Salafus Shalih Dan Zuhud Di Dunia

Keterangan

Makalah ini membahas tentang salah satu akhlak salafus shalih, yaitu zuhud terhadap dunia. Diceritakan dalam makalah ini tentang sikap zuhud dari para sahabat seperti Abu Ubaidah Amir bin Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Abdullah bin Mas’ud dan para sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum. Juga sikap zuhud dari generasi salaf dari kalangan tabi’in dan tabi’it tabi’in, serta orang orang shalih sesudah mereka. Semua merupakan cermin dan panutan bagi kita semua dalam mengarungi bahtera kehidupan dunia yang penuh dengan cobaan dan tantangan.

Download
Kirim komentar untuk Webmaster

Deskripsi terperinci

    Salafus Shalih Zuhud Di Dunia

    ] Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي

    Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil

    Bahauddin bin Fatih Aqil

    Terjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali

    Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

    2013 - 1435

    السلف والزهد فى الدنيا

    « باللغة الإندونيسية »

    الشيخ عبدالعزيز بن ناصر الجليل

    الشيخ بهاء الدين بن فاتح عقيل

    ترجمة: محمد إقبال أحمد غزالي

    مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو

    2013 - 1435

    Muqodimah

    Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

    Dalam kitab Zuhud karya Ibnu Mubarak rahimahullah, ia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, ia berkata: ‘Umar radhiyallahu ‘anhu datang ke negeri Syam dan disambut oleh para pemimpin dan pembesar. Ia berkata: ‘Di mana saudaraku Abu Ubaidah? Mereka menjawab: ‘Ia datang sekarang.’ Lalu ia datang di atas unta yang diikat hidungnya dengan tali. lalu ia memberi salam kepadanya. Kemudian ia berkata kepada semua orang: ‘Berpalinglah kalian dari kami.’ Lalu ia berjalan bersamanya hingga sampai ke tempat tinggalnya, ia mampir kerumahnya namun ia tidak melihat di dalamnya selain pedang, perisai dan tunggangannya. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya: ‘Andaikan engkau menjadikan sesuatu, atau ia berkata sesuatu. Ia (Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu) menjawab: ‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ini akan menyampaikan kita ke tempat terakhir.’[1]

    Dari Nu’aim bin Hammad, ia berkata: ‘Ibnu Mubarak menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Muhammad bin Mutharrif menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Abu Hazim menceritakan kepada kami. Dari Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’, dari Malik ad-Daar[2] bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu mengambil empat ratus dinar lalu berkata kepada gulam (pegawainya): ‘Pergilah dengannya kepada Abu Ubaidah, kemudian engkau tunggu beberapa saat di rumah sehingga engkau melihat apa yang dia lakukan. Ia berkata: ‘Maka ghulam itu pergi dengannya seraya berkata: ‘Amirul Mukminin berkata kepadamu, ambilah ini. Ia (Abu Ubaidah) berkata: ‘Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla menyambung dan memberi rahmat kepadanya.’ Kemudian ia berkata: ‘Wahai jariyah, pergilah dengan tujuh (dinar) ini dan berikan kepada fulan, lima (dinar) ini kepada fulan, sehingga ia menghabiskannya. Lalu ghulam itu kembali kepada Umar radhiyallahu ‘anhu dan mengabarkan kepadanya. Ternyata ia mendapatinya sudah menyiapkan hal serupa untuk Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, lalu ia mengutusnya pergi kepadanya. Mu’adz radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Semoga Allah Shubhanahu wa ta’ala menyambungnya. Wahai jariyah, pergilah ke rumah fulan dengan ini, rumah fulan seperti ini. Lalu muncul istri Muadzh radhiyallahu ‘anhu seraya berkata: ‘Demi Allah, kita adalah orang miskin maka berikanlah untuk kami.’ Dan tidak tersisa lagi di kain selain dua dinar maka dinar tersebut ia berikan kepadanya. Ghulam pun pulang dan mengabarkan kepada Umar radhiyallahu ‘anhu. Maka ia merasa senang dengan hal itu dan berkata: ‘Sesungguhnya mereka adalah bersaudara satu sama lain.’[3]

    Dari Abu Ismail at-Tirmidzy rahimahullah, ia berkata: Sulaiman bin Ayyub bin Isa bin Musa menceritakan kepada kami. Bapakku menceritakan kepadaku, dari kakekku, dari Musa, dari Thalhah, dari bapaknya bahwa datang kepadanya harta dari Hadhramaut sebanyak tujuh ratus ribu, maka ia gelisah semalam suntuk. Istrinya bertanya kepadanya: ‘Ada apa denganmu? Ia menjawab: ‘Aku berpikir sejak tadi malam, aku bertanya: Apa yang diduga seorang laki-laki terhadap Rabb-nya semalaman sedangkan harta ini ada di rumahnya? Ia (istrinya) berkata: ‘Di manakah engkau dari teman-temanmu apabila sudah tiba waktu subuh, letakkanlah di mangkok besar lalu bagilah.’ Ia berkata kepadanya: ‘Engkau seorang yang diberi taufiq, putri seseorang yang diberi taufik.’ Ia adalah Ummu Kultrum binti ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Di pagi harinya ia meminta mangkok besar lalu membaginya di antara kalangan Muhajirin dan Anshar. Ia mengirim kepada Ali radhiyallahu ‘anhu satu mangkok. Istrinya berkata kepadanya: ‘Wahai Abu Muhammad, apakah ada bagian untuk kita dari harta ini? Ia menjawab: ‘Di manakah engkau sejak hari ini? Bagianmu adalah yang masih tersisa. Ia (istrinya) berkata: ‘Masih ada satu bungkusan yang isinya sekitar seribu dirham.’[4]

    Dari ats-Tsaury rahimahullah, dari Abu Qais, dari Huzail bin Syurahbil, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Siapa yang menghendaki akhirat ia merugikan dunia, dan siapa yang menghendaki dunia ia merugikan akhirat, wahai kaum, rugikanlah yang fana untuk yang kekal.’[5]

    Dari Abdullah bin Yazid, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Kalian lebih lama shalat dan lebih banyak ijtihad dari pada sahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, dan mereka lebih utama dari kalian.’ Ada yang bertanya: Dengan apa? Ia menjawab: ‘Mereka lebih zuhud di dunia dan lebih mengharap akhirat dari kalian.’[6]

    Dari Auza’i, dari Bilal bin Sa’ad, bahwa Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala dari tercerai berainya hati.’ Ada yang bertanya: ‘Apa yang dimaksud tercerai berainya hati? Ia menjawab: ‘Bahwa dijadikan untukku harta di setiap lembah.’[7] Dari Abu Abidah bin Ma’n, dari A’masy, dari Abu Bukhtary, ia berkata: Asy’ats bin Qais dan Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma datang dan berkunjung kepada Salman radhiyallahu ‘anhu di Khush, keduanya memberi salam dan berkata kepadanya: ‘Apakah engkau adalah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam? Ia berkata: ‘Tidak tahu.’ Maka kedua nya menjadi ragu.’ Ia berkata: ‘Sesungguhnya sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam adalah yang masuk surga bersamanya.’ Keduanya berkata: ‘Kami datang dari sisi Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: ‘Mana hadiahnya? Keduanya berkata: ‘Kami tidak membawa hadiah.’ Ia berkata: ‘Bertaqwalah kamu kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala dan tunaikanlah amanah. Tidak ada seorang pun yang datang dari sisinya kecuali dengan membawa hadiah.’ Keduanya berkata: ‘Janganlah engkau mengangkat hal ini terhadap kami, sesungguhnya kami mempunyai harta maka gunakanlah.’ Ia berkata: ‘Aku tidak menghendaki kecuali hadiah.’ Keduanya berkata: ‘Demi Allah, ia tidak mengirim sesuatu bersama kami kecuali ia berkata: ‘Sesungguhnya padamu ada seorang laki laki yang apabila Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersamanya tidak ada orang lain yang mendengarnya, apabila kalian berkunjung kepadanya maka sampaikanlah salamku kepadanya.’ Ia berkata: ‘Hadiah apakah yang kuinginkan dari kalian selain ini? Hadiah apakah yang lebih utama darinya?[8]

    Qatadah berkata: ‘Tatkala ‘Amir[9] hampir wafat, ia menangis. Ia (Qatadah) bertanya: ‘Apa yang menyebabkan engkau menangis.’ Ia menjawab: ‘Aku menangis bukan karena khawatir terhadap kematian dan bukan pula karena sayang terhadap dunia, akan tetapi aku menangis terhadap kehausan di panas terik (puasa) dan shalat malam.’[10]

    Musa at-Taimy berkata (dalam menggambarkan sifat Abdurrahman bin Aban bin Utsman bin Affan rahimahullah): ‘Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih mengumpulkan agama dan kekuasaan serta kemuliaan darinya.’ Ada yang berkata: ‘Ia pernah membeli satu keluarga, memberi pakaian kepada mereka dan memerdekakan mereka, ia berkata: ‘Aku memohon pertolongan (kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala) dengan memerdekakan mereka terhadap kematian.’ Ia meninggal dunia di masjidnya. Dikatakan: Ia banyak ibadah dan mengadu kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala. Ali bin Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah melihatnya dan merasa kagum terhadap ibadahnya, maka ia mencontohnya dalam kebaikan.’[11]

    Dari Abu Abbas as-Sarraj, ia berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Basysyar, ia berkata: Ali bin Fudhail menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku mendengar bapakku berkata kepada Ibnu Mubarak: ‘Engkau menyuruh kami bersikap zuhud dan sedikit dari dunia dan kami melihat engkau datang dengan berbagai macam barang, bagaimana hal ini? Ia berkata: ‘Wahai Abu Ali, sesungguhnya aku melakukan hal ini untuk menjaga mukaku, memuliakan kehormatanku dan meminta pertolongan dengannya untuk taat kepada Rabb -ku.’ Ia berkata: ‘Wahai Ibnu Mubarak alangkah sempurnanya hal ini.’[12],

    Dari Ziyad bin Mahik, ia berkata: ‘Syaddad bin Aus berkata: ‘Sesungguhnya kalian tidak akan melihat dari dunia kecuali sebab-sebabnya dan kalian tidak akan melihat keburukan kecuali sebab-sebabnya. Semua kebaikan ada di surga dan semua keburukan ada di neraka. Sesungguhnya dunia adalah benda yang sudah siap, disantap oleh setiap orang yang baik dan jahat, dan akhirat adalah janji yang benar dan diputuskan padanya oleh Raja Yang Maha Perkasa. Dan bagi semuanya ada anak anak, maka jadilah kalian dari anak anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak anak dunia.’[13]

    Dari Abdullah bin ukhti (saudari) Muslim bin Sa’ad, ia berkata: ‘Aku ingin menunaikan ibadah haji, pamanku (Muslim) menyerahkan kepadaku sepuluh ribu dirham dan berkata kepadaku: ‘Jika engkau sampai di Madinah maka perhatikanlah keluarga yang lebih fakir di Madinah maka berikanlah kepada mereka.’ Ketika aku masuk kota Madinah, aku bertanya tentang keluarga yang paling miskin di Madinah, lalu aku ditunjukkan kepada satu keluarga. Aku mengetuk pintu dan dijawab oleh seorang wanita: ‘Siapa engkau? Aku menjawab: ‘Saya seorang laki-laki dari Baghdad dan aku dititipi uang sepuluh ribu dan aku diminta untuk memberikannya kepada keluarga paling fakir di Madinah, dan orang-orang menunjuk kalian maka ambillah.’ Ia berkata: ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya temanmu memberi syarat ‘keluarga paling fakir’, dan mereka yang berada di samping kami lebih fakir dari kami.’ Maka aku meninggalkan mereka dan datang kepada mereka (keluarga yang ditunjuk). Lalu aku mengetuk pintu dan dijawab oleh seorang wanita, lalu aku mengatakan kepadanya seperti yang kukatakan kepada wanita sebelumnya. Ia menjawab: ‘Wahai hamba Allah, kami dan tetangga kami sama sama fakir maka bagilah di antara kami dan mereka.’[14]

    Dari Ibrahim bin Syabib bin Syaibah, ia berkata: ‘Kami sedang duduk duduk di hari Jum’at, lalu datang seorang laki-laki yang memakai satu pakaian dan berselimut, kemudian bertanya, sementara kami terus berbicara dalam masalah fiqih hingga kami berpaling (pulang). Kemudian ia datang kepada kami pada Jum’at berikutnya, kami jadi menyukainya dan bertanya kepadanya tentang tempat tinggalnya, ia menjawab: ‘Saya tinggal di Harbiyyah.’ Kami bertanya kepadanya tentang kunyahnya (nama panggilannya), ia menjawab: ‘Abu Abdillah.’ Kami merasa senang duduk bersamanya dan kami melihat bahwa majelis kami adalah majelis fiqih. Kami melakukan hal itu dalam waktu yang lama, kemudian ia terputus dari kami, sebagian dari kami berkata kepada yang lain: ‘Ada apa dengannya? Majelis kita menjadi makmur dengan Abu Abdillah dan sekarang menjadi terasa hambar. Sebagian dari kami berjanji di pagi hari akan datang ke Harbiyyah lalu bertanya tentang dia. Kami datang ke Harbiyyah, karena kami merasa malu bertanya tentang Abu Abdillah. Lalu kami melihat anak-anak yang baru pulang dari belajar mengaji, kami berkata: ‘Tahukah kalian Abu Abdillah.’ Mereka menjawab: ‘Mungkin yang kalian maksudkan adalah pemburu? Kami menjawab: ‘Ya.’ Mereka berkata: ‘sebentar lagi dia datang.’ Lalu kami duduk menunggunya, tiba-tiba ia datang memakai sarung dengan satu kain dan di pundaknya satu kain, dan dibawanya beberapa burung yang sudah disembelih dan yang masih hidup. Tatkala ia melihat kami, ia tersenyum kepada kami dan bertanya: ‘Apakah gerangan yang membuat kalian datang? Kami menjawab: ‘Kami kehilangan engkau, engkau telah memakmurkan majelis kami, apa yang membuat engkau menghilang dari majelis kami? Ia berkata: ‘Saya mempunyai tetangga yang saya meminjam pakaian darinya setiap hari kemudian saya datang kepadamu dengan mengenakannya. Ia adalah seorang pendatang lalu ia kembali ke negerinya, maka saya tidak mempunyai baju untuk datang kepada kalian. Maukah kalian masuk ke rumah lalu menikmati rizqi yang diberikan Allah Shubhanahu wa ta’ala? Sebagian dari kami berkata: ‘Masuklah ke rumahnya.’ Ia datang ke pintu, lalu memberi salam, kemudian masuk. Ia memberi ijin kepada kami lalu kami masuk, ia datang dengan sepotong tikar, membukanya lalu kami duduk. Ia masuk menemui seorang wanita lalu menyerahkan kepadanya burung-burung yang sudah disembelih dan mengambil burung-burung yang masih hidup. Kemudian ia berkata: ‘Insya Allah, saya datang kepada kalian sebentar lagi.’ Ia datang ke pasar lalu menjualnya dan membeli roti, sementara istrinya sudah memasak burung tadi dan menyiapkannya. Lalu ia menghidangkan kepada kami roti dan daging burung. Lalu kami memakannya, ia berdiri dan mendatangkan garam dan air. Sebagian dari kami berkata kepada yang lain: ‘Apakah kalian pernah melihat seperti ini? Maukah kalian merubah kondisinya, sedang kalian adalah para pemuka di kota Basrah? Sebagian dari mereka berkata: ‘Saya lima ratus. Yang lain berkata: Saya delapan ratus. Dan berkata ini dan berkata ini. Dan sebagian dari mereka menjamin akan mengambil dari yang lain untuknya. Maka jumlah yang dikumpulkan mencapai lima ribu dirham. Mereka berkata: ‘Ayo pergi bersama kami lalu kita datang kepadanya dengan ini dan meminta kepadanya agar merubah sebagian kondisinya.

    Lalu kami berdiri pulang sambil berboncengan, kami melewati Marbad[15] ternyata ada Muhammad bin Sulaiman, Gubernur Bashrah, sedang duduk di bangunan tinggi miliknya, ia berkata: ‘Wahai ghulam, bawa ke sini Ibrahim bin Syabib bin Syaibah di antara rombongan tersebut.’ Maka aku datang, masuk kepadanya, lalu ia bertanya kepadaku tentang cerita kami, dari mana kami datang, maka sangat kebetulan aku menceritakan. Ia berkata: ‘Aku akan mendahului kalian untuk berbuat baik kepadanya, wahai ghulam (pegawainya), bawalah ke sini bungkusan dirham.’ Maka ia datang dengannya. Ia berkata: ‘Bawa ke sini ghulam ahli karpet. Lalu ia datang. Ia berkata: ‘Bawalah bungkusan ini bersama laki-laki ini hingga engkau menyerahkannya kepada orang yang kami perintahkan.’

    Maka aku berdiri dan bersegera pergi. Tatkala aku sampai di pintu, aku memberi salam. Lalu Abu Abdillah menjawab, kemudian ia keluar menemuiku. Tatkala ia melihat tukang tikar dan bungkusan di lehernya, seolah olah aku menghamburkan bara api di wajahnya, ia menghadapiku dengan wajah bukan seperti wajah yang pertama seraya berkata: ‘Apakah hubungannya aku dan engkau? Aku berkata: ‘Wahai Abu Abdillah, duduklah sehingga aku bisa mengabarkan ceritanya, dan dialah yang engkau ketahui salah seorang yang jabbar (yang kejam) maksudnya Muhammad bin Sulaiman. Jikalau ia menyuruh aku menyerahkannya menurut pendapatku niscaya aku kembali kepadanya lalu kukabarkan bahwa aku telah menyerahkannya. Maka jagalah Allah Shubhanahu wa ta’alla, jagalah Allah pada dirimu.’ Ia menjadi bertambah marah, berdiri lalu masuk rumah dan menutup pintu. Maka aku mondar-mandir kebingungan, tidak tahu apa yang akan kukatakan kepada gubernur. Kemudian aku tidak mendapat jalan lain selain berkata jujur. Aku datang dan menceritakan kisahnya. Ia berkata: ‘Demi Allah, dia seorang Harury (Khawarij), wahai ghulam, bawa pedang ke sini.’ Lalu ia datang membawa pedang. Ia berkata kepadanya: ‘Peganglah tangan laki-laki ini sehingga pergi denganmu kepada laki laki itu. Bila ia keluar menemuimu maka potonglah lehernya dan bawa kepalanya kepadaku.’

    Ibrahim berkata: ‘Aku berkata: ‘Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla memperbaiki sang gubernur. Demi Allah, kami telah melihat seorang laki-laki, dia bukanlah seorang Khawarij, akan tetapi aku pergi lalu aku datang kepadamu dengannya dan aku tidak menghendaki hal itu kecuali menebus darinya. Ia berkata: Maka aku memberi jaminan kepadanya. Lalu aku berlalu hingga mendatangi pintu lalu memberi salam. Ternyata seorang wanita sedang menangis, kemudian ia membuka pintu, berlindung dan memberi ijin masuk kepadaku, maka aku masuk. Ia berkata: ‘Apa masalahnya di antara kalian dan Abu Abdillah? Aku bertanya: ‘Ada apa dengannya? Ia berkata: ‘Ia masuk menuju ember, mengambil air darinya lalu berwudhu, kemudian aku mendengarnya berdoa: ‘Ya Allah, ambillah aku kepada -Mu dan janganlah Engkau memberi cobaan kepada ku,’ kemudian ia merebahkan badannya dan ia terus mengatakan hal itu. Maka aku menyusulnya dan ternyata ia telah wafat.

    Aku berkata: Wahai fulanah, sesungguhnya bagi kami ini merupakan cerita agung, maka janganlah engkau melakukan sesuatu padanya.’ Aku datang kepada Muhammad bin Sulaiman dan menceritakan kisahnya kepadanya. Ia berkata: ‘Aku akan pergi untuk shalat kepada orang ini. Ia berkata: ‘Tersebarlah beritanya di Bashrah, maka gubernur dan mayoritas penduduk Bashrah menghadirinya. Semoga Allah Shubhanahu wa ta’ala memberi rahmat kepadanya.[16]

    [1] Siyar A’lam Nubala` 1/16

    [2] Malik ad-Daar: Budak yang dimerdekakan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu. Ia meriwayatkan darinya dan dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Lihat biografinya dalam Thabaqat 5/7

    [3] Siyar A’lam Nubala` 1/456.

    [4] Siyar A’lam Nubala`1/21.

    [5] Siyar A’lam Nubala`1/496.

    [6] Sifat Shafwah 1/420

    [7] Siyar A’lam Nubala`2/348

    [8] Siyar A’lam Nubala`1/549

    [9] Abu Abdillah Amir bin Abdu Qais at-Tamimy al-Bashry, tabi’in ahli ibadah. Ka’bul Ahbar pernah melihatnya dan berkata: ‘Ini adalah rahib (ahli ibadah) umat ini. Siyar 4/15.

    [10] Siyar A’lam Nubala`4/19

    [11] Siyar A’lam Nubala` 5/10.

    [12] Siyar A’lam Nubala` 8/387.

    [13] Sifat Shafwah 1/709.

    [14] Sifat Shafwah 2/206.

    [15] Pasar Arab yang terkenal di Bashrah.

    [16] Sifat Shafwah 4/9-12

    Tanggapan anda