Apakah Asal Manusia Bertauhid ?

Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'alaihi wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba'du:

 Apakah anak cucu adam pada asalnya bertauhid atau berbuat kesyirikan?

Untuk memberi jawaban pertanyaan diatas kita harus mengulas balik pada asal mula penciptaan manusia apakah bertauhid atau melakukan kesyirikan. Sebagian ulama mengatakan, "Sesungguhnya asal penciptaan manusia diciptakan dari jiwa yang satu, sebagaimana disinggung oleh Allah ta'ala didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ أَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡس وَٰحِدَة وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا ا كَثِيرا وَنِسَآءۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبا ١ ﴾ [ النساء : 1]  

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama -Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa : 1)

Mereka mengatakan, "Sesungguhnya manusia di ciptakan dari Adam". Dan hal ini merupakan kesepakatan mufakat yang telah diakui oleh seluruh agama samawi, dan disepakati pula oleh seluruh pemeluk agama –baik Yahudi, Nasrani, Islam- kecuali segelintir orang saja yang memiliki pendapat ganjil dan lebih memilih untuk mengikuti perkataan dan pendapatnya  orang-orang kafir. Karena seluruh pemeluk agama samawi mengatakan, "Sesungguhnya asal muasal penciptaan manusia berada di atas tauhid, sedang kesyirikan baru datang kemudian". Mereka menegaskan akan hal itu dengan mengacu pada beberapa pertimbangan dan fakta yang mendukung argumennya, diantaranya yaitu:

1.     Bahwa manusia pertama yang di ciptakan oleh Allah azza wa jalla adalah Adam ‘alaihi salam yang juga seorang nabi yang hanya menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tanpa menyekutukan -Nya dengan sesuatu apapun. Kemudian beliau mengajari anak-anaknya untuk bertauhid. Seperti yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya mengenai Adam, "Apakah ia seorang nabi? Nabi menjawab, "Betul, beliau adalah seorang nabi, yang di ajak bicara langsung oleh -Nya, Allah Shubhanahu wa ta’alla menciptakan dengan tangan -Nya sendiri, kemudian meniupkan ruh ke dalam tubuhnya".[1]

Setelah berlalunya zaman, anak cucu Adam kemudian terjatuh ke dalam kesyirikan, pernyataan ini merupakan kesepakatan dan pendapat setiap orang yang mengimani bahwasanya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah sang Pencipta,  begitu pula keyakinan bagi tiap orang yang beriman pada agama samawi, Islam, Nasrani, Yahudi kecuali pengikut orang-orang kafir dan murtad.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Kesyirikan bukanlah asal perilaku yang dipraktekan oleh anak cucu Adam, karena Nabi Adam 'alaihi sallam beserta anak-anaknya berada di atas agama tauhid, karena sebab mereka masih mengikuti kenabian. Dimana nabi Adam 'alaihi sallam memerintahkan kepada anak cucunya sebagaimana yang Allah Shubhanahu wa ta’alla perintahkan kepadanya. Seperti yang Allah ta’ala rekam didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُد ى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٣٨ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٣٩ ﴾ ]البقرة : 38-39[

“Kemudian jika datang petunjuk -Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk -Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 38-39)

Ini merupakan firman Allah ta'ala yang ditujukan kepada nabi Adam dan selain beliau ketika Allah Shubhanahu wa ta’alla menurunkan mereka. Yang mana didalam firman tadi terkandung perintah bahwasanya Allah azza wa jalla telah mewajibkan untuk mengikuti hidayah yang telah diturunkan untuk mereka[2].

2.     Allah Shubhanahu wa ta’alla sudah menjelaskan bahwa manusia pada asal mula penciptaannya berada di atas tauhid. Kemudian datanglah kesyirikan dan berbilangnya sesembahan. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

قال الله تعالى:﴿كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّة وَٰحِدَة فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِۚ وَمَا ٱخۡتَلَفَ فِيهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ أُوتُوهُ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُم ٢١٣﴾ [ البقرة : 213[

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri.” (QS. Al-Baqarah : 213)

Mayoritas ahli tafsir menuturkan bahwa manusia dahulunya merupakan umat yang satu yang berada di atas petunjuk dan tauhid. Lantas muncul lah kesyirikan di tengah-tengah mereka dengan awal mula mengagungkan orang yang telah meninggal, selanjutnya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengutus rasul -Nya untuk mengembalikan mereka kepada jalan tauhid.

       Imam ath-Thabari mengatakan, "Pendapat yang lebih menentramkan hati dan benar mengenai ayat ini adalah sesungguhnya Allah ta'ala mengabarkan kepada para hamba        -Nya bahwa dahulunya manusia adalah umat yang bersatu di atas agama yang satu dan berada diatas syariat agama yang satu pula. Dan tidak menutup kemungkinan jika masa-masa tersebut  adalah zamannya nabi Adam sampai nabi Nuh 'alaihima salam sebagaimana di katakan oleh Ikrimah dengan riwayat yang disandarkan kepada Ibnu Abbas,  hal senada juga disampaikan oleh Qotadah".[3]

        Kemudian di dukung dengan qira’ahnya Ubay bin Ka’ab[4], dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma.

  قال الله تعالى: ﴿ كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّة وَٰحِدَة فَاخْتَلَفُوا فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ ﴾  

"Manusia itu adalah umat yang satu. Kemudian mereka berselisih, Maka Allah mengutus Para Nabi".[5]

Sebagaimana diperkuat dengan firman Allah ta’ala;

قال الله تعالى: ﴿ وَمَا كَانَ ٱلنَّاسُ إِلَّآ أُمَّة وَٰحِدَة فَٱخۡتَلَفُواْۚ  ﴾ ]يونس : 19[

"Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih". (QS. Yunus : 19)

Pendapat inilah yang lebih dikuatkan oleh Ibnu Katsir dengan argumentnya, "Karena dahulunya manusia berada di atas agama nabi Adam 'alaihi sallam hingga akhirnya ada diantara mereka yang menyembah berhala, kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla mengutus nabi Nuh 'alaihi salam. Dan nabi Nuh 'alaihi sallam adalah rasul pertama yang  Allah utus ke muka bumi".[6]

Beliau juga menuturkan, "Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabarkan bahwa kesyirikan ini terjadi pada manusia setelah sebelumnya belum pernah terjadi, dan sesungguhnya manusia dahulu berada di atas agama yang satu yaitu Islam".[7]

3.     Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabarkan dalam kitab -Nya bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla mengaruniakan fitrah pada manusia semuanya kepada Islam yang berupa tauhid yang murni. Allah jalla wa ‘ala berfirman:

قال الله تعالى: ﴿ فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠ ﴾  ]روم : 30[   

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Ruum : 30)

Dalam ayat -Nya yang lain Allah Shubhanahu wa ta’alla mengatakan:

قال الله تعالى: ﴿ وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢  ﴾ ]الأعراف : 172[

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (QS. al-A’raaf : 172)

Dua ayat di atas menjelaskan bahwasanya para hamba semuanya mempunyai fitrah dalam keadaan berada di atas tauhid, dan itulah sifat dasar yang dimiliki oleh bani Adam. Bahkan Imam Mujahid menafsirkan bahwa fitrah artinya adalah Islam itu sendiri. [8]

4.     Allah azza wa jalla menjelaskan dalam kitab -Nya, bahwa tauhid merupakan pokok dakwah yang diemban oleh semua rasul. Dengan tauhid itulah mereka menyeru kaumnya. Sebagaimana yang Allah Shubhanahu wa ta’alla jelaskan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحا وَٱلَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ١٣ ﴾ ]  الشورى : 13[

“Dia telah mensyari´atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan -Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS. Asy-Syuro : 13)

Dalam ayat yang lain Allah ta'ala juga berfirman;

﴿ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ ٢٥﴾   ]الأنبياء : 25[

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku" (QS. Al-Anbiya’ : 25)

Dan juga dalam firman -Nya:

﴿ وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّة رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ ٣٦ ﴾ ]النحل : 36[

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu". (QS. an-Nahl : 36 )

Firman Allah ta’ala:

﴿ وَسۡ‍َٔلۡ مَنۡ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رُّسُلِنَآ أَجَعَلۡنَا مِن دُونِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ءَالِهَة يُعۡبَدُونَ ٤٥ ﴾ ]الزخرف: 45[

“Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: "Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?” (QS. az-Zukhruf : 45)

Dan setiap rasul mengawali dakwahnya dengan menyeru umatnya dengan mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. seperti yang Allah ta’ala abadikan didalam firman -Nya:

﴿ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ...٥٩ ﴾ ]الأعراف: 59[

"Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain   -Nya". (QS. al-A’raaf: 59)

         Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan, "Sesungguhnya semenjak dulu manusia mulai dari zamannya nabi Adam 'alaihi salam hingga zaman sebelum diutusnya nabi Nuh ‘alaihissalam semua berada di atas agama tauhid dan ikhlas sebagaimana keadaan nabi Adam sebagai bapaknya seluruh manusia 'alaihi salam. Baru kemudian setelah itu mereka melakukan inovasi-inovasi baru (dalam ibadah) yaitu kesyirikan dan menyembah berhala, sebuah kreasi baru yang murni berasal dari hawa nafsu mereka, di mana Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak menurunkan satupun kitab yang menerangkan, tidak pula mengutus seorang rasul yang memerintahkan hal tersebut, namun, mereka lakukan karena telah terkena syubhat yang di hiasi oleh setan dengan analogi yang rusak dan filsafat yang menyimpang.

Sehingga ada di sebagaian kalangan umat manusia yang mengklaim bahwa relief bintang-bintang dilangit, dan perputaran bintang, serta ruh-ruh yang berada di ruang angkasa layak untuk dijadikan Tuhan. Sebagian lagi menjadikan gambar-gambar orang-orang sebelum mereka dari kalangan para nabi dan orang-orang shaleh. Ada pula yang menjadikan Tuhan dari kalangan arwah rendahan yaitu jin dan setan. Dan ada pula yang mempunyai keyakinan-keyakinan yang lainnya.

Ketika kondisinya seperti itu maka Allah Shubhanahu wa ta’alla mengutus utusan -Nya nabi Nuh 'alaihi salam untuk menyeru mereka agar beribadah kepada -Nya semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, serta melarang mereka dari peribadatan kepada selain -Nya. Kemudian tugas tersebut dilanjutkan oleh para rasul sepeninggal beliau secara berturut-turut. Hingga ketika masa dimana dipenuhi oleh agama Shobi’ah[9] dan orang-orang musyrik seperti Namrud dan Fir’aun. Maka Allah Shubhanahu wa ta’alla mengutus kepada mereka seorang nabi, pemimpinnya orang-orang yang hanif, pemegang panji agama yang murni, dan kalimat tauhid, yaitu nabi Ibrahim 'alaihi sallam sang kekasih Allah Shubhanahu wa ta’alla. Untuk memperingatkan umat manusia dari kesyirikan menuju keikhlasan, serta melarang mereka dari peribadatan kepada bintang-bintang dan berhala.

Selanjutnya generasi para nabi dan rasul yang datang setelahnya berasal dari keturunan nabi Ibrahim 'alaihi sallam, kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla mengutus para nabi -Nya dari kalangan Bani Israil, dan mengutus Isa al-Masih bin Maryam[10].

5.     Yang menguatkan hal tersebut pula ialah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dengan sanadnya dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma, ia berkata, "Adalah jarak antara nabi Adam dan nabi Nuh terbentang sepuluh abad, semuanya berada di atas syariat kebenaran. Kemudian mereka berselisih, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan". [11]

Qotadah menyebutkan, "Disebutkan kepada kami bahwa jarak antara Adam dan Nuh ‘alaihima sallam sebanyak sepuluh abad. Seluruhnya berada di atas petunjuk dan syariat kebenaran. Lantas setelah itu mereka berselisih, maka Allah ‘azza wa jalla mengutus nabi Nuh 'alaihi sallam. Dan beliau adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi[12].

6.     Apa yang diriwayatkan oleh 'Iyadh bin Himar [13], bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan dari RabbNya ‘azza wa jalla, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman: 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَإِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا » [أخرجه مسلم]

 "Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba -Ku semuanya dalam keadaan hanif (lurus, pent.), kemudian setan mendatangi mereka lalu memalingkan mereka dari agamanya dan mengharamkan bagi hamba-hamba -Ku apa yang Aku halalkan, lalu memerintahkan mereka untuk menyekutukan Aku apa yang tidak Aku turunkan penjelasan padanya". [14]

7.     Apa yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah[15] radiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ. ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (( فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا )) .... الْآيَةَ » [أخرجه البخاري ومسلم]

"Setiap bayi yang lahir dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orangtuanya yang menjadikan ia seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat, apakah kalian merasa adanya kecacatan? kemudian Abu Hurairah mengatakan,”Bacalah jika engkau berkenan;

﴿ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَا ٣٠ ﴾ ]الروم : 30[

“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. ar-Ruum : 30)[16]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengomentari hadits di atas, "Yang benar bahwa fitrah yang dimaksud didalam hadits ialah fitrah Islam. Yaitu fitrah yang diberikan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla pada hari ketika mengatakan:

﴿ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ ١٧٢ ﴾ ]الأعراف : 172[

"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami).” (QS. al-A’raaf : 172).

Dan yang di maksud dengan Fitrah ialah selamat serta terbentengi dari keyakinan-keyakinan yang bathil serta siap menerima terhadap akidah yang shahih. Dimana Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan perumpamaan dengan sabdanya, "Sebagaimana hewan dilahirkan dalam keadaan selamat, apakah kalian menjumpai adanya kecacatan?”. Beliau menjelaskan bahwa keselamatan hati dari cela (kekurangan) seperti halnya keselamatan pada badan, dimana aib adalah kejadian baru yang menimpa hati yang sehat". [17]

Imam Ibnul Qoyyim juga menuturkan, "Didalam hadits tadi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan dengan dua perkara, yaitu perubahan fitrah dengan menjadi seorang Yahudi atau Nasrani, dan perubahan ciptaan dengan adanya cacat/aib. Dan dua hal ini merupakan sesuatu yang telah di ikrarkan oleh Iblis pasti akan dirubah. Iblis merubah fitrah yang Allah Shubhanahu wa ta’alla berikan dengan kekufuran, dan ini merupakan bentuk perubahan penciptaan yang dengannya manusia diciptakan di atas fitrah tersebut. Selanjutnya Iblis akan merubah bentuk dengan memotong dan mengebiri, dan merubah fitrah ke dalam kesyirikan, dan bentuk rupa kepada pemotongan dan pengebirian. Maka hal ini merubah bentuk ruh dan ini merubah bentuk fisik". [18]

Dikesempatan lain Beliau juga mengatakan, "Maka hati dikarunia fitrah untuk mencintai Tuhannya yang menciptakan yang layak untuk disembah, sehingga ketika memalingkan peribadatan dan kecintaan kepada selain –Nya merupakan bentuk merusak fitrah[19]. Maka dengan ini menjadi jelas bagi kita bahwa kesyirikan bukanlah asal mula bani Adam. Akan tetapi dahulu Nabi Adam dan anak cucunya berada di atas tauhid sampai terjadinya syirik. Dalil-dalil di atas memberikan bukti bahwa bani Adam menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam rentang waktu tertentu, yaitu selama sepuluh abad sebagaimana disebutkan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Kemudian menyimpanglah orang yang telah menyimpang dari jalan  yang lurus ini. selanjutnya Allah ta’ala mengutus para rasul untuk mengembalikan mereka kepada tauhid.

Dan disana ada riwayat lain yang menjelaskan pada kita bagaimana asal mula terjatuhnya bani Adam ke dalam kesyirikan. Seperti di sampaikan oleh  Imam Bukhari [20], beliau meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma bahwasanya ia berkata mengenai makna firman Allah ‘azza wa jalla:

﴿ وَقَالُواْ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمۡ وَلَا تَذَرُنَّ وَدّا وَلَا سُوَاعا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسۡرا ٢٣﴾  ]نوح : 23[

“Mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa´, yaghuts, ya´uq dan nasr". (QS. Nuh : 23)

Beliau mengatakan, "Ini adalah nama-nama orang-orang shalih dari kaumnya nabi Nuh. Ketika mereka meninggal dunia maka setan datang membisikan kepada kaum Nabi Nuh untuk mendirikan relief di majelis tempat mereka duduk dahulunya, dan menamakan relief yang ditancapkan tersebut sesuai dengan nama-nama mereka. Maka kaumnya Nabi Nuh pun menurutinya, dan saat itu belum sampai di ibadahi. Kemudian setelah generasi tersebut meninggal dan ilmu sudah dilupakan[21]. Akhirnya  patung-patung tersebut pun di ibadahi".[22]

Ini awal mula petaka terjadinya kesyirikan ditengah-tengah anak keturunan nabi Adam 'alaihisallam dan penyimpangan mereka dari mengesakan Allah ta'ala dalam peribadatan.

Adapun ulama yang mengatakan, "Bahwa asal mula manusia bukan dari jiwa yang satu, akan tetapi wujud manusia yang ada sekarang adalah hasil dari proses perkembangan dan evolusi. Maka dijumpai dikalang mereka sendiri terjadi perselisihan yang tak mengenal batas dan sangat rumit sekali.  Sungguh benar apa yang telah Allah Shubhanahu wa ta’alla sebutkan tentang mereka didalam firman       -Nya:

)وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفا كَثِيرا ٨٢]  (النساء : 82[

“Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisaa : 82)

Mereka menyatakan, "Sesungguhnya asal muasal aqidah yang dimiliki manusia adalah kesyirikan kemudian baru setelah itu mereka bertauhid". Sebagian yang lain mengatakan, "Sesungguhnya manusia tidak mengetahui agama sedikitpun, agama baru masuk setelah melalui beberapa masa dan zaman, sehingga terjadi krisis multi dimensi, gejolak dan ketakutan ditengah-tengah mereka.  Dan terjadi silang pendapat dikalangan mereka manakala menjelaskan konsep dan teori perlu tidaknya manusia kepada agama, dan diantara pendapat dan madzhab pemikiran mereka adalah sebagai berikut:

 Yang menamakan dirinya dengan teori Thobi’i (alam)

Hal ini sebagaimana digagas dan dikampanyekan oleh pemikirnya yaitu Maks Muller pada tahun 1856 M, kemudian oleh Cohen pada tahun 1859 M, lalu dicuatkan kembali oleh Saghartiz pada tahun 1863. Kesimpulan teori ini, bahwa manusia ketika pertama kali tumbuh menemukan dirinya dalam kondisi yang lemah di tengah-tengah fenomena alam yang saling berbeda, seperti matahari, bulan, bintang-bintang, angin, petir, sungai, dan yang lain. Maka ia mempunyai keyakinan bahwa dengan menggabungkan kekuatan alam tersebut akan mampu memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya, oleh karena itu manusia mendekatkan diri kepada benda-benda tersebut dan menyerahkan segala macam bentuk ibadah kepadanya dalam rangkan untuk dijauhkan dari mara bahaya yang mengintai mereka.

Kemudian datang pemikir yang bernama Geofunis dan Dirkaim membantah teori ini dan mengatakan, "Bahwa ketakutan tidak tepat untuk dijadikan sebagai faktor tumbuhnya suatu aqidah. Karena dengan berlalunya waktu dan zaman manusia akan menjadi terbiasa dengan fenomena alam yang ada disekelilingnya sehingga mereka bisa hidup berdampingan. Selanjutnya hilanglah rasa takut kepada benda-benda tadi lalu mereka merasa tidak perlu lagi untuk mendekatkan diri kepada fenomena alam tersebut". [23]

Pengagas teori pertama ini ingin mengopinikan, bahwa manusia merupakan hasil dari proses alam semesta. Berawal dari amoeba kemudian tumbuh berkembang dengan pengaruh kelembaban, hingga akhirnya melalui proses alam yang cukup lama materi benda tersebut berevoluasi sampai terbentuk pada spesies kera, kemudian terus tumbuh dan berevoluasi sampai akhirnya menjadi seorang manusia.

Mereka mengklaim bahwa manusia pada waktu itu -yang masih berada pada fase anak-anak- mulai mencari sesembahan untuk di ibadahi. Maka mulailah mereka untuk mengibadahi nenek moyangnya, pepohonan, binatang yang memiliki postur besar,  matahari, dan bulan, serta yang lainya dari benda-benda yang mempunyai kedudukan agung didalam dirinya. Selanjutnya manusia mengalami fase perkembangan dengan tumbuhnya akal dan perasaan, maka mulailah mereka bisa memilah mana Tuhan yang dapat di ibadahi dari sekian banyak tuhan yang mereka miliki sebelumnya, hingga sampai pada zamannya dinasti Fir'aun muncullah aqidah tauhid. Namun, bukan berarti tauhid yang mereka maksud, kalau manusia ketika itu beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tanpa menyekutuka -Nya, akan tetapi, yang mereka maksud adalah mengesakan sesembahan kepada tuhan Ra' (dewa matahari) yang mereka simbolkan dengan bentuk bola matahari. [24]

Oleh karena itu Darwin menegaskan, "Sesungguhnya manusia adalah hasil dari proses evoluasi alam semesta".[25] Dalam penelitiaannya ia berkesimpulan bahwa manusia berkembang dari serangga kemudian menjadi hewan agak besar, sampai pada bentuk kera kemudian manusia[26].

 Yang terkenal dengan teori an-Numu (pertumbuhan)

Teori ini mengatakan, "Sesungguhnya agama tumbuh seperti halnya tumbuh berkembangnya maslahat yang berguna bagi manusia. Secara yakin bisa dipastikan bahwa hal tersebut belum ditakdirkan dalam awal mula kehidupan manusia –dengan kebodohan nenek moyang mereka yang berasal dari kera dan binatang mamalia- untuk memikirkan tentang adanya tuhan dan agama. Oleh karena faktor ketidakmampuan otak mereka di tambah pemahamannya yang lemah serta lambat berpikir sehingga mereka belum mampu untuk membayangkan hal tersebut, Maka kesimpulannya agama ada dan tumbuh bersama interaksi sesama manusia. [27]

Sebagian mereka mengatakan, "Sesungguhnya agama tumbuh berkembang dari adanya keyakinan khurafat dan paganisme. Manusia mulai mengambil agama sedikit demi sedikit lalu berkembang setelah melalui beberapa generasi sampai menjadi sempurna menjadi agama tauhid. Sebagaimana proses perkembangan pada masalah keilmuan dan teknologi. Sampai-sampai sebagian mereka mengira bahwa akidah Tuhan yang satu merupakan akidah yang baru, dan hal itu merupakan akal khusus yang sudah sampai pada derajat yang tinggi.[28]

 Teori al-Ighriqi -berasal dari pemikiran as-Sufistha'iyyin-.

Mereka mengatakan, "Bahwa manusia pada awal perkembangannya hidup tanpa ada peraturan yang menghalangi, tidak ada pula makhluk yang mencegahnya. Manusia tidak tunduk kecuali kepada kekuatan yang besar. Lantas ketika dibuat suatu undang-undang, berkuranglah kerusuhan yang terjadi, akan tetapi kejahatan yang rahasia tetap ada tersebar. Dari situ mulailah para petinggi berfikir untuk menentramkan masyarakat dengan mengatakan bahwa di langit ada kekuatan abadi yang mampu melihat segala sesuatu, mendengar segala sesuatu, dan mengawasi segala sesuatu".[29]

 Teori Ruh.

Pencetus ide ini adalah Spencer dan Tailor. Secara singkat tentang teori ini,  bahwa manusia pada awal mulanya melihat dalam mimpinya, menyaksikan orang-orang yang telah meninggal. Selanjutnya mereka meyakini kalau arwah orang yang telah meninggal memiliki kemampuan untuk mengganggu ataupun memberikan manfaat. Dan mereka beranggapan bahwa ketika ada musibah yang menimpanya maka itu disebabkan oleh kemarahan arwah-arwah tersebut, yang menjelma pada arwah generasi pendahulunya, oleh karena itu mereka mendekatkan diri kepadanya dengan ritual ibadah karena takut atas kejelekannya dan sebagai bentuk menyucikan nenek moyangnya.

Sebagian diantara mereka ada yang menyatakan, "Sesungguhnya ibadah pertama kali dikenal  ditengah-tengah manusia dengan sebab mimpi-mimpi yang dilihatnya. Seperti  seakan-akan melihat saudaranya yang telah meninggal mendatanginya saat tidur sembari berkata, "Pergilah ke suatu tempat, di sana kau akan menemukan ini dan itu".

Ketika terbangun maka dia pergi ke tempat yang dilihat dalam mimpinya tersebut, dan di sana ia betul menemukan apa yang telah diberi tahu dalam mimpinya. Apabila terealisasi mimpi salah seorang dari para manusia, mulailah ia mengagungkan kuburan mayit yang memberitahunya. Jadilah para manusia beramai-ramai mengagungkan kuburan sang mayit. Sampai akhirnya mereka beribadah kepada mayit tersebut. Mereka meminta kebutuhannya, merendahkan diri kepadanya, serta memohon pertolongan kepadanya, dan beri’tikaf di sisi kuburnya".[30]

Dan Durkheim telah membantah teori ini dengan pernyataannya, "Bahwa keyakinan manusia kuno ini, tentang tertinggalnya arwah belum cukup untuk menumbuhkan keyakinan dan bingkai agama, karena peribadahan orang-orang terdahulu juga ditemukan pada umat zaman sekarang, hampir mirip apa yang dikerjakan oleh umat terdahulu, di samping adanya peribadatan kepada benda-benda lain. Bahkan sebagian umat ada yang sama sekali tidak menyembah nenek moyangnya, maka hal ini tidak cukup untuk menyatakan sebagai teori awal mulanya tumbuh akidah".[31]

 Teori Totemi.

Mereka berpendapat mengenai manusia, "Sesungguhnya manusia pada awalnya berasal dari hewan air yang hidup beribu-ribu abad yang lalu, dan masa itu dinamakan dengan manusia air. Setelah melewati masa yang cukup panjang, maka mulailah hewan air tersebut merayap ketepi pantai untuk memakan rerumputan yang tumbuh di sana kemudian kembali lagi ke laut dan hidup di dalamnya, seperti buaya. Disebutlah pada masa tersebut sebagai hewan amphibi. Kemudian setelah berlalu ribuan tahun hewan-hewan tersebut mulai bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan darat dan dapat bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama sampai akhirnya bisa meninggalkan kehidupan laut. Maka disebutlah pada masa ini sebagai Manusia darat, namun, belum bisa dibedakan dengan hewan-hewan darat yang sudah lebih dahulu dikenal. Sejak saat itu manusia itu berkembang dan menggunakan berbagai macam peralatan seperti batu dan selainnya. Maka menjadilah manusia mengalami evoluasi dan berkembang menjadi sosok hewan yang berbeda pada umumnya". [32]

Dan manusia ini yang berasal dari hewan -sebagaimana persangkaan mereka- mengetahui agama dengan cara yang mereka namakan dengan Totemiyah, yaitu sebuah lambang yang dibuat sebagai tanda bagi persatuan dan kekuatannya[33]. Dan berkeyakinan bahwa dialah nenek moyangnya yang semua manusia berasal dari keturuanannya. Maka suku itu mensucikan totem tersebut, dan tidak mengizinkan bagi para wanita dan orang asing untuk menyentuh totem. Mereka membawa totem ke dalam peperangan sebagai tempat untuk meminta pertolongan. Totem itu bisa berupa benda mati, tumbuh-tumbuhan, atau hewan. Haram bagi mereka untuk memakan dan membunuh totem tersebut.

Akan tetapi, teori ini telah dibantah habis-habisan oleh Lang, Taylor, Fukarot, Frizur dan Smith, bahwa totem tidak cocok dijadikan sebagai asal muasal adanya sebuah akidah. Karena setelah dilakukan penelitian yang banyak, menjadi jelas bahwa ada pada umat terdahulu yang menyembah totem dan tuhan yang lain. Dan bisa jadi mereka tidak beribadah kepada totem secara mutlak, walaupun ada tanda yang menunjukan kepada hal tersebut.[34]

 Sebuah teori yang dinamakan dengan Farwidiyah

Mereka mengatakan, "Sesungguhnya sebab adanya peribadahan untuk pertama kali ialah kejahatan yang dilakukan oleh seorang anak dengan membunuh bapaknya karena hasad dan benci, Karena sang bapak melarang anaknya untuk bisa ikut serta bersenang-senang bersama ibunya. Maka ia membunuh ayahnya, kemudian ia pun menyesal. Lalu mengingkari kalau dirinya yang melakukannya, selanjutnya dia mengharamkan untuk tidak mendekati istri-istri bapaknya sebagai bentuk realisasi perintah si mayit semasa hidupnya.

Dia lalu berdiam diri di sisi kubur bapaknya dengan memuliakan dan mengagungkannya. Dan ketika dia mendapati efek kejahatan yang dia lakukan, maka dia mengajak pada orang lain agar menjaga hidup mereka, untuk tidak sampai melakukan perbuatan yang sama, jangan sampai membunuh saudara atau bapaknya. Sehingga ajakan ini menjadi sebuah ajaran yang menyebar di kabilah-kabilah yang ada secara umum". [35] Dari sinilah manusia mengenal taklid, agama, dan ibadah secara berangsur-angsur.

Tidak samar lagi bahwa hal ini berasal  dari hawa nafsu yang tidak ada nilainya dalam fikiran manusia. Inilah secara ringkas ucapan-ucapan ilmuwan tersebut, yang mana mereka semua sepakat bahwa agama-agama yang ada berasal dari buatan manusia, bukan berasal dari sisi Allah 'azza wa jalla, dan menyimpulkan kalau keyakinan asal yang dianut oleh manusia adalah kesyirikan. Yang cukup mengherankan ternyata ada yang menyetujui cerita-cerita takhayul di atas dikalangan Cendekia Islam seperti Abbas Mahmud al-‘Aqad dalam kitabnya "Allahu jalla jalaluhu"[36], dan Abdulkarim al-Khatib dalam kitabnya "Qodhiyatul uluhiyah bainal falsafah wad din"[37], dan Tsuroya Manqus dalam kitabnya "at-Tauhid fii tathawurihi at-Tarikhi".[38] Mereka menganggap bahwa ada dua dalil yang mendasari pendapatnya :

Yang pertama: Analogi dengan penciptaan manusia. Sebagaimana manusia semakin canggih dan modern dalam produk-produk yang dihasilkannya, demikian pula agama juga mengalami tumbuh dan berkembang.

Yang kedua: Menurut catatan-catatan yang ada menunjukkan bahwa manusia terlebih dulu terjatuh ke dalam kesyirikan dan memiliki sesembahan yang begitu banyak, dan manusia baru mengenal tauhid di masa-masa belakangan.

 Bantahan Terhadap Teori Orang Kafir:[39]

Pendapat-pendapat tadi -sebagaimana telah jelas bagi pembaca- merupakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal dan teka-teki kosong, selaras sekali dengan pepatah yang mengatakan, "Sesungguhnya orang yang tenggelam akan berusaha memegang tali apa saja yang didapat". Dari mana mereka bisa mengambil kesimpulan dan menetapkan untuk dirinya kalau sejatinya mereka berasal dari hewan-hewan kecil dan kuman, yang kemudian berubah menjadi manusia? Siapakah yang memunculkan ide semacam ini? Mana rujukan yang mereka pakai? Kapankah sempurnanya hal itu? Bagaimana menemukan hal tersebut? Mengapa seekor semut tidak berevolusi menjadi gajah, atau labu yang pahit berubah menjadi anggur atau kurma?

Dan juga, mengapa hewan-hewan darat tidak berevolusi sebelum sampainya manusia yang berasal dari laut dan air yang berubah rasanya ke daratan? Apa yang menghalangi hewan-hewan darat dari evolusi dan tumbuh berkembang padahal mereka telah tinggal di daratan sebelumnya? Kemudian apa yang menghalangi manusia untuk bisa lebih berkembang mendapatkan sifat lain yang lebih sempurna dan mulia dari sifat manusia seperti sekarang? Tentunya harus ada kekuatan luar yang berada di atas sana dengan kekuatannya mampu merubah menjadi manusia, yang tidak merubah bentuknya sepanjang waktu, tidak memiliki kesamaan bentuk dan perawakan dengan bentuk jagung, nyamuk, ataupun gajah.

Dan kekuatan itulah yang menjadikan manusia tetap sebagai manusia, dan hewan yang tidak dapat berbicara tetap sebagai hewan, dan kurma tetap kurma, dan jagung tetaplah jagung, hingga akhirnya makhluk-makhluk tersebut memenuhi muka bumi. Sesungguhnya itu merupakan sunatullah dan engkau tidak akan menemukan perubahan dalam sunah -Nya. Maka sunah ilahi tersebut menjadikan bulan tetap pada tempatnya dan matahari pada tempatnya, bintang-bintang pada tempatnya, bumi, gunung-gunung dan lautan tetap pada tempatnya, dan kapal yang berlayar di atas lautan itu. Matahari yang telah ada jutaan tahun yang lalu juga sama dengan matahari yang ada pada hari ini, begitu juga bulan, bintang-bintang, bumi dan seluruh alam. Sesungguhnya itu adalah kekuatan ilahiyah, melemahkan mereka orang-orang kafir untuk mendatangkan bukti yang bisa memuaskan seorangpun yang selamat akal dan fitrahnya. Maha benar Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha Mulia Rabb yang pertama dan terakhir ketika berfirman;

) مَّآ أَشۡهَدتُّهُمۡ خَلۡقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَا خَلۡقَ أَنفُسِهِمۡ وَمَا كُنتُ مُتَّخِذَ ٱلۡمُضِلِّينَ عَضُدا ٥١] (الكهف : 51[

"Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong". (QS. al-Kahfi : 51)

Bantahan bagi mereka, bahwa metode yang ditempuh oleh cendekiawan yang berpendapat dengan teori evolusi hingga mendapatkan apa yang mereka hasilkan dari teori evolusinya, adalah metode yang salah. Karena perbandingan yang mereka lakukan tidak membedakan antara agama yang shahih dengan khurofat-khurofat yang berupa cerita-cerita mitos yang tersebar di kalangan bangsa-bangsa terdahulu, berupa arwah-arwah dan mimpi-mimpi dan yang serupa dengan hal itu. Mereka menjadikan akidah tauhid sama dengan akidah-akidah lain yang rusak. Mereka tidak membedakan antara Yahudi, Nasrani, dan penyembah berhala, Majusi, Budha, Hindu, dan seluruh jenis kesyirikan dari satu sisi, dan antara Islam dari sisi yang lain.

Kami membantah mereka, bahwa penelitian yang mereka lakukan dibangun di atas penaksiran dan perkiraan belaka, disebabkan karena sandaran yang mereka miliki berdasarkan pada hasil analisis penelitian terhadap umat-umat yang sudah punah ribuan tahun lalu. Yang mana hal itu terhitung sebagai alam ghaib yang tidak ada rujukan shahih untuk bisa mengetahuinya secara benar kecuali melalui jalan wahyu.

Oleh karena itu penelitian tersebut bertentangan dengan penelitian ilmiah dan manhaj ilmiah yang shahih. Karena mereka meneliti sesuatu yang tidak dimampui oleh akal, dan perkataan mereka masuk dalam konteks membicarakan sesuatu yang tidak diketahui. Mungkin untuk membeberkan hasil penelitian yang sesuai dengan hawa nafsu mereka[40].

Adapun bantahan kami terhadap teori ini berdasarkan penelitian para ulama yang menyatakan dengan teori asal manusia adalah tauhid, mengingkari teori evolusi. Maka kami katakan, "Ilmuwan Etnologi dan perbandingan agama terbagi menjadi dua kelompok:

Pertama: Kelompok yang berpegang dengan teori evolusi, dan ini telah berlalu penyebutannya.

Kedua: Kelompok lain dari kalangan cendekia yang berpegang dengan teori berlawanan secara sempurna dengan teori yang pertama. Di antara mereka adalah: Lang, Sraider, Frizr Smith, Betatzuni, dan Fukart. Dimana para ilmuwan tersebut di sela-sela penelitian yang mereka lakukan, telah mencapai kepada kesimpulan kalau asal muasal manusia adalah bertauhid bukan syirik.

Mereka menamakan teori tersebut dengan, "Nadhoriyatu fithriyatit tauhid wa asholatuhu" (teori fitrah tauhid dan asalnya adalah tauhid, pent.)[41]. Dan teori ini banyak didukung dan dibela oleh para ilmuwan, terlebih dengan penemuan-penemuan purba yang berhasil mereka temukan, yang menunjukkan bahwa ada suatu umat yang berasal dari kaum yang tidak mengetahui sesembahan yang banyak, dan mereka beriman kepada tuhan yang satu. Berdasarkan hal ini maka menjelaskan pada kita bahwa akidah mengesakan tuhan merupakan agama yang paling dahulu diketahui manusia, dan berbilangnya sesembahan serta penyembahan terhadap berhala merupakan hal yang baru atas akidah tauhid.

Adapun pendapat yang dipegangi oleh mereka orang-orang yang telah keluar dari kebenaran tentang lebih dahulunya penciptaan dari pada keagamaan, tidak diragukan lagi bahwa hal ini secara realita merupakan qiyas yang rusak dan pengambilan kesimpulan yang bathil, termasuk qiyas yang ada perbedaan, karena beberapa hal:

1.     Bahwa produk ciptaan berasal dari unsur benda materi, sedangkan, agama berasal dari sesuatu yang sifatnya maknawiyah (tidak bisa diraba). Lantas bagaimana bisa diqiyaskan dengan sesuatu yang maknawi, tidak bisa di tangkap indera, dengan sesuatu yang bersifat materi, bisa di tangkap panca indera?! Maka hal ini seperti orang yang mengqiyaskan antara udara dengan air.

2.     Produk manusia dihasilkan berdasarkan eksperiman penciptaan terbangun atas uji coba dan pengawasan, hasilnya baru tampak setelah sempurna pembangunnya. Berbeda dengan agama yang tidak terbangun di atas hal itu, dan tidak tampak hasilnya pada kehidupan dunia ini.

3.     Qiyas ini melazimkan dua hal :

a.     Manusia pada zaman ini bisa menjadi benar agamanya, dan murni tauhidnya, karena hasil karya manusia bisa sampai pada kemajuan yang begitu pesat. Akan tetapi kenyataanya tidak seperti itu, dimana manusia pada zaman ini lebih rendah sisi keagamaannya, kemurtadan begitu banyak dan menyebar dipenjuru dunia.

b.     Sebagaimana juga melazimkan tidak adanya kesyirikan di zaman ini, dan kenyataannya berbeda, di mana kesyirikan menyebar luas di belahan barat dan timur. Sedangkan apa yang mereka yakini -berdasar perkataan mereka yang bathil- berkaitan dengan teks-teks dan penyimpangan umat-umat terdahulu, maka dikatakan:

1)    Sesungguhnya hasil penemuan-penemuan purba ini masih belum cukup, masih kurang data yang menunjukkan seperti apa yang mereka sebutkan, kecuali hanya sekedar perkiraan dan eksperimen yang mencoba mengkaitkan antara data-data yang zig-zag saling berjauhan. Setidaknya penemuan-penemuan purba tersebut dan bekas jejak mereka menunjukan kalau umat-umat terdahulu telah terjatuh ke dalam kesyirikan, dan kami tidak mengingkari akan hal itu. Bahkan al-Qur’an dan as-Sunnah menegaskan dan menjelaskan hal tersebut. Adapun ritual ibadah manusia yang pertama kali serta akidahnya, tidak mungkin dapat diketahui hanya melalui bekas jejak manusia purba,  hingga menyimpulkan pada akidah dan ritual ibadah yang dilakukan oleh mereka secara pasti dan ilmiah.

2)    Dan yang lebih menguatkan lagi, kalau umat-umat terdahulu berubah dalam peribadatannya, dari mentauhidkan Allah Shubhanahu wa ta’alla menuju kesyirikan, dan dari kesyirikan menuju ketauhidan. Dan mengetahui peribadatan umat-umat terdahulu bukan berarti  mereka tidak diketahui selain dari ritual ibadahnya saja, tapi, yang ingin kita tekankan bahwa mereka berada dalam peribadatannya dimasa itu saja.

3)    Bahwa penemuan-penumuan purba dan perbedaan umat manusia pada zaman purba yang dijadikan sebagai argumen atas terjadinya kesyirikan pada umat-umat terdahulu oleh sebagian ilmuwan, begitu juga digunakan sebagai dalil yang menunjukan adanya keyakinan mengesakan Tuhan pada sebagian ilmuwan yang lainnya. Semisal Lank, Sraider, Frizer, Smith, Betatzuni, Fokart, dan yang lainnya. Dimana penelitian mereka menghasilkan bahwa pada asalnya manusia berada di atas tauhid bukan kesyirikan. Mereka menamakan teorinya (nadhoriyatu fithriyatit tauhid wa ashalatuhu)[42]. Dengan teori ini sekelompok besar ulama merasa terbantu dan mereka menguatkan teori tersebut dengan apa yang mereka capai dari penemuan-penemuan purba dan fosil-fosilnya, menunjukkan bahwa ada umat-umat yang berasal dari kaum yang tidak mengetahui sesembahan yang banyak, dan mereka beriman kepada tuhan yang satu. Berdasarkan hal ini maka menunjukan juga akidah ke Esa-an tuhan merupakan agama yang paling dahulu diketahui manusia, dan berbilangnya sesembahan serta penyembahan terhadap berhala merupakan hal yang baru atas akidah tauhid[43].

Dengan pemaparan yang cukup panjang ini, menjadi jelas atas batil dan rusaknya ucapan serta pendapat ini yang melenceng dari kebenaran. Dan argumen yang dijadikan sebagai dalil oleh mereka tidak lebih hanyalah sekedar omong kosong dan kesalahan yang tidak dibangun di atas kebenaran yang jelas dan nyata, sebagaimana yang telah kami sebutkan. Yaitu bahwa manusia pada asalnya  adalah bertauhid. Dan tauhid adalah sesuatu yang pertama kali diketahui oleh manusia. kemudian mulailah terjadi penyimpangan yang berangsur-angsur berubah menjadi kesyirikan. Ini adalah kebenaran yang sudah tidak samar lagi.

Kemudian ini adalah perkataan yang bersesuaian dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, fitrah, dan akal yang sehat serta sesuai dengan dalil yang shahih. Sungguh ada sebagian para cendekia dan ilmuwan sejarah dan para peneliti agama baik dari kalangan barat ataupun yang lainnya, dan berikut ini akan kami bawakan sebagian diantaranya:

1)         Admison Hiubel seorang peneliti dalam bidang studi agama-agama masa lampau mengatakan, "Sudah lewat masa di mana seseorang pada zaman dahulu menaruh perhatian bahwa ia tidak mampu untuk memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan Dzat yang suci yaitu Allah Shubhanahu wa ta’alla yang maha agung". Tailor telah keliru ketika menjadikan pemikiran agama tauhid merupakan hasil dari kemajuan peradaban dan kemuliaan ilmu pengetahuan. Dan membuat hal itu sebagai hasil dari perkembangan dari peribadahan kepada arwah dan orang, kemudian menyembah banyak tuhan, yang terakhir secara kebetulan memperoleh pemikiran tauhid.

2)         Seorang peneliti yaitu Andri Lang yang berasal dari abad yang lalu menuturkan, "Sesungguhnya manusia di Australia, Afrikia, India tidaklah memiliki kepercayaan terhadap Allah Shubhanahu wa ta’alla yang maha agung, seperti keyakinan yang  tumbuh di atas asas keyakinan Kristen". Pemikiran ini dikuatkan oleh Ilmuan Australia (William Smith) ketika menyebutkan dalam kitabnya (Ususu fikrotit tauhid) kumpulan bukti-bukti dan dalil-dalil yang dikumpulkan dari sekian tempat. Dan hasilnya menguatkan bahwa ibadah yang dilakukan pertama kali oleh manusia yaitu menuju Allah al-Wahid al-‘Adziem.

Dr. H. Urang Kay -seorang ulama melayu di Indonesia- mengatakan, "Di tempat kami negeri Arkhabil melayu ada bukti yang kuat yang menunjukkan bahwa penduduk negeri kami dahulu kala menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha Esa. Hal itu sebelum masuknya Islam ke dalam negeri-negeri tersebut, dan sebelum masuknya agama Nasrani. Adapun aqidah penduduk pulau Kalimantan, di Indonesia maka akidahnya tercampuri oleh agama Hindu yang bercampur dengan aroma Islam. Bersamaan dengan itu bahwa tauhid merupakan ibadahnya penduduk pulau ini yang merupakan asal muasal nenek moyangnya sebelum masuknya Hindu atau Islam ke pulau tersebut.

Kalau kita kembali kepada bahasa yang dipakai oleh penduduk pulau ini sebelum menggunakan bahasa Sansekerta atau sebelum masuknya Hindu, atau sebelum masuknya Islam, kita akan merasa  yakin bahwa gambaran akidah nenek moyang kita -menurut penuturan dan data yang valid- bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam akidah mereka adalah Esa tidak ada sekutu dengan -Nya". [44]



[1] . HR Imam Ahmad dalam Musnad 5/265, 266. Syaikh Albaniy mengatakan dalam takhrij al-Misykat 3/122 : Isnadnya shahih).

[2] . Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa : 20/106-107

[3] . Ath-Thabariy dalam Jami’ul Bayan : 2/232, lihat juga : 11/97. Az-Zamakhsyariy dalam al-Kasyaf : 1/355.

[4] . Ubay bin Ka’ab radiyallahu ‘anhu adalah salah seorang sahabat dari kalangan Anshar. Kunyahnya Abul Mundzir. Dahulunya seorang penulis di zaman jahiliyah, menjadi juri tulis wahyu bagi Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Posturnya gemuk dan pendek, rambut dengan jenggot yang telah memutih. Tidak berubah ubannya. Diperselisihkan waktu wafatnya. Ada yang mengatakan beliau wafat saat kekhalifahan Umar tahun 22 H, Umar berkata, "Pada hari ini telah wafat pemimpin kaum muslimin. Yang lain lagi mengatakan, ”wafat pada tahun 30 H”. Lihat yang disebutkan oleh Ibnu Qutaibah dalam al-Ma’arif hal.15

[5]. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Adzim : 1/250.

[6] . Ibid, 1/250.

[7]. Ibid, 2/411.

[8]. Ath-Thabariy dalam tafsirnya, 21/40.

[9]. Lihat pengertian mereka pada hal. 261-267 (kitab asli, pent.)

[10]. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa : 28/203 dan cermati apa yang disebutkan oleh Ibnul Qoyyim dalam Madarijus Salikin : 3/447, Ighatsatul Lahafan : 2/203, dan dalam Tafsir al-Qoyyim : 201. Ibnu Abil Izz dalam syarah Thahawiyah : 22.

[11]. Ibnu Jarir dalam Jami’ul Bayan : 1/193, dan lihat juga 2/334, 4/275. Dan al-Hakim dalam al-Mustadrak : 2/546, dan beliau berkata,”Shahih sesuai syarat al-Bukhari akan tetapi ia tidak mengeluarkan haditsnya. Disepakati oleh adz-Dzahabi dan dinilai shahih oleh Ibnul Qoyyim dalam Ighatsatul Lahafan : 2/620.

[12]. Ath-Thabariy dalam tafsirnya : 2/194, dan Ibnul Qoyyim, Ighatsatul Lahafan : 2/620-621, dan sanadnya shahih.

[13]. Beliau adalah ‘Iyadh bin Himar bin Muhammad bin Sufyan bin Mujasyi’ at-Tamimiy al-Mujasyi’iy al-Bashriy, seorang sahabat, memiliki 30 hadits yang berasal dari Nabi. Perhatikan apa yang disebutkan oleh al-Khazrajiy dalam al-Khulashah, 301.

[14]. HR. Muslim dalam shahihnya, Kitab al-Jannah wa shifatu na’imiha wa ahliha, Bab ash-Shifatu alatiy yu’rofu biha fi ad-Dunya ahlul jannati wa ahlun naari, 4/2197 nomor 2865

[15]. Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, nama beliau adalah ‘Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausiy, penghafal hadits, beliau memiliki 5374 hadits yang diriwayatkan dari Nabi. Hadits yang telah disepakati oleh Bukhari & Muslim ada 325 hadits. Al-Waqidy mengatakan, "Wafat pada tahun 59 H dalam usia 78 tahun". Lihat biografinya seperti dicantumkan oleh al-Khazrajiy dalam kitab al-Khulashah, 462.

[16]. HR. Bukhari dalam al-Janaiz dengan lafadz, ”Kullu mauludin” nomor. 1358, 1385, dan dalam tafsir dengan lafadz ”au”,  “Ma min mauludin” nomor. 4775, dalam al-Qodar dengan lafadz “wa” dan “Ma min mauludin” nomor. 6599. HR. Muslim dalam al-Qodar dengan lafadz “wa” dan “Ma min mauludin” 6/207, nomor. 2658. HR. Abu Dawud dalam Kitabus Sunnah, dengan lafadz “wa” dan “Kullu mauludin” nomor. 4714. HR Tirmidzy dalam Kitabul Qodar, dengan lafadz “au” dan “Kullu mauludin” nomor. 2137. HR Malik dalam al-janaiz nomor 52. HR. Ahmad dalam al-Musnad : 2/233, 253, 275, 282, 315, 246, 393, 410, 481 dan 3/353, 435 dan 4/24.

[17]. Ibnu Taimiyah dalam al-Fatawa : 4/245, dan lihat yang beliau sebutkan dalam Bayanu Talbisi al-Jahmiyah : 2/480, dan apa yang disebutkan oleh Syaikh Abdulaziz Nashir ar-Rasyid dalam at-Tanbihat as-Saniyah, hal. 11

[18]. Ibnul Qayyim, Ighatsatul Lahafan : 2/107

[19]. Idem, 2/108. Lihat yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam al-Fatawa : 4/32, dan ad-Dinu al-Khalish : 3/180

[20]. Beliau adalah Amirul Mu’minin dalam bidang hadits. Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il al-Bukhariy al-Ju’fiy nisbah kepada Tuannya yang memasukkan ke dalam Islam. Menulis hadits di Khurasan, al-Jabal, Irak, Hijaz, Syam, dan Mesir. Mengarang kitabnya yang berjudul al-Jami’ ash-Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih setelah al-Qur’an. Wafat tahun 194H. lihat yang disebutkan oleh al-Khazrajiy dalam al-Khulashah, hal. 327

[21]. Yakni lupa sebab pembuatan patung-patung mereka, yaitu sebagai motivasi agar giat beribadah ketika teringat dengan mereka dan ibadahnya

[22]. Al-Bukhariy dalam Shahihnya : 8\667, Kitabut tafsir, Bab

(وَدّٗا وَلَا سُوَاعٗا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسۡرا) denga nomor . 4920

[23]. Perhatikan yang disebutkan oleh Muhammad Abdullah Daraz dalam ad-Din, hal. 119-132. An-nasyar dalam Nasy’atud din, hal. 70-200.

[24]. Lihat yang disebutkan oleh al-Khalaf, Su’ud bin Abdul aziz : Dirasatun fil yahudiyah wan nashraniyah. Hal. 20.

[25]. Dalam aturan .

[26]. Cermati apa yang disebutkan oleh Basymil, Muhammad Ahmad : al-Islam wa nadhariyatu Darwin, hal. 43.

[27]. Lihat apa yang disebutkan oleh H.J. Walz : Ma’alim Tarikh al-Insaniyah : 123, terjemah : Abdulaziz Taufiq.

[28]. Cermati apa yang dinukilkan  oleh Muhammad Abdullah Daraz, ad-Din, hal. 112.

[29]. Cermati apa yang disebutkan oleh Muhammad Abdullah Daraz, ad-Din, hal. 86.

[30]. Lihat apa yang disebutkan oleh ‘Abdulqodir Syaibah al-Hamd dalam al-Adyan wal Firoq wal Madzahib al-Mu’ashiroh, hal. 11 dengan perubahan, dan perinciannya dalam Ma’alim Tarikh al-Insaniyah H.J.Walz.

[31]. Cermati apa yang disebutkan oleh Muhammad Abdullah Daraz, ad-Din, hal. 139,140.

[32]. Lihat apa yang disebutkan oleh ‘Abdulqodir Syaibah al-Hamd dalam al-Adyan wal Firoq wal Madzahib al-Mu’ashiroh, hal. 11.

[33]. Lihat rujukan yang sama, hal. 12.

[34]. Muhammad Abdullah Daraz dalam ad-Din, hal. 159-165, an-Nasyar dalam Nasy’atud Din, hal. 100-174.

[35]. Lihat apa yang disebutkan oleh Syalhat Yusuf Basil, dalam ‘Ilmu ijtima’i ad-Din, hal. 86 dengan perubahan.

[36]. Lihat apa yang disebutkan pada hal. 7, 35.

[37]. Cermati apa yang disebutkan pada hal. 70-95, 178-184, dan di dalam al-Qashash al-Qur’aniy  miliknya hal. 279-284.

[38]. Rujuk apa yang saya sebutkan pada hal. 91, 96, 136.

[39]. Saya memperoleh faidah tulisan Syaikh Dr. Ghalib al-‘Awajiy  dalam as-Sunnah al-Manhajiyah ‘inda Dirasatil Adyan.

[40]. Cermati apa yang disebutkan oleh Daraz, Muhammad ‘Abdullah : ad-Din, hal. 118. An-nasyar dalam Nasy’atud din, hal. 180. Dan Anwar al-Jundiy : Akhta’ul manhaj al-Ghorbiy al-Wafid, hal. 79

[41]. Lihat apa yang disebutkan oleh Daraz, Muhammad ‘Abdullah : ad-Din, hal. 112. An-Nasyar : Nasy’atud din, hal. 202.

[42]. Daraz, ad-Din, hal. 112. An-Nasyar, Nasy’atud din, hal. 202

[43]. Cermati apa yang disebutkan oleh Malkawiy, ‘Aqidatut tauhid fil Qur’anil Karim, hal. 63

[44] Lihat kitab : at-Tafkir ad-Diniy fil ‘alaam qoblal Islam. Dr. Urang Kay. Diterjemahkan oleh Abdurrauf Syabliy, 28-10. Dengan perubahan