Paganisme Sebelum Nabi Musa alaihissalam

Keterangan

Paganisme Sebelum Nabi Musa alaihissalam :
Sejarah penyembahan berhala ternyata tidak sebatas dongeng pada umat-umat terdahulu, buktinya pada zaman sekarangpun masih banyak yang menyembah berhala. Dan bila dicermati ternyata pangkal dan tujuannya sama, entah menjadikan sebagai wasilah, sebagai penolak bala, ingin supaya dipenuhi hajatnya atau mencari manfaat lainnya, nah mudah-mudahan dengan mengulas masalah ini, kita bisa memahaminya …..

Download
Kirim komentar untuk Webmaster

Deskripsi terperinci

 Paganisme Sebelum Nabi Musa alaihissalam

 الشرك قبل قوم موسى عليه السلام

 Paganisme Sebelum Nabi Musa alaihissalam

Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'alaihi wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shallallahu

 'alaihi wasallam adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba'du:

Dijelaskan dalam rangkaian sejarah bahwa umat-umat diantara kurun waktu ini, yakni sebelum diutusnya nabi Musa 'alaihi sallam, mereka semua dikisahkan telah dibinasakan oleh Allah azza wa jalla, dan kejadiannya terjadi sebelum diturunkan kitab suci Taurat,

  berdasarkan firman Allah tabaraka wa ta'ala yang menegaskan di dalam firman -Nya:

﴿ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ مِنۢ بَعۡدِ مَآ أَهۡلَكۡنَا ٱلۡقُرُونَ ٱلۡأُولَى (٤٣) ﴾ القصص

"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu". (QS al-Qashash: 43).

Sebagaiman diriwayatkan oleh Imam Thabari dan Ibnu Abi Hatim serta al-Bazzar[1] dari haditsnya Auf al-Arabi dari Abu Nadhrah[2] dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak pernah membinasakan suatu kaum dimuka bumi ini dengan adzab yang turun dari langit atau muncul dari bumi setelah diturunkannya kitab Taurat kecuali perkampungan yang diabdzab oleh –Nya dengan dirubah menjadi kera. Tidakkah engkau melihat ketika Allah Shubhanahu wa ta’alla mengatakan didalam firman -Nya:

﴿ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ مِنۢ بَعۡدِ مَآ أَهۡلَكۡنَا ٱلۡقُرُونَ ٱلۡأُولَىٰ (٤٣) ﴾القصص

"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu". (QS al-Qashash: 43).[3]

   Hadits ini dinyatakan sebagai hadits yang marfu', sampai kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi sallam oleh al-Bazzar, namun, yang lebih condong dalam hal ini ialah hadits mauquf, hanya sampai kepada sahabat[4]. Maka hal tersebut menunjukan bahwa seluruh umat dibinasakan secara total oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla sebelum datang nabi Musa 'alaihi sallam,

  diantara umat-umat tersebut ialah:

1.         Penduduk Rass

 Allah ta'ala menjelaskan dalam firman -Nya:

﴿ وَعَادا وَثَمُودَاْ وَأَصۡحَٰبَ ٱلرَّسِّ وَقُرُونَۢا بَيۡنَ ذَٰلِكَ كَثِيرا ٣٨ وَكُلّا ضَرَبۡنَا لَهُ ٱلۡأَمۡثَٰلَۖ وَكُلّا تَبَّرۡنَا تَتۡبِيرا (٣٩) ﴾الفرقان

"Dan (kami binasakan) kaum 'Aad dan Tsamud dan penduduk Rass dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum- kaum tersebut. Dan Kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya". (QS al-Furqaan: 38-39).

 Dan juga firman Allah ta'ala:

﴿ كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوح وَأَصۡحَٰبُ ٱلرَّسِّ وَثَمُودُ (١٢) وَعَاد وَفِرۡعَوۡنُ وَإِخۡوَٰنُ لُوط (١٣) وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡأَيۡكَةِ وَقَوۡمُ تُبَّعۚ كُلّ كَذَّبَ ٱلرُّسُلَ فَحَقَّ وَعِيدِ (١٤) ﴾ق

"Sebelum mereka telah mendustakan (pula) kaum Nuh dan penduduk Rass dan Tsamud, dan kaum Aad, kaum Fir'aun dan kaum Luth, dan penduduk Aikah serta kaum Tubba' semuanya telah mendustakan Rasul- Rasul Maka sudah semestinyalah mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan". (QS Qaaf: 12-14).

Konteks ayat diatas dan yang sebelumnya menunjukan bahwa mereka dibinasakan dan dihancurkan sampai bersih.

 Siapa Yang Dimaksud Dengan Penduduk Rass:

Terjadi silang pendapat dikalangan ahli sejarah ketika menyebutkan siapa mereka dan keyakinan apa yang mereka anut, sejarahwan mengatakan tentang jati diri penduduk Rass ini,

 dengan mengatakan:

a.          Kata tersebut dalam bahasa Arab berarti telaga yang sudah kering airnya. Adapun bentuk pluralnya ialah Ra'aas[5].

b.         Kata itu bermakna setiap galian yang ada ditanah baik berupa sumur ataupun liang kubur.

c.          Sesungguhnya Rass itu bermakna pertambangan. Pendapat ini yang dipegang oleh Abu Ubaidah[6].

d.         Rass adalah sebuah perkampungan yang berada di Yamamah yang disebut dengan al-Falaj, termasuk dari kaumnya Tsamud. Inilah yang dikatakan oleh Qatadah.

e.         Dan juga pernyataan-pernyataan lain dari pakar sejarah.

Dan posisi Rass berada di sekitar wilayah Najran dan Yaman sampai ke Hadramaut. Sebagaimana ditegaskan oleh sebagian ahli tafsir[7]. Ada pula yang mengatakan kalau Ras situ adalah air dan perkebunan kurma miliknya kabilah Asad[8]. Ulama lain ada yang menyebutnya salju yang berada dipegunungan. Sering pula diartikan secara bebas dengan makna mendamaikan orang dan merusak diantara mereka, karena kata ini memiliki makna yang saling kontradiktif[9].

Siapa penduduk Rass itu?

 Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini menjadi beberapa pendapat:

1.     Mereka masih termasuk dari kaumnya nabi Syu'aib 'alaihi sallam. Seperti disebutkan oleh sebagian ahli tafsir.

2.     Mereka adalah kaumnya Raswa[10] sedangkan nabi mereka berada disumur. Begitu dikatakan oleh Ikrimah.

3.     Mereka adalah suatu kaum yang sering keluar masuk sumur untuk menyembah patung yang mereka letakan disana. Mereka tidak pandang bulu siapapun yang menyelesihi agamanya melainkan mereka pasti akan membunuhnya lalu mencemplungkan ke dalam sumur tersebut. Dan keberadaan kaum Rass ini berada di Syam. Demikian seperti yang dikatakan oleh adh-Dhahak.

4.     Mereka adalah suatu kaum yang Allah Shubhanahu wa ta’alla mengutus pada mereka seorang rasul lalu mereka memakannya. Merekalah pionir kejahatan sihir dengan menggunakan para wanitanya. Itulah yang dinyatakan oleh al-Kalbi.[11]

5.     Mereka suatu kaum yang tinggal di Yamamah dan memiliki banyak sumur. Demikian yang dikatakan oleh Qatadah[12]. Dan pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Asakir dengan membawakan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa mereka adalah kaumnya nabi Syu'aib 'alihi sallam.[13]

6.     Rass adalah sebuah sumur tempat terbunuhnya penduduk Yasin dan Raswah. Pendapat ini seperti dalam riwayatnya adh-Dhahak[14], dan pendapatnya as-Sudi juga Muqotil[15].

7.     Sedangkan dalam riwayat Ibnu Abbas maka ada beberapa redaksi,

  yaitu:

a.     Mereka adalah penduduk yang banyak mempunyai sumur yang berada di Adrabijan, mereka telah membunuh para nabinya, lantas mereka diadzab dengan tanah yang tandus sehingga semua tanaman dan pohon yang mereka milik mati, akhirnya mereka semua mati kelaparan dan kehausan[16].

b.     Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir sampai kepada beliau yang menjelaskan bahwa Rass adalah perkampungan penduduk Tsamud.[17]

c.     Dikeluarkan oleh Ibnu Mundzir[18] dan Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Abbas bahwa beliau pernah bertanya kepada Ka'ab tentang penduduk Rass, maka beliau menjawab, "Mereka adalah penduduk sumur yang berkata, wahai kaum ikutilah para utusan Allah…".[19]

1.       Mereka adalah ashabul Ukhdud.[20]

2.       Ada pula yang mengatakan mereka adalah kaumnya Handhalah bin Shafwan. Dialah yang dikatakan oleh Ibnu Asakir dalam kitab Tarikhnya[21], dan beliau menguatkan pendapatnya ini.

 Kesyirikan Yang Mereka Lakukan:

Adapun kesyirikan yang mereka lakukan maka ada yang mengatakan mereka adalah para penyembah pohon. Ada pula yang menyatakan mereka para penyembah patung[22]. Dan pendapat ketiga menguatkan bahwa mereka adalah kaumnya Handhalah bin Shafwan, seperti dikatakan oleh al-Hafidh Ibnu Katsir didalam buku sejarahnya ketika mengkisahkan tentang mereka, beliau menjelaskan, "Mereka memiliki sebuah sumur yang mencukupi kebutuhan hidup dan pertanian mereka, disamping itu mereka juga mempunyai seorang raja yang adil lagi bijaksana.

Sehingga ketika rajanya meninggal, mereka begitu merasa kehilangan dengannya. Maka, tidak lama setelah itu datang pada mereka setan yang menyerupai wajah raja tersebut lalu berkata padanya, "Sesungguhnya aku tidak mati, tapi menghilang dari kalian karena aku ingin melihat apa yang kalian lakukan sepeninggalanku". Betapa bahagianya mereka ketika menjumpai ternyata rajanya masih hidup. Dirinya lalu menyuruh membikin tabir untuk menutupinya, dan mengabarkan pada mereka kalau dirinya tidak mungkin mati selama-lamanya.

Selanjutnya banyak diantara mereka yang mempercayai ucapan setan tadi serta termakan dengan omongannya sehingga akhirnya mereka menyembahnya. Pada saat itulah Allah ta'ala mengutus nabi -Nya yang mengabarkan pada mereka kalau itu adalah setan yang mengajak bicara dibalik tabir tersebut, lalu nabi tadi melarang untuk tidak menyembahnya, serta menyuruh agar mereka beribadah hanya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tidak menyekutukan -Nya.

As-Suhaili menerangkan, "Dirinya mendapat mimpi ketika sedang tidur, nama beliau adalah Handhalah bin Shafwan, lantas mereka menentangnya lalu membunuh dan memasukan jenazahnya kedalam sumur tadi, tidak berapa lama tiba-tiba airnya menjadi menyusut hingga akhirnya mereka kehausan, pepohonan menjadi kekeringan, tidak mau berbuah, tempat tinggal mereka runtuh, kondisinya berubah dari yang tadinya makmur menjadi kering kerontang dan mencekam, dari persatuan menjadi saling berselisih, akhirnya mereka dibinasakan semuanya oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla ".[23]

Pendapat terakhir ini yang lebih saya pilih dari pendapat lainnya, bila ditinjau dari segi pendapat-pendapat yang mempunyai mata rangtai sanad lainnya, sebagaimana dipahami dari kisah yang dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir dimana beliau lebih condong untuk menguatkan pendapat ini. Bahwa kesyirikan yang dilakukan oleh kaum ini ialah beribadah kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, mulai dari bebatuan, atau pepohonan, atau patung, atau seorang manusia yang mereka terfitnah dikala dirinya meninggal, seperti dijelaskan dalam kisah diatas.

2.    Kisah ashabul Qoryah (Penduduk suatu negeri):

Sebagaimana dikisahkan oleh Allah ta'ala tentang keberadaan mereka didalam firman -Nya, seperti diantaranya, Allah Shubhanahu wa ta’

 alla berfirman:

﴿ وَٱضۡرِبۡ لَهُم مَّثَلًا أَصۡحَٰبَ ٱلۡقَرۡيَةِ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ (١٣)إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِث فَقَالُوٓاْ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ (١٤)قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَر مِّثۡلُنَا وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ (١٥) قَالُواْ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ  (١٦)وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ (١٧) قَالُوٓاْ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيم (١٨) قَالُواْ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡم مُّسۡرِفُونَ (١٩) ﴾  يس

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu". Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka". Mereka berkata: "Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu". Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami". Utusan-utusan itu berkata: "Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas".  (QS Yaasin: 13-19).

Berikut ini akan kami paparkan riwayat-riwayat yang mengkisahkan tentang Ashabul Qoryah serta kesyirikan yang terjadi ditengah-tengah mereka:

Adapun Qoryah (negeri) tersebut serta penduduknya maka yang masyhur dikalangan para ulama salaf dan ulama belakangan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Qoryah ini tiada lain ialah Anthakiyah, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq[24] mengacu dengan riwayat yang sampai kepadanya dari sahabat Ibnu Abbas, Ka'ab al-Akhbar dan Wahb bin Munabih. Begitu pula diriwayatkan dari Buraidah bin al-Hushaib [25], Ikrimah, Qatadah dan az-Zuhri [26] serta ulama lainnya. Pendapat inilah yang banyak dipegang oleh jumhur ahli tafsir.[27]

Ashabul Qoryah,

 Sesembahan Serta Rasul Yang Diutus Ke Mereka:

Imam Ibnu Ishaq membawakan sebuah riwayat yang sampai padanya, dari sahabat Ibnu Abbas dan Ka'ab serta Wahab bin Munabih, bahwa mereka mengatakan, "Penduduk Qoryah mempunyai seorang raja yang bernama Anthikhas bin Inthikhas, dirinya mempunyai patung yang biasa disembah, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla mengutus kepada penduduk tersebut tiga orang rasul, mereka bernama Shodiq, Shoduq dan Syalum. Namun, mereka mendustakan para utusan –Nya tersebut".[28]

Imam Ibnu Jarir menerangkan, "(Ketiga utusan tersebut bernama) Shodiq dan Shoduq serta Syalum, lalu seseorang diantara mereka diutus kepada penduduk tersebut lalu yang kedua di utus kepada penduduk Madinah, lalu mereka mendustkan kedua utusan tersebut, kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla mengistimewakan yang ketiga dari yang lainya".[29]

Setelah menjelaskan hal tersebut, Imam Ibnu Katsir mengomentari, "Yang nampak bahwa mereka adalah utusan dari Allah azza wa jalla".[30] Adapun raja Anthakiyah dia merupakan salah satu dari anggota dinasti Fir'aun, yang menyembah berhala, mempraktekan kesyirikan bersama penduduknya, dan mereka mempunyai tiga patung yang biasa disembah, yaitu seperti di tuturkan oleh an-Naqasy [31], "Nama-nama berhala tersebut ialah Rumsa, ada yang mengatakan namanya Arthamis". Dan para ulama berbeda pendapat tentang nama raja tersebut menjadi dua pendapat, ada yang mengatakan namanya ialah Anthikhas, pendapat kedua menyebutkan namanya ialah Anthara.[32] Dan menurut pendapat yang pilih oleh Ibnu Jarir namanya adalah Ibthihas.[33]

Sedang Qatadah mengklaim bahwa nama-nama utusan tadi ialah utusan dari al-Masih, bukan utusan tersendiri yang Allah Shubhanahu wa ta’alla angkat untuk kaum tersebut, namun, nabi Isa 'alaihi sallam yang mengutus mereka untuk penduduk tersebut. Adapun nama dua utusan yang pertama ialah Syam'un dan Yohana, adapun nama utusan yang ketiga bernama Paulus sedangkan nama negerinya ialah Anthakiyah.[34]

Imam Ibnu Katsir mengomentari pendapat tadi dengan mengatakan, "Pendapat ini sangat lemah, sebab penduduk Anthakiyah beriman kepada nabi Isa tatkala beliau diutus kepada mereka, diantaranya ada tiga orang yang menjadi pengikut setianya. Dan Anthakiyah tersebut merupakan salah satu dari tiga kota yang pertama kali beriman dengan al-Masih pada masa itu. Oleh sebab itu, kota ini sekarang menjadi salah satu dari empat kota besar yang masih memiliki agama Nashrani yang kuat, yaitu Anthakiyah[35], al-Quds, Alexanderia, dan roma, kemudian ditambah dengan Kostantinopel, mereka ini semua tidak dibinasakan.

Sedangkan penduduk yang dicantumkan dalam al-Qur'an mereka itulah yang dibinasakan tanpa tersisa, sebagaimana dijelaskan dalam akhir kisah mereka, manakala membunuh para utusan yang datang pada mereka. Allah Shubhanahu wa ta

 ’alla menegaskan dalam firman -Nya:

﴿ إِن كَانَتۡ إِلَّا صَيۡحَة وَٰحِدَة فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ٢٩  ﴾ [ يس: 29 ]

"Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati".  (QS Yaasin: 29).

    Akan tetapi, taruhlah benar jika tiga rasul yang disebutkan dalam al-Qur'an tadi memang diutus kepada penduduk Anthakiyah yang ada pada saat itu lalu mereka mendustakannya sehingga Allah Shubhanahu wa ta’alla membinasakan mereka semua. Kemudian negeri tersebut hidup kembali, dan manakala pada zamannya nabi Isa 'alaihi sallam maka mereka beriman kepada rasul yang diutus pada mereka. Barangkali kalau demikian maksudnya maka tidak mengapa, wallahu a'lam".[36]

Kemudian Imam Ibnu Katsir melanjutkan dengan menuturkan, "Adapun pendapat yang menyatakan bahwa kisah ini yakni yang dikisahkan dalam al-Qur'an adalah kisah pengikutnya nabi Isa, maka pendapat ini lemah. Sebagaimana telah kami kemukakan argumennya. Sebab tekstual yang ada didalam al-Qur'an mengandung konsekuensi kalau para utusan (yang diutus oleh nabi Isa) tersebut datang dari sisi Allah ta'ala".[37]

Sebagaimana telah lewat pembahasannya jikalau Allah ta'ala tidak membinasakan suatu kaum dengan suatu adzab dari langit ataupun dari bumi sebelum masanya nabi Musa 'alaihi sallam.[38] Bagaimanapun, mereka adalah para penyembah berhala sebagaimana ditegaskan oleh Allah ta'ala didalam ayat-ayat -Nya, mereka juga menjadikan sesembahan selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, seperti diterangkan dalam firman -Nya tentang para utusan yang diutus pada mereka, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

﴿ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ (٢٢) ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡ‍ٔا وَلَا يُنقِذُونِ (٢٣) إِنِّيٓ إِذا لَّفِي ضَلَٰل مُّبِينٍ

 (٢٤) ﴾يس

"Mengapa aku tidak menyembah (tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada –Nya lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain nya jika (Allah) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata".  (QS Yaasin: 22-24).

Selanjutnya Allah Shubhanahu wa ta’alla memerintahkan pada para utusan –

Nya dengan firman -Nya:

﴿ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ (٢٥) ﴾  يس

"Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu, maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku". (QS Yaasin: 25).

Ketika itulah mereka membunuh utusan Allah Shubhanahu wa ta’alla tersebut. Para ulama ada yang mengatakan, mereka merajamnya, ada yang mengatakan, mereka menggigitnya hingga meninggal, ada pula yang berpendapat, mereka menerkam secara beramai-ramai hingga dia meninggal. Dan dikisahkan oleh Ibnu Ishaq dari beberapa temannya dari Ibnu Mas'ud, beliau mengatakan, 'Mereka menyodomi dengan menggunakan kaki-kaki mereka hingga keluar ususnya dan membikinya mati'.[39]

   Para ahli tafsir menyatakan, "Maka Allah ta'ala mengirim malaikat Jibril 'alaihi sallam, lalu mengambil pengikat pintu yang berada dipintu masuk negeri mereka, kemudian terdengar satu pekikan yang memekakan telinga maka seketika itu tidak lagi terdengar suara mereka tidak pula terlihat aktivitas mereka, dan tidak ada yang tersisa dari mereka kecuali mati dengan adzab tersebut. Sebagaimana direkam oleh Allah Shubhanahu wa ta

 ’alla kejadiannya dalam firman -Nya:

﴿ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُند مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ (٢٨)إِن كَانَتۡ إِلَّا صَيۡحَة وَٰحِدَة فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ (٢٩) ﴾  يس

"Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati". (QS Yaasin: 28-29).

Kemudian Ibnu Katsir menegaskan ucapan diatas dengan pernyataanya, "Dan ini semua memberikan satu petunjuk pada kita kalau penduduk negeri ini bukanlah Anthakiyah". [40] Melainkan seperti dikatakan -Sebagaimana penjelasan beliau sebelumnya- kalau para rasul yang disebut dalam al-Qur'an diutus kepada penduduk Anthakiyah pada masa itu, namun, mereka mendustakannya sehingga Allah ta'ala membinasakan mereka semua. Kemudian setelah itu negeri tersebut di isi lagi oleh penduduk yang lain, dan ketika datang masanya nabi Isa 'alaihi sallam dan beliau diutus kepada mereka maka mereka beriman kepadanya. Bila ini yang dimaksud maka tidak mengapa, wallahu a'lam.

Akan tetapi, perpaduan pendapat ini ada sisi kelemahan yang sangat nampak, sebab negeri ini yakni Anthakiyah tidak pernah diketahui sebelumnya kalau pernah dibinasakan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, baik dalam rujukan agama Nashrani tidak pula agama lain yang datang sebelumnya, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla yang lebih mengetahui ilmunya.

3.    Kisah nabi Yunus 'alaihi sallam.

 Sebagaimana Allah ta'ala kisahkan dalam firman -Nya:

﴿ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِين (٩٨) ﴾يونس

"Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu".  (QS Yunus: 98).

Begitu juga datang kisah beliau didalam ayat lain,

 Allah ta'ala berfirman:

﴿ وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقۡدِرَ عَلَيۡهِ فَنَادَىٰ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ (٨٧) فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَنَجَّيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡغَمِّۚ وَكَذَٰلِكَ نُ‍ۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ (٨٨ )﴾ الأنبياء

"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim". Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (QS al-Anbiyaa': 87-88).

Demikian pula dikisahkan secara panjang lebar oleh Allah ta

'ala didalam firman -Nya:

﴿ وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ (١٣٩) إِذۡ أَبَقَ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ (١٤٠) فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ(١٤١) فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ مُلِيم (١٤٢) فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ (١٤٣) لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ (١٤٤) فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ وَهُوَ سَقِيم  (١٤٥)وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَة مِّن يَقۡطِين( ١٤٦) وَأَرۡسَلۡنَٰهُ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ أَوۡ يَزِيدُونَ ( ١٤٧ )فَ‍َٔامَنُواْ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِين (١٤٨)﴾ الصفات

"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul,  (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu".  (QS ash-Shaaffat: 139-148).

Itulah ayat-ayat yang menerangkan secara garis besar tentang nabi Yunus 'alaihis allam, serta keberadaan kaumnya, yang mau bertaubat dan diterima taubatnya oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, diselamatkan dari adzab yang pasti. Maka berikut ini akan kami paparkan tentang kisah nabi yang mulia ini, kesyirikan yang terjadi pada kaumnya, serta bagaimana akhirnya Allah Shubhanahu wa ta’alla menyelamatkan mereka dari adzab -Nya.

 Nasab nabi Yunus 'alaihi sallam:

Beliau adalah Yunus bin Matta -Dengan memberikan harakat fathah pada huruf mim dan mentasdid huruf taa-. Dalam tafsirnya Abdu razzaq [41] diterangkan kalau nama tersebut adalah nama ibunya[42], akan tetapi pendapat ini tertolak dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu yang menegaskan bila nama tersebut nasab ayahnya.[43]

Inilah pendapat yang shahih, yakni Matta ini adalah ayah beliau bukan nama ibunya. Namun, sayangnya saya belum mendapatkan nasab dan kisah beliau yang lebih jauh dari ini dalam buku-buku induk sejarah, hadits dan lainnya. Kecuali ada yang mengatakan, "Beliau hidup pada zaman perpecahan raja-raja Persia".[44]

Para ulama tafsir ada yang mengatakan, "Allah azza wa jalla mengutus nabi Yunus 'alaihi sallam ke penduduk Ninawa [45] yang masih termasuk bagian dari negeri al-Mushil. Beliau keluar meninggalkan mereka dan menjanjikan akan turun adzab yang menimpa mereka setelah tiga hari kepergiannya.

 Kesyirikan Yang Terjadi Ditengah-tengah Kaumnya:

Dijelaskan oleh Imam Ibnu Atsir [46] tentang kesyirikan yang dilakukan oleh mereka serta kebinasaan yang menimpanya, beliau menuturkan, "Umat beliau adalah orang-orang yang menyembah berhala, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla mengutus nabi -Nya pada mereka untuk mencegah peribadatan tersebut, dan mengajak untuk bertauhid. Beliau tinggal mendakwahi mereka selama tiga puluh tiga tahun, akan tetapi, tidak ada yang mau beriman kepadanya kecuali dua orang saja, maka ketika dirinya berputus asa karena kecil sekali kemungkinan mereka mau beriman, maka beliau berdoa untuk kebinasaan mereka. Namun, beliau ditegur oleh Allah ta'ala, 'Betapa cepat engkau berdoa untuk kebinasaan hamba Ku?! Kembalilah pada mereka dan ajaklah pada agamamu selama empat puluh hari'.

Beliau lalu mematuhi perintah -Nya, dan kembali mendakwahi kaumnya selama tiga puluh tujuh hari, namun, tetap saja mereka tidak ada yang mau memenuhi ajakannya, maka beliau menjanjikan pada kaumnya, 'Sesungguhnya adzab akan menimpa kalian tiga hari kedepan, tandanya warna kulit kalian akan berubah'. Ke esokan harinya benar warna kulit mereka telah berubah, maka mereka mengatakan, 'Sungguh akan turun adzab atas kalian seperti yang dijanjikan oleh Yunus, dirinya sama sekali tidak berdusta dengan ucapannya'.  Beliau menjawab, 'Coba kalian perhatikan, jika kalian bermalam kemudian kalian masih aman dari adzab maka tunggu, jika bukan pada malam harinya maka ketahuilah adzabnya akan turun dipagi harinya…".[47]

Imam Suyuti [48] juga menjelaskan, "Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Sesungguhnya nabi Yunus 'alaihi sallam telah memperingatkan kaumnya dari adzab yang akan menimpa mereka, dan menjanjikan padanya akan datang tiga hari kemudian. Maka hal tersebut menjadikan mereka saling berpencar, berpisah antara anak dan orang tua, kemudian mereka keluar rumah memohon pertolongan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan meminta ampun pada -Nya. Akhirnya Allah Shubhanahu wa ta’alla menahan adzab dari mereka, sedangkan nabi Yunus 'alaihi sallam maka beliau menunggu datang keesokan harinya namun beliau tidak melihat adzab sedikitpun, maka itu dianggap kedustaan yang sangat nyata bagi dirinya, selanjutnya beliau pergi meninggalkan kaumnya dengan perasaan marah dan kesal hingga sampai pada sebuah perahu milik kaumnya, mereka akhirnya membawa dan mengenali beliau dengan baik, tatkala sudah berada diatas kapal terasa perahunya hampir tenggelam, miring kekanan dan kekiri hingga akhirnya kaumnya menceburkan beliau kedalam laut, ketika berada dilaut beliau dimakan oleh ikan paus, begitu memakan beliau ikan tersebut menyelam membawanya kedasar lautan yang sangat gelap, disana nabi Yunus 'alaihi sallam mendengar tasbih yang diucapkan oleh kerikil, maka beliau menyeru kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam kegelapan perut ikan, "Bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".[49]

Mengacu pada kisah ini maka memberi pencerahan pada kita bahwa kaumnya berada dalam kekafiran dan kesyirikan, akan tetapi, mereka bertaubat kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla lalu Allah Shubhanahu wa ta’alla menerima taubatnya.

Inilah akhir dari kisah perjalanan umat-umat yang di sinyalir    dalam ayat sebelum kedatang nabi Musa '

 alaihi sallam yaitu dalam firman Allah ta'ala:

﴿ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ مِنۢ بَعۡدِ مَآ أَهۡلَكۡنَا ٱلۡقُرُونَ ٱلۡأُولَىٰ بَصَآئِرَ لِلنَّاسِ وَهُدى وَرَحۡمَة لَّعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ (٤٣) ﴾القصص

"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat".  (QS al-Qashash: 43).



[1] . Beliau adalah Amr bin Abdul Khaliq al-Bashari, Abu Bakar, penulis kitab musnad yang besar, pada akhir hayatnya beliau mengembara ke Ashfahan dan Syam untuk menyebarkan ilmunya, meninggal pada tahun 292 H. Lihat biografinya dalam Thabaqaatul Hufadh hal: 290 oleh Imam Suyuti.

[2] . Beliau adalah al-Mundzir bin Malik, termasuk dari perawi empat buku induk hadits, dikuatkan oleh an-Nasa'i, Ibnu Ma'in, Abu Zur'ah, dan Ibnu Sa'ad. Lihat biografinya dalam al-Khulashah hal: 387 oleh al-Khazraji. 

[3] . Hadits ini disebutkan oleh al-Haitsami dalam kitab az-Zawaid 7/88. perawi hadits ini adalah perawi yang shahih.

[4] . Bidayah wa Nihayah 1/227 Oleh Ibnu Katsir.

[5] . Seperti dinyatakan oleh Ibnu Mandhur dalam Lisanul Arab 5/201.

[6] . Beliau adalah Ma'mar bin al-Mutsana, mantan sahaya Tamim Quraisy. Pemikiran orang asing begitu kuat dalam dirinya, dirinya begitu membenci orang Arab, adapun dirinya berada dalam keyakinan orang Khawarij. Meninggal pada tahun 210 atau 211 H. lihat biografinya dalam al-Ma'arif hal: 302 oleh Ibnu Qutaibah.

[7] . Lihat empat pendapat diatas yang dinukil oleh al-Mawardi dalam an-Nukat wal Uyun 4/145. 5/344.

[8] . Asad adalah Ibnu Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar, anak keturunannya terkenal dengan nama Bani Asad. Lihat keterangannya dalam al-Ma'arif hal: 39 oleh Ibnu Qutaibah.

[9] . Lihat keterangan-keterangan ini dalam kitab Fathul Qadir 4/76 oleh Syaukani.

[10] . Rassa Syai artinya memulainya, dan jika dikatakan Rass Nabiyuhum bermakna mereka menyembunyikan dan menggalikan tempat untuknya. Lihat penjelasannya dalam Qamus Muhith 2/219 oleh Fairuz Abadi.

[11] . Lihat keterangannya dalam kitab an-Nukat wal Uyun 4/146 oleh Mawardi.

[12] . Ibid.

[13] . Durarul Mantsur 5/71 oleh Suyuti.

[14] . Seperti dinukil oleh al-Mawardi dalam bukunya an-Nukat wal Uyun 5/344.

[15] . Beliau adalah Muqatil bin Sulaiman al-Azdi. Abul Hasan al-Khurasani. Ahli tafsir yang meriwayatkan dari Dhahak dan Mujahid. Dari yang meriwayatkan dari beliau adalah Ibnu Qutaibah, dan Ali bin Ja'ad. Imam Syafi'i menjelaskan tentang beliau, "Orang-orang banyak berhutang budi dalam ilmu tafsir kepadanya". Imam Ibnu Mubarak mengatakan tentangnya, "Betapa bagus tafsir yang beliau katakan jikalau seandainya beliau rawi yang tsiqoh". Meninggal pada tahun 155 H. lihat biografinya dalam al-Khulashah hal: 386 oleh al-Khazraji.

[16] . an-Nukat wal Uyun 5/344 oleh Mawardi. Fathul Qadir 4//76 oleh Syaukani. Riwayatkan ini disandarkan oleh Imam Suyuti sampai pada Ibnu Abi Hatim dari sahabat Ibnu Abbas.

[17] . Tafsir Ibnu Jarir 9/19/10.

[18] . Beliau adalah al-Allamah al-Hafidh Tsiqoh, Abu Bakar, Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir an-Naisaburi. Syaikh penduduk Haram. Penulis buku yang belum ada yang mampu menyamainya. Seperti al-Asyraf, al-Mabsuth, al-Ijma dan Tafsir. Beliau ulama yang paling paham tentang perdedaan dikalangan madzhab beserta dalil-dalilnya. Beliau seorang mujtahid mutlak tanpa taklid kepada seorang pun. Meninggal di kota Makah pada tahun 318 H.

  Lihat biografinya dalam Thabaqaatul Hufaadh hal: 330 oleh Suyuthi.

[19] . Durarul Mantsur 5/71 oleh Imam Suyuthi.

[20] . Seperti dikatakan oleh Mawardi dalam an-Nukat wal Uyun 5/345. Imam Ibnu Katsir dalam Bidayah wa Nihayah 1/227.

[21] . Seperti dikatakan pula oleh Imam Ibnu Katsir dalam Bidayah wa Nihayah 1/226 dan Fathul Qadir 4/76.

[22] . Fathul Qadir 4/76 oleh Syaukani.

[23] . Bidayah wa Nihayah 1/227 oleh Ibnu Katsir.

[24] . Beliau adalah Muhammad bin Ishaq bin Yasaar bin Qais bin Makhramh bin Abdu Manaf, al-Mathlabi, Abu Abdillah al-Madani. Salah seorang ulama besar, terlebih dalam perkara sejarah secara umum dan sejarah perang secara khusus. Pernah berjumpa dengan sahabat Anas bin Malik. Meriwayatkan dari ayahnya dari Atha, az-Zuhri dan ulama lainnya, dan yang meriwayatkan darinya ialah Yahya al-Anshari. Beliau pada tingkatan perawi hasan. Meninggal pada tahun 151 H. lihat biografinya dalam al-Khulashah hal: 327 oleh al-Khazraji. 

[25] . Beliau adalah Buraidah bin al-Hushaib bin Abdillah bin al-Harts as-Sulami. Awalnya tinggal di kota Madinah lalu pindah ke Bashrah, kemudian ke Marwa. Meninggal pada tahun 62 atau 63 H. beliau adalah sahabat yang terakhir meninggal di kota Khurasan. Lihat biografinya dalam buku al-Khulashah hal: 47 oleh al-Khazraji. 

[26] . az-Zuhri beliau adalah al-Imam Abu Bakar, Muhammad bin Muslim bin Ubaidulah bin Abdillah bin Syihab az-Zuhri , al-Quraisy, al-Madani. Salah seorang ulama besar, ulamanya penduduk Hijaz dan Syam. Meriwayatkan dari Ibnu Umar, Sahl bin Sa'ad, Anas, Mahmud bin Rabi', Ibnu Musayib dan yang lainnya. Dan yang meriwayatkan darinya ialah Aban bin Sholeh, Ayub, Ibrahim bin Abi Ablah, Ja'far bin Burqan, Ibnu Juraij, Ibnu Uyainah, al-Laits, Malik, dan ulama-ulama lainnya. Berkata Ibnu Sa'ad, "Meninggal pada tahun 124 H". Lihat biografinya secara lengkap dalam buku al-Khulashah hal: 359 oleh al-Khazraji. 

[27] . Fathul Qadir 4/364 oleh Syaukani.

[28] . Lihat keterangannya dalam Bidayah wa Nihayah 1/229, Tafsir al-Qur'anil Adhim 3/557 keduanya oleh Ibnu Katsir.

[29] . Jami'ul Bayan 10/22/101.

[30] . Bidayah wa Nihayah 1/229  oleh Ibnu Katsir.

[31] . Beliau adalah al-Allamah, seorang ahli tafsir, syaikhnya para ulama qiro'ah. Bernama Abu Bakar, Muhammad bin al-Hasan bin Muhammad bin Ziyad al-Mushili, an-Naqasy. Lahir pada tahun 266 H. Imam Dzahabi mengatakan tentang beliau, "Kalau seandainya dirinya lebih selektif dalam meriwayatkan hadits niscaya ia menjadi Syaikhul Islam". Namun, hadits-hadits mungkar. Meninggal pada tahun 351 H. lihat biografinya dalam Tarikh Baghdad 2/203 oleh Khatib al-Baghdadi. Siyar a'lamu Nubala 15/575-576. oleh adz-Dzahabi.  

[32] . an-Nukat wal Uyun 5/13 oleh al-Mawardi.

[33] . Tafsir Thabari 10/22/101.

[34] . Bidayah wa Nihayah 1/229 oleh Ibnu Katsir.

[35] . Pendiri kota ini ialah Inthikhas, dialah raja ketiga setelah kaisar Alexander. Merupakan ibu kota yang besar dan terkenal.  Lihat keterangannya dalam Mu'jamul Buldan 1/266. oleh Yaqut al-Humawi.

[36] . Bidayah wa Nihayah 1/230 oleh Ibnu Katsir.

[37] . Ibid.

[38] . Tafsir Ibnu Katsir 3/569.

[39] . Bidayah wa Nihayah 1/230. Tafsir Ibnu Katsir 3/568.

[40] . Bidayah wa Nihayah 1/231. lihat rincian dalil yang menguatkan pendapat ini dalam Tafsir Ibnu Katsir 3/565-570.

[41] . Beliau adalah Abdurazzaq bin Hamam bin Nafi bin al-Humairi, Abu Bakar, ash-Shan'ani. Salah seorang ulama besar dan penghafal hadits. Meriwayatkan dari Ibnu Juraij, Hisyam bin Hasan, Tsaur bin Yazid, Ma'mar dan Malik. Dan yang meriwayatkan darinya ialah Ahmad, Ishaq, Ibnu Madini, Ibnu Ma'in, dan yang lainnya. Imam Ahmad mengatakan tentangnya, "Bagi siapa yang menimba hadits beliau setelah penglihatannya rusak maka riwayatnya lemah". Berkata Ibnu Sa'ad, "Meninggal pada tahun 211 H". lihat biografinya dalam al-Khulashah hal: 238 oleh al-Khazraji.

[42] . Seperti dikatakan oleh Ibnu Atsir dalam al-Kamil 1/208 menukil dari Imam Thabari.

[43] . HR Bukhari no: 3413.

[44] . Seperti dinyatakan oleh al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 6/520-521.

[45] . Ninawa adalah kampung milik Yunus bin Matta 'alaihi sallam di Mushil. Mayoritas masuk dalam kawasan Kufah dipinggiran yang dikatakan dengan nama Ninawa masuk dalam kota Karbala tempat dimana Husain bin Ali bin Abi Thalib terbunuh. Lihat penjelasannya dalam kitab Mu'jamul Buldan 5/339 oleh Yaqut al-Hamawi.

[46] . Beliau adalah Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdul Wahid asy-Syaibani, al-Mushili, yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Atsir, al-Jazuri. Julukannya Izuddin, Abu Hasan. Sejarahwan, ahli nasab, muhadits, hafidh, sastrawan, ahli bahasa, lahir di pulau yang bernama Ibnu Umar tahun 555 H. tumbuh dewasa disana, kemudian tinggal di Mushil, dan meninggal disana tahun 630 H. diantara karya tulisnya ialah al-kamil fii Tarikh, Asadul Ghayah fii Ma'rifati Shahabah, al-Lubab fii Tahdzibil Ansaab dan yang lainnya. Lihat biografinya dalam buku Mu'jamul Mu'alifin 7/228-229 oleh Umar Ridha Kahalah. 

[47] . al-Kamil fii Tarikh 1/208-209.

[48] . Beliau adalah al-Hafidh Abu Fadhl, Jalaludin Abdurahman bin Kamaludin, Abu Bakar bin Muhammad as-Suyuthi, dan dikenal juga dengan nama Ibnu Asyuti. Lahir di Kairo tahun 849 H. ayah beliau adalah asli dari non Arab. Beliau mengumpulkan dan menulis dengan karya tulisan yang belumada yang bisa memadai setelah beliau. Meninggal pada tahun 911 H. lihat biografinya dalam Muqodimah Dzail Tadzkiratul Hufaadh hal: 8-9.

[49] . ad-Durarul Mantsur 5/288 oleh Suyuthi.

Kategori ilmiyah:

Tanggapan anda