanya, “Semoga aku dijadikan sebagai tebusanmu! Żuraiḥ Al-Muḥāribiy bercerita kepadaku dari Anda, bahwa Anda berkata kepadanya (tentang firman Allah), "Hendaklah mereka menghilang kotoran yang ada di badan mereka," (QS. Al-Ḥajj: 29) maksudnya menemui imam. Sedangkan "menyempurnakan nazar-nazar mereka," maksudnya manasik?” Beliau berkata, “Kamu benar, dan Żuraiḥ juga benar. Sesungguhnya Al-Qur`ān memiliki makna lahir dan makna batin; Siapakah yang mampu menerima apa yang bisa diterima oleh Żuraiḥ?!” ([85])

Tanggapan:

Di dalam nas ini dan juga nas-nas lainnya terdapat penjelasan bahwa Al-Qur`ān memiliki makna lahir yang disampaikan kepada orang-orang umum, dan makna batin yang tidak akan disebutkan kecuali kepada orang-orang khusus yang dilihat mampu menerimanya; jumlah mereka sedikit, bahkan bisa tidak ada. Siapakah yang mampu menerima apa yang bisa diterima oleh Żuraiḥ.

Pertanyaan nya di sini: jika imam-imam Syi’ah menyembunyikan ilmu batin ini dan tidak menyebutkannya kepada semua pengikut Syi’ah kecuali kepada orang yang setingkat Żuraiḥ, maka kenapa kitab-kitab Sekte Iṡnā ‘Asyariyyah menyelisihi manhaj (metode) imam-imam mereka dengan menyebarkan ilmu yang bersifat rahasia ini kepada orang yang tidak berhak mengetahuinya; kepada orang khusus dan umum, bahkan kepada musuh mereka dari kalangan Ahli Sunnah dan lainnya?!

ﮋ ﭺ      ﭻ  ﭼ  ﭽ  ﭾ  ﮊ

“Sungguh ini adalah sesuatu yang aneh!” (QS. Sād: 5)

Tetapi tidak perlu merasa aneh! Karena mereka sendiri telah menyifati diri mereka dengan sifat sembrono dan jarang menjaga rahasia.

Syekh mereka, Al-Kulainiy meriwayatkan dari Ali bin Al-Ḥusain 'alaihissalām, dia berkata, “Demi Allah! Aku berharap bisa menebus dua sifat para pengikut kami dengan sebagian daging lenganku; yaitu sembrono dan jarang menjaga rahasia.” ([86])

4.       Takwil-takwil batin ini yang dipraktikkan dan diyakini serta diserukan oleh ulama-ulama Syi’ah. Perbuatan ini termasuk mengingkari Kitabullah dan ayat-ayat-Nya. Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﭭ  ﭮ  ﭯ  ﭰ  ﭱﭲ  ﭳ   ﭴ  ﭵ  ﭶ     ﭷ  ﭸ  ﭹ  ﭺ     ﭻ  ﭼ  ﭽﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁﮂ   ﮃ     ﮄ  ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮊ

"Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka yang lebih baik ataukah mereka yang datang dengan aman sentosa pada hari Kiamat? Lakukanlah apa yang kamu kehendaki! Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Fuṣṣilat: 40)

 Pertanyaan (8): Siapakah di antara ulama Syi’ah yang pertama kali menyatakan Al-Qur`ān telah dikurangi, ditambah atau diubah?

Jawab: Dia adalah ulama mereka, Hisyām bin Al-Ḥakam (190 H) yang memiliki keyakinan “tajsīm”. ([87])

Dia mengklaim bahwa Al-Qur`ān dibuat-buat pada masa Khalifah Ar-Rāsyid Usman bin ‘Affān raḍiyallāhu 'anhu, sementara Al-Qur`ān yang sesungguhnya telah dibawa naik ke langit tatkala para sahabat raḍiyallāhu 'anhum murtad, sebagaimana yang dia yakini. ([88])

Buku pertama di antara buku-buku Syi’ah yang mencantumkan keyakinan mereka tentang berkurangnya Al-Qur`ān dan penambahannya adalah buku syekh Syi’ah, Sulaim bin Qais Al-Hilāliy yang wafat tahun 90 H. Al-Hajjāj berencana membunuhnya maka dia lari dan berlindung di bawah jaminan Abān bin Abi ‘Ayyāsy. ([89])

Ketika sedang sekarat, Sulaim memberikan buku itu kepadanya, maka Abān bin Abi ‘Ayyāsy pun meriwayatkannya, dan belum ada yang meriwayatkannya selain dirinya.([90])

Itulah buku Syi’ah yang pertama kali muncul. ([91])

Buku tersebut merupakan salah satu referensi utama Syi’ah sekaligus buku tertua yang disusun dalam Islam. Ini termasuk karunia yang Allah Ta'ālā berikan kepada Sekte Imāmiyyah. ([92])

Bahkan, tidak ada perselisihan di antara ulama Syi’ah bahwa buku Sulaim bin Qais Al-Hilāliy ini adalah pondasi bagi buku-buku induk Syi'ah yang diriwayatkan oleh para ulama dan pembawa hadis Ahli Bait 'alaihim as-salām. Buku itu juga ia merupakan buku yang paling tua, karena semua yang ada di dalam buku ini berasal dari Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan Amirul Mukminin Ali 'alaihissalām. Diriwayatkan dari Abu Abdillah aṣ-Ṣādiq 'alaihissalām bahwa dia berkata, “Siapa di antara pengikut dan pembela kami tetapi dia tidak memiliki kitab Sulaim bin Qais Al-Hilāliy maka dia tidak memiliki sesuatu pun dari perkara kami dan tidak mengetahui satu pun dari ajaran kami, sebab ia adalah pondasi Syi’ah dan rahasia di antara rahasia-rahasia keluarga Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.”([93])

Al-Kasy-syiy menyebutkan bahwa Abān pernah membacakannya kepada Ali bin Al-Ḥusain 'alaihissalām, maka dia berkata, “Sulaim benar, raḥimahullāh. Hadis ini kami mengetahuinya.” ([94])

Padahal buku ini membawa dasar keyakinan ulama Sekte Syi’ah as-Saba`iyyah, yaitu menuhankan Amirul Mukminin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu.

Disebutkan di dalamnya bahwa ulama Syi’ah berkata ketika memanggil Ali, “Yā Awwalu, Yā Ākhiru, Yā Bāṭinu, Yā Man huwa bikulli syai`in 'alīm (Wahai Yang Mahaawal! Wahai Yang Mahaakhir! Wahai Yang Mahalahir! Wahai Yang Mahabatin! Wahai Yang Maha mengetahui segala sesuatu!)

Disebutkan dalam sebagian riwayat dalam buku Sulaim bin Qais ini panggilan kepada Ali bin Abi Ṭālib dengan gelar-gelar ini: “Yā Awwalu, Yā Ākhiru, Yā Bāṭinu, Yā Man huwa bikulli syai`in 'alīm (Wahai Yang Mahaawal! Wahai Yang Mahaakhir! Wahai Yang Mahalahir! Wahai Yang Mahabatin! Wahai Yang Maha mengetahui segala sesuatu)

Maka membuat kebohongan, "Amirul Mukminin keluar dan ikut bersamanya Abu Bakar, Umar, dan sejumlah sahabat Muhajirin dan Ansar, hingga sampai di Baqī’ dan berdiri di atas gundukan tanah. Ketika matahari memperlihatkan kedua tanduknya, Amirul Mukminin 'alaihissalām berkata, “As-salāmu ‘alaika, wahai makhluk Allah yang baru dan yang taat kepada-Nya.” Maka mereka mendengar suara gemuruh dari langit beserta jawaban seseorang yang berkata, “Wa ’alaikas-salām, Yā Awwalu, Yā Ākhiru, Yā Bāṭinu, Yā Man huwa bikulli syai`in 'alīm (Wahai Yang Mahaawal! Wahai Yang Mahaakhir! Wahai Yang Mahalahir! Wahai Yang Mahabatin! Wahai Yang Maha mengetahui segala sesuatu!) Ketika Abu Bakar, Umar, dan para Muhajirin dan Ansar mendengar ucapan matahari itu mereka pun pingsan dan baru sadar setelah beberapa waktu. Tetapi Amirul Mukminin sudah meninggalkan tempat itu. Maka mereka pun pergi kepada Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersama para jemaah dan berkata, “Engkau berkata bahwa Ali manusia biasa seperti kita, tetapi matahari memanggilnya seperti panggilan Allah Yang Maha Pencipta kepada Diri-Nya.” ([95])

Kontradiksi:

Mereka lupa telah membuat riwayat palsu lain yang berbunyi: “Kemudian mereka sadar setelah satu jam.” ([96])

Tetapi keyakinan ini memang sesuatu yang biasa ada di dalam kitab-kitab utama dan referensi-referensi terpercaya mereka. Mereka juga membuat kebohongan bahwa Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman tentang Ali raḍiyallāhu 'anhu, “Wahai Muhammad! Ali adalah Yang Mahaawal, Yang Mahaakhir, Yang Mahalahir, Yang Mahabatin, dan Dia Yang Maha mengetahui segala sesuatu.” Maka beliau berkata, “Wahai Tuhanku! Bukankah itu adalah Engkau?!” ([97])

Āyatullāh (ulama besar) di kalangan mereka, 'Abdul-Ḥusain Al-‘Āmiliy malah terang-terangan mengatakan demikian, dia berkata,

Abu Hasan (Ali)! EngkaulahTuhan itu

                         Dan engkau bukti kekuasaan-Nya yang tinggi

Engkau menguasai ilmu gaib

                         Maka apakah masih tersisa satu rahasia darimu?

Engkau yang mengatur roda semesta

                         Dan engkau faktor adanya penciptaan-Nya yang kekal

Milikmu segala urusan bila engkau berkehendak maka engkau menyelamatkan (orang) esok

                         Dan bila engkau menghendaki, engkau menyambar ubun-ubun (makhluk)([98])

Penyair mereka yang lain juga terang-terangan mengatakan,

Semua sifat Tuhan terkumpul pada dirinya (Ali).

Dan tidaklah semua itu terkumpul kecuali karena suatu rahasia dan hikmah. ([99])

Petaka besar bagi ulama Syi’ah:

Sebagian ulama Syi’ah menemukan satu perkara berbahaya di dalam buku Sulaim bin Qais ini, sehingga mereka memandang hal itu harus dicarikan solusinya sebelum menjadi bumerang yang akan merusak pokok ajaran Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah sendiri. Wahai pembaca! Jangan kira itu adalah doktrin penuhanan mereka terhadap Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu! Sama sekali bukan itu! Karena mereka sudah pasti menerimanya. Tetapi petaka yang mereka temukan di dalam buku tersebut adalah 'ia menjadikan jumlah imam menjadi tiga belas!?"

Inilah petaka besar yang mengancam akan merobohkan eksistensi ajaran Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah.

 Pertanyaan (9): Bagaimana awal mula pandangan para ulama Syi’ah bahwa Al-Qur`ān dikurangi, ditambah, dan diubah?

Jawab: Awalnya adalah dari buku Sulaim bin Qais melalui dua riwayat saja dan telah hampir punah, tetapi dihidupkan lagi oleh seorang ulama Syi’ah, Ali bin Ibrahim Al-Qummiy (307 H). Dia berkata, “Sebagian Al-Qur`ān memansukh dan sebagiannya dimansukh.” Sampai pada perkataannya, “Sebagiannya diubah hurufnya, sebagiannya diselewengkan, dan sebagiannya kebalikan dari apa yang diturunkan Allah.” Sampai pada perkataannya, "Adapun yang kebalikan dari apa yang Allah turunkan adalah firman Allah,

ﮋ ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ  ﭣ  ﭤ      ﭥ  ﭦ  ﭧ   ﭨ  ﭩﭪ  ﮊ

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.' (QS. Āli 'Imrān: 110)

Abu Abdillah 'alaihissalām lalu berkata kepada orang yang membaca ayat ini, “Umat terbaik?! Mereka telah membunuh Amirul Mukminin, Ḥasan dan Ḥusain dua putra Ali 'alaihim as-salām?!” Maka dikatakan kepadanya, “Lalu, seperti apa ayat ini turun, wahai cucu Rasulullah?” Dia berkata, “Sesungguhnya ia turun dengan lafal,

ﮋ ﭞ  ﭟ أئمة     ﭡ  ﭢﭪ  ﮊ

"Kalian adalah sebaik-baik imam yang dilahirkan untuk manusia'.”

Kemudian dia (Al-Qummiy) berkata, “Adapun yang diselewengkan adalah firman Allah,

ﮋ ﮏ  ﮐ  ﮑ  ﮒ   ﮓ  ﮔ ﮕ   في عليٍّ    ﮖ  ﮗﮘ   ﮙ  ﮚﮛ  ﮊ

“Tetapi Allah menjadi saksi atas (Al-Qur`ān) yang diturunkan-Nya kepadamu tentang Ali. Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya, dan para malaikat pun menyaksikan.”

Juga firman Allah,

ﮋ ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ  ﭾ  ﭿ   ﮀ  ﮁ  ﮂ  في عليٍّ  ﮃ  ﮄ    ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮈ ﮊ

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu tentang Ali. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya.”

Dan firman-Nya,

ﮋ ﮬ  ﮭ  ﮮ           ﮯ    آلَ مُحمَّدٍ حقهم    ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ      ﯕ  ﯖ   ﯗ  ﯘ  ﮊ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman terhadap hak keluarga Muhammad, Allah tidak akan mengampuni mereka, dan tidak (pula) akan menunjukkan kepada mereka jalan (yang lurus).”

Dan firman Allah,

ﮋ ﯸ  ﯹ  ﯺ    آل محمد حقهم  ﯻ  ﯼ  ﯽ ﮊ

"Dan orang-orang yang zalim terhadap hak keluarga Muhammad kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.”

Dan firman Allah,

ﮋ ﯔ  ﯕ   الذين ظلموا آلَ مُحمَّدٍ حَقَّهم     ﯘ  ﯙ  ﯚ      ﮊ

"(Alangkah ngerinya) sekiranya engkau melihat orang-orang yang menzalimi hak keluarga Muhammad pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sekarat menjelang kematian.”

Masih banyak lagi (ayat-ayat buatan mereka) yang semisal ini, kita akan sebutkan pada tempatnya. ([100])

Tokoh lainnya adalah Muhammad bin Al-Ḥasan Aṣ-Ṣaffār (290 H). Di antaranya dia berkata, Abu Ja’far 'alaihissalām berkata, “Adapun Kitabullah maka mereka merubahnya, Kakbah mereka hancurkan, keturunan Nabi mereka bunuh, dan semua titipan Allah mereka kejar.” ([101])

Tokoh lainnya, guru para ulama Syi’ah, Sa’d bin Abdullah Al-Qummiy (301 H). Di antara perkataannya, "Bab penyelewengan pada ayat-ayat yang bertentangan dengan apa yang Allah 'Azza wa Jalla turunkan yang diriwayatkan oleh para ulama kami raḥmatullāh ‘alaihim dari para ulama keturunan Muhammad -ṣalawātullāhi 'alaihi wa 'alaihim.” ([102])

Tokoh selanjutnya Muhammad bin Mas’ūd al-’Ayyāsyiy (320 H). Di antara perkataannya: Dari Abu Ja’far 'alaihissalām, dia berkata, “Sekiranya tidak ada yang ditambah dan dikurangi dalam Al-Qur`ān, niscaya hak kita tidak akan samar bagi orang yang berakal.” ([103])

Tokoh lainnya adalah syekh mereka, Muhammad bin Ya’qūb bin Isḥāq Al-Kulainiy Ar-Rāziy (328 H).

Di antara hal yang dia palsukan atas nama Abu Abdillah 'alaihissalām, bahwa dia berkata, “Sesungguhnya Al-Qur`ān yang dibawa oleh Jibril 'alaihissalām kepada Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam berjumlah tujuh belas ribu ayat.” ([104])

Tokoh lainnya Ali bin Ahmad Abu Al-Qāsim al-Kūfiy (352 H). Dia memberikan kesaksian tentang konsensus Syi’ah bahwa Al-Qur`ān telah diubah, dia berkata, “Dengan konsensus ahli kiblat dan riwayat dari orang yang umum dan khusus bahwa Al-Qur`ān yang ada di tangan manusia bukan Al-Qur`ān seluruhnya. Sebagian dari Al-Qur`ān hilang, tidak ada lagi di tangan manusia. Ini maksud ucapan kami bahwa ada di dalam lembaran-lembaran Al-Qur`ān sesuatu yang yang tidak disukai oleh Usman, maka dia menghilangkannya dari tangan manusia, dan cukuplah itu sebagai bukti perlawanannya kepada Allah dan Rasul-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam.”([105])

Juga ada Furāt bin Ibrāhim Al-Kūfiy (352 H). Di antara kebohongan yang dia palsukan atas nama Abu Ja’far al-Bāqir raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Jibril 'alaihissalām menurunkan ayat ini seperti ini,

ﮋ ﭭ  ﭮ  ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ  ﭳ  ﭴ   ﭵ  ﭶ   في عليٍّ  ﮊ

'Sangatlah buruk (perbuatan) mereka menjual dirinya, dengan mengingkari apa yang telah diturunkan Allah, karena zalim kepada Ali'.” ([106])

Juga ada Muhammad bin Ibrāhim An-Nu’māniy (380 H). Di antara kebohongan yang dia buat adalah riwayat dari Al-Asbag bin Nabātah, dia berkata, Aku mendengar Ali 'alaihissalām berkata, “Sepertinya aku melihat orang-orang non-Arab, rumah-rumah mereka di masjid Kufah, mereka mengajarkan Al-Qur`ān kepada manusia sebagaimana ia diturunkan.” Aku berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bukankan Al-Qur`ān (yang ada) sebagaimana yang diturunkan?” Dia menjawab, “Tidak! Telah dihapus darinya 70 orang dari Quraisy lengkap dengan nama mereka dan nama ayah mereka. Dan tidaklah Abu Lahab dibiarkan ada kecuali sebagai celaan terhadap Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam karena dia adalah pamannya.” ([107])

Tokoh lainnya adalah Muhammad An-Nu’mān yang digelari Al-Mufīd (413 H), dia menukil ijmak para ulama Syi’ah dalam perkara ini dalam bukunya "Awā`il Al-Maqālāt" (hal. 46). Dia berkata, “Sekte Imāmiyyah sepakat bahwa imam-imam kesesatan([108]) telah banyak menyimpang dalam penyusunan Al-Qur`ān. Mereka meninggalkan apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur`ān dan Sunnah Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Sekte Muktazilah, Khawarij, Zaidiyyah, Murji`ah, dan para ahli hadis sepakat menyelisihi Imāmiyyah dalam semua yang kami sebutkan.” ([109])

Di dalam bukunya, Al-Irsyād, dia membuat kebohongan atas nama Abu Ja’far 'alaihissalām, bahwa dia berkata, “Apabila imam keluarga Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam telah bangkit, dia akan membuatkan rumah bagi orang-orang yang mengajarkan Al-Qur`ān sesuai dengan yang Allah 'Azza wa Jalla turunkan. Dan yang paling sulit bagiku adalah para penghafal Al-Qur`ān hari ini, karena ia menyelisihi penulisan yang asli.” ([110])

Tokoh lainnya adalah Aṭ-Ṭabarsiy, penyusun kitab Al-Iḥtijāj. ([111])

Juga ada Ni'matullāh Al-Jazā`iriy (1112 H). Dia berkata, “Ulama-ulama kami telah meriwayatkan di dalam kitab-kitab induk hadis dan lainnya riwayat-riwayat yang banyak bahkan mencapai tingkat mutawātir bahwa Al-Qur`ān telah diselewengkan, banyak yang kurang, dan ada beberapa tambahan.” ([112])

Tokoh lainnya adalah Abu Al-Ḥasan Al-‘Āmiliy (1140 H). Dia berkata, “Ketahuilah, bahwa kebenaran yang harus diterima berdasarkan hadis-hadis yang mutawātir berikut ini dan hadis lainnya bahwa Al-Qur`ān yang ada di tangan kita setelah wafatnya Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam telah mengalami pengubahan; orang-orang yang membukukannya setelah beliau wafat membuang banyak kalimat dan ayat. Sesungguhnya Al-Qur`ān yang terpelihara dari apa yang kita sebutkan dan yang sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah adalah yang dibukukan oleh Ali, dan dia menjaganya hingga sampai kepada putranya Al-Ḥasan, demikian seterusnya hingga berakhir kepada Al-Mahdi, di mana hari ini Al-Qur`ān itu masih bersamanya ṣalawātullāhi 'alaih.”([113])

Di akhir abad ketiga belas terjadi skandal besar yang mempermalukan kaum Syi’ah.

Syekh para ulama Syi’ah, Ḥusain An-Nūriy aṭ-Ṭabrasiy (1320 H), menulis karya besarnya untuk mengumpulkan keyakinan ulama Syi’ah dalam kekufuran ini dan diberinya judul "Faṣlul-Khiṭāb fī Taḥrīfi Kitābi Rabbil-Arbāb". Si durjana ini berkata dalam mukadimah buku tersebut, “Ini adalah buku yang bagus dan mulia, saya susun untuk membuktikan penyelewengan Al-Qur`ān dan skandal orang-orang zalim, saya beri judul "Faṣlul-Khiṭāb fī Taḥrīfi Kitābi Rabbil-Arbāb". Buku ini saya bagi menjadi tiga: pengantar dan dua bab. Saya masukkan di dalamnya berbagai hikmah yang indah yang akan membuat sejuk setiap mata. Saya memohon kepada Allah yang rahmat-Nya diharapkan oleh orang-orang yang berbuat buruk, agar Dia menjadikan buku ini bermanfaat untukku pada hari tidak berguna lagi harta dan anak-anak.” ([114])

Buku ini pun menjadi sebuah aib dan cela bagi kaum Syi’ah untuk selamanya.

 Pertanyaan (10): Kami berharap -semoga Allah mengampuni Anda- diberikan ringkasan tentang akidah para ulama Syi’ah terkait adanya penyelewengan, pengurangan, dan penambahan dalam Al-Qur`ān Al-Karim!

Jawab: Syekh mereka, Al-Mufīd berkata, “Saya katakan: sungguh sangat banyak hadis yang diriwayatkan dari para imam yang berasal dari keluarga Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam tentang perbedaan Al-Qur`ān dan apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim padanya berupa penghapusan dan pengurangan.” ([115])

Dia juga berkata, “Sekte Imāmiyyah sepakat bahwa imam-imam kesesatan telah menyimpang dalam penyusunan banyak Al-Qur`ān. Mereka meninggalkan yang ditunjukkan oleh Al-Qur`ān dan Sunnah Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Sekte Muktazilah, Khawarij, Zaidiyyah, Murji`ah, dan para ahli hadis sepakat menyelisihi Imāmiyyah terkait semua yang kami sebutkan.” ([116])

Syekh mereka, Al-'Āmiliy berkata, “Menurutku, telah jelas kebenaran perkataan ini, ([117]) setelah melakukan penelitian hadis dan aṡar. Bahkan bisa dikategorikan hal ini sebagai perkara darurat yang harus diketahui dalam Mazhab Syi’ah, dan hal itu termasuk kerusakan paling besar dari dampak perampasan kekhalifahan.” ([118])

Syekh mereka, Yahyā, murid Al-Karkiy berkata di dalam kitab Al-Imāmah pada pembahasan "Celaan kesembilan pada orang ketiga", dengan redaksi, “Berdasarkan konsensus ahli kiblat dan riwayat dari orang umum dan khusus bahwa Al-Qur`ān yang ada di tangan manusia bukanlah Al-Qur`ān seluruhnya, dan sebagian dari Al-Qur`ān hilang, tidak ada di tangan manusia.” ([119])

Syekh mereka, ‘Adnān Al-Baḥrāniy (1348 H) berkata, “Dan hadis-hadis lainnya yang tidak terhitung banyaknya, bahkan melampaui tingkat mutawātir yang tidak memiliki banyak faedah dalam mengutipnya setelah ramai pembicaraan tentang penyelewengan dan pengubahan (Al-Qur`ān) antara dua belah kelompok dan juga karena hal ini termasuk yang diakui kebenarannya oleh sahabat dan tabiin, bahkan merupakan ijmak kelompok yang benar dan termasuk perkara yang waib diketahui dalam mazhab mereka.” ([120])

Mereka lalu memvonis orang yang mengingkari perkara yang wajib diketahui ini (pengubahan Al-Qur`ān) sebagai orang kafir. Syekh mereka, As-Sabzawāriy berkata, “Dia telah kafir karena mengingkari perkara agama yang telah tetap secara pasti dan wajib diketahui.” Dia juga berkata, “Dia telah kafir karena mengingkari perkara syariat yang bersifat pasti dan wajib diketahui.” ([121])

Al-Majlisiy berkata, “Tetapi sahabat-sahabat beliau ṣallallāhu 'alaihi wa sallam melakukan seperti apa yang dilakukan oleh kaum Nabi Musa. Mereka mengikuti patung lembu dan Sāmiriy umat ini, yaitu Abu Bakar dan Umar, lalu orang-orang munafik merampas kekhalifahan Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dari tangan penggantinya (yaitu Ali), bahkan mereka berdua sampai berbuat lancang kepada khalifah Allah, yaitu Al-Qur`ān yang Allah turunkan, mereka lalu menyelewengkan dan mengubahnya serta melakukan apa yang mereka kehendaki padanya.” ([122])

Dia juga berkata, “Nanti akan disebutkan riwayat-riwayat yang sangat banyak, bahwa banyak ayat yang hilang dari Al-Qur`ān." ([123])

Al-‘Āmiliy berkata, “Telah disebutkan dalam berbagai wirid ziarah, seperti wirid ziarah pada hari raya Gadīr dan lainnya, dan juga dalam berbagai doa seperti doa kebinasaan untuk dua berhala Quraisy (yakni; Abu Bakar dan Umar) dan lainnya, ungkapan-ungkapan yang sangat jelas tentang penyelewengan dan pengubahan Al-Qur`ān setelah wafatnya Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam.” Dia lalu menyebutkan 21 riwayat untuk membuktikan keyakinannya tentang adanya penyelewengan Al-Qur`ān. ([124])

Aṭ-Ṭabrasiy berkata tentang riwayat-riwayat yang berisi celaan kepada Al-Qur`ān ini, “Riwayat-riwayat ini banyak sekali, sehingga As-Sayyid Ni'matullāh Al-Jazā`iriy di sebagian bukunya -sebagaimana yang diceritakan darinya- berkata, 'Riwayat-riwayat yang menunjukkan hal itu lebih dari dua ribu hadis'.” ([125])

Dia juga berkata, “Dalil kesebelas terkait pembuktian adanya penyelewengan dalam Al-Qur`ān adalah riwayat-riwayat yang banyak, yang diakui dan yang terang menunjukkan ada yang hilang dan yang kurang dari Al-Qur`ān yang ada, sebagai tambahan terhadap apa yang telah disebutkan dalam banyak tempat pada dalil-dalil sebelumnya. Dan bahwa Al-Qur`ān yang ada lebih sedikit dari jumlah keseluruhan yang turun, sebagai mukjizat terhadap hati pimpinan manusia dan jin tanpa pengkhususan ayat atau surah. Riwayat-riwayat tersebut tersebar di dalam kitab-kitab yang telah diakui dan yang menjadi referensi pengikut Syi’ah. Saya telah mengumpulkan apa yang saya temukan di dalam bab ini, atas berkat pertolongan Allah Yang Maharaja lagi Maha Pemberi.” ([126])

Syekh mereka, Ni'matullāh Al-Jazā`iriy berkata, “Mengakui sampainya (Al-Qur`ān yang ada) pada tingkat mutawātir sebagai wahyu Allah dan bahwa semua ayatnya benar-benar dibawa turun oleh Ar-Rūḥul-Amīn, akan berdampak pada meninggalkan riwayat-riwayat yang sangat banyak bahkan mutawātir, yang menunjukkan secara jelas tentang adanya penyelewengan dalam Al-Qur`ān, baik dari segi kalimat, huruf, ataupun ikrabnya, apalagi semua ulama kita -ridhwānullāhi ‘alaihim- telah sepakat tentang kesahihan penyelewengannya, dan mereka membenarkannya.” ([127])

Tanggapan:

Allah Jalla Jalāluhu berfirman,

ﮋ  ﮭ  ﮮ  ﮯ           ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ       ﯕ  ﯖ    ﯗ   ﯘ  ﯙ  ﮊ

“Dan orang-orang yang kafir berkata, ‘Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur`ān ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya agar kamu dapat mengalahkan (mereka)’.” (QS. Fuṣṣilat: 26)

Allah Jalla wa 'Alā berfirman,

ﮋ ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚ      ﮛ  ﮜ   ﮝ  ﮞ   ﮊ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`ān, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Ḥijr: 9)

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ   ﮏ  ﮐ  ﮑ  ﮒ  ﮓ  ﮔ  ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘ  ﮙ    ﮚ   ﮛﮜ  ﮝ     ﮞ  ﮟ  ﮠ  ﮡ  ﮊ

“Sesungguhnya (Al-Qur`ān) itu adalah kitab yang mulia, (yang) tidak akan didatangi oleh kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya (pada masa lalu dan yang akan datang), yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fuṣṣilat: 41-42)

 Pertanyaan (11): Apakah pendapat tentang adanya penyelewengan dan pengurangan Al-Qur`ān dalam keyakinan ulama-ulama Syi’ah, menurut mereka mencapai derajat mutawātir?

Jawab: Ya!

Ulama besar mereka, Abdullah Syubbar berkata, “Al-Qur`ān yang diturunkan kepada Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam lebih banyak daripada yang ada di tangan kita hari ini. Banyak yang dihilangkan darinya, sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat-riwayat yang banyak hampir mencapai derajat mutawātir. Dan itu telah kami jelaskan di dalam buku kami Mun-yatul Muḥaṣṣilīn fī Ḥaqqiyyah Ṭarīqatil Mujtahidīn.” ([128])

Bantahan Telak:

Mereka telah meriwayatkan, bahwa Ali raḍiyallāhu 'anhu menjelaskan firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﰀ  ﰁ   ﰂ  ﰃ  ﰄ  ﰅ       ﰆ  ﰇ  ﰈ  ﰉ               ﰊ  ﰋ  ﰌ  ﰍﰎ  ﰏ  ﰐ  ﰑ  ﰒ ﮊ

“Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`ān) dan Rasul (As-Sunnah), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisā`: 59)

Mengembalikan kepada Allah adalah berpegang kepada yang muḥkam (yang pasti) ([129]) Yang demikian itu, karena Ali raḍiyallāhu 'anhu meyakini Kitabullah terpelihara dari penyelewengan.

Cukup untuk menjelaskan kedustaan para ulama Rāfiḍah bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Ṭālib yang menurut mayoritas mereka adalah tuhan yang menciptakan, menurut sebagian yang lain adalah seorang nabi yang berbicara dengan wahyu, dan menurut yang lain adalah seorang imam yang suci dari kesalahan, selama 5 tahun 9 bulan menjadi khalifah yang ditaati dan perintahnya didengar, sementara Al-Qur`ān dibaca di masjid-masjid di semua tempat, dia menjadi imam dengan membacanya, mushaf ada bersamanya dan di hadapannya.

Seandainya di dalam Al-Qur`ān ada yang diubah sebagaimana yang dikatakan oleh ulama Syi’ah, maka apakah dia akan membiarkan mereka seperti itu? Kemudian datang putranya, Al-Ḥasan raḍiyallāhu 'anhu, dan dia menurut mereka sama seperti ayahnya, dia pun melakukan seperti yang dilakukan ayahnya. Maka, bagaimana bisa para pengkhianat dan durjana ini mengatakan bahwa dalam Al-Qur`ān terdapat kata yang ditambah, dikurangi atau diganti?! Sungguh, memerangi orang yang menyelewengkan Al-Qur`ān dan menukar Islam lebih utama untuk beliau perangi daripada memerangi penduduk Syam yang menyelisihinya hanya dalam satu pendapat mereka.

Telah tampak kedustaan para ulama Rāfiḍah dengan hujjah yang tidak bisa dielakkan. Walḥamdulillāhi rabbil-‘ālamīn.

Bahkan, orang-orang yang objektif dari kalangan ulama Yahudi dan Nasrani menyebutkan bahwa Al-Qur`ān tidak mengalami perubahan dengan ditambah atau dikurangi, kebalikan dari yang dikatakan oleh ulama-ulama Syi’ah sendiri yang mengaku Islam!

Seorang ilmuwan Prancis, Leblois berkata, "Al-Qur`ān pada hari ini adalah kitab tuhan satu-satunya yang tidak mengandung penyelewengan apa pun yang bisa disebutkan."([130])

Seorang ilmuwan Yahudi, Moyer berkata, “Mushaf yang dibukukan oleh Usman secara mutawātir telah dipindahtangankan dari satu tangan ke tangan yang lain hingga sampai kepada kita, tanpa ada perubahan sedikit pun. Al-Qur`ān dijaga dengan perhatian tinggi, yaitu ia tidak mengalami perubahan apa pun yang bisa disebutkan. Bahkan bisa kita katakan, bahwa Al-Qur`ān tidak pernah mengalami perubahan secara mutlak di dalam naskah-naskah manuskrip yang tidak terhitung jumlahnya dan yang beredar di negeri-negeri Islam yang luas, dan tidak ditemukan kecuali satu Qur`ān saja yang disepakati oleh semua kelompok Islam yang saling bertikai. Kesepakatan pemakaian terhadap satu naskah yang bisa diterima oleh semua kelompok hingga hari ini terhitung sebagai hujah dan dalil paling besar terhadap keabsahan naskah wahyu yang ada bersama kita, yang jasanya kembali kepada khalifah yang terzalimi, Usman raḍiyallāhu 'anhu([131]).

 Pertanyaan (12): Kami berharap Anda -semoga Allah mengampuni Anda- menyebutkan beberapa contoh yang di dalamnya ulama Syi’ah secara terang-terangan menyatakan keyakinan mereka tentang penyelewengan Al-Qur`ān!

Jawab: Ya! Di antaranya Surah Al-Wilāyah (kepemimpinan). Mereka klaim surah ini berisi tentang kepemimpinan Ali raḍiyallāhu 'anhu. Mereka mengklaim bahwa Allah Ta'ālā telah berfirman di dalam Qur`ān mereka, “Wahai orang-orang yang beriman! Berimanlah kepada nabi dan wali yang keduanya Kami utus menunjuki kalian kepada jalan yang lurus. Seorang nabi dan seorang wali; sebagiannya berasal dari yang lain, dan Aku Maha mengetahui lagi Mahateliti. Sesungguhnya orang-orang yang memenuhi janji Allah, bagi mereka surga-surga yang penuh dengan kenikmatan. Dan orang-orang yang ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka sungguh bagi mereka di dalam Jahanam tempat tinggal yang besar, ketika mereka dipanggil pada hari kiamat, ‘Di manakah orang-orang zalim yang mendustakan rasul-rasul?’ Tidaklah rasul-rasul itu meninggalkan mereka kecuali dengan kebenaran, dan tidaklah Allah memenangkan mereka pada waktu yang dekat. Bertasbihlah dan pujilah Tuhanmu, dan Ali termasuk bagian dari saksi-saksi.” ([132])

Lalu disempurnakan lagi oleh si pendusta, An-Nūriy Aṭ-Ṭabrasiy:

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada dua cahaya yang Kami turunkan, mereka membacakan kepada kalian ayat-ayat-Ku dan mengingatkan kalian azab pada hari pembalasan. Dua cahaya; sebagiannya berasal dari yang lain dan Aku Maha mendengar lagi Maha mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang memenuhi janji Allah dan Rasul-Nya di dalam ayat-ayat bagi mereka surga-surga kenikmatan. Dan orang-orang yang kafir setelah beriman karena mereka membatalkan perjanjian mereka dan apa yang diperintahkan oleh Rasul kepadanya dilemparkan ke dalam neraka Jaḥīm, mereka menzalimi diri mereka dan durhaka kepada pemegang wasiat yang diutus, mereka itu diberi minum air yang mendidih. Sesungguhnya Allah yang telah memberikan cahaya kepada langit-langit dan bumi dengan apa yang Dia kehendaki dan memilih di antara malaikat dan menjadikan di antara orang-orang beriman mereka itu di antara makhluk ciptaan-Nya, Allah melakukan apa yang dikehendaki-Nya, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang sebelum mereka telah membuat tipu daya kepada rasul-rasul mereka, maka Kami azab mereka dengan perbuatan tipu daya mereka sendiri, sesungguhnya azab-Ku sangat keras lagi pedih. Sesungguhnya Allah telah membinasakan kaum 'Ād dan Ṡamūd karena apa yang mereka perbuat dan menjadikan mereka sebagai peringatan bagi kalian, namun kalian tidak takut. Dan Fir'aun karena kezalimannya kepada Musa dan saudaranya Harun, dan Kami tenggelamkan dia dan yang mengikutinya semuanya agar menjadi tanda kebesaran Allah bagi kalian, dan sesungguhnya sebagian besar kalian fasik. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan mereka pada hari kebangkitan, maka mereka tidak mampu menjawab ketika mereka ditanya. Sesungguhnya neraka Jaḥīm adalah tempat kembali mereka dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Mahabijaksana. Wahai Rasul, sampaikanlah peringatan-Ku, niscaya mereka mereka akan mengetahui. Telah merugi orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat dan hukum-Ku, seperti. Permisalan orang-orang yang memenuhi perjanjianmu, sesungguhnya Aku membalas mereka dengan surga-surga yang penuh dengan kenikmatan, sesungguhnya Allah benar-benar memiliki ampunan dan pahala yang besar. Dan sesungguhnya Ali termasuk dari orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Kami akan memberikan haknya secara penuh pada hari pembalasan, tidaklah Kami lalai terhadap kezaliman (orang lain) kepadanya dan Kami muliakan dia kepada keluargamu semuanya. Sesungguhnya dia dan keturunannya benar-benar sabar, dan sungguh musuh mereka adalah imam orang-orang yang jahat. Katakanlah kepada orang-orang yang kafir setelah beriman, ‘Apakah kalian mencari perhiasan kehidupan dunia dan ingin menyegerakannya, dan kalian lupa apa yang Allah dan Rasul-Nya janjikan kepada kalian, dan kalian membatalkan perjanjian setelah membuatnya?’ Dan sungguh Kami telah membuatkan permisalan-permisalan kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk. Wahai Rasul, sungguh telah Kami turunkan kepadamu ayat-ayat yang nyata, di dalamnya terdapat berita orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan beriman, dan orang-orang yang mengambil mereka sebagai kawan setelahmu akan ditampakkan, maka berpalinglah dari mereka karena sesungguhnya mereka juga berpaling. Sesungguhnya Kami akan menghadirkan mereka pada hari yang tidak berguna lagi apa pun untuk mereka dan mereka tidak dikasihani. Sesungguhnya bagi mereka tempat tinggal di dalam Jahanam mereka tidak akan meninggalkannya. Maka sucikanlah nama Tuhanmu dan ikutlah bersama orang-orang yang sujud. Sungguh Kami telah mengutus Musa dan Harun dengan apa yang diwasiatkan, lalu mereka berbuat aniaya kepada Harun, maka kesabarannya adalah kesabaran yang indah, lalu Kami jadikan di antara mereka kera-kera dan babi, dan Kami melaknat mereka hingga hari mereka dibangkitkan, maka bersabarlah niscaya mereka akan melihat. Sungguh telah Kami berikan kepadamu hikmah seperti rasul-rasul sebelummu, dan Kami jadikan untukmu di antara mereka seorang pemegang wasiat agar mereka kembali, dan siapa yang berpaling dari perintah-Ku, maka sungguh kepada-Ku tempat kembalinya, maka hendaklah mereka sedikit bersenang-senang dengan kekafiran mereka. Maka janganlah engkau bertanya tentang orang-orang yang ingkar. Wahai Rasul! Sungguh telah Kami jadikan untukmu perjanjian di leher orang-orang yang beriman, maka ambillah dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur. Sesungguhnya Ali berdiri lama dan sujud ketika malam karena takut kepada akhirat dan mengharap pahala tuhannya. Katakanlah, 'Apakah sama orang-orang yang zalim sedang mereka mengetahui azab-Ku?' Rantai-rantai akan dipasang di leher mereka sedang mereka menyesali perbuatan mereka. Sungguh Kami telah berikan kepadamu kabar gembira dengan keturunannya yang saleh, dan sesungguhnya mereka tidak meninggalkan perintah Kami. Maka bagi mereka selawat dan rahmat dari-Ku, yang masih hidup dan sudah meninggal, pada hari mereka dibangkitkan, dan murka-Ku atas orang-orang yang zalim terhadap mereka setelah engkau meninggal, sesungguhnya mereka kaum yang buruk dan merugi. Dan untuk orang-orang yang mengikuti jalan mereka baginya rahmat dari-Ku, dan mereka aman di dalam istana-istana. Dan segala pujian hanya bagi Allah Tuhan alam semesta.” ([133])

Kemudian syekh mereka, An-Nūriy Aṭ-Ṭabrasiy memberikan tanggapan, “Sesungguhnya Syekh Muhammad bin Ali bin Syahr Āsyūb Al-Māzandarāniy telah menyebutkan di dalam Kitab Al-Maṡālib sebagaimana yang diriwayatkan, bahwa mereka telah menghilangkan seluruh Surah Al-Wilāyah dari Al-Qur`ān, dan barangkali ia adalah surah ini. Wallāhul-'Ālim.” ([134])

Tanggapan:

Sungguh jelek sekali kalimat-kalimat yang diolah dari berbagai kalimat Al-Qur`ān Al-Karīm ini!

Inilah yang membuat para ulama Syi’ah tidak bisa tenang, yaitu tidak ada disebutkan kesesatan mereka di dalam Kitabullah. Oleh karena itu, surah ini menyebutkan perkara wasiat imamah kepada Ali raḍiyallāhu 'anhu dan pengafiran para sahabat raḍiyallāhu 'anhum karena mereka tidak taat kepada pemegang wasiat, yakni Ali.

Mahabenar Allah Yang Mahaagung ketika berfirman,

ﮋ ﭜ   ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ  ﭣ  ﭤ  ﭥ  ﭦ   ﭧ  ﭨ  ﭩ  ﭪ  ﭫ     ﭬ  ﭭ  ﭮ  ﭯ  ﮊ

"Katakanlah, 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur`ān ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekali pun mereka saling membantu satu sama lain'." (QS. Al-Isrā`: 88)

Contoh lainnya adalah ayat yang dibuat-buat oleh Al-Kulainiy, dari Jābir dia berkata, “Jibril 'alaihissalām menurunkan ayat ini kepada Muhammad seperti ini,

ﮋ ﯢ  ﯣ  ﯤ  ﯥ  ﯦ  ﯧ  ﯨ  ﯩ    في عليٍّ    ﯪ  ﯫ   ﯬ  ﯭ  ﮊ

‘Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’ān) yang Kami turunkan kepada hamba Kami tentang Ali, maka buatlah satu surah yang semisal dengannya'.” ([135])

Dia juga membuat kebohongan lain dari Abu Ja’far 'alaihissalām, dia berkata, “Seperti ini ayat ini diturunkan:

ﮋ ﭢ  ﭣ  ﭤ  ﭥ  ﭦ   ﭧ   في عليٍّ   ﭨ  ﭩ  ﭪ  ﮊ

‘Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan perintah yang diberikan kepada mereka terkait Ali, niscaya itu lebih baik bagi mereka.’” ([136]) Perhatikan, mereka membuat nomor khusus untuk ayat tersebut!

Dia juga membuat kebohongan, dari Abu Abdillah 'alaihissalām tentang firman Allah 'Azza wa Jalla,

ﮋ ﯖ  ﯗ  ﯘ  ﯙ   في ولاية عليٍّ وولاية الأئمة من بعده   ﯚ  ﯛ   ﯜ  ﯝﮊ

“Dan siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya terkait kepemimpinan Ali dan kepemimpinan imam-imam setelahnya, maka sungguh, dia telah menang dengan kemenangan yang besar;' Seperti inilah ia diturunkan.” ([137])

Dan dia juga membuat kebohongan, dari Abdullah bin Sinān, dari Abu Abdillah 'alaihissalām tentang ayat,

ﮋ ﭥ  ﭦ   ﭧ  ﭨ  ﭩ  ﭪ كلماتٍ في محمدٍ وعليٍّ وفاطمةَ والحسنِ والحسينِ والأئمةِ عليهم السلام من ذريَّتهم  ﭫ  ﮊ

“Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu sejumlah kalimat terkait Muhammad, Ali, Fatimah, Ḥasan, Ḥusain, dan imam-imam dari keturunan mereka 'alaihimussalām, tetapi dia lupa." Demi Allah! Dengan kalimat inilah ia diturunkan kepada Muhammad.” ([138])

Ia juga membuat kebohongan, dari Abu Abdillah 'alaihissalām pada firman Allah 'Azza wa Jalla:

ﮋ ﭷ  ﭸ  ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ يا معشرَ الْمُكذِّبين حيثُ أنبأتكم رسالةَ ربِّي في ولايةِ عليٍّ u والأئمةِ مِن بعده  ﭸ  ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ   ﭽ  ﮊ

“Maka kelak kamu akan tahu, wahai orang-orang yang mendustakan, karena Aku telah kabarkan kepada kalian wahyu Tuhanku tentang kepemimpinan Ali 'alaihissalām dan imam-imam setelahnya; siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata." Beginilah ia diturunkan.” ([139])

Dia juga membuat kebohongan, dari Ahmad bin Muhammad bin Abi Naṣr, dia berkata, “Abu Al-Ḥasan 'alaihissalām menyodorkan satu mushaf kepadaku dan berpesan, ‘Jangan dibaca!’ Aku membukanya dan membaca Surah Lam Yakunillażīna Kafarū, di dalamnya aku menemukan nama 70 orang Quraisy lengkap dengan nama mereka dan nama ayah mereka. Kemudian dia mengirim kepadaku utusan agar aku mengirim mushaf itu kepadanya.” ([140])

Juga kebohongan lain, dari Abu Al-Ḥasan 'alaihissalām dia berkata, “Kepemimpinan Ali 'alaihissalām telah tertulis di dalam semua suhuf para nabi. Allah tidak mengutus seorang rasul kecuali dengan kenabian Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam dan orang yang beliau wasiatkan, Ali 'alaihissalām.”([141])

Mereka membuat kebohongan bahwa Allah berfirman,

ﮋ ﯿ   علـيَّـاً     ﰁ   ﰂ  ﰃ  ﰄ  قرأه فاتبعوا       ﰇ     ﰈ  ﮊ

“Sesungguhnya Ali yang akan mengumpulkannya dan membacakannya. Maka apabila dia telah membacanya maka ikutilah oleh kalian bacaannya.” ([142])

Syekh mereka, An-Nūriy Aṭ-Ṭabrasiy membuat kebohongan atas nama Ibnu Mas’ūd raḍiyallāhu 'anhu dan berkata, “Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ūd bahwa dia mengingkari Surah Al-Fātiḥah dan Al-Mu’awwiżatain sebagai bagian dari Al-Qur`ān.” ([143])

Al-Kāsyāniy berkata, “Dapat disimpulkan dari semua riwayat ini dan riwayat-riwayat lainnya dari jalur Ahli Bait 'alaihim as-salām bahwa Al-Qur`ān yang ada di tengah-tengah kita tidak semuanya seperti yang Allah turunkan kepada Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, bahkan sebagiannya ada yang bertentangan dengan yang diturunkan Allah, sebagiannya ada yang telah diubah dan diselewengkan, dan sungguh banyak yang telah dihilangkan, di antaranya; nama Ali dalam banyak ayat, lafal “Ālu Muḥammad" dalam lebih dari satu ayat, nama-nama orang munafik dalam ayat-ayat nifak ([144]) , dan lain sebagainya. Dan bahwasanya urutannya juga tidak sesuai urutan yang diridai oleh Allah dan Rasul-Nya.” ([145])

Al-Khumainiy berkata, “Di dalam Al-Qur`ān kita memiliki Surah Al-Munāfiqūn, tetapi kita tidak memiliki Surah Al-Kāfirūn.” ([146])

Ketika ia ditanya tentang sebab tidak disebutkannya nama Ali di dalam Al-Qur`ān serta penyebutannya sebagai imam, ia menjawab, “Nabi menahan diri dari membahas perkara imamah dalam Al-Qur`ān karena beliau khawatir Al-Qur`ān akan ditimpa penyelewengan setelah beliau wafat.” ([147])

Tanggapan Penting:

Dalam nas-nas di atas terdapat kesaksian dari para ulama Syi’ah bahwa persoalan imam-imam mereka serta wasiat kepada Ali raḍiyallāhu 'anhu tidak pernah disebutkan di dalam Kitabullah. Ini tentunya merobohkan bangunan ajaran mereka dari dasar. Maka, tidak ada jalan bagi para ulama Sekte Syi’ah kecuali klaim bahwa Al-Qur`ān telah diselewengkan, dikurangi, dan ditambah serta memaksakan keyakinan ini kepada orang awam mereka.

Oleh karena itu, imam mereka, Al-Majlisiy telah memberi kesaksian -sebagaimana telah disebutkan sebelumnya- bahwa riwayat tentang penyelewengan Al-Qur`ān di kalangan mereka tidak lebih kurang dari riwayat tentang imamah (kepemimpinan); bahwa jika penyelewengan itu tidak terbukti maka imamah juga tidak terbukti, serta tidak terbukti pula akidah-akidah Syi’ah lainnya. Al-Majlisī benar! Penyelewengan itu tidak pernah terjadi, perkara imamah juga tidak terbukti, begitu juga tentang akidah raj’ah dan penyimpangan-penyimpangan para ulama Syi'ah lainnya.

Mahabenar Allah Yang Mahaagung ketika berfirman,

ﮋ ﮚ  ﮛ      ﮜ  ﮝ  ﮞ  ﮟ  ﮠ  ﮡ   ﮢ  ﮣ  ﮤ  ﮥ  ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ  ﮪ  ﮫ   ﮬ  ﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔﯕ  ﯖ  ﯗ  ﯘ      ﯙ  ﯚ  ﯛ  ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﯟ  ﯠ  ﯡ     ﯢ  ﯣ   ﮊ

“Dan tidak mungkin Al-Qur`ān ini dibuat-buat oleh selain Allah; tetapi (Al-Qur’ān) membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan seluruh alam. Apakah pantas mereka mengatakan dia (Muhammad) yang telah membuat-buatnya? Katakanlah, ‘Buatlah sebuah surah yang semisal dengan surah (Al-Qur’ān), dan ajaklah siapa saja di antara kamu orang yang mampu (membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.’” (QS. Yūnus: 37-38)

 Pertanyaan (13): Kalau begitu, apa keyakinan para ulama Syi’ah tentang jumlah ayat Al-Qur`ān yang benar, dan apakah mereka sepakat pada hal tersebut?

Jawab: Tidak, bahkan mereka berselisih!

Syekh mereka, Al-Kulainiy membuat kebohongan, ([148]) dari Hisyām bin Sālim dari Abu Abdillah 'alaihissalām, dia berkata, “Sesungguhnya Al-Qur`ān yang dibawa oleh Jibril 'alaihissalām kepada Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam berjumlah tujuh belas ribu ayat.”

Anehnya, mereka telah menghukumi dongeng ini sahih!

Ulama besar mereka, Al-Majlisiy berkata, “Riwayat ini sahih.” ([149])

Syekh mereka, Al-Māzandarāniy berkata, "Dihilangkan dan diselewengkannya sebagian Al-Qur`ān telah terbukti dari jalur kami dengan tingkat mutawātir secara makna, sebagaimana yang akan tampak bagi siapa yang mencermati kitab-kitab hadis dari awal sampai akhir.” ([150])

Ulama besar mereka, Al-Majlisiy berkata, “Riwayat ini dan banyak riwayat-riwayat sahih lainnya secara terang menunjukkan adanya pengurangan dan perubahan Al-Qur`ān.” ([151])

Tanggapan:

Dongeng ini dikarang oleh para ulama Syi’ah dengan redaksi: tujuh ribu ayat.([152])

Kemudian angka itu berkembang menjadi 10.000 ayat. ([153])

Kemudian angka itu bertambah dalam lelang terbuka mereka menjadi 17.000 ayat.([154])

Kemudian pelelangan itu naik menjadi 18.000 ayat. ([155]) Dan angka itu terus berkembang hingga hari ini.

 Pertanyaan (14): Apa sikap para ulama Sekte Imāmiyyah Iṡnā ‘Asyariyyah kontemporer terhadap akidah mereka yang meyakini penyelewengan Al-Qur`ān?

Jawab: Para ulama Syi’ah hari ini terbagi menjadi empat kelompok:

 Kelompok pertama, mereka berpura-pura mengingkari adanya akidah ini di dalam kitab mereka secara mutlak.

Di antaranya; 'Abdul-Ḥusain Al-Amīniy An-Najafiy (1392 H). Dia berkata ketika membantah ucapan Imam Ibnu Ḥazm raḥimahullāh bahwa para ulama Syi’ah mengatakan Al-Qur`ān diselewengkan, “Seandainya orang yang lancang ini bisa menunjukkan referensi kebohongannya dari satu kitab Syi’ah yang terpercaya atau satu riwayat dari salah satu ulama mereka yang diakui, atau dari seorang murid mereka walaupun dia tidak dikenal oleh sebagian besar mereka, bahkan kita turun lagi kepada ucapan salah satu orang jahil mereka atau orang pedesaan, atau yang banyak bicara... Semua sekte Syi’ah dan yang paling terdepan Sekte Imāmiyyah sepakat bahwa apa yang ada di antara dua sisi mushaf, itulah Al-Qur`ān, tidak ada keraguan padanya.” ([156])

Tanggapan:

Allah Ta'ālā membuat 'Abdul-Ḥusain An-Najafiy mengungkapkan sendiri kepura-puraannya tanpa dia sadari, lalu dia membawakan satu ayat palsu di dalam bukunya yang sama: ([157]) “Hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dengan kepemimpinannya. Maka siapa yang tidak mengikutinya dan tidak mengikuti anak-Ku yang berasal dari anak keturunannya (Ali) hingga hari kiamat, maka amal-amal mereka batal dan mereka kekal di dalam api neraka. Sungguh Iblis telah mengeluarkan Adam 'alaihissalām dari surga padahal dia pilihan Allah dengan sebab hasad, maka janganlah kalian hasad sehingga batallah amal kalian dan tergelincirlah kaki kalian.”

Syekh mereka, An-Najafiy ini, lalu membuat kebohongan bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda, bahwa ayat ini telah turun kepada Ali bin Abi Talib.([158]) Lihatlah dirinya, semoga Allah menghinakannya, dia menisbahkan anak kepada Allah!? Dia mengucapkan sesuatu yang tidak pernah diucapkan oleh orang-orang Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrikin lainnya. Dia membuat kebohongan terhadap Allah, bahwa Allah berfirman: “Anak-Ku yang berasal dari keturunannya (Ali).” Imam-imam mereka adalah anak Allah!? Dari sulbi Ali raḍiyallāhu 'anhu!?

Sungguh, kita berlindung kepada Allah dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan.

Allah berfirman,

ﮋ ﮮ  ﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ   ﯕ  ﯖ  ﯗ  ﯘ  ﯙ  ﯚ  ﯛ  ﯜ   ﯝ   ﯞ  ﯟ   ﯠ  ﯡ  ﯢ  ﯣ  ﯤ  ﯥ    ﯦ   ﯧ  ﯨ  ﯩ  ﯪ  ﯫ  ﯬ  ﯭ  ﯮ  ﯯ  ﯰ  ﯱ  ﯲ   ﯳ  ﯴ  ﯵ      ﯶ  ﯷ   ﯸ  ﯹ  ﯺ  ﯻ   ﯼ  ﯽ  ﯾ  ﯿ  ﰀ  ﰁ  ﰂ  ﰃ  ﰄ   ﮊ

“Dan mereka berkata, ‘(Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak.’ Sungguh, kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar, hampir saja langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Dan tidak mungkin bagi (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada (Allah) Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba. Allah benar-benar telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat.” (QS. Maryam: 88-95)

 Kelompok kedua, mereka mengakui adanya riwayat penyelewengan dalam Al-Qur`ān, namun mereka berusaha mencarikan alasannya.

Sebagian mereka (golongan pertama) mengatakan bahwa riwayat-riwayat tentang penyelewengan Al-Qur`ān adalah riwayat yang daif dan syāż, sementara riwayat āḥād tidak menghasilkan ilmu dan pengamalan. Sehingga pilihannya antara riwayat-riwayat itu ditakwil sesuai kaidah atau dibuang tidak dipedulikan. ([159])

Tanggapan:

Bagaimana mereka akan menjawab apa yang didendangkan oleh ulama-ulama besar mereka yang mengatakan bahwa riwayat-riwayat tentang terjadinya penyelewengan, pengurangan, dan penambahan pada Al-Qur`ān jumlahnya banyak dan mutawātir? Siapa yang meriwayatkan riwayat-riwayat tentang penyelewengan itu, mengimaninya, dan meyakininya, maka tidak boleh dipercayai.

Golongan kedua mengatakan bahwa riwayat-riwayat itu sahih, tetapi maksud dari ucapan mereka 'alaihimussalām “beginilah ia diturunkan” dalam banyak riwayat tentang penyelewengan Al-Qur`ān adalah penafsiran berdasarkan aplikatifnya, bukan makna batin dan takwil.” ([160])

Tanggapan:

Ucapan ini malah menguatkan pendapat mereka yang mengatakan adanya penyelewengan, bukan meniadakannya. Bagaimana bisa tafsir para sahabat raḍiyallāhu 'anhum oleh kelompok ini dianggap sebagai penyelewengan, sementara penyelewengan ulama mereka; Al-Qummiy, Al-Kulainiy, dan Al-Majlisiy terhadap Al-Qur`ān hanya dianggap sebagai tafsir?!

Sebagian lagi (golongan ketiga) di antara ulama Syi’ah mengatakan bahwa maksudnya adalah pemansukhan, atau ia([161]) merupakan yang dimansukh bacaannya.” ([162])

Kesalahan memalukan:

Tetapi ulama Syi’ah hari ini yang mereka gelari dengan Imam Akbar, Al-Āyatul-'Uẓmā, Pemuka dan Marja' Akbar Ḥauzah 'Ilmiyyah, Abu Al-Qāsim Al-Mūsāwiy Al-Khū`iy berkata, “Pendapat yang menyatakan penasakhan bacaan Al-Qur`ān tidak berbeda dengan pendapat adanya penyelewengan dan penghilangan darinya.” ([163])

Padahal perbedaan antara penasakhan dan penyelewengan begitu jelas. Penyelewengan adalah perbuatan manusia dan Allah telah mencela pelakunya, sedangkan penasakhan adalah perbuatan Allah Ta'ālā sendiri.

Allah Ta'āla berfirman,

 ﮋ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ  ﭙ  ﭚ  ﭛ  ﭜﭝ   ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ  ﭣ     ﭤ  ﭥ  ﭦ  ﮊ

"Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?" (QS. Al-Baqarah: 106)

Dan pemansukhan sama sekali tidak mengandung pengrusakan terhadap Kitab Allah.

Golongan keempat, mereka bahwa Al-Qur`ān yang ada di tangan kita tidak mengandung penyelewengan, tetapi hanya berkurang, karena telah hilang darinya ayat-ayat yang berkaitan khusus dengan kepemimpinan Amirul Mukminin 'alaihissalām.

Seharusnya pembahasan ini diberi judul pengurangan wahyu, atau menyebutkan secara tegas ada dan tidak adanya wahyu lain yang turun. Agar orang-orang kafir tidak mendapatkan celah untuk memperdaya orang-orang yang lemah bahwa terdapat penyelewengan di dalam Kitab Allah dengan pengakuan sekelompok umat Islam.” ([164])

Tanggapan:

Pandangan ini sama dengan pandangan sebelumnya, tidak menolaknya tetapi menguatkan terjadinya penyelewengan Al-Qur`ān dengan mengatakannya berkurang.

Golongan kelima mengatakan, "Kami beriman kepada Al-Qur`ān yang ada, tidak terdapat kekurangan ataupun tambahan. Tetapi kami, seluruh penganut Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah mengakui bahwa ada Al-Qur`ān yang ditulis oleh Imam Ali 'alaihissalām dengan tangannya sendiri setelah dia selesai mengafani Rasulullah dan menunaikan wasiat-wasiatnya. Kemudian setiap imam senantiasa menyimpannya sebagai titipan Allah dan masih terjaga di sisi Imam Al-Mahdi Al-Qā`im yang semoga Allah menyegerakan pertolongan-Nya kepada kami dengan kemunculannya." ([165])

Tanggapan:

Perkataan ini menunjukkan pengakuan orang yang mengucapkannya tentang adanya Al-Qur`ān yang lain. Kita berlindung kepada Allah dari kekufuran dan kesesatan.

 Kelompok ketiga, berpura-pura mengingkari penyelewengan dan pengurangan Al-Qur`ān sambil berusaha menetapkan adanya penyelewengan dan pengurangan dengan cara-cara yang menipu.

Orang paling keji yang menempuh cara ini adalah ulama mereka, Al-Khū`iy, Mantan Marja' Syi'ah Irak dan beberapa negeri lainnya. Dalam tafsirnya Al-Bayān dia menetapkan, "Bahwa telah masyhur di kalangan ulama Syi'ah dan para muḥaqqiq mereka, bahkan disepakati di antara mereka, yaitu pendapat tidak adanya penyelewengan Al-Qur`ān." ([166])

Tanggapan:

Tetapi Al-Khū`iy sendiri memastikan kesahihan sejumlah riwayat yang menyatakan adanya penyelewengan tersebut. Dia berkata, "Banyaknya riwayat-riwayat tersebut melahirkan kepastian bahwa sebagiannya benar diucapkan oleh imam-imam yang maksum 'alaihimussalam-, minimal ada rasa tenang kepadanya, bahkan sebagiannya ada yang diriwayatkan dengan jalur terpercaya." ([167])

Al-Khū`iy yang menafikan akidah ulamanya tentang kurangnya Al-Qur`ān telah menetapkan keyakinan tentang adanya mushaf Ali raḍiyallāhu 'anhu yang berisikan tambahan-tambahan yang tidak terdapat di dalam Kitab Allah Ta'ālā. Dia berkata, “Adanya mushaf milik Amirul Mukminin 'alaihissalām yang berbeda dari Al-Qur`ān yang ada dalam urutan surah merupakan perkara yang tidak seharusnya diragukan. Kesepakatan para ulama besar terhadap keberadaannya telah mencukupkan kita dari bersusah payah menetapkannya. Sebagaimana adanya tambahan-tambahan yang yang terdapat di dalam mushaf Ali dan tidak ada di dalam Al-Qur`ān yang ada, walaupun benar adanya, tetapi itu tidak menunjukkan bahwa tambahan-tambahan tersebut termasuk Al-Qur`ān dan telah dihilangkan darinya dengan penyelewengan. Namun yang benar adalah bahwa tambahan-tambahan tersebut adalah tafsir dengan judul takwil." ([168])

Dia menuduh umat Islam, terutama para sahabat raḍiyallāhu 'anhum telah membawa ayat-ayat Al-Qur`ān kepada selain maknanya yang sebenarnya. Adapun penyelewengan Al-Kulainiy, Al-Qummiy, dan Al-’Ayyāsyiy terhadap ayat-ayat Al-Qur`ān, menurutnya itu adalah tafsir yang sebenarnya untuk Kitab Allah Ta'ālā. Bagaimana tidak, dia telah menghukumi ṡiqah (terpercaya) terhadap semua guru Al-Qummiy di dalam tafsirnya, padahal Al-Qummiy memenuhi tafsirnya dengan riwayat-riwayat yang menyatakan penyelewengan Al-Qur`ān.

Guru Besar Ḥauzah mereka, Al-Khū`iy, berkata, “Oleh karena itu, kita menghukumi ṡiqah (terpecaya) terhadap semua guru Ali bin Ibrahim (Al-Qummiy) yang dia mengambil riwayat dari mereka di dalam tafsirnya ketika sanadnya berujung kepada salah satu imam yang maksum 'alaihimussalām.”([169])

Kesalahan memalukan:

Al-Khū`iy telah mempermalukan dirinya dengan menjelaskan keyakinannya tentang penyelewengan Al-Qur`ān, dia berkata, “Umat Islam setelah wafatnya Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam telah mengubah sebagian kata dan menggantikannya dengan kata yang lain. Di antaranya ayat yang diriwayatkan oleh Ali bin Ibrahim Al-Qummiy dengan sanadnya dari Ḥuraiz dari Abu Abdillah 'alaihissalām-:

«ﭫ    من        ﭭ   ﭮ  ﭯ  ﭰ  ﭱ   وغير       ﭳ »

Di antaranya ayat yang diriwayatkan dari Al-’Ayyāsyiy, dari Hisyām bin Sālim dia berkata, "Aku bertanya kepada Abu Abdillah 'alaihissalām tentang firman Allah Ta'ālā,

ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ  ﮐ  ﮑ  ﮒ        ﮓ  ﮔ  ﮊ

'Sungguh Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga ‘Imrān atas manusia seluruhnya' (QS. Āli 'Imrān: 33). Dia berkata, “Yang benar; keluarga Ibrahim dan keluarga Muhammad atas manusia seluruhnya. Mereka mengganti nama dengan nama.”

Yaitu mereka menggantinya dengan meletakkan kata keluarga 'Imrān di tempat kata keluarga Muhammad. ([170])

 Kelompok keempat, menyatakan terang-terangan kekufuran ini dan memberinya berbagai argumentasi.

Yang mengambil bagian paling besar dalam kekufuran ini di antara ulama Syi’ah adalah Ḥusain An-Nūriy Aṭ-Ṭabrasiy (1320 H) yang menyusun kitab "Faṣlul-Khitāb fī Taḥrīf Kitāb Rabbil-Arbāb" untuk membuktikan keyakinan para ulama Syi’ah terhadap kekufuran ini.

Di dalam kitabnya tersebut, dia mengumpulkan semua ucapan ulama Syi’ah yang tersebar dalam banyak referensi, juga ayat-ayat yang diselewengkan dalam keyakinan mereka, lalu mengumpulkan dan menerbitkannya dalam satu kitab. Kitab ini dicetak di Iran tahun 1298 H.

 Pertanyaan (15): Apakah ada di antara ulama Syi’ah yang diakui mengatakan adanya ayat-ayat yang rendah dalam Kitab Allah Ta'ālā?

Jawab: Ya! Syekh mereka, An-Nūriy Aṭ-Ṭabrasiy berkata, “… dengan adanya perbedaan susunan, seperti kefasihan sebagiannya yang mencapai batasan mukjizat dan rendahnya sebagian yang lain, juga dengan perbedaan tingkat kefasihan, yaitu sebagiannya mencapai tingkat yang paling tinggi sementara sebagiannya pada tingkat yang paling rendah.” ([171])

Tanggapan:

Ulama-ulama Syi’ah telah menolak buku-buku mereka berisi sesuatu yang rendah!

Segala puji hanya bagi Allah yang telah berfirman,

ﮋ ﮭ  ﮮ  ﮯ           ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ       ﯕ  ﯖ    ﯗ   ﯘ  ﯙ  ﮊ

“Dan orang-orang yang kafir berkata, ‘Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur`ān ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya agar kamu dapat mengalahkan (mereka).’” (QS. Fuṣṣilat: 26)

Al-Qur`ān Al-Karīm mengandung nilai sastra, penjelasan, dan kefasihan yag tinggi, juga mengandung semua syarat kalimat yang fasih di semua surah, ayat, dan kata-katanya. Allah Ta'ālā berfirman,

 ﮋ ﭫ      ﭬ  ﭭ  ﭮ   ﭯ  ﭰ  ﭱ    ﭲ  ﭳﭴ  ﭵ  ﭶ  ﭷ  ﭸ   ﭹ      ﭺ  ﭻﭼ  ﭽ  ﭾ  ﭿ   ﮀ  ﮁ  ﮂ  ﮃ       ﮄ    ﮅﮊ

“Sesungguhnya Al-Qur`ān benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan dia bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya. Al-Qur`ān adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Hāqqah: 40-43)

Ketahuilah, di antara bentuk mukjizat Al-Qur`ān Al-Karīm adalah susunan kalimat indahnya yang berbeda dari semua susunan kalimat yang lumrah dalam Bahasa Arab dan lainnya, karena susunannya sama sekali bukan susunan syair. Demikianlah yang dikatakan oleh Allah Rabbul-‘Izzah Subḥānahu wa Ta'ālā,

ﮋ ﯫ  ﯬ  ﯭ   ﯮ  ﯯ  ﯰﯱ  ﯲ     ﯳ   ﯴ  ﯵ  ﯶ  ﯷ   ﯸ     ﮊ

"Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur'ān itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas." (QS. Yāsīn: 69)

 Pertanyaan (16): Mohon Anda sebutkan beberapa contoh penafsiran ulama Syi’ah terkait beberapa ayat Al-Qur`ān?

Jawab: Ya. Al-Qur'ān Al-Karīm menurut mereka tafsiran mereka adalah imam-imam mereka.

Syekh mereka, Al-Kulainiy membuat kebohongan, dari Abu Khālid Al-Kābiliy, dia berkata, "Aku bertanya kepada Abu Ja’far 'alaihissalām tentang firman Allah 'Azza wa Jalla,

ﮋ ﯤ  ﯥ   ﯦ  ﯧ     ﯨ     ﯩﯪ  ﮊ

'Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan cahaya (Al-Qur'ān) yang Kami turunkan.' Dia menjawab, 'Wahai Abu Khālid! Demi Allah, makna cahaya adalah imam-imam dari keturunan Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam hingga hari Kiamat. Demi Allah, mereka adalah cahaya Allah yang Allah turunkan. Dan demi Allah, mereka adalah cahaya Allah di langit dan di bumi'.” ([172])

Al-Qummiy juga membuat kebohongan di dalam tafsir firman Allah Subḥānahu wa Ta'ālā,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ   ﭖﭗ  ﭘﭙ  ﭚ   ﭛ  ﭜ  ﮊ

"Alif Lām Mīm. Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 1-2)

Dari Abu Baṣīr, dari Abu Abdillah 'alaihissalām, dia berkata, “Kitab adalah Ali 'alaihissalām, tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi mereka yang bertakwa maksudnya adalah penjelasan bagi pengikut kami.” ([173])

v  Demikian juga, cahaya mereka tafsirkan dengan imam-imam mereka.

Al-Kulainiy membuat kebohongan, Abu Abdillah 'alaihissalām berkata tentang firman Allah Ta'ālā, (QS. An-Nūr: 35),

ﮋ ﮩ  ﮪ  ﮫ   ﮬﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮰ         ﮊ: فاطمة عليها السلام، ﮋ ﮱ  ﯓ ﮊ : الحسن، ﮋﯕ  ﯖ  ﯗﯘ   ﮊ: الحسينُ، ﮋ ﯙ  ﯚ  ﯛ   ﯜ   ﮊ: فاطمةُ كوكبٌ دُرِّيٌّ بين نساءِ أهل الدنيا، ﮋﯝ  ﯞ  ﯟ  ﯠ  ﮊ: إبراهيمُ u ﮋ ﯡ   ﯢ  ﯣ  ﯤ   ﯥ  ﮊ: لا يهوديةٍ ولا نصرانيةٍ، ﮋﯦ  ﯧ  ﯨ  ﮊ: يكادُ العلمُ يَنفجرُ بهــا،ﮋ ﯩ   ﯪ   ﯫ  ﯬﯭ   ﯮ  ﯯ  ﯰﯱ  ﮊ: إمامٌ منها بعد إمامٍ ﮋﯲ  ﯳ  ﯴ  ﯵ  ﯶﯷ  ﮊ: يهدي اللهُ للأئمةِ مَن يشاءُ ﮋ ﯸ  ﯹ  ﯺ     ﯻﯼ  ﮊ

“Allah (pemberi) cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus (Fatimah 'alaihassalām), yang di dalamnya ada pelita (Ḥasan). Pelita itu di dalam tabung kaca (Ḥusain), dan tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilau (Fatimah adalah bintang yang kemilau di antara wanita-wanita penduduk dunia), yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi (Ibrahim 'alaihissalām), (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat (bukan yahudi dan bukan Nasrani), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi (ilmu hampir-hampir membuatnya terang), walaupun tidak disentuh oleh api. Cahaya di atas cahaya (adanya imam setelah imam), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki (Allah memberi petunjuk kepada para imam bagi siapa yang Dia kehendaki), dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia.” ([174])

v  Mereka menafsirkan ayat-ayat yang melarang kesyirikan dengan kesyirikan dalam kepemimpinan Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu atau kufur dengan kepemimpinannya.

Al-Qummiy membuat kebohongan atas nama Abu Ja’far raḥimahullāh bahwa dia berkata tentang firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﮯ  ﮰ  ﮱ   ﯓ  ﯔ  ﯕ  ﯖ  ﯗ      ﯘ  ﮊ

“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Sungguh jika engkau berbuat kesyirikan,' maksudnya: apabila engkau memerintahkan kepemimpinan seseorang bersama kepemimpinan Ali setelahmu-,

ﮋ ﯙ  ﯚ  ﯛ  ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﮊ

niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar: 65) ([175])

Al-Kulainiy membuat kebohongan, dari Abu Abdillah 'alaihissalām tentang firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﮯ  ﮰ  ﮱ   ﯓ  ﯔ  ﯕ  ﯖ  ﯗ      ﯘ  ﯙ  ﯚ  ﮊ

“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi sebelummu, ‘Sungguh jika engkau berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapuslah amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65) Dia berkata, “Maksudnya: jika engkau menduakannya dengan yang lain dalam kepemimpinan.” ([176]) "

Al-’Ayyāsyiy juga membuat kebohongan, dari Abu Ja’far 'alaihissalām, dia berkata, “Adapun firman Allah,

ﮋ ﮢ  ﮣ  ﮤ  ﮥ   ﮦ  ﮧ  ﮨ ﮊ

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni perbuatan syirik kepada-Nya,” yaitu Dia tidak memberi ampunan bagi orang yang mengingkari kepemimpinan Ali. Adapun firman Allah,

ﮋ ﮩ  ﮪ  ﮫ   ﮬ  ﮭ  ﮮﮯ  ﮊ

“Dan dia mengampuni yang di bawah itu bagi siapa yang Dia kehendaki,” (QS. An-Nisā`: 48) yaitu bagi orang yang loyal kepada Ali 'alaihissalām.”([177])

v  Mereka menafsirkan ayat-ayat yang memerintahkan beribadah kepada Allah semata dan menjauhi tagut dengan kepemimpinan imam-imam mereka dan berlepas diri dari musuh-musuh mereka.

Mereka juga membuat kebohongan terhadap Abu Ja’far raḥimahullāh bahwa dia berkata, "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali untuk kepemimpinan kami dan berlepas dari musuh-musuh kami. Itulah makna firman Allah dalam Kitab-Nya,

ﮋ ﭴ  ﭵ  ﭶ  ﭷ  ﭸ  ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ   ﭽ  ﭾﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂ  ﮃ  ﮄ  ﮅ   ﮆ  ﮇ  ﮈﮉ  ﮊ

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut," kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan.' (QS. An-Naḥl: 36). Yaitu disebabkan oleh pendustaan mereka terhadap keluarga Muhammad."([178])

Dan mereka membuat kebohongan terhadap Abu Abdillah raḥimahullāh dalam firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﯞ  ﯟ  ﯠ  ﯡ  ﯢ     ﯣﯤ  ﮊ

"Dan Allah berfirman, 'Janganlah kamu menyembah dua tuhan.'” (QS. An-Naḥl: 51) bahwa dia berkata, "Maksudnya, janganlah kalian mengangkat dua imam, karena imam itu tunggal." ([179])

v  Mereka menafsirkan ayat-ayat tentang orang-orang kafir dan munafik dengan pembesar-pembesar sahabat Rasulullah.

Mereka membuat kebohongan terhadap Abu Abdillah raḥimahullāh dalam firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﯶ  ﯷ     ﯸ  ﯹ  ﯺ  ﯻ  ﯼ  ﯽ  ﯾ       ﯿ  ﰀ  ﰁ  ﰂ  ﰃ      ﰄ  ﰅ   ﮊ

"Dan orang-orang yang kafir berkata, 'Ya Tuhan kami, perlihatkanlah kepada kami dua golongan yang telah menyesatkan kami yaitu (golongan) jin dan manusia, agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami agar kedua golongan itu menjadi yang paling bawah (hina).'" (QS. Fuṣṣilat: 29) bahwa dia berkata, "Yaitu mereka berdua. Dan si fulan adalah setan."

Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Mereka berdua” yaitu Abu Bakar dan Umar, sedangkan maksud “fulan” adalah Umar. Artinya jin yang disebutkan dalam ayat ini adalah Umar. Dia disebutkan karena dia adalah setan; entahlah karena dia adalah sekutu setan lantaran dia anak zina, atau karena dia seperti setan dalam perbuatan makar dan tipu daya. Dan berdasarkan penafsiran terakhir ada kemungkinan kebalikannya, bahwa yang dimaksud dengan fulan adalah Abu Bakar.” ([180])

Mereka membuat kebohongan, dari Abu Baṣīr, dari Abu Abdillah 'alaihissalām tentang firman Allah,

ﮋ ﯯ  ﯰ   ﯱ  ﯲﯳ  ﮊ

“Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan,” Dia berkata, “Yaitu kepemimpinan orang yang kedua (Umar) dan yang pertama (Abu Bakar).” ([181])

Mereka membuat kebohongan terhadap Abu Ja'far raḥimahullāh, bahwa dia berkata tentang firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﯽ  ﯾ  ﯿ  ﮊ

“Mereka beriman kepada tukang sihir dan tagut,” (QS. An-Nisā`: 51). Yaitu fulan dan fulan.” ([182])

Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Fulan dan fulan maksudnya Abu Bakar dan Umar.” ([183])

v  Mereka juga menafsirkan nama hari dan bulan dengan nama-nama imam mereka.

Mereka membuat kebohongan, dari Al-Bāqir 'alaihissalām terkait firman Allah, “Sesungguhnya bilangan bulan …” (QS. At-Taubah: 36), dia berkata, “Allah berfirman jumlah bulan ada dua belas, maksudnya Amirul Mukminin dan jumlah imam-imam setelahnya. “Di antaranya ada empat bulan yang haram,” yaitu empat orang di antara mereka memiliki nama sama, Amirul Mukminin Ali, Ali bin Ḥusain, Ali bin Musa, dan Ali bin Muhammad.” ([184])

Mereka membuat kebohongan terhadap Abu Ḥasan Al-‘Askariy, bahwa dia berkata, “Sabtu adalah nama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi, Ahad adalah kiasan untuk Amirul Mukminin 'alaihissalām, Senin adalah Ḥasan dan Ḥusain, Selasa adalah Ali bin Ḥusain, Muhammad bin Ali, dan Ja’far bin Muhammad, Rabu adalah Musa bin Ja’far, Ali bin Musa, Muhammad bin Ali, dan aku, Kamis adalah kedua anak Ḥasan bin Ali, dan Jumat adalah cucuku.” ([185])

Kesalahan memalukan:

Mereka telah menerbitkan riwayat-riwayat yang mencela sebagian hari! Di antaranya kebohongan yang mereka buat, dari Abu Abdillah 'alaihissalām dia berkata, “Sabtu untuk kami, Ahad untuk pengikut kami, Senin untuk musuh-musuh kami, Selasa untuk Bani Umayyah, dan Rabu hari meminum obat.” ([186])

Mereka membuat kebohongan terhadap Musa bin Ja’far bahwa dia berkata, “Tidak ada hari yang lebih mendatangkan rasa pesimis melebihi hari Senin.”([187])

Kontradiksi:

Mereka membuat kebohongan terhadap Amirul Mukminin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berkata, “Siapa pun di antara orang-orang beriman yang meninggal pada hari Senin maka Allah 'Azza wa Jalla tidak akan mempertemukannya selamanya dengan musuh-musuh kami dari Bani Umayyah di dalam api neraka. Dan siapa di antara orang-orang beriman yang meninggal hari Selasa maka Allah 'Azza wa Jalla akan membangkitkannya bersama kami di dalam surga.” ([188])

Bantahan Telak Terhadap Para Ulama Syi’ah

Sikap merendahkan yang dilakukan oleh para ulama Syi’ah sampai pada tingkat mereka menafsirkan kata serangga yang disebutkan dalam Al-Qur`ān Al-Karīm dengan Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu! Misalnya firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ  ﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂ  ﮃ   ﮄﮅ  ﮊ

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 26)

Ulama mereka, Al-Qummiy membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Nyamuk yang dimaksud adalah Amirul Mukminin 'alaihissalām.”([189])

 Pertanyaan (17): Apa penafsiran para ulama Syi’ah terhadap firman Allah Ta'ālā,

 ﮋ ﭳ  ﭴ  ﭵ  ﭶ  ﭷﭸ  ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ   ﭽﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁ         ﮂ  ﮃ  ﮊ

 “Dan Allah memiliki Al-Asmā`ul-Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Al-Asmā`ul-Ḥusnā itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’rāf: 180)

Jawab: Para ulama Syi’ah membuat kebohongan, dari Ar-Riḍā 'alaihissalām bahwa dia berkata, “Apabila kalian ditimpa kesulitan maka mohonlah pertolongan kepada Allah dengan kami. Itulah makna firman Allah,

ﮋ ﭳ  ﭴ  ﭵ  ﭶ  ﭷﭸ  ﮊ

‘Dan Allah memiliki Al-Asmā`ul-Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Al-Asmā`ul-Ḥusnā itu.’"

Abu Abdillah berkata, “Demi Allah, Kamilah Al-Asmā`ul-Ḥusnā yang tidak akan diterima (permohonan) dari seseorang kecuali dengan mengenal kami. Allah berfirman,

ﮋ ﭶ  ﭷﭸ  ﮊ

“Maka bermohonlah kepada Allah dengan menyebut Al-Asmā`ul-Ḥusnā itu.” (QS. Al-A’rāf: 180) ([190])

 Pertanyaan (18): Apa kedudukan ucapan imam-imam yang dua belas di kalangan ulama Syi’ah?

Jawab: Ucapan mereka dianggap sama seperti ucapan Allah Ta'ālā dan ucapan Rasul-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.

Mereka mengatakan, “Ucapan setiap orang dari imam-imam yang suci adalah ucapan Allah 'Azza wa Jalla. Tidak ada pertentangan di antara ucapan mereka sebagaimana tidak ada pertentangan di dalam ucapan Allah Ta'ālā.” ([191])

Bahkan mereka mengatakan, “Orang yang mendengar sebuah ucapan dari Abu Abdillah boleh meriwayatkannya dari ayahnya atau salah satu kakeknya 'alaihimussalām. Bahkan dia boleh mengatakan tentangnya, 'Allah Ta'ālā berfirman'.”

Bahkan inilah yang lebih utama! Berdasarkan hadis Abu Baṣīr, ia berkata, Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah 'alaihissalām, “Hadis yang aku dengar dari Anda, bolehkah aku meriwayatkannya dari ayah Anda, atau aku mendengarnya dari ayah Anda lalu aku meriwayatkannya dari Anda?” Dia menjawab, “Sama. Tetapi engkau meriwayatkannya dari ayahku lebih aku sukai!” Abu Abdillah 'alaihissalām berkata kepada Jamīl, “Apa yang kamu dengar dariku maka riwayatkanlah dia dari ayahku.” ([192])

Kontradiksi:

Al-Kulainiy sendiri meriwayatkan dari Abu Abdillah 'alaihissalām, dia berkata, “Janganlah kamu melakukan kedustaan muftara’.” Dikatakan kepadanya, “Apakah kedustaan muftara’ itu?” Dia menjawab, “Yaitu seseorang meriwayatkan hadis kepadamu lalu kamu menghilangkan namanya dan meriwayatkannya secara langsung dari orang yang darinya dia meriwayatkan kepadamu.” ([193])

Mereka mengatakan, “Imamah adalah kepanjangan dan kelanjutan dari kenabian.”([194])

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, “Sesungguhnya ajaran para imam seperti ajaran Al-Qur`ān, tidak khusus untuk satu generasi tertentu, tetapi ajaran untuk semua manusia di semua masa dan negeri hingga hari Kiamat; wajib dilaksanakan dan diikuti.” ([195])

Muhammad Jawād Mugniyah berkata, “Ucapan dan perintah imam yang maksum sepenuhnya sama seperti Al-Qur`ān yang turun dari Allah Yang Maha mengetahui,

ﮋ ﭛ  ﭜ   ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ    ﭣ   ﭤ  ﭥ  ﮊ

'Dan tidaklah dia berucap dari hawa nafsu, ucapannya tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan.'” (QS.An-Najm: 3-4) ([196])

Tanggapan:

Nas nabawi dalam akidah mereka berlanjut hingga imam terakhir mereka, maka apakah keberadaan para imam telah berakhir dalam keyakinan mereka?

Riwayat-riwayat ini secara terang menunjukkan mereka membolehkan kebohongan nyata. Misalnya, mereka menisbahkan kepada Ali raḍiyallāhu 'anhu apa yang tidak pernah dia ucapkan, melainkan diucapkan oleh salah satu cucunya. Bahkan itu lebih utama (menurut mereka), sebagaimana dalam riwayat yang disebutkan sebelumnya.

 Pertanyaan (19): Kalau begitu, apa definisi As-Sunnah menurut para ulama Syi’ah?

Jawab: As-Sunnah menurut mereka adalah Sunnah para imam yang maksum 'alaihimussalām.([197])

Mereka mengatakan, “Yang demikian itu karena mereka ditunjuk dari Allah Ta'ālā lewat lisan Nabi untuk menyampaikan hukum-hukum yang bersifat riil, maka mereka tidak menetapkan hukum kecuali berdasarkan hukum-hukum yang bersifat riil di sisi Allah Ta'ālā sebagaimana adanya.” ([198])

Sehingga As-Sunnah tidak terbatas pada Sunnah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam saja.

Bahkan tidak ada perbedaan terkait ucapan imam-imam maksum mereka yang dua belas antara ucapan mereka pada usia kanak-kanak dan usia matang (dewasa).

Karena di antara sifat imam mereka, “Dia harus maksum. Dan ini termasuk sifat dasar dan penting, bahkan syarat sebagai imam adalah dia harus maksum, seperti Nabi, dari semua hal yang hina dan keji, baik yang tampak ataupun yang tidak tampak, dari usia kanak-kanak sampai wafat, sengaja maupun tidak, dan dia harus maksum dari sifat lalai, salah, dan lupa.” ([199])

 Pertanyaan (20): Kalau begitu, apakah menurut mereka Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam telah menyampaikan semua syariatnya sebelum beliau wafat?

Jawab: Tidak! Tetapi beliau menyampaikan sebagian dari syariat dan menitipkan sisanya kepada Ali raḍiyallāhu 'anhu.

Ulama besar mereka, Syihābuddīn An-Najafiy berkata, “Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi tidak memiliki kesempatan cukup untuk mengajarkan semua hukum agama. Beliau lebih mendahulukan sibuk berperang daripada menjelaskan perincian hukum, apalagi bersama ketidaksiapan manusia di zamannya untuk menerima semua yang dibutuhkan sepanjang abad.” ([200])

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, “Sangat jelas, sekiranya Nabi telah menyampaikan perkara kepemimpinan sebagaimana yang Allah perintahkan dan mengerahkan usaha untuk itu, pasti perpecahan, perselisihan, dan peperangan yang terjadi di negeri-negeri Islam tidak akan menyala, dan pasti tidak akan muncul perpecahan dalam usul agama dan furuknya.” ([201])

Dia juga berkata, “Kita katakan bahwa para nabi tidak mendapat taufik untuk melaksanakan tujuan mereka, dan di akhir zaman, Allah akan mengutus seseorang yang akan bangkit melaksanakan urusan para nabi.” ([202])

 Pertanyaan (21): Apa sikap para ulama Syi’ah terhadap riwayat para sahabat raḍiyallāhu 'anhum?

Jawab: Ālu Kāsyif Al-Giṭā` berkata tentang para penganut Syi’ah, "Mereka tidak mengakui As-Sunnah -maksud saya hadis-hadis Nabi-, kecuali yang menurut mereka sahih dari jalur Ahli Bait dari kakek mereka, yaitu yang diriwayatkan oleh Aṣ-Ṣādiq, dari ayahnya Al-Bāqir, dari ayahnya Zainal-' Ābidīn, dari Ḥusain sang cucu, dari ayahnya Amirul Mukminin, dari Rasulullah salāmullāh ‘alaihim. Adapun yang diriwayatkan semisal Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Marwān bin Al-Ḥakam, ‘Imrān bin Ḥiṭān Al-Khārijiy, ‘Amru bin Al-‘Āṣ, dan yang semisal mereka, maka mereka tidak diakui di kalangan Sekte Imāmiyyah sedikit pun, meskipun seberat sayap nyamuk.” ([203])

Oleh karena itu, di antara pokok sekte mereka: semua yang tidak bersumber dari mereka maka itu batil. ([204])

Bantahan:

Para ulama Syi’ah memberikan pembenaran terhadap penolakan riwayat sahabat raḍiyallāhu 'anhum karena mereka mengingkari imamah salah satu imam mereka, yaitu Ali raḍiyallāhu 'anhu, sebagaimana yang mereka yakini.

Lalu, kenapa mereka menerima riwayat orang yang banyak mengingkari sebagian besar imam mereka?!

Dan kenapa para ulama Syi’ah mengamalkan dan menerima riwayat dari Sekte Al-Faṭ-ḥiyyah([205]) semisal Abdullah bin Bukair -sebagaimana hal ini ditegaskan oleh Al-Ḥurr Al-'Āmiliy-?!

Juga menerima riwayat dari Sekte Al-Wāqifah([206]) semisal Sammā’ah bin Mahrān, dan Sekte An-Nāwūsiyyah?! ([207])

Di samping itu semua, para ulama Syi’ah juga menilai ṡiqah sebagian perawi sekte-sekte tersebut yang mengingkari sebagian besara imam-imam mereka yang dua belas!

Al-Kasy-syiy mengomentari sebagian perrawi dari Sekte Al-Faṭ-ḥiyyah semisal Muhammad bin Al-Walīd Al-Khazzāz, Muawiyah bin Hakim, Muṣaddiq bin Ṣadaqah, dan Muhammad bin Sālim bin 'Abdil-Ḥamīd, “Mereka semuanya beraliran Faṭ-ḥiyyah, mereka merupakan ulama mulia dan ‘adl (terpercaya). Sebagian mereka bertemu dengan Ar-Riḍā 'alaihissalām.”([208])

Syekh mereka, Al-Majlisiy bercerita bahwa kelompoknya mengamalkan riwayat orang-orang itu. Dia berkata, “Berdasarkan apa yang kita katakan, kelompok kita mengamalkan riwayat Sekte Al-Faṭ-ḥiyyah, semisal Abdullah bin Bukair dan lainnya serta riwayat Sekte Al-Wāqifah, semisal Sammā’ah bin Mahrān.” ([209])

Ulama Syi’ah telah menilai ṡiqah (terpercaya) banyak tokoh Sekte Al-Wāqifah dan meninggalkan ucapan imam mereka yang maksum -sebagaimana keyakinan mereka- yaitu Abu Al-Ḥasan raḥimahullāh, “Al-Wāqif menentang kebenaran dan bertahan di atas keburukan; jika dia meninggal di atasnya maka tempat kembalinya adalah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” ([210])

Juga ucapan beliau raḥimahullāh, “Mereka hidup kebingungan dan mati dalam keadaan zindik.” ([211])

Juga ucapan beliau raḥimahullāh, “Mereka adalah orang-orang kafir, musyrik, zindik.” ([212])

Bantahan Telak Terhadap Ulama Syi'ah

Syekh mereka, Al-Kulainiy telah meriwayatkan dari Ibnu Hāzim, bahwa dia bertanya kepada Abu Abdillah raḥimahullāh, “Kabarkan kepadaku tentang sahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam, Apakah mereka beriman kepada Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam, ataukah mereka mereka mendustakannya?” Dia menjawab, “Mereka beriman kepadanya.” ([213])

Allāhu akbar!

ﮋ ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝﮞ   ﮟ  ﮠ  ﮡ          ﮢ  ﮣ  ﮊ

“Dan katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isrā`: 81)

 Pertanyaan (22): Apa sebenarnya hikayat Ar-Riqā’ (lembaran-lembaran fatwa imam)? Dan seperti apa kedudukannya di dalam Sekte Syi’ah?

Jawab: Ketika meninggal, imam mereka, Ḥasan Al-‘Askariy 'alaihissalām tidak diketahui memiliki keturunan, dan tidak diketahui memiliki anak yang terlihat.

Istrinya pun sudah dipastikan tidak mengandung anaknya, begitu juga budak-budak wanitanya, hingga tampak bagi mereka tidak ada kehamilan.

Maka harta warisannya segera dibagi antara ibunya dan saudaranya Ja'far, dan ibunya menyimpan wasiatnya, dan telah dikukuhkan oleh hakim dan penguasa. ([214])

Kejadian ini menjadi penghancur paham Syi’ah dan para penganutnya.

Sebagian mereka mengatakan, “Imamah telah terhenti.” ([215])

Sebagian lagi mengatakan, “Ḥasan bin Ali telah meninggal dan tidak memiliki penerus, dan imam setelahnya adalah Ja'far bin Ali, saudaranya.”([216])

Di tengah-tengah kebingungan dan kegoncangan yang dialami oleh para ulama Syi’ah, muncul seseorang bernama Usman bin Sa’īd Al-‘Umariy yang mengklaim bahwa Ḥasan Al-‘Askariy memiliki anak berumur 5 tahun yang bersembunyi dari manusia, tidak muncul kecuali kepadanya, dan dia adalah imam setelah ayahnya, Ḥasan, dan bahwasanya sang imam kecil telah menunjuknya sebagai wakil dalam mengambil harta dan menjawab permasalahan agama. ([217])

Ketika Usman bin Sa’īd meninggal tahun 280 H, Muhammad bin Usman anaknya mengklaim hal yang sama seperti yang diklaim ayahnya.

Ketika Muhammad meninggal pada tahun 305 H, dia digantikan oleh Ḥusain bin Rūḥ An-Naubakhtiy([218]) dengan klaim yang sama.

Dan ketika dia meninggal tahun 326 H, ([219]) dia digantikan oleh Abu Ḥasan Ali bin Muhammad As-Samriy pada tahun 329 H. Dia adalah orang terakhir yang mengklaim sebagai wakil imam di kalangan ulama Syi’ah Imāmiyyah.

Ketika banyak yang mengklaim sebagai duta demi perbendaharaan harta yang besar, maka para ulama Syi’ah menyatakan perkara perwakilan telah berhenti, dan gaibah kubrā telah terjadi dengan wafatnya As-Samriy.

Para wakil imam tersebut menerima pertanyaan orang-orang yang awam sebagaimana mereka mengambil harta mereka! Mereka memberikan dan menyampaikan jawaban-jawabanya dari imam yang mereka tunggu. Jawaban-jawaban itu mereka sebut at-tauqī’āt, yang mereka klaim sebagai tulisan imam. ([220])

Adapun tentang kedudukan khurafat at-tauqī’āt tersebut, maka ia sama seperti ucapan Allah dan Rasul-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Bahkan para ulama Syi’ah akan lebih membenarkan at-tauqī’āt tersebut dibandingkan ucapan yang diriwayatkan dengan sanad yang sahih di kalangan mereka dari Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam ketika terjadi kontradiksi. Di antaranya penolakan syekh mereka, Ibnu Bābawaih terhadap hadis yang terdapat dalam kitab paling sahih di kalangan mereka karena menyelisihi khurafat ini, dia berkata, “Aku tidak berfatwa menggunakan hadis ini, tetapi aku berfatwa menggunakan apa yang ada padaku berupa tulisan Al-Ḥasan bin Ali 'alaihissalām.”([221])

Syekh mereka, Al-Ḥurr Al-‘Āmiliy memberikan tanggapan dengan perkataannya, “Tulisan imam yang maksum lebih kuat daripada nas yang memiliki perantara (sanad).” ([222])

Para ulama Syi’ah kontemporer menganggap lembaran-lembaran tulisan imam ini (baca: ar-riqā’) termasuk As-Sunnah yang tidak mengandung kebatilan.” ([223])

 Pertanyaan (23): Apa latar belakang Aṭ-Ṭūsiy menulis bukunya Tahżībul-Aḥkām? Dan berapa jumlah hadisnya?

Jawab: Buku ini adalah salah satu referensi utama Sekte Syi’ah, sejak disusun sampai hari ini. Jumlah hadisnya mencapai 13.590. Terhitung sebagai buku nomor dua setelah Al-Kāfī karya syekh mereka, Al-Kulainiy.

Tanggapan:

Anehnya, penulisnya, Aṭ-Ṭūsiy, telah menegaskan di dalam bukunya yang lain ‘Uddatul-Uṣūl bahwa jumlah hadis dan riwayat dalam kitabnya At-Tahżīb lebih dari lima ribu. Artinya, tidak lebih dari enam ribu!

Apakah ini berarti telah terjadi penambahan lebih dari setengah isi bukunya selama sekian waktu?!

Tidak diragukan bahwa tambahan-tambahan tersebut dilakukan oleh tangan-tangan gelap yang bersembunyi dengan nama Islam dari kalangan ulama Syi’ah.

Adapun latar belakang penulisannya adalah karena kondisi hadis-hadis riwayat mereka, sebagaimana diakui oleh Aṭ-Ṭūsiy sendiri, “Berupa adanya pertentangan dan saling kontradiksi (antara hadis-hadis tersebut). Sampai-sampai hampir tidak ada satu riwayat pun yang disepakati kecuali ada riwayat lain yang menentangnya, dan tidak selamat satu hadis pun kecuali di sebaliknya ada yang menafikannya. Sampai-sampai, kelompok yang menyelisihi kita menjadikannya sebagai cacat paling besar pada sekte kita.” ([224])

Dia memberi tanggapan terhadap pertentangan yang banyak di antara ulama mereka sebagai bentuk taqiyyah tanpa bukti, kecuali karena dalil ini atau itu sejalan dengan pandangan musuh mereka, Ahli Sunnah.

 Pertanyaan (24): Apa kedudukan buku Al-Kāfī di kalangan ulama Syi’ah? Apakah dia aman dari adanya tambahan mereka? Apakah mereka sepakat pada jumlah pembahasan dan hadisnya?

Jawab: Sebagian ulama mereka yakin bahwa ketika Al-Kulainiy menulis bukunya Al-Kāfī, ia telah memaparkannya kepada imam mereka yang kedua belas atau ketiga belas yang masih bersembunyi([225]), maka dia menilainya bagus dan berkata, “Cukup untuk para pengikut kami.” ([226])

Syekh mereka, ‘Abbās Al-Qummiy berkata, “Buku Al-Kāfī adalah buku Islam yang paling mulia dan buku Syi'ah Imāmiyyah yang paling besar. Belum pernah ada yang berbuat untuk Imāmiyyah dengan yang semisalnya.”

Al-Maulā Muhammad Amīn Al-Istar Abādiy berkata dalam nukilan faedahnya, “Kami dengar dari para syekh dan ulama kami bahwa belum pernah ditulis dalam Islam sebuah buku yang sebanding dengannya ataupun yang mendekatinya.” ([227])

Tanggapan:

Mari sama-sama kita perhatikan beberapa bab Al-Kāfī, apalagi isinya, kemudian kita lihat juga berapa penambahan yang mereka masukkan ke dalam buku tersebut?!

Syekh mereka, Al-Khawānsāriy berkata, “Mereka berselisih tentang Kitab Ar-Rauḍah (salah satu pembahasan dalam Al-Kāfī), apakah dia dari tulisan Al-Kulainiy? Atau ditambahkan setelahnya pada Al-Kāfī? ([228])

Syekh mereka, Ibnu Al-Muṭahhar Al-Ḥilliy (726 H) berkata ketika menyebutkan ijazah sanadnya kepada Najmuddīn Muhannā Al-Madaniy untuk meriwayatkan apa-apa yang dia riwayatkan dari kitab-kitab Syi’ah, di antaranya: “Dan buku Al-Kulainiy, karya Muhammad bin Ya’qūb Al-Kulainiy yang berjudul Al-Kāfī. Buku ini terdiri dari 50 kitab (pembahasan) dengan sanad-sanad yang disebutkan.” ([229])

Ulama rujukan mereka, Ḥusain bin Ḥaidar Al-Karkiy Al-‘Āmiliy (1076 H) berkata, “Buku Al-Kāfī terdiri dari lima puluh kitāb dengan sanad-sanadnya; setiap hadis bersambung kepada para imam 'alaihimussalām.” ([230])

Sementara itu Aṭ-Ṭūsiy, yang mereka gelari dengan Syaikhu Aṭ-Ṭā`ifah (460 H) berkata, “Buku Al-Kāfī terdiri dari tiga puluh kitāb; yang pertama Kitāb Al-‘Aql … dan Kitāb Ar-Rauḍah adalah kitāb terakhir dalam Al-Kāfī. Semua kitāb serta riwayat-riwayatnya telah diberikan riwayatnya kepada kami oleh Syekh Al-Mufīd.” ([231])

Dari kutipan perkataan-perkataan di atas tampak terang bagimu bahwa yang ditambahkan kepada Al-Kāfī antara abad ke-5 sampai ke-11 sebanyak 20 kitāb, dan setiap kitāb berisikan banyak bab. Artinya, persentase yang ditambahkan pada buku Al-Kāfī sepanjang waktu tersebut mencapai 40% di luar penyelewengan riwayat, pengubahan lafal, penghilangan pembahasan, dan tambahan-tambahan yang lain! Siapakah yang memasukkan 20 kitāb tambahan dalam Al-Kāfī? Adakah kemungkinan hal itu dilakukan oleh para pemakai serban dari kalangan ulama Yahudi? Apakah ia hanya satu orang? Atau banyak yahudi di sepanjang abad tersebut?! Atau apakah ini adalah perkara yang wajar? Orang yang membuat kedustaan atas nama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam serta para sahabat dan keluarga beliau raḍiyallāhu 'anhum, tentu lebih mudah membuat kedustaan atas nama ulama-ulamanya.

Saya hendak bertanya kepada setiap penganut Syi’ah: Apakah buku Al-Kāfī kalian masih dipercayai oleh imam maksum kalian di dalam persembunyiannya? Dan apakah ia masih memegang pendapat serta rekomendasinya pada buku Al-Kāfī, bahwa ia telah cukup untuk para pengikutnya?

Kami memohon hidayah kepada Allah Ta'ālā untuk kami dan Anda!

 Pertanyaan (25): Apa pendapat para ulama Syi’ah kontemporer terhadap buku-buku referensi utama mereka dalam mempelajari agama?

Jawab: Dalam mengambil ilmu agama mereka berpatokan pada buku-buku rujukan klasik ulama mereka yang terkumpul dalam empat buku klasik: Al-Kāfī, At-Tahżīb, Al-Istibṣār, dan Man Lā Yaḥḍuruhul-Faqīh.

Sebagaimana hal itu ditetapkan oleh sebagian ulama kontemporer mereka seperti Agā Barzak Aṭ-Ṭahrāniy, ([232])Muḥsin Al-Amīn, ([233]) dan lainnya.

Syekh mereka, Al-Ḥurr Al-‘Āmiliy berkata, “Para penulis buku yang empat dan selain mereka telah memberi kesaksian terhadap kesahihan hadis-hadis yang terdapat dalam buku-buku mereka serta kevalidan pengutipannya dari referensi yang disepakati.” ([234])

Syekh mereka, 'Abdul-Ḥusain Al-Mūsāwiy berkata, “Di antara buku paling bagus yang mengumpulkan hadis-hadis itu adalah buku yang empat, yang merupakan rujukan Sekte Imāmiyyah dalam persoalan usul dan furuk mereka sejak generasi pertama hingga zaman sekarang. Yaitu Al-Kāfī, At-Tahżīb, Al-Istibṣār, dan Man Lā Yaḥḍuruhul-Faqīh. Buku-buku ini mutawātir, hadis yang dikandungnya telah dipastikan kesahihannya. Al-Kāfī adalah yang paling klasik, paling besar, paling bagus, dan paling sistematis.” ([235])

Ulama-ulama Syi’ah sekarang tidak berbeda dari ulama mereka yang dahulu, mereka semuanya kembali kepada mata air dan sumber yang satu.

Bukan ini saja, bahkan sebagian referensi Sekte Ismā’īliyyah([236]) menjadi pegangan di kalangan ulama Syi’ah sekarang. Misalnya, buku Da’ā`imul-Islām karya Al-Qāḍī An-Nu’mān bin Muhammad bin Manṣūr (363 H), dia merupkan seorang pengikut Ismā’īliyyah yang mengingkari semua imam Syi’ah setelah Ja'far Aṣ-Ṣādiq. Menurut mereka dia telah kafir karena mengingkari keimaman satu orang atau lebih.([237]) Kendati demikian, ulama-ulama besar mereka sekarang menjadikannya sebagai rujukan di dalam buku-buku mereka.([238])

 Pertanyaan (26): Apakah di dalam Sekte Syi’ah ada istilah yang terkenal tentang pembagian hadis menjadi sahih, hasan, dan daif sebagaimana yang ada dalam Ahli Sunnah?

Jawab: Ada, tapi hanyalah sesuatu yang diada-adakan!

Penyebabnya, sebagaimana yang mereka akui adalah, “Faedah dalam membahasnya([239]) adalah untuk menepis celaan orang-orang awam (Ahli Sunnah) ([240]) kepada Syi’ah bahwa hadis mereka tidak bersanad, tetapi dinukil (langsung) dari ulama-ulama mereka yang terdahulu.

Adapun istilah yang baru ini maka sesuai dengan keyakinan orang-orang awam dan istilah mereka, bahkan diambil dari buku-buku mereka sebagaimana yang tampak lewat pengkajian." ([241])

Tanggapan:

Itu artinya bahwa mereka tidak memiliki standar untuk mengetahui hadis sahih dan daif, dan bahwa standar-standar yang ada hanya suatu formalitas, tidak memiliki hakikat. Tujuannya untuk menepis kritikan Ahli Sunnah kepada mereka bahwa hadis mereka tidak memiliki sanad, dan bahwa mereka tidak bisa membedakan antara yang sahih dan daif.

 Pertanyaan (27): Apakah ada dalam Sekte Syi’ah pertentangan serta kontradiksi dalam memberikan cacat (jarḥ) dan menilai ṡiqah (ta’dīl) kepada sebagian rawi?

Jawab: Ya! Al-Kāsyāniy berkata, “Dalam jarḥ dan ta’dīl serta syarat-syaratnya terdapat perbedaan, kontradiksi, dan kesamaran yang banyak, hampir-hampir tidak bisa dihilangkan sehingga membuat jadi yang tenang. Hal ini tidak samar bagi ahlinya." ([242])

Di antara contohnya, ahli hadis mereka yang terkenal, Zurārah bin A’yun, murid dari tiga orang imam mereka: Al-Bāqir, Aṣ-Ṣādiq, dan Al-Kāẓim. Syekh mereka, Al-Kasy-syiy meriwayatkan dari Abu Abdillah raḥimahullāh, bahwa dia berkata, “Zurārah lebih jelek dari orang-orang Yahudi dan Nasrani serta orang-orang yang mengatakan Allah adalah satu dari tuhan yang tiga.” ([243])

Al-Kasy-syiy sendiri meriwayatkan bahwa Abu Abdillah raḥimahullāh berkata, “Wahai Zurārah, namamu ada di penduduk surga paling tinggi tanpa huruf alif. Aku menjawab, “Ya. Semoga Allah menjadikanmu sebagai jaminanku, namaku 'Abdurabbihi, tetapi aku diberi gelar dengan Zurārah." ([244])

Tanggapan:

Kontradiksi yang seperti ini banyak, bahkan sangat banyak. Seperti Jābir Al-Ju’fiy, Muhammad bin Muslim, Abu Baṣīr Al-Laiṡ Al-Murādiy, Buraid Al-‘Ijliy, Ḥumrān bin A’yun, dan lainnya. Bila ada orang yang penuh kontradiksi seperti ini, maka dengan apa akan dinilai riwayat dan hadis yang mereka riwayatkan?

Bantahan Telak:

Syekh mereka, Aṭ-Ṭūsiy berkata tentang mayoritas ulama dan buku-buku mereka, “Banyak di antara penulis mazhab kita menganut aliran yang rusak walaupun buku-buku mereka dijadikan rujukan.” ([245])

Allāhu akbar! Kenapa terjadi kontradiksi seperti ini? Buku mereka dijadikan rujukan sementara mereka penganut mazhab yang rusak?!

 Pertanyaan (28): Apakah ijmak sebagai ḥujjah di kalangan ulama Sekte Syi’ah? Dan kapan?

Jawab: Ijmak tidak menjadi ḥujjah, kecuali bersama salah satu imam mereka yang maksum. Syekh mereka, Ibnu Al-Muṭahhar Al-Ḥilliy berkata, “Ijmak akan menjadi ḥujjah di kalangan kami apabila di dalamnya terdapat ucapan imam yang maksum. Semua perkumpulan orang, banyak maupun sedikit, bila ada ucapan imam bersama ucapan mereka, maka ijmak mereka menjadi ḥujjah karenanya, bukan karena ijmak itu sendiri.” ([246])

Kesimpulannya, ijmak menjadi ḥujjah karena ucapan imam maksum ada di dalamnya, bukan karena ijmak itu sendiri. ([247])

Tanggapan:

Bila demikian, maka apa nilai sebuah ijmak? Selama mereka meyakini sifat maksum imam mereka, maka ucapannya sendiri telah cukup.

 Pertanyaan (29): Apa akidah para ulama Syi’ah terkait tauhid Ulūhiyyah?

Jawab: Akidah mereka akan jelas dalam pertanyaan dan jawaban-jawaban berikut, in syā`Allah.

 Pertanyaan (30): Bagaimana Allah Ta'ālā disembah menurut keyakinan ulama Syi’ah?

Jawab: Para ulama Syi’ah berkeyakinan bahwa kalau bukan karena imam-imam mereka niscaya Allah tidak akan disembah.

ﮋ ﯽ  ﯾ  ﯿ  ﰀ  ﰁ   ﮊ

“Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. An-Naml: 63)

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Allah telah menciptakan dan membuat rupa kita dengan bagus. Dia menjadikan kita sebagai mata-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, sebagai lisan-Nya yang berbicara kepada makhluk-Nya, sebagai tangan-Nya yang terbuka kepada hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang, sebagai wajah-Nya yang Dia didatangi dari arah-Nya, sebagai pintu-Nya yang mengarahkan kepada-Nya, dan sebagai penjaga-Nya di langit dan di bumi-Nya. Dengan sebab kita pohon-pohon berbuah, buah-buahan menjadi matang, dan sungai-sungai mengalir. Dengan sebab kita hujan turun dari langit dan rumput tumbuh dari bumi, dan dengan ibadah kita Allah disembah. Kalau bukan karena kita niscaya Allah tidak akan disembah.” ([248])

 Pertanyaan (31): Apakah para ulama Syi’ah menganut keyakinan hulul dan kesatuan (wiḥdatul-wujūd) total (antara Allah dan makhluk)?

Jawab: Ya! Mereka meyakini bahwa Allah menitis di salah satu makhluk-Nya. Setelah mereka melampaui batas dengan keyakinan penitisan yang bersifat parsial atau hulul yang khusus pada Ali raḍiyallāhu 'anhu, mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Kemudian Allah mengusap kami dengan tangan kanan-Nya, lalu merasukkan cahaya-Nya kepada diri kami.” ([249])

Mereka juga membuat kebohongan atas nama Abu Ja'far raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Tetapi Allah menyatukan diri kami dengan diri-Nya.” ([250]) Mereka juga membuat kebohongan atas nama Aṣ-Ṣādiq raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Kami memiliki beberapa keadaan bersama Allah: kami dalam keadaan-keadaan itu adalah Dia dan Dia adalah kami, hanya saja Dia adalah Dia dan kami adalah kami.” ([251])

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, “Ali 'alaihissalām adalah penampakan yang agung bagi Allah.” ([252])

Dia juga berkata, “Tidak ada penampakan serta wujud kecuali wujud Allah Tabāraka wa Ta'ālā. Alam adalah khayalan dalam khayalan bagi orang-orang yang merdeka.” ([253])

Dia juga berkata, “Allah Ta'ālā adalah semua wujud, dan Dia semuanya adalah wujud. Dia adalah semua keindahan dan kesempurnaan, dan Dia seluruhnya adalah keindahan dan kesempurnaan. Segala sesuatu selain Dia tanpa terkecuali adalah kilau cahaya-Nya, tetesan wujud-Nya, dan bayang Zat-Nya.” ([254])

Syekh mereka, Ḥusain bin Manṣūr Al-Ḥallāj Asy-Syī’iy Aṣ-Ṣūfiy (309 H) berkata, “Wahai Tuhan semua tuhan, Rabb semua rabb! Kembalikan jiwaku kepada diriku agar hamba-hamba-Mu tidak terfitnah denganku. Wahai Zat yang Dia adalah aku dan aku adalah Dia.” ([255])

Dia menggubah syair:

Aku adalah Engkau tiada ragu

                         Mahasuci Engkau Mahasuci aku

Menauhidkan-Mu adalah menauhidkanku

                         durhaka kepada-Mu adalah durhaka kepadaku

Membuat-Mu marah adalah membuatku marah

                         ampunan-Mu adalah ampunanku

Aku tidak didera, wahai Tuhanku

                         apabila dikatakan dia berzina([256])

Tanggapan:

Telah diketahui dari agama Islam secara pasti bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu; semua selain Allah adalah makhluk.

ﮋ ﯯ  ﯰ  ﯱ  ﯲ   ﯳ  ﯴ  ﯵ      ﯶ  ﯷ   ﯸ  ﮊ

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada (Allah) Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba.” (QS. Maryam: 93)

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ   ﭙ  ﭚ  ﭛ  ﭜﭝ  ﮊ

“Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (QS. An-Nisā`: 171)

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﮘ  ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞ  ﮟ   ﮠ  ﮡﮢ  ﮊ

“Sungguh telah kafir orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu dialah Almasih putra Maryam.’” (QS. Al-Mā`idah: 17)

Orang-orang Nasrani yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, ucapan mereka yang paling berat adalah meyakini adanya hulul dan penitisan Allah pada Almasih putra Maryam 'alaihissalām. Orang yang meyakini adanya hulul dan menitisnya Allah pada selain Almasih Isa 'alaihissalām, sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang Syi'ah ini dan yang semisal mereka, ucapan mereka lebih buruk daripada ucapan orang-orang Nasrani, karena Almasih putra Maryam lebih afdal dari mereka semuanya.

Ulama-ulama Rāfiḍah sejenis dengan pengikut Dajal yang mengaku diri sebagai tuhan supaya diikuti, padahal Dajal berkata kepada langit, “Turunkanlah hujan!” Maka langit segera menurunkan hujan dengan izin Allah. Dan berkata kepada bumi, “Tumbuhkanlah tumbuhan!” Maka bumi pun menumbuhkan tumbuhan dengan izin Allah.

Bersama itu, dia buta sebelah dan pendusta. Maka orang yang mengklaim sebagai tuhan padahal dia tidak memiliki hal-hal luar biasa (seperti) ini, dia ada di bawah Dajal.

Orang yang meyakini Allah menitis dan menyatu pada manusia, dan bahwa manusia menjadi tuhan di antara tuhan-tuhan, dia telah kafir menurut semua umat Islam.

 Pertanyaan (32): Menurut para ulama Syi’ah, apa maksud nas-nas Al-Qur`ān yang membahas tentang tauhid ibadah?

Jawab: Maksudnya adalah menetapkan kepemimpinan Ali raḍiyallāhu 'anhu dan imam-imam mereka yang lainnya.

Kaidah mereka, "Banyak sekali riwayat yang menakwil syirik kepada Allah dan syirik dalam beribadah kepada-Nya dengan makna syirik terkait kekuasaan dan kepemimpinan, yaitu menyekutukan imam mereka dengan mengakui kepemimpinan orang lain yang tidak berhak menjadi imam, serta memberikan kekuasaan kepada orang lain selain beserta kekuasaan keluarga Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.([257])

Misalnya, firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﮯ  ﮰ  ﮱ   ﯓ  ﯔ  ﯕ  ﯖ  ﯗ      ﯘ  ﯙ  ﯚ  ﯛ  ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﮊ

“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Makna ayat ini dalam buku mereka yang paling sahih: "Jika engkau menyekutukan selain imam dalam kepemimpinannya dengan orang lain." ([258])

Di antaranya, kebohongan yang mereka buat atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata tentang makna firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﮐ  ﮑ  ﮒ  ﮓ    ﮔ  ﮕ  ﮖﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚ   ﮛﮜ  ﮝ  ﮞ   ﮟ   ﮠﮊ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu mengingkari apabila diseru untuk menyembah Allah saja. Dan jika Allah disekutukan, kamu percaya. Maka keputusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Gāfir: 12)

“Jika Allah disebutkan dan kepemimpinan orang yang Allah perintahkan kepemimpinannya diesakan, kalian malah mengingkari, dan jika dia disekutukan dengan orang yang tidak berhak atas kepemimpinan itu, kamu malah percaya bahwa dia memiliki hak kepemimpinan.” ([259])

Kebohongan lain yang mereka buat atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata terkait makna firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﯹ  ﯺ  ﯻﯼ  ﮊ

“Apakah di samping Allah ada tuhan yang lain?” (QS. An-Naml: 60) Maksudnya: apakah bersama imam yang mendapat hidayah ada imam yang tersesat?” ([260])

Bantahan Telak:

Abu Abdillah berkata tentang orang yang berucap dengan tafsir ini, “Siapa yang mengatakan ini maka dia telah menyekutukan Allah -ia katakan tiga kali-. Saya berlepas diri darinya kepada Allah -ia katakan tiga kali-. Maksud Allah dalam ayat itu adalah Diri-Nya -ia katakan tiga kali-.”([261])

 Pertanyaan (33): Apa dasar diterimanya amal dalam keyakinan ulama Syi’ah?

Jawab: Yaitu beriman kepada kepemimpinan imam-imam mereka. ([262])

ﮋ ﯽ  ﯾ  ﯿ  ﰀ  ﰁ   ﮊ

“Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. An-Naml: 63)

Mereka mengadakan kebohongan, “Siapa yang tidak mengakui kepemimpinan Amirul Mukminin maka batallah amalnya.” ([263])

Mereka membuat kebohongan, “Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mengangkat Ali 'alaihissalām sebagai pengenal antara Dia dan makhluk-Nya. Siapa yang mengenalnya maka dia beriman, siapa yang mengingkarinya maka dia kafir, siapa yang tidak mengenalnya maka dia tersesat, siapa yang mengangkat orang lain (sebagai imam) bersamanya maka dia musyrik, dan siapa yang datang (hari kiamat) dengan (meyakini) kepemimpinannya maka dia masuk surga.” ([264])

Mereka membuat kebohongan, “Apabila dia mengakui kepemimpinan kami kemudian mati di atasnya maka diterima salatnya, puasanya, zakatnya, dan hajinya. Tetapi jika dia tidak mengakui kepemimpinan kami di hadapan Allah Jalla Jalāluhu maka Allah tidak menerima sedikit pun dari amalnya.” ([265])

Mereka membuat kebohongan, “Seandainya seorang hamba diberi Allah umur agar menyembah-Nya selama seribu tahun antara Ḥajar Aswad dan Maqām Ibrahim, dan antara kubur Nabi dan mimbarnya, kemudian dia disembelih secara zalim di atas tempat tidurnya sebagaimana domba yang tidak bertanduk disembelih, kemudian dia bertemu dengan Allah 'Azza wa Jalla tanpa mengakui kepemimpinan kami, maka wajib bagi Allah 'Azza wa Jalla untuk melemparkannya ke dalam neraka Jahanam.” ([266])

Al-Khumainiy berkata, “Kepemimpinan Ahli Bait 'alaihimussalām dan mengenal mereka adalah syarat diterimanya amal. Ini merupakan perkara yang disepakati bahkan termasuk perkara yang wajib diketahui dalam Mazhab Syi’ah yang suci. Riwayat dalam pembahasan dan perkara ini jumlahnya banyak.” ([267])

Kontradiksi:

Apa jawaban para ulama Syi’ah terhadap riwayat berikut yang terdapat dalam buku-buku mereka yang diakui, dari Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda ketika turun ayat,

ﮋ ﭛ   ﭜ     ﭝ    ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ  ﭣﭤ  ﮊ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak meminta kepada kalian suatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.’” (QS. Asy-Syūrā: 23). Jibril 'alaihissalām berkata, “Wahai Muhammad, setiap agama memiliki dasar dan pondasi serta cabang dan bangunan. Sungguh dasar dan pondasi agama ini adalah ucapan lā ilāha illallāh, dan cabang serta bangunannya adalah mencintai kalian, Ahli Bait, serta loyal kepada kalian terkait sesuatu yang sesuai dengan kebenaran dan dia mengajak kepada kebenaran itu.” ([268])

Nas ini menjadikan syahadat tauhid sebagai pondasi agama, bukan kepemimpinan, dan menjadikan cinta kepada Ahli Bait sebagai cabang dengan syarat dia (Ahli Bait) berada dalam kebenaran dan menyeru kepada kebenaran tersebut.”

Juga, apa dosa orang-orang yang telah meninggal di antara umat-umat terdahulu sedang mereka belum mengetahui Ali dan Ahli Baitnya raḍiyallāhu 'anhum?!

 Pertanyaan (34): Apakah para ulama Syi’ah meyakini adanya perantara antara Allah dan makhluk-Nya? Dan siapakah mereka?

Jawab: Ya!

Ulama Syi’ah meyakini bahwa imam-imam mereka adalah perantara antara Allah Subḥānahu wa Ta'ālā dan makhluk-Nya.

Oleh karena itu, syekh mereka, Al-Majlisiy menulis sebuah bab dengan judul, "Bab 6: bahwa manusia tidak akan mendapat petunjuk kecuali dengan perantaraan mereka, bahwa mereka adalah perantara antara makhluk dan Allah, dan bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang yang mengenal mereka."

Dia membuat kebohongan, Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi berkata kepada Ali 'alaihissalām, “Tiga perkara aku bersumpah kebenarannya: engkau dan orang-orang yang diwasiatkan setelahmu orang-orang yang dikenal; Allah tidak dikenal kecuali dengan cara mengenal kalian; dan orang-orang yang dikenal tidak masuk surga kecuali yang mengenal kalian dan kalian mengenalnya, dan orang-orang yang dikenal tidak masuk neraka kecuali yang mengingkari kalian dan kalian mengingkarinya.” ([269])

Al-Majlisiy berkata, “Mereka adalah penjaga pintu Tuhan dan perantara antara Allah dan makhluk.” ([270])

Tanggapan:

Keyakinan para ulama Syi’ah ini mengingatkan kita dengan keyakinan para penyembah berhala.

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﮆ   ﮇ  ﮈ  ﮉﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ    ﮐ  ﮑ  ﮒ  ﮓ   ﮔ     ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚ   ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞ  ﮟﮠ  ﮡ     ﮢ  ﮣ   ﮤ  ﮥ  ﮦ   ﮧ     ﮨ  ﮩ  ﮊ

“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang menjadikan pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sungguh, Allah akan memberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3)

 Pertanyaan (35): Bagaimana para nabi 'alaihimussalām mendapat petunjuk? Bagaimana caranya agar bisa melihat Allah Ta'ālā menurut akidah Syi’ah Imāmiyyah Iṡnā ‘Asyariyyah?

Jawab: Ulama Syi’ah membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Demi Allah! Allah tidak menciptakan Adam dengan Tangan-Nya dan meniupkan ruh ciptaan-Nya padanya kecuali dengan kepemimpinan Ali 'alaihissalām. Allah tidak berbicara langsung kepada Musa kecuali dengan kepemimpinan Ali 'alaihissalām. Dan Allah tidak menjadikan Isa Putra Maryam sebagai mukjizat bagi alam semesta kecuali dengan tunduk kepada Ali 'alaihissalām.” Kemudian dia berkata, “Perkara ini saya ringkas: Makhluk tidak layak untuk dilihat oleh Allah kecuali dengan perbadatan kepada kami.” ([271])

 Pertanyaan (36): Bagaimana Allah disembah, dikenal, dan ditauhidkan? Apa jalan menuju Allah Subḥānahu wa Ta'ālā menurut akidah para ulama Syi’ah?

Jawab: Melalui imam-imam mereka! Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Ja'far bahwa dia berkata, “Dengan kami Allah disembah, dengan kami Allah dikenal, dan dengan kami Allah Tabāraka wa Ta'ālā ditauhidkan.” ([272]) Mereka juga membuat kebohongan, “Kami adalah jalan kepada Allah.” ([273])

Mereka membuat kebohongan, “Dengan kami Allah dikenal, dengan kami Allah disembah, kami adalah penunjuk jalan kepada Allah; kalau bukan karena kami maka Allah tidak disembah.” ([274])

Mereka membuat kebohongan, “Kami adalah pemimpin dari Allah, penjaga ilmu Allah, wadah wahyu Allah, dan pemeluk agama Allah; kepada kami Kitab Allah diturunkan, dengan kami Allah disembah; kalau bukan karena kami maka Allah tidak dikenal, dan kami adalah pewaris Nabi dan keturunannya.” ([275])

Tanggapan:

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂﮃ  ﮄ   ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮈ       ﮉ  ﮊ  ﮋ  ﮊ

“Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan siapa yang disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17)"

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﮏ  ﮐ  ﮑ  ﮒ  ﮓ  ﮔ       ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮊ

“Sungguh, engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qaṣaṣ: 56)

 Pertanyaan (37): Kapan doa dikabulkan di sisi Allah menurut akidah ulama Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah?

Jawab: Doa tidak akan diterima kecuali dengan nama imam-imam mereka!

Mereka membuat kebohongan terhadap Abu Ja'far bahwa dia berkata, “Siapa yang berdoa kepada Allah dengan nama kami maka dia beruntung. Tetapi siapa yang berdoa kepada Allah dengan selain nama kami dia binasa dan mengundang kebinasaan.” ([276])

Tanggapan:

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭷ   ﭸ  ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ  ﭾ  ﭿ  ﮊ

"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah." (QS. Al-Jinn: 18)

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﯼ  ﯽ  ﯾ  ﯿ  ﰀ   ﰁ  ﰂ  ﰃ   ﰄ  ﰅﰆ  ﰇ  ﰈ  ﰉ  ﰊ  ﰋ    ﰌ  ﰍ   ﮊ

"Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim." (QS. Yūnus: 106)

 Pertanyaan (38): Bagaimana Allah Ta'ālā mengabulkan doa nabi-nabi-Nya menurut akidah ulama Syi’ah?

Jawab: Ketika mereka bertawasul dan meminta syafaat dengan imam-imam mereka!

Ulama Negara Syi'ah Ṣafawiyyah dalam buku “Lautan Kegelapan” meriwayatkan dari imam-imamnya dengan membuat bab: "Bab doa para nabi dikabulkan dengan tawasul dan meminta syafaat dengan para imam ṣalawātullāh 'alaihim jamī’an."([277])

Mereka membuat kebohongan atas nama Ar-Riḍā raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Tatkala Nuh hampir tenggelam, dia berdoa kepada Allah dengan hak kami, maka Allah selamatkan dia dari tenggelam. Tatkala Ibrahim dilemparkan ke dalam api, dia berdoa kepada Allah dengan hak kami, maka Allah jadikan api itu dingin dan aman baginya. Tatkala Musa membuat jalan di laut, dia berdoa kepada Allah dengan hak kami, maka laut itu dibuat kering. Dan tatakala orang-orang Yahudi ingin membunuh Isa, Isa berdoa kepada Allah dengan hak kami, maka dia selamat dari pembunuhan itu dan Allah mengangkatnya kepada-Nya.” ([278])

Mereka memanggil Imam Al-Mahdi mereka dengan panggilan “Ya Arḥamarrāḥimīn.” ([279])

ﮋ ﮚ   ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞ  ﮊ

“Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-A’rāf: 190)

Imam mereka, Al-Khumainiy berkata tentang imam mereka yang kedua belas, Al-Mahdi khayalan, “Di tangannyalah semua urusan hari ini.” ([280])

Bahkan ulama mereka mengatakan bahwa imam-imam mereka dapat mengabulkan doa, dan mereka dekat dari orang yang berdoa kepadanya.

ﮋ ﮚ   ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞ  ﮊ

“Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-A’rāf: 190)

Mereka berbohong bahwa salah satu syekh mereka mengirim surat mengadu kepada imam mereka Abu Hasan Al-Hādī, “Seseorang ingin menyampaikan kepada imamnya apa yang ingin dia sampaikan kepada Tuhannya.”

Maka datang jawaban, “Jika kamu memiliki hajat, maka gerakkan bibirmu pasti jawabannya akan datang kepadamu.” ([281])

Tanggapan:

Allah Ta'ālā berfirman tentang orang-orang musyrik,

ﮋ ﮢ  ﮣ  ﮤ  ﮥ   ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ  ﮪ  ﮫ  ﮬ  ﮭ   ﮮ  ﮯﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ  ﯕ  ﯖ  ﯗ  ﯘ  ﯙ  ﯚ     ﯛ  ﯜﯝ  ﯞ  ﯟ  ﯠ  ﯡ  ﯢ  ﮊ

"Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, 'Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.' Katakanlah, 'Apakah kamu akan memberitahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang di langit dan tidak (pula) yang di bumi?' Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan itu." (QS. Yūnus: 18)

 Pertanyaan (39): Bagaimana bulan terbelah menjadi dua untuk Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menurut akidah ulama Syi’ah?

Jawab: Dengan meminta syafaat dan bertawasul dengan doa Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu.([282])

 Pertanyaan (40): Apakah boleh melakukan istigasah kepada seseorang selain Allah menurut akidah ulama Syi’ah?

Jawab: Tidak boleh melakukan istigasah kecuali kepada imam-imam mereka, karena mereka adalah sumber keselamatan dan tempat meminta.

Mereka membuat kebohongan atas nama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Adapun Abu Al-Hasan saudaraku, dia akan menuntut balas untukmu terhadap orang yang menzalimimu. Adapun Ali bin Al-Ḥusain adalah untuk keselamatan dari para penguasa dan godaan setan. Adapun Musa bin Ja'far, mintalah keselamatan dengannya dari Allah 'Azza wa Jalla. Adapun Ali bin Musa, mintalah dengannya keselamatan di darat dan laut. Adapun Muhammad bin Ali, mintalah dengannya rezeki dari Allah Ta'ālā. Adapun Al-Hasan bin Ali adalah untuk akhirat. Adapun Ṣāḥibuz-zamān, ketika pedang sampai pada hewan sembelihan maka mintalah pertolongan kepadanya niscaya dia akan menolongmu.” ([283])

Ḥujjatul-Islām mereka, Maḥmūd Al-Khurāsāniy berkata, “Apabila kamu ingin melakukan suatu istigasah kepada Imam Al-Mahdi 'alaihissalām, maka tulislah apa yang akan kami sebutkan pada sebuah kartu lalu lemparkan di salah satu kubur imam yang maksum 'alaihissalām, atau ikat dan tutup lalu buat adonan dari tanah yang bersih dan masukkan kartu itu ke dalamnya, kemudian lemparkan di sungai atau sumur yang dalam atau saluran air, kartu itu akan segera sampai kepada pimpinan kita yang di tangannya segala urusan 'alaihissalām dan dia akan menunaikan sendiri hajatmu.” ([284])

Kontradiksi:

Kitab-kitab mereka telah meriwayatkan bahwa di antara doa Imam Ja'far Aṣ-Ṣādiq adalah, “Ya Allah! Sungguh aku tidak memiliki kuasa untuk diriku; kemudaratan maupun manfaat, tidak juga kehidupan, kematian, dan kebangkitan. Telah hina kematian dan tidurku, telah tampak keburukan yang menimpaku, dan telah putus alasan-alasanku. Telah sirna semua harapan kecuali dari-Mu, dan telah putus semua asa kecuali dari sisi-Mu….”([285])

Mahabenar Allah yang telah berfiman dalam Kitab-Nya,

ﮋ ﯫ  ﯬ  ﯭ  ﯮ  ﯯ  ﯰ  ﯱ  ﯲ   ﯳ    ﯴ   ﯵ  ﯶ  ﯷ    ﯸ  ﯹ  ﯺ  ﯻ  ﯼ  ﯽ   ﭑ  ﭒ   ﭓ      ﭔ          ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ  ﭙ            ﭚ  ﮊ

"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (QS. Al-Aḥqāf: 5-6)

Juga Mahabenar Allah Yang berfirman,

ﮋ ﯕ  ﯖ  ﯗ     ﯘ        ﯙ  ﯚﯛ  ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﯟﯠ  ﯡ   ﯢ  ﯣ   ﯤ  ﯥ  ﮊ

"Dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah, 'Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.'" (QS. Az-Zumar: 8)

ﮋ ﮟ   ﮠ  ﮡ   ﮢ  ﮣ  ﮤ  ﮥ    ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ   ﮪ  ﮫ     ﮬ                 ﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮰ       ﮱ  ﯓ  ﯔ   ﯕ  ﯖ     ﯗ  ﯘ  ﯙ  ﯚ  ﯛ  ﯜ  ﮊ

"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!' (Tidak), tetapi hanya Dia-lah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah)." (QS. Al-An'ām: 40-41)

 Pertanyaan (41): Bagaimana para rasul Ulul-'Azmi meraih derajat tersebut menurut akidah ulama Syi’ah?

Jawab: Dengan kecintaan mereka kepada imam-imam Syi’ah!

Syekh mereka, Al-Majlisiy dalam “lautan kegelapannya” menuliskan satu bab dengan judul: “Mengutamakan para imam yang maksum 'alaihimussalām di atas para nabi dan makhluk semuanya serta mengambil perjanjian mereka dari para nabi, malaikat, dan semua makhluk, dan bahwa para rasul Ulul-'Azmi meraih derajat itu murni karena kecintaan kepada mereka ṣalawātullāh ‘alaihim.”([286])

 Pertanyaan (42): Manakah yang lebih agung dalam akidah para ulama Syi’ah: berziarah ke kubur para imam atau menunaikan rukun kelima dari rukun Islam?

Jawab: Berhaji ke kubur imam-imam mereka!

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata kepada seorang laki-laki yang datang dari Yaman untuk berziarah ke kubur Ḥusain, “Menziarahi Abu Abdillah 'alaihissalām setara dengan satu haji yang makbul bersama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam.” Lalu laki-laki itu merasa heran. Dia (Abu Abdillah) berkata, “Ya, demi Allah! Bahkan setara dengan dua kali haji yang mabrur bersama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam.” Laki-laki itu bertambah merasa heran. Maka Abu Abdillah 'alaihissalām terus menaikkannya hingga 30 kali haji mabrur bersama Rasulullah. ([287])

Mereka membuat kebohongan atas nama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Siapa yang menziarahinya setelah dia wafat maka Allah akan tuliskan untuknya satu kali haji dari haji-hajiku.” Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, satu kali haji di antara haji-hajimu?!” Beliau menjawab, “Ya. Bahkan dua kali haji.” Dia bertanya lagi, “Dua kali haji?!” Beliau menjawab, “Ya. Bahkan empat kali haji.” Dan dia terus menambah pertanyaannya, sementara beliau juga terus menaikkannya hingga mencapai 70 kali haji di antara haji-haji Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam selama umurnya.” ([288])

Mereka juga membuat kebohongan (bahwa pahala ziarah itu setara dengan) “Satu juta kali haji bersama Al-Qā`im 'alaihissalām dan satu juta kali umrah bersama Rasulullah.” ([289])

v  Kemudian mereka menambah kebohongan kadar pahala itu dengan membuat kebohongan lain, “dua juta haji, dua juta umrah, dan dua juta perang; pahala setiap satu haji, satu umrah, dan satu perang seperti pahala orang yang berhaji, berumrah, dan berperang bersama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam dan bersama para imam yang mendapat petunjuk 'alaihimussalām.”([290])

v  Kemudian mereka melampau batas dalam kebohongan tersebut dengan mengatakan, dari Abu Hasan Ar-Riḍā 'alaihissalām dia berkata, “Siapa yang menziarahi kubur Abu Abdillah 'alaihissalām di pinggir Sungai Eufrat maka dia seperti menziarahi Allah di atas Arasy-Nya.” ([291])

Mereka juga membuat kebohongan, dari Abu Abdillah 'alaihissalām dia berkata, “Siapa yang menziarahi kubur Ḥusain bin Ali 'alaihissalām pada hari Asyura karena mengetahui haknya maka ia seperti orang yang menziarahi Allah di atas Arasy-Nya.” ([292])

Mereka membuat kebohongan, dari Zaid Asy-Syaḥḥām, ia berkata, Aku bertanya kepada Abu Abdillah 'alaihissalām, “Apa yang akan didapatkan oleh orang yang menziarahi kubur Ḥusain 'alaihissalām?” Dia menjawab, “Seperti orang yang menziarahi Allah di atas Arasy-Nya.” ([293])

Mereka berbohong, “Siapa yang menziarahi kubur kedua anak Ali maka baginya di sisi Allah seperti 70 haji mabrur. Siapa yang menziarahinya dan menginap di sana satu malam maka seperti orang yang menziarahi Allah di atas Arasy-Nya.” ([294])

Apakah lelang dan penambahan demi penambahan pahala ini sudah selesai?!

Kontradiksi:

Mereka meriwayatkan dari Ḥannān bin Sudair, dia berkata, Aku bertanya kepada Abu Abdillah 'alaihissalām, “Apa pendapatmu tentang menziarahi kubur Ḥusain 'alaihissalām, karena telah sampai kepada kami dari sebagian kalian bahwa dia berkata hal itu setara haji dan umrah?”

Maka dia menjawab, “Betapa lemahnya hadis ini! Dia tidak setara dengan ini semuanya. Tetapi ziarahilah dia dan jangan dilupakan, karena ia penghulu pemuda-pemuda yang mati syahīd dan pemimpin pemuda penduduk surga.” ([295])

Bantahan Telak Terhadap Ulama Syi'ah

Syekh mereka, Al-Kulainiy meriwayatkan, dari Abu Abdillah 'alaihissalām, dia berkata: Amirul Mukminin 'alaihissalām berkata, “Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam mengutusku untuk meratakan kubur dan menghancurkan gambar.” ([296])

Dia juga meriwayatkan, dari Abu Abdillah 'alaihissalām dia berkata, Amirul Mukminin berkata, “Aku diutus oleh Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam menuju Madinah dan berkata, ‘Jangan tinggalkan satu gambar pun kecuali engkau menghapusnya, tidak satu kubur pun kecuali engkau ratakan, dan tidak juga seekor anjing kecuali engkau membunuhnya.” ([297]) Ulama-ulama Syi’ah telah menyerupakan rumah makhluk (kubur) dengan rumah Allah (Kakbah).

Dasar agama Islam adalah kita beribadah kepada Allah semata dan tidak menjadikan bagi-Nya tandingan dari makhluk-Nya.

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ   ﭘﭙ   ﭚ  ﭛ   ﭜ    ﭝ  ﭞ  ﮊ

"(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?" (QS. Maryam: 65)

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ  ﭣ   ﮊ

"Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlāṣ: 4)

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﯛ  ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﯟ   ﯠ  ﯡ  ﮊ

"Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah." (QS. Al-Baqarah: 22)

Maka siapa yang menyamakan antara Allah dengan makhluk dalam rasa cinta dan takut atau harap maka dia telah musyrik lagi kafir.

 Pertanyaan (43): Apakah orang yang memiliki hak untuk menghalalkan dan mengharamkan selain Allah dalam akidah para ulama Syi’ah?

Jawab: Ya! Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Ja'far raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Imam-imam dari kami, kepada mereka diserahkan urusan. Apa yang mereka halalkan menjadi halal, dan apa yang mereka haramkan menjadi haram.” ([298])

Mereka juga membuat kebohongan atas nama Ar-Riḍā raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Manusia adalah hamba kami dalam ketaatan.” ([299])

Bantahan Telak

Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﯘ  ﯙ   ﯚ  ﯛ  ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﯟ  ﯠ   ﯡ  ﯢ  ﯣ  ﯤ  ﯥ  ﯦ  ﯧﯨ   ﯩ  ﯪ  ﯫ     ﯬﯭ  ﯮ  ﯯ  ﯰ  ﯱ   ﮊ

"Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai tuhan selain Allah, dan (juga) Almasih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan." (QS. At-Taubah: 31).

Allah Subḥānahu wa Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﮘ  ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞ  ﮟ          ﮠ    ﮡ  ﮢ  ﮣ  ﮤ  ﮥ  ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ  ﮪ    ﮫ       ﮬ  ﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ     ﯕ  ﯖ   ﯗ   ﯘ  ﯙ  ﯚ  ﯛ     ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﯟ  ﯠ  ﯡ  ﯢ  ﯣﯤ  ﯥ  ﯦ               ﯧ    ﯨ  ﯩ  ﮊ

"Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, "Demi Allah! Sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam. Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorang pun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman". Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman." (QS. Asy-Syu'arā`: 96-103)

Abu Abdillah raḥimahullāh berkata, “Ketahuilah, demi Allah, mereka (para rahib/ulama) tidak pernah mengajak manusia untuk menyembah diri mereka. Seandainya mereka (para rahib/ulama) menyeru manusia (untuk menyembah mereka) niscaya mereka tidak akan mengabulkan. Tetapi mereka (para rahib/ulama) menghalalkan bagi mereka yang haram dan mengharamkan yang halal, sehingga mereka (manusia) menyembah mereka tanpa mereka sadari.” ([300])

 Pertanyaan (44): Manakah yang didahulukan dalam akidah ulama Syi’ah antara menaati Allah ataukah menaati Ali raḍiyallāhu 'anhu?

Jawab: Menaati Ali raḍiyallāhu 'anhu! Na’ūżu billāh!

ﮋ ﭠ  ﭡ  ﭢ   ﭣ  ﭤ  ﭥ  ﭦ   ﮊ

"Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?" (QS. Nūḥ: 13)

Mereka membuat kebohongan bahwa Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman, “Siapa yang mengenal hak Ali, dia akan bersih dan baik. Tetapi siapa yang mengingkari haknya, dia telah kafir dan rugi. Aku bersumpah dengan kemuliaan-Ku untuk memasukkan ke dalam surga orang yang taat kepadanya walaupun dia durhaka kepada-Ku. Dan Aku bersumpah dengan kemuliaan-Ku akan memasukkan ke dalam neraka orang yang durhaka kepadanya walaupun dia taat kepada-Ku.” ([301])

 Pertanyaan (45): Apa keyakinan para ulama Syi’ah terkait tanah kuburan Ḥusain raḍiyallāhu 'anhu?

Jawab: Mereka membuat kebohongan, “Sesungguhnya tanah kubur Ḥusain 'alaihissalām adalah obat untuk semua penyakit.” ([302]) Mereka juga membuat kebohongan, "Sesungguhnya Allah menjadikan tanah kakekku Al-Ḥusain 'alaihissalam sebagai obat untuk semua penyakit dan keamanan dari semua rasa takut.” ([303])

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah bahwa dia berkata, “Tahniklah anak-anak kalian dengan tanah kubur Ḥusain 'alaihissalām karena dia merupakan sumber keamanan.” ([304])

Kontradiksi:

Mereka lupa, lalu membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Tahniklah anak-anak kalian dengan air Sungai Eufrat.” ([305])

Imam besar mereka, Al-Khumainiy berkata, “Tidak bisa disamakan dengannya tanah kubur selainnya, termasuk kubur Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi serta para imam 'alaihimussalām, menurut pendapat yang paling kuat.” ([306])

 Pertanyaan (46): Apakah para ulama Syi’ah berpendapat boleh memohon manfaat lewat doa yang menggunakan azimat-azimat dan kode serta istigasah kepada orang yang majhūl (tidak diketahui identitasnya)?

Jawab: Ya! Di antara contohnya:

Kebohongan yang mereka buat bahwa azimat Amirul Mukmin Ali raḍiyallāhu 'anhu untuk yang yang terkena sihir berbunyi:

( بسم الله الرحمن الرحيم، أي كنوش أي كنوش، ارشش عطنيطنيطح، يا مطيطرون فريالسنون، ما وما، ساما سويا طيطشا لوش خيطوش، مشفقيش، مشا صعوش أو طيعينوش ليطفيتكش ... ) ([307]) .

Mereka juga membuat kebohongan atas nama Ali raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berkata, “Siapa di antara kalian yang tersesat dalam perjalanan, atau mengkhawatirkan dirinya, hendaklah dia memanggil, “Ya Ṣāliḥu, agiṡnī (Wahai Ṣāliḥ, tolonglah aku), karena sesungguhnya ada di antara saudara kalian dari bangsa jin bernama Ṣāliḥ.” ([308])

Tanggapan:

Allah Ta'ālā berfirman tentang orang-orang musyrik,

ﮋ ﮇ  ﮈ        ﮉ  ﮊ  ﮋ     ﮌ  ﮍ       ﮎ  ﮏ   ﮐ  ﮑ  ﮒ  ﮊ

"Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat." (QS. Al-Jinn: 6)

Diriwayatkan oleh Al-Qummiy bahwa Abu Abdillah raḥimahullāh berkata (tentang makna ayat ini), “Ada seseorang pergi ke tukang ramal yang diberi bisikan oleh setan, dia berkata, ‘Katakan kepada setanmu, ‘Fulan telah berlindung kepadamu.’” ([309])

Al-Faiḍ Al-Kāsyāniy berkata, “Dengan permohonan perlindungan itu mereka telah menambah keangkuhan dan kesombongan setan.” ([310])

 Pertanyaan (47): Apa hukum melakukan istikharah dengan undian anak panah dalam akidah Syi’ah?

Jawab: Hukumya disyariatkan! ([311])

Mereka berdusta dengan mengatakan, “Cara istikharah imam kita, Amirul Mukminin Ali bin Abi Ṭālib 'alaihissalām adalah bila engkau menginginkan sesuatu, maka engkau menulis poin istikharah tersebut di dalam dua kartu yang dibuat seperti peluru yang dibuat sama, lalu engkau meletakkan keduanya di dalam bejana berisi air; salah satunya bertuliskan “lakukan” dan pada yang lain “jangan lakukan”, mana yang keluar ke atas permukaan air maka lakukanlah itu dan jangan diselisihi.” ([312])

Sebagian ulama mereka mengkhususkan tempat istikharah di samping kepala kubur Ḥusain raḍiyallāhu 'anhu.([313])

Tanggapan:

Istikharah ini, dan banyak lagi yang lainnya, menyelisihi firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ  ﭙ      ﭚ   ﭛ  ﭜ  ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ   ﭢ  ﭣ    ﭤ  ﭥ  ﭦ  ﭧ  ﭨ  ﭩ  ﭪ  ﭫ   ﭬﭭ  ﭮ  ﭯﭰ  ﭱ  ﭲ  ﭳ  ﭴ     ﭵ  ﭶ   ﭷ  ﭸ  ﭹﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ  ﭾ  ﭿ   ﮀ  ﮁ  ﮂ  ﮃ  ﮄ  ﮅﮆ  ﮇ  ﮈ  ﮉ   ﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮍﮎ  ﮏ  ﮐ  ﮑ  ﮒ  ﮓ   ﮊ

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlām (anak panah), karena itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi siapa yang terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Mā`idah: 3)

Juga menyelisihi apa yang diriwayatkan oleh sebagian imam mereka dari Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau mengajarkan istikharah kepara sahabat raḍiyallāhu 'anhum dalam segala urusan sebagaimana beliau mengajarkan mereka surah Al-Qur`ān. Beliau ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang kalian meniatkan suatu urusan, maka hendaklah ia salat dua rakaat selain salat fardu, kemudian berdoa: Allāhuma innī astakhīruka bi’ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as`aluka min faḍlikal-‘aẓīm; fa`innaka taqdiru walā aqdir wata’lamu walā a’lam wa anta ‘alllāmul-guyūb … (Ya Allah! Sesungguhnya aku beristikharah dengan ilmu-Mu, meminta kekuatan dengan kekuasaan-Mu, dan meminta karunia-Mu yang agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sementara saya tidak kuasa, Engkau mengetahui sementara aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui yang gaib...)([314])

 Pertanyaan (48): Apa hukum tasyā`um (pesimistis) dengan tempat dan waktu menurut ulama Syi’ah?

Jawab: Tasyā`um (pesimistis) dengan waktu dan tempat adalah bagian dari akidah mereka. Mereka telah membuat-buat banyak riwayat yang menunjukkan hal itu. Di antaranya kebohongan yang dibuat oleh ulama mereka, dari Abu Ayyūb Al-Khazzār, dia berkata, “Kami hendak keluar melakukan safar, maka kami datang mengucapkan salam kepada Abu Abdillah 'alaihissalām. Dia berkata, “Sepertinya kalian sedang mencari keberkahan hari Senin?" Kami menjawab, "Iya." Ia berkata, "Tidak ada hari yang lebih membuat pesimistis daripada hari Senin, pada hari itulah kita kehilangan Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, sehingga wahyu pun terputus dari kita. Janganlah kalian keluar pada hari Senin, tetapi keluarlah hari Selasa. ([315])

Tanggapan:

Apakah celaan ini tertuju kepada Hasan dan Ḥusain?! Karena para imam menurut akidah mereka adalah hari-hari. Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Hasan Al-'Askariy raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Sabtu adalah nama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, Ahad adalah julukan untuk Amirul Mukminin, sedangkan Senin adalah Ḥasan dan Ḥusain.” ([316])

Mereka membuat kebohongan atas nama Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Menjauhlah dari Mesir dan jangan niatkan menetap di sana.” Dan saya tidak kira melainkan beliau bersabda, “Karena ia (menetap di Mesir) memberi sifat dayyāṡah (hilang cemburu).” ([317])

Mereka membuat kebohongan, “Jangan katakan, ‘Dari penduduk Syam.’ Tetapi katakanlah, ‘Dari penduduk Syūm.’ Mereka adalah anak-anak Mesir; mereka telah dilaknat lewat lisan Daud 'alaihissalām. Maka Allah jadikan sebagian mereka sebagai kera dan babi.” ([318])

Tanggapan:

Allah Ta'ālā berfirman tentang negeri Syam,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ     ﭙ     ﭚ  ﭛ  ﭜ   ﭝ  ﭞ  ﭟ     ﭠ  ﭡﭢ  ﭣ      ﭤ  ﭥ  ﭦ  ﭧ  ﮊ

"Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isrā`: 1)

 Pertanyaan (49): Apakah boleh menurut ulama Syi’ah berdoa kepada selain Allah? Dan kapan?

Jawab: Ya. Menurut para ulama Syi’ah boleh berdoa kepada selain Allah Ta'ālā, dengan syarat tidak meyakininya sebagai tuhan.

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, “Syirik adalah meminta sesuatu dari selain Tuhan alam semesta karena meyakininya sebagai tuhan. Adapun yang selain itu maka bukan kesyirikan. Tidak ada perbedaan dalam hal itu antara yang masih hidup dan yang sudah mati. Maka, meminta hajat kepada batu atau batu besar bukanlah perbuatan syirik.” ([319])

Tanggapan:

Kesyirikan seperti inilah yang dilakukan oleh orang-orang jahiliah dahulu. Allah Tabāraka wa Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﮆ   ﮇ  ﮈ  ﮉﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ    ﮐ  ﮑ  ﮒ  ﮓ   ﮔ     ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚ   ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞ  ﮟﮠ  ﮡ     ﮢ  ﮣ   ﮤ  ﮥ  ﮦ   ﮧ     ﮨ  ﮩ  ﮊ

“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang menjadikan pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sungguh, Allah akan memberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3)

 Pertanyaan (50): Bagaimana Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berbicara kepada Nabi kita, Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam pada malam mikraj dalam keyakinan para ulama Syi’ah?

Jawab: Mereka membuat kebohongan, dari Abdullah bin Umar dia berkata, Aku mendengar Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam ditanya, “Dengan bahasa apa Tuhanmu berbicara kepadamu pada malam mikraj?” Beliau menjawab, “Allah berbicara kepadaku dengan bahasa Ali bin Abi Ṭālib, lalu memberi ilham kepadaku untuk berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau kah sedang berbicara kepadaku, ataukah Ali? ([320])

Tanggapan:

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭡ  ﭢ        ﭣﭤ   ﭥ     ﭦ  ﭧ  ﭨ  ﮊ

"Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syūrā: 11)

 Pertanyaan (51): Apakah para ulama Syi’ah membedakan antara Allah Ta'ālā dan dengan imam-imam mereka?

Jawab: Tidak! Ulama mereka telah menyebutkan bahwa imam-imam mereka memiliki keadaan rūḥāniyyah barzakhiyyah, di dalamnya berlaku pada mereka sifat-sifat ketuhanan. Hal ini ditunjukkan oleh makna doa mereka, “Tidak ada beda antara Engkau dan mereka, hanya saja mereka adalah hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” ([321])

Tanggapan:

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ  ﭙ  ﭚ  ﭛ   ﭜ  ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ  ﭣ  ﭤﭥ   ﭦ    ﭧ  ﭨ   ﭩ  ﭪ   ﭫ  ﭬ  ﮊ

"Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezeki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit pun). Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. An-Naḥl: 73-74)

Allah juga berfirman tentang Diri-Nya,

ﮋ ﭡ  ﭢ        ﭣﭤ   ﭥ     ﭦ  ﭧ  ﭨ  ﮊ

"Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat." (QS. Asy-Syūrā: 11)

 Pertanyaan (52): Apa itu syirik kepada Allah Ta'ālā? Dan apa pengertian berlepas diri dari orang-orang musyrik dalam akidah mereka?

Jawab: Kata syirik dalam Al-Qur`ān Al-Karīm di semua ayat harus ditakwil, atau menurut ulama Syi'ah, kesyirikan itu ditujukan sebagai sifat orang yang tidak meyakini keimaman Amirul Mukminin serta imam-imam dari keturunannya 'alaihimussalām dan menganggap orang lain lebih utama dari mereka. ([322])

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Ja'far raḥimahullāh bahwa dia berkata dalam tafsir firman Allah Ta'ālā, “Jika engkau melakukan kesyirikan (pada kepemimpinan Ali) niscaya terhapuslah amalmu.” ([323])

Syekh mereka, Abu Hasan Al-‘Āmiliy berkata, “Sangat banyak yang menakwilkan kesyirikan kepada Allah dan dalam peribadatan kepada-Nya dengan makna kesyirikan dalam kepemimpinan dan keimaman.” ([324])

Syekh mereka, Al-Māmaqāniy berkata, “Maksud utama yang dapat disimpulkan dari riwayat-riwayat yang disebutkan yaitu penerapan hukum orang kafir dan musyrik di akhirat terhadap orang yang tidak menganut paham Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah. ([325])

Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Kesimpulannya bahwa ayat-ayat tentang kesyirikan secara lahirnya ditujukan pada berhala-berhala yang tampak, sedangkan makna batinnya pada khalifah-khalifah zalim yang dijadikan sebagai sekutu bersama imam-imam yang hak dan yang diangkat menggantikan mereka. Jadi, firman Allah Subḥānahu wa Ta'ālā,

ﮋ ﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮰ  ﮱ   ﯓ  ﯔ  ﯕ  ﮊ

 Kabarkan kepada-Ku tentang Lāta, 'Uzzā, dan Manāt yang ketiga terakhir; makna batin Lāta adalah orang pertama, Uzzā adalah orang kedua, dan Manāt adalah orang ketiga, yaitu mereka inilah yang disebut sebagai Amirul Mukminin, khalifah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi, Aṣ-Ṣiddīq (Abu Bakar), Al-Fārūq (Umar), Żū An-Nūrain (Usman), dan semisalnya.” ([326])

Dia juga berkata, “Termasuk perkara yang wajib diketahui dalam agama Imāmiyyah adalah sikap barā` (berlepas diri) dari Abu Bakar, Umar, dan Usman.” ([327])

Dan orang yang mengingkari perkara yang wajib diketahui di kalangan ulama Syi’ah adalah kafir, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. ([328])

Orang pertama yang menyatakan sikap barā` terhadap orang-orang musyrikin -maksudnya para sahabat raḍiyallāhu 'anhum- menurut keyakinan mereka adalah Abdullah bin Saba` Al-Yahūdiy, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Inilah yang dimaksud dengan “barā` terhadap orang orang-orang musyrik” dalam akidah para ulama Syi’ah, dan diserukan oleh ulama-ulama mereka lewat demonstrasi-demonstrasi keji mereka pada musim haji di hari yang paling afdal sepanjang tahun dan di tempat paling mulia di dunia.

Bahkan di antara akidah para ulama Syi’ah adalah, bahwa pada setiap musim haji, Abu Bakar dan Umar raḍiyallāhu 'anhumā diperlihatkan kepada mereka agar mereka melempar keduanya dengan batu ketika melempar jamrah. Disebutkan “Apabila musim haji tiba, keduanya yang fasik dan perampas itu dikeluarkan, kemudian keduanya dipisahkan di sini (tempat melempar jamrah), tidak ada yang melihat mereka kecuali imam yang adil, maka aku pun melempar yang pertama (Abu Bakar) dua kali dan melempar yang kedua (Umar) tiga kali, karena orang kedua lebih keji dari orang pertama.” ([329])

 Pertanyaan (53): Apakah planet dan bintang-bintang memiliki pengaruh dalam kebahagiaan dan kesengsaraan manusia, serta dalam hal masuk surga dan neraka dalam keyakinan para ulama Syi’ah?

Jawab: Ya! Syekh mazhab Syi’ah, Al-Kulainiy membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Siapa yang melakukan safar atau pernikahan sementara bulan ada pada rasi skorpio maka dia tidak akan melihat surga.” ([330])

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, “Makruh hukumnya melakukannya (yakni pernikahan) ketika bulan berada pada rasi skorpio, pada saat bentuk bulan kecil, atau di salah satu hari sial di setiap bulan.” ([331])

Tanggapan:

Taṭayyur (meyakini kesialan pada sesuatu tertentu) termasuk akidah kaum musyrikin, sebagaimana firman Allah,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖﭗ  ﭘ  ﭙ  ﭚ   ﭛ  ﭜ  ﭝ  ﭞﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ  ﭣ  ﭤ  ﭥ   ﭦ  ﭧ  ﭨ  ﭩ  ﮊ

"Kemudian apabila kebaikan (kemakmuran) datang kepada mereka, mereka berkata, 'Ini adalah karena (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka di tangan Allah, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Al-A’rāf: 131)

 Pertanyaan (54): Apakah Allah telah mengistimewakan seseorang dengan memberitahukan kepadanya seluruh perkara gaib selain diri-Nya menurut keyakinan para ulama Syi’ah?

Jawab: Ya! Mereka membuat kebohongan atas nama Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berkata, “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali aku menyelesaikan utangnya dan menunaikan janjinya. Tuhanku telah mengistimewakanku dengan ilmu dan kemenangan. Sungguh aku telah datang kepada Tuhanku 12 kali, maka Dia mengenalkan diri-Nya kepadaku dan memberikanku kunci-kunci gaib.” ([332])

Mereka juga membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Sungguh aku benar-benar mengetahui apa yang ada di langit dan bumi, apa yang ada di surga, apa yang ada di neraka, serta apa yang pernah ada dan yang akan ada.” ([333])

Bahkan para ulama Syi’ah meyakini bahwa imam-imam mereka mengetahui segala sesuatu secara rinci sama seperti halnya Allah mengetahui segala sesuatu. Mereka mengetahui semua yang pernah ada, yang sedang ada, dan yang akan ada; tidak ada yang tersembunyi dari mereka sekecil apa pun. Tidak diragukan lagi pengetahuan mereka dengan semua yang ada di seluruh alam, ditambah apa yang pernah ada dan yang akan ada, sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat-riwayat yang banyak dan mutawātir, bahkan bisa dikatakan ini termasuk keyakinan Imāmiyyah dan perkara yang wajib diketahui dalam mazhab mereka. ([334])

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, “Ketahuilah, bahwa Lailatulkadar adalah malam mukāsyafah (tersingkapnya hal gaib) bagi Rasulullah dan imam-imam pemberi petunjuk. Oleh karena itu, semua urusan alam semesta menjadi tampak bagi mereka. Mukāsyafah ini adalah tersingkapnya alam semesta yang mencakup semua komponen alam. Tidak ada satu pun di antara urusan rakyat yang tersembunyi bagi penguasa, karena telah diriwayatkan bahwa amal perbuatan dipaparkan kepada para penguasa, yaitu Rasulullah dan imam-imam pemberi petunjuk.” ([335])

Tanggapan:

Allah Ta'ālā berfirman tentang diri-Nya dalam Al-Qur`ān Al-Karīm,

ﮋ ﯬ  ﯭ  ﯮ  ﯯ  ﯰ  ﯱ   ﯲﯳ  ﯴ  ﯵ  ﯶ     ﯷ  ﯸﯹ  ﯺ  ﯻ  ﯼ  ﯽ  ﯾ  ﯿ  ﰀ  ﰁ        ﰂ  ﰃ  ﰄ  ﰅ  ﰆ  ﰇ   ﰈ  ﰉ  ﰊ  ﰋ          ﰌ  ﰍ   ﮊ

"Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauḥ Maḥfūẓ)." (QS. Al-An’ām: 59)

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﭧ  ﭨ   ﭩ    ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﭭ  ﭮ  ﭯ   ﭰﭱ  ﭲ  ﭳ      ﭴ  ﭵ  ﭶ  ﮊ

"Katakanlah (Muhammad), "Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan'." (QS. An-Naml: 65)

 Pertanyaan (55): Bagaimana akidah para ulama Syi’ah mengenai tauhid Rubūbiyyah?

Jawab: Itu akan jelas dalam Pertanyaan dan jawaban-jawaban berikut, in syā`Allah.

 Pertanyaan (56): Apakah para ulama Syi’ah meyakini adanya tuhan lain bersama Allah Subḥānahu wa Ta'ālā?

Jawab: Para ulama Syi’ah telah membuat kebohongan atas nama Ali raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berkata, “Aku adalah cabang dari cabang-cabang ketuhanan.” ([336])

Kemudian mereka berkembang dalam kesesatan dengan membuat kebohongan atas nama dirinya juga, bahwa dia berkata, “Aku adalah Tuhan bumi yang membuat bumi tenang.” ([337])

Mereka berkata tentang makna firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﭩ  ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﮊ

"Dan bumi (padang Mahsyar) menjadi terang-benderang dengan cahaya Tuhannya." (QS. Az-Zumar: 69) “Yaitu dengan imam (pemimpin) di bumi.” ([338])

Mereka juga berkata tentang makna firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ  ﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂ    ﮊ يُردُّ إلى أمير المؤمنين u ﮋ ﮃ  ﮄ  ﮅ  ﮊ

“Dia berkata, ‘Siapa yang berbuat zalim, Kami akan menghukumnya, lalu dia akan dikembalikan kepada Tuhannya.” Maksudnya dia dikembalikan kepada Amirul Mukminin 'alaihissalām. “Kemudian dia mengazabnya dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Kahfi: 87)([339])

Tanggapan:

Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman kepada Nabi-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam,

ﮋ ﭵ  ﭶ  ﭷ  ﭸ  ﭹ      ﭺ  ﭻ    ﭼ  ﭽ  ﭾ  ﮊ

"Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan selain Allah, nanti kamu termasuk orang-orang yang diazab." (QS. Asy-Syu'arā`: 213)

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏﮐ  ﮑ   ﮒ  ﮓ      ﮔﮕ  ﮖ    ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚﮛ  ﮜ    ﮝ     ﮞ  ﮟ  ﮊ

"Dan jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan." (QS. Al-Qaṣaṣ: 88)

 Pertanyaan (57): Siapakah yang mengatur dunia dan akhirat dalam keyakinan para ulama Syi’ah?

Jawab: Imam mereka! Al-Kulainiy membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh, bahwa ia berkata, “Tidakkah kamu mengetahui bahwa dunia dan akhirat adalah milik Sang Imam? Dia meletakkannya di mana yang ia kehendaki dan memberikannya kepada siapa yang dia kehendaki.” ([340])

Tanggapan:

Allah Ta'āla berfirman,

ﮋ ﮱ  ﯓ  ﯔ    ﯕ  ﯖ  ﯗ     ﯘ  ﯙ  ﯚ  ﯛ  ﯜﯝ  ﮊ

“Katakanlah, ‘Milik siapakah bumi dan semua yang ada di dalamnya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Milik Allah.’” (QS. Al-Mu`minūn: 84-85).

Ketika orang-orang musyrikin mengakuinya, lantas Allah mencela mereka dengan mengingkari kesyirikan mereka dengan berfirman,

ﮋ ﯞ  ﯟ  ﯠ   ﯡ  ﮊ

“Katakanlah, ‘Tidakkah kalian ingat?’” (QS. Al-Mu`minūn: 85).

Kemudian Allah befirman,

ﮋ ﯢ  ﯣ  ﯤ  ﯥ  ﯦ  ﯧ  ﯨ  ﯩ    ﯪ  ﯫ  ﯬﯭ  ﮊ

“Katakanlah, ‘Siapakah Tuhan yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki Arasy yang agung?’ Mereka akan menjawab, ‘Milik Allah.’” (QS. Al-Mu`minūn: 86-87).

Manakala orang-orang musyrikin mengakuinya, lantas Allah mencela mereka dengan mengingkari kesyirikan mereka dalam firman-Nya,

ﮋ ﯮ  ﯯ  ﯰ    ﯱ  ﮊ

Katakanlah, ‘Maka mengapa kalian tidak bertakwa?’”

Kemudian Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﯲ  ﯳ  ﯴ   ﯵ  ﯶ  ﯷ  ﯸ  ﯹ  ﯺ  ﯻ  ﯼ  ﯽ     ﯾ   ﯿ  ﰀ  ﰁ  ﰂﰃ  ﮊ

“Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan segala sesuatu; Dia melindungi dan tidak ada yang dapat dilindungi dari siksa-Nya jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, “(Milik) Allah.”[QS. Al-Mu`minūn: 88-89].

Manakala mereka mengakuinya, lantas Allah mencela mereka dengan mengingkari kesyirikan mereka dalam firman-Nya,

ﮋ ﰄ  ﰅ  ﰆ  ﰇ   ﭑ    ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ    ﭙ  ﭚ  ﭛ        ﭜ  ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠﭡ  ﭢ  ﭣ  ﭤ          ﭥ  ﭦ  ﭧ  ﭨ   ﭩ  ﭪ  ﭫﭬ  ﭭ  ﭮ  ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ   ﭳ   ﭴ  ﭵ  ﭶ  ﭷ  ﭸ  ﮊ

“Katakanlah, ‘Kalau demikian, maka bagaimana kalian sampai tertipu?’ Padahal Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, tetapi mereka benar-benar pendusta. Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya. (Sekiranya tuhan banyak), maka masing-masing tuhan itu akan membawa apa (makhluk) yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu. (Dialah Tuhan) yang mengetahui semua yang gaib dan semua yang tampak. Mahatinggi (Allah) dari apa yang mereka persekutukan. [QS. Al-Mu`minūn: 89-92].

 Pertanyaan (58): Siapakah yang menciptakan peristiwa-peristiwa alam dalam keyakinan ulama-ulama Syi’ah?

Jawab: Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu!

ﮋ ﯹ  ﯺ  ﯻﯼ  ﯽ  ﯾ  ﯿ  ﰀ  ﰁ   ﮊ

“Apakah ada tuhan lain bersama Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. An-Naml: 63)

Mereka membuat kebohongan, dari Sammā’ah bin Mahrān, dia berkata, Aku pernah berada di sisi Abu Abdillah 'alaihissalām lantas langit bergemuruh dan berkilat, maka Abu Abdillah 'alaihissalām berkata, “Tidaklah gemuruh dan kilat ini terjadi melainkan atas perintah sahabat kalian?” Aku bertanya, “Siapakah sahabat kami tersebut?” Dia menjawab, “Amirul Mukminin 'alaihissalām.” ([341])

Mereka membuat kebohongan bahwa Amirul Mukminin raḍiyallāhu 'anhu mengendarai awan; ketika berada di atasnya dia berkata, “Aku adalah mata Allah di bumi-Nya, aku adalah lisan Allah yang berbicara pada makhluk-Nya, aku adalah cahaya Allah yang tidak padam, aku adalah pintu Allah yang mengantarkan kepada-Nya, dan aku adalah ḥujjah Allah atas hamba-hamba-Nya.” ([342])

Tanggapan:

Wahai muslim yang bijaksana dan berakal sehat! Apa yang Anda simpulkan dari riwayat-riwayat di atas? Bukankah di dalamnya terkandung klaim dari ulama-ulama Syi’ah atas ketuhanan Ali raḍiyallāhu 'anhu; bahwasanya Allah Subḥānahu wa Ta'ālā memiliki sekutu dalam ketuhanan? Padahal Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia,

ﮋ ﯨ  ﯩ  ﯪ  ﯫ  ﯬ  ﯭ   ﯮ  ﯯ  ﯰ  ﯱ     ﮊ

"Dialah yang memperlihatkan kilat kepada kamu, yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menjadikan mendung." (QS. Ar-Ra’d: 12)

 Pertanyaan (59): Apakah ulama-ulama Syi’ah meyakini bahwa para imam mereka mampu menciptakan dan mampu menghidupkan orang yang sudah meninggal?

Jawab: Ya! Mereka membuat kebohongan bahwa narator mereka, yaitu Ibnu Qabīṣah berkata, Jābir bin Yazīd Al-Ju’fiy berkata kepadaku, “Aku melihat tuanku, Al-Bāqir, membuat gajah dari tanah liat, lalu menungganginya dan terbang di udara sampai pergi ke Mekah dan kembali lagi.” Tetapi aku tidak percaya hingga aku berjumpa dengan Al-Bāqir, aku lalu berkata padanya, “Jābir bercerita kepadaku tentang Anda begini dan begini?” Maka Al-Bāqir membuat gajah dari tanah (seperti yang diceritakan oleh Jābir), kemudian naik dan membawaku bersamanya ke Mekah, lalu mengembalikanku.” ([343])

Mereka membuat kebohongan bahwa Ali raḍiyallāhu 'anhu menghidupkan seorang pemuda dari keluarga pamannya dari Bani Makhzūm. Dia menghentakkan kaki di kubur pemuda itu, lalu ia keluar dari kuburnya dalam keadaan lidahnya terbalik karena dia meninggal di atas Sunnah Abu Bakar dan Umar, sebagaimana kebohongan yang mereka buat. ([344])

Mereka juga membuat kebohongan bahwa dia menghidupkan semua orang yang mati di pekuburan Jubānah. Khurafat mereka mengatakan, “Ketika Ali berada di tengah pekuburan Jubānah, dia mengucapkan satu kata, lantas hati mereka gemetar dan dipenuhi ketakutan dahsyat sesuai yang dikehendaki Alah, dan warna mereka pun berubah.” ([345])

Mereka membuat kebohongan bahwa Ali raḍiyallāhu 'anhu memukul sebuah batu lalu keluar darinya seratus ekor unta. Khurafat mereka mengatakan, “Dia memukul batu dengan tongkat Rasulullah lalu terdengar suara seperti suara unta ketika proses persalinan. Pada saat seperti itu, batu tersebut terbelah lalu keluar kepala unta dengan tali yang menggantung. Lalu dia berkata kepada putranya, Al-Ḥasan, “Ambillah!” Kemudian keluar seratus ekor unta masing-masing diikuti oleh unta muda yang semuanya berwarna hitam!!”([346])

Mereka juga membuat kebohongan bahwa Ali raḍiyallāhu 'anhu menghidupkan Sām dan Aṣḥābul-Kahfi. ([347])

Tanggapan:

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ   ﭘ  ﭙ  ﭚﭛ   ﭜ  ﭝ  ﭞﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ  ﭣ  ﭤ             ﭥ  ﭦ   ﮊ

"Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan (makhluk) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (lagi) dan yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah, 'Kemukakanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang yang benar.'" (QS. Yūnus: 64)

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﮈ  ﮉ     ﮊ   ﮋ   ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ  ﮐ  ﮑ    ﮒ  ﮓ  ﮔ  ﮕ   ﮖ  ﮗ   ﮘﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞ  ﮟ  ﮠ   ﮡ  ﮢ  ﮣ  ﮤ  ﮥ  ﮦﮧ  ﮨ  ﮩ      ﮪ  ﮫ   ﮬ  ﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮰ    ﮱ      ﯓ         ﯔ  ﯕ  ﯖ   ﯗ  ﯘ  ﯙ  ﯚ  ﯛ   ﯜ  ﯝ   ﯞ    ﯟ   ﯠ  ﯡ  ﯢ  ﯣﯤ  ﯥ  ﯦ  ﯧ     ﯨ  ﯩ   ﯪ    ﯫ  ﯬ     ﯭ  ﯮ  ﯯ  ﯰ  ﯱ  ﯲ              ﯳ  ﯴ   ﯵ  ﯶ  ﯷ   ﯸ  ﯹ             ﯺ  ﯻ   ﯼ  ﯽ   ﮊ

"Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata dia menjadi musuh yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?' Katakanlah (Muhammad), 'Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu (Allah) yang menjadikan api untuk kamu dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu.' Dan bukankah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi, mampu menciptakan kembali yang serupa itu (jasad mereka yang sudah hancur itu)?! Benar, dan Dia Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu. Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan." (QS. Yāsīn; 77-83)

 Pertanyaan (60): Apakah derajat tauhid yang paling tinggi dalam pandangan ulama-ulama Syi’ah?

Jawab: Keyakinan wiḥdatul-wujūd! Hakikat keyakinan ini adalah bahwa keberadaan imam mereka merupakan hakikat keberadaan Allah Ta'ālā. Inilah puncak tauhid. ([348])

ﮋ ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ  ﮐ             ﮑ  ﮊ

"Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan." (QS. Al-Isrā`: 43)

Tanggapan:

Pemikiran sufi ekstrem telah menyusup jauh ke dalam mazhab Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah dan bercokol dalam benak ulama mereka di era belakangan. Juga terdapat kemiripan antara pemikiran sufi ekstrem dan akidah Syi’ah yang ekstrim.

 Pertanyaan (61): Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang tauhid Asmā` wa Ṣifāt (nama dan sifat-sifat Allah)?

Jawab: Hal ini akan jelas secara ringkas dalam pembahasan berikut, in syā`Allāh.

 Pertanyaan (62): Apakah ulama-ulama Syi’ah percaya dengan konsep tajsīm (penetapan jisim bagi Allah)?

Jawab: Ya! Ulama mereka yang pertama kali menyatakan bahwa Allah berupa jisim adalah Hisyām bin Al-Ḥakam.

Dia mengatakan bahwa Allah berupa jisim yang memiliki batas dan ujung, Dia tinggi dan lebar, tinggi-Nya sama dengan lebar-Nya, dan bahwa Allah sepanjang tujuh jengkal dengan hitungan jengkal-Nya. ([349])

ﮋ ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ  ﮐ             ﮑ  ﮊ

        "Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan." (QS. Al-Isrā`: 43)

Ulama mereka yang dijuluk Aṣ-Ṣadūq meriwayatkan dari Muhammad bin Al-Faraj Ar-Rukhajiy, ia berkata, “Aku menulis surat kepada Abu Al-Ḥasan -alaihissalām- untuk menanyakan perkataan Hisyām bin Al-Ḥakam tentang tajsīm dan perkataan Hisyām bin Sālim tentang ṣūrah (yakni Allah memiliki rupa). Abu Al-Ḥasan -alaihissalām- menjawab, “Tinggalkan kebingungan orang-orang yang bingung dan berlindunglah kepada Allah dari setan. Pandangan yang tepat bukan seperti yang disebutkan oleh kedua Hisyām tersebut.” ([350])

Dia juga meriwayatkan dari Sahl bin Ziyād ia berkata, "Aku menulis surat kepada Abu Muhammad pada tahun 255 H. Tuanku! Sahabat-sahabat kami berbeda pendapat tentang tauhid; di antara mereka mengatakan, 'Allah berjisim,' dan sebagian mereka ada yang mengatakan, 'Allah hanya memiliki rupa.' ([351])

Ibnu Al-Murtaḍā Az-Zaidiy berkata, “Mayoritas Rāfiḍah meyakini konsep tajsīm, kecuali yang sudah bercampur pemikirannya dengan Muktazilah.” ([352])

Kontradiksi:

Mereka meriwayatkan dari Ya’qūb As-Sarrāj bahwa dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah 'alaihissalām, “Sebagian sahabat kami menyangka bahwa Allah memiliki rupa seperti rupa manusia, dan yang lain menyangka bahwa Allah memiliki rupa seseorang tak berjenggot yang berambut ikal bergelombang." Dia pun tersungkur sujud, lalu mengangkat kepalanya dan berkata, "Mahasuci Allah yang tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, tidak dapat dicapai oleh pengelihatan mata dan tidak ada ilmu yang dapat meliputi-Nya.” ([353])

Bantahan Telak:

Al-Majlisiy berkata, “Keyakinan bahwa Allah bersatu dengan makhluk-Nya... atau Dia adalah jisim..., semua itu adalah kekafiran.” ([354])

Mereka meriwayatkan dari Ali bin Muhammad dan dari Abu Ja’far Al-Jawād 'alaihimassalām bahwa mereka beruda berkata, “Siapa yang meyakini bahwa Allah adalah jisim, janganlah kalian berikan zakat padanya serta jangan salat di belakangnya.” ([355])

 Pertanyaan (63): Bagaimana akidah ulama-ulama Syi’ah mengenai At-Ta’ṭīl (pengingkaran terhadap nama dan sifat Allah)?

Jawab: Setelah para ulama Syi’ah melampaui batas dalam menetapkan sifat-sifat Allah Ta'ālā, sampai-sampai sebagian mereka meyakini bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya, maka di akhir-akhir abad ketiga mulai terjadi perubahan dalam mazhab Syi’ah, di mana ulama-ulama mereka terpengaruh dengan doktrin para ulama Muktazilah yang mengingkari sifat-sifat Allah yang disebutkan di dalam Al-Qur`ān dan As-Sunnah.

Ulama mereka, Ibnu Muṭahhir dengan jelas menyatakan itu dengan mengatakan, "Bahwa keyakinan kami sebagai Syi’ah tentang nama dan sifat Allah sama seperti keyakinan Muktazilah." ([356])

Tanggapan:

Allah mengutus para rasul 'alaihim aṣ-ṣalātu wassalām untuk menjelaskan sifat-sifat Allah dengan penetapan terperinci dan penafian secara global. Oleh karena itu, penetapan sifat di dalam Al-Qur`ān disebutkan secara terperinci, sedangkan penafiannya secara global. Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭡ  ﭢ        ﭣﭤ   ﭥ     ﭦ  ﭧ  ﭨ  ﮊ

"Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat." (QS. Asy-Syūrā: 11)

Penafian yang disebutkan secara global, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” Ini umumnya metode Al-Qur`ān Al-Karīm dalam penafian.

Adapun dalam menetapkan, maka secara terperinci, “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Juga seperti yang ada di akhir Surah Al-Ḥasyr. Ayat-ayat yang semisal ini sangat banyak.

 Pertanyaan (64): Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang pandangan bahwa Al-Qur`ān adalah makhluk?

Jawab: Ulama-ulama Syi’ah mengikuti jejak Jahmiyyah ([357]) dan Muktazilah ([358]) dalam keyakinan bahwa Al-Qur`ān adalah makhluk.

Ulama mereka, Al-Majlisiy membuat satu bab dalam pembahasan Kitāb Al-Qur`ān yaitu Bab: Al-Qur`ān adalah makhluk. ([359])

Dan ini dipertegas lagi oleh petinggi Syi’ah, Muḥsin Al-Amīn dengan ucapannya, “Syi’ah dan Muktazilah meyakini bahwa Al-Qur`ān adalah makhluk.” ([360])

Hal ini terjadi karena penolakan mereka terhadap sifat berbicara (kalām) bagi Allah.

ﮋ ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ  ﮐ             ﮑ  ﮊ

“Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar.” (QS. Al-Isrā`: 43)

Bantahan Telak

Imam Ar-Riḍā raḥimahullāh ditanya tentang Al-Qur`ān, ia menjawab, “Al-Qur`ān adalah kalam Allah, bukan makhluk.” ([361])

 Pertanyaan (65): Bagaimana akidah ulama Syi’ah tentang masalah penglihatan orang-orang mukmin terhadap Tuhan mereka pada hari Kiamat? Dan menurut mereka apa hukumnya orang yang meyakini bahwa orang mukmin akan melihat Tuhan mereka pada hari Kiamat?

Jawab: Mereka membuat kebohongan, dari Ismail bin Al-Faḍl dia berkata, Aku bertanya kepada Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad Aṣ-Ṣādiq 'alaihissalām tentang Allah Ta'ālā, "Apakah Dia akan dilihat pada hari Kiamat?"

Dia menjawab, “Mahasuci Allah dari hal itu! Wahai Al-Faḍl! Mata tidak bisa melihat kecuali yang memiliki warna dan bentuk, sedangkan Allah Dia-lah yang menciptakan warna dan bentuk.” ([362])

Ulama mereka, Al-Ḥurr Al-'Āmiliy menjadikan keyakinan menafikan melihat (Allah pada hari Kiamat) termasuk pokok agama imam-imam mereka. ([363]) Syekh mereka, Ja’far An-Najafiy memvonis murtad terhadap orang yang menisbahkan beberapa sifat kepada Allah seperti sifat melihat dan yang lainnya. ([364])

Tanggapan:

Akidah ulama Syi’ah ini mengandung penafian terhadap keberadaan Allah Ta'ālā!

Karena sesuatu yang tidak memiliki kaifiat secara mutlak pada hakikatnya tidak memiliki wujud. Ini juga bertentangan dengan apa yang diriwayatkan oleh Ḥujjatul-Islām mereka, Al-Kulainiy dari Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa ia berkata, “Akan tetapi harus ditetapkan bahwa Allah memiliki kaifiat yang tidak dimiliki oleh selain-Nya, tidak memiliki sekutu, tidak dapat diliputi, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia.” ([365])

Bantahan Telak Terhadap Ulama Syi'ah

Allah berfirman,

ﮋ ﭙ  ﭚ    ﭛ    ﭜ   ﭝ      ﭞ  ﭟ        ﭠ  ﮊ

“Wajah-wajah orang beriman hari itu berseri-seri, memandang Tuhannya.” (QS. Al-Qiyāmah: 22-23)

Allah berfirman tentang orang-orang kafir,

ﮋ ﮄ   ﮅ       ﮆ  ﮇ  ﮈ    ﮉ  ﮊ  ﮊ

“Sekali-kali tidak! Sungguh mereka pada hari itu benar-benar terhalangi dari (melihat) Tuhannya.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 15)

Abu Baṣīr bertanya kepada Abu Abdillah raḥimahullāh, “Beritahukan kepadaku tentang Allah; apakah orang-orang beriman melihat-Nya pada hari Kiamat?” Dia menjawab, “Ya.” ([366])

 Pertanyaan (66): Apakah ulama-ulama Syi’ah meyakini sifat turun bagi Allah Ta'ālā ke langit dunia? Dan bagaimana pendapat mereka tentang orang yang menetapkan sifat ini sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah?

Jawab: Ulama-ulama Syi’ah menafikan Allah turun ke langit dunia. ([367]) Dan mereka memvonis orang yang menetapkan sifat ini dengan kekafiran.

Ulama kontemporer mereka, Muhammad bin Al-Muẓaffar berkata, “Siapa yang mengatakan bahwa Allah turun ke langit dunia, atau menampakkan diri kepada penduduk surga seperti rembulan atau yang semisalnya, maka dia seperti orang yang kafir kepada Allah. Begitu juga orang yang mengatakan bahwa Allah menampakkan diri di hadapan makhluk-Nya pada hari Kiamat maka hukumnya sama dengan orang kafir.” ([368])

Bantahan Telak Terhadap Ulama Syi'ah

Seseorang bertanya kepada Abu Abdillah raḥimahullāh, “Apakah Anda meyakini bahwa Allah turun ke langit dunia?” Abu Abdillah 'alaihissalām menjawab, “Kami meyakini seperti itu. Karena riwayat-riwayat dan hadis yang sahih tentang itu.” ([369])

Imam mereka, Ar-Riḍā raḥimahullāh berkata, “Manusia terbagi dalam tiga mazhab terkait tauhid ini: mazhab yang menetapkan dengan meyakini tasybīh (adanya penyerupaan); mazhab yang menafikan; dan mazhab yang menetapkan tanpa melakukan tasybīh. Pendapat yang menetapkan dengan tasybīh, hukumnya tidak boleh, begitu juga dengan pendapat yang menafikan. Metode yang benar adalah pendapat yang ketiga yaitu menetapkan tanpa adanya tasybīh.” ([370])

 Pertanyaan (67): Apakah benar bahwa para ulama Syi’ah Imāmiyyah Iṡnā ‘Asyariyyah menyifati imam-imam mereka dengan sifat-sifat Allah Ta'ālā? Juga menamai mereka dengan nama-nama Allah Ta'ālā?

Jawab: Ya! Hal tersebut disebutkan dalam buku mereka yang paling autentik.

Syekh mereka, Al-Kulainiy membuat kebohongan, Dari Abu Abdillah 'alaihissalām dalam makna firman Allah 'Azza wa Jalla, “Dan Allah mempunyai Al-Asmā`ul-Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmā’ul Ḥusnā itu” (QS. Al-A’rāf: 180). Dia berkata, “Demi Allah! Kamilah Al-Asmā`ul-Ḥusnā itu; Allah tidak akan menerima sebuah amal melainkan dengan terlebih dulu mengetahui kami.” ([371])

Ulama-ulama Syi’ah merinci lagi dengan membuat kebohongan atas nama Abu Ja’far bahwa dia berkata, “Kamilah Al-Maṡānī yang Allah anugerahkan kepada Nabi kita Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam. Kami adalah wajah Allah; kami berbolak-balik di bumi di tengah-tengan kalian. Kami adalah mata Allah pada makhluk-Nya dan tangan Allah yang terbuka dengan rahmat untuk hamba-hamba-Nya. Kami mengenal orang yang mengenal kami dan kami tidak mengenal orang yang tidak mengenal kami.” ([372])

Mereka juga membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh, bahwa dia berkata, “Sungguh Allah menciptakan kami dengan indah dan membentuk rupa kami dengan indah. Allah menjadikan kami sebagai mata-Nya terhadap hamba-Nya, lisan-Nya yang berbicara pada makhluk-Nya, tangan-Nya yang terbuka untuk hamba-Nya dengan kelembutan dan kasih sayang, wajah-Nya yang Dia didatangi darinya, pintu-Nya yang mengarahkan kepada-Nya, dan perbendaharaannya-Nya di langit dan di bumi. Dengan sebab kami pepohonan berbuah, buah-buahan bisa matang, dan air sungai mengalir. Juga dengan sebab kami hujan turun dari langit dan tanaman pun tumbuh. Allah disembah dengan peribadatan kami; kalau bukan karena kami maka Allah tidak akan disembah.” ([373])

Mereka membuat kebohongan, “Dengan sebab mereka Allah menghapus dosa, menolak kezaliman, menurunkan rahmat, menghidupkan yang mati, mematikan yang hidup. Dengan sebab mereka pula Allah menguji makhluk-Nya dan menentukan keputusan-Nya kepada makhluk-Nya.” ([374])

Mereka membuat kebohongan atas nama imam-imam mereka bahwa mereka berkata, “Kemudian kami dihadirkan, lalu kami duduk di atas Arasy Tuhan kami.” ([375])

Mereka juga membuat kebohongan bahwa Allah 'Azza wa Jalla berfirman tentang Ali raḍiyallāhu 'anhu kepada Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam pada malam Isra, “Wahai Muhammad! Ali adalah Yang Mahaawal, Mahaakhir, Mahalahir, dan Mahabatin, dan dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” ([376])

Al-Kasy-syiy membuat kebohongan atas nama Abu Ja’far raḥimahullāh bahwa dia berkata, Amirul Mukminin berkata, “Aku adalah wajah Allah, aku sisi Allah, aku Mahaawal, aku Mahaakhir, aku Mahalahir, aku Mahabatin, aku pewaris bumi, aku jalan Allah dan dengannya aku memutuskannya.” ([377])

Tanggapan:

Betapa miripnya ucapan mereka pada imam mereka dengan ucapan Fir'aun panutan mereka,

ﮋ ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﮊ

“Aku tuhan kalian yang paling tinggi.” (QS. An-Nāzi’āt: 24)

Ulama-ulama Syi’ah meyakini bahwa imam-imam merekalah yang dimaksud dengan firman Allah tentang diri-Nya,

ﮋ ﮄ   ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮊ

"Tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal." (QS. Ar-Raḥmān: 27)

Juga firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﮖ    ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚﮛ  ﮊ

"Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya (Allah)." (QS. Al-Qaṣaṣ: 88)

Mereka membuat kebohongan atas nama imam-imam mereka bahwa mereka berkata, “Kami adalah wajah Allah yang tidak binasa.” ([378])

Mereka membuat kebohongan, dari Abu Abdillah 'alaihissalām dalam firman Allah Subḥānahu wa Ta'ālā,

ﮋ ﮖ    ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚﮛ  ﮊ، قال: نحنُ

“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah.” (QS. Al-Qaṣaṣ: 88). Dia berkata, (Wajah Allah) itu kami.” ([379])

Mereka membuat kebohongan dalam menafsirkan firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﯳ  ﯴ  ﯵﯶ  ﮊ

“Dan Allah memperingatkan kalian akan diri-Nya” (QS. Āli ‘Imrān: 28). Ar-Riḍā berkata, (Diri-Nya) itu adalah Ali, Allah mengingatkan mereka dengannya.” ([380]) ([380]

Mereka juga membuat kebohongan, dari Abu Al-Miḍmār, dari Ar-Riḍā dalam firman Allah,

ﮋ ﮘ  ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜﮝ  ﮊ

“Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah” (QS, Al-Baqarah: 115). Dia berkata, “Yaitu Ali.” ([381]) raḍiyallāhu 'anhu.

Kontradiksi:

Mereka membuat kebohongan atas nama Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berkata (tentang firman Allah Ta'ālā),

ﮋ ﮘ  ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜﮝ  ﮊ

“Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah” (QS. Al-Baqarah: 115)

Mereka adalah orang Allah yang tersisa, yaitu Al-Mahdi.” ([382])

Bantahan Telak Terhadap Ulama Syi'ah

Mereka meriwayatkan bahwa imam mereka, Ṣāḥibuz-Zamān berkata tentang ulama Syi’ah, “Mahatinggi dan Mahaagung Allah dari apa yang mereka sifatkan! Mahasuci Allah, kami memuji-Nya. Kami bukan sekutu Allah dalam ilmu maupun kuasa-Nya. Bahkan tidak ada yang mengetahui perkara gaib selain Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Kitab-Nya -Mahatinggi nama-nama-Nya-,

ﮋ ﭧ  ﭨ   ﭩ    ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﭭ  ﭮ  ﭯ   ﭰﭱ ﮊ

“Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah” (QS. An-Naml: 65).

Orang-orang pandir dan bodoh dari kalangan Syi’ah serta orang-orang yang agamanya lebih ringan dari sayap nyamuk telah menyakiti kami. Aku mempersaksikan Allah yang tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, dan cukuplah Dia sebagai saksi, bahwa aku berlepas diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari orang yang mengatakan bahwa kami mengetahui perkara gaib dan menjadi sekutu dalam kerajaan-Nya, ataupun yang memposisikan kami pada kedudukan yang tidak Allah ridai bagi kami serta menciptakan kami untuknya.” ([383])

 Pertanyaan (68): Apa pengertian iman menurut para ulama Syi’ah?

Jawab: Ulama-ulama Syi’ah menjadikan iman kepada imam mereka yang dua belas sebagai keimanan seluruhnya.

Ulama mereka, Ibnu Al-Muṭahhir Al-Ḥilliy berkata, “Perkara imamah (keimaman) adalah salah satu rukun iman yang dengannya seseorang berhak kekal di dalam surga dan bebas dari murka Allah.” ([384])

Amīr Muhammad Al-Kāẓimiy Al-Qazwainiy berkata, “Siapa yang mengingkari kepemimpinan Ali 'alaihissalām dan keimamannya maka dia telah menggugurkan iman dari hisabnya serta membatalkan seluruh amalnya.” ([385])

Tanggapan:

Allah Ta'āla berfirman,

ﮋ ﭧ  ﭨ  ﭩ  ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﭭ   ﭮ  ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ   ﭳ  ﭴ   ﭵ  ﭶ   ﭷ  ﭸ  ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ   ﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂ  ﮃﮄ  ﮅ  ﮆ  ﮇ   ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮊ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinnya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia." (QS. Al-Anfāl: 2-4)

Dalam ayat ini, Allah memberi kesaksian iman untuk mereka tanpa menyebutkan perkara imamah.

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﮬ    ﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ  ﯕ   ﯖ  ﯗ  ﯘ  ﯙ  ﯚ  ﯛﯜ  ﯝ  ﯞ   ﯟ  ﯠ  ﮊ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al-Ḥujurāt: 15)

Dalam ayat ini, Allah menjadikan mereka sebagai orang-orang yang jujur terkait keimanan tanpa menyebutkan perkara imamah.

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ   ﭖﭗ  ﭘﭙ  ﭚ   ﭛ  ﭜ  ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ   ﭢ  ﭣ  ﭤ  ﭥ  ﭦ  ﭧ  ﭨ   ﭩ   ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﭭ  ﭮ  ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ   ﭳ  ﭴ  ﭵ  ﭶ  ﭷﭸ  ﭹ   ﭺ  ﭻ  ﭼ   ﮊ

"Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur`ān) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur`ān) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Baqarah: 1-5)

Allah menyatakan mereka sebagai orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan yang beruntung tanpa menyebutkan perkara imamah.

Ayat-ayat yang mulia ini membuktikan rusaknya akidah ulama-ulama Syi’ah terkait masalah imamah. Alḥamdulillāh.

 Pertanyaan (69): Apakah para ulama Syi’ah meyakini ada kalimat syahadat ketiga bersama kalimat syahadat yang dua?

Jawab: Ya! Yaitu syahadat bahwa Ali raḍiyallāhu 'anhu adalah wali Allah Ta'ālā. Mereka mengulang-ulanginya ketika azan dan setelah salat serta menalkin orang-orang yang akan meninggal dengannya.

Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Tidaklah jauh dari kemungkinan bahwa syahadat kepemimpinan (Ali) termasuk bagian yang disunnahkan pada azan, berdasarkan kesaksian syekh, ulama besar, orang syahid, dan lainnya tentang adanya riwayat-riwayat tentang itu.” ([386])

Ḥujjah mereka, Al-Kulainiy membuat kebohongan atas nama Abu Ja’far raḥimahullāh, bahwa dia berkata, “Talkinlah orang yang mau meninggal di antara kalian dengan syahadat lā ilāha illallāh dan kepemimpinan (Ali).” ([387])

 Pertanyaan (70): Apa keyakinan ulama-ulama Syi’ah tentang akidah Murji`ah?

Jawab: Iman menurut Murji`ah adalah mengenal Allah Subḥānahu wa Ta'ālā. Adapun menurut ulama Syi’ah adalah mengenal imam atau mencintainya! Untuk itu, mereka membuat kebohongan atas nama Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Mencintai Ali adalah kebaikan yang tidak berbahaya bersama keburukan apa pun. Sedangkan kebencian kepadanya adalah keburukan yang tidak bermanfaat kebaikan bersamanya.” ([388])

Juga bahwa beliau ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya seluruh makhluk sepakat mencintai Ali bin Abi Ṭālib niscaya Allah tidak akan menciptakan neraka.” ([389])

Dan bahwa beliau ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah sesorang hamba laki-laki atau perempuan meninggal sedangkan dalam hatinya terdapat kecintaan kepada Ali 'alaihissalām meskipun hanya sebesar biji sawi kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga.” ([390])

Mereka juga membuat kebohongan, “Tidak akan masuk surga dari generasi pertama maupun belakangan kecuali orang yang mencintainya (Ali). Dan tidak masuk neraka dari generasi pertama maupun belakangan kecuali orang yang membencinya.”([391])

Bahkan siapa yang mencintai Syi’ah saja, sekalipun tidak memeluk agama mereka, maka pasti masuk surga!

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah bahwa dia berkata, “Siapa yang mencintai kalian terkait apa yang kalian berada di atasnya, dia akan masuk surga sekalipun tidak meyakini apa yang kalian yakini.” ([392]) ([392] )

Tanggapan:

Allah Ta'āla berfirman,

ﮋ ﭩ  ﭪ       ﭫ  ﭬ  ﭭ  ﭮﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ  ﭳ  ﭴ    ﭵ  ﭶ  ﭷ  ﭸ  ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ    ﮊ

"(Pahala dari Allah) itu bukanlah angan-anganmu dan bukan (pula) angan-angan Ahli Kitab. Siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah." (QS. An-Nisā`: 123)

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮋ   ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ  ﮐ  ﮑ  ﮒ  ﮓ   ﮔ   ﮊ

"Maka siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

Mereka menghapus iman kepada Allah Subḥānahu wa Ta'ālā dan Rasul-Nya serta seluruh pokok agama. Mereka tidak menyisakan dalam syariat Islam terkait akidah mereka kecuali kecintaan kepada Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu!

Lantas, apa dosa orang-orang yang tidak mengenal Ali dari umat-umat yang terdahulu?!

Jikalau keburukan tidak berbahaya bersama kecintaan kepada Ali raḍiyallāhu 'anhu, mereka tidak perlu (menunggu) Al-Mahdi yang maksum yang merupakan peringan kewajiban, karena apabila dia tidak ada, maka tidak ada yang tersisa kecuali keburukan dan dosa. Seandainya kecintaan kepada Ali cukup, maka tidak ada beda antara keberadaan imam maupun ketiadaannya. Jika keadaannya demikian sebagaimana yang mereka sangka, Allah tidak perlu mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab, dan menetapkan syariat-syariat.

 Pertanyaan (71): Apakah ulama-ulama Syi’ah mengada-adakan syiar dan amalan-amalan agama lalu menetapkan pahala dan ganjarannya tanpa petunjuk dari Allah dan Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam? Kami berharap Anda menyebutkan beberapa contohnya.

Jawab: Ya! Contohnya: melaknat Abu Bakar, Umar, Usman, Mu’awiyah, Aisyah, dan Ḥafṣah raḍiyallāhu 'anhum setiap selesai salat fardu; dijadikan oleh para ulama Syi’ah sebagai sebaik-baik ketaatan. ([393])

Mereka menjadikan tindakan menampar pipi dan merobek saku dalam rangka duka cita mengenang Ḥusain sebagai ketaatan yang agung. ([394])

Ulama mereka, Ālu Kāsyif Al-Giṭā`ditanya tentang hukum perayaan tanggal 10 Muharram setiap tahun dengan memperagakan pembunuhan Ḥusain raḍiyallāhu 'anhu serta apa yang terjadi padanya dan pada keluarganya, dan menampakkan kesedihan dengan ratapan, tangisan, memukul dada, dan beristigasah dengan memanggil-manggil, “Wahai Ḥusain! Wahai Ḥusain!?” Dia menjawab,

ﮋ ﭨ  ﭩ  ﭪ  ﭫ   ﭬ  ﭭ  ﭮ  ﭯ   ﭰ      ﭱ  ﮊ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Ḥajj: 32). Tidak diragukan lagi bahwa peristiwa tragis tersebut dan menirukan tragedi tersebut adalah salah satu ritual besar lagi agung dalam Sekte Ja’fariyyah.” ([395])

Marja’ (ulama rujukan) mereka, Al-Mīrzā Jawād At-Tabrīziy berkata, “Tidak ada masalah, keraguan dan perselisahan di antara penganut Syi’ah Imāmiyyah bahwa memukul pipi dan mengenakan pakaian hitam termasuk syiar Ahli Bait 'alaihimussalām, dan termasuk bentuk pembenaran nyata terhadap ayat, “Demikianlah (perintah Allah). Dan siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Ḥajj: 32). Hal itu juga termasuk bentuk bersedih yang ditunjukkan oleh nas yang banyak terkait keutamaanya ketika musibah menimpa Ahli Bait dan pada acara-acara kematian mereka. Siapa yang berusaha melemahkan syiar ini atau mengurangi urgensinya di tengah pemuda-pemuda Syi’ah maka dia berdosa dalam hak Ahli Bait 'alaihimussalām dan akan dimintai pertanggungjawaban pada hari Kiamat atas apa yang dia lakukan karena menyesatkan manusia dari hak para imam.” ([396])

Al-Khumainiy berkata, “Yang penting, ini adalah dimensi politik terhadap doa dan syiar ini.” ([397])

Bahkan, mereka menganggap tindakan melantunkan syair tentang kematian Ḥusain termasuk penyebab masuk surga. Mereka membuat kebohongan atas nama Aṣ-Ṣādiq bahwa dia berkata, “Siapa yang melantuntkan syair tentang Ḥusain 'alaihissalām lalu membuat satu orang menangis maka baginya surga. Siapa yang melantunkan syair tentang Ḥusain 'alaihissalām lalu dia menangis maka baginya surga. Siapa yang melantunkan syair tentang Ḥusain lalu dia pura-pura menangis maka baginya surga.” ([398])

Mereka membuat kebohongan bahwa imam-imam mereka memiliki jaminan masuk surga bagi pengikut mereka.

Al-Kulainiy membuat kebohongan, dari Abu Baṣīr bahwa Abu Abdillah raḥimahullāh berkata kepadanya, “Jika kamu kembali ke Kufah lalu dia akan mendatangimu, katakan kepadanya, Ja’far bin Muhammad berkata kepadamu, ‘Tinggalkanlah apa yang kamu berada di atasnya, niscaya aku menjamin surga untukmu di hadapan Allah.’”

Ketika orang tersebut sekarat dia memanggil Abu Baṣīr dan berkata, “Wahai Abu Baṣīr, sahabatmu (Abu Abdillah) telah menunaikan janjinya kepada kami.” Kemudian dia meninggal. Semoga Allah merahmatinya. Ketika melaksanakan ibadah haji, aku mendatangi Abu Abdillah, dan minta izin untuk menemuinya. Ketika aku masuk, dia berkata kepadaku dari dalam rumahnya sedangkan salah salah satu kakiku masih di halaman dan yang sebelah di pintu masuk rumah, “Wahai Abu Baṣīr! Kami telah memenuhi janji kami untuk sahabatmu.” ([399])

Al-Kasy-syiy membuat kebohongan lain, dari Abdurrahman bin Al-Ḥajjāj ia berkata, “Beberapa tahun yang lalu aku bepergian dengan membawa harta yang banyak milik Abu Ibrahim 'alaihissalām dan Ali bin Yaqṭīn menitipkan pesan minta didoakan. Setelah menyelesaikan urusanku dan mengantar harta itu kepadanya, aku berkata, ‘Semoga aku menjadi tebusanmu! Ali bin Yaqṭīn memintaku menyampaikan pesan agar Anda mendoakannya kepada Allah.’ Dia bertanya, ‘Apakah untuk urusan akhirat?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Kemudian dia meletakkan tangan di dada dan berkata, ‘Aku telah memberi jaminan untuk Ali bin Yaqṭīn bahwa dia tidak akan tersentuh oleh api neraka.” ([400])

Tanggapan:

Betapa lancangnya mereka kepada Allah! Seakan mereka memiliki perbendaharaan rahmat Allah, bahwa di tangan mereka kunci-kunci perbendaharaan segala sesuatu, lalu mereka membagi-bagi kartu pengampunan dan pencabutan hak! Apakah mereka memiliki hak untuk mengatur bersama Allah?

ﮋ ﭚ  ﭛ  ﭜ    ﭝ  ﭞ  ﭟ    ﭠ  ﭡ  ﭢﭣ   ﭤ  ﭥ  ﭦ  ﭧ  ﭨ  ﭩ  ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﭭ   ﭮ  ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ  ﭳ  ﭴ  ﭵ  ﭶ  ﭷ   ﭸ   ﭹ  ﭺ     ﭻ        ﭼﭽ  ﭾ  ﭿ  ﮀ   ﮁ  ﮂﮊ

"Adakah dia melihat yang gaib atau dia telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih? Sama sekali tidak! Kami akan menulis apa yang dia katakan, dan Kami akan memperpanjang azab untuknya secara sempurna. Dan Kami akan mewarisi apa yang dia katakan itu, dan dia akan datang kepada Kami seorang diri. Dan mereka telah memilih tuhan-tuhan selain Allah, agar tuhan-tuhan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sama sekali tidak! Kelak mereka (sesembahan) itu akan mengingkari penyembahan mereka terhadapnya, dan akan menjadi musuh bagi mereka." (QS. Maryam: 78-82)

 Pertanyaan (72): Apa yang menjaga agama Islam sejak 14 abad silam dalam anggapan ulama-ulama Syi’ah?

Jawab: Imam akbar mereka, Al-Khumainiy berkata, “Meratapi penghulu para syuhada 'alaihissalām dan mengadakan acara-acara Ḥusainiyyah (peringatan syahidnya Ḥusain), amalan-amalan itulah yang menjaga Islam sejak 14 abad silam.”([401])

Seandainya bukan karena itu niscaya sia-sialah pengorbanan Ḥusain bin Ali dan pengorbanan Rasul Islam yang telah dikerahkan untuk membangun pondasi Syi’ah.” ([402])

 Pertanyaan (73): Apa bukti bahwa Syi’ah seperti Khawarij dalam menyikapi orang yang menyelisihi mereka?

Jawab: Syekh mereka, Al-Mufīd berkata, “Imāmiyyah sepakat bahwa semua pelaku bidah adalah kafir; wajib bagi imam untuk meminta mereka bertobat bila memungkinkan setelah mendakwahi dan menegakkan ḥujjah atas mereka. Jika mereka bertobat dari bidah mereka dan kembali ke jalan yang benar (maka mereka bebas), tapi kalau tidak, mereka dibunuh karena telah keluar dari agama dan orang yang mati di atas bidah tersebut termasuk penghuni neraka.” ([403])

Oleh karena itu, ulama mereka, Ibnu Bābawaih berkata, “Akidah kami pada orang yang menyelisihi kami dalam satu masalah agama sama seperti keyakinan kami pada orang yang menyelisihi kami dalam seluruh agama.” ([404])

Jadi, para ulama Syi’ah berpaham Khawarij dalam menyikapi orang yang menyelisihi mereka.

Sebagaimana mereka berpaham Murji`ah terhadap orang yang menganut dan meyakini akidah mereka.

Untuk itu, mereka membuat kebohongan, “Pada hari Kiamat kami diberikan kuasa menangani hisab pengikut kami. Siapa yang dosanya antara dia dengan Allah maka kami yang memutuskannya lalu Allah memenuhinya. Siapa yang dosanya antara dia dengan orang lain maka kami memintanya lalu kami diberikan. Dan siapa yang dosanya antara dia dengan kami maka kami lebih berhak untuk memaafkannya.”([405])

 Pertanyaan (74): Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang iman kepada malaikat?

Jawab:

v  Mereka meyakini bahwa para malaikat diciptakan dari cahaya imam-imam mereka.

Mereka membuat kebohongan atas nama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Allah menciptakan tujuh puluh ribu malaikat dari cahaya wajah Ali bin Abu Ṭālib 'alaihissalām; mereka memohonkan ampun untuknya, pengikutnya, dan orang-orang yang mencintainya sampai hari Kiamat.” ([406])

v  Di antara tugas para malaikat 'alaihimussalām adalah menangis di atas kubur Ḥusain raḍiyallāhu 'anhu.

Mereka membuat kebohongan, dari Harun, ia berkata, Aku mendengar Abu Abdillah 'alaihissalām berkata, “Allah menugaskan empat ribu malaikat yang berambut kusut dan berdebu untuk meratapinya hingga hari Kiamat.” ([407])

v  Angan-angan para malaikat langit 'alaihimussalām.

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah bahwa dia berkata, “Tidak ada satu malaikat pun di langit dan di bumi melainkan mereka memohon kepada Allah agar diizinkan menziarahi makam Ḥusain 'alaihissalām; maka segolongan mereka turun dan segolongan yang lain naik.” ([408])

v  Dalam keyakinan ulama-ulama Syi’ah, para malaikat ditugaskan untuk memohon kekuasaan bagi imam mereka.

Tetapi para ulama Syi’ah mengatakan bahwa permohonan para malaikat tidak dikabulkan melainkan dari malaikat yang dekat dengan Allah. Meskipun demikan, Allah akan menghukum malaikat yang menyelisihi-Nya, sehingga ada malaikat yang dihukum dengan dirusak sayapnya karena menolak kepemimpinan Amirul Mukminin!

Salah satu pengarang khurafat mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Allah telah memaparkan kepemimpinan Amirul Mukminin dan para malaikat menerimanya kecuali satu malaikat yang bernama Fiṭrus, maka Allah pun merusak sayapnya.

Lalu malaikat nahas tersebut menemui Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dengan ditemani oleh Jibril untuk mengucapkan selamat atas kelahiran Ḥusain, lalu Rasulullah memerintahkannya untuk mengusap dan berguling di tempat tidur Ḥusain agar dia lekas sembuh! Rasulullah bersabda, “Aku melihat bulunya. Sungguh dia benar-benar tumbuh dan dialiri darah, kemudian sayapnya panjang sampai sejajar dengan sayap yang lain. Kemudian dia naik ke langit bersama Jibril dan kembali ke tempatnya semula.” ([409])

v  Kehidupan para malaikat tergantung kepada para imam Syi’ah dan amalan selawat atas mereka.

Para malaikat tidak memiliki makanan dan minuman selain selawat kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Ṭālib 'alaihissalām dan orang-orang yang mencintainya serta memohonkan ampunan bagi pengikutnya yang berdosa dan orang yang mendukungnya. ([410])

Para malaikat tidak mengetahui tasbih sebelum tasbih kami (para imam mereka) dan tasbih pengikut kami.” ([411])

v  Para malaikat mengadu kepada Allah tentang kecintaan mereka kepada Ali bin Abi Ṭālib, maka Allah menciptakan satu malaikat dari cahaya dalam rupa Ali. Para malaikat tersebut mengunjunginya setiap pekan pada hari Jumat sebanyak tujuh puluh ribu kali. Mereka bertasbih kepada Allah dan mensucikan-Nya kemudian menghadiahkan pahalanya untuk orang yang mencintai Ali 'alaihissalām. ([412])

v  Allah tidak memuliakan para malaikat kecuali karena mereka menerima kepemimpinan Ali raḍiyallāhu 'anhu.

Mereka membuat kebohongan atas nama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Tidaklah malaikat dimuliakan melainkan karena kecintaan mereka kepada Muhammad dan kepada Ali 'alaihissalām serta karena menerima kepemimpinan mereka berdua? Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang mencintai Ali bin Abi Ṭālib 'alaihissalām sedangkan hatinya bersih dari kecurangan, dengki dan kotoran dosa melainkan akan lebih suci dan mulia dari para malaikat.” ([413])

v  Apabila malaikat bertengkar maka Jibril 'alaihissalām turun menemui Ali bin Abi Ṭālib lalu membawanya ke langit untuk mendamaikan mereka!! ([414])

v  Apabila dua orang penganut Syi’ah berduaan maka para malaikat penjaga berkata pada sesama mereka, “Tinggalkanlah mereka! Barangkali mereka memiliki rahasia sedangkan Allah telah menutupi mereka.” ([415])

Kontradiksi:

Ini adalah pendustaan terhadap firman Allah Subḥānahu wa Ta'ālā,

ﮋ ﭡ  ﭢ   ﭣ          ﭤ  ﭥ  ﭦ    ﭧ        ﭨ   ﭩ  ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﭭ  ﭮ    ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ  ﮊ

"(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat amal (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata yang diucapkan pun melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. Qāf: 17-18)

Juga firman Allah Subḥānahu wa Ta'ālā,

ﮋ ﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁ    ﮂ  ﮃ  ﮄﮅ  ﮆ      ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮊ

"Ataukah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi mereka." (QS. Az-Zukhruf: 80)

v  Nama-nama malikat yang disebutkan dalam Al-Qur`ān menurut ulama-ulama Syi’ah maksudnya adalah imam-imam mereka yang dua belas.

Oleh karenanya, ulama mereka, Al-Majlisiy meletakkan satu bab dalam kitabnya: “Bab: Mereka 'alaihimussalām adalah Aṣ-Ṣāffūn (yang berbaris), Al-Musabbiḥūn (yang bertasbih), pemilik kedudukan yang masyhur, pemikul Arasy Ar-Raḥmān, dan As-Safarah (penduduk langit) yang mulia lagi baik.” ([416])

Tanggapan:

Kelancangan ulama-ulama Syi’ah terhadap kedudukan para malaikat dan kedustaan mereka terhadapnya lebih dekat kepada pengingkaran terhadap wujud malaikat. Hal ini disebabkan oleh pengingkaran ulama-ulama Syi’ah terhadap tugas malaikat dan keutamaan mereka serta apa yang Allah muliakan mereka dengannya. Mereka juga memasukkan pengakuan terhadap kepemimpinan imam mereka sebagai agama bagi malaikat. Mereka mengingkari keberadaan malaikat dengan mengartikan nama-nama dan gelar mereka di dalam Al-Qur`ān sebagai nama para imam atau menjadikan tugas malaikat sebagai tugas para imam, sampai seterusnya yang dikatakan oleh para ulama Syi’ah tentang malaikat. Padahal Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman tentang para malaikat,

ﮋ ﭨ  ﭩ  ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﭭ  ﭮ  ﭯ   ﭰ  ﭱ  ﭲ  ﮊ

"Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya." (QS. Al-Anbiyā`: 26-27])

Dia juga berfirman,

ﮋ ﮝ  ﮞ  ﮟ  ﮠ  ﮡ  ﮢ  ﮣ   ﮤ  ﮥ  ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ  ﮊ

"Siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 98)

 Pertanyaan (75): Apa akidah para ulama Syi’ah terkait rukun iman ketiga yaitu iman kepada kitab-kitab?

Jawab: Pada pembahasan ini ada dua permasalahan:

 Pertama, ulama-ulama Syi’ah meyakini bahwa Allah telah menurunkan sejumlah kitab kepada imam-imam mereka, di antaranya:

 1) Mushaf Ali raḍiyallāhu 'anhu

Guru Ḥauzah mereka, Al-Khu`iy berkata, “Tentang adanya mushaf Amirul Mukminin 'alaihissalām yang berbeda dengan Al-Qur`ān yang ada terkait urutan surah, termasuk hal yang tidak patut diragukan. Kesepakatan para ulama tentang keberadaannya mencukupkan kita dari memaksakan diri untuk membuktikannya.” ([417])

Di antara yang diyakini oleh ulama-ulama Syi’ah, bahwa Jibril mendiktekan Al-Qur`ān kepada Ali raḍiyallāhu 'anhu! Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah bahwa dia berkata, “Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam memanggil Ali dan meminta untuk dibawakan buku tulis. Lalu Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam mendiktekannya sisi dalamnya dan beliau pingsan. Lalu Jibril mendiktekan sisi luarnya. Setelah itu Rasulullah siuman, beliau bertanya, ‘Siapa yang mendiktekanmu wahai Ali?’ Ali menjawab, ‘Anda wahai Rasulullah.’ Rasululluh besabda, ‘Aku mendiktekanmu sisi dalamnya dan Jibril mendiktekanmu sisi luarnya.’ Itulah Al-Qur`ān yang didiktekan kepadanya.” ([418])

 2) Kitab Ali raḍiyallāhu 'anhu

Para pembual mereka menggambarkan bahwa kitab itu: seperti paha pria yang dilipat. Demi Allah! Ini adalah tulisan Ali 'alaihissalām dengan tangannya sendiri yang didiktekan oleh Rasulullah.” ([419])

 3) Mushaf Fatimah raḍiyallāhu 'anhā

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Fatimah mewariskan sebuah mushaf yang bukan Al-Qur`ān. Tetapi itu adalah firman Allah yang diturunkan kepadanya; didiktekan oleh Rasulullah dan ditulis oleh Ali 'alaihissalām dengan tangannya.” ([420])

Mereka membuat kebohongan, (Itu adalah) sebuah mushaf, di dalamnya seperti yang ada dalam Al-Qur`ān kalian ini 3 kali lipat. Demi Allah! Tidak ada yang sama dengan Al-Qur`ān kalian satu huruf pun.” Aku berkata, “Demi Allah, ini adalah ilmu yang sebenarnya.” Dia menjawab, “Sungguh itu benar-benar ilmu, tetapi bukan yang itu.” ([421])

Kontradiksi:

Mereka lupa lalu membuat satu riwayat palsu yang mengatakan, “Mushaf Fatimah 'alaihassalām, tidak ada sedikit pun yang berasal dari Al-Qur`ān. Tetapi sesuatu yang diberikan kepadanya dan anak-anaknya setelah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam wafat.” ([422])

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, “Hadis yang lain menyebutkan: Jibril mendatangi Fatimah sepeninggal Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam dengan membawa berita gaib, lalu Amirul Mukminin menulisnya. Itulah mushaf Fatimah.” ([423])

Kontradiksi:

Ulama mereka, Al-Kulainiy membuat kebohongan, dari Abu Baṣīr, dari Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dalam hadis yang panjang: “Kemudian turunlah wahyu kepada Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi, lalu beliau membaca,

ﮋ ﯕ  ﯖ  ﯗ  ﯘ            ﯙ  ﯚ    بولايةِ عليٍّ        ﯛ  ﯜ  ﯝ     ﯞ  ﯟ   ﯠ  ﯡ  ﯢ  ﮊ

“Seseorang bertanya tentang azab yang pasti terjadi (1), bagi orang-orang yang kafir "dengan kepemimpinan Ali" yang tidak seorang pun dapat menolaknya (2) dari Allah, yang memiliki tempat-tempat naik (3).” Aku berkata, “Semoga aku menjadi tebusanmu! Kami tidak membacanya seperti ini.” Dia berkata, “Demi Allah! Seperti inilah Jibril menurunkannya kepada Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi. Demi Allah! Beginilah adanya di dalam Mushaf Fatimah.” ([424])

Adapun tentang cara turunnya mushaf ini, maka simaklah kebohongan yang dibuat oleh ulama-ulama Syi’ah berupa gambaran yang detail tentang Mushaf Fatimah yang mereka klaim, dari Abu Baṣīr, Aku bertanya kepada Abu Ja’far Muhammad bin Ali tentang mushaf Fatimah, dia berkata, “Mushaf itu diturunkan kepadanya sepeninggal ayahnya.” Aku bertanya, “Apakah isinya ada yang sama dengan Al-Qur`ān?” Dia menjawab, “Tidak ada isinya yang sama dengan Al-Qur`ān.” Aku berkata, “Tolong ceritakan kepadaku tentang mushaf tersebut.” Dia berkata, “Kedua sampulnya terbuat dari dua zamrud merah seukuran kertas.” Aku berkata, “Semoga aku menjadi tebusanmu! Sebutkan kepadaku tentang sifat kertasnya.” Dia berkata, “Kertasnya terbuat dari mutiara putih, dikatakan kepadanya, jadilah maka dia pun jadi.” Aku berkata, “Semoga aku sebagai tebusanmu! Lantas apakah isinya?” Dia berkata, “Di dalamnya terdapat berita tentang apa yang sudah terjadi dan yang akan terjadi sampai hari Kiamat. Di dalamnya terdapat berita langit demi langit, jumlah malaikat dan selainnya, jumlah para rasul dan selain rasul yang Allah ciptakan serta nama-nama mereka dan nama-nama rasul yang diutus kepada mereka, demikian juga nama-nama orang yang mendustakan mereka dan yang menerima seruan mereka. Di dalamnya terdapat nama-nama orang yang Allah ciptakan dari kalangan orang beriman dan kafir dari generasi awal dan akhir, serta nama-nama negara, sifat setiap negara di timur dan barat, jumlah penghuninya yang beriman dan yang kafir. Di dalamnya terdapat sifat orang yang mendustakan, sifat generasi awal dan kisah-kisah mereka. Di dalamnya disebutkan tagut-tagut yang berkuasa, lama masa kekuasaan mereka dan jumlah mereka. Di dalamnya disebutkan nama dan sifat para imam dan apa yang mereka miliki satu persatu, sifat pembesar-pembesar mereka dan setiap orang yang hidup dalam setiap generasi.” Aku bertanya, “Semoga aku menjadi tebusanmu! Berapa jumlah generasi tersebut?” Dia menjawab, “Lima puluh ribu tahun, seluruhnya ada tujuh generasi. Di dalam mushaf tersebut disebutkan semua ciptaan Allah beserta ajal mereka, sifat penduduk surga dan jumlah orang yang memasukinya, begitu juga jumlah orang yang masuk neraka beserta nama-nama mereka. Di dalamnya terdapat ilmu Al-Qur`ān sebagaimana diturunkan, ilmu Taurat sebagaimana diturunkan, ilmu Injil sebagaimana diturunkan, dan ilmu Zabur. Juga terdapat jumlah pohon dan kampung di seluruh negeri.” ([425])

Saudaraku, kira-kira berapa jumlah jilid dan halaman mushaf palsu yang besar ini?!

Bahkan perawi berkata, Imam mereka mengatakan, “Aku belum menggambarkan kepadamu apa yang ada di lembaran kedua, dan aku belum menyebutkan satu huruf pun darinya.” ([426])

 4) Kitab yang diturunkan kepada Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam sebelum beliau meninggal.

Al-Kulainiy membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah bahwa dia berkata, “Allah 'Azza wa Jalla telah menurunkan sebuah kitab kepada Nabi-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam sebelum dia meninggal. Jibril berkata, ‘Wahai Muhammad! Ini wasiatmu untuk orang yang mulia dari keluargamu.’ Nabi berkata, ‘Siapakah, wahai Jibril?’ Jibril berkata, ‘Ali bin Abi Ṭālib dan anak keturunannya’."

Kitab tersebut disegel dengan beberapa segel dari emas. Lalu Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam menyerahkannya kepada Amirul Mukminin 'alaihissalām dan memerintahkan agar dibuka salah satu segelnya dan diamalkan isinya.

Maka Amirul Mukminin 'alaihissalām membuka satu segel dan mengamalkan isinya. Kemudian dia menyerahkannya kepada putranya, Ḥasan, dan dia membuka satu segel yang lain. Demikian seterusnya hingga hari bangkitnya Al-Mahdi.” ([427])

Tanggapan:

ﮋ ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﯟ  ﯠ      ﮊ

"Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan orang-orang mukmin." (QS. Al-Ḥasyr: 2)

Di sini sebagaimana klaim mereka, Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bertanya, “Siapakah orang mulia tersebut?”

Rasulullah tidak mengetahui siapa orang tersebut sampai beliau menjelang wafat. Ini artinya Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam sebagaimana dalam riwayat mereka ini tidak pernah mengumumkan kepada manusia siapa orang mulia yang diwasiatkan dari keluarganya, bahkan dia tidak mengetahuinya kecuali ketika dia akan wafat.

ﮋ ﯡ  ﯢ  ﯣ  ﯤ  ﮊ

"Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!" (QS. Al-Ḥasyr: 2)

 5) Lauḥ Fatimah raḍiyallāhu 'anhā

Dalam keyakinan ulama mereka, Lauḥ Fatimah adalah kitab yang diturunkan dari Allah kepada Nabi-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, lalu beliau menghadiahkannya kepada putrinya, Fatimah. Mereka membuat kebohongan, dari Abu Baṣīr bahwa Abu Abdillah bertanya kepada Jābir bin Abdillah tentang Lauḥ Fatimah, lalu Jābir menjawab, “Aku bersaksi kepada Allah, bahwa aku menemui ibumu Fatimah ketika Rasulullah masih hidup, lalu aku mengucapkan selamat atas kelahiran Ḥusain. Aku melihat sebuah lauḥ (papan) berwarna hijau, aku mengira itu terbuat dari zamrud, dan di dalamnya terdapat tulisan putih seperti cahaya matahari.

Di dalamnya Allah berfirman, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kitab ini berasal dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana kepada Muhammad nabi-Nya, cahaya-Nya, utusan-Nya, tabir-Nya, dan pemandu-Nya. Dibawa turun oleh Ar-Rūḥul-Amīn (Jibril) dari sisi Tuhan semesta alam. Tidaklah Aku mengutus seorang nabi lalu Aku genapkan hari-harinya dan berakhir masanya melainkan Aku jadikan baginya seorang waṣiy (pengganti dan pemegang wasiatnya). Sungguh Aku lebih mengutamakanmu dari para nabi, dan Aku mengutamakan pemegang wasiatmu dari pada pemegang wasiat yang lain. Aku memuliakanmu dengan kedua cucumu Ḥasan dan Ḥusain. Aku menjadikan Ḥasan sumber pengetahuan setelah meninggal ayahnya, dan Aku jadikan Ḥusain penjaga wahyu-Ku.”

Di bagian akhir hadis ini, Abu Baṣīr berkata, “Seandainya seumur hidupmu kamu tidak pernah mendengar kecuali hadis ini maka itu cukup bagimu. Jagalah dia kecuali dari yang berhak kepadanya.” ([428])

Ulama mereka mendeskripsikan riwayat yang menyebutkan keberadaan lauḥ ini bahwa riwayat tersebut sangat masyhur dan para imam Syi'ah sepakat serta tidak ada perselisihan padanya. ([429])

Bantahan Telak

Mereka meriwayatkan di dalam kitab yang mereka klaim ini, sebuah riwayat yang merobohkan bangunan Syi'ah dari akar-akarnya. Mereka menyatakan bahwa Ali raḍiyallāhu 'anhu bukan termasuk waṣiy. Dikatakan dalam riwayat mereka, dari Abu Ja’far 'alaihissalām, dari Jābir bin Abdillah Al-Anṣāri, ia berkata, "Aku menemui Fatimah 'alaihassalām sementara di tangannya ada sebuah lauḥ berisi nama-nama waṣiy dari keturunannya.

Lalu aku hitung jumlahnya dua belas, yang terakhir adalah Al-Qā`im 'alaihissalām. Tiga di antara mereka bernama Muhammad, dan tiga yang lain bernama Ali.([430])

 6) Sahifah Fatimah raḍiyallāhu 'anhā

Di antara keistimewaan sahifah ini dalam keyakinan ulama mereka sebagaimana dalam kebohongan yang mereka buat, dari Abu Abdillah bin Jābir ia berkata, “Aku menemui tuanku, Fatimah putri Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam untuk mengucapkan selamat atas kelahiran Ḥusain, di tangannya ada sahifah putih dari mutiara. aku bertanya kepadanya, ‘Wahai pemimpin para wanita, lembaran apa yang aku lihat ditanganmu?’ Dia menjawab, ‘Ini berisi nama-nama para imam dari anak keturunanku.’ Aku berkata, ‘Bolehkan aku melihatnya?’

Dia berkata, ‘Wahai Jābir, jika tidak dilarang tentu aku akan berikan. Tetapi dilarang, tidak boleh disentuh kecuali oleh seorang nabi atau waṣiy seorang nabi atau keluarga seorang nabi.” ([431])

 7) Dua Belas Sahifah

Mereka membuat kebohongan atas nama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Sungguh Allah menurunkan kepadaku dua belas segel dan dua belas sahifah, nama para imam tertulis di segelnya dan sifat mereka ada di dalam sahifah.”([432])

 8) Suhuf Ali raḍiyallāhu 'anhu

Di antaranya: sahifah yang berisi sembilan belas lembaran yang dihadiahkan atau disembunyikan oleh Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam di imam-imam mereka. Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Ja’far, bahwa ia berkata, Amirul Mukminin berkata, “Aku memiliki sahifah berisi sembilan belas lembaran yang dihadiahkan oleh Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi.”([433])

 9) Sahifah Żu`ābah As-Saif (Lembaran Suci Pada Gantungan Pedang)

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah bahwa dia berkata, “Di ujung pedang Ali 'alaihissalām terdapat sebuah sahifah kecil. Ali memanggil putranya, Ḥasan lalu memberikan lembaran suci tersebut bersama sebilah pisau dan berkata, “Bukalah!” Tetapi Ḥasan tidak mampu membukanya. Maka Ali membukanya, kemudian berkata, “Bacalah!” Ḥasan segera membaca: Al-Alif, Al-Bā`, As-Sīn, Al-Lām, dan setereusnya huruf demi huruf. Lalu Ali menggulungnya dan menyodorkannya kepada Ḥusain. Tetapi dia tak mampu membukanya, sehingga Ali membukanya dan berkata, “Bacalah, wahai anakku!” Dia pun membacanya seperti Ḥasan. Kemudian Ali kembali menggulungnya dan memberikannya kepada putranyam, Ibnu Al-Ḥanafiyyah. Tetapi dia tidak mampu membukanya, sehingga Ali pun membukanya dan berkata, “Bacalah!” Tetapi dia tidak mampu membacanya. Akhirnya Ali mengambil dan menggulungnya lagi lalu menggantungnya di gantungan pedangnya.”

Aku berkata kepada Abu Abdillah, “Apa isi sahifah tersebut?” Dia berkata, “Isinya rangkaian huruf; setiap hurufnya membuka seribu huruf.”

Abu Baṣīr berkata, Abu Abdillah 'alaihissalām berkata, “Tidak ada yang keluar dari sahifah tersebut kecuali dua huruf sampai saat ini.” ([434])

 10) Al-Jafrul-Abyaḍ (kitab yang tertulis pada kulit anak domba warna putih) dan Al-Jafrul-Aḥmar (kitab yang tertulis pada kulit anak domba warna merah)

Ḥujjah mereka, Al-Kulainiy berkata, Dari Ḥusain bin Abil-'Alā`, dia berkata, Aku mendengar Abu Abdillah 'alaihissalām berkata, “Aku memiliki Al-Jafrul-Abyaḍ.” Aku bertanya, “Apa isinya?” Dia menjawab, “Isinya adalah Zabur Nabi Daud, Taurat Nabi Musa, Injil Nabi Isa dan Suhuf Nabi Ibrahim, serta halal dan haram dan Mushaf Fatimah. Aku juga memiliki Al-Jafrul-Aḥmar.” Aku bertanya, “Apa isinya?” Dia menjawab, “Isinya adalah pedang. Kitab ini dibuka untuk menumpahkan darah, yang dihunus oleh sang pemilik pedang untuk membunuh.”

Abdullah bin Abi Ya’fūr bertanya padanya, “Semoga Allah menjagamu! Apakah putra-putra Ḥasan mengetahui hal ini?”

Dia menjawab, “Ya, demi Allah! Sebagaimana mereka mengetahui malam itu adalah malam dan siang itu adalah siang. Tetapi mereka telah diliputi dengki dan cinta dunia sehingga mereka mengingkarinya. Andaikan mereka mencari kebenaran dengan kebenaran tentu akan lebih baik bagi mereka.” ([435])

 11) Sahifah An-Nāmūs

Sahifah ini memuat nama-nama penganut Syi’ah sampai hari Kiamat!

Mereka membuat kebohongan, dari Hubābah Al-Wālibiyyah, dia berkata, Aku bertanya kepada Abu Abdillah –'alaihissalām-, “Aku memiliki keponakan yang mengetahui keutamaan Anda. Aku berharap Anda memberitahuku, apakah dia termasuk pengikut Anda?” Abu Abdillah bertanya, “Siapa namanya?” Dia menjawab, “fulan bin fulan.” Abu Abdillah berkata, “Wahai Fulanah! Ambilkan An-Nāmūs.” Kemudian dia mengambil sebuah sahifah besar. Abu Abdillah kemudian membuka dan menelitinya seraya berkata, “Ya. Ini namanya dan nama ayahnya disini.” ([436])

 12) Sahifah Al-'Abīṭah

Mereka membuat kebohongan atas nama Amirul Mukminin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berkata, “Demi Allah, seandainya aku semangat dan mereka mengizinkan, aku akan berbicara selama setahun tanpa mengulangi satu kata. Demi Allah, aku memiliki lembaran-lembaran wahyu yang banyak berisi pasal-pasal Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa ahli baitihi-. Di dalamnya terdapat sahifah yang disebut Al-‘Abīṭah. Tidak pernah datang kepada bangsa Arab yang lebih berat terhadap mereka dari sahifah ini. Di dalamnya berisi 60 kabilah Arab yang banyak hiasannya; mereka tidak memiliki bagian sedikit pun dalam agama Allah.” ([437])

 13) Al-Jāmi’ah

Al-Kulainiy membuat kebohongan, dari Abu Baṣīr, dari Abu Abdillah bahwa dia berkata, “Sungguh kami memiliki Al-Jāmi’ah. Tahukah mereka apa itu Al-Jāmi’ah?!” Aku berkata, “Semoga aku menjadi tebusanmu! Apakah Al-Jāmi’ah itu?” Dia berkata, “Al-Jāmi’ah adalah lembaran yang memiliki panjang 70 hasta seukuran hasta Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam, didiktekkan dari bibirnya dan ditulis oleh Ali dengan tangan kanannya. Di dalamnya berisi penjelasan halal dan haram serta segala yang dibutuhkan oleh umat manusia hingga tentang diat dalam luka.” ([438])

Tanggapan:

Merupakan perkara paling aneh dan tidak bisa diterima, bahwa semua kitab-kitab ini diturunkan dari sisi Allah Ta'ālā dan dikhususkan untuk Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu serta imam-imam setelahnya, tetapi kitab-kitab tersebut masih tersembunyi dari umat terkhusus dari kalian sendiri, wahai orang-orang syi’ah, kecuali Al-Qur`ān milik Ahli Sunnah yang diyakini oleh ulama kalian telah dirubah dan dikurangi. Kalau begitu, apa tujuan imam-imam kalian menyembunyikan kitab-kitab samawi ini dari kalian?

Terakhir, di manakah Al-Qur`ān Al-Karīm? Di manakah kitab-kitab ini? Mereka mengatakan, “Sekarang Al-Qur`ān ada bersama Imam kami, Al-Mahdi 'alaihissalām di samping kitab-kitab samawi serta peninggalan para nabi.” ([439])

Jadi, kitab-kitab tersebut tersimpan bersama Imam Al-Mahdi yang mereka tunggu sejak hampir 1.200 tahun yang lalu. Kenapa? Kenapa?

Ataukah ada campur tangan Yahudi yang memasukkan riwayat-riwayat tersebut ke dalam kitab-kitab kalian, dan berdusta atas nama imam-imam kalian? Kita semua mengetahui bahwa umat Islam tidak memiliki kitab suci selain satu kitab yaitu Al-Qur`ān yang tetap ada dan terpelihara.

Allah berfirman,

ﮋ ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚ      ﮛ  ﮜ   ﮝ  ﮞ   ﮊ

“Sungguh Kami yang menurunkan Al-Qur`ān dan Kami pula yang menjaganya.” (QS. Al-Ḥijr: 9)

Adapun adanya kitab suci yang banyak, itu merupakan kekhasan Yahudi dan Nasrani!! Tidakkah ulama Syi’ah berhenti meniru Yahudi dan Nasrani?!

 Kedua, Para ulama Syi’ah meyakini bahwa semua kitab samawi ada bersama imam-imam mereka, dan mereka berhukum dengannya di antara manusia.

Ḥujjah mereka, Al-Kulainiy, membuat kebohongan bahwa imam mereka Abu Ḥasan membaca Injil di hadapan seorang Nasrani yang bernama Buraih. Buraih berkata, “Andalah yang saya cari sejak 50 tahun, atau orang seperti Anda!” Buraih pun beriman, dan keimanannya bagus.

Buraih bertanya kepada imam mereka, “Dari mana kalian memperoleh Taurat, Injil, dan kitab-kitab para nabi?” Dia menjawab, “Kitab-kitab tersebut bersama kami sebagai peninggalan dari mereka. Kami membacanya seperti mereka membacanya, dan kami meyakininya seperti mereka meyakininya. Sungguh Allah tidak akan menunjuk seorang penegak ḥujjah di muka bumi-Nya yang jia ditanya tentang sesuatu lalu menjawab: saya tidak tahu.” ([440])

Tanggapan:

Dapat disimpulkan dari riwayat ini bahwa ulama-ulama Syi’ah menyatakan imam-imam mereka membaca Taurat, Injil, dan selain keduanya, sebagaimana para nabi membacanya untuk menemukan jawaban untuk pertanyaan -pertanyaan manusia dalam kitab-kitab tersebut. Ini merupakan bentuk keluar dari ajaran Islam dan seruan kepada pluralisme, padahal Allah Ta'ālā telah berfirman,

ﮋ ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ    ﭳ  ﭴ  ﭵ  ﭶ  ﭷ  ﭸ  ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ   ﮊ

"Dan siapa yang mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi." (QS. Āli 'Imrān: 85)

Allah juga telah menghapus semua kitab samawi dengan Al-Qur`ān. Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭿ  ﮀ     ﮁ   ﮂ  ﮃ  ﮄ  ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮈ  ﮉ   ﮊﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ  ﮐﮑ  ﮒ  ﮓ  ﮔ   ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞﮟ   ﮠ  ﮡ  ﮢ  ﮣ  ﮤ  ﮥ  ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ   ﮪﮫ  ﮬ  ﮭﮮ  ﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯓ   ﯔ  ﯕ  ﯖ                 ﯗ  ﯘ  ﯙ  ﯚ  ﯛ  ﯜ  ﯝ   ﯞ  ﯟ  ﯠ  ﯡ  ﯢ  ﯣ  ﯤ  ﯥ  ﯦ   ﯧ  ﯨ  ﯩ  ﯪ  ﯫﯬ  ﯭ  ﯮ  ﯯ  ﯰ  ﯱ  ﯲ  ﯳ  ﯴ   ﯵ    ﯶﯷ  ﯸ  ﯹ       ﯺ  ﯻ  ﯼ  ﯽ  ﯾ   ﯿ  ﰀﰁ  ﰂ  ﰃ  ﰄ  ﰅ  ﰆ  ﰇ  ﰈ     ﮊ

"Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur`ān) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan, dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?" (QS. Al-Māi`dah: 48-50)

 Pertanyaan (76): Siapakah yang lebih mulia dalam pandangan ulama Syi’ah; Rasulullah dan para nabi ataukah imam-imam mereka?

Jawab: Imam-imam mereka lebih mulia!! Bahkan ulama mereka, Al-‘Ilbā` bin Darrā’ Ad-Dausiy, atau Al-Asadiy lebih mengutamakan Ali di atas Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi. Dia mengklaim bahwa Ali yang mengutus Nabi Muhammad, dan dia menyebutnya sebagai tuhan. Dia juga mencela Nabi Muhammad, dia mengklaim bahwa dia diutus untuk menyeru kepada Ali namun ternyata menyeru kepada dirinya sendiri. ([441])

Bantahan:

Walaupun demikian, kita masih mendapati ulama-ulama Syi’ah sangat mengagunggkan Al-‘Ilbā` dengan membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah bahwa dia berkata kepada Al-‘Ilbā`, “Kami telah menjamin surga untukmu di hadapan Allah.” ([442])

Al-Majlisiy membuat satu bab: “Bab keutamaan para imam atas para nabi dan seluruh makhluk, dan mengambil janji dari mereka dan malaikat serta seluruh makhluk, dan bahwa para rasul Ulul-'Azmi bisa menjadi Ulul-'Azmi karena kecintaan mereka kepada para imam.”

Kemudian dia menyebutkan 88 hadis, dan berkata, “Hadis-hadis tentang masalah ini terlalu banyak untuk terhitung. Namun kami hanya menyebutkan sedikit dalam pembahasan ini.” ([443])

Bukan itu saja! Bahkan, para nabi ‘alaihim aṣ-ṣalātu wa as-salām tidak berhak mendapatkan kedudukan mereka melainkan dengan sebab imam-imam Rāfiḍah!!

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah bahwa dia berkata, “Demi Allah! Allah tidak mesti menciptakan Adam dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh ciptaan-Nya padanya kecuali karena kepemimpinan Ali 'alaihissalām, tidaklah Allah berbicara langsung kepada Musa kecuali karena kepemimpinan Ali 'alaihissalām, dan tidaklah Allah menegakkan Isa putra Maryam sebagai mukjizat bagi alam semesta kecuali karena ia tunduk kepada Ali 'alaihissalām.” Kemudian dia berkata, “Perkara ini saya ringkas: Tidaklah ada makhluk yang berhak untuk melihat Allah kecuali dengan peribadatan yang ditujukan pada kami.” ([444])

Mereka membuat kebohongan, “Nabi Yunus mengingkari kepemimpinan Ali maka Allah menahannya di dalam perut paus sampai dia mengakuinya.” ([445])

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, “Imam memiliki kedudukan yang terpuji dan derajat yang tinggi serta kekuasaan terhadap alam yang tunduk kepada kepemimpinan dan kekuasaannya semua isi alam semesta. Termasuk perkara yang wajib diketahui dalam mazhab kita bahwa imam-imam kita memiliki kedudukan yang tidak dicapai oleh seorang malaikat yang dekat dengan Allah maupun nabi yang diutus.” ([446])

Bukan itu saja! Bahkan, Allah tidak mengutus seorang nabipun kecuali Ali bin Abi Ṭālib bersamanya!? Mereka membuat kebohongan atas nama Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Tidaklah seorang nabi diutus melainkan Ali bersamanya secara batin dan bersamaku secara lahir.” ([447])

Bantahan Telak Terhadap Para Ulama Syi'ah

Dari Abu Abdillah Aṣ-Ṣādiq 'alaihissalām, dia berkata, “Seorang pendeta datang kepada Amirul Mukminin 'alaihissalām dan berkata, 'Wahai Amirul Mukminin! Apakah engkau seorang nabi? Dia menjawab, 'Celaka kamu! Aku hanyalah budak di antara budak-budak Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi'.” ([448])

Dan ada riwayat mutawātir dari Ali raḍiyallāhu 'anhu yang menyebutkan, “Sungguh, sebaik-baik umat ini setelah nabi mereka adalah Abu Bakar kemudian Umar.” ([449])

Juga perkataannya raḍiyallāhu 'anhu, “Tidaklah dihadapkan kepadaku seseorang yang mengutamakanku di atas Abu Bakar dan Umar melainkan aku cambuk dia seperti hukuman pendusta.” ([450])

Lantas, apa yang akan dilakukan oleh Ali raḍiyallāhu 'anhu kepada orang yang mengutamakannya di atas para nabi dan rasul?! Tidak diragukan lagi bahwa mazhab ini sangat jelas batil; kebatilannya dapat diketahui dengan akal sehat, dengan perkara yang jelas dalam agama, maupun sejarah dan fitrah. Tidak perlu bersusah payah untuk membuktikan kebatilannya. Dan ini adalah salah satu bukti nyata kerusakan mazhab Syi’ah Rāfiḍah.

 Pertanyaan (77): Menurut akidah para ulama Syi’ah, apakah ḥujjah Allah Subḥānahu wa Ta'ālā terhadap makhluk-Nya sudah cukup dengan mengutus Nabi Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan menurunkan Al-Qur`ān? Ataukah dengan imam?

Jawab: Ḥujjah tidak cukup melainkan dengan imam-imam mereka!

Ulama terpercaya mereka, Al-Kulainiy berkata, “Bab: Ḥujjah Allah tidak tegak atas makhluk-Nya melainkan dengan seorang imam.” ([451])

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Dan Allah disembah dengan ibadah kami; kalaulah bukan karena kami maka Allah tidak akan disembah.” ([452])

Mereka juga membuat kebohongan atas namanya, bahwa dia berkata, “Karena ibadah kami Allah Subḥānahu wa Ta'ālā disembah; kalaulah bukan karena kami Allah tidak akan disembah.” ([453])

Juga mereka membuat kebohongan atas namanya bahwa dia berkata, “Seandainya bukan karena mereka (para imam), niscaya Allah Subḥānahu wa Ta'ālā tidak akan dikenal.” ([454])

Al-Majlisiy menambahkan kebohongan itu dengan berkata, “Dan tidak akan diketahui cara beribadah kepada Ar-Raḥmān.” ([455])

Bantahan Telak Terhadap Para Ulama Syi'ah

Ḥujjah Allah terhadap hamba-Nya hanya tegak dengan para rasul, sebagaimana firman Allah Ta'ālā,

ﮋ  ﮁ  ﮂ   ﮃ  ﮄ  ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮈﮉ  ﮊ

“Agar manusia tidak memiliki ḥujjah atas Allah setelah para rasul.” (QS. An-Nisā`: 165). Allah tidak mengatakan: setelah para rasul dan para imam atau waṣī (pemegang wasiat) maupun yang lainnya.

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﮤ  ﮥ  ﮦ    ﮧ  ﮨ  ﮩ   ﮪ  ﮫ   ﮬ  ﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ   ﯕ  ﯖ  ﯗ  ﯘ  ﯙ  ﯚ  ﯛ   ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﯟ  ﯠ  ﯡ      ﯢ  ﯣ  ﯤ  ﯥ  ﯦ  ﯧ  ﯨ  ﮊ

"Agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu, dan agar kamu mendapat petunjuk. Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur`ān) dan Hikmah (As-Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 150–151)

 Pertanyaan (78): Apakah para ulama Syi’ah mengatakan bahwa wahyu turun kepada para imam mereka?

Jawab: Disebutkan dalam kaidah mereka bahwa imam-imam mereka tidak berbicara melainkan dengan wahyu. Ini termasuk perkara yang wajib diketahui dalam keyakinan Syi'ah Imāmiyyah. ([456])

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Sungguh, di antara kami ada yang dibisikkan di telinganya, ada yang didatangi dalam mimpinya, ada yang mendengar suara seperti suara rantai yang jatuh di baskom, dan ada yang didatangi oleh sesorang yang lebih besar dari Jibril dan Mikail.” ([457])

Mereka juga membuat kebohongan atas namanya bahwa dia berkata, “Sesungguhnya malaikat turun kepada kami di rumah-rumah kami, mereka bolak-balik ke ranjang kami, menghadiri jamuan kami, memberi kami buah-buahan pada musimnya, baik yang basah atau yang kering, mengeluskan sayap-sayapnya pada kami dan anak-anak kami, menghalangi binatang buas menyerang kami, mendatang kami pada waktu salat untuk salat bersama kami. Dan tidaklah siang mendapati kami dan tidak pula malam, melainkan seluruh informasi penduduk dunia dan yang terjadi di dalamnya telah kami ketahui.” ([458])

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, “Sungguh, kepemimpinan adalah kedekatan, cinta, tindakan, ketuhanan atau perwakilan. ([459])

Al-Khumainiy juga mengatakan bahwa Allah Ta'ālā berkata kepada imam mereka pada hari Kiamat, “Dari Allah Yang Mahahidup, yang terus menerus mengurus makhluk-Nya dan tidak pernah mati, kepada yang Mahahidup, yang terus menerus mengurus makhluknya dan tidak pernah mati. Ammā ba’du, 'Sungguh Aku berkata kepada sesuatu ‘jadilah’ maka ia segera jadi, dan aku jadikan kamu mengatakan kepada sesuatu ‘jadilah’ maka ia segera jadi'.” ([460])

ﮋ ﯧ  ﯨ  ﯩ  ﯪ             ﯫ  ﯬ  ﯭ  ﮊ

“Maka Mahasuci Allah Tuhan Arasy dari apa yag mereka sebutkan.” (QS. Al-Anbiyā`: 22)

Al-Khumainiy juga mengatakan, "Sungguh alam semesta beserta seluruh bagian-bagiannya bersumber dari kekuatan dan pengetahuan yang dimiliki oleh wali yang sempurna.” ([461])

Dia juga mengatakan, “Sesungguhnya imam memiliki kedudukan yang terpuji dan derajat yang tinggi serta kekuasaan terhadap alam yang tunduk kepada kekuasaannya semua atom alam semesta. Dan sesungguhnya merupakan bagian dari keyakinan mendasar mazhab kita adalah bahwa para imam kami memiliki kedudukan yang tidak dicapai oleh malaikat yang didekatkan (kepada Allah) dan tidak juga para nabi yang diutus.” ([462])

Dan orang yang mengingkari perkara yang wajib diketahui menurut mereka adalah kafir, sebagaimana telah lewat pembahasannya. ([463])

Imam besar mereka, Al-Khumainy menyebutkan bahwa seorang ahli fikih Syi’ah sama seperti kedudukan Musa dan Harun 'alaihimassalām.([464])

Oleh karena itu ulama mereka, Jawad Mugniyah mengisyaratkan bahwa Al-Khumainiy lebih baik dari Nabi Musa 'alaihissalām.([465])

Oleh sebab itu juga, mereka menyebut Al-Khumainiy dengan “Al-Imām”, karena dalam keyakinan mereka kedudukan imam lebih baik dan lebih mulia dari kenabian, sebagaimna akan dijelaskan nanti. Oleh karena itu, Murtaḍā Katbī seorang profesor ilmu sosial di Universitas Teheran dan jurnalis Prancis mengatakan, “Menurut mayoritas penduduk Iran, Rūḥullāh Al-Kumainiy bukan terhitung Āyatullāh, akan tetapi dia adalah Al-Imām; gelar ini jarang diberikan untuk seseorang dalam sejarah Syi’ah.” ([466])

Oleh karena itu, imam besar mereka, Al-Khumainiy memasukkan namanya dalam lafal azan dan mendahulukan namanya sebelum nama Nabi Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam!!

Sehingga para muazin mereka mengumandangkan adzan dengan mengatakan, “Allahu akbar… Allahu akbar… Al-Khumainiy rahbar.” Artinya, Al-Khumainiy adalah pemimpin. ([467])

Bantahan:

Allah Ta'ālā berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam,

ﮋ ﭒ     ﭓ   ﭔ    ﭕ       ﭖ  ﭗ   ﭘ  ﭙ  ﭚ  ﭛﭜ   ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ   ﭣ  ﭤ  ﭥ  ﭦ  ﭧ  ﭨﭩ   ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﭭ  ﭮ  ﭯ  ﭰ  ﭱ   ﭲ  ﭳ  ﭴ  ﭵ  ﭶ  ﭷﭸ  ﭹ  ﭺ  ﭻ   ﭼ  ﭽ  ﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂ   ﮃ  ﮄ  ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮈﮉ  ﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮍ   ﮎ  ﮏ  ﮐ  ﮑ  ﮒ   ﮓ  ﮔﮕ  ﮖ  ﮗﮘ   ﮙ  ﮚﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞ  ﮟ  ﮠ  ﮡ   ﮢ  ﮣ  ﮤ  ﮥ  ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ  ﮪ   ﮫ  ﮬ  ﮭ  ﮮ           ﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ      ﯕ  ﯖ   ﯗ  ﯘ  ﯙ  ﯚ  ﯛ  ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﯟﯠ   ﯡ  ﯢ  ﯣ  ﯤ  ﯥ  ﯦ  ﯧ  ﯨ  ﯩ  ﯪ   ﯫ  ﯬ  ﯭ  ﯮ  ﯯ  ﯰ  ﯱﯲ  ﯳ  ﯴ   ﯵ  ﯶ  ﯷ  ﯸ  ﯹ  ﯺﯻ  ﯼ  ﯽ  ﯾ  ﯿ  ﰀ   ﮊ

"Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh, dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya; Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Daud. Dan ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan mereka kepadamu sebelumnya dan ada beberapa rasul (lain) yang tidak Kami kisahkan mereka kepadamu. Dan Allah berbicara langsung kepada Musa. Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. Tetapi Allah menjadi saksi atas (Al-Qur`ān) yang diturunkan-Nya kepadamu (Muhammad). Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya, dan para malaikat pun menyaksikan. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah tidak akan mengampuni mereka, dan tidak (pula) akan menunjukkan kepada mereka jalan (yang lurus), Kecuali jalan ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan hal itu (sangat) mudah bagi Allah. Wahai manusia! Sungguh, telah datang Rasul (Muhammad) kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah (kepadanya), itu lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya milik Allah-lah apa yang di langit dan di bumi. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana." (QS. An-Nisā`: 163–170)

 Pertanyaan (79): Apa keyakinan para ulama Syi’ah tentang rukun iman yang kelima yaitu iman kepada hari Kiamat?

Jawab: Mereka memalingkan arti ayat-ayat tentang hari Kiamat dengan raj'ah (reinkarnasi) sebagaimana yang akan dijelaskan; mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Tidakkah kamu mengetahui bahwa dunia dan akhirat adalah milik imam? Dia meletakkannya di mana yang ia kehendaki, dan memberikannya kepada siapa yang ia kehendaki?!” ([468])

 Pertanyaan (80): Siapakah yang mempermudah kematian orang beriman dan yang memperberat kematian orang kafir menurut akidah ulama-ulama Syi’ah?

Jawab: Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Wajib meyakini kehadiran Nabi ṣallallāhu -'alaihi wa ālihi- serta imam-imam yang dua belas 'alaihimussalām ketika kematian orang baik maupun fajir; orang beriman maupun kafir. Mereka memberi manfaat kepada orang beriman dengan syafaat mereka untuk meringankan beratnya sakratul-maut, dan memperberatnya pada orang munafik dan para pembenci Ahl Bait 'alaihimussalām. Tidak harus dipikirkan bagaimana itu terjadi, dan mereka bisa hadir dengan jasad yang asli, dengan menyamar, maupun lainnya. ([469])

 Pertanyaan (81): Apa yang menjadi pelindung dari azab kubur menurut akidah ulama-ulama Syi’ah?

Jawab: Mayatnya diberi tanah kuburan Ḥusain raḍiyallāhu 'anhu, dan tanah tersebut ditaruh di minyak wangi dan kain kafannya. ([470])

Kontradiksi:

Tidak ada keselamatan kecuali bagi ahli tauhid. Sebagaimana firman Allah,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ    ﭖ  ﭗ  ﭘ  ﭙ     ﭚ  ﭛ  ﭜ  ﮊ

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk." (QS. Al-An'ām: 82)

 Pertanyaan (82): Apa pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepada orang yang mati setelah diletakkan di dalam kuburnya menurut akidah mereka?

Jawab: Yaitu kecintaan kepada imam-imam Syi’ah!

Mereka membuat kebohongan, Pertanyaan pertama kepada hamba ialah tentang kecintaan kepada kami, Ahli Bait. ([471])

Dua malaikat akan bertanya kepadanya tentang akidahnya dan siapa yang dia yakini di antara para imam satu demi satu. Jika dia tidak menjawab satu di antara mereka, keduanya akan memukulnya dengan tiang dari api neraka, lalu kuburnya akan dipenuhi api hingga hari Kiamat. Hati-hati! Jangan menakwil dua malaikat tersebut dan pertanyaannya karena termasuk perkara yang wajib diketahui dalam agama. ([472])

Dan telah disebutkan sebelumnya bahwa orang yang mengingkari perkara yang wajib diketahui adalah kafir menurut akidah mereka.

Kontradiksi:

Mereka membuat kebohongan, Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam bersabda, “Wahai Ali! Pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepada hamba setelah dia meninggal adalah syahadat lā ilāha illallāh, syahadat bahwa Muhammad rasul Allah serta engkau adalah pemimpin orang beriman.” ([473])

 Pertanyaan (83): Apakah ada dalam akidah Syi’ah kebangkitan setelah kematian sebelum hari Kiamat?

Jawab: Ya!!

Mereka membuat kebohongan, “Allah Ta'ālā pada masa Al-Qā`im (Al-Mahdi) 'alaihissalām atau sebelumnya akan membangkitkan sekelompok orang beriman agar mereka puas melihat para imam dan negara mereka, serta membangkitkan sekelompok orang kafir yang menyelisihi Syi'ah untuk membalas dendam kepada mereka segera di dunia.” ([474])

 Pertanyaan (84): Siapakah yang dikecualikan dari lamanya penantian dan perjalanan di atas ṣirāt dalam akidah mereka?

Jawab: Penduduk Kota Qumm di Iran, pusat negara Syi'ah Ṣafawiyyah!

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata tentang penduduk Kota Qumm, “Mereka akan dihisab di kubur mereka dan dibangkitkan dari kubur mereka menuju surga.” ([475])

Tanggapan:

Oleh karena itu ulama-ulama Syi’ah adalah calo tanah paling besar di kota tersebut!

 Pertanyaan (85): Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang jumlah pintu surga? Dan untuk siapa?

Jawab: Mereka membuat kebohongan terhadap Abu Ḥasan Ar-Riḍā bahwa dia berkata, “Surga memiliki delapan pintu, salah satunya untuk penduduk Qumm. Mereka adalah pembela kami yang terbaik di antara negeri-negeri lain. Allah Ta'ālā meratakan kepemimpinan kami di tanah mereka.” ([476])

Tanggapan:

Salah satu pebisnis tanah dari kalangan ulama mereka sekarang menambah jumlah pintu surga yang dibuka bagi penduduk Qumm.

Dia membuat kebohongan atas nama Ar-Riḍā raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Surga memiliki delapan pintu; tiga di antaranya untuk penduduk Qumm. Keberuntungan untuk mereka! Keberuntungan untuk mereka!” ([477])

Apa lagi yang ditunggu wahai pemeluk Syi’ah Arab?! Segera dapatkan tiga pintu surga kalian sebelum ditutup di depan muka kalian!

 Pertanyaan (86): Siapakah yang akan menghisab manusia menurut keyakinan ulama-ulama Syi’ah?

Jawab: Imam-imam mereka!

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Di tangan kamilah ṣirāt, mizan, dan hisab pengikut kami.” (([478])

Kemudian mereka menambah jatah tersebut; syekh mereka, Al-Ḥurr Al-'Āmiliy berkata, “Hisab semua manusia pada hari Kiamat di tangan para imam 'alaihimussalām.” ([479])

Mereka juga membuat kebohongan atas nama Abu Ḥasan Ar-Riḍā raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Di tangan kamilah kembalinya manusia. Kami yang akan menghisab mereka. Jika ada dosa di antara mereka dan Allah, maka kami wajibkan kepada Allah untuk meninggalkannya, maka Allah mengabulkan permintaan kami itu…” ([480])

Tanggapan:

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭘ  ﭙ  ﭚ  ﭛ  ﭜﭝ   ﭞ   ﭟ  ﭠ  ﮊ

"Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, jika kamu menyadari." (QS. Asy-Syu’arā`: 113)

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﯲ  ﯳ  ﯴ  ﯵ  ﯶ  ﯷ  ﯸ  ﯹ  ﯺ   ﮊ

"Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali. Kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka." (QS. Al-Gāsyiyah: 25-26)

 Pertanyaan (87): Bagaimana manusia bisa selamat ketika melewati ṣirāt pada hari Kiamat kelak menurut keyakinan ulama-ulama Syi’ah?

Mereka membuat kebohongan atas nama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Wahai Ali! Jika tiba hari Kiamat, maka aku, engkau, dan Jibril akan duduk di penghujung ṣirāt. Tidak akan melewati ṣirāt itu kecuali orang yang memiliki kitab (catatan amalan) yang di dalamnya ada kesaksian pengakuan terhadap kepemimpinanmu.” ([481])

 Pertanyaan (88): Siapakah yang akan memasukkan ke dalam surga orang yang dia kehendaki dan ke dalam neraka orang yang dia kehendaki menurut keyakinan mereka?

Jawab: Ali bin Abi Talib raḍiyallāhu 'anhu!

Al-Kulainiy membuat kebohongan atas nama Ali raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berkata, “Aku yang membagi atas nama Allah antara surga dan neraka, tidak akan masuk ke dalamnya kecuali menurut pembagianku.” ([482])

Bahkan perkara ini di kalangan ulama Syi’ah juga sampai menyebabkan mereka membuat kebohongan lain atas nama Ali raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berkata, “Demi Allah! Aku akan memberi balasan terhadap manusia pada hari Kiamat, akan membagi antara surga dan neraka; tidak akan masuk ke dalamnya kecuali menurut pembagianku. Sungguh aku adalah Al-Fārūq Al-Akbar …” ([483])

Mereka juga membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Apabila tiba hari Kiamat, diletakkan sebuah mimbar yang terlihat oleh semua makhluk. Lalu seorang laki-laki naik; satu malaikat berdiri di kanan dan satu lagi di kirinya. Malaikat di kanannya berseru, ‘Wahai semua makhluk, ini adalah Ali bin Abi Ṭālib; dia memasukkan ke dalam surga siapa yang dikehendaki.’ Malaikat di sebelah kirinya berseru, ‘Wahai sekalian makhluk, ini adalah Ali bin Abi Ṭālib pemilik neraka; dia memasukkan ke dalamnya siapa yang dikehendaki.’” ([484])

Bahkan jika ring pintu-pintu surga digerakkan akan terdengar deringan yang berbunyi, “Wahai Ali.”

Mereka membuat kebohongan atas nama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Ring pintu surga terbuat dari yakut merah di atas lempengan emas. Apabila engsel tersebut diketukkan di lempeng tersebut, dia akan berdering, ‘Wahai Ali.’”([485])

 Pertanyaan (89): Apa akidah ulama Syi’ah tentang makhluk Allah Ta'ālā yang akan masuk surga?

Mereka membuat kebohongan atas nama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Wahai Ali! Maukah engkau aku beri kabar gembira?” Dia menjawab, “Mau, wahai Rasulullah!” Beliau berkata, “Kekasihku Jibril mengabarkan dari Allah Jalla Jalāluhu bahwa Dia memberi orang-orang yang mencitai dan membelamu tujuh perkara: (di antaranya) masuk surga 80 tahun sebelum manusia yang lain.” ([486])

Kemudian mereka memandang agar mengkhususkan surga mereka untuk diri mereka sendiri!!

Lalu membuat riwayat bohong yang berbunyi, “Aku telah menciptakan surga untuk mereka dan orang-orang yang loyal kepada mereka. Sedangkan neraka untuk orang-orang yang memusuhi mereka.” ([487])

Tanggapan:

Mereka telah menyerupai orang Yahudi dan Nasrani yang mengatakan,

ﮋ ﯧ  ﯨ  ﯩ  ﯪ  ﯫ  ﯬ  ﯭ      ﯮ  ﯯ  ﯰﯱ   ﯲ  ﯳﯴ  ﯵ  ﯶ  ﯷ  ﯸ  ﯹ   ﯺ  ﯻ  ﮊ

"Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, 'Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani.' Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, 'Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.'" (QS. Al-Baqarah: 111)

 Pertanyaan (90): Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang iman kepada takdir?

Jawab: Syekh mereka, Al-Mufīd berkata, “Riwayat yang sahih dari Ahli Bait Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa perbuatan hamba tidak diciptakan oleh Allah Ta'ālā. Diriwayatkan dari Abu Ḥasan Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa Ar-Riḍā ṣalawātullāh ‘alaihim, bahwa dia pernah ditanya tentang perbuatan hamba, apakah diciptakan oleh Allah Ta'ālā? Dia 'alaihissalām menjawab, “Sekiranya diciptakan oleh Allah maka Dia tidak akan berlepas diri darinya. Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭴ  ﭵ  ﭶ  ﭷ  ﭸﭹ   ﭺﭻ  ﮊ

"Bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik." (QS. At-Taubah: 3)

Allah berlepas diri dari penciptaan zat mereka, tetapi dari kesyirikan dan perbuatan buruk mereka.” ([488])

Pernyataan tidak tegas dari para ulama Syi’ah tentang akidah Muktazilah yang mereka yakini terkait masalah iman kepada takdir terus berlanjut, hingga datang penyataan tegas dari seorang ulama mereka, Al-Ḥurr Al-'Āmiliy yang mengatakan, “Bab 47: Allah Subḥānahu wa Ta'ālā Pencipta segala sesuatu kecuali perbuatan hamba.” Kemudian dia berkata, “Saya katakan, mazhab Imāmiyyah dan Muktazilah yaitu perbuatan hamba yang dilakukan oleh mereka sendiri; merekalah yang menciptakannya.” ([489])

Tanggapan:

Al-Kulainiy meriwayatkan, dari Abu Ja'far dan Abu Abdillah 'alaihimassalām, keduanya berkata, “Allah Maha Pengasih kepada makhluk-Nya daripada memaksa mereka melakukan dosa lalu menyiksanya dengan sebab itu. Allah Mahamulia dari menginginkan suatu perkara kemudian tidak terjadi.” Keduanya 'alaihimassalām pernah ditanya, apakah ada posisi yang ketiga antara paham Jabariah dan paham Kadariah? Mereka menjawab, “Ya. Yaitu lebih luas daripada antara langit dan bumi.” ([490])

Bantahan Telak:

Abu Abdillah raḥimahullāh berkata, “Celakalah orang-orang Kadariyah! Mereka membaca ayat ini,

ﮋ ﭥ  ﭦ    ﭧ  ﭨ  ﭩ    ﭪ  ﮊ

‘Kecuali istrinya, Kami telah tentukan bahwa dia termasuk orang yang tertinggal (bersama orang-orang kafir lainnya).’ (QS: An-Naml: 57). Celaka mereka! Tidak ada yang menentukannya kecuali Allah Tabāraka wa Ta'ālā.”([491])

Tanggapan:

Riwayat ini mengungkapkan mazhab para imam dalam menetapkan takdir. Pendapat ini juga bisa jadi menunjukkan akidah para pendahulu Syi’ah yang menetapkan takdir. Riwayat-riwayat yang seperti ini ditolak oleh kalangan Syi’ah belakangan tanpa dalil, kecuali taklid kepada mazhab Muktazilah. Mereka menutup mata terhadap berbagai riwayat di kalangan orang-orang yang menyelisihinya.

Bahkan ulama-ulama Syi’ah tambah bertaklid kepada orang-orang Muktazilah sampai mengatakan bahwa di antara pokok agama Syi’ah mereka adalah Al-'Adl (keadilan Tuhan), persis sama seperti Muktazilah. Dan arti dari kata ini: mengingkari takdir Allah Ta'ālā.

Syekh mereka, Hāsyim Ma’rūf berkata, “Adapun Imāmiyyah, menurut mereka Al-'Adl termasuk rukun agama. Bahkan itu termasuk pokok ajaran Islam.” ([492])

Bantahan Telak

Sebagian ulama Syi’ah berpandangan tentang takdir seperti pandangan Ahli Sunnah. ([493])

Pertanyaan (91): Siapakah yang menciptakan akidah tentang waṣiy (pemegang wasiat)? Berapa jumlah pemegang wasiat tersebut? Siapa pemegang wasiat terakhir dalam keyakinan ulama Syi’ah?

Jawab: Orang pertama yang menciptakannya adalah Abdullah bin Saba` Al-Yahūdiy, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Ibnu Bābawaih Al-Qummiy berkata ketika menyebutkan akidah Syi’ah, “Mereka meyakini bahwa setiap nabi memiliki waṣiy yang diwasiatkan untuk melaksanakan perintah Allah Ta'ālā.”

Dia menyebutkan bahwa jumlah waṣiy 124.000. ([494])

Bantahan

Mereka membuat kebohongan, dari Abu Al-Hijāz, dia berkata, Amirul Mukminin 'alaihissalām berkata, “Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi adalah penutup nabi yang ke-124.000, dan aku penutup waṣiy yang ke-124.000. Aku diberikan tugas, sedangkan para waṣiy sebelumku tidak diberi tugas. Hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan.” ([495])

Syekkh mereka, Al-Majlisiy, telah membuat kebohongan dalam hadis-hadisnya, “Ḥasan bin Ali 'alaihimassalām berpidato setelah Ali 'alaihissalām wafat seraya berkata, ‘Dia adalah penutup para waṣiy dan waṣiy untuk penutup para nabi. Juga amir para ṣiddīqīn, syuhada, dan orang-orang saleh.’” ([496])

Ini artinya tidak ada waṣiy lagi setelah Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu dan bahwa kepemimpinan orang-orang setelahnya batil karena mereka bukan orang yang diwasiatkan. Ini membatalkan mazhab Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah dari dasar dan menghancurkan bangunan mereka dari akar-akarnya. Kenapa ulama-ulama Syi’ah tidak menyadarinya?! Tetapi, Mahabenar Allah yang berfirman,

ﮋ ﭿ    ﮀ      ﮁ    ﮂ  ﮃ   ﮄ  ﮅ   ﮆ  ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ

“Seandainya dia berasal dari selain Allah, mereka pasti mendapatkan banyak pertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisā`: 82)

 Pertanyaan (92): Apa urgensi kedudukan imamah menurut ulama mazhab Syi’ah?

Jawab:

 1- Imamah seperti kenabian.

Mereka mengatakan, “Imamah adalah jabatan dari Tuhan, sama seperti kenabian.”([497])

Mereka juga berkata, “Yang benar, keimaman termasuk perkara pokok seperti kenabian.” ([498]) Juga perkataan mereka, “Kedudukan keimaman sama seperti kenabian.”([499])

Imam besar mereka, Al-Khumainiy berkata, “Imamah sejak hari pertama hingga napas terakhir rasul Islam adalah saudara kandung kenabian.” ([500])

Mereka membuat kebohongan atas nama Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berkata, “Siapa yang tidak mengakui keimamanku maka tidak bermanfaat baginya pengakuan kepada kenabian Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam, karena keduanya bergandengan.” ([501])

Kemudian mereka bertambah guluw dan ekstrem; mereka berkata,

 2- Imamah (keimaman) lebih agung dan lebih mulia daripada kenabian

Syekh mereka, Ni'matullāh Al-Jazā`iriy berkata, “Imamah lebih afdal dan lebih mulia daripada kenabian.” ([502])

Dalam hadis-hadis ḥujjah mereka, Al-Kulainiy ([503]) menyatakan bahwa keimaman lebih tinggi daripada tingkat kenabian.

Kemudian mereka bertambah guluw dan ekstrem; mereka berkata,

 3- Imamah adalah pokok di antara pokok-pokok agama. Iman tidak akan sempurna kecuali dengan meyakininya.

Ulama kontemporer mereka, Muhammad Riḍā Al-Muẓaffar berkata, “Kita meyakini bahwa imamah termasuk pokok agama; iman tidak akan sempurna kecuali dengan meyakininya.” ([504])

Ulama dan fakih mereka sekarang, Ja'far Subḥānī berkata, “Syi’ah sejak masa nenek moyang mereka telah sepakat bahwa imamah termasuk pokok di antara pokok agama. Oleh karena itu, meyakini keimaman para imam terhitung sebagai konsekuensi iman yang benar.” ([505])

Al-Āmiliy yang digelari di kalangan mereka dengan Asy-Syahīd Aṡ-Ṡānī (Syahid Kedua) berkata, “Meyakini keimaman para imam 'alaihimussalām termasuk pokok iman menurut kelompok Imāmiyyah. Ini sudah dikenal secara pasti dalam mazhab mereka.” ([506])

Telah disebutkan sebelumnya bahwa orang yang mengingkari perkara yang telah pasti dan wajib diketahui adalah kafir dalam akidah mereka. Kemudian dari sisi lain mereka menjadikan keimaman,

 4- Sebagai perkara paling agung yang dengannya Allah mengutus nabi-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.

Syekh mereka, Hādī Aṭ-Ṭahrāniy berkata, “Perkara agama paling besar yang dengannya Allah Ta'ālā mengutus Nabi-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi ialah perkara imamah (keimaman).” ([507])

Oleh karena itu, tidak ada satu bab ekstrem pun dalam perkara keimaman yang mereka tinggalkan, kecuali mereka masuk ke dalamnya; mereka berkata,

 5- Keimaman adalah salah satu rukun Islam, bahkan rukun Islam yang paling agung.

Al-Kulainiy membuat kebohongan atas nama Abu Ja'far raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Islam dibangun di atas 5 perkara: salat, zakat, puasa, haji, dan wilayah (kekuasaan imam). Tidak ada sesuatupun yang lebih intensif didakwhkan melebih dakwah kepada wilayah (kekuasaan imam).” ([508])

Mereka membuat kebohongan atas nama Ar-Riḍā raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Islam dibangun di atas 5 perkara: salat, zakat, haji, puasa, dan wilayah (kekuasaan imam).” Zurārah berkata, Aku bertanya, “Manakah di antara itu yang paling afdal?” Dia menjawab, “Wilayah (kekuasaan imam) paling afdal karena merupakan kunci semuanya.”([509])

Tanggapan:

Ini adalah kedustaan, bahkan kekufuran. Syahadat lā ilāha illallāh dan Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam rasūlullāh lebih agung daripada perkara keimaman. Orang kafir tidak akan menjadi muslim kecuali setelah mengucapkan syahadat lā ilāha illallāh wa anna Muhammadan ṣallallāhu 'alaihi wa sallam rasūlullāh. Atas dasar inilah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam memerangi orang-orang kafir pertama kali. Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﮬ  ﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮰ  ﮱ   ﯓ  ﯔ  ﯕ  ﯖﯗ  ﯘ  ﯙ  ﯚ  ﯛ     ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﯟﯠ  ﮊ

"Maka perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan melaksanakan salat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka." (QS. At-Taubah: 5)

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﮘ  ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞ   ﮟ  ﮠﮡ  ﮊ

"Apabila mereka bertobat dan melaksanakan salat serta menunaikan zakat maka mereka adalah saudara-saudara kalian dalam agama.” (QS. At-Taubah: 11)

Allah Subḥānahu wa Ta'ālā menjadikan mereka sebagai saudara kita dengan sebab tobat, dan Allah tidak menyebutkan imamah.

Kesalahan Memalukan

Mereka telah dipermalukan oleh saudara mereka sendiri, Ālu Kāsyif Al-Giṭā`, dia berkata, “Tetapi Syi’ah Imāmiyyah menambah rukun yang kelima yaitu keyakinan masalah imamah.” ([510])

 6- Imamah adalah Islam seluruhnya.

Mereka membuat kebohongan atas nama Al-Bāqir 'alaihissalām dalam firman Allah,

ﮋ ﭸ  ﭹ  ﭺ   ﭻ  ﭼﭽ  ﮊ

“Sungguh agama di sisi Allah adalah Islam” (QS. Āli 'Imrān: 19). Dia berkata, (Islam) itu tunduk kepada Ali bin Abi Ṭālib dengan mengakui wilayah (kepemimpinan)nya.” ([511])

Mereka juga membuat kebohongan atas nama Zainal-Ābidīn dan Ja'far Aṣ-Ṣādiq 'alaihimassalām bahwa mereka berkata terkait firman Allah:

ﮋ ﮰ   ﮱ  ﯓ    ﯔ  ﮊ

“Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan” (QS Al-Baqarah: 208). “Yaitu ke dalam kepemimpinan Ali 'alaihissalām.”([512])

Bantahan:

Ulama-ulama Syi’ah meriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu berkata ketika umat Islam memintanya untuk dibaiat setelah Amirul Mukminin Usman raḍiyallāhu 'anhu mati syahid, “Tinggalkanlah aku. Carilah orang selainku, sebab kita akan menghadapi perkara yang memiliki banyak sisi dan warna; hati tidak tegar menghadapinya dan akal tidak kokoh di atasnya. Sungguh, cakrawala telah gelap dan ḥujjah telah samar. Ketahuilah! Apabila aku mengabulkan permintaan kalian, aku akan melakukan pada kalian apa yang aku ketahui. Aku tidak akan tunduk kepada ucapan seseorang maupun celaan orang yang mencela. Tetapi apabila kalian meninggalkanku, maka aku sama seperti salah seorang kalian. Barangkali aku adalah orang yang paling mendengar dan paling taat di antara kalian kepada orang yang kalian serahkan kepadanya urusan kalian. Aku menjadi pembantu kalian lebih baik daripada aku menjadi amir kalian.”([513])

Nas ini menunjukkan bahwa Ali raḍiyallāhu 'anhu tidak pernah diwasiatkan untuk menjadi pemimpin oleh Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Sebab bila demikian, tentunya Ali raḍiyallāhu 'anhu tidak boleh mengatakan, “Tinggalkanlah aku. Carilah orang selainku.” Dan ini adalah nas suci dalam akidah para ulama Syi’ah yang merobohkan semua yang mereka bangun terkait kebohongan seputar klaim penunjukan Ali raḍiyallāhu 'anhu serta imam-imam yang dua belas sebagai imam.

Mereka juga meriwayatkan bahwa Ali raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Aku telah dibaiat oleh orang-orang yang membaiat Abu Bakar, Umar, dan Usman sesuai dengan baiat mereka kepada ketiganya. Tidak ada pilihan bagi yang hadir, sedangkan orang yang gaib tidak boleh menolak. Adapun musyawarah maka hanya bagi para Muhajirin dan Ansar. Jika mereka sepakat kepada satu orang lalu menyebutnya sebagai imam, maka itu yang Allah ridai. Jika ada yang keluar dari perkara mereka dengan sebuah celaan maupun bidah, mereka akan mengembalikannya kepada asal keluarnya. Jika dia enggan, mereka akan memeranginya lantaran mengikuti selain jalan orang-orang beriman, dan Allah akan membiarkannya tersesat ke mana dia tersesat.” ([514])

Ini adalah dalil bahwa tidak adanya nas penunjukan Ali raḍiyallāhu 'anhu sebagai imam. Musyawarah dalam perkara kepemimpinan adalah hak orang-orang Muhajirin dan Ansar -raḍiyallāhu 'anhum. Siapa yang mereka sepakati, dialah yang menjadi imam. Siapa yang menolaknya maka wajib diperangi karena tidak mengikuti jalan orang-orang yang beriman. Seandainya terdapat nas penunjukkan Ali raḍiyallāhu 'anhu sebagai imam dari Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, tentu dia tidak akan mengucapkan kalimat tersebut.

Mereka juga meriwayatkan bahwa Ali raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Demi Allah! Aku tidak pernah memiliki keinginan pada kekhalifahan ataupun hasrat pada kekuasaan. Tetapi kalian telah mengajakku padanya dan membebaniku dengannya.”([515])

Di dalam nas ini, Ali raḍiyallāhu 'anhu menangguhkan kesepakatan dirinya sebagai khalifah karena dirinya adalah pilihan dan panggilan mereka, bukan karena penunjukan dari Allah dan Rasul-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Bukankah ini menjadi bukti bahwa kebohongan yang dibuat ulama-ulama Syi’ah dalam perkara keimaman hanyalah buatan Saba` orang-orang Yahudi?!

 Pertanyaan (93): Bārakallāhu fīkum. Sekiranya Anda menyebutkan sebagian hari raya yang diciptakan oleh ulama-ulama Syi’ah?

Jawab: Di antara hari raya terkenal yang mereka ada-adakan adalah 'Īdul-Gadīr. Syekh mereka, Abdullah Al-'Alāyiliy di dalam pidato yang disiarkan oleh Stasiun Radio Libanon pada tanggal 18/12/1380 H berkata, “'Īdul-Gadīr bagian dari Islam. Siapa yang mengingkarinya, maka telah mengingkari Islam itu sendiri.” ([516])

Muhammad Jawād Mugniyah berkata, “Perayaan kita terhadap hari ini adalah perayaan terhadap Al-Qur`ān Al-Karīm dan Sunnah Nabi yang agung itu sendiri. Ia adalah perayaan teradap Islam dan hari Islam.

Sehingga pelarangan 'Īdul-Gadīr adalah kata lain dari pelarangan memegang Al-Qur`ān dan As-Sunnah, juga ajaran dan prinsip-prinsip Islam.” ([517])

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia telah menentukan tanggalnya dalam perkataannya, “'Īdul-Gadīr Khum adalah hari raya yang paling afdal. Yaitu pada tanggal 18 Zulhijah.” ([518])

Di antara hari raya mereka yang lain:

Hari raya kematian Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu 'anhu di tangan Abu Lu`lu`ah Al-Fārisiy Al-Majūsiy. Syekh mereka, Al-Jazā`iriy membuat satu bab: Cahaya Langit; Menyingkap Pahala Hari Pembunuhan Umar bin Al-Khaṭṭāb.

Kemudian dia menyebutkan sebuah riwayat lengkap dengan sanadnya bahwa hari kematian Umar raḍiyallāhu 'anhu adalah tanggal 9 Rabiulawal.

Dia membuat kebohongan bahwa imam mereka Abu Ḥasan Al-Askariy raḥimahullāh berkata tentang perayaan hari kematian Umar raḍiyallāhu 'anhu, “Tidak ada hari yang lebih suci dan bahagia daripada hari ini menurut Ahli Bait.”

Mereka juga membuat kebohongan atas nama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau berbicara kepada Ḥasan dan Ḥusain raḍiyallāhu 'anhumā tentang perayaan pada hari kematian Umar raḍiyallāhu 'anhu, “Hari itu Allah mencabut nyawa musuh-Nya dan musuh kakek kalian berdua. Pada hari itu dihancurkan kekuatan pembenci kakek kalian dan penolong musuh mereka.

Hari itu Allah membinasakan Firaunnya Ahli Baitku, Hamannya mereka, dan yang merampas hak mereka. Dia akan memikul mutiara kehinaan di atas pundaknya, menyesatkan manusia dari jalan Allah, serta menyelewengkan Kitab-Nya dan merubah Sunnahku.

Kemudian Allah mewahyukan kepadaku dengan firman-Nya, ‘Aku telah memerintahkan para malaikat mulia pencatat amal agar mengangkat pena dari seluruh makhluk selama tiga hari karena keistimewaan hari itu, dan Aku tidak menulis sedikit pun dosa-dosa mereka. Wahai Muhammad! Aku telah menjadikan hari itu sebagai hari raya. Aku telah bersumpah terhadap diri-Ku dengan keagungan dan kemuliaan-Ku serta dengan ketinggian-Ku dalam ketinggian tempat-Ku bahwa siapa yang memberikan keluasan kepada keluarga dan kerabatnya hari itu, sungguh Aku akan menambahkan harta dan umurnya, sungguh Aku akan bebaskan dia dari api neraka, dan sungguh Aku akan jadikan usahanya disyukuri, dosanya diampuni dan amalnya diterima.’” ([519])

Mereka menggelari Abu Lu`lu`ah, orang kesayangan mereka dengan Bābā Syujā’uddin. ([520]) Sebagaimana mereka juga mengagungkan hari Nairūz seperti yang dilakukan oleh orang-orang Majusi. ([521])

Tanggapan:

Hadis-hadis mereka telah mengakui bahwa hari Nairūz termasuk hari raya Persia.([522])

 Pertanyaan (94): Apakah jumlah imam menurut ulama-ulama Syi’ah terbatas pada angka tertentu?

Jawab: Syekh para ulama Syi’ah yang pertama, yaitu Ibnu Saba` Al-Yahūdiy dalam masalah waṣiy hanya berpandangan bahwa hal itu terbatasi pada Ali raḍiyallāhu 'anhu. Mereka membuat kebohongan terhadap Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berkata, “Aku penutup waṣiy ke-124.000.” ([523])

Tetapi setelahnya, muncul orang-orang yang memberlakukannya secara umum pada sejumlah anak-anaknya.

Dalam kitab Rijāl Al-Kasy-syiy disebutkan bahwa Mu`min Aṭ-Ṭāq atau (lebih tepatnya) Syaiṭān Aṭ-Ṭāq, adalah orang pertama yang menyiarkan akidah bahwa keimaman terbatas pada orang-orang khusus dari Ahli Bait!

Ketika hal ini diketahui oleh Imam Zaid bin Ali raḍiyallāhu 'anhu dia memanggilnya dan berkata, “Wahai Abu Ja'far! Aku pernah duduk bersama ayahku di atas meja makan, lalu menyuapiku daging yang empuk dan mendinginkan suapan yang panas sampai dingin karena sayang kepadaku, tetapi dia tidak sayang kepadaku dari panas api neraka. Karena ia mengabarkan agama itu kepadamu tetapi tidak mengabarkannya kepadaku?!” Aku berkata kepadanya, “Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu! Dia tidak mengabarkanmu karena kasihannya kepadamu dari api neraka. Dia khawatir engkau tidak akan menerimanya lalu masuk api neraka. Dia kabarkan kepadaku; jika menerimanya aku akan selamat, tetapi jika aku tidak menerimanya, dia tidak peduli aku akan masuk api neraka.” ([524])

Tanggapan:

Demikianlah Syaiṭān Aṭ-Ṭāq menciptakan kebohongan imamah yang menjadi pokok agama di kalangan Syi’ah. Dia menuduh bahwa Imam Ali Zainal-'Ābidīn bin Ḥusain menyembunyikan pokok agama, bahkan dari putranya yang merupakan orang pilihan Ahli Bait. Sebagaimana dia juga menuduh bahwa Imam Zaid tidak mencapai derajat pengikut ulama Syi’ah yang paling rendah dalam menerima keimaman ayahnya.

Para ulama Syi’ahlah yang menyampaikan riwayat ini di dalam referensi paling terpercaya milik mereka. Dalam riwayat ini mereka mengumumkan bahwa Syaiṭān Aṭ-Ṭāq mengklaim tanpa rasa malu bahwa dia mengetahui dari ayah Imam Zaid apa yang tidak diketahui oleh Imam Zaid dari ayahnya dalam perkara yang berkaitan dengan salah satu pokok agama mereka.

 Pertanyaan (95): Apakah ada perbedaan di antara ulama-ulama Syi’ah tentang jumlah imam mereka?

Jawab: Ya!! Al-Kulainiy telah membuat kebohongan atas nama Abu Ja'far raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Allah merahasiakan kekuasaan-Nya kepada Jibril 'alaihissalām, Jibril merahasiakannya kepada Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi, Muhammad merahasiakannya kepada Ali, dan Ali merahasiakannya kepada siapa yang dia kehendaki.”([525])

Al-Māzandarāniy menambahkan, “Dari anak-anaknya yang suci serta orang-orang yang menjaga rahasia dari kalangan orang beriman.” ([526])

Riwayat ini tidak menetapkan jumlah, tidak juga orang-orangnya. Sepertinya perkara tersebut belum disepakati pada masa riwayat ini dibuat.

Kemudian perkara tersebut berkembang di kalangan ulama Syi’ah.

Lalu muncullah beberapa riwayat yang menetapkan imam menjadi tujuh. Riwayat-riwayat itu berbunyi, “Yang ketujuh kami adalah imam kami Al-Qā`im (Al-Mahdi yang akan bangkit).” ([527]) Jumlah inilah yang jadi pegangan Syi’ah Ismā ’īliyyah.

Tetapi ketika jumlah imam bertambah banyak di kalangan Syi'ah Mūsāwiyyah atau Qaṭ’iyyah, atau yang disebut Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah, nas yang tadi disebutkan menjadi diragukan dalam akidah imamah di kalangan pengikut kelompok ini, sehingga para pendiri mazhab Syi’ah berupaya membatalkan riwayat tersebut dan menghilangkan keraguan para pengikutnya dengan menerbitkan riwayat berikut:

Dari Daud Ar-Raqqiy, dia berkata, Aku bertanya kepada Abu Al-Ḥasan Ar-Riḍā 'alaihissalām, “Semoga aku dijadikan sebagai tebusanmu! Sungguh, demi Allah! Belum pernah masuk kepadaku keraguan dalam perkaramu kecuali satu hadis yang aku dengar dari Żuraiḥ yang dia riwayatkan dari Abu Ja'far 'alaihissalām.” Abu Al-Ḥasan bertanya, “Apa itu?” Aku menjawab, "Dia (Żuraiḥ) berkata, 'Aku telah mendengarnya (Abu Ja'far) berkata, 'Yang ketujuh kami adalah imam kami Al-Qā`im (Imam Al-Mahdi yang akan bangkit), in syā`Allāh'.” Dia berkata, “Engkau benar, Żuraiḥ benar, Abu Ja'far 'alaihissalām juga benar.” Demi Allah! Justru aku tambah ragu. Kemudian Abu Al-Ḥasan berkata, “Wahai Daud bin Abi Khālid! Ketahuilah! Demi Allah, seandainya Musa ketika berbicara kepada laki-laki berilmu tidak mengucapkan, ‘Engkau akan mendapatkanku sebagai orang yang sabar in syā`Allāh’, dia tidak akan bertanya kepadanya tentang sesuatu apa pun. Demikian juga Abu Ja'far 'alaihissalām, kalau saja dia tidak mengatakan “in syā`Allāh” tentulah perkara itu akan seperti yang dia katakan.” Setelah itu aku langsung yakin. ([528])

Ulama-ulama Syi’ah memasukkan ini ke dalam permasalahan Al-Badā` dan perubahan kehendak Allah Ta'ālā. Sebagaimana nanti akan dibahas secara rinci, in syā`Allāh. Kemudian perkara ini terus berkembang di kalangan ulama syi’ah, sehingga ditemukan dalam Al-Kāfī dan lainnya beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa para imam berjumlah tiga belas!

Al-Kulainiy dan Aṭ-Ṭūsiy ([529]) dan lainnya membuat kebohongan, dari Abu Ja'far 'alaihissalām, dia berkata, Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam bersabda, “Aku dan dua belas anak keturunanku, juga engkau wahai Ali adalah kancing bumi -yaitu pasak dan gunungnya-; dengan perantaraan kamilah Allah memasak bumi sehingga tidak menenggelamkan penghuninya. Apabila kedua belas anak keturunanku telah pergi, bumi akan menenggelamkan penghuninya tanpa ditunda.”

Tanggapan:

Nas ini menunjukkan bahwa imam mereka tanpa Imam Ali raḍiyallāhu 'anhu berjumlah dua belas, dan menjadi tiga belas bersama Imam Ali raḍiyallāhu 'anhu. Sungguh demi Allah, nas ini merobohkan seluruh bangunan ajaran Syi’ah!

Al-Kulainiy lalu membuat kebohongan, dari Abu Ja'far- 'alaihissalām-, dari Jābir bin Abdilah Al-Anṣāriy, dia berkata, “Aku masuk menemui Fatimah 'alaihassalām sementara di depannya terdapat lembaran berisi nama-nama waṣiy dari anak keturunannya. Aku menghitung ada dua belas, yang paling terakhir Al-Qā`im 'alaihissalām.”([530])

Aku cukupkan penjelasan tentang kesesatan mereka dengan menyebutkan riwayat berikut: Furāt Al-Kūfiy membuat kebohongan atas nama Imam Zaid bin Ali bin Ḥusain raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Imam-imam maksum dari kami ada lima, tidak ada yang keenam.” ([531])

Bantahan Telak

Wahai para penganut Syi’ah, apakah kalian tahu berapa jumlah Al-Mahdi yang diyakini oleh ulama kalian? Di antara keyakinan aneh yang diyakini oleh ulama kalian adalah bahwa ada Al-Mahdi lain setelah imam kalian yang dua belas!

Mereka membuat kebohongan, dari Ja'far, dari ayah dan kakek-kakeknya, dari Ali raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berkata, Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi bersabda di malam wafatnya, “Wahai Abu Ḥasan! Bawakah sebuah lembaran dan tinta.” Kemudian Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam mendiktekan wasiatnya hingga tiba di ucapan ini, “Wahai Ali! Akan ada dua belas orang imam setelahku. Setelah mereka ada dua belas Al-Mahdi. Sedangkan engkau adalah yang pertama di antara imam yang dua belas.” Dan beliau menyebutkan hadis tersebut hingga ucapan beliau, “Hendaklah Al-Ḥasan ([532]) menyerahkannya kepada putranya Muhammad yang tersimpan dari keluarga Muhammad. Itulah dua belas imam. Kemudian setelahnya akan ada dua belas Al-Mahdi. Apabila dia meninggal hendaklah dia menyerahkannya kepada putranya yang paling dekat kepadanya; tiga nama seperti namaku dan nama ayahku; yaitu Abdullah, Ahmad, dan nama yang ketiga Al-Mahdi, dan dia adalah orang mukmin yang pertama.” ([533])

Kontradiksi:

Diriwayatkan oleh syekh mereka, Aṭ-Ṭūsiy, bahwa mereka berjumlah sebelas. Dari Abu Hamzah, dari Abu Abdillah 'alaihissalām dalam hadis yang panjang bahwa dia berkata, “Wahai Abu Ḥamzah! Dari kami setelah Al-Qā`im ada sebelas Al-Mahdi lagi dari anak keturunan Ḥusain.” ([534])

Bantahan Yang Membakar Ajaran Ini

Mereka meriwayatkan bahwa Ali raḍiyallāhu 'anhu adalah penutup para waṣiy. Berarti tidak ada lagi waṣiy setelahnya. Riwayat ini menghancurkan pondasi ajaran mereka dari dasar serta merobohkannya dari atas.

Para pembuat khurafat mereka berkata bahwa Ali raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Aku adalah orang kepercayaan Allah, penjaga-Nya, dan tempat rahasia-Nya. Aku adalah hijab-Nya dan wajah-Nya, ṣirāṭ dan mizan-Nya. Aku adalah yang mengumpulkan (menggiring) manusia kepada Allah. Aku adalah kalimat Allah yang dengannya segala yang tercerai berai dikumpulkan. Aku adalah Asmā`ullāh Al-Ḥusnā, permisalan-perimsalan-Nya yang tinggi, serta ayat-ayat-Nya yang besar. Akulah yang menikahkan penduduk surga, akulah yang menetapkan azab penduduk neraka, dan kepadakulah semua makhluk akan kembali. Juga kepadakulah hisab manusia seluruhnya. Aku adalah amir orang beriman, pemimpin besar orang yag bertakwa, ayat orang-orang terdahulu, lisan orang-orang yang berbicara, penutup para waṣiy, dan pewaris para nabi. Aku adalah khalifah Tuhan alam semesta, jalan tuhanku yang lurus dan pusat kekuasaan-Nya, dan ḥujjah terhadap penduduk langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Aku adalah orang yang Allah jadikan ḥujjah kepada kalian pada awal penciptaan kalian. Aku adalah saksi pada hari Kiamat. Akulah yang mengetahui ilmu kematian dan musibah, kalimat yang memutus, dan nasab. Karenaku diciptakan awan, halilintar, kilat, gelap dan cahaya, angin dan gunung, lautan, bintang, dan bulan. Akulah yang memberi petunjuk. Dan akulah yang dapat menghitung jumlah segala sesuatu. Akulah yang diberikan Allah nama-Nya, kalimat-Nya, hikmah-Nya, ilmu dan pemahaman-Nya.” ([535])

Tanggapan:

Kira-kira kekuasaan apa yang disisakan oleh ulama-ulama Syi’ah bagi Allah Tuhan semesta alam?!

ﮋ ﯦ  ﯧ  ﯨ  ﯩ  ﯪ   ﯫ  ﯬ  ﯭ  ﯮ  ﯯ  ﯰ   ﯱ  ﯲﯳ  ﯴ  ﯵ  ﯶ  ﯷ  ﯸ   ﮊ

"Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan." (QS. Az-Zumar: 67)

Pertanyaan (96): Apakah dalam internal kaum Syi'ah terjadi saling mengafirkan karena perselisihan mereka tentang jumlah imam mereka?

Jawab: Ya! Dan ini banyak. Kita memohon keselamatan kepada Allah. Misalnya, pada tahun 199 H, enam belas orang laki-laki berkumpul di depan pintu Abu Al-Ḥasan II Ali Ar-Riḍā. Salah seorang dari mereka yang bernama Ja'far bin Isa berkata, “Wahai tuanku, kami mengadukan kepada Allah dan kepadamu tentang apa yang kami hadapi dari sahabat-sahabat kami!” Dia menjawab, “Apa yang kalian alami dari mereka?” Ja'far menjawab, “Demi Allah, wahai tuanku! Mereka menghukumi kami zindik dan kafir serta berlepas diri dari kami.” Dia menjawab, “Seperti inilah keadaan para pengikut Ali bin Al-Ḥusain dan Muhammad bin Ali serta pengikut Ja'far dan Musa -ṣalawātullāhi ‘alaihim-. Bahkan pengikut Zurārah mengafirkan selain mereka. Begitu juga yang lain mengafirkan mereka...” Yunus berkata, “Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu! Mereka menuduh kami zindik!” ([536])

Tanggapan:

Inilah keadaan generasi awal mereka. Maka bagaimana dengan orang yang datang setelah mereka hingga ulama-ulama mereka masa sekarang!

Mahabenar Allah,

ﮋ ﯚ  ﯛ  ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﯟ  ﯠ  ﯡ  ﯢ  ﯣ   ﮊ

"Sesungguhnya mereka mendapati nenek moyang mereka dalam keadaan sesat, lalu mereka tergesa-gesa mengikuti jejak (nenek moyang) mereka." (QS. Aṣ-Ṣāffāt: 69-70)

 Pertanyaan (97): Apa solusi mereka di hadapan orang-orang awam untuk keluar dari dilema penentuan jumlah para imam?

Jawab: Yaitu ucapan mereka bahwa imam yang mujathid berfungsi sebagai wakil imam!

Kendati begitu, mereka berselisih dalam menentukan wakil. ([537])

Pada masa sekarang, ulama-ulama Syi’ah terpaksa keluar total dari ajaran ini yang merupakan pondasi agama mereka; lalu mereka menjadikan kepala negara Iran ditentukan lewat pemilihan umum.

 Pertanyaan (98): Apa hukum orang yang mengingkari keimaman salah satu imam dalam akidah ulama-ulama Syi’ah?

Jawab: Syi'ah Imāmiyyah sepakat bahwa orang yang mengingkari keimaman salah satu imam serta menentang apa yang Allah Ta'ālā telah wajibkan untuk menaatinya maka dia telah kafir tersesat dan berhak kekal dalam api neraka. ([538])

Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Ketahuilah, penyematan kata syirik dan kafir terhadap orang yang tidak meyakini keimaman Amirul Mukminin serta imam-imam dari keturunannya 'alaihimussalām dan melebihkan orang lain atas mereka, menunjukkan mereka kafir kekal dalam neraka.” ([539])

Tanggapan:

Telah disebutkan sebelumnya bahwa mereka menerima riwayat orang yang mengingkari sebagian besar imam mereka! Seperti riwayat Sekte Al-Faṭ-ḥiyyah semisal Abdullah bin Bukair. Juga riwayat-riwayat Sekte Al-Wāqifah semisal Sammā’ah bin Mahrān, juga Sekte An-Nāwūsiyyah dan seterusnya. Kendati ini semua, ulama-ulama Syi’ah menilai ṡiqah terhadap sebagian tokoh kelompok-kelompok ini yang mengingkari sebagian besar imam mereka!!

 Pertanyaan (99): Apa sikap Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam serta imam-imam Syi’ah terhadap para sahabat raḍiyallāhu 'anhum di dalam buku-buku mereka yang terpercaya?

Jawab: Rasul ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah ampunilah Ansar, anak-anak Ansar, dan cucu-cucu Ansar.

Wahai kaum Ansar! Tidakkah kalian rida bila selain kalian pulang membawa kambing dan unta sementara kalian pulang dan di dalam bagian kalian terdapat Rasulullah?” Mereka menjawab, “Tentu! Kami rida.”

Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi bersabda, “Orang Ansar adalah lambungku dan wadahku. Sekiranya manusia menempuh satu lembah sementara Ansar menempuh satu jalan, niscaya aku akan menempuh jalan yang dilalui Ansar. Ya Allah! Berilah ampunan bagi Ansar.” ([540])

Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Telah menang orang-orang yang pertama dengan sikap kesegeraan mereka. Orang-orang Muhajirin pertama telah mendahului dengan keutamaan mereka.” ([541])

Ali raḍiyallāhu 'anhu juga berkata, “Aku telah melihat sahabat-sahabat Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi. Aku tidak melihat seorang pun dari kalian yang menyerupai mereka. Pagi hari mereka kusut dan berdebu, malam hari mereka sujud dan berdiri. Mereka turun naik antara dahi dan pipinya; mereka berdiri seperti di atas bara karena mengingat kematian mereka. Antara mata mereka seperti punggung hewan karena panjang sujud. Apabila mengingat Allah mata mereka bercucur air mata hingga membasahi dada mereka, mereka miring seperti pohon yang miring ketika angin bertiup kencang karena takut kepada siksa dan mengharap pahala.” ([542])

Ali raḍiyallāhu 'anhu juga berkata, “Aku wasiatkan sahabat-sahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam kepada kalian. Janganlah mencaci mereka karena mereka sahabat nabi kalian. Merekalah sahabat-sahabatnya yang tidak pernah membuat bidah sedikit pun dalam agama. Juga tidak memuliakan para pelaku bidah. Ya! Beliau telah mewasiatkan mereka kepadaku.” ([543])

Ali raḍiyallāhu 'anhu berkata tentang Ansar, “Manakala mereka menyambut Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam dan sahabat-sahabatnya serta mereka menolong Allah dan agama-Nya, mereka dikepung oleh seluruh bangsa Arab; orang-orang Yahudi bersekutu memusuhi mereka dan kabilah demi kabilah memerangi mereka. Tetapi mereka tetap bertekad membela agama Allah; mereka memutus semua hubungan antara mereka dengan bangsa Arab, juga perjanjian antara mereka dengan orang-orang Yahudi. Mereka mengobarkan perang terhadap penduduk Najd, penduduk Tiḥāmah, penduduk Mekah dan Yamāmah, serta penduduk pegunungan dan dataran. Mereka berhasil menegakkan ajaran-ajaran agama dan bersabar di bawah getirnya penderitaan dan perjuangan. Hingga bangsa Arab tunduk kepada Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam dan beliau melihat mereka sebagai penyejuk mata sebelum Allah 'Azza wa Jalla mencabut nyawanya.” ([544])

Dahulu, Zainal-'Ābidīn raḍiyallāhu 'anhu mendoakan mereka di dalam salatnya, “Ya Allah, (ridailah) sahabat-sahabat Muhammad secara khusus. Merekalah yang menemani beliau dengan baik, yang telah mendapatkan ujian karena membelanya. Ya Allah, sampaikanlah juga kepada para tabiin yang mengikuti mereka dengan baik; yang mengatakan, ‘Wahai Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan suatu balasan-Mu yang terbaik.' Mereka telah meninggalkan anak dan istri untuk meninggikan kalimatnya dan mereka memerangi ayah dan anak mereka sendiri untuk mengokohkan kenabiannya.” ([545])

Abu Abdillah raḥimahullāh berkata, “Sahabat-sahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi berjumlah 12 ribu; 8 ribu dari Madinah, 2 ribu dari Mekah, dan 2 ribu lagi dari orang-orang yang dibebaskan. Tidak dilihat di antara mereka seorang Kadariah, Murji`ah, Khawarij, Muktazilah, maupun ahli logika. Mereka dahulu menangis siang malam dan berkata, ‘Cabutlah nyawa kami sebelum kami memakan roti yang difermentasi.’” ([546])

Ar-Riḍā raḥimahullāh pernah ditanya tentang sabda Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam yang berbunyi, “Sahabat-sahabatku seperti bintang; siapa pun yang kalian ikuti kalian akan mendapat petunjuk.”

Juga tentang sabda Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, “Tinggalkanlah untukku sahabat-sahabatku.” Ar-Riḍā raḥimahullāh berkata, “Ini benar. Beliau bermaksud -para sahabat itu- orang-orang yang tidak merubah maupun mengganti (agama) setelah beliau wafat.” ([547])

Ḥasan Al-'Askariy raḥimahullāh meriwayatkan bahwa Kalīmullāh Musa ṣallallāhu 'alaihi wa sallam memohon kepada Allah Ta'ālā, “Apakah ada di antara sahabat para nabi yang lebih mulia di sisi-Mu daripada sahabatku?”

Allah 'Azza wa Jalla berfirman, “Wahai Musa! Tidakkah engkau tahu bahwa keutamaan sahabat Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi atas semua sahabat para rasul seperti keutamaan keluarga Muhammad atas keluarga semua nabi, dan seperti keutamaan Muhammad atas semua rasul?!” ([548])

Dia juga meriwayatkan bahwa Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman kepada Adam 'alaihissalām, “Sungguh, seseorang yang membenci keluarga Muhammad dan sahabat-sahabatnya yang baik atau salah seorang mereka, akan diazab oleh Allah dengan azab yang sekiranya dibagikan kepada sebanyak apa yang Allah Ta'ālā ciptakan pasti akan membinasakan mereka semuanya.” ([549])

 Pertanyaan (100): Bagaimana ulama-ulama Syi’ah memahami riwayat-riwayat ini? Apakah mereka mengambilnya?

Jawab: Mereka memaknainya sebagai bentuk ucapan taqiyyah! ([550]) Karena riwayat-riwayat ini sedikit bila dibandingkan dengan riwayat mereka yang banyak yang berisikan pengafiran dan pelaknatan para sahabat, sehingga mereka tidak mengambilnya. Syekh mereka, Al-Mufīd berkata, “Apa yang keluar (diucapkan) dalam bentuk taqiyyah, tidak banyak diriwayatkan dari mereka, sebagaimana banyaknya riwayat yang diamalkan.” ([551])

Ulama-ulama Syi’ah menjadikan akidah taqiyyah mereka sebagai alat mainan yang mereka pegang, mereka lalu arahkan sesuai kehendak mereka. Sehingga ia tidak lagi menjadi mazhab Ahli Bait, tetapi juga sudah menjadi mazhab Al-Kulainiy, Al-Majlisiy, dan orang-orang semisalnya. Dan ini akan lebih jelas pada pembahasan selanjutnya.

 Pertanyaan (101): Apakah para ulama Syi’ah mengikuti imam-imam mereka dalam memuji dan mencintai sahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam?

Jawab: Tidak! Ini akan jelas melalui dua pembahasan berikut, in syā`Allāh Ta'ālā:

 Pertama, ulama-ulama Syi’ah meyakini semua umat Islam murtad setelah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam wafat.

Syekh mereka, Muhammad Riḍā Al-Muẓaffar berkata, “Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam wafat dan dipastikan semua umat Islam -saya tidak tahu sekarang- telah murtad kembali kepada kekafiran.” ([552])

Bahkan mereka mengatakan bahwa tidak ada di antara manusia seluruhnya yang beriman kepada Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam kecuali satu oang, yaitu laki-laki yang keluar meninggalkan negerinya untuk mencari kebenaran. Dia adalah Salmān Al-Fārisiy raḍiyallāhu 'anhu. ([553])

Tanggapan:

Lihatlah! Bagaimana para ulama Syi’ah memvonis semua umat Islam, termasuk para sahabat, kerabat Nabi, dan Ahli Bait raḍiyallāhu 'anhum, murtad kembali kepada kekafiran. Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan dan penganutnya.

Ulama Syi’ah, At-Tustariy berkata tentang para sahabat raḍiyallāhu 'anhum, “Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam datang dan memberi petunjuk kepada banyak orang. Tetapi setelah dia meninggal mereka murtad dari agamanya.” ([554]) Ulama mereka, An-Nūriy Aṭ-Ṭabrasiy berkata, “Yang kita yakini, wahai para pengikut Imāmiyyah! Yaitu semua sahabat murtad kecuali sedikit dari mereka.” ([555])

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Ja'far raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Para sahabat telah murtad setelah Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wafat, kecuali tiga orang.” Aku bertanya, “Siapakah yang tiga orang itu?” Dia menjawab, “Al-Miqdād bin Al-Aswad, Abu Żarr Al-Gifāriy, dan Salmān Al-Fārisiy.” ([556])

Kontradiksi:

Ulama mereka, Al-Jazā`iriy berkata, Abu Ja’far 'alaihissalām berkata, "Para sahabat telah murtad setelah Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wafat, kecuali empat orang: Salmān, Abu Żarr, Al-Miqdād, dan 'Ammār." Perkara ini tidak ada keraguan di dalamnya.([557])

Kontradiksi:

Dari Al-Fuḍail bin Yasār, dari Abu Ja'far 'alaihissalām dia berkata, “Ketika Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam wafat, manusia semuanya menjadi ahli jahiliah kembali, kecuali empat orang: Ali, Al-Miqdād, Salmān, dan Abu Żarr.” Aku bertanya, “Bagaiamana dengan 'Ammār?” Dia menjawab, “Jika engkau menginginkan mereka yang tidak dimasuki sesuatu, maka mereka yang tiga.” ([558]) Padahal dia menyebut empat orang!

Bantahan Telak Terhadap Ulama Syi'ah

Riwayat-riwayat buruk yang dibuat-buat oleh ulama-ulama Syi’ah ini menyingkap hakikat mazhab Syi’ah yang bidah; bahwa mereka musuh Ahli Bait yang hakiki sebagaimana mereka juga musuh Rasul ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Di antara kebodohan mereka adalah bahwa riwayat-riwayat ini merupakan dalil mereka sendiri untuk menegaskan bahwa Ḥasan, Ḥusain, Fatimah, keluarga 'Aqīl, keluarga Ja'far, keluarga 'Abbās, dan keluarga Ali raḍiyallāhu 'anhum semuanya ahli jahiliah dan murtad. Na’ūżubillāh. Wahai pembaca, bukankah ini adalah bukti nyata yang menunjukkan bahwa mazhab Syi’ah adalah tameng untuk mewujudkan misi-misi jahat terhadap Islam dan pemeluknya, dan bahwa ulama-ulama Syi’ah yang membuat-buat riwayat ini adalah musuh sahabat dan Ahli Bait raḍiyallāhu 'anhum.

 Kedua, keyakinan mereka bahwa sebagian besar sahabat raḍiyallāhu 'anhum pada masa hidup Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam adalah orang-orang munafik.

Syekh mereka, At-Tustariy berkata, “Sedikit yang masuk Islam dan kebanyakan berpura-pura masuk Islam karena mengejar kedudukan Rasul. Mereka diciptakan untuk melakukan kemunafikan dan mencari celah pembangkangan.” ([559])

Syekh mereka, Al-Kāsyāniy berkata, “Di antara orang yag mengambil ilmu dari mereka -yaitu sahabat- sebagiannya tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat keadaan mereka karena mereka meyakini semua sahabat 'udūl (terpercaya) dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang menyimpang dari kebenaran. Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa kebanyakan mereka menyembunyikan kemunafikan, mereka lancang kepada Allah, dan mereka membuat kebohongan atas nama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam dengan bangga dan penuh penyimpangan.” ([560])

Bantahan Telak

Mereka telah meriwayatkan dari imam mereka, Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Sahabat-sahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi berjumlah 12 ribu; 8 ribu dari Madinah, 2 ribu dari Mekah, dan 2 ribu lagi dari orang-orang yang dibebaskan. Tidak dilihat di antara mereka seorang Kadariah, Murji`ah, Khawarij, Muktazilah, maupun pengikut logika. Mereka menangis siang malam sembari berkata, ‘Cabutlah nyawa kami sebelum kami memakan roti yang difermentasi.’” ([561])

Tanggapan:

Allah Ta'ālā telah memberi kesaksian di banyak ayat dalam Al-Qur`ān Al-Karīm berupa keridaan-Nya terhadap para sahabat raḍiyallāhu 'anhum serta pujian kepada mereka. Semisal firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ   ﭗ  ﭘ  ﭙ  ﭚ  ﭛ  ﭜ  ﭝ  ﮊ

"Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah." (QS. At-Taubah: 100)

Seperti firman Allah,

ﮋ ﯳ  ﯴ  ﯵ  ﯶ  ﯷ  ﯸ  ﯹ  ﯺ      ﯻﯼ  ﯽ  ﯾ  ﯿ  ﰀ  ﰁ  ﰂ  ﰃ  ﰄ  ﰅﰆ   ﰇ  ﰈ  ﰉ  ﰊﰋﮊ

"Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Dan Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik." (QS. Al-Ḥadīd: 10)

Seperti firman Allah,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ  ﭙ       ﭚ  ﭛﭜ   ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ   ﭣ  ﭤﭥ  ﮊ

"Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya." (QS. Al-Fatḥ: 29)

Seperti firman Allah,

ﮋ ﮏ  ﮐ  ﮑ  ﮒ   ﮓ  ﮔ  ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚ  ﮛ   ﮜ  ﮝ  ﮞ  ﮟ  ﮠ  ﮡﮊ

"Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat." (QS. Al-Fatḥ: 18)

Juga seperti firman Allah,

ﮋ ﮱ  ﯓ  ﯔ  ﯕ  ﯖ  ﯗ  ﯘ    ﯙ  ﯚ  ﯛ  ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﯟ  ﯠﯡ  ﯢ   ﯣ  ﯤ  ﯥ  ﮊ

"(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya dan (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al-Ḥasyr: 8)

Dan ayat-ayat lain yang semisal.

Maka, bagaimana bisa dibenarkan bagi orang yang berakal untuk menolak petunjuk Al-Qur`ān yang diketahui oleh setiap muslim secara yakin dengan sebab berita-berita bohong seperti ini yang dibuat oleh ulama-ulama Syi’ah, yang tidak takut terhadap kedudukan dan keagungan Tuhan mereka!

 Pertanyaan (102): Sekiranya Anda sebutkan secara ringkas akidah para imam tentang Abu Bakar raḍiyallāhu 'anhu?

Jawab:

·         Dahulu, Ali raḍiyallāhu 'anhu salat di belakang Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu 'anhu dengan penuh keridaan terhadap kepemimpinannya."

Syekh mereka, Aṭ-Ṭabrasiy berkata, “Kemudian Ali raḍiyallāhu 'anhu bangkit dan bersiap untuk salat. Dia pergi ke masjid dan salat di belakang Abu Bakar.” ([562])

Syekh mereka, Aṭ-Ṭūsiy berkata tentang salat Ali di belakang Abu Bakar dan sahabat lainnya raḍiyallāhu 'anhum, “Karena dia (Abu Bakar) muslim, sebab itulah yang terlihat secara lahir.” ([563])

·         Ada riwayat mutawātir dari Ali raḍiyallāhu 'anhu, ia berkata, “Yang paling baik di antara umat ini setelah Nabi: Abu Bakar dan yang kedua Umar.” ([564])

Juga perkataan beliau raḍiyallāhu 'anhu, “Tidaklah didatangkan kepadaku seorang laki-laki yang mendahulukanku atas Abu Bakar dan Umar kecuali aku akan mencambuknya dengan hukuman seorang tukang fitnah.” ([565])

·         Ketika Ali raḍiyallāhu 'anhu ditanya tetang sebab baiatnya kepada Abu Bakar raḍiyallāhu 'anhu dalam kekhilafahan, dia berkata, “Kalaulah bukan karena kami melihat Abu Bakar berhak terhadapnya, tentu kami akan meninggalkannya.” ([566])

·         Ketika dikatakan kepadanya, “Tidakkah engkau memberi wasiat (menunjuk penggantimu)?” Ali raḍiyallāhu 'anhu menjawab, “Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam tidak pernah berwasiat sehingga aku juga harus berwasiat. Tetapi, jika Allah menginginkan kebaikan bagi manusia, Allah akan mengumpulkan mereka kepada yang terbaik di antara mereka, sebagaimana Allah mengumpulkan mereka setelah Nabi mereka ṣallallāhu 'alaihi wa sallam wafat kepada orang yang terbaik di antara mereka (yaitu Abu Bakar).” ([567])

Ali raḍiyallāhu 'anhu berkata di dalam khotbahnya, “Ya Allah! Perbaikilah kami dengan sesuatu yang dengannya Engkau memperbaiki Al-Khulafā` Ar-Rāsyidīn.” Dikatakan, “Siapakah mereka?” Dia menjawab, “Abu bakar dan Umar, dua imam pemberi petunjuk. Siapa yang mengikuti mereka akan dijaga, dan siapa yang mengikuti jejak mereka akan diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” ([568])

Sejumlah orang datang dari Irak menemui imam Syi’ah, Zainal-'Ābidīn Ali bin Ḥusain. Mereka lalu berbicara tentang Abu Bakar, Umar, dan Usman. Ketika mereka selesai berbicara, dia berkata kepada mereka, “Kabarkan kepadaku! Apakah kalian adalah:

ﮋ ﯓ  ﯔ  ﯕ  ﯖ  ﯗ  ﯘ    ﯙ  ﯚ  ﯛ  ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﯟ  ﯠﯡ  ﯢ   ﯣ  ﯤ  ﯥ  ﮊ

"Orang-orang Muhajirin yang dikeluarkan dari negeri dan harta mereka karena mereka mencari keutamaan dan keridaan dari Allah serta mereka menolong Allah dan Rasul-Nya; mereka itulah orang-orang yang jujur.” (QS Al-Ḥasyr: 8). Mereka menjawab, “Tidak!” Dia berkata, “Ataukah apakah kalian adalah:

ﮋ ﯧ  ﯨ  ﯩ  ﯪ  ﯫ    ﯬ  ﯭ  ﯮ  ﯯ  ﯰ   ﯱ  ﯲ  ﯳ  ﯴ   ﯵ  ﯶ  ﯷ  ﯸ  ﯹ  ﯺ   ﯻ     ﯼ    ﯽﯾ   ﮊ

“Orang-orang yang menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum mereka; mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka, dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka dan mengutamakan Muhajirin atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukannya.” (QS Al-Ḥasyr: 9). Mereka menjawab, "Tidak!" Dia kemudian berkata, "Adapun kalian, maka telah mengakui tidak termasuk dalam salah satu dari dua golongan ini (Muhajirin dan Ansar). Sungguh aku juga bersaksi bahwa kalian bukanlah golongan orang yang Allah Ta'ālā firmankan,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ      ﭘ     ﭙ  ﭚ  ﭛ  ﭜ  ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ    ﭡ  ﭢ  ﭣ  ﭤ  ﭥ   ﭦ  ﭧ  ﭨ  ﮊ

"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang beriman (berada) dalam hati kami. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS Al-Ḥasyr: 10). Maka pergilah kalian dariku, semoga Allah membalas perlakuan kalian." ([569])

Abu Ja'far Al-Bāqir ditanya tentang menghias pedang? Dia menjawab, “Tidak mengapa, karena Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu 'anhu telah menghias pedangnya.” Aku (perawi) bertanya, “Engkau mengatakan Aṣ-Ṣiddīq?” Dia menjawab, “Ya, Aṣ-Ṣiddīq. Ya, Aṣ-Ṣiddīq. Ya, Aṣ-Ṣiddīq. Siapa yang tidak mengatakan Aṣ-Ṣiddīq, Allah tidak akan benarkan ucapannya di dunia dan akhirat.”([570])

Sejumlah tokoh dan pemuka Kufah yang membaiat Zaid datang dan berkata, “Apa pendapatmu tentang Abu Bakar dan Umar?” Zaid raḍiyallāhu 'anhu menjawab, “Aku tidak mengucapkan pada mereka kecuali yang baik, sebagaimana aku tidak pernah mendengar tentang mereka berdua dari Ahli Baitku kecuali yag baik. Mereka tidak pernah menzalimi kami atau seorang pun di luar kami. Mereka mengamalkan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya." Ketika orang-orang Kufah mendengar ucapan tersebut mereka menolaknya dan condong kepada saudaranya, Al-Bāqir. Zaid raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Hari ini mereka menolak kami.” Sebab itu, dari ucapan ini mereka dinamakan Rāfiḍah (yakni, kaum yang menolak). ([571])

Imam sekte Muktazilah, Nasywān Al-Ḥimyariy meriwayatkan darinya (Zaid), ketika mereka (orang-orang Kufah) berkata kepadanya raḥimahullāh, “Jika engkau berlepas diri dari keduanya kami menerimamu. Tapi jika tidak, maka kami menolakmu.” Zaid berkata, “Allāhu akbar! Ayahku telah memberitahuku bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam berkata kepada Ali, ‘Akan ada sekelompok orang; mereka mengklaim mencintai kami. Mereka memiliki gelar yang dengannya mereka dikenal. Apabila kalian bertemu mereka, maka bunuhlah mereka karena mereka orang musyrik.’ Pergilah, sungguh kalian adalah Rāfiḍah (kaum yang menolak).” ([572])

 Pertanyaan (103): Apakah para ulama Syi’ah mengikuti imam-imam mereka mengenai keyakinan mereka terhadap Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu 'anhu?

Jawab: Tidak! Bahkan para ulama Syi’ah telah menyatakan secara terbuka tentang klaim kekafiran, kefasikan dan doa laknat terhadap Abu Bakar raḍiyallāhu 'anhu dan mereka tidak ikut imam mereka dalam hal ini. Di antara keyakinan mereka tentang Abu Bakar raḍiyallāhu 'anhu,

·         Bahwa Abu Bakar di sebagian besar umurnya berkhidmat kepada berhala. ([573])

·         Dia penyembah berhala. ([574])

·         Ketika meninggal, dia enggan untuk mengucapkan lā ilāha illallāh. Dia juga mengabarkan tentang dirinya bahwa dia akan masuk ke dalam peti api yang digembok dengan gembok dari api; di dalamnya ada dua belas laki-laki, aku dan rekanku ini. Aku (perawi) bertanya, “Dia Umar?” Dia menjawab, “Ya. Sedangkan sepuluh orang di dasar Jahanam, di atasnya ada batu besar; apabila Allah berkehendak menyalakan Jahanam, Allah mengangkat batu tersebut.” ([575])

Al-Jazā`iriy berkata, “Telah diriwayatkan dalam hadis-hadis khusus bahwa Abu Bakar salat di belakang Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi sementara patung digantung di lehernya, dan dia bersujud kepadanya.” ([576])

·         Mereka mengafirkannya karena ia memerangi orang-orang murtad pengikut Musailamah Al-Każżāb.

Juga karena Abu Bakar raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Sekiranya mereka menghalangiku dari seutas tali atau seekor anak unta yang dulu mereka serahkan kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka.” Perbuatan Abu Bakar ini menurut mereka adalah perbuatan keji dan kezaliman besar serta perbuatan melampaui batas yang nyata. Orang yang mengucapkan kalimat ini telah keluar dari Allah dan agama Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi menurut orang yang paham. Jika mereka mengatakan dia zalim, cukuplah itu sebagai kehinaan, kekufuran, dan kejahilan. ([577])

Syekh mereka, Al-Majlisiy memastikan Abu Bakar raḍiyallāhu 'anhu tidk beriman,([578]) dan bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam tidak membawa Abu Bakar raḍiyallāhu 'anhu ikut ke gua kecuali karena khawatir dia akan mengabarkan kaum musyrikin tentang tempat beliau ṣallallāhu 'alaihi wa sallam!!

Syekh mereka, Ibnu Ṭāwūs berkata, “Di antara riwayat yang menakjubkan bahwa Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi menyertakan Abu Bakar ke gua karena khawatir dia akan menunjuki orang-orang kafir kepadanya. Maka Rasulullah memerintahkan Ali 'alaihissalām untuk tidur di atas kasurnya. Beliau khawatir Ibnu Abi Quḥāfah akan menunjukkan kaum musyrikin kepadanya, sehingga beliau menyertakannya ke gua.” ([579])

Syekh mereka, Abu Ali Al-Aṣfahāniy berkata, “Sebagaimana Fir'aun tidak beriman kepada Allah, tetapi hidup dalam kekafiran dan kesyirikan serta menyakiti dan membuat lelah Ḥujjatullāh Musa 'alaihissalām, yang karenanya Allah mengazab Fir'aun dan para pengikutnya, maka demikian juga Abu Bakar yang terlaknat, dia tidak beriman kepada Allah, dia kafir, musyrik, dan menyakiti serta membuat lelah Ḥujatullāh Amirul Mukminin 'alaihissalām. Oleh sebab itu, Allah akan menyiksanya dengan azab yang paling pedih dan orang-orang yang mengikutinya juga akan dibangkitkan bersamanya dan ditimpakan azab yang paling pedih.” ([580])

Mereka membuat kebohongan bahwa Aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu 'anhu menuduh Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam sebagai tukang sihir! ([581])

Ulama besar kontemporer mereka, Muhammad Bāqir Aṣ-Ṣadr menuduh Aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu 'anhu membeli diri para sahabat raḍiyallāhu 'anhum, dia berkata, “Kita tak perlu merasa heran bila hal itu dilakukan oleh seseorang seperti Aṣ-Ṣiddīq, sebab dialah yang menjadikan harta sebagai salah satu sarana untuk menipu dan mendapat suara (para sahabat).” ([582])

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, “Kita di sini tidak memiliki urusan dengan kedua syekh ini serta apa yang mereka lakukan berupa penyimpangan terhadap Al-Qur`ān, mempermainkan hukum Allah, serta apa yang mereka halalkan maupun haramkan dari diri mereka sendiri dan kezaliman yang mereka praktikkan terhadap Fatimah binti Rasulillah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam dan terhadap anak-anaknya. Tetapi kita hanya akan memperlihatkan kejahilan mereka berdua tentang hukum Allah dan agama.” ([583])

 Pertanyaan (104): Apa keyakinan para imam tentang Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu 'anhu secara ringkas?

Jawab: Ali raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Mereka dipimpin seorang pemimpin; dia menegakkan agama dan istikamah sehingga agama menjadi kukuh.” ([584])

Para penulis Syarḥ An-Nahj, di antaranya Al-Mayṡam Al-Baḥrāniy dan Ad-Danbaliy berkata, “Pemimpin tersebut maksudnya Umar bin Al-Khaṭṭāb. Sedangkan kata “wa ḍarabahu bijirānihi” adalah bentuk kiasan untuk mengungkapkan kekukuhannya sebagimana kukuhnya unta yang turun duduk ke tanah.” ([585])

·         Ali raḍiyallāhu 'anhu berbaiat kepadanya. Dia berkata, “Ketika Abu Bakar menghadapi sekarat, ([586]) dia mengirim utusan kepada Umar dan menunjuknya sebagai penggantinya. Maka kami pun mendengar, kami taat, dan kami memberi nasihat. Dan ia memiliki jejak kehidupan yang baik dan berkah.” ([587])

·         Ali menikahkan putrinya, Ummu Kulṡūm dengan Umar. Disebutkan oleh sejarawan Syi’ah, Ahmad bin Abi Ya’qūb dalam buku tarikhnya, “Pada tahun ini Umar datang kepada Ali bin Abi Ṭālib melamar Ummu Kulṡūm binti Ali, putri Fatimah binti Rasulullah. Ali berkata, “Dia masih kecil.” Umar menjawab, “Aku tidak menginginkan ke mana engkau pergi.” Umar menikahinya dan memberinya mahar 10 ribu dinar.” ([588])

Anekdot Lucu:

Ulama negara Syi’ah Ṣafawiyyah mengatakan bahwa Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu mengirim utusan kepada seorang jin perempuan beragama Yahudi di Najrān dan memerintahkannya. Maka jin tersebut menampakkan diri dalam wujud Ummu Kulṡūm, lalu Ali menikahkan jin tersebut dengan Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu 'anhu.([589])

·         Kekhawatiran Ali raḍiyallāhu 'anhu terhadap keselamatan Umar raḍiyallāhu 'anhu dari bangsa Romawi karena dirinya adalah penyangga umat manusia, tempat berkumpul umat Islam, dan tonggak bangsa Arab.

Ketika Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu 'anhu hendak keluar sendiri untuk memerangi bangsa Romawi, dia berkonsultasi dengan Ali raḍiyallāhu 'anhu. Maka Ali raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Ketika engkau berjalan sendiri menghadapi musuh lalu bertemu mereka, kemudian engkau mendapat musibah, maka tidak ada penolong bagi umat Islam di bagian paling ujung negeri mereka; tidak ada tempat kembali mereka selainmu. Kirimlah kepada mereka laki-laki yang ahli perang dan utuslah bersamanya orang-orang yang tahan ujian dan yang tulus. Apabila Allah memenangkannya maka itu yang engkau inginkan. Tetapi jika ternyata lain, maka engkau menjadi penyangga manusia dan tempat kembali umat Islam.”

Dalam riwayat lain, Ali raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Orang-orang non-Arab ketika melihatmu akan mengatakan: ini tonggak bangsa Arab, jika kalian berhasil membunuhnya, maka kalian akan tenang.” ([590])

·         Harapan Ali raḍiyallāhu 'anhu agar bertemu dengan Allah Ta'ālā dengan membawa seperti amalan Umar raḍiyallāhu 'anhu.

Ketika Abu Lu`lu`ah Al-Majūsiy Al-Fārisiy menikam Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu 'anhu, dua sepupu Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, Ali bin Abi Ṭālib dan Abdullah bin 'Abbās segera masuk menemuinya. Ibnu 'Abbās raḍiyallāhu 'anhu mengisahkan, “Kami mendengar suara Ummu Kulṡūm binti Ali bin Abi Ṭālib berkata, ‘Aduhai Umar!’ Sedang bersamanya beberapa wanita menangis, sehingga rumah penuh dengan tangisan. Ibnu 'Abbās berkata, "Demi Allah! Keislamanmu adalah kejayaan, kepemimpinanmu adalah penaklukan, dan engkau mengisi dunia dengan keadilan.” Umar berkata, “Apakah engkau bersaksi untukku dengan yang demikian itu, wahai Ibnu 'Abbās?” Sepertinya dia tidak mau bersaksi, sehingga dia diam. Maka Ali 'alaihissalām berkata kepada Ibnu 'Abbās, “Katakan ya! Niscaya aku bersamamu (menjadi saksi).” Maka Ibnu 'Abbās berkata, “Ya.”

Ketika Umar raḍiyallāhu 'anhu selesai dimandikan, dikafani, dan dia ditutupi dengan kain, Ali raḍiyallāhu 'anhu memandangnya dan berkata, “Tidak ada seorang pun yang lebih aku sukai bila aku menghadap Allah dengan sebuah catatan amal daripada laki-laki yang ditutup ini.” ([591])

Pemulian Umar raḍiyallāhu 'anhu kepada Ahli Bait raḍiyallāhu 'anhum sampai ke tingkat dia mengutamakan Ḥusain melebihi putranya, Abdullah. Bahkan ia mengucapkan kalimat pujiannya yang populer kepada Ḥusain, “Tidak ada yang menumbuhkan rambut di kepala (yakni tidak ada yang menjadi sebab kemuliaan) selain kalian!” ([592])

 Pertanyaan (105): Apakah ulama-ulama Syi’ah mengikuti keyakinan imam-imam mereka mengenai Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu 'anhu?

Jawab: Tidak!! Bahkan mereka menyatakan secarang terang-terangan vonis kafir dan fasik serta doa laknat kepada Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu 'anhu.

Di antara yang mereka yakini tentang Umar raḍiyallāhu 'anhu, sebagaimana yang dikatakan oleh syekh mereka, Al-Jazā`iriy bahwa Umar raḍiyallāhu 'anhu adalah seorang banci, memiliki penyakit yang obatnya adalah air mani laki-laki, dan celaan buruk lainnya yang tidak pantas kami kutip. ([593])

Ulama-ulama Syi’ah mengomentari perbuatan Ali menikahkan putrinya Ummu Kulṡūm dengan Umar raḍiyallāhu 'anhum bahwa secara logika tidak ada larangan menikahi orang kafir, tetapi hal itu hanya dilarang secara syariat. Dan mereka mengklaim perbuatan Ali tersebut memiliki ḥujjah paling kuat dalam hukum syariat, yaitu tidak dilarang secara syariat menikahkan orang kafir secara paksa, asal bukan secara sukarela. ([594])

Mereka membuat kebohongan bahwa kekufuran Umar raḍiyallāhu 'anhu sama dengan kekufuran Iblis, bahkan mungkin lebih parah, dan bahwa Iblis sendiri terheran-heran lantaran beratnya pelipatgandaan siksaan terhadap Umar raḍiyallāhu 'anhu. Iblis berkata, “Siapakah laki-laki ini yang Allah lipat gandakan baginya siksa (lebih dariku), padahal aku telah menyesatkan manusia seluruhnya?” ([595])

Imam besar mereka, Al-Khumainiy, menyifati Khalifah Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu 'anhu dengan kufur dan zindik. Dia berkata, “Rasul yang telah berjuang, berkorban serta bersabar menghadapi berbagai rintangan demi memberi petunjuk dan hidayah kepada mereka. Beliau menutup matanya sementara di telinganya terdengar bisikan Ibnu Al-Khaṭṭāb yang dibangun di atas kebohongan dan terpancar dari amal perbuatan kafir dan zindik serta menyelisihi ayat-ayat yang disebutkan dalam Al-Qur`ān Al-Karīm.” ([596])

Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Tidak ada alasan bagi orang yang memiliki akal untuk meragukan kekafiran Umar. Laknat Allah dan Rasul-Nya kepadanya dan kepada setiap orang yang masih menganggapnya muslim serta semua orang yang tidak mau melaknatnya.” ([597])

Ulama-ulama Syi’ah melakukan perayaan pada hari kematiannya raḍiyallāhu 'anhu dan menjadikannya sebagai hari raya. Mereka membuat kebohongan bahwa imam mereka, Ḥasan Al-Askariy menetapkan hari kematian Umar sebagai hari raya. Seorang penyair bernama Al-Kumait menggubah syair di hadapan Imam Al-Bāqir 'alaihissalām,

Sungguh dua orang yang bertahan di atas dosanya

                         Yang menyembunyikan fitnah dalam hati keduanya

yang melepas ikatan janji dari lehernya

                         yang memikul dosa di atas pundak keduanya

laksana tukang sihir (jibt) dan tagut dalam permisalannya

                         semoga laknat Allah kepada ruh mereka

Maka Al-Bāqir 'alaihissalām pun tertawa. ([598])

Mereka memberi Abu Lu`lu`ah gelar Bābā Syujā’uddīn. ([599])

Ulama kontemporer mereka, Abu Ali Al-Aṣfahāniy berkata, “Tahukah kalian siapa Abu Lu`lu`ah itu?

Abu Lu`lu`ah adalah seorang laki-laki dari Iran. Dalam versi Persia memiliki nama Fairuz. Dia termasuk di antara tokoh umat Islam dan para mujahidin. Bahkan termasuk di antara pembela sejati Amirul Mukminin 'alaihissalām. Laki-laki besar ini telah mendapatkan kebahagian besar karena doa Aṣ-Ṣiddīqah Az-Zahrā` 'alaihassalām dikabulkan lewat dua tangannya yang penuh berkah. Dia telah membebaskan umat manusia dari keburukan dan kejahatan Umar. Setelah sekian tahun lamanya (dari kematiannya), kami memberikan ucapan yang tulus: semoga Allah Ta'ālā merahmatimu, wahai Abu Lu`lu`ah! Engkau telah memasukkan kebahagiaan ke dalam dada anak keturunan mendiang Az-Zahrā`. Diharapkan kepada para pembela Amirul Mukminin 'alaihissalām agar berziarah kepada penghuni pembaringan yang dipenuhi cahaya tersebut di Kāsyān. Semoga rahmat Allah tercurahkan kepadanya.” ([600])

Mereka membuat kebohongan bahwa Umar raḍiyallāhu 'anhu menuduh Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam sebagai tukang sihir!! ([601])

Imam besar mereka, Al-Khumainiy membuat satu bab dalam Kasyful-Asrār: “Penyelisihan Umar terhadap Kitab Allah.” ([602])

Terakhir, ulama-ulama Rāfiḍah berkata, “Telah terjadi ijmak atas kekafirannya setelah dia menampakkan keimanan.” ([603])

 Pertanyaan (106): Apa keyakinan ulama-ulama Syi’ah mengenai Abu Bakar dan Umar raḍiyallāhu 'anhumā secara bersamaan?

Jawab: Mereka telah berijmak untuk mewajibkan melaknat mereka berdua serta berlepas diri dari keduanya raḍiyallāhu 'anhumā. Bahkan mereka memasukkan hal ini dalam perkara yang wajib diketahui dalam agama Imāmiyyah. ([604])

Telah disebutkan sebelumnya bahwa orang yang mengingkari perkara yang telah pasti dan wajib diketahui adalah kafir dalam akidah mereka.

Juga mereka berkeyakinan bahwa orang yang melaknat keduanya pada sore hari tidak ditulis untuknya satu dosa pun hingga pagi hari. ([605])

Al-Majlisiy membuat kebohongan, dari seorang mantan budak milik Ali bin Ḥusain 'alaihimassalām, dia berkata; Aku pernah bersamanya 'alaihissalām di sebagian khalwatnya. Aku berkata, “Aku memiliki hak darimu. Tidakkah engkau mengabarkan padaku, siapa dua laki-laki itu, Abu Bakar dan Umar?” Dia menjawab, “Mereka kafir. Kafir juga orang yang mencintai keduanya.” ([606])

Juga berkeyakinan bahwa mereka berdua tidak memiliki sedikit pun keislaman. ([607])

Al-Majlisiy berkata, “Abu Bakar dan Umar tidak pernah sama sekali berhijrah kepada Islam. Mereka tetap di atas kekafirannya. Mereka masuk Islam secara munafik (pura-pura) dan berhijrah untuk merusak. Mereka masuk dalam firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﮘ  ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮊ

“Orang-orang Arab badui itu lebih keras kekafiran dan kemunafikannya.” (QS. At-Taubah: 97) ([608])

Ulama mereka sekarang, 'Abdul-Ḥusain Al-Marasytiy berkata, “Abu Bakar dan Umar keduanya otak penyesatan umat ini hingga hari Kiamat.” ([609])

Mereka membuat kebohongan, dari Abu Abdillah 'alaihissalām terkait firman Allah Tabāraka wa Ta'ālā,

ﮋ ﯹ  ﯺ  ﯻ  ﯼ  ﯽ  ﯾ       ﯿ  ﰀ  ﰁ  ﰂ  ﰃ      ﰄ  ﰅ  ﰆ   ﮊ

“Tuhan kami, perlihatkanlah kepada kami dua golongan yang telah menyesatkan kami, yaitu golongan jin dan manusia, agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami agar keduanya menjadi yang paling bawah (hina) (QS. Fuṣṣilat: 29). Dia berkata, “Yaitu mereka berdua.”

Kemudian dia berkata, “Si fulan adalah setan.” ([610])

Al-Majlisiy berkata, “Mereka berdua maksudnya Abu Bakar dan Umar. Dan maksud fulan: Umar.” ([611])

Ulama Syi'ah yang lain, Al-Kulainī membuat dua riwayat bohong dalam kitab Al-Kāfī mereka tentang hukum orang yang mengklaim bahwa Abu Bakar dan Umar raḍiyallāhu 'anhumā memiliki bagian dalam Islam. Dia membuat kebohongan terhadap Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat serta tidak disucikan dan bagi mereka azab yang pedih: orang yang mengklaim imamah dari Allah yang bukan untuknya, orang yang mengingkari seorang imam dari Allah, dan orang yang mengklaim bahwa mereka berdua memiliki bagian dalam Islam.” ([612])

Mereka memberi keduanya nama: dua berhala Quraisy. Pendusta mereka, Ali Al-Karkiy berkata, “Telah masyhur bahwa Amirul Mukminin 'alaihissalām membaca doa kunut dalam witir dengan melaknat dua berhala Quraisy. Maksudnya; Abu Bakar dan Umar.” ([613])

Di dalam buku Al-Baladul-Amīn wa Ad-Dir’ul-Ḥaṣīn, karya syekh mereka, Ibrahim bin Ali Al-Kaf’amiy (900 H) disebutkan doa masyhur dari ulama-ulama Syi’ah untuk kebinasaan Abu Bakar dan Umar serta kedua putri mereka Aisyah dan Hafsah raḍiyallāhu 'anhum, yang mereka nisbahkan secara dusta kepada Ali raḍiyallāhu 'anhu. Bagi mereka doa ini adalah zikir paling utama di antara zikir pagi dan petang. Zikir itu berbunyi:

“Ya Allah! Laknatlah dua berhala Quraisy, dua tukang sihir mereka, dua tagut mereka beserta kedua putrinya. Keduanya yang telah memakan karunia-Mu, mengingkari nikmat-Mu, menyelisihi perintah-Mu, mendustakan wahyu-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, mengganti agama-Mu, menyelewengkan Kitab-Mu, meninggalkan hukum-hukum-Mu, membatalkan kewajiban-kewajiban-Mu, mengingkari ayat-ayat-Mu, memusuhi wali-wali-Mu dan loyal kepada musuh-musuh-Mu, merusak hamba-Mu, dan menghancurkan negeri-Mu. Ya Allah! Laknatlah keduanya dan orang-orang yang membela keduanya! Mereka telah menghancurkan rumah Nabi, menutup pintunya, membongkar lotengnya, merobohkan atapnya ke tanah, membalik bagian atas menjadi bawah dan bagian luar menjadi dalam. Mereka telah menumpas habis keluarganya, menggenosida pembela-pembelanya, membunuh anak-anak kecilnya, mengosongkan mimbarnya dari waṣiy dan pewaris ilmunya, mengingkari kenabiannya, dan menyekutukan tuhan mereka. Perberatlah azab keduanya, kekalkan mereka di dalam neraka Saqar. Tahukah kalian apa itu Saqar? Azab yang tidak menyisakan. Ya Allah! Laknatlah keduanya sebanyak kemungkaran yang mereka lakukan, sebanyak kebenaran yang mereka sembunyikan, sebanyak mimbar yang mereka naiki, sebanyak orang munafik yang mereka dekatkan, sebanyak orang beriman yang mereka siksa, sebanyak wali yang mereka sakiti, sebanyak orang terlaknat yang mereka beri tempat, sebanyak pengikut yang mereka usir dan orang kafir yang mereka bela, sebanyak imam yang mereka paksa, sebanyak kewajiban yang mereka ganti, sebanyak aṡar (hadis) yang mereka ingkari, sebanyak keburukan yang mereka sembunyikan, sebanyak darah yang mereka tumpahkan, sebanyak hadis yang mereka palsukan, sebanyak hukum yang mereka balik, sebanyak kekufuran yang mereka ciptakan, sebanyak kedustaan yang mereka poles, sebanyak warisan yang mereka rampas, sebanyak harta fai` (rampasan perang) yang mereka curi, sebanyak dosa yang mereka makan, sebanyak harta khumus (milik Ahli Bait) yang mereka ambil, sebanyak kebatilan yang mereka bangun, sebanyak kezaliman yang mereka hamparkan, sebanyak kezaliman yang mereka sebar, sebanyak janji yang mereka ingkari, sebanyak perjanjian yang mereka langgar, sebanyak perkara halal yang mereka haramkan, sebanyak perkara haram yang mereka halalkan, sebanyak kemunafikan yang mereka rahasiakan, sebanyak pengkhinatan yang mereka rencanakan, sebanyak perut yang mereka sobek, sebanyak tulang rusuk yang mereka patahkan, sebanyak dokumen yang mereka sobek, sebanyak urusan yang mereka hamburkan, sebanyak perkara hina yang mereka muliakan, sebanyak perkara mulia yang mereka rendahkan, sebanyak hak yang tidak mereka tunaikan, sebanyak imam yang mereka selisihi. Ya Allah! Laknatlah mereka dengan setiap ayat yang mereka selewengkan, setiap kewajiban yang mereka tinggalkan, setiap Sunnah yang mereka ubah, setiap hukum yang mereka tinggalkan, setiap hubungan rahim yang mereka putus, setiap kesaksian yang mereka sembunyikan, setiap wasiat yang mereka telantarkan, setiap sumpah yang mereka langgar, setiap dakwaan yang mereka batalkan, setiap kebaikan yang mereka ingkari, setiap tipu daya yang mereka buat, setiap khianat yang mereka hadirkan, setiap aral yang mereka lewati, setiap melata yang mereka gulingkan, setiap kebohongan yang mereka lakukan. Ya Allah! Laknatlah mereka dalam rahasia yang disembunyikan dan terang-terangan, laknat yang terus menerus dan abadi, tidak ada batas akhirnya, tidak ada angka ujungnya, laknat yang keluar awalnya dan tidak kembali lagi akhirnya. Juga kepada para pembantu dan pembela mereka, orang-orang yang mencintai dan loyal kepada mereka, yang tunduk kepada mereka, yang bangkit dengan ḥujjah mereka, yang mengikuti ucapan mereka, yang membenarkan hukum mereka.

Kemudian dia berkata, “Ya Allah! Laknatlah mereka dengan azab yang berlindung darinya penghuni neraka. Āmīn yā Rabbal-'Ālamīn! 4 kali.” ([614])

Al-Majlisiy berkata tentang doa ini dan kedudukannya di kalangan mereka, “Doa ini memiliki kedudukan tinggi dan agung. Diriwayatkan oleh Abdullah bin 'Abbās, dari Ali 'alaihissalām bahwa dia membacanya dalam doa kunut. Dia berkata, ‘Orang yang berdoa dengannya seperti orang yang memanah bersama Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi dalam perang Badr, Uḥud, dan Ḥunain dengan satu juta anak panah.”([615])

Mereka juga menamakan keduanya raḍiyallāhu 'anhumā dengan Fir'aun dan Hāmān. Mereka membuat kebohongan bahwa perawi mereka, Al-Mufaḍḍal, bertanya kepada Abu Abdillah raḥimahullāh, “Tuanku, siapakah Fir'aun dan Hāmān itu?” Dia menjawab, “Abu Bakar dan Umar.”([616])

Juga mereka sebut dengan dua berhala. Al-'Ayyāsyiy membuat kebohongan bahwa Abu Ḥamzah bertanya kepada Abu Ja'far, “Siapakah musuh-musuh Allah itu -semoga Allah menjadikanmu baik-?” Dia menjawab, “Yaitu empat berhala.” Aku bertanya, “Siapa mereka?” Dia menjawab, “Abu Al-Fuṣail, Ruma’, Na’ṡal, Mu’āwiyah, dan siapa saja yang mengikuti agama mereka. Siapa yang memusuhi mereka, dia telah memusuhi musuh-musuh Allah.” ([617])

Juga mereka namakan keduanya dengan Al-Lāt dan Al-'Uzzā. ([618])

Bahkan mereka meyakini bahwa semua dosa yang dilakukan sejak masa Adam hingga akhir zaman adalah perbuatan Abu Bakar dan Umar!?

Mereka berdua raḍiyallāhu 'anhumā sebagaimana bunyi riwayat mereka dari Abu Abdillah, bahwa keduanya yang membunuh Hābīl bin Adam 'alaihissalām, yang mengumpulkan api untuk Ibrahim 'alaihissalām, yang melemparkan Yusuf 'alaihissalām ke dalam sumur, yang menahan Yunus 'alaihissalām dalam perut ikan, yang membunuh Yahya 'alaihissalām, yang menyalib Isa 'alaihissalām, yang menyiksa Jarjīs dan Dāniyāl 'alaihimassalām, yang memukul Salmān Al-Fārisiy, yang menyalakan api di depan pintu Amirul Mukminin, Fatimah, Ḥasan, dan Ḥusain 'alaihimussalām untuk membakar mereka, yang memukul tangan Aṣ-Ṣiddīqah Al-Kubrā, Fatimah, dengan cambuk, yang menendang perutnya dan menyebabkannya menggugurkan Muḥsin, yang meracuni Ḥasan 'alaihissalām, yang membunuh Ḥusain 'alaihissalām, yang membunuh anak-anaknya serta sepupu-sepupunya dan para pembelanya, yang menawan keturunan Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi, yang menumpahkan darah keluarga Muhammad 'alaihimussalām dan semua darah orang beriman yang ditumpahkan, semua farji yang dinikahi secara haram, semua riba dan harta haram, kekejian, dosa, dan kezaliman sejak masa Adam 'alaihissalām hingga bangkit imam kita Al-Qā`im 'alaihissalām. Semua itu akan dihitung oleh Al-Qā`im terhadap keduanya lalu membuktikannya hingga keduanya mengakuinya. Kemudian diperintahkan agar keduanya dikisas pada waktu itu dengan dakwaan kezaliman setiap orang yang hadir. Lalu keduanya disalib di pohon dan dia memerintahkan api yang keluar dari bumi lalu membakar keduanya berikut pohon itu. Lalu dia memerintahkan angin lalu menerbangkan dan membuang mereka ke laut.

Al-Mufaḍḍal bertanya, “Tuanku, apakah itu azab terakhir mereka?”

Abu Abdillah 'alaihissalām berkata, “Sama sekali tidak, wahai Mufaḍḍal! Demi Allah, keduanya akan datang lalu mereka dikisas dengan semua kezaliman mereka, sampai-sampai keduanya dibunuh seribu kali setiap hari dan setiap malam. Keduanya akan datang kepada azab yang Allah kehendaki pada mereka.” ([619])

Terakhir:

Ulama Syi’ah sepakat bahwa keduanya tetap di atas kesyirikan; bahwa kemunafikan mereka tampak sejak masa hidup Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.([620])

Mereka juga berkeyakinan bahwa keduanya raḍiyallāhu 'anhumā kekal dalam api neraka karena menyerobot Ali raḍiyallāhu 'anhu dalam mengambil tampuk kekhalifahan!

Syekh mereka, Al-Mufīd berkata, “Imāmiyyah dan banyak dari kalangan Zaidiyyah telah sepakat bahwa khalifah-khalifah yang mendahului Amirul Mukminin 'alaihissalām adalah orang-orang yang tersesat dan fasik. Karena mereka mengakhirkan Amirul Mukminin 'alaihissalām dari kedudukan yang diberikan oleh Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi maka mereka adalah orang-orang yang durhaka dan zalim, dan kelak mereka kekal dalam api neraka sebab kezaliman mereka.” ([621])

Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Saya katakan: riwayat-riwayat yang menunjukkan kafirnya Abu Bakar dan Umar serta orang-orang yang semisal mereka, juga menunjukkan pahala melaknat mereka serta berlepas diri dari mereka serta apa yang terkandung dalam bidah mereka, terlalu banyak untuk disebutkan dalam jilid ini ataupun jilid-jilid yang banyak. Tetapi pada apa yang kami sebutkan cukup bagi orang yang Allah inginkan hidayah untuknya kepada jalan yang lurus.” ([622])

Syekh mereka sekarang, Abu Ali Al-Aṣfaḥāniy berkata, “Adapun perkara menetapkan kekufuran keduanya maka termasuk perkara yang disepakati dan ditunjukkan oleh riwayat-riwayat yang banyak yang kita sebutkan sebagiannya dalam rangka mengharapkan berkah.” ([623])

Tanggapan:

Apakah khurafat ini dapat dibenarkan oleh orang yang memiliki sedikit akal sehat?!

Bantahan Telak

Al-Kulainiy meriwayatkan bahwa seorang wanita bertanya kepada Ja'far Aṣ-Ṣādiq tentang Abu Bakar dan Umar raḍiyallāhu 'anhumā; apakah engkau mengakui kepemimpinan mereka dan mencintai mereka?”

Dia berkata padanya, “Cintai dan akuilah kepemimpinan keduanya!" Wanita tersebut berkata, “Berarti kelak ketika aku bertemu dengan Tuhanku aku mengatakan engkau memerintahkanku untuk mencintai keduanya.” Dia menjawab, “Ya.” ([624])

Bahkan Zaid bin Ali bin Ḥusain bin Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhum mengabarkan pengikut-pengikutnya bahwa dia belum pernah mendengar satu pun di antara ayah dan kakek-kakeknya yang berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar. ([625])

Syekh mereka, Abu Ja'far Muhammad bin Ḥabīb berkata, “Dengan sebab Zaid, kelompok ini diberi nama Rāfiḍah, karena mereka membaiatnya raḍiyallāhu 'anhu, setelah itu mereka mengujinya. Tetapi ternyata dia membela Abu Bakar dan Umar sehingga mereka menolaknya. Sejak hari itu mereka dinamakan Rāfiḍah.” ([626])

 Pertanyaan (107): Sekiranya Anda sebutkan pada kami beberap sikap Ali raḍiyallāhu 'anhu terhadap Usman raḍiyallāhu 'anhu secara ringkas?

Jawab: Ya. Di antara sikap tersebut:

·         Usman memberikan harta kepada Ali sebagai mahar Fatimah raḍiyallāhu 'anhum. Syekh mereka, Al-Irbiliy dalam kisah Ali raḍiyallāhu 'anhu yang menjual baju perangnya demi mahar Fatimah raḍiyallāhu 'anhā mengisahkan: Ali raḍiyallāhu 'anhu bercerita, “Aku segera pergi dan menjualnya seharga 400 dirham hitam hajariyyah kepada Usman bin 'Affān. Setelah aku menerima dirham tersebut dan dia menerima baju perangku, dia berkata, “Wahai Abu Hasan! Bukankah aku lebih pantas dengan baju ini dan engkau lebih pantas dengan uang dirham itu dariku?’ Aku menjawab, ‘Benar.’ Dia berkata, ‘Baju perang ini hadiah dariku kepadamu.’ Maka aku membawa baju dan dirham tersebut lalu menghadap kepada Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam, lalu aku menyerahkan baju perang dan uang dirham itu di hadapan beliau dan menceritakan perkara Usman. Maka beliau mendoakannya dengan kebaikan.” ([627])

·         Baiat Ali kepada Usman. Ali raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Ketika Umar ditikam, dia menjadikanku satu di antara enam orang. Aku masuk di mana dia memasukkanku dan aku tidak mau memecah belah jemaah umat Islam dan menyelisihi mereka. Ketika kalian membaiatnya, maka aku membaiatnya.” ([628])

Bantahan Telak Terhadap Para Ulama Syi'ah

Ini yang dilakukan oleh Ali raḍiyallāhu 'anhu serta baiatnya kepada Amirul Mukminin Usman raḍiyallāhu 'anhu.

Lalu, seperti apa hukum yang diberikan oleh ulama Syi’ah kepada orang yang membaiat Usman raḍiyallāhu 'anhu?

Mereka menghukuminya kafir! ([629]) Semoga Allah menyelamatkan kita dari perilaku mereka.

·         Ali memukul kedua putranya Ḥasan dan Ḥusain karena tidak membela Usman raḍiyallāhu 'anhum.

Ahli sejarah mereka, Al-Mas’ūdiy berkata, “Ali 'alaihissalām masuk ke dalam rumah seperti orang bingung dan sedih. Dia berkata kepada kedua putranya, “Bagaimana Amirul Mukminin bisa dibunuh padahal kalian ada di pintu?!” Dia menampar muka Ḥasan dan memukul dada Ḥusain. Dia mencela Muhammad bin Ṭalḥah dan melaknat Abdullah bin Az-Zubair.” ([630])

 Pertanyaan (108): Apakah ulama-ulama Syi’ah mengikuti keyakinan imam-imam mereka terhadap diri Usman bin 'Affān raḍiyallāhu 'anhu?

Jawab: Tidak! Bahkan mereka mengumumkan pengafiran dan pelaknatan terhadap Usman raḍiyallāhu 'anhu. Di antara yang mereka yakini tentang Usman raḍiyallāhu 'anhu bahwa tidak ada nama Usman dalam lisan manusia kecuali yang kafir. Mereka membuat kebohongan bahwa Ḥużaifah berkata, “Tidak ada keraguan tentang kafirnya Usman. Alḥamdulillāh.” ([631])

Mereka juga meyakini bahwa para sahabat, tabiin, orang-orang saleh, dan semua yang menyaksikan mereka dari kalangan orang beriman telah sepakat bahwa Usman bin 'Affān halal darahnya, harus segera dibunuh, dan tidak sah untuk dimandikan, disalati, dan dikuburkan” raḍiyallāhu 'anhu([632])

Ulama mereka menyebutkan ada ijmak dan riwayat mutawātir tentang berlepas diri dari Usman serta keluarnya ia dari hukum Islam dan iman. Raḍiyallāhu 'anhu([633])

Mereka membuat kebohongan tentang ijmak para sahabat dan tabiin atas penghalalan untuk membunuh Usman, mengalirkan darahnya, dan mengafirkannya. ([634])

Karena Usman raḍiyallāhu 'anhu menurut akidah ulama Syi’ah telah kafir dan berhak dibunuh. ([635])

Ulama-ulama Syi’ah menyerupakan Amirul Mukminin Usman raḍiyallāhu 'anhu dengan hiena; ketika akan menangkap mangsa dia mendekatinya lalu memakannya. Itu karena dihadirkan kepadanya seorang perempuan untuk diberikan hukuman had, maka dia mendekatinya lalu memerintahkannya untuk dirajam. Al-Kalbiy di dalam bukunya Al-Maṡālib berkata, “Usman termasuk orang yang dipermainkan dan bertingkah laku seperti banci serta memukul rebana.” ([636])

Mereka juga meyakini bahwa cecak termasuk pembela Usman raḍiyallāhu 'anhu, mereka membuat kebohongan, ada seorang laki-laki dari kelompok ini bersama Abu Ja'far 'alaihissalām. Dia membicarakan sesuatu kepadanya tentang penyebutan Usman. Ternyata seekor cecak menggeram dari atas dinding. Abu Ja'far 'alaihissalām berkata, “Tahukah kalian apa yang dikatakannya?” Aku berkata, “Tidak.” Dia berkata, “Cicak itu mengatakan; hendaklah kamu berhenti dari menyebut Usman, atau aku akan mencaci Ali.” ([637])

yekh Syi’ah Ṣafawiyyah, Al-Majlisiy berkata, “Sesungguhnya Usman telah menghapus tiga perkara dari Al-Qur`ān: keutamaan Amirul Mukmin Ali 'alaihissalām dan Ahli Bait 'alaihimussalām, celaan terhadap Quraisy dan khalifah yang tiga. Misalnya ayat: ‘Aduhai sekiranya aku tidak pernah menjadikan Abu Bakar sebagai teman setia.’” ([638])

Mereka juga meriwayatkan bahwa Usman raḍiyallāhu 'anhu memukul Abdullah bin Mas’ūd untuk meminta mushafnya sehingga dia bisa mengganti dan merubahnya seperti yang dilakukan pada dirinya, agar tidak ada Al-Qur`ān yang sahih dan terjaga. ([639])

Syekh mereka, Al-Jazā`iriy berkata, “Adapun Usman, mereka telah memberi kesaksian bahwa dia telah murtad dari keimanan.” ([640])

Dia juga berkata, “Menurutku, Pada zaman Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi Usman termasuk yang menyatakan Islam dan menyembunyikan kemunafikan.” ([641]) Mereka meyakini bahwa orang yang tidak memiliki rasa permusuhan dalam hatinya kepada Usman, tidak meyakini kehormatannya halal, dan tidak meyakininya kafir, maka dia adalah musuh Allah dan Rasul-Nya, kafir kepada apa yang Allah turunkan.([642])

Mereka membuat kebohongan, dari Abu Abdillah 'alaihissalām tentang firman Allah 'Azza wa Jalla,

ﮋ ﮬ  ﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﮊ

“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir'aun …” (QS. At-Taḥrīm: 11), bahwa dia berkata, “Ini adalah perumpamaan yang Allah buat untuk Ruqayyah binti Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam yang dinikahi oleh Usman bin 'Affān. Dia berkata, dan firman Allah,

ﮋ ﯝ  ﯞ  ﯟ   ﯠ  ﮊ

‘Dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya’ (QS. At-Taḥrīm: 11), maksudnya, dari laki-laki ketiga dan perbuatannya.

ﮋ ﯡ  ﯢ  ﯣ       ﯤ    ﯥ  ﮊ

‘Dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim’ (QS. At-Taḥrīm: 11) maksudnya Bani Umayyah.” ([643])

Mereka menafsirkan firman Allah,

ﮋ ﮆ  ﮇ  ﮈ  ﮉ      ﮊ   ﮋ      ﮌ 

“Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu yang berkuasa atasnya?” (QS. Al-Balad: 5), maksudnya Usman raḍiyallāhu 'anhu ketika dia membunuh putri Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Al-Qummiy membuat kebohongan di dalam tafsirnya, dari Abu Ja'far 'alaihissalām tentang firman Allah, “Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu yang berkuasa atasnya?” Maksudnya Na’ṡal ketika dia membunuh putri Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. “Dia mengatakan, ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak,’” yaitu yang dia siapkan untuk Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dalam pasukan Al-'Usrah. “Apakah dia mengira tidak ada sesuatu yang melihatnya” Dia berkata, “Kerusakan yang ada pada dirinya.” “Bukankah kami telah menjadikan untuknya sepasang mata?” maksudnya Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. “Dan lidah” maksudnya Amirul Mukminin 'alaihissalām. “Dan sepasang bibir” maksudnya Ḥasan dan Ḥusain 'alaihimassalām.([644])

ﮋ         ﭙ         ﭚ  ﭛ  ﭜ   ﭝﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ  ﭣ  ﮊ

"Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka." (QS. Al-Kahfi: 5)

Mereka menyebutkan bahwa wanita yang dibunuh adalah Ruqayyah raḍiyallāhu 'anhā. Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Dan dia membunuh Ruqayyah binti Rasulillah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi serta berzina dengan budak perempuannya.” ([645])

Tanggapan:

Karena dampak dusta adalah dipermalukan, maka mereka dalam riwayat lain mengatakan bahwa yang dibunuh adalah Ummu Kulṡūm!?

Syekh mereka, Al-Jazā`iriy berkata, “Adapun Ummu Kulṡūm, dia dinikahi oleh Usman setelah Ruqayyah saudarinya. Dia meninggal padanya, yaitu dia memukulnya dengan keras sampai meninggal karenanya.” ([646])

Mereka membuat kebohongan bahwa dia mematahkan tulang-tulang rusuknya.([647])

Mereka berkata, “Ruqayyah binti Rasulullah meninggal karena dipukul oleh suaminya, Usman.” ([648])

 Pertanyaan (109): Apa sikap ulama-ulama Syi’ah terhadap Allah Ta'ālā karena menakdirkan Usman bin 'Affān raḍiyallāhu 'anhu sebagai Amirul Mukminin setelah Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu 'anhu?

Jawab: Mereka menolak beribadah kepada Allah Ta'ālā dengan alasan karena Dia Subḥānahu wa Ta'ālā menjadikan Usman raḍiyallāhu 'anhu sebagai Amirul Mukminin.

Imam besar mereka, Al-Khumainiy -semoga Allah menghinakannya- berkata, “Kita tidak menyembah Tuhan yang membangun bangunan besar untuk melaksanakan ibadah dan keadilan serta beragama, lalu dia menghancurkannya sendiri serta menempatkan Yazid, Mu’āwiyah, Usman, dan lainnya dari kalangan orang-orang zalim pada jabatan kekuasan kepada manusia, dan tidak menentukan arah umat setelah Nabi-Nya wafat.” ([649])

 Pertanyaan (110): Sekiranya Anda jelaskan kepada kami akidah ulama-ulama Syi’ah terkait khalifah yang tiga raḍiyallāhu 'anhum dengan ringkas?

Jawab: Ulama mereka meyakini bahwa di antara perkara yang wajib diketahui dalam agama Imāmiyyah adalah berlepas diri dari Abu Bakar, Umar, dan Usman. ([650])

Dan orang yang mengingkari perkara yang wajib diketahui menurut mereka adalah kafir! Sebagaimana hal ini telah disebutkan berulang kali.

·         Mereka meyakini bahwa tempat tinggal khalifah yang tiga raḍiyallāhu 'anhum adalah di dasar Jahanam dalam peti yang digembok, di atas sumur itu ada batu besar; apabila Allah hendak menyalakan neraka Jahanam Dia membuka batu tersebut dari sumur sehingga Jahanam meminta perlindungan dari gelora sumur itu. ([651])

·         Wajib melaknat mereka raḍiyallāhu 'anhum di penghujung setiap salat. Syekh mereka, Al-Kulainiy membuat kebohongan, dari Ḥusain bin Ṡuwair dan Abu Salamah As-Sarrāj, mereka berkata, "Kami mendengar Abu Abdillah 'alaihissalām melaknat empat laki-laki dan empat perempuan di penghujung setiap salat wajib: fulan, fulan, fulan, dan Mu’āwiyah; dia menyebutkan nama mereka. Juga fulanah, fulanah, Hindun, dan Ummul-Ḥakam saudari Mu’āwiyah.”([652])

Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Nama-nama samaran yang pertama adalah nama-nama khalifah yang tiga secara berurutan. Sedangkan dua nama yang disamarkan berikutnya adalah Aisyah dan Ḥafṣah.” ([653])

·         Siapa yang berlepas diri dari mereka raḍiyallāhu 'anhum di suatu malam lalu meninggal di malam tersebut dia pasti masuk surga. ([654])

Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Termasuk perkara yang wajib diketahui dalam agama Imāmiyyah adalah berlepas diri dari Abu Bakar, Umar, dan Usman.”([655])

·         Tempat, waktu, dan keadaan yang paling mulia dan paling tepat untuk melaknat mereka ‘alaihim al-la’nah adalah ketika kamu berada di tempat kencing. Ucapkanlah di setiap kali membuang, menghabiskan, dan membersihkan sebanyak beberapa kali setelah selesai kencing: Ya Allah! Laknatlah Umar, kemudian Abu Bakar dan Umar, kemudian Usman dan Umar, kemudian Mu’āwiyah dan Umar, kemudian Yazīd dan Umar, kemudian Ibnu Ziyād dan Umar, kemudian Ibnu Sa’d dan Umar, kemudian Syamr dan Umar, kemudian seluruh pasukan mereka dan Umar. ([656])

·         Mereka meyakini makna tobat adalah meninggalkan kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Usman raḍiyallāhu 'anhum, juga Bani Umayyahو dan kembali kepada kepemimpinan Ali raḍiyallāhu 'anhu. Syekh mereka, Al-Qummiy membuat kebohongan atas nama Abu Ja'far raḥimahullāh bahwa dia berkata terkait firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﯤ    ﯥ    ﯦ  ﮊ

“Maka berilah ampunan bagi orang-orang yang bertobat” (QS. Gāfir: 7) yaitu dari kepemimpinan fulan, fulan, dan Bani Umayyah.

ﮋ ﯧ  ﯨ  ﮊ

“Dan mereka mengikuti jalan-Mu” (QS. Gāfir: 7) yaitu kepemimpinan Ali Wali Allah.” ([657])

 Pertanyaan (111): Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang kedua istri Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, Aisyah dan Ḥafṣah raḍiyallāhu 'anhumā?

Jawab:

·         Mereka meyakini Aisyah dan Ḥafṣah raḍiyallāhu 'anhumā adalah kafir.

Ulama-ulama Syi’ah membuat kebohongan, dari Aṣ-Ṣādiq 'alaihissalām dalam firman Allah, “Dan ingatlah ketika Nabi merahasiakan kepada sebagian istrinya sebuah ucapan” (QS. At-Taḥrīm: 3), yaitu Hafṣah. Aṣ-Ṣādiq 'alaihissalām berkata, “Dia telah kafir ketika mengucapkan, “Siapakah yang memberitahukanmu.” (QS. At-Taḥrīm: 3). Allah berfirman kepadanya dan kepada saudarinya (Aisyah), “Apabila kalian berdua bertobat kepada Allah maka sungguh hati kalian telah condong.” (QS. At-Taḥrīm: 4). Maksudnya hati kalian telah kafir. Zaig artinya kekafiran.” ([658])

Syekh mereka, Muhammad Ḥusain Aṭ-Ṭabṭabā`iy Al-‘Irāqiy (1402 H) berkata di dalam tafsirnya, dari Abu Abdillah 'alaihissalām, bahwa dia berkata, “Firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﮏ  ﮐ  ﮑ   ﮒ  ﮓ      ﮔ  ﮕ  ﮖ  ﮗﮘ  ﮊ

"Allah membuat istri Nūḥ dan istri Lūṭ sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir." (QS. At-Taḥrīm: 10) adalah permisalan yang dibuat oleh Allah kepada Aisyah dan Ḥafṣah, karena mereka berdua bersekongkol terhadap Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam dan menyebarkan rahasianya.” ([659])

·         Mereka juga meyakini bahwa Aisyah dan Ḥafṣah serta kedua ayah mereka (Abu Bakar dan Umar) raḍiyallāhu 'anhum, merekalah yang telah membunuh Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.

Syekh mereka, Al-‘Ayyāsyiy membuat kebohongan, Dari Abu Abdillah 'alaihissalām, dia berkata, “Tahukah kalian, apakah Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam meninggal atau dibunuh? Allah berfirman,

ﮋ ﭽ  ﭾ  ﭿ   ﮀ   ﮁ  ﮂ  ﮃﮄ  ﮊ

"Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?" (QS. Āli 'Imrān: 144). Beliau diracun sebelum meninggal. Mereka berdualah yang memberinya minum sebelum meninggal. Sehingga kami mengatakan, ‘Mereka berdua dan kedua ayah mereka adalah makhluk paling buruk yang Allah ciptakan.’” ([660])

Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Al-‘Ayyāsyiy meriwayatkan dengan sanad muktabar dari Aṣ-Ṣādiq bahwa Aisyah dan Hafṣah -la’natullāh ‘alaihimā wa ‘alā abawaihimā- telah membunuh Rasulullah dengan racun yang telah mereka rencanakan.” ([661])

Ulama kontemporer mereka, Abu Ali Al-Aṣfahāniy berkata, “Aisyah dan Ḥafṣah sama seperti ayahnya. Mereka adalah makhluk jelek dan menyebabkan banyak fitnah. Di antaranya memberi racun kepada Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi. Ketika mengetahui kesimpulan ini, kita harus membenci kedua makhluk jelek dan najis ini serta melaknatnya.” ([662])

·         Ulama-ulama Syi’ah meyakini bahwa Aisyah dan Ḥafṣah raḍiyallāhu 'anhumā telah jatuh dalam zina.

Guru para ulama mereka, Al-Qummiy bahkan bersumpah terhadap hal tersebut dan berkata, “Demi Allah! Tidaklah maksud "berkhianat" dalam firman Allah,

ﮋ ﮟ  ﮊ

"lalu kedua istri itu berkhianat" (QS. At-Taḥrīm: 10) kecuali perbuatan zina. Demi Allah, hendaklah ditegakkan had kepada si fulanah lantaran zina yang dia lakukan di jalan.” ([663])

 Pertanyaan (112): Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang Ummul Mukminin Aisyah raḍiyallāhu 'anhā?

Jawab:

·         Mereka meyakini Aisyah raḍiyallāhu 'anhā adalah kafir secara ijmak.

Syekh mereka, Ibnu Uṣfūr berkata, “Kita meyakini dan sepakat bahwa Mu’āwiyah, Ṭalḥah, Az-Zubair, dan si wanita (Aisyah) serta orang-orang yang ikut di An-Nahrawān dan lainnya yang memerangi Ali, Ḥasan, dan Ḥusain 'alaihimussalām adalah orang-orang kafir.” ([664])

Syekh mereka, Muhammad Ṭāhir Asy-Syīrāziy berkata, “Di antara yang menunjukkan keimaman kedua belas imam kita adalah bahwa Aisyah kafir dan berhak mendapatkan api neraka.” ([665]) Raḍiyallāhu 'anhā.

Juga mereka meyakini bahwa Aisyah raḍiyallāhu 'anhā telah murtad setelah wafatnya Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. ([666])

·         Mereka meyakini bahwa salah satu pintu api neraka yang tujuh diperuntukkan untuk Aisyah raḍiyallāhu 'anha.

Mereka berkata terkait tafsiran firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﮫ  ﮬ  ﮭ  ﮊ

"Dia memiliki tujuh pintu." (QS. Al-Ḥijr: 44). Dari Ja'far bin Muhammad 'alaihissalām dia berkata, ‘Neraka Jahanam didatangkan sedang dia memiliki tujuh pintu, dan pintu yang keenam untuk para pasukan (penentang Ali).” ([667])

·         Para ulama Syi’ah meyakini bahwa Aisyah raḍiyallāhu 'anhā seorang pezina.

Si durjana mereka, Rajab Al-Bursiy membuat kebohongan bahwa Ḥasan bin Ali berkata kepada Ummul Mukminin Aisyah raḍiyallāhu 'anhum, “Kamu mengeluarkan sisa harta berwarna hijau berisikan apa yang kamu kumpulkan dari hasil pengkhianatan (zina), lalu kamu mengambil 40 dinar; jumlah yang kamu tidak tahu nilainya, lalu kamu membagikannya kepada para pembenci Ali -ṣalawātullāh 'alaihi- dari kaum Taim dan 'Adiy, dan kamu membalas dendam dengan memeranginya.” Maka Aisyah berkata, “Itu semuanya benar terjadi.” ([668])

ﮋ ﯛ  ﯜ  ﯝ  ﯞ   ﯟ  ﮊ

"Mahasuci Engkau (Wahai Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar." (QS. An-Nūr: 16)

·         Ulama tafsir mereka sepakat bahwa Allah tidak pernah menyatakan Aisyah raḍiyallāhu 'anhā bersih dari zina, dan bahwa ayat-ayat yang turun di awal surah An-Nūr adalah pernyataan bersih dari zina untuk Nabi-Nya, bukan untuk Aisyah. ([669])

Kita berlindung kepada Allah dari orang-orang yang mendustakan Allah yang telah menyatakan kesucian Ummul Mukminin raḍiyallāhu 'anhā.

·         Mereka meyakini bahwa Al-Mahdi yang mereka tunggu akan menegakkan hukuman hudud terhadap Aisyah raḍiyallāhu 'anhā.

Si durjana mereka, Al-Majlisiy berkata, “Apabila Al-Mahdi telah keluar, dia akan menghidupkan Aisyah lalu menegakkan hukuman hudud kepadanya.” ([670])

Ulama mereka yang bernama Aṣ-Ṣadūq (orang jujur) -padahal ia Al-Każūb (tukang bohong)- membuat kebohongan atas nama Abu Ja'far raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Ketahuilah, apabila pemimpin kita telah muncul, Aisyah akan dikembalikan kepadanya supaya dia menegakkan hudud kepadanya.” ([671])

·         Mereka meyakini bahwa Aisyah raḍiyallāhu 'anhā telah merusak imannya sendiri.

Syekh mereka, Al-’Ayyāsyiy membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh, bahwa dia berkata, “Perempuan yang mengurai benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali adalah Aisyah. Dialah yang merusak imannya.” ([672])

Tanggapan:

Ulama-ulama Syi’ah menuduh Ummul Mukminin Aisyah dengan tuduhan zina, padahal Allah telah menyatakan dia bersih darinya di dalam Kitab Al-Qur`ān. Dan mereka meyakini bahwa Aisyah raḍiyallāhu 'anhā adalah wanita keji. Klaim ini adalah celaan dan perbuatan menyakitkan yang paling besar terhadap Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam karena mereka mengatakan beliau suami wanita pezina.

Padahal Allah telah berfirman,

ﮋ ﯛ  ﯜ  ﯝ  ﯞﯟ   ﯠ  ﯡ  ﯢ  ﯣﯤ  ﯥ  ﯦ   ﯧ  ﯨﯩ  ﯪ  ﯫ        ﯬ  ﯭ  ﯮ  ﮊ

"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)." (QS. An-Nūr: 26)

Wallāhi, billāhi, dan tallāhi! Tidaklah ada yang menuduh Ummul Mukminin Aisyah dengan tuduhan zina kecuali orang yang kafir lagi munafik yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.

 Pertanyaan (113): Apa akhir dari keyakinan ulama-ulama Syi’ah dalam urusan Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersama kedua istrinya Aisyah dan Ḥafṣah raḍiyallāhu 'anhumā?

Jawab: Imam mereka, Ali Garawī -salah satu guru besar Ḥauzah- berkata, “Kemaluan Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi pasti akan masuk api neraka karena telah menggauli sebagian wanita musyrik.” ([673]) Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan.

Bantahan Telak Terhadap Ulama Syi'ah

Saya tutup pembahasan yang berkaitan dengan akidah ulama-ulama Syi’ah terhapad Ummul Mukminin raḍiyallāhu 'anhā ini, berupa mengafirkannya, melaknatnya, dan lain sebagainya dengan riwayat berikut yang menghancurkan semua bangunan ajaran Rāfiḍah.

Syekh mereka, Abu Ali Muhammad bin Muhammad Al-Asy’aṡ Al-Kūfiy menisbahkan kepada Ḥusain bin Ali raḍiyallāhu 'anhu bahwa Abu Żarr telah mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah sebelum meninggal meminta siwak lalu memberikannya kepada Aisyah dan berkata, “Hendaklah kamu membasahinya dengan ludahmu.” Maka Aisyah pun melakukannya. Lalu siwak itu diberikan kepada belaiu, dan beliau segera bersiwak dengannya dan berkata, “Ludahku di atas ludahmu, wahai Ḥumairā`.”

Kemudian beliau menggerakkan kedua bibirnya seperti orang yang berbicara, lalu beliau meninggal. ([674])

Bagaimana pun juga, meskipun ucapan-ucapan keji dari para ulama keturunan Rāfiḍah di atas terasa pahit, namun amalan para sahabat Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam serta istri-istrinya -semoga Allah meridai mereka semua- telah putus, maka dengan celaan itu, Allah ingin agar pahala mereka tidak putus (karena adanya pahala dicela tanpa hak).

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭑ  ﭒ  ﭓﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ  ﭙ       ﭚ  ﭛﭜ   ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ   ﭣ  ﭤﭥ  ﭦ   ﭧ  ﭨ  ﭩ  ﭪ    ﭫﭬ  ﭭ  ﭮ  ﭯ   ﭰﭱ  ﭲ   ﭳ  ﭴ  ﭵ           ﭶ  ﭷ  ﭸ  ﭹ  ﭺ   ﭻ  ﭼ  ﭽ  ﭾ  ﭿ   ﮀ   ﮁﮂ  ﮃ  ﮄ  ﮅ   ﮆ  ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮍ   ﮊ

"Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Di wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar."(QS. Al-Fatḥ: 29)

Para ulama Syi’ah sendiri telah menyebutkan bahwa Ali raḍiyallāhu 'anhu memberi nama sebagian anak laki-lakinya dengan nama ketiga Al-Khulafā` Ar-Rāsyidn, yaitu Abu Bakar dan ibunya Lailā binti Mas’ūd Al-Ḥanẓaliyyah, Umar dan ibunya Ummu Ḥabīb Aṣ-Ṣahbā` binti Rabī’ah Al-Bakriyyah, Usman dan ibunya Ummul-Banīn, lalu Usman Al-Aṣgar dan ibunya adalah Asmā` binti ‘Umais Al-Khaṡ’amiyyah. ([675])

Demikian juga yang dilakukan oleh Ḥasan raḍiyallāhu 'anhu. Syekh mereka, Al-Ya’qūbiy berkata, “Ḥasan memiliki delapan anak laki-laki, mereka adalah …, Umar, Al-Qāsim, Abu Bakar, dan Abdurrahman dari budak-budak wanita yang berbeda.” ([676])

Demikian juga yang dilakukan oleh Ḥusain raḍiyallāhu 'anhu. Dia memberi nama salah satu anak laki-lakinya dengan nama Abu Bakar raḍiyallhu 'anhu.([677])

 Pertanyaan (114): Apakah hakikat tanah Fadak sebagaimana yang disebutkan oleh buku-buku Syi’ah?

Jawab: Fadak adalah sebuah desa di Khaibar, dan ada yang mengatakan ia berada di wilayah Ḥijāz. Di sana terdapat mata air dan kebun kurma, termasuk di antara yang Allah berikan kepada Rasul-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.

Setelah Rasul ṣallallāhu 'alaihi wa sallam wafat, Fatimah mengirim utusan kepada khalifah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu 'anhu, untuk meminta warisannya dari Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam di tanah Fadak. Syaikh mereka, Ibnu Al-Mayṡam menyebutkan bahwa Abu Bakar berkata kepadanya, “Bagimu apa yang menjadi bagian ayahmu. Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam mengambil dari tanah Fadak apa yang menjadi kebutuhan kalian dan membagi sisanya serta membawa sebagiannya fi sabilillah. Kewajiban saya kepadamu untuk melakukan seperti yang beliau lakukan.” Dia pun menerima yang demikian itu dan mengambil kesepakatan atas hal itu dengannya. Maka Abu Bakar mengambil hasilnya, lalu menyerahkan apa yang mencukupi kebutuhan mereka. Kemudian khalifah-khalifah setelahnya melakukan hal yang sama. ([678])

Zaid bin Ali bin Ḥusain raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Demi Allah! Seandainya urusan ini kembali kepadaku, niscaya aku akan memutuskan padanya dengan keputusan Abu Bakar.” ([679])

Bantahan:

Di antara kontradiksi mereka, bahwa mereka meriwayatkan di dalam kitab Ali raḍiyallāhu 'anhu, “Ternyata di dalamnya berbunyi, ‘Sesungguhnya wanita tidak mendapatkan bagian sedikit pun dari tanah peninggalan seorang laki-laki yang wafat meninggalkan mereka.’ Abu Ja'far berkata, ‘Demi Allah, ini adalah tulisan tangan Ali 'alaihissalām yang didiktekan oleh Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi.’” ([680])

Al-Kulainiy meriwayatkan, dari Abu Ja'far 'alaihissalām, dia berkata, “Wanita tidak mendapat warisan sedikit pun dari harta tanah.” ([681])

 Pertanyaan (115): Apakah buku-buku mereka menyebutkan bahwa Allah murka kepada mereka dan bahwa Fatimah murka kepada Ali raḍiyallāhu 'anhu?

Jawab: Ya!

Mereka meriwayatkan dari Abu Ḥasan Musa 'alaihissalām, dia berkata, “Allah 'Azza wa Jalla murka terhadap kaum Syi’ah, lalu Allah memberikanku pilihan antara aku atau mereka.” ([682])

Al-Māzandarāniy berkata, “Yaitu karena banyaknya penyelisihan mereka serta minimnya ketaatan mereka.” ([683])

Tanggapan:

Ini adalah kesaksian dari imam maksum mereka tentang akidah mereka! Yaitu bahwa Allah murka kepada kaum Syi’ah, karena mazhab mereka sesat. Wahai pemuda-pemuda Syi’ah, lalu untuk apa bertahan di atas mazhab yang penganutnya dimurkai?!

Mereka juga meriwayatkan kemurkaan Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan putri beliau Fatimah raḍiyallāhu 'anhā kepada Ali raḍiyallāhu 'anhu ketika Ali hendak menikahi putri Abu Jahl. Bahkan Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menasihati Ali raḍiyallāhu 'anhu dengan mengatakan, “Wahai Ali, tidakkah engkau mengetahui bahwa Fatimah adalah darah dagingku dan aku berasal dari Fatimah? Siapa yang menyakitinya maka dia telah menyakitiku, dan siapa yang menyakitiku maka dia telah menyakiti Allah. Siapa yang menyakitinya setelah aku meninggal maka sama seperti menyakitinya ketika aku masih hidup, dan siapa yang menyakitinya ketika aku masih hidup maka sama seperti menyakitinya setelah aku meninggal.” ([684])

Mereka meriwayatkan bahwa Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, “Fatimah adalah darah dagingku, dan dia adalah ruh yang ada dalam tubuhku; akan menyakitiku apa yang menyakitinya dan akan membahagiakanku apa yang membahagiakannya.” ([685])

Demikian juga Ali raḍiyallāhu 'anhu pernah membuat marah Fatimah raḍiyallāhu 'anhā, yaitu ketika dia melihat kepala Ali 'alaihissalām ada di pangkuan budak wanita. Dia berkata, “Wahai Abu Ḥasan, engkau telah melakukannya?” Ali menjawab, “Demi Allah, tidak, wahai Putri Muhammad. Aku tidak pernah melakukan apa pun. Apa yang engkau inginkan?” Dia berkata, “Izinkan aku pulang ke rumah ayahku Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam.” Ali menjawabnya, “Aku telah mengizinkanmu.” Maka dia memakai jilbabnya serta memasang cadarnya dan pulang menuju Nabi. ([686])

 Pertanyaan (116): Apa arti sifat maksum seorang imam? Dan apakah ini termasuk masalah yang disepakati di kalangan mereka?

Jawab: Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Ketahuilah, bahwa sekte Imāmiyyah -semoga Allah meridai mereka- sepakat terhadap adanya sifat maksum para imam 'alaihimussalām dari dosa, baik yang kecil maupun yang besar, sehingga mereka sama sekali tidak melakukan dosa, baik yang disengaja maupun karena lupa, salah takwil, atau karena lupa kepada Allah Subḥānahu.” ([687])

Tanggapan:

Gambaran sifat maksum yang dilukiskan oleh Al-Majlisiy serta yang dia umumkan tentang kesepakatan kaum Syi’ah di atasnya, ini tidak terwujud pada nabi-nabi dan rasul utusan Allah, sebagaimana ditunjukkan oleh nas-nas yang jelas dari Al-Qur`ān, As-Sunnah, dan ijmak umat. Umat Islam meyakini bahwa umat ini akan terpelihara dengan Kitab Allah Ta'ālā dan Sunnah Rasul-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.

Adapun ulama-ulama Syi’ah, mereka meyakini bahwa umat ini terpelihara dari kesesatan dengan imam mereka yang bersembunyi lagi penakut. Karena mereka meyakininya sama seperti Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Bahkan mereka meyakininya lebih utama daripada Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, sebagaimana telah disebutkan. Keimaman menurut akidah mereka adalah kepanjangan dan keberlanjutan dari kenabian. ([688])

 Pertanyaan (117): Apakah ulama mereka meyakini imam-imam mereka tidak mengalami lalai dan lupa?

Jawab: Ya, bahkan ini termasuk perkara yang pasti dan wajib diketahui dalam mazhab mereka. Ulama kontemporer mereka, Ibnu Al-Muẓaffar berkata, “Termasuk di antara sifat yang harus ada dan yang penting, bahkan termasuk syarat keimaman adalah ia harus maksum (suci) dari sifat lalai, salah, dan lupa.” ([689])

Ulama kontemporer mereka yang lain, Muhammad Āṣif Al-Muhassiniy berkata, “Ijmaknya kaum Syi’ah sudah pasti atasnya.” ([690])

Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Para ulama Imāmiyyah sepakat tentang kemaksuman para nabi dan para imam -ṣalawātullāhi 'alaihim- dari dosa kecil dan besar, baik yang disengaja maupun karena salah dan lupa, baik sebelum kenabian dan keimaman maupun setelahnya, bahkan sejak mereka dilahirkan hingga mereka menghadap kepada Allah Subḥānahu. Tidak ada yang menyelisihi kecuali Aṣ-Ṣādūq Muhammad bin Bābawaih dan gurunya Ibnu Al-Walīd qaddasallāhu rūḥahumā. Menurutnya mereka bisa lalai kepada Allah Ta'ālā, tetapi bukan lalai yang disebabkan oleh setan, dan sepertinya penyelisihan mereka berdua tidak merusak ijmak yang ada karena nasab (mazhab) mereka yang telah diketahui.” ([691])

Abdullah Syubbar berkata, “Perantara antara Allah Ta'ālā dan hambanya, baik seorang nabi maupun imam harus seorang yang bersifat maksum. Dan ini adalah di antara pendapat khusus sekte Imāmiyyah.” ([692])

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, (Merekalah) para imam tidak bisa kita baynagkan akan mengalami lupa atau lalai.” ([693])

Keyakinan inilah yang menjadi sebab munculnya akidah badā` dan taqiyyah, sebagaimana akan dijelaskan in syā`Allāh. Sehingga apabila terjadi pertentangan atau kontradiksi dalam ucapan mereka, mereka mengatakan ini adalah badā` atau taqiyyah, sebagaimana diakui oleh imam mereka Sulaiman bin Jarīr yang meninggalkan mazhab Imāmiyyah dan diikuti oleh sejumlah pengikut mereka.

Tanggapan:

Pernah ditanyakan kepada imam mereka Ar-Riḍā raḥimahullāh, “Di antara orang-orang Kufah ada sekelompok orang yang meyakini bahwa Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam tidak pernah lupa di dalam salatnya?” Maka dia menjawab, “Mereka dusta, semoga Allah melaknat mereka. Yang tidak lupa hanyalah Allah yang tidak ada tuhan yang hak kecuali Dia.” ([694])

Mahabenar Allah Yang Mahaagung,

ﮋ ﯕ   ﯖ  ﯗ  ﯘ  ﯙ   ﯚ  ﯛ  ﯜﯝ  ﮊ

"Kami akan membacakan (Al-Qur`ān) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa, kecuali jika Allah menghendaki. Sungguh, Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi." (QS. Al-A’lā: 6-7)

Kesalahan Memalukan

Para ulama Syi’ah terdahulu mengumumkan berlepas diri dari akidah ini, bahkan mereka mengafirkan orang yang meyakininya. Mereka menyebutkan bahwa menolak riwayat-riwayat yang menetapkan lupanya Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dapat membatalkan agama dan syariat.

Ibnu Bābawaih berkata, “Kelompok orang-orang guluw (ekstrem) dan kelompok Al-Mufawwiḍah -semoga Allah melaknat mereka- mengingkari adanya sifat lupa pada diri Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi…. Seandainya boleh menolak riwayat-riwayat yang datang dalam masalah ini tentu akan boleh juga menolak riwayat-riwayat semuanya, dan menolak riwayat-riwayat ini mengandung pembatalan agama dan syariat.” ([695])

Tetapi ulama-ulama Syi’ah belakangan menganggapnya termasuk perkara pasti dan wajib diketahui di kalangan mereka. Orang yang mengingkari perkara seperti menurut mereka adalah kafir, sebagaimana telah disebutkan. Bahkan syekh mereka, Abdullah Syubbar berkata tentang orang yang membolehkan adanya sifat lupa dari Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa hal itu menyebabkan ia kafir. ([696])

Jadi, ulama-ulama mereka dari kalangan terdahulu mengafirkan ulama-ulama yang belakangan, dan yang belakangan mengafirkan yang terdahulu!

ﮋ ﭿ    ﮀ      ﮁ    ﮂ  ﮃ   ﮄ  ﮅ   ﮆ  ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ

“Seandainya dia berasal dari selain Allah, mereka pasti mendapatkan banyak pertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisā`: 82)

 Pertanyaan (118): Sekiranya Anda meringkaskan kami bagaimana ulama Syi’ah mengembangkan akidah mengenai kemaksuman imam-imam mereka?

Jawab: Sebelumnya telah disebutkan bahwa guru pertama mereka Ibnu Saba` Al-Yahūdiy meyakini ketuhanan Ali raḍiyallāhu 'anhu, tetapi tidak pernah dinukil darinya pernyataan sifat maksum Ali menurut teori ulama-ulama Syi’ah.

·         Kemudian paham kemaksuman ini dikembangkan oleh syekh mereka, Hisyām bin Al-Ḥakam, dia berkata, “Imam tidak melakukan dosa.” ([697])

Dan syekh mereka, Ālu Kāsyif Al-Giṭā` mensyaratkan pada imamnya agar dia maksum dari kesalahan dan dosa seperti Nabi. ([698])

Tanggapan:

Ucapan mereka bahwa imam mereka tidak berdosa bertentangan dengan keyakinan mereka dalam takdir yang menyatakan kebebasan serta memiliki kehendak, dan bahwa hamba menciptakan sendiri perbuatannya! Perkara yang menunjukkan kepada Anda, wahai Pembaca yang objektif, bahwa paham maksumnya para imam ini di kalangan mereka telah ada sebelum munculnya mazhab mereka dalam takdir yang mereka ambil dari Muktazilah pada abad ketiga.

·         Kemudian pemahaman maksumnya para imam ini dikembangkan oleh guru mereka Ibnu Bābawaih Al-Qummiy yang digelari Aṣ-Ṣādūq (381 H), dia berkata tentang akidah yang dia yakini pada imamnya,

“Mereka maksum dan suci dari semua dosa. Mereka tidak melakukan dosa kecil maupun besar, mereka tidak menyelisihi Allah terkiat apa yang diperintahkan kepada mereka, mereka melaksanakan apa yang mereka diperintahkan. Siapa yang menafikan sifat maksum ini dari mereka di sebagian keadaan mereka, maka ia berarti telah menghukumi mereka jahil, dan siapa yang menghukumi mereka jahil maka dia kafir.

Keyakinan kami pada mereka bahwa mereka maksum dan memiliki sifat kesempurnaan. Sedangkan sifat ilmu (mengetahui) adalah yang pertama dan yang terakhir dari urusan mereka. Mereka tidak boleh disifati di sebagian keadaan mereka dengan sifat kekurangan, bermaksiat, maupun sifat tidak mengetahui.” ([699])

·         Kemudian paham ini dikembangkan lagi oleh syekh mereka, Al-Mufīd (41 H), dia berkata, “Sifat maksum adalah sifat mulia yang Allah Ta'ālā berikan kepada hamba yang mukalaf, sehingga tidak akan terjadi padanya perbuatan maksiat dan meninggalkan ketaatan bersama kemampuan melakukan keduanya.”([700])

Tanggapan:

Anda dapat perhatikan, wahai para Pembaca, adanya percampuran antara paham ini dengan sebagian pemikiran Muktazilah berupa ideologi sifat pemberian Allah dan ideologi kehendak manusia. Jadi bukan makna maksum, bahwa Allah memaksakan imam mereka untuk meninggalkan maksiat, tetapi maknanya; Dia menciptakan pada mereka sifat-sifat yang dengannya mereka meninggalkan maksiat dengan pilihannya sendiri.

·         Kemudian paham ini dikembangkan oleh syekh mereka Al-Majlisiy, ia berkata, “Ulama-ulama Imāmiyyah sepakat atas maksumnya para nabi dan para imam -ṣalawātullāhi 'alaihim- dari dosa kecil dan besar, baik yang disengaja maupun karena salah dan lupa, baik sebelum kenabian dan keimaman maupun setelahnya, bahkan sejak mereka dilahirkan hingga mereka menghadap kepada Allah Ta'ālā.”([701])

Kesalahan Memalukan

Al-Majlisiy sendiri berkata, “Secara umum permasalahan ini sangat membingungkan, disebabkan banyaknya riwayat dan ayat yang yang menunjukkan terjadinya sifat lupa pada mereka 'alaihimussalām. Sedangkan kesepakatan ulama Syi’ah, kecuali orang-orang yang menyeleneh di antara mereka, mengatakan mereka tidak boleh lupa.” ([702])

Tanggapan:

Ini adalah pengakuan dari syekh mereka, Al-Majlisiy, bahwa ijmaknya kaum Syi’ah terkait maksumnya imam-imam mereka menyelisihi riwayat-riwayat mereka sendiri, dan ini menjadikan mereka harus berkata dengan sangat berat hati bahwa ulama-ulama Syi’ah telah bersepakat di atas suatu kesesatan!!

 Pertanyaan (119): Apakah bisa bārakallāhu fikum Anda sebutkan beberapa hal yang diklaim oleh ulama Syi’ah sebagai keutamaan imam-imam mereka?

Jawab: Ya! Para ulama Syi’ah banyak menyebutkan riwayat-riwayat palsu yang menunjukkan keutamaan imam-imam mereka dan bahwa mereka kadang sampai kepada derajat ketuhanan!

Oleh karena itu, para ulama mereka telah membuat banyak bab di dalam buku-buku terpercaya mazhab Syi’ah. Di antaranya:

1.       Bab Bahwa Mereka Lebih Berilmu daripada Para Nabi 'alaihimussalām. Di dalamnya terdapat 13 hadis. Di antaranya:

Kebohongan yang mereka buat atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Demi Tuhan Kakbah dan bangunan ini! -tiga kali-. Seandainya aku ada di antara Musa dan Khaḍir, aku akan sampaikan kepada mereka bahwa aku lebih berilmu daripada mereka berdua, dan aku akan kabarkan kepada mereka apa yang tidak mereka ketahui.” ([703])

2.       Bab Mengutamakan Mereka 'alaihimussalām di Atas Para Nabi dan Semua Manusia Serta Membuat Perjanjian Kepada Mereka Dari Para Nabi, Malaikat, dan Semua Makhluk, dan Bahwa Para Rasul Ulul-'Azmi Menjadi Ulul-'Azmi Karena Mencintai Mereka ṣalawātullāhi ‘alihim.([704]) Di dalamnya terdapat 88 hadis.

Di antaranya; kebohongan yang mereka buat atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Demi Allah! Tidaklah Allah menciptakan Adam dengan Tangan-Nya dan meniupkan ruh ciptaan-Nya padanya kecuali dengan sebab kepemimpinan Ali 'alaihissalām. Tidaklah Allah berbicara langsung kepada Musa kecuali dengan sebab kepemimpinan Ali 'alaihissalām. Dan tidaklah Allah menegakkan Isa putra Maryam sebagai mukjizat bagi alam semesta kecuali dengan sebab tunduk kepada Ali 'alaihissalām.” Kemudian dia berkata, “Perkara ini saya ringkas: Tidak ada makhluk yang berhak untuk melihat Allah kecuali dengan perbadatan terhadap kami.” ([705])

Dalam riwayat yang lain, “Hal itu diingkari oleh Yunus, maka Allah menyekapnya di dalam perut ikan hingga dia mengakuinya.” ([706])

Imam besar mereka, Al-Khumainiy berkata, “Imam memiliki kedudukan terpuji, derajat yang tinggi, dan khilāfah takwīniyyah (kekuasaan penciptaan) di mana semua isi alam semesta ini tunduk kepada kepemimpinan dan kekuasaannya. Merupakan perkara pasti yang wajib diketahui dalam mazhab kita bahwa para imam memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh malaikat yang didekatkan maupun nabi yang diutus.” ([707])

3.       Bab Doa Para Nabi Dikabulkan Dengan Tawasul dan Meminta Syafaat Kepada Mereka ṣalawātullāhi ‘alaihim ajma’īn. ([708]) Di dalamnya terdapat 16 hadis.

Di antaranya: dari Ar-Riḍā 'alaihissalām, dia berkata, “Manakala Nuh hampir tenggelam, dia segera berdoa kepada Allah dengan bertawasul pada hak kami, maka Allah selamatkan dia dari tenggelam. Tatakala Ibrahim dilemparkan ke dalam api, dia berdoa kepada Allah dengan bertawasul pada hak kami, maka Allah jadikan api itu dingin dan aman baginya. Dan bahwa Musa ketika dia membuat jalan di laut, dia berdoa kepada Allah dengan bertawasul pada hak kami, maka laut itu dibuat kering. Dan ketika orang-orang Yahudi ingin membunuh Isa dan dia berdoa kepada Allah dengan bertawasul pada hak kami maka dia selamat dari percobaan pembunuhan itu lalu Allah mengangkatnya kepada-Nya.” ([709])

Tanggapan:

Ini semua adalah klaim-klaim jahiliah yang bodoh! Karena imam-imam mereka belum memiliki wujud pada masa nabi-nabi 'alaihimussalām tersebut hidup. Ini merupakan ajakan untuk menyekutukan Allah Subḥānahu wa Ta'ālā oleh ulama-ulama Syi’ah, karena mereka menjadikan kunci dan asas pengabulan doa pada tawasul menyebut nama imam-imam mereka.

Para nabi berdoa kepada Allah 'Azza wa Jalla dengan menyebut nama Allah dan menauhidkan-Nya. Sebagaimana firman Allah Subḥānahu wa Ta'ālā tentang Yunus 'alaihissalām,

ﮋ ﮘ  ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞ     ﮟ  ﮠ  ﮡ       ﮢ  ﮣ  ﮤ  ﮥ  ﮊ

"... Maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, “Tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-Anbiyā`: 87)

4.       Bahwa mereka memiliki ilmu tentang apa yang ada di langit dan di bumi, ilmu tentang apa yang telah ada dan yang akan ada, tentang apa yang terjadi pada siang dan malam serta jam demi jam, dan mereka memiliki ilmu para nabi bahkan lebih.([710])

5.       Bab Bahwa Mereka 'alaihimussalām Mengenal Manusia Dengan Hakikat Iman dan Hakikat Nifak, Mereka Memiliki Kitab Berisikan Nama-Nama Penduduk Surga, Nama-Nama Pengikut Mereka, dan Musuh-Musuh Mereka, dan Bahwa Kabar Yang Mereka Dapatkan Tidak Membuat Mereka Lupa Tentang Keberadaan Mereka. ([711])

6.       Bab Bahwa Para Imam Itu, Jika Hendak Tahu Mereka Segera Tahu. Di dalamnya terdapat 3 hadis. ([712])

7.       Bab Bahwa Para Imam 'alaihimussalām Mengetahui Kapan Mereka Akan Mati dan Mereka Tidak Akan Mati Kecuali Dengan Keinginan Mereka. Di dalamnya terdapat 8 hadis. ([713])

8.       Keadaan para pengikutnya dan ilmu apa saja yang dibutuhkan umat tidak ada yang tersembunyi dari mereka. Para imam juga mengetahui musibah-musibah yang akan menimpa mereka dan mereka bersabar. Sekiranya mereka berdoa kepada Allah untuk menghilangkan musibah tersebut niscaya doa mereka dikabulkan. Mereka juga mengetahui apa yang ada di dalam hati, ilmu tentang kematian dan musibah, berbagai kebenaran dan tentang kelahiran.([714])

9.       Bahwa kalau bukan karena Amirul Mukminin 'alaihissalām niscaya Jibril tidak akan tahu siapa Tuhannya, bahkan tidak akan mengetahui namanya sendiri. Mereka membuat kebohongan, bahwa Jibril 'alaihissalām pernah duduk di dekat Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, lalu Ali 'alaihissalām datang, maka Jibril berdiri menyambutnya. Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi berkata, “Apakah kamu berdiri untuk pemuda ini?” Jibril menjawab, “Manakala Allah Ta'ālā menciptakanku, Dia bertanya kepadaku: Siapa kamu? Siapa namamu? Siapa Aku? dan siapa nama-Ku? Maka aku bingung menjawab. Kemudian muncullah pemuda ini dalam alam cahaya dan mengajarkan kepadaku jawabannya. Dia berkata, ‘Katakanlah: Engkau adalah Tuhanku Yang Agung, nama-Mu Al-Jamīl, aku adalah hamba yang lemah; namaku Jibril.’ Oleh karena itu aku berdiri untuknya dan memuliakannya.” ([715])

10.    Bahwa mereka mendengar dan berbicara sejak dalam perut ibu mereka. Mereka membaca Al-Qur`ān dan beribadah kepada Tuhan mereka sejak mereka dalam perut ibu mereka, ketika masih menyusu para malaikat tunduk kepada mereka, para malaikat turun kepada mereka setiap pagi dan sore, dan mereka dibuatkan beberapa menara di setiap negeri untuk melihat perbuatan manusia. ([716])

11.    Bahwa para imam adalah anak-anak Allah dari sulbi Ali bin Abi Ṭālib?!

Āyatullāh mereka, 'Abdul-Ḥusain An-Najafiy meriwayatkan ayat palsu berikut, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dengan kepemimpinannya (Ali), maka siapa yang tidak mengikutinya dan mengikuti anak-anak-Ku dari sulbinya hingga hari Kiamat maka terhapuslah amal mereka dan mereka kekal di dalam api neraka.” ([717])

12.     Bahwa mereka adalah tiang bumi.

Mereka membuat kebohongan atas nama Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berkata, “Aku telah diberikan beberapa perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku: aku diajarkan ilmu kematian, musibah, nasab, dan pemahaman yang benar serta ilmu peradilan, dan tidak luput dariku apa yang sudah mendahuluiku dan tidak tersembunyi dariku apa yang belum kulihat.” ([718])

13.    Bab Allah 'Azza wa Jalla Tidak Mengajarkan Kepada Nabi-Nya Sebuah Ilmu Kecuali Dia Diperintahkan Untuk Mengajarkannya Kepada Amirul Mukminin dan Bahwa Dia Adalah Sekutu-Nya Dalam Ilmu Itu. ([719])

Tanggapan:

Semua diklaim ulama-ulama Syi’ah atas imam-imam mereka sangat aneh dan sangat kufur. Dengan klaim tersebut mereka mengeluarkan imam mereka dari tingkat imam kepada tingkat nabi dan rasul di sebagian waktu, dan kepada tingkat tuhan di waktu yang lain. Kita berlindung kepada Allah dari godaan setan dan pasukannya (untuk menjadi seperti mereka). Tidak ada perselisihan antara dua orang bahwa inilah kufur akbar, bahkan tidak pernah ada dari orang terdahulu hingga orang belakangan yang mendatangkan kekufuran dan kesesatan semisal ini.

 Pertanyaan (120): Apakah para ulama Syi’ah meyakini kekalnya mukjizat para imam mereka meskipun mereka telah mati? Dan apa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari mereka?

Jawab: Ya. Bahkan masih terus muncul pada mereka dan berulang-ulang. Hal ini bisa dilihat dari dua potret nyata yang bisa ditinjau dari dua sisi:

Pertama, Mukjizat dan kejadian-kejadian luar biasa yang dinisbahkan oleh ulama-ulama Syi’ah kepada imam gaib yang mereka nanti.

Kedua, kejadian luar biasa yang diklaim oleh ulama-ulama Syi’ah terjadi di kubur imam-imam mereka, seperti kisah-kisah yang menceritakan makam yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kronis. Disebutkan bahwa orang yang buta dapat melihat kembali hanya karena dia tinggal di dekat makam! Binatang, khususnya babi dan anjing pergi ke kubur untuk meminta kesembuhan. Juga kisah-kisah yang menceritakan tentang imam-imam mereka di dalam kubur menjaga amanah dan barang-barang titipan yang dititipkan di dekat kubur mereka! ([720]) Dengan sebab itu, pendapatan para penunggu kubur menjadi naik!

 Pertanyaan (121): Apa hukum menziarahi kubur dan makam para imam dan wali menurut para ulama Syi’ah?

Jawab: Itu merupakan sebuah kewajiban di antara kewajiban-kewajiban Sekte Syi’ah, dan orang yang meninggalkannya dihukumi kafir! ([721])

Mereka membuat kebohongan, bahwa Hārun bin Khārijah pernah bertanya kepada imam mereka Abu Abdillah tentang orang yang meninggalkan ziarah kubur serta tidak menziarahi kubur Ḥusain bin Ali tanpa alasan. Dia menjwab, “Ini laki-laki penduduk neraka.” ([722])

Kontradiksi:

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Ja'far raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Siapa di antara pengikut kami yang tidak mendatangi kubur Ḥusain 'alaihissalām maka dia orang yang kurang iman dan agamanya, kalaupun masuk surga dia berada di bawah orang-orang beriman di dalam surga.” ([723])

 Pertanyaan (122): Apa adab-adab yang mereka haruskan kepada orang yang hendak menziarahi makam?

Jawab: Banyak, di antaranya:

·         Mandi sebelum masuk kuburan serta berdiri dan meminta izin dengan wirid yang telah diajarkan, dan kalau berhadas dia harus mengulang mandinya. ([724])

·         Datang dengan tenang dan khusyuk menggunakan pakaian yang suci, bersih, dan baru.([725])

·         Berdiri lama menghadap makam dan menciumnya. Pemuka besar mereka, Muhammad Asy-Syīrāziy berkata, “Kita mencium makam mereka seperti mencium Ḥajar Aswad.”([726])

Al-Majlisiy juga berkata, “Telah disebutkan dalam nas agar bertumpu kepada makam dan menciumnya.” ([727])

·         Meletakkan pipi di atasnya.([728]) Mereka berkata, “Tidak makruh mencium makam, bahkan menurut kita sunnah. Kalau ada yang mengharuskan untuk melakukan taqiyyah, maka meninggalkannya lebih utama.” ([729])

·         Melakukan tawaf di sana, “kecuali kami akan tawaf di sekeliling kuburan kalian.”([730])

Kontradiksi:

Mereka sendiri telah menerbitkan riwayat-riwayat yang melarang, di antaranya: “Janganlah kamu tawaf di kubur.” ([731])

Tetapi dibantah oleh Al-Majlisiy dengan mengatakan, “Ada kemungkinan maksud dari tawaf yang dilarang ini adalah buang hajat.” ([732])

v  Menghadap ke arah pemilik kubur dan membelakangi kiblat ketika salat.

Al-Majlisiy berkata, “Menghadap kubur adalah perkara wajib, walaupun tidak selaras dengan kiblat. Menghadap kubur bagi orang yang ziarah sama dengan menghadap kiblat, di sanalah wajah Allah.” ([733])

Bantahan Telak

Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Apakah kalian tahu bahwa beliau ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi telah melaknat orang yang menjadikan kubur sebagai tempat salat?” ([734])

v  Menunduk ke kubur dan berdoa dengan doa yang telah diajarkan. Di antaranya perkataan mereka, “Apabila kamu telah sampai ke pintu, maka berdirilah di luar kubah, kemudian tundukkan matamu ke kubur dan bacalah: ‘Wahai tuanku, wahai Abu Abdillah, anak Rasulullah, hambamu, anak hamba laki-lakimu dan anak hamba perempuanmu, yang hina di hadapanmu, yang lalai di atas tinggi kekuasanmu, yang mengakui hakmu, dia datang meminta perlindungan dengan pertolonganmu, menginginkan kesucianmu, menghadap kepada kedudukanmu.’

Kemudian menunduklah ke kubur dan katakan, ‘Wahai tuanku, aku datang kepadamu dengan rasa takut maka berikanlah kepadaku keamanan, aku datang kepadamu meminta perlindungan maka lindungilah aku, aku datang kepadamu dalam kadaan fakir maka cukupkanlah aku. Wahai tuan dan junjunganku.’” ([735])

v  Wajib menjadikan kubur sebagai kiblat dan membelakangi Kakbah serta salat dua rakaat menghadap kubur.

Mereka membuat kebohongan bahwa imam mereka mengirimkan surat kilat kepada mereka dari tempat persembunyiannya, di dalamnya dia berkata, "Adapun ibadah salat, maka kiblat hendaknya di belakangnya ([736]) , dan menjadikan kubur di depannya. Ia tidak boleh salat di hadapannya, tidak pula di bagian kanan dan kirinya, karena Sang Imam ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi tidak boleh dibelakangi dan tidak pula disejajari." ([737])

Juga karena ulama-ulama Syi’ah meyakini imam-imam mereka adalah Kakbah!

Oleh karena itu, mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah bahwa dia berkata, “Kami dalam Kitabullah 'Azza wa Jalla adalah salat, kami adalah zakat, kami adalah puasa, kami adalah haji, kami adalah bulan-bulan suci, kami adalah tanah suci, kami adalah Kakbah Allah, kami adalah kiblat Allah, dan kami adalah wajah Allah.

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﮘ  ﮙ  ﮚ  ﮛ  ﮜﮝ  ﮊ

"Maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah." (QS. Al-Baqarah: 115) ([738])

Syekh mereka, Ālu Kāsyif Al-Giṭā` juga menyebutkan bahwa menghadap Kakbah di dalam salat adalah demi cahaya Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu yang terpancar di sana. Dia berkata, “Hakikat dari menghadap Kakbah adalah menghadap kepada cahaya yang terpancar di sana.” ([739])

Mereka juga meyakini bahwa imam-imam merekalah yang dimaksud dengan masjid!

Oleh karena itu, mereka membuat riwayat palsu yang berbunyi: Dari Abu Abdillah 'alaihissalām tentang firman Allah,

ﮋ ﯪ  ﯫ  ﯬ  ﯭ  ﯮ   ﮊ

"Tegakkanlah wajahmu (dirimu) di setiap masjid." (QS. Al-A’rāf: 29). Dia berkata, (Makna setiap masjid) yaitu para imam.” ([740])

Mereka juga meyakini bahwa kata sujud yang ada dalam Al-Qur`ān maksudnya adalah mengakui kepemimpinan imam mereka.

Oleh karena itu, mereka berkata dalam firman Allah Jalla Jalāluhu,

ﮋ ﭖ  ﭗ        ﭘ  ﭙ  ﭚ   ﭛ  ﭜ   ﭝ  ﮊ

"Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera." (QS. Al-Qalam: 43) “Yaitu kepada pengakuan kepemimpinannya di dunia sedang mereka mampu.” ([741])

Mereka juga membuat kebohongan, “Dua rakaat ziarah harus dilakukan pada setiap kubur.” ([742])

Ulama-ulama Syi’ah memasukkan semua kesyirikan ini sebagai ibadah yang paling utama. Mereka menipu para pengikutnya bahwa kesyirikan-kesyirikan ini mendatangkan ampunan dosa, masuk surga, pembebasan dari api neraka, penghapusan kesalahan, pengangkatan derajat, dan pengabulan doa.” ([743])

“Juga bahkan setara haji, umrah, jihad, serta memerdekakan budak.” ([744])

Bahkan ulama mereka yang sekarang As-Sīstāniy meyakini bahwa salat di kubur yang diduga kubur Ali bin Abi Ṭālib pahalanya lebih besar daripada salat di Kakbah. Dia berkata, “Telah diriwayatkan, ‘Salat di kubur Ali setara 200.000 salat.’”([745])

Kontradiksi

Dari Abu Abdillah, dari ayahnya 'alaihissalām, dia berkata, “Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam melarang salat di atas kubur, duduk di atasnya, bersandar kepadanya, atau membuat bangunan di atasnya.” ([746])

Kemudian, bukankah nas-nas palsu yang diriwayatkan dari imam-imam mereka ini adalah ajakan untuk menyekutukan Allah 'Azza wa Jalla, mengubah syariat dan agama Allah, mengedepankan agama orang-orang musyrikin di atas agama umat Islam serta menukar agama tauhid dengan agama berhala?!

Benar, demi Allah yang tidak ada sesembahan yang hak kecuali Dia dan yang tidak ada tuhan selain-Nya! Agama apa sebenarnya yang memerintahkan pengikutnya untuk membelakangi Kakbah lalu menghadap kubur imam-imam mereka?! Dinamakan apa para ulama yang membuat kebohongan dan meramaikan rumah-rumah syirik yang mereka sebut masyāhid lalu meninggalkan rumah-rumah tauhid (masjid)?! Realita adalah sebaik-baik saksi!

Mahabenar Allah Yang Mahaagung yang berfirman,

ﮋ ﮭ  ﮮ      ﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ   ﯕ  ﯖ  ﯗ  ﯘ  ﯙﯚ  ﯛ    ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﯟﯠ   ﯡ  ﯢ  ﯣ  ﯤ  ﯥ  ﯦ  ﮊ

Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridai) Allah? Dan sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda (hukuman dari Allah) tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan. Dan sungguh, orang-orang zalim itu akan mendapatkan azab yang sangat pedih. (QS. Asy-Syurā: 21)

Bantahan

Al-Bāqir raḥimahullāh telah meriwayatkan bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai kiblat maupun masjid, karena Allah 'Azza wa Jalla telah melaknat orang-orang Yahudi ketika mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid.” ([747])

 Pertanyaan (123): Apakah kota Karbala dan Kufah menurut mereka memiliki keutamaan?

Jawab:

Ulama-ulama Syi’ah membuat kebohongan atas nama Aṣ-Ṣādiq raḥimahullāh bahwa dia berkata," “Apabila musibah telah tersebar rata maka keamanan ada di Kufah dan sekitarnya.” ([748])

Mereka juga membuat kebohongan atas namanya bahwa dia berkata tentang keutamaan masjid Kufah, “Sungguh, sebelah kanannya adalah taman di antara taman-taman surga, bagian tengahnya adalah taman di antara taman-taman surga, dan bagian belakangnya adalah taman di antara taman-taman surga; tidak pernah ada hamba yang saleh maupun seorang nabi kecuali dia pernah salat di sana.” ([749])

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata tentang apa yang Allah wahyukan kepada Kakbah, “Kalaulah bukan karena tanah Karbala Aku tidak menjadikanmu mulia, kalau bukan karena apa yang ada di negeri Karbala Aku tidak menciptakanmu dan menciptakan rumah yang engkau banggakan, maka diamlah dan tenanglah, dan jadilah merendah, tawaduk, tidak merasa angkuh maupun sombong terhadap tanah Karbala, jika tidak maka kemurkaan atasmu dan Aku lemparkan kamu ke neraka Jahanam.” ([750])

Mereka membuat kebohongan atas nama lisan Karbala bahwa dia berkata, “Aku adalah negeri Allah yang disucikan dan diberkahi. Kesembuhan ada pada tanah dan airku, tanpa aku sombong.” ([751])

Āyatullāh mereka, Ālu Kāsyif Al-Giṭā` berkata tentang Karbala, (Karbala) adalah bagian bumi paling mulia secara pasti dan wajib diketahui, sebagaimana yang ditegaskan oleh sebagian ulama mulia di antara penulis masa ini, dan ditunjukkan oleh banyak riwayat dan aṡar.” ([752])

Sedangkan orang yang mengingkari sesuatu yang bersifat pasti dan wajib diketahui menurut mereka adalah kafir, sebagaimana berulang-ulang disebutkan.

Āyatullāh mereka, Miīzā Ḥusain Al-Ḥā`iriy juga berkata, “Demikianlah tempat yang diberkahi ini berubah setelah menjadi tempat pemakaman Sang Imam, tujuan kunjungan umat Islam, Kakbah bagi orang-orang yang bertauhid, tempat tawaf bagi para raja dan sultan, dan menjadi masjid bagi orang-orang yang salat.” ([753])

Tanggapan:

Karbala mendapatkan keutamaan-keutamaan ini menurut keyakinan mereka karena keberadaan jasad Ḥusain raḍiyallāhu 'anhu di sana. Lalu kenapa Madinah Nabawiyah tidak mendapatkan keutamaan-keutamaan yang seperti ini walau sebagiannya karena keberadaan jasad Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam di sana?! Ataukah jasad Ḥusain raḍiyallāhu 'anhu menurut keyakinan mereka lebih utama?!

Hal ini ditunjukkan oleh perkataan Āyatullāh mereka, Ālu Kāsyif Al-Giṭā`, “Bukankah merupakan inti kebenaran dan kebenaran yang inti apabila negeri yang paling baik menjadi tempat berbaring dan tempat penguburan manusia paling mulia sepanjang masa?!” ([754])

Telah disebutkan di sebagian nas yang mereka sucikan bahwa Ḥajar Aswad akan dicopot dari Kakbah Musyarrafah lalu ditempatkan di tempat suci mereka di Kufah. Mereka membuat kebohongan atas nama Amirul Mukminin raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berpidato di Masjid Kufah seraya berkata, “Wahai penduduk Kufah, Allah 'Azza wa Jalla telah memberikan kalian keutamaan yang tidak diberikan kepada seorang pun; tempat salat kalian adalah rumah Adam, rumah Nuh, rumah Idris, dan tempat salat Ibrahim. Siang dan malam tidak akan berhenti hingga Ḥajar Aswad diletakkan padanya.” ([755])

Tanggapan:

Inilah yang mendorong saudara seakidah mereka, Sekte Al-Qarāmiṭah, untuk melakukan perbuatan keji dan kezaliman populer mereka terhadap Baitullah yang suci serta perampasan yang mereka lakukan terhadap Ḥajar Aswad dari Kakbah pada tahun 317 H. ([756]) Tetapi mereka tidak menempatkannya di tempat suci mereka di Kufah, kenapa?!

Tidakkah referensi ulama-ulama Syi’ah menjadi tempat subur untuk tindakan seperti yang dilakukan oleh saudara mereka Al-Qarāmiṭah?

Kemudian, kenapa antusiasme itu hanya terhadap Kufah?

Apakah karena tidak ada yang menerima agama Ibnu Saba` Al-Yahūdiy di antara negeri umat Islam kecuali Kufah?

Yang demikian itu karena kedekatan negeri-negeri Islam dari ilmu dan iman sehingga tidak mau menerima agama Ibnu Saba` Al-Yahūdiy (Syi’ah) kecuali Kufah yang terfitnah dengan pengaruhnya yang berkeliling berbagai kota.

Tetapi dia tidak mendapatkan seorang pun yang mau menerima ajakannya kecuali di tempat tersebut yang jauh sekali kala itu dari cahaya ilmu dan iman. Oleh karena itu, paham Syi’ah muncul dari Kufah, sebagaimana paham Murji`ah juga muncul dari Kufah. Sedangkan paham Kadariah dan Muktazilah serta tarekat-tarekat yang rusak muncul dari Basrah, dan paham Jahmiyyah muncul dari arah Khurāsān.

Kemunculan bidah-bidah ini mengikuti jauhnya jarak tempat munculnya dari negeri Nabi, karena penyebab munculnya bidah pada setiap umat adalah samarnya Sunnah para rasul kepada mereka serta jauhnya mereka dari negeri ilmu dan iman.

Dengan sebab ini terjadilah kebinasaan. Saya tutup tanggapan ini dengan firman Allah Tabāraka wa Ta'ālā,

ﮋ ﮖ  ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚ  ﮛ       ﮜ    ﮝ  ﮞ  ﮟ  ﮠ  ﮡ  ﮢ  ﮣ  ﮤ    ﮥﮦ    ﮊ

"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim." (QS. Āli 'Imrān: 96-97)

 Pertanyaan (124): Apa akidah mereka tentang salat, doa, tawasul, dan haji ke kubur imam-imam mereka?

Jawab: Imam besar mereka, Al-Khumainiy berkata, “Tawasul dilakukan dengan para ulul-amri, penjaga zaman serta pemberi syafaat bagi bangsa manusia dan jin, yaitu Rasul dan imam-imam yang maksum. Diri-diri mulia ini dijadikan sebagai pemberi syafaat dan sebagai perantara. Setiap hari ada penjaga dan pelindung; pada hari Sabtu hendaknya bergantung pada wujud Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi yang diberkahi, hari Ahad kepada Amirul Mukminin, hari Senin kepada dua imam yang pemberani cucu Rasulullah 'alaihimassalām, hari Selasa kepada para Ḥaḍrah; As-Sajjād, Al-Bāqir, dan Aṣ-Ṣādiq 'alaihimussalām, hari Rabu kepada para Ḥaḍrah; Al-Kāẓim, Ar-Riḍā, dan At-Taqiy An-Naqiy 'alaihimussalām, hari Kamis kepada Al-'Askariy, dan hari Jumat kepada ulil-amri (Al-Mahdi) -semoga Allah menyegerakan kemunculannya yang mulia-. ([757])

Mereka juga membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata tentang salat di kubur yang diklaim milik Ḥusain raḍiyallāhu 'anhu, “Bagimu pada setiap satu rakaat yang engkau laksanakan di kuburnya seperti pahala orang yang berhaji seribu kali dan berumrah seribu kali serta memerdekakan seribu budak dan seperti berdiri di jalan Allah satu juta kali bersama seorang nabi yang diutus.” ([758])

Al-Kulainiy membuat kebohongan bahwa seorang laki-laki datang kepada Abu Abdillah raḥimahullāh seraya berkata, “Saya telah berhaji 19 kali, mohon doakan saya kepada Allah agar menganugerahiku haji yang ke-20.” Abu Abdillah bertanya, “Apakah kamu pernah menziarahi kubur Ḥusain 'alaihissalām?” Dia menjawab, “Tidak.” Abu Abdillah berkata, “Sungguh, menziarahinya lebih baik daripada 20 kali haji.” ([759])

Kontradiksi:

Al-Kulainiy sendiri membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Jika kamu menziarahinya, Allah tuliskan bagimu pahala 25 kali haji.”([760])

Kontradiksi:

Al-Kulainiy sendiri membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Menziarahi kubur Ḥusain 'alaihissalām setara pahala 20 haji bahkan lebih, bahkan lebih dari 20 umrah dan haji.” ([761])

Kontradiksi:

Mereka membuat kebohongan, “Siapa yang menziarahi kubur Abu Abdillah 'alaihissalām, Allah tuliskan baginya pahala 80 haji mabrur.” ([762])

Kontradiksi:

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Siapa yang mendatangi kubur Ḥusain 'alaihissalām karena mengetahui haknya, pahalanya seperti pahala 100 kali haji bersama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam.”([763])

Kontradiksi:

Al-Kulainiy sendiri membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Siapa di antara orang beriman yang mendatangi kubur Ḥusain 'alaihissalām karena mengenal haknya di selain hari raya, Allah tuliskan baginya pahala 20 haji dan 20 umrah mabrur serta pahala 20 haji dan umrah bersama seorang nabi yang diutus atau bersama imam yang adil. Dan siapa yang mendatanginya pada hari raya, Allah tuliskan baginya pahala 100 haji, 100 umrah, dan 100 perang bersama seorang nabi yang diutus atau bersama imam yang adil.” Dia (perawi) berkata, Aku bertanya kepadanya, “Lalu apa yang aku dapatkan semisal pada Hari Arafah?” Maka dia memandangiku seperti orang yang dibuat marah, kemudian berkata, “Wahai Basyīr, seorang mukmin apabila mendatangi kubur Ḥusain 'alaihissalām pada Hari Arafah dan mandi di Sungai Eufrat lalu pergi kepadanya, dituliskan baginya pada setiap langkahnya pahala satu kali haji bersama ritual-ritualnya.” Dan saya yakin dia juga berkata, “serta pahala satu kali perang.” ([764])

Terakhir: “Demi Allah! Sekiranya aku sampaikan kepada kalian keutamaan menziarahinya dan keutamaan kuburnya niscaya kalian akan meninggalkan ibadah haji seutuhnya dan tidak ada seorang pun dari kalian yang melaksanakan haji.” ([765])

Aduhai, sekiranya dia menyampaikannya kepada mereka!!

Adapun akidah mereka tentang keutamaan berhaji pada Hari Arafah ke kubur Ḥusain raḍiyallāhu 'anhu, mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia bekata, “Sungguh pertama kali Allah Tabāraka wa Ta'ālā mulai memandang para pengunjung kubur Ḥusain 'alaihissalām pada sore Hari Arafah.” Aku (perawi) bertanya, “Sebelum Dia melihat jamaah haji di Arafah?” Dia menjawab, “Ya.” Aku bertanya, “Bagaimana bisa demikian?” Dia menjawab, “Karena di antara jamaah haji itu terdapat anak-anak zina, sedangkan orang-orang ini tidak ada di antara mereka anak-anak zina.” ([766])

Mereka juga membuat kebohongan, dari Zaid Asy-Syaḥḥām, dia berkata, Aku bertanya kepada Abu Abdillah 'alaihissalām, “Apa yang akan didapatkan oleh orang yang menziarahi kubur Ḥusain 'alaihissalām?” Dia menjawab, “Pahalanya seperti orang yang menziarahi Allah di atas Arasy-Nya.” ([767])

Mereka juga membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Sungguh orang yang beriman jika mendatangi kubur Ḥusain 'alaihissalām pada Hari Arafah dan mandi di Sungai Eufrat kemudian pergi ke sana, dituliskan baginya pada setiap satu langkah pahala satu haji dengan ritual-ritualnya.” Dan aku yakin dia juga berkata, "serta pahala satu umrah dan satu perang.” ([768])

 Pertanyaan (125): Apakah para ulama Syi’ah membatasi apa yang disangka keutamaan-keutamaan ini pada amalan menziarahi kubur imam-imam maksum mereka saja?

Jawab: Tidak!

Bahkan mereka melewati itu, hingga menziarahi kubur wali-wali dan ulama-ulama mereka serta kerabat dan teman-temannya.

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Al-Ḥasan Al-'Askariy raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Ketahuilah, jika engkau menziarahi kubur 'Abdul-‘Aẓīm yang ada pada kalian, maka engkau seperti menziarahi Ḥusain 'alaihissalām.”([769])

Mereka juga membuat kebohongan atas nama putra Ar-Riḍā, bahwa dia berkata, “Siapa yang menziarahi kubur bibiku di Qumm maka baginya surga.” ([770])

Mereka juga membuat kebohongan atas nama Abu Al-Ḥasan Musa bin Ja'far raḥimahullāh, bahwa dia berkata, “Siapa yang menziarahi kubur anakku, baginya pahala di sisi Allah seperti 70 haji mabrur.” Aku bertanya, “Pahala 70 haji?!” Dia menjawab, “Ya. Bahkan 700 haji.” Aku bertanya, “Pahala 700 haji?!” Dia menjawab, “Ya. Bahkan 70 ribu haji. Siapa yang menziarahinya dan menginap satu malam di sana pahalanya seperti menziarahi Allah di atas Arasy-Nya.” ([771])

Dia membuat marah imamnya, maka Sang Imam pun menambahkan pahalanya!!

Tanggapan:

Kalau begitu, kenapa masih banyak dilihat orang-orang awam Syi’ah, bahkan syekh-syekh mereka melakukan haji dan umrah ke Baitullah di Mekah Mukarramah serta menziarahi Masjid Nabawi?

Sekalipun dengan keberadaan klaim adanya keutamaan-keutamaan ziarah kubur yang agung ini?!

 Pertanyaan (126): Mohon Anda sebutkan kepada kami beberapa prasangka mereka terkait keutamaan menziarahi kubur Ali raḍiyallāhu 'anhu dengan ringkas?

Jawab: Ya. Di antaranya kebohongan yang mereka nisbahkan kepada Ja'far Aṣ-Ṣādiq raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Siapa yang menziarahi kakekku karena mengetahui haknya, Allah tuliskan baginya pada setiap satu langkah pahala satu haji yang makbul serta satu umrah mabrur. Demi Allah, wahai Ibnu Mārid, Allah tidak akan memasukkan ke dalam api neraka satu kaki yang berdebu karena menziarahi Amirul Mukminin 'alaihissalām, baik dengan berjalan kaki maupun berkendara. Wahai Ibnu Mārid, tulislah hadis ini dengan tinta emas.” ([772])

Ulama-ulama Syi’ah juga membuat satu riwayat palsu yang berbunyi, “Siapa yang menziarahi kubur Amirul Mukminin 'alaihissalām karena mengenal haknya, dia tidak zalim dan sombong, Allah tuliskan baginya pahala 100 ribu syahid, Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, membangkitkannya di antara orang-orang yang aman, dan meringankan hisab baginya, serta dia disambut oleh para malaikat; apabila dia beranjak mereka mengantarnya hingga ke rumahnya, jika dia sakit mereka menjenguknya, dan jika dia meninggal mereka mengantar jenazahnya dengan lantunan istigfar sampai di kuburnya.” ([773])

Terakhir:

Al-Kulainiy membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata kepada orang yang datang kepadanya tetapi tidak menziarahi kubur Ali bin Abi Ṭālib, “Tidakkah engkau berziarah kepada orang yang diziarahi oleh Allah bersama para malaikat, dan yang diziarahi oleh para nabi dan orang-orang beriman ….”([774])

Juga bahwa dia sederajat dengan Rasul ṣallallāhu 'alaihi wa sallam pada hari Kiamat:

Mereka membuat kebohongan atas nama Rasul ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Wahai Ali, siapa yang menziarahiku ketika masih hidup atau setelah aku meninggal, atau menziarahimu ketika engkau masih hidup maupun setelah meninggal, atau menziarahi kedua putramu ketika mereka masih hidup maupun setelah meninggal, aku jamin baginya pada hari Kiamat untuk menyelamatkannya dari huru hara dan kedahsyatannya hingga aku menjadikannya sederajat bersamaku.”([775])

 Pertanyaan (127): Mohon Anda sebutkan kepada kami beberapa prasangk mereka terkait keutamaan menziarahi kubur Al-Ḥusain raḍiyallāhu 'anhu dengan ringkas?

Jawab: Ulama-ulama Syi’ah telah membuat banyak riwayat bohong, di antaranya: bahwa orang yang menziarahi kuburnya berada pada derajat Rasul ṣallallāhu 'alaihi wa sallam pada hari Kiamat, sebagaimana telah disebutkan tidak jauh sebelumnya.

Di antaranya: dari Abu Ja'far 'alaihissalām dia berkata, “Sekiranya manusia mengetahui keutamaan menziarahi kubur Ḥusain 'alaihissalām, niscaya mereka mati karena rindu dan hatinya tercabik-cabik penuh penyesalan.” ([776])

Di antaranya: dari Zurārah dia berkata, Aku mendengar Abu Abdillah 'alaihissalām berkata, “Sungguh orang-orang yang menziarahi Ḥusain bin Ali 'alaihissalām pada hari Kiamat akan mendapat keutamaan di atas manusia.” Aku bertanya, “Apa keutamaan mereka?” Dia menjawab, “Mereka akan masuk surga 40 tahun sebelum manusia yang lain, sedang semua manusia masih dihisab.” ([777])

Mereka juga membuat kebohongan atas nama Abu Ḥasan Ar-Riḍā raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Siapa yang menziarai Ḥusain bin Ali 'alaihimassalām karena mengenal haknya, dia akan termasuk bersama orang-orang yang berbicara kepada Allah di atas Arasy-Nya.” ([778])

Mereka juga membuat kebohongan, “Siapa yang menziarahi kubur Abu Abdillah 'alaihissalām di tepi Sungai Eufrat, pahalanya seperti menziarahi Allah di atas Arasy-Nya.”([779])

Bantahan:

Apa jawaban para ulama Syi’ah terhadap apa yang mereka riwayatkan dari Ḥanān bin Sudair, dia berkata, Aku bertanya kepada Abu Abdillah 'alaihissalām, “Apa yang Anda katakan tentang menziarahi kubur Ḥusain 'alaihissalām? Karena telah sampai kepada kami dari sebagian Anda bahwa dia berkata, "Itu setara dengan haji dan umrah?” Maka dia menjawab, “Betapa lemahnya hadis ini! Dia tidak setara dengan ini semuanya. Tetapi ziarahilah dia dan jangan dilupakan, karena dia pimpinan pemuda-pemuda yang syahid dan pemimpin pemuda penduduk surga.” ([780])

 Pertanyaan (128): Apa akidah ulama Syi’ah tentang ulama mujtahid mereka? Dan apa hukum orang yang menolaknya?

Jawab: Syekh mereka, Muhammad Riḍā Al-Muẓaffar berkata, “Akidah kami tentang ulama mujtahid yang memenuhi syarat, bahwa dia adalah pengganti Imam Al-Mahdi 'alaihissalām selama masa persembunyiannya; dia sebagai hakim dan pemimpin mutlak. Baginya apa yang menjadi hak Sang Imam dalam memutuskan perkara dan peradilan di antara manusia. Orang yang membantahnya berarti membantah Sang Imam, dan orang yang membantah Imam berarti membantah Allah Ta'ālā, dan dia berada pada batas syirik kepada Allah.” ([781])

Mereka juga membuat riwayat bohong, dari Abu Baṣīr, bahwa dia berkata kepada Abu Abdillah raḥimahullāh, “Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu! Beritakan kepadaku tentang orang yang membantahku dalam perkara ini, apakah dia seperti orang yang membantah Anda?” Dia menjawab, “Wahai Abu Muhammad, siapa yang membantahmu dalam perkara ini, dia seperti membantah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam dan membantah Allah Tabāraka wa Ta'ālā.” ([782])

Al-Khumainiy berkata, “Keistimewaan-keistimewaan ini ada di kebanyakan fukaha kita di masa sekarang.” ([783])

Dia juga berkata, “Para fukaha adalah orang-orang yang diwasiatkan oleh Rasul ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi setelah para imam ketika mereka tidak ada. Tetapi karena seorang fakih bukan nabi, maka dia adalah orang yang diwasiatkan oleh nabi dan menjadi imam umat Islam selama masa persembunyian, sebagai panglima, dan sebagai hakim yang adil di antara mereka, tidak pada yang lainnya.” ([784])

Dia juga berkata, “Para fukaha hari ini adalah ḥujjah atas manusia, sebagaimana Rasul ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi ḥujjah Allah atas manusia. Apa yang disematkan kepada Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi, telah disematkan oleh para imam kepada fukaha setelah mereka.” ([785])

Dia juga berkata, “Apa yang ditetapkan bagi Rasul ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi dan bagi para imam 'alaihimussalām juga ditetapkan bagi fakih, tidak ada keraguan dalam masalah ini.” ([786])

Tanggapan:

Dengan ini ulama-ulama Syi’ah telah meninggalkan Ahli Bait secara utuh dan hanya bergantung pada Imam Al-Mahdi yang gaib, lalu menempatkan diri mereka sebagai pengganti imam dari Ahli Bait dengan mengatasnamakan Sang Imam yang gaib tersebut. Sehingga setiap orang dari ulama mereka adalah āyatullāh, ḥujjatullāh, imām, hākim mutlaq, serta penarik harta, dan tidak satu pun dari Ahli Bait yang ikut bersama mereka.

Muhammad Jawād Mugniyah berkata dalam kalimat panjang yang intinya: bagaimana mungkin Al-Khumainiy mengklaim diri sebagai pengganti imam yang gaib secara mutlak, sementara imam yang gaib tersebut sama seperti kedudukan Nabi, bahkan seperti kedudukan Tuhan, menurut kami. ([787])

Mereka mewajibkan pengikut Syi’ah untuk taklid kepada seorang mujtahid tertentu yang masih hidup. Jika tidak, maka seluruh ibadahnya batal, tidak diterima, sekalipun dia salat dan puasa serta beribadah sepanjang umurnya, kecuali jika amalnya sesuai dengan pendapat siapa yang dia taklid kepadanya setelahnya. ([788])

Tanggapan:

Kedudukan tinggi para mujtahid dari para ulama Syi’ah ini mengingatkan kita dengan kedudukan paus dan pastur di kalangan orang-orang Nasrani, bahkan lebih!

 Pertanyaan (129): Apa maksud taqiyyah? Dan apa keutamaannya menurut ulama-ulama Syi’ah?

Jawab: Syekh mereka, Al-Mufīd berkata, “Taqiyyah adalah menyembunyikan kebenaran, menutupi apa yang diyakini padanya, serta tidak terang-terangan menampakkan sesuatu yang akan mendatangkan mudarat dalam urusan agama dan dunia kepada mereka (yang berbeda mazhab).” ([789])

Definisi Muhammad Jawād Mugniyah, “Yaitu engkau mengatakan atau melakukan kebalikan dari yang engkau yakini untuk menepis keburukan pada diri dan harta atau untuk melindungi kehormatan dirimu.” ([790])

Yaitu menampakkan keimanan dengan mazhab Ahli Sunnah wal Jamaah dan menyembunyikan keimanan dengan mazhab Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah!

Mereka membuat kebohongan atas nama Ali raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia berkata, “Taqiyyah merupakan perbuatan paling afdal orang beriman.” ([791])

Juga atas nama Al-Ḥusain bin Ali, bahwa ia berkata, “Kalau bukan karena taqiyyah, tidak akan diketahui pembela kami dari musuh kami.” ([792])

Juga atas nama Abu Abdillah, bahwa ia berkata, “Tidaklah Allah diibadahi dengan sesuatu yang lebih Allah cintai daripada penyembunyian rahasia.” Aku bertanya, “Apa itu penyembunyian rahasia?” Dia menjawab, “Yaitu taqiyyah.” ([793])

Dan bahwa dia juga berkata, “Sungguh, tidak ada iman bagi orang yang tidak melakukan taqiyyah.” ([794])

Juga mereka berbohong atas nama Abu Ja'far, bahwa ia berkata, “Taqiyyah berasal dari agamaku dan agama ayah-ayahku. Tidak ada iman bagi orang yang tidak melakukan taqiyyah.” ([795])

Imam besar mereka, Al-Khumainiy berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi bersabda, “Sesungguhnya para nabi diutamakan oleh Allah di atas semua makhluk-Nya karena mudārāh (kepura-puraan) mereka yang tinggi terhadap musuh-musuh agama Allah dan karena taqiyyah mereka yang bagus.” ([796])

Tanggapan:

Nas-nas yang telah lalu dinisbahkan oleh ulama-ulama Syi'ah kepada imam-imam mereka: Ali raḍiyallāhu 'anhu (syahid tahun 40 H), Al-Ḥusain putranya raḍiyallāhu 'anhu (syahid tahun 61 H), Abu Ja'far raḥimahullāh (meninggal tahun 114 H), dan Abu Abdillah raḥimahullāh (meninggal tahun 148 H); mereka hidup pada masa kejayaan Islam dan umat Islam. Lalu apa hajatnya melakukan taqiyyah pada zaman itu? Kecuali jika agama yang disembunyikan adalah selain Islam. Na’ūżubillāh.

 Pertanyaan (130): Apa hukum meninggalkan taqiyyah menurut ulama-ulama Syi’ah?

Jawab:

v  Bahwa meninggalkannya seperti meninggalkan salat.

Mereka membuat kebohongan atas nama Aṣ-Ṣādiq bahwa dia berkata, “Sekiranya aku mengatakan orang yang meninggalkan taqiyyah seperti yang meninggalkan salat, tentu aku benar.” ([797])

v  Mereka kemudian bertambah guluw (ekstrem); mereka mengatakan, “Beberapa urusan yang kalau ditinggalkan termasuk dosa besar yang membinasakan, yaitu mengingkari kenabian dan keimaman, menzalimi saudara, atau meninggalkan taqiyyah.” ([798])

v  Mereka kemudian bertambah guluw; mereka berkata, “Sembilan persepuluh agama adalah taqiyyah. Tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan taqiyyah.” ([799])

v  Mereka kemudian bertambah guluw; mereka menyatakan bahwa meninggalkannya adalah dosa yang tidak diampuni selamanya. Ali bin Ḥusain Zainal-'Ābidīn 'alaihimassalām berkata, “Allah akan mengampuni semua dosa orang beriman dan membersihkannya dari dirinya di dunia dan akhirat, kecuali dua dosa: meninggalkan taqiyyah dan menelantarkan hak saudara.” ([800])

Al-Kulainiy membuat kebohongan, Abu Abdillah 'alaihissalām berkata, “Wahai Sulaiman, kalian berada di atas sebuah agama, siapa yang menyembunyikannya akan dimuliakan oleh Allah dan siapa yang menampakkannya akan dihinakan oleh Allah.”([801])

v  Terakhir, bahwa orang yang meninggalkan taqiyyah telah kafir([802]) keluar dari agama Allah, agama Imāmiyyah. ([803])

Tanggapan:

Dari Sufyān As-Samaṭ, dia berkata, Aku bertanya kepada Abu Abdillah 'alaihissalām, “Semoga aku dijadikan sebagai tebusanmu! Kami didatangi oleh seseorang dari pihak Anda, dia dikenal pendusta, lalu dia menyampaikan hadis tetapi kami menilai hadis itu buruk?” Abu Abdillah 'alaihissalām berkata, “Apakah dia berkata kepadamu, bahwa aku berkata tentang malam bahwa dia siang, atau tentang siang bahwa dia malam?” Aku menjawab, “Tidak.” Dia berkata, “Jika dia berkata begini kepadamu, maka janganlah kamu mendustakannya, karena hakikatnya kamu sedang mendustakanku.” ([804])

Nas ini dan banyak lagi yang lainnya menunjukkan bahwa di antara orang syi’ah ada yang menilai buruk riwayat syekh mereka dari imam-imam mereka, tetapi mereka mengharuskan untuk mengimaninya secara buta.

Mereka juga membuat kebohongan, dari Jābir, dia berkata, Abu Ja'far 'alaihissalām berkata, Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi bersabda, “Hadis-hadis keluarga Muhammad sulit dan akan didapatkan sulit, tidak akan beriman kepadanya kecuali malaikat, atau nabi, atau hamba yang Allah telah uji hatinya dengan keimanan. Apabila sampai kepada kalian hadis keluarga Muhammad dan hati kalian condong kepadanya serta kalian mengenalnya, maka terimalah. Dan apabila hati kalian merasa jijik dan mengingkarinya, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul serta orang berilmu di antara keluarga Muhammad. Sebab orang yang binasa adalah yang diceritakan oleh salah seorang kalian sesuatu yang tidak bisa dipikul lalu dia berkata, ‘Demi Allah, tidak seharusnya begini. Demi Allah, tidak seharusnya begini.’ Pengingkaran ini adalah kekafiran.” ([805])

 Pertanyaan (131): Kapan taqiyyah boleh ditinggalkan menurut ulama-ulama Syi’ah?

Jawab: Taqiyyah akan selalu melekat pada kaum Syi’ah selama mereka berada di negeri umat Islam.

Para ulama Syi’ah menamakan negeri Islam dengan negeri taqiyyah.

Mereka membuat kebohongan, “Melakukan taqiyyah di negeri taqiyyah hukumnya wajib.” ([806])

Mereka juga menamakan negeri Islam dengan negeri kebatilan.

Mereka membuat kebohongan, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka janganlah berbicara di negeri kebatilan kecuali dengan taqiyyah.” ([807])

Mereka juga menamakan negeri Islam dengan negeri orang-orang zalim.

Mereka membuat kebohongan, “Taqiyyah hukumnya wajib dan suatu keharusan bagi kita di negeri orang-orang zalim. Siapa yang meninggalkannya, dia telah menyelisihi dan meninggalkan agama Imāmiyyah.” ([808])

Mereka mengharuskan bergaul dengan penganut Ahli Sunnah secara taqiyyah.

Syekh mereka, Al-‘Āmiliy membuat sebuah bab: Bab Kewajiban Bergaul Dengan Orang-Orang Awam Dengan Taqiyyah.” ([809])

Kontradiksi

Mereka membuat kebohongan, “Siapa yang meninggalkan taqiyyah sebelum imam kita Al-Qā`im (Al-Mahdi) keluar, maka ia bukan dari golongan kita.” ([810]) Kenapa?

Syekh mereka, Muhammad Bāqir Aṣ-Ṣadr menjawab, “Karena meninggalkannya menyebabkan lambatnya penambahan jumlah yang cukup dari orang-orang yang ikhlas dan terpilih (kaum Syi'ah), di mana keberadaan mereka menjadi salah satu syarat utama keluarnya Al-Mahdi.” ([811])

 Pertanyaan (132): Mengapa kita menyaksikan ada sebagian kaum Syi’ah yang salat di belakang imam-imam Masjidilharam dan Masjid Nabawi?

Jawab: Ulama-ulama Syi’ah telah membuat riwayat palsu berikut: “Siapa yang salat bersama mereka (Ahli Sunnah) di saf pertama, dia sama seperti salat di belakang Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi.”([812])

Imam besar mereka, Al-Khumainiy berkata memberikan tanggapan, “Tidak diragukan lagi bahwa salat bersama beliau ṣallallāhu 'alaihi wa sallam hukumnya sah dan memiliki banyak keutamaan, maka demikian juga salat bersama mereka dalam kondisi taqiyyah.” ([813])

Mereka juga membuat kebohongan, “Siapa yang salat di belakang orang-orang munafik dengan taqiyyah, dia sama seperti orang yang salat di belakang para imam.”([814])

 Pertanyaan (133): Apakah taqiyyah masih memberi dampak berbahaya dalam Mazhab Syi’ah?

Jawab: Ya, dampak nyata taqiyyah masih memberi peran berbahaya di banyak sisi, di antaranya:

Pertama, bahwa akidah taqiyyah dimanfaatkan oleh para dai pemecah belah antara umat dan orang-orang zindik dari Syi’ah. Mereka memanfaatkannya untuk mempertahankan perpecahan di antara kaum muslimin, yaitu dengan menolak hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam serta aṡar dari imam-imam mereka yang sesuai dengan hadis-hadis tersebut. Mereka menolaknya dengan dalih itu adalah taqiyyah lantaran sama dengan hadis-hadis Ahli Sunnah.

Misalnya, hadis-hadis yang berisi pujian kepada para sahabat raḍiyallāhu 'anhum mereka katakan adalah taqiyah. Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menikahkan kedua putrinya dengan Usman bin 'Affān dan Abul-'Āṣ bin Ar-Rabī’ raḍiyallāhu 'anhum adalah bentuk taqiyyah. Juga Ali ketika menikahkan putrinya, Ummu Kulṡūm dengan Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu 'anhum adalah karena taqiyyah, dst. ([815])

Kedua, ulama mereka menjadikan akidah taqiyyah sebagai solusi terhadap pertentangan dan kontradiksi yang terdapat pada riwayat dan hadis-hadis mereka, karena fenomena kontradiksi yang terdapat dalam hadis-hadis mereka adalah dalil paling kuat yang menunjukkannya tidak datang dari Allah.

ﮋ ﭿ    ﮀ      ﮁ    ﮂ  ﮃ   ﮄ  ﮅ   ﮆ  ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ

“Seandainya dia berasal dari selain Allah, mereka pasti mendapatkan banyak pertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisā`: 82)

Syekh mereka, Yusuf Al-Baḥrāniy mengungkapkan kebingungan dan kegoncangan yang dihadapi Syi’ah di dalam riwayat imam-imam mereka; pendapat mana yang akan mereka ambil? Ataukah mereka abstain? Ataukah mereka serahkan pilihan kepada para pengikutnya? Atau apa yang harus mereka lakukan terhadap riwayat-riwayat yang saling bertentangan itu? Maka solusinya adalah hal itu dijadikan sebagai taqiyyah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Baḥrāniy, “Faktor adanya hukum-hukum tidak lepas dari kerancuan, keragu-raguan, dan kebimbangan disebabkan banyaknya kontradiksi di dalam dalil-dalil dan indikasi yang saling bertentangan.” ([816])

Bantahan:

Adanya banyak pertentangan dalam riwayat ulama-ulama Syi’ah menjadi sebab banyak pengikut Syi’ah meninggalkan paham Syi’ahnya, bahkan syekh mereka, sebagaimana yang diakui oleh ulama besar mereka, Aṭ-Ṭūsiy di zamannya, maka bagaimana dengan zaman kita sekarang?

“Aṭ-Ṭūsiy bahkan mengeluh lantaran nasib ketidakjelasan hadis-hadis mereka berupa banyaknya pertentangan dan saling kontradiksi di dalamnya. Sampai-sampai hampir tidak ada satu riwayat pun yang disepakati karena ada riwayat lain yang menentangnya, tidak selamat satu hadis pun karena di sebaliknya ada yang menafikannya. Sampai-sampai, kelompok yang menyelisihi kita menjadikannya sebagai cacat paling besar pada sekte kita.”([817])

Demikian juga, syekh mereka, Al-Faiḍ Al-Kāsyāniy mengeluhkan pertentangan kelompoknya. Dia berkata, “Anda dapatkan mereka berselisih dalam satu permasalahan hingga 20 pendapat, atau 30 bahkan lebih. Bahkan kalau mau, saya katakan, tidak ada satu masalah furuk sekalipun yang mereka tidak berselisih padanya atau di sebagian turunannya.” ([818])

Ketiga, Syekh-syekh mereka meyakini -sebagaimana telah disebutkan- adanya sifat maksum pada imam-imam mereka, bahwa mereka tidak mengalami lupa, lalai, dan salah, padahal buku-buku mereka yang terpercaya mengabadikan sebaliknya, maka ketika itu syekh-syekh mereka mencetuskan istilah taqiyyah untuk mempertahankan klaim sifat maksum imam-imam mereka; di mana runtuhnya akidah ini akan menyebabkan seluruh ajaran Mazhab Syi'ah runtuh pula. Alḥamdulillāh.

Keempat, dari akidah taqiyyah mereka lahirlah prinsip wajibnya menyelisihi Ahli Sunnah dan bahwa hidayah ada pada yang demikian itu; bahwa apa yang datang dari imam-imam mereka yang menyepakati Ahli Sunnah adalah bentuk taqiyyah.

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah bahwa dia berkata, “Apabila datang kepada kalian dua hadis yang bertentangan, maka ambillah yang menyelisihi orang-orang itu.” ([819]) ([819) Maksudnya Ahli Sunnah.

Dalam riwayat lain, “Maka ambillah yang paling jauh dari pendapat orang-orang awam (Ahli Sunnah).” ([820]) ([821])

Sehingga tanda mereka mengikuti yang hak adalah menyelisihi apa yang dipegang oleh Ahli Sunnah, bahkan sekalipun ucapan Ahli Sunnah sesuai dengan Al-Qur`ān maupun Sunnah Rasul ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, sebagaimana hal itu sangat jelas dalam akidah ulama Sekte Syi’ah.

 Pertanyaan (134): Apakah raj’ah itu? Untuk siapa? Dan apa akidah ulama Syi’ah terhadapnya?

Jawab: Raj’ah adalah kembalinya banyak orang yang sudah meninggal ke dunia sebelum hari Kiamat([822]) dalam rupa mereka dahulu([823]) .

Orang-orang yang akan kembali ke dunia dalam keyakinan mereka adalah Nabi penutup dan nab-nabi lainnya, imam-imam yang maksum, orang-orang yang lahir murni dalam Islam, dan orang-orang yang murni lahir dalam kekufuran yang bukan level kaum jahiliah yang disebut dengan orang-orang lemah.” ([824])

Adapun terkait akidah mereka tentangnya, maka dijelaskan oleh ulama besar mereka, Al-Mufīd, “Sekte Imāmiyyah sepakat atas kepastian kembalinya banyak orang-orang yang sudah meninggal ke dunia sebelum hari Kiamat.” ([825])

Mereka membuat riwayat palsu yang berbunyi, “Bukan termasuk golongan kami yang tidak beriman terhadap raj’ah kami dan tidak menghalalkan nikah mut’ah kami.” ([826])

Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Kaum Syi’ah di seluruh zaman sepakat atas adanya raj'ah dan telah masyhur di kalangan mereka seperti halnya matahari di siang hari.”([827])

Aṭ-Ṭabrasiy, Al-Ḥurr Al-'Āmiliy, Ibnul-Muẓaffar, dan lainnya berkata, “Raj’ah adalah objek ijmak semua penganut Syi’ah Imāmiyyah.” ([828])

Bahkan ini termasuk dalam perkara pasti yang wajib diketahui dalam Mazhab Imāmiyyah menurut semua ulama yang terkenal dan penulis-penulis yang masyhur. ([829])

Dan mereka telah menghukumi kafir orang yang mengingkari perkara pasti yang wajib diketahui ini, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Juga mereka menyatakan bahwa orang yang tidak mempercayai raj’ah, maka telah mengingkari Allah Ta'ālā.

Mereka membuat riwayat palsu atas nama Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu, bahwa dia berkata, “Siapa yang mengingkari bahwa aku akan kembali dan berdakwah sekian kali di muka bumi, akan baru kembali seperti dulu, maka dia telah menolak kami, dan siapa yang menolak kami dia telah menolak Allah.” ([830])

Tanggapan:

Allah Ta'ālā telah membatalkan akidah raj’ah dalam firman-Nya,

ﮋ ﮨ  ﮩ   ﮪ  ﮫ  ﮬ  ﮭ  ﮮ   ﮯ    ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ  ﯕ   ﯖﯗ  ﯘﯙ  ﯚ  ﯛ             ﯜ  ﯝﯞ  ﯟ  ﯠ    ﯡ  ﯢ  ﯣ    ﯤ  ﯥ  ﮊ

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu`minūn: 99-100)

Juga dengan firman-Nya,

ﮋ ﭶ  ﭷ  ﭸ             ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ    ﭽ  ﭾ  ﭿ     ﮀ  ﮁ  ﮊ

"Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tidak ada yang kembali kepada mereka." (QS. Yāsīn: 31)

 Pertanyaan (135): Untuk apa semua nabi dan rasul kembali ke dunia menurut akidah para ulama Syi’ah?

Jawab: Untuk menjadi pasukan yang berperang di bawah panji Ali raḍiyallāhu 'anhu!

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah bahwa dia berkata, “Allah tidak mengutus seorang nabi maupun rasul kecuali akan mengembalikan mereka semua ke dunia untuk berperang di hadapan Ali bin Abi Ṭālib, Amirul Mukminin 'alaihissalām.” ([831])

Pertanyaan (136): Kapan pelaksanaan hisab makhluk di hari Kiamat? Dan siapa yang akan melakukannya?

Jawab: Yaitu sebelum hari Kiamat!

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh, bahwa dia berkata, “Yang akan melakukan hisab kepada manusia sebelum hari Kiamat adalah Ḥusain bin Ali 'alaihimassalām. Adapun hari Kiamat adalah kebangkitan menuju surga atau kebangkitan menuju api neraka.” ([832])

Kontradiksi:

Allah Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﭘ  ﭙ  ﭚ  ﭛ  ﭜﭝ   ﭞ   ﭟ  ﭠ  ﮊ

"Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, jika kamu menyadari." (QS. Asy-Syu’arā`: 113)

Allah Ta'ālā juga berfirman,

ﮋ ﯶ  ﯷ  ﯸ  ﯹ  ﯺ   ﮊ

"Kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka." (QS. Al-Gāsyiyah: 26)

 Pertanyaan (137): Siapakah orang pertama yang memunculkan akidah raj’ah? Dan bagaimana akidah ini masuk ke Sekte Syi’ah?

Jawab: Pendiri pertama mazhab Syi’ah adalah Abdullah bin Saba` Al-Yahūdiy, sebagaimana dinyatakan oleh buku-buku mereka, di mana dia meyakini raj’ah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.

Kemudian perkara itu beralih kepada keyakinan raj’ah Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu.

Ketika sampai kepadanya berita kematian Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu, dia berkata kepada yang memberitakannya, “Kamu dusta! Seandainya kamu mendatangkan otaknya dalam 70 kantong dan menegakkan saksi 40 orang yang terpercaya, kami tetap akan meyakini bahwa dia belum meninggal dan dia tidak dibunuh. Dia tidak akan meninggal kecuali setelah menguasai bumi.” ([833])

Kemudian perkara tersebut berkembang, hingga mayoritas sekte mazhab Syi’ah yang mencapai lebih dari 300 sekte meyakini raj’ah imam mereka. Misalnya Sekte Al-Kaisāniyyah, mereka menanti Imam Muhammad bin Al-Ḥanafiyyah raḥimahullāh dan meyakini bahwa dia masih hidup tertahan di Gunung Raḍwā hingga dia diizinkan keluar!

Begitu juga Sekte Al-Muḥammadiyyah menanti imam mereka Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Ṭālib raḥimahullāh; mereka tidak percaya terhadap pembunuhan maupun kematiannya. ([834])

 Pertanyaan (138): Apakah badā` itu? Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang badā? Dan siapakah yang pertama kali meyakininya?

Jawab: Badā` secara bahasa menurut syekh mereka, Al-Majlisiy memiliki dua makna:

Pertama, terlihat dan tampak; kedua: kemunculan ide baru. ([835])

Akidah badā` pada dasarnya adalah akidah sesat Yahudi. Kendati demikian orang-orang Yahudi mengingkari nasakh, karena menurut keyakinan mereka nasakh memiliki konsekwensi badā`.([836]) Akidah badā` berpindah ke kelompok-kelompok Syi’ah Saba`iyyah; mereka semua meyakini badā`, yaitu tampaknya hal-hal yang baru kepada Allah. ([837])

ﮋ ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ  ﮏ  ﮐ             ﮑ  ﮊ

"Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan." (QS. Al-Isrā`: 43)

Keyakinan badā` termasuk pokok akidah Syi’ah. Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Tidaklah Allah diibadahi dengan sesuatu yang semisal dengan keyakinan badā`.”([838])

Mereka juga membuat kebohongan atasnya bahwa dia berkata, "Andai manusia tahu tentang pahala meyakini akidah badā` tentu mereka tidak akan bosan mengucapkannya." ([839])

Akidah ini menjadi poin kesepakatan para ulama Syi’ah; di mana mereka sepakat menyematkan kata badā` dalam menyifati Allah Ta'ālā. ([840])

Bersabarlah, wahai saudaraku Muslim, untuk membaca kebohongan yang buat oleh guru para ulama mereka, Al-Kulainiy, atas nama Abu Hasan raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Telah tampak bagi Allah pada Abu Muhammad setelah Abu Ja'far sesuatu yang sebelumnya tidak Dia ketahui.” ([841])

Tanggapan:

Wahai para ulama Syi’ah!

ﮋ ﭠ  ﭡ  ﭢ   ﭣ  ﭤ  ﭥ  ﭦ   ﭧ  ﭨ  ﭩ  ﭪ 

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian." (QS. Nūḥ: 13-14)

ﮋ ﯦ  ﯧ  ﯨ  ﯩ  ﯪ   ﯫ  ﯬ  ﯭ  ﯮ  ﯯ  ﯰ   ﯱ  ﯲﯳ  ﯴ  ﯵ  ﯶ  ﯷ  ﯸ   ﮊ

"Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Az-Zumar: 67)

Akidah badā` kalian ini, yang kalian katakan bahwa Allah tidak pernah disembah dengan yang semisalnya, berkonsekuensi kalian menyifati Allah Ta'ālā dengan sifat jahil, Mahatinggi Allah dari yang demikian itu. Adapun tentang kalian menyifati imam-imam kalian, wahai ulama Syi’ah, kalian membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah bahwa dia berkata, “Sungguh, seorang imam bila hendak tahu maka dia langsung tahu.” ([842])

Bantahan:

Diriwayatkan oleh Al-Kulainiy, dari Manṣūr bin Ḥāzim dia berkata, Aku bertanya kepada Abu Abdillah 'alaihissalām, “Apakah ada hari ini sesuatu tidak diketahui oleh Allah kemarin?” Dia menjawab, “Tidak. Siapa yang mengatakan ini semoga Allah menghinakannya.” Aku bertanya, “Kabarkan kepadaku tentang apa yang telah ada dan yang akan ada hingga hari Kiamat, bukankah ada dalam ilmu Allah?” Dia menjawab, “Benar, bahkan sebelum Allah menciptakan makhluk.” ([843])

Cukuplah kelancangan para ulama Syi’ah terhadap Allah bahwa mereka menisbahkan kepada-Nya bahwa ada kemungkinan akibat dari apa yang Dia takdirkan akan samar terhadap-Nya, sementara hal itu tidak boleh samar terhadap imam-imam mereka. Mereka menyucikan imam mereka dari ketidaktahuan tetapi membolehkannya bagi Allah Subḥānahu wa Ta'ālā.

 Pertanyaan (139): Apa sebab mereka meyakini akidah badā` padahal menyelisihi nas Al-Qur`ān, Sunnah, ucapan imam-imam mereka, dan bahkan akal?

Jawab: Syekh mereka, Sulaiman bin Jarīr berkata, “Imam-imam Rāfiḍah telah meletakkan bagi pengikut mereka dua kaidah untuk menyembunyikan kedustaan imam mereka selamanya, yaitu keyakinan badā` dan kebolehan taqiyyah.

Adapun badā`, tatakala imam-imam mereka memposisikan diri dari para pengikutnya seperti posisi para nabi dari para pengikutnya dalam hal mengetahui apa yang telah terjadi dan yang sedang terjadi serta mengabarkan apa yang akan terjadi besok, dan mereka berkata kepada pengikutnya, "Akan terjadi besok dan pada hari-hari yang akan datang ini dan itu." Jika hal itu terjadi seperti yang mereka katakan, mereka berkata, ‘Bukankah kalian telah kami beritahukan bahwa ini akan terjadi? Kami tahu dari Allah 'Azza wa Jalla apa yang diketahui oleh para nabi. Antara kami dan Allah 'Azza wa Jalla yang semisal dengan sebab-sebab yang dengannya para nabi dapat mengetahui dari Allah apa yang mereka ketahui. Tetapi jika hal yang mereka katakan akan terjadi itu tidak terjadi seperti yang mereka katakan, mereka akan berkata kepada para pengikutnya, ‘Telah tampak hal berbeda bagi Allah dalam hal itu.’” ([844])

Misalnya:

Mereka meyakini imam mereka memiliki ilmu tentang ajal, rezeki, musibah, sifat, dan penyakit, tetapi mensyaratkan adanya badā` pada mereka dalam hal itu. ([845])

Jadi, akidah badā` adalah siasat untuk menutupi kedustaan mereka apabila mereka mengabarkan sesuatu tidak sesuai fakta.

Ulama-ulama Syi’ah memerintahkan para pengikutnya, berdasarkan akidah ini, agar menerima kontradiksi dan kedustaan yang ada. Mereka membuat kebohongan bahwa bila imam mereka ketika mengabarkan sesuatu tidak sesuai fakta, ia berkata, “Jika kami mengabarkan kalian sesuatu kemudian ia terjadi seperti yang kami kabarkan, maka ucapkanlah, ‘Telah benar Allah dan Rasul-Nya.’ Tetapi jika berbeda dari fakta, maka katakanlah, ‘Telah benar Allah dan Rasul-Nya’, niscaya kalian diberi pahala dua kali.” ([846])

 Pertanyaan (140): Apa akidah mereka mengenai gaibah (bersembunyinya imam kedua belas), dan siapa yang pertama kali mencetuskannya?

Jawab: Syekh mereka, Abdullah Fayyāḍ berkata, “Gaibah termasuk akidah mendasar di kalangan Imāmiyyah.” ([847])

Ulama-ulama Syi’ah meyakini bahwa bumi tidak akan kosong dari seorang imam walau sekejap!

Al-Kulainiy membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Sekiranya bumi bertahan tanpa seorang imam, bumi pasti runtuh dan hancur.”([848])

Dia juga membuat kebohongan atas nama Abu Ja'far raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Seandainya imam diangkat dari bumi sesaat, bumi pasti menggoncang penghuninya sebagaimana laut menggoncang isinya.” ([849])

Yang demikian itu karena imam bagi mereka adalah ḥujjah terhadap penduduk bumi. ([850])

Menurut mereka tidak ada ḥujjah selainnya. Bahkan Kitabullah sekalipun tidak menjadi ḥujjah tanpa imam, karena Al-Qur`ān tidak menjadi ḥujjah tanpa adanya Al-Qayyim (pemimpin). ([851])

Al-Qayyim ialah salah satu imam yang dua belas, sebagaimana diketahui dari nas-nas akidah mereka.

Orang pertama yang menciptakannya berdasarkan pengakuan ulama-ulama Syi’ah adalah syekh pertama mereka, Abdullah bin Saba` Al-Yahūdiy yang meyakini Ali tidak mati tetapi bersembunyi. ([852])

 Pertanyaan (141): Kita boleh bertanya kepada ulama-ulama Syi’ah, "Di manakah imam kalian hari ini?"

Jawab: Al-Ḥasan Al-'Askariy, imam mereka yang ke-11 wafat tahun 260 H tanpa memiliki anak.

Buku-buku Syi’ah mengakui bahwa dia meninggal dan tidak diketahui memiliki keturunan, juga tidak diketahui memiliki anak yang terlihat, sehingga harta warisannya hanya dibagi oleh saudaranya Ja'far dan ibunya. ([853])

Ulama-ulama Syi’ah mengalami kegoncangan setelah Ḥasan Al-'Askariy wafat tanpa memiliki anak; mereka berselisih tentang siapa yang akan menggantikannya hingga mencapai empat belas kelompok sebagaimana disebutkan oleh An-Nūbakhtiy([854]) dan Al-Mufīd([855]) atau 15 kelompok atau lebih seperti yang dikatakan oleh Al-Qummiy([856]) atau 20 kelompok sebagaimana dikatakan oleh Al-Mas’ūdiy([857]).

Sampai-sampai sebagian ulama mereka berkata, “Keimaman (imamah) telah terhenti.” ([858])

Dan konon, keimaman telah berhenti setelah Al-Ḥasan 'alaihissalām, para imam telah diangkat dan tidak lagi ada ḥujjah di muka bumi dari keluarga Muhammad. ([859])

Kematian Al-Ḥasan tanpa memiliki keturunan hampir menjadi akhir mazhab Syi’ah dan orang-orang Syi’ah, karena tiang utamanya -yaitu imam- telah runtuh.

Tetapi "akidah gaibah atau bersembunyinya imam" menjadi pondasi bagi eksistensi mereka setelah bangunan ajaran mereka hampir roboh di hadapan orang-orang awam mereka. Oleh karena itu, keyakinan bersembunyinya satu anak dari Al-Ḥasan Al-'Askariy menjadi pusat perputaran akidah mereka.

Dengan itu kebanyakan pengikut mereka kembali tenang setelah sempat goncang. Ulama-ulama Syi’ah tidak lagi memiliki tempat bertumpu kecuali itu, yaitu ideologi keyakinan adanya imam gaib untuk menjaga tipu muslihat mereka di dalam mazhab Syi’ah dari kehancuran.

Jika syekh Syi’ah yang pertamalah, yaitu Ibnu Saba` Al-Yahūdiy yang meletakkan akidah penunjukan Ali raḍiyallāhu 'anhu sebagai imam yang menjadi dasar pemahaman Syi'ah mereka, maka ada pula Ibnu Saba` lain, dialah yang meletakkan pengganti bagi pemikiran imamah setelah dia berakhir secara indrawi dengan terputusnya keturunan Ḥasan, atau dia adalah satu dari tim yang meletakkan pemikiran ini, tetapi dialah tokoh paling besar pada klaim ini. Dialah Abu Umar Usman bin Sa’īd Al-'Umariy Al-Asadiy Al-'Askariy (280 H). Kaum Syi'ah sepakat atas sifat ‘adālah, ṡiqah, dan amānah pada dirinya.([860])

Dia membuat kebohongan bahwa Imam Al-Ḥasan memiliki seorang anak yang bersembunyi dengan umur 4 tahun. ([861])

Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Kebanyakan riwayat menunjukkan dia berumur 5 tahun kurang beberapa bulan, atau kurang 1 tahun beberapa bulan.” ([862])

Meskipun sang anak -sebagaimana yang diakui oleh buku-buku Syi’ah mereka- tidak pernah muncul di masa hidup ayahnya, Al-Ḥasan, dan tidak juga dikenal oleh masyarakat setelah dia wafat,([863]) tetapi laki-laki ini, yakni Usman, mengklaim mengetahuinya, dan bahwa dia sebagai wakilnya dalam menerima harta dan menjawab pertanyaan -pertanyaan mereka.

Tanggapan:

Aneh sekali! Ulama-ulama Syi’ah mengklaim bahwa mereka tidak menerima kecuali ucapan orang yang maksum, sampai-sampai mereka menolak ijmak tanpa imam yang maksum, tetapi di sini mereka menerima klaim seorang laki-laki yang tidak maksum dalam akidah Syi’ah yang paling utama. Dan ada lagi orang-orang lain yang mengklaim hal yang sama; masing-masing mengklaim sebagai wakil bagi imam yang gaib. Perselisihan di antara para pemburu harta ini sangat keras, masing-masing mereka mengeluarkan tauqī’ (bukti perwakilan) yang diklaim berasal dari imam gaib yang ditunggu. Di dalamnya terdapat tulisan saling melaknat dan mendustakan antara sesama mereka. Sebagian di antara mereka telah disebutkan oleh syekh mereka Al-Majlisiy dalam Bab Żikrul-Mażmūmīn al-Lażīna Idda’au al-Bābiyyah was-Sifārah Każiban wa Iftirā`an La’anahumullāh (Bab penyebutan kaum tercela yang mengklaim sebagai wakil dan utusan imam yang gaib secara dusta, semoga Allah melaknat mereka). ([864])

Bahkan Usman dan orang-orang yang bersamanya menolak menerangkan nama anak yang diklaim ini maupun menyebutkan tempat keberadaannya saat awal mula klaim ini.

Dari Abu Abdillah Aṣ-Ṣālihiy dia berkata, “Aku ditanya oleh ulama-ulama kami setelah kepergian Abu Muhammad 'alaihissalām untuk menanyakan nama dan tempatnya, maka keluar jawaban, “Apabila kalian memberitahukan nama maka mereka akan menyiarkannya, dan apabila mereka telah mengetahui tempatnya mereka akan menunjukkannya.” ([865])

Al-Kulainiy membuat riwayat palsu, dari Abu Abdillah 'alaihissalām dia berkata, “Pemilik perkara ini, tidak akan menyebutkan namanya kecuali orang kafir.”([866])

Tatakala dikatakan kepada Hasan Al-Askariy, "Bagaimana kami menyebutnya?" Dia menjawab, “Katakan, ḥujjah dari keluarga Muhammad ṣalawātullāh wasalāmuhu ‘alaih.” ([867])

Bantahan

Tampaknya usaha menyembunyikan nama dan tempatnya tidak lain adalah cara untuk menyembunyikan kedustaan ini. Sebab, bagaimana bisa ulama mereka memerintahkan untuk menyembunyikannya sementara mereka sendiri yang mengatakan, "Siapa yang tidak mengenal imam dari kalangan kami Ahli Bait maka sebenarnya mereka mengenal dan menyembah selain Allah." Demikian mereka sebutkan, demi Allah, hanya untuk menyesatkan. ([868])

Mereka juga mengatakan, “Siapa yang meninggal sementara dia tidak mengetahui imamnya, dia meninggal dengan kematian jahiliah.” ([869])

Bantahan Telak Terhadap Para Ulama Syi'ah

Karena akidah mereka dibangun di atas kedustaan dan kebohongan yang dibuat oleh ulama-ulama mereka, mereka lupa menghukumi kafir orang yang menyebutkan namanya, padahal mereka meriwayatkan dari Jābir bin Abdullah Al-Anṣāriy, dia berkata, Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam bersabda, “Al-Mahdi berasal dari keturunanku, namanya sama dengan namaku dan kun-yah-nya sama dengan kun-yah-ku.” ([870])

Akidah gaibah sebagaimana didengungkan oleh Usman, juga didengungkan oleh putranya, Abu Ja'far Muhammad bin Usman (304 H atau 305 H). Lalu Syi’ah terkotak-kotak menjadi banyak sekte; sebagiannya melaknat yang lain dan berlepas diri darinya. Penyebabnya adalah kerakusan untuk menimbun harta. ([871])

Kemudian Muhammad bin Usman menunjuk Abul-Qāsim Ḥusain bin Rūḥ An-Nūbakhtiy setelahnya, dan penunjukan ini menimbulkan pertikaian besar di antara para pemburu harta (khumus), membuat mereka keluar memisahkan diri dan terjadi banyak saling laknat di antara mereka. ([872])

Dan terakhir, untuk menghentikan pertikaian itu, Ibnu Rūḥ mewasiatkan hal perwakilan kepada Ali bin Muhammad As-Samriy. ([873])

As-Samriy bertahan di atas jabatannya selama 3 tahun. Setelah itu dia frustasi dan jemu dengan jabatannya sebagai wakil kepercayaan imam gaib, sehingga ketika ditanya menjelang kematiannya, “Siapakah yang engkau wasiatkan setelahmu?” Dia menjawab, “Allah memiliki urusan, Dia yang akan menyampaikannya.” ([874])

Masa perwakilan empat orang tersebut menggantikan Al-Mahdi disebut dengan masa gaibah ṣugrā. Para ulama Syi’ah telah mengembangkan akidah gaibah, setelah sebelumnya di tangan satu orang dari syekh Syi’ah yang bertemu langsung dengan Sang Imam, mereka mengumumkan terputusnya hubungan langsung dengan Al-Mahdi dan pihak berwenang Iṡnā ‘Asyariyyah mengeluarkan tauqī’ (bukti perwakilan) yang dinisbahkan kepada imam khayalan yang ditunggu, bahwa setiap mujitahid Syi’ah adalah wakil yang mewakili imam. Tauqī’ itu berbunyi: “Adapun peristiwa-peristiwa yang terjadi, maka kembalikanlah kepada perawi-perawi hadis kami karena mereka adalah ḥujjah-ku kepada kalian dan aku adalah hujjah Allah kepada kalian.” ([875])

Mengapa dia tidak mengembalikan mereka kepada Kitab dan As-Sunnah? Mengapa mereka melakukan itu dan menisbahkannya kepada sang duta As-Samriy?

Salah satu wakil Al-Mahdi, yaitu syekh mereka Abu Ja'far Muhammad bin Ali Asy-Syalmagāniy berkata, “Tidaklah kami masuk bersama Abul-Qāsim Ḥusain bin Rūḥ raḍiyallāhu 'anhu dalam perkara ini kecuali kami mengetahui apa yang kami masuki. Kami berkelahi memperebutkan perkara ini seperti anjing yang berkelahi memperebutkan bangkai.” ([876])

Ya! Perkara imam gaib adalah salah satu rukun mazhab Syi’ah, termasuk permasalahan yang membingungkan banyak ulama Syi’ah karena keraguan mereka pada perkaranya, panjang masa menghilangnya, dan terputusnya beritanya, dan memang pantas mereka merasa seperti itu.

Syekh mereka, Ibnu Bābawaih Al-Qummiy berkata, “Aku pulang ke Naisabur dan menetap di sana, maka aku dapatkan kebanyakan orang-orang Syi’ah yang datang kepadaku bingung terhadap akidah gaibah. Mereka telah dimasuki syubhat tentang perkara Al-Qā`im 'alaihissalām.”([877])

Pembaca cerdas lagi objektif!

Keraguan dan kebingungan terhadap sosok imam yang mereka tunggu ini terjadi pada masa ulama mereka ini, yaitu Ibnu Bābawaih Al-Qummiy (381 H). Lalu bagaimana bentuk keraguan itu di zaman ini setelah berlalunya masa berabad-abad?!

 Pertanyaan (142): Apa alasan yang diberikan oleh para ulama Syi’ah tentang sebab menghilangnya Imam Al-Mahdi yang mereka klaim?

Jawab: Mereka memberikan alasan bahwa dia menghilang karena takut dibunuh. ([878])

Tanggapan:

Bagaimana bisa mereka mengucapkan kebohongan ini?! Padahal mereka mengharuskan orang-orang awam mereka untuk meyakini bahwa imam-imam mereka mengetahui kapan mereka meninggal, bahkan bagaimana mereka akan meninggal, bahkan lagi mereka tidak akan meninggal kecuali dengan pilihan mereka!! ([879])

Jika imam yang mereka tunggu bersembunyi karena mengkhawatirkan keselamatan dirinya ([880]) , maka kenapa (Al-Mahdi) sang penghuni sirdāb (gua dalam bumi) tidak muncul dan menyatakan diri ketika Keluarga Bābawaih berkuasa di Bagdad dan menaklukkan khalifah-khalifah Bani ‘Abbāsiyyah serta berhasil membasmi negara Islam dengan pedang Yakjuj dan Makjuj? Apakah kesempatan itu tidak tepat bagi Allah Subḥānahu wa Ta'ālā untuk menyegerakan kemunculannya?!

Mengapa dia tidak muncul ketika Asy-Syāh Ismail Aṣ-Ṣafawiy bangkit dan mengalirkan darah-darah Ahli Sunnah seperti sungai?!

Mengapa dia tidak muncul ketika Karīm Khān Az-Zandiy -Sultan terkemuka Iran- mencetak nama imam mereka “Ṣāḥibuz-Zamān” di atas mata uang dan menyatakan diri sebagai wakilnya?!

Mengapa dia belum muncul hari ini padahal telah tegak negeri Al-Khumainiy yang mengklaim diri sebagai wakil dari imam yang maksum dalam segala hal?!!

Setelahnya, mengapa dia belum muncul sampai hari ini padahal jumlah kaum Syi’ah telah cukup sejak 40 tahun yang lalu sebagaimana yang mereka klaim sebanyak 200 juta ([881]) dan mayoritas mereka adalah para penunggunya?!!

Dan bagaimana dia hidup selama waktu sepanjang ini dan belum meninggal hingga sekarang? Padahal pernah seorang laki-laki berkata kepada imam mereka Ali Ar-Riḍā, “Semoga aku dijadikan sebagai tebusanmu! Sekelompok orang bergantung kepada ayahmu dan meyakininya belum meninggal?” Maka dia berkata, “Mereka dusta! Mereka telah kafir terhadap apa yang Allah 'Azza wa Jalla turunkan kepada Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam. Seandainya Allah akan memanjangkan usia seseorang karena kebutuhan manusia kepadanya, niscaya Allah akan memanjangkan usia Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam.”([882])

 Pertanyaan (143): Apa hukum yang diberikan oleh ulama-ulama mazhab Syi’ah terhadap orang yang mengingkari akan keluarnya imam mereka?

Jawab: Mereka membuat kebohongan bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengingkari Al-Qā`im yang berasal dari keturunanku, maka dia telah mengingkariku.” ([883])

Syekh mereka, Ibnu Bābawaih Al-Qummiy berkata, “Permisalan orang yang mengingkari Al-Qā`im 'alaihissalām selama masa bersembunyinya seperti Iblis ketika tidak mau bersujud kepada Adam. Seperti itu diriwayatkan dari Aṣ-Ṣādiq Ja'far bin Muhammad.”([884])

Luṭfullāh Aṣ-Ṣāfiy berkata, “Riwayat yang datang tentang keutamaan menunggu Al-Mahdi sangat banyak dan mutawātir.” ([885])

Menunggu dia muncul dari persembunyiannya termasuk pokok agama mereka.

Al-Kulainiy membawakan riwayat palsu bahwa Abu Ja'far berkata kepada Abul-Jārūd, “Demi Allah, aku akan berikan kepadamu agamaku dan agama ayah-ayahku yang dengannya kami beragama kepada Allah 'Azza wa Jalla, yaitu bersyahadat lā ilāha illallāh dan bahwa Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam adalah utusan Allah serta menyatakan apa yang dibawa dari Allah, loyal kepada imam kami dan berlepas diri dari musuh-musuh kami (sahabat), tunduk kepada urusan kami dan menunggu pemimpin kami, juga bersungguh-sungguh dan bersikap warak.” ([886])

 Pertanyaan (144): Apa manfaat yang didapatkan oleh ulama-ulama Syi’ah dari akidah gaibah (persembunyian imam kedua belas) yang mereka ciptakan?

Jawab: Manfaat paling besar adalah murtadnya sebagian besar kaum Syi’ah dari agama mereka.

Jangan heran, para Pembaca, ini bukan dari ucapanku melainkan ada di kitab Al-Jafr mereka!

Salah satu murid imam mereka Ja'far aṣ-Ṣādiq berkata, “Saya memperhatikan kelahiran imam kita, lamanya masa gaibah (persembunyiannya), panjangnya usianya, lalu ujian yang menimpa orang-orang beriman setelahnya pada zaman itu, serta lahirnya keraguan di dalam hati pengikut Syi’ah karena panjang masa persembunyiannya, dan murtadnya sebagian besar mereka dari agama serta melepas tali Islam dari leher mereka.” ([887])

 Pertanyaan (145): Kapan kewajiban melaksanakan salat Jumat menurut ulama-ulama Syi’ah?

Jawab: Salat Jumat tidak wajib hingga Imam Al-Mahdi mereka keluar dari persembunyiannya untuk memimpin mereka melaksanakan salat. Oleh karena itu, mereka mengatakan, "Salat Jumat dan peradilan khusus milik imam umat Islam." ([888]) Hal itu telah diakui oleh sebagian ulama mereka, ia berkata, “Pengikut Syi'ah sejak masa para imam telah meninggalkan Jumat.” ([889])

Imam besar mereka, Al-Khumainiy berkata setelah panjangnya masa persembunyian imam mereka, “Salat Jumat pada masa-masa sekarang ini wajib dengan memilih antara salat Jumat dan salat Zuhur, tetapi Jumat lebih afdal dan Zuhur lebih hati-hati.” ([890])

 Pertanyaan (146): Apakah jihad diperbolehkan sebelum Imam Al-Mahdi kaum Syi’ah keluar?

Jawab: Mereka membuat kebohongan, “Perang bersama selain imam yang sah adalah ketaatan yang haram, seperti bangkai dan daging babi.” ([891])

Imam besar mereka, Al-Khumainiy berkata, “Selama masa persembunyian Waliyyul-Amri dan Sulṭānul-'Asri, semoga Allah menyegerakan kemunculannya yang mulia, wakil-wakilnya yaitu para fukaha yang telah memenuhi syarat fatwa dan peradilan menggantikan posisinya dalam menjalankan politik dan semua yang menjadi wewenang Sang Imam 'alaihissalām, kecuali memulai jihad.” ([892])

Kontradiksi:

Ketika imam besar mereka, Al-Khumainiy mendirikan negaranya, dia menetapkan dalam perundangannya, “Bahwa pasukan Republik Islam tidak hanya memikul tanggung jawab melindungi dan menjaga perbatasan, tetapi juga bertanggung jawab memikul risalah akidah yaitu jihad fi sabilillāh serta berjuang demi perluasan jangkauan undang-undang Allah di seluruh penjuru dunia.” ([893])

 Pertanyaan (147): Kalau begitu, apa hukum para mujahid yang telah menaklukkan negeri-negeri kafir sepanjang sejarah?

Jawab: Imam mereka berkata, “Mereka mengejar neraka; disembelih di dunia dan disembelih di akhirat. Demi Allah, tidaklah sebagai syahid kecuali pengikut Syi’ah sekalipun mereka mati di tempat tidur.” ([894])

 Pertanyaan (148): Apa akidah Syi’ah tentang yang akan dilakukan oleh imam yang mereka klaim sebagai imam kedua belas apabila dia telah keluar?

Jawab:

 1-       Melakukan balas dedam terhadap Abu Bakar, Umar, dan Aisyah raḍiyallāhu 'anhum.

Para ulama Syi’ah menegaskan bahwa Imam Al-Mahdi yang mereka tunggu akan menghidupkan Abu Bakar dan Umar raḍiyallāhu 'anhumā kemudian menyalibnya di batang kurma dan membunuhnya setiap hari seribu kali, lalu menyalibnya di pohon dan memerintahkan api keluar dari tanah dan api itu membakarnya bersama pohon itu, kemudian memerintahkan angin dan angin tersebut menghempaskannya ke laut. Al-Mufaḍḍal berkata, “Wahai tuanku (Abu Abdillah), apakah itu azab terakhir mereka berdua?” Dia menjawab, “Sama sekali tidak, wahai Mufaḍḍal!” ([895])

Mereka membuat doa-doa untuk dipanjatkan kepada imam mereka setiap hari agar dia keluar lalu melakukan balas dendam terhadap keduanya. ([896])

Al-Majlisiy berkata, “Ketika Al-Mahdi muncul, dia akan menghidupkan Aisyah dan menegakkan hudud kepadanya.” ([897])

 2-       Meletakkan pedang di Bangsa Arab

Abu Abdillah 'alaihissalām berkata, “Tidak tersisa antara kita dan Bangsa Arab kecuali penyembelihan” sembari mengisyaratkan tangan ke lehernya. ([898])

Tanggapan:                    

Kalau dicermati, tindakan genosida akan dilakukan secara merata terhadap ras Arab, tanpa membedakan antara pengikut Syi’ah dan Sunni, padahal ada pengikut Syi’ah dari Bangsa Arab.

Oleh karena itu, ulama-ulama Persia mereka membuat kebohongan terhadap Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Waspadalah terhadap Bangsa Arab, karena mereka memiliki berita buruk. Ketahuilah, tidak ada seorang Arab pun akan keluar bersama Al-Qā`im.” ([899])

Perang yang yang dilakukan oleh Al-Khumainiy terhadap rakyat Irak tanpa membedakan antara pengikut Syi’ah dan Sunni adalah awal penerapan prinsip ini, yaitu genosida ras Arab.

Belum tibakah waktunya, wahai pengikut Syi’ah dari Arab, untuk menyadari bahwa yang menciptakan dan meletakkan dasar agama kalian adalah Ibnu Saba` Al-Yahūdiy dan saudara-saudaranya dari orang-orang Majusi? Perhatikan bagaimana mereka mengancam kalian dengan Imam Al-Mahdi mereka apabila telah keluar, dia akan membunuh kalian semua.

Lihatlah apa yang diciptakan oleh para ulama mazhab kalian seputar dasar agama kalian yang sebenarnya, yaitu agama Majusi dan agama Yahudi! Ulama Syi’ah kalian telah menyebutkan bahwa Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu telah menghidupkan raja agama kalian, Kisra, dan berkata kepada tengkorak Kisra, “Aku bersumpah kepadamu, wahai tengkorak, hendaklah kamu kabarkan kepadaku siapa aku dan siapa kamu?” Maka tengkoraknya menjawab dengan bahasa yang fasih, “Adapun engkau, adalah Amirul Mukminin dan imam orang-orang yang bertakwa. Adapun aku, adalah hamba Allah dan anak hamba perempuan Allah, Kisrā bin Anū Syirwān. Tetapi aku, walaupun kufur seperti ini, Allah Ta'ālā menyelamatkanku dari azab api neraka..., dan api neraka diharamkan bagiku.” ([900])

Mengapa Al-Mahdi yang kalian klaim menghunuskan pedangnya pada kalian?

Apakah karena Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam keturunan Arab, juga Amirul Mukminin raḍiyallāhu 'anhu dan semua imam-imam kalian dari keturunan Arab?! Bukankah Imam Al-Mahdi yang kalian klaim dari keturunan Arab?! Ataukah dia berasal dari keturunan Yahudi Asbahān?!

Mereka membuat kebohongan, “Perkara ini tidak akan terwujud hingga lenyap sembilan per sepuluh manusia.” ([901])

Kontradiksi:

Mereka membuat kebohongan, dari Muhammad bin Muslim dan Abu Baṣīr, mereka berkata, Kami mendengar Abu Abdillah 'alaihissalām berkata, “Perkara ini tidak akan terwujud hingga lenyap dua pertiga manusia.” ([902])

 3-       Membunuh jamaah haji di antara Aṣ-Ṣafā dan Al-Marwa

Mereka membuat kebohongan, “Seakan aku melihat Ḥumrān bin A’yun dan Muyassar bin 'Abdul-'Azīz memukul manusia dengan pedangnya di antara Aṣ-Ṣafā dan Al-Marwah.” ([903]) Imam besar mereka, Al-Khumainiy, yang berkeyakinan bahwa ulama fikih Syi’ah adalah wakil imam mereka yang bersembunyi, berupaya melakukan ini. Lalu pengikutnya merealisasikan cita-cita majusi ini di Tanah Suci Mekah Mukarramah pada musim haji tahun 1407 H, tetapi Allah menggagalkan misi mereka. Kemudian pengikutnya melakukan upaya pengeboman pada musim haji tahun 1409 H dan berhasil menelan korban sebagian jamaah haji. Semoga Allah menjaga para jamaah haji dan jamaah umrah yang datang ke Baitullah dari keburukan dan makar mereka.

 4-       Menghancurkan Masjidilharam, Masjid Nabawi, dan kamar Nabi

Mereka membuat kebohongan, dari Abu Abdillah 'alaihissalām, dia berkata, “Al-Qā`im akan menghancurkan Masjidilharam dan mengembalikannya ke dasarnya serta Masjid Rasul ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi hingga dasarnya.” ([904])

Ketika Imam Al-Mahdi yang mereka klaim lama tidak keluar dari persembunyiannya, Sekte Al-Qarāmiṭah melakukan perampasan Ḥajar Aswad ketika mereka menyerang Mekah Mukarramah pada tahun 317 H, tetapi mereka tidak membawanya ke Qumm melainkan membawanya ke Baḥrain (pesisir Teluk Arab) dan berada di tangan mereka selama 22 tahun!! Kenapa? Akan ke mana arah kiblat manusia?

Mereka membuat kebohongan atas nama Ali -raḍiyallhu 'anhu-, bahwa dia berpidato di Masjid Kufah, “Wahai penduduk Kufah, Allah 'Azza wa Jalla telah memberikan kalian keutamaan yang tidak diberikan kepada seorang pun. Tempat salat kalian adalah rumah Adam, rumah Nuh, rumah Idris, dan tempat salat Ibrahim. Siang dan malam tidak akan berhenti hingga Ḥajar Aswad diletakkan padanya.” ([905])

Mereka membuat kebohongan bahwa Imam Al-Mahdi mereka berkata, “Aku akan datang ke Yaṡrib (Madinah) lalu menghancurkan kamar Nabi.” ([906])

Āyatullāh mereka sekarang, Ḥusain Al-Khurāsāniy berkata, “Kelompok-kelompok Syi’ah terus memantau dari waktu ke waktu, bahwa suatu hari yang dekat, seseorang akan datang menaklukkan Tanah Suci untuk mereka sekali lagi, supaya mereka bisa masuk dengan aman lalu melakukan tawaf di rumah Tuhan mereka, menunaikan manasik, dan menziarahi kubur pemimpin dan syekh mereka, dan tidak ada di sana pemimpin zalim yang akan menzalimi mereka; yang menghancurkan kehormatan mereka, menghilangan kesucian Islam mereka, menumpahan darah mereka yang terpelihara, dan merampas harta mereka yang terlindungi dengan cara zalim. Semoga Allah Ta'ālā mewujudkan angan-angan kita.” ([907])

Dalam upacara massal dan resmi yang dilaksanakan di 'Abādān pada tanggal 17/3/1979 M yang bertepatan dengan tanggal 18/4/1399 H dalam rangka pengukuhan revolusi Al-Khumainiy, salah satu syekh mereka, Dr. Muhammad Mahdī Ṣādiqī menyampaikan pidato dan berkata, “Saya tegaskan, wahai umat Islam yang ada di belahan timur dan barat bumi, bahwa Mekah Mukarramah Tanah Allah yang suci dan aman, dijajah oleh sekelompok orang Yahudi.” ([908]) Kemudian dia berjanji akan menaklukkannya.

Dalam media-media negara Khumainiy ditemukan banyak gambar yang melukiskan akidah ini.

Di antaranya gambar Kakbah di sampingnya Masjid Aqsa dan di antara keduanya senapan, di bawahnya tertera tulisan “Kita akan membebaskan dua kiblat ini”. ([909])

 5-       Menegakkan hukum keluarga Daud ([910])

Al-Kulainiy membuat bab: "Bab Tentang Para Imam 'alaihimussalām Bahwa Ketika Menang Mereka Akan Menerapkan Hukum Nabi Daud dan Keluarga Daud, dan Mereka Tidak Meminta Bukti". Lalu Al-Kulainiy membawakan kebohongan bahwa Ali bin Ḥusain ditanya, “Hukum apa yang akan kalian pakai?” Dia menjawab, “Hukum keluarga Daud. Apabila ada yang tidak kami dapatkan, akan kami sampaikan kepada Rūḥul-Qudus.” ([911])

Kontradiksi:

Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Ja'far raḥimahullāh, bahwa dia berkata, “Al-Qā`im akan memutuskan beberapa perkara yang diingkari oleh sebagian pengikutnya di antara orang yang pernah dipukul bagian depannya dengan pedang dan itu adalah hukum Adam –'alaihissalām-, maka dia memajukan mereka lalu memenggal leher mereka. Kemudian dia memutuskan yang kedua, maka diingkari oleh sebagian yang lain di antara orang yang pernah dipukul bagian depannya dengan pedang dan itu adalah hukum Daud 'alaihissalām, maka dia memajukan mereka lalu memenggal leher mereka. Kemudia dia memutuskan yang ketika, maka diingkari oleh sebagian yang lain di antara orang yang pernah dipukul bagian depannya dengan pedang dan itu adalah hukum Ibrahim 'alaihissalām, maka dia memajukan mereka lalu memenggal leher mereka. Kemudian dia memutuskan yang keempat dan itu adalah hukum Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi, maka tidak ada seorang pun yang mengingkarinya.” ([912])

Kontradiksi:

Mereka membuat kebohongan, “Apabila Al-Qā`im dari Ahli Bait bangkit, dia akan membagi secara rata dan bertindak adil pada rakyat. Siapa yang taat kepadanya, berarti dia telah taat kepada Allah; siapa yang durhaka kepadanya, berarti dia telah durhaka kepada Allah. Dia dinamakan Al-Mahdi karena akan memberi petunjuk kepada perkara yang samar serta mengeluarkan Kitab Taurat dan kitab-kitab Allah –'Azza wa Jalla- lainnya dari sebuah gua di Anṭākiyah; lalu mengadili pengikut Taurat dengan Taurat, pengikut Injil dengan Injil, pengikut Zabur dengan Zabur, dan pengikut Al-Qur`ān dengan Al-Qur`ān.” ([913])

Ini berarti dia mengajak kepada penyatuan agama internasional yang mengangkat semboyan Freemason. ([914])

Mereka membuat kebohongan atas nama Al-Bāqir raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Demi Allah, seakan aku melihatnya di antara Rukun Ḥajar Aswad dan Maqām Ibrahim membaiat manusia di atas kitab baru, dan dia kejam terhadap Bangsa Arab.” ([915])

Tanggapan:

Kasihan kalian, wahai Syi’ah Arab. Di samping itu, riwayat-riwayat kalian yang terdahulu mengakui bahwa di antara perbuatan Imam Al-Mahdi kalian adalah mengeluarkan sebuah kitab, bukan Al-Qur`ān yang ada pada umat Islam sekarang!

Juga, dia akan bersikap kepada manusia dengan yang bertentangan dengan sifat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, Ali, Ḥasan, dan Ḥusain raḍiyallāhu 'anhum.

Ulama-ulama kalian juga membuat riwayat palsu, “Sesungguhnya Allah Tabāraka wa Ta'ālā mengutus Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam sebagai rahmat, dan akan mengutus Al-Qā`im 'alaihissalām sebagai azab.” ([916])

Zurārah pernah bertanya kepada Abu Ja'far tentang Al-Qā`im, “Apakah dia akan mengikuti jejak Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi?” Dia menjawab, “Tidak, sama sekali. Wahai Zurārah, dia tidak akan mengikuti jejaknya!” Aku bertanya, “Semoga Allah jadikan aku sebagai tebusanmu, kenapa?” Dia menjawab, “Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi bersikap pada umatnya dengan memberi kebaikan untuk menarik hati manusia. Sedangkan Al-Qā`im berjalan dengan pembunuhan, seperti itulah dia diperintahkan di dalam kitab yang dia bawa; agar dia berjalan dengan pembunuhan dan tidak meminta bertobat seorang pun.” ([917])

Berdasarkan ini, menurut ulama-ulama Syi’ah, Al-Qā`im tidak akan mengikuti jejak Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, Ali, Hasan, dan Ḥusain raḍiyallāhu 'anhum. Jangan-jangan Al-Qā`im yang kalian tunggu adalah negara Yahudi Israel ataukah Dajal?

Dan mengapa mereka harus menerapkan hukum keluarga Daud?

Bukankah ini menunjukkan adanya prinsip-prinsip Yahudi pada ajaran Syi’ah?

Ketika negara Israel berdiri maka pasti mereka akan dipimpin dengan hukum keluarga Daud. Ketika Negara Israel berdiri, di antara program utama mereka adalah meletakkan pedang kepada umat Islam, khususnya dari Bangsa Arab. Cita-cita negara Bani Israel adalah menghancurkan Masjidilharam dan Masjid Nabawi serta meletakkan kitab baru pengganti Al-Qur`ān. Dan apa yang diklaim oleh pendiri mazhab Syi’ah bahwa para imam berjumlah dua belas, merupakan jumlah kabilah Bani Israel. Mereka juga membenci Jibril 'alaihissalām, sedangkan Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman,

ﮋ ﮊ   ﮋ  ﮌ ﮍ  ﮎ  ﮏ  ﮐ  ﮑ  ﮒ  ﮓ  ﮔ   ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚ  ﮛ   ﮜ  ﮝ  ﮞ  ﮟ  ﮠ  ﮡ  ﮢ  ﮣ   ﮤ  ﮥ  ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ  ﮊ

"Katakanlah, "Siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur`ān) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 97-98)

 6-       Mengubah hukum waris

Mereka membuat kebohongan atas nama Aṣ-Ṣādiq raḥimahullāh, bahwa dia berkata, “Allah telah mempersaudarakan antara ruh di bawah naungan Arasy 2.000 tahun sebelum menciptakan badan. Apabila imam kami para Ahli Bait telah muncul, dia akan memberikan warisan kepada saudaranya yang telah Allah persaudaraan antara mereka di bawah naungan Arasy, dan tidak memberikan warisan kepada saudaranya dari nasab.” ([918])

 Pertanyaan (149): Apakah ada ulama Syi’ah yang menyebutkan penentuan waktu keluarnya imam yang mereka klaim?

Jawab: Ya!

Syekh mereka, Al-Kulainiy membuat kebohongan atas nama Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu bahwa dia pernah ditanya, “Berapa lama gaibah itu?” Dia menjawab, “6 hari atau 6 bulan atau 6 tahun.” Aku bertanya, “Ini benar-benar akan terjadi?” Dia menjawab, “Ya. Sebagaimana dia diciptakan.” ([919])

Tetapi ternyata dia tidak keluar. Maka ulama mereka menentukan waktu kemunculannya setelah 70 tahun sejak dia menghilang.

Ternyata dia tidak keluar juga. Maka mereka mengubahnya menjadi 140 tahun.

Ternyata dia tidak keluar juga. Setelah itu ulama mereka mengumumkan bahwa waktu keluarnya tidak ditentukan?!

Yang demikian itu setelah mereka lama menunggu dan mereka kewalahan dalam kebingungan!!

Sehingga syekh mereka, Al-Kulainiy sendiri membuat kebohongan, dari Abu Baṣīr, dari Abu Abdillah 'alaihissalām. Dia (Abu Baṣīr) berkata, “Aku bertanya kepadanya tentang Al-Qā`im 'alaihissalām?” Abu Abdillah 'alaihissalām berkata, “Orang-orang yang memberi batasan waktu telah berdusta. Kami, Ahli Bait tidak menentukan waktu.” ([920])

 Pertanyaan (150): Apa solusi mereka di hadapan para pengikut mereka dari akidah wajibnya menunggu Al-Mahdi yang mereka klaim?

Jawab: Yaitu mereka menyatakan keumuman kekuasaan fukaha. Mereka membuat kebohongan, dari Abu Ja'far raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Semua bendera yang dijunjung sebelum hari keluarnya Al-Qā`im, orang yang membawanya adalah tagut yang disembah selain Allah Azza wa Jalla-.”([921])

Al-Māzandarāniy berkata, “Sekalipun orang yang mengangkatnya mengajak kepada kebenaran.” ([922])

Mereka menciptakan tauqī’ (surat bukti perwakilan) yang memberikan mereka sebagian dari kewenangan Imam Al-Mahdi yang mereka klaim, di antara isinya: “Adapun peristiwa-peristiwa yang terjadi, maka kembalikanlah kepada perawi-perawi hadis kami karena mereka adalah ḥujjah-ku kepada kalian dan aku adalah ḥujjah Allah kepada kalian.”([923])

Sehingga ulama mereka sepakat bahwa kekuasaan fukaha mereka khusus terkait masalah fatwa dan semisalnya. Adapun kekuasaan bersifat umum yang mencakup penegakan negara maka menjadi kekhususan imam yang gaib hingga dia kembali! Dan mereka bertahan di atas itu!

Hingga akhirnya imam besar mereka, Al-Khumainiy merasa gundah dengan penantian yang panjang karena dia mengetahui itu adalah khurafat, dia berkata, “Gaibah kubrā pada Imam Al-Mahdi kita -semoga Allah menyegerakan kemunculannya- telah berlalu lebih dari 1000 tahun, dan bisa jadi akan berlangsung puluhan ribu tahun.” ([924])

Dan dia berkata tentang dirinya dan rekan-rekannya para ulama Syi’ah bahwa mereka adalah ḥujjah terhadap manusia, sebagaimana Rasul ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi ḥujjah terhadap mereka. Setiap orang yang tidak taat kepada mereka maka Allah akan mengazabnya serta menghisabnya atas hal tersebut.” ([925])

Dia juga berkata, “Bagaimana pun, para nabi telah menyerahkan kepada mereka ([926]) semua urusan yang diserahkan kepada mereka, serta para nabi telah mengamanahi mereka apa yang diamanahkan kepada mereka.” ([927])

Bantahan:

Ini adalah kesaksian berbahaya dari ulama besar mereka, Al-Khumainiy, terhadap rusaknya mazhab Syiah sedari awal, dan bahwa kesepakatan kelompoknya sepanjang abad yang telah berlalu adalah di atas kesesatan.

Dan juga bahwa akidah mereka tentang penunjukkan imam tertentu adalah perkara batil. Perkara yang dengannya mereka mengafirkan para sahabat raḍiyallāhu 'anhum telah dibuktikan kebatilannya oleh sejarah dan realitas secara terang benderang. Inilah mereka sekarang meneriakkan akidah baru, yaitu keumuman wilāyah (kekuasaan) fakih!

Tetapi setelah waktu berjalan panjang dan mereka frustasi terhadap keluarnya Ṣāḥibuz-Zamān (Al-Mahdi), maka mereka mengambil alih semua wewenangnya. Al-Khumainiy mengambil alihnya untuk dirinya dan untuk sebagian rekan-rekannya dari para fukaha Syi’ah. Dia berkata, “Sekalipun tidak ada nas terhadap sosok orang yang menggantikan Sang Imam 'alaihissalām selama dia bersembunyi, hanya saja kriteria hakim syariat ada di sebagian besar fukaha kita pada masa ini.” ([928])

 Pertanyaan (151): Apa hakikat penisbahan ulama-ulama Syi’ah kepada Ahli Bait?

Jawab: Al-Kulainiy telah meriwayatkan, bahwa Amirul Mukminin Ali raḍiyallāhu 'anhu berkata, “Wahai orang-orang yang menyerupai laki-laki tetapi tidak ada yang laki-laki! Akal kalian akal anak-anak, akal para peternak puyuh! Sungguh, aku benar-benar berharap tidak pernah melihat kalian dan tidak mengenal kalian. Demi Allah, mengenal kalian mendatangkan sesal dan berujung celaan. Semoga Allah membinasakan kalian! Kalian telah mengisi hatiku dengan nanah dan memenuhi dadaku dengan amarah …” ([929])

Ḥusain berkata dalam doa terhadap pengikutnya, “Ya Allah, jika Engkau berikan mereka kenikmatan hidup hingga sekarang, maka cerai-beraikanlah mereka dan jadikan mereka kelompok-kelompok yang banyak serta janganlah Engkau jadikan mereka diridai oleh para pemimpin selamanya. Mereka telah mengundang kami untuk menolong kami, kemudian mereka menyerang dan membunuh kami.” ([930])

Beliau raḍiyallāhu 'anhu berkata ketika ditikam, “Demi Allah, saya rasa Mu'āwiyah lebih baik bagiku daripada orang-orang ini (kaum Syi'ah). Mereka mengklaim sebagai pembelaku, tetapi mereka berencana membunuhku, merampas barang bawaanku, dan mengambil hartaku. Demi Allah, seandainya aku membuat perjanjian dengan Mu’āwiyah untuk melindungi darahku dan memberi keamanan untuk keluargaku lebih baik daripada mereka membunuhku lalu Ahli Bait dan keluargaku tidak terurus. Demi Allah, seandainya aku memerangi Mu’āwiyah mereka pasti membawaku untuk menyerahkanku kepadanya dalam keadaan selamat.” ([931])

Tatkala Zainal-'Ābidīn raḍiyallāhu 'anhu melihat para wanita Kufah keluar dengan memakai pakaian yang tersobek sementara para pria bersama mereka menangis, dia berkata dengan suara lemah karena sakit, “Orang-orang ini menangisi kami; padahal siapakah yang memerangi kami selain mereka?!” ([932])

Zainab binti Ali raḍiyallāhu 'anhumā berkata, “Wahai penduduk Kufah, wahai para pengkhianat dan penipu, apakah kalian menangisi saudaraku?! Benar! Demi Allah, menangislah. Kalian lebih pantas menangis. Menangislah dengan banyak, dan tertawalah sedikit. Kalian telah ditimpa cela dan aib, kalian telah mendapat murka Allah serta kenistaan dan kemiskinan.” ([933])

Al-Bāqir raḥimahullāh berkata, “Seandainya semua manusia menjadi pembela kami, pastilah tiga perempat mereka ragu-ragu dan seperempat sisanya orang-orang bodoh.” ([934])

Dia juga berkata, “Sekiranya para pembelaku dipilah maka saya tidak akan dapati mereka kecuali hanya pintar berbicara. Kalau mereka diuji maka saya tidak akan dapati kecuali mereka murtad. Kalau mereka disaring maka tidak akan selamat satu orang dari seribu. Kalau mereka diayak maka tidak akan tersisa dari mereka kecuali milik saya. Seringkali mereka duduk di atas sofa lalu berkata: kami pembela Ali….”([935])

Ketika tokoh-tokoh Syi’ah mendatangi Abu Abdillah raḥimahullāh dan berkata kepadanya, “Kami telah diolok dengan olokan yang meremukkan punggung dan mematikan jantung serta menjadikan para pemimpin menghalalkan darah kami karena satu hadis yang diriwayatkan oleh para fukaha mereka.” Abu Abdillah 'alaihissalām bertanya, (Maksud kalian) Rāfiḍah?” Aku berkata, “Ya.” Dia berkata, “Tidak, demi Allah. Bukan mereka yang menamai kalian. Tetapi Allah yang menamai kalian dengannya.” ([936])

Syekh Negara Syi’ah Ṣafawiyyah, Al-Majlisiy membuat bab: Keutamaan Rāfiḍah dan Pujian Kepada Penamaan dengannya, dan dia menyebutkan 4 hadis. ([937])

Bantahan:

Dari Ali bin Yazīd Asy-Syāmiy, dia berkata, berkata Abu Al-Ḥasan 'alaihissalām, bahwa Abu Abdillah 'alaihissalām berkata, “Tidaklah Allah menurunkan ayat tentang orang-orang munafik kecuali hal tersebut ditujukan untuk orang-orang yang beragama Syi’ah.” ([938])

 Pertanyaan (152): Apakah Ahli Bait raḍiyallāhu 'anhum selamat dari celaan ulama-ulama Syi’ah?

Tidak, bahkan ulama-ulama Syi’ah memvonis semua Ahli Bait telah murtad kecuali Ali raḍiyallāhu 'anhu!

Ulama-ulama Syi’ah membuat kebohongan bahwa Abu Ja'far berkata, “Sungguh ketika Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam dicabut nyawanya, manusia semuanya menjadi ahli jahiliah kecuali empat orang: Ali, Al-Miqdād, Salmān, dan Abu Żarr. ([939])

Mereka juga membuat kebohongan bahwa Ali raḍiyallāhu 'anhu ragu-ragu untuk menerima Islam dan meminta tangguhan waktu kepada Rasulullah, dan bahwa dia berkata kepada Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, “Sungguh agama ini berbeda dari agama ayahku; aku butuh menelitinya.” ([940])

Disebutkan di sebagian buku mereka: Pemberian julukan buruk oleh Sufyān bin Lailā kepada Al-Ḥasan bin Ali raḍiyallāhu 'anhu dengan “penghina orang beriman”([941]) karena pengunduran dirinya dari tampuk kekhalifahan dan menyerahkannya kepada Mu’āwiyah bin Abi Sufyān raḍiyallāhu 'anhu.

Bahkan pasukan Al-Ḥasan 'alaihissalām menyerang A-Ḥasan sendiri pada Bulan Rabiulawal lalu merampas tendanya dan mengambil barang bawaannya, dan Ibnu Basyīr Al-Asadiy menusuk pinggangnya, kemudian mereka memulangkannya ke Al-Madā`in dalam keadaan terluka.” ([942])

Mereka berkata tentang Ja'far bin Ali raḥimahullāh, “Ja'far terang-terangan melakukan kefasikan, dia keji dan amoral, pecandu khamar, orang paling kurang di antara laki-laki yang aku lihat, paling merusak dirinya, ringan dan kecil pada dirinya ….”([943])

Ahli hadis Syi’ah yang terkenal, Zurārah -semoga Allah menghinakannya- mengentuti jenggot Abu Abdillah raḥimahullāh!!

Zurārah berkata, "Aku bertanya kepada Abu Abdillah 'alaihissalām tentang tasyahud, maka dia menjawab, “Asyhadu allā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lahu wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu warasūluh.” Aku bertanya, “At-taḥiyyātu aṣ-ṣalawātu?” Dia menjawab, “At-taḥiyyātu waṣ ṣalawātu.” Ketika keluar aku berkata, “Kalau bertemu lagi, aku akan bertanya kepadanya besok. Maka keesokannya aku bertanya lagi tentang tasyahud, dan dia menjawab seperti itu. Aku bertanya, “At-taḥiyyātu aṣ-ṣalawātu?” Dia menjawab, “At-taḥiyyātu waṣ-ṣalawātu.” Aku berkata, “Besok aku bertemu lagi dan bertanya. Maka aku bertanya lagi tentang tasyahud, dan dia tetap menjawab seperti itu. Aku bertanya, “At-taḥiyyātu aṣ-ṣalawātu?” Dia menjawab, “At-taḥiyyātu waṣ-ṣalawātu.” Ketika keluar, aku kentuti jenggotnya dan berkata, “Dia tidak akan beruntung selamanya!!” ([944])

Apakah ini masuk akal, wahai ulama Syi’ah? Tidakkah kalian malu?!

Mereka membuat kebohongan bahwa firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﯫ  ﯬ  ﯭ  ﯮ   ﯯ   ﮊ

“Dia adalah seburuk-buruk penolong dan sejahat-jahat kawan” (QS. Al-Ḥajj: 13) turun kepada Al-'Abbās raḍiyallāhu 'anhu, paman Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.([945])

Bahkan syekh mereka, Al-Kulainiy memvonis Abdullah bin 'Abbās raḍiyallāhu 'anhu sebagai kafir. ([946])

Tokoh-tokoh Syi’ah juga meragukan putra imam mereka Ar-Riḍā, apakah dia anaknya ataukah tidak? Mereka menyindir istrinya berzina. Mereka tidak puas kecuali harus mendatangkan qāfah (orang yang ahli melihat nasab dengan melihat anggota tubuh anak). Maka didatangkanlah qāfah, baru kemudian setelah itu mereka membenarkan imam mereka. ([947])

Mereka membuat kebohongan, bahwa Fatimah raḍiyallāhu 'anhā menolak dinikahkan dengan Ali raḍiyallāhu 'anhu, dia berkata, “Wahai Rasulullah, engkau menikahkanku dengan Ali bin Abi Ṭālib sementara dia miskin tidak punya harta.” ([948])

 Pertanyaan (153): Berapa jumlah putri Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menurut para ulama Syi’ah?

Jawab: Tokoh besar mereka, Abul-Qāsim Al-Kūfiy berkata, “Ruqayyah dan Zainab kedua istri Usman bukan putri Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam, bukan juga anak Khadījah istri Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam. Tetapi hal itu terasa samar bagi orang-orang awam (Ahli Sunnah) karena pengetahuan mereka yang kurang tentang nasab dan silsilahnya.” ([949])

Sebagian ulama mereka berkata, “Setelah meneliti nas-nas sejarah, kita tidak menemukan satu bukti pun yang menetapkan adanya hubungan anak selain Az-Zahrā`di antara mereka. Bahkan yang tampak bahwa perempuan-perempuan yang lain adalah putri Khadījah dari suaminya yang pertama sebelum Muhammad.” ([950])

Syekh mereka, Al-Majlisiy berkata, “Ruqayyah dan Zainab adalah dua putri Hālah, saudari Khadījah.” ([951])

 Pertanyaan (154): Apa akidah para ulama Syi’ah tentang tanah penciptaan mereka?

Jawab: Mereka meyakini bahwa pengikut Syi’ah diciptakan dari tanah khsusus dan pengikut Sunni diciptakan dari tanah yang lain, kemudian terjadi percampuran dengan cara tertentu antara kedua tanah tersebut. Sehingga maksiat dan kejahatan-kejahatan yang ada pada pengikut Syi’ah merupakan pengaruh dari tanah pengikut Sunni, sedangkan salat, puasa, kesalehan, dan sifat amanah yang dimiliki oleh pengikut Sunni adalah pengaruh dari tanah pengikut Syi’ah. Nanti pada hari Kiamat, kesalahan-kesalahan dan perbuatan dosa besar Syi’ah akan diletakkan kepada Ahli Sunnah, sedangkan kebaikan Ahli Sunnah akan diberikan kepada Syi’ah. ([952])

Al-Jazā`iriy berkata, “Ulama kami telah meriwayatkan hadis-hadis ini dengan jalur sanad yang banyak di dalam referensi-referensi yang utama dan lainnya, sehingga tidak ada ruang untuk mengingkarinya dan menghukuminya sebagai hadis āḥād, bahkan merupakan hadis mustafīḍah, dan bahkan mutawātir.” ([953])

Tanggapan:

Ini persis seperti yang dikatakan oleh Iblis (yang diceritakan Allah),

ﮋ ﯬ  ﯭ   ﯮ  ﯯﯰ  ﯱ  ﯲ  ﯳ    ﯴ  ﯵ  ﯶ   ﯷ  ﮊ

“Iblis berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Ṣād: 76)

Akidah ini menyelisihi akidah mereka tentang takdir, sebagaimana disebutkan dalam pertanyaan (90).

Kutipan menggelikan:

v  Mereka membuat kebohongan, “Pada tanah kubur Ḥusain 'alaihissalām terdapat kesembuhan dari semua penyakit, dan merupakan obat yang paling dahsyat.” ([954])

v  Mereka membuat kebohongan, “Sujud di tanah kubur Ḥusain 'alaihissalām akan memberi cahaya hingga langit ketujuh.” ([955])

v  Mereka membuat kebohongan, “Makanan untuk berbuka yang paling utama adalah tanah kubur Ḥusain 'alaihissalām.” ([956])

v  Mereka membuat kebohongan, “Tahniklah anak-anak kalian menggunakan tanah kubur Ḥusain 'alaihissalām karena dia adalah keamanan.” ([957])

 Pertanyaan (155): Apa akidah mereka tentang Ahli Sunnah yang mereka namakan sebagai An-Nawāṣib([958]) dan Al-'Āmmah (orang awam)?

Jawab:

 1-       Diberlakukan pada mereka hukum Islam secara lahir saja, dan mereka sepakat bahwa Ahli Sunnah termasuk ahli neraka.

Al-Majlisiy berkata dengan mengutip dari sebagian ulamanya, “Karena yang menyatakan keislaman mereka -yakni keislaman Ahli Sunnah- maksud mereka: dibenarkannya pemberlakuan sebagian besar hukum Islam kepada mereka secara lahir, bukan karena mereka sebenarnya muslim. Oleh karena itu, mereka mengutip ijmak bahwa mereka akan masuk neraka.

Tampak dari sebagian riwayat, bahkan banyak di antara riwayat, bahwa mereka di dunia juga dihukumi sama dengan orang-orang kafir. Tetapi Allah Mahatahu bahwa tatkala para pemimpin zalim serta pengikut mereka berkuasa terhadap orang-orang Syi’ah, sehingga mereka terpaksa bermuamalah dengan mereka (Ahli Sunnah), tidak mungkin menghindar dan meninggalkan interaksi maupun menikah dengan mereka, maka Allah memberlakukan pada mereka hukum Islam sebagai keringanan.

Apabila Al-Qā`im 'alaihissalām telah muncul, maka dia akan memberlakukan pada mereka hukum yang sama dengan kafir-kafir yang lain dalam segala urusan, dan di akhirat mereka akan masuk neraka dan kekal di dalamnya selama-lamanya bersama orang-orang kafir. Dengan cara seperti ini riwayat-riwayat yang ada berusaha dikompromikan, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Mufīd dan Asy-Syahīd Aṡ-Ṡānī.” ([959])

Kontradiksi:

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, “Kita menganggap Ibnu Taimiyyah dan yang mengikutinya sebagai orang-orang yang keluar dari jalan ilmu dan agama. Kita menggugurkan hak-hak mereka yang bersifat dunia maupun agama.”([960])

 2-       Bahwa mereka orang-orang kafir dan najis berdasarkan ijmak

Ulama mereka berkata tentang pengikut Sunni, “Dia najis, lebih buruk dari penganut Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Dia kafir najis berdasarkan ijmak ulama Imāmiyyah -riḍwānullāhu 'alaihim-.” ([961])

Bahkan An-Narāqiy berkata, “Dia lebih najis daripada anjing.” ([962])

Syekh mereka, As-Sabzawāriy berkata, “Adapun Khawarij, berdasarkan makna lahir sejumlah riwayat dan nas jelas pada sebagiannya menunjukkan adanya kesepakatan atas kekafiran mereka, sekalipun setiap Khawarij juga seorang Nawāṣib. Adapun Nawāṣib, maka telah menunjukkan kenajisan mereka ijmak-ijmak yang dikutip dan yang dikuatkan oleh tidak adanya kutipan perbedaan pendapat tentanganya, juga ditunjukkan oleh sejumlah hadis.” ([963])

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, “Kenajisan mereka ditunjukkan oleh beberapa perkara, di antaranya: riwayat-riwayat yang banyak menunjukkan mereka kafir.” ([964]) Dia juga berkata, “Tidak boleh bagi wanita beriman menikah dengan laki-laki Nawāṣib (maksudnya Sunni), demikian juga tidak boleh laki-laki beriman menikahi wanita Nawāṣib dan pengikut aliran guluw karena keduanya dihukumi sama dengan orang-orang kafir sekalipun mereka memeluk agama Islam.” ([965])

Al-Khū`iy berkata, “Tiga alasan bisa dijadikan sebagai dalil atas kenajisan orang-orang yang menyelisihi Syi'ah. Pertama: apa yang disebutkan di dalam riwayat-riwayat yang banyak bahkan mencapai derajat mustafīḍ bahwa orang yang menyelisihi mereka kafir.” ([966])

Dia juga berkata, “Pendapat paling kuat bahwa orang Nawāṣib dihukumi sama dengan orang kafir walaupun dia menyatakan dua kalimat syahadat dan meyakini hari kebangkitan.” ([967]) Dia juga berkata, “Tetapi ada syubhat dalam kekafiran mereka. Karena mengingkari wilāyah (kepemimpinan Ahli Bait) dan para imam, sekalipun satu orang di antara mereka, dan meyakini kepemimpinan selain mereka menyebabkan kafir dan zindik, sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat-riwayat yang mutawātir lagi jelas tentang kekafiran orang yang mengingkari kekuasaan para imam.” ([968])

 3-       Tidak boleh menyalati mereka, dan sembelihan mereka tidak halal.

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, “Wajib menyalati setiap muslim walaupun dia menyelisihi kebenaran menurut pendapat yang paling kuat. Dan tidak boleh menyalati orang yang kafir dengan semua jenisnya, termasuk orang murtad dan yang dihukumi kafir di antara para penganut Islam seperti Nawāṣib.” ([969])

Dia juga berkata, “Sembelihan semua sekte Islam halal kecuali Nawāṣib, sekalipun dia menampakkan Islam.” ([970])

Mungkin ada yang bertanya: mengapa kita melihat sebagian Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah menyalati jenazah Ahli Sunnah di Masjidilharam atau Masjid Nabawi?

Jawabannya: Untuk mendoakan keburukan kepada mereka. ([971])

Syekh mereka, Ibnu Bābawaih Al-Qummiy berkata, “Jika jenazahnya adalah orang yang menyelisihi Syi'ah ([972]) , maka bacalah di takbir keempatmu: ‘Allāhumma akhzi ‘abdaka hāżā, allāhumma aṣlihi nāraka, allāhumma ażiqhu alīma ‘iqābika wa syadīda ‘uqūbatika wa auridhu nāran wa-mla` jaufahu nāran wa ḍayyiq ‘alaihi laḥdahu fa`innahu kāna mu’ādiyan li auliyā`ika wa muwāliyan li a’dā`ika, allāhumma lā tukhaffif ‘anhul-‘ażāb, wa-ṣbub ‘alaihil-‘ażāba ṣabban.’ (Ya Allah. Hinakanlah hamba-Mu ini, dan anak dari hamba-Mu. Ya Allah, masukkanlah dia ke neraka-Mu. Ya Allah, rasakanlah kepadanya azab-Mu yang pedih dan keras. Masukkan dia ke nereka. Sempitkanlah liang lahadnya karena dia telah memusuhi wali-wali-Mu, dan mematuhi musuh-musuh-Mu. Ya Allah, jangan Engkau ringankan azabnya, curahkanlah kepadanya azab-Mu dengan sebenar-benarnya). Dan apabila jenazahnya diangkat, maka bacalah: ‘Allāhumma lā tarfa’hu walā tuzakkihi.’” (Ya Allah, janganlah Engkau angkat dan sucikan dia). ([973])

Dia juga berkata, “Tidak diperbolehkan bagi seorang beriman untuk memandikan orang yang menyelisihi kebenaran dalam wilāyah (kepemimpinan Ahli Bait) ([974]) , dan tidak boleh menyalatinya, kecuali dia dalam kondisi darurat yang memaksanya melakukan itu secara taqiyyah, maka dia memandikannya seperti cara memandikan orang yang menyelisihi dan tidak meninggalkan satu pelepah kurma pun bersamanya, dan apabila dia menyalatinya agar dia melaknatnya di dalam salatnya serta tidak mendoakan kebaikan untuknya.” ([975])

 4-       Mereka anak zina

Syekh mereka, Al-Kulainiy membuat kebohongan, dari Abu Ja'far raḥimahullāh dia berkata, “Demi Allah, wahai Abu Ḥamzah! Semua manusia adalah anak zina, kecuali pengikut kami.” ([976])

Al-‘Ayyāsyiy meriwayatkan, Dari Ja'far bin Muhammad 'alaihissalām dia berkata, “Tidaklah seorang anak lahir kecuali salah satu iblis menghadirinya. Jika Allah mengetahui bahwa dia dari pembela kami, Allah melindunginya dari setan itu. Tetapi jika dia bukan dari pembela kami, setan meletakkan jari telunjuk di duburnya sehingga dia disodomi, dan jika dia perempuan setan meletakkan jari di kemaluannya sehingga menjadi pelacur.” ([977])

 5-       Mereka adalah kera dan babi. ([978])

 6-       Wajib membunuh Ahli Sunnah, termasuk membunuh dengan cara licik.

Mereka membuat kebohongan, dari Ibnu Farqad dia berkata, Aku bertanya kepada Abu Abdillah 'alaihissalām, “Apa pendapatmu tentang membunuh seorang Nawāṣib?” Dia menjawab, “Ia halal darahnya. Tetapi aku mengkhawatirkanmu. Jika kamu mampu merobohkan tembok kepadanya atau menenggelamkannya ke dalam air agar tidak ada yang menjadi saksi pembunuhanmu padanya, maka lakukanlah.” ([979])

Syekh mereka, Yusuf Al-Baḥrāniy berkata, “Kebenaran yang jelas, bahkan yang terang dari semua riwayat saking banyaknya bahwa orang yang menyelisihi adalah kafir, Nawāṣib, syirik, serta harta dan darahnya halal.” ([980])

Dia juga berkata, “Ketika itu, berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh riwayat-riwayat ini serta yang ditegaskan oleh para ulama yang mulia, apabila seseorang bisa membunuh mereka atau mengambil hartanya dengan tipuan tanpa mendapatkan dampaknya pada dirinya ataupun salah satu saudaranya, maka hal itu boleh antara dia dan Allah Ta'ālā.”([981])

Bahkan mereka mewajibkan membunuh burung-burung pipit dan memakannya, karena dalam keyakinan para ulama Syi'ah burung-burung ini mencintai Ahli Sunnah.

Āyatullāh mereka, Al-Jazā`iriy berkata, “Diriwayatkan bahwa burung pipit mencintai fulan dan fulan yang merupakan seorang Sunni, sehingga dia wajib dibunuh dengan segala cara dan wajib dimusnahkan dan dimakan.” ([982])

 7-       Wajib mencuri harta Ahli Sunnah

Mereka membuat kebohongan, “Ambillah harta seorang Nawāṣib di mana pun kamu dapatkan, dan serahkan kepada kami seperlimanya.” ([983])

Mereka juga membuat kebohongan, “Harta seorang Nawāṣib dan semua yang ia miliki halal bagimu, kecuali istrinya, karena menikahi orang musyrik hukumnya boleh.” ([984])

 8-       Wajib berbeda dengan mereka

Syekh mereka yang bergela Aṣ-Ṣadūq membuat kebohongan, dari Ali bin Asbāṭ, dia berkata, Aku bertanya kepadanya -yakni Ar-Riḍā 'alaihissalām-, “Terjadi suatu perkara dari urusanku yang harus aku ketahui, sementara di negeri tempatku tidak ada di antara orang-orangmu yang dapat aku mintai fatwa?” Dia menjawab, “Datangilah orang fakih negeri tersebut. Jika keadaannya seperti itu, mintalah kepadanya fatwa dalam urusanmu. Apabila dia memberimu fatwa maka ambillah kebalikannya karena kebenaran ada di sana.” ([985])

Mereka membuat kebohongan atas nama Aṣ-Ṣādiq raḥimahullāh, bahwa dia berkata, “Jika datang kepadamu dua hadis yang berbeda, maka paparkanlah keduanya kepada Kitabullah lalu ambillah yang sesuai dengan Kitabullah dan tolak yang bertentangan dengannya. Jika kamu tidak mendapatkan keduanya dalam Kitabullah, maka paparkanlah keduanya kepada ucapan orang-orang awam (yakni Ahli Sunnah) ([986]) lalu tinggalkanlah yang sesuai dengan ucapan mereka dan ambil yang menyelisihinya.” ([987])

 9-       Ijmak mereka tentang kewajiban melaknat Ahli Sunnah, bahkan itu merupakan ibadah paling mulia.

Syekh mereka, Muhammad Ḥasan An-Najafiy berkata, “Bahkan mencela mereka di hadapan orang banyak termasuk ibadah paling utama selama tidak dihalangi oleh taqiyyah. Yang lebih utama dari itu adalah menggibah mereka, sebagaimana jejak Syi’ah di semua masa dan negeri, baik ulama mereka maupun yang awam, hingga memenuhi lembaran-lembaran buku dengannya. Bahkan perbuatan tersebut, menurut mereka, termasuk ketaatan paling utama dan paling sempurna. Sehingga tidak aneh jika ada klaim ijmak, sebagaimana dari sebagian mereka. Bahkan bisa dikatakan itu termasuk perkara ḍarūriyyāt (hal pasti yang wajib diketahui), lebih dari sekadar perkara qaṭ’iyyāt (kebenaran mutlak).” ([988])

Sedangkan orang yang mengingkari sesuatu yang bersifat pasti yang wajib diketahui menurut mereka adalah kafir, sebagaimana berulang-ulang disebutkan.

Lalu mengapa ulama-ulama Syi’ah melakukan hal ini terhadap Ahli Sunnah?

Syekh mereka, Aṭ-Ṭūsiy menjawab, “Alasannya karena orang yang menyelisihi pengikut kebenaran adalah kafir, sehingga hukumnya harus sama dengan hukum orang-orang kafir.” ([989])

Syekh mereka, Muhammad Ḥasan An-Najafiy juga memberikan jawaban, “Bagaimana pun, dasar perkataan ini bagi orang yang meyakininya adalah banyak dan mutawātir-nya nas-nas yang menyatakan kafirnya orang-orang yang menyelisihi Syi'ah.” ([990])

 Pertanyaan (156): Apakah ada disebutkan keutamaan nikah mut’ah? Dan apa hukum orang yang mengingkarinya menurut akidah mereka?

Mereka membuat kebohongan atas nama Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Siapa yang melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita beriman, pahalanya seperti berziarah ke Kakbah 70 kali.” ([991])

Mereka juga membuat kebohongan atas nama Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa ketika peristiwa isra ke langit beliau bersabda, “Jibril 'alaihissalām menyusulku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, sungguh Allah Tabāraka wa Ta'ālā berfirman, ‘Aku telah mengampuni umatmu yang melakukan nikah mut’ah dengan wanita.’” ([992])

Imam mereka, Fatḥullāh Al-Kāsyāniy juga membuat kebohongan atas nama Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Siapa yang melakukan nikah mut’ah satu kali maka derajatnya sama dengan Ḥusain. Siapa yang melakukan mut’ah dua kali maka derajatnya sama dengan Ḥasan. Siapa yang melakukan mut’ah tiga kali maka derajatnya sama dengan Ali bin Abi Ṭālib. Dan siapa yang melakukan mut’ah 4 kali maka derajatnya sama dengan derajatku.” ([993])

Mereka meyakini bahwa keimanan seorang mukmin tidak sempurna hingga dirinya melakukan nikah mut'ah, lalu mereka membuat riwayat palsu, "Sesungguhnya seorang mukmin itu tidak sempurna (imannya) sampai ia melakukan nikah mut'ah." ([994])

Bahkan mereka memvonis orang yang mengingkari mut’ah sebagai kafir, karena penghalalan mut’ah termasuk perkara pasti yang wajib diketahui dalam mazhab Imāmiyyah. ([995])

Juga bahkan menurut mereka, nikah mut’ah disyariatkan berdasarkan ijmak umat Islam. ([996]) Sedangkan orang yang mengingkari perkara pasti yang wajib diketahui menurut mereka adalah kafir, sebagaimana telah disebutkan.

Kontradiksi

Mereka telah meriwayatkan, dari Ali- 'alaihissalām- dia berkata, “Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam telah mengharamkan daging keledai jinak dan nikah mut’ah pada hari Perang Khaibar.” ([997])

Abu Abdillah 'alaihissalām pernah ditanya tentang mut’ah, maka dia menjawab, “Janganlah kamu mengotori diri dengannya.” ([998])

Bantahan

Mereka telah meriwayatkan: dari Abu Abdillah- 'alaihissalām- dia berkata tentang mut’ah, “Tidak ada yang melakukannya di kalangan kita kecuali para pelacur.” ([999])

Pemusnah Ajaran Ini:

Allah Ta'ālā di dalam Kitab-Nya telah menghalalkan istri dan hamba sahaya yang dimiliki serta mengharamkan selain itu dalam firman-Nya,

ﮋ ﭦ  ﭧ  ﭨ  ﭩ  ﭪ  ﭫ  ﭬ   ﭭ  ﭮ   ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ  ﭳ  ﭴ  ﭵ   ﭶ  ﭷ  ﭸ  ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ  ﮊ

"Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Mu`minūn: 5-7)

 Pertanyaan (157): Apakah diperbolehkan menurut ulama Syi’ah melakukan nikah mut’ah dengan anak yang masih disusui, dengan wanita pelacur, juga dengan seorang wanita sekaligus anak perempuannya?

Jawab: Ya!! Imam besar mereka, Al-Khumainiy berkata, “Adapun bentuk-bentuk mut’ah yang lain, seperti memegang dengan syahwat, memeluk, dan melakukannya di paha, maka hukumnya tidak mengapa sekalipun pada anak yang masih menyusu.” ([1000])

Aṭ-Ṭūsiy berkata, “Ada riwayat terkait keringanan melakukan mut’ah dengan wanita pelacur dengan catatan dia melarangnya berbuat zina.” ([1001])

Imam besar mereka, Al-Khumainiy berkata tentang mut’ah bersama pelacur, “Diperbolehkan melakukan mut’ah dengan pelacur secara makruh, khususnya jika dia terkenal sebagai pelacur, tetapi kalau dia lakukan maka hendaknya dia mencegahnya dari perzinaan.” ([1002])

Betapa banyak laki-laki yang melakukan nikah mut’ah menggabungkan antara seorang perempuan dan ibunya, antara seorang perempuan dengan saudarinya, dan antara seorang perempuan dengan bibinya dari pihak ayah maupun ibu (dia tahu maupun tahu)?! Bahkan itu telah dilakukan oleh salah satu syekh besar mereka, yaitu dia melakukan mut’ah dengan seorang perempaun hingga melahirkan anak perempuan, lalu setelah beberapa tahun dia melakukan mut’ah dengan anak tersebut!([1003])

 Pertanyaan (158): Apakah khumus itu? Apa akidah ulama Syi’ah tentang itu?

Jawab: Khumus adalah pungutan yang diklaim oleh ulama-ulama Syi’ah untuk imam-imam mereka. Mereka menerbitkan riwayat yang berbuny, “Khumus untuk kami merupakan sebuah wajib.” ([1004])

Di antara faktor adanya bidah pemberian harta khumus ini adalah untuk menarik perhatian para ulama dan penuntut ilmu agar mengikuti mazhab Syi’ah. Diriwayatkan dari Abu Baṣīr, dia berkata, Aku bertanya kepada Abu Ja'far 'alaihissalām, “Semoga Allah menjadikanmu baik! Apa perkara paling mudah yang memasukkan hamba ke dalam api neraka?” Dia menjawab, “Memakan satu dirham harta anak yatim. Dan kami adalah anak yatim.” ([1005])

Dalam riwayat yang lain, “Mengeluarkannya mendatangkan kunci rezeki kalian.”([1006])

Tanggapan:

Mereka meriwayatkan dari Ḍurais Al-Kannāsiy, dia berkata, Abu Ja'far 'alaihissalām berkata, “Apakah kalian tahu dari mana zina masuk kepada manusia?” Aku menjawab, “Aku tidak tahu, semoga aku dijadikan sebagai tebusanmu.” Dia berkata, “Yaitu dari khumus kami para Ahli Bait, kecuali para pembela kami yang baik, sungguh itu dihalalkan bagi mereka sejak mereka dilahirkan.” ([1007])

Ulama-ulama Syi’ah telah menyatakan dalam buku mereka yang terpercaya bahwa imam-imam mereka telah menggugurkan khumus dari para pengikut mereka.

Tetapi ulama mereka ketika itu membatasinya pada zaman gaibah, hingga waktu keluar Imam Al-Mahdi yang mereka klaim dari persembunyiannya yang suci. Tetapi dia tidak akan keluar. Maka mereka membuat kebohongan, bahwa Imam Al-Mahdi mereka dari dalam persembunyiannya mengirim surat kilat berupa tauqī’ (bukti perwakilan) berbunyi, “Adapun khumus maka dihalalkan bagi para pembela kami, dan mereka menghalalkannya sampai waktu kemunculan perkara kami.” ([1008])

Syekh mereka, Yahya Al-Ḥilliy berkata, “Tidak boleh bagi seseorang untuk melakukan tindakan apa saja padanya kecuali dengan seizin imam ketika dia ada. Adapun ketika tidak ada, maka mereka telah mengizinkan para pengikutnya untuk mengambil wewenang mereka seperti khumus dan lainnya berupa pernikahan, perdagangan, dan tempat tinggal. Aṣ-Ṣādiq 'alaihissalām berkata, “Semua tanah yang ada di tangan para pengikut kami telah dihalalkan bagi mereka sampai Al-Qā`im bangkit, sebagai pemberian dan penghargaan dari mereka.” ([1009])

 Pertanyaan (159): Kami berharap Anda memberi ringkasan perkembangan harta khumus di kalangan pebisnis ulama mazhab Syi’ah?

Jawab:

 v  Tahap pertama.

Setelah terputusnya rantai imam yang mereka klaim serta Al-Mahdi yang mereka klaim bersembunyi, sementara khumus merupakan hak murni Imam Al-Mahdi, maka muncullah lebih dari 20 pencuri!!

Mereka mengklaim mewakili imam yang bersembunyi untuk mengambil harta khumus lalu mengantarkannya ke tempat persembunyiannya!! ([1010])

 v  Perkara itu kemudian berkembang ke tahap kedua

Yaitu kaum Syi'ah dengki terhadap para wakil tersebut karena pencurian mereka. Mereka lalu berpandangan wajib membayar khumus, tetapi bukan kepada wakil-wakil itu, melainkan dikeluarkan dan ditanam di tanah hingga Imam Al-Mahdi keluar dari persembunyiannya lalu mengambilnya. ([1011])

 v  Kemudian berkembang ke tahap ketiga

Yaitu mereka mengatakan wajib membayar khumus dan tidak ditanam, melainkan ditempatkan pada orang terpercaya dan hal ini tidak ditemukan kecuali pada diri fukaha mereka yang akan menyampaikannya nanti kepada Al-Mahdi. ([1012])

 v  Kemudian berkembang ke tahap keempat

Yaitu wajib menyerahkan harta khumus kepada para fukaha mazhab Syi’ah bukan untuk disimpan, tetapi untuk dibagikan kepada orang yang mereka lihat berhak mendapatkannya dari kalangan orang miskin Ahli Bait. ([1013])

 v  Kemudian berkembang ke tahap kelima

Para fukaha berhak mengambil tindakan terkait harta khumus untuk pos-pos yang mereka pandang perlu seperti penerbitan buku-buku mereka, dan pertama kali dimulai dari sang fakih dengan mengambil bagiannya yang merupakan pos paling besar! ([1014])

Terlebih bahwa semua fukaha Syi’ah mengklaim diri bagian dari Ahli Bait!!!

Ketika sebagian pengikut mereka lamban menyetorkan harta-harta tersebut, mereka menerbitkan sebuat riwayat yang berbunyi, “Siapa yang menahan satu dirhamnya ataupun lebih kecil, maka dia masuk di dalam orang-orang yang menzalimi dan merampas hak mereka, bahkan siapa yang menghalalkannya maka dia termasuk orang kafir.” ([1015])

Terjadi persaingan besar di antara ulama Syi’ah terkait cara mereka mendapatkan sebesar mungkin angka khumus, sehingga muncul banyak iklan terang-terangan dari mereka terhadap diskon besar bagi yang membayar paling awal. Sebagaimana juga terjadi banyak persaingan bisnis (yang mulia!) di antara ulama mereka!!

Ulama Syi’ah yang satu misalnya, menaikkan diskon ke angka 50%, lalu ulama yang lain memberikan diskon lebih besar. Demikian seterusnya. ([1016])

Akhir dari perjalanan khumus pada tahun-tahun terakhir ini:

Mereka mengeluarkan fatwa bagi orang yang akan berhaji atau menunaikan umrah harus menghitung semua aset miliknya dan menyetorkan pajak khumusnya kepada fukaha Syi’ah. Jika tidak dilakukan maka haji dan umrahnya batal. ([1017])

Bantahan Telak:

Dari Abdullah bin Sinān dia berkata, Aku mendengar Abu Abdillah 'alaihissalām berkata, “Tidak ada khumus kecuali khusus dalam ganimah.”([1018])

Sebagai penutup pembahasan dalam akidah ulama Syi’ah tentang pungutan khumus ini: Mereka mengadopsi akidah ini dari pendeta-pendeta Nasrani di abad pertengahan dalam sejarah Eropa ketika mereka membebankan pungutan-pungutan dan pajak gereja.

Wales, seorang Nasrani berkata, “Gereja membebankan setoran dan pajak kepada pengikutnya. Mereka tidak mensosialisasikan urusan ini sebagai bentuk sumbangan sukarela, tatapi menuntutnya atas nama hak.” ([1019])

 Pertanyaan (160): Apa akidah ulama Sekte Syi’ah tentang baiat?

Jawab: Mereka membuat kebohongan atas nama Abu Abdillah raḥimahullāh bahwa dia berkata, “Semua bendera yang diangkat sebelum keluarnya Al-Qā`im maka pemiliknya adalah tagut.” ([1020])

Dan mereka menerbitkan tauqī’ tentang orang yang berperkara kepada pengadilan-pengadilan Ahli Sunnah serta penguasa mereka, “Siapa yang berperkara kepada mereka dalam kebenaran maupun kebatilan, maka dia sedang berperkara kepada tagut. Kemudian apa yang diputuskan baginya, sesungguhnya dia sedang mengambil harta haram, walaupun harta tersebut merupakan hak yang terbukti benar karena dia mendapatkannya dengan hukum tagut.”([1021])

Imam besar mereka, Al-Khumainiy berkata mengomentari hadis ini, “Sang Imam melarang berhukum kepada hakim-hakim zalim dalam permasalahan hak maupun sanksi dengan larangan yang umum. Ini artinya orang yang berhukum kepada mereka telah berhukum kepada tagut, padahal Allah memerintahkan mengingkarinya.” ([1022])

Ulama-ulama Syi’ah berfatwa tidak boleh bekerja pada pemerintahan Ahli Sunnah kecuali dengan syarat merencanakan makar terhadap pemerintahannya dan orang-orangnya serta untuk kemaslahatan kaum Syi’ah, jika tidak maka dia telah jatuh pada perkara yang setara dengan kufur kepada Allah Yang Mahaagung!!

Mereka membuat riwayat palsu yang berbunyi, dari Sulaiman al-Ja’fariy, dia berkata, Aku bertanya kepada Abu Al-Ḥasan Ar-Riḍā, “Apa pendapat Anda tentang pekerjaan yang ada pada penguasa?” Maka dia menjawab, “Wahai Sulaiman, berpartisipasi dalam pekerjaan mereka, membantu mereka, dan mengerjakan kebutuhan-kebutuhan mereka setara dengan kufur. Bahkan sengaja melihat mereka termasuk dosa besar yang berhak api neraka.” ([1023])

Imam besar mereka, Al-Khumainiy berkata, “Apabila kondisi taqiyyah mengharuskan salah satu dari kita masuk ke dalam gerbong penguasa, maka ini harus ditolak sekalipun penolakan tersebut berujung dia dibunuh. Kecuali jika keikutsertaannya yang bersifat formalitas itu mengandung pembelaan yang sebenarnya untuk Islam dan umat Islam, semisal keikutsertaan Ali bin Yaqṭīn dan Naṣīruddīn Aṭ-Ṭūsiy raḥimahumallāh.” ([1024])

 Pertanyaan (161): Apakah boleh bagi seorang pengikut Syi’ah untuk berbaiat kepada salah satu pemimpin umat Islam sebelum imam yang mereka klaim muncul?

Jawab: Nas-nas yang diriwayatkan oleh ulama mereka dari para imam mengajak setiap pengikut Syi’ah sejak 11 abad lebih untuk tidak berbaiat kepada salah satu khalifah umat Islam kecuali dalam rangka taqiyyah, dan mereka wajib memperbaharui baiat kepada Al-Qā`im setiap pagi.

Di antara doa yang berasal dari ulama mereka adalah doa perjanjian, di dalamnya disebutkan, “Allāhumma innī ujaddidu lahu fī ṣabīḥati yaumī hāżā wa mā ‘isytu fīhi min ayyāmī ‘ahdan wa ‘aqdan wa bai’atan lahu fī 'unuqī lā aḥūlu ‘anhā wa lā azūlu abadan…” (Ya Allah, pada pagi ini aku memperbaharui janji dan akadku dengannya, demikian juga selama hidupku hari ini. Baiat terhadapnya ada di leherku, tidak akan aku ubah dan tidak akan aku hapus selamanya). ([1025])

Penyebabnya:

Seperti yang dijelaskan oleh syekh mereka sekarang, Muhammad Jawād Mugniyah, “Prinsip Syi’ah sama sekali tidak lepas dari penentangan terhadap penguasa jika tidak terpenuhi padanya syarat nas, hikmah, dan keutamaan. Oleh karena itu, mereka memerankan kelompok oposisi atas dasar agama dan iman.” ([1026])

 Pertanyaan (162): Kapan seorang pengikut Syi’ah diperbolehkan bekerja pada penguasa kaum muslimin?

Jawab: Al-Khumainiy berkata, “Wajar apabila Islam mengizinkan masuk ke dalam perangkat penguasa-penguasa zalim jika tujuan hakiki di belakangnya untuk menghentikan kezaliman atau menciptakan kudeta terhadap para penguasa. Bahkan, ada kalanya wajib. Dan tidak ada perselisihan di kalangan kita dalam masalah ini.” ([1027]) Dia juga berkata, “Apabila kondisi taqiyyah mengharuskan salah seorang dari kita untuk masuk ke dalam gerbong penguasa, maka ini harus ditolak sekalipun penolakan tersebut berujung dia dibunuh. Kecuali jika keikutsertaannya yang bersifat formalitas itu mengandung pembelaan yang sebenarnya untuk Islam dan umat Islam, semisal keikutsertaan Ali bin Yaqṭīn dan Naṣīruddīn Aṭ-Ṭūsiy raḥimahumallāh.”([1028])

Syekh kontemporer mereka, 'Abdul-Hādī Al-Faḍliy berkata, “Langkah pertama supaya Imam Al-Mahdi 'alaihissalām muncul adalah dengan melakukan gerakan politik, dengan cara menumbuhkan kesadaran berpolitik dan melakukan revolusi bersenjata.” ([1029])

 Pertanyaan (163): Sekiranya Anda sebutkan penaklukan mereka yang paling menonjol yang diklaim oleh Rāfiḍah sebagai keberhasilan mereka di dalam sejarah dan dalam buku-buku mereka yang terpercaya?

Jawab: Mereka tidak pernah menaklukkan satu jengkal pun dari negeri kafir. Bahkan mereka menyerahkan apa yang bisa mereka serahkan dari negeri kaum muslimin serta rahasia dan kekayaan mereka kepada orang-orang kafir dari semua agama, sebagaimana dibuktikan oleh fakta sejarah. Di antaranya apa yang disebutkan oleh sebagian ulama Syi’ah tentang apa yang dilakukan oleh syekh mereka, Abu Ṭāhir Al-Qurmuṭiy terhadap Baitullāhil-Ḥarām, Kakbah Musyarrafah, dan para jemaah haji tahun 317 H.

Para jemaah haji datang ke Mekah dengan aman; mereka datang dari setiap penjuru yang jauh. Mereka tidak sadar dengan adanya bahaya kecuali ketika Abu Ṭāhir Al-Qurmuṭiy menyerang mereka pada hari Tarwiyah.

Dia merampas harta dan memerangi mereka. Banyak sekali jemaah haji yang terbunuh di halaman dan jalan-jalan Mekah, di Masjidilharam, dan di dalam Kakbah.

Abu Ṭāhir Al-Qurmuṭiy duduk di pintu Kakbah sementara para jemaah haji tergeletak di sekitarnya akibat sabetan pedang. Dia berkata, "Aku dengan Allah dan dengan Allah aku, Dia yang menciptakan makhluk dan aku yang membunuh mereka." Lalu ia memerintahkan agar orang-orang yang terbunuh dikuburkan di Sumur Zamzam.

Banyak di antara mereka yang ditimbun dengan tanah di tempat mereka tewas di tanah haram dan di Masjidilharam. Dia menghancurkan kubah Zamzam dan memerintahkan agar Kakbah dibongkar. Dia mencopot kain penutup Kakbah dan mencabik-cabiknya di antara pengikutnya. Dia perintahkan satu orang memanjat pipa Kakbah dan mencabutnya, tetapi dia jatuh dan mati.

Ketika itu dia batal mencabut pipa Kakbah. Kemudian dia perintahkan agar mencopot Ḥajar Aswad. Salah satu pasukannya datang dan memukul Ḥajar Aswad menggunakan kapak di tangannya sambil berkata, “Mana burung yang berbondong-bondong, mana batu-batu dari tanah liat!” Kemudian dia mencopot Ḥajar Aswad dan mereka membawanya. Ḥajar Aswad bersama mereka selama 22 tahun. Tidak ada haji tahun itu; karena manusia dilarang melakukan wuquf di Arafah. ([1030])

Juga, apa yang dilakukan oleh Ibnul-'Alqamiy, seorang menteri Khalifah 'Abbāsiyyah Al-Musta’ṣim. Begitu juga Naṣīruddīn Aṭ-Ṭūsiy. Ibnul-'Alqamiy dan Aṭ-Ṭūsiy berupaya untuk melumpuhkan pasukan Islam. Mereka mengusir pasukan Islam di Bagdad sehingga penjaganya tersisa 10.000 pasukan (saja). Mereka berkirim surat kepada Tartar dan mendorong mereka untuk mengambil alih Bagdad, serta membuka sisi lemah dan bagian dalam negara kepada mereka.

Ketika pasukan Tartar datang, Ibnul-'Alqamiy mencegah Khalifah dan kaum muslimin untuk melawan; bahwa Tartar tidak datang kecuali untuk berdamai. Dia meyakinkan Khalifah untuk keluar bertemu Tartar bersama orang-orang khususnya untuk melakukan perdamaian. Sebaliknya Ibnul-'Alqamiy bersama saudaranya Aṭ-Ṭūsiy memberi isyarat kepada Tartar untuk tidak berdamai, melainkan agar membunuh Khalifah dan orang-orang yang bersamanya. Khalifah dan orang-orang yang bersamanya akhirnya terbunuh semua.

Kemudian pasukan Tartar menyerang Bagdad dan membunuh siapa saja yang mereka dapatkan; laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Tidak ada yang selamat satu orang pun kecuali ahli żimmah dari kalangan Yahudi dan Nasrani!?

Mereka membunuh sekitar 1 juta muslim di Bagdad. Belum pernah ada dalam sejarah Islam pembunuhan massal seperti yang dilakukan oleh orang-orang kafir Mongol yang bernama Tartar. Mereka membunuh keturunan Bani Hāsyim dan menawan wanita-wanita mereka, baik keturunan 'Abbāsiyyah maupun bukan 'Abbāsiyyah. ([1031]) Tetapi setelah itu kita melihat para ulama Syi’ah memuliakan syekh mereka Ibnul-Alqamiy bersama rekannya Aṭ-Ṭūsiy, serta menjadikan kezaliman mereka terhadap umat Islam tersebut sebagai keutamaan besar mereka.

Al-Majlisiy mendeskripsikan syekhnya, Naṣīruddīn Aṭ-Ṭūsiy dalam ucapannya, “Syekh Termulia, Tuan Naṣīruddīn Muhammad bin Hasan Aṭ-Ṭūsiy -semoga Allah menyucikan ruhnya- adalah menteri Raja Hulagu.” ([1032])

Imam besar meraka, Al-Khumainiy berkata, “Manusia juga merasa sedih dengan kehilangan Tuan Naṣīruddīn Aṭ-Ṭūsiy. Al-'Allāmah (Aṭ-Ṭūsiy) dan orang-orang semisal mereka yang telah memberikan jasa besar bagi Islam!!” ([1033])

Jasa besar ini telah diungkap sebelumnya oleh gurunya, Al-Khawānsāriy dalam biografi Naṣīruddīn Aṭ-Ṭūsiy: “Di antara sekian perkaranya yang masyhur dan beredar luas adalah berita dia mengundang raja yang dihormati dalam negeri Iran, yaitu Hulagu Khan bin Tuli Khan bin Jenghis Khan di antara pembesar-pembesar raja Tartar keturunan Mongol. Hulagu Khan datang dalam iring-iringan raja dengan persiapan yang sempurna menuju Kota Dārus-Salām Bagdad untuk memberi pencerahan kepada manusia, memperbaiki negeri, memotong pangkal kekejaman dan kerusakan dan memadamkan permusuhan serta kezaliman, dengan menghancurkan pusat kerajaan Bani 'Abbāsiyyah dan melakukan pembantaian massal terhadap pengikut orang-orang buruk itu; sampai-sampai dia mengalirkan darah mereka yang kotor seperti sungai dan mengalirkannya ke Sungai Tigris, menuju neraka Jahanam, negeri kebinasaan dan tempat orang-orang sengsara dan buruk.” ([1034])

Inilah syaikh mereka yang lain, Ali bin Yaqṭīn, seorang menteri Khalifah Ar-Rasyīd, dalam satu malam dia membunuh 500 muslim. Al-Jazā`iriy berkata, “Disebutkan dalam berbagai riwayat bahwa Ali bin Yaqṭīn, menteri Ar-Rasyīd, di dalam tahanannya terkumpul sekelompok penyelisih (Ahli Sunnah), sementara ia termasuk tokoh penting Syi’ah. Dia lalu memerintahkan pasukannya untuk merobohkan atap penjara agar menimpa para tahanan, sehingga semuanya mati dengan jumlah kurang lebih 500 laki-laki.” ([1035])

Inilah imam mereka, Raja Agung Syāh 'Abbās al-Awwal, ketika menaklukkan Bagdad, dia memerintahkan agar kuburan Abu Hanifah dijadikan sebagai jamban. Dia mewakafkan dua ekor bagal (peranakan kuda jantan dan keledai betina), dan ditambat di bagian atas pasar, sehingga setiap orang yang ingin buang hajat dapat mengendarainya menuju kuburan Abu Hanifah untuk buang hajat. Suatu hari dia memanggil penunggu kuburnya dan berkata, “Layanan apa yang kamu berikan di kubur ini sedangkan Abu Hanifah sekarang ada di kerak neraka Jahim?” Dia menjawab, “Di dalam kubur ini terdapat anjing hitam yang ditanam oleh kakekmu Syāh Ismail ketika menaklukkan Bagdad; dia mengeluarkan tulang-tulang Abu Hanifah dan menggantikannya dengan anjing hitam. Jadi, saya sedang menunggu anjing itu.” Memang, dia benar dalam ucapannya. Karena Almarhum Syāh Ismail benar melakukan itu. ([1036]) Syaikh mereka Al-Jazā`iriy mengomentarinya dengan mengatakan, “Memang, dia benar dalam ucapannya. Karena Almarhum Syāh Ismail benar melakukan itu.” ([1037])

 Pertanyaan (164): Terakhir, apakah para ulama Syi’ah bersatu bersama kita Ahli Sunnah terkait Tuhan yang sama Subḥānahu wa Ta'ālā serta nabi yang sama ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan imam yang sama?

Jawab: Dijawab oleh imam mereka, Ni’matullāh Al-Jazā`iriy dalam ucapannya, “Kita tidak bersatu bersama mereka ([1038]) terkait tuhan, nabi dan imam. Karena mereka meyakini bahwa tuhan mereka adalah Tuhan yang menjadikan Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi sebagai nabi-Nya dan Abu Bakar sebagai khalifah setelahnya. Kita tidak meyakini Tuhan seperti ini maupun nabi seperti ini. Kita meyakini bahwa Tuhan yang menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah nabinya bukan Tuhan kita, dan tidak juga nabi tersebut nabi kita.” ([1039])

Juga dijawab oleh imam besar mereka, Al-Khumainiy dalam ucapannya, “Kita tidak menyembah tuhan yang membangun bangunan menjulang untuk peribadatan, keadilan, dan keagamaan kemudian dia merobohkannya sendiri dan menempatkan Yazīd, Mu’āwiyah, Usman, dan orang-orang zalim lainnya di atas tampuk kekuasaan kepada manusia serta tidak menetapkan perjalanan umat setelah wafat nabinya.” ([1040])

Tanggapan:

Apakah orang yang memiliki sedikit iman dan akal masih tidak mengambil sikap setelah penjelasan tentang kesesatan dan penyimpangan sekte Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah dari agama Islam?!


 PENUTUP

Saudaraku, setelah tamasya singkat ini dalam mengenal akidah Syi’ah Imāmiyyah Iṡnā ‘Asyariyyah, ketahuilah bahwa tidak ada titik temu antara kita dan kelompok-kelompok yang menyelisihi Al-Qur`ān dan As-Sunnah kecuali dengan kaidah-kaidah syariat yang telah diletakkan oleh ayat mulia ini,

ﮋ ﭪ  ﭫ  ﭬ  ﭭ  ﭮ    ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ   ﭳ  ﭴ  ﭵ  ﭶ  ﭷ  ﭸ  ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ    ﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂﮃ  ﮄ  ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮈ      ﮉ  ﮊ

"Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim.” (QS. Āli 'Imrān: 64)

Yaitu menauhidkan Allah Subḥānahu wa Ta'ālā, meninggalkan kesyirikan pada-Nya, taat kepada-Nya terkait hukum dan syariat, dan mengikuti penutup para nabi dan rasul ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.

Ayat ini harus menjadi semboyan dalam setiap diskusi. Setiap usaha yang dikerahkan untuk merealisasikan selain kaidah ini adalah batil dan batil. ([1041])

Ulama-ulama Syi’ah hari ini mengklaim bahwa tidak ada perbedaan antara mereka dan umat Islam, dan mengajak umat Islam untuk kembali kepada buku-buku mereka?!

Bagaimana bisa umat Islam yakin dan percaya dengan buku-buku Syi’ah yang berisikan riwayat-riwayat mutawātir dalam mencela Al-Qur`ān Kitābullāh Ta'ālā; bahwa dia kurang dan diselewengkan. Dan bagaimana umat Islam akan bersatu dengan Syi’ah di atas Kitab Allah menurut takwil sesat serta tafsir batin mereka?!

Kemudian, bagaimana umat Islam akan percaya kepada klaim Syi’ah yang menyatakan telah turun kepada imam-imam mereka kitab-kitab ilahi dari langit setelah Al-Qur`ān Al-Karīm?!

Bagaimana umat Islam akan bersatu dengan Syi’ah di dalam Sunnah sementara mereka mengklaim ucapan kedua belas imam mereka sama seperti firman Allah dan sabda Rasul-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam? Bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menyembunyikan sebagian agama lalu menitipkannya kepada imam-imam mereka, mereka percaya terhadap cerita-cerita riqā’ (lembaran-lembaran wasiat yang dusta), lalu membangun agama mereka di atasnya, mereka menerima riwayat para pendusta dan dajal tetapi mencela manusia-manusia terbaik raḍiyallāhu 'anhum setelah Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.

Bagaimana umat Islam akan bersatu bersama Syi’ah sementara mereka melemparkan tuduhan zina kepada Umahatul Mukminin Aisyah dan Ḥafṣah raḍiyallāhu 'anhumā, kedua istri utusan Tuhan alam semesta ṣallallāhu 'alaihi wa sallam di dunia dan akhirat?!

Bagaimana umat Islam akan bersatu bersama Syi’ah sementara mereka menolak ijmak, bahkan sengaja berbeda dengan umat Islam karena meyakini petunjuk itu ada dalam menyelisihi umat Islam?!

Bagaimana umat Islam akan bersatu dengan Syi’ah sementara mereka mengafirkan semua umat Islam, terutama sahabat-sahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan sebagian besar istri Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam?! ([1042])

Bagaimana umat Islam akan bersatu bersama Syi’ah sementara mereka mengatakan, "Kita tidak bersatu bersama mereka terkait Tuhan maupun nabi dan imam. Karena mereka meyakini bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan yang menjadikan Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi sebagai nabi-Nya dan Abu Bakar sebagai khalifah setelahnya. Kita tidak meyakini Tuhan seperti ini maupun nabi seperti ini. Kita meyakini bahwa Tuhan yang menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah nabinya bukan Tuhan kita, dan tidak juga nabi tersebut nabi kita.” ([1043])

Ahli Sunnah hari ini dihadapkan pada meningkatnya gempuran fitnah dalam agama mereka oleh musuh-musuh mereka dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya dari kalangan orang-orang yang menisbahkan diri kepada Islam dan yang lainnya untuk mewujudkan bidah besar, yaitu bidah penyatuan antara Ahli Sunnah dan Syi’ah, sebuah bidah yang memberi label syariat terhadap kesesatan.

Seruan persatuan ini telah menyebabkan kerugian dan keburukan besar pada Ahli Sunnah yang tidak bisa digambarkan kecuali orang-orang yang melihat langsung sejumlah kabilah masuk ke dalam sekte Rāfiḍah secara massal, apalagi yang bersifat personal. Sehingga Irak –misalnya- berubah dari mayoritas Sunni menjadi mayoritas Syi’ah akibat seruan ini. Siapa yang memperhatikan buku 'Unwānul-Majdi karya Al-Ḥaidarī Al-'Irāqiy ([1044]) yang menyebutkan kabilah-kabilah Arab yang masuk ke dalam sekte Rāfiḍah seperti kabilah Ka’b, 'Umārah, Bani Lām, Khazā’il, dan lainnya. Siapa yang membacanya akan tercabik-cabik hatinya lantaran menyesal atas jatuhnya modal utama Ahli Sunnah dengan diculiknya kabilah-kabilah ini dari barisan mereka dan atas kelalaian dari membentengi kabilah-kabilah tersebut dari jerat-jerat ajaran Rāfiḍah dan Syi’ah.

Tidaklah Irak berubah dari mayoritas Sunni menjadi minoritas Sunni dan mayoritas Syi’ah kecuali dengan sebab itu. Demikian juga negeri-negeri di seberang sungai (Sungai Jaiḥūn dan Saiḥūn), Khurāsān, Iran, dan negara-negara Ajam lainnya.

Pada masa kita sekarang, dai-dai Rāfiḍah bergerak cepat setelah revolusi Iran menuju pedalaman Afrika yang sarat dengan kejahilan dan kemiskinan dengan disertai wanita-wanita pekerja Rāfiḍah, sehingga banyak kelompok dan pribadi yang masuk ke dalam sekte Rāfiḍah. Lā ḥaula walā quwwata illā billāh. ([1045])

Ulama-ulama Syi’ah telah membuat program penyebaran Syi’ah dengan semua sarana, khususnya di bawah semboyan persatuan. Setelah Irak, mereka telah mulai melancarkan programnya di semua negeri Islam. Mereka membeli para penulis dan menipu orang-orang lemah mental dan iman serta orang-orang yang lalai dan jahil, dan menjadikan mereka sebagai corong ajakan kepada pemahaman Rāfiḍah dan sekte mereka.

Akibat ajakan persatuan ini, sebagian besar ulama memilih diam untuk menjelaskan kebatilan bidah ini dan dari menjelaskan kebenaran.

Atas nama persatuan ini muncullah buku-buku dan saluran TV Rāfiḍah dan ahli bidah lainnya di negeri-negeri Ahli Sunnah.

Atas nama persaudaraan ini, ulama-ulama Rāfiḍah dan lainnya hilir mudik di tengah negeri-negeri Ahli Sunnah dengan mudah dan gampang. Mereka menyebarkan buku-buku mereka. Mereka diundang oleh orang-orang fasik dan jahil, para pemilik harta, dan pemilik-pemilik media berupa majalah, saluran TV, dan klub-klub di negeri-negeri Sunnah untuk menyampaikan pidato dan presentasi dalam rangka menebar akidah-akidah keji mereka.

Apakah orang-orang yang jatuh dalam fitnah persatuan ini sadar? Betapa besar dan bahaya tanggung jawab mereka! Tidakkah mereka membaca buku-buku Rāfiḍah tentang akidah dan hadis yang diakui di kalangan mereka?! Tidakkah mereka membaca buku-buku sejarah?! Tidakkah mereka membaca Kitab Allah Ta'ālā dan Sunnah Rasul-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam?! Tidakkah mereka mempelajari tauhid?! Jika mereka tulus, mereka akan segera berbalik dari bidah ini. Tetapi jika tidak, maka itu adalah keburukan yang mereka datangkan sendiri.

Dari fakta-fakta ini kita akan ringkas tujuannya yang sangat berbahaya sebagai berikut:

1-       Seruan persatuan dalam misi dan tujuan jangka panjangnya adalah seruan terselubung yang bertujuan menyebarkan Syi’ah untuk membawa umat Islam kepada akidah Rāfiḍah dan memasukkan mereka ke dalam jala akidah Bāṭiniyyah, kemudian masuk ke dalam kemurtadan menyeluruh dari Islam yang jernih serta membersihkan Islam dari pemeluknya.

2-       Seruan ini di bawah tameng "persatuan", bertujuan melalaikan sebagian ulama Ahli Sunnah dan menjadikan mereka lewat fatwa dan partisipasi serta tulisan dan penelitian-penelitian mereka yang bersifat lintas mazhab sebagai kendaraan dalam menyebarkan paham Rāfiḍah, dan sebagai ḥujjah di hadapan orang-orang jahil umat Islam, sehingga ulama Ahli Sunnah dan para pemeluk Ahli Sunnah yang ada di belakang mereka menjadi korban taqiyyah dan tipu daya Rāfiḍah. Seruan ini benar-benar menjadikan Ahli Sunnah sebagai kendaraan untuk menyebarkan paham Rāfiḍah.

3-       Menutupi serangan Rāfiḍah -dengan berbagai formulanya- terhadap As-Sunnah dan Ahli Sunnah.

4-       Terakhir, untuk menghalangi kaum Syi’ah dari mempelajari mazhab Ahli Sunnah.([1046])

Seruan persatuan ini adalah makar yang bertujuan menjerat umat ke dalam paham Rāfiḍah serta menebarkan paham Rāfiḍah dan Syi’ah. Oleh karena itu, kita katakan dengan penuh yakin bahwa seruan penyatuan ini telah tersingkap hakikatnya, sama sekali bukan sarana yang tepat untuk menyatukan umat serta memperbaiki dan mendamaikan perselisihan di antara mereka. Karena hal itu adalah seruan kepada paham Rāfiḍah yang dibangun atas tipu daya dan konspirasi untuk menyatukan antara hak dan batil, sehingga ketika konspirasi berbahaya ini berhasil menaklukkan Ahli Sunnah, mereka segera menyalakan api fitnah dan menanam benih perpecahan, ketika itu ajaran-ajaran pokok Syi’ah yang disembunyikan akan tampil sebagai persiapan untuk membakar umat pada saat yang telah ditentukan.

Demi Allah! Haram hukumnya meneriakkan seruan ini, mendukungnya maupun memberinya tempat di muka bumi. Wajib bagi para ulama untuk mengungkapnya setelah mengetahui hakikat Rāfiḍah dan agama mereka yang batil serta pondasi yang rusak serta menangkal perang pemikiran mereka dari umat Islam. Para pemimpin yang diberi Allah kekuasaan di salah satu negeri Islam wajib untuk tidak memberi ruang bagi dakwah dan dai-dai mereka.

Islam hanya satu dengan kejernihan dan cahayanya, serta menolak apa yang merusaknya. Juga bekerja untuk mengembalikan mereka ke jalan As-Sunnah, dan merasa kasihan terhadap mereka dari azab perpecahan. Hanya Allah-lah yang akan menolong hamba-hamba-Nya yang saleh. ([1047])

Ketua serta para anggota Lembaga Pusat Fatwa dan Riset Ilmiah (Kerajaan Arab Saudi), Syekh 'Abdul-'Azīz bin Abdullah bin Bāz, Syekh 'Abdur-Razzāq 'Afīfī, Syekh Abdullah bin Qu’ūd, dan Syekh Abdullah Al-Gudayyān -raḥimahumullāh- berkata, Sekte Durūz, Naṣīriyyah, Ismā'īliyyah, dan orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan Bābiyyah dan Bahā`iyyah telah mempermainkan nas-nas agama dan membuatkan untuk diri mereka agama yang tidak pernah diizinkan Allah serta mengikuti jalan orag-orang Yahudi dan Nasrani dalam menyelewengkan dan merubahnya demi mengikuti hawa nafsu. Juga mereka mengikuti tokoh pertama semua fitnah, yaitu Abdullah bin Saba` Al-Ḥimyariy; otak bidah, penyesatan, dan permusuhan di antara umat Islam. Sungguh keburukan dan fitnahnya telah merebak, banyak kelompok yang terfitnah dengannya sehingga mereka kafir setelah Islam. Dengan sebabnya terjadi perpecahan di antara umat Islam.

Seruan penyatuan antara kelompok-kelompok ini dan umat Islam yang tulus adalah seruan yang tidak mendatangkan manfaat. Usaha untuk merealisasikan persatuan antara mereka dan orang-orang yang jujur dari umat Islam adalah usaha gagal. Karena mereka dan orang-orang Yahudi serta orang-orang Nasrani, hati mereka sama dalam hal kesesatan dan kekufuran, juga dalam dendam dan makar terhadap umat Islam, sekalipun jalan dan bidah mereka berbeda. Perumpamaan mereka dalam hal itu seperti peumpamaan orang-orang Yahudi dan Nasrani bersama umat Islam. ([1048])

Oleh karena sebab tertentu, beberapa ulama Al-Azhar - Mesir melakukan percobaan bersama para ulama Qumm - Iran setelah perang dunia kedua, dan mereka serius menggarap persatuan yang diyakini, dan segelintir orang dari ulama-ulama besar yang tulus dan bersih hatinya tertipu dengannya. ([1049])

Mereka tampaknya belum berpengalaman. Mereka lalu menerbitkan majalah dengan nama Majallah At-Taqrīb. Tetapi tidak lama, perkara mereka segera tersingkap pada orang-orang yang tertipu dengan mereka. ([1050]) Sehingga urusan kelompok pengusung persatuan ini pun gagal. Tidak ada yang aneh! Karena hati berbeda, pikiran bersilang, akidah bertentangan, dan sama sekali tidak akan bersatu antara dua hal yang bertolak belakang, dan tidak akan bersepakat dua perkara yang bertentangan. ([1051])

Syekh kami, 'Abdul-'Azīz bin Abdullah bin Bāz raḥimahullāh pernah ditanya,

Pertanyaan (7): Berdasarkan pengetahuan Anda tentang sejarah Rāfiḍah, apa sikap Anda terhadap semboyan penyatuan antara Ahli Sunnah dengan mereka?

Jawab: Penyatuan antara Rāfiḍah dan Ahli Sunnah tidak akan mungkin, karena akidah keduanya berbeda. Akidah Ahli Sunnah wal Jamaah adalah menauhidkan Allah dan memurnikan ibadah hanya untuk Allah Subḥānahu wa Ta'ālā; tidak boleh berdoa kepada siapa pun di samping Allah, baik malaikat maupun nabi yang diutus, dan bahwa Allah Subḥānahu wa Ta'ālā sajalah yang mengetahui perkara gaib. Juga, di antara akidah Ahli Sunnah adalah mencintai para sahabat raḍiyallāhu 'anhum serta memanjatkan taraḍḍī (doa agar mereka diridai) untuk mereka, meyakini mereka sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling afdal setelah para nabi, dan bahwa sosok paling utama di antara mereka adalah Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq, kemudian Umar, kemudian Usman, kemudian Ali raḍiyallāhu 'anhum. Adapun Rāfiḍah, maka mereka meyakini kebalikannya, sehingga tidak mungkin menyatukan antara mereka. Sebagaimana tidak mungkin menyatukan antara orang-orang Yahudi, Nasrani, dan penyembah berhala dengan Ahli Sunnah, maka demikian juga tidak akan mungkin menyatukan antara Rāfiḍah dan Ahli Sunnah karena adanya perbedaan akidah yang telah kita jelaskan.

Pertanyaan (8): Apakah mungkin bekerja sama dengan mereka untuk melawan musuh dari luar Islam seperti komunis dan lainnya?

Jawab: Menurutku tidak mungkin. Tetapi Ahli Sunnah wajib bersatu menjadi satu umat dan satu badan, dan mendakwahi Rāfiḍah agar berpegang dengan kebenaran yang ditunjukkan oleh Kitab Allah dan Sunnah Rasul ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Apabila mereka mengikuti itu, mereka menjadi saudara kita dan kita wajib bekerja sama dengan mereka.

Adapun selama mereka bertahan di atas agama mereka seperti membenci dan mencela para sahabat kecuali beberapa orang di antara mereka, mencela Aṣ-Ṣiddīq, Umar, dan semua Ahli Bait seperti Ali raḍiyallāhu 'anhu dan Fatimah serta Hasan dan Ḥusain, juga keyakinan mereka bahwa imam-imam mereka yang dua belas maksum dan mengetahui perkara gaib, semua ini adalah kebatilan yang paling batil. Semua ini menyelisihi akidah Ahli Sunnah wal Jamaah. ([1052])

Ketahuilah, para ulama dan penuntut ilmu wajib menyebarkan akidah As-Salaf Aṣ-Ṣāliḥ, menyebarkan akidah yang benar serta menjelaskan perbedaannya dari mazhab-mazhab ahli bidah, menyingkap konspirasi dakwah Rāfiḍah dan antek-anteknya serta kebohongan-kebohongannya, juga menjelaskan penyimpangan dan kesesatannya serta pokok-pokok ajarannya yang rusak. Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan dan hanya kepada-Nya kita berserah diri.

Sungguh kelompok yang dirahmati ini, yakni umat Islam, tidak akan bersatu di atas kesesatan. Akan selalu ada padanya kelompok yang tegak di atas kebenaran hingga hari Kiamat, dari kalangan ulama yang mengikuti Al-Qur`ān dan petunjuk, yang menjaga agama Allah dari penyelewengan dan kebohongan orang-orang yang menyimpang serta takwil orang-orang jahil. Maka kewajiban kita dan juga semua umat Islam adalah memberi pengajaran dan penjelasan, nasihat dan arahan, serta menjaga agama Islam dari semua serangan.

Siapa yang memberi peringatan sungguh telah memberi kabar gembira. ([1053])

Siapa yang Allah inginkan kebahagiaan baginya, Allah jadikan dia mengambil pelajaran dari apa yang menimpa orang lain, sehingga dia mengikuti jalan orang-orang yang Allah beri pertolongan dan meninggalkan jalan orang-orang yang Allah tinggalkan dan hinakan. ([1054])

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kembali lagi ke belakang, dan dari terfitnah dalam agama kami. ([1055])

Dari Abu 'Āmir Abdullah bin Luḥay, dia berkata, Kami berhaji bersama Mu’āwiyah bin Abi Sufyān raḍiyallāhu 'anhumā. Ketika kami sampai di Mekah, dia berdiri setelah selesai salat Zuhur seraya berkata bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, “Dua Ahli Kitab telah pecah dalam agama mereka menjadi 72 kelompok. Sungguh umat ini akan pecah menjadi 73 kelompok -maksudnya kelompok bidah- semuanya di neraka kecuali satu, yaitu Al-Jamā'ah. Akan muncul di tengah umatku orang-orang yang digerogoti oleh bidah-bidah seperti penyakit pada anjing yang menggerogoti anjing, tidak ada satu pembuluh maupun sendi kecuali dimasukinya. Demi Allah, wahai orang-orang Arab semuanya, apabila kalian tidak melaksanakan apa yang dibawa oleh Nabi kalian ṣallallāhu 'alaihi wa sallam maka selain kalian lebih utama untuk tidak melaksanakannya.” ([1056])

Dari Abu Sa'īd Al-Khudriy raḍiyallāhu 'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam berdiri berpidato, di antara yang dikatakannya, “Ketahuilah, janganlah rasa takut kepada manusia mencegah seseorang untuk mengucapkan kebenaran apabila dia mengetahuinya.” Lalu Abu Sa'īd menangis dan berkata, “Demi Allah! Kami melihat banyak hal tetapi kami takut (mengucapkan kebenaran).” ([1057])

Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam juga bersabda, “Tidaklah seseorang membuat suatu bidah, kecuali Allah akan mencabut dari mereka di antara sunnah yang semisalnya.” ([1058])

Beliau ṣallallāhu 'alaihi wa sallam juga bersabda, “Kalian wajib berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk. Berpeganglah dengannya, dan gigitlah dengan gigi geraham. Tinggalkan oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah, sedangkan setiap bidah adalah kesesatan.” ([1059])

Syaikhul-Islām Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh menyebutkan bahwa mengingatkan umat dari bidah dan orang-orang yang mendakwahkannya hukumnya wajib berdasarkan kesepakatan umat Islam. ([1060])

Saudaraku! Jika Anda bertanya setelah menutup bab “persatuan” yang menipu ini, "Apakah cara untuk mewujudkan persatuan umat Islam dan sikap kasih sayang di antara mereka serta menyatukan kalimat, memperbaiki perselisihannya dan menyatukannya kembali setelah tercerai berai, serta mempererat tali persaudaraan di antara mereka?"

Berikut inilah penjelasannya berdasarkan manhaj dan petunjuk Islam dan berdasarkan asas dakwah para rasul ‘alaihimuṣṣalātu wassalām dan juga nabi penutup mereka, nabi dan rasul kita Muhammad bin Abdullah Al-Muṭṭalibiy Al-Hāsyimiy ṣallallāhu 'alaihi wa sallam:

Pertama, meningkatkan perjuangan dengan menyebarkan Islam yang benar dan menanamkannya di dalam jiwa. Yang demikian itu akan mendatangkan kebangkitan Ahli Sunnah wal Jamaah dan pelaksanaan dakwah mereka kepada Allah atas dasar ilmu.

ﮋ ﮀ  ﮁ   ﮂ  ﮃ  ﮄ     ﮅﮆ  ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮋﮌ  ﮍ   ﮎ  ﮏ  ﮐ  ﮑ   ﮒﮊ

Katakanlah (Muhammad), "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik."(QS. Yūsuf: 108)

Tujuannya demi merealisasikan kalimat tauhid dan menanamkan maknanya di dalam jiwa, di mana kalimat tauhid adalah pondasi kebangkitan dan kunci persatuan dan kasih sayang, bukan yang lain. Ini adalah awal sekaligus ujung; di atas manhaj kenabian dari segi keyakinan, ucapan, dan perbuatan. Termasuk dari pondasi ini ialah merealisasikan tauhid ulūhiyyah, tauhid ittibā’, menghapus keyakinan berhala dan potret kesesatan, bidah, dan khurafat, menghapus kejahiliahan berhukum kepada selain yang Allah turunkan, menghapus gelapnya kejahilan dengan cahaya ilmu agama yang diwariskan dari Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.

Juga agar kesibukan utama umat ini terfokus pada perkara yang merupakan pokok agama dan warisan kenabian, yaitu melakukan amar makruf dan makruf, yang paling besar adalah tauhid, serta mencegah yang mungkar dan kemungkaran, yang paling hina adalah syirik.

Kedua, meningkatkan perjuangan para dai yang berdakwah kepada Allah di atas ilmu untuk mewujudkan firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﮒ  ﮓ  ﮔ    ﮕ  ﮖ    ﮗ  ﮘ  ﮙ  ﮚﮛ  ﮜ  ﮝ   ﮞ  ﮟ   ﮠ  ﮊ

"Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap. Dan celaka kamu karena kamu menyifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya)." (QS. Al-Anbiyā`: 18)

Tujuannya untuk membersihkan umat dari semua bidah dan kesesatan, yaitu dengan berupaya menyingkap dan membantahnya. Konsekuensinya adalah harus mencari sisi-sisi lemah yang ada pada umat ini, untuk menghilangkannya lalu membangkitkan umat menuju kehidupan Islam yang jernih dari berbagai kesesatan dan khurafat.

Di antara tugas yang paling penting dalam hal ini adalah bangkit melawan dakwah-dakwah yang menyimpang dengan menjelaskan penyimpangannya. Termasuk di antaranya menjelaskan pokok ajaran mazhab Rāfiḍah yang berasal dari luar Islam, yang telah membawa mereka keluar dari jalan Islam yang lurus. Tentunya dengan penjelasan yang objektif dan adil, dibuktikan dengan dokumen dari referensi dan buku-buku yang masih mereka jadikan rujukan serta mereka tingkatkan pencetakan dan penyebarannya serta berpura-pura menangisi Islam di bawah bayangnya sementara mereka tetap di atas kesesatannya.

Juga menjelaskan sikap para ulama terhadap mereka sejak berabad-abad, sehingga hakikat mazhab mereka tersingkap secara jelas dan rahasia-rahasia mereka dtelanjangi secara terang-terangan, untuk mempersempit gerakan mazhab mereka dalam membuat perpecahan, bahkan untuk menghabisinya, dan membawa mereka kembali kepada Allah dan Rasul-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, kepada Al-Qur`ān dan As-Sunnah serta kepada Al-Jamā'ah, yaitu jemaah umat Islam, didasari oleh rasa sayang kepada mereka dan untuk melindungi umat dari penyimpangan dan ketergelinciran dari jalan yang lurus.

Ketiga, bersungguh-sungguh mewujudkan visi utama jalan ini, yaitu: mengajak persatuan umat Islam di bawah pondasi Kitab dan As-Sunnah, yaitu Islam dengan kejernihan dan cahayanya, bersih dari khurafat dan pemikiran-pemikiran sesat yang melekat padanya, yang terdiri dari penyakit syubhat dan syahwat serta penyimpangan dan ketersesatan.

Inilah hakikat perintah berpegang teguh dalam firman Allah,

ﮋ ﭱ  ﭲ  ﭳ  ﭴ  ﭵ  ﭶﭷ   ﮊ

“Berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai berai.” (QS. Āli 'Imrān: 103)

Bahkan ia juga merupakan asas saling bekerjasama dan tolong-menolong, sebagaimana dalam firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﯭ  ﯮ  ﯯ  ﯰﯱ  ﮊ

“Dan tolong-menolonglah di atas kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Mā`idah: 2)

Sekaligus sebagai tempat kembali ketika berbeda pendapat, sebagaimana firman Allah Subḥānahu wa Ta'ālā,

ﮋ ﰀ  ﰁ   ﰂ  ﰃ  ﰄ  ﰅ       ﰆ  ﰇ  ﮊ

“Apabila kalian berselisih maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisā`: 59)

Maka marilah menguatkan tali persaudaraan antara umat Islam di dalam dakwah dalam kesatuan yang utuh, merangkul apa yang tercerai berai atas dasar kesatuan akidah yang kokoh, berlandaskan Kitab dan As-Sunnah di atas pondasi agama dan tali iman yang paling kuat al-walā` dan al-barā`; walā` (loyal) kepada Sunnah dan pengikutnya, dan barā` (berlepas) dari bidah dan orang-orang yang membawanya.

Atas dasar ini, semua kelompok yang menisbahkan diri kepada Islam yang menginginkan persatuan bersama umat Islam tetapi bertahan dengan pokok bidah yang menyesatkan, bahkan mendakwahkannya, maka pada hakikatnya ia adalah kelompok yang membatalkan Islam, langsung dari pertama kali. Mengabulkan seruan persatuan tersebut, sementara keadaannya seperti ini, adalah membatalkan Islam, mengurai dan menghancurkan pondasi iman al-walā` dan al-barā` dengan menempatkan walā` pada tempat barā`.

Ambil sebagai contoh: Sekte Rāfiḍah. Bagaimana mungkin penyatuan serta kedekatan bersama mereka akan terwujud sementara mereka tetap memegang kuat pembatal-pembatal Islam dan tetap bertahan menyebarkan dan mendakwahkannya disamping ajakan mereka untuk bersatu!!

Ketahuilah, ini adalah konspirasi terhadap Islam dengan merek persatuan bersama Ahli Sunnah. Maka, berhati-hatilah!

Wahai hamba Allah, sebelum buku ini berakhir, ingatlah!

Jangan melakukan diskusi bersama pengikut Rāfiḍah dalam pembahasan apa saja sebelum dia sepakat bersamamu tentang acuan rujukan ketika terjadi perselisihan, yaitu Kitab dan As-Sunnah, serta dia telah memberimu surat pernyataan mengakui keduanya dan berlepas dari pokok-pokok ajaran mereka yang membatalkan keimanan kepada keduanya yang sebagiannya telah disebutkan. Juga agar dia telah menyiarkan keberlepasannya di negerinya dan mengumumkannya pada keluarga, orang terdekat, dan ulama Syi’ahnya. Jika tidak, maka dia akan berjalan bersamamu di bawah fatamorgana yang akan mengantarkanmu pada buruknya paham Rāfiḍah dengan menggunakan kendaraan taqiyyah di bawah judul persatuan.

Wahai Allah, inilah yang saya sampaikan. Hanya kepada-Mu tempat bersandar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Perkasa lagi Mahabijaksana. ([1061])

Saya tutup buku ini dengan hadis Ḥużaifah bin Al-Yamān raḍiyallāhu 'anhu, dia berkata, “Para sahabat bertanya kepada Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan. Adapun aku bertanya kepadanya tentang keburukan karena khawatir akan menimpaku. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam kejahiliahan, kemudian Allah datang kepada kami dengan kebaikan ini. Apakah akan ada setelah kebaikan ini keburukan?’ Beliau ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menjawab, ‘Ya!’ Aku bertanya, ‘Apakah ada setelah keburukan itu kebaikan?’ Beliau ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menjawab, ‘Ya. Tetapi di sana tetap ada keburukan.’ Aku bertanya, ‘Apa keburukannya?’ Beliau ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menjawab, ‘Ada orang-orang yang mengambil selain Sunnah dan petunjukku. Di antara urusan mereka ada yang engkau akui dan ada yang engkau ingkari.’ Aku bertanya, ‘Apakah setelah kebaikan tersebut ada keburukan?’ Beliau ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menjawab, ‘Ya. Yaitu ada orang-orang dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita!’ Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Bagaimana menurutmu kalau itu menimpaku?’ Beliau ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menjawab, ‘Hendaklah kamu berpegang kepada jamaah umat Islam dan pemimpin mereka!’ Aku bertanya, ‘Kalau umat Islam tidak memiliki jamaah maupun imam?’ Beliau ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menjawab, ‘Tinggalkan kelompok-kelompok itu semuanya, sekalipun kamu harus menggigit batang pohon, hingga kematian menjemputmu sementara kamu di atas itu.’” ([1062])

Abul-'Āliyah berkata, “Pelajarilah Islam. Apabila kalian telah mempelajarinya, maka janganlah membencinya. Berpeganglah pada jalan yang lurus, itulah Islam. Janganlah menyeleweng dari jalan itu, ke kanan maupun ke kiri. Berpeganglah kepada Sunnah Nabi kalian ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan jauhilah bidah-bidah ini.”

Perhatikanlah ucapan Abul-'Āliyah ini! Betapa agungnya. Pahamilah waktu ketika dia mengingatkan tentang bidah-bidah ini, di mana yang mengikutinya telah benci terhadap Islam. Perhatikanlah, dia menafsirkan Islam dengan Sunnah, dan dia juga merasa khawatir terhadap tokoh dan ulama-ulama tabiin akan keluar dari Sunnah dan Al-Qur`ān!!

Maka akan jelas bagimu makna dari firman Allah Ta'ālā,

ﮋ ﮛ  ﮜ  ﮝ    ﮞ  ﮟﮠ   ﮊ

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, "Tunduk, patuhlah." (QS. Al-Baqarah: 131)

Juga firman Allah,

ﮋ ﮦ  ﮧ    ﮨ   ﮩ   ﮪ  ﮫ  ﮬ  ﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔ      ﯕ  ﯖﮊ

"Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qūb, 'Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.'" (QS. Al-Baqarah: 132)

Juga firman Allah,

ﮋ ﮆ  ﮇ      ﮈ    ﮉ  ﮊ   ﮋ    ﮌ  ﮍ  ﮎﮏ  ﮊ

"Dan orang yang membenci agama Ibrahim, hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri." (QS. Al-Baqarah: 130)

Dan ayat-ayat yang semisal dengan kaidah-kaidah besar ini yang merupakan hal yang paling pokok sementara manusia lalai darinya. Dengan memahaminya akan jelas makna dari hadis-hadis dalam bab ini dan yang semisalnya.

Adapun orang yang membaca pokok-pokok agama ini dan yang semisalnya lalu dia merasa aman tenteram bahwa itu tidak menimpanya, dan menyangka bahwa hal itu hanya untuk orang-orang terdahulu dan mereka telah binasa! Maka,

ﮋ ﭸ  ﭹ   ﭺﭻ  ﭼ  ﭽ    ﭾ    ﭿ  ﮀ    ﮁ  ﮂ  ﮃ  ﮊ

"Apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi." (QS. Al-A’rāf: 99) ([1063])

Wahai Allah! Aku telah menjelaskan serta memberi nasihat dalam masalah ini kepada setiap muslim yang menempatkan dirinya dengan sebenar-benarnya; dia beriman kepada Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam sebagai nabinya lalu dia pun tunduk kepada kebenaran. Wahai Allah, saksikanlah!

Aku memohon kepada Allah Subḥānahu wa Ta'ālā agar menunjuki umat Islam yang tersesat, agar menjauhkan azab-Nya dari kita dan mereka, memalingkan dari kita dan dari mereka makar orang-orang yang membuat makar, dan meneguhkan kita semua di atas Islam hingga kita berjumpa dengan-Nya. Juga agar Allah menganugerahiku keikhlasan dan kebenaran dalam ucapan maupun perbuatan, dan menjadikan niatku dan keturunanku, juga kesudahanku menjadi baik. Juga semoga Allah menjagaku dari keburukan semua orang yang memiliki keburukan, menjadikan kematianku syahid di jalan-Nya, tetap maju dan tidak mundur di atas kebenaran dan keikhlasan, serta semoga Dia memberi ampunan kepadaku, kedua orang tuaku, anak-anakku, istriku, guru-guruku, dan kepada semua umat Islam yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Wahai Allah! Aku menjadikan-Mu sebagai pelindung dari siapa saja yang meniatkan keburukan kepadaku, orang tuaku, dan keluargaku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya.

Wahai Allah, Engkaulah penolongku. Dengan bantuan-Mu aku bersiasat, dengan bantuan-Mu aku menyerang, dan dengan bantuan-Mu aku berperang.

Wahai Pemilik hari pembalasan, hanya kepada-Mu aku beribadah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan.

Wahai Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan Arasy yang agung, jadilah Engkau pelindungku dari orang yang menggangguku dan mengganggu keluargaku dari orang-orang Rāfiḍah dan pasukannya dari kalangan orang-orang yang fasik dan zalim serta para pengikut dan golongan mereka di antara makhluk-makhluk-Mu. Wahai Allah, lindungilah aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki. Wahai Allah, lindungilah aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki. Wahai Allah, lindungilah aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki. Aku berlindung kepada-Mu dari kezaliman seseorang kepadaku. Sungguh agung perlindungan-Mu, sungguh mulia pujian-Mu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.

Wahai Allah! Engkaulah yang menurunkan Kitab, yang menjalankan awan, yang menghancurkan pasukan, binasakanlah mereka, dan menangkanlah kami atas mereka. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.

Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Mahaagung lagi Mahalembut. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan Arasy yang agung. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, dan Tuhan Arasy yang mulia. Engkaulah yang mencukupiku dan Engkau sebaik-baik penolong. Engkaulah yang mencukupiku dan Engkau sebaik-baik penolong. Engkaulah yang mencukupiku dan Engkau sebaik-baik penolong.

Wahai Allah! Hanya rahmat-Mu yang aku harapkan. Maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sekejap mata pun. Perbaikilah urusanku seluruhnya. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.

Wahai Allah! Aku hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, berlaku padaku keputusan-Mu, adil padaku ketetapan-Mu.

Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama milik-Mu, yang Engkau namakan dengannya diri-Mu, atau yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu, atau yang Engkau sembunyikan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur`ān sebagai penghias hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, dan pengusir kesusahanku.

Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan bantuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Mahabijaksana. Allah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun.

Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad, dan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya semuanya.

1/7/1425 H

Penulis

Abdurraḥmān bin Sa'd bin Ali Asy-Syaṡriy

 DAFTAR REFERENSI UTAMA

Iḥqāq al-Ḥaq karya Asy-Syūsytariy At-Tustariy, ta’līq Syihābuddin An-Najafiy, al-Maṭba’ah al-Islāmiyah, Teheran.

Aḥkām asy-Syī’ah karya Mīrzā Al-Hā`iriy, Maktabah al-Imām Ja'far Aṣ-Ṣādiq, Kuwait, cet. 3 tahun 1396 H.

Uṣūlu al-Kāfī karya Muhammad bin Ya’qūb Al-Kulainiy, Dār al-Murtaḍā - Beirut, cet.1 tahun 1426 H.

Uṣūl al-Fiqh karya Muhammad Riḍā Al-Muẓaffar, Najaf, tahun 1382 H.

Aṣlu asy-Syī’ah wa Uṣūluhā karya Ālu Kāsyif Al-Giṭā`, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 4 tahun 1413 H.

I’lām al-Warā karya Aṭ-Ṭabrasiy, tasḥīḥ dan ta’līq Ali Al-Gifāriy, Mu`assasah Al-A’lamiy, cet. 1 tahun 1424 H.

A'yān asy-Syī'ah, karya Muḥsin Al-'Āamiliy, taḥqīq Hasan Al-Amīn, Dār At-Ta'āruf, cet. 5, tahun 1420 H.

Iqbāl al-A’māl, karya Ibnu Ṭāwūs, taḥqīq Al-Qayyūmiy, Maktab al-I’lām al-Islāmiy, cet. 1 tahun 1414 H.

Irsyād al-Qulūb, beserta buku: At-Tamḥīṣ wal-Mu`min, karya Hasan Ad-Dailamiy, Dār al-Murtaḍā, cet. 1 tahun 1429 H.

Amālī Aṣ-Ṣadūq, taḥqīq Qism ad-Dirāsāt al-Islāmiyyah, Mu`assasah al-Bi’ṡah Qumm, cet. 1 tahun 1417 H.

Awā`il al-Maqālāt karya Al-Mufīd, Dār al-Mufīd li aṭ-Ṭibā’ah - Beirut, cet. 2 tahun 1414 H.

Al-Anwār an-Nu’māniyyah karya Al-Jazā`iriy, Mu`assasah al-A’lamī - Beirut, cet. 4, tahun 1404 H.

Al-Imām Aṣ-Ṣādiq karya Muhammad Ḥusain Al-Muẓaffar, Dār az-Zahrā` - Beirut, cet. 3, tahun 1397 H.

Al-Amālī karya Al-Mufīd, taḥqīq Al-Gifāriy dan Al-Ustādūliy, Mu`assasah an-Nasyr al-Islāmiy, cet. 5, tahun 1425 H.

Al-Amālī karya Aṭ-Ṭūsiy, taḥqīq Qismu ad-Dirāsāt, Mu`assasah al-Bi’ṡah dan Dār aṡ-Ṡaqāfah, cet. 1, tahun 1414 H.

Al-Iḥtijāj karya Aṭ-Ṭabrasiy, ta’līq Muhammad Bāqir Al-Khurāsāniy, Mu`assasah al-A’lamī. Cet. 3, tahun 1421 H.

Al-Ikhtiṣāṣ karya Al-Mufīd, tasḥīḥ Al-Gifāriy, Mansyūrāt Jamā’ah al-Mudarrisīn fil-Ḥauzah al-'Ilmiyyah - Qumm.

Rijāl Al-Kasy-syiy karya Aṭ-Ṭūsiy, taḥqīq Al-Mabdiy dan Al-Mausūyān, Mu`assasah aṭ-Ṭibā’ah - Iran, tahun 1382 H.

Al-Irsyād karya Al-Mufīd, Mu`assasah al-A’lamī, cet. 3, tahun 1410 H.

Al-Istibṣār karya Aṭ-Ṭūsiy, Dār Al-Murtaḍā - Libanon, cet. 1, tahun 1428 H.

Al-Istigāṣah karya Al-Kūfiy, Mansyūrāt al-A’lamī - Teheran, cet. 1, tahun 1373 H.

Al-I’tiqādāt karya Ibnu Bābawaih Al-Qummiy, taḥqīq ‘Iṣām 'Abdus-Sayyid, Dār al-Mufīd, cet. 2, tahun 1414 H.

Al-Alfain karya Al-Ḥasan bin Al-Muṭahhar Al-Ḥilliy, Mu`assasah al-A’lamī - Beirut, cet. 3, tahun 1402 H.

Al-Ādāb al-Ma’nawiyyah li aṣ-Ṣalāh karya Al-Khumainiy, Mu`assasah al-A’lamī lil-Maṭbū’āt, cet. 1, tahun 1406 H.

Ilzām an-Nāṣib karya Ali Al-Ḥā`iriy, tasḥīḥ Fāliḥ Al-‘Ubaidiy, Dār Anwār al-Hudā, cet. 2, tahun 1428 H.

Al-Īqāẓ minal-Haj’ah karya Al-Ḥurr Al-'Āmiliy, taḥqīq Musytāq Al-Muẓaffar, Mansyūrāt Dalīl Mā, cet. 1, tahun 1422 H.

Ahlul-Bait fī Fikril-Khumainiy, disusun oleh Markaz al-Imām Al-Khumainiy aṡ-Ṡaqāfiy, cet. 2, tahun 1427 H.

Al-Burhān fī Tafsīr al-Qur`ān karya Hāsyim Al-Baḥrāniy, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 2, tahun 1427 H.

Al-Bayān fī Tafsīr al-Qur`ān karya Abul-Qāsim Al-Khū`iy, Dār aṡ-Ṡaqalain - Qumm, cet. 4, tahun 1425 H.

Al-Balad al-Amīn karya Al-Kaf’amiy, ta’līq 'Alā`ud-Dīn Al-A’lamiy, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 2, tahun 1425 H.

Biḥārul-Anwār karya Muhammad Bāqir Al-Majlisiy, Iḥyā` at-Turāṡ al-‘Arabiy - Beirut, cet. 3, tahun 1403 H.

Bisyāratu al-Muṣṭafā karya Ibnu Abil-Qāsim Aṭ- Ṭabariy, taḥqīq Al-Qayyūmiy, Dār al-Ḥaurā`, cet. 2, tahun 1428 H.

Baṣā`ir ad-Darajāt karya Aṣ-Ṣaffār, taḥqīq Muhammad As-Sayyid Al-Mu’allim, Dār Jawād al-A`immah, cet. 1, tahun 1428 H.

At-Tanbīh wal-Isyrāf karya Ali Al-Mas’ūdiy, Maṭba’ah Bril - Kota Leiden, tahun 1893 M.

At-Tanbīh war-Radd karya Al-Malṭiy, taḥqīq Al-Kauṡariy, Al-Maktabah al-Azhariyyah li at-Turāṡ – Kairo, cet. 2, tahun 1977 M.

At-Tauḥīd karya Ibnu Bābawaih, tasḥīḥ Aṭ-Ṭahrāniy, Mu`assasah an-Nasyr al-Islāmiy, cet. 9 , tahun 1427 H.

Ta`wīlu al-Āyāt karya Al-Astar Ābady, Madrasah al-Imām Al-Mahdi, isyrāf Al-Abṭaḥiy, cet. 1, tahun 1407 H.

Tārīkh al-Imāmiyyah karya Abdullah Fayyāḍ, Mu`assasah al-A’lamiy - Beirut, cet. 2, tahun 1395 H.

Tārīkh al-Gaibah al-Kubrā karya Muhammad Bāqir Aṣ-Ṣadr, Maktabah al-Alfain - Kuwait, cet. 2, tahun 1403 H.

Tārīkh Al-Ya’qūbiy, taḥqīq 'Abdul-Amīr Muhannā, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 1, tahun 1413 H.

Taḥrīr al-Wasīlah karya Al-Khumainiy, Dār at-Ta’āruf lil-Maṭbū’āt, tahun 1424 H.

Tuḥaf al-‘Uqūl karya Al-Ḥarrāniy, ta’liq Ḥusain Al-A’lamiy, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 1, tahun 1417 H.

Taṣḥīḥu I’tiqādāti al-Imāmiyyah karya Al-Mufīd, tasḥīḥ Ḥusain Darkāhī.

Tafsīr Al-Ḥasan Al-‘Askariy, taḥqīq Al-Andimasykiy, Mansyūrāt Żawil-Qurbā, cet. 1, tahun 1384 H.

Tafsīr Aṣ-Ṡāfī karya Al-Kāsyāniy, Maktabah Aṣ-Ṣadr – Teheran, Iran, cet. 3, tahun 1379 H.

Tafsīr Al-‘Ayyāsyiy, Tasḥīḥ Hāsyim Al-Miḥlātiy, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 1, tahun 1411 H.

Tafsīr Furāt Al-Kufiy, taḥqīq Muhammad Al-Kāẓim - Teheran, cet. 1, tahun 1410 H.

Tafsīr Al-Qur`ān Al-Karīm karya Abdullah Syubbar, Dār al-Ḥujjah al-Baiḍā` - Beirut, cet. 1, tahun 1427 H.

Tafsīr Al-Qummiy, isyrāf Lajnah at-Taḥqīq wat-Taṣḥīḥ - Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 1, tahun 1428 H.

Tafsīr Nūr aṡ-Ṡaqalain karya Al-Ḥuwairiy, taṣḥīḥ Al-Miḥlātiy, Mu`assasah Ismā’īliyyān, cet. 4, tahun 1412 H.

Talkhiṣ asy-Syāfiy karya Aṭ-Ṭūsiy, ta’līq Ḥusain Baḥrul-'Ulūm, Mu`assasah Intisyārāt al-Muḥibbīn - Iran, cet. 1.

Tahżīb al-Aḥkām karya Aṭ-Ṭūsiy, Dār Al-Murtaḍā - Beirut, cet. 1, tahun 1428 H.

Tahżīb al-Wuṣūl ilā ‘Ilmil-Uṣūl karya Ibnu Al-Muṭahhir Al-Ḥilliy, Teheran, tahun 1308 H.

Ṡawābul-A’māl karya Ibnu Bābawaih, taṣḥīḥ Husain Al-A’lamiy, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 5, tahun 1427 H.

Al-Ḥukūmah al-Islāmiyyah karya Al-Khumainiy, Markaz al-Imām Al-Khumainiy Aṡ-Ṡaqāfiy, cet. 1, tahun 1425 H.

Al-Ḥukūmah al-‘Ālamiyyah karya Maḥmūd Al-Khurāsāniy, Majma’ aṡ-Ṡaqāfah al-Islāmiyyah, cet. 1, tahun 1382 H.

Al-Ḥadā`iq an-Nāḍirah karya Al-Baḥrāniy, taṣḥīḥ Muhammad Taqiy Al-Īrāniy, Dār al-Aḍwā`, cet. 2, tahun 1405 H.

Ḥaqīqatu Muṣḥaf Fāṭimah ‘Inda asy-Syī’ah karya Akram Barakāt, Dār aṣ-Ṣafwah, cet. 2, tahun 1425 H.

Ḥaqqul-Yaqīn fī Ma’rifah Uṣūlid-Dīn karya Abdullah Syubbar, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 1, tahun 1418 H.

Jāmi’ al-Akhbār karya Ibnu Bābawaih Al-Qummiy, Iran, tahun 1345 H.

Jāmi’ ar-Ruwāt karya Al-Ardabīliy, Dār al-Aḍwā` - Beirut, 1403 H.

Jāmi’ as-Sa’ādāt karya Muhammad Mahdī An-Narāqiy, taḥqīq Muhammad Kalāntar, Dār an-Nu’mān, cet. 4.

Al-Jāmi’ li asy-Syarā`i’ karya Yaḥyā bin Sa’īd Al-Ḥilliy, Dār al-Aḍwā` - Beirut, cet. 2, tahun 1406 H.

Jannatul-Ma`wā karya Muhammad Al-Husain Ālu Kāsyif Al-Giṭā`, Dār al-Aḍwā` - Beirut, cet. 2, tahun 1408 H.

Jawāhir Al-Kalām karya An-Najafiy, taḥqīq Al-Qūniy, Dār al-Kutub al-Islāmiyyah - Teheran, tahun 1367 H.

Al-Kharā`ij wal-Jarā`iḥ karya Ar-Rāwandiy, taḥqīq Mu`assasah Al-Mahdiy, Mu`assasah an-Nūr, cet. 2, tahun 1411 H.

Al-Khiṣāl karya Ibnu Bābawaih, taḥqīq Al-Gifāriy, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 1, tahun 1410 H.

Al-Khumainiy wa ad-Daulah al-Islāmiyyah karya Muhammad Mugniyah, Dār al-‘Ilmi lil-Malāyīn - Beirut, cet. 1, tahun 1979 H.

Khaṣā`iṣ al-A`immah karya Ar-Riḍā, taḥqīq Al-Amīniy, Majma’ al-Buhūṡ, distribusi al-Āstānah ar-Riḍawiyyah, tahun 1406 H.

Khaṣā`iṣ Amīril-Mu`minīn 'Aliy ibn Abī Ṭālib karya Ar-Riḍā, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 1, tahun 1406 H.

Aṭ-Ṭarā`if karya Ibnu Ṭāwūs Al-Ḥusainiy, taḥqīq Ali ‘Āsyūr, Mu`assasah al-A’lamiy, tahun 1420 H.

Aṣ-Ṣawārim al-Muhriqah karya Al-Qāḍī At-Tustariy, Mu`assasah al-Balāg, cet. 1, tahun 1427 H.

Aṣ-Ṣirāṭ al-Mustaqīm karya Al-Bayāḍiy, taḥqīq Muhammad Al-Bāqir Al-Bahbūdiy, al-Maktabah al-Murtaḍawiyyah, tahun 1425 H.

Ṣaḥīfah al-Abrār karya Mīrzā Muhammad Taqī, Dār al-Jīl - Beirut, tahun 1414 H.

Ṣirāt al-Ḥaqq fil-Ma’ārif al-Islāmiyyah karya Muhammad Āṣif Al-Muḥsiniy, Żawil-Qurbā, cet. 1, tahun 1428 H.

Al-‘Urwah al-Wuṡqā karya Aṭ-Ṭabāṭabā`iy, Mu`assasah an-Nasyr, cet. 1, tahun 1417 H.

Al-‘Aqā`id karya Al-Majlisiy, taḥqīq Husain Darkāhī, Mu`assasah al-Hudā, cet. 1, tahun 1378 H.

Āsyūrā` fī Fikri al-Imām Al-Khumainiy, susunan Markaz Al-Khumainiy Aṡ-Ṡaqāfiy, cet. 3, tahun 1428 H.

‘Ilal asy-Syarā`i’ karya Ibnu Bābawaih Al-Qummiy, Dār al-Murtaḍā, cet. 1, tahun 1427 H.

Aliy wa Munāwi`ūhu karya Nūrī Ja'far, Mu`assasah al-Wafā` - Beirut, tahun 1402 H.

Umdah az-Zā`ir fil-Ad’iyah wa az-Ziyārāt karya Al-Kāẓimiy, Dār at-Ta’āruf - Beirut, cet. 1, tahun 1399 H.

Uyūn Akhbār Ar-Riḍā karya Ibnu Bābawaih Al-Qummiy, Dār al-Murtaḍā, cet. 1, tahun 1429 H.

Awālī al-La`ālī karya Ibnu Abi Jumhūr, taḥqīq Āqā Mujtabā, Maṭba’ah Sayyid asy-Syuhadā` - Iran, cet. 1, tahun 1403 H.

Aqā`id al-Imāmiyyah al-Iṡnai 'Asyariyyah karya Az-Zanjāniy, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 3, tahun 1413 H.

Aqā`id al-Imāmiyyah karya Al-Muẓaffar, disusun ulang oleh Fāris Al-'Āmir, al-Amīrah li an-Nasyr, cet. 1, tahun 1429 H.

Aqā`id al-Imāmiyyah karya Muhammad Riḍā Al-Muẓaffar, Intisyārāt Anṣāriyyān - Qumm (Situs Syī’ah Internasional).

Al-Gadīr karya 'Abdul-Ḥusain Al-Amīniy An-Najafiy, Maṭba’ah al-Garriy - Najf, cet. 2, tahun 1372 H.

Al-Gaibah karya Muhammad An-Nu’māniy, taḥqīq Fāris Ḥasūn, Mu`assasah Intisyārāt Madyan, cet. 1, tahun 1426 H.

As-Saqīfah karya Al-Jauhariy riwayat Ibnu Abi Al-Ḥadīd, taḥqīq Al-Amīniy, Syarikah al-Katbiy - Beirut, cet. 2, tahun 1413 H.

Sa’d As-Su’ūd karya Ibnu Ṭāwūs, al-Maṭba’ah al-Ḥaidariyyah - Najaf, cet. 1, tahun 1369 H.

Safīnah al-Biḥār karya 'Abbās Al-Qummiy, Dār al-Uswah, cet. 2, tahun 1416 H.

Asy-Syī’ah baina al-Asyā’irah wal-Mu’tazilah karya Hāsyim Ma’rūf, Dār al-Qalam - Beirut, cet. 1, tahun 1978 M.

Asy-Syī’ah fī 'Aqā`idihim wa Aḥkāmihim karya Al-Qazwainiy, Dār az-Zahrā` - Beirut, cet. 3, tahun 1397 H.

Asy-Syī’ah fil-Mīzān karya Muhammad Mugniyah, taḥqīq Al-Garīriy, Mu`assasah Dār al-Kitāb, cet. 1, tahun 1426 H.

Asy-Syī’ah wal-Ḥākimūn karya Muhammad Mugniyah, taḥqīq Sāmī Al-Garīriy, Mu`assasah Dār al-Kitab, cet. 1, tahun 1426 H.

Asy-Syī’ah wa ar-Raj’ah karya Muhammad Aṭ-Ṭabīsiy An-Najafiy, Maṭba’ah al-Ādāb - Najf, tahun 1385 H.

Asy-Syihāb aṡ-Ṡāqib fī Bayān Ma’nā an-Nāṣib karya Al-Baḥrāniy, tahqiq Mahdī Rr-Rajā`iy, cet. 1, tahun 1419 H.

Syarḥ Uṣūl al-Kāfī karya Al-Māzandarāniy, taḥqīq 'Āsyūr, Mu`assasah at-Tārīkh al-'Arabiy, cet. 2, tahun 1429 H.

Syarḥu az-Ziyārah al-Jāmi’ah al-Kabīrah karya Ahmad Al-Aḥsā`iy, Dār Al-Mufīd - Beirut, cet. 1, tahun 1420 H.

Syarḥu Nahjil-Balāgah karya Mayṣam Al-Baḥrāniy, Maktabah Fakhrāwī, cet. 1, tahun 1428 H.

Syarḥu Nahjil-Balāgah karya Ibnu Abi Al-Ḥadīd, ta’līq Al-A’lamiy, Mu`assasah Al-A’lamiy, cet. 2, tahun 1425 H.

Nahjul-Balāgah karya Muhammad Al-Mūsāwiy, Dār al-Kitāb al-'Arabiy, Syarḥ; Muhammad 'Abduh, Murāja’ah Zahwah, tahun 1427 H.

Al-Fuṣūl al-Mukhtārah minal-'Uyūn wal-Majālis karya Al-Mufīd, Dār al-Aḍwā` - Beirut, cet. 4, tahun 1405 H.

Al-Fuṣūl al-Muhimmah karya Al-Ḥurr Al-'Āmiliy, taḥqīq Al-Qā`īniy, Dār Iḥyā` at-Turāṡ al-'Arabiy, cet. 1, tahun 1418 H.

Al-Fuṣūl al-Muhimmah karya 'Abdul-Ḥusain Al-Mūsāwiy, Mu`assasah al-Balāg, cet. 1, tahun 1423 H.

Al-Fahrasat karya Ibnu An-Nadīm, taḥqīq 'Abdur-Ra`ūf dan Īmān Jalāl, al-Hai`ah al-'Āmmah li Quṣūr aṡ-Ṡaqāfah, tahun 2006 M.

Al-Fahrasat karya Muhammad bin al-Hasan Aṭ-Ṭūsiy, Mu`assasah al-Wafā` - Beirut, cet 3, tahun 1403 H.

Fiqh Ar-Riḍā karya Ibnu Bābawaih, taḥqīq Mu`assasah Ālil-Bait, al-Mu`tamar al-'Ālamiy, cet. 1, tahun 1406 H.

Firaq asy-Syī’ah karya Hasan bin Musa An-Nūbakhtiy, Dār al-Aḍwā`, cet. 2, tahun 1427 H.

Furū’ al-Kāfī karya Al-Kulainiy, Dār al-Murtaḍā – Beirut, Libanon, cet. 1, tahun 1428 H.

Fadak fit-Tārīkh karya Muhammad Bāqir Aṣ-Ṣadr, Markaz al-Abḥāṡ, Maṭba’ah Syarī’ah - Qumm, cet. 1, tahun 1423 H.

Qurbul-Isnād karya Al-Ḥimyariy, taḥqīq Mu`assasah Ālil-Bait 'alaihimussalām li Iḥyā` at-Turāṡ, cet. 1, tahun 1413 H.

Qaṣaṣ al-Anbiyā` karya Al-Jazā`iriy, taḥqīq al-Ḥājj Muḥsin, Dār al-Balāgah, cet. 3, tahun 1413 H.

Ad-Da’wah al-Islāmiyyah karya Abu al-Hasan Al-Khunaiziy, al-Maṭba’ah at-Tijāriyyah - Beirut, tahun 1376 H.

Ad-Durrah An-Najafiyyah karya Yusuf bin Ahmad Al-Baḥrāniy, cet. Ḥajar - Teheran, tahun 1314 H.

Dā`irah al-Ma’ārif asy-Syī’iyyah karya Husain Al-Amīn, Dār at-Ta’āruf - Beirut, cet. 2, tahun 1393 H.

Dā`irah al-Ma’ārif asy-Syī’iyyah al-'Āmmah karya Muhammad Husain Al-A’lamiy, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 2, tahun 1413 H.

Dalā`il al-Imāmah karya Ibnu Rustum, taḥqīq Qism ad-Dirāsāt al-Islāmiyyah di Mu`assasah al-Bi’ṡah, cet. 1, tahun 1413 H.

Aż-Żarī’ah ilā Taṣānīf asy-Syī’ah karya Aṭ-Ṭahrāniy, Dār al-Aḍwā` - Beirut, cet. 3, tahun 1403 H.

Rijāl Aṭ-Ṭūsiy, taḥqīq Jawād Al-Aṣfahāniy, Mu`assasah an-Nasyr al-Islāmiy, cet. 4, tahun 1428 H.

Risālah fit-Taqiyyah (bagian dari serial Rasā`il Al-Khumainiy jilid 2) karya Al-Khumainiy, al-Maṭba’ah al-'Ilmiyyah, tahun 1385 H.

Risālah at-Ta’ādul wat-Tarjīḥ karya Al-Khumainiy, Tanẓīm wa Nasyr Āṡār Al-Khumainiy, cet. 1, tahun 1417 H.

Rūḥ al-Islām karya Amīr Ali, terjemah Amīn Asy-Syarīf, al-Maṭba’ah an-Namūżajiyyah, tahun 1961 M.

Rauḍātul-Jannāt karya Al-Khawānsāriy, ad-Dār al-Islāmiyyah, cet. 1, tahun 1411 H.

Rauḍah al-Wā’iẓīn karya Muhammad Al-Fattāl An-Naisābūriy, Dār al-Murtaḍā, cet. 1, tahun 1429 H.

Az-Zīnah karya Ar-Rāziy, taḥqīq As-Sāmurā`iy dalam serial Kitab al-Guluw wal-Firaq al-Gāliyah, Maṭba’ah al- Ḥukūmah, tahun 1392 H.

Al-Kunā wa al-Alqāb karya 'Abbās Al-Qummiy, Mu`assasah an-Nasyr al-Islāmiy, cet. 1, tahun 1425 H.

Al-Kasykūl karya Yusuf Al-Baḥrāniy, Dār wa Maktabah al-Hilāl - Beirut, cet. 1, tahun 1986 M.

Kitāb al-Faḍā`il karya Syāżān bin Jibrā`īl Al-Qummiy, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 1, tahun 1408 H.

Kitāb al-Gaibah karya Aṭ-Ṭūsiy, taḥqīq Al-Gifāriy dan Al-Ja’fariy, Dār al-Kutub al-Islāmiyyah, cet. 1, tahun 1423 H.

Kitāb ar-Raj’ah karya Ahmad Al-Aḥsā`iy, ad-Dār al-'Ālamiyyah - Beirut, cet. 1, tahun 1414 H.

Kitāb ar-Rijāl karya Ibnu Daud Al-Ḥilliy, taḥqīq Muhammad Ālu Baḥril-'Ulūm, al-Maṭba’ah al-Ḥaidariyyah, tahun 1392 H.

Kitāb as-Sarā`ir karya Ibnu Idris Al-Ḥilliy, taḥqīq Lajnah at-Taḥqīq di Mu`assasah an-Nasyr, cet. 5, tahun 1428 H.

Kitāb Sulaim ibn Qais, taḥqīq Muhammad Bāqir, cet. Mu`assasah Nasyr al-Hādi – Qumm, tahun 1420 H.

Kitāb Sulaim ibn Qais Al-Kūfiy, Dār al-Irsyād al-Islāmiy - Beirut, cet. 3, tahun 1414 H.

Kitāb al-Wāfī karya Al-Faiḍ Al-Kāsyān, Maktabah al-Imām Amīril-Mu`minīn 'Aliy - Aṣfahān, cet. 1.

Kitāb al-Maḥbar karya Ibnu Ḥabīb riwayat As-Sukriy, taṣḥīḥ Syatītir, Dār al-Āfāq al-Jadīdah - Beirut.

Kitāb Mukhtaṣar Akhbār al-Khulafā` karya Ibnu As-Sā’iy, al-Maṭba’ah al-Amīriyyah – Būlāq, Mesir, cet. 1, tahun 1309 H.

Kitāb aṭ-Ṭahārah karya Al-Khumainiy, Mu`assasah Ismā’īliyyān - Qumm, tahun 1410 H.

Kamālud-Dīn wa Tamām an-Ni’mah karya Ibnu Bābawaih, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 2, tahun 1424 H.

Kāmil az-Ziyārāt karya Ja'far Ibnu Qaulawaih Al-Qummiy, Dār al-Murtaḍā, cet. 1, tahun 1429 H.

Kasyful-Asrār karya Al-Khumainiy, terjemah Dr. Muhammad Al-Bandāriy, Dār 'Ammār, cet. 1, tahun 1408 H.

Kayful-Asrār wa Tabri`atil-A`immah al-Aṭhār karya Sayyid Husain Al-Mūsāwiy, Dār al-Yaqīn, cet. 1, tahun 1421 H.

Kasyful-Gummah fī Ma’rifatil-A`immah karya Ali bin Isa Al-Arbīliy, Dār al-Murtaḍā, cet. 1, tahun 1427 H.

Kasyful-Isytibāh karya 'Abdul-Ḥusain Ar-Rasytiy, al-Maṭba’ah al-'Askariyyah - Teheran, tahun 1368 H.

Kasyful-Giṭā` karya Ja'far Khaḍir, taḥqīq Maktab al-I’lām cabang Khurāsān, cet. 1, tahun 1422 H

Kasyful-Yaqīn fī Faḍā`il Amīril-Mu`minīn karya Yusuf Al-Ḥilliy, taḥqīq Ad-Darkāhiy, Dār al-Mufīd - Beirut.

Kanzul-Fawā`id karya Muhammad Al-Karājkiy, taḥqīq Abdullāh Ni’mah, Dār al-Aḍwā`, tahun 1405 H.

Ma’ālim az-Zulfā karya Al-Baḥrāniy, taḥqīq Mu`assasah Iḥyā` al-Kutub, Mu`assasah Anṣāriyyān, cet. 1, tahun 1424 H.

Al-Maqālāt wal-Firaq karya Sa’d Al-Qummiy, tasḥīḥ Muhammad Masykūr, Maṭba’ah Ḥaidariy, tahun 1963 M.

Al-Maḥāsin karya Al-Barqiy, taḥqīq Mahdī Ar-Rajā`iy, Al-Majma’ al-'Ilmiy li Ahlil-Bait, cet. 1, tahun 1416 H.

Al-Maḥāsin an-Nafsāniyyah karya Ḥusain Ālu 'Uṣfūr, Mansyūrāt Dār al-Masyriq al-'Arabiy al-Kabīr.

Al-Makāsib al-Muḥarramah karya Al-Khumainiy, ta’līq Aṭ-Ṭahrāniy, Mu`assasah Ismā’īliyyān, cet. 3, tahun 1410 H.

Al-Murāja’āt karya Al-Mūsāwiy, taḥqīq Ḥusain Ar-Rāḍiy, ad-Dār al-Islāmiyyah, cet. 4, tahun 1417 H.

Al-Mabsūṭu fī Fiqhi al-Imāmiyyah karya Aṭ-Ṭūsiy, tasḥīḥ Muhammad Al-Kasyfiy, Al-Maktabah al-Murtaḍawiyyah, tahun 1387 H.

Maṣābīḥ al-Anwār fī Ḥalli Musykilāt al-Akhbār karya Abdullah Syubbar, Mu`assasah an-Nūr, cet. 2, tahun 1407 H.

Miṣbāḥu al-Faqāhah fil-Mu’āmalāt, Taqrīr Abḥāts Al-Khū`iy karya At-Tauḥīdiy, Dār al-Hādī, cet. , tahun 1412 H.

Mi`ah Manqabah karya Ibnu Syāżān, taḥqīq Madrasah Al-Mahdi, isyrāf al-Abthaḥiy, cet. 1, tahun 1407 H.

Al-Milal wa an-Niḥal karya Ja'far Subḥānī, Markaz Mudīriyyat Ḥauzah ‘Ilmiyyah - Qumm, cet. 2, tahun 1408 H

Ma’ānī al-Akhbār karya Muhammad bin Ali bin Bābawaih Al-Qummiy, Dār al-Murtaḍā, cet. 1, tahun 1429 H.

Mahj ad-Da’awāt karya Ibnu Ṭāwūs, Dār al-Murtaḍā, cet. 1, tahun 1427 H.

Mustanad asy-Syī’ah karya An-Narāqiy, Mu`assasah Āli al-Bait li Iḥyā` at-Turāṡ, cet. 1, tahun 1415 H.

Masyāriqu Anwāri al-Yaqīn karya Al-Barsiy, taḥqiq Ali 'Āsyūr, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 2, tahun 1427 H.

Muhażżab al-Aḥkām karya 'Abdul-A’lā As-Sabzawāriy, Mu`assasah al-Manār, cet. 4, tahun 1413 H.

Manāqib Āli Abī Ṭālib karya Ibnu Syahr Āsyūb Al-Māzandarāniy, Dār al-Murtaḍā, cet. 1, tahun 1428 H.

Man lā Yaḥḍuruhu al-Faqīh karya Ibnu Bābawaih Al-Qummiy, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 1, tahun 1426 H.

Minhāj aṣ-Ṣāliḥīn, Al-'Ibādāt karya Al-Khū`iy, Maṭba’ah Mahr - Qumm, cet. 28.

Maḥāsin al-I’tiqād karya Ḥusain Āli 'Uṣfūr, Majma’ al-Buḥuṡ al-'Ilmiyyah - Bahrain, cet. 1, tahun 1414 H.

Murūj aż-Żahab wa Ma’ādin al-Jauhar karya Ali Al-Mas’ūdiy, Dār al-Qāri`, cet. 1, tahun 1426 H.

Mir`ātul-'Uqūl karya Al-Majlisiy, Dār al-Kutub al-Islāmiyyah, cet. 2, tahun 1404 H.

Mustadrak al-Wasā`il karya Aṭ-Ṭabrasiy, taḥqīq Mu`assasah Āli al-Bait li Iḥyā` at-Turāṡ, cet. 2, tahun 1408 H.

Al-Miṣbāḥ karya Al-Kaf’amiy, tasḥīḥ Ḥusain Al-A’lamiy, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 2, tahun 1424 H.

Mukhtaṣar Basā`ir ad-Darajāt karya Ḥasan bin Sulaiman Al-Ḥilliy, Dār al-Mufīd - Beirut, cet. 1, tahun 1423 H.

An-Nawādir karya Ahmad Al-Asy’ariy, Mu`assasah Al-Mahdi - Qumm, cet. 1, tahun 1408 H.

An-Nukat al-I’tiqādiyyah karya Al-Mufīd, Dār al-Mufīd li aṭ-Ṭibā’ah - Beirut, cet. 2, tahun 1414 H.

An-Naṣbu wa an-Nawāṣib karya Muḥsin Al-Mu’allim, Dār al-Hādir, cet. 1, 1418 H

Nahjul-Mustarsyidīn karya Al-Ḥilliy, taḥqīq Al-Ḥusainiy dan Al-Yūsufiy, Majma’ aż-Żakhā`ir – Qumm, Iran.

Nūr al-Barāhīn karya Al-Jazā`iriy, taḥqīq Ar-Rajā`iy, Mu`assasah an-Nasyr, cet. 1, tahun 1417 H.

Nūrul-'Ain karya Muhammad Al-Aṣṭahbānātiy, Mu`assasah Maūlūd al-Ka’bah, cet. 1, tahun 1425 H.

Al-Lawāmi’ an-Nūrāniyyah karya Al-Baḥrāniy, Dār al-Aḍwā`, cet. 1, tahun 1424 H.

Al-Wasīlah karya Ibnu Ḥamzah, taḥqīq Al-Ḥasūn, Maktabah al-Mar’asyiy, Maṭba’ah al-Khiyām, tahun 1408 H

Wasā`il asy-Syī’ah karya Al-Ḥurr Al-'Āmiliy, taqdīm Al-Mar’asyiy, Mu`assasah al-A’lamiy, cet. 1, tahun 1427 H.

Al-Yatīmah wa ad-Durrah aṡ-Ṡamīnah karya Hāsyim Al-Baḥrāniy, taḥqīq Fāris Ḥasūn, Mu`assasah al-A’lamiy, tahun 1415 H.


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR CETAKAN PERTAMA. 3

REVISI TERBARU. 3

KATA PENGANTAR CETAKAN KESEBELAS. 5

KATA PENGANTAR. 8

CETAKAN KEDELAPAN. 8

Kata Pengantar 9

Yang Mulia Syekh Ṣāliḥ bin Muḥammad Al-Luḥaidān ḥafiẓahullāh. 9

KATA PENGANTAR. 12

Yang Mulia Syekh Abdullāh bin Abdurraḥmān Al-Jibrīn raḥimahullāh. 12

KATA PENGANTAR. 13

Syekh Abdullāh bin Muḥammad Al-Gunaimān ḥafiẓahullāh. 13

KATA PENGANTAR. 14

Syekh Abdurraḥmān bin Ṣāliḥ Al-Maḥmūd ḥafiẓahullāh. 14

KATA PENGANTAR. 16

Syekh Abdullāh bin Abdurraḥmān As-Sa'd ḥafiẓahullāh. 16

KATA PENGANTAR. 17

Syekh Muhammad bin Abdullāh Al-Imām ḥafiẓahullāh. 17

KATA PENGANTAR. 18

CETAKAN PERTAMA. 18

Pertanyaan (1): Siapakah orang-orang Syi’ah itu?. 29

Pertanyaan (2): Bagaimana awal munculnya Sekte Syi’ah?. 29

Pertanyaan (3): Alangkah baiknya Anda memperkenalkan kepada kami; siapa dua belas imam yang wajib diikuti dalam akidah Sekte Syi’ah Imāmiyyah?. 30

Pertanyaan (4): Apakah ada salah satu di antara Sekte Syi’ah yang meyakini bahwa Jibril 'alaihissalām keliru ketika menurunkan wahyu?. 31

Pertanyaan (5): Apakah ada di antara syekh Syi’ah yang mengatakan bahwa perkataan salah seorang imam mereka menasakhkan Al-Qur`ān? Atau membatasi ayat yang bersifat mutlak, dan mengkhususkan ayat yang bersifat umum?" 33

Pertanyaan (6): Apa keyakinan ulama Syi’ah tentang takwil Al-Qur`ān?. 35

Pertama, Para ulama Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur`ān memiliki makna batin yang berbeda dari maknanya yang lahir. 35

Kedua, mereka meyakini bahwa sebagian besar Al-Qur`ān turun tentang mereka dan musuh-musuh mereka dari kalangan sahabat raḍiyallāhu 'anhum. 37

Pertanyaan (7): Apa dasar dan pangkal takwil-takwil Al-Qur`ān yang mereka sebutkan? Dan sertakan beberapa contohnya!" 38

Pertanyaan (8): Siapakah di antara ulama Syi’ah yang pertama kali menyatakan Al-Qur`ān telah dikurangi, ditambah atau diubah?  44

Pertanyaan (9): Bagaimana awal mula pandangan para ulama Syi’ah bahwa Al-Qur`ān dikurangi, ditambah, dan diubah?  47

Pertanyaan (10): Kami berharap -semoga Allah mengampuni Anda- diberikan ringkasan tentang akidah para ulama Syi’ah terkait adanya penyelewengan, pengurangan, dan penambahan dalam Al-Qur`ān Al-Karim! 51

Pertanyaan (11): Apakah pendapat tentang adanya penyelewengan dan pengurangan Al-Qur`ān dalam keyakinan ulama-ulama Syi’ah, menurut mereka mencapai  derajat mutawātir?. 53

Pertanyaan (12): Kami berharap Anda -semoga Allah mengampuni Anda- menyebutkan beberapa contoh yang di dalamnya ulama Syi’ah secara terang-terangan menyatakan keyakinan mereka tentang penyelewengan Al-Qur`ān! 55

Pertanyaan (13): Kalau begitu, apa keyakinan para ulama Syi’ah tentang jumlah ayat Al-Qur`ān yang benar, dan apakah mereka sepakat pada hal tersebut?. 60

Pertanyaan (14): Apa sikap para ulama Sekte Imāmiyyah Iṡnā ‘Asyariyyah kontemporer terhadap akidah mereka yang meyakini penyelewengan Al-Qur`ān?. 60

Kelompok pertama, mereka berpura-pura mengingkari adanya akidah ini di dalam kitab mereka secara mutlak. 61

Kelompok kedua, mereka mengakui adanya riwayat penyelewengan dalam Al-Qur`ān, namun mereka berusaha mencarikan alasannya. 62

Kelompok ketiga, berpura-pura mengingkari penyelewengan dan pengurangan Al-Qur`ān sambil berusaha menetapkan adanya penyelewengan dan pengurangan dengan cara-cara yang menipu. 63

Kelompok keempat, menyatakan terang-terangan kekufuran ini dan memberinya berbagai argumentasi. 65

Pertanyaan (15): Apakah ada di antara ulama Syi’ah yang diakui mengatakan adanya ayat-ayat yang rendah dalam Kitab Allah Ta'ālā?. 65

Pertanyaan (16): Mohon Anda sebutkan beberapa contoh penafsiran ulama Syi’ah terkait beberapa ayat Al-Qur`ān?  66

Pertanyaan (17): Apa penafsiran para ulama Syi’ah terhadap firman Allah Ta'ālā, “Dan Allah memiliki Al-Asmā`ul-Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Al-Asmā`ul-Ḥusnā itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’rāf: 180) 71

Pertanyaan (18): Apa kedudukan ucapan imam-imam yang dua belas di kalangan ulama Syi’ah?. 71

Pertanyaan (19): Kalau begitu, apa definisi As-Sunnah menurut para ulama Syi’ah?. 72

Pertanyaan (20): Kalau begitu, apakah menurut mereka Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam telah menyampaikan semua syariatnya sebelum beliau wafat?. 73

Pertanyaan (21): Apa sikap para ulama Syi’ah terhadap riwayat para sahabat raḍiyallāhu 'anhum?. 73

Pertanyaan (22): Apa sebenarnya hikayat Ar-Riqā’ (lembaran-lembaran fatwa imam)? Dan seperti apa kedudukannya di dalam Sekte Syi’ah?. 75

Pertanyaan (23): Apa latar belakang Aṭ-Ṭūsiy menulis bukunya Tahżībul-Aḥkām? Dan berapa jumlah hadisnya?  77

Pertanyaan (24): Apa kedudukan buku Al-Kāfī di kalangan ulama Syi’ah? Apakah dia aman dari adanya tambahan mereka? Apakah mereka sepakat pada jumlah pembahasan dan hadisnya?. 77

Pertanyaan (25): Apa pendapat para ulama Syi’ah kontemporer terhadap buku-buku referensi utama mereka dalam mempelajari agama?. 79

Pertanyaan (26): Apakah di dalam Sekte Syi’ah ada istilah yang terkenal tentang pembagian hadis menjadi sahih, hasan, dan daif sebagaimana yang ada dalam Ahli Sunnah?. 80

Pertanyaan (27): Apakah ada dalam Sekte Syi’ah pertentangan serta kontradiksi dalam memberikan cacat (jarḥ) dan menilai ṡiqah (ta’dīl) kepada sebagian rawi?. 80

Pertanyaan (28): Apakah ijmak sebagai ḥujjah di kalangan ulama Sekte Syi’ah? Dan kapan?. 81

Pertanyaan (29): Apa akidah para ulama Syi’ah terkait tauhid Ulūhiyyah?. 81

Pertanyaan (30): Bagaimana Allah Ta'ālā disembah menurut keyakinan ulama Syi’ah?. 81

Pertanyaan (31): Apakah para ulama Syi’ah menganut keyakinan hulul dan kesatuan (wiḥdatul-wujūd) total (antara Allah dan makhluk)?. 82

Pertanyaan (32): Menurut para ulama Syi’ah, apa maksud nas-nas Al-Qur`ān yang membahas tentang tauhid ibadah?  84

Pertanyaan (33): Apa dasar diterimanya amal dalam keyakinan ulama Syi’ah?. 85

Pertanyaan (34): Apakah para ulama Syi’ah meyakini adanya perantara antara Allah dan makhluk-Nya? Dan siapakah mereka?  86

Pertanyaan (35): Bagaimana para nabi 'alaihimussalām mendapat petunjuk? Bagaimana caranya agar bisa melihat Allah Ta'ālā menurut akidah Syi’ah Imāmiyyah Iṡnā ‘Asyariyyah?. 87

Pertanyaan (36): Bagaimana Allah disembah, dikenal, dan ditauhidkan? Apa jalan menuju Allah Subḥānahu wa Ta'ālā menurut akidah para ulama Syi’ah?. 88

Pertanyaan (37): Kapan doa dikabulkan di sisi Allah menurut akidah ulama Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah?. 88

Pertanyaan (38): Bagaimana Allah Ta'ālā mengabulkan doa nabi-nabi-Nya menurut akidah ulama Syi’ah?  89

Pertanyaan (39): Bagaimana bulan terbelah menjadi dua untuk Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menurut akidah ulama Syi’ah?  90

Pertanyaan (40): Apakah boleh melakukan istigasah kepada seseorang selain Allah menurut akidah ulama Syi’ah?  90

Pertanyaan (41): Bagaimana para rasul Ulul-'Azmi meraih derajat tersebut menurut akidah ulama Syi’ah?  92

Pertanyaan (42): Manakah yang lebih agung dalam akidah para ulama Syi’ah: berziarah ke kubur para imam atau menunaikan rukun kelima dari rukun Islam?. 92

Pertanyaan (43): Apakah orang yang memiliki hak untuk menghalalkan dan mengharamkan selain Allah dalam akidah para ulama Syi’ah?. 95

Pertanyaan (44): Manakah yang didahulukan dalam akidah ulama Syi’ah antara menaati Allah ataukah menaati Ali raḍiyallāhu 'anhu?. 96

Pertanyaan (45): Apa keyakinan para ulama Syi’ah terkait tanah kuburan Ḥusain raḍiyallāhu 'anhu?. 96

Pertanyaan (46): Apakah para ulama Syi’ah berpendapat boleh memohon manfaat lewat doa yang menggunakan azimat-azimat dan kode serta istigasah kepada orang yang majhūl (tidak diketahui identitasnya)?. 97

Pertanyaan (47): Apa hukum melakukan istikharah dengan undian anak panah dalam akidah Syi’ah?. 97

Pertanyaan (48): Apa hukum tasyā`um (pesimistis) dengan tempat dan waktu menurut ulama Syi’ah?. 99

Pertanyaan (49): Apakah boleh menurut ulama Syi’ah berdoa kepada selain Allah? Dan kapan?. 100

Pertanyaan (50): Bagaimana Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berbicara kepada Nabi kita, Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam pada malam mikraj dalam keyakinan para ulama Syi’ah?. 100

Pertanyaan (51): Apakah para ulama Syi’ah membedakan antara Allah Ta'ālā dan dengan imam-imam mereka?  101

Pertanyaan (52): Apa itu syirik kepada Allah Ta'ālā? Dan apa pengertian berlepas diri dari orang-orang musyrik dalam akidah mereka?. 101

Pertanyaan (53): Apakah planet dan bintang-bintang memiliki pengaruh dalam kebahagiaan dan kesengsaraan manusia, serta dalam hal masuk surga dan neraka dalam keyakinan para ulama Syi’ah?. 103

Pertanyaan (54): Apakah Allah telah mengistimewakan seseorang dengan memberitahukan kepadanya seluruh perkara gaib selain diri-Nya menurut keyakinan para ulama Syi’ah?. 103

Pertanyaan (55): Bagaimana akidah para ulama Syi’ah mengenai tauhid Rubūbiyyah?. 104

Pertanyaan (56): Apakah para ulama Syi’ah meyakini adanya tuhan lain bersama Allah Subḥānahu wa Ta'ālā?  104

Pertanyaan (57): Siapakah yang mengatur dunia dan akhirat dalam keyakinan para ulama Syi’ah?. 105

Pertanyaan (58): Siapakah yang menciptakan peristiwa-peristiwa alam dalam keyakinan ulama-ulama Syi’ah?  107

Pertanyaan (59): Apakah ulama-ulama Syi’ah meyakini bahwa para imam mereka mampu menciptakan dan mampu menghidupkan orang yang sudah meninggal?. 107

Pertanyaan (60): Apakah derajat tauhid yang paling tinggi dalam pandangan ulama-ulama Syi’ah?. 109

Pertanyaan (61): Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang tauhid Asmā` wa Ṣifāt (nama dan sifat-sifat Allah)?  109

Pertanyaan (62): Apakah ulama-ulama Syi’ah percaya dengan konsep tajsīm (penetapan jisim bagi Allah)?  109

Pertanyaan (63): Bagaimana akidah ulama-ulama Syi’ah mengenai At-Ta’ṭīl (pengingkaran terhadap nama dan sifat Allah)?  110

Pertanyaan (64): Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang pandangan bahwa Al-Qur`ān adalah makhluk?. 111

Pertanyaan (65): Bagaimana akidah ulama Syi’ah tentang masalah penglihatan orang-orang mukmin terhadap Tuhan mereka pada hari Kiamat? Dan menurut mereka apa hukumnya orang yang  meyakini  bahwa  orang mukmin akan melihat Tuhan mereka  pada  hari  Kiamat?. 112

Pertanyaan (66): Apakah ulama-ulama Syi’ah meyakini sifat turun bagi Allah Ta'ālā ke langit dunia? Dan bagaimana pendapat mereka tentang orang yang menetapkan sifat ini sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah?. 113

Pertanyaan (67): Apakah benar bahwa para ulama Syi’ah Imāmiyyah Iṡnā ‘Asyariyyah menyifati imam-imam mereka dengan sifat-sifat Allah Ta'ālā? Juga menamai mereka dengan nama-nama Allah Ta'ālā?. 113

Pertanyaan (68): Apa pengertian iman menurut para ulama Syi’ah?. 116

Pertanyaan (69): Apakah para ulama Syi’ah meyakini ada kalimat syahadat ketiga bersama kalimat syahadat yang dua?  118

Pertanyaan (70): Apa keyakinan ulama-ulama Syi’ah tentang akidah Murji`ah?. 118

Pertanyaan (71): Apakah ulama-ulama Syi’ah mengada-adakan syiar dan amalan-amalan agama lalu menetapkan pahala dan ganjarannya tanpa petunjuk dari Allah dan Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam? Kami berharap Anda menyebutkan beberapa contohnya. 120

Pertanyaan (72): Apa yang menjaga agama Islam sejak 14 abad silam dalam anggapan ulama-ulama Syi’ah?  122

Pertanyaan (73): Apa bukti bahwa Syi’ah seperti Khawarij dalam menyikapi orang yang menyelisihi mereka?  122

Pertanyaan (74): Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang iman kepada malaikat?. 123

Pertanyaan (75): Apa akidah para ulama Syi’ah terkait rukun iman ketiga yaitu iman kepada kitab-kitab?. 125

Pertama, ulama-ulama Syi’ah meyakini bahwa Allah telah menurunkan sejumlah kitab kepada imam-imam mereka, di antaranya: 126

1) Mushaf Ali raḍiyallāhu 'anhu. 126

2) Kitab Ali raḍiyallāhu 'anhu. 126

3) Mushaf Fatimah raḍiyallāhu 'anhā. 126

4) Kitab yang diturunkan kepada Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam sebelum beliau meninggal. 128

5) Lauḥ Fatimah raḍiyallāhu 'anhā. 129

6) Sahifah Fatimah raḍiyallāhu 'anhā. 130

7) Dua Belas Sahifah. 130

8) Suhuf Ali raḍiyallāhu 'anhu. 130

9) Sahifah Żu`ābah As-Saif (Lembaran Suci Pada Gantungan Pedang) 130

10) Al-Jafrul-Abyaḍ (kitab yang tertulis pada kulit anak domba warna putih) dan Al-Jafrul-Aḥmar (kitab yang tertulis pada kulit anak domba warna merah) 131

11) Sahifah An-Nāmūs 131

12) Sahifah Al-'Abīṭah. 132

13) Al-Jāmi’ah. 132

Kedua, Para ulama Syi’ah meyakini bahwa semua kitab samawi ada bersama imam-imam mereka, dan mereka berhukum dengannya di antara manusia. 133

Pertanyaan (76): Siapakah yang lebih mulia dalam pandangan ulama Syi’ah; Rasulullah dan para nabi ataukah imam-imam mereka?. 134

Pertanyaan (77): Menurut akidah para ulama Syi’ah, apakah ḥujjah Allah Subḥānahu wa Ta'ālā terhadap makhluk-Nya sudah cukup dengan mengutus Nabi Muhammad ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan menurunkan Al-Qur`ān? Ataukah dengan imam?  136

Pertanyaan (78): Apakah para ulama Syi’ah mengatakan bahwa wahyu turun kepada para imam mereka?  137

Pertanyaan (79): Apa keyakinan para ulama Syi’ah tentang rukun iman yang kelima yaitu iman kepada hari Kiamat?  139

Pertanyaan (80): Siapakah yang mempermudah kematian orang beriman dan yang memperberat kematian orang kafir menurut akidah ulama-ulama Syi’ah?. 140

Pertanyaan (81): Apa yang menjadi pelindung dari azab kubur menurut akidah ulama-ulama Syi’ah?. 140

Pertanyaan (82): Apa pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepada orang yang mati setelah diletakkan di dalam kuburnya menurut akidah mereka?. 140

Pertanyaan (83): Apakah ada dalam akidah Syi’ah kebangkitan setelah kematian sebelum hari Kiamat?. 141

Pertanyaan (84): Siapakah yang dikecualikan dari lamanya penantian dan perjalanan di atas ṣirāt dalam akidah mereka?  141

Pertanyaan (85): Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang jumlah pintu surga? Dan untuk siapa?. 141

Pertanyaan (86): Siapakah yang akan menghisab manusia menurut keyakinan ulama-ulama Syi’ah?. 142

Pertanyaan (87): Bagaimana manusia bisa selamat ketika melewati ṣirāt pada hari Kiamat kelak menurut keyakinan ulama-ulama Syi’ah?. 142

Pertanyaan (88): Siapakah yang akan memasukkan ke dalam surga orang yang dia kehendaki dan ke dalam neraka orang yang dia kehendaki menurut keyakinan mereka?. 143

Pertanyaan (89): Apa akidah ulama Syi’ah tentang makhluk Allah Ta'ālā yang akan masuk surga?. 143

Pertanyaan (90): Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang iman kepada takdir?. 144

Pertanyaan (92): Apa urgensi kedudukan imamah menurut ulama mazhab Syi’ah?. 146

1- Imamah seperti kenabian. 146

2- Imamah (keimaman) lebih agung dan lebih mulia daripada kenabian. 147

3- Imamah adalah pokok di antara pokok-pokok agama. Iman tidak akan sempurna kecuali dengan meyakininya. 147

4- Sebagai perkara paling agung yang dengannya Allah mengutus nabi-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. 148

5- Keimaman adalah salah satu rukun Islam, bahkan rukun Islam yang paling agung. 148

6- Imamah adalah Islam seluruhnya. 149

Pertanyaan (93): Bārakallāhu fīkum. Sekiranya Anda menyebutkan sebagian hari raya yang diciptakan oleh ulama-ulama Syi’ah?  150

Pertanyaan (94): Apakah jumlah imam menurut ulama-ulama Syi’ah terbatas pada angka tertentu?. 152

Pertanyaan (95): Apakah ada perbedaan di antara ulama-ulama Syi’ah tentang jumlah imam mereka?. 153

Pertanyaan (97): Apa solusi mereka di hadapan orang-orang awam untuk keluar dari dilema penentuan jumlah para imam?  156

Pertanyaan (98): Apa hukum orang yang mengingkari keimaman salah satu imam dalam akidah ulama-ulama Syi’ah?  157

Pertanyaan (99): Apa sikap Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam serta imam-imam Syi’ah terhadap para sahabat raḍiyallāhu 'anhum di dalam buku-buku mereka yang terpercaya?. 157

Pertanyaan (100): Bagaimana ulama-ulama Syi’ah memahami riwayat-riwayat ini? Apakah mereka mengambilnya?  159

Pertanyaan (101): Apakah para ulama Syi’ah mengikuti imam-imam mereka dalam memuji dan mencintai sahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam?. 160

Pertama, ulama-ulama Syi’ah meyakini semua umat Islam murtad setelah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam wafat. 160

Kedua, keyakinan mereka bahwa sebagian besar sahabat raḍiyallāhu 'anhum pada masa hidup Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam adalah orang-orang munafik. 161

Pertanyaan (102): Sekiranya Anda sebutkan secara ringkas akidah para imam tentang Abu Bakar raḍiyallāhu 'anhu?  163

Pertanyaan (103): Apakah para ulama Syi’ah mengikuti imam-imam mereka mengenai keyakinan mereka terhadap Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq raḍiyallāhu 'anhu?. 165

Pertanyaan (104): Apa keyakinan para imam tentang Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu 'anhu secara ringkas?  167

Pertanyaan (105): Apakah ulama-ulama Syi’ah mengikuti keyakinan imam-imam mereka mengenai Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu 'anhu?. 169

Pertanyaan (106): Apa keyakinan ulama-ulama Syi’ah mengenai Abu Bakar dan Umar raḍiyallāhu 'anhumā secara bersamaan?  171

Pertanyaan (107): Sekiranya Anda sebutkan pada kami beberap sikap Ali raḍiyallāhu 'anhu terhadap Usman raḍiyallāhu 'anhu secara ringkas?. 176

Pertanyaan (108): Apakah ulama-ulama Syi’ah mengikuti keyakinan imam-imam mereka terhadap diri Usman bin 'Affān raḍiyallāhu 'anhu?. 177

Pertanyaan (109): Apa sikap ulama-ulama Syi’ah terhadap Allah Ta'ālā karena menakdirkan Usman bin 'Affān raḍiyallāhu 'anhu sebagai Amirul Mukminin setelah Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu 'anhu?. 179

Pertanyaan (110): Sekiranya Anda jelaskan kepada kami akidah ulama-ulama Syi’ah terkait khalifah yang tiga raḍiyallāhu 'anhum dengan ringkas?. 180

Pertanyaan (111): Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang kedua istri Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, Aisyah dan Ḥafṣah raḍiyallāhu 'anhumā?. 181

Pertanyaan (112): Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang Ummul Mukminin Aisyah raḍiyallāhu 'anhā?. 182

Pertanyaan (113): Apa akhir dari keyakinan ulama-ulama Syi’ah dalam urusan Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam  bersama  kedua istrinya Aisyah dan Ḥafṣah raḍiyallāhu 'anhumā?. 185

Pertanyaan (114): Apakah hakikat tanah Fadak sebagaimana yang disebutkan oleh buku-buku Syi’ah?. 186

Pertanyaan (115): Apakah buku-buku mereka menyebutkan bahwa Allah murka kepada mereka dan bahwa Fatimah murka kepada Ali raḍiyallāhu 'anhu?. 187

Pertanyaan (116): Apa arti sifat maksum seorang imam? Dan apakah ini termasuk masalah yang disepakati di kalangan mereka?  188

Pertanyaan (117): Apakah ulama mereka meyakini imam-imam mereka tidak mengalami lalai dan lupa?  189

Pertanyaan (118): Sekiranya Anda meringkaskan kami bagaimana ulama Syi’ah mengembangkan akidah mengenai kemaksuman imam-imam mereka?. 191

Pertanyaan (119): Apakah bisa bārakallāhu fikum Anda sebutkan beberapa hal yang diklaim oleh ulama Syi’ah sebagai keutamaan imam-imam mereka?. 192

Pertanyaan (120): Apakah para ulama Syi’ah meyakini kekalnya mukjizat para imam mereka meskipun mereka telah mati? Dan apa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari mereka?. 196

Pertanyaan (121): Apa hukum menziarahi kubur dan makam para imam dan wali menurut para ulama Syi’ah?  196

Pertanyaan (122): Apa adab-adab yang mereka haruskan kepada orang yang hendak menziarahi makam?  196

Pertanyaan (123): Apakah kota Karbala dan Kufah menurut mereka memiliki keutamaan?. 200

Pertanyaan (124): Apa akidah mereka tentang salat, doa, tawasul, dan haji ke kubur imam-imam mereka?  202

Pertanyaan (125): Apakah para ulama Syi’ah membatasi apa yang disangka keutamaan-keutamaan ini pada amalan menziarahi kubur imam-imam maksum mereka saja?. 205

Pertanyaan (126): Mohon Anda sebutkan kepada kami beberapa prasangka mereka terkait keutamaan menziarahi kubur Ali raḍiyallāhu 'anhu dengan ringkas?. 205

Pertanyaan (127): Mohon Anda sebutkan kepada kami beberapa prasangk mereka terkait keutamaan menziarahi kubur Al-Ḥusain raḍiyallāhu 'anhu dengan ringkas?. 206

Pertanyaan (128): Apa akidah ulama Syi’ah tentang ulama mujtahid mereka? Dan apa hukum orang yang menolaknya?  207

Pertanyaan (129): Apa maksud taqiyyah? Dan apa keutamaannya menurut ulama-ulama Syi’ah?. 209

Pertanyaan (130): Apa hukum meninggalkan taqiyyah menurut ulama-ulama Syi’ah?. 210

Pertanyaan (131): Kapan taqiyyah boleh ditinggalkan menurut ulama-ulama Syi’ah?. 211

Pertanyaan (132): Mengapa kita menyaksikan ada sebagian kaum Syi’ah yang salat di belakang imam-imam Masjidilharam dan Masjid Nabawi?. 212

Pertanyaan (133): Apakah taqiyyah masih memberi dampak berbahaya dalam Mazhab Syi’ah?. 212

Pertanyaan (134): Apakah raj’ah itu? Untuk siapa? Dan apa akidah ulama Syi’ah terhadapnya?. 214

Pertanyaan (135): Untuk apa semua nabi dan rasul kembali ke dunia menurut akidah para ulama Syi’ah?  215

Pertanyaan (137): Siapakah orang pertama yang memunculkan akidah raj’ah? Dan bagaimana akidah ini masuk ke Sekte Syi’ah?  216

Pertanyaan (138): Apakah badā` itu? Apa akidah ulama-ulama Syi’ah tentang badā? Dan siapakah yang pertama kali meyakininya?  217

Pertanyaan (139): Apa sebab mereka meyakini akidah badā` padahal menyelisihi nas Al-Qur`ān, Sunnah, ucapan imam-imam mereka, dan bahkan akal?. 218

Pertanyaan (140): Apa akidah mereka mengenai gaibah (bersembunyinya imam kedua belas), dan siapa yang pertama kali mencetuskannya?. 219

Pertanyaan (141): Kita boleh bertanya kepada ulama-ulama Syi’ah, "Di manakah imam kalian hari ini?" 220

Pertanyaan (142): Apa alasan yang diberikan oleh para ulama Syi’ah tentang sebab menghilangnya Imam Al-Mahdi yang mereka klaim?. 224

Pertanyaan (143): Apa hukum yang diberikan oleh ulama-ulama mazhab Syi’ah terhadap orang yang mengingkari akan keluarnya imam mereka?. 225

Pertanyaan (144): Apa manfaat yang didapatkan oleh ulama-ulama Syi’ah dari akidah gaibah (persembunyian imam kedua belas) yang mereka ciptakan?. 226

Pertanyaan (145): Kapan  kewajiban melaksanakan salat Jumat menurut ulama-ulama Syi’ah?. 226

Pertanyaan (146): Apakah jihad  diperbolehkan  sebelum Imam Al-Mahdi kaum Syi’ah keluar?. 226

Pertanyaan (147): Kalau begitu, apa hukum para mujahid yang telah menaklukkan negeri-negeri kafir sepanjang sejarah?  227

Pertanyaan (148): Apa akidah Syi’ah tentang yang akan dilakukan oleh imam yang mereka klaim sebagai imam kedua belas apabila dia telah keluar?. 227

1-  Melakukan  balas  dedam terhadap Abu Bakar, Umar, dan Aisyah raḍiyallāhu 'anhum. 227

2-  Meletakkan pedang di Bangsa Arab. 228

3-  Membunuh jamaah haji di antara Aṣ-Ṣafā dan Al-Marwa. 229

4-  Menghancurkan Masjidilharam, Masjid Nabawi, dan kamar Nabi 229

5-  Menegakkan hukum keluarga Daud. 230

6-  Mengubah hukum waris 232

Pertanyaan (149): Apakah ada ulama Syi’ah yang menyebutkan penentuan waktu keluarnya imam yang mereka klaim?  233

Pertanyaan (150): Apa solusi mereka di hadapan para pengikut mereka dari akidah wajibnya menunggu Al-Mahdi yang mereka klaim?. 233

Pertanyaan (151): Apa hakikat penisbahan ulama-ulama Syi’ah kepada Ahli Bait?. 234

Pertanyaan (152): Apakah Ahli Bait raḍiyallāhu 'anhum selamat dari celaan ulama-ulama Syi’ah?. 236

Pertanyaan (153): Berapa jumlah putri Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menurut para ulama Syi’ah?  238

Pertanyaan (154): Apa akidah para ulama Syi’ah tentang tanah penciptaan mereka?. 238

Pertanyaan (155): Apa akidah mereka tentang Ahli Sunnah yang mereka namakan sebagai An-Nawāṣib() dan Al-'Āmmah (orang awam)?. 239

1-  Diberlakukan pada mereka hukum Islam secara lahir saja, dan mereka sepakat bahwa Ahli Sunnah termasuk ahli neraka. 239

2-  Bahwa mereka orang-orang kafir dan najis berdasarkan ijmak.................................... 240

3-  Tidak boleh menyalati mereka, dan sembelihan mereka tidak halal. 241

4-  Mereka anak zina. 242

5-  Mereka adalah kera dan babi 242

6-  Wajib membunuh Ahli Sunnah, termasuk membunuh dengan cara licik. 242

7-  Wajib mencuri harta Ahli Sunnah. 243

8-  Wajib berbeda dengan mereka. 243

9-  Ijmak mereka tentang kewajiban melaknat Ahli Sunnah, bahkan itu merupakan ibadah paling mulia. 244

Pertanyaan (156): Apakah ada disebutkan keutamaan nikah mut’ah? Dan apa hukum orang yang mengingkarinya menurut akidah mereka?. 245

Pertanyaan (157): Apakah diperbolehkan menurut ulama Syi’ah melakukan nikah mut’ah dengan anak yang masih disusui, dengan wanita pelacur, juga dengan seorang wanita sekaligus anak perempuannya?. 246

Pertanyaan (158): Apakah khumus itu? Apa akidah ulama Syi’ah tentang itu?. 247

Pertanyaan (159): Kami berharap Anda memberi ringkasan perkembangan harta khumus di kalangan pebisnis ulama mazhab Syi’ah?. 248

v  Tahap pertama. 248

v  Perkara itu kemudian berkembang ke tahap kedua. 248

v  Kemudian berkembang ke tahap ketiga. 248

v  Kemudian berkembang ke tahap keempat 248

v  Kemudian berkembang ke tahap kelima. 249

Pertanyaan (160): Apa akidah ulama Sekte Syi’ah tentang baiat?. 250

Pertanyaan (161): Apakah boleh bagi seorang pengikut Syi’ah untuk berbaiat kepada salah satu pemimpin umat Islam sebelum imam yang mereka klaim muncul?. 251

Pertanyaan (162): Kapan seorang pengikut Syi’ah diperbolehkan bekerja pada penguasa kaum muslimin?  251

Pertanyaan (163): Sekiranya Anda sebutkan penaklukan mereka yang paling menonjol yang diklaim oleh Rāfiḍah sebagai keberhasilan mereka di dalam sejarah dan dalam buku-buku mereka yang terpercaya?. 251

Pertanyaan (164): Terakhir, apakah para ulama Syi’ah bersatu bersama kita Ahli Sunnah terkait Tuhan yang sama Subḥānahu wa Ta'ālā serta nabi yang sama ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan imam yang sama?. 254

PENUTUP. 256

DAFTAR REFERENSI UTAMA. 267



([1])  Ini adalah cetakan yang kedua untuk cetakan terbaru, memiliki keistimewaan berupa tambahan kata pengantar dari Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Imām Al-Yamāniy (hal. 17) dan fatwa dari Lembaga Fatwa Libya (no. 1298) tentang hukum membaca buku ini yang kami tempatkan di cover depan, ditambah pengakuan pimpinan negeri Yahudi bahwa Syi’ah bukan musuh negerinya, dan pengakuan tokoh penyatuan Syiah-Sunni abad ini bahwa dia telah tertipu dengan semboyan penyatuan Syi'ah-Sunni (hal. 264 footnote no. 1&3).

([2]) HR. Al-Bukhāriy raḥimahullāh (256 H), no. 3701 (Bāb Manāqib 'Aliy Ibni Abī Ṭālib Al-Qurasyiy Al-Hāsyīmiy Abil-Ḥasan raḍiyallāhu 'anhu) dan Muslim raḥimahullāh (261 H), no. 34-2406 (Bāb min Faḍā`il 'Aliy Ibni Abī Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu).

([3]) HR. Imam Muslim no. 14-1631 (Bāb Mā Yalḥaqu al-Insān minaṡ-Ṡawābi Ba’da Wafātihi)

([4]) Sebagai wujud antusiasme saya untuk memperlihatkan kedustaan semboyan-semboyan menyesatkan yang sengaja disebar oleh sebagian ulama Rāfiḍah dan yang disambut mentah oleh sebagian orang-orang awam Ahli Sunnah, yaitu pengakuan mereka tentang akidah Syi’ah Iṡnā ‘Asyariyyah “bahwa tidak sama antara orang-orang Syi’ah zaman ini dan orang-orang Syi’ah zaman dulu, dan bahwa pemikiran kaum Syi’ah masa sekarang telah berkembang dan menanggalkan pokok-pokok ajaran klasik mereka yang rusak". Klaim ini dibatalkan oleh realitas, karena buku-buku dan realitas mereka hari ini menjadi saksi nyata terhadap kebohongan klaim ini, sekaligus membuktikan bahwa Sekte Rāfiḍah hari ini adalah Rāfiḍah yang kemarin, lengkap dengan pokok-pokok dan furuk ajaran mereka, serta ulama dan referensi mereka, dan bahwa mereka terikat kuat dalam keyakinan Rāfiḍah dan cabang-cabangnya. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa dalil:

                Pertama, kesatuan referensi dalam mendalami agama dan bermazhab, secara berantai dari benih paham Syi’ah yang pertama hingga Syi’ah hari ini dalam hal-hal berikut:

1-        Mereka berpegang pada buku-buku pendahulu mereka untuk belajar dan mengajar, dan bahwa kumpulan buku yang delapan masih menjadi referensi mazhab Rāfiḍah hari ini, sebagaimana yang ditetapkan oleh Agā Bazrak Aṭ-Ṭahrāniy dalam buku Aż-Żarī'ah dan lainnya.

2-        Aktifitas mereka -dengan pengawasan dari ulama-ulama mereka- dalam mencetak dan menyebarkan buku-buku pendahulu mereka hingga hari ini, yang berisi kerusakan, animisme, kesyirikan, celaan, cacian, laknat, dan pengkafiran terhadap sahabat-sahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, dan Anda tidak menemukan koreksi terhadap hal ini dari mereka.

3-        Penegasan ulama-ulama mereka sekarang terhadap referensi mereka, bahwa apa yang terdapat di dalamnya adalah mutawātir, padahal berisikan ajaran guluw (ekstrem) dan kesesatan yang nyata.

4-        Tegaknya syiar-syiar peribadatan mereka di atas pokok-pokok yang menyelisihi Islam dari semua sisi.

                Kedua, ulama-ulama mereka sekarang mengukuhkan dan membela pokok-pokok ajaran Syi'ah ini, serta menerbitkan karya-karya tulis untuk meneguhkannya dan mendakwahkannya lewat serial tulisan, seminar, dan buletin. Kemudian negeri Syi’ah datang, kesesatan nyata yang terdapat dalam buku-buku mereka segera mengalami pembaharuan, khususnya tokoh mereka, Al-Khumainiy dan pengambilalihan wewenang Imam Al-Mahdi yang diberikan oleh Rāfiḍah kepada imam semu mereka yang memang tak akan pernah muncul.

                Lompatan Al-Khumainiy terhadap wewenang Imam Al-Mahdi yang mereka nanti adalah yang berlaku pada mereka hari ini dengan istilah Wilāyatul-Faqīh, dan yang terbaru adalah pembentukan negara Syi’ah dengan konstitusi negara Majusi Persia Rāfiḍah dengan nama: Konstitusi Republik Islam Iran.

                Kemudian, mereka di dalam buku-buku ini saling bertentangan dan kontradiksi. Anda tidak perlu heran, wahai umat Islam, karena pengingkaran dan penyembunyian kebenaran bagi mereka adalah tuntutan agama, dan bertahan dengan kebatilan juga adalah tuntutan agama. (At-Tabsyīr bit-Tasyayyu’ hal. 10-15) karya anggota Dewan Ulama Besar Kerajaan Saudi Arabia, Syekh Bakr bin Abdullah Abu Zaid raḥimahullāh (1429 H) dengan sedikit penyesuaian)

                Perlu saya ingatkan kepada pembaca, dalam rangka menjaga sikap adil dan objektif terhadap orang-orang ini, ketika menukil dari buku-buku mereka, saya tetap menukil ucapan mereka bagaimana adanya berikut kesalahan bahasa dan tulisannya, dan ini termasuk bagian dari menjaga amanah dalam penukilan. Alhamdulillāh.

([5]) Saya berharap, wahai Pembaca, agar Anda berkenan mengirimkan kritik dan saran lewat SMS di nomor kontak (0505775888) atau lewat email ([email protected]), karena orang mukmin adalah cermin bagi saudaranya, dan Allah akan senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.

([6]) HR. Ibnu Abī Ad-Dunyā raḥimahullāh (281 H) dalam Qaḍā`ul-Ḥawā`ij no. 36 (Aḥabbunnās ilallāh Anfa’uhum li ‘Ibādihi), Aṭ-Ṭabarānī raḥimahullāh (360 H) dalam Al-Kabīr no. 13646 ('Amr Ibnu Dīnār ‘an Ibni ‘Umar raḍiyallāhu 'anhu), dan Ibnu ‘Asākir raḥimahullāh (571 H) dalam Tārīkh Madīnah Dimasyq, 41/292-293 dan dinilai ḥasan oleh Al-Albāniy raḥimahullāh (1420 H) dalam Ṣaḥīḥ at-Targīb wa at-Tarhīb no. 955

([7]) Al-Māriqah adalah salah satu gelar Khawarij. Khawarij adalah orang-orang yang memberontak kepada Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu setelah peristiwa perundingan, lalu Ali memerangi mereka dalam Perang Nahrawān. Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan memerangi mereka sebagaimana dalam hadis-hadis yang sahih, di antaranya sepuluh hadis dalam Sahib Bukhari dan Sahih Muslim. Tiga hadis diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhāriy dan sisanya oleh Imam Muslim. Lihat: Syarḥu Aṭ-Ṭaḥāwiyyah hal. 530 karya Ibnu Abil-'Izz Al-Ḥanafiy raḥimahullāh (792 H), dan semuanya dinukilkan oleh Imam Ibnul-Qayyim raḥimahullāh (751 H) dalam Taḥżīb as-Sunan; 4/148-153. Lihat tentang akidah dan sekte-sekte mereka: Al-Farqu Bainal-Firaq karya Al-Bagdādiy raḥimahullāh (428 H) hal. 72 dan seterusnya, Al-Faṣl karya Ibnu Ḥazm raḥimahullāh (456 H) 5/51-56, dan Al-Milal wan-Niḥal karya Asy-Syahrastāniy raḥimahullāh (548 H); 1/146 dan seterusnya.

([8]) HR. Muslim dari Abu Sa'īd Al-Khudriy raḍiyallāhu 'anhu, Kitāb az-Zakāt, Bāb Żikrul-Khawārij wa Ṣifātihim, no. 245.

([9]) Lih. Minhājus-Sunnah karya Syaikhul-Islām Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh (728H), 1/218-219.

                Guru kami, Syekh Abdullah Al-Gunaimān ḥafiẓahullāh berkata dalam mukadimah ringkasan buku Minhājus-Sunnah (hal. 7) ketika menjelaskan pentingnya buku tersebut, "Buku Minhājus-Sunnah fī Naqdi Da'āwā ar-Rāfiḍah wal-Qadariyyah termasuk buku paling besar karya Imam Mujahid nan penyabar Syaikhul-Islām Ahmad bin 'Abdul-Ḥalīm bin 'Abdus-Salām bin Taimiyyah. Di dalamnya beliau membela kebenaran dan para penganutnya, serta membantah dan menelanjangi kebatilan. Para pemuda Islam hari ini sangat butuh untuk membaca dan memahami isinya, karena paham Syi'ah telah masuk ke semua negeri Islam dan merusaknya, menampakan taringnya yang tajam serta melepas jerat-jeratnya di hadapan orang-orang yang tidak mengenal hakikat mereka, secara terang-terangan tanpa ditutupi, sebagaimana kelakuan semua orang munafik dan perusak lagi penipu, sehingga orang-orang yang tidak mengenal hakikat mereka serta tidak pernah membaca buku semacam ini tertipu."

([10])          HR. Imam Ahmad raḥimahullāh (241 H) di dalam Musnadnya no. 5910.

      yaikhul-Islām Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh berkata tentang hadis perpecahan umat menjadi 73 kelompok, "Hadis sahih dan masyhur dalam Kitab-Kitab Sunan dan Musnad." (Majmū' Al-Fatāwā, 3/345).

([11])          Lih: Majmū' Al-Fatāwā, 20/301.

([12])          Disebutkan oleh ulama negara Syi'ah Ṣafawiyyah, Muhammad Bāqir Al-Majlisiy (1111 H), dari Abu Abdillah 'alaihissalām, dia berkata, "Allah telah memaparkan kepemimpinan kami kepada penduduk semua negeri, namun tidak ada yang mau menerimanya kecuali penduduk Kufah." (Biḥārul-Anwār al-Jāmi'ah li Durar Akhbāril-A`immah al-Aṭhār, 100/259 no. 7, Bāb Faḍlu Ziyāratihi -ṣalawātullāhi 'alaihi- Waṣ-Ṣalāti 'Indahu)

([13])          Lih.: Majmū' Al-Fatāwā, 20/300.-301.

([14])          Syarḥu Uṣūl I'tiqād Ahlis-Sunnah, 1/60 karya Al-Lālikā`iy raḥimahullāh (418 H)

([15])          HR. Ibnu Abi Syaibah raḥimahullāh (235 H) no. 135 (Kitāb al-Fitan), Imam Ahmad raḥimahullāh no. 22397, dan Abu Daud raḥimahullāh (275 H) no. 4297 (Bāb Tadā’il-Umam ‘alā Ahlil-Islām); dinyatakan sahih oleh Al-Albāniy raḥimahullāh dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi’ no. 8183.

([16])          Syekh Bakr bin Abdullah Abu Zaid raḥimahullāh berkata, “Ini persis seperti sarana penarik segi tiga yang dianut oleh Freemason: kebebasan, persaudaraan, dan kesetaraan; atau perdamaian, kasih sayang dan kemanusiaan.

                Yaitu dengan ajakan menyatukan ruh keberagamaan kontemporer yang dibangun di atas penyatuan rohani: Muslim, Yahudi, Nasrani, Buda, dan lainnya, yang merupakan slogan Yahudi internasional yang merusak.

                Sebagaimana bahayanya telah dijelaskan oleh Muhammad Muhammad Ḥusain raḥimahullāh dalam bukunya Ar-Rūḥiyyah Al-Ḥadīṡah Da'watun Haddāmah (Taḥḍīr al-Arwāḥ wa Ṣilatuhu biṣ-Ṣuhyūniyyah al-'Ālamiyyah) Bantahan terhadap teori penggabungan agama, hal. 6. Syekh Muhammad Ḥusain raḥimahullāh meninggal tahun 1402 H.

([17])          Al-‘Ālamiyyah (Globalisme) adalah sebuah sekte modern yang menyerukan pencarian satu hakikat yang disarikan dari berbagai agama dunia, dan hakikatnya adalah mematikan Islam. (Mu’jam Al-Manāhī Al-Lafżiyyah, hal. 270-271 karya Syekh Bakr Abu Zaid raḥimahullāh).

([18])          Lihat: Hajru Al-Mubtadi’ (hal. 5-6) karya Syekh Bakr Abu Zaid raḥimahullāh dengan sedikit adaptasi.

([19])          Berjudul Mukhtaṣar Su`āl wa Jawāb fī Ahammil-Muhimmāt Al-‘Aqadiyyah Ladā Asy-Syī’ah Al-Imāmiyyah, lebih dari 400 halaman, diterbitkan oleh salah satu penerbit di Riyad.

([20])          Majmū' Al-Fatāwā, 28/187. Imam Ibnu Bāz raḥimahullāh berkata tentang buku Majmū' Al-Fatāwā tulisan Syaikhul-Islām raḥimahullāh, “Adapun kitab-kitab yang membahas tentang akidah, maka di antara yang paling lengkap adalah Majmū' Al-Fatāwā tulisan Syaikhul-Islām Ibnu Taimiyyah.” (Tuḥfatul-Ikhwān, hal. 37-38)

([21])          Majmū' Al-Fatāwā, 4/13

([22]) Siyar A’lām an-Nubalā`, 10/518

([23])          Madārijus-Sālikīn, 1/372 karya al-‘Allāmah Ibnul-Qayyim raḥimahullāh.

([24])          Al-Ādāb asy-Syar’iyyah, 1/268 karya Abdullah bin Muhammad bin Mufliḥ raḥimahullāh (763 H(

([25])          I’lām al-Muwaqqi’īn, 2/121

([26])          HR. Bukhari raḥimahullāh, no. 3641 (Bab Su`āl al-Musyrikīn an Yuriyahum an-Nabiy ṣallallāhu 'alaihi wa sallam Āyatan Fa`arāhum Insyiqāqal-Qamar)

([27])          HR. Tirmizi raḥimahullāh (279 H) no. 2167 (Bāb Mā Jā`a fī Luzūm Al-Jamā'ah) dinyatakan sahih oleh Al-Albāni dalam taḥqīq beliau terhadap Kitab Misykāt al-Maṣābīḥ, 1/61 no. 173, Al-Maktab Al-Islāmiy, cet. 2, th. 1399 H.

                Adapun redaksi “Lā tajtami’u ummatī ‘alā ḍalālah” (artinya: umatku tidak akan bersatu di atas suatu kesesatan) telah dinyatakan daif oleh Al-‘Ainy raḥimahullāh (855 H) di dalam ‘Umdatul-Qārī, 2/52.

([28])          HR. Muslim raḥimahullāh no. 50 (Bāb Bayān Kaun an-Nahyi ‘Anil-Munkar minal-Īmān wa anna al-Īmān Yazīd wa Yanquṣ wa anna al-Amra bil-Ma’rūf wan-Nahya ‘Anil-Munkar Wājibāni).

([29])          Majmū’ah ar-Rasā`il wal-Masā`il (5/110) karya Syaikhul-Islām Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh dengan ta’līq Syekh Muhammad Rasyīd Ridā raḥimahullāh (1354 H).

([30]) Lihat: Mukadimah kitab Uṣūl Mażhab asy-Syī’ah al-Iṡnai ‘Asyariyyah, 1/5-8 karya syekh kami, Nāṣir bin Abdullah Al-Qifāriy waffaqahullāh.

([31])          Lihat: Iqtiḍā` aṣ-Ṣirāt al-Mustaqīm, 1/147-149 karya Syaikhul-Islām Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh.

([32])          Lihat: Ar-Radd ‘alā al-Mukhālif min Uṣūl al-Islām, hal. 5-11 karya Syekh ‘Allāmah Bakr bin Abdullah Abu Zaid raḥimahullāh dengan sedikit adaptasi dan tambahan.

([33])          Maksudnya, bahwa pengikut Syi’ah Imāmiyyah adalah yang meyakini bahwa Ali raḍiyallāhu 'anhu sebagai khalifah setelah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, langsung tanpa jeda. Artinya: dialah khalifah setelah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Ini dibangun di atas pengingkaran Syi’ah terhadap keabsahan kekhalifahan khalifah-khalifah yang tiga (Abu Bakar, Umar, dan Usman raḍiyallāhu 'anhum).

                Maka, penisbahan sebagai pengikut Syi’ah tidak sah -menurut syekh mereka, Al-Mufīd-, kecuali pada orang yang meyakini kekhalifahan Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu dimulai sejak wafatnya Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam hingga syahidnya Ali raḍiyallāhu 'anhu.

([34])          Ali raḍiyallāhu 'anhu, menurutnya adalah pengikut bagi khalifah yang tiga secara lahir, tetapi secara batin dirinyalah yang mereka ikuti. Jadi, ketundukan Ali terhadap para khalifah yang tiga tersebut -menurut syekh mereka, Al-Mufīd- bukan sebagai bentuk ketaatan, melainkan sebagai bentuk taqiyyah; yakni, bukan ketaatan yang disertai keyakinan (terhadap sahnya kekhalifahan mereka), melainkan hanya sebagai ketaatan secara lahir saja.

([35])          Awā`il al-Maqālāt fil-Mażāhib al-Mukhtārāt, hal. 35 (Bāb al-Qaul fil-Firaq Baina asy-Syī’ah fī mā Nusibat bihi ilā at-Tasyayyu’ wal-Mu’tazilah fī mā Istaḥaqqat bihi Ism al-I’tizāl) karya syekh mereka, Al-Mufīd (413H).

([36])          Disebutkan oleh Husain An-Nūriy Aṭ-Ṭabrasiy (1320 H) di dalam kitabnya Khātimatu Mustadrak al-Wasā`il, 1/119 (Al-Fā`idah aṡ-Ṡāniyah: Syarḥ Ḥāl al-Kutub wa Mu`allifihā: 24, Iṡbāt al-Waṣiyyah); dan kitabnya Al-Mustadrak ‘Alā Wasā`il asy Syī’ah karya Muhammad bin Hasan Al-Ḥurr Al-‘Āmiliy (1104H). Ulama besar mereka, Agā Bazrak Aṭ-Ṭahrāniy (1389H) di dalam bukunya Aż-Żarī'ah ilā Taṣānīf asy-Syī’ah, 2/110-111 no. 436 mewajibkan ulama-ulama untuk membaca kitab Al-Mustadrak karena memiliki kedudukan yang besar di kalangan mereka, dia berkata, “Wajib bagi para mujtahid besar untuk membacanya dan kembali kepadanya di dalam melakukan penyimpulan hukum.” Dia juga berkata, “Tidak akan sempurna ḥujjah seorang mujtahid pada masa kita sekarang ini sebelum kembali kepada Al-Mustadrak.”

                Ulama Syi’ah, Muhammad Ālu Kāsyif Al-Giṭā` (1376 H) berkata, “Nama Syi’ah hari ini digunakan khsusus untuk Sekte Imāmiyyah.” (Aṣlu asy-Syī’ah wa Uṣūluhā, hal. 63 (Al-Maqṣad aṡ-Ṡānī).

([37])          Firaq asy-Syī'ah, hal. 50 (Ikhtilāf asy-Syī’ah al-‘Alawiyyah Ba’da Qatli Amīril-Mu`minīn ‘Aliy as-Saba`iyyah) karya Hasan bin Musa An-Nūbakhtiy yang merupakan salah satu ulama besar mereka di abad ketiga hijriah.

([38]) Yaitu, dia meyakini keduanya sebagai tuhan ketika masih beragama yahudi, kemudian dia menyatakan hal yang sama kepada Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallāhu 'anhu setelah berpura-pura menampakkan Islam.

([39])          Kalimat antara dua tanda kurung terdapat dalam kitab Firaq asy-Syī'ah karya an-Nūbakhtiy dan Al-Qummiy (hal. 33) dengan taḥqīq Dr. 'Abdul-Mun’im Al-Ḥafaniy, Dār ar-Rasyīd, cet. 1, tahun 1412 H.

([40])          Dalam kitab Firaq asy-Syī'ah karya an-Nūbakhtiy dan Al-Qummiy (hal. 33) dengan taḥqīq Dr. 'Abdul-Mun’im Al-Ḥafaniy: Dari sini.

([41]) Firaq asy-Syī'ah, hal. 50 (Ikhtilāf asy-Syī’ah al-‘Alawiyyah Ba’da Qatli-Amīril-Mu`minīn ‘Aliy as-Saba`iyyah).

([42]) Al-Maqālāt wal-Firaq, hal. 10-21 karya Sa’d bin Abdullah Al-Asy’ariy Al-Qummiy (301 H).

                Lihat: Ikhtiyāru Ma’rifatir-Rijāl al-Ma'rūf bi Rijāl Al-Kasy-syiy li Muḥammad Al-Kasy-syiy (350 H), karya Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan Aṭ-Ṭūsiy (460 H), 2/191 no. 174: (Abdullah bin Saba`). Muhammad bin Ali Al-Ardibīliy (1101 H) berkata di dalam Jāmi’ ar-Ruwāt wa Izāḥah al-Isytibāhāt ‘Aniṭ-Ṭuruq wal-Isnād, 1/485 (Bab al-‘Ain), “Abdullah bin Saba` adalah orang yang guluw (ekstrem) dan terlaknat, dia dibakar oleh Amirul Mukminin dengan api. Dia meyakini Ali 'alaihissalām adalah tuhan dan bahwa dia adalah seorang nabi -semoga Allah melaknatnya- yang kembali kepada kufur dan menampakkan sikap guluw.”

([43])          Lihat: Ikhtiyāru Ma’rifatir-Rijāl al-Ma'rūf bi Rijāl Al-Kasy-syiy li Muḥammad Al-Kasy-syiy, 1/402-403 (Bāb Mā Jā`a fil-Iṡnai ‘Asyar wan-Naṣ ‘Alaihim) karya Muhammad Ya’qūb Al-Kulainiy (328 H).

                Sebagian ulama mereka meyakini bahwa kitab Al-Kāfī telah dipaparkan kepada imam yang mereka klaim akan bangkit (Al-Mahdi) dan dia merekomendasikannya, dia berkata, (Kitab Al-Kāfī) cukup bagi pembela kita.” (Biḥār al-Anwār, 89/377 no. 8 (Bāb Mutasyābihāt Al-Qur`ān …)

                Para syekh Syi’ah menghukumi sesat orang-orang yang meyakini bahwa Al-Qur`ān cukup bagi manusia tanpa Uṣūlu Al-Kāfī. Marja’ (ulama rujukan) mereka yang bernama Al-Khawānsāriy berkata tentang Al-Barqa’iy, “Al-Barqa’iy sesat, karena dia menetapkan di dalam buku ini –yakni, Qabas minal-Qur`ān- bahwa kitab Al-Kāfī karya Al-Kulainiy tidak cukup, dan dia mengatakan bahwa Al-Qur`ān sudah cukup.” (Sawāniḥ al-Ayyām hal. 90 karya Al-Barqa’iy, Dār ' Ālamil-Kutub, cet. 1, tahun 1431 H.

([44])          Nūr al-Barāhīn aw Anīsul-Waḥīd fī Syarḥit-Tauḥīd (2/310) karya Al-Jazā`iriy, taḥqīq Ar-Rajā`iy, Mu`assasah an-Nasyr, cet. 1, 1417 H.

([45])          Uṣūl Al-Kāfī, 1/179 no. 6 (Bāb fī Sya`ni “Innā Anzalnāhu fī Lailatil-Qadri” wa Tafsīruhā).

([46])          Al-Fuṣūlu al-Muhimmah fī Uṣūlil-A`immah, 1/595 no. 5 (Bāb ‘Adam Jawāz Istinbāṭ Syai` minal-Aḥkām an-Naẓariyyah min Ẓawāhiril-Qur’ān Illā Ba’da Ma’rifati Tafsīrihā wa Nāsikhihā wa Mansūkhihā wa Muḥkamihā wa Mutasyābihihā minal-A`immah ‘Alaihimussalām); Wasā`il Asy-Syī'ah ilā Taḥṣīl Masā`il asy-Syarī’ah, 18/323 no. 12 (Kitāb al-Qaḍā`, Bāb Taḥrīm al-Ḥukmi Bigairil-Kitāb was-Sunnah wa Wujūb Naqḍil-Ḥukmi Ma’a Ẓuhūril-Khaṭa`) keduanya karya Muhammad bin al-Hasan Al-Ḥurr Al-‘Āmiliy (1104 H); Mustadrak Safīnatil-Biḥār, 9/21 (Fī Annahum Hum al-Kitābul-Mubīn wa al-Kitābun-Nāṭiq) karya Ali bin Muhammad An-Namāziy Asy-Syāhrawadiy (1405 H).

([47]) Tafsīr Al-’Ayyāsyiy, 2/35 hadis no. 88 (Sūrah Al-A’rāf) karya Muhammad bin Mas’ūd bin 'Ayyāsy As-Sulamiy (320 H).

([48]) Uṣūl Al-Kāfī, 1/139) no. 1 (Bāb Annal-A`immah ‘alaihimussalām Nūrullāh ‘Azza wa Jalla).

([49]) Aṣlu asy-Syī’ah wa Uṣūluhā, hal. 81 (Muqaddimah wa Tauṭi`ah).

([50])          Lihat hal. 30

([51])          Baṣā`ir ad-Darajāt al-Kubrā fī Faḍā`il Āli Muḥammad Ṣalawātullahi ‘Alaihim Ajma’īn, 1/138 no. 3 (Bāb fil-A`immah wa annahum Ḥujjatullāh wa Bābullāh wa Wulātu Amrillāh wa Wajhullāh al-Lażī Yu`tā minhu wa Janabullāh wa ’Ainullāh wa Khazanatu 'Ilmihi Jalla Jalāluhu wa ’Amma Nawāluh) karya Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan bin Farrukh Aṣ-Ṣaffār (290 H) dan Uṣūlu Al-Kāfī, 1/138 no. 1 (Bāb Annal-A`immah Wulāt Amrillah wa Khazanatu ‘Ilmihi).

([52])          Baṣā`ir ad-Darajāt al-Kubrā fī Faḍā`il Āli Muḥammad Ṣalawātullahi ‘Alaihim Ajma’īn, 1/138 no. 3 (Bāb fil-A`immah wa annahum Ḥujjatullāh wa Bābullāh wa Wulātu Amrillāh wa Wajhullāh al-Lażī Yu`tā minhu wa Janabullāh wa ’Ainullāh wa Khazanatu 'Ilmihi Jalla Jalāluhu wa ’Amma Nawāluh) karya Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan bin Farrukh Aṣ-Ṣaffār (290 H) dan Uṣūlu Al-Kāfī, 1/138 no. 1 (Bāb Annal-A`immah Wulāt Amrillah wa Khazanatu ‘Ilmihi).

([53])          I’lāmul-Warā bi A’lāmil-Hudā, hal. 274 (Ar-Ruknu aṡ-Ṡāliṡ: fī Żikril-Imām Al-Bāqir ‘Alaihissalām; dan ar-Ruknu ar-Rābi’: fī Żikri Ṭaraf min Manāqibihi wa Nubaż min Akhbārihi) karya Al-Faḍl bin al-Hasan Aṭ-Ṭabrasiy (548 H).

([54])          Syarḥu Uṣūli Al-Kāfī, 2/225 (Bāb Riwāyatul-Kutub wal-Ḥadīṡ wa Faḍlul-Kitābah wat-Tamassuk bil-Kutub) karya syekh mereka, Muhammad Ṣāliḥ Al-Māzandarāniy (1081H).

([55])          Ibid

([56])          Uṣūlu Al-Kāfī, 1/191-194 (Kitāb al-Ḥujjah) dan dia menyebutkan di dalamnya sepuluh hadis.

([57])          Al-Istibṣār fī Mā Ukhtulifa fīhi Minal-Akhbār, 1/144-145 (Kitāb Aṭ-Ṭahārah no. 9, al-Khamr Yuṣīb aṡ-Ṡaub wan-Nabīż al-Muskir) karya Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan Aṭ-Ṭūsiy (460 H) yang digelari di kalangan mereka dengan Syaikhuṭ-Ṭ ā`ifah; Wasā`il Asy-Syī'ah, 14/441 no. 3 (Bāb Man Tazawwaja Imra`ah Ḥarumat ‘Alaihi Ummuhā wa Jaddatuhā wa in Lam Yadkhul bihā).

([58])          Tafsīr Aṣ-Ṣāfiy, 1/30-31 (Al-Muqaddimah ar-Rābi’ah: fī Nubaż mimmā Jā`a fī Ma’ānī Wujūh al-Āyāt wa Taḥqīq al-Qaul fil-Mutasyābih wa Ta`wīlih) karya Muhammad Al-Kāsyāniy (1091 H).

([59])          Tafsīr Al-’Ayyāsyiy, 1/25 no. 4 (Mā ‘Uniya bihil-A`immah minal-Qur’ān)

([60])          ‘Awālī al-La`ālil-'Azīziyyah fil-Aḥādīṡ ad-Dīniyyah, 4/107 (Al-Jumlah aṡ-Ṡāniyah: fil-Aḥādīṡ al-Muta’alliqah bil-'Ilmi wa Ahlihi wa Ḥāmilihi karya Ibnu Abi Jumhūr Al-Aḥsā`iy yang merupakan salah satu ulama mereka di abad ke-10) dan Tafsīr Aṣ-Ṣāfiy, 1/31 (Al-Muqaddimah ar-Rābi’ah: fī Nubaż mimmā Jā`a fī Ma’ānī Wujūh al-Āyāt wa Taḥqīq al-Qaul fil-Mutasyābih wa Ta`wīlih).

([61]) Mukadimah Tafsīr al-Burhān yang bernama Mir`ātul-Anwār wa Misykātul-Asrār (hal. 6) karya syekh mereka, Ali bin Muhammad Al-Fatūniy Al-‘Āmiliy (1140 H).

                Dan dia (penulisnya) disifati oleh syekh mereka sebagai al-Ḥujjah dan mereka menyatakan bahwa belum pernah ada yang bisa menulis kitab yang semisal dengan kitabnya. (Lihat: Penutup Kitab Mustadrak al-Wasā`il, 2/54 dan Aż-Żarī'ah, 20/264 no. 2893

([62]) Tafsīr Aṣ-Ṣāfiy, 1/24 (Al-Muqaddimah aṡ-Ṡāliṡah: fī Nubaż Mimmā Jā`a fī anna Jullal-Qur`ān Innamā Nazala fīhim wa fī Auliyā`ihim wa A’dā`ihim wa Bayān Sirri Żālik).

([63])          Uṣūlu Al-Kāfī, 2/822 (Kitāb Faḍlil-Qur`ān, no. 3 Bāb an-Nawādir).

([64])          Uṣūlu Al-Kāfī, 2/822 (Kitāb Faḍlil-Qur`ān no. 2 Bāb an-Nawādir) dan Al-Lawāmi' an-Nūrāniyyah, hal. 25.

([65])          Uṣūlu Al-Kāfī, 2/822 (Kitāb Faḍlil-Qur`ān no. 4 Bāb an-Nawādir); dan Tafsīr Nūr aṡ-Ṡaqalain, 1/167 no. 571 (Sūrah Al-Baqarah) karya 'Abdu-'Aliy bin Jum’ah Al-Ḥuwaiziy (1112 H).

([66])          Tafsīr Al-’Ayyāsyiy, 20/1 no. 1 (Fīmā Unzilal-Qur`ān).

([67])          Tafsīr Aṣ-Ṣāfiy, 1/24 (Al-Muqaddimah aṡ-Ṡāliṡah: fī Nubaż Mimmā Jā`a fī anna Jullal-Qur`ān Innamā Nazala fīhim wa fī Auliyā`ihim wa A’dā`ihim wa Bayān Sirri Żālik).

([68])          A’yān asy-Syī’ah, 1/45 (Al-Baḥṡul-Khāmis: at-Taḥāmul ‘Alā Ahlil-Bait) karya Muḥsin bin al-Amin Al-'Āmiliy (1372 H). Lihat: Al-Imām Aṣ-Ṣādiq (hal. 143) karya ulama besar mereka, Muhammad al-Husain Al-Muẓaffar (1381 H), Dekan Fakultas Ilmu Fikih di Kota Najaf.

([69])          Rijāl Al-Kasy-syiy (3/264) no. 335, Fī Jābir ibn Yazīd Al-Ju’fiy.

([70])          Lihat: Tafsīr Al-’Ayyāsyiy, 2/240 no. 8&9 (Sūrah Ibrāhīm); Tafsīr Aṣ-Ṣāfiy, 3/84 (Sūrah Ibrāhīm); dan Tafsīr al-Burhān, 4/317 (Sūrah Ibrāhīm).

([71])          Tafsīr Al-’Ayyāsyiy (2/280) no. 25, Sūrah An-Naḥl; Tafsīr Aṣ-Ṣāfī (3/134), Sūrah An-Naḥl; Tafsīr al-Burhān (4/445) no. 5, Sūrah An-Naḥl; Tafsīr Nūr aṡ-Ṡaqalain (3/53) no. 79, Sūrah An-Naḥl.

([72])          Uṣūl Al-Kāfī (1/324-325) no. 83, Bāb Fī Nukat wa Nutaf minat-Tanzīl fīl-Wilāyah.

([73])          Biḥārul-Anwār (23/306) no. 2, Bāb Annahum Anwārullāh wa Ta`wīl Āyātin-Nūr fīhim ‘Alaihimussalām.

([74])          Tafsīr Al-Qummiy (hal. 472), Sūrah Al-Furqān karya Abu al-Hasan Ali bin Ibrahim Al-Qummiy (307 H); dan Tafsīr Nūr aṡ-Ṡaqalain (4/25) no. 82, Sūrah Al-Furqān.

([75]) Baṣā`ir ad-Darajāt al-Kubrā (1/169) no. 5, An-Nawādir minal-Abwāb fil-Wilāyah.

([76])          Tafsīr Al-’Ayyāsyiy (2/283) no. 36, Sūrah an-Naḥl; dan Tafsīr Nūr aṡ-Ṡaqalain (3/60) no. 111, Sūrah an-Naḥl.

([77])          Tafsīr Al-Qummiy, hal. 595 (Sūrah Az-Zumar); dan Tafsīr Aṣ-Ṣāfiy , hal. 4/331 (Sūrah Az-Zumar).

([78])          Tafsīr Al-Qummiy (hal. 505) Sūrah Al-Qaṣaṣ; Biḥārul-Anwār (24/192) no. 7 Bāb Annahum ‘Alaihimussalām Janabullāh wa Wajhullāh wa Yadullāh wa Amṡāluhā.

([79])          At-Tauḥīd karya Ibnu Bābawaih (hal. 145) no. 4, Bāb Tafsīr Qaulillāh 'Azza wa Jalla Kullu Syai` Hālikun Illā Wajhuh; Tafsīr Aṣ-Ṣāfiy (4/108) Sūrah Al-Qaṣaṣ; dan Biḥārul-Anwār (24/201) no. 33 Bāb Annahum ‘Alaihimussalām Janabullāh wa Wajhullāh wa Yadullāh wa Amṡāluhā.

([80])          Tafsīr Aṣ-Ṣāfiy (5/110) Sūrah Ar-Raḥmān, Biḥārul-Anwār (24/192) no. 6 Bāb Annahum ‘Alaihimussalām Janabullāh wa Wajhullāh wa Yadullāh wa Amṡāluhā; Al-Mīzān fī Tafsīril-Qur`ān (19/103) Sūrah Ar-Raḥmān karya syekh mereka, Al-‘Irāqiy Al-Mu’āṣir Muhammad Aṭ-Ṭabṭabā`iy (1402 H).

([81])          Miṣbāḥ al-Hidāyah ilā al-Khilāfah wal-Wilāyah (hal. 145) karya Al-Khumainiy.

([82])          Rijāl Al-Kasy-syiy (4/360) no. 513, Mā Ruwiya fī Muḥammad ibn Abī Zainab; Namanya adalah Miqlāṣ Abu al-Khaṭṭāb al-Barrād al-Ajda’ Al-Asadiy; Wasā`il Asy-Syī'ah (12/383) no. 13 Bāb Taḥrīm Kasbil-Qimār Hattā al-Ka’āb wal-Jauz wal-Bīḍ wa in Kānal-Fā’il Gairu Mukallaf.

([83])          Rijāl Al-Kasy-syiy (4/367) no. 538, Mā Ruwiya fī Muḥammad ibn Abī Zainab, Namanya adalah Miqlāṣ Abu al-Khaṭṭāb al-Barrād al-Ajda’ Al-Asadiy; Biḥārul-Anwār (25/294-295) no. 53 Bāb Nafyu al-Guluw fin-Nabiy wal-A`immah Ṣalawātullah ‘Alaihi wa 'Alaihim wa Bayān Ma’ānī at-Tafwīḍ; Mu’jam Rijālil-Ḥadīṡ (15/262) no 10012/17 (Muḥammad ibn Abī Zainab) karya Abul-Qāsim Al-Mūsāwiy Al-Khū`iy (1413 H).

([84])          Mukhtaṣar Baṣā`ir ad-Darajāt (hal. 190) no. 242 Bāb Mā Jā`a fit-Taslīm limā Jā`a ‘Anhum wamā Qālūhu, karya Abu Muhammad Hasan bin Sulaiman Al-Ḥilliy yang digelari oleh kaum Syi'ah dengan Asy-Syahīd Aal-Awwal (786 H); Biḥārul-Anwār (2/211-212) no. 110 Bāb Anna Ḥadīṡahum ‘Alaihimussalām Ṣa’bun Mustaṣ’ab wa anna Kalāmahum żū Wujūh Kaṡīrah wa Faḍlu at-Tadabbur fī Akhbārihim ‘Alaihimussalām.

([85])          Furū’ Al-Kāfī (4/743) no. 4 Bāb Itbā’ul-Ḥajj biz-Ziyārah dan lafal ini adalah miliknya, Man lā Yaḥḍuruhu al-Faqīh (2/373-374) no. 3037 Bāb Qaḍā`ut-Tafaṡ karya Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Bābawaih Al-Qummiy yang digelari di kalangan mereka dengan Aṣ-Ṣadūq (381H), Tafsīr al-Burhān (5/286) no. 13 Sūrah Al-Ḥajj, Wasā`il Asy-Syī'ah (10/437) no. 4 Bāb Ta`akkud Istiḥbāb Ziyāratin-Nabiy wal-A`immah ‘Alaihimussalām wa Khuṣūṣan Ba’dal-Ḥajj, dan Biḥārul-Anwār 24/360-361 no. 84 Bāb Jawāmi’ Ta`wīl Mā Nazala fīhim ‘Alaihimussalām wa Nawādiruhā.

([86])          Uṣūlu Al-Kāfī (575) no. 1 Bāb al-Kitmān, Wasā`il Asy-Syī'ah (11/258) no. 2 Bāb Wujūb Kitmān ad-Dīn ‘an Gairi Ahlihi ma’at-Taqiyyah; dan Biḥārul-Anwār (68/416) no. 40 Bāb al-Ḥilmu wal-‘Afwu wa Kaẓmul-Gaiẓ.

([87])          Uṣūlu Al-Kāfī (575) no. 1 Bāb al-Kitmān, Wasā`il Asy-Syī'ah (11/258) no. 2 Bāb Wujūb Kitmān ad-Dīn ‘an Gairi Ahlihi ma’at-Taqiyyah; dan Biḥārul-Anwār (68/416) no. 40 Bāb al-Ḥilmu wal-‘Afwu wa Kaẓmul-Gaiẓ.

([88])          At-Tanbīh war-Rad (hal. 25-26) karya Al-Malṭiy; Hisyām bin Al-