Islam Pondasi dan Landasannya

Penyusun : Dr. Muhammad Abdullah Shaleh As Suhaim

Terjemah :  Zulfi Askar . Lc

Editor : Muh. Lutfi Firdaus & Eko Haryanto Abu Ziyad

Islam

Pondasi dan Landasannya

 Muqaddimah

          Segala puji untuk Allah SWT semata, kita memuji, meminta pertolongan,  ampunan dan meminta perlindungan kepada-Nya dari kejelekan diri serta keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa yang mendapat petunjuk dari Allah SWT maka tidak akan ada yang dapat menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan-Nya tidak akan ada yang bisa memberinya petunjuk. Sesungguhnya aku bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba serta utusan-Nya, semoga salam tercurahkan kepadanya.

          Amma ba’du: Allah SWT telah mengutus para rasul-Nya untuk seluruh alam semesta, agar umat manusia tidak memiliki alasan setelah diutusnya para rasul tersebut, Allah SWT turunkan beberapa kitab suci sebagai petunjuk, rahmat, cahaya dan juga sebagai obat. Pada zaman dahulu para rasul diutus secara khusus hanya untuk kaumnya,  mereka menjaga kitabnya masing-masing, oleh karena itu terhapuslah kitab-kitabnya, dirubah dan digantillah syari’atnya, karena ia diturunkan hanya untuk umat tertentu dan dalam waktu yang terbatas.

          Kemudian Allah SWT khususkan nabi-Nya Muhammad dengan menjadikannya sebagai penutup para nabi dan rasul, Allah SWT berfirman:

" ما كان محمد أبا أحد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبيين "

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antaramu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi”.

          Nabi Muhammad SAW pun dimuliakan dengan Kitab terbaik diantara kitab-kitab yang pertah diturunkan, yaitu: Al-Qur’anul Adzim, Allah SWT telah menjamin untuk menjaganya, Dia tidak menyerahkan penjagaannya terhadap hamba-hamba-Nya, Dia berfirman:

" إنا نحن نزّلنا الذكر وإنا له لحافظون "

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

          Syari’atnya dijadikan suatu yang kekal hingga hari kiamat. Dia Yang Maha Suci- menjelaskan bahwa di antara keharusan tetapnya syari’at ini adalah dengan mengimaninya, berdakwah kepadanya dan bersabar terhadapnya. Di antara manhaj Nabi Muhammad dan manhaj para pengikut setelahnya adalah berdakwah kepada Allah SAW dengan hujjah yang nyata. Dia berfirman menerangkan tentang manhaj ini:

" قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة أنا ومن اتبعني وسبحان الله وما أنا من المشركين "

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.”

          Allah SWT pun memerintahkannya untuk bersabar atas gangguan yang ada di jalan-Nya, lalu Dia berfirman: “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para Rasul.”

Dia yang Maha terpuji berfirman:

" يا أيها الذين آمنوا اصبروا وصابروا ورابطوا واتقوا الله لعلكم تفلحون "

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”.

          Sebagai salah satu bukti mengikuti manhaj Ilahi Yang Mulia, maka saya menulis buku ini untuk berdakwah kepada jalan Allah, sebagai penerang kepada Kitab Allah dan petunjuk kepada sunnah rasul-Nya. Di dalam buku ini saya terangkan dengan singkat kabar tentang penciptaan alam, penciptaan manusia dan kemuliaannya, diutusnya para rasul kepada mereka dan juga tentang keadaan agama-agama terdahulu. Kemudian setelah itu saya menjelaskan definisi Islam secara makna dan rukun-rukunnya.  Siapa saja yang menginginkan petunjuk, maka inilah dalil-dalilnya, semua ada dihadapanya, Siapa saja yang menginginkan keselamatan, aku jelaskan kepadanya jalannya. Siapa saja yang berkeinginan untuk mengikuti jejak para nabi, rasul dan orang-orang shaleh, maka inilah jalan mereka. Dan siapa saja yang tidak menyukai mereka, maka sesungguhnya dia telah membodohi dirinya sendiri dan menempuh jalan kesesatan.

          Sesunguhnya setiap penganut sebuah aliran pasti akan mengajak orang lain agar menganut aliranya dan mengklaim bahwa kebenaran berada padanya, bukan pada selainnya. Setiap pengikut suatu keyakinan akan mengajak orang lain agar mengikuti keyakinanya dan mengagungkan pimpinan keyakinanya.

          Adapun seorang muslim, dia tidak akan berdakwah untuk mengajak orang lain mengikuti jalan pribadinya, karena dia tidak memiliki sebuah jalan yang khusus baginya, akan tetapi agamanya adalah agama Allah yang telah diridhaiNya.  Allah berfirman:

" إن الدين عند الله الإسلام "

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.”

          Dia tidak akan mengajak orang untuk mengagungkan seorang manusia, setiap orang dalam agama Allah adalah satu derajat, tidak ada perbedaan di antara mereka kecuali dengan takwa, bahkan dia akan mengajak orang lain untuk menempuh jalan Tuhan mereka, beriman kepada para rasul-Nya, mengikuti syari’at yang telah diturunkan-Nya kepada Muhammad SAW penutup para rasul, dengan perintah agar disampaikan kepada umat manusia seluruhnya.

          Dengan tujuan tersebut, saya siapkan buku ini untuk berdakwah kepada agama Allah yang telah diridhai-Nya, dan menurunkan penutup para rasul-Nya, sebagai petunjuk bagi orang yang menginginkan hidayah dan sebagai dalil bagi orang yang menginginkan kebahagiaan. Demi Allah, seluruh makhluk tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya kecuali pada agama ini dan tidak pula akan mendapatkan ketenangan kecuali bagi yang telah mengimani Allah sebagai Tuhannya, Muhammad sebagai seorang Rasul dan Islam sebagai agama. Telah terbukti bahwa milyaran manusia yang telah mendapatkan hidayah kepada Islam –sejak zaman dahulu sampai sekarang- tidak pernah merasakan kehidupan yang sebenarnya kecuali setelah memeluk Islam dan tidak pula dapat merasakan kebahagiaan kecuali dalam naungan Islam, karena setiap orang berusaha untuk mencari kebahagiaan dan ketenangan serta berusaha untuk mendapatkan kebenaran. Saya susun buku ini, seraya memohon kepada Allah agar menjadikan amalan ini sebagai suatu keikhlasan untuk dapat melihat wajah-Nya dan mengajak kepada jalan-Nya. Dan menjadikan buku ini bisa diterima oleh pembaca dan menjadikannya sebagai amal shaleh yang bermanfaat bagi penulisnya di dunia dan akhirat.

          Saya telah memberikan izin kepada siapapun yang ingin mencetaknya dengan bahasa apa saja, atau menerjemahkannya kedalam bahasa apapun, dengan syarat hendaklah ia memindahkannya dengan penuh amanah ke dalam bahasa yang  ia terjemahkan. Saya harap hendaklah ia memberi saya satu buah dari hasil terjemahannya tersebut agar bisa diambil manfaat darinya dan juga agar usaha yang sama tidak terulang.

          Sebagaimana juga saya berharap kepada siapa saja yang memiliki kritik, ataupun mendapati kesalahan, baik itu dari buku aslinya yang berbahasa Arab atau dari bahasa apapun dari terjemahan buku ini, hendaklah ia menghubungi saya melalui alamat yang disebutkan di sini.

          Segala puji bagi Allah di awal dan akhir, secara zahir maupun batin, bagi-Nyalah pujian secara terang-terangan ataupun tersembunyi, bagi-Nya pujian di awal dan akhir, bagi-Nya pujian sepenuh langit, bumi serta sepenuh apa saja yang dikehendaki oleh Rabb kita. Salawat untuk Nabi kita Muhammad, sahabatnya serta orang-orang yang berjalan di atas manhajnya, menempuh jalannya, dan semoga Allah SWT memberikan keselamatan hingga hari pembalasan

 Jalan yang Mana?

          Ketika seorang manusia menjadi dewasa dan berakal, maka akan bermunculanlah ke dalam akal fikirannya banyak pertanyaan seperti: Dari mana aku datang? Untuk apa aku datang? Ke mana aku akan kembali? Siapa yang menciptakanku dan menciptakan segala sesuatu yang berada di sekelilingku? Siapa yang memiliki alam semesta dan siapa yang mengaturnya? Dan lain sebagainya dari pertanyaan yang seperti itu.

          Seorang manusia tidak mungkin dapat mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti ini, ilmu pengetahuan terkinipun tidak mungkin untuk dapat sampai kepadanya, karena urusan yang seperti ini termasuk hal yang berada dalam lingkup agama, oleh karena itu muncullah banyak riwayat, khurafat, serta cerita yang bermacam-macam sekitar permasalahan ini, yang keseluruhannya menambah keraguan serta kebingungan bagi umat manusia. Tidak mungkin ada seseorang yang mendapatkan jawaban cukup dan mencakup atas permasalahan seperti ini kecuali apabila ia diberi hidayah oleh Allah kepada agama shahih yang datang dengan pembahasan terinci atas permasalahan ini. Karena permasalahan ini termasuk dari perkara gaib, dan hanya agama yang haqlah yang akan menunjukkan kebenaran dan mengatakan kejujuran, karena hanya ialah satu-satunya dari Allah dan diwahyukan kepada para nabi dan rasul-Nya, oleh karena itulah, merupakan suatu kewajiban bagi umat manusia untuk menuju agama yang hak, mempelajari serta beriman kepadanya, agar kebingunganan menjadi sirna darinya, keraguan terhapus dan dia mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus.

          Pada lembaran-lembaran berikutnya saya akan mengajak Anda untuk mengikuti jalan Allah yang lurus, dan akan saya hadirkan di hadapan Anda sebagian dari dalil, petunjuk serta hujjahnya, agar Anda bisa melihatnya secara langsung, dengan seksama dan penuh ketenangan.

 Eksistensi(keberadaan), Rububiyyah, Ke-Esaan dan Uluhiyyah Allah yang Maha Suci*

          Banyak manusia yang menyembah tuhan-tuhan berupa makhluk yang dibentuk, seperti pohon, batu, dan manusia; oleh karenanya orang-orang Yahudi dan musyrik bertanya kepada Rasulullah tentang sifat Allah dan terbuat dari apa Dia, maka Allah turunkan firman-Nya:

" قل هو الله أحد  . الله الصمد  . لم يلد ولم يولد  . ولم يكن له كفوًا أحد "

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (1) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (2) Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan (3) dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

          Dia-pun memperkenalkan diri kepada hamba-hamba-Nya dalam firman-Nya:

" إن ربكم الله الذي خلق السموات والأرض في ستة أياّم ثمّ استوى على العرش يغشي الليل النهار يطلبه حثيثا والشمس والقمر والنجوم مسخرات بأمره ألا له الخلق والأمر تبارك الله ربّ العالمين "

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”

Kemudian Allah Dzat yang Mulia perkataan-Nya berfirman:

" الله الذي رفع السموات بغير عمد ترونها ثمّ استوى على العرش وسخّر الشمس والقمر كلّ يجري لأجل مّسمّى يدبّر الأمر يفصّل الآيات لعلكم بلقاء ربكم توقنون.  وهو الذي مدّ الأرض وجعل فيها رواسي وأنهارًا ومن كلّ الثمرات جعل فيها زوجين اثنين يغشي الليل النهار "

“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang.”

Selanjutnya sampai kepada firman-Nya:

" الله يعلم ما تحمل كلّ أنثى وما تغيض الأرحام وما تزداد وكلّ شيء عنده بمقدار. عالم الغيب والشهادة الكبير المتعال "

“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya (8) Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.”

Allah Dzat Yang Maha Mulia dan segala puji bagi-Nya berfirman:

" قل من ربّ السموات والأرض قل الله قلْ أفاتّخذتم من دونه أولياء لا يملكون لأنفسهم نفعًا ولا ضرّا قلْ هلْ يستوي الأعمى والبصير أم هل تستوي الظلمات والنور أم جعلوا لله شركاء خلقوا كخلقه فتشابه الخلق عليهم قل الله خالق كلّ شيء وهو الواحد القهّار "

“Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?” katakanlah: “adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”

Allah SWT jadikan bagi mereka ayat-ayat-Nya sebagai saksi dan bukti, dengan berfirman:

" ومن آياته الليل والنهار والشمس والقمر لا تسجدوا للشمس ولا للقمر واسجدوا لله الذي خلقهن إن كنتم إياه تعبدون  .فإن استكبروا فالذين عند ربّك يسبّحون له بالليل والنهار وهم لا يسأمون  . ومن آياته أنك ترى الأرض خاشعة فإذا أنزلنا عليها الماء اهتزّت وربت إن الذي أحياها لمحيي الموت إنه على كلّ شيء قدير "

“dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi berujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah (37) jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang disisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu (38) dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air diatasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Serta firmah Allah SWT:

" ومن آياته خلق السموات والأرض واختلاف ألسنتكم وألوانكم إن في ذلك لآيات للعالمين .ومن آياته منامكم بالليل والنهار "

“dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui (22) dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu diwaktu malam dan siang hari”

          Dia mensifati diri-Nya dengan cirri-ciri keindahan serta kesempurnaan, firman-Nya:

" الله لا إله إلاّ هو الحي القيوم لا تأخذه سنة ولا نوم له ما في السموات وما في الأرض من ذا الذي يشفع عنده إلاّ بإذنه يعلم ما بين أيديهم وما خلفهم ولا يحيطون بشيء من علمه إلاّ بما شاء "

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang dilangit dan dibumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at disisi Allah tanpa idzin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.”

Selanjut firman-Nya:

“Yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-Nya; Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk).”

Serta firman-Nya:

 “Dialah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

          Inilah Rabb, Tuhan yang maha Bijaksana, Maha Berkuasa yang telah memperkenalkan diri kepada hamba-hamba-Nya, menunjukkan kepada mereka ayat-ayat-Nya sebagai saksi dan keterangan, mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat sempurna yang menunjukkan akan keberadaan-Nya, kerububiyyahan-Nya serta keesaan-Nya, sejalan dengan syari’at para Nabi, tuntutan akal serta fitrah para makhluk. Dan juga hal tersebut disepakati oleh seluruh umat manusia, dan saya akan menerangkan kepada anda sebagian darinya sebagaimana berikut ini. Adapun dalil tentang eksisitensi (wujud/keberadaan), serta Rububiyyah-Nya adalah:

 1- Penciptaan alam ini dan apa yang ada di dalamnya berupa keindahan penciptaan:

          Wahai manusia, Anda dikelilingi oleh alam yang agung ini, dan ia terdiri dari langit, bintang yang beredar dan bumi membentang yang padanya terdapat serpihan-serpihan berdampingan yang berbeda dan tumbuh sesuai dengan perbedaannya, padanya terdapat berbagai jenis buah-buahan, dan pada setiap makhluk akan Anda dapati bahwa ia berpasang-pasangan.. alam ini tidak menciptakan dirinya sendiri, jadi merupakan suatu kepastian akan adanya Pencipta, karena ia tidak bisa menciptakan dirinya sendiri, maka siapakah yang menciptakannya dengan keteraturan yang menakjubkan ini, menyempurnakannya dengan kesempurnaan yang indah dan menjadikannya sebagai tanda bagi mereka yang melihatnya melainkan Allah Yang Esa dan Berkuasa yang tidak ada Rabb selain-Nya, Firman-Nya:

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (35) ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).”

          Kedua ayat ini mencakup tiga muqaddimah:

1        Apakah mereka diciptakan dari sesuatu yang tidak ada?

2        Apakah mereka menciptakan dirinya sendiri?

3        Apakah mereka yang menciptakan langit dan bumi?

Apabila mereka diciptakan dari sesuatu yang tidak ada, tidak menciptakan diri mereka sendiri dan tidak pula menciptakan langit dan bumi, maka dipastikan kalau dia harus menetapkan keberadaan Pencipta yang menciptakan mereka dan menciptakan langit serta bumi, Dialah Allah Yang Esa lagi Maha Perkasa.

 2- Fitrah

          Seluruh makhluk yang diciptakan memiliki fitrah untuk menetapkan keberadaan Pencipta, bahwasanya Dia lebih Mulia, lebih Besar, lebih Agung dan lebih sempurna dari segala sesuatu, perkara ini melekat dalam fitrah yang kelekatannya melebihi ilmu-ilmu pasti dan tidak memerlukan dalil kecuali bagi dia yang telah terganggu fitrahnya dan mengalami kondisi yang memalingkan fitrahnya dari kebenaran Allah.

Allah SWT berfirman:

" فطرة الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيّم "

“...(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus.”

Rasulullah SAW bersabda:

" ما من مولود إلاّ يولد على الفطرة, فأبواه يهودانه أو ينصّرانه أو يمجّسانه كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء هل تحسون فيها من جدعاء؟ ثمّ يقول أبو هريرة واقرؤا إن شئتم: فطرة الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله "                                                                                              

“Tidak ada seorangpun yang dilahirkan kecuali berada dalam fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani ataupun Majusi, sebagaimana seekor binatang ternak yang melahirkan anak yang jam’a, apakah kalian merasa adanya hidung yang dipotong pada hewan tersebut?

Abu Hurairah berkata: jika berkehendak maka bacalah oleh kalian: (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.”

Beliau  besabda:

" ألا إن ربي أمرني أن أعلّمكم ما جهلتم مما علمني يومي هذا: كلّ مال نحلته عبدًا حلال وإنّي خلقت عبادي حنفاء كلهم وإنهم أتتهم الشياطين فاجتالتهم عن دينهم وحرمت عليهم ما أحللت لهم, وأمرتهم أن يشركوا بي ما لم أنزل به سلطانًا "

“Ketahuilah bahwa Tuhan-ku memerintahkanku untuk mengajarkan kepada kalian apa yang tidak kalian ketahui dari apa yang Dia ajarkan padaku hari ini: setiap harta yang Aku anugrahkan kepada seorang hamba adalah halal, dan Aku ciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus seluruhnya, lalu mereka didatangi oleh setan yang mengajak untuk berpaling dari agamanya, dia haramkan kepada mereka apa yang Aku halalkan dan memerintah mereka untuk menyekutukan-Ku sebelum turunnya kekuasaan”.

 3- Ijma’ Seluruh Umat:

          Telah sepakat seluruh umat –yang terdahulu dan kini- bahwa alam ini memiliki Pencipta, dan Dia adalah Allah Tuhan Penguasa Alam dan Dialah Pencipta langit dan bumi, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam menciptakan, sebagaimana tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya.

          Tidak pernah dinukil dari umat manapun dari umat-umat terdahulu yang menyatakan bahwa mereka berkeyakinan bahwa tuhan-tuhan mereka bersekutu bersama Allah dalam menciptakan langit dan bumi, bahkan mereka berkeyakinan bahwa Allah lah yang menciptakan mereka dan menciptakan tuhan-tuhan mereka, tidak ada Ilah dan tidak pula Pemberi rejeki selain-Nya, manfaat serta mudharat berada di tangan-Nya, Allah berfirman ketika mengabarkan tentang pengakuan orang-orang musyrik akan Rububiyyah-Nya:

" ولئن سألتهم من خلق السموات والأرض وسخّر الشمس والقمر ليقولنّ الله فأنى يؤفكون .الله يبسط الرزق لمن يشاء من عباده ويقدر له إن الله بكل شيء عليم  . ولئن سألتهم من نزّل من السماء ماء فأحيا به الأرض من بعد موتها ليقولنّ الله قل الحمد لله بل أكثرهم لا يعقلون "

“...dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar) (61) Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mngetahui segala sesuatu (62) dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).”

Berfirman Yang Maha Mulia Pujian atas-Nya:

" ولئن سألتهم من خلق السموات والأرض ليقولنّ خلقهنّ العزيز العليم "

“...dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”

 4- Tuntutan Akal:

          Tidak ada jalan bagi akal kecuali dengan menetapkan bahwa alam semesta ini memiliki Pencipta Yang Agung, karena akal akan berpendapat bahwa alam ini diciptakan dan diadakan, ia tidak menciptakan dirinya sendiri dan yang diadakan menuntut adanya yang mengadakan.

          Manusia menyadari bahwa dirinya pernah melewati berbagai musibah dan kesulitan, tatkala ia tidak berdaya dalam menghadapinya, maka ia hadapkan wajahnya ke langit dan meminta pertolongan kepada Rabb-nya agar dilapangkan dari kesusahan, disingkap darinya tabir kesedihan, walaupun pada kebanyakan harinya ia mengingkari Rabb-nya dan menyembah berhala, ini adalah fakta yang tidak dapat terbantahkan dan harus diakui dan ditetapkan, bahkan binatangpun tatkala merasakan adanya musibah akan mengangkat kepala dan mengarahkan pandangannya ke langit. Allah telah mengabarkan tentang manusia bahwasanya apabila tertimpa suatu mudharat ia bersegera menuju Rabb-nya untuk meminta agar Dia menghilangkannya, Allah berfirman:

" وإذا مسّ الإنسان ضرّ دعا ربّه منيبًا إليه ثمّ إذا خوّله نعمة منه نسي ما كان يدعو إليه من قبل وجعل لله أندادًا "

“...dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengn kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdo’a (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah.”

Allah berfirman dalam menggambarkan keadaan orang-orang musyrik:

" هو الذي يسيّركم في البر والبحر حتى إذا كنتم في الفلك وجرينا بهم بريح طيبة وفرحوا بها جاءتها ريح عاصف وجاءهم الموج من كلّ مكان وظنوا أنهم أحيط بهم دعوا الله مخلصين له الدين لئن أنجيتنا من هذه لنكوننّ من الشاكرين  . فلمّا أنجاهم إذا هم يبغون في الأرض بغير الحق يا أيها الناس إنما بغيكم على أنفسكم متاع الحياة الدنيا ثمّ إلينا مرجعكم فننبئكم بما كنتم تعملون "

“Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada didalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur” (22) maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alas an) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Selanjut firman-Nya:

" وإذا غشيهم موج كالظلل دعوا الله مخلصين له الدين فلمّا نجاهم إلى البر فمنهم مقتصد وما يجحد بآياتنا إلاّ كلّ ختار كفور "

“...dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.”          Inilah Tuhan yang mengadakan alam dari tidak ada, menciptakan manusia dengan ciptaan terbaik, menfokuskan pada fitrah penghambaan serta serah diri terhadap-Nya, menundukkan akal untuk Rububiyyah dan Uluhiyyah terhadap-Nya, seluruh umatpun bersepakat dalam mengakui Rububiyyah-Nya… merupakan suatu keharusan untuk mengesakan Rububiyyah serta Uluhiyyah-Nya, sebagaimana tidak adanya sekutu bagi-Nya dalam menciptakan, tidak ada pula sekutu dalam Uluhiyyah-Nya, dan dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut banyak sekali, diantaranya:

1        Pada alam semesta ini tidak ada kecuali hanya satu Tuhan Yang Maha Pencipta dan Pemberi Rizki, dan tidak ada yang dapat mendatangkan manfaat serta menolak bala kecuali Dia, jika di alam ini terdapat Tuhan lain, niscaya akan terlihat perbuatan, ciptaan dan perintahnya, serta salah satu dari keduanya tidak akan rela atas keikutsertaan tuhan yang lain, salah satu dari keduanya pasti akan mengalahkan yang lain dan menguasainya, yang kalah tidak mungkin untuk dijadikan Tuhan, dan yang menang adalah Tuhan yang sesungguhnya, tidak ada Tuhan yang menyekutukan-Nya dalam Uluhiyyah, sebagaimana juga tidak ada yang menyekutukan-Nya dalam Rububiyyah, Allah berfirman:

" ما اتخذ الله من ولد وما كان معه من إله إذاً لّذهب كل إله بما خلق ولعلا بعضهم على بعض سبحان الله عما يصفون "

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu”.

2        Tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah Yang bagi-Nya kerajaan langit dan bumi, karena manusia akan mendekatkan diri kepada Tuhan yang akan mendatangkan manfaat baginya serta menolak bala darinya, dan Yang memalingkan kejelekan serta fitnah darinya. Seluruh perkara ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh Dia yang memiliki langit, bumi serta apa-apa yang berada diantara keduanya, jika bersama-Nya ada beberapa Tuhan, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang musyrik, niscaya seluruh hamba akan mencari jalan yang bisa menyampaikannya agar beribadah kepada Allah Raja Yang hak, karena mereka seluruhnya selain Allah melakukan ibadah hanya dengan menyembah Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya, maka sudah sepatutnya bagi dia yang ingin mendekatkan diri terhadap Dzat yang ditangan-Nya manfaat serta mudharat, untuk hanya menyembah Tuhan hak yang disembah oleh semua yang berada di langit dan bumi, yang dihuni oleh tuhan-tuhan yang disembah selain Allah, firman-Nya:

" قل لو كان معه آلهة كما يقولون إذا لاّبتغوا إلى ذي العرش سبيلاً "

“Katakanlah: “jikalau ada tuhan-tuhan disamping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai ‘Arsy.”

Bagi mereka yang menginginkan kebenaran hendaklah membaca firman Allah:

" قل ادعوا الذين زعمتم من دون الله لا يملكون مثقال ذرّة في السموات ولا في الأرض وما لهم فيهما من شرك وما له منهم من ظهير . ولا تنفع الشفاعة عنده إلاّ لمن أذن له. "

“Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya” (22) dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya.”

Sesungguhnya ayat-ayat ini memutus ketergantungan hati kepada selain Allah SWT dengan empat perkara:

Pertama: Bahwa mereka para sekutu tidak memiliki sebesar zarrah pun dalam menendingi Allah, dan yang tidak memiliki apa-apa yang sebesar zarrah tidak akan dapat memberi bermanfaat atau mendatangkan mudharat dan tidak pula berhak untuk menjadi Tuhan atau sekutu bersama Allah. Allah-lah yang memiliki mereka dan mengatur dengan sendiri-Nya.

Kedua: Mereka tidak memiliki apa-apa di langit dan bumi, dan mereka tidak memiliki andil apapun atas keduanya.

Ketiga: Allah tidak memiliki penolong dari makhluk ciptaan-Nya, bahkan Dia-lah yang menolong mereka atas apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakanya, karena kesempurnaan dan kecukupan-Nya Dia tidak membutuhkan mereka dan sebab keterbatasan mereka, mereka membutuhkan-Nya.

Keempat: Bahwa mereka, para sekutu, tidak mampu memberikan syafa’at bagi para pengikutnya di sisi Allah serta tidak pula memberi izin kepada mereka  untuk memberi syafaat kepada selainya, dan Dia yang Maha Suci tidak memberikan izin kecuali hanya kepada para wali-Nya untuk memberikan syafa’at, dan para wali tidak bisa memberikan syafa’at kecuali kepada orang yang Allah ridhoi perkataan, amalan serta keyakinannya.

3        Rapinya pengaturan alam seluruhnya, keberaturannya merupakan dalil yang paling kongkrit bahwa pengaturnya adalah satu Tuhan, satu Raja, dan satu Rabb, tidak ada Tuhan selain-Nya dalam menciptakan dan tidak pula ada Rabb pengatur mereka selain-Nya. Sebagaimana ketidakmungkinan adanya dua pencipta bagi alam ini, begitu pula tidak mungkin adanya dua Tuhan, Allah berfirman: “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” Kalau seandainya di langit dan bumi ini terdapat tuhan selain Allah niscaya keduanya akan hancur dan rusak. Bentuk kerusakannya adalah: apabila ada tuhan lain bersama Allah, maka setiap dari mereka akan memiliki kemampuan untuk mengatur dan berbuat sekehendaknya, pada saat itu akan terjadilah pertikaian dan perselisihan yang menyebabkan terjadinya kerusakan. Jika satu tubuh tidak memungkinkan untuk diatur oleh dua ruh yang sama derajatnya karena pasti akan rusak dan binasa, dan ini merupakan suatu yang mustahil, maka bagaimana bisa dibayangkan terjadinya hal itu pada alam ini, padahal alam lebih besar.

4        Kesepakatan para nabi dan rasul akan hal tersebut. Seluruh umat bersepakat bahwa para nabi dan rasul adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling suci jiwanya, paling mulia akhlaknya, paling tepat dalam memberikan nasehat bagi umatnya, paling mengerti terhadap keinginan Allah dan paling tepat dalam menunjukkan kepada mereka jalan yang baik dan lurus, karena mereka menerima wahyu dari Allah, lalu disampaikan kepada seluruh manusia. Seluruh nabi dan rasul telah bersepakat, dari Adam as yang pertama diantara mereka sampai yang terakhir Muhammad saw untuk berdakwah kepada kaumnya agar beriman kepada Allah SWT, meninggalkan ibadah kepada selain-Nya dan bahwasanya Dia-lah Tuhan yang hak, firman Allah:

" وما أرسلنا من قبلك من رسول إلاّ نوحي إليه أنه لا إله إلاّ أنا فاعبدون "

“...dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.”

Firman Allah tentang Nabi Nuh as, bahwa dia berkata kepada kaumnya:

" ألا تعبدوا إلاّ الله إني أخاف عليكم عذاب يوم أليم "

“...agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan.”

Dan firman-Nya, tentang yang terakhir di antara mereka, yaitu Muhammad SAW bahwa dia berkata kepada kaumnya:

" قل إنما يوحى إليّ أنما إلهكم إله واحد فهل أنتم مسلمون "

“Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya).”

Inilah Tuhan Yang menciptakan alam dari ketidakadaan, lalu Dia adakan, dan menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya dan dimuliakan oleh-Nya, menanamkan dalam fitrah mereka penetapan akan Rububiyyah serta Uluhiyyah-Nya, menjadikan jiwanya tidak akan lurus kecuali dengan berserah diri kepada-Nya dan berjalan di atas manhaj-Nya. Mengatur roh manusia untuk tidak merasa tenang kecuali apabila ia tunduk kepada pengaturnya dan berhubungan dengan penciptanya, tidak ada hubungan baginya kecuali melalui jalan-Nya yang lurus seperti apa yang telah disampaikan oleh para rasul-Nya yang mulia, dan Dia memberinya akal yang tidak akan dapat bertugas dengan lurus dan sempurna melainkan jika beriman kepada Tuhan Yang Maha Suci.  .

          Apabila fitrah ini telah lurus, roh telah tenang, jiwa telah tetap dan akal telah beriman, maka tercapailah kebahagiaan, keamanan serta ketenangan di dunia dan akherat. Apabila manusia menolak itu, maka dia akan hidup tidak beraturan, bercerai berai, terjerumus dalam lembah keduniaan, terbagi diantara tuhan-tuhannya, dia tidak tahu siapa yang dapat mendatangkan manfaat baginya dan siapa yang akan menolak madharat darinya. Dan agar iman mantap dalam jiwa dan keburukan kekufuran menjadi nyata, Allah membuat suatu perumpamaan –karena perumpamaan bisa mendekatkan pemahaman akal- Dia membandingkan antara seseorang yang perkaranya terbagi-bagi diantara tuhan yang berbeda-beda dengan seseorang yang hanya menyembah satu Tuhan, firman-Nya:

" ضرب الله مثلا رجلاً فيه شركاء متشاكسون ورجلاّ سلمًا لرجل هل يستويان مثلاّ الحمد لله بل أكثرهم لا يعلمون "

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); adakah kedua budak itu sama hal-nya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.

          Allah SWT membuat suatu perumpamaan bagi seorang hamba yang bertauhid dan hamba yang berbuat kemusyrikan dengan seorang budak yang dimiliki oleh beberapa orang yang sebagiannya berselisih dengan sebagian lain, dia terbagi-bagi oleh mereka, setiap dari mereka memberikan arahan kepadanya dan membebani sesuatu terhadapnya. Dia bingung berada diantara mereka, tidak tetap diatas satu pijakan dan satu jalan, serta tidakpula memiliki kemampuan untuk menjadikan hawa nafsu mereka yang berselisih dan bertentangan itu agar ridha kepada pilihanya. Dan seorang budak yang dimiliki oleh satu orang majikan, dia mengetahui apa yang dituntut dan dibebankan terhadapnya, sehingga dia lebih santai, tetap diatas sebuah jalan yang jelas. Kedua kasus diatas tidaklah sama, yang ini tunduk kepada satu majikan dan mendapatkan nikmat dengan keistiqomahan, pengetahuan serta keyakinan, sedangkan yang itu tunduk terhadap perintah beberapa orang yang saling bertentangan, sehingga dia tersiksa, bingung, terombang-ambing, tidak bisa tetap dalam satu pilihan, tidak ada satupun yang meridhoinya, terlebih lagi untuk mendapatkan ridho dari seluruhnya.

          Setelah menjelaskan dalil-dalil yang menunjukkan akan keberadaan Allah, Rububiyyah serta Uluhiyyah-Nya, akan sangat baik kalau kita mengenali ciptaan-Nya terkait alam semesta dan manusia. Dan kita akan meraup hikmah yang ada dalam permasalahan ini.

* * * * * *

 Penciptaan Alam

          Alam ini dengan seluruh isinya berupa langit, bumi, bintang, tempat orbit, lautan, pohon serta seluruh binatangnya diciptakan oleh Allah SWT dari ketidakadaan.

Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam” (9) dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar-kadar makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya (10) kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “kami datang dengan suka hati” (11) maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.

          Berfirman yang Maha Mulia Pujian atas-Nya:

“...dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (30) dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk (31) dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya”.

          Allah SWT menciptakan alam ini dengan hikmah yang sangat banyak dan tidak terbatas, pada setiap bagian darinya terdapat banyak hikmah dan tanda-tanda yang nyata, jika Anda memperhatikan satu tanda saja, niscaya Anda akan mendapatkan hal yang menakjubkan. Lihatlah keajaiban ciptaan Allah terhadap tanam-tanaman, dimana setiap daun, akar dan buah-buahanya tidak ada yang kosong dari manfaat, ditambah lagi sebagian perincianya yang mungkin tidak dapat diketahui dan dikenali oleh akal manusia. Lihat pula jaringan aliran air yang ada dalam akar kecil yang tipis nan lembut yang hampir tidak terdeteksi kecuali setelah melakukan penelitian padanya, bagaimana ia mampu untuk mengalirkan air dari bawah menuju ke atas, kemudian tersebar pada jalur-jalur tersebut sesuai dengan kebutuhan dan besarnya, kemudian terbagi, bercabang dan semakin halus sampai kepada suatu tujuan yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Kemudian lihatlah  kandungan sebuah pohon serta siklus perkembanganya dari satu keadaan ke keadaan yang lain, seperti perkembangan kondisi janin yang tidak terlihat oleh mata. Tatkala Anda melihat pada mulanya sebagai sepotong kayu yang telanjang tanpa pakaian, lalu dikaruniai pakaian oleh Rabbnya dengan dedaunan yang Ia ciptakan dengan sebaik-baik penciptaan, kemudian muncul padanya kehamilan yang lemah setelah ia mengeluarkan daun yang berfungsi untuk menjaganya dan sekaligus sebagai pakaian bagi buah lemah tersebut, agar ia bisa terlindungi dari panas, dingin dan kerusakan, kemudian dialirkan kepadanya rizki dan gizi melalui akar dan saluran sebagai makanan baginya, sebagaimana seorang bayi mendapatkan gizi dari susu ibunya, kemudian ia menjaga dan menumbuhkannya hingga menjadi matang dan sempurna, sehingga keluarlah buah yang siap dipanen, lezat dan ranum dari sebatang kayu yang sangat keras itu.

          Begitu pula jika Anda perhatikan bumi dan penciptaanya, niscaya anda akan melihatnya sebagai tanda terbesar dari keagungan penciptaanya, ia diciptakan oleh Allah sebagai hamparan, tempat tinggal dan ditundukkan bagi hamba-hamba-Nya, Disediakan padanya rezeki, penghasilan serta penghidupan bagi mereka, Dijadikan padanya jalan-jalan agar mereka bisa berpindah tempat demi memenuhi kebutuhan serta menjalankan kegiatan masing-masing. Dia letakkan gunung-gunung dan menjadikannya sebagai paku yang menjaganya agar tidak memanjang, Dia luaskan tepiannya, dengan membentangkan, memanjangkan serta menghamparkannya, Dia jadikan sebagai tempat bagi makhluk hidup yang tinggal di atas punggungnya dan bagi benda mati yang diisikan dalam perutnya. Kemudian perhatikanlah falak yang berotasi dengan matahari, bulan, bintang serta gugusannya, bagaimana ia bisa berputar dalam alam ini dengan rotasi yang tetap,tertib dan teratur hingga akhir masa yang ditentukan, ditambah lagi dengan adanya  pergantian siang dan malam, pergantian musim, panas dan dingin. begitu pula binatang dan tumbuh-tumbuhan di  atas permukaan bumi yang dapat memberi banyak manfaat bagi  kehidupan.

          Kemudian perhatikan penciptaan langit, palingkan pandangan padanya sesaat demi sesaat, anda akan mendapatkan tanda-tanda terbesar dalam ketinggian, keluasan serta kekokohanya, tidak terdapat tiang dibawahnya dan tidak pula gantungan diatasnya, tetapi ia tertahan oleh kekuasaan Allah Yang dapat menahan langit dan bumi agar tidak sirna.

          Jika anda memperhatikan alam ini dan mengamatai penggabungan bagian-bagiannya serta keteraturanya yang sangat indah yang menunjukkan akan kesempurnaan kemampuan penciptanya, kesempurnaan ilmu-Nya, kesempurnaan hikmah-Nya dan kesempurnaan kelembutan-Nya, niscaya anda akan mendapatinya seperti sebuah rumah yang dibangun dan disiapkan padanya seluruh alat dan kebaikannya, dan juga seluruh apa yang dibutuhkannya, langit sebagai atap diatasnya, bumi sebagai hamparan, lantai dan tempat tidur yang kokoh bagi para penghuni, matahari dan bulan sebagai penerang yang meneranginya, bintang-bintang sebagai lampu dan penghiasnya, sekaligus sebagai petunjuk bagi penghuninya untuk berpindah-pindah di lorong-lorong dalam rumah, perhiasan dan barang tambang yang terpendam didalamnya bagaikan simpanan yang telah disiapkan, semua itu untuk keperluan yang pantas baginya, berbagai jenis tumbuhan tersedia bagi penghuninya, berbagai jenis hewan diperuntukkan bagi kemaslahatannya, ada yang bisa ditunggangi, ada yang bisa diperah susunya, ada yang bisa dijadikan makanan, ada juga yang kulitnya bisa dijadikan bahan pakaian serta ada yang bisa menjadi penjaga. Manusia dijadikan seperti raja yang mengatur segalanya dengan perbuatan dan perintahnya.

          Apabila anda perhatikan alam ini seluruhnya atau salah satu bagiannya, niscaya akan mendapatkan keajaiban padanya, dan jika anda amati dengan sebenar-benarnya, penuh obyektifitas, jauh dari hawa nafsu serta tidak taklid, niscaya anda akan merasa yakin dengan sesungguhnya bahwa alam ini ada yang menciptakan, diciptakan oleh Dia Yang Maha Bijaksana, Berkuasa dan Maha Mengetahui, diatur dengan pengaturan terbaik dan dirapihkan dengan susunan yang terbaik, dan bahwasanya pencipta alam ini mustahil ada dua, tetapi hanya Tuhan satu yang tidak ada tuhan selain-Nya, dan kalau seandainya di langit dan bumi ini ada tuhan selain Allah niscaya akan rusak susunanya, buruk pengaturannya dan hilang manfaatnya.

          Apabila Anda tetap tidak mau mengakui adanya pencipta bagi semua ciptaan ini, maka apa yang akan anda katakan tentang roda(baling-baling) yang berputar di sungai dalam keadaan sempurna peralatannya, rapih susunanya, alat-alatnya berkwalitas dengan mutu terbaik, sehingga menjadikan orang yang melihatnya tidak mendapatkan cela pada komponenya dan tidak pula pada bentuknya, yang mana roda itu digunakan untuk menyuplay kebutuhan air pada kebun yang luas yang didalamnya terdapat berbagai macam buah-buahan. Di dalam kebun itu ada orang yang merapihkan tanaman-tanaman yang berserakan, merawat, mengatur dan melakukan seluruh kebutuhanya, tidak ada yang kurang sedikitpun dan tidak pula ada buah yang rusak, kemudian ia membagikan harganya(uang hasil penjualan buah-buahan) setelah memetik(panen) untuk seluruh pengeluaran sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, masing-masing mempunyai  pengeluaran yang sesuai denganya, dan begitulah ia membaginya secara terus menerus.

          Apakah Anda berpendapat bahwa kejadian tersebut terjadi begitu saja tanpa ada yang melakukan, atau yang berkehendak dan yang mengatur?? Bahkan keberadaan roda dan kebun seperti diatas terjadi secara kebetulan tanpa ada pelaku dan pengaturnya, apakah yang akan dikatakan oleh akal anda jika hal tersebut terjadi?? Apa yang akan difatwakan tentangnya? Dan apa yang ditunjukan kepada anda??.

Hikmah dari Semua ini:

          Setelah melihat dan memperhatikan penciptaan alam ini, alangkah baiknya kalau kita menyebutkan beberapa hikmah yang merupakan bagian dari tujuan Allah dalam menciptakan alam dan menciptakan tanda-tanda kebesaran-Nya yang agung ini, diantaranya:

1        Untuk memberi kemudahan bagi manusia: Ketika Allah SWT menetapkan hendak menjadikan di atas muka bumi ini khalifah yang beribadah kepada-Nya dan memakmurkan bumi ini, Dia ciptakan untuknya alam ini, agar lurus kehidupannya dan baik urusan dunianya serta tempat kembalinya. Allah SWT berfirman:

" وسخّر لكم ما في السموات وما في الأرض جميعًا منه "

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya”, dan firman-Nya:

" الله الذي خلق السموات والأرض وأنزل من السماء ماء فأخرج به من الثمرات رزقًا لكم وسخّر لكم الفلك لتجري في البحر بأمره وسخّر لكم الأنهار . وسخر لكم الشمس والقمر دائبين وسخّر لكم الليل والنهار  . وآتاكم من كلّ ما سألتموه وإن تعدّوا نعمت الله لا تحصوها إن الإنسان لظلومٌ كفار"

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai (32) dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang (33) dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)

2        Bahwasanya langit, bumi serta seluruh apa yang ada di alam ini merupakan bukti atas Rububiyyah Allah dan ke-Esaan-Nya. Perkara yang terpenting dibalik keberadaan alam ini adalah mengakui Rububiyyah Allah dan mengimani ke-Esaan-Nya, karenanya ia disokong dengan bukti-bukti yang terkuat, tanda-tanda kebesaran yang teragung serta hujjah-hujjah yang teramat jelas, Allah tegakkan langit, bumi serta seluruh yang ada untuk dijadikan sebagai saksi atas perkara tersebut, oleh karena itu banyak didapati dalam Al-Qur’an: “dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya..“ sebagaimana firman Allah Ta’ala: “dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi” “dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu diwaktu malam dan siang hari” “dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan” “dan diantara tanda-tanda kekuaaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya”.

3        Sebagai bukti akan adanya hari kebangkitan: kehidupan ini terbagi menjadi dua; kehidupan di dunia dan kehidupan di akherat, dan kehidupan di akherat adalah kehidupan yang sesungguhnya, Allah berfirman:

" وما هذه الحياة الدنيا إلاّ لهوٌ ولعبٌ وإنّ الدار الآخرة لهي الحيوان لو كانوا يعلمون "

“...dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akherat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. Karena ia merupakan tempat pembalasan dan hisab, dan juga karena disanalah kekekalan untuk selamanya bagi penghuninya baik dalam kenikmatan, maupun dalam azab.

Dikarenakan tempat ini tidak bisa dicapai oleh manusia kecuali setelah dia meninggal dan dibangkitkan kembali, maka ia di ingkari oleh mereka yang terputus hubungannya dengan Allah, tertutup fitrahnya dan rusak akalnya, oleh karena itu Allah berikan berbagai hujjah dan bukti , sampai seluruh jiwa dan hati mau beriman dan meyakini akan hari kebangkitani. Perlu diketahui bahwa mengembalikan manusia yang sudah mati menjadi hidup kembali adalah lebih mudah bagi Allah dibanding menciptakanya pertama kali dari tiada, bahkan jauh lebih mudah dari menciptakan langit dan bumi, firman Ta’ala:

" وهو الذي يبدأ الخلق ثمّ يعيده وهو أهون عليه "

“...dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya” dan firman-Nya: “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia” serta firman-Nya:

" الله الذي رفع السموات بغير عمد ترونها ثمّ استوى على العرش وسخّر الشمس والقمر كلّ يجري لأجل مّسمى يدبّر الأمر يفصّل الآيات لعلكم بلقاء ربّكم توقنون "

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelakan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu”.

Wa ba’du, wahai sekalian manusia:

          Apabila alam ini telah diciptakan untuk Anda, apabila telah ditegakkan tanda serta ciri-cirinya sebagai saksi dihadapan pandangan Anda, yang mana ia bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah selain Allah Yang Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, apabila Anda telah mengetahui bahwa perkara menghidupkan dan membangkitkan anda lebih mudah dari penciptaan langit dan bumi, bahwa Anda pasti akan bertemu dengan Rabb anda dan Dia akan menghisab amalam Anda, dan andapun telah mengetahui bahwa alam ini seluruhnya beribadah kepada Rabbnya, seluruh makhluk-Nya bertasbih dengan memuji Rabbnya, Firman Ta’ala:

" يسبّح لله ما في السموات وما في الأرض الملك القدّوس العزيز الحكيم "

“Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”, mereka bersujud atas keagungan-Nya, firman Allah:

" ألم تر أن الله يسجد له من في السموات ومن في الأرض والشمس والقمر والنجوم والجبال والشجر والدواب وكثير من الناس وكثير حق عليه العذاب "

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak diantara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya”, bahkan seluruh yang ada ini melaksanakan shalat kepada Rabbnya sesuai dengan cara masing-masing.

Dzat yang Maha Mulia nama-Nya berfirman:

" ألم تر أن الله يسبّح له من في السموات والأرض والطير صافّات كلّ قد علم صلاته وتسبيحه "

“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah:  kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya, masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya”.

          Dan apabila system dalam tubuh anda telah berjalan sesuai dengan aturan dan ketetapan Allah SWT, yang mana jantung, kedua ginjal, hati dan seluruh anggota tubuh berserah diri terhadap Rabbnya, menyerahkan kendalinya kepada-Nya.. akankah ketetapan pilihan anda antara beriman kepada Rabb atau mengkufuri-Nya, akan anda berikan kepada kekufuran dan menyimpang dari jalur pilihan yang benar yang telah diberikan alam dan tubuh anda sendiri.

          Sesungguhnya manusia yang berakal sempurna akan menolak kalau dirinya masuk dalam kelompok kecil yang terasingkan dari kelompok alam yang sangat besar nan luas ini.

                      * * * * * *

 Penciptaan Manusia serta Pemuliannya

          Allah SWT telah menetapkan untuk menciptakan suatu ciptaan yang pantas untuk memakmurkan alam ini, makhluk yang diciptakan tersebut adalah manusia, kandungan hikmah-Nya subhanahu adalah dengan menjadikan bahan dalam menciptakan manusia adalah bumi, penciptaannya dimulai dari tanah, kemudian dibentuk dengan bentuk yang indah ini seperti yang tampak pada manusia, setelah berdiri sempurna dalam bentuknya, Dia tiupkan disana rohnya, dialah manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, mendengar, melihat, bergerak dan berbicara, maka Allah letakkan dia untuk tinggal di surga-Nya, mengajarkannya seluruh apa yang perlu untuk diketahuinya, menghalalkan baginya seluruh apa yang ada dalam surga, dengan hanya melarang satu pohon –sebagai ujian dan cobaan- Allah ingin menunjukkan kedudukan serta martabatnya, lalu Dia perintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk sujud kepadanya, sehingga sujudlah terhadapnya seluruh malaikat, kecuali iblis yang menolak untuk sujud karena sombong dan takabbur, maka marahlah Dia kepadanya, karena ia menyelisihi perintah-Nya, lalu Dia mengusir iblis tersebut dari rahmat-Nya, disebabkan karena ia takabbur terhadap-Nya, lalu iblis meminta kepada Rabbnya agar umurnya dipanjangkan dan ditangguhkan siksanya sampai hari kiamat, maka Allah-pun menangguhkanya dan memanjangkan umurnya sampai hari kiamat. Setan dengki terhadap Adam as, karena dia beserta keturunannya diberi keutamaan, ia bersumpah atas nama Allah untuk menyesatkan seluruh anak cucu Adam, dan bahwasanya ia akan mendatangi mereka dari hadapan, belakang, samping kanan dan kirinya, kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas, benar dan bertaqwa, karena Allah akan membentengi mereka dari tipu daya setan serta makarnya, Allah telah memperingatkan Adam as dari tipu daya setan, setan membisikan pikiran jahat kepada mereka (Adam as serta isterinya Hawa) agar bisa mengeluarkan keduanya dari surga, dan agar mereka menampakan aurat mereka (yang selama ini) tertutp, seraya bersumpah: sesungguhnya aku adalah penasehat bagi kalian berdua, dan bahwasanya Allah tidaklah melarang kalian dari pohon tersebut kecuali agar kalian tidak menjadi seperti malaikat atau agar kalian berdua tidak menjadi orang yang kekal untuk selamanya (dalam surga).

           keduanya makan dari pohon yang telah Allah larang itu. Hukuman yang pertama kali menimpa mereka akibat menyelisihi perintah Allah adalah terlihatnya aurat mereka, lalu Allah ingatkan keduanya akan peringatan-Nya dahulu tentang tipu daya setan, maka Adam as meminta ampun kepada-Nya, lalu Dia menerima taubatnya dan memberinya hidayah, memerintahnya untuk turun dari surga tempat tinggalnya menuju bumi, yang kemudian menjadi tempat tinggalnya, disana terdapat seluruh keperluannya, dan Diapun mengabarkannya bahwa dia diciptakan darinya, tinggal diatasnya dan meninggal padanya dan darinya pula akan dibangkitkan.

          Adam as turun ke bumi bersama isterinya Hawa, keturunannya berlanjut, mereka menyembah Allah sesuai dengan apa yang telah diperintahkan, karena Adam adalah seorang Nabi.

          Allah telah menghabarkan hal ini dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “bersujudlah kamu kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud (11) Allah berfirman: “apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) diwaktu Aku menyuruhmu?” menjawab iblis: “saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah” (12) Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina” (13) iblis menjawab: “beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan” (14) Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh” (15) iblis menjawab: “karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus” (16) kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat) (17) Allah berfirman: keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa diantara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka jahanam dengan kamu semuanya” (18) (dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon itu, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim (19) maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga) (20) dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: “sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua” (21) maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (22) keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (23) Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) dimuka bumi sampai waktu yang telah ditentukan” (24) Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan”

          Ketika anda memperhatikan ciptaan Allah terhadap manusia, yang mana telah diciptakan dengan sebaik-baiknya, dan dipakaikan berbagai jenis kemuliaan mulai dari akal, ilmu, pemahaman, ucapan, bentuk, gambar yang bagus, keadaan yang mulia, tubuh yang seimbang, mengenyam ilmu dengan dalil dan pemikiran, serta menyerap akhlak-akhlak mulia dan utama, seperti kebaikan, ketaatan dan keselamatan. Berapa jarak antara keadaannya ketika masih berupa air mani di dalam rahim yang terjaga padanya, dengan keadaannya saat malaikat menemuinya di surga ‘adn? “Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.

          Dunia bagaikan sebuah desa dan manusia sebagai penghuninya, seluruhnya sibuk dengannya, bekerja untuk kemaslahatnya, semua disiapkan untuk melayani dan memenuhi keperluannya, para malaikat bertugas untuk menjaganya pada malam dan siang hari, begitujuga hujan dan tumbuhan, mereka bekerja dan bertugas dalam rangka menyediakan rizki untuknya, gugusan bintang tunduk dan patuh pada orbitnya untuk menjaga kemaslahatanya, matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk dan berputar sesuai dengan zaman dan waktu serta maslahat kebutuhan manusia sehari-hari, alam terbuka tunduk kepadanya dengan angin dan udaranya, begitu pula dengan awan, burung serta apa yang ada padanya, alam yang berada di bawah seluruhnya tunduk kepadanya, diciptakan untuk maslahatnya, bumi dan gunungnya, laut dan sungainya, tumbuhan serta binatangnya, dan seluruh apa yang ada diatasnya, Allah berfirman:

 “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah mnundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar dilautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai (32) dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang (33) dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

          Di antara kesempurnaan pemuliaan yang diberikan Allah kepada manusia adalah Dia menciptakan baginya segala yang diperlukan dalam kehidupannya di dunia dan seluruh sarana yang dapat menyampaikannya kepada derajat tertinggi di akhirat, Dia turunkan kitab-kitab-Nya, diutus Rasul-Rasul-Nya untuk menerangkan syariat Allah dan mengajak manusia agar mengikutinya.

          Kemudian Dia ciptakan dari dirinya –yaitu dari diri Adam as- seorang isteri untuk bersandar padanya dan menutupi kebutuhan fitrahnya –kebutuhan jiwa, akal dan jasad- sehingga dia mendapatkan padanya ketenangan, rileks dan ketentraman, keduanya tatkala berkumpul mendapat ketenangan, kecukupan, mawadah serta rahmat, karena susunan jasad, jiwa serta syaraf keduanya saling melengkapi dan memenuhi keinginan satu sama lain, bersatu untuk membangun generasi baru, keduanya saling menyambut kasih sayang serta perasaannya, dari hubungan tersebut terbentuklah ketenangan bagi jiwa dan urat syaraf, kesenangan bagi tubuh dan hati, ketentraman bagi hidup dan penghidupan, kelembutan bagi ruh dan anggota tubuh, serta ketuma’ninahan yang merata antara laki dan wanita.

          Allah SWT mengkhususkan orang-orang mukminin diantara seluruh manusia, Dia menjadikannya sebagai penguasa wilayah-Nya, mereka berhidmah dalam keta’atan kepada-Nya, mereka berbuat sesuai dengan syari’at-Nya, agar mereka pantas untuk berada di samping-Nya di surga. Dari mereka Allah pilih para Nabi, Rasul, wali serta syuhada, Dia anugerahi mereka di dunia ini kenikmatan terbesar yang diterima oleh tubuh, ia adalah: ibadah kepada Allah, keta’atan dan bermunajat kepada-Nya, Dia khususkan mereka dengan nikmat yang besar –yang tidak didapatkan oleh selainnya- diantaranya adalah keamanan, ketenangan serta kebahagiaan, bahkan yang lebih besar dari semua itu, bahwa mereka mengetahui kebenaran yang dibawa oleh para Rasul dengan beriman kepadanya, dan Dia siapkan bagi mereka –di akhirat- kenikmatan yang kekal dan kemenangan yang sangat besar, yang mana hal tersebut sesuai dengan kemuliaan-Nya, Dia beri ganjaran atas keimanan dan keikhlaan mereka, bahkan memberi mereka tambahan dari fadhilah-Nya.

Kedudukan Wanita:

          Dalam Islam wanita menempati kedudukan yang tinggi, belum pernah setinggi yang dicapai oleh agama-agama terdahulu, dan tidak pula diraih oleh umat berikutnya, karena pemuliaan Islam terhadap manusia mencakup wanita dan pria dengan hak yang sama. Mereka dihadapan hukum-hukum Allah di dunia ini sama, sebagaimana juga mereka di hadapan ganjaran serta imbalan  di akhirat juga sama. Allah berfirman: “...dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.”

Kemudian Allah SWT berfirman:

" للرجال نصيب مّما ترك الوالدان والأقربون وللنساء نصيب مّما ترك الوالدان والأقربون "

“...bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya.” Lalu firman-Nya:

" ولهن مثل الذي عليهنّ بالمعروف "

“...dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.

Berfirman subhanahu wa ta’ala:

" والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض "

“...dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagiaan yang lain”, firman-Nya:

" وقضى ربّك ألاّ تعبدوا إلاّ إياه وبالوالدين إحسانًا إمّا يبلغنّ عندك الكبر أحدهما أو كلاهما فلا تقل لّهما أفّ ولا تنهرهما وقل لهما قولاً كريمًا  .واخفض لهما جناح الذلّ من الرحمة وقل ربّ ارحمهما كما ربّياني صغيرًا "

“...dan Tuhan-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (23) dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhan-ku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”, firman-Nya:

" فاستجاب لهم ربّهم أنّي لا أضيع عمل عامل مّنكم من ذكر أو أنثى "

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan”, firman-Nya:

" من عمل صالحًا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينّه حياة طيبة ولنجزينّهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون "

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”, serta firman-Nya:

" من يعمل من الصالحات من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فأولئك يدخلون الجنة ولا يظلمون نقيرًا "

“Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”.

          Kemuliaan yang diraih oleh wanita dalam Islam ini tidak ada bandingannya dalam agama, kelompok atau hukum manapun, kebudayaan Romawi telah menetapkan bahwa wanita adalah budak bagi laki-laki, dia tidak memiliki hak apapun, pernah diadakan sebuah pertemuan di Roma untuk membahas permasalahan wanita, yang kemudian memutuskan bahwa dia adalah sesuatu yang ada namun tidak berjiwa, bahwa dia tidak akan mewarisi kehidupan akherat, dan bahwasanya wanita itu kotor.

          Dahulu wanita di Athena dianggap sebagai barang yang tidak berharga, dia diperjual belikan, dan dianggap sebagai kotoran dari hasil perbuatan setan.

          Syari’at India kuno telah menetapkan: bahwa wabah penyakit, kematian, neraka, racun binatang serta api lebih baik dari wanita. Hak wanita akan berakhir dalam kehidupannya dengan meninggalnya sang suami –yang notebene ia itu tuannya- ketika ia melihat jasad suaminya sedang dibakar, ia harus melemparkan dirinya ke dalam api tersebut, dan jika tidak maka ia berhak untuk mendapatkan laknat.

          Adapun wanita dalam agama Yahudi, terdapat hukum baginya dalam perjanjian lama sebagaimana berikut ini: “Berputar aku dan hatiku untuk mengetahui, membahas dan mencari hikmah dan secara akal, dan untuk mengetahui bahwa kejelekan itu merupakan kebodohan dan kedunguan bahwa ia itu gila, maka aku dapati yang lebih pahit dari kematian: ialah wanita yang merupakan jendelanya, hatinya penjerat dan kedua tangannya merupakan pengikat”.

          Itulah mereka, para wanita pada masa-masa terdahulu, adapun keadaannya pada zaman pertengahan dan terkini akan dijelaskan oleh fakta-fakta berikut ini:

          Penulis Denmark Wieth Kordsten menjelaskan tentang arahan gereja Katolik sekitar permasalahan wanita dengan ungkapan: “Pada masa pertengahan, perhatian terhadap wanita Eropa sangat terbatas sekali, dengan mengikuti arah mazhab Katolik sebelumnya yang menganggap bahwa wanita itu diciptakan pada derajat kedua.” Di Perancis telah diadakan pertemuan pada tahun 586 M, untuk membahas permasalahan wanita dan apakah dia akan dianggap sebagai manusia atau tidak dianggap sebagai manusia? setelah perdebatan: mereka yang hadir memutuskan bahwa wanita itu manusia, akan tetapi dia diciptakan untuk melayani kaum pria. Pembahasan ke dua ratus tujuh belas dari hukum Perancis berbunyi sebagai berikut ini: “wanita yang telah menikah –walaupun pernikahannya berdasarkan atas dasar pemisahan antara apa yang dia miliki dan apa yang suaminya miliki- dia tidak boleh menghibahkan sesuatu, tidak pula memindahkan miliknya dan tidak pula menjaminkannya, sebagaimana juga dia tidak boleh memiliki baik melalui tukar-menukar atau dengan percuma(diberi) tanpa keterlibatan suami dalam akad atau minimal persetujuannya secara tertulis)   

Di Inggris, Henry VIII mengharamkan wanita Inggris untuk membaca kitab suci, Ia juga tidak dianggap sebagai penduduk hingga tahun 1850 M, dan tidak jua memiliki hak pribadi hingga tahun 1882.

          Adapun wanita sekarang di Eropa, Amerika dan  di negara-negara industri modern lainnya sebagai makhluk hina dan barang komersial dalam tumpukan barang dagangan, ia menjadi bagian iklan-iklan produk komersial yang murah, bahkan  terkadang harus dengan telanjang dan melepask pakaiannya untuk menawarkan barang dagangan di depan kelompok dagang, tubuh serta kehormatannya dihalalkan untuk tunduk serta menuruti kemauan kaum laki-laki yang hanya menjadikan wanita sebagai alat  kesenangan bagi mereka di setiap tempat.

          Wanita menjadi pusat perhatian selama ia masih muda dan cantik serta sanggup untuk memberi dan mengorbankan pikiran ataupun tubuhnya, apabila ia telah  tua dan hilang kecantikan dan kemampuannya dalam memberi, maka masyarakat akan memandang sebelah mata, baik itu secara perorangan ataupun yayasannya, sehingga dia akan hidup sendirian di rumahnya atau di panti-panti jompo.

          Bandingkan semua ini –pasti tidak akan sama- dengan apa yang datang dari Al-Qur’anul Karim sebagaimana difirman Allah SWT:

" المؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض "

“...dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.”

Berfirman Dzat Yang Maha Mulia:

" ولهنّ مثل الذي عليهن بالمعروف "

“...dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf”, serta firman-Nya:

“...dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (23) dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “wahai Tuhan-ku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

          Tatkala Allah memuliakan wanita dengan pemuliaan yang seperti ini, Dia jelaskan kepada seluruh umat manusia dengan tegas bahwa Dia menciptakannya sebagai ibu, isteri, putri dan saudari, serta mensyari’atkan untuk itu syari’at syari’at khusus yang berhubungan dengan wanita.

* * * * * *

 Hikmah diciptakan Manusia

          Telah lewat pembicaraan pada alinea lalu bahwa Allah menciptakan Adam dan menciptakan baginya seorang isteri yang bernama Hawa serta menempatkan keduanya di surga, kemudian Adam menyelisihi Rabb-nya, lalu dia beristighfar dan bertaubat kepada-Nya sehingga diberinya hidayah, lalu memerintahkannya untuk keluar dari surga, dan turun ke bumi. Allah subhanahu memiliki beberapa hikmah dari semua itu yang tidak mampu untuk diketahui oleh akal dan tidak pula diungkapkan oleh lisan akan sifatnya, dan pada kesempatan ini kami akan memaparkan sebagian dari hikmah yang ada, diantaranya:

1        Bahwasanya Allah SWT menciptakan seluruh makhluk untuk beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

" وما خلقت الجنّ والإنس إلاّ ليعبدون "

“..dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”                                                                                                                                       Sebagaimana diketahui bahwa kesempurnaan ubudiyyah yang dituntut dari makhluk tidak untuk direalisasikan dalam kehidupan akhirat yang kekal dan penuh keikmatan, akan tetapi dalam kehidupan dunia yang penuh dgengan ujian dan cobaan. kehidupan kekal adalah tempat merasakan kenikmatan dan kesenangan, bukan tempat untuk menghadapi cobaan dan beban.

2        Bahwa Allah SWT - berkehendak untuk memilih dari mereka para nabi, rasul, wali dan syuhada yang dicintai-Nya dan merekapun mencitai-Nya, Dia biarkan mereka dihadapan para musuhnya sebagai ujian bagi mereka, pada saat mereka lebih mengutamakan-Nya dan mengorbankan jiwa serta harta dalam keridhoan dan kecintaan terhadap-Nya, mereka akan mendapatkan kecintaan, keridhoan serta kedekatan dari-Nya, yang mana hal tersebut tidak akan didapat sedikitpun tanpa perjuangan seperti itu. Derajat Rasul, Nabi dan yang mati syahid adalah derajat terbaik disisi Allah, manusia tidak akan mendapatkan semua ini kecuali sesuai dengan apa yang telah digariskan Allah dari penurunan Adam beserta keturunannya ke bumi.

3        Bahwasanya Dia adalah Raja Yang Hak dan Nyata, Raja adalah Dia yang memerintah dan melarang, memberi ganjaran dan menghukum, menghinakan dan memuliakan, memberi izzah dan merendahkan, kerajaan-Nya mencakup diturunkanya Adam beserta keturunannya ke dunia yang berlaku didalamnya hukum-hukum raja terhadap mereka, kemudian memindahkan mereka ke akhirat untuk menyempurnakan ganjaran atas amal perbuatan mereka.

4        Bahwasanya Allah menciptakan Adam as dari satu genggaman yang mencakup seluruh bumi, di dalamnya ada yang baik dan ada yang kotor, ada yang terjal dan ada yang datar. Allah telah mengetahui bahwa pada keturunan Adam as ada yang tidak pantas untuk tinggal berdampingan denganya di tempatnya, Dia menurunkan Adam as ke tempat yang darinya Dia mengeluarkan yang baik dan yang buruk, kemudian mereka dipisahkan –oleh Allah- dengan dua tempat: orang-orang yang baik dijadikan sebagai warga yang tinggal berdampingan denganya sedangkan mereka yang jelek bertempat di tempat yang buruk dan penuh kesengsaraan.

5        Bahwasanya Dia memiliki nama-nama yang baik, diantaranya: Maha Pengampun, Maha Bijaksana, Maha Pemaaf, Maha Lembut, … pengaruh akan nama-nama tersebut haruslah ditampakkan, maka hikmah-Nya subhanahu wa ta’ala mencakup penurunan Adam as beserta keturunannya kepada suatu tempat yang akan terlihat padanya pengaruh dari nama-nama-Nya yang baik, Dia akan mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya, merahmati siapa saja yang Dia kehendaki, memaafkan siapa yang Dia kehendaki, menuangkan kelembuatan-Nya kepada siapa saja dan lain sebagainya dari penampakkan akan pengaruh Nama serta sifat-sifat-Nya.

6        Bahwasanya Allah telah menciptakan Adam AS dan keturunannya dari sesuatu yang bisa menerima kebaikan dan kejelekan, bisa terdorong oleh ajakan syahwat dan fitnah atau ajakan ilmu dan akal, karena Dia telah menciptakan akal dan syahwat padanya, dan meletakkan keduanya untuk selalu siap mengikuti dorongan yang ada agar sempurna keinginannya, Allah-pun menampakkan izzahnya bagi seluruh hambanya melalui hikmah dan kekuasaan-Nya, rahmat, kebaikan serta kelembutan-Nya dalam kerajaan dan kekuasaannya, maka hikmah-Nya menghendaki untuk menurunkan Adam AS beserta keturunannya ke bumi, agar terlaksana proses ujian terhadap mereka dan tampak indikasi persiapan umat manusia dalam merespon ajakan-ajakan yang ada, ajakan-ajakan yang memberi kegmuliaan atau yang menyebabkan kerendahan dan kehinaan.

7        Bahwa iman kepada hal yang gaib adalah iman yang bermanfaat, adapun keimanan terhadap segala sesuatu yang terlihat, setiap orang akan beriman terhadapnya pada hari kiamat seandainya mereka diciptakan di surga, niscaya mereka tidak akan mendapatkan derajat keimanan terhadap hal gaib yang berakibat kelezatan dan kemuliaan yang didapat karena beriman dengan yang gaib, oleh karena itu Dia turunkan mereka ke tempat yang memungkinkannya untuk beriman kepada hal yang gaib.

8        Bahwasanya Allah SWT menginginkan dari semua itu untuk memberitahu kepada hamba-hambanya akan kesempurnaan nikmat yang telah diberikan kepada mereka, agar mereka lebih mencintai dan bersyukur, dan agar lebih dapat merasakan lezatnya nikmat yang dianugerahkan kepada mereka. Allah-pun menunjukkan perbuata-Nya terhadap musuh-musuh-Nya serta azab yang Ia siapkan untuk mereka. Dia juga memperlihatkan kepada mereka kenikmatan terbesar yang Ia khususkan untuk mereka agar mereka semakin bertambah senang dan gembira, semua ini adalah wujud kesempurnaan nikmat serta kecintaan-Nya terhadap mereka. Dan tidak ada jalan lain dalam hal ini kecuali menurunkan mereka ke bumi, lalu menguji dan menyeleksi mereka, memberi taufik kepada yang Ia kehendaki dari mereka sebagai bentuk rahmat dan kemuliaanya, dan membiarkan dari mereka siapa yang dikehendaki-Nya dengan hikmah dan keadilan darinya. Karena Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

9        Bahwasanya Allah SWT menginginkan Adam AS beserta keturunannya  kembali kepada-Nya dalam keadaan yang terbaik, sehingga Dia timpahkan sebelum itu berbagai kesulitan dunia, kesedihan, kepedihan dan wabah yang besarnya disisi mereka tidak bisa dibandingkan dengan apa yang akan mereka masuki di akherat, karena biasanya kebaikan itu selalu ditampakan oleh lawanya.

Setelah saya menerangkan tentang permulaan manusia, maka alangkah baiknya kalau saya menerangkan kebutuhanya akan agama yang benar.

* * * * * *

 Kebutuhan Manusia terhadap Agama

          Kebutuhan manusia terhadap agama jauh lebih besar dari pada kebutuhannya terhadap hajat hidup. Manusia harus mengetahui sisi-sisi yang yang dapat mendatangkan  keridhaan Allah SWT dan sisi-sisi yang dapat mengundang kemurkaan-Nya, ia juga harus melakukan tindakan yang dapat mendatangkan manfaat baginya dan menolak madharat darinya. Syari’at yang akan membedakan antara perbuatan-perbuatan yang bermanfaat dan yang merugikan, yang mana itu adalah bentuk keadilan Allah terhadap makhluk-Nya dan sebagai cahaya petunjuk bagi hamba-hamba-Nya, sehingga manusia tidak mungkin bisa hidup tanpa syari’at yang denganya ia bisa membedakan antara apa yang harus dia kerjakan dan apa yang harus dia tinggalkan.

          Apabila manusia memiliki keinginan, maka dia harus mengetahui apa yang diinginkannya, dan apakah ia itu bermanfaat baginya ataukah tidak? Apakah ia sesuatu yang memperbaiki atau merusaknya?. Permasalahan ini telah diketahui oleh sebagian manusia oleh fitrahnya, sebagian mengetahuinya dengan dalil yang bisa diterima oleh akalnya dan sebagiannya ada yang tidak bisa diketahui kecuali setelah diajarkan, dijelaskan serta ditunjukan oleh para Rasul.

          Walaupun faham-faham materialistik kufur bermunculan, berbagai teori dan pemikiran bertebaran, namun tiap pribadi dan masyarakat tetap tidak akan bisa lepas dari kebutuhan akan agama yang benar, semua teori dan pemikiran itu tidak akan bisa menutupi semua kebutuhan ruh dan jasad, bahkan seorang yang semakin jauh mendalaminya, akan semakin yakin dengan seyakin-yakinnya kalau hal tersebut tidak akan bisa mendatangkan keamanan, tidak pula menghilangkan dahaga, dan bahwasanya tidak ada tempat untuk berlindung kecuali hanyalah kepada agama yang benar, berkata Arnest Rinand: “bahwasanya sangat mungkin sekali segala sesuatu yang kita sukai akan rusak,  kebebasan menggunakan akal, ilmu dan berkarya akan terhenti, akan tetapi merupakan sesuatu yang mustahil terhentinya kegiatan beragama, bahkan ia akan tetap ada sebagai hujjah yang berbicara atas kebathilan faham materialistik yang ingin membatasi manusia dalam kesempitan yang hina dalam kehidupan diatas bumi.

          Berkata Muhammad Farid Wajdy: “mustahil pemikiran keagamaan ini akan lenyap, karena ia adalah kecenderungan jiwa tertinggi dan termulia, bahkan kecenderungan terhadapnya akan semakin bertambah, karena fitrah keagamaan akan mengenai manusia selama dia memiliki akal yang bisa dipergunakan untuk membedakan antara baik dan buruk, dan fitrah ini akan semakin bertambah sesuai dengan tingginya tingkat pemahaman serta perkembangan pengetahuannya”.

          Apabila manusia menjauhkan diri dari Rabb-nya, maka sesuai dengan ketinggian pengetahuan dan keluasan ilmunya, dia akan menyadari kebodohanya akan Rabb-nya dan apa yang wajib untuk dilakukan olehnya, begitu pula kebodohanya akan dirinya serta apa yang bermanfaat dan merusaknya, serta apa yang bisa menjadikannya berbahagia dan bersedih, ia juga akan menyadari kebodohannya akan cabang-cabang ilmu dan satuan-satuannya, seperti ilmu falak, orbit tempat berputar, ilmu hisab, ilmu tumbuhan dan lain sebagainya… pada saat tersebut akan seorang ilmuan akan berubah dari  ketertipudayaan dan kesombongan menjadi rendah diri serta berserah diri, dia akan meyakini bahwa dibelakang setiap ilmu itu ada Dzat Yang Maha berilmu dan Maha Bijaksana, dibalik alam ini ada Pencipta Yang Maha Kuasa, hakekat ini mengharuskan seorang peneliti bijaksana untuk beriman kepada yang gaib dan tunduk terhadap agama yang lurus serta mengijabahi panggilan fitrah dan tabi’at yang murni. Jika tidak begiu maka manusia akan terbalik fitrahnya dan terlempar sampai kepada derajat binatang.

          Dengan ini kita menyimpulkan bahwa agama yang hak ini –yang dibangun diatas meng-Esakan Allah dalam beribadah kepada-Nya sesuai apa yang Dia syari’atkan- merupakan sebuah unsur penting bagi kehidupan, agar darinya seseorang bisa merealisasikan ubudiyyahnya terhadap Allah Penguasa alam, dan untuk mendapatkan kebahagiaan serta keselamatan dari kebinasaan, kesusahan dan kesengsaraan pada dua tempat (dunia dan akherat), hal itu juga merupakan suatu yang penting agar kekuatan pandangan seseorang menjadi sempurna, hanya dengannya saja akal akan mendapatkan apa yang bisa memuaskan keinginannya, dan tanpanya tidak bisa terealisasi harapan tertingginya.

          Ia merupakan unsur dhoruri untuk menyucikan jiwa dan melatih kekuatan tubuh, karena perasaan yang cemerlang akan mendapat kesempatan yang banyak dalam agama dan peluang yang akan selalu mendapatkan pertolongan dalam mencapai apa yang menjadi tujuannya.

          Ia merupakan unsur penting untuk menyempurnakan kekuatan kehendak dengan suplay dorongan dan sokongan yang diberikan juga kekebalan dalam melawan penyebab-penyebab kebosanan dan keputusasaan.

          Oleh sebab itu apabila ada yang berkata: “bahwa tabiat manusia itu cenderung kepada kemajuan”. Maka sudah seharusnya untuk kita katakan: “bahwa fitrah manusia cenderung beragama”, karena manusia memiliki dua kekuatan: kekuatan ilmiyyah nadhoriyyah (pandangan), dan kekuatan ilmiyyah iradiyyah (keinginan), kebahagiaannya yang sempurna akan terhenti dihadapan kesempurnaan kedua kekuatan tersebut, dan kesempurnaan kekuatan ilmiyyah tidak akan terealisasi kecuali dengan mengetahui perkara-perkara berikut ini:

1        Mengetahui Tuhan Pencipta, Pemberi Rizki yang mengadakan manusia dari ketidak adaan dan menyempurnakan kenikmatan kepadanya.

2        Mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah, apa yang wajib terhadap-Nya, serta pengaruh nama-nama tersebut terhadap hamba-Nya.

3        Mengetahui jalan yang bisa menyampaikan kepada-Nya.

4        Mengetahui halangan serta rintangan yang dapat menghalangi antara manusia dan pengetahuan akan jalan ini serta apa yang dapat mengantarkan nikmat kepadanya.

5        Mengetahui diri anda sendiri dengan sebenar-benarnya, mengetahui apa yang anda perlukan, apa yang bermanfaat atau apa merusaknya, serta mengetahui aib dan kelebihan yang dimilikinya.

Dengan mengetahui kelima perkara tersebut, seseorang akan menjadi sempurna kekuatan ilmiyyahnya, penyempurnaan kekuatan ilmiyyah dan irodiyyah tidak akan didapat kecuali dengan memperhatikan hak-hak Allah terhadap hamba-Nya, dan mengerjakannya dengan penuh ikhlas, kejujuran, nasehat, mutaba’ah dan persaksian atas kesungguhan terhadapnya, tidak ada jalan untuk sampai kepada kesempurnaan kedua kekuatan tersebut kecuali dengan pertolongan-Nya, Allah SWT pasti akan menunjukanya kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang Dia telah tunjukkan kepada para wali-wali-Nya.

          Setelah kita mengetahui bahwa agama yang benar adalah yang dapat memberi suply kekuatan bagi berbagai macam jiwa, ia juga merupakan baju besi yang melindungi masyarakat, itu karena kehidupan manusia tidak mungkin terselenggara kecuali dengan adanya kerja sama diantara anggota tubuh, kerjasama ini tidak akan sempurna kecuali dengan aturan yang mengatur hubungan diantara mereka, menentukan kewajiban-kewajibannya, serta menanggung hak-haknya. Peraturan ini tetap membutuhkan sebuah kekuasaan sepiritual yang dapat memberi efek jerah bagi setiap jiwa untuk melanggar aturan, mendorong untuk tetap konsisten padanya, dan tetap menjaga kewibawaanya dihadapan manusia, serta mencegah terjadinya pelanggaran terhadap batasan-batasanya. kekuasaan apakah ini? Maka saya katakan: diatas muka bumi ini tidak ada kekuatan yang menandingi kekuatan agama atau menyamainya dalam menjaga dan memelihara kehormatan sebuah peraturan, juga dalam menjamin keutuhan hidup masyarakat dan keterpaduan unsur-unsur ketentraman dan ketenangan.

          Rahasianya adalah bahwa manusia memiliki kelebihan diantara berbagai macam makhluq hidup yang ada, hal itu tercermin dalam setiap gerakan dan tindakan yang ia lakukan yang kesemuanya disetir oleh keimanan, sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh pendengaran maupun penglihatan. Keyakinan dan imanlah yang membimbing ruh dan meluruskan raga, manusia selamanya disetir oleh keyakinan yang benar atau keyakinan yang salah, jika keyakinanya benar maka benar pula selainya, tetapi jika keyakinanya rusak maka akan rusak pula selainya.

          Keyakinan dan iman merupakan pengawas khusus bagi manusia, keduanya –sebagaimana yang terjadi pada kebanyakan manusia- terbagi dalam dua bentuk:

1        Meyakini akan nilai keutamaan dan kemuliaan insan serta segala makna yang menjadikan manusia malu untuk menyelisih terhadap ajakan-ajakanya meskipun tanpa ada balasan materi atau dorongan eksternal lainya.

2        Iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bahwasanya Dia-lah yang mengawasis segala sesuatu yang tersembunyi, Dia mengetahui apa yang rahasia dan disembunyikan, syari’ah memiliki kendali kekuasaan yang terbangun dari perintah dan larangan-Nya, perasaan penuh malu kepadan-Nya bergejolak karena cinta atau takut kepadan-Nya atau karena keduanya. tidak diragukan lagi bahwa keimanan yang seperti ini adalah yang paling kuat penguasaannya terhadap jiwa manusia, dan ia lebih kuat perlawanannya terhadap tuntutan-tuntutan hawa nafsu dan gejolak perasaan, ia lebih cepat meresap pada hati setiap orang.

Oleh karena itu semua, agama merupakan jaminan terbaik untuk membangun hubungan diantara umat manusia yang dibangun diatas tiang-tiang keadilan dan kebijaksanaan, yang mana hal tersebut merupakan tuntutan kemasyarakatan, maka tidak heran bahwa posisi agama dalam umat ini seperti hati bagi tubuh.

          Apabila secara umum agama berada pada kedudukan ini, tetapi yang kita saksikan dewasa ini adanya berbagai macam agama dan aliran, masing-masing kelompok berbangga dengan agamanya, berpegang teguh dengan aliranya, maka agama manakah yang benar yang dapat merealisasikan bagi jiwa manusia apa yang ia harapkan? Dan apakah ciri-ciri agama yang hak itu?

* * * * * *

 Ciri-ciri Agama yang Hak

          Setiap pemeluk suatu kelompok akan memiliki keyakinan bahwa kelompoknyalah yang hak, dan setiap pengikut suatu agama akan meyakini bahwa agama merekalah agama yang paling tepat dan memiliki manhaj yang terlurus. Ketika anda bertanya kepada pengikut agama-agama yang menyimpang atau para pengikut agama-agama yang dibuat oleh manusia dengan berdasarkan pada dalil menurut keyakinan sendiri, lalu mereka berhujjah bahwa mereka mendapati nenek moyang mereka menjalankan satu aliran, sedangkan mereka hanya mengikutinya saja, kemudian mereka menyebutkan hikayat-hikayat serta kabar-kabar yang tidak shohih sanadnya, dan matan yang tidak selamat dari cacat serta celaan, mereka berpegang pada buku-buku warisan yang tidak diketahui siapa yang mengatakannya dan tidak pula siapa yang menulisnya, tidak pula diketahui pada mulanya ditulis dengan bahasa apa, dan dinegara mana ditemukan, ia hanyalah celotehan-celotehan yang dikumpulkan lalu diagungkan dan diwariskan pada generasi-generasi berikutnya tanpa diteliti secara ilmiyah untuk menyelamatkan sanad dan memastikan matannya.

          Buku-buku yang tidak diketahui sumbernya ini, hikayat-hikayat serta taklid buta tidak pantas untuk dijadikan hujjah dalam permasalahan agama dan aqidah, apakah setiap agama yang menyimpang dan buatan manusia ini benar ataukah batil?

          Mustahil kalau semuanya berada diatas kebenaran, karena kebenaran itu hanya satu dan tidak terbagi-bagi, dan mustahil pula kalau seluruh agama yang menyimpang dan buatan manusia ini datang dari sisi Allah dan benar, jika banyak –sedangkan yang hak hanya satu- maka manakah yang hak? Oleh karena itu harus ada garisan-garisan yang kita ketahui darinya antara agama yang hak dan batil, apabila kita mendapatkan garian-garisan ini berada pada suatu agama maka kita akan ketahui bahwa itulah agama yang hak, dan apabila tidak ada garisan-garisan ini atau salah satunya pada sebuah agama, maka kita akan mengetahui bahwa agama tersebut adalah agama yang batil.

Ciri-ciri yang membedakan antara agama yang hak dan batil adalah:

Pertama: Agama tersebut dari sisi Allah SWT. Diturunkan melalui salah seorang malaikat-Nya kepada salah seorang rasul-Nya untuk disampaikan kepada hamba-hamba-Nya, karena agama yang hak adalah agama Allah, Allah subhanah Dialah yang menentukan agama dan menghisab seluruh makhluk pada hari kiamat atas agama yang Dia turunkan kepada mereka, firman Allah:

" إنا أوحينا إليك كما أوحينا إلى نوح والنبيين من بعده وأوحينا إلى إبراهيم وإسماعيل وإسحاق ويعقوب والأسباط وعيسى وأيوب ويونس وهارون وسليمان وآتينا داووود زبورًا "

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud”, dan firman-Nya:

" وما أرسلنا من قبلك من رسول إلاّ نوحي إليه أنه لا إله إلاّ أنا فاعبدون "

“...dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”, dibangun atas itu semua, maka agama apapun yang dibawa oleh seseorang dan dinisbatkan kepada dirinya, bukan kepada Allah maka itu adalah agama yang batil, tanpa alasan apapun.

Kedua: Hendaklah ia mengajak untuk meng-esakan Allah dalam ibadah, mengharamkan syirik dan mengharamkan segala perantara yang mengarah kepadanya, karena dakwah kepada tauhid merupakan pondasi dakwahnya seluruh Nabi dan Rasul, setiap Nabi berkata terhadap kaumnya:

" اعبدوا الله ما لكم من إله غيره "

“Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya”, berdasarkan ini maka agama apapun yang mencakup kesyirikan dan mengambil sekutu bersama Allah baik berupa Nabi, Malaikat ataupun wali adalah agama yang batil, walaupun para berafiliasi kepada salah seorang Nabi.

Ketiga: Hendaklah ia sesuai dengan pondasi yang didakwahkan oleh para Rasul yaitu beribadah hanya kepada Allah saja, berdakwah kepada jalan-Nya, mengharamkan syirik, kedurhakaan terhadap kedua orang tua, membunuh jiwa tanpa haknya, serta mengharamkan kejelekan-kejelekan yang tampak dan tersembunyi, Allah berfirman:

" وما أرسلنا من قبلك من رسول إلاّ نوحي إليه أنه لا إله إلاّ أنا فاعبدون "

“dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”, firman-Nya:

" قل تعالوا أتل ما حرّم ربّكم عليكم ألاّ تشركوا به شيئًا وبالوالدين إحسانًا ولا تقتلوا أولادكم من إملاق نحن نرزقكم وإياهم ولا تقربوا الفواحش ما ظهر منها وما بطن ولا تقتلوا النفس التي حرّم الله إلاّ بالحق ذلكم وصّاكم به لعلكم تعقلون "

“Katakanlah: “marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya)” dan firman-Nya:

" واسأل من أرسلنا من قبلك من رسلنا أجعلنا من دون الرحمن آلهة يعبدون "

“dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”.

Keempat: Hendaklah ia tidak saling bertentangan dan berlawanan antara sebagiannya dengan sebagian yang lain, sehingga ia tidak memerintahkan suatu perkara kemudian membatalkannya dengan perintah yang lain, tidak mengharamkan sesuatu kemudian menghalalkan hal yang serupa tanpa alasan, dan tidak pula mengharamkan suatu perkara ataupun membolehkannya bagi satu kelompok kemudian mengharamkannya bagi kelompok yang lain, Allah berfirman:

" أفلا يتدبّرون القرآن ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافًا كثيرًا "

“maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Kelima: Hendaklah syariat agama tersebut mencakup perkara-perkara yang bisa menjaga bagi manusia agama, kehormatan, harta, jiwa serta keturunan mereka, baik berupa perintah, larangan, peringatan, serta akhlak yang menjaga kelima perkara tersebut.

Keenam: Hendaklah agama tersebut merupakan rahmat bagi seluruh makhluk dari kedzoliman diri sendiri dan kedzoliman sebagian terhadap sebagian lainnya, baik kdzoliman tersebut disebabkan oleh pelanggaran terhadap hak-hak, atau dengan mengenyampingkan kebaikan, atau penindasan yang besar terhadap yang kecil, Allah berfirman seraya mengabarkan tentang rahmat yang terkandung dalam Taurat yang Dia turunkan kepada Musa as:

" ولمّا سكت عن موسى الغضب أخذ الألواح وفي نسختها هدى ورحمة للّذين هم لربّهم يرهبون "

“sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya”, Allah berfirman ketika menghabarkan tentang diutusnya Isa as:

" ولنجعله آية للناس ورحمة "

“...dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat”, firman-Nya ketika menghabarkan tentang Soleh as:

" قال يا قوم أرأيتم إن كنت على بيّنة من ربّي وآتاني منه رحمة "

“Shaleh berkata: “hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat”, dan firman Allah tentang Al-Qur’an:

" وننزّل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين "

“...dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”.

Ketujuh: Hendaklah ia mengandung hidayah kepada syari’at Allah, menunjukan kepada manusia akan tujuan diciptakanya mereka, mengabarkan dari mana mereka datang dan kemanakah mereka dikembalikan? Allah berfirman tentang Taurat:

" إنّا أنزلنا التوراة فيها هدى ونور "

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya”, dan firman-Nya tentang Injil:

" وآتيناه الإنجيل فيه هدى ونور "

“...dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil edang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya”, serta firman-Nya tentang Al-Qur’anul Karim:

" هو الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق "

“Dialah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar”. Dan agama yang benar adalah agama yang mencakup hidayah kepada syari’at Allah yang dapat mewujudkankan rasa aman dan tentram bagi jiwa, dapat mengusir segala keraguan, menjawab seluruh pertanyaan dan menerangkan seluruh permasalahan.

Kedelapan: Hendaklah ia mengajak kepada akhlak dan perbuatan yang mulia, seperti jujur, adil, amanat, malu, menjaga diri dan kedermawanan, dan juga melarang dari kejelekannya, seperti durhaka terhadap kedua orang tua, membunuh, serta mengharamkan perbuatan buruk, dusta, berbuat zolim, zina, kikir dan kejahatan.

Kesembilan: Hendaklah ia mewujudkan kebahagiaan bagi orang yang beriman kepadanya, firman Allah:

“Thaahaa (1) Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah”, dan hendaklah ia sejalan dengan fitrah yang murni:

" فطرت الله التي فطر الناس عليها "

(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu”, dan juga sejalan dengan akal yang benar, karena agama yang benar adalah apa yang disyari’atkan oleh Allah, dan akal yang benar adalah ciptaan Allah, maka mustahil akan bertentangan antara syari’at Allah dan ciptaan-Nya.

Kesepuluh: Hendaklah ia menunjukkan kepada kebenaran dan menjauhkan dari kebatilan, mengarahkan kepada petunjuk dan menjauhi kesesatan, dan juga menyeru umat manusia kepada jalan lurus yang tidak ada kemiringan dan tidak pula kebengkokan, Allah Ta’ala berfirman tentang bangsa jin, bahwasanya ketika mereka mendengar Al-Qur’an sebagiannya berkata kepada sebagian lainnya:

" يا قومنا إنا سمعنا كتابًا أنزل من بعد موسى مصدّقًا لّما بين يديه يهدي إلى الحق وإلى طريق مستقيم "

“Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus”, hendaknya ia tidak mengajak mereka kepada yang membikin mereka sendiri susah, firman Allah:

“Thaahaa (1) Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah”, tidak memerintahkan mereka dengan apa yang membinasakan diri mereka sendiri, firman Allah:

" ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيمًا "

“...dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”, dan juga ia tidak membeda-bedakan diantara pengikutnya, baik itu disebabkan oleh jenis, warna ataupun juga kabilah, Allah berfirman:

" يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبًا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله  أتقاكم إن الله عليم خبير"                                                                                                                                       

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Takaran yang dianggap untuk membedakan dalam agama adalah ketakwaan terhadap Allah.

          Setelah saya menampilkan ciri-ciri yang dapat memisahkan antara agama yang benar dan agama yang batil –dan saya telah membawakan bukti untuk semua itu dengan apa yang ada dalam Al-Qur’anul Karim, yang menunjukkan bahwa cirri-ciri ini bersifat umum mencakup setiap rasul yang telah diutus oleh Allah- maka sangat tepat sekali kalau kita menampilkan macam-macam agama.

Pembagian Agama

Manusia menurut agamanya terbagi menjadi dua:

          Bagian pertama adalah mereka yang memiliki kitab yang diturunkan Allah SWT, seperti Yahudi, Nasrani dan Islam. Adapun Yahudi dan Nasrani, disebabkan oleh ketidak beramalan mereka terhadap apa yang ada dalam kitabnya, disebabkan karena mereka mengangkat manusia sebagai tuhan selain Allah, dan disebabkan oleh lamanya waktu… kitab yang telah Allah turunkan kepada Nabi-nabi mereka telah hilang, maka para pendeta menulis untuk mereka sebuah kitab kemudian disandarkan kepada Allah, padahal sebenarnya ia bukanlah dari sisi Allah, akan tetapi hanyalah kutipan ahli batil dan hasil penyimpangan orang-orang yang melampaui batas.

          Adapun kitabnya kaum Muslimin [Al-Qur’anul Adzim] adalah kitab Allah yang terakhir diturunkan dan yang paling kuat ikatannya, karena Allah telah berjanji untuk menjaganya, Dia tidak membebankan permasalahan ini terhadap manusia, firman-Nya:

" إنّا نحن نزّلنا الذكر وإنّا له لحافظون "

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”, sehingga ia akan tetap terjaga di dalam dada serta lembaran-lembaran, karena ia merupakan kitab terakhir yang Allah kandungkan padanya petunjuk bagi manusia, menjadikannya hujjah bagi mereka sampai hari kiamat, Dia tentukan kalau ia akan kekal, dan menyiapkan pada setiap zaman orang-orang yang akan selalu menjaga batasan-batasan serta huruf-hurufnya, yang mana mereka akan beramal dengan syari’atnya serta beriman kepadanya. Akan ada tambahan rincian tentang kitab yang agung ini pada alinea-alinea berikutnya.

          Bagian lainnya adalah agama yang tidak memiliki kitab yang Allah turunkan, walaupun mereka memiliki kitab yang diwariskan secara turun temurun dan disandarkan terhadap pendiri agama mereka, seperti Hindu, Majusi, Budha, Konghucu serta bangsa Arab sebelum diutusnya nabi Muhammad.

          Tidak ada satu umatpun kecuali ia akan memiliki ilmu dan amalan yang sesuai dengan apa yang mendatangkan maslahat bagi dunianya. Ini termasuk dari hidayah umum yang Allah anugerahkan kepada setiap manusia, bahkan juga setiap hewan, sebagaimana Dia memberi petunjuk kepada binatang untuk mencari makanan dan minuman yang bermanfaat baginya serta menghindari dari apa yang merugikanya. Allah telah menciptakan padanya rasa cinta kepada sesuatu dan rasa benci kepada sesuatu, firman Allah:

 “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (1) yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) (2) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”, berkata Musa as terhadap Fir’aun:

" ربّنا الذي أعطى كلّ شيء خلقه ثمّ هدى "

“Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk”, al-kholil Ibrahim  berkata:

" الذي خلقني فهو يهدين "

(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku”, sebagaimana yang telah diketahui oleh setiap yang memiliki akal –ia memiliki pandangan dan pemikiran terendah- bahwa para pemeluk agama lebih sempurna dalam permasalahan ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh, jika dibandingkan dengan mereka yang tidak memeluk sebuah agama. Tidak ada kebaikan apapun yang terdapat pada para pemeluk agama selain islam, kecuali hal tersebut akan di dapat pada kaum muslimin apa yang lebih sempurna darinya. pada para pemeluk agama akan didapat apa yang tidak terdapat pada selainnya. Semua ini karena ilmu dan amal terbagi menjadi dua bagian:

Pertama: Ilmu yang didapat melalui akal, seperti ilmu hisab, kedokteran dan karya tangan, yang seperti ini bisa didapat pada para pemeluk agama ataupun bukan pemeluk agama, bahkan para pemeluk agama lebih sempurna penguasaanya. Adapun apa yang tidak diketahui jika hanya dengan mengutamakan akal, seperti ilmu ketuhanan dan ilmu yang berhubungan dengan agama, maka ini khusus hanya bagi para pemeluk agama saja, walaupun darinya ada yang memungkinkan untuk dikemukakan dengan dalil aqli. Para rasul memberikan petunjuknya kepada seluruh makhluk yang berhubungan dengan dalil aqlinya, sehingga ia dinamakan aqliah syar’iyyah.

Kedua: apa yang tidak diketahui kecuali dengan berita dari para rasul –ini tidak ada kemungkinan untuk didapat melalui jalan akal- seperti berita tentang Allah, nama dan sifat-sifat-Nya, serta apa yang ada di alam akherat berupa kenikmatan bagi yang menta’ati-Nya dan adzab bagi yang bermaksiat kepada-Nya, juga keterangan tentang syari’at Allah, berita tentang para nabi terdahulu bersama umat-umatnya dan lain sebagainya.

* * * * * *

 Keadaan Agama-agama yang Pernah Ada

          Agama-agama besar, kitab-kitabnya yang lama serta syari’at-syari’atnya yang usang menjadi buruan bagi orang-orang yang suka berbuat usil dan mempermainkan, ia pun menjadi mainan bagi para perubah (syari’at) dan orang-orang munafik, juga menjadi pemicu terjadinya berbagai peristiwa berdarah serta malapetaka besar. Ia kehilangan ruh dan bentuknya, sehingga kalau seandainya para pemeluknya yang pertama dan juga rasul-rasulnya dibangkitkan, niscaya mereka akan mengingkari dan mengatakan  ketidak tahuannya akan agama tersebut.

          Agama yahudi* –dewasa ini- tak ubahnya hanya sekumpulan simbul dan adat istiadat yang kosong dari ruh dan kehidupan, ia –disamping semua itu- merupakan agama turun temurun yang khusus bagi kaum dan jenis tertentu, ia tidak membawa suatu risalah yang umum bagi seluruh alam ini, atau dakwah bagi seluruh umat, serta tidak pula membawa rahmat bagi segenap umat manusia.

          Keaslian aqidah agama ini telah ternodai, padahal dulu ia adalah symbol dikenal dihadapan seluruh agama dan umat. Tadinya ia memiliki rahasia kemuliannya, yaitu aqidah tauhid yang telah diwasiatkan oleh Ibrahim kepada putranya Ya’qub . Yahudi telah menukil banyak dari aqidah umat-umat yang rusak, mereka adalah umat yang tinggal berdekatan dengannya ataupun juga mereka yang berada dibawah kekuasaannya. Kebanyakan diambil dari kebiasaan dan taklid para penyembah berhala jahiliyah. Yang seperti ini telah diakui oleh ahli-ahli sejarah yahudi yang jujur, disebutkan dalam “Dairotul ma’arif al-yahudiyah” yang maknanya: “Sesungguhnya kemurkaan dan kemarahan para nabi dalam permasalahan ibadah terhadap berhala menunjukkan bahwa perkara penyembahan berhala dan tuhan-tuhan telah merasuk pada jiwa orang-orang Israel, mereka telah menerima keyakinan-keyakinan syirik dan khurafat. Sesungguhnya Tulmudpun telah bersaksi bahwa berhala memiliki tarikan khusus bagi Yahudi”.

          Tulmud Babil –yang terlalu dilebih-lebihkan oleh yahudi dalam pemuliannya, terkadang lebih mereka utamakan dari taurat, ia tersebar dikalangan yahudi pada abad ke enam, ia dipenuhi oleh contoh-contoh aneh yang dilemahkan akal dan mudah diucapkan, berani menentang Allah, tidak sungguh-sungguh dengan kebenaran serta mempermainkan agama dan akal- menunjukkan kepada apa yang telah dicapai oleh masyarakat yahudi pada abad ini, berupa kemunduran akal dan kerusakan sensitifitas keagamanya.

          Adapun Nasrani*, ia telah dicoba dengan dirubah oleh orang-orang yang melampaui batas, dita’wil oleh mereka yang bodoh dan juga terpengaruhi oleh penyembah berhala Roma yang masuk Kristen, sejak zaman pertamanya, setiap dari mereka menjadi penyusun, didalamnya dipendam ajaran al-masih yang agung, cahaya tauhid dan keikhlasan beribadah kepada Allah menjadi samar di belakang gumpalan awan penyimpangan yang tebal ini.

          Seorang penulis Nasrani berbicara tentang jauhnya gejolak aqidah trinitas dalam masyarakat Kristen, sejak akhir abad keempat miladi, dia berkata: “berkecamuk keyakinan bahwa tuhan yang satu tersusun dari tiga unsur dalam seluruh kehidupan alam masehi dan pemikirannya, sejak akhir  abad keempat, ia tetap menjadi aqidah resmi yang dipegang diseluruh penjuru dunia masehi, dan tidak terungkap rahasia  perkembangan aqidah trinitash kecuali pada pertengahan kedua dari abad sembilan belas miladi.

          Ahli sejarah Nasrani pada abad ini berbicara dalam buku: “Tarikh masehi fi dhow’il ‘ilmil muashir” tentang tampaknya unsur keberhalaan dalam masyarakat Nasrani dalam keadaan berbeda dan beraneka ragam. Nasrani memperindah dalam menyadur ajaran, kebiasaan, hari raya serta pahlawan para penyembah patung dari umat-umat dan agama-agama yang mengakar pada kesyirikan dengan dalih taklid, kagum atau bodoh. Dia berkata: “telah punah penyembah berhala, namun ia tidak dibuang secara keseluruhan, bahkan masih berkecamuk dalam jiwa dan segala sesuatunya masih terus berjalan dengan nama masehi dan dalam kelambunya. Orang-orang yang berlepas diri dari tuhan mereka, pahlawan mereka dan berpisah darinya mengambil salah satu dari mereka yang mati darinya, dan memberinya julukan dengan sifat-sifat ketuhanan, kemudian mereka membuatkan patungnya. Demikianlah perpindahan kesyirikan dan penyembahan patung kepada para pahlawan setempat, tidak sampai selesai abad tersebut hingga tersebarlah penyembahan terhadap para pahlawan dan wali, maka terbentuklah aqidah baru, yaitu bahwa para wali mengusung sifat-sifat ketuhanan. Para wali beserta orang-orang yang disucikan menjadi penengah antara Allah dengan manusia. Lalu mereka merubah nama hari-hari perayaan terhadap berhala menjadi nama-nama baru, sehingga pada tahun 400 miladi hari raya matahari lama menjadi hari raya kelahiran al-masih”.

          Adapun Majusi, mereka telah dikenal sejak dahulu kala dengan penyembahan terhadap unsur-unsur alami dan yang paling besar bagi mereka adalah api, yang akhirnya mereka memutuskan untuk menyembahnya, mereka membangun padanya patung dan tempat ibadah, menjadikan rumah-rumah api semakin membanyak di seluruh pelosok negeri. Seluruh aqidah dan keagamaan punah kecuali penyembahan kepada api dan pengagungan terhadap matahari, bagi mereka agama hanyalah gambaran tentang tata cara dan adat yang dilaksanakan pada tempat-tempat tertentu.

          Pengarang “Iran fi ahdi as-sasaniyyin” yang berwarga Negara Denmark, Arther Kristen Seen, seorang punggawa agama dan pelayannya, dia berkata:

          “pada mulanya merupakan suatu kewajiban bagi para pelayan untuk menyembah matahari sebanyak empat kali setiap harinya, disamping itu ditambah dengan menyembah bulan, api dan air, mereka diperintahkan untuk tidak membiarkan api padam, api dan air jangan sampai bertemu dan tidak membiarkan tembaga berkarat, karena tembaga merupakan suatu yang suci bagi mereka”.

          Mereka menjadi dekat terhadap kekembaran pada setiap masa dan menjadi sebuah syi’ar bagi mereka, mereka beriman kepada dua tuhan yang salah satunya cahaya atau tuhan kebaikan yang dinamakan “Ahormazda” atau “Yazdan”, dan yang kedua adalah kegelapan atau tuhan kejelekan, ia adalah “Aherman”. Pertikaian masih terjadi diantara keduanya dan peperangan tetap berlangsung.

          Sedangkan Budha –agama yang tersebar di India dan Asia tengah- merupakan agama penyembah berhala yang selalu membawa patung kemana saja mereka pergi, membangun pura dan meletakkan patung “budha” ditempat yang tepat dan disinggahi.

          Adapun al-barhamiyyah –agama India-, ia telah dikenal dengan banyaknya sesembahan dan tuhan. Pada abad ke enam miladi berhala telah mencapai puncaknya, pada abad ini tuhan berjumlah 330 juta, segala sesuatu menjadi indah, segala sesuatu terpuji dan segala sesuatu bermanfaat menjadi tuhan yang disembah, sehingga pemahatan patung semakin meningkat dan pehias semakin memperindah.

          Berkata: “C. Y. Wid” seorang India dalam bukunya: “Tarikh Hindi al-Wustha” dia berbicara tentang raja Hers “606 – 648M”, yang bertepatan dengan kemunculan Islam di jazirah arab:

          “agama India dan Budha keduanya sama-sama merupakan agama penyembah berhala, bahkan mungkin agama budha telah melebihi agama India dalam permasalahan keberhalaan, yang mana permulaan agama ini – budha – adalah meniadakan tuhan, akan tetapi secara berangsur menjadikan “budha” sebagai tuhan terbesar, kemudian ditambahkan kepadanya tuhan-tuhan yang lain seperti “Bodhistavas”. Berhala sampai memiliki kedudukan di India, bahkan sampai kalimat “Buddha” menjadi sama dengan kalimat “berhala” atau “patung” dalam beberapa bahasa di timur”.

          Tidak diragukan lagi bahwa berhala semakin merebak diseantero dunia pada masa kini. Seluruh dunia mulai dari Lautan Atalantik sampai Laut Tengah telah dikuasai oleh berhala. Seolah-olah agama masehi, samiyyah dan Buddha telah berlomba-lomba dalam pengagungan serta pengkultusan berhala, seolah-olah bagaikan kuda tergadai yang berlari dalam satu kotak.

          Berkata seorang India lain dalam bukunya yang diberi nama”: Al-hindukiyyah as-saaidah”: (sesungguhnya permasalahan pembuatan tuhan) tidak selesai sampai di sini. Tuhan-tuhan kecil masih terus digabungkan pada masa-masa sejarah yang berbeda kedalam “kumpulan tuhan” dengan jumlah yang cukup besar, bahkan ia sampai terkumpul melebihi ukuran dan tidak terjumlah.

          Inilah keadaan agama yang ada, adapun Negara-negara rapih yang tersusun padanya pemerintahan-pemerintahan besar, tersebar padanya ilmu yang banyak, dan merupakan ladang bagi kemajuan, industri dan adab, merupakan Negara yang agamanya telah dirubah, keorisinalitasan dan kekuatanya sirnah, kehilangan penasehat dan pendidiknya, didalamya merebak kekufuran, sehingga semakin banyak kerusakan, berubah segala takaran, dan manusia jadi menghinakan dirinya sendiri, oleh karena itu semakin banyaklah pelaku bunuh diri, hubungan kekeluargaan terputus, dan hubungan kemasyarakatan jadi semakin hancur, klinik-klinik dokter jiwa menjadi ramai dengan pasien, muncul pasar para pesulap, orang-orang mencoba seluruh perkara yang dikatakan hiburan dan mengikuti seluruh cara yang dikatakan baru… ; semua itu karena keinginan untuk menghilangkan dahaga yang ada pada rohnya dan untuk menghibur diri serta untuk menenangkan hati. Seluruh hiburan, rasa bosan dan berbagai macam pandangan belum berhasil merealisasikan apa yang diinginkan, mereka akan tetap berada dalam kesusahan jiwa dan terus tersiksa rohnya sampai dia mau berhubungan dengan penciptanya, menyembah-Nya sesuai dengan manhaj yang diridhoi-Nya serta diperintahkan oleh rasul-Nya, Allah berfirman dengan menerangkan keadaan orang yang berpaling dari Rabb-nya, dan mengharap petunjuk selain-Nya:

" ومن أعرض عن ذكري فإنّ له معيشة ضنكًا ونحشره يوم القيامة أعمى "

“...dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Dan firman-Nya ketika mengabarkan tentang keamanan kaum mukminin serta kebahagiaan mereka dalam kehidupan ini:

" الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مّهتدون "

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”, serta firman-Nya:

" وأما الذين سُعدوا ففي الجنة خالدين فيها ما دامت السموات والأرض إلاّ ما شاء ربّك عطاءً غير مجذوذ "

“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya”.

          Agama-agama di atas –selain islam- kalau kita terapkan padanya ciri-ciri agama yang benar, sebagaimana yang telah lalu, niscaya akan kita dapati bahwa unsur-unsur tersebut banyak yang tidak ada, sebagaimana yang terlihat jelas dalam pemaparan singkat tentang agama-agama tersebut.

          Cacat terbesar yang ada dalam agama-agama tersebut adalah tauhid kepada Allah SWT, para pengikutnya telah melakukan kesyirikan kepada-Nya dengan tuhan-tuhan yang lain, sebagaimana juga bahwa agama ini telah dirubah dan tidak mengedepankan syari’at yang tepat bagi setiap zaman dan tempat, yang mana ia bisa menjaga bagi umat manusia agama, kehormatan, keturunan, harta serta darah mereka, iapun tidak menunjukkan dan mengarahkan mereka kepada syari’at Allah yang telah diperintahkan, juga tidak mendatangkan ketenangan serta kebahagiaan terhadap pemeluknya, karena di dalamnya terdapat berbagai macam pertentangan dan kebertolak belakangan.

          Adapun Islam, maka akan datang pada bab-bab berikut keterangan yang menjelaskan bahwasanya ia adalah agama Allah yang hak, yang kekal nan diridhoi oleh-Nya dan diridhoi untuk dipeluk oleh umat manusia.

          Dalam penutupan alenia ini, sangat tepat kalau kita memperkenalkan tentang hakekat dan tanda-tanda kenabian serta kebutuhan manusia. Kamipun akan menjelaskan tentang pondasi-pondasi dakwah para rasul dan hakekat risalah nabi penutup yang tetap ada.

* * * * * *

 Hakekat Kenabian

          Sesungguhnya kewajiban terbesar yang harus diketahui oleh manusia dalam kehidupan ini adalah mengenal Rabb-nya yang telah menciptakannya dari ketidak-adaan, menganugerahkan berbagai nikmat kepadanya. Dan bahwasanya tujuan Allah menciptakan seluruh makhluk adalah agar mereka beribadah hanya kepada-Nya saja.

          Akan tetapi bagaimanakah seseorang bisa mengenal Rabb dengan sebenar-benarnya? Bagaimana dia bisa mengetahui apa yang menjadi kewajiban baginya dari berbagai hak serta kewajiban dan bagaimana cara menyembah Rabb-nya? Sesungguhnya manusia bisa mendapatkan siapa yang akan membantunya dalam segala kebutuhan dunianya, menunaikan berbagai macam keperluanya yang berupa pengobatan penyakit, pemberian obat, pertolongan dalam mendirikan rumah, dan lain sebagainya… namun dia tidak akan mendapati pada semua manusia orang yang akan memperkenalkannya terhadap Rabb-nya, menerangkan kepadanya cara menyembah Rabb-nya, karena akal tidak mungkin untuk berdiri sendiri dalam mengetahui keinginan Allah darinya, karena akal manusia lebih lemah untuk dapat mengetahui keinginan manusia sepertinya, sebelum dia menceritakan tentang keinginannya. Lalu bagaimana dengan keinginan Allah? Karena perkara-perkara seperti ini terbatas hanya kepada para rasul dan nabi yang telah Allah pilih untuk menyampaikan risalah, dan orang-orang setelahnya dari para imam yang mendapat petunjuk, pewaris para nabi, yang mana mereka adalah orang-orang yang mengusung manhajnya, mengikuti jejak-jejaknya, dan menyampaikan risalah-risalah para nabi dan rasul tersebut, karena umat manusia tidak mungkin untuk dapat menerima secara langsung dari Allah Ta’ala, mereka tidak akan sanggup untuk menerimanya, Allah berfirman:

" ما كان لبشر أن يكلمه الله إلاّ وحيًا أو من وراء حجاب أو يرسل رسولاً فيوحي بإذنه ما يشاء إنّه عليّ حكيم "

“dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”, sehingga memerlukan seorang perantara dan utusan yang akan menyampaikan dari Allah syari’at-Nya untuk para hamba. Para utusan dan perantara yang dimaksud adalah para rasul dan nabi, lalu malaikat membawa risalah Allah kepada seorang nabi, kemudian dia sampaikan kepada seluruh manusia, dan para malaikat tidak akan membawa risalah kepada manusia biasa secara langsung, karena alam malaikat berbeda dengan alam manusia, Allah berfirman:

" الله يصطفي من الملائكة رسلاً ومن الناس "

“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia”.

          Hikmah Allah menghendaki bahwa rasul dipilih dari jenis yang sama dengan kaum yang akan diutus kepadanya, agar mereka bisa lebih memahaminya, agar lebih mudah dalam bercengkerama dan berbicara bersama. Kalau seandainya rasul itu diutus dari seorang malaikat, nicaya mereka tidak akan dapat menghadapinya dan tidak pula mengambil ilmu darinya, Allah berfirman:

" وقالوا لو لا أنزل عليه ملك ولو أنزلنا ملكًا لقضي الأمر ثمّ لا ينظرون . ولو جعلناه ملكًا لجعلناه رجلاً وللبسنا عليهم مّا يلبسون "

“...dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?” dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun) (8) dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu”, firman Allah:

" وما أرسلنا قبلك من المرسلين إلاّ إنهم ليأكلون الطعام ويمشون في الأسواق "

“...dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar” sampai dengan firman-Nya:

" وقال الذين لا يرجون لقاءنا لو لا أنزل علينا الملائكة أو نرى ربّنا لقد استكبروا في أنفسهم وعتوا عتوًّا كبيرًا "

“Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman”.

          Allah berfirman:

" وما أرسلنا من قبلك إلاّ رجالاً نوحي إليهم "

“...dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka”, dan firman-Nya:

" وما أرسلنا من رسول إلاّ بلسان قومه ليبيّن لهم "

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya”, seluruh rasul dan nabi memiliki sifat kesempurnaan dalam akalnya, berfitrah lurus, jujur dalam perkataan dan perbuatan, amanah dalam menyampaikan apa yang diberikan kepadanya, terbebas dari seluruh apa menjadikan buruk sejarah umat manusia, tidak memiliki cacat pada badan, menarik perhatian dan tidak menyebabkan menghindarnya orang lain. Allah telah mensucikan diri dan akhlak mereka, sehingga menjadi orang yang paling sempurna akhlaknya, paling mulia jiwanya dan paling dermawan tangannya. Allah menggabungkan pada mereka akhlak-akhlak mulia serta peringai yang baik, sebagaimana juga Dia menggabungkan pada mereka sifat lemah lembut dan berilmu, pemaaf, baik, dermawan, berani dan adil … sehingga mereka paling menonjol dalam permasalahan akhlak diantara kaumnya. Kaum nabi Shaleh berkata kepadanya, sebagaimana yang telah dikabarkan melalui Al-Qur’an:

" قالوا يا صالح قد كنت فينا مرجوًّا قبل هذا أتنهانا أن نعبد ما يعبد آباؤنا "

“Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang diantara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?”, berkata kaum Syu’aib terhadap nabi Syu’aib :

" أصلاتك تأمرك أن نترك ما يعبد آباؤنا أو أن نفعل في أموالنا ما نشاء إنك لأنت الحليم الرشيد "

“Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal”, dan nabi Muhammad SAW terkenal dalam kaumnya dengan memiliki julukan “al-amin” (yang sangat dipercaya), sebelum diturunkan risalah kepadanya dan sebelum disifati oleh Rabb-nya dengan:

" وإنك لعلى خلق عظيم "

“...dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.

          Mereka adalah makhluk-makhluk pilihan Allah, Dia memilih mereka untuk mengusung risalah dan menyampaikan amanat, Allah berfirman:

" الله أعلم حيث يجعل رسالته "

“Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan”, dan firman-Nya:

" إن الله اصطفى آدم ونوحًا وآل إبراهيم وآل عمران على العالمين "

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).

          Seluruh rasul dan nabi, walaupun Allah telah mensifati mereka dengan sifat-sifat yang tinggi yang membuat mereka dikenal, namun mereka tetaplah manusia yang dapat tertimpa apa yang menimpa umat manusia umumnya, mereka merasakan lapar, sakit, tidur, makan, menikah dan meninggal dunia, Allah berfirman:

" إنك ميت وإنهم ميتون "

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula), dan firman-Nya:

" ولقد أرسلنا رسلاً من قبلك وجعلنا لهم أزواجًا وذرّيّة "

“...dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan”, bahkan mungkin juga mereka akan tertindas, dibunuh atau di usir dari kampung halamannya, Allah berfirman:

وإذ يمكر بك الذين كفروا ليثبتوك أو يقتلوك أو يخرجوك ويمكرون ويمكرالله والله خير الماكرين "

“...dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya”, akan tetapi masa depan, kemenangan dan kedudukan adalah milik mereka di dunia dan akherat:

 “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya”, dan firman-Nya:

“Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.

Tanda-tanda Kenabian

          Ketika kenabian merupakan suatu wasilah untuk dapat mengetahui ilmu yang paling mulia, dan dapat melaksanakan amal yang paling mulia dan agung, adalah bagian dari rahmat Allah Dia menjadikan bagi para nabi tersebut tanda-tanda yang dapat mengenalkan mereka, sehingga orang-orang mengetahuinya dari tanda-tanda tersebut – walaupun setiap orang yang membawa suatu dakwah akan nampak dari indikasinya sesuatu yang menjelaskan kebenaranya jika dia benar, atau sesuatu yang mejelaskan kebohonganya jika dia bohong, – tanda-tandanya banyak sekali, yang terpenting darinya:

1        Rasul tersebut mengajak untuk beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selainnya, karena inilah yang menunjukkan tujuan diciptakannya makhluk oleh Allah.

2        Dia akan mengajak orang lain untuk beriman kepadanya, mempercayainya dan agar beramal dengan risalahnya, Allah telah memerintahkan nabi-Nya Muhammad SAW untuk berkata:

 “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua”.

3        Dia akan mendapat pertolongan dari Allah melalui berbagai macam tanda kenabianya, diantara tanda-tandanya adalah sesuatu yang datang dari seorang nabi yang tidak dapat dibantah oleh kaumnya atau tidak bisa didatangkan oleh mereka yang semisalnya, diantaranya adalah tanda Musa, ketika merubah tongkatnya menjadi ular, tanda Isa, ketika menyembuhkan penyakit kusta dan lepra atas seizin Allah, dan tanda Muhammad, yaitu Al-Qur’an, walaupun beliau adalah seorang ummi yang tidak bisa membaca dan tidak menulis. Dan tanda-tanda kenabian yang lainya.

Diantara tanda-tanda kenabian juga adalah: kebenaran yang jelas dan nyata yang didatangkan oleh para nabi dan rasul, dan tidak dapat dilawan dan tidak pula di ingkari oleh para peseterunya, bahkan para peseteru tersebut mengetahui bahwa apa yang datang dari para nabi tersebut adalah kebenaran yang tidak dapat dilawan.

Dan diantara tanda-tanda tersebut adalah apa yang dikhususkan oleh Allah untuk para nabi-Nya berupa kesempurnaan pribadi, keindahan karakter, kemuliaan sifat dan akhlak.

Diantara tanda-tandanya juga adalah pertolongan Allah terhadap mereka dihadapan para peseterunya dan menampakkan apa yang mereka dakwahkan kepadanya.

4        Dakwah mereka memiliki kesamaan pada prinsip (pondasi) yang diserukan oleh para nabi dan rasul.

5        Dia tidak akan mengajak untuk beribadah kepada dirinya, atau memalingkan sebagian dari ibadah kepadanya, dan dia tidak akan mengajak untuk mengagungkan kabilah ataupun kelompoknya, Allah memerintahkan nabinya Muhammad. untuk berkata kepada orang-orang:

“Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”

6        Hendaknya dia tidak meminta kepada umat manusia salah satu kedudukan dunia sebagai balasan dari dakwahnya, Allah berfirman ketika mengabarkan tentang nabi-nabi-Nya: Nuh, Hud, Shaleh, Luth dan Syu’aib , bahwasanya mereka berkata terhadap kaumnya:

" وما أسألكم عليه من أجر إن أجري إلاّ على ربّ العالمين "

“...dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”, Muhammad SAW berkata kepada kaumnya:

" قل ما أسألكم عليه من أجر وما أنا من المتكلّفين "

“Katakanlah (hai Muhammad): “aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan”.

Para rasul dan nabi tersebut –yang telah saya sebutkan sebagian dari sifat serta tanda-tanda kenabiannya- berjumlah banyak, firman Allah:

" ولقد بعثنا في كلّ أمة رسولاً أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت "

“...dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu”, umat manusia menjadi bahagia dengan keberadaan mereka, sejarah telah merekam kabar tentang mereka, syari’at agamanya tersebarkan secara mutawatir, bahwasanya ialah yang hak dan adil. Dan secara mutawatir juga banyak diriwayatkan bahawa Allah telah menolong mereka dan membinasakan musuh-musuh mereka, seperti angin topan pada kaum Nuh, ditenggelamkannya Fir’aun, azab yang menimpa kaum Luth serta kemenangan Muhammad atas musuh-musuhnya dan tersebarnya agamanya .. barang siapa yang telah mengetahui hal tersebut, maka dia akan mengetahui dengan seyakinnya bahwa mereka datang dengan membawa kebaikan dan hidayah, menunjukkan kepada seluruh makhluk atas apa yang bermanfaat baginya dan menjauhkan dari apa yang mendatangkan kerugian, yang pertama adalah Nuh dan yang terakhir dari mereka adalah Muhammad.

* * * * * *

 Kebutuhan Manusia terhadap Rasul

          Para nabi adalah utusan-utusan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk menyampaikan segala perintah, memberi kabar gembira kepada mereka tentang kenikmatan-kenikmatan yang telah disiapkan apabila mereka menta’ati perintah-perintah-Nya. Para nabi juga memberikan peringatan kepada mereka dari adzab yang kekal apabila mereka melanggar larangan-Nya, juga menceritakan kepada mereka tentang cerita umat-umat terdahulu serta apa yang dari adzab dan siksa yang menimpa mereka di dunia yang disebabkan oleh penyelisihan mereka terhadap perintah Rabb-nya.

          Perintah serta larangan-larangan Allah SWT ini tidak mungkin untuk dapat diketahui oleh akal dengan sendirinya, oleh karena itu Allah menetapkan syari’at dan mewajibkan perintah dan larangan, sebagai bentuk kebaikan bagi umat manusia, pemuliaan terhadap mereka dan penjagaan atas segala maslahatnya, karena manusia terkadang suka menempuh jalan yang mengikuti syahwatnya, sehingga melanggar keharaman dan berbuat dzolim terhadap orang lain dengan merebut hak-hak mereka. Diantara hikmah mulia bahwa Allah mengutus kepada mereka pada setiap masa para rasul yang akan mengingatkan mereka tentang perintah-perintah Allah, memperingati mereka agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan, membacakan mau’idzoh dan mengingatkan mereka tentang kabar kaum-kaum yang terdahulu, karena jika kabar-kabar yang menakjubkan telah mengetuk telinga, pengetahuan-pengetahuan yang baru telah menggugah pikiran, niscaya akan diresap oleh akal sehinga bertambahlah ilmu padanya dan lurus pemahamannya. Orang yang paling banyak mendengar akan menjadi yang paling banyak pemasukannya, yang paling banyak pemasukan akan menjadi yang paling banyak berfikir, yang paling banyak berfikir akan menjadi yang paling banyak ilmu, dan yang paling banyak ilmunya akan menjadi yang paling banyak pengamalannya. Tidak didapat dari pengutusan rasul itu suatu tandingan dan tidak pula ada pengganti mereka dalam merapihkan kebenaran.

          Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Risalah (wahyu) merupakan sesuatu yang sangat urgen untuk memperbaiki hamba bagi kehidupanya di dunia dan akhirat. Sebagaimana bahwasanya tidak ada kebaikan baginya untuk akherat kecuali dengan mengikuti rasul, begitu pula tidak ada kebaikan baginya dalam kehidupan dunia kecuali dengan mengikuti rasul. Manusia akan selalu butuh terhadap syari’at, karena dia berada diantara dua gerakan: gerakan yang mendatangkan manfaat baginya, dan gerakan yang dapat menolak bala darinya. Sedangkan syari’at adalah cahaya yang akan menerangkan apa yang bermanfaat dan apa yang menjadikan malapetaka baginya, dialah cahaya Allah di bumi-Nya, keadilan-Nya di antara hamba serta benteng-Nya yang akan menjadikan aman setiap orang yang memasukinya."

          Syari’at bukan hanya membedakan antara yang bermanfaat dan mendatangkan madharat dengan perasaan saja, karena yang seperti itu bisa didapat oleh binatang, keledai dan onta dapat membedakan antara gandum dan tanah, bahkan juga dapat membedakan perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan malapetaka bagi pelakunya, baik itu di dunia maupun akherat. Perbuatan-perbuatan yang bermanfaat dalam kehidupan dan tempat kembalinya seperti iman, tauhid, keadilan, bakti, kebaikan, amanah, penjagaan diri, keberanian, ilmu, sabar, amar ma’ru nahi mungkar, silaturahmi, bakti terhadap kedua orang tua, berbuat baik kepada sesama tetangga, melaksanakan segala yang menjadi hak baginya, ikhlas dalam beramal karena Allah, bertawakal kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, ridho terhadap takdir-takdir-Nya, berserah diri terhadap hukum-hukum-Nya, membenarkan-Nya dan membenarkan rasul-rasul-Nya dalam seluruh apa yang mereka kabarkan, dan lain sebagainya termasuk seluruh yang dapat mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi seorang hamba untuk dunia dan akheratnya. Dan menyelisihi itu semua dapat mendatangkan kesusahan dan malapetaka bagi dunia dan akheratnya.

          Kalau seandainya tidak ada risalah (wahyu) niscaya akal tidak akan mendapat petunjuk kepada rincian dari segala yang bermanfaat dan yang mendatangkan malapetaka bagi kehidupannya. Diantara kenikmatan Allah terbesar bagi hamba-Nya dan karunia-Nya yang paling mulia adalah diutusnya para rasul kepada mereka, menurunkan kitab dan menunjukkan kepada jalan yang lurus, jika seandainya hal tersebut tidak ada, niscaya mereka akan menjadi seperti binatang ternak, bahkan lebih jahat darinya. Barang siapa yang menerima risalah Allah dan beristiqomah padanya, maka dia menjadi makhluk terbaik, dan barang siapa yang menolak dan keluar darinya, maka dia akan menjadi makhluk terburuk, bahkan lebih buruk keadaannya dari anjing, babi dan lebih hina dari segala sesuatu yang hina. Tidak ada kehidupan bagi penghuni bumi kecuali dengan mengikuti risalah yang ada pada mereka. Apabila anda mempelajari tentang jejak para rasul yang ada di muka bumi, niscaya anda akan mendapatkan petunjuk hidayah mereka, nantinya Allah akan menghancurkan alam seluruhnya dan membangkitkan hari kiamat.

          Kebutuhan penduduk bumi terhadap rasul tidak seperti kebutuhan mereka terhadap matahari, bulan, angin dan hujan, tidak pula seperti kebutuhan manusia terhadap kehidupannya, tidak seperti kebutuhan mata terhadap cahayanya, tubuh terhadap makanan dan minuman, bahkan lebih besar dari semua itu dan lebih butuh dari setiap keinginan dan apa yang terbersit dalam pikiran. Karena para rasul adalah perantara yang menghubungkan antara Allah beserta makhluk-Nya dalam perkara perintah dan larangan, mereka adalah duta Allah kepada hamba-hamba-Nya. Penutup mereka, yang paling mulia diantara mereka adalah Muhammad yang Allah utus sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagai hujjah bagi mereka yang menempuh perjalanan dan juga hujjah bagi seluruh makhluk. Allah mewajibkan bagi seluruh hamba untuk menta’ati, mencintai, merendahkan diri, memuliakan dan melaksanakan segala hak-haknya, mengambil janji dan ikatan untuk mempercayai dan mengikutinya bagi seluruh nabi dan rasul. Dia memerintahkan mereka untuk membawanya kepada mereka yang mengikutinya dari kalangan kaum mukminin. Dia utus Muhammad dekat dengan hari kiamat sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, sebagai penyeru kepada Allah dan penerang yang bercahaya, dengannya risalah ditutup, dengannya ditunjukan jalan kesesatan, mengajarkan dari kebodohan, dan dengan risalahnya dibukakanlah mata-mata yang buta, telinga-telinga yang tuli dan hati-hati yang kaku. Sehingga dengan risalahnya bercahayalah bumi ini setelah kegelapan, bersatu hati manusia setelah bercerai-berai, juga diluruskanlah keyakinan yang menyimpang dijelaskanlah hujjah yang terang, dilapangkan dada dan dihilangkan darinya kesesakan, lalu diangkat namanya dan menjadikan rendah serta kecil dia yang menyelisihinya. Beliau diutus setelah sekian lama terputusnya para rasul, terputusnya pelajaran dari kitab-kitab, diutus tatkala firman telah dilencengkan, syari’at telah dirubah-rubah, setiap kaum telah bersandar kepada kedzoliman pendapatnya masing-masing, dan menghukumi atas nama Allah diantara hamba-hamba-Nya dengan makalah-makalah yang rusak dan menurut hawa nafsu. Sehingga Allah curahkan dengannya hidayah diantara para makhluk, menunjuki jalan-jalannya, mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya, dengannya bisa dibedakan antara orang yang beruntung dan dia yang merugi. Barang siapa yang mengambil petunjuknya niscaya dia akan mendapatkan hidayah, dan barang siapa yang berpaling dari jalannya maka dia akan sesat dan merugi. Salawat serta salam semoga tercurahkan kepadanya dan juga kepada seluruh nabi dan rasul.

          Kita bisa meringkas tentang kebutuhan manusia terhadap risalah (rasul) sebagaimana berikut ini:

1        Bahwasanya dia adalah seorang manusia, diciptakan dan butuh kepada Rabb, dia haruslah seorang yang mengenal penciptanya, mengetahui apa yang di inginkan-Nya, kenapa dia diciptakan, yang mana hal seperti ini tidak mungkin untuk dapat diketahui oleh manusia biasa, dan tidak ada jalan kepadanya kecuali dari sela-sela pengetahuan para nabi dan rasul serta pengetahuan apa yang mereka datangkan dengannya berupa petunjuk dan cahaya.

2        Bahwasanya manusia terdiri dari jasad dan ruh, gizi untuk jasad adalah apa yang mudah baginya berupa makanan dan minuman, sedangkan gizi bagi ruh adalah apa yang telah ditentukan oleh penciptanya, yaitu agama yang benar dan amal shaleh. Para nabi dan rasul datang dengan membawa agama yang benar dan menunjuki kepada amal shaleh.

3        Bahwasanya secara fitrah manusia akan condong kepada agama, dia memerlukan suatu agama yang harus dipeganginya, dan agama tersebut haruslah agama yang benar. Tidak ada jalan untuk sampai kepada agama yang benar kecuali dari sela-sela keimanan terhadap para nabi dan rasul serta mengimani apa yang mereka bawa.

4        Bahwasanya manusia membutuhkan sesuatu yang dapat menunjukannya kepada jalan yang dapat menyampaikan kepada keridhoan Allah di dunia, dan kepada surga serta kenikmatan-Nya di akherat, sedangkan jalan ini tidak ada yang dapat menunjukinya dan mengarahkan kepadanya kecuali hanyalah para nabi dan rasul.

5        Bahwa manusia pada dasarnya adalah lemah, dikelilingi oleh musuh yang banyak, dari kalangan syetan yang ingin menyesatkannya, dari pendamping jelek yang memperindah kejelekan padanya dan dari jiwa yang condong kepada kejelekan, oleh karena itu ia butuh terhadap apa yang bisa dijadikan sebagai penjaga bagi dirinya dari tipu daya musuhnya, para nabi dan rasul akan memberi petunjuk kepada hal tersebut dan menerangkan dengan sejelas-jelasnya.

6        Secara tabi’at, manusia memiliki sifat kemasyarakatan, perkumpulan dengan sesama makhluk dan mempergauli mereka membutuhkan suatu syari’at agar manusia bisa menengahi dan bersifat adil –karena kalau tidak, kehidupannya akan sama dengan kehidupan di hutan- syari’at ini menjaga hak setiap individu yang berhak, tanpa melebihkan atau mengurangi. Dan tidak ada yang bisa datang membawa syari’at yang sempurna kecuali para nabi dan rasul.

7        Bahwasanya butuh kepada pengetahuan tentang segala yang dapat mewujudkan ketenangan dan ketentraman jiwa, menunjukinya kepada penyebab-penyebab kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan inilah yang ditunjuki oleh para nabi dan rasul.

Setelah menjelaskan tentang kebutuhan makhluk terhadap para nabi dan rasul, alangkah baiknya kalau kita menyebutkan berita tentang tempat kembali di akhirat, serta bukti-bukti dan dalil-dalil yang menunjukanya.

Tempat kembali

          Setiap manusia mengetahui dengan seyakin-yakinnya kalau dia pasti akan mati dan tidak mungkin dapat menghindarinya, akan tetapi kemanakah selanjutnya setelah mati? Dan apakah dia akan berbahagia ataukah akan merugi?

          Sesungguhnya kebanyakan dari masyarakat serta umat berkeyakinan bahwa mereka akan dibangkitkan setelah dia mati, dan dihisab atas amal perbuatannya, kalau baik maka ia akan mendapatkan kebaikan dan bila buruk maka ia akan mendapatkan keburukan. Permasalahan ini –yaitu kebangkitan dan hisab- ditetapkan oleh akal yang sehat dan didukung oleh syari’at-syari’at Allah SWT, bangunannya didirikan diatas tiga pondasi:

1        Ketetapan kesempurnaan ilmu Allah.

2        Ketetapan kesempurnaan kekuasaan-Nya

3        Ketetapan kesempurnaan hikmah-Nya subhanahu wata’ala.

Banyak dalil-dalil aqli maupun naqli yang saling menopang dalam menetapkanya, diantaranya:

1        Dalil dari penciptaan langit dan bumi atas kebangkitan orang yang telah mati, Allah berfirman:

" أولم يروا أن الله الذي خلق السموات والأرض ولم يعي بخلقهنّ بقادر على أن يحيي الموتى بلى إنّه على كلّ شيء قدير "

“dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”, dan firman Ta’ala:

" أوليس الذي خلق السموات والأرض بقادر على أن يخلق مثلهم بلى وهو الخلاق العليم "

“dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar. Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui”.

2        Berdalil dengan kekuasaan-Nya dalam menciptakan makhluk tanpa ada contoh sebelumnya, untuk menetapkan kekuasaannya dalam mengembalikan kembali makhluk tersebut. Dia yang mampu mengadakan pasti mampu untuk dapat mengembalikan kembali tentunya, firman Allah:

" وهو الذي يبدأ الخلق ثم يعيده وهو أهون عليه وله المثل الأعلى "

“dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi” dan firman-Nya:

“dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh? (78) katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk”.

3        Penciptaan manusia dengan sesempurna-sempurnanya, dengan bentuk yang saling mendukung diantara anggota tubuhnya, kekuatannya, sifat-sifatnya dan apa yang ada padanya berupa daging, tulang, urat-urat, persendian, juga tempat-tempat masuk, peralatan-peralatan, keinginan-keinginan serta ciptaan-ciptaan yang merupakan dalil paling agung yang menunjukkan akan kemampuan Allah untuk menghidupkan orang yang telah mati.

4        Berdalil dengan dihidupkannya orang yang telah mati dalam kehidupan dunia, menunjukkan akan kemampuan Allah untuk menghidupkan orang yang telah mati di alam akherat. Kabar tentang ini telah termuat dalam kitab-kitab ilahiyyah yang telah Allah turunkan kepada rasul-rasul-Nya. Diantaranya penghidupan yang telah mati atas izin Allah melalui tangan nabi Ibrahim dan Isa Al-Masih, dan banyak lagi lainnya.

5        Berdalil dengan kemampua-Nnya dalam menghimpun dan memisahkan, atas kekuasaan-Nya untuk menghidupkan yang telah mati, diantaranya:

a-  Penciptaan Allah terhadap manusia dari setetes air mani yang asalnya tersebar pada seantero anggota tubuh –oleh karena itu seluruh anggota tubuh ikut merasakan kenikmatannya ketika bersetubuh- lalu Allah kumpulkan air mani tersebut dari sekujur tubuh kemudian dikeluarkan menuju tempatnya dalam rahim dan Allah ciptakan manusia darinya, apabila ia tadinya berpencar lalu dikumpulkan dan diciptakan darinya seseorang, maka apabila ia berpencar kembali setelah dipisah oleh kematian, lalu bagaimana mungkin bagi-Nya untuk tidak dapat mengumpulkannya kembali, firman Allah:

“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan (58) kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?”.

b-  Bahwa bibit tanaman dengan perbedaan bentuknya apabila ia jatuh pada sebidang tanah yang lembab, lalu dipenuhi oleh air dan tanah, maka akal akan mengatakan bahwa ia akan rusak dan binasa, karena salah satu dari keduanya cukup untuk dijadikan alat pemusnah, maka jika dengan keduanya akan lebih utama. Namun ia tidak rusak, bahkan tetap ada terjaga, kemudian apabila kelembabannya bertambah akan terpecah biji tersebut dan keluar darinya tumbuhan. Tidakkah yang demikian itu menunjukkan kepada penciptaan yang sempurna dan hikmah yang luas?. Maka Tuhan yang Maha bijaksana, Maha kuasa ini, bagaimana mungkin bagi-Nya untuk tidak mampu menggabungkan segala sesuatu dan menyusun anggota tubuh? Allah berfirman:

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? (63) kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya”, perbandingannya adalah ayat berikut ini:

" وترى الأرض هامدة فإذا أنزلنا عليها الماء اهتزّت وربت وأنبتت من كلّ زوج بهيج "                                                                          

“dan kamu melihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”

6        Bahwa Sang Pencipta yang Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana adalah Maha Suci untuk menciptakan sesuatu dengan sia-sia dan membiarkan mereka begitu saja, berfirman Allah:

" وما خلقنا السماء والأرض وما بينهما باطلاً ذلك ظنّ الذين كفروا فويل للّذين كفروا من النار "

“dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka”, bahkan Dia menciptakan ciptaan-Nya dengan hikmah yang sangat besar dan tujuan mulia, Allah berfirman:

" وما خلقت الجنّ والإنس إلاّ ليعبدون "

“dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, sungguh tidak patut bagi Ilah yang Maha Bijaksana ini untuk menyamakan di sisi-Nya antara dia yang menta’ati dan yang bermaksiat kepada-Nya, firman Allah:

" أم نجعل الذين آمنوا وعملوا الصالحات كالمفسدين في الأرض أم نجعل المتقين كافجّار "

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan dimuka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” oleh karena itu, termasuk dari kesempurnaan hikmah dan keagungan kekuasaan-Nya adalah membangkitkan makhluk pada hari kiamat, agar setiap manusia dapat diganjar sesuai dengan amalnya, orang yang berbuat kebaikan akan mendapatkan pahala dan yang berbuat kejelekan akan mendapat siksa, firman-Nya:

"إليه مرجعكم جميعًا وعد الله حقّا إنه يبدأ الخلق ثمّ يعيده ليجزي الذين آمنوا وعملوا الصالحات بالقسط والذين كفروا لهو شراب من حميم وعذاب أليم "

“Hanya kepada-Nyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih”.

 Beriman kepada hari akhir –hari kebangkitan dan dikumpulkan- membawa banyak dampak positif terhadap individu maupun masyarakat, di antaranya:

1        Manusia akan selalu menjaga ketaatan kepada Allah SWT dengan mengharap ganjaran untuk hari tersebut, dan menjauhi maksiat kepada-Nya karena takut akan hukuman yang ada pada hari tersebut.

2        Beriman kepada hari akhir. Terdapat hiburan bagi seorang mukmin atas apa yang telah luput darinya dari kenikmatan dunia serta hiasannya, karena apa yang ia harapkan dari kenikmatan di akhirat dan ganjarannya.

3        Dengan beriman kepada hari akhir manusia akan mengetahui ke mana ia akan pergi setelah meninggal dunia, ia akan mengetahui dengan pasti bahwa ia akan menghadapi penghitungan amalannya, apabila baik akan mendapatkan kebaikan dan apabila buruk akan mendapatkan keburukan. Dan bahwasanya dia akan dihadapkan untuk dihisab, akan diberikan kepadanya haknya dari orang yang menzoliminya, dan hak orang lain akan diambil darinya kalau dia telah berbuat zolim atau menganiayanya.

4        Bahwa keimanan terhadap Allah SWT dan hari akhir akan mewujudkan keamanan dan kedamaian bagi manusia –disaat susah mencari keamanan dan peperangan yang tiadahenti- tidaklah yang demikian itu terjadi kecuali karena keimanan terhadap Allah SWT dan hari akhir mengharuskan manusia untuk menghentikan kejelekannya terhadap orang lain, baik itu secara tersembunyi ataupun terang-terangan, bahkan ia akan masuk dan menetap pada dadanya dan menyingkirkan niat buruk –jika masih ada- dan mengalahkannya sebelum dikeluarkan.

5        Keimanan terhadap hari akhir akan menahan seseorang untuk menganiaya orang lain dan merebut hak-haknya. Apabila manusia telah beriman dengan hari akhir, maka mereka akan selamat dari aniaya sebagian lainnya, dan hak-hak merekapun akan terjaga.

6        Beriman kepada hari akhir akan menjadikan seseorang hanya melirik kepada kehidupan dunia sebagai sebuah fase dari fase-fase kehidupan, dan bukan kehidupan seutuhnya.

Pada penutupan alinea ini, alangkah baiknya kalau kita mengambil perkataan “Wainbit” seorang Nashrani Amerika, yang pada mulanya bekerja pada salah satu gereja kemudian memeluk Islam dan mendapatkan hasil dari keimanan terhadap hari akhir. Ia mengatakan: "Sesungguhnya aku sekarang ini mengetahui jawaban-jawaban atas empat pertanyaan yang banyak menyibukkan kehidupanku, yaitu: "Siapakah aku? Apa yang aku inginkan? Kenapa aku datang? Dan kemanakah tempat kembaliku?".

* * * * * *

 Pondasi Dakwah para Rasul

     Seluruh nabi dan rasul  berdakwah kepada prinsip-prinsip universal yang sama,   seperti beriman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir serta takdir yang baik dan buruknya, juga seperti perintah untuk beribadah kepada-Nya saja dengan tidak menyekutukan-Nya, mengikuti jalan-Nya dan tidak mengikuti jalan yang menyelisihinya,  mengharamkan empat perkara: perbuatan buruk, baik yang tampak ataupun tersembunyi, dosa, kezaliman dengan tanpa hak serta menyekutukan Allah dan menyembah patung dan berhala. Juga mensucikan Allah dari sekutu, pesaing serta yang  sejenisnya, dan hendaklah tidak mengatakan tentang-Nya sesuatu yang tidak benar, pengharaman membunuh anak keturunan, haramnya membunuh jiwa dengan tidak hak, melarang dari perbuatan riba dan memakan harta anak yatim, memerintahkan untuk menunaikan janji, timbangan dan takaran, berbakti kepada kedua orang tua, bersikap adil dikalangan manusia, jujur dalam perkataan dan perbuatan, melarang dari sifat mubazir dan sombong serta memakan harta orang lain dengan batil.

     Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata: “Syari’at seluruhnya dalam permasalahan prinsip dan pondasi –walaupun beraneka- tetapi tetap sama, kebaikannya dicerna dalam akal, kalau seandainya tidak , niscaya ia akan keluar dari hikmah, maslahat dan rahmat, bahkan termasuk suatu yang mustahil kalau akal datang dengan menyelisih syariat:

" ولو اتبع الحق أهواءهم لفسدت السموات والأرض ومن فيهنّ

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya”, bagaimana mungkin orang yang memiliki akal akan menolak syari’at Dzat Yang Maha Bijaksana dengan apa yang bertolak belakang terhadap apa yang ada padanya”.

     Oleh karena itu agama seluruh nabi adalah satu, sebagaimana firman Allah SWT:

"

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kalian semua. Agama yang satu dan Aku adalah Tuhan kalian. Maka sembahlah Aku. Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Juga firman-Nya:

" شرع لكم من الدين ما وصّى به نوحًا والذي أوحينا إليك وما وصّينا به إبراهيم وموسى وعيسى أن أقيموا الدين ولا تتفرّقوا فيه "

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya”.

     Bahkan yang dimaksud oleh agama adalah sampainya hamba kepada apa yang menjadi tujuan dalam penciptaannya yaitu ibadah kepada Rabb mereka saja dengan tidak menyekutukan-Nya, maka disyari’atkan hak-hak yang merupakan kewajiban untuk mereka kerjakan, Dia menanggung sebagian kewajiban-kewajiban mereka dan member kemudahan-kemudahan agar menyampaikan mereka kepada tujuan ini, dan mendapatkan ridha Allah serta kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai dengan manhaj Ilahi, sehingga hamba tidak terombang-ambing, kepribadiannya tidak terkena penyakit retak yang akud yang berakhir dengan pertentangan antara fitrah, ruh serta keadaan disekelilingnya.

     Seluruh rasul mengajak kepada agama Ilahi yang menyampaikan prinsip-prinsip aqidah bagi manusia yang harus diimani, serta syari’at yang harus diajalani dalam kehidupannya, oleh karena itu kitab Taurat merupakan aqidah dan syari’at, membebankan kepada pemeluknya agar berhukum kepadanya, Allah berfirman:

" إنّا أنزلنا التوراة فيها هدًى ونور يحكم بها النبيون الذين أسلموا للّذين هادوا والرّبّانيّون والأحبار "

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka”, kemudian datang Al-Masih  dan bersamanya ada Injil yang padanya terdapat petunjuk dan cahaya, serta membenarkan kitab taurat yang ada di hadapannya.

Allah SWT  berfirman:

" وقفينا على آثارهم بعيسى ابن مريم مصدّقًا لما بين يديه من التوراة وآتيناه الإنجيل فيه هدى ونور "

“...dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), kemudian datang Muhammad dengan membawa syari’at penutup dan agama yang sempurna, pembenar atas syari’at sebelumnya dan juga sebagai penghapus bagi sebagianya. Allah menurunkan bersamanya Al-Qur’an sebagai pembenar atas kitab-kitab yang berada di hadapannya, firman Allah:

" وأنزلنا إليك الكتاب بالحق مصدّقا لما بين يديه من الكتاب ومهيمنا عليه فاحكم بينهم بما أنزل الله ولا تتّبع أهواءهم عما جاءك من الحق "

“...dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu”, dan Allah menjelaskan bahwa Muhammad SAW serta kaum mukminin yang ada bersamanya beriman terhadapnya sebagaimana berimannya orang-orang yang telah lalu dari para nabi dan rasul, firman Allah:

" آمن الرسول بما أنزل إليه من رّبّه والمؤمنون كلّ آمن بالله وملائكته وكتبه ورسله لا نفرّق بين أحد من رسله وقالوا سمعنا وأطعنا غفرانك ربّنا وإليك المصير "

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “kami dengar dan kami taat:. (Mereka berdo’a): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkau-lah tempat kembali”.

* * * * * *

 Risalah yang Kekal*

          Beberapa penjelasan yang terdahulu tentang keadaan agama-agama Yahudi, Nasrani, Majusi, Zardasytiyyah dan penyembah berhala yang bermacam-macam menerangkan keadaan manusia pada abad ke-6 Masehi. Dan apabila agama rusak, maka akan rusak pula situasi politik, sosial dan ekonomi. lalu menyebarlah perang-perang berdarah, dominasi kezaliman, dan manusia hidup dalam kegelapan yang pekat dan bertumpuk, hati menjadi redup disebabkan oleh gelapnya kekufuran dan kebodohan, akhlak tertindas, kehormatan ternodai dan kerusakan tampak terlihat didarat dan lautan. Bahkan kalau seandainya seorang berakal memperhatikan, nicaya dia akan mendapati bahwa manusia –pada waktu tersebut- dalam keadaan sakaratul maut dan hampir punah, kalau saja seandainya Allah tidak menyelamatkannya dengan suatu maslahat agung yang membawa cahaya kenabian serta isyarat petunjuk agar bisa menerangi jalan umat manusia dan menunjukinya kepada jalan terbaik.

          Pada zaman itu Allah SWT memberi izin agar cahaya kenabian yang kekal kembali bersinar dari Makkah al-Mukarramah yang padanya terdapat rumah agung (Ka’bah). Pada saat itu keadaan disana sama dengan keadaaan perkampungan lainnya dari sisi kesyirikan, kebodohan, kezaliman serta penganiayaan, kecuali bahwa ia berbeda dari daerah lainnya dengan kelebihan-kelebihan yang banyak, diantaranya:

1        Bahwasanya ia merupakan daerah bersih yang belum terpengaruhi oleh berbagai jenis falsafah Yunani, Romawi ataupun Hindi, orang-orangnya masih menikmati penjelasan-penjelasan yang murni, akal yang cemerlang serta tabiat yang suci.

2        Bahwasanya ia terletak tepat pada pusat dunia, yang mana tempatnya tepat berada diantara Eropa, Asia dan Afrika, yang menjadikannya sebagai faktor utama bagi tersebarnya risalah dakwah yang kekal itu dengan cepat bisa sampai kepada seluruh penjuru dalam waktu yang singkat.

3        Bahwasanya ia merupakan Negara yang aman, Allah telah menjaganya ketika Abrahah berniat untuk memeranginya, iapun tidak sampai dikuasai oleh embratur (kekuasaan) Parsi dan Romawi. Bahkan ia memiliki keamanan sehingga dapat menjalankan  perdagangannya baik di utara dan selatan. Kesemua hal tersebut menunjang di utusnya nabi yang bijaksana ini, Allah telah menceritakan tentang keadaan penduduknya dengan kenikmatan tersebut dalam firman-Nya:

" أولم نمكّن لهم حرمًا آمنًا يجبى إليه ثمرات كلّ شيء "

“dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ketempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan).

4        Bahwasanya ia merupakan daerah padang pasir yang masih konsisten menjaga  unsur-unsur dan kedermawanan, rukun tetangga sangat menjaga kehormatan, serta kelebihan-kelebihan yang lain  yang ada padanya, sehingga tempat tersebut cocok untuk menerima risalah.

Dari tempat yang agung ini, dan dari kabilah Quraisy yang terkenal akan kefasihan balaghah, serta keagungan akhlaknya, dan yang pernah memiliki kedudukan dan kemuliaan, Allah memilih Nabi-Nya Muhammad untuk menjadi penutup para nabi dan rasul, yang mana beliau dilahirkan pada abad ke enam masehi, sekitar tahun 570 M. Beliau tumbuh dalam keadaan yatim, karena ayahnya meninggal ketika beliau masih berada dalam perut ibunya, kemudian ditinggal oleh ibu dan kakek dari ayahnya ketika beliau baru berumur enam tahun, akhirnya beliau diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Beliau yang masih belia tumbuh dalam keyatiman, namun demikian tampak darinya tanda-tanda kepandaian, yang mana kebiasaan, akhlak dan perilakunya berbeda dari kebiasaan yang ada pada kaumnya. Beliau tidak berdusta dalam perkataan, tidak mengganggu siapapun, juga terkenal dengan kejujuran, terhormat dan amanah, bahkan  kebanyakan orang dari kalangan kaumnya mempercayakan harta-harta berharga mereka dan menitipkannya kepada beliau, karena beliau selalu menjaganya sebagaimana menjaga diri serta harta pribadinya, sehingga mendapat julukan al-amin (yang dapat dipercaya). Beliau adalah seorang pemalu, tidak pernah menampakkan badannya dalam keadaan telanjang kepada siapapun sejak mencapai umur baligh, beliau adalah seorang bersih dan bertaqwa, sehingga cukup menyakitinya apa yang beliau lihat dari perilaku kaumnya yang menyembah berhala, meminum minuman keras dan menumpahkan darah. Beliau bergaul dengan kaumnya sebatas dalam aktifitas yang beliau ridhai, berpisah darinya tatkala mereka dalam keadaan menyimpang dan fasik. Beliau membela anak-anak yatim serta para janda dan memberi makan mereka yang lapar… hingga tatkala mendekati umur empat puluh tahun beliau merasa tidak dapat berbuat apa apa terhadap kerusakan yang ada di sekelilingnya, dan beliau mulai untuk mengkhususkan ibadah kepada Allah, meminta kepada-Nya agar ditunjuki kepada jalan yang benar. Tatkala beliau masih dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba turun kepadanya salah seorang malaikat dengan membawa wahyu dari Tuhannya. Beliau diperintahkan untuk menyampaikan agama ini kepada orang lain, mengajak mereka agar mau menyembah Allah dan meninggalkan sesembahan-sesembahan, sehingga turunnya wahyu kepada beliau terus berlanjut dengan dibarengi oleh syari'at dan berbagai macam hukum, hari demi hari dan tahun demi tahun, sampai Allah sempurnakan agama ini bagi seluruh manusia, kesempurnaan agama adalah kesempurnaan nikmat Allah SWT kepada manusia. Tatkala tugas beliau telah selesai, maka Allah memanggilnya, ketika wafat beliau berumur enampuluh tiga tahun,  empatpuluh tahun diantaranya sebelum diangkat menjadi nabi dan duapuluh tiga tahun tatkala menjadi nabi dan rasul.

Barang siapa yang memerhatikan keadaan para nabi dan mempelajari sejarah mereka, dia akan mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwasanya tidak ada satu metode yang  digunakan dalam menetapkan kenabian seorang nabi dari nabi-nabi Allah SWT, kecuali metode itu akan lebih dapat menetapkan kenabian Muhammad SAW secara pasti.

 Apabila anda memperhatikan bagaimana turun temurunnya kabar tentang kenabian Musa dan Isa, niscaya akan anda dapati bahwa hal tersebut dinukil dengan jalan mutawatir, dan riwayat  mutawatir yang mengabarkan tentang kenabian Muhammad lebih jelas dan lebih kuat, juga lebih dekat lagi masanya.

Begitu pula kemutawatiran kabar tentang mukjizat dan tanda-tanda kenabian  mereka adalah sama, bahkan hal itu pada Muhammad kuat, karena mukjizat dan tanda-tanda tentang beliau sangat banyak, bahkan yang terbesar adalah Al-Qur'an ini yang masih saja terus dinukil dan diriwayatkan secara mutawatir, baik itu suara bacaannya ataupun tulisannya.

Barang siapa yang membandingkan antara apa yang disampaikan oleh Musa dan Isa dan apa yang disampaikan oleh Muhammad tentang aqidah yang benar, syari'at yang teratur dan ilmu yang bermanfaat, niscaya dia akan mengetahui bahwa seluruhnya bersumber dari satu pusat, yaitu pusat kenabian.

Barang siapa yang membandingkan antara pengikut para nabi dan pengikut Muhammad, niscaya dia akan mengetahui bahwa mereka adalah sebaik-baiknya manusia, bahkan mereka adalah pengikut para nabi yang paling besar pengaruhnya terhadap mereka yang datang setelahnya, karena mereka telah menyebarkan tauhid, menebarkan keadilan dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang lemah dan miskin.

Apabila Anda menginginkan tambahan keterangan yang menunjukkan akan kenabian Beliau, maka akan saya nukilkan dalil-dalil dan tanda-tanda yang didapatkan oleh Ali ibn Robban at-Thabry yang sebelumnya adalah seorang Nasrani kemudian masuk Islam karena ini.

Dalil-dalil tersebut adalah:

1        Bahwa Beliau mengajak untuk beribadah kepada Allah saja dan mengajak untuk meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, yang mana ini sama dengan apa yang diajarkan oleh seluruh nabi.

2        Bahwa Beliau menampakkan tanda-tanda yang jelas, yang tidak didatangkan kecuali oleh para nabi utusan Allah.

3        Bahwa Beliau mengabarkan tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi pada masa yang akan datang, dan itu benar terjadi sebagaimana yang beliau kabarkan.

4        Bahwa Beliau mengabarkan tentang kejadian-kejadian menyeluruh yang menimpa seluruh dunia dengan Negara-negaranya, dan hal tersebut terjadi sebagaimana yang beliau kabarkan.

5        Bahwa kitab yang didatangkan oleh Muhammad -yaitu Al-Qur'an- merupakan salah satu dari tanda-tanda kenabian, karena ia merupakan kitab paling fasih, dan diturunkan Allah kepada seorang ummi yang tidak dapat membaca dan tidak pula menulis, iapun membawa tantangan kepada mereka yang paling fasih untuk mendatangkan apa yang sepertinya atau cukup satu surat yang mirip dengannya, dan juga karena Allah SWT telah menjamin kalau Dia akan menjaganya, termasuk pula menjaga aqidah yang benar, dikandungkan padanya syari'at terlengkap dan ditetapkan dengannya umat terbaik.

6        Bahwa Beliau adalah penutup para nabi, dan jika belum diutus niscaya akan batal kenabian-kenabian para nabi yang memberi kabar gembira tentang akan diutusnya beliau.

7        Bahwa para nabi telah saling mengabarkan tentangnya sejak zaman sangat jauh sebelum munculnya beliau, mereka menjelaskan pengutusannya, daerahnya dan tunduknya para umat dan raja kepada beliau dan pengikutnya, merekapun telah mengabarkan tentang akan tersebarnya agama beliau.

8        Bahwa kemenangan Beliau terhadap kaum-kaum yang memeranginya merupakan suatu tanda kenabian, karena merupakan suatu perkara yang mustahil kalau seseorang mengaku bahwa dia utusan Allah –yaitu berdusta- kemudian dia dipuji oleh Allah dengan kemenangan dan kemapanan, kemenangan terhadap para musuh, tersebarnya dakwah dan juga banyaknya pengikut, karena sesungguhnya hal ini tidak akan terealisasi kecuali melalui tangan seorang nabi yang benar.

9        Apa yang ada pada Beliau berupa ibadah, penjagaan diri, kejujuran, kebaikan sirah, sunnah dan syari'at-syari'atnya, kesemua sifat ini tidak akan berkumpul kecuali pada diri seorang nabi.

Orang yang mendapat hidayah ini berkata setelah dia membawakan bukti-bukti ini: "Ini merupakan sifat-sifat yang cemerlang dan bukti-bukti yang sempurna, barang siapa yang memilikinya maka pasti seorang nabi, dia telah menang dari celaan, benar haknya dan wajib untuk dipercayai, barang siapa yang menolak dan menentangnya maka telah sia-sia usahanya serta merugi dunia dan akhiratnya".

Pada penutupan alenia ini saya akan membawakan dua persaksian untuk anda: persaksian Raja Roma dahulu kala, yaitu yang satu zaman dengan Muhammad, dan persaksian misionaris Inggris saat ini, yaitu "John Saint".

Persaksian pertama: Persaksian Hiraklius: Imam Bukhari menyebutkan kabar tentang Abu Sufyan tatkala ia dipanggil oleh Raja Roma dengan riwayatnya: (menceritakan kepada kami Abul Yaman, dia berkata: mengabarkan kepada kami Syu'aib dari az-Zuhri dia berkata: mengabarkan kepadaku Ubaidillah ibn Abdullah ibn Utbah ibn Mas'ud bahwa Abdullah ibn Abbas mengabarkannya bahwa Abu Sufyan ibn Harb bercerita kepadanya bahwa Hirakl pernah mengutus kepadanya ketika dia sedang bersama rombongan Quraisy yang mana mereka adalah para pedagang yang sedang berada di Syam, pada waktu Rasulullah sedang dalam masa perjanjian bersama Abu Sofyan dan orang-orang kafir Quraisy, mereka mendatanginya pada saat sedang berada di Iliya, dia mengundang mereka ke majlisnya yang saat itu disekitarnya terdapat para pembesar Roma, kemudian dia mengundang mereka dan mengundang penterjemahnya. Dia bertanya: siapakah diantara kalian yang paling dekat nasabnya terhadap orang yang mengaku dirinya nabi tersebut? Menjawab Abu Sofyan: saya yang paling dekat nasabnya. Dia berkata: dekatkan dia dariku dan dekatkan teman-temannya, jadikan mereka berada di belakangnya. Kemudian dia berkata kepada penterjemahnya: katakan kepada mereka bahwa aku akan bertanya kepada ini tentang orang ini, jika dia berdusta terhadapku maka  mereka akan mendustakanya, berkata Abu Sofyan: Demi Allah, kalau tidak karena malu bahwa mereka akan mengatakan dusta terhadapku niscaya aku akan berdusta. Kemudian pertanyaan pertama yang dia lontarkan terhadapku adalah: bagaimana tentang nasab dia diantara kalian? Saya jawab: dia adalah seorang yang memiliki nasab (memiliki kedudukan yang baik). Dia bertanya: apakah pernyataan seperti ini pernah dikatakan oleh salah seorang dari kalian sebelumnya? Saya jawab: tidak. Dia bertanya: apakah salah satu dari orang tuanya ada yang menjadi Raja? Saya jawab: tidak. Dia bertanya: apakah para pengikutnya orang-orang terpandang ataukah dari golongan yang lemah? Saya jawab: bahkan pengikutnya adalah orang-orang lemah. Dia bertanya: apakah mereka semakin banyak ataukah semakin berkurang? Saya jawab: bahkan semakin bertambah. Dia bertanya: apakah diantara mereka ada yang murtad karena membenci agamanya setelah dia memeluknya? Saya jawab: tidak. Dia bertanya: apakah kalian menuduhnya sebagai seorang pendusta sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya sekarang? Saya jawab: tidak. Dia bertanya: apakah dia berkhianat? Saya jawab: tidak. Saat itu kami dalam situasi yang tidak tahu apa yang akan dia lakukan saat itu. Berkata Abu Sofyan: aku tidak memiliki kesempatan untuk menambahkan perkataan selain dari ini. Dia bertanya: apakah kalian memeranginya? Saya jawab: ya. Dia bertanya: bagaimana pertempuran kalian dengannya? Saya jawab: peperangan diantara kami dengannya keras, terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami mengalahkannya. Dia bertanya: apa yang dia perintahkan terhadap kalian? Saya jawab: dia berkata sembahlah oleh kalian Allah saja dan jangan menyekutukannya sedikitpun, dan tinggalkanlah apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian, dia memerintahkan kami untuk shalat, jujur, menjaga kehormatan dan menyambung silaturahmi. Dia berkata kepada penterjemahnya: katakan kepadanya: saya telah bertanya tentang nasabnya kepadamu dan kamu sebutkan bahwa dia adalah seorang yang punya nasab (keturunan bangsawan), demikian pula bahwa seluruh rasul diutus dari keturunan bangsawan kaumnya, dan saya bertanya kepadamu adakah salah seorang diantara kalian yang mengatakan perkataan ini, dan dijawab olehmu tidak, maka saya katakan: kalau seandainya ada seseorang yang telah mengatakan perkataan ini sebelumnya niscaya aku katakan bahwa orang ini mengikuti suatu perkataan yang telah dikatakan sebelumnya, dan saya bertanya kepadamu adakah salah satu dari orang tuanya yang menjadi Raja, lalu kamu jawab tidak, aku katakan: kalau seandainya salah satu nenek moyangnya ada yang menjadi Raja niscaya aku katakan bahwa orang ini menuntut kerajaan ayahnya, dan aku bertanya kepadamu apakah kalian menuduhnya seorang pendusta sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya, lalu kamu jawab tidak, maka aku ketahui kalau seandainya dia tidak berdusta kepada manusia maka tidak mungkin akan berdusta kepada Allah, dan saya bertanya kepadamu apakah yang mengikutinya para pembesar ataukah mereka yang lemah diantara mereka, lalu kamu jawab kalau mereka adalah orang-orang yang lemah, dan memang demikian dengan pengikut para rasul, dan saya bertanya kepadamu apakah mereka semakin bertambah ataukah berkurang, lalu kamu jawab bahwa mereka semakin bertambah, dan memang demikianlah keadaan iman sampai ia sempurna, dan saya bertanya kepadamu adakah diantara mereka yang murtad karena membenci agamanya setelah dia memeluknya, lalu kamu jawab tidak, demikianlah keadaan cahaya iman ketika ia telah bercampur dengan hati, dan saya bertanya kepadamu apakah dia khianat, lalu dijawab olehmu tidak, begitulah keadaan para rasul, tidak pernah berkhianat, dan saya bertanya kepadamu apa yang dia perintahkan terhadap kalian, lalu dijawab olehmu bahwa dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya sedikitpun, melarang kalian untuk menyembah berhala, memerintahkan shalat, jujur dan menjaga kehormatan jiwa, apabila apa yang kamu ucapkan tersebut benar, maka dia pasti akan menguasai tempat pijakan kedua kakiku ini, dan saya telah mengetahui kalau dia akan diutus, namun tidak menyangka kalau dia dari golongan kalian, jika aku mengetahui bahwa aku bisa sampai kepadanya niscaya aku akan berusaha sekuat tenaga untuk sampai kepadanya, dan jika telah berada disisinya niscaya aku cuci telapak kakinya. Setelah itu dia pinta surat Rasulullah yang dibawa oleh Dihyah kepada pembesar kota Basri, lalu diserahkan kepada Hirakl dan dibacanya, ternyata ia berisi: Bissmillahir Rahmanir Rahim, dari Muhammad hamba dan utusan Allah kepada Hirakl pembesar Roma: keselamatan atas dia yang yang mengikuti petunjuk, amma ba'du: bahwasanya saya mengajak anda dengan ajakan Islam, peluklah Islam maka anda akan selamat, Allah akan memberimu ganjaran dua kali lipat, sedangkan jika berpaling maka atasmu dosa orang-orang Yuris. "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

Persaksian kedua: Persaksian seorang misionaris Inggris abad ini, John Saint: dengan ungkapannya: setelah meneliti secara terperinci tentang pembagian-pembagian Islam dan landasan-landasannya dalam melayani perorangan maupun kelompok, serta keadilannya dalam membangun masyarakat diatas pondasi-pondasi persamaan dan tauhid, menjadikan diriku terdorong kepada Islam dengan segala akal dan jiwaku, dan aku berjanji kepada Allah –dari hari tersebut- untuk menjadi seorang juru dakwah bagi Islam dan sebagai pembawa kabar gembira dengan petunjuknya di setiap belahan dunia.

Ia telah sampai kepada keyakinan ini setelah mempelajari Nasrani dan memperdalaminya, maka dia dapati padanya kalau agama tersebut tidaklah menjawab kebanyakan dari pertanyaan yang tersebar pada kehidupan umat manusia, sehingga dia mulai dirasuki oleh keraguan. Kemudian dia mempelajari komunis dan Budha, namun pada keduanya ia tidak mendapatkan apa yang ia cari. kemudian mempelajari Islam dan mendalaminya sampai dia beriman dengannya dan menjadi juru dakwah yang mengajak kepadanya.

* * * * * *

 Penutup Kenabian

          Telah jelas bagi anda dari apa yang telah lalu tentang hakekat kenabian, ciri-ciri dan tanda-tandanya, serta dalil-dalil tentang kenabian nabi kita Muhammad. Dan sebelum berbicara tentang penutup kenabian maka anda harus mengetahui bahwasanya Allah Ta'ala tidaklah mengutus seorang rasul kecuali karena salah satu sebab dari sebab-sebab berikut ini:

1        Bahwa risalah seorang nabi khusus untuk suatu kaum, dan rasul ini tidak diperintahkan untuk menyampaikan risalahnya kepada umat-umat selainya, sehingga Allah mengutus seorang rasul lain dengan membawa risalah khusus terhadap umat yang lain.

2        Bahwa risalah yang dibawa oleh nabi terdahulu telah terhapus, sehingga Allah mengutus seorang nabi untuk memperbaharui agama umat manusia.

3        Bahwa syari'at nabi yang terdahulu hanya cocok untuk zamannya saja, dan tidak cocok untuk zaman-zaman setelahnya, sehingga Allah mengutus seorang rasul yang membawa suatu risalah dan syari'at yang cocok dengan tempat dan zamannya. Terkandung dalam hikmah Allah Ta'ala untuk mengutus Muhammad  dengan sebuah risalah yang umum bagi seluruh penduduk bumi, cocok untuk segala zaman dan tempat, dan Dia jaga dari tangan-tangan yang ingin merubah dan menggantinya, agar risalahnya tetap hidup terjaga untuk menghidupkan manusia, juga bersih dari kotoran-kotoran perubahan dan penggantian, karena itulah Allah menjadikan sebagai penutup bagi seluruh risalah yang telah lalu.

Di antara apa yang Allah SWT khususkan bagi Muhammad SAW adalah bahwasanya Beliau penutup para nabi, sehingga tidak ada nabi setelahnya, karena Allah telah menyempurnakan risalah dengannya, menutup segala syari'at, menyempurnakan bangunan, dan merealisasikan dengan kenabiannya apa yang telah dikabarkan al-Masih tentang beliau dalam perkataannya: "Tidakkah kalian pernah membaca dalam kitab-kitab: batu yang pernah ditolak oleh para pegawai bangunan telah menempati posisi teratas bagi pojokan", Pendeta bernama Ibrahim Kholil –yang kemudian masuk Islam- mengatakan bahwa nash ini sejalan dengan sabda Muhammad SAW tentang dirinya:

" إن مثلي ومثل الأنبياء من قبلي كمثل رجل بنى بيتا فأحسنه وأجمله إلا موضع لبنة من زاوية, فجعل الناس يطوفون به, ويعجبون له, ويقولون: هلا وضعت هذه اللبنة, قال: فأنا اللبنة, وأنا خاتم النبيين "

"Sesungguhnya perumpamaanku dengan perumpamaan para nabi sebelumku bagaikan seseorang yang membangun sebuah rumah, lalu dia baguskan dan perindah ia kecuali satu tempat batu bata di pojokan. Orang-orang mengelilinginya dan merasa kagum darinya, lalu mereka berkata: tidakkah diletakkan batu bata tersebut, nabi berkata: akulah batu bata tersebut, dan aku adalah penutup para nabi".

          Oleh karena itu, Allah SWT menjadikan kitab yang dibawa oleh Muhammad sebagai bukti bagi kitab-kitab yang telah lalu dan sebagai penghapus baginya, sebagaimana juga dijadikan syari'atnya sebagai penghapus bagi syari'at-syari'at yang telah terdahulu, dan Allah telah menjamin bahwa Dia akan menjaga risalahnya, sehingga ia dinukil secara mutawatir. Al-Qur'an dinukil secara mutawatir baik itu secara suara maupun tulisannya, sebagaimana juga sunnah beliau, baik itu yang berupa perkataan maupun amalan dinukil secara mutawatir, dan praktek terhadap syari'at agama ini dan juga ibadah, sunnah serta hukum-hukumnya dinukil secara mutawatir.

          Barang siapa yang mengadakan penelitian terhadap catatan-catatan sejarah dan sunnah, dia akan mengetahui bahwa para sahabat beliau, semoga Allah menganugerahkan ridho-Nya terhadap mereka, telah menjaga bagi umat ini seluruh keadaan beliau, juga seluruh perkataan dan perbuatannya. Mereka menukil tentang ibadah beliau kepada Allah, jihadnya, dzikirnya, istighfarnya, kedermawanannya serta tentang pergaulannya terhadap para sahabat dan utusan yang datang kepadanya, sebagaimana juga mereka telah menukil tentang kebahagiaan dan kesedihannya, perjalanan dan keberadaannya, tata cara makan, minum dan berpakaiannya, bangun dan tidurnya.. maka apabila anda telah merasakan yang demikian itu, anda akan meyakini bahwa agama ini terjaga dengan penjagaan Allah atasnya, dan anda akan ketahui –pada saat itu- bahwa beliau adalah penutup para nabi dan rasul, karena Allah telah mengabarkannya kepada kita bahwa rasul ini adalah penutup para nabi, Allah berfirman:

" ما كان محمد أبا أحد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبيين "

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi", serta sabda beliau SAW tentang dirinya: "Dan aku diutus kepada umat manusia seluruhnya, dan ditutup denganku para nabi".

          Inilah penjelasan tentang Islam dan keterangan tentang hakekat, sumber, rukun serta urutan-urutannya.

* * * * * *

 Arti dari Kalimat Islam

          Apabila anda merujuk kepada kamus-kamus bahasa, akan anda ketahui bahwa arti kalimat Islam adalah: "Tunduk, merendah, patuh, berserah diri dan mematuhi perintah dia yang memerintah dan melarang dengan tidak menentang". Allah telah memberi nama agama yang hak ini dengan Islam, karena ia merupakan keta'atan kepada Allah, tunduk terhadap perintah-Nya tanpa menentang, ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, mempercayai kabar-Nya dan beriman kepada-Nya, sehingga nama Islam telah menjadi ciri bagi agama yang datang dengannya Muhammad

Mengenal Islam* :

          Kenapa agama ini dinamakan Islam? Sesungguhnya apa yang ada di bumi berupa agama yang berbeda-beda telah diberi nama dengan nama-namanya, baik itu disandarkan kepada nama seseorang yang khusus, atau kepada umat tertentu, kalimat Nasrani diambil namanya dari "Nashara". Budha dinamakan menurut nama pendirinya "Budha". Dan  Zaradisytiyyah dikenal dengan nama ini karena pendiri dan pembawa benderanya adalah orang "Zaradisyti", begitu pula Yahudi muncul diantara sebuah kabilah yang dikenal dengan nama "Yahuza" sehingga ia dinamakan Yahudi, dan begitulah seterusnya. Kecuali Islam, karena sesungguhnya ia tidak dinisbatkan kepada orang tertentu dan tidak pula kepada umat tertentu, akan tetapi namanya menunjukkan kepada suatu sifat khusus yang mengandung arti kalimat Islam, nampak dari nama ini bahwa ia tidak mengandung keberadaan agama ini dan pendirinya adalah seorang manusia, dan tidak pula khusus untuk umat tertentu tanpa selainnya, akan tetapi tujuannya adalah agar seluruh penduduk bumi menghiasi dirinya dengan sifat Islam, sehingga siapapun yang bersifat dengan sifat ini, baik orang terdahulu atau yang hidup sekarang maka dia dikatakan seorang muslim, dan akan dikatakan muslim pula barang siapa yang bersifat dengannya pada masa yang akan datang.

Hakekat Islam

          Sebagaimana yang telah diketahui bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini, tunduk terhadap suatu kaidah tertentu dan sunnah yang tetap, sehingga matahari, bulan, bintang-bintang dan bumi seluruhnya berjalan dibawah suatu kaidah yang tetap, ia tidak  akan menyimpang darinya atau membangkang terhadapnya, walau hanya sebatas satu helai rambut. Bahkan sampai manusia sendiripun kalau mau memperhatikan keadaannya niscaya akan jelas baginya kalau dia tunduk terhadap sunnah-sunnah Allah sepenuhnya, sehingga dia tidak bernafas serta tidak merasakan akan kebutuhannya terhadap air, gizi, cahaya dan panas kecuali sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah yang mengatur kehidupannya, begitu pula seluruh anggota tubuhnya tunduk kepada ketentuan ini, pekerjaan apapun yang dilakukan oleh anggota tubuh, sesungguhnya ia tidak bergerak kecuali sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah atasnya.

          Ketetapan ini, yang padanya berserah diri serta tidak akan terlepas dari keta'atan terhadapnya sesuatupun di alam ini, mulai dari bintang terbesar yang ada di langit, sampai yang lebih kecil dari butiran pasir di bumi, adalah bagian dari pengaturan Allah SWT Raja Yang Maha Mulia lagi Maha Pengatur. Apabila segala sesuatu apa yang ada di langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya tunduk terhadap ketentuan ini, maka sesungguhnya seluruh alam ini telah patuh terhadap Raja Maha Pengatur yang meletakannya dan mengikuti perintah-Nya. Maka jelaslah dari sudut pandang ini bahwa Islam adalah agama bagi alam seluruhnya, karena Islam memiliki makna: tunduk dan menjalankan perintah Sang Yang Memerintah dan menjauhi larangannya dengan tanpa reserve, sebagaimana yang telah anda ketahui sebelumnya. Matahari, bulan dan bumi berserah diri, udara, air, cahaya, kegelapan dan panas berserah diri, pohon, batu dan binatang seluruhnya berserah diri, bahkan sampai manusia yang tidak mengenal Penciptanya, menentang keberadaan-Nya dan mengingkari ayat-ayat-Nya, atau yang menyembah selain-Nya dan menyekutukan Dia dengan selain-Nya, diapun tetap berserah diri sesuai fitrahnya.

          Apabila anda telah memahami ini, maka marilah kita melihat kepada urusan umat manusia, niscaya anda akan mendapati bahwa manusia dipertentangkan oleh dua perkara:

Pertama: Fitrah yang telah Allah SWT anugrahkan kepadanya berupa berserah diri kepada Allah, mencintai-Nya, beribadah kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, mencintai apa yang Allah cintai berupa kebenaran, kebaikan dan kejujuran, membenci apa yang Allah benci berupa kebatilan, kejelekan, amal buruk dan kezoliman, serta dorongan-dorongan fitrah yang mengikutinya yang berupa kecintaan terhadap harta, keluarga dan anak, keinginan untuk makan, minum dan nikah, begitu pula apa yang dituntut darinya yang berupa bekerjanya anggota tubuh sesuai dengan tugas-tugas yang semestimya.

Kedua: Kehendak manusia serta pilihannya. Allah SWT telah mengutus kepadanya para rasul dan menurunkan kitab-kitab agar dia dapat membedakan antara yang hak dan batil, petunjuk dan kesesatan, serta kebaikan dan kejelekan, juga menganugrahkan kepadanya akal dan pemahaman agar dia berada dalam kejelasan tatkala memilih, jika menghendaki dia akan menempuh jalan kebaikan sehingga menggiringnya kepada kebenaran dan petunjuk, dan jika menghendaki dia akan menempuh jalan kejelekan sehingga menggiringnya kepada keburukan dan kerusakan.

          Apabila anda memperhatikan keadaan manusia menurut bagian pertama, maka anda akan mendapatinya bahwa dia diciptakan untuk berserah diri, memiliki fitrah untuk berpegang dengannya dengan tanpa berpaling darinya, permasalahannya adalah seperti permasalahan lainnya dari para makhluk.

          Dan apabila Anda memperhatikannya menurut bagian kedua, niscya akan didapati bahwa ia memiliki hak untuk memilih, ia akan memilih sesuai dengan kehendaknya, baik itu untuk menjadi seorang muslim ataupun seorang kafir:

" إما شاكرًا وإمّا كفورًا "

"Ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir".

Oleh karena itu anda akan mendapati manusia terbagi menjadi dua:

          Manusia yang mengenal penciptanya, beriman kepada-Nya sebagai Rabb, Raja, Tuhan yang hanya dia sembah, dan mengikuti syari'at-Nya dalam kehidupan yang didalamnya dia memiliki pilihan (antara taat atau membangkang). Sebagaimana juga dia memiliki fitrah untuk berserah diri terhadap Rabb-nya dengan tanpa menentang, dan menurut terhadap ketentuan-Nya, maka inilah dia muslim sempurna yang telah lengkap keislamannya, dan ilmunyapun telah menjadi benar, karena dia telah mengenal Allah sebagai pencipta dan pengaturnya yang  telah mengutus para rasul kepadanya dan memberinya kekuatan ilmu dan kekuatan belajar, akalnya telah menjadi benar dan pendapatnya menjadi tepat, karena dia telah mempergunakan akalnya, kemudian memutuskan untuk tidak menyembah kecuali Allah yang telah memuliakannya dengan karunia memahami dan berpendapat dalam berbagai urusan, lisannya telah menjadi benar dan berbicara dengan hak, karena sekarang dia tidak berikrar kecuali ikrar pengakuan akan Rabb yang satu, Dia-lah Allah Ta'ala yang telah memberinya nikmat kekuatan dalam berbicara.. seolah-olah tidak ada yang tersisa dari kehidupannya sekarang kecuali kejujuran, karena dia tunduk terhadap syari'at Allah  dalam urusan-urusan yang dia memiliki pilihan (untuk tidak tunduk), dan ikatan ta’aruf serta keakraban antara dia dengan makhluk-makhluk selainya semakin bertambah luas, karena dia tidaklah menyembah kecuali kepada Allah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, sebagaimana makhluk-makhluk yang lain juga tunduk kepada ketetapanya. Dan mereka sesungguhnya Allah tundukan semata-mata untuk kamu wahai manusia.

Hakekat Kafir

          Disamping itu ada manusia lain, lahir dalam keadaan berserah diri dan hidup selamanya dalam keadaan berserah diri, tanpa merasakan keberserahdirinya tersebut atau tidak memahaminya, tidak mengenal Rabb-nya, tidak beriman terhadap syari'at-Nya, tidak mengikuti rasul-Nya, dan tidak pula mempergunakan ilmu dan akal yang telah Allah berikan kepadanya untuk mengenal Dzat yang menciptakanya, dan menerawangkan pendengaran serta penglihatannya, sehingga dia mengingkari keberadaan-Nya, menyombongkan diri untuk beribadah kepada-Nya, menolak untuk tunduk kepada syari'at Allah dalam urusan-urusan kehidupan yang ia diberi kemampuan untuk bertindak dan memilih, atau bahkan menyekutukan-Nya dengan yang lain, diapun menolak untuk beriman dengan ayat-ayat-Nya yang menunjukkan kepada ke-esaan-Nya, dan inilah dia yang dikatakan orang kafir. Karena arti dari kalimat kafir adalah menghalangi, menutupi dan membelakangi, dikatakan: dia telah mengkufuri baju besi dengan bajunya ketika dia menutupi dengannya dan memakaikan baju diatasnya. Dikatakan terhadap orang seperti ini "kafir" karena dia telah menghalangi fitrahnya dan menutupinya dengan tutup dari kebodohan dan kedunguan. Padahal telah diketahui bahwasanya dia tidaklah dilahirkan kecuali dalam fitrah terhadap Islam, dan tidak pula anggota tubuhnya bekerja kecuali sesuai dengan fitrah Islam. Dan tidak berjalan dunia yang ada disekitarnya beserta isinya kecuali atas sunnah keberserah dirian, akan tetapi dia tutupi dengan hijab kebodohan dan kedunguan, fitrah dunia dan fitrah dirinya terhalang dari pandanganya sendiri, sehingga anda melihatnya tidak menggunakan kekuatannya dalam berfikir dan keilmuan kecuali pada apa-apa yang menyelisihi fitrahnya, dia tidak melihat kecuali apa yang berlawanan dengannya, dan tidak berusaha kecuali untuk apa yang membatalkannya.

          Sekarang anda dapat mengukur dengan diri Anda sendiri kesesatan yang ada pada diri orang kafir begitu nyata dan jauh.

          Dan inilah Islam yang meminta Anda untuk mengikutinya, bukanlah perkara yang sulit, bahkan ia merupakan suatu yang mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah, maka Islam adalah ia yang berjalan padanya seluruh alam ini:

" وله أسلم من في السموات والأرض طوعا وكرها "

"Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa", dan ia adalah agamanya Allah, sebagaimana firman-Nya:

" إن الدين عند الله الإسلام "

"Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam", dan ia adalah  menghadapkan wajah kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

" فإن حاجّوك فقل أسلمت وجهي لله ومن اتبعن "

"Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku", dan nabi SAW telah menjelaskan tentang makna Islam dalam sabdanya:

" أن تسلم قلبك لله, وأن تولي وجهك لله, وتؤتي الزكاة المفروضة "

"Hendaklah kamu menyerahkan hatimu untuk Allah, memalingkan wajahmu kepada Allah dan membayar zakat yang diwajibkan". Seseorang bertanya kepada rasul SAW: apakah Islam itu? Beliau menjawab: "Yaitu menyerahkan hatimu kepada Allah, dan kaum muslimin selamat dari lidah dan tanganmu". dia bertanya lagi: apakah yang terbaik dari Islam? Dijawab: "Iman". Dia bertanya: apakah iman itu? Beliau menjawab: "Yaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan kebangkitan setelah mati", juga sebagaimana sabda rasul SAW:

"لإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله, وأن محمدًا رسول الله, وتقيم الصلاة وتوتي الزكاة, وتصوم        رمضان, وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا "                                                       

"Islam adalah engkau bersaksi bahwasanya tidak ada ilah selain Allah, dan bahwasanya Muhammad utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa ramadhan dan berhaji ke baitullah al-haram jika mampu"

" المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده "

"Seorang muslim adalah yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya".

          Agama ini –yaitu Islam- yang tidak diterima agama oleh Allah selain darinya, tidak yang pertama dan tidak pula belakangan, karena seluruh nabi berada di atas agama Islam, Allah berfirman tentang Nuh :

" واتل عليهم نبأ نوح إذ قال لقومه يا قوم إن كان كبر عليكم مقامي وتذكيري بآيات الله فعلى الله توكلت " إلى قوله تعالى : " وأمرت أن أكون من المسلمين "                                     

"Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal" sampai kepada firman-Nya: "dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)", berfirman Allah tentang Ibrahim:

" إذ قال له ربه أسلم قال أسلمت لرب العالمين "

"Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam", dan firman yang Maha mulia segala urusan-Nya tentang Musa:

" وقال موسى يا قوم إن كنتم آمنتم بالله فعليه توكلوا إن كنتم مسلمين "

"Musa berkata: "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.", serta firman Ta'ala dalam kabar tentang al-Masih:

" وإذ أوحيت إلى الحواريين أن آمنوا بي وبرسولي قالوا آمنا واشهد بأننا مسلمون "

"Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: "Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku". Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)".

          Agama ini –Islam- syari'at, aqidah dan hukum-hukumnya bersandar dari wahyu Ilahi –Al-Qur'an dan As-Sunnah- dan akan saya sebutkan gambaran ringkas tentang keduanya.

* * * * * *

 Pondasi Islam dan Sumber-sumbernya

          Sudah menjadi tradisi bahwa pengikut agama-agama terdahulu baik agama samawiyah yang terhapus maupun agama buatan manusia mengkultuskan dan mengagungkan kitab-kitab warisan para pendahulunya, yang ditulis pada masa terdahulu dan terkadang tidak diketahui hakekat penulisnya dan siapa yang menterjemahkannya atau pada zaman kapan kitab tersebut ditulis, ia hanyalah kitab yang ditulis oleh orang-orang yang memiliki sifat sama dengan manusia lainnya, mereka memiliki kelemahan, kekurangan, menuruti hawa nafsu dan pelupa.

          Adapun Islam, bahwasanya ia memiliki kelebihan dari selainnya karena bersandar kepada sumber yang hak (wahyu Ilahi) Al-Qur'an dan As-Sunnah. Berikut ini pengenalan singkat tentang keduanya:

A- Al-Qur'anul 'Adzim:

Telah Anda ketahui sebelumnya bahwa Islam adalah agama Allah SWT, oleh karena itu Dia menurunkan Al-Qur'an kepada rasul-Nya Muhammad SAW  sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, pegangan bagi kaum muslimin, penyembuh bagi hati orang-orang yang Allah inginkan kesembuhan padanya, dan sebagai ciri bagi mereka yang Allah inginkan padanya kemenangan dan cahaya, ia mencakup pondasi yang menjadi penyebab diutusnya rasul. Al-Qur'an bukanlah kitab samawi yang baru, sebagaimana juga Muhammad bukanlah rasul yang baru diantara para rasul, karena Allah telah menurunkan kepada Ibrahim beberapa lembaran (suhuf), memuliakan Musa  dengan Taurat dan Daud dengan Zabur, serta datang al-Masih dengan membawa Injil. Seluruh kitab-kitab tersebut merupakan wahyu dari Allah yang Dia wahyukan kepada para Nabi dan Rasul-Nya, akan tetapi kitab-kitab yang lama ini kebanyakan darinya telah hilang dan kebanyakan darinya telah direvisi sehingga mengalami perubahan dan penggantian.

          Adapun Al-Qur'anul Adzim telah dijamin oleh Allah penjagaannya, dan dijadikan sebagai ujian serta penghapus atas kitab-kitab yang telah lalu.

Allah SWT berfirman:

" وأنزلنا إليك الكتاب بالحق مصدقا لما بين يديه من الك تاب ومهيمنا عليه "                 

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu", dan Allah mensifatinya sebagai penjelas bagi segala sesuatu, firman-Nya:

" ونزلنا عليك الكتاب تبيانا لكل شيء "                                                             

"Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu", dan bahwasanya ia sebagai petunjuk dan rahmat, sebagaimana firman-Nya:

" فقد جاءكم بينة من ربكم وهدى ورحمة "                                                   

"Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat" iapun sebagai petunjuk kepada jalan yang lebih lurus, sebagaimana firman Allah:

" إن هذا القرآن يهدي للتي هي أقوم "                                                       

"Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus", sehingga ia merupakan pemberi petunjuk bagi manusia kepada jalan yang lebih lurus dalam setiap urusan kehidupannya.

          Barang siapa yang mengetahui bagaimana Al-Qur'an diturunkan dan bagaimana ia dijaga; niscaya mereka akan mengetahui kedudukan Al-Qur'an dan menujukan segala keikhlasannya kepada Allah. Allah berfirman:

"Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam (192) dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) (193) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan"

Siapa yang menurunkan Al-Qur'an? Dia adalah Allah Penguasa semesta alam.

Siapa yang membawanya? Dia adalah ruhul amin Jibril as.

Kepada hati siapa ia diturunkan? Kepada Nabi.

          Al-Qur'an ini merupakan tanda yang kekal dari Muhammad -termasuk tanda-tanda yang kekal sampai hari kiamat- Tanda-tanda para nabi yang terdahulu dan mukjizat mereka telah berakhir dengan berakhirnya kehidupan mereka, adapun Al-Qur'an ini telah Allah jadikan sebagai hujjah yang kekal.

          Ia merupakan hujjah yang kuat dan tanda yang nyata, Allah menantang umat manusia untuk mendatangkan yang sepertinya, atau dengan sepuluh surat yang sepertinya, atau bahkan juga dengan satu surat yang sepertinya, namun mereka seluruhnya tidak mampu melakukannya, padahal ia terdiri dari huruf dan kalimat-kalimat, dan umat yang diturunkan kepadanya adalah umat yang fasih dan ahli bahasa, Allah berfirman:

" أم يقولون افتراه قل فأتوا بسورة مثله وادعوا من استطعتم من دون الله إن كنتم صادقين "     

"Atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.".

          Diantara dalil yang menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu dari sisi Allah, bahwasanya ia mengandung kabar-kabar yang cukup banyak tentang umat-umat terdahulu, mengabarkan tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi pada waktu yang akan datang dan benar terjadi sebagaimana yang dikabarkannya, dan menyebutkan banyak dari petunjuk-petunjuk ilmiah yang tidak diketahui sebagian dari hakekatnya kecuali oleh para ahli di abad ini. Diantara dalil yang menunjukkan juga bahwa Al-Qur'an merupakan wahyu dari Allah, bahwa nabi yang diturunkan kepadanya Al-Qur'an ini, tidak diketahui sebelumnya dan tidak pernah pula dinukil darinya apa yang mirip dengannya sebelum ia (Al-Qur'an) diturunkan, Allah berfirman:

" قل لو شاء الله ما تلوته عليكم ولا أدراكم به فقد لبثت فيكم عمرا من قبله أفلا تعقلون "            

"Katakanlah: "Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu". Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?", bahkan beliau adalah seorang ummi yang tidak dapat membaca, tidak menulis, tidak belajar kepada seorang syeikh dan tidak pula mengaji kepada seorang guru, namun meski demikian ia tantang orang-orang fasih dan ahli bahasa untuk mendatangkan yang sepertinya:

" وما كنت تتلو من قبله من كتاب ولا تخطه بيمينك إذا لارتاب المبطلون "                   

"Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)", orang yang ummi ini, yang telah disebutkan sifatnya dalam Taurat dan Injil bahwa dia seorang ummi yang tidak dapat membaca dan tidak pula menulis, para pemuka yahudi dan nasrani –yaitu orang-orang yang masih tersisa padanya Taurat dan Injil- berbondong-bondong datang kepadanya menanyakan berbagai permasalahan yang mereka perselisihkan dan meminta keputusan hukum darinya, Allah berfirman ketika menjelaskan kabar tentang beliau dalam Taurat dan Injil:

" الذين يتبعون الرسول النبي الأمي الذي يجدونه مكتوبا عندهم في التوراة والإنجبل يأمرهم بالمعروف وينهاهم عن المنكر ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث "      

"(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk", Allah berfirman ketika menjelaskan  pertanyaan orang Yahudi dan Nasrani kepada Muhammad:                           

" يسألك أهل الكتاب أن تنزّل عليهم كتابًا من السماء "

"Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit" firman Dzat yang Maha Mulia Pujian atas-Nya:

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh", firman-Nya:

"Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain", serta firman-Nya:

"Sesungguhnya Al Quran ini menjelaskan kepada Bani lsrail sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya".

 Pendeta Ibrahim Philips telah berusaha dalam desertasi doktornya untuk meniru Al-Qur'an, namun dia tidak mampu melakukannya, ia dikalahkan oleh Al-Qur'an dengan hujjah-hujjah, bukti-bukti dan dalil-dalilnya, yang kemudian dia umumkan akan ketidak mampuannya, lalu berserah diri kepada Penciptanya dan mengumumkan keislamannya (memeluk Islam).

          Ketika salah seorang muslim menghadiahkan sebuah terjemah Al-Qur'an kepada seorang Doktor Amerika yang bernama Jefry Lang, dia mendapati bahwa Al-Qur'an tersebut ditujukan kepada dirinya, menjawab segala pertanyaannya dan menghilangkan pembatas yang ada diantara diri dengan jiwanya, bahkan dia berkata: "Sesungguhnya yang menurunkan Al-Qur'an ini sepertinya Dia mengenalku lebih dalam daripada diriku sendiri", bagaimana tidak? Karena yang menurunkan Al-Qur'an adalah Dia yang telah menciptakan manusia, Dialah Allah Ta'ala:

"Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?".

Kemudian bacaannya terhadap terjemah Al-Qur'anul Karim menjadi penyebab dirinya memeluk Islam dan juga penyebab dirinya mengarang buku ini yang saya nukil sedikit darinya untuk Anda.

          Al-Qur'anul Adzim mencakup segala apa yang dibutuhkan oleh manusia, ia mencakup seluruh prinsip-prinsip agama, aqidah, hukum, muamalah serta adab-adab, Allah berfirman:

"Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam AKitab."

Padanya terdapat ajakan untuk meng-esakan Allah, menyebutkan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, mengajak untuk menetapkan kebenaran ajaran yang dibawa para nabi dan rasul, menetapkan tempat kembali, hari pembalasan, hisab dengan memberikan dalil serta petunjuk terhadapnya, juga menyebutkan kabar tentang umat-umat terdahulu dan apa yang menimpa mereka dari bencana di dunia, serta apa yang menunggu mereka dari azab dan siksaan di akherat.

          Di dalamnya juga terdapat ayat, dalil, petunjuk-petunjuk yang banyak, yang membuat para ahli tercengang, ia sesuai dengan setiap zaman, serta padanya para ahli dan para peneliti menemukan kesesatan diri mereka. Akan saya sebutkan untuk anda tiga contoh saja yang akan mengungkapkan bagi anda sebagian darinya yaitu:

1        Firman Allah SWT:

"Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi", dan firman-Nya:

"أو كظلمات في بحر لجي يغشاه موج من فوقه موج من فوقه سحاب ظلمات بعضها فوق     بعض إذا أخرج يده لم يكد يراها ومن لم يجعل الله له نورا فما له من نور "                     

"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun”              Sebagaimana yang telah diketahui, bahwasanya Muhammad tidak pernah mengarungi lautan, pada zamannyapun belum terdapat peralatan-peralatan yang dapat membantu mengukur kedalaman laut. Maka siapakah yang telah memberi tahu Muhammad akan maklumat-maklumat seperti ini kalau bukan Allah.

2        Firman Allah SWT:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (12) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (13) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik", para ahli belum dapat mengungkapkan perincian yang mendetail tentang vase penciptaan janin ini kecuali pada zaman sekarang.

3        Firman Allah SWT:

"وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلاّ هو ويعلم ما في البرّ والبحر وما تسقط من ورقة إلاّ يعلمها ولا حبّة في ظلمات الأرض ولا رطب ولا يابس إلاّ في كتاب مّبين "               

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)", manusia belum terbiasa untuk menguasai pemikiran yang mencakup seperti ini, bahkan tidak pula pernah berfikir tentangnya, apalagi kalau sampai memahaminya. Bahkan satu kelompok dari para pakar berhasil meneliti sebuah tanaman atau seekor serangga, mereka akan mencatatnya dan kita merasa bangga akannya, padahal apa yang masih tersembunyi dari mereka tentang keadaannya lebih banyak dari apa yang telah mereka temukan.

Seorang pakar Perancis Moris Pokai telah membandingkan antara Taurat, Injil dan Al-Qur'an, dengan apa yang telah dicapai oleh penemuan-penemuan terkini yang berhubungan dengan penciptaan langit, bumi dan manusia, maka dia dapati bahwa penemuan-penemuan terkini sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Qur'an, sementara itu dia mendapatkan dalam Taurat dan Injil yang ada sekarang ini mengandung maklumat-maklumat banyak yang salah tentang penciptaan langit, bumi, manusia dan hewan.

B: Sunnah Nabawiyyah:

          Allah SWT telah menurunkan Al-Qur'anul Karim kepada Rasul, dan Dia pun telah mewahyukan hal yang sama kepadanya, yaitu sunnah nabawiyyah yang merupakan penjabar dan penjelas bagi Al-Qur'an, telah bersabda :

" ألا إنّي أوتيت القرآن ومثله معه "

"Ketahuilah bahwasanya aku telah diberikan Al-Qur'an dan yang semisalnya bersamanya."

Beliau telah diberi izin untuk menjelaskan apa yang ada dalam Al-Qur'an dari yang umum, khusus ataupun global.

Allah SWT berfirman:

" وأنزلنا إليك الذكر لتبيّن للناس ما نزل إليهم ولعلّهم يتفكّرون "

"Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan".

          As-Sunnah merupakan sumber kedua dari sumber-sumber Islam, dan ia adalah seluruh apa yang diriwayatkan oleh nabi. -dengan sanad yang shahih, bersambung sampai kepada rasul-, baik itu dari perkataan, perbuatan, ketetapan ataupun sifat.

          Dan ia merupakan wahyu dari Allah kepada rasul-Nya Muhammad, karena nabi tidak berbicara menurut hawa nafsu, firman Allah:

"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya (3) Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (4) yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat", beliau hanyalah diperintahkan untuk menyampaikan kepada umat manusia, firman Allah:

" إن أتّبع إلاّ ما يوحى إليّ وما أنا إلاّ نذير مّبين "

"Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".

          As-Sunnah Al-Muthahharoh adalah praktek nyata dalam Islam dari segi hukum, aqidah, ibadah, muamalah serta adab, dan nabi hanyalah mempraktekkan apa yang diperintahkan kepadanya, menjelaskannya kepada umat manusia, dan memerintah mereka untuk mengerjakan seperti apa yang beliau kerjakan, sebagaimana sabdanya:

" صلوا كما رأيتموني أصلي "

"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat", dan Allah telah memerintahkan kaum mukminin untuk mengikuti seluruh apa yang beliau ucapkan dan kerjakan sehingga sempurna keimanan mereka.

Allah SWT berfirman:

" لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا "

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

Para sahabat yang mulia telah menukilkan seluruh sabda Nabi dan perbuatan-perbuatannya kepada generasi setelahnya, kemudian merekapun mengajarkannya kepada yang setelahnya lagi, yang kemudian akhirnya ditulis dalam buku-buku sunnah. Pada waktu itu para penukil sunnah memperketat orang-orang yang meriwayatkan sunnah kepadanya, dan memberi syarat bahwa orang yang meriwayatkan harus pernah bertemu dengan orang yang diriwayatkannya, sehingga sanad-sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah, dan hendaknya seluruh orang yang ada dalam sanad haruslah tsiqot (dapat dipercaya), adil, seorang jujur dan memegang amanah.

          Sebagaimana sunnah merupakan praktek nyata tentang Islam, maka iapun sebagai penjelas bagi Al-Qur'anul Karim, menerangkan ayat-ayatnya dan merinci yang global dari hukum-hukumnya, karena Nabi menerangkan apa yang diturunkan kepadanya, terkadang dengan perkataan, terkadang dengan perbuatan dan terkadang dengan kedua-duanya, dan terkadang as-sunnah terpisah dari Al-Qur'an dengan menjelaskan sebagian hukum serta syari'at yang tidak terdapat dalam al-qur’an.

          Beriman kepada Al-Qur'an dan as-sunnah adalah wajib, karena keduanya adalah sumber pokok dalam agama Islam, yang mana diharuskan untuk mengikuti keduanya dan merujuk padanya, mengikuti segala perintahnya, menjauhi larangannya serta mempercayai seluruh kabar yang bersumber dari keduanya, juga mengimani apa yang ada pada keduanya berupa nama, sifat dan perbauatan-perbuatan Allah, serta apa yang telah Allah siapkan bagi wali-wali-Nya dari kaum mukminin dan apa yang Dia ancamkan bagi musuh-musuh-Nya dari golongan orang-orang kafir, firman Allah:

" فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجًا مّما قضيت ويسلّموا تسليمًا "

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya", dan firman-Nya

" وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا "

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah".

          Setelah pengenalan terhadap sumber-sumber agama ini, alangkah baiknya kalau kita menyebutkan urutannya, ia adalah: Islam, Iman dan Ihsan, kita akan membahas sebagian darinya dengan singkat tentang rukun-rukun urutan ini.

 Urutan Pertama*

          Islam: Rukun-rukunnya ada lima, yaitu: Dua kalimat syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji.

 Pertama: Syahadat Laa Ilaaha Illallah, wa anna Muhaamadan Rasulullah.

          Makna syahadat Laa Ilaaha Illallah: yaitu tidak ada yang pantas untuk di ibadahi dengan hak, baik itu di bumi ataupun langit kecuali Allah saja satu-satunya, karena Dialah Tuhan yang hak, dan setiap tuhan selain-Nya adalah batil, dan ia mengandung keikhlasan dalam beribadah hanya kepada Allah saja, menafikan peribadatan kepada selain-Nya. Orang yang mengucapkan kalimat ini tidak akan bermanfaat baginya kalimat ini sehingga terealisasi padanya dua perkara:

1. Ucapan Laa Ilaaha Illallah diucapkan dengan itikad, ilmu, keyakinan, kepercayaan dan kecintaan.

2. Mengkufuri apa yang disembah selain Allah. Barang siapa yang mengucapkan syahadat ini dengan tanpa mengkufuri apa yang disembah selain Allah, maka ucapannya tidak akan bermanfaat baginya.

          Dan makna syahadat anna Muhammadan Rasulullah: yaitu mentaati apa yang beliau perintahkan, mempercayai apa yang dikabarkannya, menghindari dan menjauhi apa yang dilarangnya, tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang telah disyari'atkan, dan dengan mengetahui dan meyakini bahwa Muhammad diutus kepada seluruh umat manusia, dan bahwasanya beliau adalah seorang hamba yang tidak boleh disembah, Rasul yang tidak boleh didustakan, ia harus dita'ati dan diikuti, barang siapa yang menta'atinya maka dia akan masuk surga dan yang bermaksiat kepadanya akan masuk neraka. Serta mengetahui dan meyakini bahwa penerimaan syari'at, baik itu dalam permasalahan aqidah, syiar-syiar ibadah yang Allah perintahkan, peraturan hukum dan syari'at, dalam segi akhlak, segi pembangunan keluarga atau dalam segi penghalalan dan pengharaman.. seluruhnya tidak terjadi kecuali melalui Muhammad rasul Karim karena beliau adalah utusan Allah yang menyampaikan syari'at-Nya.

 Kedua: Shalat*:

          Shalat adalah rukun kedua dari rukun Islam, bahkan ia merupakan tiangnya Islam, karena ia merupakan penyambung antara hamba dengan Rabb-nya, ia mengulanginya setiap hari sebanyak lima kali, dengannya ia dapat memperbaharui iman, membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran dosa, sholat juga dapat menghindarkanya dari perbuatan keji dan dosa. Apabila seorang hamba bangun dari tidurnya pada pagi hari –dia berserah diri dihadapan Rabb-nya dalam keadaan suci dan bersih-, sebelum disibukkan oleh kesibukan duniawi- kemudian dia bertakbir kepada Rabb-nya, dan memberikan ubudiah-Nya, memohon pertolongan-Nya serta hidayah-Nya, diapun memperbaharui janji ketaatan dan ibadahnya kepada Rabb-nya sambil bersujud dan ruku, dia ulangi hal tersebut dalam setiap harinya sebanyak lima kali. Diharuskan dalam pelaksanaan shalat ini adalah dia harus dalam keadaan suci baik hati, badan, pakaian dan tempat shalatnya, dan hendaklah dilaksanakan oleh seorang muslim dengan berjama'ah –apabila memungkinkan- sambil menghadapkan hatinya kepada Allah dan menghadapkan wajahnya kepada Ka'bah baitullah. Shalat telah disusun dengan sempurna dan paling baik yang dilakukan hamba dalam beribadah kepada Sang Pencipta, ia mencakup pengagungan terhadap-Nya dengan seluruh anggota tubuh, mulai dari ucapan dengan lisan, amal dengan kedua tangan, kedua kaki, kepala dan panca inderanya serta seluruh bagian dari tubuhnya, setiap darinya mengambil bagian masing-masing dari ibadah yang agung ini.

          Panca indera dan anggota tubuh mendapat bagian masing-masing darinya, hati memiliki bagian darinya, karena ia mencakup pujian, pengagungan, tasbih dan takbir, persaksian yang hak, bacaan Al-Qur'an dan berdiri dihadapan Rabb dengan kedudukan seorang hamba yang hina serta tunduk terhadap Rabb yang Maha Pengatur, kemudian merendahkan diri kepada-Nya pada kesempatan tersebut dengan memelas dan bertaqarrub kepada-Nya, kemudian ruku, sujud dan duduk dengan rendah diri, khusu' dan tunduk akan keagungan-Nya dan hina dihadapan kemulian-Nya, terkadang semua itu dibarengi oleh keluluhan hati, kerendahan jiwa dan kekhusu'an anggota tubuhnya, kemudian shalatnya tersebut ditutup dengan memuji Allah dan bershalawat serta salam terhadap Nabi-Nya Muhammad, kemudian meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akherat.

 Ketiga: Zakat*:

          Zakat merupakan rukun ketiga dari rukun-rukun Islam, diwajibkan terhadap muslim kaya untuk mengeluarkan zakat hartanya, yang merupakan bagian kecil sekali darinya, dibayarkan kepada para fakir miskin dan lainnya yang memang diperbolehkan untuk diberikan kepadanya.

          Ia wajib dibayarkan oleh seorang muslim kepada orang yang berhak dengan keikhlasan hati, lalu dia tidak menyebut-nyebut kebaikanya kepada dia yang menerima dan tidak pula menyakitinya dengan mengungkit-ungkit kebaikanya. Zakat wajib dibayar oleh seorang muslim dengan harapan untuk mendapat ridha Allah, dia tidak menginginkan darinya balasan dan tidak pula terima kasih dari para makhluk, akan tetapi dia bayarkan dengan ikhlas karena Allah, bukan karena riya dan tidak pula sum'ah.

          Mengeluaran zakat merupakan sarana yang dapat mendatangkan keberkahan, membersihkan jiwa orang-orang fakir, miskin dan mereka yang membutuhkan,  mencukupkan mereka dari kehinaan meminta, dan juga sebagai rahmat bagi mereka dari kebinasaan dan kesulitan apabila ditinggalkan oleh orang-orang kaya. Mengeluaran zakat adalah bentuk sifat kedermawanan, kemurahan, I’tsar (mementingkan keperluan orang lain), pengorbanan dan kasih sayang, serta terbebas dari sifat-sifat orang kikir, pelit dan hina. Padanya nampak kebersamaan dan saling sepenanggungan diantara kaum muslimin, yang kaya mengasihi yang miskin, sehingga tidak tinggal dalam masyarakat –apabila syiar ini dipraktekkan- seorang fakir yang kesulitan, orang yang berhutang ketakutan dan tidak pula seorang musafir yang terputus perjalanannya.

 Keempat: Puasa*:

          Puasa pada bulan Ramadhan mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, orang yang berpuasa meninggalkan makanan, minuman dan hubungan badan selama berpuasa sebagai ibadah kepada Allah Ta'ala, dia harus menahan diri dari syahwatnya. Allah telah memberikan keringanan puasa terhadap orang yang sakit, musafir (dalam perjalanan), wanita hamil, menyusui, haidh dan nifas, setiap darinya memiliki hukum masing-masing yang sesuai dengannya.

          Pada bulan tersebut seorang muslim akan menahan diri dari syahwatnya, sehingga dengan ibadah ini dia keluarkan dirinya dari kemiripan dengan binatang menjadi mirip dengan Malaikat yang mendekatkan diri, bahkan seorang yang berpuasa sampai digambarkan dengan gambaran seorang yang tidak memiliki kebutuhan terhadap dunia, kecuali apa yang dapat menghasilkan keridhaan Allah.

          Puasa dapat menghidupkan hati, zuhud terhadap dunia, mengharap apa yang ada disisi Allah, dan orang kaya menjadi ingat akan keadaan orang-orang miskin, sehingga hati mereka tersentuh karenanya, semakin merasakan besarnya kenikmatan yang telah Allah anugerahkan kepadanya, sehingga semakin tambah rasa syukurnya.

          Puasa sebagai penyuci jiwa, mengarahkannya untuk bertakwa kepada Allah, serta menjadikan seseorang dan masyarakat merasakan adanya pengawasan Allah terhadapnya dalam keadaannya yang senang dan susah serta tersembunyi dan terang-terangan, karena suatu masyarakat akan hidup selama sebulan penuh dengan menjaga ibadah ini, merasa diawasi oleh Rabb-nya yang semua itu dapat mendorong untuk takut kepada Allah, beriman kepada-Nya dan hari akhir, serta meyakini bahwa Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang tampak, dan bahwasanya seseorang pada suatu hari pasti akan berdiri dihadapan Penciptanya, yang mana Dia akan bertanya tentang seluruh amalannya, baik itu yang kecil ataupun besar.

 Kelima: Haji*:

          Menuju Baitullahil Haram di Makkah Al-Mukarramah, diwajibkan atas muslim yang telah baligh, berakal, memiliki kemampuan, memiliki fasilitas transportasi atau ongkosnya untuk menuju Baitullahil Haram, dan mempunyai biaya yang mencukupinya untuk perjalanan dari rumah hingga kembali lagi, hendaklah biaya itu merupakan sisa uang setelah meninggalkan nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalnya, dia juga harus memiliki rasa aman selama dalam perjalanan, juga aman bagi yang ditinggalkan selama dia tidak ada. Haji hanya diwajibkan satu kali dalam seumur hidup, yaitu bagi dia yang memiliki kemampuan untuk sampai kepadanya.

          Diharuskan bagi dia yang akan pergi haji untuk bertaubat kepada Allah, untuk membersihkan dirinya dari kekotoran dosa. Apabila telah sampai di Makkah dan tempat-tempat suci dia harus melaksanakan syiar-syiar haji sebagai bentuk ibadah dan pengagungan terhadap Allah, dan dalam keadaan mengetahui bahwa Ka'bah serta syiar-syiar yang ada tidak disembah selain daripada Allah, dan bahwasanya semua itu tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak pula mudharat. Jika seandainya Allah tidak memerintahkan untuk pergi haji kepadanya, maka tidak sah bagi seorang muslim untuk pergi kepadanya.

          Dalam pelaksanaannya, seorang yang berhaji memakai dua helai kain putih satu sebagai sarung dan yang lain sebagai penutup bagian atas, seluruh kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia berkumpul pada satu tempat, dengan menggunakan pakaian yang sama, menyembah satu Tuhan, tidak ada perbedaan antara seorang kepala dengan bawahannya, kaya atau miskin, putih atau hitam, seluruhnya adalah makhluk dan hamba Allah, tidak ada perbedaan antara seorang muslim dengan muslim lainnya kecuali dengan takwa dan amal shalih.

          Akan nampak dari kaum muslimin suasana saling tolong menolong dan saling mengenal, mereka akan mengingat hari dimana Allah bangkitkan mereka, lalu dikumpulkan pada satu tempat untuk di hisab, sehingga mereka bersiap-siap dengan keta'atan, demi untuk mempersiapkan apa yang akan terjadi setelah mati.

Ibadah dalam Islam*:

          Makna dan hakekat Ibadah adalah satu bentuk penghambaan diri kepada Allah, karena Allah adalah Pencipta dan anda yang diciptakan, anda adalah hamba dan Allah yang anda sembah, jika demikian keadaannya, maka seseorang harus berjalan dalam kehidupan ini pada jalan Allah yang lurus dengan mengikuti syari'at-Nya, mengikuti jejak Rasul-Nya. Allah telah mensyari'atkan bagi hamba-hamba-Nya syari'at yang agung, seperti perealisasian Tauhid kepada Allah Rabb penguasa semesta alam, shalat, zakat, puasa dan haji.

          Akan tetapi bukan hanya ini saja ibadah dalam Islam, karena ibadah dalam Islam  sangat umum, yaitu mencakup Seluruh perbuatan dan perkataan yang dicintai Allah dan diridhoi-Nya, baik yang tampak ataupun tersembunyi. Jadi setiap amal atau perkataan yang anda kerjakan atau katakan dari apa yang Allah cintai dan ridhoi, maka ia adalah ibadah, bahkan setiap kebiasaan baik yang anda lakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah adalah ibadah, pergaulan baik anda terhadap ayah, keluarga, istri, anak dan tetangga, apabila dimaksudkan dengannya karena Allah, maka ia merupakan ibadah, perilaku baik anda di rumah, di pasar dan di kantor, apabila dimaksudkan karena Allah, maka ia ibadah, pelaksanaan amanah dan berpegang dengan kejujuran, keadilan, menghilangkan gangguan, membantu yang lemah, mencari rejeki yang halal, memberi nafkah kepada keluarga dan anak, memberi kelapangan terhadap orang miskin, menjenguk orang sakit, memberi makan orang lapar, serta menolong orang yang terdzolimi, seluruhnya adalah ibadah jika ia tujukan untuk Allah. Maka setiap amal yang anda kerjakan untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat ataupun Negara yang dimaksudkan karena Allah, ia adalah ibadah.

Bahkan sampai penyaluran syahwat diri anda pada batasan yang Allah perbolehkan, akan menjadi ibadah apabila dibarengi oleh niat yang shalih, bersabda Rasulullah :

" في بضع أحدكم صدقة" قالوا: يا رسول الله! أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر؟ قال:أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه وزر؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر"   

"Pada setiap air mani kalian terdapat sedekah" para sahabat bertanya: wahai Rasulullah! Apakah tatkala salah seorang dari kita menyalurkan syahwatnya akan mendapatkan ganjaran? Bersabda Rasul: "Bagaimana pendapat kalian kalau hal tersebut disalurkan pada yang haram, bukankah dia akan medapatkan dosa? Begitu pula kalau dia salurkan pada yang halal, dia akan mendapatkan ganjaran".

          Serta sabda Beliau SAW:

"على كل مسلم صدقة" قيل: أرأيت إن لم يجد؟ قال: "يعتمل بيديه فينفع نفسه ويتصدق" قال: أرأيت إن لم يستطع؟ قال: "يعين ذا الحاجة الملهوف" قال: قيل له: أرأيت إن لم يستطع؟ قال: يأمر بالمعروف أو الخير" قال: أرأيت إن لم يفعل؟ قال: "يمسك عن الشر فإنها صدقة"

"Atas setiap muslim harus bersedekah" dikatakan kepada beliau: bagaimana pendapat anda jika tidak mampu? Dijawabnya: "dia bekerja dengan kedua tangannya, lalu memberi manfaat kepada dirinya dan bersedekah" ditanyakan: bagaimana kalau seandainya dia tidak mampu? Dijawabnya: "Memberi pertolongan kepada orang yang sangat membutuhkan" dikatakan: bagaimana jika tidak bisa? Dijawabnya: "Memerintahkan kepada perkara yang ma'ruf atau kebaikan" dikatakan: bagaimana kalau seandainya dia tidak melakukannya? Dijawabnya: "Menahan diri dari kejelekan, maka sesungguhnya itu merupakan sedekah".

* * * * * *

 Urutan Kedua*

          Iman dengan rukunnya yang enam, yaitu: Beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Para Rasul-Nya, hari akhir dan beriman terhadap Takdir.

          Pertama: Iman kepada Allah SWT: yaitu dengan beriman kepada Rubiyyah Allah, atau bahwasanya Dia adalah Rabb Pencipta, Maha Raja, Maha Pengatur bagi segala sesuatu, dan beriman kepada Uluhiyyah Allah, atau bahwasanya Dia-lah Tuhan yang hak, setiap sesembahan selain-Nya batil, dan beriman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya, atau bahwasanya Dia memiliki nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang tinggi lagi sempurna.

          Dan beriman dengan ke-esaan Allah, karena tidak ada sekutu baginya dalam Rububiyyah, tidak dalam uluhiyyah dan tidak pula dalam asma dan sifat-Nya, Allah berfirman:

" رب السموات والأرض وما بينهما فاعبده واصطبر لعبادته هل تعلم له سميّا "

"Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada orang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?".

          Dan mengimani bahwasanya Dia tidak mengantuk dan tidak pula tidur, dan bahwasanya Dia Maha Mengetahui atas segala perkara ghaib dan yang terlihat, dan bagi-Nyalah kerajaan langit dan bumi:

" وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا هو ويعلم ما في البر والبحر وما تسقط من ورقة إلا يعلمها ولا حبة في ظلمات الأرض ولا رطب ولا يابس إلا في كتاب مبين "

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)".

          Dan mengimani bahwasanya Dia berada diatas Arsy-Nya, lebih tinggi dari seluruh makhluk-Nya, Dia-pun bersama ciptaan-Nya mengetahui setiap keadaan mereka, mendengar setiap ucapan dan melihat tempat mereka, mengatur seluruh urusan mereka, memberi rejeki kepada yang fakir, memperbaiki yang rusak, memberi kerajaan kepada orang yang dikehendaki-Nya dan mengambilnya dari siapapun yang Dia kehendaki, dan Dia-pun berkuasa atas segala sesuatu.

 Di antara hasil dari keimanan kepada Allah SWT adalah:

1        Lahirnya kecintaan bagi seorang hamba kepada Allah dan pengagungan-Nya, yang menjadikan dia melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Apabila seorang hamba telah melakukan yang demikian, maka dia akan mendapatkan darinya kesempurnaan kebahagiaan di dunia dan akherat.

2        Bahwa iman kepada Allah melahirkan kehalusan dan kemuliaan dalam diri seseorang, karena dia telah mengetahui bahwa Allah adalah Raja yang sesungguhnya atas apa saja yang ada di alam ini, dan bahwasanya tidak ada yang dapat mendatangkan manfaat ataupun mudharat kecuali Dia. Ilmu yang seperti ini akan menjadikannya merasa cukup dari selain Allah, dan hatinya terlepas dari perasaan takut kepada selain-Nya, sehingga dia tidak mengharap kecuali kepada Allah dan tidak takut kepada selain-Nya.

3        Bahwa iman kepada Allah akan menumbuhkan sifat tawadhu dalam dirinya, karena dia tahu bahwa semua kenikmatan yang ada padanya adalah dari Allah, sehingga dia tidak memuliakan setan, tidak sombong dan tidak takabbur, dan tidak merasa bangga pula dengan kekuatan dan hartanya.

4        Bahwa orang yang beriman kepada Allah akan mengetahui dengan sesungguhnya, bahwasanya tidak ada jalan untuk menuju kemenangan dan keberhasilan kecuali dengan mengerjakan amal sholeh yang diridhoi oleh Allah, pada saat orang lain memiliki keyakinan-keyakinan yang batil, seperti keyakinan bahwa Allah memerintahkan agar anak-Nya di salib, sebagai bentuk penebusan atas dosa-dosa manusia, atau beriman terhadap tuhan-tuhan dan meyakini bahwa ia dapat merealisasikan apa yang diinginkannya, yang mana pada hakekatnya semua itu tidak bermanfaat dan tidak pula mendatangkan mudharat, atau menjadi seorang  komunis sehingga tidak beriman dengan keberadaan Pencipta.. semua ini adalah angan-angan, sehingga tatkala mereka dihadapkan kepada Allah pada hari kiamat, dan ditunjukkan kenyataannya, sadarlah bahwa mereka berada dalam kesesatan yang nyata.

5        Bahwa keimanan kepada Allah akan mengasah kekuatan manusia dalam berniat untuk maju, bersabar, berpegang serta bertawakal, yaitu pada saat menguatnya perkara-perkara dunia, dengan mengharap ridho Allah, sehingga ia berada pada keyakinan yang sempurna bahwa dirinya telah bertawakal kepada Raja pemilik langit dan bumi, dan bahwasanya Dia akan membantu dan menolongnya, sehingga ia menjadi tegar bagaikan ketegaran gunung dalam bersabar, konsisten dan bertawakal.

Kedua: Iman kepada Malaikat: Bahwasanya Allah-lah yang telah menciptakan mereka untuk menta'ati-Nya, dan disifatkan bahwa mereka:

"Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan (26) mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya (27) Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya", dan bahwasanya mereka itu: "Mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih (19) mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya", Allah menutupi mereka dari kita sehingga kita tidak dapat melihatnya, namun terkadang Allah memperlihatkannya terhadap sebagian Nabi dan Rasul-Nya.

          Para malaikat memiliki tugas-tugas yang dibebankan terhadapnya, diantaranya Jibril yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu, ia turun dengan membawanya dari sisi Allah kepada para Rasul yang dikehendakin-Nya, diantara mereka ada yang ditugaskan untuk mencabut nyawa, diantara para malaikat ada yang ditugaskan  untuk urusan yang berhubungan dengan janin dalam rahim, diantara mereka ada yang ditugaskan untuk menjaga manusia, diantaranya ada yang ditugaskan untuk mencatat amalan mereka, setiap orang didampingi oleh dua malaikat:

" عن اليمين وعن الشمال قعيد . ما يلفظ من قول إلاّ لديه رقيب عتيد "

"Seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri (17) Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir".

 Di antara hasil dari keimanan kepada malaikat adalah:

1        Menjadi bersihnya aqidah seorang muslim dari keburukan syirik dan kekotorannya, karena apabila seorang muslim beriman dengan keberadaan malaikat yang Allah tugaskan dengan amalan-amalan besar ini, dia akan terbebas dari keyakinan adanya makhluk-makhluk fiktif (tidak jelas) yang turut serta dalam pengaturan alam semesta.

2        Seorang muslim akan mengetahui bahwa para malaikat tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan mudharat, akan tetapi mereka adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan, tidak bermaksiat atas apa yang Allah perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, sehingga dia tidak akan beribadah kepadanya dan tidak pula menghadap ke arahnya, sebagaimana juga tidak akan bergantung kepadanya.

Ketiga: Iman kepada kitab-kitab: Beriman bahwasanya Allah telah menurunkan beberapa kitab kepada sebagian dari Nabi dan Rasul-Nya, untuk menjelaskan hak-Nya dan berdakwah kepada-Nya, sebagaimana firman Allah:

" لقد أرسلنا رسلنا بالبينات وأنزلنا معهم الكتاب والميزان ليقوم الناس بالقسط "

"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan", kitab-kitab berjumlah banyak, diantaranya: Shahifah (lembaran) Ibrahim, Taurat yang diberikan kepada Musa, Zabur yang dibawa oleh Dawud, dan Injil yang dibawa oleh Al-Masih.

          Iman kepada kitab-kitab terdahulu akan terwujud dengan mengimani bahwa Allah SWT telah menurunkannya kepada para Rasul, dan bahwasanya ia mengandung syari'at yang Allah inginkan untuk disampaikan kepada umat manusia pada masa tersebut.

          Kitab-kitab yang telah Allah kabarkan kepada kita tersebut telah sirna, tidak tersisa lagi keberadaan Shahifah Ibrahim di dunia ini, adapun Taurat, Injil dan Zabur, walaupun keberadaannya dengan nama tersebut ada pada Yahudi dan Nasrani, namun ia telah dirubah, diganti dan telah hilang sebagian besar darinya, dan dimasukan padanya apa yang bukan darinya, bahkan sampai disandarkan kepada yang bukan pemiliknya. Perjanjian lama, terdapat padanya lebih dari empatpuluh bagian, dan yang dinisbatkan kepada Musa hanya lima, dan Injil-Injil yang ada pada hari ini tidak ada satupun yang dinisbatkan kepada Al-Masih.

          Adapun kitab terakhir yang diturunkan dari sisi Allah, yaitu Al-Qur'an yang Dia turunkan kepada Muhammad, ia tetap terjaga dengan penjagaan Allah, ia tidak tersentuh oleh perubahan ataupun pergantian pada huruf, kalimat, harakat ataupun juga maknanya.

             Perbedaan antara Al-Qur'an dengan kitab-kitab terdahulu dapat dilihat dari  banyak sisi, diantaranya:

1        Bahwa kitab-kitab terdahulu telah hilang dan dimasuki oleh perubahan dan pergantian, telah dinisbatkan kepada selain pemiliknya, ditambahkan padanya penjelasan, catatan kaki serta keterangan-keterangan, juga mengandung perkara-perkara yang menafikan wahyu Ilahi, akal dan fitrah.

Adapun Al-Qur'an akan terus terjaga oleh penjagaan Allah, dengan huruf dan kalimat yang sama sebagaimana ketika diturunkan Allah kepada Muhammad, ia tidak tersentuh oleh perubahan dan tidak pula tambahan, karena kaum muslimin selalu berupaya agar Al-Qur'an tetap berada sebagaimana aslinya, mereka tidak mencampuri dengan selainnya, semisal sirah Nabi atau sejarah para sahabat atau tafsirnya ataupun juga dengan hukum-hukum yang berhubungan dengan ibadah dan muamalah.

2        Bahwa kitab-kitab terdahulu tidak diketahui catatan sejarahnya, bahkan sebagiannya tidak diketahui, kepada siapa ia diturunkan dan dengan bahasa apa ditulis, bahkan sebagiannya disandarkan kepada selain dia yang membawanya.

Adapun Al-Qur'an, ia dinukil oleh kaum muslimin dari Muhammad dengan penukilan yang mutawatir, baik secara lisan atau tulisan, pada setiap kaum muslimin di setiap zaman dan tempat terdapat ribuan orang yang menghafalnya dan ribuan cetakan yang berisi tentangnya, apabila ada yang tidak sama antara yang dilafadzkan dan apa yang tertulis, maka ia tidak akan dianggap, karena apa yang ada dalam tulisan harus sama dengan apa yang ada dalam dada para penghafal.

Diatas semua itu, sesungguhnya Al-Qur'an dinukil secara lisan, yang mana ini tidak pernah terjadi pada kitab apapun yang ada di dunia, bahkan tidak pernah ada gambaran tentang cara penukilan ini kecuali pada umat Muhammad, dan cara penukilan ini: yaitu seorang murid menghafal Al-Qur'an dihadapan gurunya dengan cara hafalan dalam hati, dan gurunya tersebut telah menghafalnya dari gurunya juga, kemudian guru tersebut memberikan idzin kepada muridnya yang berupa persaksian dengan nama "ijazah", padanya guru tersebut bersaksi bahwa muridnya telah membaca kepadanya sebagaimana yang dia lakukan kepada gurunya, setiap dari mereka menyebutkan nama gurunya hingga sanadnya sampai kepada Rasulullah, demikianlah tasalsul(mata rantai) sanad dari seorang murid hingga sampai kepada Rasul, dan demikian pula tasalsul sanad secara lisan dari seorang murid hingga sampai kepada Rasulullah.

Banyak dalil-dalil yang kuat dan bukti-bukti sejarah –yang juga sampai dengan turun temurun secara sanad- yang memberi keterangan tentang setiap surat dan setiap ayat dari Al-Qur'an, dimana ia turun dan kapan diturunkan kepada Muhammad.

3        Bahwasanya bahasa-bahasa yang denganya kitab-kitab terdahulu diturunkan  telah punah sejak zaman dahulu, sehingga tidak didapati seorangpun yang berbicara dengannya, dan sedikit sekali yang memahaminya pada saat ini, adapun bahasa yang dengannya Al-Qur'an diturunkan adalah bahasa hidup yang pada hari ini masih dijadikan sebagai alat komunikasi oleh puluhan juta jiwa, dan ia masih dipelajari dan diajarkan pada setiap penjuru dunia, dan barang siapa yang tidak mempelajarinya, ia tetap akan mendapati pada setiap tempat orang yang akan memahamkan kepadanya makna-makna Al-Qur'an.

4        Bahwasanya kitab-kitab terdahulu diturunkan untuk zaman tertentu, ia ditujukan kepada suatu umat, bukan untuk seluruh umat manusia, oleh karenya ia memuat hukum-hukum yang khusus dengan umat tersebut pada zamannya, selama demikian adanya, maka ia tidak sesuai untuk dijadikan bagi seluruh manusia.

Sedangkan Al-Qur'anul Adzim adalah kitab yang mencakup seluruh zaman, sesuai bagi seluruh tempat, memuat hukum-hukum, muamalah serta akhlak-akhlak yang cocok bagi setiap umat, dan sesuai bagi setiap zaman, sehingga seruan yang ada padanya ditujukan kepada manusia seluruhnya..

          Dari semua itu diketahui, bahwasanya tidak mungkin Allah menjadikan hujjah-Nya atas manusia dalam kitab-kitab yang tidak lagi otentik naskah-naskahnya, dan tidak ada pula diatas muka bumi ini orang yang berbicara dengan bahasa yang dipergunakan untuk menulis kitab-kitab tersebut setelah ia dirubah… akan tetapi hujjah Allah atas makhluknya hanya ada dalam kitab yang masih terjaga dan selamat dari segala bentuk tambahan dan pengurangan ataupun penyimpangan, bentuk aslinya masih tersebar di setiap tempat, ditulis dengan bahasa yang masih hidup sehingga dapat dibaca oleh jutaan manusia, dan merekapun menyampaikan risalah-risalah Allah kepada orang lain. Kitab tersebut adalah [Al-Qur'anul Adzim] yang telah Allah turunkan kepada Muhammad, ia adalah penguat kitab-kitab terdahulu, pembenar atasnya –sebelum diadakan perubahan-, sebagai bukti baginya, dan ia adalah yang diwajibkan bagi seluruh manusia untuk mengikutinya, agar ia dapat menjadi cahaya bagi mereka, menjadi penyembuh, petunjuk dan juga rahmat, Allah berfirman:

" وهذا كتاب أنزلناه مبارك فاتبعوه واتقوا لعلكم ترحمون "

"Dan Al-Qur'an ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat"

" قل يا أيّها الناس إني رسول الله إليكم جميعًا "

"Hai sekalian manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua".

 Keempat: Iman kepada para Rasul :

          Bahwasanya Allah telah mengutus para Rasul kepada makhluk-Nya untuk memberi kabar gembira kepada mereka dengan kenikmatan jika mereka beriman kepada Allah dan mempercayai para Rasul-Nya, merekapun bertugas untuk memberi peringatan akan adzab jika umat manusia berbuat maksiat, firman Allah:

" ولقد بعثنا في كل أمة رسولاً أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت "

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "sembahlah Allah (saja) dan jauhilah taghut itu"

"رسلاً مبشرين ومنذرين لئلاّ يكون للناس على الله حجة بعد الرسل "

"(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu".

          Para Rasul tersebut berjumlah banyak, dimulai oleh Nuh dan diakhiri oleh Muhammad, diantara mereka ada yang Allah kabarkan kepada kita tentangnya, seperti: Ibrahim, Musa, Isa, Dawud, Yahya, Zakaria dan Shalih, dan diantara mereka ada juga yang tidak Allah sebutkan kabar tentangnya, Allah berfirman:

" ورسلاً قد قصصناهم عليك من قبل ورسلاً لم نقصصهم عليك "

"Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu".

          Para Rasul tersebut seluruhnya manusia yang Allah ciptakan, mereka tidak memiliki kekhususan sama sekali dalam permasalahan rububiyyah dan uluhiyyah, sehingga tidak boleh dipalingkan kepada mereka sedikitpun dari ibadah, dan merekapun tidak memiliki manfaat ataupun mudharat terhadap diri sendiri, Allah berfirman tentang Nuh, bahwa dia berkata kepada kaumnya:

" ولا أقول لكم عندي خزائن الله ولا أعلم الغيب ولا أقول إني ملك "

"Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): "aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tidak mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan: "bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat", dan Allah memerintahkan kepada Muhammad –yang terakhir dari mereka- untuk berkata:

" لا أقول لكم عندي خزائن الله ولا أعلم الغيب ولا أقول لكم إني ملك "

"Katakanlah: "aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat", dan hendaklah mengatakan:

" لا أملك لنفسي نفعًا ولا ضرًا إلاّ ما شاء الله "

"Katakanlah: "aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah".

          Para Nabi adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan, mereka dipilih oleh Allah dan dimuliakan dengan risalah, dan tetap disifati sebagai hamba, agama mereka adalah Islam, dan Allah tidak akan menerima agama selainnya, Allah berfirman:

" إن الدين عند الله الإسلام "

"Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam", risalah-risalah mereka memiliki kesamaan pada prinsip/dasar, sedang syariat-syariatnya  bercabang-cabang, sebagaimana firman Allah:

" لكلّ جعلنا منكم شرعة ومنهاجًا "

"Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang", penutup seluruh syari'at ini adalah syari'at Muhammad, ia merupakan penghapus bagi seluruh syari'at yang telah lalu, dan bahwa risalahnya merupakan penutup bagi risalah-risalah yang lain, dan beliau adalah penutup para Rasul.

          Barang siapa yang beriman dengan seorang Nabi, maka dia berkewajiban untuk beriman dengan seluruhnya, dan barang siapa yang mendustai seorang Nabi, berarti dia telah mendustakan seluruhnya, karena seluruh Nabi dan Rasul mengajak untuk beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, Rasul-Nya dan hari akhir, dan juga karena agama mereka satu, sehingga siapa yang membedakan diantara mereka atau beriman dengan sebagian dan mengkufuri sebagian lainnya, maka dia telah kufur terhadap mereka seluruhnya, karena setiap dari mereka menyeru kepada iman terhadap seluruh Nabi dan Rasul. Allah berfirman:

" آمن الرسول بما أنزل إليه من ربه والمؤمنون كلّ آمن بالله وملائكته وكتبه ورسله لا نفرق بين أحد من رسله "

"Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhan-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya"

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir) (150) merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan".

Kelima: Iman kepada hari akhir: bahwa penghujung setiap makhluk dari dunia ini adalah kematian! Maka apa kelanjutan manusia setelah mati? Apakah tempat bagi pelaku kedzoliman yang telah selamat dari adzab dunia, apakah mereka akan selamat dari perbuatan dzolimnya? Serta orang-orang yang berbuat kebaikan, yang kehilangan bagian serta ganjaran atas kebaikannya ketika di dunia, apakah dia akan hilang ganjarannya?

          Sesungguhnya manusia saling beriringan menuju kematian, generasi demi generasi, sehingga tatkala Allah menghendaki untuk berakhirnya dunia ini, dan seluruh makhluk telah binasa secara nyata, Allah bangkitkan kembali seluruhnya pada suatu hari yang dipersaksikan, Allah kumpulkan yang dari terdahulu sampai yang terakhir, kemudian seluruh hamba akan dihisab menurut amalnya masing-masing, dari kebaikan dan kejelekan yang telah mereka perbuat ketika di dunia, sehingga kaum mukminin di arahkan ke surga dan orang-orang kafir digiring menuju neraka.

          Surga adalah: Kenikmatan yang Allah siapkan bagi wali-wali-Nya yang beriman, padanya terdapat berbagai macam kenikmatan yang tidak dapat dibayangkan sifatnya oleh siapapun, padanya terdapat seratus derajat (tingkatan), setiap tingkatan di isi oleh penghuni, sesuai dengan kadar keimanan dan ketaatannya kepada Allah, dan yang paling rendah tingkatannya akan diberikan kepadanya kenikmatan yang sama seperti sebuah kerajaan yang ada didunia dan dilipat gandakan sebanyak sepuluh kali lipat.

          Neraka: adalah adzab yang Allah siapkan bagi dia yang mengkufuri-Nya, padanya terdapat berbagai bentuk adzab yang menakutkan untuk disebut, dan jika seandainya Allah memberi idzin kematian untuk seseorang di akherat, niscaya seluruh penghuni neraka akan langsung meninggal hanya dengan melihat neraka saja.

          Allah telah mengetahui –dengan ilmu-Nya- atas apa yang akan dikatakan dan dikerjakan oleh setiap orang, dari kebaikan atau kejelekan, secara tersembunyi ataupun terang-terangan, kemudian diwakilkan bagi setiap orang dua malaikat, yang satu mencatat kebaikan dan yang lain mencatat kejelekan, tidak ada yang terlewat sedikitpun dari keduanya, Allah berfirman:

" ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد "

"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir", amalan-amalan ini akan dicatat pada sebuah kitab yang akan diberikan kepada setiap manusia pada hari kiamat, Allah berfirman:

" ووضع الكتاب فترى المجرمين مشفقين ممّا فيه ويقولون يا ويلتنا ما لهذا الكتاب لا يغادر صغيرة ولا كبيرة إلاّ أحصاها ووجدوا ما عملوا حاضرًا ولا يظلم ربّك أحدًا "

"Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhan-mu tidak menganiaya seorangpun", lalu dia baca kitabnya dengan tanpa mengingkari sedikitpun darinya, dan barang siapa yang mengingkari amal perbuatannya, maka Allah akan menjadikan pendengaran, penglihatan, kedua tangan, kedua kaki dan kulitnya  berbicara tentang seluruh apa yang telah diamalkannya, Allah berfirman:

"Dan mereka berkata kepada kulit mereka: "mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan" (21) kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan".

          Iman kepada hari akhir -yaitu hari kiamat dan hari kebangkitkan telah didisampaikan oleh seluruh Nabi dan Rasul, firman Allah:

" ومن آياته أنك ترى الأرض خاشعة فإذا أنزلنا عليها الماء اهتزت وربت إن الذي أحياها لمحيي الموتى إنه على كل شيء قدير "

"Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu", dan firman-Nya:

" أو لم يروا أن الله الذي خلق السموات والأرض ولم يعي بخلقهن بقادر على أن يحيي الموتى "

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati?", ini semua sesuai dengan hikmah Allah SWT, karena sesungguhnya Allah tidak menciptakan ciptaannya dengan sia-sia, dan tidak meninggalkan mereka dengan begitu saja, sebab orang yang paling lemah akalnya tidak mungkin akan mengamalkan suatu amalan –yang memiliki akibat- tanpa memiliki tujuan yang jelas, dan tanpa maksud darinya, maka bagaimana mungkin tidak tergambarkan yang seperti ini oleh manusia, kemudian dia akan mengira bahwa Rabb-nya telah menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia, dan akan meninggalkan mereka begitu saja, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan, firman-Nya:

" أفحسبتم أنما خلقناكم عبثا وأنكم إلينا لا ترجعون "

"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?", dan firman-Nya:

" وما خلقنا السماء والأرض وما بينهما باطلاً ذلك ظن الذين كفروا فويل للذين كفروا من النار "

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka".

          Semua orang yang berakal bersaksi atas keimanan mereka kepada hari akhir,  dan itulah yang menjadi tuntutan akal, dan yang diterima oleh fitrah yang lurus, karena apabila seorang manusia beriman dengan hari kiamat, maka dia akan menyadari kenapa manusia meninggalkan sesuatu atau mengerjakan sesuatu untuk mengharap apa yang ada di sisi Allah, kemudian diapun akan mendapati bahwa siapa yang berbuat dzolim terhadap orang lain, maka dia akan mengambil bagiannya, orang lain akan mengqishasnya pada hari kiamat, dan bahwa manusia pasti akan mendapatkan ganjarannya, apabila baik dengan kebaikan dan apabila jelek dengan keburukan, agar setiap jiwa diganjar sesuai dengan apa yang dia usahakan, sehingga terealisasilah keadilan Ilahi, firman Allah:

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (7) dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula".

          Tidak ada satu makhlukpun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat, hari ini tidak diketahui oleh Nabi yang diutus, tidak pula oleh malaikat yang didekatkan, akan tetapi ia khusus hanya ada pada Allah ilmunya, sebagaimana firman-Nya:

" يسألونك عن الساعة أيّان مرساها قل إنما علمها عند ربي لا يجلّيها لوقتها إلاّ هو "

"Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "bilakah terjadinya?" katakanlah: "sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhan-ku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia", dan firman-Nya:

" إن الله عنده علم الساعة "

"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat".

             Keenam: Iman dengan qadha dan qadar:

 yaitu dengan beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, Dia mengetahui segala keadaan hamba dan amalan, ajal serta rizki mereka, Allah berfirman:

" إن الله بكلّ شيء عليم "

"Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu", juga firman-Nya:

" وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا هو ويعلم ما في البر والبحر وما تسقط من ورقة إلاّ يعلمها ولا حبة في ظلمات الأرض ولا رطب ولا يابس إلا في كتاب مبين "

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)", dan semua itu tertulis dalam kitab di sisi-Nya, Allah berfirman:

" و كل شيء أحصيناه في إمام مبين "

"Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)"

" ألم تعلم أن الله يعلم ما في السماء والأرض إن ذلك في كتاب إن ذلك على الله يسير "

"Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah", apabila Allah menghendaki sesuatu, maka Dia akan berkata: jadilah!, maka jadilah ia, sebagaimana firman-Nya:

" إنما أمره إذا أراد شيئا أن يقول له كن فيكون "

"Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia". Sebagaimana Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, Dia-pun Maha Pencipta atas segala sesuatu, firman-Nya:

" إنا كلّ شيء خلقناه بقدر "

"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran" dan firman-Nya:

" الله خالق كلّ شيء "

"Allah menciptakan segala sesuatu", Dia ciptakan hamba agar mereka menta'ati-Nya, menjelaskan kepada mereka cara mentaatinya dan memerintahkan mereka agar mentaati dengannya, melarang mereka dari perbuatan maksiat dan menjelaskannya, Dia jadikan pada mereka kemampuan dan kehendak yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya, sehingga mereka mendapatkan ganjaran, dan barang siapa yang terjerumus kedalam maksiat, maka dia berhak untuk mendapat azab.

 Apabila manusia telah beriman kepada qadha dan qadar, maka akan terwujud baginya beberapa hal berikut ini:

1        Ia akan bergantung kepada Allah ketika melaksanakan berbagai sebab(usaha atau upaya dalam meraih sesuatu), karena dia mengetahui bahwa sebab dan akibat (hasil), seluruhnya berada dibawah kehendak dan kekuasaan Allah.

2        Rileksnya jiwa dan tenanganya hati, karena ketika dia mengetahui bahwa itu terjadi dengan kehendak dan kekuasaan Allah, dan bahwa apa yang dibenci dan telah ditetapkan pasti terjadi, maka akan tenanglah jiwanya dan ridha akan takdir Allah. Tidak ada seorangpun yang lebih baik hidupnya dan lebih rileks jiwanya serta lebih kuat tumakninahnya (ketenanganya) dari orang yang beriman dengan takdir.

3        Tersingkirnya rasa bangga diri ketika mendapatkan apa yang diinginkan, karena ia bisa meraih yang demikian itu merupakan suatu nikmat dari Allah melalui sebab-sebab kebaikan dan kemenangan yang telah Dia tentukan, sehingga dia bersyukur kepada Allah atas semua itu.

4        Tersingkirnya rasa gundah dan gulana ketika kehilangan apa yang dia inginkan ataupun ketika mendapat apa yang dia benci, karena semua itu terjadi dengan kehendak Allah yang tidak dapat ditolak perintah-Nya, dan tidak ada yang dapat menghukumi atas putusan-Nya, ia pasti akan terjadi, sehingga dia bisa bersabar dan mengharap ganjaran dari Allah, firman-Nya:

     "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (22) (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri".

5        Tawakkal yang sempurna terhadap Allah Ta'ala, karena seorang muslim mengetahui bahwasanya di tangan-Nyalah –satu-satunya- seluruh manfaat dan mudharat, sehingga dia tidak akan merasa takut kepada kekuatan seorang yang kuat, dan tidak pula berpura-pura mengerjakan suatu amal kebaikan karena merasa takut kepada seseorang, bersabda Nabi kepada ibnu Abbas :

" واعلم أن الأمة لو اجتمعوا على أن ينفعوك لم ينفعوك إلاّ بشيء قد كتبه الله لك, ولو اجتمعوا على أن يضروك لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك "

"Ketahuilah, kalau seandainya seluruh umat berkumpul untuk menyalurkan suatu manfaat kepadamu niscaya mereka tidak akan dapat menyalurkannya kepadamu, kecuali pada apa-apa yang telah Allah takdirkan untukmu, dan kalau seandainya mereka berkumpul untuk mendatangkan suatu kemudharatan terhadapmu, niscaya hal tersebut tidak akan menimpamu, kecuali jika ia telah ditakdirkan akan menimpamu".

* * * * * *

 Urutan Ketiga Al-Ihsan, dan ia hanya satu rukun, yaitu:

          Anda beribadah kepada Allah seolah-olah Anda melihat-Nya, dan jika Anda  tidak mampu melihat-Nya maka yakinilah bahwa Dia melihat Anda. Sehingga umat manusia dapat beribadah kepada Allah dengan sifat yang seperti ini, yaitu dengan menghadirkan kedekatan-Nya, dan bahwa Dia berada di hadapannya, karena yang demikian dapat mendatangkan rasa tunduk, takut, ngeri dan rasa hormat, juga ia mewajibankan adanya nasehat dalam pelaksanaan ibadah, serta bersungguh-sungguh dalam memperindah dan menyempurnakannya.

Apabila seorang hamba bermuroqobah(merasakan adanya pengawasan) terhadap Rabb-nya dalam pelaksanaan ibadah, dan merasakan akan kedekatan-Nya sehingga merasa seolah-olah dia melihat-Nya, dan apabila hal tersebut terasa berat baginya, maka hendaklah dia menggunakan pertolongan untuk merealisasikannya dengan mengimani bahwa Allah melihatnya dan mengetahui apa yang dirahasiakan dan yang ditampakkannya, yang tersembunyi dan yang terlihat, serta tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sedikitpun dari seluruh perkara.

          Seorang hamba yang telah mencapai kedudukan ini niscaya akan beribadah kepada Allah dengan ikhlas, tidak berpaling kepada siapapun selain-Nya, tidak menunggu pujian orang lain, dan tidak pula takut dari celaan mereka, karena telah cukup baginya keridhoan Rabb-nya serta pujian Penciptanya.

          Dia adalah seorang yang sama disisinya antara apa yang dia tampakkan dan dia sembunyikan, dia adalah seorang yang beribadah kepada Rabb-nya dalam keadaan sendiri ataupun dihadapan orang lain, memiliki keyakinan –keyakinan yang sesungguhnya- bahwa Allah mengetahui apa yang dia fikirkan dalam hatinya dan apa yang dibisikkan oleh sanubarinya, keimanan menguasai hatinya, dan dia selalu merasa berada dalam pengawasan Rabb-nya, sehingga berserah dirilah anggota tubuhnya terhadap Sang Pengatur, tidak mengerjakan suatu amalan kecuali apa yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, dan berserah diri seluruhnya kepada Rabb-nya.

          Karena hatinya bergantung kepada Allah, maka dia tidak meminta pertolongan kepada makhluk, sebab merasa cukup dari apa yang didapatnya dari Allah. Dia tidak mengeluh kepada orang lain, karena dia telah menyerahkan seluruh keperluannya kepada Allah dan cukuplah Dia sebagai penolong. Dia tidak merasa ngeri dari suatu tempat dan tidak takut dari siapapun, karena dia mengetahui bahwa Allah bersamanya dalam setiap keadaan, cukuplah Dia sebaik-baiknya penolong, dia tidak meninggalkan suatu perintah yang Allah perintahkan dan tidak pula terjerumus kedalam maksiat-Nya, karena dia merasa malu dari Allah, dan takut jika Dia kehilangan dirinya saat dating perintah-Nya atau Allah mendapatinya berada pada sesuatu yang dilarang-Nya, dia tidak akan melanggar batasan atau berbuat zolim terhadap suatu makhluk ataupun juga mengambil hak orang lain, karena dia mengetahui bahwa Allah memperhatikannya dan bahwasanya Dia akan menghisab sesuai dengan apa yang dikerjakannya.

          Dia tidak akan membuat kerusakan di muka bumi, karena dia mengetahui bahwa  kebaikan-kebaikan yang ada padanya adalah milik Allah yang Dia siapkan untuk seluruh makhluk, sehingga dia akan mengambil sesuai dengan apa yang dibutuhkannya, dan bersyukur kepada Rabb yang telah memudahkan itu baginya.

*  *  *  *  *

          Sesungguhnya apa yang telah saya sebutkan kepada Anda, dan saya tampilkan dihadapan Anda dalam buku kecil ini tidak lain adalah perkara-perkara penting, dan rukun-rukun yang agung dari Islam. Rukun-rukun ini adalah sesuatu yang apabila seorang hamba beriman dengannya dan mengamalkannya, niscaya dia akan menjadi seorang muslim, karena sesungguhnya Islam –sebagaimana yang telah saya sebutkan untuk anda- adalah agama dan dunia, ibadah dan manhaj kehidupan, sesungguhnya ia adalah peraturan Ilahi yang sempurna dan menyeluruh, syari'atnya mencakup seluruh  yang diperlukan oleh pribadi ataupun umat dengan kadar yang sama dalam seluruh dimensi kehidupan kehidupan, baik keyakinan(agama), politik, ekonomi, kemasyarakatan maupun keamanan.. padanya manusia akan mendapatkan kaidah-kaidah, landasan-landasan dan hukum-hukum yang mengatur segala keadaan, baik damai maupun perang, dalam segala hak dan kewajiban, juga menjaga kehormatan manusia, burung, binatang serta keadaan disekitarnya, menerangkan tentang hak-hak manusia, kehidupan, kematian, kebangkitan setelah mati. Dan padanya akan didapat –pula- pedoman yang paling tepat bagi tata cara pergaulan manusia dengan mereka yang berada di sekitarnya, seperti firman Allah SWT:

"Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia."

Serta dalam firman-Nya:

"Dan memaafkan (kesalahan) orang."

Lalu firman-Nya:

" ولا يجرمنّكم شنآن قوم على ألاّ تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى "

"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa".

          Sangat baik bagi kita, setelah menampilkan urutan-urutan agama ini, beserta rukun-rukun dari setiap urutannya, untuk menyebutkan gambaran ringan tentang kebaikan-kebaikannya.

* * * * * *

 Di antara keistimewaan-keistimewaan Islam*

          Pena tidak akan mampu untuk menyebut seluruh keistimewaan dan kebaikan Islam, dan kata-kata juga tak akan berdaya untuk dapat menyebutkan seluruh keutamaan agama ini, tidak lain karena agama ini adalah agama Allah Ta'ala, sebagaimana pandangan tidak kuasa melihat Allah, dan ilmu manusiapun tidak dapat menguasainya, begitu pula dengan syari'at Allah tidak bisa disifati keseluruhanya dengan pena. Telah berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah: "Apabila anda memperhatikan hikmah yang terpancar pada agama yang lurus dan millah yang hanifiyyah ini, serta syari'at Muhammadiyyah yang tidak dapat diungkapkan akan kesempurnaannya, tidak dapat disifati keindahannya, dan akal orang-orang pintar –walaupun mereka dikumpulkan dan dan disatukan pada orang yang paling sempurna dari mereka- tidak mampu mengusulkan sesuatu yang melebihinya, dan cukuplah dengan akal sempurna untuk mengetahui keindahannya, dan bersaksi akan keutamaannya, bahwasanya seluruh alam ini tidak akan mendapatkan syari'at yang lebih lengkap, lebih mulia dan lebih agung darinya.. kalau seandainya tidak datang rasul dengan membawa penerang untuknya, niscaya ia sudah cukup sebagai penerang dan tanda serta saksi bahwa ia datang dari sisi Allah, seluruhnya bersaksi akan kesempurnaan ilmu, kesempurnaan hikmah, luasnya rahmat, kabaikan dan ihsan, menguasai pengetahuan akan yang ghaib dan terlihat, juga pengetahuan akan segala permulaan dan segala akibat, dan bahwasanya ia adalah termasuk kenikmatan Allah terbesar yang Dia anugrahkan kepada hamba-hamba-Nya, sehingga tidak ada kenikmatan yang dianugrahkan kepadanya melebihi kemuliannya dengan ditunjuki kepada Islam, menjadikannya sebagai pemeluk, dan termasuk orang yang ridho terhadapnya, oleh karena itu Dia memberi karunia kepada hamba-Nya dengan memberinya hidayah, Allah berfirman:

" لقد منّ الله على المؤمنين إذ بعث فيهم رسولاً من أنفسهم يتلو عليهم آياته ويزكّيهم ويعلّمهم الكتاب والحكمة وإن كانوا من قبل لفي ضلال مبين "

"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata", dan Allah berfirman dengan memberi tahu kepada hamba-hamba-Nya dan mengingatkannya akan keagungan nikmat-Nya kepada mereka, agar mereka bersyukur kepada-Nya karena telah dijadikan termasuk dari pemeluknya: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu".

Di antara syukur kita kepada Allah SWT dengan agama ini, kita akan menyebutkan sedikit dari kebaikan-kebaikannya:

1        Bahwasanya ia adalah agama Allah:

Bahwa ia adalah agama yang diridhai oleh Allah, rasul-Nya diutus untuk membawanya dan diidzinkan kepada makhluk-Nya untuk beribadah kepada Allah melaluinya, sebagaimana tidak sama antara pencipta(Allah) dan yang diciptakan(makhluk), maka tidak sama pula antara agama-Nya –yaitu Islam- dengan hukum-hukum serta agama-agama para makhluknya,uh dan sebagaimana Allah mensifati diri-Nya dengan kesempurnaan yang mutlak, maka demikian pula dengan agama-Nya yang memiliki kesempurnaan mutlak dalam menunaikan syari'at yang sesuai dengan kehidupan dan tempat kembalinya manusia, juga mencakup hak-hak pencipta serta kewajiban-kewajiban hamba terhadap-Nya, serta hak sebagian dari mereka terhadap sebagian lainnya, dan kewajiban sebagian mereka terhadap sebagian lainnya.

2        Menyeluruh:

Di antara apa yang paling menonjol dari agama ini bahwa ia paling mencakup atas segala sesuatu. Allah SWT berfirman:

" ما فرطنا في الكتاب من شيء "

"Tidaklah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitab", agama ini mencakup segala sesuatu yang berhubungan dengan sang pencipta, mulai dari nama-nama dan sifat-sifat Allah hingga hak-hak-Nya, juga seluruh yang berhubungan dengan makhluk dari syari'at, tugas, akhlak dan pergaulan. Agama ini mencakup pula kabar-kabar tentang mereka yang terdahulu dan yang akan datang, para malaikat, para nabi, dan para rasul, iapun bercerita tentang langit, bumi, angkasa luar, bintang, lautan, tumbuhan dan alam. Disebutkan pula sebab adanya makhluk, tujuan serta akhir darinya, disebutkan surga dan tempat kembali kaum mukminin serta neraka dan tempat berakhirnya orang-orang kafir.

3        Bahwa ia sebagai penghubung antara pencipta dengan makhluk:

Setiap agama dan kepercayaan yang batil hanya menghubungkan antara manusia dengan manusia sejenisnya, yang mana setiap dari mereka memungkinkan untuk mati, lemah dan sakit, bahkan mungkin juga akan dihubungkan dengan manusia yang telah mati sejak ratusan tahun lalu dan telah menjadi tulang serta tanah.. sedang agama ini yaitu Islam memiliki keistimewaan bahwa ia dapat menghubungkan manusia dengan penciptanya secara langsung, tanpa adanya pendeta dan tidak pula orang suci, serta tidak pula rahasia suci, akan tetapi ia hanyalah hubungan langsung antara Pencipta dengan makhluk-Nya, hubungan yang mengikat akal dengan Rabb-nya sehingga ia menjadi bercahaya, mendapat petunjuk, meningkat, meninggi dan menginginkan kesempurnaan, iapun menjadi lebih tinggi dari orang-orang rendahan dan bawahan, karena setiap hati yang tidak dihubungkan dengan Rabb-nya, maka ia akan menjadi lebih sesat dari binatang ternak.

Ia adalah hubungan antara Pencipta dengan makhluk-Nya, yang darinya bisa diketahui keinginan Allah, sehingga seseorang dapat menyembah-Nya dengan pengetahuan yang jelas, juga mengenal sisi-sisi yang dapat mendatangkan ridha-Nya lalu ia berusaha mendapatkanya, dan sisi-sisi yang dapat mengundang murka-Nya maka ia menjauhinya.

Ia adalah hubungan antara Pencipta yang Agung dengan makhluk yang lemah lagi fakir, sehingga ia dapat meminta dari-Nya bantuan, pertolongan dan petunjuk, juga meminta perlindungan kepada-Nya dari tipu daya para penipu dan godaan setan.

4        Memperhatikan maslahat dunia dan akherat:

Syari'at Islam dibangun atas dasar memperhatikan maslahat-maslahat dunia, akherat dan penyempurnaan akhlak mulia.

Adapun keterangan akan maslahat akherat, telah diterangkan bentuk-bentuknya oleh syari'at ini, tidak ada yang terlalaikan darinya sedikitpun, bahkan ia ditafsirkan dan dijelaskan oleh syariat agar tidak ada yang tidak mengetahuinya, sehingga seseorang dijanjikan dengan kenikmatannya dan diancaman dengan azabnya.

Adapun keterangan tentang maslahat dunia: Allah telah mensyari'atkan pada agama ini apa yang dapat digunakan oleh manusia untuk menjaga agama, jiwa, harta, keturunan, kehormatan dan akalnya.

Adapun keterangan akhlak mulia: Syariat telah memerintahkanya secara zohir dan batin, dan melarang dari keburukan dan kerendahan akhlak, diantara akhlak yang tampak adalah kebersihan, kesucian dan membersihkan dari kotoran serta najis, iapun menganjurkan kepada kebersihan dan kebaikan penampilan, mengharamkan kejelekan-kejelekan seperti: zina, minuman keras, memakan bangkai, darah dan daging babi, serta memerintahkan untuk memakan yang baik-baik dan melarang dari perbuatan berlebih-lebihan dan tabzir.

Adapun kebersihan batiniyah: Kembali kepada berlepasnya diri dari akhlak tercela dan menghiasi diri dengan perkara yang terpuji darinya. Akhlak-akhlak yang tercela seperti dusta, perbuatan jahat, marah, dengki, kikir, menghinakan diri, mencintai kedudukan, mencintai dunia, sombong, takabur dan riya. Diantara akhlak-akhlak terpuji adalah: berperilaku baik, menjadi teman yang baik dengan sesama makhluk, berbuat baik terhadap mereka, berlaku adil, rendah diri, jujur, dermawan, mengasihi, bertawakal kepada Allah, ikhlas, takut kepada Allah, sabar dan bersyukur.

5        Mudah:

Ia adalah salah satu sifat yang membedakan agama ini; pada setiap syi'ar dari syi'ar-syi'arnya terdapat kemudahan, seluruh ibadahnya mudah, Allah berfirman:

" وما جعل عليكم في الدين من حرج "

"Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan", yang pertama dari kemudahan ini: Bahwa barang siapa yang ingin memeluk agama ini tidak memerlukan perantara manusia, atau dengan pengakuan atas apa yang telah lalu, bahkan yang harus dia lakukan adalah bersuci dan membersihkan diri, lalu mengucapkan dua kalimat syahadat, dengan meyakini akan kandungan makna dari keduanya serta mengamalkan sesuai dengan kandungannya.

     Kemudian setiap ibadah akan dimasuki oleh kemudahan dan keringanan apabila seseorang sedang dalam bepergian atau sakit, namun akan tetap dicatat baginya amalan yang sama seperti apa yang dikerjakan ketika sedang sehat dan sedang tidak bepergian. Bahkan bahwa kehidupan seorang muslim menjadi mudah dan tenang, berbeda dengan kehidupan orang-orang kafir yang sempit dan sulit. Begitupula dengan kematian seorang muslim yang mudah, yaitu dengan keluarnya ruh darinya sebagaimana keluarnya tetesan dari sebuah bejana, Allah berfirman:

" الذين تتوفّاهم الملائكة طيبين يقولون سلام عليكم ادخلوا الجنة بما كنتم تعملون "

"(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". Adapun orang kafir, maka  malaikat yang keras lagi kasar akan hadir saat kematianya, mereka akan memukulinya dengan pecut, Allah berfirman:

" ولو ترى إذ الظالمون في غمرات الموت والملائكة باسطوا أيديهم أخرجوا أنفسكم اليوم تجزون عذاب الهون بما كنتم تقولون على الله غير الحق وكنتم عن آياته تستكبرون "

"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya", dan firman-Nya

" ولو ترى إذ يتوفى الذين كفروا الملائكة يضربون وجوههم وأدبارهم وذوقوا عذاب الحريق "

"Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar" (tentulah kamu akan merasa ngeri)".

6        Adil:

Bahwasanya yang menetapkan syari'at Islam adalah Allah satu-satunya, Dialah pencipta seluruh makhluk, baik itu yang putih, hitam, laki-laki dan wanita, mereka seluruhnya dihadapan hukum, keadilan serta rahmat-Nya sama. Dia telah mensyari'atkan bagi tiap laki-laki dan wanita apa yang pantas untuknya, sehingga merupakan suatu yang mustahil memudahkan syari'at bagi laki-laki dan mempersulit wanita, atau wanita dimuliakan dan laki-laki dizolimi, atau mengkhususkan bagi yang berkulit putih beberapa kekhususan yang orang berkulit hitam dilarang darinya, seluruhnya dihadapan syari'at Allah adalah sama, tidak ada perbedaan diantara mereka kecuali dengan ketakwaan.

7        Amar ma'ruf nahi munkar:

Syari'at ini memiliki satu keistimewaan dan karakter yang mulia, ia adalah: amar ma'ruf nahi munkar (memerintah kepada yang baik dan mencegah dari kemunkaran). Diwajibkan atas setiap muslim dan muslimah, telah baligh, berakal dan memiliki kemampuan untuk memerintah dan melarang sesuai dengan kemampuannya, menurut urutan yang ada dalam perintah dan larangan, yaitu memerintah atau melarang dengan menggunakan tangannya, apabila tidak mampu maka menggunakan lisannya, dan jika tidak mampu pula maka menggunakan hatinya. Dengan ini seluruh umat akan menjadi pengawas bagi yang lain, setiap orang berkewajiban untuk beramar ma'ruf nahi munkar kepada dia yang lalai dalam melaksanakan kebaikan atau dia yang terjerumus dalam kemungkaran, baik dia itu seorang hakim atau yang tertindak, sesuai dengan kemampuannya dan menurut kaidah-kaidah syari'at yang mengaturnya.

Perkara ini –sebagaimana yang anda saksikan- merupakan suatu kewajiban bagi setiap orang sesuai dengan kemampuannya, pada saat yang sama system perpolitikan Dewasa ini merasa bangga telah memberi kebebasan kepada partai-partai oposisi  untuk mengawasi jalanya pemerintahan dan pelaksanaan aparatur pemerintahan.

Inilah sebagian dari kelebihan-kelebihan islam, dan jika anda ingin lebih detail niscaya akan memerlukan waktu untuk membahas setiap syi'ar, setiap kewajiban, setiap perintah, setiap larangan guna menjelaskan hikmah yang ada padanya, syari'at yang teratur, kebaikan yang agung dan kesempurnaan yang terputus pandangannya, dan barang siapa yang mengamati syari'at-syari'at agama ini niscaya dia akan tahu –dengan seyakinnya- kalau ia berasal dari sisi Allah, dan bahwasanya ia merupakan suatu kebenaran yang tidak ada keraguan padanya, serta petunjuk yang tidak ada kesesatan padanya.

Apabila anda ingin kembali kepada Allah, mengikuti syari'at-Nya dan mengikuti petunjuk nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya, maka sesungguhnya pintu taubat terbuka, dan Rabb anda Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Dia mengajak untuk memberi ampunan kepada anda.

* * * * * *

 Taubat

          Bersabda Rasullullah SAW:

" كلّ ابن آدم خطاء , وخير الخطائين التوابون "

"Setiap anak cucu Adam memiliki kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah dia yang meminta ampunan".

Manusia berjiwa lemah dan lemah pada kemauan serta keinginannya, dia tidak dapat menanggung akibat dari dosa dan kesalahannya, sehingga Allah beri keringanan kepada umat manusia sebagai rahmat baginya, lalu disyari'atkan taubat baginya, sedangkan hakekat taubat adalah: Meninggalkan dosa karena kejelekannya –takut kepada Allah dan mengharap apa yang Dia siapkan untuk hamba-hamba-Nya-, dan menyesal atas apa yang dia lakukan, berniat untuk meninggalkan agar tidak kembali lagi padanya, serta memanfaatkan umur yang masih tersisa dengan mengerjakan amal shaleh, ia sebagaimana yang anda perhatikan merupakan amalan hati yang terjadi antara seorang hamba dengan Rabb-nya, tidak ada kelelahan dan tidak ada kecapaian padanya, tidak pula terbebani oleh amal yang berat, akan tetapi hanyalah amalan hati, berlepas diri dari dosa, dan tidak akan kembali kepadanya. Dan di dalam menahan diri dari dosa serta menjauhinya terdapat kelezatan dan rasa lega.  

Sehingga tidak dibutuhkan bagi anda untuk bertaubat melalui tangan seseorang yang akan membongkar aib anda, mengetahui rahasia anda dan memanfaatkan kelemahan anda, akan tetapi ia hanyalah munajat antara anda dengan Rabb anda, dengan cara meminta ampunan dari-Nya, meminta hidayah atau petunjuk kepada-Nya, maka Dia akan menerima ampunan kepada anda.

          Dalam Islam tidak terdapat dosa yang diwariskan, tidak juga ada seseorang yang ditunggu untuk menyelesaikan masalah, bahkan sebagaimana yang didapat oleh seorang Yahudi an-namsawi yang mendapat hidayah, Muhammad Asad, dia berkata: "saya tidak bisa mendapati dalam bagian manapun dari Al-Qur'an dan apapun yang menyebutkan tentang kebutuhan terhadap "seorang penyelesai masalah(penghapus dosa)", Dalam Islam tidak dikenal adanya dosa warisan yang dapat menghalangi seseorang dari masa depanya, itu karena "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya", dan tidak pula dituntut dari setiap orang untuk mempersembahkan korban ataupun membunuh dirinya dengan agar dibukakan baginya pintu taubat dan berlepas diri dari kesalahan", akan tetapi sebagaimana firman Allah: "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain".

Taubat memiliki pengaruh dan hasil yang sangat besar, diantaranya:

1        Seorang hamba dapat mengetahui luasnya kelembutan Allah SWT serta kebaikanya-Nya dalam menutupi aib hambahnya, dan bahwasanya kalau Dia berkehendak niscaya akan dipercepat azab bagi pelaku dosa dan niscaya Dia akan membongkar aibnya dihadapan seluruh manusia, sehingga dia tidak akan tentram hidup ditengah-tengah mereka, akan tetapi Dia muliakan dengan menutupinya, menghalanginya dengan kelembutan-Nya, mengakhirkannya dengan kehendak dan kekuatan-Nya serta memberinya rizki dan penghasilan.

2        Agar dia mengerti akan hakekat jiwanya, bahwasanya ia adalah jiwa yang senantiasa mengajak kepada kejelekan, dan bahwasanya kesalahan, dosa dan kelalaian yang bersumber darinya adalah dalil akan lemahnya jiwa dan lemahnya dia terhadap kesabaran dari syahwat yang diharamkan, dan bahwasanya ia tidak akan merasa tidak membutuhkan Allah –sekejapun- agar mensucikan dan memberinya petunjuk.

3        Allah SWT mensyari'atkan taubat agar dengannya bisa di dapat penyebab terbesar kebahagiaan bagi seorang hamba, yaitu dengan kembali kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya, sebagaimana ia dapat meraih dengannya berbagai macam do'a, merendah diri, menunjukkan akan keperluan dan kebutuhan, kecintaan, takut dan pengharapan, sehingga dapat mendekatkan diri kepada penciptanya dengan pendekatan khusus yang tidak mungkin didapat tanpa taubat dan kembali kepada Allah.

4        Agar Allah SWT mengampuni apa yang telah lalu dari dosa-dosanya. Allah SWT berfirman:

" قل للذين كفروا إن ينتهوا يغفر لهم ما قد سلف "

"Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu".

5        Bahwa kejelekan-kejelekan manusia akan diganti dengan kebaikan-kebaikan. Allah SWT berfirman:

" إلا من تاب وآمن وعمل عملاً صالحًا فأولئك يبدل الله سيئاتهم حسنات وكان الله غفورًا رحيمًا "

"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

6        Umat manusia akan menyikapi kesalahan saudara sesamanya terhadapnya sama dengan sikap yang ia harapkan dari Allah dalam menyikapi kesalahan dan dosanya terhadap-Nya, dan sesungguhnya balasan itu setimpal dengan amal perbuatan. Jika manusia bermuamalah dengan muamalah yang baik ini, maka diapun berhak untuk mendapatkan yang serupa dari Allah, Dia akan membalas dosa dan kesalahanya dengan kebaikan-Nya sebagaimana ia membalas kesalahan saudaranya.

7        Seseorang akan menyadari jika dirinya memiliki banyak kesalahan dan aib, sehingga hal tersebut mengharuskanya untuk menahan diri dari mengungkap aib orang lain, dan sibuk memperbaiki dirinya tidak sibuk memikirkan aib orang lain.

Saya tutup alinea ini dengan berita tentang seorang pria yang datang kepada Nabi  lalu berkata: "Ya Rasulullah saya tidak meninggalkan suatu keinginanpun untuk berbuat maksiat kecuali aku pasti melaksanakannya. Nabi SAW menjawab: "Bukankah Anda telah bersaksi bahwasanya tidak ada ilah selain Allah, dan bahwasanya Muhammad itu utusan Allah?" (tiga kali). Dia menjawab: benar. Nabi bersabda: "Sesungguhnya itu akan mencukupi itu" dalam riwayat lain: "Sesungguhnya ini akan datang menutupi ini seluruhnya".

Dalam satu riwayat bahwa ia mendatangi Rasulullah lalu berkata: bagaimana pendapat Anda tentang seseorang yang melakukan dosa seluruhnya namun tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, pada kesempatan itu dia tidak meninggalkan satu keinginanpun untuk berbuat maksiat kecuali dia pasti melaksanakanya, apakah untuk semua itu ada taubat? rasul menjawab: "Apakah anda telah memeluk Islam?" dia menjawab: adapun aku telah bersaksi bahwasanya tidak ada ilah selain Allah yang Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya engkau adalah utusan Allah. Menjawab Rasul: ya! Kerjakanlah kebaikan, dan tinggalkannya kejelekan, maka Allah akan menjadikan seluruhnya kebaikan untukmu" dia berkata: juga pengkhiatan dan kejahatanku? Beliau menjawab: "benar", dia berkata: Allahu Akbar. Dia terus mengulang-ulangi takbir sambil berpaling.

     Ketahuilah bahwa Islam menghapus dosa yang sebelumnya, dan taubat yang benar menghapus kesalahan yang sebelumnya, sebagaimana hal tersebut telah ditetapkan dalam Hadits dari Nabi.

* * * * * *

 Akibat bagi Orang yang Tidak berpegang dengan Islam

          Sebagaimana yang telah dijelaskan kepada anda dalam buku ini, bahwa Islam adalah agama Allah, ia adalah agama yang hak, ia agama yang dibawa oleh seluruh Nabi dan Rasul, dan Allah telah menyiapkan ganjaran yang besar di dunia dan akherat bagi dia yang beriman dengannya, serta megancam dengan azab yang sangat pedih terhadap dia yang mengkufurinya.

          Dan dikarenakan Allah adalah Pencipta, Maha Raja yang mengatur seluruh alam ini, dan anda wahai manusia adalah merupakan salah satu ciptaan-Nya, Dia telah menciptakanmu, menundukkan seluruh apa yang ada di alam ini untukmu, mensyari'atkan bagimu syari'at-Nya dan memerintahkanmu untuk mengikuti-Nya, maka apabila kamu beriman dan menta'ati apa yang diperintahkan-Nya, serta berhenti dari apa yang dilarang-Nya, niscaya kamu akan mendapatkan kenikmatan abadi yang telah Allah janjikan untukmu di akherat, dan kamupun akan berbahagia di dunia dengan berbagai kenikmatan yang Dia anugerahkan, dan kamu akan mirip dengan makhluk yang paling sempurna akalnya dan paling suci jiwanya, mereka adalah para Nabi, Rasul, orang-orang shaleh serta para malaikat.

          Sedangkan jika anda kufur dan bermaksiat terhadap Rabb-mu, maka akan merugi dunia dan akheratmu, dan kamu akan mendapat murka serta azab-Nya di dunia dan akherat, anda akan mirip dengan makhluk terburuk, paling rendah akalnya dan paling kotor jiwanya yaitu para setan, orang-orang yang berbuat kedzoliman, para perusak dan para pembangkang. Inilah penjelasan ringkas.

Saya akan menjelaskan sedikit dari akibat kekafiran dengan gamblang, diantaranya:

1        Ketakutan dan tidak merasa aman:

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan mengikuti Rasul-Nya akan medapatkan keamanan yang sempurna dalam kehidupan dunia dan akheratnya, sebagaimana firman-Nya:

        " الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون "

          "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk", Allah adalah Dia yang memberikan keamanan dan anugerah, Dia adalah pemilik seluruh apa yang ada di alam semesta, sehingga apabila Dia mencintai seorang hamba karena keimanannya, maka Dia akan memberikan kepadanya keamanan, ketenangan serta tuma'ninah, dan apabila seseorang mengkufuri-Nya, maka akan diangkat darinya ketenangan dan rasa aman, sehingga anda tidak melihatnya kecuali dalam keadaan takut akan tempat kembalinya di akherat, dan selalu khawatir terhadap dirinya dari tertimpa kerugian dan penyakit, juga merasa takut akan masa depannya di dunia, oleh karena itu didirikanlah asuransi jiwa dan harta benda, karena tidak adaannya keamanan dan tidak adaannya tawakkal kepada Allah.

2        Penghidupan yang sempit:

Allah telah menciptakan manusia, menundukkan untuknya apa yang ada di alam semesta, serta membagi jatah  rizki dan umur bagi setiap makhluq hidup, sehingga anda melihat burung akan pergi dari sarangnya untuk mendapatkan rizki dan mengambilnya, ia berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain dan bersenandung dengan suara yang sangat indah. Dan manusia adalah salah satu makhluk dari makhluk-makhluk yang telah dibagikan untuknya rizki serta ajalnya, maka apabila dia beriman kepada Allah dan beristiqomah terhadap syari'at-Nya niscaya Dia akan menganugerahinya kebahagiaan serta ketetapan, dan dimudahkan baginya segala urusannya, walaupun dalam hidupnya ia hanya memiliki mata pencaharian yang rendah.

Sedangkan jika dia kufur terhadap Rabb-nya dan berlaku sombong dengan enggan untuk beribadah kepada-Nya, maka Dia akan menjadikan hidupnya  sempit, dikumpulkan padanya ketakutan dan kegundahan, walaupun dia memiliki seluruh fasilitas ketenangan dan berbagai macam sarananya.

Bukankah anda telah menyaksikan banyaknya orang yang melakukan bunuh diri di Negara-negara yang telah disediakan bagi warganya seluruh sarana kesenangan? Bukankah anda telah menyaksikan adanya keberlebih-lebihan dalam  perabotan rumah dan berbagai macam perjalanan demi untuk menyenangkan kehidupannya? Sesungguhnya yang mendorong untuk melakukan suatu yang terlalu berlebih-lebihan dalam hal tersebut adalah kosongnya hati dari keimanan dan perasaan sempit lagi sesak, serta usaha untuk menghilangkan kesesakan ini dengan berbagai sarana yang selalu dirubah dan diperbaharui, Maha Benar Allah dengan firman-Nya:

" ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكًا ونحشره يوم القيامة أعمى "

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

3        Ia akan hidup dalam keadaan dipenuhi oleh pertentangan antara dirinya dengan jiwanya serta dengan alam sekitarnya:

Karena dirinya memiliki fitrah kepada tauhid, Allah berfirman:

" فطرت الله التي فطر الناس عليها "

"(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu", tubuhnya berserah diri terhadap penciptanya, berjalan menurut peraturan-Nya, namun orang kafir akan menolak kecuali dengan cara menentang fitrahnya, dan hidup dalam perkara-perkara yang dapat dipilihnya dengan cara melakukan penentangan terhadap Rabb-nya, walaupun tubuhnya berserah diri, namun pilihannya melakukan apa yang bertentangan.

Dia berada dalam pertentangan dengan alam yang ada disekitarnya, karena seluruh alam mulai dari orbit terbesarnya sampai dengan yang terkecil dari serangganya berjalan sesuai dengan takdir yang telah disyari'atkan oleh Rabb-nya, Allah berfirman:

" ثم استوى إلى السماء وهي دخان فقال له وللأرض ائتيا طوعًا أو كرهًا قالتا أتينا طائعين "

"Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati", bahkan alam ini menyukai manusia yang sejalan dengannya dalam berserah diri kepada Allah dan membenci manusia yang menyelisihi-Nya. Adapun orang kafir maka ia adalah manusia durhaka di alam, karena telah menempatkan dirinya sebagai dia penentang terhadap Rabb-nya dan melawan-Nya, oleh karena itu berhak bagi langit, bumi dan seluruh makhluk untuk membencinya dan membenci kekufurannya serta pembangkangannya, Allah berfirman:

" وقالوا اتخذ الرحمن ولدًا  . لقد جئتم شيئًا إدّا  . تكاد السموات يتفطرن منه وتنشق الأرض وتخر الجبال هدًّا .أن دعوا للرحمن ولدًا .وما ينبغي للرحمن أن يتخذ ولدًا  .إن كل من في السموات والأرض إلاّ آتي الرحمن عبدًا "

"Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak" (88) Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar (89) hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh (90) karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak (91) dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak (92) Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba", dan firman Allah tentang Fir'aun beserta tentaranya:

" فما بكت عليهم السماء والأرض وما كانوا منظرين "

"Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh".

4        Ia akan hidup dengan dipenuhi kebodohan:

Karena kekufuran adalah kebodohan, bahkan lebih besar dari kebodohan, karena orang kafir adalah orang yang bodoh (tidak tahu) akan Rabb-nya, dia menyaksikan alam yang telah diciptakan dan diperindah oleh Rabb-nya, dan melihat pada dirinya keagungan citaan-Nya, kemudian melupakan siapa yang telah menciptakan alam ini, dan siapa yang telah menyusun/membentuk dirinya, bukankah ini kebodohan yang terbesar?.

5        ia akan hidup dengan mendzolimi dirinya sendiri, juga mendzolimi makhluk sekitarnya:

Karena dia telah menjadikan dirinya tunduk kepada sesuatu yang ia diciptakan bukan untuk tunduk kepadanya, tidak menyembah Rabb-nya, bahkan menyembah kepada selain-Nya. Arti dzolim adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, kedzoliman apakah yang lebih besar dari pemalingan ibadah kepada yang tidak berhak diibadahi, dan telah berkata Luqman Al-Hakim ketika menjelaskan tentang buruknya kesyirikan:

" يا بنيّ لا تشرك بالله إن الشرك لظلم "

"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman".

Dan dia telah berbuat dzalim terhadap  manusia serta makhluk sekitarnya, karena dia tidak mengetahui hak atas segala sesuatu, sehingga pada hari kiamat dia akan dihadapkan kepada setiap yang dizoliminya baik manusia ataupun hewan yang meminta kepada Rabb-nya untuk dibalaskan atas kedzoliman yang diterima.

6        Ia menempatkan dirinya untuk mendapat murka dan kemarahan Allah di dunia:

Dia menjadikan dirinya sebagai penyebab diturunkannya malapetaka, dan  bencana, sebagai hukuman yang disegerakan, Allah berfirman:

" َأَفَأَمنَ الذين مكروا السيئات أن يخسف الله بهم الأرض أو يأتيهم العذاب من حيث لا يشعرون  .أو يأخذهم في تقلّبهم فما هم بمعجزين .أو يأخذهم على تخوف فإن ربكم لرءوف رحيم "

"Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari (45) atau Allah mengazab mereka di waktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu) (46) atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa). Maka sesungguhnya Tuhan-mu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"

" ولا يزال الذين كفروا تصيبهم بما صنعوا قارعة أو تحلّ قريبًا من دارهم حتى يأتي وعد الله إن الله لا يخلف الميعاد "

"dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji"

" أوَ أمنَ أهل القرى أن يأتيهم بأسنا ضحًى وهم يلعبون "

"atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?", inilah perkara setiap orang yang berpaling dari dzikir kepada Allah, Allah berfirman ketika menghabarkan tentang umat-umat terdahulu yang kafir:

" فكلاّ أخذنا بذنبه فمنهم من أرسلنا عليه حاصبًا ومنهم من أخذته الصيحة ومنهم من خسفنا به الأرض ومنهم من أغرقنا وما كان الله ليظلمهم ولكن كانوا أنفسهم يظلمون "

"Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang di timpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri", juga sebagaimana yang anda saksikan sendiri di sekitar anda terkait orang-orang yang mendapat siksa dan azab Allah.

7        Ditakdirkan baginya kerugian dan kegagalan.

Disebabkan oleh kezolimannya, ia akan kehilangan kenikmatan terbesar bagi hati dan jiwa, kenikmatan itu adalah ma’rifatullah(mengenal Allah) dan kedekatan dalam bermunajat kepada-Nya, serta ketenangan. dan diapun akan merugi didunianya karena ia hidup dalam kondisi sengsara dan kebingungan. Ia juga kehilangan dirinya sendiri disebabkan ia tidak memberikan ketundukan dirinya kepada Allah, ia tidak dapat menikmati  kebahagiaan dengan dirinya, karena dirinya hidup sengsara dan mati sengsara dan akan dibangkitkan bersama orang-orang sengsara., Allah berfirman:

" ومن خفت موازينه فأولئك الذين خسروا أنفسهم "

"dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri", keluarganya juga merugi, karena dia hidup bersama mereka diatas kekufuran kepada Allah, sehingga merekapun menjadi sepertinya dalam kerugian dan kesempitan, serta perjalanan merekapun sama menuju neraka, firman Allah:

" إن الخاسرين الذين خسروا أنفسهم وأهليهم يوم القيامة "

"Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat", lalu pada hari kiamat mereka akan dikumpulkan ke neraka jahanam, seburuk-buruknya tempat, Allah berfirman:

"(kepada malaikat diperintahkan): "kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah (22) selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka"

8        Bahwasanya ia akan hidup dalam keadaan kafir kepada Allah dengan mengingkari segala nikmat-Nya:

Karena sesungguhnya Allah-lah yang menciptakannya dari ketidak adaan, menganugerahkan kepadanya seluruh kenikmatan, maka bagaimana bisa baginya untuk menyembah selain Dia, berwali kepada selain-Nya dan bersyukur terhadap yang lain-Nya… pengingkaran apakah yang lebih besar dari ini? Dan penentangan apakah yang lebih jelek dari ini?

9        Bahwa ia akan dihindarkan dari kehidupan yang sesungguhnya:

Ini karena seorang manusia yang sesungguhnya hidup adalah dia yang beriman kepada Rabb-nya, memahami tujuannya, jelas masa depannya dan merasa yakin akan hari kebangkitannya, sehingga setiap yang memiliki hak mengetahui haknya, sehingga dia tidak merendahkan suatu hak apapun, dan tidak mengganggu suatu makhlukpun, yang mana semua itu akan menjadikan kehidupannya menjadi berbahagia, dan mendapatkan penghidupan yang baik di dunia dan akherat, Allah berfirman:

" من عمل صالحًا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينّه حياة طيبة "

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik", sedangkan di akherat

" ومساكن طيبة في جنات عدن ذلك الفوز العظيم "

"dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga 'adn. Itulah keberuntungan yang besar".

binatang, yang mana dia tidak mengenal Rabb-nya, tidak mengetahui apa yang menjadi tujuannya, dan tidak mengetahui pula kemana arah perjalanannya? Bahkan Adapun orang yang hidup di dunia ini dengan penghidupan yang mirip dengan yang menjadi tujuannya hanyalah makan, minum dan tidur.. lalu apakah perbedaan antara dirinya dengan seluruh binatang, bahkan dia lebih sesat darinya, Allah berfirman:

" ولقد ذرأنا لجهنم كثيرًا من الجن والإنس لهم قلوب لاّ يفقهون بها ولهم أعين لا يبصرون بها ولهم آذان لاّ يسمعون بها أولئك كالأنعام بل هم أضلّ أولئك هم الغافلون "

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai", serta firman-Nya:

" أم تحسب أن أكثرهم يسمعون أو يعقلون إن هم إلاّ كالأنعام بل هم أضلّ سبيلاً "

"atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)".

10     Bahwa ia akan kekal dalam siksaan:

Karena orang kafir akan berpindah dari satu siksaan kepada siksaan yang lain, dia akan keluar dari dunia –dalam keadaan telah merasakan keletihan serta musibahnya- menuju akherat, pada fase pertama darinya akan turun kepada dia malaikat maut yang didahului oleh malaikat azab, agar dia dapat merasakan azab yang sesuai untuknya, Allah berfirman:

      " ولو ترى إذ يتوفى الذين كفروا الملائكة يضربون وجوههم وأدبارهم "

          "Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka", kemudian apabila ruhnya telah keluar dan diturunkan ke kuburnya, dia akan mendapatkan siksa yang paling dahsyat, Allah berfirman ketika menghabarkan tentang keluarga Fir'aun:

" النار يعرضون عليها غدوًا وعشيّاً ويوم تقوم الساعة أدخلوا آل فرعون أشدّ العذاب "

"Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras", kemudian pada hari kiamat, tatkala seluruh makhluk dibangkitkan dan diperlihatkannya amal perbuatan, orang-orang kafir akan melihat bahwa Allah telah menghitung untuknya seluruh apa yang dia amalkan, yaitu dalam sebuah kitab yang Allah kabarkan dalam firman-Nya:

" ووضع الكتاب فترى المجرمين مشفقين ممّا فيه ويقولون يا ويلتنا ما لهذا الكتاب لا يغادر صغيرة ولا كبيرة إلاّ أحصاها "

"Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya", pada saat itu orang-orang kafir akan berharap kalau mereka itu sebagai tanah:

" يوم ينظر المرء ما قدّمت يداه ويقول الكافر يا ليتني كنت ترابًا "

"pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:"Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah".

          Karena begitu mengerikannya keadaan pada saat itu, sampai manusia berangan-angan kalau seandainya dia memiliki seluruh apa yang ada di bumi, niscaya akan dia pergunakan untuk menebus hari tersebut, firman Allah:

" ولو أن للذين ظلموا ما في الأرض جميعًا ومثله معه لافتدوا به "

"Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu", serta firman-Nya:

"Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya (11) dan isterinya dan saudaranya (12) dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia) (13) Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya".

          Dikarenakan tempat tersebut adalah tempat pembalasan dan bukan tempat untuk berangan-angan, sehingga setiap manusia pasti akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan amalannya, apabila baik maka akan medapatkan kebaikan, dan jika buruk akan mendapatkan keburukan. Kejelekan yang akan di dapat oleh orang kafir di akherat adalah azab neraka, Allah telah menyiapkan berbagai macam jenis siksaan bagi penghuninya agar mereka dapat merasakan akibat dari pembangkangannya, sebagaimana firman-Nya:

"Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang berdosa (43) Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air mendidih yang memuncak panasnya", serta firman-Nya ketika mensifati akan minuman dan pakaian mereka:

"Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka (19) Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka) (20) Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi".

* * * * * *

 Penutup Wahai sekalian manusia:

          Dahulunya kalian adalah tidak ada sama sekali, Allah berfirman:

" أولا يذكر الإنسان أنا خلقناه من قبل ولم يك شيئا "

"Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?", kemudian Allah ciptakan kalian dari air mani, lalu menjadikan kalian dapat mendengar dan melihat, firman-Nya:

"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (1) Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat", kemudian setelah itu kondisi kalian meningkat secara berangsur-angsur dari lemah menjadi kuat, dan kembalinya kepada kelemahan, sebagaimana firman-Nya:

" الله الذي خلقكم من ضعف ثمّ جعل من بعد ضعف قوّة ثمّ جعل من بعد قوّة ضعفًا وشيبة يخلق ما يشاء وهو العليم القدير "

"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa", kemudian akhir yang tidak diragukan lagi adalah kematian.

Kalian pada fase-fase tersebut berpindah dari kelemahan menuju kelemahan, tidak dapat menolak bala pada diri sendiri, dan tidak pula mendatangkan manfaat untuk diri sendiri kecuali dengan pertolongan Allah melalui nikmat-nikmat-Nya yang dianugerahkan kepada anda berupa daya, kekuatan dan bahan makanan, anda secara fitrah adalah seorang fakir yang membutuhkan, berapa banyak kebutuhan hidup yang kamu perlukan sedang kamu tidak memilikinya, terkadang kamu bisa mendapatkanya dan terkadang tidak, Banyak hal yang bermanfaat bagi anda dan andapun menginginkannya, namun terkadang anda mendapatkannya dan terkadang pula tidak. Berapa banyak pula perkara yang dapat merugikan anda dan menggagalkan angan-angan anda, bahkan terkadang membuat sia-sia perjuangan anda dan malah justru mendatangkan cobaan serta kerugian,  anda berusaha untuk menolaknya, namun terkadang berhasil untuk menolaknya dan terkadang tidak sanggup.. tidakkah anda merasakan akan kebutuhan dan keperluan terhadap Allah, dan Dia telah berfirman:

" يا أيها الناس أنتم الفقراء إلى الله والله هو الغنيّ الحميد "

"Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji".

          Anda terkadang terinfeksi virus lemah yang tidak terlihat oleh mata telanjang, menyebabkan anda tertimpa penyakit, sedangkan andapun tidak dapat menolaknya, lalu pergi juga kepada manusia lemah seperti anda untuk berobat, terkadang obat yang diberikannya tepat dan terkadang dokterpun tidak mampu mengobati, sehingga pasien bingung begitu juga dokternya.

          Ketahuilah, untuk memperlihatkan kelemahan anda wahai cucu Adam, kalau seandainya seekor lalat merampas sesuatu dari anda, maka andapun tidak dapat mengambil kembali darinya, Maha Benar Allah dengan firman-Nya:

" يا أيها الناس ضرب مثل فاستمعوا له إن الذين تدعون من دون الله لن يخلقوا ذبابًا ولو اجتمعوا له وإن يسلبهم الذباب شيئا لا يستنقذوه منه ضعف الطالب والمطلوب "

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah", jika  anda tidak memiliki kemampuan untuk mengembalikan sesuatu yang telah dirampas oleh lalat, maka sesungguhnya apa lagi yang anda miliki?: "Kehidupanmu berada di tangan Allah, dirimu berada di tangan-Nya, hatimu berada diantara dua jari dari jari-jarinya Allah, Dia akan mebolak balikannya sesuai dengan kehendak-Nya, hidup dan mati anda berada di tangan-Nya, kebahagiaan dan kesengsaraan anda berada di tangan-Nya, gerakan, ketenangan dan seluruh perkataan anda berada di bawah izin dan kehendak-Nya, sehingga anda tidak dapat bergerak kecuali dengan izin-Nya dan tidak dapat berbuat kecuali atas kehendak-Nya, jika anda serahkan kepada diri sendiri maka sesungguhnya telah diserahkan kepada yang lemah, boros, dosa dan penuh kesalahan, dan jika anda wakilkan kepada selain anda, maka anda telah menyerahkannya kepada dia yang tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan kerugian, manfaat, kematian, kehidupan dan tidak pula membangkitkan, sehingga dia tidak dapat mencukupi anda sedikitpun, bahkan anda sangat butuh sekali kepada-Nya seumur hidup, baik secara zohir maupun batin, Dia akan mengucurkan kenikmatan kepada anda, sedangkan anda sendiri mencari murkanya dengan berbuat maksiat dan kekufuran terhadapnya, padahal anda sangat membutuhkan-Nya dalam setiap keadaan, anda telah melupakan-Nya, padahal tempat kembali adalah kepada-Nya, anda akan kembali dan dihadapkan kepada-Nya".

          Wahai sekalian manusia: berangkat dari kelesuan dan kelemahan anda untuk menanggung akibat dari dosa-dosamu

" يريد الله أن يخفف عنكم وخلق الإنسان ضعيفًا "

"Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah", Allah mengutus para Rasul, menurunkan beberapa buah kitab, meletakkan syari'at, membentangkan dihadapan anda jalan yang lurus dan menyampaikan keterangan-keterangan, hujah, bukti serta penerang, bahkan sampai menjadikan pada segala sesuatu tanda yang menunjukkan akan ke-esaan, rububiyyah dan uluhiyyah-Nya, namun anda menolak kebenaran dengan kebatilan, menjadikan setan sebagai wali pelindung selain Allah, dan berdebat dengan cara batil:

" وكان الإنسا أكثر شيء جدلاً "

"Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah", apakah anda melupakan nikmat-nikmat Allah yang anda bergelimang didalamnya mulai dari permulaan sampai dengan  berakhirnya anda! Apakah anda tidak ingat kalau anda diciptakan dari setetes air mani! Lalu tempat kembali anda adalah sebuah lubang, dan akan dibangkitkan menuju surga ataupun neraka, Allah berfirman:

"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! (77) Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" (78) Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk", serta firman-Nya

"Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah (6) Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang (7) dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu".

          Wahai sekalian manusia! Kenapa anda mengharamkan diri sendiri dari kenikmatan ketika berada di hadapan Allah, yaitu pada saat bermunajat kepadanya, agar Dia bisa mencukupkan anda dari kefakiran, menyembuhkan dari penyakit, melapangkan kesulitan, mengampuni dosa, menyingkap mudharat, menolong ketika anda dizolimi, menunjuki tatkala sedang bingung dan tersesat, mengajarkan apa yang tidak diketahui, memberi keamanan ketika takut, merahmati keadaan lemah, menjauhkan musuh serta mendatangkan untuk anda rizki.

          Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kenikmatan terbesar yang Allah anugerahkan terhadap manusia –setelah kenikmatan agama- adalah nikmat akal, agar dengannya dapat membedakan antara yang bermanfaat dan yang mendatangkan mudharat, agar dapat memahami perintah dan larangan yang datang dari Allah, dan juga agar dapat mengetahui tujuan terbesar, yaitu beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya, Allah berfirman:

" وما بكم من نعمة فمن الله ثمّ إذا مسّكم الضرّ فإليه تجأرون  .ثمّ إذا كشف الضرّ عنكم إذا فريق منكم بربّهم يشركون "

"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan (53) Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain)".

          Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya orang yang berakal akan menyukai perkara-perkara yang tinggi dan membenci yang rendahan darinya, dia berangan-angan untuk mengikuti setiap orang yang baik dan dermawan dari para Nabi dan orang-orang saleh, dia tampakkan dirinya untuk bisa menyamai mereka, walaupun hal tersebut tidak mungkin dapat diraih. Jalan untuk menuju kearahnya adalah firman Allah:

" إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله "

"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu", apabila seseorang telah melaksanakan yang demikian itu, maka Allah akan mensejajarkannya dengan para Nabi, Rasul, orang yang mati syahid dan orang-orang saleh, sebagaimana firman-Nya:

" ومن يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيّين والصدّيقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا "

"Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya".

          Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya saya memberi peringatan agar anda menyendiri dengan diri sendiri kemudian memperhatikan kebenaran yang datang kepada anda, kemudian melihat kepada dalil-dalilnya dan merenungkan bukti-buktinya, apabila anda telah melihat dengan sebenar-benarnya, marilah untuk mengikutinya, dan janganlah anda menjadi tawanan kelembutan dan adat istiadat, dan saya yakin jika diri anda lebihberharga bagi diri sendiri daripada orang terdekatmu atau teman sejawatmu, warisan serta nenek moyang anda, Allah telah memberi peringatan terhadap orang-orang kafir dengan ini dan ditujukan untuknya, firman-Nya:

" إنما أعظكم بواحدة أن تقوموا لله مثنى وفرادى ثمّ تتفكّروا ما بصاحبكم من جنة إن هو إلاّ نذير لكم بين يدي عذاب شديد "

"Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras".

          Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya ketika anda memeluk Islam tidak akan merugi sedikitpun, Allah berfirman:

" وماذا عليهم لو آمنوا بالله واليوم اآخر وأنفقوا ممّا رزقهم الله وكان الله بهم عليمًا "

"Apakah kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menafkahkan sebahagian rezki yang telah diberikan Allah kepada mereka ? Dan adalah Allah Maha Mengetahui keadaan mereka", berkata Ibnu Katsir rahimahullah: "Apa yang akan merugikan mereka kalau mereka beriman kepada Allah dan menempuh jalan terpuji, beriman kepada Allah dengan mengharap apa yang Dia janjikan di akherat bagi orsang yang baik amalannya, dan berinfak dari sebagian rizki yang diberikan kepadanya pada jalan-jalan yang dicintai dan diridhoi Allah, Dia Maha Mengetahui akan niat-niat mereka yang baik dan rusak, Maha Mengetahui siapa yang berhak untuk mendapat petunjuk, sehingga menunjukinya dan menganugerahi karunia-Nya, dan membimbingnya kepada amal saleh yang diridhoi-Nya, dan Dia Maha Mengetahui siapa yang berhak untuk mendapatkan kehinaan dan dijauhkan dari sisi-Nya yang agung, yaitu siapa yang terusir dari pintu-Nya, maka dia telah sesat dan merugi di dunia dan akherat", sesungguhnya keislaman anda tidak akan menghalangi antara dirimu dengan apa saja yang ingin anda lakukan atau ingin anda raih dari apa-apa yang dihalalkan oleh Allah, bahkan sesungguhnya Allah akan memberimu ganjaran atas setiap amalan yang anda amalkan karena-Nya, walaupun itu berhubungan dengan maslahat dunia anda dan dalam menambah kepemilikan, kedudukan ataupun kemuliaan, bahkan perkara-perkara yang mubah pun apabila anda melakukanya untuk menghindari yang haram, maka andapun akan mendapat ganjaran darinya, telah bersabda Rasul SAW:

" وفي بضع أحدكم صدقة " قالوا: يا رسول الله! أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر؟ قال: " أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه وزر؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر "

"Pada air mani kalian terdapat sedekah" para sahabat bertanya: ya Rasulullah! Apakah ketika salah seorang dari kita menyalurkan syahwatnya akan mendapatkan ganjaran? Beliau menjawab: "Bagaimana pendapat kalian apabila diletakkan pada yang haram, bukankah ia akan mendapat dosa? Maka begitu pula tatkala disalurkan pada yang halal dia akan mendapatkan ganjaran".

          Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya para Rasul telah datang dengan membawa kebenaran dan menyampaikan apa yang Allah inginkan, manusia butuh agar dapat mengetahui syari'at Allah, agar dapat berjalan dalam kehidupan ini diatas petunjuk dan agar menjadi orang-orang yang beruntung di akherat, Allah berfirman:

" يا أيها الناس قد جاءكم الرسول بالحق من ربكم فآمنوا خيرًا لكم وإن تكفروا فإن لله ما في السموات والأرض وكان الله عليمًا حكيمًا "

"Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana", dan firman-Nya:

" قل يا أيها الناس قد جاءكم الحق من رّبكم فمن اهتدى فإنما يهتدي لنفسه ومن ضلّ فإنما يضلّ عليها وما أنا عليكم بوكيل "

"Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu".

          Wahai sekalian manusia! Apabila anda memeluk Islam sesungguhnya ia tidaklah bermanfaat kecuali untuk dirimu sendiri, dan juga kekafiranpun tidak akan berdampak melainkan terhadap dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas hamba-hamba-Nya, sehingga tidak akan merugikan-Nya maksiat orang-orang yang berbuat maksiat, dan tidak berguna pula bagi-Nya keta'atan orang-orang yang melaksanakan keta'atan, Dia tidak akan dimaksiati kecuali dengan pengetahuan-Nya dan tidak dita'ati kecuali dengan izin-Nya, telah berfirman Allah sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabinya:

" يا عبادي! إني حرمت الظلم على نفسي وجعلته بينكم محرّمًا فلا تظالموا, يا عبادي كلكم ضالّ إلاّ من هديته فاستهدوني أهدكم, يا عبادي كلّكم جائع إلاّ من أطعمته فاستطعموني أطعمكم, يا عبادي كلكم عار إلاّ من كسوته فاستكسوني أكسكم, يا عبادي إنكم تخطئون بالليل والنهار, وأنا أغفر الذنوب جميعًا فاستغفروني أغفر لكم, يا عبادي إنكم لن تبلغوا ضري فتضروني ولن تبلغوا نفعي فتنفعوني, يا عبادي لو أنّ أولكم وآخركم وإنسكم وجنّكم كانوا على أتقى قلب رجل واحد منكم ما زاد ذلك في ملكي شيئًا, يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا على أفجر قلب رجل واحد ما نقص ذلك من ملكي شيئا, يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم قاموا في صعيد واحد فسألوني فأعطيت كلّ إنسان مسألته ما نقص ذلك مما عندي إلاّ كما ينقص المخيط إذا أدخل البحر, يا عبادي إنما هي أعمالكم أحصيها لكم ثمّ أوفيكم إياها؛ فمن وجد خيرًا فليحمد الله ومن وجد غير ذلك فلا يلومنّ إلاّ نفسه "

"Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezoliman terhadap diri-Ku dan menjadikannya haram diantara kalian, maka janganlah kalian saling menzolimi, wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berada dalam kesesatan kecuali dia yang mendapat petunjuk-Ku, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian, wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian dalam keadaan lapar kecuali dia yang telah Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya kalian akan Aku beri makan, wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian dalam keadaan telanjang kecuali dia yang Aku pakaikan pakaian, maka mintalah pakaian terhadap-Ku niscaya Aku akan memberimu pakaian, wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang hari, dan Aku menghapuskan seluruh dosa, maka mintalah ampunan kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuninya, wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian tidak akan sampai kepada mudharat-Ku sehingga kalian dapat memberikan mudharat terhadap-Ku dan tidak akan pula sampai kepada manfaat-Ku sehingga kalian mendatangkan manfaat untuk-Ku, wahai hamba-hamba-Ku kalau seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, golongan manusia dan jin dari kalian, mereka dalam keadaan memiliki hati yang sama dengan orang yang paling bertakwa diantara kalian, sesungguhnya itu tidak akan menambahkan sesuatupun kedalam kerajaan-Ku, wahai hamba-hamba-Ku kalau seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, golongan manusia dan jin dari kalian, mereka seluruhnya berada diatas hati orang yang paling fajir diantara kalian, yang demikian itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun, wahai hamba-hamba-Ku kalau seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, golongan manusia dan jin dari kalian seluruhnya berkumpul pada suatu tempat, lalu mereka meminta kepada-Ku dan Aku berikan setiap orang sesuai dengan permintaannya, maka itu tidak akan mengurangi apa yang Aku miliki kecuali seperti berkurangnya jarum ketika dimasukkan kedalam lautan, wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya itu adalah amalan kalian, Aku akan menghitungnya untuk kalian kemudian menunaikannya; maka barang siapa yang mendapatkan kebaikan hendaklah dia bertahmid kepada Allah, dan barang siapa yang mendapatkan selainnya, maka hendaklah dia tidak mencela kecuali dirinya sendiri".

          Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb Penguasa alam, shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi dan Rasul paling mulia, Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya. Amiin.