Kesyirikan Kaumnya Nabi Syu’aib ‘alaihissalam

Keterangan

Keyakinan paganisme dahulu ternyata banyak yang dijiplak oleh generasi sekarang, buktinya masih banyak yang melakukan kesyirikan. Tidak percaya silahkan baca makalah ini untuk mencocok hal tersebut.

Download
Kirim komentar untuk Webmaster

Deskripsi terperinci


 Kesyirikan Kaumnya Nabi Syu'

aib alaihissalam Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang   -Dia beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul

 -Nya. Amma Ba'du:

Nabi Syu'aib 'alaihi sallam

 bersama kaumnya:

Kemudian datang giliran kisah penduduk Madyan bersama nabi mereka Syu'aib 'alaihi sallam. Dimana didalam al-Qur'anul Karim kisahnya datang bersamaan dengan kisah kaumnya nabi Luth 'alaihi sallam pada beberapa tempat. Yang mana Allah azza wa jalla menjelaskan didalam al-Qur'an setelah menyebut tentang kisah kaumnya nabi Luth lalu di iringi dengan kisah penduduk Madyan, dan Madyan adalah penduduk negeri al-Aikah menurut pendapat yang kuat dalam masalah ini.

Namun, saya kedepankan kisahnya nabi Yusuf 'alaihi sallam bersama kaumnya yaitu penduduk Mesir, dalam rangka menjaga keurutan yang terjadi dalam sejarah, seperti dinyatakan oleh ahli sejarah, semisal al-Hafidh Ibnu Asakir yang menyebutkan dalam kitab Tarikhnya, dimana beliau membawakan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu yang mengatakan, "Sesungguhnya Syu'aib datang setelah nabi Yusuf 'alaihima sallam"[1].

Dan akan datang penjelasan lebih lengkap tentang nasab nabi Syu'aib beberapa baris dibawah, yang mana beliau secara khusus di utus oleh Allah azza wa jalla kepada penduduk Madyan, serta penjelasan kesyirikan yang terjadi ditengah-tengah kaumnya.

 Nasabnya:

Nasab beliau secara lengkap ialah Syu'aib bin Mikyal bin Yasyjir bin Madyan bin Ibrahim 'alaihi sallam. Akan tetapi, disana ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh ahli sejarah berkaitan dengan nasab beliau ini[2] yaitu tentang betul tidaknya nasab beliau sampai kepada nabi Ibrahim 'alaihi sallam, ditambah adanya kesepakatan dan perbedaan pada beberapa nama yang berada pada nasab beliau, namun, kebanyakan para ulama berpendapat kalau nasab beliau sampai kepada nabi Ibrahim 'alaihi sallam.

 Kaumnya:

Adapun kaumnya mereka adalah Madyan, dan didalam al-Qur'an, Allah ta'ala telah menyebut mereka dengan nama Madyan yaitu manakala menerangkan adanya seorang utusan yang datang kepada mereka.

 Allah ta'ala mengkisahkan:

﴿ وَإِلَىٰ مَدۡيَنَ أَخَاهُمۡ شُعَيۡباۚ ٨٥ ﴾ [ الأعراف]

"Dan (kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu'aib". (QS al-A'raaf: 85).

Dalam kesempatan lain Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutnya dengan nama al-Aikah yaitu manakala menerangkan adzab dan hukuman yang ditimpakan pada mereka. Allah Shubhanahu wa ta’alla mengatakan

 dalam firman -Nya:

﴿ كَذَّبَ أَصۡحَٰبُ لۡ‍َٔيۡكَةِ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ١٧٦ ﴾ [ الشعراء ]

"Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul". (QS asy-Syu'araa: 176).

   Dan kedua nama yang berbeda tadi sejatinya sedang menjelaskan pada kita tentang hakekat sebuah kaum dimana nabi Syu'aib 'alaihi sallam menyerukan dakwahnya disitu, serta menerangkan bahwa kedua nama tadi hakekatnya adalah umat satu bukan dua umat menurut pendapat yang masyhur dikalangan ahli tafsir, sebab bagi kedua nama tersebut memiliki hubungan yang saling menguatkan satu sama lain yang menjelaskan kalau mereka adalah satu umat.

Sedangkan Madyan ini dia adalah anaknya nabi Ibrahim 'alaihi sallam al-Khalil, maka dengan ini mereka disebut dengan Bani Madyan (anak keturunan Madyan). Seperti dikatakan Mudhar, maksudnya adalah Bani Mudhar dan mereka dikenal dengan nama tersebut. Maka jika anda mau silahkan menyebut mereka dengan Bani Madyan, nisbat kepada kabilahnya, atau jika anda ingin boleh juga menyebut mereka dengan penduduk Madyan, nisbat kepada tempat tinggal mereka.

Adapun nisbat mereka kepada al-Aikah maka ketika dikembalikan kepada negeri mereka yang banyak tumbuh pohon semak belukar. Sebab mereka adalah penduduk yang tinggal pada sebuah tempat yang rimba dengan padang rumput yang banyak sekali ditumbuhi pepohonan, karena begitu banyaknya sampai-sampai menutupi satu sama lainnya.[3]

 Sedangkan al-Aikah dalam bahasa arab artinya ialah rimba belukar yakni pepohonan yang sangat banyak, bentuk tunggalnya Aikah, dan mereka dinamakan dengan penghuni al-Aikah disebabkan karena mereka tinggal dengan dikelilingi semak belukar dan padang rumput. Dalam salah satu ilmu qiro'ah bisa dibaca dengan Laikah yang berarti nama sebuah perkampungan.[4]

 Penulis kitab ash-Shihah mengatakan, "Siapa yang membaca dengan, ashabul Aikah (penduduk Aikah) maksudnya ialah orang yang tinggal dikelilingi rimba belukar, dan bagi orang yang membaca dengan Laikah maksudnya ialah nama sebuah perkampungan, nama tersebut sama seperti dikatakan pada Makah dan Bakah".[5] Posisi Madyan untuk saat ini ialah sebuah negeri yang hijau yang padat penduduknya berada di Wadi Afaal sebelah barat kota Tabuk sekitar 320 Km. Dari sisi sebelah timur pantai laut merah sekitar 70 Km. Berada diantara dua jalan pada jalur cepat sekarang yang dikenal dengan nama al-Bida', sebuah kota yang indah penuh dengan tanaman dan sangat nyaman untuk tempat tinggal, disana masih ada bekas-bekas peninggalan nabi Syu'aib yang lebih dikenal dengan mata air Syu'aib.[6]

Keyakinan Yang Dipegang

  Oleh Kaumnya:

Adapun penyelewengan aqidah yang dilakukan oleh kaumnya nabi Syu'aib 'alaihi sallam bisa diklasifikasikan menjadi beberapa

 perkara, yaitu:

a.     Beribadah kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, dimana mereka biasa menyembah patung dan berhala, hawa nafsu serta sesembahan lainnya, dari tuhan-tuhan yang telah mereka warisi dan disembah oleh nenek moyangnya.

Berkata al-Hafidh Ibnu Katsir menerangkan, "Penduduk Madyan sebelumnya adalah orang kafir yang biasa merampok serta menteror orang-orang yang lewat diperkampungannya. Mereka biasa menyembah al-Aikah yaitu sebuah pohon semak-semak yang dinamakan dengan ad-Duum yang banyak berada mengelilingi perkampungannya".[7] Pada kesempatan lain beliau mengatakan, "Penduduk Aikah sejatinya adalah sama dengan penduduk Madyan menurut pendapat yang kuat. Sedangkan nabiyullah Syu'aib 'alaihi sallam merupakan manusia pilihan di tengah-tengah mereka, hanya saja tidak dinisbatkan nabi Syu'aib sebagai saudaranya mereka, karena mereka menisbatkan diri kepada sesembahan al-Aikah yaitu sebuah pohon, ada yang mengatakan dia adalah pohon semak belukar, yang biasa mereka sembah..".[8]

Sebagaimana telah tetap bahwa mereka adalah orang-orang yang kufur kepada Allah azza wa jalla. Dan berpaling dariNya lalu menyembah kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla [9]. Sebagai bukti akan hal tersebut ialah firman Allah ta'ala yang menunjukan adanya perintah dan larangan untuk menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla semata dan menjauhi kesyirikan, Allah Shubhanahu

 wa ta’alla berfirman:

﴿ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ٨٥ ﴾ [ الأعراف]

 "Syu'aib berkata:

 "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya". (QS al-A'raaf: 85).

Ini dari satu sisi, terus ditambah dengan perilaku dosa besar lainnya yang biasa

 mereka lakukan seperti:

b.     Sistem perdagangan mereka yang sangat buruk, baik ketika berjualan ataupun membeli…mereka apabila menimbang dari orang lain maka menuntut untuk dipenuhi haknya dan dikasih tambahan. Namun, apabila mereka yang menimbang untuk orang lain maka mengurangi takarannya. Seperti direkam oleh Allah ta'ala didalam firman -Nya melalui lisan

 nabi -Nya:

﴿ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡر وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡم مُّحِيط ٨٤﴾ [ هود ]

 "Syu'aib berkata:

 "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain -Dia. dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)". (QS Huud: 84).

c.     Mereka adalah orang yang senantiasa merugikan hak-hak orang lain. Dan perilaku dosa ini sifatnya lebih umum dari yang sebelumnya. Karena yang namanya merugikan mencakup dalam berbagai hal baik mengurangi atau mencela dalam segala perkara, dan perkara-perkara tersebut juga meluas daripada hanya sekedar dalam meminta tambahan dan mengurangi ketika menakar. Hal tersebut seperti dilarang oleh nabi Syu'aib yang Allah Shubhanahu wa ta’alla rekam

  dalam firman -Nya:

﴿وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ٨٥﴾[هود ]

"Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka". (QS Huud: 85).

Yang mana nabi Syu'aib 'alaihi sallam melarang mereka dengan larangan ini, supaya mereka tidak lagi merugikan hak orang lain dalam harta benda.

d.     Membikin kerusakan dimuka bumi. Memprovokasi kerusakan, dengan berbagai sarananya, mulai dari tindakan lalim, berlaku sewenang-wenang, mengganggu orang lain baik dari segi harta, kehormatan maupun jiwa. Sebagaimana Allah Shubhanahu wa ta’alla ceritakan dalam firman -Nya tentang dakwah nabi -Nya ketika sedang menasehati kaumnya, Allah Shubhanahu

 wa ta’alla berfirman:

﴿ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ٨٥ ﴾ [ هود]

"Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan". (QS Huud: 85).

e.     Menghalang-halangi manusia dari jalannya Allah azza wa jalla. Yang mana mereka biasa duduk-duduk ditepi jalan, lalu memperingatkan setiap orang yang lewat supaya jangan terpincut dengan dakwahnya nabi Syu'aib 'alaihi sallam. Bukan hanya itu saja, mereka juga sering mengancam dan menakut-nakuti orang-orang yang telah beriman kepada nabi Syu'aib. Seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla kisahkan dalam firman -Nya ketika menceritkan dakwah nabi Syu'aib, Allah Shubhanahu

 wa ta’alla berfirman:

﴿ وَلَا تَقۡعُدُواْ بِكُلِّ صِرَٰط تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِهِۦ وَتَبۡغُونَهَا عِوَجاۚ ٨٦  ﴾ [ الأعراف]

"Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok". (QS al-A'raaf: 86).

f.   Dan diantara keyakinan batil mereka ialah mengingkari turut campurnya nabi Syu'aib 'alaihi sallam dalam urusan dunia serta enggan menerima usulan beliau dalam urusan agama. Mereka mengatakan seperti yang dinukil oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla

 dalam firman -Nya:

﴿ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ أَوۡ أَن نَّفۡعَلَ فِيٓ أَمۡوَٰلِنَا مَا نَشَٰٓؤُاْۖ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ٨٧  ﴾ [ هود]

 "Mereka berkata:

 "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal". (QS Huud: 87).

Diriwayatnya dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa beliau pernah berkata,"Syu'aib adalah seorang nabi dan juga rasul yang datang setelah nabi Yusuf. Dan diantara berita beliau dan juga kaumnya yang ada didalam al-Qur'an ialah

 firman Allah ta'ala:

﴿ وَإِلَىٰ مَدۡيَنَ أَخَاهُمۡ شُعَيۡباۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ٨٥ ﴾ [ الأعراف]

"Dan (kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka,

 Syu'aib. ia berkata:

"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain -Nya". (QS al-A'raaf: 85).

Dan mereka -bersamaan dengan kesyirikan yang terjadi ditengah-tengah mereka- adalah orang-orang yang suka mengurangi takaran dan timbangan, ditambah lagi dengan kekufuran yang mereka lakukan kepada Rabbnya serta mendustakan nabinya, penduduk yang sudah kelewat batas dan berlaku sewenang-wenang, biasa duduk-duduk di pinggir jalan mengganggu harta orang yang lewat dihadapannya, hingga akhirnya mereka mampu membelinya, merekalah pencetus kerusakan semacam tadi, dan jika ada orang asing yang datang ke kampungnya maka mereka mengambil uangnya sambil mengatakan, uangnya kami simpan, lalu mereka menimbang dan membelinya dengan cara mengurangi timbangan, itulah yang dimaksud dengan

 firman Allah ta'ala:

﴿ وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَا ٥٦ ﴾ [ الأعراف ]

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya". (QS al-A'raaf: 56).

Negeri mereka adalah negeri yang kaya, banyak menyimpan bahan pokok dan makanan sehingga biasa didatangi banyak orang, dan diantara kebiasaan jeleknya yang lain ialah duduk-duduk di pinggir jalan untuk mencegah orang-orang yang ingin mendatangi Syu'aib sambil mengatakan, 'Jangan dengarkan ucapan Syu'aib, sungguh dia adalah pendusta yang akan menipu kalian'. Inilah yang dimaksud dengan firman

  Allah tabaraka wa ta'ala:

﴿ وَلَا تَقۡعُدُواْ بِكُلِّ صِرَٰط تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِهِۦ وَتَبۡغُونَهَا عِوَجاۚ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ كُنتُمۡ قَلِيلا فَكَثَّرَكُمۡۖ وَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٨٦ ﴾ [ الأعراف ]

"Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok". (QS al-A'raaf: 86).

Mereka mengatakan, kalau kalian mengikuti Syu'aib niscaya kalian akan terkena fitnahnya, lalu mereka juga mengancam nabi Syu'aib 'alaihi sallam seraya mengatakan, 'Wahai Syu'aib, kamu lebih memilih untuk kami usir dari kampung kita ini atau memilih engkau kembali ke agama kami', yakni agama nenek moyang mereka. Maka beliau menjawab seperti dinukil oleh Allah ta'ala

 didalam firman -Nya:

 ﴿ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ٨٨ ﴾ [ هود ]

"Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada –Nya -lah aku kembali". (QS Huud: 88).

Sahabat Ibnu Abbas melanjutkan, "Adapun nabi Syu'aib maka beliau adalah seorang yang sangat bijak, jujur dan rendah diri. Dan Rasulallah Shalallahu 'alaihi sallam jika mengingat tentang nabi Syu'aib maka beliau mengatakan, "Beliau adalah oratornya para nabi". Karena kesabaran beliau bolak-balik untuk senantiasa menasehati kaumnya dan saking seringnya beliau ditolak oleh mereka".[10]

Nabi Syu'aib 'alaihi sallam adalah orang yang banyak mengerjakan sholat[11], konsisten dalam beribadah kepada Allah ta'ala baik yang fardu maupun yang sunah, tatkala beliau dicegah oleh kaumnya dan dicela karena banyaknya sholat yang beliau lakukan sehingga sebagai bahan olok-olok oleh mereka[12], sambil mengatakan seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla kabarkan tentang mereka

 didalam firman -Nya:

﴿ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ أَوۡ أَن نَّفۡعَلَ فِيٓ أَمۡوَٰلِنَا مَا نَشَٰٓؤُاْۖ ٨٧ ﴾ [ هود]

 "Mereka berkata:

 "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami". (QS Huud: 87).

Artinya kaumnya nabi Syu'aib 'alaihi sallam berkata padanya, "Wahai Syu'aib, apakah sholatmu yang menyuruhmu agar kami menginggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami dari berhala dan patung, ataukah membiarkan kami melakukan sesuka hati terhadap harta-harta yang kami miliki dari melebur dirham atau memotongnya serta merugikan orang lain dalam timbangan dan takaran".[13] Dengan sanggahan seperti itulah mereka menentang dakwah beliau yang ingin menghapus praktek kesyirikan ditengah-tengah kaumnya, serta melarang mereka agar tidak mengurangi timbangan dan takaran.

Adapun perintah beliau yang pertama maka mereka menentangnya sambil berargumen jika mereka sudah benar ketika menempuh metode nenek moyangnya dalam beragama dan keimanan. Sedangkan perintah yang kedua maka mereka menolaknya sambil berdalil kalau mereka bebas memberlakukan harta yang mereka miliki, mereka boleh sesukanya untuk menggunakan hartanya dengan perkara yang bisa mendatangkan keuntungan[14].

Mereka sibuk lagi tamak untuk meraup harta dari kaumnya nabi Syu'aib 'alaihi sallam hingga mereka tidak mampu lagi mengendalikan emosi dan kelalimannya. Mereka begitu bangga dengan harta yang mereka usahakan dari hasil perniagaan yang mereka kira murni dari hasil keringatnya, oleh karena itu mereka merasa bebas untuk berbuat sesukanya, membelanjakan semau yang mereka inginkan, dan menolak mentah-mentah adanya peraturan dagang yang menghalangi kebiasaan mereka dalam bermuamalah, dimana mereka begitu antusias dan bersemangat untuk meraup keuntungan sebesar mungkin dengan modal yang paling sedikit, dan mereka menganggap metode dan trik dagang seperti ini merupakan trik yang paling jenius dan brilian dalam sistem perdagangan mereka, sehingga mereka menganggap adanya campur tangan yang mengkritisi sistem kebebasan dagang mereka sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup mereka.[15]

  Kesimpulannya:

Bahwa penduduk Madyan menentang nabi Syu'aib 'alaihi sallam dari dua sisi, sisi ukhrawi dan sisi duniawi. Dengan anggapan yang dipenuhi dengan perkara syubhat dan hujah yang ompong[16]. Adapun bentuk pertanyaan mereka yang tercantum dalam ayat, yang artinya, "Apakah sembahyangmu". Adalah sebagai bentuk pengingkaran dan olok-olok pada beliau.

Sebab ketika mereka melihat beliau banyak mengerjakan sholat, mereka mengira dengan kepandirannya, kalau sholat ini merupakan hasil dari was-was dan perbuatan gila. Sehingga mereka menegaskan, "Apa hubungan sholatmu dengan agama dan keyakinan kami yang telah kami warisi dari nenek moyang kami, dari generasi ke generasi? Apa kaitan sholatmu dengan harta benda dan perniagaan kami yang merupakan hak kami untuk berkreasi sesuka kami dengan menerapkan bea ataupun mengurangi takaran? Maka mereka mengatakan seperti yang Allah tabaraka wa ta'ala nukil dalam

  firman -Nya:

﴿ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ٨٧  ﴾ [ هود ]

" Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal". (QS Huud: 87).

Mereka mengucapkan hal itu sebagai bentuk ejekan kepada nabi Syu'aib 'alaihi sallam.[17] Hanya saja mereka mengatakan hal tersebut karena tidak paham dengan makna dakwah yang dibawa oleh nabi Syu'aib 'alaihi sallam, seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla nukil kan ucapan mereka

 didalam firman -Nya:

﴿ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرا مِّمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفاۖ ٩١ ﴾ [ هود]

 "Mereka berkata:

 "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami". (QS Huud: 91).

Mereka mengira jika agama yang di pegang oleh nabi Syu'aib 'alaihi sallam, dari mengerjakan sholat, membaca, berdoa dan ritual ibadah lainnya, mereka menyangka bahwa larangan untuk beribadah kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla dan membelanjakan harta dengan cara yang batil tidaklah dilakukan kecuali karena adanya was-was yang dihasilkan dari ibadah sholat tersebut. Mereka tidak mengerti apa tauhid, tidak pula mengetahui gambaran agama secara utuh.

Oleh sebab itu, mereka mulai mengejek beliau dengan perkataannya, "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal". Artinya mereka mengata-ngatai beliau itu sebagai orang yang pandir dan bodoh.[18] Akan tetapi, nabiyullah Syu'aib 'alaihi sallam yang mendapat julukan ahli pidatonya para nabi, menjawab olok-olok umatnya tersebut dengan jawaban yang baik dan penuh kelembutan. Dimana beliau menjawab, seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla abadikan

  didalam firman -Nya:

﴿ قَالَ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَة مِّن رَّبِّي وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَناۚ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ٨٨ وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ أَن يُصِيبَكُم مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحۚ وَمَا قَوۡمُ لُوط مِّنكُم بِبَعِيد ٨٩ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيم وَدُود ٩٠﴾ [ هود]

 "Syu'aib berkata:

"Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahkan padaku dari pada -Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah -Nya)? dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada –Nya -lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Huud atau kaum shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada -Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih". (QS Huud: 88-90).

Namun, apalah daya jika umat tersebut telah tebal dan mengeras hatinya sehingga kecil kemungkinan untuk mau mendengar nasehat yang diberikan, justru sebaliknya mereka mengancam akan merajam nabi Syu'aib 'alaihi sallam, sebagaimana yang Allah Shubhanahu wa ta’alla jelaskan tindakan nekat tersebut

 didalam firman -Nya:

﴿ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرا مِّمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفاۖ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيز ٩١ قَالَ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيط ٩٢ وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ إِنِّي عَٰمِلۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَاب يُخۡزِيهِ وَمَنۡ هُوَ كَٰذِبۖ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيب ٩٣ ﴾ [ هود ]

 "Mereka berkata:

 "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami.

  Syu'aib menjawab:

 "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan. Dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu". (QS Huud: 91-93).

Kebinasaan

  Serta Nasib Mereka:

Tidak bosannya nabi Syu'aib 'alaihi sallam untuk mendakwahi mereka, maka tatkala mereka bersikap angkuh kepada Allah jalla wa 'ala mereka ditimpa dengan gempa yang dahsyat, yaitu ketika malaikat Jibril turun lalu berdiri ditengah-tengah mereka lalu terdengarlah suara yang mengguntur yang membikin gunung-gunung meletus serta bumi bergoncang, setelah itu keluarlah nyawa mereka satu persatu, meregang merasakan sakitnya adzab. Itulah yang disinyalir oleh Allah ta'ala

 didalam firman -Nya:

﴿ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ  ٩١ ﴾ [ الأعراف ]

"Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka". (QS al-A'raaf: 91).

Kejadiannya, manakala mereka mendengar lengkingan suara mereka terbangun dan sangat terkejut dan panik, maka seketika itu gempa dahsyat mengoncang negerinya lalu mereka berjatuhan satu persatu mati. [19] Hal ini sebagaimana Allah Shubhanahu wa ta’alla jelaskan

 didalam firman -Nya:

﴿ وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا نَجَّيۡنَا شُعَيۡبا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَة مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ  ٩٤ ﴾ [ هود ]

"Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya". (QS Huud: 94).

Artinya orang-orang kafir dari kalangan kaumnya nabi Syu'aib ditimpa adzab rajfah yaitu gempa bumi yang menggoncang mereka sebagai siksaan dari Allah Shubhanahu wa ta’alla.

Dan sifat adzab yang menimpa mereka kelak, manakala mereka meminta diturunkan adzab maka Allah Shubhanahu wa ta’alla buka untuknya pintu neraka Jahanam, maka mereka disiksa dengan apinya yang luar biasa panasnya, tidak ada air minum tidak pula tempat untuk berteduh, kemudian datang mendung yang membawa angin yang sejuk, namun mereka merasakan dingin yang luar biasa, maka ketika datang mendung tersebut mereka diseru, 'Ini tempat berteduh untuk kalian'. Tatkala mereka telah berkumpul dibawah mendung  -laki-laki dan perempuan serta anak-anak kecil- seketika itu mereka dikunci maka merekapun mati. Seperti yang Allah ta'ala terangkan

  didalam firman -Nya:

﴿ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمۡ عَذَابُ يَوۡمِ ٱلظُّلَّةِۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٍ ١٨٩ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ١٩٠ ﴾ [ الشعراء]

"Kemudian mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah aazab hari yang besar. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman". (QS asy-Syu'araa': 189-190)[20].

Imam al-Qurthubi menjelaskan, "Kaumnya nabi Syu'aib 'alaihi sallam di siksa dengan suara yang mengguntur diatas mereka"[21]. Berdasarkan firman

  Allah tabaraka wa ta'ala:

﴿ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةۖ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ١٩٠ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ ١٩١﴾ [ الشعراء]

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang". (QS asy-Syu'araa': 190-191).



[1] . Lihat nukilanya dalam kitab Bidayah wa Nihayah 1/191 oleh Ibnu Katsir. Dan saya tidak menjumpai dalam cetakan kitab Tarikh Ibnu Asakir yang menerangkan riwayat diatas, dan dijelaskan oleh ulama yang meneleti kitabnya tersebut bahwa dalam asli kitab tersebut memang tidak dicantumkan tanggal sejarah manakala menerangkan nabi Syu'aib 'alaihi sallam.

[2] . Lihat penjelasannya dalam Tarikh Thabari 1/325 dan dalam Tafsirnya 5/8/166. juga dalam kitab al-Kamil 1/78-88 oleh Ibnu Atsir. Ad-Durarul Mantsur 3/102 oleh Suyuthi.

[3] . Lihat penjelasannya oleh al-Jauhari dalam kitabnya ash-Shihah 4/1575.

[4] . Lisanul Arab 1/286 oleh Ibnu Mandhur. Tafsir Ibnu Katsir 3/345.

[5] . al-Jauhari dalam kitabnya ash-Shihah 4/1575-1576.

[6] . Mu'jam Ma'alim al-Hijaz 8/193 oleh A'iq al-Baladi, Mu'jamul Buldan 5/92 oleh Yaqut al-Hamawi.

[7] . Bidayah wa Nihayah 1/185 oleh Ibnu Katsir.

[8] . Tafsir Ibnu Katsir 3/345.

[9] . Tarikh Umam wal Muluk 1/326 oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, al-Kamil fiil Tarikh 23/71 oleh Ibnu Asakir.

[10] . ad-Durarul Mantsur 3/102 oleh Suyuthi.

[11] . Seperti ditegaskan oleh Imam Suyuti dalam kitabnya ad-Durarul Mantsur 3/346.

[12] . Tafsir al-Qurthubi 5/9/58.

[13] . lihat dalam Tafsirnya Ibnu Jarir 7/12/62.

[14] . Tafsir al-Muraghi 12/72.

[15] . Taisir fii Ahadits Tafsir 3/139 oleh Muhammad Makki an-Nashir.

[16] . Tafsir al-Muraghi 12/73.

[17] . Tafsir Ibnu Katsir 2/456. lihat apa yang dikatakan oleh Shidiq Hasan Khan dalam kitabnya Fathul Bayan dan Imam Suyuthi dalam ad-Durar 3/347, beliau menyandarkan riwayat ini pada Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas.

[18] . Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari 7/12/62.

[19] . ad-Durarul Mantsur 3/102 oleh Suyuthi.

[20] . Tafsir Ibnu Jarir 6/9/4. Durarul Mantsur 4/404 oleh Suyuti.

[21] . Tafsir al-Qurthubi 9/62.

Kategori ilmiyah:

Tanggapan anda