Keharusan Bersikap Lembut Dan Ikhlas Bagi Para Dai

Keterangan

Pertanyaan yang dijawab oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin –rahimahullah- yang berbunyi: Sebagian orang yang kami kira termasuk orang yang taat beragama (panatik) memperlalukan manusia dengan sikap keras dan kasar, dan sebagian mereka selalu bermuka masam. Apakah kewajiban seorang muslim terhadap saudaranya sesama muslim? Terutama bila ia kurang taat dalam beragama?

Download
Kirim komentar untuk Webmaster

Deskripsi terperinci

Keharusan Bersikap Lembut Dan Ikhlas Bagi Para Da’i

﴿ضرورية اللين والإخلاص للداعية﴾

 Keharusan Bersikap Lemah-Lembut

 Dan Ikhlas Bagi Para Da’i

Pertanyaan: Sebagian orang yang kami kira termasuk orang yang taat beragama (panatik) memperlalukan manusia dengan sikap keras dan kasar, dan sebagian mereka selalu bermuka masam. Apakah kewajiban seorang muslim terhadap saudaranya sesama muslim? Terutama bila ia kurang taat dalam beragama?

Jawaban: Menurut sunnah Nabi saw, bahwa seseorang wajib berdakwah kepada Allah swt dengan hikmah, lembuh dan kemudahan. Allah swt berfirman kepadanya Nabi-Nya:

قال الله تعالى: { ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ١٢٥ } [ النحل: 125]

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (an-Nahl: 125).

Dan firman Allah swt:

قال الله تعالى: { فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ } [ آل عمران: 159]

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka,…(Ali Imran: 159).

Dan Allah swt berfirman ketika mengutus Musa dan Harun ‘alaihamassalam kepada Fir’aun:

قال الله تعالى: ﴿ فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ ٤٤﴾ [ طه: 44]

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Thaha: 44)

Dan Nabi saw mengabarkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( إِنَّ اللّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَالاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ))

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt Maha Lemah Lembut, menyukai sikap lemah lembut, dan memberi kepada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada sikap kasar.”[1]

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُوْا مُعَسِّرِيْنَ)) [ رواه مسلم]

Rasulullah saw bersabda: ‘Berilah kemudahan dan janganlah kamu menysahkan, berilah berita gembira dan janganlah kamu membuat orang lari. Sesungguhnya kamu diutus memberikan kemudahan dan kamu tidak diutus untuk menyusahkan.”[2]

Demikianlah seharusnya seorang dai, hendaklah ia bersikap lembah lembut, muka berseri serta lapang dada, sehingga hal itu lebih mendorong pelakunya lebih diterima mengajak kepada Allah swt. Dakwahnya harus kepada Allah swt, bukan kepada dirinya. Tidak suka membela diri aau membalas dendam kepada yang berjalan menyimpang. Karena apabila ia berdakwah kepada Allah swt saja, dengan demikian ia menjadi ikhlas, Allah swt memudahkan urusan baginya, dan memberi petunjuk lewat tangannya orang yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Akan tetapi bila berdakwah untuk dirinya sendiri, seolah-olah ia ingin membela diri dan seolah-olah ia merasa bahwa ini adalah musuhnya yang ingin membalas diri darinya. Sesungguhnya dakwah akan menjadi kurang dan terkadang bisa diambil berkahnya. Maka nasihat saya kepada saudara-saudaraku para dai agar merasakan perasaan ini, maksudnya bahwa mereka berdakwah kepada Allah swt sebagai rahkah kepada makhluk dan mengagungkan agama Allah swt dan membela-Nya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin – Majalah dakwah edisi 1291.



[1]HR. Muslim 2593

[2]HR. Al-Bukhari 69 dan Muslim 1734 dari hadits Anas ra.

Kategori ilmiyah:

Tanggapan anda