Kebiasaan Syirik Pada Kaum Jahiliah

Keterangan

Tabiat Kaum Jahiliah : Jahiliah identik dengan kebodohan, tapi, jangan salah kalau ternyata mereka paham tentang astronomi, sejarah, dan ilmu lain. Bila demikian apa yang dimaksud dengan jahiliah, seperti tabiat mereka? nah, untuk mengetahuinya silahkan membaca risalah ini, mudah-mudahan dengan mengulasnya kita bisa memahaminya, amiin…..

Download
Kirim komentar untuk Webmaster

Deskripsi terperinci

 Kebiasaan Syirik Pada Kaum Jahiliah

      Segala puji hanya bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan dan ampunan kepadaNya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

      Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, yang tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad adalah hamba dan RasulNya. Amma Ba'du:

 Pembawaan Syirik Di Tengah-tengah Kaum Arab Pada Masa Jahiliah:

       Nampak jelas bagi siapapun yang telah menelaah buku-buku sejarah berkaitan dengan suku Arab pada masa Jahiliah bahwa kesyirikan yang mereka kerjakan memiliki corak yang sangat beragam. Kalau kita pilah terlebih dahulu orang-orang yang masih lurus akidahnya diantara mereka lalu dibandingkan dengan kaum musyrikin, maka kita akan jumpai jika mereka memilik ragam dan corak yang sangat banyak dalam kesyirikan yang mereka kerjakan, sebab diantara mereka ada yang menyekutukan Allah dalam perkara rububiyah, ada pula diantara mereka yang menyekutukan Allah dalam perkara uluhiyah.

      Ahli teologi Syihristani mengatakan, "Ketahuilah, sesungguhnya orang Arab sangat beragam corak keyakinannya. Diantara mereka ada yang tulen mu'athilah, ada pula yang menyakini pada kesimpulan-kesimpulan batil.

      Akidah mu'athilah yang dimiliki orang Arab juga mempunyai beberapa golongan, diantara mereka ada golongan yang mengingkari adanya sang pencipta, hari kebangkitan dan hari dikembalikan kepada Allah. Mereka menyatakan, jika kehidupan yang menghidupkan dan masa yang mematikan.

      Adapula kelompok yang masih menyakini adanya sang pencipta, permulaan penciptaan serta hari kebangkitan, namun, mereka mengingkari adanya rasul, lalu mereka menyembah berhala, dengan sangkaan jika berhala yang mereka sembah tersebut bisa sebagai pemberi syafaat kelak diakhirat di sisi Allah. Sehingga mereka melakukan ritual ibadah haji, menyembelih sembelihan untuknya, serta mendekatkan diri kepadanya, dan melakukan ritual dan ibadah sebagai sarana untuk menambah kedekatan denganya, mereka menghalalkan serta mengharamkan, dan golongan inilah yang terbanyak di suku Arab.

       Dikalangan orang Arab ada juga yang mempunyai keyakinan reinkarnasi, mereka mengatakan, 'Apabila ada seseorang yang meninggal dunia atau terbunuh maka darahnya berkumpul menjadi satu diorgan kepala, lalu menjelma menjadi seekor burung merpati. Yang kelak akan kembali kedalam kubur setiap seratus tahun sekali.

      Adapula diantara mereka yang lebih condong untuk mengikuti agama Yahudi. Ada juga yang lebih condong kepada agama Nashrani.

      Dan ada lagi yang lebih condong kepada agama Shabi'ah, dengan menyakini ilmu perbintangan. Adapula yang lebih suka menyembah para malaikat, bahkan ada yang lebih suka untuk menyembah jin, dengan keyakinan yang mereka miliki kalau setan merupakan anak perempuannya Allah".[1]

     Dan sebagian orang Arab ada yang memadukan dalam satu waktu peribadatan kepada Allah azza wa jalla dengan peribadatan kepada berhalanya. Mereka mengimani kalau Allah subhanahu wa ta'ala lebih agung kedudukannya dari pada berhala. Seperti tersirat dalam syair yang mereka kemukakan:

Demi Latta dan Uzza yang lebih rendah agamanya

                                         Dan demi Allah, sungguh mereka semua kalah dibanding keagunganNya

        Maksud dari penjelasan ini semua ialah bahwa orang Arab mereka telah berkubang dengan berbagai kesyirikan yang sangat beragam, dan barangkali bisa kita kelompokan mereka menjadi dua kelompok:

Pertama: Kaum musyrikin yang menyekutukan Allah dalam perkara rububiyah.

Kedua: Kaum musyrikin yang menyekutukan Allah dalam perkara uluhiyah atau peribadatan. Dan paragraf berikut ini akan menjelaskan secara rinci kedua golongan tersebut:

 Pertama: Kesyirikan Orang Arab Dalam Masalah Rububiyah.

        Telah lewat penjelasan bersama kita pada pasal pertama buku ini yang menjelaskan tentang maksud kesyirikan dalam perkara rububiyah yaitu menetapkan adanya dua pencipta yang mempunyai kesamaan dalam segala sisi. Dan keyakinan seperti ini belum pernah dijumpai ada dikalangan anak Adam yang melontarkannya.[2]

     Sebab fitrah manusia diciptakan untuk mengakui dan menetapkan adanya Tuhan yang maha esa. Namun, yang dimaksud dengan kesyirikan dalam perkara rububiyah ialah menyekutukan Allah dalam beberapa kekhususan rububiyah yang dimiliki oleh Allah azza wa jalla.

       Kemudian pernyataan kami tentang keadaan kaum musyrikin yang mengakui adanya tauhid rububiyah bukan berarti yang kami maksud mereka mengakui dengan pembagian tauhid secara lengkap dan sempurna, karena hal ini tidak pernah diucapkan oleh seorang ulama pun. Akan tetapi, yang dimaksud oleh para ulama kita yaitu menetapkan apa yang telah disebutkan didalam al-Qur'an yang menjelaskan tentang keberadaan kaum musyrikin yang terang-terangan mengakui adanya pencipta, yang memberi rizki dan mengatur semua urusan makhluk. Dan ketiga perkara tadi merupakan sifat-sifat ketuhanan dan menjadi kekhususanNya. Yang semuanya diakui serta diyakini oleh kaum musyrikin, begitu pula hukum ini tidak serta merta menyamakan mereka semua dalam satu level, sebab masih ada diantara mereka yang menyakini kesyirikan dalam perkara rububiyah, dan diantara mereka ada yang mengimani sebagian kekhususan rububiyah namun mengingkari sebagian yang lainnya.[3]

        Dengan ini maka nash-nash yang telah lewat dari para ahli hadits, pengamat aliran dan pemahaman agama dibawa pada pemahaman, kalau sebagian orang Arab telah terjerumus dalam kesyirikan rububiyah. Dan perkara ini telah nampak sekali dalam beberapa ayat al-Qur'an yang menerangkan beberapa bantahan atas keyakinan yang dimiliki oleh kaum musyrikin Quraisy.

       Akan tetapi, kondisi ini bukan menjadi keyakinan yang banyak di anut oleh mereka, karena kebanyakan mereka terjatuh dalam kesyirikan ibadah, sebagaimana akan kami jelaskan dalam poin-poin setelah ini.

       Namun, karena disana ada sebagian orang Arab yang sudah terjerumus dalam kesyirikan rububiyah, maka akan saya ketengahkan terlebih dahulu, dan pembahasannya sebagai berikut: Kaum musyrikin yang menyekutukan Allah dalam perkara rububiyah terbagi menjadi dua:

 Pertama: Mu'athilah, dan kelompok ini terbagi lagi menjadi tiga golongan:

1.    Meniadakan hasil ciptaan dari sang pencipta dan kreatornya. Inilah yang dinamakan dengan ingkar terhadap rububiyah secara mutlak. Baik yang berkaitan dengan perkara yang sepele maupun yang paling besar.

       Dan dalam hal ini kaum musyirikn Arab mempunyai beberapa kelompok, diantaranya adalah sekte Dahriyah[4] yang mengatakan, sebagaimana direkam oleh Allah dengan baik dalam firmanNya:

﴿ وَقَالُواْ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ ٢٤﴾ [الجاثية: 24 ]

"Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa". (QS al-Jaatsiyah: 24).

       Dijelaskan oleh Syihristani, "Mu'athilah dikalangan orang Arab terbagi menjadi beberapa kelompok, (salah satunya) kelompok yang mengingkari pencipta, hari kebangkitan, dan hari dikembalikan kepada Allah, dimana slogan mereka ialah kita mati dan hidup begitu saja tanpa ada yang akan membinasakan kita selain masa, kelompok inilah yang dimaksud oleh Allah didalam firmanNya:

﴿ وَقَالُواْ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ ٢٤﴾ [الجاثية: 24 ]

"Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa". (QS al-Jaatsiyah: 24).

      Didalam ayat ini mengisyaratkan pada tabiat yang bisa dirasakan dialam semesta bawah yang menunjukan sempitnya ruang kehidupan dan kematian dengan rangkaiannya, maka seluruh kehidupan adalah alam sebagai pokok masalah yang membinasakan itu semua. Maka Allah membantah keyakinan batil tersebut dengan firmanNya:

﴿ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ ٢٤ ﴾ [ الجاثية: 24 ]

"Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja". (QS al-Jaatsiyah: 24).

        Ini merupakan bantahan yang sangat menghujam mereka, dimana mereka bertubrukan dengan akal sehat dan ayat-ayat al-Qur'an serta fitrah yang selamat, betapa banyak ayat al-Qur'an yang menjelaskan kebatilan pemahaman semacam ini, diantaranya firman Allah ta'ala:

﴿ أَوَلَمۡ يَتَفَكَّرُواْۗ مَا بِصَاحِبِهِم مِّن جِنَّةٍۚ إِنۡ هُوَ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٌ ١٨٤ ﴾ [ الأعراف: 184 ]

"Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan". (QS al-A'raaf: 184).

           Demikian pula didalam firmanNya:

﴿ أَوَلَمۡ يَنظُرُواْ فِي مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٖ ١٨٥  ﴾ [الأعراف: 185 ]

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah". (QS al-A'raaf: 185).

          Begitu juga didalam firmanNya:

﴿ óOs9uﷺ‬ﷺ‬& (#÷ﷺ‬ttƒ 4’n<Î) $tB t,n=y{ ª!$# `ÏB &äóÓx«  ﴾ [ النحل: 48 ]

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah". (QS an-Nahl: 48).

        Dan juga didalam firmanNya:

﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ٢١ ﴾ [ البقرة: 21 ]

"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa". (QS al-Baqarah: 21).

           Demikian pula didalam firmanNya:

﴿ قُلۡ أَئِنَّكُمۡ لَتَكۡفُرُونَ بِٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَرۡضَ فِي يَوۡمَيۡنِ وَتَجۡعَلُونَ لَهُۥٓ أَندَادٗاۚ ٩ ﴾ [ فصلت: 9 ]

"Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya?  (QS Fushshilat: 9).

        Secara fitrah manusia menunjukan secara pasti akan adanya pencipta, permulaan ciptaan yang mampu menciptakan sesuatu yang belum ada contoh sebelumnya".[5]

       Dan kelompok Dahriyah yang mempunyai pemikiran perputaran alam yang meregenerasi kehidupan baru sejatinya hanya satu kelompok, dan para ulama telah membantah pemahaman sesat ini didalam karya tulisan mereka yang begitu banyak secara rinci.[6]

2.       Meniadakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang hamba kepada sang pencipta dalam pengerjaan untuk mengesakanNya secara sempurna. Dan pada kenyataanya, sebatas penukilan buku-buku induk sejarah yang sampai pada kita, menjelaskan bahwa tidak dijumpai pada orang Arab era jahiliah yang mempunyai keyakinan bahwa kebenaran yang suci itulah dzat makhluk yang menyerupai. Kecuali apa yang dikemukakan oleh al-Baghdadi, dimana beliau menjelaskan, "Bahwa diantara mereka ada orang-orang yang menyembah setiap bentuk yang dianggap baik selaras dengan pemahaman bahwa tuhan dapat menitis kedalam tubuh manusia, dengan klaim yang mereka berikan adanya kemungkinan menitisnya tuhan pada bentuk-bentuk yang baik".[7]

3.       Meniadakan kesempurnaan dan kesucian sang pencipta dengan cara meniadakan nama-nama dan sifat-sifatNya serta perbuatanNya. Dan orang Arab pada masa jahiliah banyak yang terjatuh dalam pemahaman ini.

      Dalam masalah nama misalkan, mereka menjadikan nama-nama berhalanya dengan mengambil dari potongan nama-nama Allah azza wa jalla. Maka ini merupakan bentuk kekufuran terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah ta'ala. Dan kufur dengan metode semacam ini termasuk bentuk kesyirikan.[8]

      Diantara kondisi orang Arab yang ada pada masa jahiliah dari bentuk kekafiran semacam ini ialah menjadikan nama-nama berhalanya dengan mencomot dari nama-nama Allah azza wa jalla, seperti penamaan tuhan mereka Latta yang terambil dari lafal ilah, Uzza yang terambil dari al-Aziz, Manat yang terambil dari al-Manan dan yang lainnya. Seperti yang Allah jelaskan didalam firmanNya:

 ﴿ أَفَرَءَيۡتُمُ ٱللَّٰتَ وَٱلۡعُزَّىٰ ١٩ وَمَنَوٰةَ ٱلثَّالِثَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰٓ ٢٠ أَلَكُمُ ٱلذَّكَرُ وَلَهُ ٱلۡأُنثَىٰ ٢١﴾ [ النجم: 19-21 ]

"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Lata dan Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?". (QS an-Najm: 19-21).

        Dijelaskan oleh Ibnu Abbas bahwa mereka menamakan Latta yang terambil dari lafal ilah dan Uzza yang terambil dari al-Aziz.[9]

        Imam Ibnu Jarir menjelaskan, "Ayat ini memiliki dua bacaan yang shahih menurut kami, diantaranya ada bacaan dengan cara mengkasrah huruf ta', dengan makna sifat. Dan bacaan kedua ialah yang telah menjadi kesepakatan para ulama seluruh dunia".[10]

        Beliau juga menjelaskan, "Latta adalah kata yang terambil dari lafal Allah, maka diberikan huruf ta' yang menunjukan arti perempuan seperti dikatakan pada nama Amr untuk laki-laki dan Amrah bagi perempuan. Sebagaimana dikatakan bagi nama Abas untuk lelaki kemudian untuk wanitanya dengan Abasah.

       Demikian pula kaum musyrikin telah menamakan berhala-berhala mereka dengan nama-nama Allah azza wa jalla, maha suci Allah dari itu semua. Mereka bilang, dari nama Allah terambil nama Latta dan dari nama al-Aziz terambil nama Uzza".[11]

      Imam Ibnu Qoyim juga menerangkan, "Kufur terhadap nama-nama Allah sangat beragam bentuknya, salah satunya ialah dengan menamakan berhala dengan nama-nama Allah, seperti penamaan mereka Latta yang terambil dari lafal Ilah, dan Uzza yang terambil dari nama al-Aziz, serta penamaan patung mereka dengan ilah, inilah hakekat kekufuran, dimana mereka menyamakan nama-nama Allah dengan nama-nama patung dan sesembahan mereka yang batil".[12]

      Adapun nama Manat maka asal katanya terambil dari nama Allah al-Manan. Sebagaimana disana juga ada kalangan Arab yang mengingkari nama ar-Rahman -karena kesombongan dan kefururannya, dengan pengetahuan mereka bahwa nama tersebut adalah namanya Allah- dan Allah telah menukil pengingkaran mereka ini didalam firmanNya:

﴿ وَهُمۡ يَكۡفُرُونَ بِٱلرَّحۡمَٰنِۚ قُلۡ هُوَ رَبِّي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ مَتَابِ ٣٠ ﴾ [ الرعد: 30 ]

"Padahal mereka kafir kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Katakanlah: "Dia-lah Tuhanku tidak ada Tuhan selain dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat". (QS ar-Ra'du: 30).

      Demikian pula yang tercantum didalam firmanNya:

﴿ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱسۡجُدُواْۤ لِلرَّحۡمَٰنِ قَالُواْ وَمَا ٱلرَّحۡمَٰنُ أَنَسۡجُدُ لِمَا تَأۡمُرُنَا وَزَادَهُمۡ نُفُورٗا۩ ٦٠ ﴾ [ الفرقان: 60 ]

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang", mereka menjawab:"Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?", dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman)". (QS al-Furqaan: 60).

        Al-Hafidh Ibnu Katsir menerangkan, "Maksudnya mereka tidak mengenali siapa itu Maha penyayang, dan mereka mengingkari untuk memberi nama kepada Allah dengan namaNya ar-Rahman, sebagaimana mereka juga pernah mengingkarinya pada waktu perjanjian Hudaibiyah".[13]

           Dan Allah ta'ala menjelaskan didalam firmanNya:

﴿ قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَٰنَۖ أَيّٗا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِهَا وَٱبۡتَغِ بَيۡنَ ذَٰلِكَ سَبِيلٗا ١١٠  ﴾ [ الإسراء: 110]

"Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". (QS al-Israa': 110).

        Imam Ibnu Katsir menjelaskan, "Allah berfirman katakanlah wahai Muhammad kepada kaum musyrikin yang mengingkari sifat penyayang dari Allah azza wa jalla..".[14]

      Dikalangan orang Arab ada pula yang meniadakan sifat ilmu bagi Allah yang mengetahui segala sesuatu[15], dalilnya adalah firman Allah ta'ala yang membantah pemahaman batil tersebut, Allah berfirman:

﴿ وَلَٰكِن ظَنَنتُمۡ أَنَّ ٱللَّهَ لَا يَعۡلَمُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَعۡمَلُونَ ٢٢ ﴾ [ فصلت: 22 ]

"Bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan". (QS Fushshilat: 22).

       Artinya, bahwa perbuatan tersebut termasuk kesyirikan dan kekufuran, oleh karena itu Imam Ibnu Qoyim menjelaskan dalam bait syairnya:

Hakekat kekufuran ialah condong pada

                     Kesyirikan, menta'thil dan mengingkari[16]

      Dan bentuk kekufuran dan kesyirikan semacam ini sudah ada ditengah-tengah suku Arab pada masa jahiliah.

     Adapun dalam perbuatan dan kehendak Allah maka orang Arab pada masa jahiliah juga telah terjatuh dalam sikap menta'thil semacam tadi, diantara yang mendukung hal tersebut ialah sebagai berikut:

 1.           Pengingkaran mereka terhadap diutusnya para rasul.

       Sesungguhnya mereka menyangkal adanya pemberi peringatan dari sisi Allah yang datang kepada mereka, oleh karena sikap mereka yang seperti ini maka menjadikan mereka terjatuh ke dalam menta'thil perbuatan Allah azza wa jalla serta hikmah didalam penciptaanNya.[17] Seperti yang Allah jelaskan didalam firmanNya:

﴿ وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡۖ وَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ٤﴾ [ص: 4 ]

"Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta". (QS Shaad: 4).

         Demikian pula dalam firmanNya:

﴿ بَلۡ عَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡ فَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا شَيۡءٌ عَجِيبٌ ٢ ﴾ [ ق: 2 ]

"(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir:"Ini adalah suatu yang amat ajaib". (QS Qaaf: 2).

         Begitu juga dalam firmanNya:

﴿ وَمَا مَنَعَ ٱلنَّاسَ أَن يُؤۡمِنُوٓاْ إِذۡ جَآءَهُمُ ٱلۡهُدَىٰٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ أَبَعَثَ ٱللَّهُ بَشَرٗا رَّسُولٗا ٩٤﴾ [ الإسراء: 94 ]

"Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?". (QS al-Israa': 94).

         Dan Allah menukil ucapan mereka didalam firmanNya:

﴿ فَقَالُوٓاْ أَبَشَرٞ يَهۡدُونَنَا فَكَفَرُواْ وَتَوَلَّواْۖ وَّٱسۡتَغۡنَى ٱللَّهُۚ وَٱللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٞ ٦ ﴾ [التغابن: 6 ]

"Lalu mereka berkata: "Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?" lalu mereka ingkar dan berpaling dan Allah tidak memerlukan (mereka). dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS at-Taghaabun: 6).

            Begitu pula seperti dijelaskan dalam firmanNya:

﴿ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦٓ إِذۡ قَالُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٖ مِّن شَيۡءٖۗ ٩١  ﴾ [الأنعام: 91 ]

"Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia". (QS al-An'aam: 91).

           Begitu juga Allah mengkisahkan tentang mereka didalam firmanNya:

﴿ هَلۡ هَٰذَآ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡۖ أَفَتَأۡتُونَ ٱلسِّحۡرَ وَأَنتُمۡ تُبۡصِرُونَ ٣ ﴾ [ الأنبياء: 3 ]

"Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya?".  (QS al-Anbiyaa: 3).

         Masih tentang kisah mereka yang Allah abadikan didalam firmanNya:

﴿ قَالُوٓاْ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا تُرِيدُونَ أَن تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا فَأۡتُونَا بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ ١٠ ﴾ [ ابراهيم: 10 ]

"Mereka berkata: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami, bukti yang nyata". (QS Ibrahim: 10).

              Demikian pula didalam firmanNya:

﴿ مَا هَٰذَآ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيۡكُمۡ ٢٤ ﴾ [ المؤمنون: 24]

"Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu". (QS al-Mukminuun: 24).

             Begitu juga yang Allah nukil dalam firmanNya:

﴿ مَا هَٰذَآ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يَأۡكُلُ مِمَّا تَأۡكُلُونَ مِنۡهُ وَيَشۡرَبُ مِمَّا تَشۡرَبُونَ ٣٣﴾ [ المؤمنون: 33 ]

"(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum". (QS al-Mukminuun: 33).

          Demikian pula didalam firmanNya:

﴿ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ١٥ ﴾ [ يس: 15 ]

"Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka". (QS Yaasin: 15).

           Dan juga yang Allah sebutkan dalam firmanNya:

﴿ وَلَئِنۡ أَطَعۡتُم بَشَرٗا مِّثۡلَكُمۡ إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ ٣٤ ﴾ [ المؤمنون: 34 ]

"Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi". (QS al-Mukminuun: 34).

             Begitu pula apa yang Allah kisahkan tentang mereka didalam firmanNya:

﴿ فَقَالُوٓاْ أَبَشَرٗا مِّنَّا وَٰحِدٗا نَّتَّبِعُهُۥٓ إِنَّآ إِذٗا لَّفِي ضَلَٰلٖ وَسُعُرٍ ٢٤ ﴾ [ القمر: 24 ]

"Maka mereka berkata: "Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita?" Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam kadaan sesat dan gila". (QS al-Qamar: 24).

         Dan lain sebagainya dari ayat-ayat yang bertemakan masalah ini. Artinya bahwa orang-orang yang mengingkari para rasul pada hakekatnya mereka sedang menafikan perbuatan Allah subhanahu wa ta'ala serta hikmah yang terkandung didalam penciptaanNya.

         Imam Syihristani menjelaskan, "Adapun kerancuan yang ketiga ialah pengingkaran mereka terhadap kenabian Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam dalam bentuk manusia biasa, maka kerancuan ini sangat parah, dan bentuk pengingkaranya sangat mendalam".[18]

 2.           Pengingkaran mereka terhadap takdir.

        Sebagaimana diketahui, bahwa diantara mereka ada yang terang-terang mengingkari takdir, dan kelompok qadariyah[19] musyrikin ini terbagi menjadi tiga sekte, yaitu:

Pertama: Majusi.

       Mereka adalah orang-orang yang mendustakan takdir Allah azza wa jalla walaupun mereka masih mempercayai akan perintah dan laranganNya. Dan kelompok ekstrimnya mereka sampai pada pengingkaran pengetahuan Allah dan catatan takdir. Sedang kelompok pertengahannya ialah yang mengingkari umumnya kehendak Allah, ciptaan serta kemampuanNya. Dan kelompok ini belum ada sebelumnya dikalangan orang Arab pada masa jahiliah.

Kedua: Qadariah Iblis.

      Yaitu kelompok yang menetapkan adanya qadha dan takdir, seperti halnya menetapkan adanya perintah dan larangan. Akan tetapi, mereka menjadikan sebagai perkara yang kontradiksi bagi Allah azza wa jalla, dan mencela akan hikmah serta keadilanNya.

      Seperti yang dikatakan oleh pendahulu mereka yaitu Iblis. Adapun kelompok ini maka sama tidak dijumpai ditengah-tengah orang Arab pada masa jahiliah sebatas nushus yang menjelaskan tentang keadaan mereka kepada kita.

Ketiga: Qadariah musyrikin.

       Mereka adalah kelompok yang menetapkan adanya qadha dan takdir namun mengingkari adanya perintah dan larangan.

       Dimana mereka mengklaim, bahwa yang namanya qadha dan takdir selaras dengan perintah dan larangan.

      Dan kelompok inilah yang kita maksud dalam pembahasan kali ini. Dimana keyakinan semacam ini banyak dijumpai dikalangan orang Arab pada masa jahiliah. Seperti yang Allah nukil ucapan mereka didalam firmanNya:

﴿ سَيَقُولُ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ لَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشۡرَكۡنَا وَلَآ ءَابَآؤُنَا وَلَا حَرَّمۡنَا مِن شَيۡءٖۚ ١٤٨ ﴾ [ الأنعام: 148 ]

"Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun". (QS al-An'aam: 148).

          Demikian seperti yang Allah rekam dalam firmanNya:

﴿ tA$s%uﷺ‬ šúïÏ%©!$# (#qä.uŽõ°ﷺ‬& öqs9 uä!$x© ª!$# $tB $tRô‰t6tã `ÏB ¾ÏmÏRﷺ‬ߊ ÆÏB &äóÓx«   ﴾ [ النحل: 35 ]

"Dan berkatalah orang-orang musyrik: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia". (QS an-Nahl: 35).

          Begitu juga yang Allah sebutkan didalam firmanNya:

﴿ وَقَالُواْ لَوۡ شَآءَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مَا عَبَدۡنَٰهُمۗ ٢٠ ﴾ [ الزخرف: 20 ]

"Dan mereka berkata: "Jikalau Allah yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat)". (QS az-Zukhruf: 20).

        Dan Allah azza wa jalla telah membantah mereka dengan bantahan yang sangat sempurna didalam al-Qur'an, diantaranya ialah firmanNya:

 ﴿ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ حَتَّىٰ ذَاقُواْ بَأۡسَنَاۗ قُلۡ هَلۡ عِندَكُم مِّنۡ عِلۡمٖ فَتُخۡرِجُوهُ لَنَآۖ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَخۡرُصُونَ ١٤٨ قُلۡ فَلِلَّهِ ٱلۡحُجَّةُ ٱلۡبَٰلِغَةُۖ فَلَوۡ شَآءَ لَهَدَىٰكُمۡ أَجۡمَعِينَ ١٤٩ ﴾ [ الأنعام: 148-149 ]

"Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?" kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta. Katakanlah: "Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; Maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya". (QS al-An'aam: 148-149).

       Demikian pula Allah mengatakan pada bantahan yang kedua didalam firmanNya:

﴿ y7Ï9ºx‹x. Ÿ@yèsù šúïÏ%©!$# `ÏB óOÎgÎ=ö6s% 4 ö@ygsù ’n?tã È@ߙ”9$# žwÎ) à÷»n=t7ø9$# ßûüÎ7ßJø9$#  ﴾ [ النحل: 35 ]

"Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang".  (QS an-Nahl: 35).

           Dan juga dalam firmanNya:

﴿ مَّا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ ٢٠ ﴾ [ الزخرف: 20 ]

"Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka". (QS az-Zukhruf: 20).

       Maksudnya ialah menjelaskan jika mereka telah terjatuh dalam syirik ta'thil dalam perkara rububiyah yakni dengan cara meniadakan perbuatan Allah ta'ala. Dan mereka tetap ngotot untuk berpegang dengan kesyirikannya dengan alasan adanya kehendak secara umum, maka ini merupakan kebatilan yang berujung pada menta'thil perbuatan dari Allah azza wa jalla.

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Mereka berusaha mentakwil perkaranya pada peniadaan syariat, perintah dan larangan, dengan pengetahuan mereka secara pasti dengan rububiyahnya Allah secara umum bagi setiap makhluk…walaupun hal tersebut tidak stabil bagi mereka namun mereka melakukannya manakala sesuai dengan hawa nafsunya seperti yang telah dikerjakan oleh kaum musyrikin Arab. Selanjutnya jika ada yang tidak selaras dengan hawa nafsu salah seorang diantara mereka maka mereka segera menolaknya dan melampaui batas tanpa memperhatikan lagi batasan yang ada…dimana metode ini sangat kontradiktif jika dibenturkan dengan keinginan-keinginan seorang manusia. Sebab yang satu menginginkan adanya perintah adapun yang lain menginginkan lawannya, dan kedua keinginan tadi semuanya telah ditakdirkan, yang mengharuskan adanya pilihan diantara keduanya atau memilih selain keduanya atau memilih keduanya dari satu sisi, sehingga pelaziman yang mereka lakukan sangat rusak".[20]

       Dalam kesempatan lain beliau mengatakan, "Kalau seandainya takdir bagian dari hujah yang dimiliki oleh seseorang niscaya Allah tidak akan penah menyiksa para pendusta yang mendustakan para rasul seperti kaumnya nabi Nuh, kaum Aad, Tsamud, al-Mu'tafikat dan kaumnya Fir'aun.

      Demikian pula tidak adanya perintah untuk memberi hukuman bagi orang yang melanggar aturan syariat.

     Oleh sebab itu, tidak ada seorangpun yang berhujah dengan takdir melainkan orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah subhanahu wa ta'ala, dan barangsiapa menilai kalau takdir hujah bagi para pendosa sehingga celaan dan hukuman tidak bisa diberlakukan kepada mereka maka dirinya harus menerapkan bagi dirinya dengan tidak mencela tidak pula menuntut balas bagi siapapun yang telah menyakiti dirinya, namun, dirinya harus menyamakan antara kondisi menyenangkan dengan kondisi yang menyakitkan, dirinya tidak boleh membedakan antara orang lain yang berlaku baik padanya dengan orang yang bersikap jelek padanya. Dan jelas perkara ini terlarang baik secara pembawaan, watak maupun syariat".[21]

       Beliau juga menjelaskan, "Adapun takdir, maka tidak ada seorangpun yang berhujah dengannya melainkan orang yang mengikuti hawa nafsunya.

      Jika dirinya melakukan perbuatan haram dengan mengandalkan hawa nafsu, perasaan serta keinginannya, tanpa didasari ilmu yang membenarkan perbuatannya tidak pula akibatnya serta merta dirinya berhujah dengan takdir, sama seperti yang dilakukan oleh kaum musyrikin, mereka berkata:

﴿ لَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشۡرَكۡنَا وَلَآ ءَابَآؤُنَا ١٤٨ ﴾ [ الأنعام: 148 ]

"Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya". (QS al-An'aam: 148).

       Didalam ayat ini Allah menjelaskan kalau mereka tidak memiliki ilmu sediktipun dari agama dengan apa yang mereka lakukan, dimana mereka hanya mengikuti persangkaan belaka.

      Disamping itu mereka juga tidak membolehkan bagi semua orang untuk berdalil dengan takdir, dimana kalau seandainya ada yang berani merobohkan Ka'bah, atau mencemarkan nabi Ibrahim, atau mencela agamanya niscaya mereka akan membalas dan menghukumnya, lantas bagaimana mereka sampai menyakiti nabi shalallahu 'alaihi wa sallam ketika membawa agama dan syariatnya, sedangkan yang dilakukan oleh beliau juga bagian dari perkara yang telah ditakdirkan.

      Sehingga taruhlah benar bahwa takdir bisa sebagai dalil tentu itu merupakan dalilnya nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sebab setiap kejadian yang ada adalah perkara yang telah ditakdirkan, antara orang yang membawa kebenaran dan pengusung kebatilan masing-masing punya peluang untuk berdalil dengan takdir -kalau sekirnya dibolehkan berhujah dengan takdir-.

     Akan tetapi, mereka melandasi hal tersebut ketika selaras dengan kenyakinan yang ada didalam agama mereka, dan mereka pada intinya hanya sekedar mengikuti persangkaan belaka tanpa didasari ilmu  tapi murni kedustaan".[22]

      Intinya ialah menjelaskan bahwa perkara ini termasuk kesyirikan kepada Allah azza wa jalla, oleh karena itu, ada ancaman yang sangat keras dari Allah bagi orang yang mempunyai keyakinan semacam tadi, Allah mengatakan dalam firmanNya:

﴿ يَوۡمَ يُسۡحَبُونَ فِي ٱلنَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ ذُوقُواْ مَسَّ سَقَرَ ٤٨ إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ ٤٩  ﴾ [ القمر: 48-49 ]

"(Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka): "Rasakanlah sentuhan api neraka! Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran". (QS al-Qamar: 48-49).

       Dibawakan oleh Imam Muslim[23], Tirmidzi, Ibnu Majah[24], Ahmad dan yang lainnya, sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, berkata, "Suatu ketika suku Quraisy mendatangi nabi shalallahu 'alaihi wa sallam lalu mendebat masalah takdir, maka Allah menurunkan ayat:

﴿ يَوۡمَ يُسۡحَبُونَ فِي ٱلنَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ ذُوقُواْ مَسَّ سَقَرَ ٤٨ إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ ٤٩  ﴾ [ القمر: 48-49 ]

"(Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka): "Rasakanlah sentuhan api neraka! Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran". (QS al-Qamar: 48-49).

 3.           Pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan.

        Dan masalah ini sangat nampak sekali dikalanga mereka, bahkan merupakan pendapat mayoritas mereka, seperti yang Allah jelaskan tatkala mengkisahkan tentang mereka, Allah berfirman:

﴿(#qßJ|¡ø%ﷺ‬&uﷺ‬  «!$$Î/ y‰ôgy_ öNÎgÏZ»yJ÷ƒﷺ‬&   Ÿw ß]yèö7tƒ ª!$# `tB ßNqßJtƒ 4 4’n?t/ #´‰ôãuﷺ‬ Ïmø‹n=tã $y)ym  ﴾ [ النخل: 38 ]

"Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati". (tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah". (QS an-Nahl: 38).

             Demikian pula dalam firmanNya:

﴿ وَأَنَّهُمۡ ظَنُّواْ كَمَا ظَنَنتُمۡ أَن لَّن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ أَحَدٗا ٧ ﴾ [ الجن: 7 ]

"Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul)pun". (QS al-Jinn: 7).

           Begitu juga yang Allah sebutkan didalam firmanNya:

﴿ زَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَن لَّن يُبۡعَثُواْۚ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبۡعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلۡتُمۡۚ وَذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ٧ ﴾ [ التغابن: 7 ]

"Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah". (QS at-Taghabuun: 7).

           Lalu Allah juga sebutkan dalam firmanNya:

﴿ وَلَئِن قُلۡتَ إِنَّكُم مَّبۡعُوثُونَ مِنۢ بَعۡدِ ٱلۡمَوۡتِ لَيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ٧  ﴾ [ هود: 7 ]

"Dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): "Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati", niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata". (QS Huud: 7).

              Demikian pula yang Allah katakan dalam firmanNya:

﴿ قَالُوٓاْ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ ٨٢ ﴾ [ المؤمنون: 82 ]

"Mereka berkata: "Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?".  (QS al-Mukminuun: 82).

                Begitu juga dalam firmanNya:

﴿ وَقَالُوٓاْ أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا وَرُفَٰتًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ خَلۡقٗا جَدِيدٗا ٤٩ ﴾ [ الإسراء: 49 ]

"Dan mereka berkata: "Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?".  (QS al-Israa': 49).

                Dan juga firmanNya:

﴿ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ ١٦﴾ [ الصفات: 16 ]

"Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan (kembali)?".  (QS ash-Shaffaat: 16).

               Begitu juga dalam firmanNya:

﴿ وَكَانُواْ يَقُولُونَ أَئِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ ٤٧ ﴾ [ الواقعة: 47 ]

"Dan mereka selalu mengatakan: "Apakah bila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami akan benar-benar dibangkitkan kembali?".  (QS al-Waaqi'ah: 47).

              Dan juga dalam firmanNya:

﴿ وَقَالُوٓاْ إِنۡ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوثِينَ ٢٩ ﴾ [ الأنعام: 29 ]

"Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan".  (QS al-An'aam: 29).

         Demikian pula dalam firmanNya:

﴿ إِنۡ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوثِينَ ٣٧  ﴾ [ المؤمنون: 37 ]

"Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi". (QS al-Mukminuun: 37).

          Begitu juga dalam firmanNya:

﴿ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ بِلِقَآيِٕ رَبِّهِمۡ لَكَٰفِرُونَ ٨ ﴾ [ الروم: 8 ]

"Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya". (QS ar-Ruum: 8).

         Dan juga dalam firmanNya:

﴿ بَلۡ هُم بِلِقَآءِ رَبِّهِمۡ كَٰفِرُونَ ١٠  ﴾ [ السجدة: 10 ]

"Bahkan mereka ingkar akan menemui Tuhannya". (QS as-Sajdah: 10).

         Demikian pula yang Allah sebutkan dalam firmanNya:

﴿ وَإِن تَعۡجَبۡ فَعَجَبٞ قَوۡلُهُمۡ أَءِذَا كُنَّا تُرَٰبًا أَءِنَّا لَفِي خَلۡقٖ جَدِيدٍۗ ٥ ﴾ [الرعد: 5 ]

"Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, maka yang patut mengherankan adalah ucapan mereka: "Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?".  (QS ar-Ra'du: 5).

       Dan ayat-ayat yang semakna dengan ini, yang semuanya menunjukan bahwa kaum musyrikin atau kebanyakan diantara mereka telah terjatuh didalam menta'thil perbuatan Allah azza wa jalla dan kandungan hikmah yang ada dalam perbuatanNya yaitu hari kebangkitan dan dikumpulkan manusia, dengan sebab itu mereka terjatuh dalam kesyirikan ta'thil.

      Syaikh Syihristani menjelaskan, "Dan kerancuan orang Arab berkisar pada dua syubhat besar ini, salah satunya mengingkari kebangkitan badan setelah kematiannya, yang kedua mengingkari adanya utusan Allah. Adapun yang pertama ucapannya telah dinukil oleh Allah didalam firmanNya:

﴿ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ ١٦ أَوَ ءَابَآؤُنَا ٱلۡأَوَّلُونَ ١٧ ﴾ [الصفات: 16-17 ]

"Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan (kembali)? Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (akan dibangkitkan pula)?". (QS ash-Shaffaat: 16-17).

         Dan juga ayat-ayat yang senada dengan ini. dan mereka juga mengungkapkan hal tersebut didalam bait syair yang mereka miliki, semisal:

Kehidupan lalu kematian lalu kebangkitan

                 Adalah khurafat yang tidak perlu di percaya wahai Ummu Amr

        Begitu juga mereka ungkapan dalam ratapan terhadap ahli badar dari kalangan musyrikin yang meninggal, mereka katakan dalam bait syairnya:

Apa yang dilakukan oleh mereka yang berada didalam sumur

                               Dikelilingi oleh punuk onta yang kasar

Dikabarkan oleh rasul kalau kami akan hidup kembali

          Bagaimana kehidupan akan kembali dengan kesedihan[25]

         Sungguh Allah telah menegaskan didalam al-Qur'an pokok aqidah adanya kebangkitan dari kubur setelah kematiannya, dengan penjelasan sangat memuaskan, yang tidak ada lagi keraguan didalamnya, dan diantara perkara terpenting yang Allah sebutkan didalam al-Qur'an yang menjelaskan kemungkinan seseorang itu akan dibangkitkan dari kubur ialah permulaan penciptaan manusia, dimana Allah menegaskan didalam firmanNya:

 ﴿ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ٧٨ قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ٧٩ ﴾ [ يس: 78-79 ]

"Dan ia membuat perumpamaan bagi kami dan dia lupa kepada kejadiannya ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh? Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk". (QS Yaasin: 78-79).

           Demikian pula apa yang Allah sebutkan didalam firmanNya:

﴿ أَفَعَيِينَا بِٱلۡخَلۡقِ ٱلۡأَوَّلِۚ بَلۡ هُمۡ فِي لَبۡسٖ مِّنۡ خَلۡقٖ جَدِيدٖ ١٥﴾ [ ق: 15 ]

"Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru". (QS Qaaf: 15).

          Begitu juga dalam firmanNya:

﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٖ ٥ ﴾ [ الحج: 5 ]

"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah..". (QS al-Hajj: 5).

           Dan juga dalam firmanNya:

﴿ مَّا خَلۡقُكُمۡ وَلَا بَعۡثُكُمۡ إِلَّا كَنَفۡسٖ وَٰحِدَةٍۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ٢٨ ﴾ [لقمان: 28 ]

"Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat". (QS Luqman: 28).

        Dan lain sebagainya dari konteks ayat yang membicarakan masalah ini, yang bila diperhatikan sangat banyak.

       Adapun kenapa mengingkari kebangkitan dari kubur termasuk kesyirikan, karena terkandung konsekuensi dari keyakinan ini meniadakan perbuatan yang dilakukan oleh Allah serta hikmah yang terkandung didalamnya. Ditambah dirinya telah meniadakan nama-nama dan sifat-sifat Allah serta konsekuensi dari nama dan sifat tersebut dan sebagai bentuk pengingkaran terhadap pengetahuan, kemampuan dan hikmah yang Allah ta'ala miliki. Oleh sebab itu Allah mengatakan didalam firmanNya:

﴿ أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ١١٥ فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡكَرِيمِ ١١٦ ﴾ [ المؤمنون: 115-116]

"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya, tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia". (QS al-Mukminuun: 115-116).

         Imam Ibnu Qoyim menjelaskan maksud ayat-ayat diatas, "Allah menjadikan kesempurnaan kekuasaanNya, yang menegaskan kebenaran Allah subhanahu wa ta'ala, bahwa Dia lah Dzat yang tidak ada sesembahan yang hak melainkan Dia, Rabb Arsy yang melazimkan semua makhluk berada dibawah rububiyahNya, membantah persangkaan yang batil tersebut, hukum yang dusta…sebab kekuasaanNya yang benar melazimkan adanya perintah dan larangan, ganjaran dan hukuman, begitu pula melazimkan untuk mengutus utusan, menurunkan kitab suci, kebangkitan dari kubur untuk membalas kebaikan bagi orang yang berbuat baik dan kejelekan bagi orang yang berbuat jelek.

       Oleh karena itu, bagi orang yang mengingkari hal tersebut maka pada hakekatnya dia sedang mengingkari kekuasaanNya, tidak menetapkan bagi Allah kekuasaan yang benar, oleh sebab itu orang yang mengingkari hal tersebut terhitung dalam barisan orang yang kufur kepada Rabbnya, walaupun dirinya mengklaim sedang menetapkan adanya pencipta alam semesta, namun, sejatinya dia belum beriman kepada Allah yang maha benar, yang mempunyai sifat-sifat yang tinggi, dan berhak untuk menyandang sifat-sifat yang sempurna".[26]

       Dalam kesempatan lain beliau juga menjelaskan, "Dan Allah subhanahu wa ta'ala menetapkan adanya hari kebangkitan dari dalam kubur dengan menyebut kesempurnaan ilmuNya, dan kesempurnaan kemampuan dan hikmahNya. Kalau ada para pengingkar yang rancu tentang masalah ini maka dikembalikan pada tiga pokok permasalahan yaitu:

Pertama: Bercampurnya anggota badan mereka dengan elemen tanah, yang tidak bisa dibedakan satu orang dengan yang lainnya.

Kedua: Kalau kemampuan Allah tidak berkaitan dengan masalah ini.

Ketiga: Kalau masalah tersebut tidak membawa banyak faidah. Atau hikmah ini terkandung eksitensi makhluk yang bernama manusia ini, sedikit demi sedikit, demikian seterusnya. Setiap kali generasi yang pertama mati maka akan digantikan dengan generasi yang sesudahnya. Adapun jika jenis manusia itu musnah seluruhnya kemudian setelahnya dihidupkan kembali, maka hal tersebut tidak mempunyai hikmah.

         Adapun penjelasan al-Qur'an tentang hari kebangkitan dari kubur dibangun diatas tiga pilar, yaitu:

Pertama: Keterangan akan kesempurnaan ilmu Allah azza wa jalla. sebagaimana ditegaskan oleh Allah tatkala memberi jawaban kepada orang yang mengucapkan, seperti yang dinukil dalam firmanNya:

 ﴿ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ٧٨ قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ٧٩  ﴾ [ يس: 78-79 ]

"Ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh? Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk". (QS Yaasin: 78-79).

       Demikian pula yang Allah tegaskan didalam firmanNya:

﴿ قَدۡ عَلِمۡنَا مَا تَنقُصُ ٱلۡأَرۡضُ مِنۡهُمۡۖ ٤ ﴾ [ ق: 4 ]

"Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka". (QS Qaaf: 4).

Kedua: Keterangan akan kesempurnaan kemampuan Allah ta'ala. Seperti yang Allah lansir didalam firmanNya:

﴿ أَوَ لَيۡسَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يَخۡلُقَ مِثۡلَهُمۚ ٨١  ﴾ [يس: 81 ]

"Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu?".  (QS Yaasin: 81).

         Dan juga yang Allah sebutkan didalam firmanNya:

﴿ بَلَىٰ قَٰدِرِينَ عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُۥ ٤ ﴾ [ القيامة: 4 ]

"Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna". (QS al-Qiyamah: 4).

         Begitu juga didalam firmanNya:

﴿ ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّهُۥ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَأَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٦ ﴾ [الحج: 6 ]

"Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan desungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan desungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS al-Hajj: 6).

Ketiga: Menjelaskan tentang kesempurnaan hikmah yang Allah ta'ala miliki. Seperti yang Allah nyatakan didalam firmanNya:

﴿ وَمَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا لَٰعِبِينَ ٣٨ ﴾ [ الدخان: 38 ]

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main". (QS ad-Dukhaan: 38).

          Demikian pula seperti yang ada dalam firmanNya:

﴿ وَمَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا بَٰطِلٗاۚ ٢٧ ﴾ [ ص: 27 ]

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah". (QS Shaad: 37).

           Dan juga dalam firmanNya:

﴿ أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ١١٥ ﴾ [ المؤمنون: 115 ]

"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?". (QS al-Mukminuun: 115).

        Oleh sebab itu yang benar ialah bahwa hari kebangkitan dari dalam kubur merupakan perkara yang telah diketahui oleh akal pikiran bersama dengan syariat yang ada, sebagaimana ditegaskan oleh kandungan nama dan sifat-sifat Allah azza wa jalla serta kesempurnaanNya. Dan Allah suci dari segala orang yang mengingkari hal tersebut, sebagaimana diriNya tetap suci dari segala cela dan aib".[27]

         Dengan ini kita telah selesai menjelaskan tentang kesyirikan kaum musyrikin dalam perkara rububiyah yaitu dengan cara menta'thil.

 4.           Kedua: Golongan Yang Mempunyai Sesembahan Yang Sangat Banyak.

        Pada masa jahiliah ada sebagian orang Arab yang terjatuh dalam praktek kesyirikan, dengan menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah. Maka berikut ini akan kami paparkan  secara ringkas sebatas kemampuan kami kelompok-kelompok tersebut, diantaranya:

1.    Zindik[28] yang ada dikalangan Arab.

       Berkata Alusi, "Kelompok ini ada disebagian kalangan kaum Quraiys".[29] Dan dijelaskan oleh Ibnu Qutaibah[30] dalam bukunya al-Ma'arif, "Zindiqah yang ada dikalangan Quraisy dijiplak ketika mereka kebingungan".[31]

      Dan dijelaskan kembali oleh Alusi, "Dan yang nampak bagiku bahwa yang dimaksud oleh Ibnu Qutaibah dari kata Zindik yang di nisbatkan kepada sebagian orang Arab adalah sebuah keyakinan Tsanawiyah atau yang lebih dikenal dengan keyakinan dengan cahaya dan kegelapan (sebagai sumber kehidupan), ini terkandung dalam ucapannya, "Mereka menjiplaknya ketika sudah kebingungan..".

       Kalau yang dimaksud dari ucapan beliau ialah orang yang tidak beriman kepada hari akhir dan rububiyah bukan karena mengambil dari kebingungan, ini dari satu sisi. Karena kebanyakan dari suku   Arab mempunyai keyakinan tersebut, oleh sebab itu maksud dari ucapan beliau ialah apa yang kita sebutkan tadi…".[32]

       Dengan ini zindik masuk ke kalangan orang Arab dalam bentuk kesyirikan rububiyah dan lebih spesifik lagi dalam perkara menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah azza wa jalla.

 5.           Majusi yang ada ditengah-tengah orang Arab.

        Imam Ibnu Qutaibah menerangkan, "Majusi Arab berada disuku Tamim, diantara pengusungnya ialah Zararah bin Adas at-Tamimi[33] dan anaknya Hajib bin Zararah[34], masuk diantaranya Aqra' bin Habis[35] dirinya juga termasuk tokoh majusi, lalu Abu Saud kakeknya Waki' bin Hasan dia juga seorang pentolan majusi".[36]

      Dan yang dimaksud dengan majusi ialah orang yang berkeyakinan adanya dua pondasi asas dalam kehidupan yaitu mereka menetapkan dua pokok asasi yang mengurusi kehidupan, terbagi menjadi baik dan jelek, memberi manfaat dan madharat, memperbaiki dan merusak, yang mereka namakan salah satunya sebagai cahaya dan yang kedua kegelepan, yang diungkapkan dengan bahasa Persia Yazdan dan Ahrman.

       Seluruh permasalahan tentang majusi berkisar pada dua pondasi asas, salah satunya ialah penjabaran tentang percampuran antara cahaya dan kegelapan, dan yang kedua faktor kemampuan cahaya mengungguli kegelapan. Dan para pengusungnya menjadikan masalah percampuran atau keunggulan sebagai tempat kembali dari kehidupan dunia.[37]

      Sedangkan perbedaan mencolok antara majusi dengan tsanawiyah ialah kalau tsanawiyah para pengikutnya mengklaim bahwa cahaya dan kegelapan merupakan dua perkara yang abadi tidak akan pernah sirna, berbeda dengan majusi maka mereka menyatakan kalau kegelapan ialah perkara baru, lalu mereka menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan barunya kegelapan tersebut.[38]

       Dan pengikut agama majusi adalah para penyembah api, dimana mereka mengatakan, "Sesungguhnya api merupakan partikel yang paling luas memberi kebaikan, paling besar bentuknya, paling luas tempatnya, paling mulai bendanya, paling lembut jasadnya, yang tidak dijumpai ada suatu benda dialam semesta ini melainkan membutuhkanya, yang tidak bisa tumbuh dan berkembang melainkan dengan perlakuannya".[39] Dan kaum musyrikin semacam ini telah menjadikan tandingan bagi Allah, dan ini termasuk bentuk kesyirikan dalam perkara rububiyah.

 6.           Yahudi dan Nashrani Arab.

       Seperti dinyatakan oleh banyak para analisis agama dan penulis berita tentang sejarah umat terdahulu mengatakan[40], "Bahwa ada dikalangan orang Arab yang telah memeluk agama Yahudi maupun Nashrani".

       Dan sebagaimana diketahui bersama bahwa agama Yahudi maupun Nashrani telah tercampuri berbagai macam kesyirikan baik dalam perkara rububiyah maupun uluhiyah. Seperti yang telah kami jelaskan secara rinci, maka silahkan merujuk kembali kesana.

      Dan disini saya hanya menyebutkan secara ringkas tentang beberapa kabilah Arab yang telah terpengaruh dengan agama Yahudi dan Nashrani, diantaranya;

     Agama Yahudi banyak dipeluk oleh kabilah Hamir setelah sebelumnya mereka lebih banyak terpengaruh dengan agama Majusi dan penyembah matahari dan yang semisalnya. Adapun agama Nashrani maka banyak dipeluk oleh kabilah Rabi'ah dan Ghassan serta sebagian kabilah Qadha'ah, yang mana mereka banyak mengambil agama ini dari Romawi. Demikian pula anak keturunan mereka termasuk pemeluk agama Nashrani dari kalangan Arab, sebagaimana penduduk Najran, mereka juga termasuk pemeluk agama Nashrani dari kalangan Arab.[41]

 7.           Kesyirikan beragam yang banyak dilakukan oleh mereka, yaitu menyekutukan Allah dengan bintang-bintang dilangit. Menjadikan benda-benda tersebut sebagai sesembahan yang turut serta mengatur alam semesta ini. Dan keyakinan ini banyak dipegang oleh agama Shabi'ah dan selain mereka.

          Dan ada sebagian suku Arab yang menerima ajaran ini, seperti dijelaskan oleh Syihristani, beliau mengatakan, "Diantara orang Arab ada yang condong kepada agama Shabi'ah, yang menyakini rasio bintang-bintang dilangit, sama seperti para peramal. Hingga sampai perkaranya pada keyakinan enggan bergerak, tidak diam, enggan bertempat tinggal, tidak mau bepergian, kecuali jika bertepatan dengan rasio bintang yang diyakininya, seperti ucapan mereka, "Kami diberi hujan dengan sebab bintang ini dan itu..".[42]

         Dan telah lewat penjelasan aqidah kaum Sha'ibah secara rinci, dimana mereka mengatakan, "Tidak ada sarana yang bisa menghubungkan kami kepada keagungan Allah melainkan harus melalui wasilah-wasilah. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk mendekatkan diri terlebih dahulu kepada wasilah-wasilah rohaniyah yang dekat denganNya, mereka itu adalah rohani-rohani yang dekat lagi suci dari benda abstrak, merekalah sesembahan kita dan tuhan kita serta pemberi syafaat disisi Rabb sejati dan Tuhan segala tuhan, dan tidaklah kami menyembah mereka melainkan hanya untuk mendekatkan kepada Allah sedekat-dekatnya".[43]

         Oleh sebab itu mereka membuat semacam kuil lalu meletakan arca sebagai simbol bagi tujuh bintang langit yang terbesar, kemudian setelah berlalunya zaman akhirnya mereka mendekatkan diri kepada tujuh bintang tadi lalu menyakini bahwa benda-benda tersebut yang mengatur alam semesta ini.[44]

        Para pengikut agama Shabi'ah mempunyai kesyirikan dalam perkara rububiyah sebagaimana mereka juga terjatuh dalam syirik ibadah. Dimana mereka menyakini dialam semesta ini ada benda yang turut mengaturnya selain Allah azza wa jalla, yang jelas sekali kalau hal tersebut merupakan hak murni miliknya Allah jalla wa 'ala.

       Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam telah menyinggung mereka pada beberapa sabda beliau, diantaranya riwayat yang dibawakan oleh Imam Muslim bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ » [أخرجه مسلم]

"Empat perkara ditengah umatku yang termasuk perkaranya Jahiliah dan mereka tidak meninggalkannya, yaitu bangga dengan nasab, mencela keturunan, meminta hujan kepada bintang, dan meratapi kematian".[45]

        Begitu juga sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أخاف على أمتي ثلاثا, استسقاء بالنجوم.. » [أخرجه أحمد]

"Perkara yang aku paling takutkan ditengah umatku ada tiga, meminta hujan kepada bintang….".[46]

        Dan juga dikelurkan oleh Imam Bukhari dan Muslim sebuah hadits dari sahabat Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu 'anhhu, beliau menceritakan, "Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam pernah sholat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah malamnya turun hujan, tatkala sholat telah usai beliau menghadap kepada kami lalu bertanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ, قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ, فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا  فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي  وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

"Tahukah kalian apa yang di katakan oleh Rabb kalian? Kami menjawab, "Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui". Beliau bersabda: "Allah berfirman, "Pagi ini ada diantara hamba Ku yang beriman kepadaKu dan kafir kepada bintang. Adapun orang yang mengatakan, 'Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu', itulah orang yang telah kufur kepadaKu dan beriman kepada bintang".[47]

        Setelah menyebutkan hadits diatas Syaikh Abdurahman bin Hasan mengomentari, "Apabila menyakini bahwa bintang tertentu memiliki efek terhadap turunnya hujan maka orang tersebut telah kafir, sebab dirinya telah menyekutukan Allah dalam perkara rububiyah, sedangkan orang yang berbuat syirik maka dirinya dihukumi kafir.

       Adapun jika dirinya belum sampai pada tahap menyakini hal tersebut maka dirinya telah terjatuh dalam syirik kecil, sebab dirinya telah menyandarkan sebuah nikmat yang Allah berikan kepada selainNya, dikarenakan Allah tidak pernah menjadikan bintang tertentu sebagai faktor turunnya hujan, namun, hujan adalah karunia dari Allah serta rahmatNya, yang jikalau Allah menghendaki akan menurunkannya dan jika tidak menghendaki maka Allah akan menahannya".[48]

      Pada kesempatan lain beliau juga menjelaskan, "Jika ada diantara mereka yang mengatakan, "Kami diberi hujan dengan sebab bintang ini dan itu", maka ucapan ini dilihat, kalau seandainya dia menyakini bahwa bintang tersebut mempunyai efek terhadap turunnya hujan, maka orang tersebut dihukum musyrik dan kafir. Karena inilah yang diyakini oleh orang Jahiliah, seperti keyakinan mereka kalau berdo'a kepada mayit atau orang yang tidak hadir dihadapannya untuk meminta manfaat atau menolak mara bahaya, atau menyakini bahwa dirinya akan memberi syafaat dengan sebab doa yang ia panjatkan, maka ini merupakan kesyirikan yang dengannya Allah mengutus Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam untuk melarang hal tersebut serta memerangi para pelakunya.

        Dan kemungkinan kedua, adakalanya dia mengatakan, 'Kami diberi hujan dengan sebab bintang ini dan itu', dengan keyakinannya bahwa yang mengatur adalah Allah semata, akan tetapi karena kebiasaannya jika muncul bintang pasti turun hujan, maka menurut pendapat yang kuat tidak boleh menyandarkan hal tersebut kepada bintang tadi walaupun hanya sekedar menggunakan kata kiasan".[49]

 8.           Kesyirikan yang dilakukan oleh para penyembah Matahari, bulan, penyembah api, atau penyembah benda-benda langit atau bumi yang lainnya.

        Yang mana jika mereka melazimi ibadah maka mereka mempunyai keyakinan bahwa benda-benda tersebut adalah sesembahan, sebagai tuhan yang hakiki, atau benda tadi adalah tuhan yang termasuk bagian dari tuhan-tuhan yang banyak, yang jika kita mengkhususkan ibadah kepadanya dan berkhidmat padanya niscaya tuhan tadi akan memenuhi hajatnya dan memberi pertolongan dan perhatian kepadanya.

       Maka, nampak sekali kalau keyakinan semacam ini termasuk menyekutukan Allah dalam perkara rububiyah[50], Dan keyakinan ini banyak dipegang oleh sebagian kabilah Arab pada masa jahiliah, khususnya orang Arab yang tinggal didaerah selatan.[51]

 9.           Kesyirikan pada sebagian sifat-sifat Allah azza wa jalla, adakalanya dengan menetapkan sifat-sifat makhluk kepada Allah, atau menetapkan sifat-sifat Allah kepada para makhluk.

 10.               Adapun yang pertama maka banyak sekali dilakukan oleh orang Arab. Dan berikut ini akan kami paparkan beberapa contoh yang menjelaskan hal tersebut, diantaranya:

01. Menyekutukan Allah dalam sifatNya al-Ilmu yang meliputi segala sesuatu.

        Dan yang kami inginkan disini berkaitan dengan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu ialah pengetahuan Allah secara sempurna tentang perkara ghaib.

       Dan sebelum terlalu jauh masuk kedalam pembahasan yang menerangkan keberadaan kaum musyrikin yang menyekutukan Allah dalam sifat ini, maka alangkah baiknya terlebih dahulu kita paparkan apa itu yang dimaksud dengan ilmu ghaib yang menjadi kekhususan Allah dalam pengetahuannya dari seluruh makhlukNya. Berikut penjelasanya:

       Sesungguhnya lafal ghaib sering diartikan secara bebas dengan makna setiap perkara yang tidak bisa terjangkau oleh akal sehat atau penglihatan mata[52]. Seperti dikatakan oleh orang Arab, 'Matahari tenggelam (ghobat)  apabila mata tidak lagi bisa melihatnya'.[53]

       Kenapa ghaib dinamakan dengan perkara ghaib jika ditinjau dari sisi pengetahuan manusia atau yang semisal dengan mereka, bukan dari tinjauan pengetahuan Allah azza wa jalla. sebab tidak ada yang tersamar bagi Allah tabaraka wa ta'ala. Akan tetapi, tidak boleh untuk mengatakan, 'Sesungguhnya Allah ta'ala tidak mengetahui perkara ghib secara keinginan sebab tidak ada sesuatupun yang tersamar bagiNya', karena konsekuensi ucapan ini mengandung celaan dan kurang beradab kepada Allah azza wa jalla.[54]

       Dalam bahasa syariat yang dimaksud dengan perkara ghaib terbagi dari tinjaun pada perkara yang diketahui menjadi dua sisi, yaitu:

Pertama: Segala sesuatu yang Allah rahasiakan ilmunya, yaitu seperti perkara yang berkaitan dengan dzatnya Allah azza wa jalla, sebagian nama-namaNya serta beberapa hakekat sifat-sifatNya.[55]

Kedua: Yang Allah bukakan ilmunya pada sebagian makhluk dan pada makhluk yang lainnya, semisal pengetahuan yang berkaitan dengan para makhlukNya.

        Selanjutnya jenis pengetahuan ini bila dilihat dari sisi ilmunya maka juga terbagi menjadi dua, yaitu:

Pertama: Mengilmui perkara ghaib dengan pengetahuan yang pasti secara hakekatnya. Maka jenis ilmu tentang perkara ghaib ini tidak ada seorang pun yang mengetahuinya hingga seorang malaikat sekalipun[56], karena hakekat perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya melainkan Allah subhanahu wa ta'ala.[57]

      Dan jenis ini, yakni mengilmui perkara ghaib secara pasti, adalah yang di inginkan oleh lafad ilmu ghaib apabila diartikan secara bebas, karena mencakup seluruh waktu dan tempat. Sebab hanya Allah ta'ala yang maha mengetahui segala sesuatu, baik yang telah lampau, yang sedang terjadi, dan yang akan datang, maka ilmunya Allah dalam perkara tadi semuanya sama. Dan ilmunya Allah dengan perkara-perkara tadi merupakan sifat dzatiyah yang lazim dimiliki oleh Allah subhanahu wa ta'ala sehingga tidak mungkin lepas walau barang sebentar dari Allah ta'ala.

Kedua: Mengilmui perkara ghaib dengan pengetahuan yang terbatas karena sebagai penyandaran semata. Semisal ilmunya para malaikat yang berkaitan dengan dunia mereka yang mana hal tersebut tidak diketahui sedikitpun oleh manusia. Begitu pula pengetahuan sebagian orang pada beberapa perkara yang mana hal itu menjadi ghaib bagi sebagian orang yang lain.[58]

      Dan jenis ilmu inilah yang banyak di miliki oleh manusia, dan hal itu berbeda satu sama lainnya, baik dari segi jenis ataupun bilangannya. Karena semuanya kembali pada kesiapan jiwa dan mental untuk mengambil ilmu-ilmu tersebut yang Allah ajarkan padanya. Dan ilmunya para nabi masuk dalam kategori ini.

       Setelah kita mengetahui masalah ini, maka sekarang kita masuk pada poin kesyirikan yang nyata sekali terlihat dalam perkara rububiyah yaitu dengan menyekutukan Allah bersama tandingan-tandingan dalam hal sifat ilmuNya yang meliputi segala sesuatu ditengah-tengah orang Arab pada masa Jahiliah. Berikut perinciannya:

A.   Al-Kuhanah dan al-'Araaf (Paranormal dan Dukun).

       Adapun yang dimaksud dengan al-Kahin ialah orang yang mengambil bantuan jin yang mencuri pendengaran wahyu dilangit, dan paranormal ini sebelum diutusnya nabi shalallahu 'alaihi wa sallam sangat banyak sekali, adapun setelah kenabian beliau maka jumlah mereka mulai banyak berkurang.

      Ada pendapat lain yang mengatakan, yang dimaksud dengan al-Kahin ialah orang yang mengabarkan perkara-perkara ghaib terkhusus dalam urusan-urusan yang akan datang. Ada pula ulama lain yang menjelaskan, al-Kahin ialah orang yang mengabarkan perkara yang ada dalam batin seseorang.[59]

      Sedangkan yang dimaksud dengan al-'Araafah atau al-'Araaf ialah seperti yang dikatakan oleh Imam al-Baghawi[60], beliau menjelaskan, "al-'Araaf ialah orang yang mengklaim mengetahui barang yang dicuri atau barang hilang dengan cara menjadikan tanda atau firasat untuk dijadikan sebagai alat bantunya".[61]

      Bila dicermati ucapan beliau maka bisa ditarik kesimpulannya, bahwa al-'Araaf ialah orang yang mengabarkan tentang suatu kejadian secara pasti pada kasus pencurian serta pelakunya, dan barang yang hilang serta dimana letaknya. 

       Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, "al-'Araaf ialah nama lain dari al-Kahin, ahli nujum, tukang ramal dan yang semisalnya".[62]

       Dalam kesempatan lain beliau menerangkan, "Ahli nujum masuk dalam penamaan al-'Araaf, bahkan menurut sebagian ulama kedua nama itu sama definisinya".[63]

      Beliau juga menjelaskan, "Ahli nujum masuk dalam penamaan al-Kahin, ini menurut pendapat al-Khatabi serta ulama lainnya, sebagaimana hal tersebut dinyatakan oleh sebagian orang Arab. Adapun mengacu pada sebagian perkataan ulama, yang dimaksud dengan Ahli nujum maka dia tidak beda dengan paranormal, bahkan perilakunya itu lebih buruk dari pada dukun. Dari sini bisa dilihat kalau nama ini ada sisi kesamaan dari segi makna dan pekerjaannya".[64]

       Imam Ahmad perna ditantang tentang tukang sihir dan paranormal apakah keduanya sama? Beliau menjawab, "Tidak, kalau paranormal itu orang yang mengklaim perkara yang ghaib, sedang tukang sihir ialah orang yang mengikat buhul dengan ritual tertentu untuk menyakiti korban".[65]

       Dalam salah satu redaksi, beliau pernah ditanya tentang paranormal, maka beliau mengatakan, dia hampir mirip dengan dukun, sedangkan tukang sihir maka dirinya lebih jelek perilakunya dibanding keduanya, sebab praktek sihir termasuk cabang dari kekufuran.[66]

       Beliau juga menjelaskan tentang dukun, "Al-'Araafah ialah ujung dari sihir, dan tukang sihir lebih jelek daripada dukun".[67]

       Imam Ibnu Atsir juga menjelaskan, "Dukun adalah ahli nujum dan peramal yang mengklaim dirinya tahu perkara ghaib yang Allah telah sembunyikan".[68]

       Sedangkan Imam Ibnu Qoyim maka beliau menerangkan, "Orang yang terkenal dengan kepiawaian meramal maka dinamakan oleh mereka dengan nama juru ramal atau dukun".[69]

       Beliau juga menjelaskan, "Ahli nujum, juru ramal, dan tukang mengundi nasib, semuanya merupakan saudara kembarnya al-Azlam, dharibah al-Hasha, dukun, tukang ramal, dan yang semisal dengan mereka, dari orang-orang yang dimintai untuk mengabarkan perkara-perkara ghaib".[70]

 11.             Kesimpulannya, setiap orang yang mengklaim mengetahui suatu perkara dari perkara ghaib maka masuk ambil bagian dari penamaan-penamaan tadi, dan didalam komunitas Arab sendiri mereka mempunyai dukun semisal Syaq dan Sathih serta yang lainnya.

       Dan diantara mereka ada yang mengklaim bahwa dukun adalah pengikut jin serta pembantu yang memberikan kabar padanya. Ada juga diantara mereka yang mengira kalau dukun adalah orang yang mampu memprediksi suatu perkara dengan cara meramal sebagai sarana untuk menunjukan tempat barang yang hilang, dengan cara menyimpulkan dari ucapan pasien, perilaku atau kondisinya, dan ini semua mereka sematkan bagi pelakunya dengan nama seorang  dukun.

       Maksud dari ini semua ialah bahwa setiap orang yang mengklaim mampu mengetahui sedikit saja dari perkara-perkara ghaib, maka bisa jadi dirinya masuk dalam penamaan sebagai seorang paranormal, atau terkumpul padanya makna sebagai paranormal sehingga ia dijuluki dengan hal itu.  Sebab kesesuaian sebuah berita pada beberapa kasus perkara ghaib bisa dilakukan dengan cara menyingkap tabir ghaib, dan itu bisa dikerjakan melalui bantuan setan, atau dengan cara mengundi nasib, horoskop, ramalan, melempar batu atau membikin garis ditanah untuk meramal, menujum, perdukunan dan praktek sihir, serta lainya dari ilmu-ilmu yang diwariskan oleh ahli Jahiliah. Maka semua perkara tadi pelakunya dinamakan sebagai paranormal atau dukun atau masuk dalam makna keduanya.[71]

        Dimana sebelum ini Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata –manakala para sahabat berkata pada beliau kalau mereka (paranormal dan dukun) terkadang ucapanya benar seperti yang diprediksi dan dikabarkan- maka beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِذَا قَضَى اللَّهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتْ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا   فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا  لِلَّذِي قَالَ : الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ  فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعِ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضُهُ فَوْقَ بَعْضٍ وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيَهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوْ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ فَيُقَالُ أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سَمِعَ مِنْ السَّمَاءِ » [أخرجه البخاري ]

"Apabila Allah menentukan sebuah urusan dilangit maka para malaikat mengepakkan sayapnya karena ketundukan mereka terhadap firman Allah, suaranya gemerincing bagaikan rantai dari bebatuan, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu? Mereka menjawab pada yang bertanya: "(Perkataan) yang benar", dan Dia lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

         Maka para pencuri dengar (dari kalangan jin) mencoba menguping wahyu tersebut, dengan cara naik pada temannya satu dengan yang lainnya -sang rawi yang bernama Sufyan mengilustrasikan dengan jari jemarinya yang saling bertumpukan satu sama lainnya- maka setan yang teratas menguping dengar wahyu tersebut lalu disampaikan pada yang dibawahnya, lalu disampaikan lagi pada yang dibawahnya, hingga sampai pada lisanya tukang sihir atau dukun, namun, adakalanya setan tersebut terkena lemparan api sebelum menyampaikan beritanya, terkadang dia menyampaikan berita sebelum sampai mendengar, maka dia berdusta kepada khadamnya seratus kedustaan, lalu dikatakan oleh manusia, 'Bukankah (si dukun) itu telah berkata kepada kita pada hari ini dan itu akan terjadi kejadian ini dan itu', dirinya bisa benar dengan sebab kalimat yang didengar dari setan yang mencuri dengar dari langit".[72]

        Didalam hadits ini, dijelaskan bahwa berita itu berasal dari setan yang menyampaikan kepada para pembantunya, para dukun dan paranormal sebuah kalimat hak yang ditambahkan padanya seratus kedustaan, lalu orang-orang membenarkan dirinya dengan sebab satu kebenaran yang berhasil diprediksinya.

       Maka tatkala perkara ini merupakan kesyirikan kepada Allah dalam beberapa sifatNya, makanya, apabila perbuatan ini diyakini kebenarannya dan percaya terhadap apa yang diucapkan oleh dukun atau paranormal tadi maka dirinya dihukumi telah keluar dari agama, dimana telah datang beberapa hadits yang memberikan ancaman secara keras lagi tegas kepada mereka dan bagi orang yang mengambil ucapannya, bahkan pada sebagian hadits dinyatakan secara gamblang lagi jelas kalau perilakunya telah menyebabkan keluar dari agama.

         Diantara hadits tersebut ialah yang diriwayatkan oleh sahabat Imran bin Hushain[73] radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ  أَوْ تُطِيَّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ  أَوْ تُكِهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ  أَوْ سُحِرَ لَهُ  وَمَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ  » [أخرجه البزار]

"Bukan termasuk golongan kami orang yang meramalkan atau meminta diramal, perdukunan atau meminta kepada dukun, menyihir atau meminta untuk disihirkan. Barangsiapa mendatangi dukun lalu membenarkan apa yang dia ucapkan maka sungguh dirinya telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam".[74]

Dalam redaksi Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ» [أخرجه أبو داود والنسائي في الكبرى]

"Barangsiapa mendatangi seorang dukun lalu membenarkan apa yang dia ucapkan, maka sungguh dirinya telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shalallahu 'alahi wa sallam".[75]

        Dalam hadits lain, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَمَنْ أَتَى عَرَافا أو كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ » [أخرجه مسلم]

"Barangsiapa mendatangi dukun atau paranormal lalu membenarkan apa yang dia katakan, maka sungguh dirinya telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam".[76]

       Dan Imam Muslim membawakan sebuah hadits dari sahabat Mu'awiyah bin Hakam as-Sulami[77] radhiyallahu 'anhu yang menceritkan, "Aku pernah bertanya, 'Wahai Rasul, beberapa perkara yang dahulu kami biasa melakukannya ketika Jahiliah, lalu kami mendatangi paranormal? Maka beliau menegaskan, "Jangan sekali-kali kalian mendatangi paranormal (lagi)!!"[78].

        Artinya, bahwa mendatangi seorang dukun lalu membenarkan apa yang mereka ucapkan atau mendatangi orang-orang yang semisal dengan mereka semacam paranormal, atau tukang ramal maka hal tersebut termasuk perbuatan syirik kepada Allah azza wa jalla dalam perkara rububiyah. Yang mana hal tersebut masuk dalam kategori menyekutukan sifat Allah yang maha mengetahui segala sesuatu, yang mengetahui perkara ghaib, disamping itu kaum musyrikin biasanya akan rela dengan setiap perkara yang diputuskan oleh dukun atau paranormal tadi, sehingga ditambah kesyirikan yang pertama dengan kesyirikan kepada Allah dengan cara menyerahkan pada makhluk untuk membuat syariat dan berhukum kepada selain Allah azza wa jalla.[79]

        Imam Bukhari menukil didalam kitab shahihnya, "Dahulu para thagut yang biasa membikin hukum di suku Juhainah ada satu, di suku Aslam ada satu, bahkan disetiap kampung ada thagutnya, dan mereka itu adalah para dukun yang diberi wahyu oleh setan".[80]

       Ini merupakan sebuah nash yang sangat jelas bahwa mereka biasa berhukum kepada para dukun, dan menyerahkan hak kekuasan untuk membuat syariat dan hukum pada permasalahan-permasalahan yang sedang mereka hadapi, tentunya ini merupakan kesyirikan tanpa bisa dipungkiri, sebagaimana telah lewat penjelasannya.

      Diantara permasalahan yang bisa di ikut sertakan dalam perdukunan ialah al-'Iyafah dan ath-Thuruq serta ath-Thiyarah. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْعِيَافَةُ وَالطِّيَرَةُ مِنْ الْجِبْتِ » [أخرجه أحمد]

"Al-'Iyafah dan ath-Thuruq serta ath-Thiyarah termasuk praktek sihir".[81]

        Yang dimaksud dengan al-'Iyafah ialah meramal dengan menggunakan burung atau hewan, dan berdalil dengan menggunakan suara, pergerakan, serta perilakunya untuk kejadian-kejadian tertentu, lalu mereka gunakan sebagai firasat untuk para perkara ghaib.[82] Dan akan datang penjelasan apa yang dimaksud dengan ath-Thiyarah.

      Adapun yang dimaksud dengan ath-Thuruq ialah membikin garis ditanah, lalu ada yang berkata, 'Lempar dengan batu', dan mereka menamakan dengan ilmu ramal, dimana mereka berdalil dengan berbagai ramalan atas pertanyaan yang diajukan oleh sang pasiennya[83].

      Sedangkan yang dimaksud dengan al-Jibtu ialah paranormal dan tukang sihir, sebagaimana dinyatakan oleh Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu, "Al-Jibtu ialah tukang sihir, dan Thagut adalah setan".[84]

       Demikian pula seperti riwayat yang disandarkan kepada Ibnu Abbas, Abu Aliyah, Mujahid, Atha', Ikrimah, Sa'id bin Jubair, asy-Sya'bi, al-Hasan, Dhahak, dan Sudi.[85]

        Artinya, bahwa perkara-perkara ini telah ada ditengah-tengah orang Arab pada masa Jahiliah. Dan jelas sekali kalau perilaku tadi termasuk kesyirikan kepada Allah azza wa jalla. sedangkan kenapa al-'Iyafah dan Thuruq serta Thiyarah termasuk kesyirikan kepada Allah karena terkandung didalamnya mengklaim mengetahui perkara ghaib, dan mencopot hak rububiyah dari Allah subhanahu wa ta'ala, sebab ilmu ghaib termasuk sifat rububiyah yang Allah rahasiakan ilmunya dari kalangan makhluk, ditambah lagi kalau sebagain mereka menyakini bahwa perkara-perkara tersebut mampu memberi manfaat atau menolak mara bahaya[86].

     Maka ini termasuk kesyirikan kepada Allah dalam perkara rububiyah, lebih khusus pada sifat kemampuan yang Allah miliki secara sempurna. Sebagaimana nanti akan kita jelaskan.  Dan diantara kesyirikan yang nyata jelas dikomunitas Arab Jahiliah pada ilmunya Allah yang mencakup segala sesuatu ialah:      

 12.       Membenarkan ucapan ahli nujum (Horoskop).

        Telah datang penjelasan dari nushus hadits yang menolak secara tegas praktek horoskop, dan ahli nujum yang sebelumnya telah ada pada zaman Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam. Diantaranya ialah sabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ اقْتَبَسَ شُعبَة مِنْ النُّجُومِ فقد اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنْ السِحْرٍ, زَادَ مَا زَادَ » [أخرجه أبو داود و أحمد]

"Barangsiapa mempelajari cabang dari ilmu nujum maka sungguh dirinya telah mempelajari cabang dari ilmu sihir, siapa yang menambah maka bertambah pula".[87]

Begitu pula sabda beliau shalallahu 'alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَخافُ على أمَتي ثَلاثا: حَيْفِ الأَئِمَّةِ وَتَصْدِيقٍ بِالنُّجُومِ وَتَكْذِيبٍ بِالْقَدَرِ » [أخرجه ابن عبد البر في جامع بيان العلم وفضله]

"Tiga perkara yang aku khawatirkan atas umatku, kelaliman para pemimpin, percaya pada ilmu nujum, dan mendustakan takdir".[88]

Dalam kesempatan lain Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَخافُ على أمَتي بَعدي خِصلَتين: وَتَكْذِيبا بِالْقَدَر وَإِيمانا بِالنُّجُومِ » [أخرجه أبو يعلى ]

"Dua perkara yang saya takutkan setelah kematianku atas umatku ialah mendustakan takdir dan percaya kepada ilmu nujum".[89]

        Hal ini juga didukung dengan beberapa atsar dari para ulama salaf tentang larangan untuk melakukan praktek Jahiliah ini, diantaranya seperti yang dibawakan oleh Imam Bukhari didalam kitab shahihnya dari Qatadah yang mengatakan, "Allah telah menciptakan bintang dilangit untuk tiga tujuan, pertama sebagai perhiasan langit, kedua untuk melempar setan yang mencuri dengar wahyu, ketiga sebagai alamat yang bisa digunakansebagai petunjuk jalan ditengah malam. Maka barangsiapa menggunakan bintang untuk selain dar ketiga hal itu maka dirinya telah keliru dan salah, dan membebani diri pada suatu ilmu yang tidak diwajibkan".[90]

       Dalam redaksi lain, masih dari Qatadah beliau menegaskan, "Sesungguhnya sekelompok orang yang bodoh tentang Allah membikin perkara baru pada perbintangan yang diprakasai oleh paranormal yang mengatakan, 'Siapa yang ingin menikah hendaknya pada bulan ini dan itu niscaya akan mendapatkan ini dan itu. Siapa yang hendak bepergian hendaknya pada bintang ini dan itu, niscaya akan mendapatkan ini dan itu'.

        Demi Allah, tidaklah ada sebuah bintang melainkan akan melahirkan warna merah dan hitam, panjang dan pendek, bagus dan jelek. Dan belum pernah diketahui kalau bintang-bintang ini, atau binatang-binatang tersebut, atau burung-burung itu mempunyai sedikit saja perkara ghaib, sebab, kalau seandainya ada seseorang yang perlu belajar ilmu ghaib niscaya nabi Adam lebih berhak, karena beliau manusia pertama yang diciptakan langsung oleh Allah dengan tanganNya, Allah menyuruh para malaikat sujud padanya, dan mengajari nama-nama segala sesuatu".[91]

      Dan Syaikhul Islam mendefinisikan ilmu nujum ini dengan ucapannya, "Ilmu nujum ialah ilmu yang menggunakan (media) perputaran bintang sebagai dalil untuk kejadian-kejadian yang akan terjadi dimuka bumi".[92]

       Adapun al-Khatabi[93] beliau menjelaskan, "Ilmu nujum adalah perkara yang telah dilarang (oleh agama) yaitu sebuah ilmu yang disangka oleh ahli nujum dari ilmu metafisika dan kejadian-kejadian yang belum terjadi atau akan terjadi dimasa yang akan datang. Semisal waktu ada angin yang menghamburkan debu, turunnya hujan, perubahan harga dan perkara-perkara lainnya yang diyakini dapat diketahui dengan perputaran bintang pada garis edarnya, tatkala bersatu dan berpisahnya, dan mereka mengklaim kalau kejadian-kejadian tersebut akan berdampak pada fenomena dibumi.

       Dengan sebab ini, akhirnya ada diantara mereka yang menghukumi perkara ghaib dan melampaui kapasitas ilmu yang telah dirahasiakan oleh Allah azza wa jalla, sebab, tidak ada yang mengetahui perkara ghaib melainkan Allah ta'ala".[94]

         Adapun firman Allah azza wa jalla yang menjelaskan:

﴿ ;M»yJ»n=tæuﷺ‬ 4 ÄNôf¨Z9$$Î/uﷺ‬ öNèd tbﷺ‬߉tGöku‰  ﴾ [ النحل: 16 ]

"Dan (dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan), dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk". (QS an-Nahl: 16).

         Bukan berarti bintang-bintang tersebut dijadikan sebagai petunjuk untuk mengetahui ilmu ghaib -sebagaimana diyakini oleh para ahli nujum- namun yang dimaksud adalah supaya kalian bisa menggunakan bintang tersebut sebagai petunjuk jalan pada tujuan yang kalian inginkan.[95]

        Jika ada yang berkata, 'Terkadang prediksinya ahli nujum juga tepat". Maka kita jawab, "Kebenaranya semisal kebenaran yang diprediksi oleh para dukun, benar dalam satu kasus tapi kebohongannya berpuluh-puluh, terus, kecocokannya bukan termasuk bagian dari ilmu tersebut, namun, bisa saja karena pas bertepatan dengan takdir Allah, sehingga hal tersebut menjadi fitnah bagi orang yang mempercayai ucapannya".

       Oleh sebab itu, sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma melarang salah seorang muridnya untuk melihat ilmu perbintangan dengan ucapannya, "Wahai anakku, jauihi (mempelajari) ilmu perbintangan karena sesungguhnya akan mengantarkanmu pada perdukunan".[96]

      Telah datang sebuah riwayat dari Muhammad bin Ka'ab al-Qurdhi, beliau mengatakan, "Sungguh demi Allah, tidak ada keterkaitan sama sekali pada bintang tertentu dengan kematian seseorang tidak pula kehidupannya. Akan tetapi, Allah menjadikan bintang sebagai perhiasan langit dan pelempar bagi para setan yang sedang mencuri dengar wahyu dilangit".[97]

       Dalam kesempatan lain beliau juga mengatakan, "Demi Allah, tidak ada seorangpun dimuka bumi ini yang memiliki ikatan khusus bersama bintang dilangit, akan tetapi, manusia hanya mengamini ucapannya para dukun, yang menjadikan bintang-bintang dilangit sebagai alasannya".[98]

       Artinya, bahwa ilmu nujum termasuk perbuatan kesyirikan kepada Allah ta'ala dalam perkara rububiyah. Dimana pelakunya telah menyekutukan Allah azza wa jalla didalam ilmuNya yang mencakup segala sesuatu, bahkan, didalamnya terkandung kesyirikan kepada Allah dalam urusan rububiyahNya semisal kekuasaan Allah untuk mengurusi alam semesta. Hal itu, dikarenakan orang yang menyakini ilmu nujum mengira kalau kejadian-kejadian dialam semesta ini terjadi dengan sebab fenomena bintang yang ada diatas langit.

       Oleh karena itu banyak di kalangan para ulama Ahlu sunah yang telah membantah ahli nujum yang menjadikan bintang sebagai tanda terjadinya fenomena dimuka bumi, yang mereka tuangkan dalam bentuk karya tulisnya, diantaranya ialah yang ditulis oleh Imam Ibnu Qoyim dalam bukunya Miftah Daarus Sa'adah, yang mana beliau secara panjang lebar membantah kerancuan pemikiran mereka serta syubhat-syubhatnya satu persatu.

       Dan kesyirikan jenis ini telah ada dikomunitas Arab pada masa Jahiliah, sebagaimana dinyatakan oleh pakar sejarah serta para peneliti agama dan aliran, yang menegaskan bahwa ada dikalangan orang Arab yang menjadi dukun ada pula yang sebagai ahli nujum, dan pawang hujan.

       Seperti dikatakan oleh Syihristani, "Ketahuilah, bahwa orang Arab dimasa Jahiliah menjadi tiga kelompok dalam ilmu pengetahuan…dan yang ketiga ilmu perbintangan, yang hal itu diprakasai oleh para dukun".[99]

        Adapun al-Alusi maka beliau mengatakan, "Dan mereka -orang Arab yang tinggal disebelah utara- banyak yang menciptakan karya dengan produksi-produksinya, sedang bagi para raja dan penguasanya maka diantara mereka mempunyai keyakinan tentang ilmu nujum serta yang lainnya. Dan ini semua termasuk perkara yang tidak bisa diingkari tidak pula bisa diterima konsekuensinya. Sebab telah datang hadits-hadits shahih secara mutawatir yang melarang akan hal tersebut.

       Sedangkan suku Adnan -yang tinggal disebelah selatan- maka pengetahuan yang mereka kuasai adalah yang berkaitan dengan syair dan sebagai orator ulung, juga kepiawaian mereka dalam menghafal nasab dan hari-hari bersejarah yang pernah mereka alami, ditambah perkara dunia yang mereka butuhkan seperti pengetahuan untuk memprakirakan kapan turunny hujan atau peperangan dan yang semisalnya".[100]

        Dan diantara jenis ilmu nujum ialah seperti yang dilakukan oleh sebagian orang yang menulis huruf-huruf Abu Jad, lalu menjadikan bagi setiap hurufnya jumlah tertentu yang telah diketahui yang membawahi atasnya nama-nama orang, kejadian, tempat atau yang lainnya. Kemudian semuanya dikumpulkan dengan cara tertentu yang telah mereka sepakati, lalu melempar salah satunya dengan lemparan khusus, dan membiarkan sisanya, lantas menisbatkan pada benteng-benteng yang jumlahnya dua belas yang ma'ruf dikalangan ahli hisab, selanjutnya mereka menghukumi dengan metode semacam tadi adanya hoki dan sial serta yang lainnya dari perkara-perkara yang didapatkan melalui wahyunya setan[101].

       Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menegur sekumpulan orang yang menulis Abu Jad lalu menyesuaikan dengan bintang yang ada dilangit, "Aku tidak mengetahui ada tuntunan yang Allah ajarkan seperti yang kalian dilakukan (ini)".[102]

       Didalam jenis ilmu nujum semacam ini juga terkandung klaim kalau bintang yang ada dilangit ikut ambil bagian bersama Allah azza wa jalla dalam ilmu ghaib yang merupakan hak kekhususan Allah subhanahu wa ta'ala.

       Syaikh Ibnu Sa'di mengatakan dalam masalah ini, "Sesungguhnya Allah ta'ala adalah maha esa dengan perkara ilmu ghaib yang ada, maka barangsiapa yang mengaku kalau paranormal dan dukun atau yang semisal dengannya, turut serta ambil bagian bersama Allah dalam mengetahui ilmu ghaib walaupun hanya sedikit, atau membenarkan apa yang mereka klaim tersebut, maka dirinya telah menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menjadi kekhususanNya, dan sungguh dirinya telah mendustakan Allah dan RasulNya".[103]

        Sehingga kesimpulannya, ragam ilmu nujum dengan berbagai jenisnya termasuk kesyirikan kepada Allah azza wa jalla, karena terkandung didalamnya keyakinan bahwa bintang-bintang tersebut mampu memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya, begitu pula terkandung didalamnya klaim bisa mengetahui perkara ghaib, serta menanggalkan kekhususan yang Allah miliki dalam masalah satu-satunya Dzat tunggal yang mengetahui perkara ghaib[104].

     Selanjutnya, diantara kesyirikan kepada Allah yang nampak jelas dikalangan mereka dalam perkara menyekutukan Allah dari sisi sifatNya yang maha mengetahui segala sesuatu, ialah:

B.    Kesyirikan mereka yang percaya pada al-Anwa' (penisbatan hujan kepada bintang tertentu).

         Dan sebelumnya telah kami jelaskan maknanya, sehingga tidak perlu lagi diulang disini, hanya saja yang ingin kami tegaskan kembali disini ialah bahwa orang Arab ketika menyekutukan Allah azza wa jalla dengan mempercayai al-Anwa' ini mengakibatkan mereka terjatuh dalam perkara haram yang sangat banyak.

        Diantaranya mereka telah menyekutukan Allah dalam kekuasaanNya untuk mengurusi para makhluk dengan menjadikan sebagian pengaturan kepada bintang dilangit serta ilmu perbintangan.

        Diantaranya lagi, mereka menyekutukan Allah dalam perkara ilmu pengetahuan dimana mereka menyandarkan bahwa  dengan al-Anwa' ini mereka jadi tahu kapan hujan turun, dan kapan tidak jadi turun hujan, sehingga dengan ini mereka terjatuh dalam kesyirikan rububiyah yaitu menyekutukan sifat ilmunya Allah yang meliputi segala sesuatu.

       Dan orang Arab dahulu pada era Jahiliah masih sangat percaya dengan ilmu al-Anwa' ini, sebagaimana dijelaskan dalam buku-buku sejarah yang menjelaskan sejarah orang Arab pada masa Jahiliah.[105]

        Diantara kesyirikan kepada Allah yang nampak jelas dikalangan mereka dalam perkara sifatNya yang mengetahui segala sesuatu, ialah:

C.   Mengundi nasib dengan anak panah disisi sesembahannya.[106]

        Manakala mereka menyakini kalau berhala dapat mengetahui perkara ghaib, yang mana orang Arab dahulu di masa Jahiliah, apabila mereka ingin bepergian, berniaga, menyebutkan nasab, berbeda tentang nasab, terjadi pembunuhan, untuk menentukan siapa yang memegang urusan atau yang lainnya dari perkara-perkara besar, maka mereka mendatangi berhala yang bernama Hubal –dan dia merupakan berhala terbesar yang dimiliki oleh suku Quraisy yang berada di Makah dan sekitar Ka'bah- sambil membawa sebanyak seratus keping uang emas, lalu mereka menyerahkannya kepada juru kuncinya agar mengambil anak panah yang disimpan didalam Ka'bah. Adapun anak panah yang mereka miliki itu ada tujuh buah yang tersimpan dan dijaga oleh juru kunci Ka'bah, semuanya memiliki ukuran yang sama, masing-masing mempunyai tanda dan tulisan tertentu, yaitu berisi tulisan masing-masingnya, Allah telah menyuruhku, Allah melarangku, untuk kalian, bukan untuk kalian, anak angkat, membayar diyat, jangan hiraukan.

        Maka apabila mereka ingin mengetahui suatu perkara di masa yang akan datang yang harus mereka hadapi dan ingin mengetahui akibatnya, apakah membawa kebaikan atau keburukan maka mereka meminta supaya juru kunci Ka'bah mengambil anak panah tersebut yang berisikan perintah atau larangan, serta aturan-aturan lainya yang telah mereka bikin secara rinci.[107]

      Bahkan, ada sebagian orang Arab yang mengundi nasib dengan anak panah semacam ini supaya orang lain tidak ikut campur dalam urusannya, dan hal ini pernah terjadi, seperti dituangkan oleh seorang penyair pada masa Jahiliah yang bernama Imru al-Qais[108] dalam syairnya tatkala dirinya ingin menuntut balas kematian ayahnya.[109]

      Diantara kesyirikan kepada Allah yang nampak jelas dikalangan mereka dalam perkara sifatNya yang mengetahui segala sesuatu, ialah:

 13.       Keyakinan mereka bahwa setan dapat mengetahui perkara ghaib.

       Seperti yang Allah gambarkan dalam firmanNya:

﴿ وَأَنَّهُۥ كَانَ رِجَالٞ مِّنَ ٱلۡإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٖ مِّنَ ٱلۡجِنِّ فَزَادُوهُمۡ رَهَقٗا ٦ ﴾ [الجن: 6 ]

"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan". (QS al-Jinn: 6).

       Maka isti'adzah (meminta pertolongan) walaupun termasuk ibadah -sebagaimana nanti akan kita jelaskan dalam masalah kesyirikan dalam ibadah- akan tetapi, orang Arab Jahiliah dulu mempunyai keyakinan jika Jin itu mengetahui perkara ghaib.[110]

       Dijelaskan oleh Qatadah, "Kalau seandainya ada makhluk yang dapat mengetahui perkara ghaib niscaya jin yang pertama kali mengetahuinya sebab ketika nabi Sulaiman bin Dawud 'alihima sallam meninggal, dirinya tidak menyadarinya, buktinya dia tetap bekerja disampingnya dengan siksaan dan kehinaan tanpa mengetahui kematian nabi Sulaiman, dan tidaklah ada yang menunjukan pada mereka kematian beliau keculai binatang melata yang memakan tongkatnya, maka tatkala nabi Sulaiman jatuh tersungkur jin baru menyadari kematiannya, sehingga kalau seandainya jin mengetahui perkara ghaib tentunya mereka tidak perlu susah-susah bekerja dengan siksaan dan kehinaan.

       Yang mana kalangan jin juga mengaku semacam itu satu sama lainnya, bahwa dirinya mengetahui perkara ghaib, mengetahui apa yang akan terjadi, sehingga mereka ditimpa ujian (dijadikan pegawai oleh nabi Sulaiman) oleh Allah dengan sebab itu".[111]

      Dan diantara kesyirikan kepada Allah dalam beberapa sifat yang Allah miliki ialah menyematkan sifat-sifat yang khusus dimiliki oleh Allah kepada para makhluk, diantaranya adalah:

 14.       Menyekutukan Allah dalam hal kemampuan sempurna yang dimilikiNya.

    Dan jenis kesyirikan ini sangat nampak dikalangan kaum Jahiliah diantaranya ialah:

 15.       Memakai cincin atau benang atau yang semisal untuk menolak bala.

         Maka perbuatan ini termasuk menyekutukan Allah ta'ala dalam masalah rububiyah. Lebih khusus dalam kemampuan Allah yang maha sempurna lagi mencakup segala sesuatu.

        Imam Ibnu Atsir menjelaskan sebab kenapa perbuatan ini masuk dalam kategori kesyirikan, "Orang Jahiliah menyakini bahwa perbuatan tersebut termasuk cara terbaik didalam mengobati penyakit, kenapa perbuatan tersebut termasuk perbuatan syirik, sebab dengan perbuatan tersebut, mereka sejatinya sedang menolak takdir yang telah ditentukan atas mereka, lalu berusaha mencari penolak bala kepada selain Allah azza wa jalla yang merupakan satu-satunya Dzat yang mampu menolaknya".[112]

      Ada sebuah hadits yang menunjukan bahwa orang Arab dahulu mereka biasa melakukan kesyirikan semacam ini.

      Diantaranya ialah sebuah riwayat yang menceritakan bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam suatu ketika pernah melihat ada seorang sahabat yang mengenakan gelang yang terbuat dari kuningan dilengannya,  maka beliau menegurnya, "Apakah apa ini? Sahabat tersebut menjawab, "Gelang penangkal penyakit", lalu Nabi bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَمَا إِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا انْبِذْهَا عَنْكَ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا » [أخرجه أحمد و ابن حبان]

"Lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu maka kami tidak akan beruntung selama-lamanya".[113]

       Yang senada dengan riwayat tadi ialah sebuah atsar dari Hudzaifah bin Yaman[114] radhiyallahu 'anhu bahwa ia pernah melihat seorang laki-laki yang ditangannya ada benang untuk mengobati penyakit panas, maka dia putuskan benang tersebut seraya membaca firman Allah tabaraka wa ta'ala:

﴿ وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ ١٠٦ ﴾ [ يوسف: 106 ]

"Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)". (QS Yusuf: 106).[115]

        Dan yang lebih jelas lagi dalam hal ini ialah sebuah riwayat dari Zainab istrinya Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anha yang menceritakan, "Adalah Abdullah bin Mas'ud apabila pulang ke rumah setelah keluar untuk keperluaanya maka dia berdiri didepan pintu sambil berdehem dan meludah karena khawatir ada sesuatu yang buruk menimpa keluarganya.

       Beliau melanjutkan, "Pada suatu hari beliau datang lalu berdehem, tatkala itu didalam rumahku ada wanita tua yang sedang meruqyahku karena penyakit, ketika mendapati suamiku pulang maka aku sembunyikan wanita tersebut dibawah tempat tidur, lalu suamiku masuk dan duduk disampingku, kemudian dia melihat ada kalung yang melingkar dileherku, dan bertanya, "Kalung apa yang melingkar dilehermu itu? Aku menjawab, "Kalung yang berisikan jampi-jampi untuk mengobati penyakitku".

       Zainab meneruskan, "Maka suamiku langsung memutus kalung tersebut sembari berkata, "Sungguh keluarga Abdullah tidak membutuhkan kesyirikan semacam ini, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ » [أخرجه أحمد و أبو داود]

"Sesungguhnya jampi-jampi, kalung untuk menolak bala dan pelet adalah syirik".[116]

        Dengan dalil-dalil diatas tadi, kita menjadi paham bahwa mengantung benang dan kalung dan yang semacamnya (untuk menolak bala) termasuk adat kebiasaan orang Arab Jahiliah dengan tujuan untuk menolak bala.

        Dan dapat diketahui pula bahwa syirik ini termasuk dalam kategori menyekutukan sifat maha mampu yang Allah miliki. Dalam pembahasan yang akan datang insya Allah akan kami jelaskan lebih jelas dalam masalah ini, yaitu manakala kami paparkan kapan perbuatan ini termasuk syirik besar dan kapan masih dalam tingkatan syirik kecil.

 16.       Tamimah, ruqyah dan tiwalah serta yang semacamnya dengan tujuan untuk menolak bala atau mencari manfaat.

       Adapun kata Tamaim adalah bentul plural dari kata tamimah dan tamim yang bermakna perlindungan. Sedang yang dimaksud dengan tamimah ialah kain yang berwarna hitam putih yang dibawa ketika bepergian kemudian diikatkan dileher hewan tunggangan.

       Ada pula yang menjelaskan, tamimah adalah kalung yang biasa dipakai dalam perjalanan untuk sebagai penangkal musibah.

      Ada pula yang mengatakan dia adalah sesuatu yang biasa dikalungkan dileher oleh orang Arab kepada anak-anaknya, untuk menangkal atau mengusir penyakit 'ain, (pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang), menurut persangkaan mereka. Lalu perbuatan tersebut dihapus oleh agama Islam[117].

       Imam Ibnu Atsir menjelaskan, "Tamimah ialah kalung yang biasa dikalungkan pada leher anak-anak oleh orang Arab untuk melindungi mereka dari penyakit 'ain -menurut persangkaan mereka- lalu Islam menghapus praktek tersebut".[118]

        Al-Hafidh Ibnu Hajar juga menjelaskan, "Tamimah adalah kain atau kalung yang diikatkan dikepala, yang dahulu orang Jahiliah menyakininya bahwa hal tersebut bisa sebagai penolak bala".[119]

       Adapun Ruqaa maka bentuk tunggalnya adalah Ruqyah artinya ialah jimat. Dikatakan dalam bahasa arab dari kata Raqi, Ruqyah dan Ruqyan, apabila ada orang yang mengenakan jimat lantas membacakan mantera-mantera padanya.

        Dijelaskan oleh Ibnu Atsir, "Ruqyah adalah jampi-jampi yang dibacakan kepada seseorang yang sedang sakit panas atau kerasukan jin atau yang lainnya dari penyakit-penyakit yang ada".[120]

       Maka Ruqaa inilah yang di istilahkan dengan jimat, dan ruqyah ini mendapat kekhususan dari larangan secara umum yaitu manakala Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam memberi dispensasi untuk meruqyah orang yang tertimpa penyakit 'ain atau demam, dengan catatan harus bebas dari jampi-jampi atau mantera yang mengandung kesyirikan.

       Maksud dari keterangan ini semua ialah menjelaskan bahwa yang namanya jampi-jampi dan tamimah atau yang semakna dengan keduanya maka semuanya masuk dalam kategori kesyirikan dalam rububiyah. Lebih khusus menyekutukan sifat kemaha mampuan Allah yang sempurna lagi mencakup segala sesuatu.

       Demikian pula menjelaskan bahwa orang Arab pada zaman Jahiliah dahulu, mereka berada dalam kesyirikan-kesyirikan semacam tadi, oleh karena itu banyak dijumpai larangan untuk menjiplak perbuatan tersebut dalam banyak hadits nabawi, diantara hadits-hadits yang melarang ialah:

       Sabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلَا أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلَا وَدَعَ اللَّهُ لَهُ » [أخرجه الحاكم]

"Barangsiapa menggantungkan tamimah maka Allah tidak akan mengabulkan keinginannya, dan barangsiapa yang menggantungkan wada'ah (jimat) maka Allah tidak akan memberi ketenangan kepadanya".[121]

        Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam pernah suatu ketika menerima sekelompok orang yang ingin berbai'at, lalu beliau membai'at Sembilan orang lantas enggan untuk membai'at satu orang. Kejadian itu membuat mereka penasaran sehingga mereka bertanya, "Wahai Rasul, anda mau membai'at Sembilan orang lantas membiarkan orang ini, kenapa? Beliau menjelaskan alasanya, "Sesungguhnya orang ini mengenakan tamimah". Lantas beliau menjulurkan tangan dan mengeluarkan dari lehernya lalu memutusnya, baru setelah itu Nabi membai'at orang tersebut, seraya bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَقد أَشرَك » [أخرجه أحمد والحاكم]

"Barangsiapa yang menggantungkan tamimah sungguh dirinya telah berbuat syirik".[122]

       Diriwayatkan bahwa Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam pernah mengutus utusannya sembari berpesan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَنْ لَا يَبْقَيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلَادَةٌ مِنْ وَتَرٍ أَوْ قِلَادَةٌ إِلَّا قُطِعَتْ » [أخرجه البخاري ومسلم]

"Jangan engkau biarkan dileher seekor unta terkantung jimat melainkan engkau putuskan".[123]

       Al-Hafidh Ibnu Hajar menjabarkan hadits diatas dengan penjelasnnya, "Sesungguhnya orang Arab jahiliah biasa mengalungkan dileher ontanya sebuah kalung yang terbuat dari senar panah dengan tujuan, menurut persangkaan mereka, supaya ontanya tidak terkena penyakit mata jahat.

       Maka Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam menyuruh para sahabat supaya memutusnya dalam rangka mengabarkan pada mereka bahwa menggantungkan jimat tidak akan mampu mencegah apa pun yang telah Allah takdirkan".[124]

       Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ » [أخرجه أحمد وأبو داود]

"Sesungguhnya ruqyah, tamimah dan taulah termasuk perbuatan syirik".[125]

       Dijelaskan pula bahwa beliau shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ  » [أخرجه أحمد والحاكم]

"Barangsiapa menggantungkan suatu (jimat) maka Allah serahkan padanya".[126]

Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ عَقَدَ لِحْيَتَهُ أَوْ تَقَلَّدَ وَتَرًا أَوْ اسْتَنْجَى بِرَجِيعِ دَابَّةٍ أَوْ عَظْمٍ فَإِنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُ بَرِيءٌ » [أخرجه أحمد والنسائي]

"Barangsiapa mengikat jenggotnya, atau menggantungkan senar panah (sebagai jimat), atau bercebok dengan menggunakan kotoran binatang atau tulangnya, maka (ketahuilah) sesungguhnya Muhammad berlepas diri darinya".[127]

       Hadits-hadits ini menyimpulkan bahwa menggantungkan tamimah dan yang semakna dengannya termasuk praktek kesyirikan. Dan maksud dari pemaparan diatas adalah untuk menjelaskan bahwa perilaku diatas sudah ada prakteknya dikalangan orang Arab Jahiliah.

 17.       Bertabaruk kepada selain Allah azza wa jalla.

      Yang dimaksud dengan tabaruk ialah mencari kebaikan yang banyak dan berharap bisa tetap langgeng[128]. Dan tidak ada seorangpun yang berhak untuk mendapat sifat dan mampu memenuhinya melainkan Allah tabaraka wa ta'ala. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama salaf, bahwa makna tabaruk berkisar pada dua makna tersebut yang sangat erat satu sama lainnya.[129]

        Imam Ibnu Qoyim menjelaskan, "Allah ta'ala telah mencantumkan lafal ini pada beberapa tempat dengan kandungan yang berisikan sanjungan, pemuliaan dan pengagungan padaNya, begitu pula menerangkan rububiyah dan sifat ketuhanan serta hikmahNya dan seluruh sifat-sifat yang menunjukan kesempurnaan". [130]

        Dan perbuatan tabaruk ini termasuk bentuk menyekutukan Allah azza wa jalla dalam rububiyahNya -terkhusus pada sifat ke maha mampuanNya yang maha sempurna- manakala pelakunya menyakini bisa memperoleh kebaikan yang banyak serta terus menerus dari selain Allah subhanahu wa ta'ala.

      Dikarenakan menyakini sesuatu yang tidak boleh diberikan melainkan kepada Allah ta'ala, oleh karena itu, dalam tabaruk ini terkandung kelaziman menurunkan martabat Allah dari kedudukan rububiyahNya.[131]

       Bahkan bisa jadi perilaku ini masuk dalam kategori menyekutukan Allah azza wa jalla dalam perkara uluhiyah dan peribadatan kepadaNya, yaitu tatkala memalingkan sebagian bentuk ibadah kepada selain Allah, dan ini terjadi karena faktor berlebihan dalam mengagungkan makhluk/ benda yang ditabarukinya, begitu pula ketergantungan mereka yang berlebihan pada benda tersebut.[132]

       Dan kaum musyrikin Arab pada waktu itu memiliki kesyirikan jenis ini, sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits serta atsar yang sampai pada kita tentang hal tersebut, diantaranya:

Pertama: Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu 'anhu yang menceritakan, "Suatu ketika kami pernah keluar (ekspedisi) bersama Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam menuju Hunain, dan ketika itu kami baru saja masuk Islam.

        Pada saat itu kaum musyrikin mempunyai pohon bidara yang biasa mereka berdiam diri disisinya serta tempat untuk menggantungkan senjata, pohon tersebut dinamai dengan Dzatu Anwath.

        Maka ketika kami melewati pohon bidara, kami usulkan pada beliau, "Wahai Rasul, (tolong) jadikan untuk kami (pohon ini) sebagai Dzatu Anwath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu Anwath. Seketika Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam marah seraya mengatakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لله أكبر! إنها السنن قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو إسرائيل " اجعل لنا إلها كما لهم آلهة " قال : إنكم قوم تجهلون لتركبن سنن من كان قبلكم » [أخرجه الترمذي وأحمد]

"Allah Akbar! sungguh ucapan kalian ini sama -demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya- persis seperti ucapan Bani Israil kepada Musa, "Jadikan untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan", Musa menjawab, "Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bodoh".  Benar-benar kalian pasti akan mengekor perilaku orang-orang sebelum kalian".[133]

       Syaikh Abdurahman bin Hasan menjelaskan hadits diatas dengan ucapannya, "Dan berdiam dirinya kuam musyrikin pada pohon bidara tersebut dengan tujuan untuk mencari berkah dan bentuk pengagungan padanya".[134]

           Hal ini menunjukan bahwa kaum musyrikin pada masa Jahiliah, mereka biasa bertabaruk dan mencari berkah pada pohon bidara tadi, dan sebagaimana diketahui bahwa bertabaruk dan mencari berkah, serta punya tujuan agar keduanya bisa tetap langgeng adalah ibadah, maka tercapainya kebaikan dan keberkahan serta kelanggengannya hanya bisa dilakukan oleh Allah karena termasuk kekhususan dalam rububiyahNya.

        Oleh karenanya perbuatan mereka ini termasuk dalam jenis kesyirikan rububiyah, ketika mereka menyekutukan Allah dalam sifat ke maha mampuanNya yang sempurna. Sebab mereka menyakini bisanya memperoleh kebaikan dan keberkahan serta kontinyu keduanya dari selain Allah azza wa jalla.

          Barangkali pernyataan para pakar sejarah ketika menjelaskan awal mula terjadinya perbuatan syirik, yaitu tabaruk kepada bebatuan tanah Haram sebagai bukti yang paling jelas bahwa orang Arab pada masa Jahiliah, telah terbiasa bertabaruk dengan berbagai macam benda, sebagaimana telah lewat penjelasannya ketika menerangkan penyembahan batu yang dilakukan oleh anak keturunannya nabi Isma'il 'alaihi sallam.

         Kemudian disana juga dijumpai dalam beberapa nash yang menerangkan bahwa orang Arab pada masa Jahiliah biasa bertabaruk dan menyandarkan urusan kepada beberapa kubur, seperti dinyatakan oleh sebagian pakar sejarah dalam tulisannya bahwa kuburan Hatim ath-Tha'i dijadikan sebagai tempat singgah bagi para tamu dan sebagai tempat perlindungan bagi orang yang ketakutan pada masa Jahiliah. Dimana suku Tha'i mengklaim bahwa tidak ada seorangpun yang singgah dikuburan Hatim melainkan terjamin.

         Seperti dikisahkan bahwa Abul Bakhtari[135] pernah melihat ada sekelompok orang dari kaumnya yang melewati kubur Hatim ath-Tha'i, dimana mereka singgah ditempat yang tidak begitu jauh darinya, maka tatkala malam Abul Bakhtari menyerunya, 'Wahai Abu Ja'ad, singgahnya disini".[136]

        Maksudnya ialah, bahwa mencari berkah kepada selian Allah azza wa jalla dan kepada selain tempat-tempat yang telah direkomendasikan kebolehannya oleh Allah dalam nash al-Qur'an dan Sunah, apabila tujuan orang yang mencari berkah ingin bertabaruk supaya memperoleh apa yang dinginkan langsung darinya, maka tidak diragukan lagi bahwa itu termasuk perbuatan syirik kepada Allah dalam rububiyahNya, karena menyekutukan Allah dalam sifat maha mampu yang sempurna lagi mencakup segala sesuatu. Dan apabila yang ditabaruki tadi diyakini mampu memberi syafaat disisi Allah, maka ini termasuk kesyirikan kepada Allah dalam perkara ibadah.

 18.       Sihir dan menyihir, serta jampi-jampi untuk menolak sihir. Masuk diantaranya juga ilmu pelet.

       Sebelum kita masuk pada masalah ini yang menjelaskan perilaku diatas masuk dalam kategori kesyirikan, serta pembuktian praktek sihi telah ada dikalangan orang Arab era Jahiliah, maka alangkah eloknya bila kita jelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan sihir itu.

       Sihir secara bahasa adalah setiap perkara yang bisa mendekatkan seseorang agar merasa senang. Dan asal kata dari sihir ini adalah memalingkan hakekat sesuatu pada yang lain, jika dikatakan saharahu artinya ialah memperdayainya. Dan bila dikatakan saharahu kalamahu artinya kelembutan bahasa dan keindahan tutur katanya.[137]

       Adapun secara definisi, maka yang paling bagus ialah seperti yang dikatakan oleh Imam Syafi'i[138], dimana beliau menyatakan, "Sihir adalah sebuah nama yang mempunyai arti yang sangat beragam".[139] Dan para ulama telah menjelaskan sihir ini dengan berbagai definisi, diantaranya:

01.    Suatu perkara yang tersembunyi sebabnya, yang menyebabkan orang yang terkena berkhayal seakan-akan melakukan sesuatu, seperti halnya orang yang sedang tertipu.[140]

02.    Ada yang mengatakan, "Sihir ialah ucapan yang dibikin-bikin yang isinya mengagungkan selain Allah ta'ala lantas menyandarkan kepadaNya dalam urusan takdir dan kejadian alam semesta".[141]

03.    Dikatakan, "Sihir adalah buhul dan jampi-jampi serta mantera yang dibacakan, atau ditulis, atau melakukan ritual tertentu, yang dapat berpengaruh terhadap badan atau hati atau akal orang yang terkena sihir".[142]

04.    Dinyatakan, "Sihir adalah jimat-jimat, jampi-jampi, buhul-buhul yang dapat berpengaruh terhadap badan dan hati, sihir itu dapat menyakiti, membunuh dan memisah pasangan suami dan istri".[143]

05.    Dikatakan, "Sesungguhnya sihir itu ialah suatu kekuatan yang dibikin, dan cara untuk mendapat kekuatan tersebut ialah dengan melakukan ritual-ritual tertentu. Namun karena samarnya hal tersebut maka tidak ada yang bisa sampai pada tingkatan tersebut melainkan orang-orang yang mempelajarinya. Adapun alat peraganya maka ada pada benda-benda tertentu yang harus mengetahui cara pemakaiannya dan waktu-waktu kapan melakukan ritualnya".[144]

      Bila diperhatikan maka masing-masing definisi diatas saling berbeda, dan faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut ialah karena banyaknya kasus sihir ini, dan beragamnya kejadian orang yang terkena sihir, sehingga ada seorang ulama yang bernama Fakhrurazi menyebutkan ada delapan golongan[145], bahkan ulama lain ada yang menyebutkan lebih banyak lagi, oleh karena itu ada peringatan dari sebagian ulama akan pentingnya untuk menjelaskan secara detail makna sihir ini dan membedakan dengan yang lainya.

        Imam al-Qarafi[146] menjelaskan, "Menurut madzhab Malik dan sebagian ulama bahwa tukang sihir hukumnya adalah kafir, bahwa praktek sihir semuanya mengandung kekafiran.

       Dan tidak diragukan lagi bahwa hukum secara global ini lebih dekat dengan kebenaran. Namun, tatkala memberi fatwa pada cabang-cabang sihir yang ada, diantara mereka ada yang terjatuh dalam kesalahan yang besar yang bisa mengantarkan pada kebinasaan sang pemberi fatwa tadi, sebabnya ialah, apabila ada yang bertanya pada seorang fakih, "Apa yang dimaksud dengan sihir? Apa sebetulnya hakekat sihir hingga bisa mengakibatkan orang yang melakukannya menjadi kufur?

      Maka dalam memberi jawaban tentang hal ini sangat sulit sekali. Sebab, jika anda berkata padanya, sihir, ruqyah, khawash, simiya, kimia dan kekuatan jiwa, semuanya adalah sama yaitu bagian dari sihir.

Lalu apakah  beberapa perkara tadi masuk adalam praktek sihir murni lalu yang lainnya bukan termasuk dalam praktek sihir? Jika dikatakan padanya, semuanya masuk dalam kategori sihir. Maka anda akan terjerumus untuk menyatakan bahwa surat al-Fatihah adalah bagian dari sihir, karena bisa dijadikan sebagai jampi-jampi pengobatan (untuk meruqyah), berdasarkan kesepakatan ulama.

       Dan jika anda katakan, kalau masing-masing perkara tadi mempunyai kekhususan tersendiri, maka dijawab, "Kalau begitu, tolong jelaskan kepada kami kekhususan masing-masing perkara tadi, dan apa yang bisa membedakan satu dengan lainnya".

       Karena masalah ini, sangat sedikit disadari oleh sebagian orang yang sedang meminta fatwa, apalagi kritis dalam masalah ini. 

       Karena sesungguhnya buku-buku yang disusun yang berkaitan dengan sihir hanya meletakan nama ini begitu saja (tanpa merinci definisinya) yang bisa jadi hukumnya adalah haram dan kufur ada juga yang tidak termasuk kedua hukum tersebut, demikian definisi tukang sihir.

       Dan lafal sihir ini, bila diartikan secara bebas maka bisa terbagi menjadi dua kelompok (ada yang haram ada yang tidak), maka sangat penting sekali untuk menjelaskan secara rinci antara keduanya agar tidak salah persepsi".[147]

       Kemudian beliau melanjutkan, "Dalam permasalahan sihir seperti ini banyak sekali memiliki fasal dalam buku-buku para ulama, yang jika dilihat dari sisi syariat, maka ada yang memutuskan bahwasannya bukan termasuk perbuatan maksiat dan kekufuran, sebagaimana ada diantara mereka yang memutuskan bahwasannya hal tersebut adalah kekufuran, oleh karena itu wajib dijelaskan secara detail dan rinci, seperti yang dikatakan oleh Imam Syafi'i, adapun dengan langsung memukul rata setiap kasusnya, bahwa setiap yang dinamakan sihir adalah kekufuran maka ini sangat sulit sekali bisa diterima".[148]

         Betapa tepat ucapan beliau ini –semoga Allah merahmatinya-, sebab menghukumi sesuatu merupakan bagian dari ilustrasinya, oleh karena itu, seharusnya bagi ulama yang menggeluti masalah ini untuk lebih merinci, membedakan, dan memisah antara praktek sihir yang masuk dalam kategori kekufuran dan yang tidak masuk dalam kekufuran.

         Barangkali inilah yang mendorong Syaikh Syinqithi untuk menyatakan masalah ini sama seperti ucapannya Imam Syafii sebelum ini, yaitu, "Bahwa yang namanya sihir dalam istilah maka tidak mungkin bisa dibatasi definisinya dengan batasan yang memuaskan lagi komprehensif, karena begitu banyak jenis dan ragam yang masuk didalamnya".[149]

      Maka kesimpulan penelitian dari masalah ini perlu dirinci, yaitu, apabila bentuk sihirnya bermuara dari perkara-perkara yang terkandung didalamnya bentuk pengagungan pada selain Allah, semisal pada bintang, jin atau yang lainya, yang dapat menjerumuskan pada kekufuran, maka hukum sihir seperti ini adalah haram tanpa ada perselisihan.

       Dan jenis sihir inilah yang diajarkan oleh dua malaikat Harut dan Marut, seperti yang Allah abadikan kisahnya di dalam surat al-Baqarah, maka melakukannya adalah kekufuran tanpa ada perselisihan dikalangan para ulama, sebagaimana ditegaskan oleh Allah ta'ala didalam firmanNya:

﴿ وَمَا كَفَرَ سُلَيۡمَٰنُ وَلَٰكِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ وَمَآ أُنزِلَ عَلَى ٱلۡمَلَكَيۡنِ بِبَابِلَ هَٰرُوتَ وَمَٰرُوتَۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنۡ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَآ إِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٞ فَلَا تَكۡفُرۡۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنۡهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِۦ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَزَوۡجِهِۦۚ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِۦ مِنۡ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡۚ وَلَقَدۡ عَلِمُواْ لَمَنِ ٱشۡتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖۚ وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡاْ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمۡۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ١٠٢ وَلَوۡ أَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَمَثُوبَةٞ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ خَيۡرٞۚ لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ١٠٣ ﴾ [ البقرة: 102-103 ]

"Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui". (QS al-Baqarah: 102-103).

       Kemudian, jika sihir yang dilakukan tidak mengandung konsekuensi kekufuran, semisal meminta pertolongan kepada orang-orang khusus dengan meminta air atau yang lainnya, maka hukumnya adalah haram dengan keharaman yang sangat, namun, tidak sampai pelakunya dihukumi kufur.[150]

      Imam Nawawi memiliki sebuah stagmen yang sangat bagus tentang hukum sihir, dimana beliau menyatakan, "Terkadang hukum sihir bisa berubah menjadi kufur, kadang hanya sampai pada tingkatan dosa besar. Maka apabila dalam sihir tersebut ada kata-kata atau ritual yang mengandung kekufuran ketika itulah dihukumi kafir, dan kalau tidak terpenuhi perkara tadi maka belum sampai dikatakan kafir.

      Sedangkan hukum mempelajari serta mengajarkan maka hukum keduanya adalah haram, dan bila terkandung didalamnya kekufuran maka bisa menjadi kafir, kalau tidak maka belum sampai dikatakan kafir, yaitu apabila tidak terdapat didalamnya sesuatu yang menjadikan pelakunya kafir, sedang kewajiba kita ialah menegur serta diminta untuk segera bertaubat".[151]

      Maka sihir yang masuk dalam kategori kafir pelakunya, kadang bisa dengan ucapan lisan, keyakinan dalam hati, atau bisa dengan perbuatan anggota badan, dan berikut contoh dari masing-masing kasus diatas:

      Praktek sihir yang tidak dilakukan melainkan melalui metode setan, semisal meminta bantuan mereka, menyeru pada mereka, pada perkara yang tidak mengabulkan melainkan oleh Allah, lalu terlontarlah ucapan kufur disebabkan karena kerelaan dan merasa senang dengan mereka.

        Atau menyakini kemampuan setan didalam memberi manfaat atau mara bahaya tanpa ikut campur Allah dalam masalah itu. Maka kedua perkara inilah yang kami maksud dalam bab ini, dimana keduanya masuk dalam syirik rububiyah. Dan keduanya merupakan kesyirikan tatkala menyekutukan kemampuan Allah yang maha sempurna, dan insya Allah akan datang penjelasannya secara rinci pada tempatnya.

      Atau mengklaim kalau dirinya atau setan pembantunya mengetahui perkara ghaib atau ikut ambil bagian bersama Allah dalam masalah ini, maka ini merupakan bentuk menyekutukan Allah dalam sifatNya yang maha mengetahui akan segala sesuatu, dan ini telah kita jelaskan sebelumnya.

       Atau menyerahkan sembelihan untuk setan-setan yang dipujanya, atau ritual yang mendekatkan diri kepada mereka, maka jelas, ini merupakan bentuk kesyirikan kepada Allah dalam uluhiyah dan peribadatan.

       Atau merendahkan perkara yang Allah telah wajibkan supaya diagungkan semisal al-Qur'an ataupun yang lainnya, maka ini juga merupakan bentuk kesyirikan kepada Allah azza wa jalla.

       Intinya disini ialah menjelaskan apakah terdapat kesyirikan jenis ini, yakni syirik rububiyah dengan menyekutukan sifat Allah yang maha mampu, yang mencakup segala sesuatu telah ada pada orang Arab pada generasi Jahiliah? Ataukah ini termasuk perbuatan syirik kepada Allah dalam perkara rububiyah? Atau yang lainnya?

         Adapun jawaban untuk pertanyaan pertama maka bagi orang yang mencoba untuk merenungi penjelasan dalam kitab suci al-Qur'an, maka diterangkan disana bahwa praktek sihir dengan segala macam dan ritualnya telah ada pada setiap umat sebagaimana dituangkan oleh Allah didalam firmanNya:

﴿ كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ ٥٢ ﴾ [الذريات: 52 ]

"Demikianlah tidak seorang Rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila". (QS adz-Dzariyaat: 52).

       Dijelaskan oleh Syaikhul Islam bahwa nama ini yaitu sihir telah diketahui oleh hampir semua umat terdahulu.[152]

      Dan ini sebagai bukti, kalau praktek sihir telah ada pada zamannya Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana dibuktikan dengan ucapan kaum musyrikin pada saat itu yang menjuluki Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam sebagai tukang sihir, seperti yang Allah rekam didalam firmanNya:

﴿ وَلَوۡ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ كِتَٰبٗا فِي قِرۡطَاسٖ فَلَمَسُوهُ بِأَيۡدِيهِمۡ لَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ٧ ﴾ [ الأنعام: 7 ]

"Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang kafir itu berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata". (QS al-An'aam: 7).

           Begitu pula yang Allah singgung didalam firmanNya:

﴿ قَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ إِنَّ هَٰذَا لَسَٰحِرٞ مُّبِينٌ ٢  ﴾ [ يونس: 2 ]

"Orang-orang kafir berkata: "Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata". (QS Yunus: 2).

          Demikian yang Allah jelaskan dalam firmanNya:

﴿ لَيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ٧  ﴾ [ هود: 7 ]

"Niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata". (QS Huud: 7).

            Begitu pula yang Allah terangkan didalam firmanNya:

﴿ وَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ٤  ﴾ [ ص: 4 ]

"Dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta". (QS Shaad: 4).

              Demikian pula dalam firmanNya:

﴿ إِذۡ يَقُولُ ٱلظَّٰلِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا ٤٧ ﴾ [ الإسراء: 47 ]

"(Yaitu) ketika orang-orang zalim itu berkata: "Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir". (QS al-Israa': 47).

        Dan juga Allah jelaskan dalam firmanNya:

﴿ وَقَالَ ٱلظَّٰلِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا ٨  ﴾ [ الفرقان: 8 ]

"Dan orang-orang yang zalim itu berkata: "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir". (QS al-Furqaan: 8).

              Begitu juga yang Allah jelaskan dalam firmanNya:

﴿ بَلۡ نَحۡنُ قَوۡمٞ مَّسۡحُورُونَ ١٥  ﴾ [ الحجر: 15 ]

"Bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir". (QS al-Hijr: 15).

               Dan juga yang Allah terangkan dalam firmanNya:

﴿ قَالُوٓاْ إِنَّمَآ أَنتَ مِنَ ٱلۡمُسَحَّرِينَ ١٥٣ ﴾ [ الشعراء: 153 ]

"Mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir". (QS asy-Syu'araa: 153).

               Demikian juga yang Allah singgung dalam firmanNya:

﴿ قَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمۡ هَٰذَا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ٧ ﴾ [ الأحقاف: 7]

"Berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: "Ini adalah sihir yang nyata". (QS al-Ahqaaf: 7).

             Dan juga Allah terangkan dalam firmanNya:

﴿ أَفَسِحۡرٌ هَٰذَآ أَمۡ أَنتُمۡ لَا تُبۡصِرُونَ ١٥  ﴾ [ الطور: 15 ]

"Maka apakah ini sihir? ataukah kamu tidak melihat?". (QS ath-Thuur: 15).

        Dan juga yang Allah sebutkan didalam firmanNya:

﴿ وَإِن يَرَوۡاْ ءَايَةٗ يُعۡرِضُواْ وَيَقُولُواْ سِحۡرٞ مُّسۡتَمِرّٞ ٢ ﴾ [ القمر: 2 ]

"Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus". (QS al-Qamar: 2).

           Begitu pula yang Allah terangkan didalam firmanNya:

﴿ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ قَالُواْ هَٰذَا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ٦﴾ [ الصف: 6 ]

"Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata". (QS ash-Shaff: 6).

        Dan juga Allah sebutkan dalam firmanNya:

﴿ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ ٢٤ ﴾ [ المدثر: 24 ]

"Lalu Dia berkata: "(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu)". (QS al-Mudatstsir: 24).

        Sebagaimana ditunjukan dalam kisah tersihirnya Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam yang dilakukan oleh sebagian musuhnya dari kalangan orang Yahudi.[153]

       Dalil-dalil diatas, semuanya memberi satu pencerahan secara gamblang bahwa orang Arab dahulu paham tentang ilmu sihir, bahkan diantara mereka ada yang mempunyai profesi sebagai tukang sihir.

       Adapun jawaban bagi pertanyaan yang kedua, yaitu apakah sihir termasuk dalam syirik rububiyah? Dan dari sisi mana? Maka kami jawab secara ringkas;

     Bahwa sebagian jenis sihir tidak sampai melampaui batas hukum kecuali syirik kepada Allah jalla wa jalla, hal itu ketika dikerjakan ada kalanya dengan meminta pertolongan pada jin, atau menyeru mereka dengan perkara yang tidak mampu dilakukan melainkan oleh Allah ta'ala, dimana dirinya mengucapkan kata-kata kufur demi mengharap keridhoan mereka serta menuruti kesenangannya.

       Atau menyakini bahwa bintang-bintang dilangit memiliki peran didalam turut campur mengatur alam semesta ini, apakah dengan menyakini kalau bintang tersebut mampu memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya tanpa adanya izin dari Allah azza wa jalla.

      Maka, dua perkara diatas merupakan bentuk menyekutukan Allah didalam perkara ke maha mampuan Allah yang maha sempurna, dan tentu saja keduanya masuk dalam kategori syirik kepada Allah dalam perkara rububiyah.

      Atau contoh yang lain, yaitu mengklaim bila dirinya atau setan pembantunya mengetahui perkara ghaib atau ikut serta ambil bagian bersama Allah dalam mengetahui perkara ghaib. Maka jelas ini juga termasuk syirik kepada Allah didalam ilmuNya tentang perkara ghaib, dan ini masuk dalam kategori syirik rububiyah.

       Atau mengarahkan beberapa jenis peribadatan kepada setan-setan pujaanya, semisal menyembelih untuk mereka, mendekatkan diri pada mereka dengan bernadzar. Maka ini juga termasuk syirik kepada Allah dalam perkara rububiyah.[154]

      Kemudian Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam juga mengandeng antara sihir dengan kesyirikan, bahkan didalam sebagian hadits beliau secara tegas menamainya dengan perbuatan syirik.

     Dan beliau juga menghukumi kufur bagi seseorang yang mendatangi tukang sihir lalu membenarkan ucapannya, lantas bagaimana dengan tukang sihirnya? Sebagaimana Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam juga berlepas diri dengan tukang sihir dan yang terkena sihir.

      Seperti disebutkan dalam sebuah hadits, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ.. » [أخرجه البخاري ومسلم]

"Jauhi oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan". Para sahabat pun bertanya, 'Apa itu wahai Rasul? Beliau menjawab, "Menyekutukan Allah, sihir, membunuh nyawa yang diharamkan oleh Allah…".[155]

        Dalam hadits lain Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ خَمْرٍ وَقَاطِعُ رَحِمٍ وَمُصَدِّقٌ بِالسِّحْرِ » [أخرجه أحمد]

"Tiga golongan yang tidak akan masuk kedalam surga, orang yang menimbun khamar, orang yang memutus tali keluarga, dan orang yang membenarkan ucapan tukang sihir".[156]

          Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam juga pernah menjelaskan dalam sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « من عقد عقدة ثم نفث فيها فقد سحر ومن سحر فقد أشرك ومن تعلق شيئا وكل إليه » [أخرجه النسائي]

"Barangsiapa yang membuat buhul lalu ditiupkan mantera-mantera padanya maka dirinya telah berbuat sihir, dan barangsiapa melakukan perbuatan sihir maka sungguh dirinya telah kufur, barangsiapa mengalungkan sesuatu maka dia akan diserahkan urusannya pada (jimat) tersebut oleh Allah".[157]

        Dalam hadits yang lain beliau shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ » [أخرجه أحمد وأبو داود]

"Sesungguhnya jampi-jampi, mengantungkan tamimah dan taulah adalah kesyirikan kepada Allah".[158]

       Dan taulah (pelet.pent) ini termasuk salah satu jenis praktek sihir, seperti ditegaskan oleh Imam al-Ashma'i [159], dan taulah ini ialah perkara yang menjadikan wanita semakin mencintai suaminya.[160]

        Dari atsar para sahabat, diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Barangsiapa mendatangi paranormal atau tukang sihir atau dukun, lalu dirinya bertanya dan membenarkan ucapannya maka sungguh dirinya telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam".[161]

        Sahabat Imran bin Hushain mengatakan, 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ليس منا من تطير أو تطير له  أو تكهن او تكهن له أو سحر أو سحر له » [أخرجه البزار]

"Bukan termasuk golongan kami orang yang meminta dan melakukan tathayur, meramal dan minta diramal, menyihir atau minta disihirkan".[162]

         Hadits-hadits diatas seluruhnya menunjukan bahwa sihir merupakan kesyirikan.

        Dermasuk perkara yang semakna dengan sihir ialah Nusyrah. Dan nusyrah ini telah ada dikalangan orang Arab semenjak masa Jahiliah.[163]

      Dijelaskan oleh Ibnu Atsir apa itu nusyrah, beliau menjelaskan, "Nusyrah ialah metode pengobatan dengan ruqyah, digunakan untuk mengobati orang yang di prediksi terkena jin, dinamaka nusyrah dikarenakan orang yang terkena penyakit diberi jampi-jampi, yaitu supaya hilang dan terungkap penyakitnya. Dikatakan oleh al-Hasan, "Nusyrah termasuk dari perkara sihir".[164]

      Imam Ibnu Qoyim menuturkan, "Nusyrah adalah penyembuhan terhadap seseorang yang terkena sihir, dan caranya ada dua macam; pertama; dengan cara menggunakan sihir pula, dan inilah yang dilakukan orang Arab pada masa Jahiliah dan ini termasuk perbuatan setan, yang ditegaskan oleh Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya, "Hal itu termasuk perbuatan setan".

Kedua; Penyembuhan dengan menggunakan ruqyah dan ayat-ayat yang berisikan meminta perlindungan kepada Allah azza wa jalla, juga dengan obat-obatan yang diperbolehkan dan doa-doa yang dibolehkan. Maka cara ini hukumnya dibolehkan".[165]

        Dan yang kami maksud dari penjelasan pasal ini ialah pada jenis pertama yaitu nusyrah yang masuk dalam kategori sihir, dan jenis penyembuhan semacam ini telah ada pada zaman Jahiliah.

       Barangkali inilah sebab yang mendorong para ulama yang secara tegas menyatakan, "Tidak boleh menyembuhkan orang yang terkena sihir dengan sihir lagi"[166]. Sebab hukumnya sama persis dengan sihir baik rincianya ataupun secara global.

      Dan diantara bentuk syirik kepada Allah ta'ala yang berkaitan dengan sifatNya yang Maha mampu lagi sempurna ialah:

 19.       Thiyyarah dan Tathayyur atau yang semakna dengan keduanya.

        Ath-Thiyyarah dengan diberi harakat kasrah huruf Tha' dan di fathah huruf  Ya', adapula ulama yang menjelaskan dengan di sukun, adalah sebuah bentuk masdar dari isim Tathayara, Thiyyaratan sama seperti kata Takhayara, Khiyaratan.

     Asal kata ini bermakna merasa bernasib sial ketika melihat seekor burung atau kijang atau binatang lainnya. Sehingga ketika melihat binatang-binatang tersebut maka mereka mengurungkan niatnya, kemudian datang syariat untuk menafikan hal tersebut serta menghapusnya, dan menjelaskan bahwa perkara tersebut tidak memiliki pengaruh apapun, baik dalam memberi manfaat tidak pula dalam menolak mara bahaya.[167]

     Dan Thiyyarah ini termasuk perbuatan syirik kepada Allah azza wa jalla dalam perkara rububiyah, dikarenakan telah menyekutukan Allah dalam kemampuanNya yang maha sempurna, oleh karena itu Nabi shalallah 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ   ثلاَثا » [أخرجه ابو داود والترمذي]

"Thiyarah itu perbuatan syirik, Thiyarah itu perbuatan syirik, Thiyarah itu perbuatan syirik". Sebanyak tiga kali.[168]

      Dalam hadits lain beliau juga bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ  عِنْ حَاجَته فَقَدْ أَشْرَكَ » [أخرجه أحمد]

"Barangsiapa yang mengurungkan hajatnya karena thiyarah ini maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan".[169]

        Kenapa thiyarah ini masuk dalam kategori kesyirikan, karena orang yang melakukan itu, mempunyai keyakinan bahwa thiyarah ini mampu memberi manfaat pada mereka, atau dapat mencegah mara bahaya, dengan catatan jika mereka melakukan ritual yang ditentukan sebelumnya, sehingga dari sinilah seakan-akan mereka menyekutukan bersama Allah azza wa jalla.[170]

      Maka dalil-dalil tadi menunjukan secara tegas kalau perbuatan tadi adalah syirik, dan menunjukan kalau perilaku tersebut nampak jelas pada komunitas Arab pada zaman Jahiliah, sebagaimana hal itu juga telah dilakukan oleh umat-umat sebelumnya.

      Adapun dalil yang menegaskan kalau perbuatan tersebut telah ada pada zaman Jahiliah adalah sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Muslim dari Mu'awiyah bin Hakam as-Sulami bahwa dirinya pernah berkata kepada Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam, 'Dan diantara kami ada yang bertathayur', maka Beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ذَاكَ شَىْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِى نَفْسِهِ فَلاَ يَصُدَّنَّكُمْ » [أخرجه مسلم]

"Hal itu adalah sesuatu yang telah ada pada diri seseorang maka jangan menyebabkan untuk menghalangi kalian untuk (melakukan aktivitasnya)".[171]

       Imam Ikrimah menceritakan, "Kami pernah duduk-duduk bersama Ibnu Abbas, lalu ada suara seekor burung, sehingga ada seseorang yang berujar, 'Pertanda baik, pertanda baik'. Maka Ibnu Abbas menyergah sambil berujar, "Tidak baik, tidak pula jelek".

      Imam Ibnu Qoyim mengomentari atsar diatas dengan ucapannya, "Maka Ibnu Abbas segera mengingkari ucapan orang tadi, supaya tidak tumbuh keyakinan dalam benaknya kalau perkara tersebut mempunyai efek baik ataupun jelek".

      Suatu ketika Thawus[172] pernah bepergian bersama temannya, lalu terdengar suara burung gagak, maka orang tersebut berkata, "Pertanda baik", segara Imam Thawus menjelaskan, "Apanya yang baik pada seekor burung ?! Sudah kamu jangan temani saya".[173]

      Sebagaimana hal itu juga disebutkan oleh para pakar sejarah, dimana mereka menjelaskan bagaimana sikap pesimis dan optimis orang-orang Arab ketika melihat sesekor burung, dan kenyataan seperti ini menjadi perkara yang biasa dilakukan oleh mereka, bahkan sampai ada disebagian suku yang merasa sial ketika bersin.[174]

     Sehingga, tidak diragukan lagi kalau perbuatan ini termasuk kesyirikan kepada Allah dalam perkara kemaha mampuan Allah yang maha sempurna, yaitu manakala orang yang melakukanya sampai menyakini bahwa perbuatannya tersebut memiliki efek dalam mendapat manfaat atau menolak mara bahaya. adapun kalau menyakini bahwa hal tersebut hanya sekedar faktor saja, maka hal tersebut termasuk perbuatan syirik kecil.

        Dan diantara bentuk kesyirikan kepada Allah dalam perkara rububiyah dengan menjadikan sekutu lalu menyematkan sifat-sifat Allah kepada sebagian makhluk ialah:

 20.       Kesyirikan dengan memberi hak membuat syariat dalam penghalalan dan pengharaman,  serta berhukum kepada selain Allah.

       Seperti telah diketahui bersama, bahwa hukum atau menghukumi adalah salah satu sifat dari sifat-sifat Allah azza wa jalla. Begitu juga dalam membuat syariat, menghalalkan dan mengharamkan. Dimana Allah ta'ala menjelaskan dalam firmanNya:

﴿ أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡتَغِي حَكَمٗا ١١٤ ﴾ [ الأنعام: 114 ]

"Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah". (QS al-An'aam: 114).

          Demikian pula Allah ta'ala berfirman:

﴿ فَٱصۡبِرُواْ حَتَّىٰ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ بَيۡنَنَاۚ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ٨٧ ﴾[ الأعراف: 87 ]

"Maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya". (QS al-A'raaf: 87).

          Begitu juga Allah ta'ala berfirman:

﴿ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ ٨﴾ [ التين: 8 ]

"Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?". (QS at-Tiin: 8).

         Dalam sebuah hadits Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah adalah hakim dan kepadaNya hukum diserahkan".[175]

        Dan kaum musyrikin Arab dahulu telah terjerumus dalam kesyirikan ini, sedangkan dalil yang menunjukan akan hal itu ialah sanggahan yang Allah tujukan pada mereka didalam kitabNya, diantaranya ialah firman Allah azza wa jalla.

﴿ أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ ٢١ ﴾ [ الشورى: 21 ]

"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?". (QS asy-Syuuraa: 21).

           Demikian pula Allah ta'ala menjelaskan dalam firmanNya:

﴿ قُلۡ هَلُمَّ شُهَدَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ يَشۡهَدُونَ أَنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَ هَٰذَاۖ ١٥٠  ﴾ [ الأنعام: 150 ]

"Katakanlah: "Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini". (QS al-An'aam: 150).

         Begitu juga Allah ta'ala mengatakan dalam firmanNya:

﴿ قُلۡ مَنۡ حَرَّمَ زِينَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِيٓ أَخۡرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّيِّبَٰتِ مِنَ ٱلرِّزۡقِۚ ٣٢ ﴾ [الأعراف: 32 ]

"Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?". (QS al-A'raaf: 32).

           Begitu pula Allah berfirman:

﴿ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ ٱلۡحَقِّ ٢٩  ﴾ [ التوبة: 29 ]

"Dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah)". (QS at-Taubah: 29).

          Dan Allah ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّمَا ٱلنَّسِيٓءُ زِيَادَةٞ فِي ٱلۡكُفۡرِۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُحِلُّونَهُۥ عَامٗا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامٗا لِّيُوَاطِ‍ُٔواْ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ فَيُحِلُّواْ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُۚ ٣٧  ﴾ [التوبة: 37 ]

"Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran. disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, Maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah". (QS at-Taubah: 37).

              Begitu juga Allah ta'ala berfirman:

﴿ سَيَقُولُ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ لَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشۡرَكۡنَا وَلَآ ءَابَآؤُنَا وَلَا حَرَّمۡنَا مِن شَيۡءٖۚ ١٤٨  ﴾ [ الأنعام: 148 ]

"Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun". (QS al-An'aam: 148).

          Allah azza wa jalla juga menjelaskan dalam firmanNya:

﴿ tA$s%uﷺ‬ šúïÏ%©!$# (#qä.uŽõ°ﷺ‬& öqs9 uä!$x© ª!$# $tB $tRô‰t6tã `ÏB ¾ÏmÏRﷺ‬ߊ ÆÏB &äóÓx« ß`øtªﷻ‬ Iwuﷺ‬ $tRät!$t/#uä Ÿwuﷺ‬ $oYøB§ym `ÏB ¾ÏmÏRﷺ‬ߊ `ÏB &äóÓx«   ﴾ [ النحل: 35 ]

"Dan berkatalah orang-orang musyrik: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa (izin)-Nya". (QS an-Nahl: 35).

            Demikian juga Allah ta'ala berfirman:

﴿ وَحَرَّمُواْ مَا رَزَقَهُمُ ٱللَّهُ ٱفۡتِرَآءً عَلَى ٱللَّهِۚ ١٤٠  ﴾ [ الأنعام: 140 ]

"Dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah". (QS al-An'aam: 140).

         Demikian pula Allah ta'ala berfirman:

﴿ وَقَالُواْ هَٰذِهِۦٓ أَنۡعَٰمٞ وَحَرۡثٌ حِجۡرٞ لَّا يَطۡعَمُهَآ إِلَّا مَن نَّشَآءُ بِزَعۡمِهِمۡ وَأَنۡعَٰمٌ حُرِّمَتۡ ظُهُورُهَا وَأَنۡعَٰمٞ لَّا يَذۡكُرُونَ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَيۡهَا ٱفۡتِرَآءً عَلَيۡهِۚ سَيَجۡزِيهِم بِمَا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ١٣٨ وَقَالُواْ مَا فِي بُطُونِ هَٰذِهِ ٱلۡأَنۡعَٰمِ خَالِصَةٞ لِّذُكُورِنَا وَمُحَرَّمٌ عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِنَاۖ وَإِن يَكُن مَّيۡتَةٗ فَهُمۡ فِيهِ شُرَكَآءُۚ سَيَجۡزِيهِمۡ وَصۡفَهُمۡۚ إِنَّهُۥ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ١٣٩ ﴾ [ الأنعام: 138-139 ]

:Dan mereka mengatakan: "Inilah hewan ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki", menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan ada binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan. Dan mereka mengatakan: "Apa yang ada dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami," dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui". (QS al-An'aam: 138-139).

        Begitu juga Allah ta'ala berfirman:

﴿ Ÿwuﷺ‬ (#qä9qà)s? $yJÏ9 ß#ÅÁs? ãNà6çGoYÅ¡ø9ﷺ‬& z>ɋs3ø9$# #x‹»yd ×@»n=ym #x‹»yduﷺ‬ ×P#tym (#ﷺ‬çŽtIøÿtGÏj9 ’n?tã «!$# z>ɋs3ø9$# 4 ¨bÎ) tûïÏ%©!$# tbﷺ‬çŽtIøÿtƒ ’n?tã «!$# z>ɋs3ø9$# Ÿw tbqßsÎ=øÿム ﴾ [ النحل: 116 ]

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung". (QS an-Nahl: 116).

           Dalam kesempatan lain Allah ta'ala berfirman:

﴿ قُلۡ أَرَءَيۡتُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ لَكُم مِّن رِّزۡقٖ فَجَعَلۡتُم مِّنۡهُ حَرَامٗا وَحَلَٰلٗا قُلۡ ءَآللَّهُ أَذِنَ لَكُمۡۖ أَمۡ عَلَى ٱللَّهِ تَفۡتَرُونَ ٥٩ ﴾ [ يونس: 59 ]

"Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal". Katakanlah: "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?". (QS Yunus: 59).

        Serta ayat-ayat lainnya, yang menjelaskan secara jelas kalau mereka telah terjatuh kedalam syirik membuat tandingan didalam penghalalan dan pengharaman serta membuat syariat kepada selain Allah azza wa jalla.

        Sebagaimana disana juga dijumpai adanya ayat-ayat yang menunjukan bahwa mereka terjerumus kedalam kesyirikan dengan berhukum dan menghukumi kepada selain Allah, diantaranya ialah, firman Allah azza wa jalla:

﴿ أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠﴾ [المائدة: 50 ]

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?". (QS al-Maa'idah: 50).

             Demikian pula dalam ayat lain Allah ta'ala berfirman:

﴿ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يَزۡعُمُونَ أَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوٓاْ إِلَى ٱلطَّٰغُوتِ وَقَدۡ أُمِرُوٓاْ أَن يَكۡفُرُواْ بِهِۦۖ وَيُرِيدُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَن يُضِلَّهُمۡ ضَلَٰلَۢا بَعِيدٗا ٦٠ ﴾ [ النساء: 60 ]

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya". (QS an-Nisaa': 60).

           Begitu pula didalam keterangan lain Allah berfirman:

﴿ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٤٤ ﴾ [ المائدة: 44 ]

"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir". (QS al-Maa'idah: 44).

            Dalam ayat berikutnya Allah ta'ala berfirman:

﴿ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٤٥ ﴾ [ المائدة: 45 ]

"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim". (QS al-Maa'idah: 45).

          Kemudian dalam kesempatan lain Allah ta'ala mengatakan:

﴿ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٤٧  ﴾ [ المائدة: 47]

"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik". (QS al-Maa'idah: 47).

           Allah ta'ala juga menjelasakan dalam firmanNya:

﴿ أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡتَغِي حَكَمٗا وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ مُفَصَّلٗاۚ ١١٤ ﴾ [الأنعام: 114 ]

"Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dia lah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci?". (QS al-An'aam: 114).

           Demikian pula Allah mengatakan dalam firmanNya:

﴿ وَأَنِ ٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ وَٱحۡذَرۡهُمۡ أَن يَفۡتِنُوكَ عَنۢ بَعۡضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ ٤٩  ﴾ [ المائدة: 49 ]

"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu". (QS al-Maa'idah: 49).

               Allah juga menjelaskan dalam firmanNya:

﴿ فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ٦٥ ﴾ [ النساء: 65]

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan". (QS an-Nisaa': 65).

           Ayat-ayat al-Qur'an yang mulia ini menunjukan bahwa kaum musyrikin Arab memiliki sisi untuk berhukum kepada thagut-thagut yang telah dilarang oleh Allah. Bahkan disebutkan dalam beberapa ayat yang menjelaskan kalau keimanan seseorang tidak akan sempurna melainkan setelah dirinya kufur terhadap para thagut. Diantaranya ialah firman Allah azza wa jalla:

﴿ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ ٢٥٦  ﴾ [ البقرة: 256 ]

"Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus". (QS al-Baqarah: 256).

         Demikian pula Allah menjelaskan dalam ayat yang dalam firmanNya:

﴿ وَٱلَّذِينَ ٱجۡتَنَبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ أَن يَعۡبُدُوهَا وَأَنَابُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰۚ فَبَشِّرۡ عِبَادِ ١٧ ﴾ [ الزمر: 17 ]

"Dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku". (QS az-Zumar: 17).

       Dan diantara dalil yang sangat tegas yang menunjukan bahwa orang Arab zaman Jahilah memiliki kebiasaan berhukum kepada selain Allah azza wa jalla ialah mengundi nasib, seperti disebutkan didalam firmanNya:

﴿ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَيۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَٰمُ رِجۡسٞ مِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٩٠ ﴾ [ المائدة: 90 ]

"Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan". (QS al-Maa'idah: 90).

           Demikian pula yang Allah tegaskan didalam firmanNya:

﴿ وَأَن تَسۡتَقۡسِمُواْ بِٱلۡأَزۡلَٰمِۚ ذَٰلِكُمۡ فِسۡقٌۗٞ ٣ ﴾ [ المائدة: 3 ]

"Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan". (QS al-Maa'idah: 3).

        Intinya, bahwa perilaku kesyirikan ini telah ada dikomunitas orang Arab, yakni menyekutukan Allah didalam rububiyah dengan membikin tandingan-tandingan kepadaNya. Yaitu dengan memberi kewenangan pada selain Allah untuk membuat syariat, mengharamkan dan menghalalkan, berhukum dan menghukumi kepada selain Allah.

         Dan ahli tafsir juga telah menjelaskan masalah ketika menjabarkan ayat-ayat diatas yang berisikan penegasan kalau orang Arab pada zaman dahulu telah terjatuh kedalam kesyirikan semacam ini.

          Diantaranya ialah ucapan al-Hafidh Ibnu Katsir tatkala menafsirkan firman Allah ta'ala:

﴿ Ÿwuﷺ‬ (#qä9qà)s? $yJÏ9 ß#ÅÁs? ãNà6çGoYÅ¡ø9ﷺ‬& z>ɋs3ø9$# #x‹»yd ×@»n=ym #x‹»yduﷺ‬ ×P#tym (#ﷺ‬çŽtIøÿtGÏj9 ’n?tã «!$# z>ɋs3ø9$# 4 ¨bÎ) tûïÏ%©!$# tbﷺ‬çŽtIøÿtƒ ’n?tã «!$# z>ɋs3ø9$# Ÿw tbqßsÎ=øÿム ﴾ [ النحل: 116 ]

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung". (QS an-Nahl: 116).

         Beliau menjelaskan, "Kemudian Allah melarang untuk meniru jalannya kaum musyrikin yang telah menghalalkan dan mengharamkan sesuai dengan istilah dan makna yang mereka buat selaras dengan hawa nafsunya, semisal (adanya istilah) Bahirah, Sa'ibah, Washilah, dan al-Haam, serta perkara-perkara lain yang menjadi syariat bagi mereka, yang  mereka ada-adakan pada zaman Jahiliah".[176]

      Dalam kesempatan lain beliau menjelaskan, "Artinya bahwa Amr bin Luhai –semoga Allah melaknatnya- Dialah yang telah mengada-adakan perkara baru dalam agamanya nabi Ibrahim untuk kaumnya, kemudian orang Arab mengikutinya".[177]

     Beliau menegaskan dalam tempat yang lain, "Adapun ucapan dan perbuatannya (Amr bin Luhai) maka bagi kaumnya bagaikan syariat yang harus di ikuti dikarenakan kemuliaan, kedudukan dan kedermawanannya".[178]

      Mereka membuat perkara baru dengan menambahkan syariat yang batil lagi rusak yang dikira oleh pembesar mereka Amr bin Luhai –semoga Allah menghinakan wajahnya- akan membawa maslahat dan berdampak baik bagi binatang serta hewan ternak, sedangkan sejatinya dia adalah pendusta yang mengada-ada pada perkara itu semua.[179]

       Dan Imam Bukhari menukil ucapan Ibnu Abbas didalam kitab shahihnya bahwa beliau mengatakan, "Jika anda ingin mengetahui bagaimana kebodohan orang Arab Jahiliah maka silahkan membaca surat al-An'aam pada ayat seratus tiga puluh dan seterusnya".[180]

      Maka dijumpai dalam ayat-ayat tersebut adanya penghalalan dan pengharaman serta pensyariatan dari selain Allah yang hanya Allah sendiri yang mengetahui, dan bagi anda yang ingin mengetahuinya lebih luas maka kami persilahkan untuk membaca tafsir Ibnu Katsir serta buku-buku tafsir lainnya.

      Inilah sebagian perbuatan syirik yang nampak jelas yang berkaitan dengan menyekutukan Allah pada sebagian sifat-sifatNya dengan cara menyematkan sifat-sifat yang menjadi kekhususan Allah kepada para makhlukNya. 

       Selanjutanya, diantara syirik kepada Allah didalam sebagian sifat-sifatNya ialah menetapkan sifat-sifat lemah yang dimiliki oleh para makhluk kepada Allah jalla wa 'ala. Dan diantara bentuk kesyirikan yang nampak jelas dikalangan orang Arab pada zaman Jahiliah ialah:

 21.       Menetapkan bahwa Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan.

     Sebagaimana di abadikan oleh Allah dalam beberapa firmanNya, diantaranya:

﴿ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ شُرَكَآءَ ٱلۡجِنَّ وَخَلَقَهُمۡۖ وَخَرَقُواْ لَهُۥ بَنِينَ وَبَنَٰتِۢ بِغَيۡرِ عِلۡمٖۚ ١٠٠ ﴾ [الأنعام: 100 ]

"Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan". (QS al-An'aam: 100).

         Demikian pula yang Allah singgung didalam firmanNya:

﴿ أَفَأَصۡفَىٰكُمۡ رَبُّكُم بِٱلۡبَنِينَ وَٱتَّخَذَ مِنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنَٰثًاۚ إِنَّكُمۡ لَتَقُولُونَ قَوۡلًا عَظِيمٗا ٤٠ ﴾ [ الإسراء: 40 ]

"Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya)". (QS al-Israa': 40).

         Allah ta'ala juga mengatakan didalam firmanNya:

﴿ وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ وَٱلنَّصَٰرَىٰ نَحۡنُ أَبۡنَٰٓؤُاْ ٱللَّهِ وَأَحِبَّٰٓؤُهُۥۚ قُلۡ فَلِمَ يُعَذِّبُكُم بِذُنُوبِكُمۖ ١٨ ﴾ [ المائدة: 18 ]

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?". (QS al-Maa'idah: 18).

        Begitu juga Allah ta'ala menjelaskan didalam firmanNya:

﴿ tbqè=yèøgs†uﷺ‬ ¬! ÏM»oYt7ø9$# ¼çmoY»ysö7ߙ   Nßgs9uﷺ‬ $¨B šcqåktJô±tƒ[ النحل: 57 ]

"Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (Yaitu anak-anak laki-laki)". (QS an-Nahl: 57).

          Demikian pula Allah ta'ala menjelaskan didalam firmanNya:

﴿ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ أَلِرَبِّكَ ٱلۡبَنَاتُ وَلَهُمُ ٱلۡبَنُونَ ١٤٩ أَمۡ خَلَقۡنَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ إِنَٰثٗا وَهُمۡ شَٰهِدُونَ ١٥٠ أَلَآ إِنَّهُم مِّنۡ إِفۡكِهِمۡ لَيَقُولُونَ ١٥١ وَلَدَ ٱللَّهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ١٥٢ أَصۡطَفَى ٱلۡبَنَاتِ عَلَى ٱلۡبَنِينَ ١٥٣ مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ ١٥٤ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ١٥٥﴾ [ الصفات: 149-155 ]

"Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): "Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki. Atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: "Allah beranak". Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki? Apakah yang terjadi padamu? bagaimana (caranya) kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan?". (QS ash-Shaaffat: 149-155).

           Demikian pula Allah nukil dalam firmanNya:

﴿ أَمۡ لَهُ ٱلۡبَنَٰتُ وَلَكُمُ ٱلۡبَنُونَ ٣٩ ﴾ [ الطور: 39 ]

"Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki?". (QS ath-Thuur: 39).

            Begitu juga dalam firmanNya:

﴿ أَلَكُمُ ٱلذَّكَرُ وَلَهُ ٱلۡأُنثَىٰ ٢١ ﴾ [ النجم: 21 ]

"Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?". (QS an-Najm: 21).

            Allah ta'ala menjelaskan tentang mereka dalam firmanNya:

﴿ وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحۡمَٰنِ مَثَلٗا ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدّٗا وَهُوَ كَظِيمٌ ١٧﴾ [ الزخرف: 17 ]

"Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih". (QS az-Zukhruf: 17).

             Begitu pula Allah mengatakan dalam firmanNya:

﴿ أَمِ ٱتَّخَذَ مِمَّا يَخۡلُقُ بَنَاتٖ وَأَصۡفَىٰكُم بِٱلۡبَنِينَ ١٦ ﴾ [ الزخرف: 16 ]

"Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki". (QS az-Zukhruf: 16).

          Allah ta'ala menjelaskan dalam firmanNya:

﴿ إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ لَيُسَمُّونَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ تَسۡمِيَةَ ٱلۡأُنثَىٰ ٢٧ ﴾ [النجم: 27 ]

"Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan Malaikat itu dengan nama perempuan". (QS an-Najm: 27).

         Dan lain sebagainya, dari ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah ini, yang semuanya memberi pencerahan pada kita bahwa kaum musyrikin pada zaman Jahiliah mempunyai keyakinan kalau malaikat adalah anak perempuan Allah, sebagaimana keyakinan ini juga di sematkan pada sebagian berhala yang mereka punyai.

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Adapun firman Allah yang artinya: "Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin". Dikatakan oleh para ulama, "Yaitu ucapan mereka yang menyatakan bahwa para malaikat adalah anak perempuan Allah". Dan ucapan tersebut dinyatakan oleh Mujahid dan Qatadah. Ada pula ulama yang mengatakan, "Mereka menyatakan bagi malaikat yang masih hidup dikatakan mereka adalah jin, masuk diantaranya adalah iblis, dan mereka semua merupakan anak perempuan Allah".

     Adapun firman Allah ta'ala yang artinya, "Dan mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan". Sebagian ulama tafsir semisal ats-Tsa'labi mengatakan, "Mereka adalah kaum kufar dari kalangan Arab, yang menyatakan bahwa para malaikat serta berhala yang mereka miliki adalah anak perempuan Allah. sedangkan orang Yahudi menyatakan, "Uzair adalah anak Allah". Dan orang Nashrani mengklaim bahwa al-Masih puteranya Allah".[181]

 22.       Menetapkan hubungan nasab antara Allah dan jin.

          Sebagaimana yang Allah nukil ucapan mereka didalam firmanNya:

﴿ وَجَعَلُواْ بَيۡنَهُۥ وَبَيۡنَ ٱلۡجِنَّةِ نَسَبٗاۚ وَلَقَدۡ عَلِمَتِ ٱلۡجِنَّةُ إِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ ١٥٨ ﴾ [الصفات: 158 ]

"Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin. dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka )". (QS ash-Shaaffat: 158).

          Dan Allah menegaskan dalam bentuk bantahan untuk mereka melalui lisannya jin, Allah terangkan dalam firmanNya:

﴿ وَأَنَّهُۥ تَعَٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا ٱتَّخَذَ صَٰحِبَةٗ وَلَا وَلَدٗا ٣  ﴾ [ الجن: 3 ]

"Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan Kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak". (QS al-Jin: 3).

          Begitu pula Allah ta'ala menegaskan didalam firmanNya:

﴿ بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٞ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ صَٰحِبَةٞۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَيۡءٖۖ ١٠١ ﴾ [ الأنعام: 101 ]

"Dia pencipta langit dan bumi. bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu". (QS al-An'aam: 101).

           Imam Ibnu Jarir ath-Thabari mengatakan dalam tafsir ayat ini, "Kaum musyrikin menjadikan Allah mempunyai hubungan nasab bersama jin. Sedangkan para ulama berbeda pendapat maksud dari nasab yang Allah kabarkan didalam firmanNya, sebagian ulama mengatakan, "Maksudnya ucapan mereka, 'Sesungguhnya Allah dan Iblis bersaudara".[182]

         Imam Qatadah menerangkan, "Orang Yahudi mengklaim, sesungguhnya Allah tabaraka wa ta'ala berbesan dengan jin lalu keluarlah keturunan yang bernama malaikat".[183]

       Dalam kesempatan lain Beliau mengatakan kembali tatkala menafsirkan firman Allah yang artinya, "Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan".

       Beliau menjelaskan, "Allah ta'ala menegaskan kalau dirinya suci lagi tinggi dan mengungguli dari semua sifat yang diberikan oleh mereka para pendusta, dari kalangan makhlukNya yang mengklaim bahwa Allah mempunyai sekutu dari kalangan jin dan ucapan mereka yang menetapkan bahwa Allah mempunyai anak laki dan perempuan, yang jelas sekali bahwa hal tersebut sangat tidak pantas untuk dijadikan sifat bagiNya, karena itu merupakan sifat para makhlukNya, yang konsekuensinya harus ada diantara mereka yang melakukan hubungan badan sehingga lahirlah anak keturunan, dimana mereka sangat membutuhkan untuk bisa menyalurkan syahwat kepada istrinya disebabkan kelemahannya, namun itu semua, tidak pantas bagi Allah ta'ala, sebab Allah tidak merasa kesulitan dan membutuhkan sesuatu untuk sesuatu yang lainnya, Allah tidak lemah sehingga membutuhkan seorang wanita untuk bisa dijadikan sebagai istri guna menyalurkan syahwatnya".[184]

         Sedang Imam Ibnu Katsir menjelaskan, "Berkata Mujahid, 'Kaum musyrikin mengatakan, para malaikat adalah anak perempuan Allah'. Abu Bakar radhiyallahu 'anhu menyatakan, "Lalu siapa ibu-ibu mereka? mereka menjawab, "Anak perempuannya jin'. Demikian yang dikatakan oleh Qatadah dan Ibnu Zaid".[185]

        Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa beliau mengatakan, "Ayat ini turun berkaitan dengan tiga suku dari kalangan Quraisy, yaitu bani Salim, Khuza'ah dan Juhainah, yakni firman Allah yang artinya, "Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin".Mereka mengatakan, 'Allah berbesan dengan jin".[186]

        Inilah beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa sebagian kalangan orang Arab telah terjerumus kedalam kesyirikan semacam tadi, walaupaun sebagian besar riwayat-riwayat tadi banyak yang lemah.

      Dan disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagian riwayat-riwayat tadi, pada beberapa tempat yang beliau nukil, tentang adanya pernyataan kaum musyrikin yang mengatakan hubungan nasab antara Allah dan jin tanpa berkomentar sedikitpun.[187]

       Akan tetapi, pada tempat lain beliau mengomentarinya bahwa keabsahan riwayat-riwayat tadi perlu ditinjau ulang. Dimana beliau mengatakan, "Berkata al-Kalbi, 'Kaum musyrikin mengatakan –semoga Allah melaknat mereka- bahwa Allah menikah dengan jin lalu lahir keturunan malaikat. Adapun orang-orang Arab yang mengatakan bahwa para malaikat adalah anak perempuan Allah, serta penukilan mereka yang menyatakan bahwa Allah berbesan dengan jin, lalu lahirlah para malaikat, maka Allah telah menafikan itu semua dari diriNya, dengan pernyataan yang tegas tidak membutuhkan seorang istri, karena tidak mungkin adanya bagian yang terlepas dari diriNya, Allah katakan firmanNya, yang artinya: "Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri".[188]

      Dan ini, sebagaimana diketahui bahwa proses kelahiran tidak mungkin terjadi kecuali dari dua lawan jenis, sama saja apakah dengan sebab itu terlahir benda yang dinamakan dengan elemen, atau melahirkan benda yang mempunyai rupa dan sifat. bahkan tidak mungkin melahirkan suatu benda melainkan dengan adanya bagian yang terpisah dari sang ayah, maka tatkala Allah menegaskan tidak butuh seorang istri maka tercegah pula bagi Allah untuk mempunyai seorang anak, sebagaimana mereka semua mengetahui bahwa Allah tidak memerlukan seorang istri dari kalangan malaikat, tidak pula dari jin, ataupun manusia.

      Dan tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa Allah mempunyai pasangan, oleh karena itu hal tersebut dijadikan hujah atas mereka, serta hikayah yang menceritakan tentang adanya sebagian orang kafir Arab yang menikah dengan jin, maka hal ini perlu dikoreksi, karena hal tersebut walaupun ada yang mengklaimnya, namun hal tersebut ada banyak faktor yang mencegahnya dari beberapa sisi".[189]

       Kalau sekiranya riwayat-riwayat tadi sah maka menetapkan bagi mereka, semisal ucapanya adanya hubungan nasab maka itu merupakan bentuk kesyirikan kepada Allah dalam perkara rububiyah yaitu tatkala mereka menetapkan sifat-sifat makhluk yang lemah kepada Allah jalla wa 'ala.

        kesimpulannya, menjelaskan kalau orang Arab –sebagian mereka kalau kita anggap riwayatnya shahih- telah menyekutukan Allah pada sebagian sifat-sifatNya, dimana mereka menyematkan sifat-sifat makhluk yang lemah kepada Allah yang maha sempurna, maka itu merupakan bentuk pengingkaran, pengurangan hak Allah serta kesyirikan, dan sebelumnya telah kami papar bahwa perbuatan tersebut termasuk kesyirikan.

       Inilah, sebagian kesyirikan kepada Allah yang nampak jelas pada beberapa kekhususan rububiyah yang dikerjakan oleh orang Arab pada masa Jahiliah. Akan tetapi, sebagaimana telah kami ingatkan bahwa perbuatan ini tidak dilakukan oleh semua orang Arab, sebab secara umum orang Arab pada masa itu banyak yang terjatuh dalam kesyirikan ibadah dan uluhiyah serta muamalah –sama saja apakah ibadah ini dalam kategori pekerjaan hati ataupun keyakinan hati- bahwa sekutunya bisa mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya, bisa memberi syafaat kepada mereka kelak pada hari kiamat, atau memberi syafaat bagi mereka didalam memenuhi kebutuhannya atau memberi manfaat ataupun mencegah mara bahaya. Dan ini merupakan sifat umum yang dimiliki oleh kaum Jahiliah sebagaimana di terangkan oleh ayat-ayat Qur'an yang telah kita sebutkan sebelumnya. 



[1] . al-Milal wal Nihal 3/648-660.

[2] . Lihat dalam kitab Dar'u Ta'rudh Aql wan Naql 9/347 oleh Syaikhul Ibnu Taimiyah.

[3] . Lihat penjelasan secara lengkap seperti yang disebutkan oleh D. Abdurazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad dalam bukunya Qaulus Sadid fii Radd 'ala Man Ankara Taqsimi Tauhid hal: 67. Begitu pula lihat dalam bukuk Tajridu Tauhidil Mufid hal: 9 oleh al-Miqrizi.

[4] . Diantara ulama yang memasukan kelompok Dahriyah dalam barisan musyrikin yang menyekutukan Allah dalam perkara rububiyah adalah Mahmud Sukri al-Alusi dalam bukunya Bulughul Arib 2/220.

[5] . al-Milal wa Nihal 3/651-652.

[6] . Semisal bukunya Imam Ibnu Qayim Miftah Daar Sa'adah 2/90-95.

[7] . al-Firaq baninal Firaq hal: 353.

[8] . Lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/269.

[9] . Atsar diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya. lihat penukilan ini dalam kitab Tauhid oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta  penjabaranya kitab Fathul Majid 2/261.

[10] . Tafsir Ibnu Jarir 11/27/35.

[11] . Ibid 11/27/34.

[12] . Bada'iul Fawaid 1/190-191.

[13] . Tafsir Ibnu Katsir 3/323.

[14] . Tafsir Ibnu Katsir 3/68.

[15] . Lihat keterangannya dalam kitab Masail Jahiliah 1/416.

[16] . al-Kaafiyah asy-Syafiah 2/122.

[17] . Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 2/78-80, 12/334-335.

[18] . al-Milal wa Nihal 3/655.

[19] . Lihat Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 3/111-116, 8/256-261.

[20] . Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 8/256-257.

[21] . Ibid 11/256.

[22] . Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 2/324-325.

[23] . HR Muslim 10/84-86.

[24] . Beliau adalah Muhammad bin Yazid ar-Rub'i. Abu Abdillah, Ibnu Majah. dan nama Majah ini adalah julukan bagi ayahnya Yazid, al-Qazawaini, al-Hafidh, salah satu imam kaum muslimin. Penulis kitab Sunan, tafsir. Seorang pengembara pencari ilmu yang sangat luas, sehingga banyak meriwayatkan hadits dari guru-gurunya, demikian pula banyak mempunyai murid yang meriwayatkan darinya, meninggal pada tahun 273 H. Lihat biografinya dalam al-Khulashah hal: 365 oleh al-Khazraji. 

[25] . al-Milal wa Nihal 3/652-654.

[26] . Tibyan fii Aqsamil Qur'an Oleh Ibnu Qayim hal: 101.

[27] . al-Fawaid Ibnu Qoyim hal: 6-7.

[28] . Berkata Ibnu Mandhur dalam Lisanul Arab, "Zindik adalah orang yang mengatakan langgengnya masa". Bahasa Persia yang dimasukan ke dalam bahasa Arab. Dijelaskan dalam kitab Tahdzib, 'Zindik nama yang ma'ruf, yaitu bagi orang yang tidak percaya dengan adanya akhirat dan keesaan pencipta'. Berkata Jauhari, 'Zindik adalah orang yang mengucapkan dua pokok (cahaya dan kegelapan), kalimat asing yang dimasukan dalam bahasa Arab. Bentul pluralnya Zanadiqah. Lihat keterangannya lebih luas dalam Lisanul Arab Ibnu Mandhur 6/91-92. 

[29] . Bulughul Arib 2/228 oleh al-Alusi.

[30] . Beliau adalah Abdullah bin Muslim bin Qutaibah ad-Dainuri, Abu Muhammad. Seorang ulama besar yang banyak memberi sumbangan umat dengan berbagai ilmu. Lahir pada tahun 213 H. Tinggal dikota Baghdad dan mengajar hadits disana, dan diantara karya tulisnya ialah al-Ma'arif, Adabul katib, Uyunul Akhbar, serta yang lainnya. Meninggal pada tahun 276 H, Lihat biografinya dalam Mu'jamul Mu'alifin 6/150. 

[31] . AL-Maa'rif hal: 339.

[32] . Bulughul Arib 2/228-229. Lihat penjelasannya dalam al-Mufashal fii Tarikh al-Arab Qabla Islam 6/146-152 oleh Jawad Ali.

[33] . Dia adalah Zararah bin Udus bin Zaid, kakek pengusung Jahiliah, dari bani Tamim. Lihat biografinya dalam kitab al-A'laam 3/43 oleh az-Zarkali.

[34] . Dia adalah Hajib bin Zararah bin Udus ad-Darimi at-Tamimi, ada yang mengatakan dirinya menjumpai masa Islam lalu masuk Islam. Lihat biografinya dalam al-A'laam oleh Zarkali.

[35] . Dia Aqra bin Habis at-Tamimi, seorang sahabat. meninggal pada tahun 31 H. Dirinya bersama Khalid bin Walid dalam berbagai kesempatan. Lihat biografinya dalam kitab al-Ishabah 1/58 no: 231 oleh Ibnu Hajar.

[36] . al-Ma'arif hal: 339 Ibnu Qutaibah.

[37] . al-Milal wa Nihal 2/260-261.

[38] . Ibid 2/268.

[39] . Ighatsatul Lahfan 2/648 oleh Ibnu Qayim.

[40] . Lihat penjelasan dalam beberapa buku semisal al-Milal wa Nihal oleh Syihristani, Bulughul Arib fii Ma'rifati Ahwalil Arab oleh al-Alusi, Murujul Dzahab oleh Sam'udi. 

[41] . Bulughul Arib 2/240-242 oleh al-Alusi.

[42] . al-Milal wa Nihal 3/660. Dan Bulughul Arib 2/223 oleh al-Alusi.

[43] . Bulughul Arib 2/225-226 oleh al-Alusi.

[44] . al-Milal wa Nihal 2/258-262 oleh Syihristani.

[45] . Telah lewat takhrijnya.

[46] . HR Ahmad 5/89, 90. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam silsilah shahihah no: 1127.

[47] . HR Bukhari no: 1038, Muslim no: 71.

[48] . Fathul Majid 2/435.

[49] . Fathul Majid 2/432.

[50] . Lihat penjelasannya yang mendukung hal ini dalam kitab Jawabul Kaafi hal: 312-314 oleh Ibnu Qayim.

[51] . Lihat apa yang dituturkan oleh pakar sejarah tentang agama-agama yang ada diselatan jazirah Arab sebelum diutusnya Nabi. Seperti disebutkan oleh D. Abdul Aziz Salim dalam bukunya Dirasaat fii Tarikh Arab Qabla Islam hal: 408-411, 426-428. dan juga oleh Jawad Ali dalam bukunya al-Mufashal fii Tarikh Arab Qabla Islam 6/50-59. Dan al-Alusi dalam bukunya Bulughul Arib 2/215-216.

[52] . Qamus Muhith.

[53] . Mufradaat oleh al-Ashfahani.

[54] . al-Jad fii Ruhul Ma'ani 20/10 oleh al-Alusi.

[55] . Lihat seperti yang dikatakan oleh guru kami Abdullah al-Ghaniman dalam Syarh Kitab Tauhid lil Bukhari 1/112.

[56] . Tafsir al-Manar 7/422 oleh Muhammad Rasyid Ridho.

[57] . Ruhul Ma'ani 7/175 oleh al-Alusi.

[58] . Tafsir al-Manar 7/442 oleh Muhammad Rasyid Ridho.

[59] . Fathul Majid 1/389 oleh Syaikh Abdurahman bin Hasan Alu Syaikh.

[60] . Beliau adalah Hasan bin Mas'ud al-Fara', asy-Syafi'i. Ulama yang banyak meninggalkan karya tulis, ulamanya penduduk Khurasan. Tsiqah dan ahli fikih, serta ahli zuhud. Meninggal pada bulan Syawal tahun 516 H. Lihat biografinya dalam Siyar a'lamu Nubala 19/439, dan juga dalam Syadratu Dzahab 4/48 oleh Ibnul Ma'ad.

[61] . Syarh Sunah 12/182 oleh al-Baghawi.

[62] . Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 35/173.

[63] . Ibid 35/193.

[64] . Ibid 35/194.

[65] . Riwayat dari al-Khalal dalam Ahkam Ahli Milal hal: 208. Sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abdul Ilah Sulaiman al-Ahmadi dalam Rasail wal Masail al-marwiyah 'an Imam Ahmad 2/106.

[66] . Ibid.

[67] . Fathul Majid 1/391 oleh Syaikh Abdurahman Alu Syaikh.

[68] . Nihayah fii Gharibil Hadits wal Atsar 3/218 oleh Ibnu Atsir.

[69] . Dinukil oleh penulis Fathul Majid 1/392.

[70] . Zaadul Ma'ad 5/786 oleh Ibnu Qayim.

[71] . Lihat penjelasannya dalam kitab Fathul Majid 1/392 oleh Abdurahman bin Hasan Alu Syaikh.

[72] . HR Bukhari no: 4800.

[73] . Beliau adalah Imran bin Hushain bin Ubaid bin Khalf al-Khuza'I, Abu Nujaid, termasuk ulamanya para sahabat, malaikat pernah mengucapkan salam padanya, tidak turut serta dalam fitnah, beliau masuk Islam pada perang Khaibar, mengikuti banyak ekspedisi, serta termasuk sahabat yang doanya mustajabah. Meninggal pada tahun 52 H. Lihat biografinya dalam al-Ishabah 4/706 oleh Ibnu Hajar, dan al-Khulashah hal: 295 oleh al-Khajrazi.

[74] . HR al-Bazzar dengan sanad yang jayyid. Lihat dalam kitab Kasyful Astaar 3/393 no: 2067. al-Hafidh Ibnu Hajar berkomentar dalam bukunya Fathul Bari 10/217, 'Sanadnya Jayyid'. Begitu pula pernyataan Imam Mundziri dalam bukunya Targhib wat Tarhib 4/33.

[75] . HR Abu Dawud no: 3904. Nasa'i fil Kubra sebagaimana tercantum dalam kitab Tuhfatul Asyraf 10/124. Tirmidzi no: 135. Dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam kitab al-Irwa' no: 2006.

[76] . HR Ahmad 2/429. al-Baihaqi 8/135. al-Hakim 1/8. dinilai shahih oleh Imam Dzahabi, lalu dikomentari oleh syaikh al-Albani dalam al-Irwa 7/69, 'Seperti yang beliau katakan'.

[77] . Beliau adalah Mu'awiyah bin al-Hakam as-Sulami, pernah menjumpai Nabi. Imam Ibnu Abdil Barr mengatakan, "Beliau singgah di Madinah, lalu tinggal di tengah-tengah Bani Sulaim'. Beliau meriwayatkan satu hadits dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam. Lihat biografinya dalam Tahdzibu Tahdzib 5/477 no: 7860. al-Ishabah 3/432 no: 7064. Adapun al-Khazraji menjelaskan dalam kitabnya al-Khulashah, "Beliau mempunyai tiga belas hadits". lihat dalam bukunya al-Khulashah hal: 381.

[78] . HR Muslim no: 537.

[79] . Lihat penjelasannya dalam kitab Syirk Jahili wa Alihatil Arab al-Ma'budah qabla Islam oleh D. Yahya Ahmad asy-Syami hal: 61-67. Sesungguhnya penting! Beliau menyebutkan beberapa contoh bentuk pembuatan syariat oleh para dukun, sedangkan manusia rela untuk mengikutinya.

[80] . Dicantumkan tanpa sanad oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya 8/251. Dikomentari oleh Ibnu Hajar, 'Ibnu Abi Hatim menyambung sanadnya melalui jalur Wahbin'.

[81] . HR Ahmad 3/447. Abu Dawud no: 3907. Dinilai hasan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin no: 1672.

[82] . Lihat penjelasannya dalam kitab Misbahul Munir hal: 527 oleh al-Fayumi. Syarh Sunah 12/177 oleh Imam Baghawi.

[83] . Lihat penjelasannya dalam kitab Tartibul Qamus 3/71 oleh az-Zawi. dan dalam kitab Syarh Sunah 12/177 oleh Imam Baghawi.

[84] . Diriwayatkan oleh Imam Bukhari tanpa sanad dalam kitabnya shahih 8/251. Dan disambung sanadnya oleh Ibnu Jarir, lalu dikomentari oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari 8/252, 'Sanadnya kuat'.

[85] . Tafsir Ibnu Katsir 1/485. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 8/251-252. Suyuti dalam kitab Durarul Mantsur 3/564.

[86] . Nawaqidul Iman Qauliyah wal Amaliyah hal: 523 oleh D. Abdul Aziz bin Abdul Lathif.

[87] . HR Abu Dawud no: 3905. Ahmad 1/277, 311. Dinilai shahih oleh al-Iraqi dalam Takhrij al-Ihya 4/117.

[88] . HR Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah shahihah no: 1127.

[89] . HR Abu Ya'la dalam musnadnya no: 1023. Dinilai hasan oleh al-Munawi dalam Faidhul Qadir 1/204.

[90] . HR Bukhari 6/341 tanpa sanad. dan disambung sanadnya oleh Abdu Ibnu Humaid dalam kitab tafsirnya sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Ta'liq at-Ta'liq 3/489.

[91] . Durarul Mantsur 3/43 oleh Imam Suyuthi. Dan dinukil oleh Syaikh Abdurahman bin Hasan Alu Syaikh dalam kitabnya Fathul Majid 2/421.

[92] . Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah  35/192.

[93] . Beliau adalah Abu Sulaiman Hamad –ada yang mengatakan, Ahmad- bin Muhammad bin Ibrahim bin al-Khathab al-Khatabi al-Busti. ahli hadits, pakar bahasa, fakih, sastrawan. Lahir di Bust dan disana pula beliau meninggal pada tahun 388 H. Diantara karya tulisnya, Ma'alim Sunan, Syarh Bukhari, dan lainnya. Lihat biografinya dalam kitab Mu'jamul Mu'alifin 2/61.

[94] . Ma'alim Sunan 5/371-372 oleh al-Khatabi.

[95] . Lihat penjelasannya dalam kitab Durarul Mantsur 4/114.

[96] . al-Adhamah hal: 251 no: 707. oleh Abu Syaikh.

[97] . Ibid.

[98] . Ibid.

[99] . al-Milal wa Nihal 3/672-673 oleh Syihristani.

[100] . Bulughul Arib 3/80-81 oleh al-Alusi.

[101] . Lihat keterangannya lebih detail dalam kitab Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 35/194. Ma'arijul Qabul 1/523 oleh al-Hakami. Abjadul Ulum 2/236 oleh Shidiq Hasan Khan.

[102] . Atsar dikeluarkan oleh Abdurazzaq dalam kitabnya al-Mushanaf 11/26.

[103] . al-Qaulu Sadid hal: 77-78 oleh Ibnu Sa'di.

[104] . Lihat pembahasanya secara luas dalam tulisan D. Abdul Aziz bin Abdul Lathif dalam bukunya Nawaqidul Iman al-Qauluyah wal Amaliyah hal: 521.

[105] . Lihat misalkan dalam buku yang ditulis oleh al-Alusi Bulughul Arib 3/235-260.

[106] . Ibid 3/68.

[107] . Bulughul Arib 3/66-67 oleh al-Alusi.

[108] . Dia adalah Imrul Qais bin Hajar al-Kindi, pentolan penyair pada masa Jahiliah. Lihat biografinya secara lengkap dalam kitab al-A'laam 2/11-12 oleh Zarkali. Demikian pula dalam kitab Bulughul Arib 3/93-96 oleh al-Alusi.

[109] .Seperti dinukil oleh al-Alusi dalam kitabnya Bulughul Arib 3/67-68.

[110] . Bulughul Arib 3/361 oleh al-Alusi. Murujudz Dzahab 2/172 oleh Mas'udi.

[111] . al-Adhamah hal: 250 oleh Abu Syaikh. begitu pula dalam kitab Syarh Mawaqif 8/219 oleh al-Jurjani.

[112] . Nihayah fii Gharibil Hadits wal Atsar 1/198 oleh Ibnu Atsir.

[113] . HR Ahmad 5/445 dan ini lafadh beliau, Ibnu Hibban no: 1410, 1411. Imam Hakim menyatakan sanadnya shahih, lalu disetujui oleh Imam Dzahabi. adapun Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan dalam kitab tauhid diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang tidak mengapa. akan tetapi dikatakan oleh al-Albani hadits ini lemah seperti dalam Silsilah adh-Dha'ifah no: 1029. silahkan merujuk alasan beliau didalam melemahkan hadits ini dalam kitabnya tadi.

[114] . Beliau adalah Abu Abdillah, Hudzaifah bin Yaman, yang nama aslinya ialah Husail al-Abasi al-Kufi sekutu Bani Abdil Ashal. Sahabat mulia, termasuk dari kalangan yang pertama masuk Islam. Pemegang rahasia nama-nama orang munafik yang diberitahukan oleh Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam, Rasulallah memberi tahu tentang apa yang akan terjadi hingga hari kiamat dari perkara yang akan terjadi dan fitnah yang menimpa umat. Beliau meninggal empat puluh hari setelah terbunuhnya Utsman. Lihat biografinya dalam kitab al-Khulashah hal: 74 oleh al-Khazraji. 

[115] . Tafsir Ibnu Katsir 2/494.

[116] . HR Ahmad 1/381, Abu Dawud no: 3883, dinilai shahih oleh al-Hakim, dinyatakan sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim, lalu disetujui oleh Imam Dzahabai, demikian pula dinilai shahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no: 331.

[117] . Lihat keterangannya dalam Lisanul Arab oleh Ibnu Mandhur 2/54-55.

[118] . Nihayah fii Gharibil Hadits wal Atsar 1/198 oleh Ibnu Atsir.

[119] . Fathul Bari 10/166.

[120] . Lihat keterangannya dalam Lisanul Arab Ibnu Mandhur 5/293.

[121] . HR al-Hakim 4/216, dinilahi shahih oleh beliau dan disetujui oleh Imam Dzahabi.

[122] . HR Ahmad 4/156, al-Hakim 4/219. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no: 492.

[123] . HR Bukhari no: 3005. Muslim no: 2115.

[124] . Fathul Bari 6/99.

[125] . HR Ahmad dan Abu Dawud.

[126] . HR Ahmad 4/210. al-Hakim 4/216. Dinilai hasan oleh al-Albani dalam shahih Tirmidzi 2/208.

[127] . HR Ahmad 4/108. Nasa'i 4/108. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih Abi Dawud 1/10.

[128] . Mu'jam Maqayis Lughah 1/227-228 oleh Ibnu Faris. Lisanul Arab 1/387 oleh Ibnu Mandhur. Mufradaat hal: 44 oleh ar-Raghib. Bada'iul Fawaid 2/186 oleh Ibnu Qayim.

[129] . Bada'iul Fawaid 2/186 oleh Ibnu Qayim.

[130] . Ibid. 

[131] . Tabaruk Anwa'uhu wa Ahkamuhu hal: 484 oleh D. Nashir al-Jadi'e

[132] . Ibid.

[133] . HR Tirmidzi no: 2180, Ahmad 5/218.

[134] . Fathul Majid 1/169.

[135] . Mati dalam keadaan kafir pada tahun 2 H. Lihat biografinya dalam kitab al-A'laam 3/247 oleh Zarkali.

[136] . Lihat keterangannya lebih lanjut dalam kitab Murujul Dzahab 2/162 oleh Mas'udi.

[137] . Lihat Lisanul Arab 6/189-191. Misbahul Munir hal: 317 oleh al-Fayumi.

[138] . Beliau adalah Abu Abdillah, Muhammad bin Idris bin Abbas asy-Syafi'i al-Mathlabi al-Quraisy. Sempat singgah di Mesir, salah seorang Imam madzhab yang empat, panutan bagi para imam, Lahir di Gazza pada tahun 150 H. Adapan manakib beliau maka sangat banyak –semoga Allah merahmati dan meridhai beliau- Meninggal pada akhir bulan Rajab pada tahun 204 H, lihat biografinya sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Bidayah wa Nihayah 10/256. dan dalam kitab Tadzkiratul Hufadh 1/364 oleh Imam Dzahabi, dan Thabaqat Hufadh hal: 158 oleh Suyuti.  

[139] . al-Umm 1/326-327.

[140] . ahkamul Qur'an 1/42 oleh al-Jashash.

[141] . Ahkamul Qur'an 1/31 oleh Ibnul Arabi. Syarh Shaghir 6/146 oleh ad-Dardir. Mukhtashar Khalil 7/63 oleh al-Kharasyi.

[142] . al-Mughni 8/150 Ibnu Qudamah. al-Mubdi' fii Syarh Muqni' 9/188 oleh Ibnu Muflih. Syarh Muntaha Iradaat 3/395 oleh al-Buhuti.

[143] . al-Kafi 4/164-165 oleh Ibnu Qudamah.

[144] . Fathul Bari 10/223 oleh Ibnu Hajar. 

[145] . Mafatihul Ghaib 3/222-230 oleh ar-Razi.

[146] . Beliau adalah Abul Abbas, Ahmad bin Idris bin Abdurahman bin Abdillah ash-Shanhaji, al-Abhanasi yang lebih dikenal dengan nama al-Qarafi. Lahir pada tahun 626 H di Mesir. Ahli fakih, ahli ushul, ahli tafsir. Meninggal pada tahun 684 H. diantara karya tulisnya adz-Dzakhirah, al-Furuq. Lihat biografinya dalam kitab Mu'jamul Mu'alifin 1/158. Dibajul Madzhab hal: 62-67 oleh Ibnu Farihun.

[147] . aL-Furuq 4/135-137 oleh al-Qarafi.

[148] . Ibid.

[149] . Adhwa'ul Bayan 4/444 oleh asy-Syintqithi.

[150] . Lihat keterangannya dalam kitab Adhawa'ul Bayan 4/456 oleh Syinqithi. al-I'lam bii Qawathi'il Islam hal: 19-20 oleh al-Haitami, begitu pula dalam kitabnya yang lain az-Zawajir 'an Iqtirafil Kaba'ir 12/161-165.

[151] . Syarh Muslim 14/176 oleh Imam Nawawi.

[152] . Lihat keterangannya dalam an-Nubuwat hal: 272 Ibnu Taimiyah. Ta'wil Mukhtalafil Hadits hal: 210 oleh Ibnu Qutaibah.

[153] . Seperti tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari no: 5763 dan Muslim no: 2189.

[154] . Lihat contoh-contoh diatas dalam beberapa buku semisal Fathul Bari 10/235 oleh Ibnu Hajar, al-Furuq 4/140 oleh al-Qarafi, Taisir Azizil Hamid hal: 384 oleh Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab, Nawaqidhul Iman al-Qauliyah wal Amaliyah hal: 508-514 oleh D. Abdul Aziz bin Abdul Lathif.

[155] . HR Bukhari no: 2766. Muslim no: 89.

[156] . HR Ahmad 4/399.

[157] . HR an-Nasa'i 7/103 dinilai hasan oleh Ibnu Muflih dalam kitabnya Adabu Syar'iyah 3/78, namun, dilemahkan oleh al-Albani dalam Dha'iful Jami no: 5714.

[158] . HR Ahmad dan Abu Dawud.

[159] . Beliau adalah al-Imam al-Allamah al-Hafidh Hujatul Adab dan Lisanul Arab, Abu Sa'id Abdul Malik bin Qarib al-Ashma'i, al-Bashri, ahli bahasa, ahli Kabar, seorang ulama besar, beliau termasuk jujur dalam meriwayatkan hadits, lahir pada 120 H. Dan meninggal pada tahun 225 H. lihat biografinya dalam Siyar a'lamu nubala 10/175-180, dan Bughyatul Wu'aah 2/122-113.

[160] . Lihat ucapan beliau yang dinukil oleh Imam Baghawi dalam Syarh Sunah 12/158.

[161] . Atsar diriwayatkan oleh al-Baihaqi 8/136. Targhib wa Tarhib 4/53 oleh Mundziri, dan diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang Jayyid.

[162] . HR Bazzar dengan sanad Jayyid, al-Haitsami 5/117 dalam al-Majma'.

[163] . Lihat keterangannya dalam kitab Taisir Azizil Hamid hal: 365 oleh Sulaiman bin Abdul Wahab.

[164] . Nihayah fii Gharibil Hadits 5/54 oleh Ibnu Atsir.

[165] . Dinukil dalam kitab Fathul Majid 1/399         oleh Syaikh Abdurahman bin Hasan.

[166] . Ucapannya Hasan Bashri sebaimana dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 10/233.

[167] . Lisanul Arab Ibnu Mandhur 8/240. Nihayah fii Gharibil Hadits 3/153 oleh Ibnu Atsir.

[168] . HR Abu Dawud no: 3910. Tirmidzi no: 1614. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam silsilah shahihah no: 429.

[169] . HR Ahmad 2/220. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no: 1065.

[170] . Lihat keterangannya dalam kitab Fathul Majid 2/415.

[171] . HR Muslim no: 537.

[172] . Beliau adalah Thawus bin Kisan al-Yamani al-Janadi, ada yang mengatakan termasuk anak cucunya, ada pula yang bilang mantan sahaya Hamdan. seorang Imam, ada yang mengatakan nama aslinya Dzakwan, beliau berjumpa dengan lima puluh sahabat, termasuk ulama yang do'anya mustajab. meninggal pada tahun 106 H. Lihat biografinya dalam al-Khulashah hal: 181.

[173] . Dinukil oleh Imam Ibnu Qayim dalam kitabnya Miftah Daarus Sa'adah 3/284.

[174] . Lihat dalam kitab Bulughul Arib 2/331-339 oleh al-Alusi. Miftah Daarus Sa'adah 3/356-361 oleh Ibnu Qayim.

[175] . HR Abu Dawud no: 4955.

[176] . Tafsir Ibnu Katsir 2/570.

[177] . Bidayah wa Nihayah 1/2/189.

[178] . Ibid.

[179] . Ibid.

[180] . HR Bukhari no: 3262.

[181] . Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 17/271-272.

[182] . Jami'ul Bayan 10/23/68-69 oleh Imam Thabari. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsri dalam tafsirnya 4/23 namun sanadnya lemah.

[183] . Tafsir Thabari 10/23/69.

[184] . Ibid.

[185] . Tafsir Ibnu Katsir 4/23. Namun sanadnya terputus.

[186] . Durarul Mantsur 5/292 oleh Suyuti.

[187] . Sebagaimana bisa dilihat dalam Majmu Fatawa 4/135.

[188] . QS al-An'aam: 101.

[189] . Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 17/272-273.

Kategori ilmiyah:

Tanggapan anda