Salaf Dan Fitnah Dalam Agama

Keterangan

Makalah ini membahas tentang salah salah satu masalah penting dalam agama, yaitu bai’at terhadap pemimpin dan hukum membangkang terhadapnya. Penulis menjelaskan dalam makalah secara tegas dan jelas tentang hal hal yang terkait dengan bai’at, bagaimana terlaksana bai’at dan hukum membangkang serta dampak buruk dari pembangkangan tersebut. Semua itu dijelaskan berdasarkan al-Qur`an, sunnah dan perjalanan sejarah umat Islam dari zaman sahabat hingga generasi selanjutnya.

Download
Kirim komentar untuk Webmaster

Deskripsi terperinci

    Salaf Dan Fitnah Dalam Agama

    ] Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي

    Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil

    Bahauddin bin Fatih Aqil

    Terjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali

    Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

    2014 - 1435

    السلف والفتن فى الدين

    « باللغة الإندونيسية »

    الشيخ عبدالعزيز بن ناصر الجليل

    الشيخ بهاء الدين بن فاتح عقيل

    ترجمة: محمد إقبال أحمد غزالي

    مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو

    2014 - 1435

    Muqodimah

    Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

    Abdul Karim al-Jazary meriwayatkan dari Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir, ia berkata: ‘Orang-orang musyrik menangkap (menyiksa) Ammar radhiyallahu ‘anhu, mereka tidak melepaskannya hingga ia mencela Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebutkan kebaikan sembahan-sembahan (berhala-berhala) mereka. Maka tatkala ia datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bertanya: ‘Apa yang terjadi di belakangmu? Ia menjawab: ‘Keburukan, wahai Rasulullah, demi Allah, mereka tidak melepaskan aku hingga aku mencela engkau dan aku menyebutkan kebaikan sembahan-sembahan mereka.’ Beliau bersabda: ‘Bagaimana engkau merasakan dalam hatimu? Ia menjawab: ‘Tenang/damai dengan iman.’ Beliau bersabda: ‘Jika mereka kembali maka kembalilah engkau.’[1]

    Dari Syu’bah dan Hisyam, dari Qatadah, dari Yunus bin Jubair, ia berkata: ‘Kami mengunjungi Jundub radhiyallahu ‘anhu, aku berkata kepadanya: Berikanlah pesan/wasiat kepada kami.’ Ia berkata: ‘Aku berwasiat kepadamu agar bertaqwa kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala dan aku berwasiat kepadamu dengan al-Qur`an, sesungguhnya ia merupakan cahaya di malam yang gelap dan petunjuk di siang hari. Amalkanlah al-Qur’an kendati berat dan susah. Jika datang bala maka berikanlah hartamu, jangan agamamu. Jika bala/cobaan terus berlanjut maka berikanlah harta dan jiwamu, jangan agamamu. Sesungguhnya orang yang rusak adalah yang rusak agamanya dan orang yang dirampas adalah orang yang dirampas agamanya. Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada kefakiran setelah surga dan tidak ada kekayaan setelah neraka.’[2]

    Abu Hisyam ar-Rifa’i berkata: Abu Bakar al-Ayyasy rahimahullah berkata kepada Hasan bin Hasan rahimahullah di Madinah: ‘Apakah fitnah masih tersisa darimu? Ia (Hasan) bertanya: ‘Fitnah apakah yang engkau lihat padaku? Ia menjawab: ‘Saya melihat mereka mencium tanganmu dan engkau tidak melarang mereka.’[3]

    Shafwan bin Shalih berkata: Abdullah bin Shalih al-Katsir ad-Dimisyqi al-Qary berkata: Abdurrahman bin Yazid bin Jabir menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Kami bersama Raja` bin Haiwah rahimahullah, maka kami mudzakarah tentang syukur terhadap nikmat. Ia berkata: ‘Tidak ada seorang pun yang melaksanakan syukur terhadap nikmat –dan di belakang kami ada seorang laki laki yang di kepalanya terdapat selendang-, ia berkata: ‘Dan tidak pula Amirul Mukminin? Kami berkata: ‘Kenapa Amirul Mukminin disebut di sini, bukankan ia juga seorang laki laki dari kaum mukminin? Ia berkata: ‘Maka kami melupakannya, lalu Raja` menoleh namun tidak melihatnya. Ia berkata: ‘Kamu didatangkan dari pemilik selendang. Jika kamu dipanggil untuk bersumpah maka bersumpahlah! Maka kami tidak mengetahui kecuali tiba-tiba pengawal khalifah sudah datang, ia berkata: ‘Wahai Raja`, disebutkan amirul mikminin maka kamu tidak membelanya? Ia berkata: Aku berkata: ‘Apakah itu wahai Amirul mukminin? Ia berkata: ‘Kamu menyebutkan syukur terhadap nikmat, lalu kamu berkata: ‘Tidak ada seorang pun yang melaksanakan syukur nikmat. Dikatakan kepadamu: ‘Dan tidak pula amirul mukminin? Lalu engkau berkata: ‘Amirul mukminin adalah seorang laki laki dari manusia! Aku berkata: ‘Kejadiannya bukan seperti itu.’ Ia berkata: ‘Demi Allah? Aku menjawab: ‘Demi Allah.’ Lalu ia menyuruh algojo untuk mencambuknya, lalu dicambuk tujuh puluh cambuk. Lalu aku keluar sedangkan ia berlumuran darah. Ia berkata (kepada dirinya sendiri): ‘Ini dan engkau Raja` bin Haiwah? Aku berkata: Tujuh puluh kali cambuk lebih baik dari pada darah seorang mukmin.’ Ibnu Jabir berkata: ‘Maka setelah itu, apabila Raja` duduk di satu majelis, ia berkata: ‘Hati-hati terhadap pemiliki selendang.’[4]

    Hanbal berkata: ‘Aku menghadiri Abu Abdillah (imam Ahmad rahimahullah) dan Ibnu Ma’in rahimahullah di sisi ‘Affan rahimahullah setelah dipanggil oleh Ishaq bin Ibrahim untuk diuji (ditanya tentang al-Qur`an), dan yang pertama tama diuji dari manusia (maksudnya para ulama Sunnah) adalah ‘Affan. Yahya bin Ma’in bertanya kepadanya esok harinya setelah diuji, Abu Abdillah hadir dan kami bersamanya, ia berkata: ‘Beritakanlah kepada kami apa yang dikatakan oleh Ishaq? Ia berkata: ‘Wahai Abu Zakariya, aku tidak menghitamkan wajahmu dan wajah sahabat sahabatmu, sesungguhnya aku tidak menerima ajakannya.’ Ia (Ibnu Ma’in) bertanya kepadanya: ‘Bagaimana yang terjadi? Ia berkata: ‘Ia memanggilku dan membaca kepadaku surat dari khalifah al-Makmun dari al-Jazirah, suratnya berbunyi: ‘Uji ‘Affan dan ajaklah ia mengatakan al-Qur`an adalah seperti ini dan seperti itu. Jika ia mengatakan hal itu maka tetapkanlah ia di atas perkaranya (biarkanlah, lepaskanlah dia). Jika ia menolak apa yang kutulis kepadamu ini maka putuskanlah (hentikanlah) gaji yang diberikan kepadanya –Khalifah Makmun memberikan kepada Affan rahimahullah setiap bulan sebanyak lima ratus dirham- maka tatkala ia selesai membaca surat, Ishaq berkata kepadaku: ‘Apa yang engkau katakan? Lalu aku membaca kepadanya surah al-Ikhlash hingga akhir surah. Aku berkata: ‘Apakah ia makhluk? Ia berkata: ‘Wahai Syaikh, sesungguhnya amirul mukminin berkata: ‘Sesungguhnya jika engkau tidak memenuhi ajakannya, ia akan memutuskan tunjangan setiap bulan yang diberikan kepadamu.’ Aku menjawab:

    ﴿ وَفِي السَّمَآءِ رِزْقُكُمْ وَمَاتُوعَدُونَ 2} [الذاريات: 22]

    Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. (QS. adz-Dzariyat:22)

    Kemudian ia diam membisu dan aku pulang.’ Maka Abu Abdillah dan Yahya merasa senang dengan hal itu.’[5]

    Dari Haitsam bin Khalaf ad-Dury, sesungguhnya Muhammad bin Suwaid ath-Thahhan menceritakan kepadanya, ia berkata: ‘Kami berada di sisi Ashim bin Ali, dan bersamanya ada Abu Ubaid, Ibrahim bin Laits dan jamaah, dan imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sedang dipukul (dicambuk), lalu Ashim berkata: ‘Adakah seorang laki-laki yang berdiri bersamaku, lalu kita mendatangi laki-laki ini, lalu kita berbicara dengannya? Ia berkata: ‘Tidak ada seorang pun yang menjawab, kemudian Ibnu Abi Laits berkata: ‘Wahai Abu Husain, aku menyampaikan kepada putri putriku, aku ingin berwasiat kepada mereka.’ Maka kami mengira ia pergi menyiapkan kapan dan wewangian. Kemudian ia datang seraya berkata: ‘Aku pergi kepada mereka, lalu mereka menangis.’ Ia berkata: Datang surat dari dua putri Ashim dari Wasith (yang isinya): Wahai bapak kami, sesungguhnya sampai berita kepada kami bahwa laki-laki ini menangkap imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, lalu mencambuknya agar ia mengatakan: ‘al-Qur`an adalah makhluk’, maka bertaqwalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, janganlah engkau memenuhi permintaannya. Demi Allah, sungguh datang kepada kami berita kematianmu lebih kami sukai dari pada datang kepada kami berita bahwa engkau mengabulkan permintaannya.[6]

    Dari Abu Ja’far al-Anbary, ia berkata: ‘Tatkala imam Ahmad rahimahullah dibawa kepada khalifah al-Makmun, aku diberitahu, lalu aku menyeberangi sungai Furat, ternyata ia duduk di penginapan, lalu aku memberi salam kepadanya, ia berkata: ‘Wahai Abu Ja’far, engkau telah bekerja keras.’ Aku berkata: ‘Wahai ini, engkau sekarang adalah pemimpin (sebagai panutan) manusia (umat Islam) mengikutimu. Demi Allah, jika engkau mengikuti ajakan untuk mengatakan al-Qur`an itu adalah makhluk niscaya manusia juga menerimanya, dan jika engkau tidak menerima ajakan itu niscaya manusia yang sangat banyak juga tidak menerimanya. Bersama hal itu, sesungguhnya jika laki-laki tidak membunuhmu maka sesungguhnya engkau akan wafat, tetap akan wafat, maka bertaqwalah kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala dan janganlah engkau menerima ajakan.’ Maka mulailah imam Ahmad rahimahullah menangis dan berkata: ‘Masya Allah.’ Kemudian ia berkata: Wahai Abu Ja’far, ulangi kata-kata itu.’ Lalu aku mengulanginya, dan ia berkata: ‘Masya Allah.’[7]

    Shalih bin Ahmad rahimahullah berkata: ‘Bapakku (imam Ahmad rahimahullah) dan Muhammad bin Nuh rahimahullah dibawa dari Bagdad dalam kondisi dibelenggu, maka jadilah kami bersama keduanya ke Anbar. Abu Bakar al-Ahwal rahimahullah bertanya kepada bapakku: ‘Wahai Abu Abdillah, jika engkau dihadapkan kepada pedang (akan dibunuh), apakah engkau memenuhi ajakan mereka? Ia menjawab: “Tidak.’ Kemudian keduanya dibawa berjalan, lalu aku mendengar bapakku berkata: ‘Kami berada di Rahbah[8].’ Kami berangkat dari sana pada waktu tengah malam. Maka seorang laki-laki menghadang kami, ia berkata: ‘Siapakah di antara kalian yang bernama Ahmad bin Hanbal? Dikatakan kepadanya: ‘Ini.’ Ia berkata kepada penarik unta: ‘Perlahan.’ Kemudian ia berkata: ‘Wahai engkau, tidak mengapa engkau dibunuh di sini dan engkau masuk surga.’ Kemudian ia berkata: ‘Aku menitipkan engkau kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala,’ dan ia berlalu. Maka aku bertanya tentang dia, dikatakan kepadaku: ‘Ini adalah seorang laki laki dari Arab Rabi’ah yang bekerja membuat kain dari bulu unta di perkampungan. Dikatakan namanya Jabir bin Amir, ia seorang yang baik.’[9]

    Dari Ahmad bin Hawari, ia berkata: Ibrahim bin Abdullah menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: ‘Aku tidak mendengar satu kalimat sejak aku terjebak dalam perkara ini yang lebih kuat dari kalimat seorang Arab Badawi yang berbicara kepadaku di Rahbah Thuq, ia berkata: ‘Wahai Ahmad, jika kebenaran membunuhmu niscaya engkau wafat sebagai syahid, dan jika engkau hidup niscaya engkau hidup secara terpuji,’ maka ia menguatkan hatiku.’[10]

    Hanbal berkata: ‘Abu Abdillah (imam Ahmad rahimahullah) berkata: ‘Aku belum pernah melihat seseorang dalam usianya yang muda belia dan kadar keilmuannya yang lebih lurus dengan perkara/perintah Allah Shubhanahu wa ta’ala dari pada Muhammad bin Nuh, sesungguhnya aku berharap bahwa ia wafat dalam keadaan baik. Ia berkata kepadaku pada suatu hari: ‘Wahai Abu Abdillah, takutlah kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala, takutlah kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala, sesungguhnya engkau bukan seperti aku, engkau seorang laki laki yang dijadikan panutan. Semua orang telah memanjangkan leher mereka kepadamu, apa yang terjadi darimu. Maka takutlah engkau kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala dan teguhlah untuk perkara Allah –Nya, atau semisal yang demikian itu. Lalu ia wafat dan aku menshalatkan dan menguburnya.’ Aku mengira ia berkata: ‘Di Anah.’[11]

    [1] Siyar A’lam Nubala 1/411 dan hadits tersebut diriwayatkan al-Hakim 2/357, ia menshahihkannya dan sepakati oleh adz-Dzahabi, Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat 3/189, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 1/140, dan ath-Thabary dalam Tafsir 14/122.

    [2] Siyar A’lam Nubala 3/174.

    [3] Siyar A’lam Nubala 8/500. Dan Abu Bakar al Ayyasy, namanya adalah Syu’bah menurut pendapat yang masyhur, ia adalah teman Hasfh dalam mengambil qira’ah dari ‘Ashim.

    [4] Siyar A’lam Nubala 4/561. Saya katakan: Raja` bin Haiwah mengatakan hal itu untuk menjaga orang orang yang duduk di majelis agar tidak sampai mendapat siksaan dari polisi yang bisa membawa kepada terbunuhnya salah seorang dari mereka. Dengan hal ini ia berusaha menghindarkan bahaya yang lebih besar dengan sesuatu yang lebih ringan, seperti yang dijelaskan di akhir cerita.

    [5] Siyar A’lam Nubala 10/244.

    [6] Siyar A’lam Nubala 9/264.

    [7] Siyar A’lam Nubala 11/239.

    [8] Yaitu Rahbah Malik bin Thuq yang terletak di antara Bagdad dan Riqqah.

    [9] Siyar A’lam Nubala 11/241

    [10] Siyar A’lam Nubala 11/242.

    [11] Siyar A’lam Nubala 11/242. Anah adalah satu kota yang terkenal di antara Riqqah dan Hiit, menghadap ke sungai Furat dan di sana ada benteng pertahanan.

    Kategori ilmiyah: