Lupa Dalam Tinjauan Syari’at

Keterangan

Semua orang pasti pernah mengalami lupa, namun, bagaimana kalau sekiranya dia lupa dalam masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan hukum Allah. Dalam risalah ringkas ini disebutkan beberapa hukum yang berkaitan dengan lupa, faktor penyebab, serta cara penanganannya dan faidah dari lupa tersebut…..

Download
Kirim komentar untuk Webmaster

Deskripsi terperinci

    Lupa Dalam Tinjauan Syari’at

    ] Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي

    Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi

    Terjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah

    Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

    2013 - 1435

    النسيان آفته وفوائده

    « باللغة الإندونيسية »

    الشيخ أمين بن عبد الله الشقاوي

    ترجمة: عارف هداية الله أبو أمامة

    مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو

    2013 - 1435

    Lupa Dalam Tinjauan Syari'at

    Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba'du:

    Didalam al-Qur'an ada begitu banyak hukum yang bisa kita ambil, maka orang yang paling dekat dengan al-Qur'an dialah pemegang cahaya Allah Shubhanahu wa ta’alla yang paling besar. Diantara sekian banyak hukum yang sarat dengan hikmah ialah lupa. Maka kajian kita kali ini berkaita dengan masalah yang satu ini.

    Dalam salah satu ayatnya Allah tabaraka wa ta'ala berfirman:

    ﴿ وَلَقَدۡ عَهِدۡنَآ إِلَىٰٓ ءَادَمَ مِن قَبۡلُ فَنَسِيَ وَلَمۡ نَجِدۡ لَهُۥ عَزۡمٗا ١١٥ ﴾ [ طه: 115]

    "Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, Maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat". (QS Thaahaa: 115).

    Ahli tafsir menjelaskan maksud ayat diatas: "Maksudnya Adam meninggalkan apa yang telah diperintahkan kepadanya. Ada yang berpendapat maksudnya dari kalimat nisyaan yang berarti menyelisihi apa yang diingatnya".

    Dijelaskan dalam sebuah hadits, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari haditsnya Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau menceritakan: "Tatkala turun ayat yang berkaitan dengan utang piutang, Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ أَوَّلَ مَنْ جَحَدَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلَام, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمَّا خَلَقَ آدَمَ مَسَحَ ظَهْرَهُ فَأَخْرَجَ مِنْهُ مَا هُوَ مِنْ ذَرَارِيَّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَجَعَلَ يَعْرِضُ ذُرِّيَّتَهُ عَلَيْهِ فَرَأَى فِيهِمْ رَجُلًا يَزْهَرُ فَقَالَ أَيْ رَبِّ مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا ابْنُكَ دَاوُدُ قَالَ أَيْ رَبِّ كَمْ عُمْرُهُ قَالَ سِتُّونَ عَامًا قَالَ رَبِّ زِدْ فِي عُمْرِهِ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ أَزِيدَهُ مِنْ عُمْرِكَ وَكَانَ عُمْرُ آدَمَ أَلْفَ عَامٍ فَزَادَهُ أَرْبَعِينَ عَامًا فَكَتَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ بِذَلِكَ كِتَابًا وَأَشْهَدَ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةَ فَلَمَّا احْتُضِرَ آدَمُ وَأَتَتْهُ الْمَلَائِكَةُ لِتَقْبِضَهُ قَالَ إِنَّهُ قَدْ بَقِيَ مِنْ عُمُرِي أَرْبَعُونَ عَامًا فَقِيلَ إِنَّكَ قَدْ وَهَبْتَهَا لِابْنِكَ دَاوُدَ قَالَ مَا فَعَلْتُ وَأَبْرَزَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابَ وَشَهِدَتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ » [أخرجه أحمد]

    "Sesungguhnya makhluk pertama kali yang mengingkari adalah Adam 'alaihi sallam. Manakala Allah azza wa jalla menciptakan Adam, Allah mengusap punggungnya, lantas keluarlah darinya ciptaan Allah (anak keturunannya) sampai hari kiamat. Setelah itu Allah memperlihatkan padanya anak keturunan tadi, maka Adam melihat diantara keturunannya ada seseorang yang wajahnya memancarkan keindahan. Adampun bertanya pada Allah: "Wahai Rabbku, siapakah dia? Allah menjawab: "Dia anakmu Dawud". Berapa jatah umurnya? Tanya Adam. Enam puluh tahun, jawabnya Allah. Duhai Rabbku tambahkan jatah umur padanya, usul Adam. Allah menegaskan: 'Tidak bisa, kecuali jika engkau mau diambilkan dari jatah umurmu". Dan jatah umur yang diberikan pada Adam adalah seribu tahun, maka beliau menghadiahkan jatah umurnya pada Dawud empat puluh tahun.

    Kemudian Allah ta'ala menulis hal tersebut dalam catatan takdir, dan dipersaksikan oleh para malaikat, manakala sudah saatnya kematian Adam, maka beliau didatangi oleh malaikat untuk mencabut nyawanya.

    Adam enggan, lalu berargumen: "Sesungguhnya jatah umurku masih tersisa empat puluh tahun! Lantas dikatakan padanya: "Bukankah dulu telah engkau hadiahkan pada anak keturunanmu Dawud? Beliau tetap menyanggah: "Tidak, aku tidak pernah melakukannya". Kemudian Allah azza wa jalla menampakan buku catatan dahulu dan dihadirkan para malaikat yang dahulu menjadi saksinya". HR Ahmad 4/128 no: 2270.

    Dalam redaksi Imam Tirmidzi disebutkan:

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ونسي آدم فنسيت ذريته » [أخرجه الترمذي]

    "Adam lupa sehingga anak cucunya juga ikut menjadi pelupa". HR at-Tirmidzi no: 3076.

    Dalam riwayat lain dijelaskan:

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فمن يومئذ أمر بالكتاب والشهود » [أخرجه ابن حبان]

    "Maka semenjak itu diperintahkan untuk mencatat (perjanjian) serta menghadirkan saksi". HR Ibnu Hibban no: 6134.

    Sebagian ahli bahasa mengatakan: "Nisyaan artinya adalah lawan dari ingat dan hafal. Pengertianya ialah meninggalkan sesuatu karena lupa dan lalai". [1]

    Terkadang makna nisyan dimutlakkan pada arti meninggalkan, sebagaimana yang tercantum dalam salah satu firman Allah ta'ala, seperti firman -Nya:

    ﴿ وَلَا تَنسَوُاْ ٱلۡفَضۡلَ بَيۡنَكُمۡۚ ٢٣٧ ﴾ [ البقرة: 237]

    "Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu". (QS al-Baqarah: 237).

    Dalam kesempatan lain Allah azza wa jalla berfirman:

    ﴿ قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ ١٢٦﴾ [ طه: 126]

    "Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". ( QS Thahaa: 126).

    Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat diatas: "Maksudnya, tatkala diperlihatkan pada dirimu ayat-ayat Allah Shubhanahu wa ta’alla, sedang dirimu acuh seakan tidak mengetahuinya, biarpun hujah telah sampai, namun engkau pura-pura, melupakan serta berpaling dari ayat-ayat tersebut. Maka, demikian pula pada hari kiamat ini, Kami pun memperlakukan kalian seperti perlakuan kalian dulu manakala melupakan ayat-ayat Kami. Hal ini senada dengan firman Allah ta'ala yang lainnya, yaitu:

    ﴿ فَٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰهُمۡ كَمَا نَسُواْ لِقَآءَ يَوۡمِهِمۡ هَٰذَا ٥١ ﴾ [ الأعراف: 51]

    "Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini". (QS al-A'raaf: 51).

    Dan ini menunjukan bahwa balasan itu selaras dengan amal perbuatannya". [2]

    Ulama tafsir lainnya, seperti Ibnu Jarir serta yang lain mengatakan: "Makna firman Allah ta'ala: "Dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". Maka begitu pula engkau pada hari ini Kami lupakan, dan Kami biarkan dirimu masuk dalam neraka". [3]

    Dalam sebuah riwayat, sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالإِبِلَ وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ فَيَقُولُ بَلَى. قَالَ فَيَقُولُ أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلاَقِىَّ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ فَإِنِّى أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِى » [أخرجه مسلم]

    "Sesungguhnya Allah ta'ala kelak pada hari kiamat akan berkata pada hamba -Nya: "Bukankah dahulu engkau telah Aku muliakan, mengagungkan, menikahkanmu, menundukan untukmu keledai dan kuda, dan menjadikan kamu sebagai pemimpin dan penguasa? Ia menjawab: "Benar". Allah kembali berfirman: "Apakah engkau mengira bahwa dirimu akan bertemu dengan -Ku? Dia menyahut: "Tidak". Allah melanjutkan: "Maka Aku sekarang melupakanmu sebagaimana dahulu dirimu melupakanKu". HR Muslim no: 2968.

    Maka disimpulkan, bahwa yang namanya lupa adalah sifat yang kurang, oleh karena itu Allah azza wa jalla mensucikan Dirinya dari sifat lupa ini. sebagaimana yang ditegaskan oleh -Nya dalam salah satu firman -Nya:

    ﴿ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيّٗا ٦٤ ﴾ [ مريم: 63 ]

    "Dan tidaklah Tuhanmu lupa". (QS Maryam: 64).

    Namun, pada sisi hukum Allah Shubhanahu wa ta’alla mengangkat kesempitan atas umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dari sebab perbuatan yang dilakukan karena lupa, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla mengajari kita untuk berdo'a pada -Nya:

    ﴿ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ ٢٨٦ ﴾ [ البقرة: 286]

    "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah". (QS al-Baqarah: 286).

    Dan Allah ta'ala menjawab: "Sungguh telah Aku lakukan". [4]

    Hal senada, dipertegas lagi dalam sebuah hadits sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan: "Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إن الله تجاوز عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه » [أخرجه ابن ماجه]

    "Sesungguhnya Allah telah mengangkat dari umatku kekeliruan, lupa dan sesuatu yang dipaksakan untuknya". HR Ibnu Majah no: 2043. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan Ibni Majah 1/347 no: 1662.

    Dalam kaitan hukum, dijelaskan dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

    "Barangsiapa lupa tidak mengerjakan sholat maka hendaknya ia mengerjakannya jika mengingatnya, dan tidak ada kafarah untuknya melainkan itu". HR Bukhari no: 597. Muslim no: 684.

    Ini yang berkaitan dengan sholat, adapun dalam ibadah puasa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ أَكَلَ نَاسِيًا وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ » [أخرجه البخاري و مسلم]

    "Barangsiapa makan atau minum karena lupa sedangkan dirinya dalam keadaan berpuasa maka hendaknya ia menyempurnakan puasanya. Karena itu termasuk pemberian dari Allah". HR Bukhari no: 6669.Muslim no: 1155. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

    Termasuk penyakit ilmu ialah lupa, seperti yang dinyatakan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu: "Sesungguhnya pada tiap perkara ada penyakitnya, dan penyakit ilmu ialah lupa".

    Imam az-Zuhri mengatakan: "Salah satu penyakit ilmu adalah lupa dan enggan untuk mengulang".

    Disebutkan oleh Imam Bukhari sebuah hadits dair Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan:

    « قَامَ فِينَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَقَامًا فَأَخْبَرَنَا عَنْ بَدْءِ الْخَلْقِ حَتَّى دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ مَنَازِلَهُمْ وَأَهْلُ النَّارِ مَنَازِلَهُمْ حَفِظَ ذَلِكَ مَنْ حَفِظَهُ وَنَسِيَهُ مَنْ نَسِيَهُ » [أخرجه البخاري]

    "Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri dihadapan kami lalu mengabarkan tentang permulaan penciptaan makhluk, sampai penduduk surga masuk dan menempati tempatnya masing-masing, dan penghuni neraka masuk kedalamnya. Hal itu dapat dihafal bagi siapa yang menghafalnya, dan lupa bagi siapa yang telah lupa". HR Bukhari no: 3192.

    Oleh karena itu, hendaknya bagi seorang mukmin untuk selalu mempersiapkan dirinya pertemuan dengan Rabbnya, dan tidak lalai dan melupakannya. Allah ta'ala berfirman:

    ﴿ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ ٢٤ ﴾ [ الكهف: 24 ]

    "Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa". (QS al-Kahfi: 24).

    Dan perlu diketahui, bahwa setan akan berusaha keras untuk menjadikan seorang mukmin menjadi lupa untuk mengerjakan kebaikan serta ketaatan, Allah Shubhanahu wa ta’alla mengkisahkan tentang Nabi Musa dalam firman -Nya:

    ﴿ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ ٦٣ ﴾ [ الكهف: 63]

    "Dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan". (QS al-Kahfi: 63).

    Dalam ayat lain, Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan:

    ﴿ ٱسۡتَحۡوَذَ عَلَيۡهِمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَأَنسَىٰهُمۡ ذِكۡرَ ٱللَّهِۚ ١٩ ﴾ [ المجادلة: 19]

    "Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah". (QS al-Mujadilah: 19).

    Dalam kesempatan lain Allah ta'ala berfirman:

    ﴿ فَأَنسَىٰهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ ذِكۡرَ رَبِّهِۦ فَلَبِثَ فِي ٱلسِّجۡنِ بِضۡعَ سِنِينَ٤٢ ﴾ [ يوسف: 42]

    "Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya". (QS Yusuf: 42).

    Diperjelas lagi dalam firman -Nya yang lain:

    ﴿ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٦٨﴾ [ الأنعام: 68]

    "Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), Maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)". (QS al-An'am: 68).

    Kesimpulan dari kajian kita:

    Pertama: Rahmat Allah Shubhanahu wa ta’alla yang diberikan kepada hamba -Nya begitu luas, adapun bagi umat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam hal itu diberikan secara khusus, dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi keringanan bagi mereka kalau lupa.

    Kedua: Bagi siapa yang meninggalkan suatu kewajiban dikarenakan lupa, maka telah diangkat padanya dosa, sedang kewajibannya ialah mengerjakan jika dirinya ingat.

    Ketiga: Lupa adalah sifat yang menunjukan pada kekurangan, oleh sebab itu Allah ta'ala suci dari sifat lupa ini.

    Keempat: Penyakit lupa ini menjadi penyebab hilangnya banyak hak, lepasnya ilmu, oleh sebab itu pantas kalau Allah ta'ala mensyari'atkan supaya mencatat hak yang dimiliki sambil membawa saksi. Sedangkan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus menyuruh untuk mencatat ilmu.

    Untuk yang pertama, sebagaimana yang ditegaskan dalam firman -Nya:

    ﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيۡنٍ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى فَٱكۡتُبُوهُۚ ٞ ٢٨٢ ﴾ [البقرة: 282]

    "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya". (QS al-Baqarah: 282).

    Dan juga perintah -Nya:

    ﴿ وَأَشۡهِدُوٓاْ إِذَا تَبَايَعۡتُمۡۚ ٞ ٢٨٢ ﴾ [ البقرة: 282 ]

    "Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli". (QS al-Baqarah: 282).

    Sedangkan yang kedua, seperti disebutkan dalam riwayat Hakim dalam mustadraknya dari haditsnya Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma, beliau mengatakan: "Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « قيدوا العلم قلت : و ما تقييده : قال : كتابته » [أخرجه الحاكم]

    "Ikatlah ilmu oleh kalian". Maka aku bertanya: "Dengan apa aku mengikatnya? Beliau menjawab: "Engkau menulisnya". HR al-Hakim 1/303 no: 369. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah 5/41 no: 2026.

    Kelima: Termasuk dari sifat yang dimiliki oleh seorang mukmin ialah mengingat perbuatan dosanya lalu bertaubat darinya. Mengingat hak yang dimiliki kemudian menunaikannya. Termasuk sifatnya orang yang dhalim ialah melupakan perbuatan dosa dan menyia-yiakan hak yang harus ditunaikan. Allah ta'ala berfirman:

    ﴿ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِ‍َٔايَٰتِ رَبِّهِۦ فَأَعۡرَضَ عَنۡهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتۡ يَدَاهُۚ ٥٧﴾ [ الكهف: 57]

    "Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu Dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?". (QS al-Kahfi: 57).

    Dalam kesempatan lain, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

    ﴿ فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ أَبۡوَٰبَ كُلِّ شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ ٤٤﴾ [الأنعام: 44]

    "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa". (QS al-An'am: 44).

    Keenam: Takut lupa terhadap ilmu yang dimilikinya, merupakan salah satu sifatnya para Nabi dan orang-orang sholeh.

    Manakala Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam takut akan lupa terhadap al-Qur'an maka Allah Shubhanahu wa ta’alla menyakinkan pada Nabi -Nya:

    ﴿ سَنُقۡرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰٓ ٦ ﴾ [ الأعلى: 6]

    "Kami akan membacakan (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa". (QS al-A'la: 6).

    Dalam ayat lain, Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan:

    ﴿ إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ ١٧ ﴾ [ القيامة: 17]

    "Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya". (QS al-Qiyamah: 17).

    Ketujuh: Melupakan hafalan al-Qur'an atau ilmu termasuk perbuatan tercela. Oleh karenanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam membimbing kita dengan sabdanya:

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أن لاَ يَقُولُ المؤمن: نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ وإنما يقولَ: نُسِّيت َ» [أخرجه البخاري و مسلم]

    "Janganlah seorang mukmin mengatakan: "Aku telah lupa pada ayat ini dan itu, namun katakanlah: 'Aku telah terkalahkan oleh lupa". HR Bukhari no: 5032. Muslim no: 790.

    Delapan: Lupa merupakan salah satu sarana setan untuk menyesatkan manusia. Namun, lupa juga salah satu karunia dari Allah azza wa jalla.

    Dan perbedaan antara keduanya ialah, bahwa lupa yang datangnya dari setan kalau lupa berdzikir, membaca al-Qur'an serta kebajikan dan melalaikan hak. Adapun lupa yang dicintai Allah Shubhanahu wa ta’alla ialah kalau melupakan iri dan dengki, menyakiti kerabat, dan teman serta seluruh kaum muslimin.

    Sembilan: Bahwa lupa kadang bisa bermakna meninggalkan. Seperti dinyatakan oleh Allah ta'ala dalam firman -Nya:

    ﴿ وَلَا تَنسَوُاْ ٱلۡفَضۡلَ بَيۡنَكُمۡۚ ٢٣٧ ﴾ [ البقرة: 237]

    "Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu". (QS al-Baqarah: 237).

    Dan juga dalam firman -Nya yang lain:

    ﴿ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتُ بَعۡضُهُم مِّنۢ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمُنكَرِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَقۡبِضُونَ أَيۡدِيَهُمۡۚ نَسُواْ ٱللَّهَ فَنَسِيَهُمۡۚ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٦٧ ﴾ [ التوبة: 67]

    "Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik". (QS at-Taubah: 67).

    Berkata Ibnu Jarir serta yang lainnya: "Mereka meninggalkan Allah untuk taat pada nya, serta mengikuti perintah nya, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla meninggalkan mereka atas taufiq, hidayah serta rahmat -Nya".[5]

    Ya Allah, jadikanlah kami ingat akan apa yang telah lupa, dan jadikanlah bermanfaat semua yang telah kami pelajari.

    Akhirnya kita tutup kajian kita dengan mengucapkan segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

    [1] . Mukhtar Shihah oleh ar-Razi hal: 658. serta Mu'jamul Wasith hal: 920.

    [2] . Tafsir Ibnu Katsir 9/379.

    [3] . Tafsir Ibnu Jarir at-Thabari 7/5656.

    [4] . Seperti yang ada dalam shahih Muslim no: 125.

    [5] . Tafsir Ibnu Jarir 5/4040.

    Kategori ilmiyah:

    Tanggapan anda