AKIDAH EMPAT IMAM raḥimahumullāh ()

 

|

 AKIDAH EMPAT IMAM raḥimahumullāh

(Abu Hanifah, Malik, Syafi’i,

dan Ahmad bin Hanbal)

Disusun oleh: Tim Penuntut Ilmu

Kata Pengantar: Ṣalāḥ bin Muḥammad Al-Budair

Diterjemahkan dan diedit oleh:

Pusat Penerjemahan Ruwwād

 Kata Pengantar Syaikh Ṣalāḥ Al-Budair

Segala puji bagi Allah yang membuat hukum dengan sempurna, menghalalkan dan mengha-ramkan, memberitahukan dan mengajarkan, serta memahamkan agama-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilāh yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia telah meletakkan kaidah agama dengan kitab-Nya yang sempurna, yang merupakan petunjuk bagi semua umat.

Aku bersaksi bahwa nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, diutus kepada alam semesta, bangsa Arab dan non-Arab, dengan membawa agama yang lurus dan syariat yang sangat baik bagi manusia. Beliau senantiasa mendakwahkannya dan mengajak kepadanya, memperjuangkannya dengan dalil-dalilnya, serta melindunginya dengan dalil-dalilnya yang pasti dari kedua sisinya. Semoga Allah mencurahkan selawat serta salam kepada beliau bersama sahabat-sahabatnya yang meniti jalan tersebut, dan kepada orang-orang yang berafiliasi kepada mereka. Ammā ba'du:

Saya telah membaca buku ini yang berjudul “Akidah Empat Imam raḥimahumullāh” yang disusun oleh satu tim penuntut ilmu. Saya mendapati isinya selaras dengan akidah yang benar, mengikuti manhaj salaf yang mulia dalam mengupas permasalahannya berlandaskan Al-Qur`ān dan Sunah. Karena pentingnya tema dan bahasan-bahasan yang ada di buku ini, saya merekomendasikan agar dicetak dan diterbitkan seraya berharap kepada Allah Yang Mahakuasa agar menjadikannya bermanfaat bagi setiap pembaca dan menganugerahkan balasan terbaik dan paling sempurna kepada para penyusunnya.

Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan segenap sahabat-sahabatnya.

Imam dan Khatib Masjid Nabawi

serta Hakim di Pengadilan Umum Madinah al-Munawwarah

Ṣalāḥ bin Muhammad Al-Budair

 Mukadimah Penulis

Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta. Selawat dan salam kepada nabi kita Muhammad, penghulu para rasul, serta kepada keluarga dan segenap sahabat-sahabatnya. Ammā ba'du:

Ini adalah tulisan ringkas tentang apa yang wajib dipelajari dan diyakini oleh manusia, berupa permasalahan tauhid dan usuluddin (pokok agama) serta beberapa perkara yang berkaitan dengannya, yang diambil dari kitab-kitab akidah karya imam yang empat:

Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal serta para pengikut mereka raḥimahumullāh Ta'ālā yang telah bersepakat di atas akidah Ahlussunnah waljamaah dan tidak berselisih di dalamnya.  Seperti kitab:

-         Al-Fiqhul Akbar karya Abu Hanifah raḥimahullāh (w. 150H);

-         Al-'Aqīdah aṭ-Ṭaḥāwīyah karya Aṭ-Ṭaḥāwī (w. 321H) berikut penjelasannya oleh Al-'Allāmah Abu al-'Izz al-Hanafi (w. 792H);

-         Muqaddimah ar-Risālah karya Ibnu Abi Zaid al-Qairawānī al-Māliki (w. 386H);

-         Uṣūlus Sunnah karya Ibnu Abi Zamanain al-Mālikī (w. 399H);

-         At-Tamhīd Syarḥul Muwaṭṭa` karya Ibnu Abdil Barr al-Mālikī (w. 463H);

-         Ar-Risālah fī I'tiqād Ahlil Ḥadīṡ karya aṣ-Ṣābūnī asy-Syāfi'ī (w. 449H);

-         Syarḥus Sunnah karya Al-Muzani murid asy-Syafi'ī (w. 264H);

-         Uṣūlus Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241H);

-         As-Sunnah karya putra Imam Ahmad bin Hanbal, Abdullah (w. 290H);

-         Sunnah karya Al-Khallāl al-Hanbalī (. 311H);

-         Al-Bida' wannahyu 'anhā karya Ibnu Waḍḍāh al-Andalusī (w. 287H);

-         Al-Ḥawādiṡ wal Bida' karya Abu Bakr aṭ-Ṭarṭūsyī al-Mālikī (w. 520H);

-         Al-Bā'iṡ 'alā Inkāril Bida' wal Ḥawādiṡ karya Abu Syāmah al-Maqdisi asy-Syāfi'ī (w. 665H);

dan kitab-kitab akidah lainnya yang ditulis oleh para imam dan pengikut-pengikut mereka dalam rangka mendakwahkan kebenaran, menjaga Sunnah dan akidah serta bantahan terhadap berbagai bid'ah, kebatilan, dan khurafat.

Saudaraku se-Islam, Jika Anda adalah pengikut salah satu imam empat mazhab tersebut, berikut ini adalah akidah imam Anda. Sebagaimana Anda mengikutinya dalam masalah hukum (fikih), maka ikutilah juga dia dalam masalah akidah.

Tulisan ini disusun dalam bentuk tanya-jawab untuk memudahkan penyampaian materi dan mengingatnya.

Hanya kepada Allah kita memohon agar semua diberi taufik untuk menerima kebenaran serta ikhlas di dalamnya dan meneladani (mutaba’ah) Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada nabi kita Muhammad, serta keluarga dan sahabatnya.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, siapakah Rabbmu?

Jawab: Katakanlah, Rabbku adalah Allah Yang Maha Memiliki, Maha Menciptakan, Maha Mengatur, Maha Membentuk rupa, yang memelihara dan meluruskan para hamba-Nya serta mengurus urusan mereka. Tidak ada sesuatupun yang terjadi kecuali dengan perintah-Nya, dan tidak bergerak sesuatu yang tenang kecuali dengan izin dan kehendak-Nya.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bagaimana kamu mengetahui Rabbmu?

Jawab: Katakanlah, saya mengenal-Nya dengan fitrah yang telah Dia fitrahkan kepadaku untuk mengenal-Nya dan fitrah untuk mengakui keberadaan-Nya serta mengagungkan dan takut kepada-Nya. Sebagaimana aku mengenal-Nya dengan melihat dan memperhatikan ayat dan makhluk-makhluk-Nya. Sebagaimana Allah Ta'ālā berfirman, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan." (Fuṣṣilat: 37)

Makhluk-makhluk yang besar ini, yang teratur, sempurna, dan indah ini, tidak pernah menciptakan dirinya sendiri. Pasti ada yang menciptakannya, yang mengadakannya dari ketiadaan.

Makhluk-makhluk nan besar ini adalah bukti absolut tentang keberadaan pencipta yang kuasa lagi agung dan bijak. Seluruh makhluk -kecuali kelompok ateis yang menyimpang- mengakui keberadaan pencipta dan raja mereka serta yang memberi rezeki dan mengatur urusan mereka.

Di antara makhluk-Nya adalah tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi beserta makhluk-makhluk yang ada di dalamnya, yang tidak mengetahui jumlah, hakikat, dan kondisinya, tidak pula ada yang memenuhi kebutuhan dan rezekinya kecuali Allah Yang Mahahidup lagi senantiasa mengurus makhluk-Nya, Maha Pencipta lagi Mahaagung. Allah Ta'ālā berfirman, "Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam." (Al-A'rāf: 54)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa agamamu?

Jawab: Katakan, agamaku Islam. Yang artinya berserah diri kepada Allah dengan mengesakan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menaatinya, dan berlepas diri dari perbuatan syirik serta para pelakunya. Sebagaimana Allah Ta'ālā berfirman, "Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam." (Āli 'Imrān: 19) Allah Ta'ālā juga berfirman, "Siapa yang mencari agama selain Islam, maka (agama itu) tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang yang rugi." (Āli 'Imrān: 85)

Allah tidak menerima suatu agama selain agama-Nya, yang dengannya Dia mengutus nabi kita Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, karena merupakan penghapus seluruh syariat terdahulu. Siapa yang mengikuti agama selain Islam, maka dia telah tersesat dari petunjuk dan di akhirat kelak termasuk orang-orang rugi yang masuk ke dalam neraka Jahannam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa sajakah rukun iman?

Jawab: Katakan, rukun iman ada enam. Yakni beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari Kiamat serta beriman bahwa semua takdir, yang baik dan yang buruk berasal dari Allah Ta'ālā.

Iman seseorang tidak sempurna kecuali bila dia mengimani seluruhnya sesuai petunjuk Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa mengingkari salah satunya, dia telah keluar dari wilayah iman. Dalilnya firman Allah 'Azza wa Jalla, "Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi serta yang memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), orang yang meminta-minta, dan untuk (memerdekakan) hamba sahaya, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Al-Baqarah: 177)

Juga sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang iman, beliau bersabda, "Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kiamat serta kamu beriman kepada takdir, yang baik maupun buruk." (HR. Muslim)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bagaimanakah beriman kepada Allah Subḥānahu wa Ta'ālā?

Jawab: Katakanlah, beriman kepada Allah adalah membenarkan, meyakini, dan mengakui keberadaan Allah Subḥānahu wa Ta'ālā serta keesaan-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, dan nama-nama serta sifat-sifat-Nya.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bagaimanakah beriman kepada malaikat?

Jawab: Katakan, yaitu membenarkan dan meyakini keberadaan mereka berikut sifat, kemampuan serta tugas yang diperintahkan kepada mereka, dan bahwa mereka adalah makhluk mulia dan besar yang Allah ciptakan dari cahaya.

Allah Ta'ālā berfirman, "Mereka tidak mendur-hakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Taḥrīm: 6)

Mereka memiliki sayap; dua, tiga, empat dan lebih. Jumlah mereka sangat banyak, tidak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah Subḥānahu wa Ta'ālā. Allah memberikan tugas-tugas besar kepada mereka.

Di antara mereka ada pemikul 'Arsy, malaikat yang ditugaskan mengurus janin dalam rahim, mencatat amal, menjaga manusia, menjaga surga, menjaga nereka, dan tugas-tugas lainnya.

Malaikat yang paling utama adalah Jibril ‘alaihissalām. Dialah yang diberi tugas menyampaikan wahyu yang diturunkan kepada para nabi. Kita mengimani mereka secara global maupun terperinci seperti yang diberitakan oleh Rabb kita Tabāraka wa Ta'ālā dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa mengingkari malaikat atau meyakini hakikat mereka lain dari yang dikabarkan Allah Subḥānahu wa Ta'ālā maka dia telah kafir karena mendustakan berita Allah Ta'ālā dan berita Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bagaimanakah beriman dengan kitab-kitab yang diturunkan?

Jawab: Katakan, yaitu kamu meyakini dan bersaksi bahwa Allah Ta'ālā telah menurunkan kepada para nabi dan rasul ‘alaihimuṣṣalātu wassalām kitab-kitab yang sebagiannya telah Allah Ta'ālā sebutkan di dalam Al-Qur`ān: Suhuf Ibrahim, Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur`ān.

Dia menurunkan Suhuf Ibrahim kepada Nabi Ibrahim, Taurat kepada Nabi Musa, Injil kepada Nabi Isa, Zabur kepada Nabi Dawud, dan Al-Qur`ān kepada Nabi Muhammad, penutup para nabi ‘alaihimuṣṣalātu wassalām.

Kitab yang paling utama adalah Al-Qur`ān dan merupakan kalamullah Ta'ālā. Dia berbicara dengannya secara hakiki, lafal dan maknanya dari Allah. Dia memperdengarkannya kepada Jibril ‘alaihissalām dan memerintahkannya agar disampaikan kepada nabi-Nya Muhammad ‘alaihiṣṣalātu wassalām. Allah Ta'ālā berfirman, "Ia (Al-Qur`ān) dibawa turun oleh ar-Rūḥ al-Amīn (Jibril)." (Asy-Syu'arā`: 193)

Allah Ta'ālā juga berfirman, "Sungguh, Kami telah menurunkan Al-Qur`ān kepadamu (Muhammad) dengan berangsur-angsur." (Al-Insān: 23) Juga firman Allah Ta'ālā, "Maka lindungilah dia, agar dia mendengar kalamullah." (At-Taubah: 6)

Allah Ta'ālā menjaganya dari pengubahan (distorsi), penambahan, dan pengurangan. Al-Qur`ān terjaga dalam tulisan dan dalam dada (hafalan) sampai Allah mencabut nyawa orang-orang mukmin sebelum terjadinya kiamat di akhir zaman. Yaitu Allah Ta'ālā akan mengangkatnya kepada-Nya sehingga tidak tersisa sedikitpun.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bagaimanakah beriman kepada nabi dan rasul?

Jawab: Katakan, yaitu aku meyakini secara pasti bahwa mereka adalah manusia dan bahwa mereka adalah orang-orang pilihan. Allah Subḥānahu wa Ta'ālā memilih mereka untuk menyampaikan syariat yang Dia turunkan kepada hamba-hamba-Nya. Maka mereka mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan berlepas diri dari kesyirikan serta pelakunya. Kenabian merupakan pilihan dari Allah, tidak diraih dengan usaha keras, dan tidak pula dengan banyak amal ketaatan, kesalehan, ataupun kecerdasan. Allah Ta'ālā berfirman, "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya." (Al-An'ām: 124)

Nabi yang pertama adalah Adam ‘alaihissalām, sedang rasul yang pertama adalah Nuh ‘alaihissalām. Penutup para nabi adalah yang paling mulia di antara mereka, yaitu Muhammad bin Abdillah al-Qurasyī al-Hāsyimī ṣalawātullāh wa salāmuhu ‘alaihim ajma’īn.

Siapa mengingkari satu orang nabi maka dia telah kafir. Dan siapa yang mengklaim mendapat kenabian setelah Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam maka dia telah kafir dan mendustkan Allah. Karena Allah berfirman, "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah rasul Allah dan penutup para nabi." (Al-Aḥzāb :40) Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, "Dan tidak ada nabi setelahku."

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bagaimanakah beriman kepada hari Kiamat?

Jawab: Katakanlah, yakni dengan membenarkan secara pasti dan yakin, yang tidak mengandung keraguan sedikitpun serta mengikrarkan akan terjadinya semua yang Allah kabarkan bakal terjadi setelah kematian, seperti pertanyaan kubur berikut nikmat dan siksa di dalamnya, kebangkitan, pengumpulan makhluk untuk dihisab dan diadili serta apa yang akan terjadi di pelataran kiamat, seperti penantian yang panjang, dekatnya matahari setinggi satu mil, telaga, timbangan, lembaran catatan amalan, dibentangkannya jembatan di atas permukaan Jahanam dan berbagai peristiwa serta huru hara di hari yang luar biasa tersebut sampai penghuni surga masuk ke dalam surga dan penghuni neraka masuk ke dalam neraka, sebagaimana dijelaskan secara rinci di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Masuk dalam keimanan kepada hari akhir mengimani tanda-tanda kiamat yang diriwayatkan secara sahih, seperti banyaknya fitnah, pembunuhan, gempa bumi, gerhana, keluarnya Dajjal, turunnya Isa ‘alaihissalām, keluarnya Yakjuj dan Makjuj, matahari terbit dari barat, dan tanda-tanda kiamat lainnya.

Semua ini ada disebutkan di dalam Al-Qur`ān dan hadis-hadis Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang sahih, yang tercantum di dalam kitab-kitab sahih, sunan, dan musnad.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah siksa dan nikmat kubur ada disebutkan di dalam Al-Qur`ān dan Sunah?

Jawab: Katakan, benar. Allah Ta'ālā berfirman tentang kaum Fir’aun, “Mereka dimasukkan ke api neraka pada pagi dan petang, hingga pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada malaikat), ‘Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.'" (Gāfir: 46)

Juga firman Allah Ta'ālā, “Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul muka dan punggung mereka (dan berkata), ‘Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar.’” (Al-Anfāl: 50)

Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta'ālā, "Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat." (Ibrāhīm: 27)

Dan disebutkan dalam hadis qudsi yang panjang dari al-Barrā` raḍiyallāhu `anhu, "Lantas seorang penyeru menyeru dari langit, 'Hamba-Ku benar. Berilah ia kasur dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah untuknya satu pintu ke surga.’ Sehingga sampai kepadanya angin sepoi dan aroma wangi surga, dan dilapangkan baginya di dalam kubur sejauh mata memandang. Sedangkan orang kafir … (beliau menyebutkan kondisi kematiannya). Beliau bersabda, 'Lantas rohnya dikembalikan ke jasadnya, dan dia didatangi oleh dua malaikat seraya mendudukkannya dan berkata, ‘Siapa Rabbmu?’ Ia menjawab, ‘Hah, hah, aku tidak tahu.’ Keduanya bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab, ‘Hah, hah, aku tidak tahu.’ Keduanya bertanya lagi, ‘Siapakah lelaki yang diutus untuk kalian itu?’ Ia menjawab, ‘Hah, hah, aku tidak tahu.’ Maka seorang penyeru menyeru dari langit, ‘Dia dusta. Berilah ia kasur dari neraka, berilah ia pakaian dari neraka, dan bukakanlah untuknya satu pintu menuju neraka.’ Sehingga sampai kepadanya panas api dan panas angin neraka, dan kuburnya disempitkan sampai tulang-tulang rusuknya bersilangan.” Ditambahkan dalam riwayat lain, "Kemudian dihadirkan kepadanya seorang yang buta dan bisu membawa tongkat besi, sekiranya tongkat itu dipukulkan ke gunung niscaya gunung tersebut akan rata dengan tanah. Maka orang tersebut memukulnya dengan itu satu kali, suaranya terdengar oleh semua yang ada di antara timur dan barat kecuali manusia dan jin." (HR. Abu Dawud) Oleh sebab itu, kita diperintahkan agar memohon perlindungan dari azab kubur di setiap salat.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah orang mukmin akan melihat Rabb mereka di akhirat?

Jawab: Katakan, benar. Mereka akan melihat Rabb mereka di akhirat. Di antara dalilnya firman Allah Ta'ālā, "Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat." (Al-Qiyāmah: 22-23) Dan sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian." (HR. Al-Bukhāri dan Muslim)

Dan telah diriwayatkan secara mutawatir hadis-hadis dari Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan bahwa orang mukmin akan melihat Rabb mereka Tabāraka wa Ta'ālā. Para sahabat Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan generasi yang mengikuti mereka dengan baik (Tabi'in) telah ijmak dalam masalah itu. Maka siapa mengingkari rukyat ini, sungguh ia telah menentang Allah dan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam serta menyelisihi jalan kaum mukminin dari kalangan sahabat Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Adapun di dunia, maka tidak mungkin bisa melihat Rabb. Berdasarkan sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Sesungguhnya kalian tidak akan pernah melihat Rabb kalian hingga kalian meninggal." Dan ketika nabiyullah Musa ‘alaihissalām meminta untuk melihat Allah di dunia, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya Subḥānahu wa Ta'ālā, "Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan, dan Rabbnya berbicara langsung kepadanya. Musa berkata, ‘Ya Rabbku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Tuhan berfirman, ‘Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku..." (Al-A'rāf: 143)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bagaimanakah beriman kepada qada dan qadar (takdir)?

Jawab: Katakanlah, yakni dengan meyakini secara pasti bahwa segala sesuatu ada dengan ketetapan dan takdir Allah, tidak ada sesuatu pun kecuali dengan kehendak-Nya.

Dia yang menciptakan perbuatan hamba, yang baik ataupun yang buruk. Dia yang menjadikan fitrah hamba di atas kebaikan dan menerima kebenaran, memberikan mereka akal yang dapat membedakan baik dan buruk, memberikan mereka kehendak untuk memilih, dan menjelaskan kepada mereka kebenaran dan mengingatkannya dari kebatilan, lalu memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dengan karunia-Nya dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dengan keadilan-Nya. Dia Mahabijaksana, Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. Dia tidak ditanya terkait apa yang Dia lakukan, tetapi merekalah yang akan ditanya.

Tingkatan takdir ada empat, yakni:

-         Tingkatan pertama: beriman kepada ilmu Allah, bahwa ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dia mengetahui perkara yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang belum terjadi seandainya terjadi bagaimana akan terjadi.

-         Tingkatan kedua: beriman bahwa Allah mencatat segala sesuatu.

-         Tingkatan ketiga: beriman bahwa tidak ada sesuatu pun terjadi kecuali dengan kehendak-Nya.

-         Tingkatan keempat: beriman bahwa Allah pencipta segala sesuatu. Dia yang menciptakan zat, perbuatan dan ucapan, gerakan dan diam serta sifat bagi segala sesuatu yang ada di alam langit dan bumi. Dalil perkara-perkara di atas banyak tertera di dalam Al-Qur`ān dan Sunah.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah manusia musayyar (dikendalikan) atau mukhayyar (diberi pilihan)?

Jawab: Katakan, tidak bisa dikatakan secara mutlak bahwa manusia dikendalikan atau diberi pilihan, kedua ungkapan ini sama-sama keliru. Nas-nas Al-Qur`ān dan Sunah menunjukkan bahwa manusia memiliki keinginan dan kehendak, dan bahwa dia pelaku secara hakiki, tetapi semua itu tidak lepas dari ilmu, keinginan dan kehendak Allah. Hal ini dijelaskan oleh firman Allah Ta'ālā, "(Yaitu) bagi siapa diantara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb alam semesta." (At-Takwīr: 28-29)

Dan firman Allah Ta'ālā, "Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (Al-Qur'an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia-lah Rabb yang patut (kita) bertaqwa kepada-Nya dan yang berhak memberi ampun." (Al-Muddaṡṡir: 55-56)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah iman sah tanpa amal?

Jawab: Katakanlah, iman tidak sah tanpa amal. Iman wajib disertai dengan amal, karena amal merupakan rukun dalam iman, seperti halnya ucapan adalah rukunnya yang lain. Inilah yang disepakati para ulama, bahwa iman terdiri dari ucapan dan perbuatan.

Dalilnya adalah firman Allah Ta'ālā, "Dan siapa yang datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah beramal saleh, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia)." (Ṭāhā: 75) Di sini Allah mensyaratkan iman bersama amal untuk masuk surga.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, berapakah rukun Islam?

Jawab: Katakanlah, ada lima. Yaitu bersyahadat lā ilāha illallāh-Muḥammad rasūlullāh, menegakkan salat, berpuasa di bulan Ramadan, membayar zakat, dan berhaji ke Baitullah al-Haram.

Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Islam dibangun di atas lima perkara: bersyahadat lā ilāha illallāh-Muḥammad rasūlullāh, mendirikan salat, membayar zakat, berhaji, dan berpuasa di bulan Ramadan." (Muttafaq 'alaih)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa makna syahadat lā ilāha illallāh dan syahadat Muḥammad rasūlullāh?

Jawab: Katakanlah, syahadat lā ilāha illallāh maknanya tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah. Sebagaimana tertera dalam firman Allah Ta'ālā, “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali dari Allah yang menciptakanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.’ Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali (kepada kalimat tauhid itu).” (Az-Zukhruf: 26-28) Serta firman Allah Ta'ālā, "Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (Tuhan) yang hak dan apa saja yang mereka seru selain dari Allah adalah batil. Dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar." (Luqmān: 30)

Dan makna syahadat Muḥammad rasūlullāh adalah kita meyakini dan mengakui bahwa beliau hamba Allah dan utusan-Nya. Bahwa beliau adalah hamba yang tidak boleh disembah dan seorang nabi yang tidak boleh didustakan. Beliau dipatuhi pada perintahnya, dibenarkan apa yang beliau beritakan, dijauhi apa yang beliau larang dan cegah, serta tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan.

Hak Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang wajib atas umat beliau adalah menghormati, memuliakan, mencintai, dan mengikuti petunjuk beliau secara total pada setiap waktu dan saat sesuai kemampuan. Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman, "Katakanlah (Muhammad), Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian." (Āli 'Imrān: 31)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa syarat kalimat lā ilāha illallāh?

Jawab: Katakanlah, kalimat tauhid bukan sekedar kalimat yang diucapkan lisan tanpa meyakini dan menunaikan konsekuensinya serta menjauhi pembatalnya. Tetapi kalimat tauhid mempunyai tujuh syarat, sebagaimana yang disimpulkan para ulama setelah melakukan penelitian yang luas terhadap dalil-dalil syariat lalu mereka catat dengan menyertakan dalil-dalilnya yang bersumber dari Al-Qur`ān dan Sunah, yaitu:

1.     Mengetahui maknanya dari sisi penafian dan penetapan. Yakni mengetahui bahwa Allah semata yang berhak diibadahi dan tidak ada sekutu bagi-Nya, mengetahui apa yang ditunjukkan kalimat tauhid berupa penafian hak disembah dari selain Allah, dan mengetahui konsekuensi serta pembatal-pembatalnya; kebalikan dari jahil. Allah Ta'ālā berfirman, "Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada ilāh yang berhak disembah selain Allah." (Muḥammad: 19) Juga firman Allah Subḥānahu wa Ta'ālā, "Akan tetapi, (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui yang hak (kalimat tauhid) dan mereka menyakini(nya)." (Az-Zukhruf: 86) Dan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada ilāh yang berhak disembah selain Allah, niscaya masuk surga." (HR. Muslim)

2.     Yakin; yakni keyakinan yang pasti terhadap kalimat tauhid, kebalikan dari ragu dan bimbang. Artinya, keyakinan yang terpatri kuat dalam hati. Allah Ta'ālā berfirman, "Sesungguhnya orang-orang mukmin sebenarnya hanyalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (Al-Ḥujurāt: 15) Dan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Siapa mengucapkan, aku bersaksi tidak ada ilāh yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan dua kalimat ini tanpa keraguan padanya, kecuali pasti masuk surga." (HR. Muslim)

3.     Ikhlas; kebalikan syirik. Yaitu membersihkan dan memurnikan ibadah dari segala noda syirik ataupun ria. Allah Ta'ālā berfirman, "Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)." (Az-Zumar: 3) Juga firman Allah Ta'ālā, "Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama." (Al-Bayyinah: 5) Dan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Manusia yang paling beruntung mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat ialah yang mengucapkan "Lā ilāha illallāh" murni dari hatinya." (HR. Bukhari)

4.     Mencintai kalimat tauhid dan apa yang ditunjukkannya, senang kepadanya, mencintai para pengikutnya dan berpihak kepada mereka, membenci hal-hal yang menyelisihinya, serta berlepas diri dari orang-orang yang kafir. Allah Ta'ālā berfirman, "Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan; mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah." (Al-Baqarah: 165) Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Ada tiga perkara, barangsiapa ketiga perkara ini ada dalam dirinya niscaya merasakan manisnya iman. Yakni ketika Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lainnya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api." (HR. Muslim)

5.     Jujur; kebalikan dusta. Yaitu hati dan anggota tubuh selaras dengan lisan yang mengucapkan kalimat tauhid. Maka anggota tubuh dan hati membenarkan apa yang diucapkan lisan, lalu melakukan ketaatan yang tampak maupun yang tersembunyi. Allah Ta'ālā berfirman, "Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta." (Al-'Ankabūt: 3) Allah Ta'ālā juga berfirman, "Dan orang yang membawa kebenaran (kalimat tauhid) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Az-Zumar: 33) Dan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang mati dalam keadaan bersaksi lā ilāha illallāh-Muḥammad rasūlullāh dengan tulus dari hatinya, niscaya akan masuk surga." (HR. Ahmad)

6.     Tunduk; merendahkan diri kepada Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya dan menunaikan hak-haknya serta melaksanakan segala perintah dan menjauhi seluruh larangan dengan ikhlas, cinta, berharap dan takut kepada Allah Ta'ālā. Allah Ta'ālā berfirman, "Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu dan berserah dirilah kepada-Nya." (Az-Zumar: 54) Allah Ta'ālā juga berfirman, "Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul yang kokoh (kalimat tauhid)." (Luqmān: 22)

7.     Menerima; kebalikan menolak. Yakni penerimaan hati terhadap kalimat tauhid serta apa yang ditunjukkan dan yang menjadi konsekuensinya. Tetapi, Allah tidak akan menerima kalimat tauhid dari orang yang mengucapkannya karena fanatisme atau sombong. Allah Ta'ālā berfirman, "Sesungguhnya mereka dahulu jika diserukan kepada mereka Lā Ilāha illallāh, mereka menyombongkan diri." (Aṣ-Ṣāffāt: 35) Orang seperti ini tidak menjadi muslim.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, siapa nabimu?

Jawab: Katakanlah, nabiku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muṭṭalib bin Hāsyim bin Abdu Manāf. Allah Ta'ālā telah memilih beliau di antara kaum Quraisy yang merupakan orang-orang pilihan dari keturunan Ismā'īl bin Ibrāhīm 'alaihimas salām. Allah mengutus beliau kepada bangsa manusia dan jin, menurunkan kepada beliau Al-Qur`ān dan Sunah, dan menjadikan beliau sebagai rasul terbaik dan paling utama 'alaihiṣ ṣalātu was salām.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa yang Allah wajibkan pertama kali kepada hamba-hamba-Nya?

Jawab: Katakanlah, hal pertama yang Allah wajibkan kepada hamba-hamba-Nya adalah beriman kepada-Nya Subḥānahu wa Ta'ālā dan mengingkari ṭāgūt. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta'ālā, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt,’ kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (An-Naḥl: 36) Ṭāgūt artinya segala yang membuat seseorang melampaui batas, baik yang disembah, yang diikuti, ataupun yang ditaati.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa tujuan Allah menciptakanmu?

Jawab: Katakanlah, Allah telah menjelaskannya dengan sejelas-jelasnya. Bahwa Allah Ta'ālā menciptakan makhluk, manusia dan jin, untuk beribadah kepada-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya. Yaitu dengan menaati-Nya, dengan melaksanakan apa yang Dia perintahkan dan meninggalkan apa yang Dia larang. Allah Ta'ālā berfirman, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (Aż-Żāriyāt: 56) Allah Ta'ālā juga berfirman, "Sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun." (An-Nisā`: 36)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa makna ibadah?

Jawab: Katakanlah, ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridai oleh Allah berupa ucapan maupun perbuatan yang nampak dan yang tidak nampak. Juga segala yang Allah Subḥānahu wa Ta'ālā perintahkan agar diyakini, diucapkan, ataupun dilakukan, seperti rasa takut, harap, dan cinta kepada-Nya Subḥānahu wa Ta'ālā; memohon pertolongan dan bantuan dari-Nya; salat dan puasa.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah berdoa termasuk ibadah?

Jawab: Katakanlah, berdoa termasuk jenis ibadah yang paling mulia. Sebagaimana firman Allah Ta'ālā, “Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombong-kan diri dari menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (Gāfir: 60) Di dalam hadis, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Doa adalah ibadah." (HR. At-Tirmiżi)

Karena penting dan mulia kedudukannya dalam agama, doa disebutkan dalam lebih dari tiga ratus ayat dalam Al-Qur`ānul Karim. Doa ada dua jenis: doa ibadah dan doa permohonan, masing-masing dari keduanya menuntut keberadaan yang lain.

Doa ibadah ialah bertawassul kepada Allah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan atau menolak kesusahan dan menghilangkan kemudaratan dengan memurnikan ibadah untuk-Nya semata.

Allah Ta'ālā berfirman, "Dan (ingatlah kisah) Żunnūn (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada ilāh (yang berhak disembah) selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang zalim.’ Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikanlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (Al-Anbiyā`: 87-88)

Sedangkan doa permohonan adalah memohon sesuatu yang akan mendatangkan manfaat bagi orang yang berdoa, berupa mendatangkan manfaat atau menghilangkan mudarat. Allah Ta'ālā berfirman, "Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka." (Āli 'Imrān: 16)

Doa dengan kedua jenisnya adalah inti dan sari ibadah. Dia merupakan ibadah yang paling ringan dan paling mudah untuk dilaksanakan, tetapi paling besar kedudukan dan pengaruhnya. Merupakan faktor paling kuat untuk menolak keburukan dan mendapat kebaikan, dengan izin Allah Ta'ālā.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa syarat amal diterima di sisi Allah Ta'ālā?

Jawab: Katakanlah, amal tidak akan diterima di sisi Allah sampai memenuhi dua syarat.

-         Syarat pertama, amal tersebut ikhlas (murni) untuk Allah. Dalilnya firman Allah Ta'ālā, "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama." (Al-Bayyinah: 5) Juga firman Allah Ta'ālā, "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110)

-         Syarat kedua, amal tersebut sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Dalilnya firman Allah Ta'ālā, "Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu.’” (Ali ‘Imrān: 31) Dan sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak pernah kami perintahkan, maka amalah itu tertolak." (HR. Muslim) Jika sebuah amalan tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam maka amal tersebut tidak diterima meskipun pelakunya ikhlas.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah niat baik cukup sekalipun tanpa amalan?

Jawab: Katakan, tidak. Tetapi harus terkumpul antara niat baik, yaitu mengikhlaskan amal untuk Allah dengan amal yang sesuai dengan syariat Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Dalilnya firman Allah Ta'ālā, "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110) Dalam ayat ini, agar amal diterima, Allah menyaratkan niat yang baik, dan amal tersebut harus saleh (baik) sesuai syariat Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, ada berapa macam tauhid?

Jawab: Katakan, ada tiga macam:

1.       Tauhid rubūbīyyah; yakni meyakini dengan keyakinan yang pasti bahwa Allah yang menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur seluruh makhluk, tidak ada sekutu dan penolong bagi-Nya. Yaitu mentauhidkan Allah dalam perbuatan-Nya. Allah Ta'ālā berfirman, "Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi? Tidak ada ilāh (yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?" (Fāṭir: 3) Allah Ta'ālā juga berfirman, "Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." (Aż-Żāriyāt: 58) Allah Ta'ālā befirman, "Dia mengatur urusan dari langit ke bumi." (As-Sajdah :5) Dan Allah Ta'ālā berfirman, "Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam." (Al-A'rāf: 54)

2.       Tauhid al-asmā` waṣṣifāt; yakni meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang sempurna (sebagaimana) yang telah tetap dalam Al-Qur`ān dan Sunah tanpa takyīf (memberikan bentuk), tamṡīl (menyerupakan dengan makhluk), taḥrīf (menyelewengkan makna), dan ta'ṭīl (meniadakan makna); bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Allah Ta'ālā berfirman, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syūrā: 11) Allah Ta'ālā juga berfirman, "Hanya milik Allah Asmā`ul Ḥusnā (nama-nama yang indah), maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmā`ul Ḥusnā itu." (Al-A'rāf: 180)

3.       Tauhid ulūhīyyah; yakni mengesakan Allah semata dalam beribadah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Yaitu mengesakan Allah dalam perbuatan ibadah hamba. Allah Ta'ālā berfirman, "Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama." (Al-Bayyinah: 5) Allah Ta'ālā juga berfirman, "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada ilāh (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku." (Al-Anbiyā`: 25) Pembagian ini semata-mata untuk mempermudah penjelasan ilmu. Kalau tidak demikian, sebenarnya ketiga macam tauhid ini saling terkait dalam keyakinan orang yang bertauhid dan mengikuti Al-Qur`ān dan Sunah.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa dosa maksiat kepada Allah yang paling besar?

Jawab: Katakanlah, dosa maksiat paling besar adalah syirik. Allah Ta'ālā berfirman, "Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.’ Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, ‘Wahai Bani Israil, sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu.’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolong pun." (Al-Mā`idah: 72) Allah Ta'ālā juga berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki." (An-Nisā`: 48) Ketika Allah Subḥānahu wa Ta'ālā tidak mengampuninya maka itu adalah bukti bahwa dia merupakan dosa paling besar. Hal ini diperjelas oleh sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, "Dosa apa yang paling besar?" Beliau menjawab, "Yaitu kamu menjadikan tandingan bagi Allah padahal Dia-lah yang menciptakanmu..." (Muttafaq 'alaih) An-Nidd artinya: tandingan, yang menyerupai.

Syirik adalah seseorang membuatkan tandingan yang serupa atau setara bagi Allah berupa malaikat, rasul, wali, dan sebagainya. Yaitu meyakini bahwa tandingan tersebut memiliki sebagian sifat-sifat rubūbīyyah atau yang menjadi keistimewaannya berupa menciptakan, memiliki, dan mengatur; atau mendekatkan diri kepadanya lalu berdoa, berharap, merasa takut, dan berserah diri, atau mengharap kepadanya selain Allah, atau bersama Allah, lalu memberikannya sebagian jenis ibadah, baik ibadah harta maupun badan, yang nampak atau yang tidak nampak.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, ada berapa jenis syirik?

Jawab: Katakanlah, ada dua jenis:

1.     Syirik besar; yaitu memberikan sebagian macam ibadah kepada selain Allah. Seperti bertawakal kepada selain Allah, meminta bantuan kepada orang yang sudah mati, menyembelih untuk selain Allah, nazar untuk selain Allah, dan sujud kepada selain Allah. Atau melakukan istigasah (memohon pertolongan) kepada selain Allah dalam perkara yang tidak mampu dipenuhi kecuali oleh Allah Ta'ālā, misalnya istigasah kepada sosok gaib atau orang mati.

Perbuatan-perbuatan bodoh ini tidak akan dikerjakan kecuali oleh orang yang meyakini bahwa mereka mampu untuk mengabulkan dan melakukan sesuatu yang hanya mampu dilakukan oleh Allah. Dengan demikian, dia telah meyakini bahwa makhluk tersebut memiliki sebagian dari sifat rubūbīyyah, sehingga dia tunduk dan merendahkan diri kepadanya, bergantung kepadanya, berdoa sepenuh hati kepadanya, memohon pertolongan kepadanya, dan meminta darinya sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh makhluk manapun.

Sungguh aneh, bahwa pertolongan dimohon kepada sosok lemah yang tidak mampu menghilangkan bahaya maupun memberi manfaat untuk dirinya sendiri, serta tidak mampu mematikan, menghidupkan, ataupun membangkitkan. Orang yang tidak mampu mengangkat keburukan dari dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia dapat melakukannya untuk orang lain?! Perbuatan ini tidak beda seperti permintaan tolong orang yang tenggelam kepada orang yang juga tenggelam. Subḥānallāh! Bagaimana bisa mata hati sebagian mereka buta dan akal sehat mereka hilang?! sehingga melakukan kesyirikan yang bertentangan dengan syariat, bertolak belakang dengan akal, dan menyelisihi fakta.

2.     Syirik kecil, seperti sedikit ria, berdasarkan sabda Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-, "Hal yang paling aku khawatirkan menimpa diri kalian adalah syirik kecil". Lalu beliau ditanya tentang itu, dan beliau menjawab, "Ria." (HR. Muslim). Dan seperti bersumpah dengan selain Allah. Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, ia telah kafir atau musyrik." (HR. at-Tirmiżi)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, ada berapa macam kekufuran?

Jawab: Katakanlah, ada dua macam:

1.        Kufur besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama. Yaitu kekufuran yang berlawangan dengan pokok ajaran agama, seperti orang yang mencela Allah atau agama dan nabi-Nya; mengejek atau mengolok-olok sebagian syariat; membantah Allah dalam berita atau perintah dan larangan-Nya, maka dia mendustakan apa yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, mengingkari sebagian kewajiban yang Allah wajibkan kepada hamba-Nya, atau menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta'ālā berfirman, "Katakanlah, ‘Mengapa kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman." (At-Taubah: 65-66)

2.        Kufur kecil. Yaitu dosa yang disebut oleh dalil syariat sebagai kekufuran namun bukan kufur besar. Juga dinamakan kufur nikmat. Seperti memerangi orang muslim, mengingkari nasab, meratapi mayat, dan berbagai perilaku jahiliah lainnya. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Mencela seorang muslim adalah perbuatan fasik dan memeranginya adalah perbuatan kufur." (HR. Bukhari) Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, "Ada dua perbuatan di tengah manusia yang terhitung sebagai kekafiran: mencela nasab dan meratapi mayat." (HR. Muslim) Perbuatan-perbuatan ini tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama, tetapi termasuk dosa besar -kita berlindung kepada Allah-.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, ada berapa macam kemunafikan?

Jawab: Katakanlah, ada dua macam: nifak besar dan nifak kecil.

Nifak besar adalah menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Di antara dampak (tanda) terbesar dari nifak ini adalah benci terhadap agama Islam, tidak senang bila Islam menang, dan benci kepada orang-orang Islam serta berusaha memerangi mereka dan merusak agama mereka.

Sedangkan nifak kecil adalah meniru perbuatan orang-orang munafik tanpa menyembunyikan kekafiran, seperti orang yang berdusta apabila bicara, ingkar apabila berjanji, dan khianat apabila diberikan amanah. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara dia berdusta, apabila diberikan amanah dia berkhianat, dan apabila berjanji dia tidak menepati." (HR. Bukhari)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa pembatal-pembatal Islam?

Jawab: Katakanlah, pembatal artinya yang membatalkan dan yang merusak, ketika ada pada sesuatu maka dia membatalkannya dan merusaknya. Seperti pembatal wudu, orang yang melakukannya maka wudunya batal dan dia wajib mengulanginya. Seperti itu juga pembatal Islam, jika seseorang melakukannya maka keislamannya bisa batal dan rusak, dan pelakunya keluar dari wilayah Islam kepada kekufuran.

Dalam pembahasan riddah dan hukum murtad, para ulama telah menyebutkan banyak perkara yang dapat menyebabkan seorang muslim murtad dari agamanya sehingga halal darah dan hartanya. Yang paling berbahaya dan paling banyak terjadi serta disepakati oleh para ulama adalah sepuluh pembatal.

1.     Melakukan kesyirikan dalam beribadah kepada Allah Ta'ālā. Allah Ta'ālā berfirman, "Sesung-guhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki." (An-Nisā`: 116) Allah Ta'ālā juga berfirman, "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim itu." (Al-Mā`idah: 72)

Di antara contohnya berdoa kepada selain Allah, memohon pertolongan serta perlin-dungan kepada mereka, serta bernazar dan menyembelih untuk mereka, seperti orang yang menyembelih untuk jin, kuburan, dan wali, baik yang masih hidup ataupun telah mati untuk mendapatkan kebaikan atau menolak keburukan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang jahil yang tertipu oleh kedustaan dan syubhat para pendusta yang sesat.

2.     Siapa yang menjadikan perantara antara dirinya dengan Allah yang dia berdoa kepadanya, meminta syafaat dan bertawakal kepadanya dalam rangka mendapatkan berbagai tujuan dan keinginan duniawi dan ukhrawi, maka dia telah kafir secara ijmak. Allah Ta'ālā berfirman, "Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbku dan tidak menyekutukan siapa pun dengan-Nya.’" (Al-Jin: 20)

3.     Siapa yang tidak mengafirkan orang-orang musyrik, atau ragu terhadap kekafiran mereka, atau membenarkan keyakinan mereka, maka dia telah kafir. Allah Ta'ālā berfirman, "Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair putra Allah,’ dan orang-orang Nasrani berkata, "Al-Masih putra Allah.’ Demikian itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai ber-paling?" (At-Taubah: 30) Karena rida terhadap kekafiran adalah kekafiran, dan agama seseorang tidak akan benar kecuali dengan mengingkari ṭāgūt, yaitu dengan meyakini kebatilan agama selain Islam, membencinya, berlepas diri darinya dan dari para pengikutnya serta memerangi mereka sesuai kemampuan.

4.     Siapa yang berkeyakinan bahwa selain petunjuk Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam lebih sempurna daripada petunjuk beliau atau hukum yang lain lebih baik daripada hukum beliau, seperti orang yang lebih mengutamakan hukum ṭāgūt dan undang-undang buatan manusia di atas hukum Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta'ālā berfirman, "Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisih-kan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An-Nisā`: 65)

Dan orang yang lebih mengedepankan tarekat dan bidah-bidah para syaikh yang mengajak kepada kesesatan daripada sunah yang sahih, padahal dia tahu itu adalah sunah Nabi, siapa melakukan hal ini maka dia telah kafir berdasarkan ijmak (kesepakatan para ulama).

5.     Siapa yang membenci sebagian syariat Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, walaupun dia mengamalkannya, maka dia telah kafir. Allah Ta'ālā berfirman, "Yang demikian itu karena mereka membenci (Al-Qur`ān) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka." (Muhammad: 9)

6.     Siapa yang mengolok-olok sebagian dari agama Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, seperti orang yang mengejek sebagian dari hukum dan syariat beliau serta sunah atau beritanya, atau mengolok-olok pahala yang Allah sediakan untuk orang yang taat, ataupun siksaan untuk pelaku maksiat yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka dia telah kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ālā, "Katakanlah, ‘Mengapa kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman." (At-Taubah: 65-66)

7.     Sihir. Sihir tidak terjadi kecuali dengan menggunakan bantuan jin dan setan serta menyekutukan mereka dan mengerjakan perbuatan kufur guna memperoleh rida mereka. Diantara bentuknya adalah ṣarf (guna-guna untuk memisah suami-istri) dan ‘aṭf (guna-guna untuk memikat hati orang) yang berpengaruh terhadap kejiwaan dan emosional manusia.

Orang yang melakukannya atau meridainya maka dia telah kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ālā, "Padahal keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.’” (Al-Baqarah: 102)

8.     Mendukung dan membantu orang-orang musyrik serta membela mereka terhadap kaum muslim. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ālā, "Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai teman setia (pemimpin), maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (Al-Mā`idah: 51)

9.     Siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia boleh meninggalkan syariat Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Nabi Khadir boleh meninggalkan syariat Musa ‘alaihissalām, maka dia telah kafir. Berdasarkan firman Allah Ta'ālā, "Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka agama itu tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi." (Āli 'Imrān: 85)

10.Berpaling dari agama Allah; tidak mempelajari dan tidak mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ālā, "Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian dia berpaling darinya? Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa." (As-Sajdah: 22) Maksud berpaling dari agama Allah adalah enggan mempelajari perkara yang Dia diwajibkan berupa pokok-pokok agama yang tidak akan sah agama seseorang kecuali dengan mengetahuinya.

Setelah menyebutkan pembatal-pembatal ini, kami merasa perlu menyampaikan dua peringatan penting:

1.         Pembatal-pembatal ini disebutkan agar diwaspadai dan diperingatkan kepada orang lain. Karena setan dan bala tentaranya yang menyesatkan terus-menerus mengintai kaum muslimin untuk memanfaatkan kelalaian dan kejahilan sebagian mereka untuk mengeluarkannya dari wilayah kebenaran menuju kebatilan, dan untuk memalingkannya dari jalan surga ke neraka.

2.         Menerapkan pembatal-pembatal ini dalam kehidupan nyata adalah wewenang para ulama yang memiliki ilmu kuat. Merekalah yang mengerti dalil dan hukum serta kaidah penerapannya pada manusia. Tidak setiap orang boleh melakukan hal ini.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bolehkah memastikan seorang muslim masuk surga atau neraka?

Jawab: Katakanlah, tidak boleh memastikan siapa pun masuk surga atau neraka, kecuali orang yang disebutkan oleh nas. Tetapi orang yang berbuat baik diharapkan memperoleh pahala, dan orang yang berbuat buruk dikhawatirkan mendapat siksa.

Kita mengatakan, setiap orang yang mati di atas keimanan, maka tempat akhirnya ke surga, dan setiap orang yang mati di atas kesyirikan atau kekufuran, maka dia termasuk penghuni neraka, dan neraka adalah seburuk-buruk tempat tinggal.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah seorang muslim boleh dihukumi kafir karena berbuat maksiat?

Jawab: Dikatakan, seorang muslim tidak dapat divonis kafir karena melakukan dosa dan maksiat sekalipun merupakan dosa besar, selama tidak termasuk dosa-dosa yang dapat mengafirkan berdasarkan nas-nas syariat dalam Al-Qur`ān dan Sunah serta merupakan pendapat para sahabat dan para imam. Orang tersebut tetap berada dalam keimanannya, dan termasuk pelaku maksiat dari kalangan orang-orang yang bertauhid selagi dia tidak jatuh dalam kufur besar, syirik besar, atau nifak besar.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah kesalahan lidah dan perkataan buruk berpengaruh kepada tauhid? Apakah akan menggelincirkan orang yang mengucapkannya dari jalan yang lurus, ataukah itu termasuk dosa kecil?

Jawab: Perkara lisan adalah perkara besar. Dengan satu ucapan seseorang masuk dalam Islam, dan dengan satu ucapan pula seseorang dapat keluar darinya - kita memohon perlindungan kepada Allah-.

Kesalahan lidah bertingkat-tingkat. Di antaranya ada yang merupakan kalimat kufur yang bisa membatalkan iman dan menghapus amal, seperti mencela Allah dan mencela Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam; kata-kata yang mengandung pemberian sifat rububiyah kepada para wali dan orang-orang yang diagungkan; istigasah (mohon pertolongan) dan penyandaran kebaikan serta apa yang dialami seseorang kepada mereka. Termasuk juga kata-kata sanjungan yang berlebihan, yang menempatkan mereka di atas batas manusiawi serta bersumpah dengan nama mereka. Juga mengolok-olok syariat dan hukum-hukumnya. Termasuk kata-kata murka terhadap hukum syariat atau murka dan protes terhadap ketetapan takdir yang menyakitkan berupa keburukan yang dialami di dunia, seperti musibah pada tubuh, harta, anak, dan yang lainnya.

Di antara dosa besar yang membahayakan keimanan dan dapat menguranginya adalah gibah (menggunjing) dan namimah (adu domba). Hendaknya kita ekstra hati-hati dan menjaga lisan kita dari setiap perkataan yang menyimpang dari syariat Allah dan sunah Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sungguh, seseorang akan mengucapkan perkataan yang Allah ridai, padahal dia tidak menganggapnya berharga, namun Allah mengangkatnya beberapa derajat lantaran perkataan tersebut. Dan sungguh, seseorang akan mengucapkan perkataan yang Allah murkai, padahal dia tidak menganggapnya berharga, namun dia terjun ke neraka Jahanam karena perkataan itu." (HR. Bukhari)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, kapan seorang mukmin berhenti beramal?

Jawab: Katakanlah, seorang mukmin tidak berhenti beramal kecuali dengan kematian. Dalilnya firman Allah Ta'ālā, "Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yakin (ajal)." (Al-Ḥijr: 99) Yakin di sini maksudnya kematian, berdasarkan sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tentang ‘Uṡmān bin Maẓ'ūn pada saat dia meninggal, "Adapun 'Uṡmān, demi Allah, dia telah didatangi oleh yakin." (HR. Bukhari)

Juga karena Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berhenti beramal semasa hidupnya. Yakin artinya di sini bukan suatu tingkatan iman, di mana seorang mukmin boleh berhenti beramal ketika itu atau kewajiban beramal telah diangkat dari dirinya, sebagaimana klaim sebagian orang-orang yang menyimpang.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, siapakah yang mengatur langit dan bumi beserta apa yang ada di dalamnya?

Jawab: Katakanlah, yang mengatur urusan langit dan bumi berikut makhluk yang ada di dalamnya dan di antara keduanya adalah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada raja kecuali Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang menolong dan membantu-Nya Subḥānahu wa biḥamdih. Allah Ta'ālā berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai ilāh) selain Allah! Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak memiliki peran serta dalam (penciptaan) langit dan bumi dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’” (Saba`: 22)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa hukum orang yang meyakini bahwa alam semesta ini diatur oleh empat atau tujuh wali kutub, atau ada autād dan gauṡ yang dapat dimintai selain Allah? atau bersama Allah?

Jawab: Katakanlah, barangsiapa meyakini hal ini maka para ulama sepakat dia telah kafir, karena dia meyakini adanya sekutu bagi Allah dalam rubūbiyyah (penciptaan, kepemilikan dan pengaturan).

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah para wali mengetahui perkara gaib dan dapat menghidupkan orang mati?

Jawab: Katakanlah, tidak ada yang dapat mengetahui perkara gaib kecuali Allah, dan tidak mampu menghidupkan orang mati kecuali Allah. Dalilnya firman Allah Ta'ālā, "Sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan." (Al-A'rāf: 188)

Jika Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang merupakan makhluk paling mulia tidak mengetahui gaib, maka orang selain beliau lebih utama dan lebih layak untuk tidak mengetahui yang gaib.

Imam yang empat sepakat bahwa orang yang meyakini Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengetahui gaib, atau mampu menghidupkan orang mati, maka dia telah murtad dari Islam, karena dia mendustakan Allah yang memerintahkan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk berkata kepada manusia dan jin, "Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, aku tidak mengetahui yang gaib, dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku.’" (Al-An'ām: 50) Dan Allah Ta'ālā berfirman, "Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Luqmān: 34)

Sedikit pun Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui gaib, kecuali gaib yang diwahyukan atau diberitahukan oleh Allah kepada beliau. Dan tidak pernah dalam suatu hari Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengklaim bahwa beliau bisa menghidupkan salah seorang sahabat beliau atau anak beliau yang telah mati. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang tingkatan mereka di bawah Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam?

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah status wali itu khusus disandang sebagian kaum mukminin saja?

Jawab: Katakanlah, setiap orang yang beriman dan bertakwa adalah wali Allah. Dalilnya firman Allah Ta'ālā, "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, mereka tidak merasa khawatir dan tidak pula bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." (Yunus: 62-63) Sehingga status wali tidak khusus disandang sebagian mukmin saja, tetapi tingkatannya yang berbeda-beda. Bertakwa maknanya mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, dan menjauhi apa yang dilarang Allah dan Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Setiap mukmin memiliki bagian kewalian sesuai kadar iman dan ketaatannya.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah firman Allah Ta'ālā (artinya) "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, mereka tidak merasa khawatir dan tidak pula bersedih hati" berarti boleh berdoa kepada para wali?

Jawab: Katakanlah, ayat tersebut tidak berarti bolehnya berdoa, meminta pertolongan, dan memohon perlindungan kepada mereka. Tetapi ayat tersebut berisi penjelasan kedudukan mereka, dan bahwa mereka tidak memiliki rasa khawatir di dunia serta akhirat, pun mereka tidak bersedih di akhirat. Ayat tersebut juga berisi ajakan untuk berperilaku sebagai wali Allah, yakni dengan mengesakan Allah dan menaati-Nya serta Rasul-Nya agar mendapatkan kabar gembira yang terdapat dalam firman-Nya, "Mereka tidak merasa khawatir dan tidak pula bersedih hati." Dan berdoa kepada selain Allah adalah syirik, sebagaimana telah dijelaskan.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah para wali selain nabi-nabi juga ma'ṣūm (terjaga) dari dosa besar dan dosa kecil?

Jawab: Katakanlah, orang yang menjadi wali dari selain para nabi tidak ma'ṣūm (terjaga) dari terjerumus ke dalam dosa kecil atau besar. Pernah terjadi ketergelinciran, kesalahan, dan kekeliruan pada banyak wali dan orang-orang salih yang besar, namun mereka segera bertobat dan kembali kepada Allah, lalu Allah mengampuni mereka.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah Khidir 'alaihissalām masih hidup?

Jawab: Katakanlah, pendapat yang benar adalah bahwa Khidir merupakan seorang nabi dan telah wafat sebelum Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam lahir. Karena Allah Ta'ālā berfirman, "Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?" (Al-Anbiyā`: 34)

Dan seandainya Khidir masih hidup, niscaya dia akan mengikuti Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan berjihad bersama beliau, sebab nabi kita Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam diutus untuk bangsa Jin dan manusia. Allah Ta'ālā berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.’” (Al-A'rāf: 158) Dan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Terangkan kepadaku tentang malam kalian ini! Sesungguhnya seratus tahun kemudian tidak tersisa seorang pun yang sekarang ini berada di atas muka bumi." (HR. Bukhari) Hadis ini adalah dalil bahwa Khadir telah wafat seperti yang lainnya. Atas dasar ini, dia tidak bisa mendengar seruan orang yang menyerunya, dan tidak mampu memberi petunjuk kepada orang yang tersesat dari jalan yang benar apabila memohon petunjuk kepadanya.

Adapun berbagai berita pertemuannya dengan sebagian orang, juga cerita bahwa mereka melihatnya, duduk bersama dengannya dan mereka belajar kepadanya hanyalah khayalan dan kebohongan nyata yang tidak akan diterima oleh orang yang Allah berikan ilmu, akal, dan ketajaman mata hati.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah orang yang sudah mati dapat mendengar atau mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada mereka?

Jawab: Katakanlah, orang yang sudah mati tidak dapat mendengar. Berdasarkan firman Allah Ta'ālā, "Dan engkau (Muhammad) sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar." (Fāṭir: 22) Juga firman Allah, "Sesungguhnya engkau tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati dapat mendengar." (An-Naml: 80)

Mereka juga tidak mampu mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepadanya. Allah Ta'ālā berfirman, "Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu; dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat mengabulkan permintaanmu. Dan di hari Kiamat mereka akan mengingkari perbuatan syirikmu, dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh (Allah) Yang Maha Mengetahui." (Fāṭir: 13-14) Dan juga firman Allah Ta'ālā, "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka." (Al-Aḥqāf: 5)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, suara apakah itu yang kadang terdengar di makam sebagian orang yang diagungkan oleh orang awam?

Jawab: Katakanlah, itu suara setan dari kalangan jin. Mereka menipu orang awam bahwa itu suara orang yang ada di dalam kubur, untuk menjerumuskan mereka, mengacaukan agama mereka, dan menyesatkan mereka.

Orang yang ada di dalam kubur tidak bisa mendengar dan menjawab orang yang berdoa atau memanggil mereka berdasarkan nas Al-Qur`ānul Karim. Allah Ta'ālā berfirman, "Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati dapat mendengar." (An-Naml: 80) Allah Ta'ālā juga berfirman, "Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu." (Fāṭir:14) Dan Allah Ta'ālā juga berfirman, "Dan engkau (Muhammad) sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar." (Fāṭir: 22)

Bagaimana mungkin mereka dapat menjawab sedangkan mereka berada di alam barzakh, mereka tidak memiliki hubungan dengan penduduk dunia. Allah Ta'ālā berfirman, "dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka." (Al-Aḥqāf: 50)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah orang yang mati dari kalangan wali atau selain mereka mampu mengabulkan permintaan orang yang memohon pertolongan dan bantuan kepada mereka?

Jawab: Katakanlah, mereka tidak bisa mengabulkan permintaan orang yang menyeru mereka, pun tidak memiliki kemampuan untuk mengabulkan orang yang berdoa atau meminta bantuan kepada mereka. Allah Ta'ālā berfirman, "Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu; dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat mengabulkan permintaanmu. Dan di hari Kiamat mereka akan mengingkari perbuatan syirikmu." (Fāṭir: 13-14)

Betapa ruginya orang yang ditipu oleh setan dan para penyeru kesesatan. Mereka membuatnya memandang baik perbuatan berdoa kepada orang-orang mati yang ada dalam kubur dari para nabi, wali, dan orang-orang saleh. Allah Ta'ālā berfirman, "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka." (Al-Aḥqāf: 5)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, lalu apa maksud kata aḥyā` (mereka hidup)" dalam firman Allah Ta'ālā (artinya), "Janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka aḥyā` (hidup) di sisi Rabbnya mendapat rezeki" (Āli 'Imrān:169)?

Jawab: Katakanlah, makna “aḥyā` (mereka hidup) dalam ayat ini, bahwa mereka hidup dalam kenikmatan di alam barzakh yang berbeda dari kehidupan dunia. Karena ruh orang yang mati syahid memperoleh kesenangan di surga. Oleh sebab itu, Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman, "… di sisi Rabbnya mendapat rezeki." Mereka berada di alam lain; mereka memiliki kehidupan dan keadaan yang berbeda dari kehidupan dan keadaan mereka di dunia. Mereka tidak mendengar permohonan orang yang berdoa kepada mereka dan tidak bisa mengabulkan permintaan mereka sebagaimana dijelaskan pada ayat-ayat yang lalu. Jadi, tidak ada ada kontradiksi di antara ayat-ayat tersebut. Oleh karenanya, redaksi ayat di atas berbunyi "yurzaqūn (mereka mendapat rezeki)" bukan "yarzuqūn (mereka memberi rezeki)."

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa hukum menyembelih untuk selain Allah guna mendekatkan diri kepada sosok yang menjadi tujuan penyem-belihan itu?

Jawab: Katakanlah, perbuatan itu adalah syirik besar. Berdasarkan firman Allah Ta'ālā, "Maka laksanakanlah salat untuk Rabbmu dan berkurbanlah (untuk Rabbmu)." (Al-Kausar: 2) Juga firman Allah Ta'ālā, "Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)." (Al-An'ām: 162-163) Serta sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah." (HR. Muslim)

Kaidahnya berbunyi: Amalan apapun yang jika dilakukan merupakan ibadah kepada Allah, maka apabila dia dikerjakan untuk selain Allah akan menjadi syirik.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa hukum bernazar untuk selain Allah Ta'ālā?

Jawab: Katakanlah, bernazar untuk selain Allah termasuk syirik besar. Berdasarkan sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Barangsiapa bernazar melakukan ketaatan kepada Allah, hendaklah dia lakukan ketaatan itu kepada-Nya. Dan barangsiapa bernazar melakukan maksiat kepada Allah, janganlah dia lakukan maksiat itu kepada-Nya." (HR. Bukhari)

Nazar merupakan ibadah yang bisa berbentuk ucapan, harta atau badan, tergantung apa yang dinazarkan. Nazar artinya mewajibkan diri melakukan sesuatu yang tidak wajib secara syariat, kerena berharap mendapatkan sesuatu yang diinginkan, menolak sesuatu yang dikhawatirkan, atau untuk mensyukuri nikmat yang didapat ataupun bencana yang pergi. Nazar termasuk ibadah yang tidak boleh dialihkan kepada selain Allah, karena Allah memuji orang-orang yang memenuhi nazarnya. Allah Ta'ālā berfirman, "Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana." (Al-Insān: 7)

Kaidahnya berbunyi: setiap perbuatan yang pelakunya dipuji oleh Allah Jalla wa 'Alā maka perbuatan tersebut termasuk ibadah, dan sesuatu yang merupakan ibadah maka melakukannya kepada selain Allah adalah syirik.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah kita boleh memohon perlindungan kepada selain Allah Ta'ālā?

Jawab: Katakanlah, jawabannya akan jelas dengan mengetahui tiga jenis isti'āżah (permohonan perlindungan) berikut ini:

1.     Isti'āżah yang merupakan wujud tauhid dan ibadah. Yaitu memohon perlindungan kepada Allah dari segala yang Anda takuti. Allah Ta'ālā berfirman, "Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan.'" (Al-Falaq: 1-2)

Allah Ta'ālā juga berfirman, “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi.’” (An-Nās: 1-4)

2.     Isti'āżah yang mubah. Yaitu meminta perlindungan kepada makhluk yang hidup serta hadir dan memiliki kemampuan dalam perkara-perkara yang mampu dia lakukan dan bisa secara syariat. Nabi 'alaihiṣṣalātu wassalām bersabda, "Barangsiapa yang mendapatkan tempat mengungsi atau tempat berlindung, maka hendaknya dia lakukan." (HR. Muslim)

3.     Isti'āżah syirik. Yaitu memohon perlindungan kepada selain Allah dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah. Allah Ta'ālā berfirman, "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi jin-jin itu menjadikan mereka bertambah sesat." (Al-Jinn: 6)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa yang kamu ucapkan saat singgah di sebuah tempat?

Jawab: Katakanlah, aku akan membaca doa yang diajarkan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Yaitu beliau bersabda, "Barangsiapa yang singgah di sebuah tempat lalu membaca, "A’ūżu bikalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhluk yang Dia ciptakan)," niscaya tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya sampai dia pergi dari tempat tersebut." (HR. Muslim)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah boleh beristigasah (memohon pertolongan) kepada selain Allah dalam perkara yang tidak bisa diatasi kecuali oleh Allah untuk mendapat-kan kebaikan atau menolak kebu-rukan?

Jawab: Katakanlah, perbuatan ini termasuk syirik besar yang dapat menghapus seluruh amal, mengeluarkan dari agama, dan mengantarkan kepada kebinasaan yang kekal-abadi bagi orang yang terjerumus ke dalamnya dan belum bertaubat sebelum meninggal. Berdasarkan firman Allah Ta'ālā, "Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan?" (An-Naml: 62) Maksudnya tidak ada yang dapat mengabulkan doanya selain Allah, dan tidak pula dapat menghilangkan kesusahannya kecuali Allah.

Allah Subḥānahu wa Ta'ālā mencela orang yang memohon bantuan kepada selain diri-Nya dengan kalimat pertanyaan. Juga karena istigasah kepada Allah adalah ibadah dan merupakan bentuk permintaan pertolongan. Allah Ta'ālā berfirman, "(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu." (Al-Anfal: 9) Dalam kitab Ṣaḥīḥ Al-Bukhāri disebutkan riwayat dari Abu Hurairah raḍiyallāhu 'anhu, bahwasanya Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Jangan sampai aku mendapati salah seorang dari kalian datang pada hari Kiamat sedang di lehernya terdapat unta yang melenguh, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, tolonglah aku!' Lalu aku menjawab, ‘Aku sudah pernah menyampaikannya kepadamu. Sama sekali aku tidak memiliki kuasa untuk menolongmu di sisi Allah.’ Jangan sampai aku mendapati salah satu dari kalian datang pada hari Kiamat sedang di atas lehernya ada seekor kuda yang meringkik, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, tolonglah aku!' Maka aku menjawab, ‘Aku tidak memiliki kuasa sedikit pun untukmu di sisi Allah. Aku telah menyampaikannya kepadamu.’" (HR. Bukhari dan Muslim)

Sudah diketahui bersama, bahwa kita dibolehkan meminta pertolongan kepada orang yang masih hidup dan hadir di hadapan kita, bukan yang tidak hadir (jauh), itu pun dalam perkara yang dia mampu. Istigasah kepada orang yang hidup maksudnya meminta bantuan kepadanya dalam perkara yang mampu dilakukan oleh manusia. Sebagaimana laki-laki dari kaum Nabi Musa yang meminta bantuan kepadanya untuk mengalahkan musuh mereka. Allah Ta'ālā berfirman, "Maka orang yang berasal dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan musuhnya." (Al-Qaṣaṣ: 15)

Adapun memohon pertolongan kepada yang tidak hadir (jauh) dari kalangan manusia dan jin serta penghuni kubur, maka para imam telah menyepakati kebatilan dan keharamannya, dan itu termasuk perbuatan syirik.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bolehkah menyandarkan nama 'abd (hamba) kepada selain Allah, seperti 'Abdunnabī (hamba nabi) atau 'Abdulḥusain (hamba Husain) dan semacamnya?

Jawab: Katakanlah, tidak boleh. Karena para imam telah sepakat mengharamkan setiap nama yang mengandung penghambaan kepada selain Allah. Nama-nama tersebut wajib diubah, seperti ‘Abdunnabī, 'Abdurrasūl, 'Abdul Husain, 'Abdul Ka'bah, dan nama-nama lainnya yang mengan-dung penghambaan kepada selain Allah Ta'ālā.

Nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Sesungguhnya nama yang paling Allah cintai adalah Abdullah dan Abdurahman." (HR. Muslim)

Dan wajib mengubah nama yang mengandung penghambaan kepada selain Allah. Ini terkait dengan orang yang masih hidup yang diberi nama dengan nama-nama yang mengandung penghambaan kepada selain Allah.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa hukum memakai gelang/kalung atau benang di tangan atau leher, atau digantung di kendaraan (mobil) dan lainnya untuk menolak ‘ain (hasad) atau menolak bala dan menghilang-kannya?

Jawab: Katakanlah, ini termasuk perbuatan syirik. Berdasarkan sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Siapa saja yang mengalungkan jimat maka dia telah berbuat syirik." (HR. Ahmad dalam Musnadnya) Juga sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Jangan sekali-kali kalian biarkan ada di leher onta sebuah kalung dari tali busur atau kalung kecuali harus dipotong." (HR. Bukhari) Sabda beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Barangsiapa mengikat jenggotnya atau mengenakan kalung dari tali busur atau beristinja dengan kotoran hewan atau tulang, maka sungguh Muhammad telah berlepas diri darinya." (HR. Ahmad) Sabda beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Sesungguhnya mantra, jimat, dan guna-guna adalah perbuatan syirik." (HR. Abu Dawud) Sabda beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Barangsiapa mengalungkan jimat maka Allah tidak akan menyempurnakan (kesembuhan)nya." (HR. Ibnu Hibban dalam Ṣaḥīḥnya)

Sungguh rugi orang yang bergantung kepada mitos dan takhayul. Dalam sebuah hadis disebutkan, "Barangsiapa bergantung kepada sesuatu, maka dia akan diserahkan kepada sesuatu itu."

Tiwalah adalah sihir yang dibuat dengan keyakinan mampu membuat seorang suami dicintai oleh istrinya atau memisahkan keduanya. Mereka juga membuat sihir ini untuk menimbulkan kebencian di antara orang-orang yang saling mencintai dan para kerabat.

Tamā`im adalah sesuatu yang digantungkan pada anak-anak sebagai penangkal gangguan 'ain dan hasad.

Makna tamīmah menurut Al-Munżirī adalah manik-manik (yang diuntai), biasa dikalungkan oleh orang-orang jahiliah dengan keyakinan mampu melindungi mereka dari penyakit. Perbuatan ini adalah kebodohan dan kesesatan, karena benda ini bukan merupakan sebab, baik secara syariat maupun takdir. Dan ini mencakup juga tindakan mengenakan gelang dan mengalungkan kain pada manusia, hewan, mobil, dan rumah.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa arti tabarruk?

Jawab: Katakanlah, yaitu meminta keberkahan dan kebaikan melalui sebab-sebab yang dilakukan seseorang karena berharap mendapatkan kebaikan serta meraih apa yang dia inginkan dan dia sukai.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah tabarruk itu hanya satu macam atau lebih?

Jawab: Katakanlah, tabarruk ada dua macam:

1.        Tabarruk yang disyariatkan, yaitu yang ditunjukkan oleh Al-Qur`ān dan Sunah bahwa dia disyariatkan dan pelakunya mendapat manfaat. Tidak boleh meyakini adanya keberkahan pada sesuatu kecuali berlandaskan dalil dari Al-Qur`ān dan Sunah, tidak ada jalan bagi akal dan penilaian baik dalam hal ini.

Kita tidak dapat mengetahui sesuatu ini diberkahi atau mengandung berkah kecuali melalui berita dari Allah Sang Pencipta Yang Mahabijaksana Tabāraka wa Ta'ālā atau Rasululllah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Keberkahan dan kebaikan semuanya ada dalam mengikuti Al-Qur`ān dan Sunah.

Dengannya kita mengetahui benda-benda yang diberkahi dan bagaimana kita bertabar-ruk dengannya. Contohnya bertabarruk dengan tubuh Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan apa yang berasal dari tubuh beliau, seperti ludah dan rambut, atau apa yang menempel langsung dengan tubuh beliau seperti pakaian. Ini khusus pada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan apa yang terbukti pernah ada pada tubuh beliau atau berasal dari beliau berupa rambut dan baju.

Orang-orang yang percaya kepada khurafat melakukan kedustaan dan mengklaim memiliki rambut dan pakaian beliau. Ini semua bertujuan mempermainkan akal sebagian kaum muslim serta merusak agama dan mengambil harta mereka.

2.        Tabarruk yang dilarang atau diharamkan, yaitu yang dapat membawa kepada perbuatan syirik kepada Allah. Seperti bertabarruk (mencari berkah) dengan tubuh orang-orang saleh dan apa yang berasal dari mereka; bertabarruk dengan kubur mereka dengan melakukan salat dan doa di sisinya; dan bertabarruk dengan tanah (kubur)nya dengan meyakininya sebagai obat. Seperti itu juga perbuatan tabarruk, tawaf, atau menggantungkan kain di setiap lokasi, batu, dan pohon yang diyakini memiliki keutamaan.

Telah diketahui bersama, tidak ada sesuatu yang disyariatkan untuk dicium dan diusap kecuali Hajar Aswad dan rukun (pojok Yamani) pada Ka’bah. Sedang yang lain dilarang mengusapnya, menciumnya, dan tawaf mengelilinginya. Perbuatan ini termasuk syirik besar bagi orang yang meyakininya dapat mendatangkan berkah sendiri, dan syirik kecil bagi orang yang meyakininya sebagai sebab memperoleh berkah.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah mencari-cari peninggalan orang saleh, bertabarruk dengan tubuh dan barang peninggalan mereka merupakan perbuatan yang disyariatkan, ataukah merupakan bidah dan kesesatan?

Jawab: Katakanlah, ini adalah keyakinan dan perbuatan bidah. Karena para sahabat nabi kita Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang merupakan generasi umat yang paling berilmu, paling utama, paling faham, paling antusias kepada kebaikan, serta paling mengerti keutamaan orang-orang yang memiliki keutamaan, mereka tidak melakukan tabarruk dengan barang peninggalan Abu Bakr, Umar, Usman, dan Ali raḍiyallāhu 'anhum, serta tidak memburu barang peninggalan mereka, padahal mereka adalah orang-orang terbaik setelah para nabi. Yang demikian itu karena mereka mengetahui hal tersebut khusus bagi Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Umar menebang pohon tempat pelaksanaan Bai'aturridwān karena khawatir akan terjadi sikap guluw (berlebihan) kepadanya.

Generasi salafussaleh adalah orang yang paling bersemangat untuk meraih kebaikan. Sekiranya mencari-cari barang peninggalan orang saleh adalah kebaikan dan mengandung keutamaan, niscaya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bolehkah bertabarruk (mencari berkah) pada pohon, batu, atau tanah?

Jawab: Katakanlah, perbuatan ini termasuk syirik. Imam Ahmad dan Tirmizi meriwayatkan dari Abu Wāqid al-Laiṡī, dia menuturkan, “Kami berangkat bersama Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menuju (perang) Hunain, sedang saat itu kami baru masuk Islam (muallaf). Orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon bidara tempat mereka beribadah dan menggantungkan senjata. Pohon ini dikenal dengan nama żātu anwāṭ. Kemudian kami melewati pohon bidara tersebut, maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami żātu anwāṭ sebagaimana mereka memiliki żātu anwāṭ.’ Maka Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allahu Akbar! Ini adalah sunah (umat sebelum kalian). Demi Allah Żat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalian telah mengatakan perkataan seperti yang dahulu diucapkan oleh Bani Israel kepada Musa, ‘Buatlah untuk kami sebuah sembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa sembahan (berhala). Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui (keagungan Allah).’ (Al-A'rāf: 138) Sungguh kalian akan mengikuti sunah orang-orang sebelum kalian.'"

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa hukum bersumpah dengan selain Allah?

Jawab: Katakanlah, tidak boleh bersumpah dengan selain Allah Ta'ālā. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang bersumpah, hendaknya dia bersumpah dengan nama Allah atau diam." (HR. Bukhari)

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga melarang bersumpah dengan selain Allah, sebagaimana dalam sabda beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Janganlah kalian bersumpah dengan nama ayah kalian, dan jangan pula dengan nama ṭawāgī." (HR. Muslim)

Ṭawāgī adalah bentuk jamak dari ṭāgūt. Bahkan beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengategorikannya ke dalam perbuatan syirik, sebagaimana terdapat dalam sabda beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, dia telah kafir atau musyrik." Beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, "Barangsiapa bersumpah dengan amanah maka dia bukan dari golongan kami." (HR. Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan Hakim dengan sanad yang sahih)

Maka hendaknya seorang muslim menghindari bersumpah dengan nama nabi, wali, kehormatan, amanah, Ka’bah, dan makhluk-makhluk lainnya.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bolehkah kita meyakini bahwa bintang atau planet mempunyai pengaruh terhadap alam semesta dan manusia dalam mendatangkan kebaikan, petunjuk, dan kebahagiaan atau menolak kejahatan, kemalangan, dan bencana?

Jawab: Katakanlah, tidak boleh meyakini hal itu. Karena bintang dan planet sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadap semua itu. Tidak ada yang mempercayai para pembawa cerita takhayul kecuali orang-orang yang lemah akal dan percaya mitos. Meyakini hal tersebut di atas termasuk perbuatan syirik, berdasarkan sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Qudsi, "Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang berkata, kita diberi hujan lantaran karunia dan rahmat dari Allah, maka dia adalah orang yang beriman kepada-Ku dan kufur terhadap planet. Sedang orang yang berkata, kita diberi hujan karena bintang ini dan itu, maka dia kufur kepada-Ku dan percaya kepada planet.’" (HR. Bukhari dan Muslim) Kaum jahiliah dahulu meyakini bahwa bintang memiliki pengaruh terhadap turunnya hujan.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bolehkah berkeyakinan bahwa rasi bintang (zodiak) seperti bintang aquarius dan lainnya, atau planet dan bintang mempunyai pengaruh ter-hadap apa yang terjadi pada kehi-dupan manusia berupa kebahagiaan dan kesengsaraan, dan mungkinkah mengungkap perkara gaib di masa depan melalui bintang-bintang tersebut?

Jawab: Katakanlah, tidak boleh meyakini bahwa rasi bintang, planet, dan bintang-bintang mempunyai pengaruh terhadap apa yang dialami manusia dalam kehidupannya, dan tidak boleh pula mencari tahu tentang masa depan melalui bintang-bintang itu karena ilmu tentang gaib khusus bagi Allah. Allah Ta'ālā berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.’” (An-Naml: 65) Juga karena hanya Allah semata yang mampu mendatangkan kebaikan dan mencegah keburukan.

Barangsiapa meyakini bahwa bintang memiliki pengaruh dalam menyingkap hal gaib serta nasib baik atau nasib buruk orang yang lahir pada waktu zodiak tertentu atau waktu munculnya planet tertentu, atau meyakini bahwa bintang memiliki pengaruh dalam membahagiakan atau menyengsarakan dirinya, maka dia telah menjadikannya sebagai sekutu bersama Allah dalam perkara yang merupakan hak Allah dan keistimewaan rubūbiyyah-Nya. Siapa yang melakukan ini, maka dia telah kafir -kita berlindung kepada Allah.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah kita wajib berhukum dengan apa yang Allah Ta'ālā turunkan?

Jawab: Katakanlah, segenap kaum muslim wajib berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah Ta'ālā. Berdasarkan firman Allah Ta'ālā, "Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti kemauan mereka. Dan berhati-hatilah terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan engkau dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik." (Al-Mā`idah: 49).

Dan Allah mencela orang yang mengikuti undang-undang buatan manusia melalui firman-Nya Ta'ālā, "Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin." (Al-Mā`idah: 50)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah syafaat itu?

Jawab: Katakanlah, syafaat adalah menjadi perantara atau menjadikan orang lain sebagai perantara untuk memperoleh manfaat dan kebaikan atau mencegah kejahatan dan keburukan.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa sajakah jenis-jenis syafaat itu?

Jawab: Katakanlah, ada tiga macam:

1.     Syafaat yang ditetapkan, yaitu syafaat yang hanya diminta kepada Allah. Allah Ta'ālā berfirman, "Katakanlah, semua syafaat milik Allah." (Az-Zumar: 44) Yaitu syafaat agar selamat dari siksa neraka dan memperoleh nikmat surga.

Syafaat ini memiliki dua syarat:

a.      Izin Allah bagi pemberi syafaat untuk memberi syafaat. Sebagaimana Allah Ta'ālā berfirman, "Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali atas izin-Nya." (Al-Baqarah: 255)

b.     Rida Allah untuk orang yang diberi syafaat. Berdasarkan firman Allah Ta'ālā, "Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai-Nya." (Al-Anbiyā`: 28)

Allah Subḥānahu wa Ta'ālā telah menghimpun kedua syarat ini dalam firman-Nya, "Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan (dan hanya) bagi orang yang Dia kehendaki dan Dia ridhai." (An-Najm: 26)

Maka siapa saja yang ingin mendapatkan syafaat, hendaklah dia memintanya kepada Allah Subḥānahu wa Ta'ālā, karena Dia-lah yang memiliki dan mengizinkannya, jangan minta kepada selain Allah. Berdasarkan sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Jika kamu memohon, maka mohonlah kepada Allah." (HR. Tirmizi) Anda bisa berdoa: Ya Allah, masukkanlah aku ke dalam orang-orang yang diberikan syafaat oleh Nabi-Mu ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pada hari Kiamat.

2.     Syafaat yang ditiadakan, yaitu yang diminta kepada selain Allah dalam perkara yang tidak dapat dipenuhi kecuali oleh Allah. Syafaat ini adalah syafaat yang syirik.

3.     Syafaat di dunia antara manusia. Yaitu syafaat di antara manusia yang masih hidup di dunia dalam perkara yang mampu mereka lakukan dan dalam kebutuhan duniawi yang dibutuhkan oleh sebagian orang dari sebagian yang lain.

Syafaat ini dianjurkan apabila dalam kebaikan, dan diharamkan bila dalam keburukan. Berdasarkan firman Allah Ta'ālā, "Barangsiapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya dia akan memperoleh bagian (pahala) darinya. Dan barangsiapa yang memberikan syafaat yang buruk, niscaya dia akan memikul bagian (dosa) darinya." (An-Nisā`: 85)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah syafaat boleh diminta langsung kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, para nabi, orang-orang saleh, dan orang-orang yang mati syahid karena mereka akan memberi syafaat di hari Kiamat kelak?

Jawab: Katakanlah, syafaat hanya milik Allah Ta'ālā. Sebagaimana firman Allah Ta'ālā, "Katakanlah, semua syafaat milik Allah." (Az-Zumar: 44) Maka kita memohonnya kepada Allah yang memilikinya dan yang mengizinkannya, sebagai wujud ketaatan kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda, "Jika kamu memohon, maka mohonlah kepada Allah." (HR. Tirmizi) Kita bisa berdoa: Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam orang-orang yang diberikan syafaat oleh Rasul-Mu ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pada hari Kiamat.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bagaimana hukum menjadikan orang yang sudah mati sebagai pemberi syafaat antara dirinya dengan Allah Ta'ālā dalam mewujudkan keinginan-nya?

Jawab: Katakanlah, perbuatan ini tergolong syirik besar. Karena Allah Ta'ālā mencela orang yang membuat perantara antara dirinya dengan Allah. Allah Ta'ālā berfirman tentang mereka, "Dan mereka menyembah tuhan selain Allah yang tidak dapat mendatangkan mudarat kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, ‘Mereka itu pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kamu hendak mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi?’ Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu)." (Yunus :18)

Allah mengecap mereka berbuat syirik dalam firman-Nya, "Mahasuci dan Mahatinggi (Allah) dari apa yang mereka persekutukan (itu).” Kemudian Allah memvonis mereka sebagai orang kafir, Dia berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang yang pendusta dan sangat kafir." (Az-Zumar: 3) Dan firman Allah Ta'ālā tentang mereka bahwa mereka berkata tentang para pemberi syafaat ini, "Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’" (Az-Zumar: 3)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah bisa dipahami dari firman Allah Ta'ālā (artinya): "Sungguh. sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya itu datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang" (An-Nisā`: 64) bahwa meminta kepada Rasul ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam agar memohonkan ampunan tetap boleh meskipun beliau telah wafat?

Jawab: Katakanlah, meminta kepada Rasul ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam agar dimohonkan ampunan khusus berlaku pada masa hidup beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, tidak setelah beliau wafat. Tidak ada dalam berita yang sahih dari para sahabat, dan tidak pula dari generasi terbaik bahwa mereka meminta kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam agar dimohonkan ampunan setelah beliau wafat. Juga, karena Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ketika diminta oleh Aisyah raḍiyallāhu 'anha agar berdoa dan memohonkannya ampunan setelah dia wafat, beliau berkata kepadanya, "Itu seandainya terjadi dan aku masih hidup, aku akan memohonkan ampunan untukmu dan mendoakanmu." (HR. Bukhari)

Hadis ini menjelaskan ayat di atas, bahwa meminta kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam agar dimohonkan ampunan berlaku ketika beliau masih hidup, tidak setelah beliau wafat.

Tidak ada yang meminta kepada beliau agar dimohonkan ampunan setelah beliau wafat kecuali sebagian orang dari generasi akhir setelah generasi terbaik berakhir dan bidah tersebar serta kebodohan merajalela. Ketika itu sebagian mereka melakukannya, dan mereka telah menyelisihi manhaj salafussaleh yang memiliki ilmu kuat dan para imam yang diberi petunjuk dari kalangan sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa maksud dari firman Allah Ta'ālā (artinya), "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya" (Al-Mā`idah: 35)?

Jawab: Katakanlah, maknanya adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan mematuhi-Nya dan mengikuti Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Inilah wasilah yang Allah perintahkan untuk mendekatkan kita kepada-Nya. Demikian itu, karena wasilah artinya sesuatu yang mengantarkan kepada tujuan, dan tidak dapat mengantarkan kepada tujuan kecuali apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya berupa tauhid dan mengamalkan ketaatan.

Wasilah itu bukan menghadapkan diri kepada para wali dan orang-orang yang ada di dalam kubur. Ini termasuk memutar balikkan nama dan menamakan sesuatu bukan dengan namanya. Ini tidak lain adalah tipu daya setan dari jenis manusia dan jin untuk menyesatkan manusia dari jalan petunjuk menuju surga.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa arti tawasul?

Jawab: Katakanlah, arti asal tawasul adalah mendekatkan diri. Dan menurut istilah syariat ialah mendekatkan diri kepada Allah Ta'ālā dengan menaati-Nya, beribadah kepada-Nya, mengikuti Nabi-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, dan melakukan segala hal yang dicintai dan diridai oleh Allah.

 Soal: jika ditanyakan kepada Anda, berapa macam tawasul?

Jawab: Katakanlah, tawasul ada dua macam: tawasul yang disyariatkan dan tawasul yang dilarang.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa sajakah tawasul yang disyariat-kan?

Jawab: Katakanlah:

a.      Tawasul kepada Allah dengan menyebut nama-nama-Nya. Allah Ta'ālā berfirman, "Dan Allah memiliki Asmā`ul Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmā`ul Ḥusnā itu." (Al-A'rāf :180) Juga dengan menyebut sifat-sifat-Nya, sebagaimana dalam sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Yā Ḥayyu yā Qayyūm, dengan sifat rahmat-Mu aku memohon pertolongan." Ini adalah bentuk tawasul kepada Allah dengan sifat rahmat.

b.     Tawasul kepada Allah dengan amal saleh yang ikhlas karena Allah dan sesuai petunjuk sunah Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Seperti ucapan orang yang berdoa: Ya Allah, dengan keikhlasanku kepada-Mu dan kesetiaanku mengikuti sunnah Nabi-Mu ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, sembuhkanlah aku dan berilah aku rezeki. Juga seperti tawasul dengan keimanan kepada Allah Subḥānahu wa Ta'ālā dan kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta'ālā berfirman, "Ya Rabb kami, sesungguh-nya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kamu ke-pada Rabbmu,’ maka kami pun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti." (Āli 'Imrān: 193) Setelah bertawasul seperti itu, mereka lantas berdoa kepada Allah seraya berkata, "Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji." (Āli 'Imrān: 194)

Juga sebagaimana kisah tawasul tiga orang yang terjebak batu besar di dalam gua menggunakan amal saleh mereka agar Allah menghilangkan kesulitan yang sedang mereka alami. Seperti disebutkan dalam hadis Ibnu Umar dalam aṣ-Ṣaḥīḥain bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada para sahabat tentang kisah tiga orang yang terkurung batu besar pada saat mereka di dalam gua. Lalu mereka memohon kepada Allah dengan amal saleh mereka masing-masing supaya Allah melonggarkan batu itu agar mereka bisa keluar, hingga batu tersebut terbuka.

c.      Tawasul dengan doa orang saleh yang hadir dan mampu, seperti orang yang minta kepada laki-laki saleh agar berdoa kepada Allah untuknya. Sebagaimana permintaan para sahabat raḍiyallāhu `anhum kepada Al-Abbās supaya berdoa kepada Allah untuk menurunkan hujan bagi mereka, dan permintaan Umar bin Khaṭab raḍiyallāhu 'anhu kepada Uwais al-Qarni agar berdoa untuknya. Juga seperti permintaan doa anak-anak Yakub kepadanya. Allah Ta'ālā berfirman, "Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang yang berdosa." (Yusuf: 97)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa sajakah tawasul yang dilarang?

Jawab: Katakanlah, yaitu tawasul yang dibatalkan oleh syariat. Seperti orang yang bertawasul dengan orang-orang mati dan meminta pertolongan serta syafaat kepada mereka. Tawasul semacam ini adalah syirik berdasarkan kesepakatan para imam, sekalipun sosok yang digunakan bertawasul berasal dari kalangan nabi atau wali.

Allah Ta'ālā berfirman, “Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” (Az-Zumar: 3) Kemudian Allah mengiringi keterangan tentang sifat mereka ini dengan vonis terhadap mereka, yaitu Allah Ta'ālā berfirman, "Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang perkara yang tengah mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta dan yang sangat kafir." (Az-Zumar: 3) Allah memvonis mereka kafir dan keluar dari agama.

Demikian pula, termasuk tawasul yang dilarang adalah tawasul yang tidak dijelaskan hukumnya oleh syariat. Sebab tawasul itu ibadah, sedangkan ibadah harus tauqīfīyah (berlandaskan dalil sahih). Seperti tawasul dengan kedudukan, benda, atau yang lainnya. Contohnya ucapan sebagian orang: Ya Allah, ampunilah aku dengan kedudukan al-Habīb;  atau: Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dengan Nabi-Mu, atau dengan kedudukan orang-orang yang saleh atau dengan tanah makam fulan, dan seterusnya. Tawasul semacam ini tidak pernah disyariatkan oleh Allah dan tidak pula Rasulullah, sehingga merupakan bidah yang harus dihindari. Tawasul semacam ini dan yang sebelumnya tidak diketahui pernah dilakukan oleh generasi salafussaleh dari kalangan sahabat, tabiin, dan para ulama yang diberi petunjuk. Semoga Allah meridai mereka semua.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, ada berapakah macam ziarah kubur bagi laki-laki?

Jawab: Katakanlah, ada dua macam:

1.     Ziarah yang disyariatkan dan pelakunya diberi pahala karena dua alasan, yakni:

a.      Mengingat akhirat. Berdasarkan sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Dahulu aku melarang kalian ziarah kubur. Ketahuilah, berziarahlah kalian. Karena ziarah kubur dapat mengingatkan akhirat." (HR. Muslim)

b.     Mengucapkan salam kepada orang yang mati dan mendoakan mereka. Yakni kita mengucapkan: Assalāmu ‘alaikum ahlad diyār minal mu`minīn … dst. Sehingga yang berziarah dan yang diziarahi sama-sama mendapat manfaat.

2.     Ziarah yang tidak disyariatkan dan pelakunya berdosa. Yaitu ziarah kubur yang ditujukan untuk berdoa di samping kuburan orang saleh atau berdoa kepada Allah dengan perantara mereka. Perbuatan ini adalah perbuatan bidah yang dapat mengantarkan pelakunya dan menggelincirkannya ke dalam syirik, atau ke dalam memohon pertolongan, bantuan, dan syafaat kepada orang mati yang merupakan perbuatan syirik besar. Berdasarkan firman Allah Ta'ālā, "Yang (berbuat) demikian itulah Allah, Rabbmu, hanya milik-Nya segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu; dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat mengabulkan permintaanmu. Dan di hari Kiamat mereka akan mengingkari perbuatan syirikmu, dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh (Allah) Yang Maha Mengetahui." (Fāṭir: 13-14)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa yang Anda ucapkan pada saat ziarah kubur?

Jawab: Katakanlah, aku membaca apa yang diajarkan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya untuk dibaca apabila mereka ziarah kubur, "Assalāmu’alaikum dār qaumin mu`minīn wa`atākum mā tū’adūn gadan mu`ajjalūn wa`innā insyā`allāhu bikum lāhiqūn (Semoga keselamatan terlimpah atas kalian, wahai penghuni negeri kaum mukmin. Telah datang pada kalian apa yang dijanjikan kepada kalian, dan esok kalian diberi tangguh. Dan sesungguhnya, jika Allah menghendaki, kami akan menyusul kalian." (HR. Muslim) Kemudian aku berdoa kepada Allah memohonkan untuk mereka rahmat, ampunan, peningkatan derajat, dan doa-doa baik lainnya.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah kita boleh mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa di makam orang saleh?

Jawab: Katakanlah, sesungguhnya berdoa kepada Allah di sisi makam orang-orang saleh adalah bidah yang diada-adakan. Perbuatan ini merupakan pengantar kepada syirik.

Diriwayatkan dari Ali bin al-Husain -raḍiyallāhu `anhu-, bahwa ia melihat seorang laki-laki yang berdoa kepada Allah di sisi makam Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-, maka ia pun melarangnya dan berkata, sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah kalian menjadikan makamku sebagai tempat kunjungan rutin untuk beribadah." (HR. Aḍ-Ḍiyā` al-Maqdisi di dalam al-Mukhtārah :428)

Makam paling mulia ialah makam yang berisi jasad paling suci dan paling mulia, manusia paling utama dan makhluk paling terhormat di sisi Allah, yaitu makam Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-. Namun tidak pernah ditemukan satu hadis dengan sanad yang sahih bersumber dari salah satu sahabat -raḍiyallāhu `anhum- bahwa ia pernah mendatangi makam beliau -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- lalu berdoa kepada Allah di sisinya. Begitu pula generasi tabi'in yang mengikuti mereka dengan baik; mereka tidak pernah berdoa di sisi makam para sahabat dan para tokoh umat ini.

Sebenarnya berdoa di sisi kubur adalah bisikan setan yang dianggap remeh oleh akal sebagian kalangan generasi akhir. Mereka memandang baik perbuatan yang dianggap buruk oleh para pendahulu mereka yang saleh, mereka menjauhinya dan melarangnya karena mengetahui keburukannya dan akibatnya yang sangat tidak baik. Namun hal ini tidak diketahui oleh orang-orang dari generasi akhir yang memiliki ilmu, akal, pemahaman dan kelebihan di bawah para pendahulu tersebut. Akibatnya mereka terjerat dalam perangkap setan, dan penilaian baik terhadap bidah telah menyeret mereka ke jurang kesyirikan yang dalam. -Kita berlindung kepada Allah-.

 Soal: Jika dikatakan kepada Anda, apa makna guluw (berlebih-lebihan), dan apakah dia memiliki macam?

Jawab: Katakanlah, guluw adalah sikap melampaui batas yang disyariatkan dengan melampaui apa yang Allah perintahkan. Guluw bisa berupa menambah lebih dari apa yang diperintahkan secara syariat atau yang diizinkan, dan bisa berupa perbuatan meninggalkan dengan niat beribadah.

Di antara bentuk guluw yang membinasakan adalah guluw (berlebihan) terhadap para nabi dan orang-orang saleh dengan mengangkat mereka di atas kedudukan yang semestinya, mencintai dan menghormati mereka lebih dari apa yang menjadi hak mereka, menyandangkan kepada mereka sifat-sifat rubūbiyyah atau memberikan sebagian ibadah kepada mereka, dan berlebihan dalam memuji serta menyanjung mereka hingga menempatkan mereka pada tingkat sesembahan (tuhan).

Diantara bentuk guluw adalah beribadah kepada Allah dengan cara terus-menerus meninggalkan hal-hal mubah yang Allah Subhānahu wa Ta'ālā ciptakan untuk kemaslahatan manusia berupa makanan dan minuman serta apa yang dibutuhkan manusia seperti tidur dan nikah.

Juga termasuk bentuk guluw yang dibenci adalah memberikan vonis kafir kepada kaum muslim yang bertauhid berikut hukum-hukum ikutannya seperti berlepas diri, memboikot, memerangi, memusuhi, serta menghalalkan kehormatan, harta, dan darah.

 Soal: Jika dikatakan kepada Anda, sebutkan sebagian dari nas syariat yang mengingatkan perbuatan guluw!

Jawab: Katakanlah, sangat banyak dalil dari Al-Qur`ān dan Sunah yang melarang dan mengingatkan perbuatan guluw. Misalnya firman Allah Ta'ālā, "Dan aku bukan termasuk orang yang menyusahkan diri." (Ṣād: 86)

Allah 'Azza wa Jalla juga melarang Bani Israel dari perbuatan guluw. Allah Ta'ālā berfirman, "Janganlah kamu guluw dalam agamamu." (An-Nisā`: 171)

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Jangan kalian bersikap guluw, karena umat-umat sebelum kalian dibinasakan oleh sikap guluw." (HR. Ahmad)

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, "Binasalah orang yang berlebihan, binasalah orang yang berlebihan, binasalah orang yang berlebihan." (HR. Muslim)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bolehkah tawaf di selain Ka’bah?

Jawab: Katakanlah, tidak boleh tawaf di selain Ka’bah. Karena Allah 'Azza wa Jalla mengkhusus-kan tawaf di Baitullah (Ka’bah). Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman, "Dan hendaklah mereka melakukan tawaf di sekeliling rumah tua (Ka’bah)." (Al-Ḥajj: 29)

Dan Rabb kita tidak mengizinkannya di tempat lain, karena tawaf merupakan ibadah, sedang kita dilarang membuat ibadah baru apa pun bentuknya, sehingga tidak boleh ada ibadah kecuali berdasarkan dalil yang sahih dari Al-Qur`ān dan as-Sunah.

Membuat ibadah baru tanpa landasan dalil syariat adalah bentuk penentangan, sedang memberikan-nya kepada selain Allah adalah perbuatan syirik yang dapat menghapus amal dan mengeluarkan dari agama yang lurus kepada kekafiran. Kita berlindung kepada Allah.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bolehkah melakukan perjalanan jauh (safar) karena mengagungkan sebuah lokasi atau sebuah tempat selain masjid yang tiga (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa)?

Jawab: Katakanlah, tidak boleh melakukan perjalanan jauh karena mengagungkan sebuah lokasi atau sebuah tempat dengan meyakini keutamaannya dan keutamaan melakukan perjalanan ke tempat tersebut selain kepada tiga masjid. Berdasarkan sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Tidak boleh melakukan perjalanan jauh kecuali kepada tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsa." (HR. Muslim)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah hadis-hadis berikut ini sahih atau merupakan kedustaan terhadap Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: "Jika kalian mengalami kesempitan masalah, maka berziarah-lah ke kuburan"; "Siapa yang melakukan ibadah haji namun tidak berziarah ke makamku, maka dia telah menjauhiku"; "Barangsiapa berziarah ke makamku dan makam ayahku, Ibrahim, di tahun yang sama, maka aku menjaminkan surga untuk-nya kepada Allah"; "Siapa yang mengunjungiku setelah aku mati, maka seolah-olah dia berkunjung kepadaku pada masa hidup"; "Siapa yang memiliki keyakinan pada sesuatu, niscaya sesuatu itu memberinya manfaat"; "Bertawasul-lah kalian dengan kedudukanku, karena kedudukanku mulia di sisi Allah"; "Wahai hamba-Ku! Taatilah Aku, niscaya Aku akan menjadikanmu termasuk orang yang mampu mengatakan kepada sesuatu, "Kun" maka jadilah sesuatu itu"; "Sesung-guhnya Allah menciptakan makhluk dari cahaya nabi-Nya, Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam"?

Jawab: Katakanlah, semua hadis ini adalah kedustaan terhadap Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Yang menyebarkannya hanyalah para ahli bidah dan pemuja kuburan. Juga yang bisa mengatakan kepada sesuatu "kun (jadilah)" lalu sesuatu itu jadi hanya Allah semata, tidak ada sekutu dan tandingan bagi-Nya. Mahasuci Allah dan Maha Terpuji. Tidak satupun makhluk yang mampu dan memilikinya, baik para nabi ataupun para wali.

Allah Ta'ālā berfirman, "Sungguh, urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka jadilah sesuatu itu." (Yāsīn: 82)

Allah Ta'ālā juga berfirman, "Ingatlah, mencipta-kan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha-suci Allah Rabb semesta alam." (Al-A'rāf: 54)

Allah mendahulukan kata yang posisi normalnya di belakang untuk memberi arti pembatasan. Yakni pembatasan penciptaan dan pengaturan hanya milik Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bolehkah mengubur orang yang mati di dalam masjid serta membangun masjid di atas kuburan?

Jawab: Katakanlah, ini termasuk perbuatan yang sangat diharamkan, bidah yang berbahaya, dan terhitung sebagai sarana paling besar yang dapat menjerumuskan kepada syirik.

Dari Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā, ia berkata, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda pada saat sakit menjelang wafat dan beliau tidak bangun lagi, "Allah melaknat orang Yahudi dan Nasrani karena menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid." Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā mengatakan, "Yaitu beliau melarang perbuatan mereka." (Muttafaq 'alaih)

Dan dari Jundub bin Abdillah raḍiyallāhu 'anhu, dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda lima hari sebelum wafat, "Ketahuilah, sesungguhnya umat sebelum kalian menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang saleh mereka sebagai masjid. Ingatlah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sungguh, aku melarang kalian dari hal tersebut." (HR. Muslim)

Masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan tidak boleh digunakan untuk salat. Bila masjid tersebut yang dibangun di atas satu atau banyak kubur, maka wajib dirobohkan. Adapun jika masjid itu dibangun bukan di atas kuburan, kemudian seorang yang mati dikubur di dalamnya, maka masjid tersebut tidak dihancurkan, tetapi kubur itu yang dibongkar dan orang yang dikubur dalam masjid itu dipindahkan ke pemakaman umum.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa hukum mendirikan bangunan di atas kuburan?

Jawab: Katakanlah, mendirikan bangunan di atas kuburan adalah bidah yang mungkar. Karena termasuk guluw (berlebih-lebihan) dalam menghormati orang yang dikubur di dalamnya dan bisa mengantarkan kepada syirik. Sehingga bangunan yang dibangun di atas kuburan harus dihilangkan dan diratakan, guna memberantas bidah tersebut dan mencegah timbulnya kesyirikan.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Saḥīḥnya dari Abu al-Hayyāj al-Asadī Ḥayyān bin Ḥusain, ia menuturkan, Ali berkata kepadaku, "Sudikah engkau aku utus untuk melakukan apa yang dulu Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengutusku. Yakni, engkau tidak membiarkan gambar kecuali engkau musnahkan, dan tidak pula kuburan yang ditinggikan kecuali engkau ratakan."

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dimakamkan di dalam masjid sejak awal?

Jawab: Katakanlah, beliau dikuburkan di dalam kamar Aisyah raḍiyallāhu 'anhā dan kubur beliau tetap berada di luar masjid lebih dari 80 tahun. Lalu salah satu khalifah Bani Umayyah memperluas Masjid Nabawi sehingga kamar tersebut sepertinya berada di dalam masjid. Sang khalifah tidak mengindahkan larangan para ulama di zamannya dan peringatan mereka agar tidak menjadikan kamar itu masuk dalam bangunan masjid. Sebab Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda melarang membangun masjid di atas kuburan, "Ketahuilah, sesungguhnya umat sebelum kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Ingatlah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sungguh, aku melarang kalian dari hal tersebut." (HR. Muslim)

Juga Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang membangun masjid di atas kuburan serta memasang lampu di sana, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahlussunan (para penyusun kitab sunan).

Apa yang dikhawatirkan dan diingatkan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah terjadi pada umatnya disebabkan oleh kejahilan yang tersebar serta syubhat para syaikh penebar cerita takhayul dan bidah, sehingga mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang merupakan penentangan kepada-Nya dan menyelisihi Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, seperti menempatkan dan membuat kuburan di masjid, memberinya tabir, memberinya lampu, melakukan tawaf, dan menaruh kotak nazar di sana. Akibatnya, kesyirikan dan kesesatan menjadi tersebar dengan mengatasnamakan cinta kepada orang saleh dan memuliakan mereka, serta bertawasul dengan mereka kepada Rabb semesta alam supaya mengabulkan doa orang-orang yang berdoa.

Semua ini merupakan warisan orang-orang sesat dahulu. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sungguh kelak kalian akan mengikuti sunah umat sebelum kalian sehelai bulu demi sehelai bulu (persis sama), hingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang biawak niscaya kalian pun akan ikut masuk ke dalamnya." (Muttafaq 'alaih)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah benar Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam hidup di dalam kuburnya dan akan keluar menemui manusia dalam perayaan Maulid Nabi yang disebut dengan ḥaḍrah, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang?

Jawab: Katakanlah, imam yang empat, bahkan seluruh umat Islam sepakat bahwa para sahabat raḍiyallāhu 'anhum tidak menguburkan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam kecuali setelah roh beliau meninggalkan jasadnya. Tidak masuk akal bila mereka menguburkan beliau dalam kondisi hidup. Dan karena para sahabat mengangkat seorang khalifah pengganti beliau sepeninggalnya, juga putri beliau, yaitu Fatimah raḍiyallāhu 'anhā menuntut bagian warisannya dari beliau. Tidak pernah ada cerita dari seorang sahabat, tabiin, ataupun generasi setelahnya seperti imam yang empat, bahwa Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam keluar menemui manusia setelah beliau wafat dan dikuburkan.

Barangsiapa mengklaim bahwa beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam keluar dari kuburnya dan menemui manusia, maka dia telah berbohong dan dipermainkan oleh setan serta membuat-buat kedustaan atas nama Allah dan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana tidak, sedangkan Allah Subhānahu wa Ta'ālā telah berfirman, "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)." (Āli ‘Imrān: 144) Dan firman Allah Ta'ālā, "Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati, dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (Az-Zumar: 30)

Dalam ayat ini, Allah Subhānahu wa Ta'ālā menggandengkan berita kematian beliau dan kematian manusia lainnya agar jelas bahwa ini adalah kematian yang hakiki (sebenarnya) dan perpindahan dari alam dunia menuju alam barzakh, di mana orang yang telah masuk tidak akan keluar darinya kecuali menuju pelataran hari Kiamat untuk hisab dan pembalasan setelah dibangkitkan, dikumpulkan dan keluar dari kubur.

Di antara bantahan yang tepat kepada orang-orang jahil dan para penganut khurafat yang meyakini Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam keluar dari kubur adalah apa yang diungkapkan Imam al-Qurthubi al-Maliki (w. 656H) dalam karyanya Al-Mufhim tentang khurafat keluarnya Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dari kuburnya, “Rusaknya keyakinan ini dapat diketahui dengan logika sederhana. Keyakinan ini berkonsekuensi seseorang tidak melihat beliau kecuali dalam wujud asli beliau ketika wafat dan tidak mungkin dilihat oleh dua orang dalam satu waktu di dua tempat berbeda. Bahwa beliau sekarang masih hidup dan keluar dari kubur, berjalan di pasar, berbicara dengan manusia dan mereka pun berbicara dengannya; hal ini berkonsekuensi kubur beliau kosong dari jasadnya dan tidak ada sesuatu apa pun di kuburnya. Sehingga yang diziarahi hanya kubur kosong, dan ucapan salam diberikan kepada orang yang tidak ada. Karena bisa saja beliau dilihat di malam dan siang hari secara berturut-turut secara hakiki di luar kuburnya. Jelas ini adalah perkataan bodoh yang tidak akan diterima oleh orang yang paling bodoh sekalipun."

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah bidah itu? Apa sajakah macam-macamnya dan apa hukum setiap macamnya? Dan apakah dalam Islam ada bidah hasanah (yang baik)?

Jawab: Katakanlah, bidah adalah perbuatan ibadah yang dilakukan seorang hamba kepada Allah tanpa landasan dalil syariat.

Bidah ada dua macam:

1.     Bidah yang dapat mengafirkan, seperti orang yang tawaf di kubur untuk mendekatkan diri kepada orang yang dikubur di dalamnya.

2.     Bidah yang dosa pelakunya tidak sampai kafir, seperti orang yang mengadakan perayaan kelahiran seorang nabi ataupun wali yang tidak mengandung perbuatan syirik atau kufur.

Dalam agama Islam tidak ada bidah yang baik; karena setiap bidah adalah sesat. Dalilnya sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Jangan kalian melakukan hal-hal yang baru (dalam agama); karena setiap hal yang baru adalah bidah dan setiap bidah adalah kesesatan." Dalam riwayat lain, "Dan setiap kesesatan tempatnya di neraka." (HR. Imam Ahmad dan An-Nasā`i)

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak mengecualikan bidah apapun. Semua bidah adalah haram serta pelakunya tidak mendapatkan pahala; karena bidah sama dengan meralat syariat dan menambah agama yang telah sempurna dan paripurna.

Bidah itu tertolak dengan dalil sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Barangsiapa mengamalkan satu amalan yang bukan urusan kami, maka amalan itu tertolak." (HR. Muslim) Dan sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, "Barangsiapa membuat amalan baru dalam urusan kami yang bukan termasuk ajarannya, maka amalan itu tertolak." (Muttafaq 'alaih) Sabda beliau, “Urusan kami” artinya agama Islam.

 Soal: Jika ada yang bertanya kepada Anda, apa yang bisa dipahami dari sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam (artinya), "Barangsiapa mengadakan sunah yang baik maka dia memperoleh pahalanya dan sebesar pahala orang yang turut melakukannya?"

Jawab: Katakanlah, sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam "Barangsiapa mengadakan sunah yang baik" artinya barangsiapa mengamalkan amalan yang diajarkan Islam dan telah dilupakan manusia, atau mengajak kepada apa yang diajarkan Al-Qur`ān dan Sunah yang tidak diketahui oleh manusia maka dia juga mendapatkan sebesar pahala orang yang mengikutinya. Karena kronologi hadis ini adalah ajakan untuk bersedekah kepada kaum fakir yang meminta-minta. Dan yang mengatakan "barangsiapa mengadakan sunah yang baik" adalah yang mengatakan "setiap bidah adalah sesat", (yakni Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam). Dan sunah bersumber dari Al-Qur`ān dan Sunah, sementara bidah tidak mempunyai dasar dari Al-Qur`ān dan Sunah. Bahkan bidah itu murni penilaian baik sebagian akal orang-orang generasi akhir.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa yang bisa dipahami dari pernyataan Umar raḍiyallāhu 'anhu mengenai salat tarawih, "Ini sebaik-baik bidah" dan juga diadakannya azan kedua pada hari Jumat di masa Usman raḍiyallāhu 'anhu?

Jawab: Katakanlah, pernyataan Umar raḍiyallāhu 'anhu (mengenai salat tarawih), "Ini sebaik-baik bidah" maksudnya adalah pengertian bidah secara bahasa, bukan secara syariat. Karena Umar raḍiyallāhu 'anhu tidak mengungkapkan pernyataan tersebut kecuali terkait salat tarawih yang sudah disunahkan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, sehingga apa yang dilakukannya sesuai dengan yang dilakukan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Sesuatu yang merupakan perbuatan menghidupkan sunah Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bukanlah bidah, tapi merupakan pembaruan (penyegaran) dan mengingatkan manusia terhadap perkara yang telah ditinggalkan dan dilupakan, serta merupakan ajakan kepada amalan syar’i yang telah diserukan dan dikerjakan oleh Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Adapun perbuatan Usman raḍiyallāhu 'anhu, maka beliau termasuk orang yang diserukan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam agar diikuti sunahnya beserta para khulafā`urrāsyidīn lainnya ketika beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Peganglah sunahku dan sunah khulafā`ur-rāsyidīn.” Selain khulafā`urrāsyidīn tidak demikian kondisinya, sebab Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam hanya membatasi pada sunahnya dan sunah para khulafā`urrāsyidīn. Beliau tidak menyebutkan selain mereka.

Para sahabat raḍiyallāhu 'anhum adalah orang yang paling keras mengingatkan bidah dan amalan baru. Di antaranya Ibnu Mas'ud raḍiyallāhu 'anhu, dia berkata kepada sekelompok orang yang mengadakan sebuah bidah dalam agama ketika berzikir kepada Allah secara berjamaah dengan tata cara tertentu yang baru, padahal mereka bermaksud baik, "Apakah ilmu kalian melebihi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, atau kalian sedang mengerjakan bidah secara zalim?” Dan ketika mereka menjawab, “Kami hanya menginginkan kebaikan”, dia berkata kepada mereka, “Tidak setiap orang yang menginginkan kebaikan pasti mendapatkannya." (HR. Ad-Darimi dalam Sunannya)

Dan di dalam majlis-majlisnya, Ibnu Mas’ud sering berkata pada murid-muridnya, “Ikutilah, dan jangan membuat bidah." Ibnu Umar raḍiyallāhu 'anhumā berkata, "Setiap bidah adalah kesesatan, sekalipun manusia memandangnya baik."

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah mengadakan perayaan Maulid Nabi sunah atau bidah?

Jawab: Katakanlah, perayaan Maulid Nabi tidak ada diperintahkan dalam Al-Qur`ān dan tidak pula Sunah, sehingga perbuatan ini tidak memiliki dalil syar'i. Juga tidak pernah ada dari salah satu sahabat raḍiyallāhu 'anhum, dan tidak pula pernah dinyatakan oleh salah satu imam yang empat. Jika perbuatan ini sebuah kebaikan dan ketaatan, niscaya mereka telah mendahului kita dalam mengamalkannya.

Orang-orang yang merayakannya mengatakan bahwa mereka merayakan Maulid Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagai wujud kecintaan kepada beliau.

Mencintai Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam hukumnya farḍu 'ain bagi setiap muslim, imannya tidak sah kecuali dengan mencintai beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Itu dilakukan dengan menaati beliau, bukan dengan merayakan hari kelahirannya.

Yang pertama kali mengadakan bidah ini ialah orang-orang Ubaidiyyun yang beraliran kebatinan dan zindik, yang menamakan diri mereka dengan sebutan Fatimiyyun. Tepatnya empat abad setelah wafat Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Para pelaku Maulid merayakannya pada hari Senin yang merupakan hari wafat Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Sebenarnya perayaan Maulid Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak lain adalah mengikuti perbuatan kaum Nasrani dalam merayakan hari kelahiran Isa 'alaihissalām. Padahal Allah telah mencukupkan kita dari bidah dan berbagai perbuatan baru yang diada-adakan oleh umat-umat yang sesat dengan syariat yang sempurna, jernih, bersih, dan suci. Maka segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa hukum belajar sihir atau mempraktikkannya?

Jawab: Katakanlah, tidak boleh mempelajari sihir dan mengajarkannya. Sedang mempraktikkannya adalah sebuah kekufuran, berdasarkan firman Allah Ta'ālā, "Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia yaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.’ Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dapat memisahkan antara seorang suami dengan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sesungguhnya mereka telah tahu, barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat." (Al-Baqarah: 102) Dan firman Allah Ta'ālā, "Mereka percaya kepada jibt (sihir) dan ṭāgūt (setan)." (An-Nisā`: 51)

Kata jibt ditafsirkan sihir. Dalam ayat ini Allah menyandingkan sihir dengan ṭāgūt. Maka sebagaimana percaya kepada ṭāgūt adalah kekufuran, demikian pula mempraktikkan sihir adalah kekufuran.

Di antara konsekuensi kufur (ingkar) terhadap ṭāgūt ialah meyakini batilnya sihir, bahwa sihir adalah ilmu yang buruk dan merusak agama serta dunia, yang wajib dijauhi serta berlepas diri darinya dan para pelakunya.

Allah Ta'ālā berfirman, "Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya)." (Al-Falaq: 4)

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan..." Beliau kemudian menyebutkan di antaranya adalah sihir. Dan disebutkan dalam hadis, "Barangsiapa membuat suatu ikatan kemudian meniupnya, dia telah melakukan sihir. Dan siapa melakukan sihir, dia telah berbuat syirik." (HR. An-Nasā`i)

Sedang Al-Bazzar meriwayatkan, "Bukan dari golongan kami orang yang melakukan taṭayyur (mengaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar) atau dilakukan taṭayyur untuknya, melakukan perdukunan atau menggunakan jasa dukun, dan melakukan sihir atau menggunakan jasa sihir."

Hukuman bagi tukang sihir adalah hukuman mati. Umar bin Khaṭab raḍiyallāhu 'anhu menulis surat kepada para gubernurnya yang berisi, "Bunuhlah setiap tukang sihir laki-laki dan perempuan." (HR. Bukhari)

Juga riwayat dari Jundub raḍiyallāhu 'anhu, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Hukuman sihir adalah dipenggal dengan pedang." (HR. Tirmizi) Ḥafṣah pernah membunuh budak wanita miliknya yang melakukan sihir kepadanya.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apakah yang dilakukan oleh para pesulap seperti menikam diri dan memakan benda keras termasuk sihir dan sulap ataukah karāmah?

Jawab: Katakanlah, apa yang dilakukan para pesulap berupa aksi-aksi yang telah disebutkan, mereka dibantu oleh setan dalam melaksanakan-nya. Dan sebagiannya dengan menyihir penglihatan manusia, sehingga mereka melihat sesuatu yang tidak nyata seakan-akan nyata.

Sebagaimana yang dilakukan para penyihir terhadap Musa 'alaihissalām dan orang-orang yang turut menyaksikan peristiwa yang Allah tuturkan dalam Al-Qur`ān. Musa dibuat berhalusinasi bahwa tali para penyihir itu merayap cepat, padahal hakikatnya tidak. Sebagaimana Allah Ta'ālā berfirman, "Terbayang oleh Musa seakan-akan dia merayap cepat, lantaran sihir mereka." (Tāhā: 66)

Seandainya dibacakan kepada para pesulap itu ayat Kursi, al-Mu'awwiżatain (surah Al-Falaq dan An-Nās), Al-Fātihah, dan akhir surat Al-Baqarah serta ayat-ayat lainnya, pasti sihir dan sulapnya akan gagal dengan izin Allah Ta'ālā, kepalsuan dan kebohongan para pesulap itu akan tersingkap, dan nampaklah kebatilan serta kedustaan mereka.

Karāmah tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang saleh yang bertauhid dan bersih dari perbuatan bidah dan khurafat. Karāmah adalah diberikannya kebaikan untuk seorang mukmin atau ditolak darinya keburukan. Ini tidak berarti dia lebih utama dari kaum mukmin lainnya yang tidak memiliki karāmah. Dan karāmah itu seharusnya disembunyikan dan tidak dipertontonkan, juga tidak digunakan untuk mencari makan dan menipu manusia.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa hukum pergi ke tukang sihir untuk berobat?

Jawab: Katakanlah, tidak boleh pergi ke penyihir laki-laki atau perempuan untuk bertanya atau berobat pada mereka karena Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Dalilnya, ketika Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang nusyrah, yaitu mengatasi gangguan sihir dengan sihir, beliau bersabda, "Itu adalah perbuatan setan." Maksud beliau nusyrah. (HR. Abu Dawud)

Sedikit pun perbuatan setan tidak boleh dilakukan, tidak ada yang bisa diambil manfaatnya, dan tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan padanya.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bagaimana cara mencegah gangguan sihir sebelum terjadi dan bagaimana mengatasinya jika telah terjadi?

Jawab: Katakanlah, yaitu senantiasa menjaga zikir pagi dan sore hari, terutama zikir, “Bismillāhillażi lā yaḍurru ma’asmihī syai`un fil arḍi walā fissamā`i wahuwa as-samī’ al-alīm (dengan menyebut nama Allah yang tidak sesuatu pun di bumi maupun di langit bisa membahayakan bersama nama-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)," dibaca 3 kali setiap pagi dan sore.

Juga wirid, "A’ūżu bikalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq (aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhluk yang Dia ciptakan)."

Termasuk memohonkan perlindungan untuk keluarga dan anak-anak dengan zikir, "ﷻ‬’īżukum bikalimātillāhit tāmmah min kulli syaitan wahāmmah wa min kulli ‘ain lāmmah (Aku memohonkan perlindungan untuk kalian dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan hewan berbisa, dan dari setiap pandangan yang jahat)," sebagaimana disebutkan dalam hadis.

Juga membaca surah al-Ikhlāṣ dan al-Mu'awwiżatain (surah Al-Falaq dan An-Nās), 3 kali pagi dan sore; membaca ayat Kursi dan dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah di malam hari; dan memakan tujuh butir kurma di pagi hari.

Sedangkan setelah sihir terjadi, maka cara menyembuhkannya adalah membacakan ayat-ayat Al-Qur`ān dan doa-doa yang terdapat dalam Sunah Nabi kepada orang yang terkena sihir secara langsung, melakukan bekam, dan memusnahkan benda yang digunakan sebagai media sihir ketika ditemukan. Dengan izin Allah Ta'ālā, sihir itu akan lenyap dan orang tersebut akan sembuh.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bolehkah mendatangi dukun, peramal, penyihir, atau orang yang mengaku mengetahui gaib dengan membaca cangkir atau telapak tangan dan yang mengaku mengetahui masa depan melalui rasi bintang dan zodiak?

Jawab: Katakanlah, mendatangi mereka, bertanya pada mereka, dan mendengarkan kedustaan mereka adalah haram, kecuali bagi orang yang hendak menampakkan kebohongan mereka, menguak kedustaan mereka, dan menyingkap takhayul mereka dari kalangan ulama yang mampu melakukannya.

Dan wajib berhati-hati terhadap setiap orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib serta mengingatkan kebohongan serta tipu daya mereka pada orang-orang yang lalai. Betapa ruginya orang yang membenarkan kebohongan, kebatilan, dan ramalan mereka. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun lalu membenarkan apa yang diucapkannya, sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan pada Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahlussunan)

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, "Siapa mendatangi peramal lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak akan diterima salatnya selama 40 hari." (HR. Muslim)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa pendapat Anda mengenai hadis ini (artinya), "Pelajarilah sihir, namun jangan dipraktikkan?"

Jawab: Katakanlah, hadis ini palsu dan dibuat-buat atas nama Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Sebab, bagaimana mungkin beliau melarang sihir namun juga menyarankan agar mempelajarinya.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, siapakah manusia yang paling utama setelah para nabi?

Jawab: Katakanlah, para sahabat raḍiyallāhu 'anhum. Demikian itu, karena nabi kita Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah nabi yang paling utama, maka para sahabatnya pun menjadi yang paling utama di antara seluruh sahabat para nabi. Dan yang paling utama di antara mereka adalah Abu Bakar. Nabi 'alaihi aṣ-ṣalatu wa as-salām bersabda, "Tidaklah matahari terbit dan tidak pula tenggelam pada orang yang lebih utama dari Abu Bakar setelah para nabi dan rasul." Kemudian Umar, selanjutnya Usman, dan berikutnya Ali raḍiyallāhu 'anhum. Kemudian sepuluh sahabat lainnya yang telah dijamin masuk surga. Para sahabat saling mencintai di antara mereka. Oleh sebab itu, Ali raḍiyallāhu 'anhu menamai anak-anaknya dengan nama khalifah-khalifah sebelumnya. Di antara nama anaknya adalah Abu Bakar, Umar, dan Usman. Sungguh dusta orang yang mengatakan bahwa para sahabat tidak mencintai orang-orang mukmin dari kalangan Ahlul Bait (keluarga Nabi) dan sebaliknya bahwa Ahlul Bait tidak mencintai para sahabat. Ini termasuk kedustaan musuh Ahlul Bait dan musuh sahabat riḍwānullāhi 'alaihim.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa kewajiban kita kepada para sahabat raḍiyallāhu 'anhum, dan apa hukum mencela salah satu dari mereka?

Jawab: Katakanlah, wajib mencintai, menghormati, dan memuliakan mereka, serta mendoakan keridaan untuk mereka semua. Karena Allah telah menyatakan rida kepada mereka, dan tidak mengecualikan satu pun di antara mereka. Sebagaimana Allah Ta'ālā berfirman, "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anṣār dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah: 100)

Allah Ta'ālā juga berfirman, "Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon." (Al-Fatḥ: 18)

Dan Allah Ta'ālā berfirman tentang mereka, "Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik." (Al-Ḥadīd: 10)

Kita wajib juga mencintai dan menghormati ummahātul mu`minīn, dan haram mencela salah satu mereka sebab perbuatan tersebut termasuk dosa besar. Allah Ta'ālā berfirman, "Dan istri-istrinya (Rasulullah) adalah ibunda mereka." (Al-Aḥzāb: 6)

Jadi, semua istri Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah ibu bagi kaum mukmin, sebab Allah tidak mengecualikan salah satu pun dari mereka. Disebutkan dalam hadis Abu Said al-Khudri radiyallāhu 'anhu yang menuturkan, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela para sahabatku! Sekiranya salah satu kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, itu tidak bisa mencapai (pahala) infak satu mud mereka, dan tidak pula setengahnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada yang aneh dengan kedudukan mulia mereka ini. Mereka mengorbankan jiwa dan harta guna membela agama Allah. Mereka memerangi kerabat dekat dan jauh yang menentang dakwah Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, meninggalkan keluarga, dan berhijrah dari negeri sendiri demi berjuang di jalan Allah. Mereka adalah sebab setiap kebaikan dan keutamaan yang diraih umat ini hingga hari Kiamat. Maka bagi mereka sebesar pahala semua kaum mukminin yang datang setelah mereka sampai Allah mewarisi bumi beserta penghuninya (hari Kiamat). Belum ada yang menandingi mereka dari umat-umat terdahulu, dan tidak akan ada juga dari orang-orang setelah mereka. Celakalah orang yang memusuhi mereka, mencela dan mencemarkan mereka, serta mencaci salah satu dari mereka.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa hukuman orang yang mencela salah seorang sahabat Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam atau mencela salah satu ummahātul mu`minīn?

Jawab: Katakanlah, hukumannya adalah dilaknat, diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa mencela sahabatku, maka dia patut mendapatkan laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia." (HR. Tabrani)

Yang wajib dilakukan ialah mengingkari dengan keras orang yang mencela salah seorang sahabat atau mencaci salah satu ummahātul mu`minīn riḍwānullāh 'alaihim 'ajma'īn. Penguasa dan pihak-pihak yang berwenang harus memberi pelajaran dan menghukum orang yang melakukan hal tersebut dengan hukuman yang membuat jera.

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, bolehkah berpendapat penyatuan agama-agama?

Jawab: Katakanlah, pendapat dan keyakinan ini tidak boleh. Ini termasuk kufur paling besar, sebab sama dengan mendustakan Allah, menolak hukum-Nya dan menyamakan antara kekafiran dan keimanan, kebenaran dan kebatilan.

Bagaimana mungkin orang yang berakal bisa meragukan batilnya upaya menyetarakan dan menyatukan antara agama Allah dengan agama ṭāgūt? Bagaimana mungkin tauhid dan syirik, kebatilan dan kebenaran bersatu?! Agama Islam adalah yang benar, sementara yang lainnya batil. Allah telah menyempurnakan agama-Nya dan memparipurnakan nikmat-Nya.

Allah Ta'ālā berfirman, "Pada hari ini Aku telah sempurnakan untukmu agamamu, dan Aku telah cukupkan bagimu nikmat-Ku, dan Aku telah rida Islam sebagai agamamu." (Al-Mā`idah: 3)

Tidak boleh agama ini dikurangi atau ditambah, atau disamakan dengan agama-agama kekufuran dan ṭāgūt, ataupun digabungkan dengannya. Seorang muslim yang berakal tidak akan meyakini bolehnya perkara ini, dan orang yang memiliki sedikit akal sehat dan keimanan tidak akan berusaha mewujudkannya.

Allah Ta'ālā berfirman, "Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang yang rugi." (Āli Imrān: 85) Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, tiada seorang pun dari umat ini yang mendengar beritaku, baik seorang Yahudi atau Nasrani, kemudian dia mati tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka." (HR. Muslim)

 Soal: Jika ditanyakan kepada Anda, apa buah dari beriman kepada Allah dan mentauhidkan-Nya serta istika-mah di atas sunah Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam?

Jawab: Katakanlah, dengan iman maka akan terwujud pribadi, masyarakat, dan umat semua kebaikan di dunia dan akhirat berupa dibukakannya keberkahan dari langit dan bumi. Allah Ta'ālā berfirman, "Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'rāf: 96)

Demikian pula, dengan merealisasikan keimanan akan terwujud ketenangan hati dan kelapangan dada. Allah Ta'ālā berfirman, "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (Ar-Ra'du: 28)

Seorang mukmin yang bertauhid kepada Rabbnya dan mengikuti sunah Rasul-Nya dengan benar dan tulus akan mendapatkan kehidupan yang baik. Pikirannya akan nikmat dan hatinya tenteram, tidak berkeluh kesah dan tidak bersedih hati. Setan tidak mampu mengganggunya dengan perasaan was-was, khawatir, dan sedih. Dia tidak putus asa dan tidak sengsara di kehidupan dunianya, dan dia akan bahagia di surga yang penuh nikmat di akhiratnya.

Allah Ta'ālā berfirman, "Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (An-Naḥl: 97)

Bersungguh-sungguhlah, wahai saudaraku kaum muslim dan muslimah agar Anda termasuk yang mendapat kabar gembira ini dan termasuk orang yang layak mendapatkan janji Rabb yang mulia ini.

 Penutup

Saudara dan saudariku yang mulia!

Segala puji bagi Allah yang telah menyem-purnakan agama ini untuk kita, mencukupkan nikmat-Nya dan mununjukkan kita kepada agama Islam, agama kebenaran dan tauhid serta agama kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pembaca budiman! Hal terpenting dilakukan adalah terus berusaha membekali diri dengan ilmu syar'i yang bersumber dari Al-Qur`ān dan Sunah berdasarkan pemahaman (para sahabat) orang yang telah diridai Allah dan mereka pun rida kepada-Nya, supaya kita menjadi orang yang beribadah kepada Allah berlandaskan ilmu dan selamat dari terjerumus ke dalam syubhat serta fitnah-fitnah menyesatkan. Setiap orang, setinggi apapun kedudukannya, diperintahkan untuk membekali diri dengan ilmu dan membutuhkan ilmu.

Inilah nabi Anda ṣalawatullāh wasalāmuhu 'alaihi, diperintahkan oleh Rabbnya agar membekali diri dengan ilmu. Allah Ta'ālā berfirman, "Ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah." (Muḥammad: 19) Serta dia diarahkan agar memohon tambahan ilmu dari-Nya. Allah Ta'ālā berfirman, "Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’" (Ṭāhā: 114)

Maka berjalanlah, semoga Anda diberi taufiq, di atas petunjuk nabi dan imammu, Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, dan bergembiralah dengan janji kebaikan dan kedudukan tinggi di dunia dan akhirat. Allah Ta'ālā berfirman, "Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (Al-Mujādilah: 11)

Setelah belajar, bergabunglah bersama orang-orang yang mengamalkan apa yang sudah mereka ketahui. Dan bersungguh-sungguhlah dalam menyebarkan kebaikan dan ilmu agar engkau bisa menyusul rombongan orang-orang yang baik dan reformis. Juga supaya engkau mendapat pahala sebesar pahala orang yang engkau ajak dan menerima ajakanmu. Tidak ada sesuatupun yang lebih utama setelah mengerjakan amalan wajib selain menyebarkan ilmu dan mengajak kepada kebaikan.

Betapa besar pengaruh para dai kepada kebenaran bagi manusia. Mereka adalah penyelamat -dengan izin Allah- orang yang tenggelam dalam gelapnya kejahilan, kesesatan, dan takhayul, yang mengandeng tangan mereka menuju jalan keselamatan, cahaya, petunjuk, dan jalan surga. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.