• Makalah ini membahas tentang salah satu akhlak salafus shalih, yaitu menjaga waktu. Di paparkan dalam makalah ini tentang pernyataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang tidak menyukai orang yang menganggur, ungkapan Hasan al-Bashri tentang pentingnya waktu, cerita Abdurrahman bin Abi Hatim tentang bagaimana ia memanfaatkan waktu bersama bapaknya, juga ceritanya tentang memanfaatkan waktu saat tujuh bulan menuntut ilmu di Mesir, demikian pula cerita Ibnul Jauzi tentang bagaimana agar waktunya tidak terbuang percuma, tapi tetap bergaul dengan masyarakat. Wallahu a’lam..

  • Makalah ini membahas tentang salah satu akhlak salafus shalih, yaitu sederhana dalam bercanda dan tertawa. Diceritakan dalam makalah ini beberapa candaan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersama para sahabat dan beliau menegaskan bahwa ‘Aku tidak berkata kecuali yang benar’, ancaman bagi yang berdusta agar orang tertawa, juga anjuran agar selalu tersenyum di wajah saudaranya karena ia adalah sedakah. Kesimpulannya bahwa kita dianjurkan agar selalu sederhana dalam bercanda dan tertawa, serta jangan berlebihan. Wallahu ta’ala a’lam.

  • Makalah ini membahas tentang salah satu akhlak salafus shalih, yaitu bagaimana menunaikan hak hak orang lain. Diceritakan dalam makalah bagaimana Ummu Habibah –ummul mukminin- menjelang ajalnya meminta maaf terhadap madunya. Ada juga pesan Ibnu Umar kepada yang meminta nasehat agar ia berusaha bila bertemu Allah ta’ala tidak ada tanggungan dengan orang lain, Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menangis karena khawatir ditanya tentang rakyaknya di hadapan Allah ta’ala. Demikian pula ceria Iyadh bin Ghanam dan Ahnaf bin Qais...Wallahu A’lam.

  • Makalah ini membahas tentang salah satu akhlak salafus shalih, yaitu berbuat baik kepada teman teman dan handai taulan. Diceritakan dalam makalah ini bagaimana Abdullah bin Mubarak memberikan nafkah untuk para sahabatnya dari Marwu dalam melaksanakan ibadah haji, Lebih dari itu, Amirul Mukminin Umar radhiyallahu ‘anhu membantu orang orang di sekitarnya di saat safar, termasuk para bekas budaknya. Padahal semestinya merekalah yang melayani sang Amirul Mukminin dan seorang sahabat utama. Demikian pula cerita Abu Muhammad al-Maruzi dan Amir bin Abdullah at-Tamimy.

  • Makalah ini membahas tentang salah salah satu masalah penting dalam agama, yaitu bai’at terhadap pemimpin dan hukum membangkang terhadapnya. Penulis menjelaskan dalam makalah secara tegas dan jelas tentang hal hal yang terkait dengan bai’at, bagaimana terlaksana bai’at dan hukum membangkang serta dampak buruk dari pembangkangan tersebut. Semua itu dijelaskan berdasarkan al-Qur`an, sunnah dan perjalanan sejarah umat Islam dari zaman sahabat hingga generasi selanjutnya.

  • Makalah ini membahas tentang salah satu akhlak salafus shalih, yaitu tidak suka terhadap ketenaran. Dalam makalah ini diceritakan bagaimana para salaf lebih suka tidak dikenal di tengah masyarakat dan hidup sebagaimana manusia biasa seperti yang kita dapatkan dalam cerita Abdullah bin Mubarak rahimahullah ketika berdesakan mengambil air karena di tempat itu tidak ada orang yang mengenalnya, dan ia sangat menyukai kondisi seperti itu. Dan juga diceritakan bagaimana imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah terlihat sedih ketika mendapat pujian dari seseorang. Lalu, bagaimana dengan kita?

  • Makalah ini membahas tentang salah satu akhlak salafus shalih, yaitu zuhud terhadap dunia. Diceritakan dalam makalah ini tentang sikap zuhud dari para sahabat seperti Abu Ubaidah Amir bin Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Abdullah bin Mas’ud dan para sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum. Juga sikap zuhud dari generasi salaf dari kalangan tabi’in dan tabi’it tabi’in, serta orang orang shalih sesudah mereka. Semua merupakan cermin dan panutan bagi kita semua dalam mengarungi bahtera kehidupan dunia yang penuh dengan cobaan dan tantangan.

  • Makalah ini menceritakan tentang salah satu akhlak salafus shalih, yaitu khawatir dan takut ada sifat ‘ujub dalam hati. Dalam makalah ini diceritakan ungkapan-ungkapan mereka yang terkait dengan salah satu penyakit hati, yaitu sifat ‘ujub. Semua itu bersumber dari kekhawatiran mereka dari penyakit ini yang berakibat bisa menggugurkan amal ibadah yang sudah dilakukan. Hendaknya ungkapan dari para salaf ini menjadi cermin bagi kita semua agar berhati-hati dari penyakit ‘ujub ini.

Tanggapan anda