Salaf Shalih Dan Hak-Hak Makhluk

Keterangan

Makalah ini membahas tentang salah satu akhlak salafus shalih, yaitu bagaimana menunaikan hak hak orang lain. Diceritakan dalam makalah bagaimana Ummu Habibah –ummul mukminin- menjelang ajalnya meminta maaf terhadap madunya. Ada juga pesan Ibnu Umar kepada yang meminta nasehat agar ia berusaha bila bertemu Allah ta’ala tidak ada tanggungan dengan orang lain, Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menangis karena khawatir ditanya tentang rakyaknya di hadapan Allah ta’ala. Demikian pula ceria Iyadh bin Ghanam dan Ahnaf bin Qais...Wallahu A’lam.

Download
Kirim komentar untuk Webmaster

Deskripsi terperinci

    Salafus Shalih Dan Hak-Hak Makhluk

    ] Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي

    Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil

    Bahauddin bin Fatih Aqil

    Terjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali

    Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

    2014 - 1435

    السلف وحقوق الخلق

    « باللغة الإندونيسية »

    الشيخ عبدالعزيز بن ناصر الجليل

    الشيخ بهاء الدين بن فاتح عقيل

    ترجمة: محمد إقبال أحمد غزالي

    مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو

    2014 - 1435

    Muqodimah

    Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

    Al-Waqidy rahimahullah berkata: Abu Bakar bin Abi Sabrah menceritakan kepadaku, Dari Abdul Majid bin Suhail, dari Auf bin Harits, ia berkata: Aku mendengar Aisyah radhiyallaha ‘anha berkata: ‘Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha memanggilku di saat menjelang ajalnya, ia berkata: ‘Telah terjadi di antara kita sesuatu yang biasa terjadi di antara para madu (istri), semoga Allah ta’ala mengampuni aku dan engkau apa yang telah terjadi.’ Aku berkata: ‘Semoga Allah ta’ala mengampuni semuanya dan aku memaafkan semua itu.’ Ia berkata: ‘Engkau telah membahagiakan aku, semoga Allah ta’ala membahagiakan engkau.’ Dan ia juga mengutus seseorang kepada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dan mengatakan hal serupa.[1]

    Laits bin Sa’ad dan yang lainnya berkata: ‘Seorang laki laki menulis kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu: ‘Tuliskanlah kepadaku seluruh ilmu.’ Maka ia menulis surat jawaban kepadanya: ‘Sesungguhnya ilmu itu sangat banyak, akan tetapi jika engkau mampu bertemu Allah ta’ala dalam kondisi beban ringan dari darah manusia, kosong perut dari harta mereka, menahan lisan dari kehormatan mereka, selalu bersama jama’ah mereka, maka lakukanlah.’[2]

    Dari Umar bin Dzar, ia berkata: Atha` bin Abi Rabah menceritakan kepadaku. Ia berkata: Fathimah istri Umar bin Abdul Aziz menceritakan kepadaku bahwa ia masuk kepadanya (Umar), ternyata ia berada di tempat shalatnya, tangannya berada di keningnya, air matanya mengalir, aku bertanya: ‘Wahai Amirul Mukminin, apakah telah terjadi sesuatu? Ia menjawab: ‘Wahai Fathimah, sesungguhnya aku memegang urusan umat Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam, maka aku memikirkan orang fakir yang kelaparan, orang sakit yang tersia-sia, yang tidak punya pakaian lagi kesusahan, orang yang teraniaya, yang tertawan, orang tua, yang mempunyai banyak tanggungan di penjuru negeri, aku meyakini bahwa Rabb-ku akan menanyakannya kepadaku tentang mereka dan sesungguhnya lawanku di belakang mereka adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku merasa khawatir bahwa hujjahku tidak kuat saat bersengketa, karena itu aku merasa kasihan terhadap diriku, maka aku menangis.’[3]

    Dari Musa bin Uqbah, ia berkata: ‘Tatkala ‘Iyadh bin Ghanam memegang jabatan, datangkan segolongan dari kerabatnya kepadanya meminta silaturrahim, maka ia menemui mereka dengan muka berseri, menampung dan memuliakan mereka. Mereka menetap beberapa hari, kemudian mereka berbicara kepadanya dalam hubungan kekerabatan dan mengabarkan kepadanya tentang kesusahan yang mereka rasakan karena mengharapkan bantuannya. Maka ia memberikan kepada setiap orang dari mereka sepuluh dinar –mereka berjumlah lima orang-, maka mereka menolaknya, marah dan mencelanya.

    Ia berkata: ‘Wahai para anak pamanku, demi Allah, aku tidak mengingkari hubungan kekerabatan denganmu, tidak pula hakmu, dan tidak pula kesusahanmu. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak mendapatkan apa yang bisa kuberikan kepadamu kecuali dengan cara menjual pembantuku dan menjual sesuatu yang kubutuhkan, maafkanlah aku.

    Mereka berkata: ‘Demi Allah, Allah ta’ala tidak memaafkanmu, sesungguhnya engkau adalah penguasa setengah negeri Syam, sedangkan engkau hanya memberi kepada kami sesuatu yang tidak cukup untuk biaya pulang?

    Ia menjawab: ‘Apakah kalian menyuruh aku mencuri harta Allah ta’ala? Demi Allah, sungguh aku dibelah dengan gergaji lebih kusukai dari pada berkhianat sekeping uang atau berbuat zhalim.’

    Mereka berkata: ‘Kami memaafkan engkau pada yang engkau miliki, maka berikanlah kami pekerjaan (jabatan), kami mengerjakan seperti yang dikerjakan orang orang kepadamu dan kami mendapatkan manfaat seperti yang mereka dapatkan, sedangkan engkau mengetahui kondisi kami, dan kami tidak akan berbuat zalim terhadap sesuatu yang engkau jadikan untuk kami.

    Ia berkata: ‘Demi Allah, sungguh aku mengenal keutamaan dan kebaikan kalian, akan tetapi bila sampai kabar kepada Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa aku mengangkat beberapa pejabat dari kaumku, maka ia akan mencelaku.’

    Mereka berkata: ‘Sungguh Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu mengangkat engkau, sedang engkau mempunyai hubungan kekerabatan dengannya, ternyata Umar radhiyallahu ‘anhu menyetujuinya, maka jika engkau mengangkat kami niscaya dia akan menyetujuinya.’

    Ia menjawab: ‘Sesungguhnya kedudukanku di sisi Umar radhiyallahu ‘anhu bukan seperti kedudukan Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu.’ Maka mereka pergi sambil mencelanya.[4]

    Sulaiman at-Taimy berkata: Ahnaf berkata: ‘Ada tiga perkara padaku yang tidak kusebutkan kecuali bagi orang yang ingin mengambil pelajaran: ‘Aku tidak pernah datang ke pintu sulthan (penguasa) kecuali diundang, aku tidak pernah masuk di antara dua orang sehingga keduanya memasukkan aku di antara mereka dan aku tidak pernah menyebutkan seseorang setelah berdiri dari sisiku kecuali dengan kebaikan.’[5]

    Dan darinya pula: ‘Aku bukanlah seorang yang santun, akan tetapi aku berusaha agar selalu santun.’[6]

    Al-Ashma’i berkata: dari Mu’tamir bin Hayyan, dari Hisyam bin Uqbah saudara Dzii-rimmah, ia berkata: ‘Aku menyaksikan Ahnaf bin Qais saat datang kepada satu kaum dalam masalah darah. Maka ia berbicara padanya, dan ia berkata: ‘Ajukanlah tuntutan.’ Mereka berkata: ‘Kami menuntut dua diyat.’ Ia berkata: ‘Itu bagi kalian.’ Maka tatkala mereka diam, ia berkata: ‘Aku memberikan kepada kalian apa yang kalian minta, dengarkanlah: ‘Sesungguhnya Allah ta’ala memutuskan dengan satu diyat, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan dengan satu diyat, dan sesungguhnya bangsa Arab saling memberi di antaranya satu diyat, dan kalian pada hari ini mengajukan tuntutan. Saya khawatir bahwa besok kalian akan dituntut, maka manusia tidak ridha darimu kecuali seperti yang kamu contohkan.’ Mereka berkata: ‘Kembalikanlah ia (tuntutan) kepada satu diyat.’[7]

    [1] Siyar A’lam Nubala 2/223

    [2] Siyar 3/222

    [3] Siyar 5/131-132

    [4] Sifat Shafwah 1/660-670.

    [5] Siyar 4/92

    [6] Referensi yang sama.

    [7] Siyar 4/93

    Kategori ilmiyah:

    Tanggapan anda