KITAB TAUHIDHak Terbesar Allah atas Hamba ()

Muhammad At-Tamimi

 

Kitab Tauhid: Merupakan kitab yang sangat penting untuk dibaca dan ditelaah oleh setiap muslim agar mereka mengetahui aqidah yang benar, aqidah ahlussunnah wal jamaah berdasarkan al quran dan sunnah serta serta menjauhi syirik yang merupakan dosa yang paling besar

|

 KITAB TAUHIDHak Terbesar Allah atas Hamba

Karya Syaikhul-Islām

Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamīmiy

( wafat: 1206 H )

Penyunting

Abdul Aziz bin Dākhil Al-Muṭairiy

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Segala puji hanya bagi Allah dan semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabat-sahabat beliau.

 Kitab Tauhid

- Firman Allah -Ta'ālā-,"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."(QS. Aż-Żāriyāt: 56).- Juga firman-Nya,"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), “Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah tagut."(QS. An-Naḥl: 36).- Juga firman-Nya,"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orangtuamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah', dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku! Kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.'"(QS. Al-Isrā`: 23-24).- Juga firman-Nya,"Dan sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."(QS. An-Nisā`: 36).- Juga firman-Nya,"Katakanlah (Muhammad); marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahaminya.Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebankan kepada seseorang melainkan sekadar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendati pun dia adalah kerabatmu. Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.Dan bahwa (yang diperintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa."(QS. Al-An'ām: 151-153).- Ibnu Mas'ūd berkata,"Siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka hendaklah membaca firman Allah -Ta'ālā-,Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya ...'Sampai firman-Nya,Dan bahwa (yang diperintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia ...'"- Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku pernah dibonceng Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di atas keledai, kemudian beliau bersabda kepadaku,"Wahai Mu'āż! Tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya, dan apa hak hamba-hamba-Nya yang pasti dipenuhi oleh Allah?"Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Kemudian beliau bersabda,"Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya ialah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang-orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."Lalu aku bertanya, "Ya Rasulullah! Bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?" Beliau menjawab,"Jangan engkau lakukan itu, karena khawatir mereka nanti bersikap pasrah."(HR. Bukhari dan Muslim dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Adanya hikmah besar dalam penciptaan jin dan manusia.Kedua:Ibadah adalah hakikat tauhid, sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.Ketiga:Siapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada Allah. Inilah sebenarnya makna firman Allah, "Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah." (QS. Al-Kāfirūn: 3).Keempat:Hikmah diutusnya para rasul (yaitu untuk menyerukan tauhid dan melarang kemusyrikan).Kelima:Dakwah para rasul itu mencakup seluruh umat manusia.Keenam:Ajaran para nabi adalah satu (yaitu tauhid).Ketujuh:Masalah yang sangat penting adalah: bahwa ibadah kepada Allah tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap tagut. Inilah maksud dari firman Allah,"Siapa yang mengingkari tagut dan beriman kepada Allah, maka ia benar-benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat."Kedelapan:Pengertian tagut bersifat umum, mencakup semua yang disembah selain Allah.Kesembilan:Agungnya kedudukan tiga ayat muḥkamāt (jelas) yang terdapat dalam surah Al-An'ām dalam pandangan para ulama salaf; di dalamnya ada 10 pelajaran penting, dan yang pertama adalah larangan berbuat kesyirikan.Kesepuluh:Ayat-ayat muḥkamāt yang terdapat dalam surah Al-Isrā` mengandung 18 pelajaran penting, dimulai dengan firman Allah,"Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela ..."Dan diakhiri dengan firman-Nya:"Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakkan ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah)."Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- juga telah mengingatkan kita tentang pentingnya masalah ini, dengan firman-Nya,"Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu." (QS. Al-Isrā`: 39).Kesebelas:Ada satu ayat dalam surah An-Nisā` yang dikenal dengan istilah "Ayat 10 Hak". Hak pertama yang Allah sebutkan adalah:"Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja), dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun."Kedua belas:Peringatan tentang wasiat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di akhir hayat beliau.Ketiga belas:Mengetahui hak-hak Allah yang wajib kita laksanakan.Keempat belas:Mengetahui hak-hak para hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah apabila mereka memenuhi hak-hak Allah.Kelima belas:Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat.Keenam belas:Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahat tertentu.Ketujuh belas:Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.Kedelapan belas:Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- merasa khawatir terhadap sikap memasrahkan diri pada keluasan rahmat Allah.Kesembilan belas:Jawaban orang yang ditanya tentang hal yang ia tidak ketahui adalah, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."Kedua puluh:Diperbolehkan mengajarkan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.Kedua puluh satu:Kerendahan hati Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; sehingga beliau hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang sahabatnya.Kedua puluh dua:Boleh membonceng seseorang di atas hewan tunggangan, jika memang binatang itu kuat.Kedua puluh tiga:Keutamaan Mu'āż bin Jabal.Kedua puluh empat:Agungnya kedudukan perkara tauhid ini.

 Bab Fadilah Tauhid dan Dosa-dosa yang Dihapusnya

- Firman Allah -Ta'ālā-,"Orang-orang yang beriman dan tidak menodai keimanan mereka dengan kezaliman (kesyirikan), mereka itulah yang mendapat ketenteraman dan mereka itulah yang mendapat petunjuk."(QS. Al-An'ām: 82).- 'Ubādah bin Aṣ-Ṣāmit -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba, Rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari pada-Nya, serta surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga, apa pun amal yang telah diperbuatnya."(HR. Bukhari dan Muslim). Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadis 'Itbān:"Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dengan hanya mengharapkan wajah Allah."- Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Musa berkata, 'Ya Rabb! Ajarkanlah kepadaku sesuatu (zikir) yang dengannya aku mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu.' Allah berfirman, 'Ya Musa! Ucapkanlah: Lā ilāha illallāh.' Musa berkata, 'Ya Rabb! Semua hamba-Mu mengucapkan itu.' Allah menjawab, 'Ya Musa! Seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya selain Aku, serta ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan, dan kalimat Lā ilāha illallāh diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat Lā ilāha illallāh lebih berat timbangannya.'"(HR. Ibnu Ḥibbān dan Al-Ḥākim sekaligus mensahihkannya).- Dalam riwayat Tirmizi -yang ia nilai sebagai hadis hasan-, Anas bin Mālik meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Hai anak Adam! Jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sejagat raya, dan engkau ketika menjumpaiku (mati) dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sejagat raya pula."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Luasnya karunia Allah.Kedua:Besarnya pahala tauhid di sisi Allah.Ketiga:Tauhid juga dapat menghapus berbagai jenis dosa.Keempat:Penjelasan makna ayat yang ada dalam surah Al-An'ām.Kelima:Meyakini lima perkara yang ada dalam hadis 'Ubādah.Keenam:Jika Anda mengorelasikan antara hadis 'Ubādah dan hadis 'Itbān serta hadis-hadis setelahnya, akan jelas bagi Anda pengertian kalimat "Lā ilāha illallāh", juga kesalahan orang-orang yang tersesat karena hawa nafsunya.Ketujuh:Peringatan tentang syarat penting yang disebutkan dalam hadits 'Itbān (yaitu ikhlas karena Allah dan tidak menyekutukan-Nya).Kedelapan:Para nabi pun perlu diingatkan tentang keistimewaan "Lā ilāha illallāh".Kesembilan:Penjelasan bahwa timbangan kalimat "Lā ilāha illallāh" mengungguli berat timbangan seluruh makhluk, padahal banyak pengucapnya hanya memiliki timbangan amal yang sedikit.Kesepuluh:Pernyataan bahwa bumi itu tujuh lapis seperti halnya langit.Kesebelas:Langit dan bumi itu ada penghuninya.Kedua belas:Penetapan sifat-sifat Allah apa adanya, berbeda dengan pendapat Asy'ariyyah.Ketiga belas:Jika Anda memahami hadis Anas, maka Anda akan mengetahui bahwa sabda Rasul yang ada dalam hadis 'Itbān: “Sesungguhnya Allah mengharamkan masuk neraka bagi orang-orang yang mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dengan penuh ikhlas karena Allah, dan tidak menyekutukan-Nya'; maksudnya adalah meninggalkan kesyirikan, bukan hanya mengucapkan kalimat tersebut dengan lisan.Keempat belas:Perhatikan korelasi antara dua hal; yaitu Nabi Muhammad dan Nabi Isa adalah sama-sama hamba Allah dan Rasul-Nya.Kelima belas:Mengetahui keistimewaan Nabi Isa, sebagai Kalimat Allah.Keenam belas:Mengetahui bahwa Nabi Isa adalah ruh di antara ruh-ruh yang diciptakan Allah.Ketujuh belas:Mengetahui keistimewaan iman terhadap keberadaan surga dan neraka.Kedelapan belas:Memahami sabda Rasul: "Apa pun amal yang telah dikerjakannya."Kesembilan belas:Mengetahui bahwa timbangan amalan di hari Kiamat nanti mempunyai dua daun.Kedua puluh:Mengetahui kebenaran adanya Wajah bagi Allah.

 Bab: Siapa yang Merealisasikan Tauhid Akan Masuk Surga Tanpa Hisab

- Firman Allah -Ta'ālā-,"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (berpegang teguh pada kebenaran), dan sekali-kali ia bukanlah termasuk orang yang mempersekutukan (Tuhan)."(QS. An-Naḥl: 120).Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan orang-orang yang tidak menyekutukan (sesuatu apa pun) dengan Rabb mereka."(QS. Al-Mu`minūn: 59).Ḥuṣain bin Abdurrahman berkata, Suatu ketika aku berada di sisi Sa'īd bin Jubair, lalu ia bertanya, “Siapa di antara kalian melihat bintang yang jatuh semalam?" Aku menjawab, "Aku.” Lalu aku berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak sedang melaksanakan salat, karena aku disengat kalajengking.” Ia lantas bertanya padaku, “Lalu apa yang engkau lakukan?" Aku menjawab, “Aku minta dibacakan ruqyah.” Ia bertanya lagi, “Apa yang mendorongmu melakukan hal itu?" Aku menjawab, “Yaitu sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Asy-Sya'biy kepada kami.” Ia bertanya lagi, “Apakah hadis yang dituturkan kepadamu itu?" Aku menjawab, “Dia menuturkan hadis kepada kami dari Buraidah bin Al-Ḥuṣaib, bahwa beliau berkata,"Tidak boleh melakukan ruqyah kecuali karena penyakit 'ain atau terkena sengatan."Sa'īd pun berkata, “Sungguh telah berbuat baik orang yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi Ibnu 'Abbās menuturkan hadis kepada kami dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang nabi bersama sekelompok orang, dan seorang nabi bersama satu dan dua orang saja, dan nabi yang lain lagi tanpa ada seorang pun yang menyertainya. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku, 'Mereka ini adalah Musa dan kaumnya.' Tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku, 'Mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu.'"Kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Maka orang-orang pun memperbincangkan tentang identitas mereka. Ada di antara mereka yang berkata, "Barangkali mereka itu orang-orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya." Ada lagi yang berkata, "Barangkali mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam sehingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatu pun." Dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar kepada mereka, lalu mereka menyampaikan perbincangan mereka tersebut kepada beliau; maka beliau pun bersabda,"Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta dibacakan ruqyah, tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan, dan tidak pula melakukan taṭayyur, dan hanya kepada Rabb-lah mereka bertawakal."Kemudian 'Ukkāsyah bin Miḥṣan berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah! Mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka." Kemudian Rasul bersabda, “Ya, engkau termasuk golongan mereka.” Kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata, "Mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka." Rasul menjawab, “Kamu telah didahului oleh 'Ukkāsyah."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Mengetahui adanya tingkatan-tingkatan manusia dalam bertauhid.Kedua:Mengetahui makna merealisasikan tauhid.

Ketiga:

Pujian Allah kepada Nabi Ibrahim, karena beliau tidak pernah melakukan kesyirikan.

Keempat:Pujian Allah kepada para pemimpin wali-wali Allah (para sahabat Rasulullah) karena keselamatan diri mereka dari kesyirikan.

Kelima:

Tidak meminta ruqyah dan tidak meminta supaya lukanya diobati dengan tempelan besi yang panas adalah termasuk pengamalan tauhid yang murni.

Keenam:Tawakal kepada Allah adalah sifat yang mendasari semua sikap tersebut.Ketujuh:Kedalaman ilmu para sahabat, karena mereka mengetahui bahwa orang-orang yang dinyatakan dalam hadis tersebut tidak akan mendapatkan kedudukan yang tinggi kecuali dengan adanya pengamalan.Kedelapan:Semangat para sahabat untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan amal kebaikan.Kesembilan:Keistimewaan umat Islam dalam kuantitas dan kualitasnya.Kesepuluh:Keutamaan para pengikut Nabi Musa.Kesebelas:Umat-umat terdahulu ditampakkan kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.Kedua belas:Setiap umat dikumpulkan sendiri-sendiri bersama para Nabinya.Ketiga belas:Sedikitnya orang-orang yang mengikuti dakwah para Nabi.Keempat belas:Nabi yang tidak mempunyai pengikut akan datang sendirian pada hari Kiamat.Kelima belas:Manfaat dari mengetahui hal ini adalah agar tidak berbangga dengan jumlah yang banyak dan tidak berkecil hati dengan jumlah yang sedikit.Keenam belas:Diperbolehkan melakukan ruqyah disebabkan terkena penyakit 'ain dan sengatan binatang berbisa.Ketujuh belas:Kedalaman ilmu para ulama salaf, hal itu bisa diketahui dari ucapan Sa'īd bin Jubair, “Sungguh telah berbuat baik orang yang mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi ...”. Dengan demikian jelaslah bahwa hadis yang pertama tidak bertentangan dengan hadis yang kedua.Kedelapan belas:Kemuliaan sifat para ulama salaf, karena ketulusan hati mereka, dan mereka tidak memuji seseorang dengan pujian yang dibuat-buat.Kesembilan belas:Sabda Nabi, “Engkau termasuk golongan mereka” adalah salah satu dari tanda-tanda kenabian beliau.Kedua puluh:Keutamaan 'Ukkāsyah.Kedua puluh satu:Penggunaan kata sindiran.Kedua puluh dua:Kemuliaan akhlak Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

 Bab Kekhawatiran dari Kesyirikan

Firman Allah -'Azza wa Jalla-,"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya."(QS. An-Nisā`: 48).Al-Khalīl (Kekasih Allah) Nabi Ibrahim -'alaihis-salām- berkata,"Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari perbuatan (menyembah) berhala."([QS.Ibrāhīm: 35).

Dalam suatu hadis Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesuatu yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah perbuatan syirik kecil." Kemudian beliau ditanya tentang itu, beliau pun menjawab, "Yaitu sifat ria."

Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang mati dalam keadaan berdoa (menyembah) kepada sesembahan selain Allah, maka ia akan masuk neraka."(HR. Bukhari).Muslim meriwayatkan dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang menemui Allah (wafat) dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada-Nya, ia pasti masuk surga, dan siapa yang menemui-Nya (wafat) dalam keadaan berbuat kesyirikan, ia pasti masuk neraka."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Adanya kekhawatiran terjatuh dalam kesyirikan.Kedua:Sifat ria (ingin dipuji) termasuk perbuatan syirik.Ketiga:Sifat ria termasuk syirik kecil.Keempat:Sifat ria adalah dosa yang paling ditakuti oleh Rasulullah terhadap orang-orang saleh.Kelima:Dekatnya surga dan neraka.Keenam:Dekatnya surga dan neraka telah sama-sama disebutkan dalam satu hadis.Ketujuh:Siapa yang mati tidak dalam kesyirikan maka ia pasti masuk surga, dan siapa yang mati dalam kesyirikan maka ia pasti masuk neraka, meskipun ia termasuk orang yang banyak ibadahnya.Kedelapan:Hal yang sangat penting adalah permohonan Nabi Ibrahim untuk dirinya dan anak cucunya agar dijauhkan dari perbuatan menyembah berhala.Kesembilan:Nabi Ibrahim mengambil 'ibrah (pelajaran) dari keadaan sebagian besar manusia (yang tersesat), sebagaimana perkataan beliau,"Ya Rabb! Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia."Kesepuluh:Bab ini mengandung penjelasan tentang makna "Lā ilāha illallāh"; sebagaimana yang disebutkan oleh Bukhari (yaitu: pembersihan diri dari syirik dan pemurnian ibadah kepada Allah).Kesebelas:Keutamaan orang yang dirinya bersih dari kesyirikan.

 Bab Berdakwah kepada Kalimat Syahadat "Lā Ilāha Illallāh"

Firman Allah -Ta'ālā-,"Katakanlah, 'Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, aku berdakwah kepada Allah dengan hujah yang nyata, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik."(QS. Yūsuf: 108).Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus Mu'āż bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda kepadanya,"Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat 'Lā ilāha illallāh' -dalam riwayat yang lain disebutkan: supaya mereka menauhidkan Allah-. Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat; yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir di antara mereka. Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu (jangan mengambil zakat) dari harta pilihan mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dan Allah."(HR. Bukhari dan Muslim).Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Sahl bin Sa'd bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di saat perang Khaibar bersabda,"Sungguh akan aku serahkan bendera (komando perang) ini besok pagi kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan dia dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, Allah akan memberikan kemenangan dengan sebab kedua tangannya."Maka semalam suntuk para sahabat memperbincangkan siapakah di antara mereka yang akan diserahi bendera itu. Ketika pagi mereka mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan masing-masing berharap agar ia yang diserahi bendera tersebut. Lalu Rasulullah bertanya,"Di mana Ali bin Abi Ṭālib?"Mereka menjawab, "Dia sedang sakit pada kedua matanya." Kemudian mereka mengutus orang untuk memanggilnya. Ali pun datang, kemudian Rasulullah meludahi kedua matanya dan mendoakannya. Seketika itu dia langsung sembuh seperti tidak pernah terkena penyakit. Kemudian Rasulullah menyerahkan bendera itu kepadanya dan bersabda,"Melangkahlah engkau ke depan dengan tenang hingga engkau sampai di tempat mereka. Kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan sampaikanlah kepada mereka hak-hak Allah dalam Islam yang wajib mereka kerjakan. Sungguh demi Allah! Bila Allah memberi hidayah kepada seseorang dengan perantaraan kamu, itu lebih baik dari memiliki unta-unta merah (yang paling berharga)."

يَدُوكُونَ (yadūkūna): mereka saling bertanya-tanya, memperbincangkan.

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Berdakwah kepada syahadat "Lā ilāha illallāh" adalah jalannya orang-orang yang setia mengikuti Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.Kedua:Peringatan tentang pentingnya ikhlas dalam berdakwah, sebab kebanyakan orang kalau mengajak kepada kebenaran, justru mereka mengajak kepada kepentingan dirinya sendiri.Ketiga:Memiliki al-baṣīrah (ilmu dan hikmah) dalam berdakwah adalah termasuk kewajiban.Keempat:Di antara bukti keindahan tauhid adalah bahwa tauhid itu memurnikan Allah -Ta'ālā- dari penghinaan.Kelima:Di antara bukti kejelekan syirik adalah bahwa syirik itu merendahkan Allah.Keenam:Termasuk pelajaran yang sangat penting adalah wajib menjauhkan umat Islam dari lingkungan orang orang musyrik; agar tidak terjerumus ke golongan mereka, walaupun dia belum melakukan perbuatan syirik.Ketujuh:Tauhid adalah kewajiban pertama.Kedelapan:Tauhid adalah masalah yang harus didakwahkan pertama kali sebelum mendakwahkan kewajiban yang lain termasuk salat.Kesembilan:Pengertian “supaya mereka menauhidkan Allah” adalah pengertian syahadat.Kesepuluh:Seseorang terkadang termasuk Ahli Kitab, tapi ia tidak tahu pengertian syahadat yang sebenarnya, atau ia memahaminya namun tidak mengamalkannya.Kesebelas:Peringatan akan pentingnya sistem pengajaran dengan bertahap.

Kedua belas:

Memulai perkara dari hal yang sangat penting kemudian yang penting dan begitu seterusnya.

Ketiga belas:

Salah satu sasaran pembagian zakat adalah orang fakir.

Keempat belas:Kewajiban orang yang berilmu adalah menjelaskan tentang sesuatu yang masih diragukan oleh orang yang belajar.Kelima belas:Dilarang mengambil harta yang terbaik dalam penarikan zakat.Keenam belas:Menghindarkan diri dari doa keburukan yang diucapkan oleh orang yang terzalimi.Ketujuh belas:Pemberitahuan bahwa doa orang yang teraniaya itu dikabulkan.Kedelapan belas:Di antara bukti kebenaran tauhid adalah ujian yang dialami oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan para sahabat, seperti kesulitan, kelaparan maupun wabah penyakit.Kesembilan belas:Sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, “Demi Allah! Akan aku serahkan bendera …” adalah salah satu dari tanda-tanda kenabian beliau.Kedua puluh:Kesembuhan kedua mata Ali setelah diludahi Rasulullah adalah salah satu tanda kebenaran kenabian beliau.Kedua puluh satu:Keutamaan Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu-.Kedua puluh dua:Keutamaan para sahabat Rasulullah, ini dapat dilihat dari perbincangan mereka di malam hari dan kesibukan mereka dalam menanggapi kabar mengenai tanda-tanda kemenangan.Kedua puluh tiga:Kewajiban mengimani takdir Allah, karena bendera tidak diserahkan kepada orang yang sudah berusaha, malah diserahkan kepada orang yang tidak berusaha untuk memperolehnya.Kedua puluh empat:Adab dalam berjihad tampak dalam sabda Rasulullah, "Berangkatlah engkau dengan tenang."Kedua puluh lima:Disyariatkan untuk mendakwahi musuh kepada Islam sebelum memeranginya.Kedua puluh enam:Syariat ini berlaku pula terhadap mereka yang sudah pernah didakwahi dan diperangi sebelumnya.Kedua puluh tujuh:Dakwah harus dilaksanakan dengan bijaksana, sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Nabi, "Sampaikanlah kepada mereka tentang hak-hak Allah dalam Islam yang wajib mereka kerjakan."Kedua puluh delapan:Wajib mengenal hak-hak Allah dalam Islam.Kedua puluh sembilan:Besarnya pahala bagi orang yang bisa memasukkan seorang saja ke dalam Islam.Ketiga puluh:Diperbolehkan bersumpah dalam berfatwa atau menyampaikan petunjuk.

 Bab Penafsiran Tauhid dan Syahadat "Lā Ilāha Illallāh"

Firman Allah -Ta'ālā-,"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah), dan mereka mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan siksa-Nya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti"(QS. Al-Isrā`: 57).Juga firman-Nya,"Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah,kecuali (Allah) Yang telah menciptakan aku, karena hanya Dia yang akan menunjukkanku (kepada jalan kebenaran).'Dan ia (Ibrahim) menjadikannya (kalimat tauhid) sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali (kepadanya)."(QS. Az-Zukhruf: 26-28).Juga firman-Nya,"Mereka menjadikan orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (mereka mempertaruhkan pula) Almasih putra Maryam; padahal mereka itu tiada lain hanyalah diperintahkan untuk beribadah kepada satu sembahan, tiada sembahan yang hak selain Dia. Mahasuci Allah dari perbuatan syirik mereka."(QS. At-Taubah: 31).Juga firman-Nya,"Di antara sebagian manusia ada yang menjadikan tuhan-tuhan tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman maka lebih besar cintanya kepada Allah."(QS. Al-Baqarah: 165).Dalam Ṣaḥīḥ Muslim, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang mengucapkan, 'Lā ilāha illallāh', dan mengingkari sesembahan selain Allah, maka terlindungilah harta dan darahnya, adapun perhitungan amalannya maka terserah kepada Allah."

Keterangan tentang bab ini akan dipaparkan pada bab-bab berikutnya.

 Dalam bab ini terdapat persoalan yang paling besar dan urgen, yaitu:

Pembahasan tentang makna tauhid dan kalimat syahadat. Masalah tersebut telah diterangkan oleh bab ini dengan beberapa hal yang cukup jelas:

1- Ayat dalam surah Al-Isrā`. Diterangkan dalam ayat ini sanggahan terhadap orang-orang musyrik yang berdoa kepada orang-orang yang saleh. Ayat ini juga mengandung suatu penjelasan bahwa perbuatan mereka itu adalah syirik besar.

2- Ayat dalam surah At-Taubah. Diterangkan dalam ayat ini bahwa orang-orang Ahli Kitab telah menjadikan orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan dijelaskan pula bahwa mereka hanya diperintahkan untuk menyembah kepada satu sesembahan. Padahal penafsiran yang sebenarnya adalah bahwa mereka itu hanya diperintahkan untuk taat kepada orang-orang alim dan para pendeta tersebut dalam hal yang bukan kemaksiatan, bukan dalam hal berdoa kepada mereka.

3- Ucapan Nabi Ibrahim -'alaihis-salām- kepada orang-orang kafir,"Sesungguhnya saya berlepas diri dari apa yang kalian sembah,kecuali (Allah) Yang telah menciptakan aku ..."Di sini beliau mengecualikan Allah dari segala sesembahan.Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menyebutkan bahwa sikap berlepas diri (dari segala sembahan yang batil) dan pernyataan setia (kepada Allah) adalah makna yang sebenarnya dari syahadat "Lā ilāha illallāh". Lantas Allah berfirman,"Dan ia (Ibrahim) menjadikannya (kalimat tauhid) sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali (kepadanya)."4- Ayat dalam surah Al-Baqarah yang berkenaan dengan orang-orang kafir yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya,"Dan mereka tidak akan bisa keluar dari neraka." (QS. Al-Baqarah: 167)Disebutkan dalam ayat tersebut, bahwa mereka menyembah sekutu-sekutu selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecintaan yang besar kepada Allah, namun kecintaan mereka ini belum bisa memasukkan mereka ke dalam agama Islam. Lalu bagaimana dengan mereka yang cintanya kepada sesembahan selain Allah itu lebih besar dari cintanya kepada Allah?

Lalu bagaimana lagi dengan orang-orang yang hanya mencintai sesembahan selain Allah, dan tidak mencintai Allah?!

5- Sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-,"Siapa yang mengucapkan, 'Lā ilāha illallāh', dan mengingkari sesembahan selain Allah, maka terlindungilah harta dan darahnya, adapun perhitungan amalnya maka terserah kepada Allah."

Ini termasuk hal sangat penting yang menjelaskan pengertian "Lā ilāha illallāh". Sebab apa yang dijadikan Rasulullah sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekadar pengucapan kalimat itu dengan lisan atau memahami arti dan lafalnya, atau mengetahui akan kebenarannya, bahkan bukan pula karena tidak meminta kecuali kepada Allah yang tiada sekutu bagi-Nya; akan tetapi harus disertai dengan pengingkaran terhadap seluruh sesembahan selain Allah. Jika dia masih ragu atau bimbang, maka harta dan darahnya belumlah bisa terlindungi. Sungguh, betapa besar dan pentingnya penjelasan makna "Lā ilāha illallāh" yang termuat dalam hadis ini?!

Juga sungguh, betapa jelasnya keterangan yang dikemukakannya, dan kuatnya argumentasi yang diajukan bagi orang-orang yang menentangnya?!

 Bab Mengalungkan Gelang, Benang, dan Sejenisnya untuk Menangkal Bahaya Adalah Perbuatan Syirik

- Firman Allah -Ta'ālā-,"Katakanlah (hai Muhammad kepada orang-orang musyrik), 'Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhala itu dapat menghilangkan kemudaratan itu? atau jika Allah menghendaki untuk melimpahkan suatu rahmat kepadaku, apakah mereka mampu menahan rahmat-Nya?' Katakanlah, 'Cukuplah Allah bagiku, hanya kepada-Nyalah orang-orang yang berserah diri bertawakal.'"(QS. Az-Zumar: 38).Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan di tangannya, kemudian beliau bertanya, “Apakah itu?" Laki-laki itu menjawab, “Gelang penangkal penyakit.” Maka beliau bersabda,"Lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya."(HR. Ahmad dengan sanad lā ba`sa bihi -yakni hasan-).Imam Ahmad juga meriwayatkan dari 'Uqbah bin 'Āmir dalam hadis marfū’; Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang menggantungkan tamīmah (jimat) maka Allah tidak akan mengabulkan keinginannya, dan Siapa yang menggantungkan Wada'ah (jimat dari tumbuhan laut), maka Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya."Dalam riwayat lain:"Siapa yang menggantungkan tamīmah (jimat), maka ia telah berbuat kesyirikan."Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan dari Ḥużaifah bahwa ia melihat seorang laki-laki yang di tangannya ada benang untuk mengobati sakit panas, maka dia putuskan benang itu seraya membaca firman Allah,"Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sesembahan lain)."(QS. Yūsuf: 106).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Larangan keras memakai gelang, benang dan sejenisnya untuk tujuan-tujuan seperti tersebut di atas.Kedua:Kondisi sahabat Nabi tadi yang apabila mati sedangkan gelang (atau sejenisnya) itu masih melekat pada tubuhnya, maka ia tidak akan beruntung selamanya; ini menunjukkan kebenaran pernyataan para sahabat bahwa syirik kecil itu lebih berat daripada dosa besar.Ketiga:Syirik tidak dapat dimaafkan dengan alasan tidak tahu.Keempat:Gelang, benang, dan sejenisnya tidak berguna untuk menangkal atau mengusir suatu penyakit, bahkan ia mendatangkan bahaya; berdasarkan sabda Nab -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Ia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu."Kelima:Wajib mengingkari orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut.Keenam:Penjelasan bahwa orang yang menggantungkan sesuatu dengan tujuan tersebut, maka Allah akan menjadikan orang tersebut memiliki ketergantungan pada barang tersebut.Ketujuh:Penjelasan bahwa orang yang menggantungkan tamīmah (jimat) telah melakukan perbuatan syirik.Kedelapan:Mengikatkan benang pada tubuh untuk mengobati penyakit panas adalah bagian dari syirik.Kesembilan:Pembacaan ayat di atas oleh Ḥużaifah menunjukkan bahwa para sahabat menggunakan ayat-ayat yang berkaitan dengan syirik besar sebagai dalil untuk syirik kecil, sebagaimana penjelasan yang disebutkan oleh Ibnu 'Abbās dalam salah satu ayat yang ada dalam surah Al-Baqarah.Kesepuluh:Menggantungkan wada'ah (jimat dari tumbuhan laut) untuk mengusir atau menangkal penyakit, termasuk syirik.Kesebelas:Orang yang menggantungkan tamīmah (jimat) didoakan agar Allah tidak mengabulkan keinginannya, dan orang yang menggantungkan wada'ah didoakan juga agar Allah tidak memberikan ketenangan pada dirinya.

 Bab Ruqyah dan Jimat

Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ, Abū Basyīr Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa dia pernah bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu perjalanan, lalu beliau mengutus seorang utusan untuk menyampaikan pesan,"Agar tidak terdapat lagi di leher unta kalung dari tali busur panah atau kalung apa pun, bila ada maka harus diputuskan."Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku telah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya ruqyah, tamīmah (jimat), dan tiwalah (jimat pengasihan) adalah syirik."(HR. Ahmad dan Abu Daud).

Tamīmah (jimat) adalah sesuatu yang diikatkan pada anak-anak untuk menangkal dan menolak penyakit ‘ain. Jika yang diikatkan itu berasal dari ayat-ayat Al-Qur`ān, sebagian ulama salaf memberikan keringanan dalam hal ini; dan sebagian yang lain tidak memperbolehkan dan melarangnya, di antaranya Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-.

Ruqyah (mantra keselamatan) adalah yang disebut juga dengan istilah azimat. Ini diperbolehkan apabila penggunaannya bersih dari hal-hal syirik, karena Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memberikan keringanan dalam hal ruqyah ini untuk mengobati penyakit ‘ain atau sengatan hewan berbisa.

Tiwalah (jimat pengasihan) adalah sesuatu yang dibuat dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat menjadikan seorang istri mencintai suaminya, atau seorang suami mencintai istrinya.

Dalam hadis marfū’ dari Abdullah bin 'Ukaim, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang menggantungkan sesuatu (dengan anggapan bahwa barang tersebut bermanfaat atau dapat melindungi dirinya) maka Allah akan menjadikan orang tersebut selalu bergantung kepadanya."(HR. Ahmad dan Tirmizi).Imam Ahmad meriwayatkan dari Ruwaifi' -raḍiyallāhu 'anhu-, ia menuturkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda kepadaku,"Wahai Ruwaifi'! Semoga engkau berumur panjang. Oleh karena itu, sampaikanlah kepada orang-orang bahwa siapa yang menggulung jenggotnya, atau memakai kalung dari tali busur panah, atau bersuci dari buang air dengan kotoran binatang atau tulang, maka sesungguhnya Muhammad berlepas diri dari orang tersebut."

Sa'īd bin Jubair berkata, "Siapa yang memotong jimat dari seseorang maka tindakannya itu sama dengan memerdekakan seorang budak." (HR. Wakī').

Wakī' meriwayatkan pula bahwa Ibrāhim (An-Nakha'iy) berkata, "Dahulu mereka (guru-guru beliau) membenci segala jenis jimat, baik dari ayat-ayat Al-Qur`ān maupun bukan dari ayat-ayat Al-Qur`ān."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Pengertian ruqyah dan tamīmah.Kedua:Pengertian tiwalah.Ketiga:Ketiga hal di atas merupakan bentuk syirik dengan tanpa pengecualian.Keempat:Ruqyah yang benar (yaitu dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur`ān atau doa-doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah) untuk mengobati penyakit ‘ain, sengatan serangga atau yang lainnya, tidak termasuk syirik.Kelima:Jika jimat itu terbuat dari ayat-ayat Al-Qur`ān, maka para ulama berbeda pendapat; apakah ia diperbolehkan atau tidak?Keenam:Mengalungkan tali busur panah pada leher binatang untuk mengusir penyakit ‘ain, termasuk syirik juga.Ketujuh:Ancaman berat bagi orang yang mengalungkan tali busur panah dengan maksud dan tujuan di atas.Kedelapan:Besarnya pahala bagi orang yang memutus jimat dari tubuh seseorang.Kesembilan:Kata-kata Ibrāhim An-Nakha'iy di atas tidaklah bertentangan dengan perbedaan pendapat yang telah disebutkan, sebab yang dimaksud Ibrāhim di sini adalah murid-murid Abdullah bin Mas'ūd.

 Bab Mencari Berkah dari Pepohonan, Bebatuan atau yang Sejenisnya

Firman Allah -Ta'ālā-,"Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lāt dan Al-'Uzzā,serta Manāh, yang ketiga?Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki- laki dan untuk Allah (anak) perempuan?Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang diada-adakan oleh kamu dan bapak-bapak kamu; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaa-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka; padahal telah datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka."(QS. An-Najm: 19-23).Abu Wāqid Al-Laiṡiy berkata, Kami keluar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ke Hunain sementara kami saat itu baru saja meninggalkan kekafiran (masuk Islam). Kaum musyrikin memiliki pohon besar (yang terdapat di pertengahan jalan kami); mereka biasa beriktikaf pada pohon itu dan menggantungkan senjata mereka di atasnya (agar berberkah). Pohon itu mereka namakan Żātu Anwāṭ. Kami lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Buatkanlah kami Żātu Anwāṭ sebagaimana Żātu Anwāṭ kepunyaan mereka." Beliau lantas bersabda,"Allāhu akbar! Sungguh itu tradisi (orang-orang sebelum kalian). Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya! Kalian benar-benar telah mengatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa: 'Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.' Musa menjawab, 'Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengetahui.' (QS. Al-A'rāf: 138). Kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian."(HR. Tirmizi dan beliau mensahihkannya).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surah An-Najm.Kedua:Mengetahui bentuk permintaan mereka.Ketiga:Mereka belum melakukan apa yang mereka minta.Keempat:Mereka melakukan itu semua untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah, karena mereka beranggapan bahwa Allah menyukai perbuatan itu.Kelima:Apabila mereka tidak mengerti hal ini, maka selain mereka lebih tidak mengerti lagi.Keenam:Mereka memiliki kebaikan-kebaikan dan jaminan magfirah (ampunan) yang tidak dimiliki oleh orang-orang selain mereka.Ketujuh:Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak menerima alasan mereka, bahkan menyanggah mereka dengan sabdanya,"Allāhu akbar! Sungguh itu hanya tradisi-tradisi... Kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian."Beliau bersikap keras terhadap permintaan mereka itu dengan ketiga kalimat ini.Kedelapan:Satu hal yang sangat penting adalah pemberitahuan dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa permintaan mereka itu persis seperti permintaan Bani Israel kepada Nabi Musa, "Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan-sesembahan."Kesembilan:Pengingkaran terhadap hal tersebut adalah termasuk di antara makna dan konsekuensi "Lā ilāha illallāh" yang sebenarnya, yang belum dipahami oleh mereka yang baru masuk Islam.Kesepuluh:Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menggunakan sumpah dalam menyampaikan petunjuknya, dan beliau tidak berbuat demikian kecuali untuk kemaslahatan.Kesebelas:Syirik itu ada yang besar dan ada yang kecil, buktinya mereka tidak dianggap murtad dengan permintaannya itu.Kedua belas:Perkataan mereka, "Sementara kami dalam keadaan baru saja meninggalkan kekafiran (masuk Islam)"; menunjukkan bahwa para sahabat lain (yang lebih dahulu masuk Islam) mengerti bahwa perbuatan mereka termasuk syirik.Ketiga belas:Diperbolehkan bertakbir ketika merasa terperanjat, atau mendengar sesuatu yang tidak patut diucapkan dalam agama, ini berlainan dengan pendapat orang yang menganggapnya makruh.Keempat belas:Diperintahkan menutup pintu yang menuju kepada kesyirikan.Kelima belas:Dilarang meniru dan melakukan suatu perbuatan yang menyerupai perbuatan orang-orang jahiliah.Keenam belas:Boleh marah ketika menyampaikan pelajaran.Ketujuh belas:Kaidah umum, bahwa di antara umat ini ada yang mengikuti tradisi-tradisi umat sebelumnya, berdasarkan Sabda Nabi, "Itulah tradisi (orang orang sebelum kamu)."Kedelapan belas:Ini adalah salah satu dari tanda kenabian Nabi Muhammad, karena terjadi sebagaimana yang beliau kabarkan.Kesembilan belas:Celaan Allah yang ditujukan kepada orang Yahudi dan Nasrani yang terdapat dalam Al-Qur`ān berlaku juga untuk kita.Kedua puluh:Sudah menjadi ketentuan umum di kalangan para sahabat, bahwa ibadah itu harus berdasarkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, hadis di atas mengandung suatu isyarat tentang hal-hal yang akan ditanyakan kepada manusia di alam kubur. Adapun pertanyaan, “Siapakah Tuhanmu?" maka sudah jelas; sedangkan pertanyaan, “Siapakah Nabimu?", ini berdasarkan keterangan masalah-masalah gaib yang beliau beritakan akan terjadi; dan “Apakah agamamu?" ini berdasarkan pada ucapan mereka, “Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sesembahan-sesembahan."Kedua puluh satu:Tradisi Ahli Kitab itu tercela seperti tradisinya orang-orang musyrik.Kedua puluh dua:Orang yang baru saja pindah dari tradisi-tradisi batil yang sudah menjadi kebiasaan dalam dirinya, tidak bisa dipastikan secara mutlak bahwa dirinya terbebas dari sisa-sisa tradisi tersebut, sebagai buktinya mereka mengatakan, “Kami baru saja meninggalkan kekafiran (masuk Islam)."

 Bab Menyembelih Binatang Bukan Karena Allah

Firman Allah -Ta'ālā-,"Katakanlah! Bahwa sesungguhnya salatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanya semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam,tiada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)."(QS. Al-An'ām: 162-163).Juga firman-Nya,"Maka dirikanlah salat untuk Rabb-mu, dan sembelihlah kurban (untuk-Nya)."(QS. Al-Kauṡar: 2).Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadaku tentang empat perkara,"Allah melaknat orang-orang yang menyembelih binatang bukan karena Allah, Allah melaknat orang-orang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat orang-orang yang melindungi orang yang berbuat kejahatan, dan Allah melaknat orang-orang yang mengubah tanda batas tanah."(HR. Muslim).Ṭāriq bin Syihāb meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat, dan ada lagi yang masuk neraka karena seekor lalat pula."

Para sahabat bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi, ya Rasulullah?"

Beliau menjawab, “Ada dua orang berjalan melewati sekelompok orang yang memiliki berhala; tidak boleh seorang pun melewatinya kecuali dengan mempersembahkan sembelihan binatang untuknya terlebih dahulu.

Maka mereka berkata kepada salah satu di antara kedua orang tadi, 'Persembahkanlah sesuatu untuknya!'

Ia menjawab, 'Saya tidak mempunyai apa pun untuk saya persembahkan untuknya.'

Mereka berkata lagi, 'Persembahkan untuknya walaupun seekor lalat!' Maka ia pun mempersembahkan untuknya seekor lalat, lalu mereka melepaskannya untuk meneruskan perjalanannya, dan ia pun masuk ke dalam neraka karenanya.

Kemudian mereka berkata lagi kepada yang satunya, 'Persembahkanlah untuknya sesuatu!'

Ia menjawab, "Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apa pun untuk selain Allah.' Lalu mereka pun memenggal lehernya, dan ia pun masuk ke dalam surga."(HR. Ahmad).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Penjelasan tentang makna ayat: "Sesungguhnya salatku dan penyembelihanku ..."Kedua:Penjelasan tentang makna ayat: "Maka dirikanlah salat untuk Rabmu, dan sembelihlah kurban (untuk-Nya)."Ketiga:Orang yang pertama kali dilaknat oleh Allah berdasarkan hadis di atas adalah orang yang menyembelih karena selain Allah.Keempat:Adanya laknat terhadap orang yang melaknat kedua orang tuanya. Hal itu bisa terjadi bila ia melaknat kedua orang tua seseorang, lalu orang tersebut melaknat kedua orang tuanya.Kelima:Adanya laknat terhadap orang yang melindungi pelaku kejahatan, yaitu orang yang memberikan perlindungan kepada seseorang yang melakukan kejahatan yang wajib diterapkan kepadanya hukum Allah. Maka hukum itu akan kembali kepada orang yang melindunginya.Keenam:Adanya laknat terhadap orang yang mengubah tanda batas tanah, yaitu mengubah tanda yang membedakan antara hak milik seseorang dengan hak milik tetangganya, dengan digeser maju atau mundur.Ketujuh:Ada perbedaan antara melaknat orang tertentu dengan melaknat orang-orang ahli maksiat secara umum.Kedelapan:Adanya kisah besar dalam hadis ini, yaitu kisah seekor lalat.Kesembilan:Orang tersebut ke dalam neraka karena mempersembahkan seekor lalat yang ia sendiri tidak sengaja berbuat demikian, tapi ia melakukan hal tersebut untuk melepaskan diri dari perlakuan buruk para pemuja berhala itu.Kesepuluh:Mengetahui besarnya bahaya kesyirikan dalam pandangan orang-orang mukmin; ini terlihat dari ketabahan hatinya dalam menghadapi eksekusi hukuman mati dan penolakannya untuk memenuhi permintaan mereka, padahal mereka tidak meminta kecuali amalan lahiriah saja.Kesebelas:Orang yang masuk neraka dalam hadis ini adalah orang Islam, karena jika ia orang kafir, maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak akan bersabda, "Ia masuk neraka dengan sebab lalat."Kedua belas:Hadis ini merupakan syāhid (penguat) bagi hadis sahih:"Surga itu lebih dekat kepada seseorang di antara kalian daripada tali sandalnya sendiri, dan neraka juga demikian."Ketiga belas:Mengetahui bahwa amalan hati adalah tolok ukur yang sangat penting, walaupun bagi para pemuja berhala.

 Bab Larangan Menyembelih Karena Allah di Tempat Penyembelihan yang Bukan Karena Allah

Firman Allah -Ta'ālā-,"Janganlah kamu dirikan salat di masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Qubā`), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu lakukan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang menyucikan diri."(QS. At-Taubah: 108).Ṡābit bin Aḍ-Ḍaḥḥāk -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Ada seseorang yang bernazar akan menyembelih unta di Buwānah, lalu ia bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang itu. Maka Nabi bertanya,"Apakah di tempat itu ada berhala yang pernah disembah oleh orang-orang Jahiliah?"

Para sahabat menjawab, "Tidak."

Nabi pun bertanya lagi, "Apakah di tempat itu pernah dirayakan hari raya mereka?"

Para sahabat pun menjawab, "Tidak." Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Laksanakan nazarmu itu, karena tidak boleh melaksanakan nazar maksiat kepada Allah, dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam."(HR. Abu Daud, dan sanadnya sesuai syarat Imam Bukhari dan Muslim).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Penjelasan tentang firman Allah: "Janganlah kamu dirikan salat di masjid itu selama-lamanya."Kedua:Kemaksiatan itu bisa berdampak negatif bagi penduduk bumi, sebagaimana ketaatan berdampak positif.Ketiga:Masalah yang masih meragukan hendaknya dikembalikan kepada masalah yang sudah jelas, agar keraguan itu menjadi hilang.Keempat:Seorang mufti boleh mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebelum berfatwa untuk mendapatkan keterangan yang jelas.Kelima:Mengkhususkan tempat untuk bernazar tidak dilarang selama tempat itu bebas dari hal-hal yang terlarang.Keenam:Tidak diperbolehkan mengkhususkan tempat, jika di tempat itu ada berhala-berhala yang pernah disembah pada masa jahiliah, walaupun semuanya sudah dihilangkan.Ketujuh:Tidak diperbolehkan mengkhususkan tempat untuk bernazar, jika tempat itu pernah digunakan untuk melakukan perayaan orang-orang jahiliah, walaupun hal itu sudah tidak dilakukan lagi.Kedelapan:Tidak diperbolehkan melakukan nazar di tempat-tempat tersebut, karena nazar tersebut termasuk kategori nazar maksiat.Kesembilan:Peringatan dari perbuatan yang menyerupai perbuatan orang-orang musyrik dalam acara-acara keagamaan dan perayaan-perayaan mereka, walaupun tidak bermaksud demikian.Kesepuluh:Tidak boleh ada nazar dalam kemaksiatan.Kesebelas:Tidak boleh seseorang bernazar dalam hal yang tidak menjadi hak miliknya.

 Bab Bernazar untuk Selain Allah Adalah Syirik

Firman Allah -Ta'ālā-,"Mereka menepati nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana."(QS. Al-Insān: 7).Juga firman-Nya,"Dan apa pun yang kalian nafkahkan, dan apa pun yang kalian nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."(QS. Al-Baqarah: 270).Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ, diriwayatkan dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang bernazar untuk menaati Allah maka ia wajib menaatinya, dan siapa yang bernazar untuk bermaksiat kepada Allah maka ia tidak boleh bermaksiat kepada-Nya (dengan melaksanakan nazarnya itu)."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Kewajiban memenuhi nazar.Kedua:Apabila sudah menjadi ketetapan bahwa nazar itu ibadah kepada Allah, maka menujukan nazar kepada selain Allah adalah syirik.Ketiga:Dilarang melaksanakan nazar yang maksiat.

 Bab Meminta Perlindungan kepada Selain Allah Adalah Syirik

Firman Allah -Ta'ālā-,"Dan bahwa ada beberapa orang laki-laki dari manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, maka jin-jin itu hanya menambah dosa dan kesalahan."(QS. Al-Jinn: 6).Khaulah binti Ḥakīm berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang singgah di suatu tempat, lalu membaca doa: 'A'ūżu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaqa (Aku berlindung dengan kalam Allah yang sempurna dari kejahatan semua makhluk yang Dia ciptakan)'; maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempatnya itu."(HR. Muslim).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Penjelasan tentang maksud ayat yang ada dalam surah Al-Jinn.Kedua:Meminta perlindungan kepada selain Allah adalah syirik.Ketiga:Hadis tersebut di atas, sebagaimana disimpulkan oleh para ulama, merupakan dalil bahwa kalam Allah itu bukan makhluk, karena meminta perlindungan kepada makhluk itu syirik.Keempat:Doa ini sangat utama walaupun singkat.Kelima:Sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan dunia, baik dengan menolak kejahatan atau mendatangkan keberuntungan, tidak berarti sesuatu itu tidak termasuk syirik.

 Bab Istigasah dan Doa kepada Selain Allah Adalah Syirik

Firman Allah -Ta'ālā-,"Dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu; jika kamu berbuat hal itu maka sesungguhnya kamu dengan demikian termasuk orang-orang yang zalim (musyrik).Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS. Yūnus: 106-107).Juga firman-Nya,"Maka mintalah rezeki itu kepada Allah dan sembahlah Dia (saja) serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu sekalian dikembalikan."(QS. Al-'Ankabūt: 17).Juga firman-Nya,"Dan tiada yang lebih sesat daripada orang yang memohon kepada sesembahan-sesembahan selain Allah, yang tiada dapat mengabulkan permohonannya sampai hari Kiamat dan sembahan-sembahan itu lalai dari (memperhatikan) permohonan mereka.Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan mereka."(QS. Al-Aḥqāf: 5-6).Juga firman-Nya,"Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang-orang yang dalam kesulitan di saat ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kamu sekalian menjadi khalifah di bumi? Adakah sesembahan (yang hak) selain Allah?!"(QS. An-Naml: 62).Imam Aṭ-Ṭabarāniy -dengan menyebutkan sanadnya- meriwayatkan, Pernah ada pada zaman Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seorang munafik yang selalu menyakiti orang-orang mukmin, maka salah seorang di antara orang mukmin berkata, “Marilah kita bersama-sama beristigasah (memohon perlindungan) kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- supaya dihindarkan dari tindakan buruk orang munafik ini.” Ketika itu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab,"Sesungguhnya aku tidak boleh dimintai perlindungan, hanya Allah sajalah yang boleh dimintai perlindungan."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Penyebutan lafal doa setelah istigasah merupakan bentuk penyebutan kata yang umum setelah yang khusus; karena doa lebih umum maknanya daripada istigasah.Kedua:Penjelasan tentang ayat: "Dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu."Ketiga:Meminta perlindungan kepada selain Allah adalah syirik besar.Keempat:Orang yang paling saleh sekali pun jika melakukan perbuatan ini untuk mengambil hati orang lain, maka ia termasuk golongan orang-orang yang zalim (musyrik).Kelima:Penjelasan tentang ayat yang kedua.Keenam:Meminta perlindungan kepada selain Allah tidak dapat mendatangkan manfaat duniawi, di samping perbuatan itu termasuk perbuatan kafir.Ketujuh:Penjelasan tentang ayat yang ketiga.Kedelapan:Meminta rezeki itu hanya kepada Allah, sebagaimana halnya meminta surga hanya kepada-Nya.Kesembilan:Penjelasan tentang ayat yang keempat.Kesepuluh:Tidak ada orang yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah.Kesebelas:Sesembahan selain Allah tidak merasa dan tidak tahu kalau ada orang yang memohon kepadanya.Kedua belas:Sesembahan selain Allah akan benci dan marah kepada orang yang memohon kepadanya pada hari Kiamat.Ketiga belas:Permohonan ini dianggap ibadah kepada sesembahan selain Allah.Keempat belas:Pada hari Kiamat, sesembahan selain Allah itu akan mengingkari ibadah yang ditujukan kepada mereka.Kelima belas:Permohonan kepada selain Allah inilah yang menyebabkan seseorang menjadi orang yang paling sesat.Keenam belas:Penjelasan tentang ayat yang kelima.Ketujuh belas:Satu hal yang sangat mengherankan adalah adanya pengakuan dari para penyembah berhala bahwa tidak ada yang dapat mengabulkan permohonan orang yang berada dalam kesulitan kecuali Allah. Sebab itu, ketika mereka berada dalam keadaan sulit dan terjepit, mereka memohon kepada-Nya dengan ikhlas dan memurnikan ketaatan untuk-Nya.Kedelapan belas:Hadis di atas menunjukkan tindakan preventif yang dilakukan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk melindungi ketauhidan, dan etika sopan santun beliau kepada Allah.Bab Firman Allah -Ta'ālā-,"Apakah mereka mempersekutukan (Allah) dengan berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun?!Sedangkan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada mereka, dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan."(QS. Al-A'rāf: 191-192).Firman-Nya:"Dan sesembahan-sesembahan yang kalian memohon kepadanya selain Allah, tidak memiliki apa-apa walaupun setipis kulit ari.Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak akan mendengar seruanmu itu; kalau pun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu; dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kesyirikanmu, dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui."(QS.Fāṭir: 13-14).Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ, diriwayatkan dari Anas bin Mālik, ia berkata,Ketika perang Uhud Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terluka kepalanya, dan pecah gigi gerahamnya, maka beliau bersabda, “Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melukai Nabinya?!"Kemudian turunlah ayat: "Tak ada hak apa pun bagimu dalam urusan mereka itu."(QS. Āli 'Imrān: 28).Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ juga, diriwayatkan dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwa ia mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca doa ketika beliau berdiri dari rukuk pada rakaat yang terakhir dalam salat Subuh,"Allāhumma il'an fulānan wa fulānan (Ya Allah! Laknatilah si polan dan si polan)."Itu beliau baca setelah membaca, "Sami'allāhu li man ḥamidah, rabbanā walakal-ḥamdu." Setelah itu turunlah firman Allah:"Tak ada hak apa pun bagimu dalam urusan mereka itu."(QS. Āli 'Imrān: 28).Dalam riwayat yang lain: Beliau mendoakan kebinasaan atas Ṣafwān bin Umayyah, Suhail bin 'Amr, dan Al-Ḥāriṡ bin Hisyām. Maka turunlah ayat:"Tak ada hak apa pun bagimu dalam urusan mereka itu."(QS. Āli 'Imrān: 28).Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ juga, diriwayatkan dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Ketika diturunkan kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- firman Allah: "Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat." (QS. Asy-Syu'arā`: 214). Lantas beliau berdiri dan bersabda,"Wahai kaum Quraisy! Tebuslah diri kamu sekalian (dari siksa Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya). Sedikit pun aku tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan Allah untuk kalian. Wahai 'Abbās bin 'Abdul-Muṭṭalib! Sedikit pun aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu di hadapan Allah. Wahai Ṣafiyyah, bibi Rasulullah! Sedikit pun aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu di hadapan Allah nanti. Wahai Fāṭimah binti Rasulullah! Mintalah kepadaku apa saja yang kau kehendaki, tapi sedikit pun aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu di hadapan Allah nanti."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Penjelasan tentang kedua ayat tersebut di atas.Kedua:Kisah perang Uhud.Ketiga:Rasulullah, pemimpin para rasul, dalam salat Subuh telah membaca kunut sedang para sahabat di belakangnya mengamini.Keempat:Orang-orang yang beliau doakan agar Allah membinasakan mereka adalah orang-orang kafir.Kelima:Mereka telah melakukan perbuatan yang tidak dilakukan oleh orang-orang kafir yang lain, antara lain melukai kepala Rasulullah, berupaya untuk membunuh beliau, serta mengoyak-koyak tubuh para korban yang terbunuh, padahal yang terbunuh itu adalah sanak famili mereka.Keenam:Dalam peristiwa itulah Allah menurunkan firman-Nya kepada beliau: "Tak ada hak apa pun bagimu dalam urusan mereka itu."Ketujuh:Firman Allah, "Atau Dia menerima tobat mereka, atau menyiksa mereka", terbukti di kemudian hari ketika Allah menerima tobat sebagian mereka; dengan masuknya mereka ke dalam agama Islam, dan menjadi orang-orang yang beriman.Kedelapan:Dianjurkannya melakukan kunut nazilah.Kesembilan:Boleh menyebutkan nama orang-orang yang didoakan kebinasaan beserta nama orang tua mereka dalam salat.Kesepuluh:Boleh melaknat orang kafir tertentu di dalam kunut.Kesebelas:Kisah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika diturunkan kepada beliau firman Allah,"Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat."Kedua belas:Kesungguhan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam hal ini, sehingga beliau melakukan sesuatu yang menyebabkan dirinya dituduh gila; ini sama halnya apabila dilakukan oleh orang mukmin pada masa sekarang.Ketiga belas:Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memperingatkan keluarganya yang paling jauh kemudian yang terdekat dengan sabdanya, "Sedikit pun aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu di hadapan Allah nanti ..."Sampai beliau bersabda, "Wahai Fāṭimah putri Muhammad! Aku tidak bisa berbuat apa pun untukmu di hadapan Allah nanti."

Jika (kita telah mengetahui) beliau sebagai pemimpin para rasul telah berterus-terang tidak bisa membela putrinya sendiri yang merupakan pemimpin kaum wanita di jagat raya ini, dan kita juga mengimani bahwa apa yang beliau katakan itu benar; lalu kita membandingkannya dengan apa yang terjadi pada diri kaum khawāṣ (para tokoh yang dikultuskan) dewasa ini, maka akan tampak bagi kita, bahwa tauhid ini sudah ditinggalkan, dan tuntunan agama sudah menjadi asing.

 Bab Firman Allah -Ta'ālā-, "Sehingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka (para malaikat), mereka berkata, 'Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Perkataan yang benar, dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.'" (QS. Saba`: 23).

Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ, Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Apabila Allah menetapkan suatu perintah di atas langit, para malaikat mengibas-ngibaskan sayapnya, karena patuh akan firman-Nya, seolah-olah firman yang didengarnya itu bagaikan gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal ini memekakkan mereka (sehingga jatuh pingsan karena ketakutan); [Sehingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata, 'Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Perkataan yang benar, dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar]. Ketika itulah (setan-setan) pencuri berita mendengarnya, pencuri berita itu sebagian di atas sebagian yang lain -Sufyān bin 'Uyainah (perawi) sambil mencontohkan dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari-jemarinya- ketika mereka (penyadap berita) mendengar berita itu, disampaikanlah kepada yang ada di bawahnya, dan seterusnya, sampai ke tukang sihir dan tukang ramal. Tapi kadang-kadang setan pencuri berita itu terkena syihāb (lemparan bintang, meteor) sebelum sempat menyampaikan berita itu, dan kadang-kadang sudah sempat menyampaikan berita sebelum terkena syihāb. Kemudian dengan satu kalimat yang didengarnya itulah tukang sihir dan tukang ramal itu melakukan seratus macam kebohongan, mereka mendatangi tukang sihir dan tukang ramal seraya berkata, 'Bukankah ia telah memberi tahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu (dan itu terjadi benar)?!' Sehingga ia dipercayai dengan sebab kalimat yang didengarnya dari langit tersebut."An-Nawwās bin Sam'ān -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Apabila Allah -Ta'ālā- hendak mewahyukan perintah-Nya, maka Dia firmankan wahyu tersebut, dan langit-langit bergetar dengan kerasnya karena takut kepada Allah -'Azza wa Jalla-. Ketika para malaikat mendengar firman tersebut mereka jatuh pingsan dan bersujud, dan di antara mereka yang pertama kali bangun adalah Jibril, lalu Allah sampaikan wahyu yang Ia kehendaki kepada Jibril. Kemudian Jibril melewati para malaikat, setiap ia melewati langit maka para penghuninya bertanya kepadanya, 'Wahai Jibril! Apa yang telah Allah firmankan kepadamu?'

Jibril menjawab, 'Dia firmankan yang benar, dan Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar.' Seluruh malaikat yang ia lewati bertanya kepadanya seperti pertanyaan pertama sampai Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai dengan yang telah diperintahkan oleh Allah -'Azza wa Jalla- kepadanya."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Penjelasan tentang ayat yang telah disebutkan di atas.Kedua:Ayat tersebut mengandung argumentasi yang memperkuat kebatilan syirik, khususnya yang berkaitan dengan orang-orang saleh, dan ayat itu juga memutuskan akar-akar pohon syirik yang ada dalam hati seseorang.Ketiga:Penjelasan tentang firman Allah,"Mereka berkata, 'Perkataan yang benar dan Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar.'"Keempat:Menerangkan tentang sebab pertanyaan para malaikat tentang wahyu yang difirmankan Allah.Kelima:Jibril kemudian menjawab pertanyaan mereka dengan perkataan, "Dia firmankan anu dan anu."Keenam:Menyebutkan bahwa malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril.Ketujuh:Jibril memberikan jawaban tersebut kepada seluruh malaikat penghuni langit, karena mereka semua bertanya kepadanya.Kedelapan:Semua malaikat penghuni langit jatuh pingsan ketika mendengar firman Allah.Kesembilan:Langit pun bergetar keras ketika mendengar firman Allah itu.Kesepuluh:Jibril adalah malaikat yang menyampaikan wahyu ke tujuan yang telah diperintahkan Allah kepadanya.Kesebelas:Hadis di atas menyebutkan tentang adanya setan-setan yang mencuri berita wahyu.Kedua belas:Cara mereka mencuri berita, sebagian mereka naik di atas sebagian yang lain.Ketiga belas:Peluncuran syihāb (lemparan bintang) untuk menembak jatuh setan-setan pencuri berita.Keempat belas:Adakalanya setan pencuri berita itu terkena syihāb sebelum sempat menyampaikan berita yang didengarnya,

dan adakalanya sudah sempat menyampaikan berita ke telinga manusia yang menjadi abdinya sebelum terkena syihāb.

Kelima belas:Adakalanya ramalan tukang ramal itu benar.Keenam belas:Dengan berita yang diterimanya, ia melakukan seratus macam kebohongan.Ketujuh belas:Kebohongannya tidak akan dipercaya kecuali karena adanya berita dari langit (melalui setan penyadap berita).Kedelapan belas:Kecenderungan manusia untuk menerima suatu kebatilan. Ini tampak dari sikap mereka yang bersandar hanya pada satu kebenaran yang diucapkan oleh tukang ramal, tanpa memperhitungkan atau mempertimbangkan seratus kebohongan yang disampaikannya.Kesembilan belas:Satu kebenaran tersebut beredar luas dari sebagian mereka ke sebagian yang lain,

bahkan mereka menghafal dan menjadikannya sebagai bukti bahwa apa yang dikatakan oleh tukang ramal itu benar.

Kedua puluh:Menetapkan sifat sifat Allah (seperti yang terkandung dalam hadis di atas), berbeda dengan paham Asy'ariyyah yang mengingkarinya.Kedua puluh satu:Penjelasan bahwa bergetarnya langit dan pingsannya para malaikat itu;

karena adanya rasa takut mereka kepada Allah.

Kedua puluh dua:Para malaikat pun bersujud kepada Allah.

 Bab Syafaat

Firman Allah -'Azza wa Jalla-,"Dan berilah peringatan dengan apa yang telah diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dikumpulkan kepada Rabb mereka (pada hari Kiamat), sedang mereka tidaklah mempunyai seorang pelindung dan pemberi syafaat pun selain Allah, agar mereka bertakwa."(QS. Al-An'ām: 51).Juga firman-Nya,"Katakanlah (hai Muhammad), 'Hanya milik Allahlah syafaat itu semuanya.'"(QS. Az-Zumar: 44).Juga firman-Nya,"Tiada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizin-Nya."(QS. Al-Baqarah: 255).Juga firman-Nya,"Dan berapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengizinkan (untuk diberi syafaat) bagi siapa saja yang dikehendaki dan diridai-Nya."(QS. An-Najm: 26).Juga firman-Nya,"Katakanlah, 'Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tak memiliki kekuasaan seberat zarah pun di langit maupun di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu andil apa pun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sama sekali tidak ada di antara mereka menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, kecuali bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat itu.'"(QS. Saba`: 22-23).Abul-'Abbās berkata,"Allah telah menyangkal segala hal yang menjadi tumpuan kaum musyrikin, selain diri-Nya sendiri, dengan menyatakan bahwa tidak ada seorang pun selain-Nya yang memiliki kekuasaan, atau sebagiannya, atau menjadi pembantu Allah. Adapun tentang syafaat, maka telah ditegaskan oleh Allah bahwa syafaat ini tidak berguna kecuali bagi orang yang telah diizinkan untuk memperolehnya, sebagaimana firman-Nya,"Dan mereka tidak dapat memberi syafaat, kecuali kepada orang yang diridai Allah."(QS. Al-Anbiyā`: 28).

Syafaat yang diperkirakan oleh orang-orang musyrik itu tidak akan ada pada hari Kiamat; sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Al-Qur`ān dan diberitakan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-,

"Beliau (pada hari Kiamat) akan datang lalu bersujud kepada Allah dan menghaturkan segala pujian kepada-Nya -yakni beliau tidak memberi syafaat terlebih dahulu-. Setelah itu baru dikatakan kepada beliau, 'Angkatlah kepalamu, berbicaralah niscaya ucapanmu pasti akan didengar, dan mintalah niscaya permintaanmu akan dikabulkan, dan berilah syafaat niscaya syafaatmu akan diterima.'"

Abu Hurairah bertanya kepada beliau, “Siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafaatmu?" Beliau menjawab,"Yaitu orang yang mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dengan ikhlas dari dalam hatinya."

Syafaat yang ditetapkan ini diperuntukkan kepada orang-orang yang memurnikan tauhid dan keikhlasan dengan seizin Allah; bukan untuk orang yang menyekutukan Allah dengan yang lain-Nya.

Pada hakikatnya, bahwa hanya Allahlah yang melimpahkan karunia-Nya kepada orang-orang yang memurnikan tauhid dan keikhlasan tersebut, dengan memberikan ampunan kepada mereka dengan sebab doanya orang yang telah diizinkan oleh Allah untuk memberi syafaat; untuk memuliakannya dan menempatkannya di tempat yang terpuji.

Jadi, syafaat yang ditiadakan oleh Al-Qur`ān adalah yang di dalamnya terdapat kesyirikan. Untuk itu, Al-Qur`ān telah menetapkan dalam beberapa ayatnya bahwa syafaat itu hanya ada dengan izin Allah. Bahkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun sudah menjelaskan bahwa syafaat itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertauhid dan ikhlas karena Allah semata.”Selesai.

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir ayat-ayat di atas.Kedua:Syafaat yang dinafikan adalah syafaat yang di dalamnya terdapat unsur-unsur kesyirikan.Ketiga:Penjelasan tentang kriteria syafaat yang ditetapkan (yaitu untuk orang-orang yang bertauhid dengan ikhlas, dan dengan izin Allah).Keempat:Penjelasan tentang adanya syafaat besar,

yaitu: Al-Maqām Al-Maḥmūd (kedudukan yang terpuji).

Kelima:Cara yang dilakukan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika hendak mendapatkan syafaat, beliau tidak langsung memberi syafaat, tapi beliau mulai dengan bersujud kepada Allah.

Kemudian setelah diizinkan oleh Allah barulah beliau memberi syafaat.

Keenam:Adanya pertanyaan: “Siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafaat beliau?"Ketujuh:Syafaat itu tidak diberikan kepada orang yang menyekutukan Allah.Kedelapan:Penjelasan tentang hakikat syafaat yang sebenarnya.Bab Firman Allah -Ta'ālā-,"Sesungguhnya kamu (hai Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."(QS. Al-Qaṣaṣ: 56).Dalam -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; dari Ibnu Al-Musayyib, dari ayahnya, ia berkata, Ketika Abu Ṭālib akan meninggal dunia, maka datanglah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan pada saat itu Abdullah bin Abi Umayyah, dan Abu Jahal ada di sisinya. Lalu Rasulullah bersabda kepadanya,"Wahai pamanku! Ucapkanlah 'Lā ilāha illallāh'; kalimat yang dapat aku jadikan bukti untukmu di hadapan Allah."

Tetapi Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Jahal berkata kepada Abu Ṭālib, “Apakah kamu akan membenci agama 'Abdul-Muṭṭalib?"

Kemudian Nabi mengulangi sabdanya lagi, dan mereka berdua pun mengulangi kata-katanya pula. Maka ucapan terakhir yang dikatakan oleh Abu Ṭālib adalah bahwa ia tetap masih berada pada agamanya 'Abdul-Muṭṭalib, dan dia menolak untuk mengucapkan kalimat: 'Lā ilāha illallāh'.

Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sungguh akan aku mintakan ampun untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang."

Lalu Allah menurunkan firman-Nya,"Tidak layak bagi seorang Nabi serta orang-orang yang beriman memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahīm."(QS. At-Taubah: 113).Dan yang berkaitan dengan Abu Ṭālib, Allah menurunkan firman-Nya,"Sesungguhnya kamu (hai Muhammad) tak sanggup memberikan hidayah (petunjuk) kepada orang-orang yang kamu cintai, akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya."(QS. Al-Qaṣaṣ: 56).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir firman Allah, "Sesungguhnya kamu (hai Muhammad) tak sanggup memberikan hidayah (petunjuk) kepada orang-orang yang kamu cintai, akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya."Kedua:Tafsir firman Allah, "Tidak layak bagi seorang Nabi serta orang-orang yang beriman memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik."Ketiga:Masalah yang sangat penting, yaitu tafsir sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, “Ucapkanlah kalima Lā ilāha illallāh", berbeda dengan apa yang dipahami oleh orang-orang yang mengaku dirinya berilmu.Keempat:Abu Jahal dan kawan-kawannya mengerti maksud Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika beliau menyeru, “Ucapkanlah kalimat Lā ilāha illallāh”. Oleh karena itu, celakalah orang yang pemahamannya tentang asas utama Islam ini lebih rendah daripada Abu Jahal.Kelima:Kesungguhan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam berupaya untuk mengislamkan pamannya.Keenam:Bantahan terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa 'Abdul-Muṭṭalib dan leluhurnya itu beragama Islam.Ketujuh:Permintaan ampun Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk Abu Ṭālib tidak di kabulkan, bahkan beliau dilarang memintakan ampun untuknya.Kedelapan:Bahaya berkawan dengan orang-orang berpemikiran dan berperilaku jahat.Kesembilan:Bahaya mengagung-agungkan para leluhur dan orang-orang terkemuka.Kesepuluh:“Nama besar” inilah yang dijadikan oleh orang-orang jahiliah sebagai dalil kebenaran yang mereka klaim; sebagaimana dijadikan Abu Jahal sebagai dalil.Kesebelas:Hadis di atas mengandung bukti bahwa amalan seseorang itu tergantung di akhir hidupnya; sebab jika Abu Ṭālib mau mengucapkan kalimat tauhid, maka pasti akan berguna bagi dirinya di hadapan Allah.Kedua belas:Perlu direnungkan, betapa besarnya syubhat kesyirikan dalam hati orang-orang yang sesat itu; sebab dalam kisah di atas disebutkan bahwa mereka tidak mendebat Abu Ṭālib kecuali supaya menolak untuk mengucapkan kalimat tauhid, padahal Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sudah berusaha semaksimal mungkin, dan berulang kali memintanya untuk mengucapkannya. Dan karena kalimat tauhid itu memiliki makna yang jelas dan konsekuensi yang besar, maka cukuplah bagi mereka dengan menolak untuk mengucapkannya.

 Bab Penyebab Utama Kekafiran Adalah Berlebih-Lebihan dalam Mengagungkan Orang-orang Saleh

Firman Allah -'Azza wa Jalla-,"Wahai Ahli Kitab! Janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sungguh, Almasih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya."(QS. An-Nisā`: 171).Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ; Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- menjelaskan tentang firman Allah:"Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata, 'Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu, dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwā’, Yagūṡ, Ya`ūq, dan Nasr.'"(QS. Nūh: 23).

Beliau (Ibnu 'Abbās) mengatakan, "Ini adalah nama orang-orang saleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaum mereka agar membuat patung-patung mereka di tempat-tempat majelis mereka saat mereka masih hidup, dan menamai patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka. Lalu mereka pun melakukan apa yang dibisikkan setan tersebut. Pada awalnya, patung-patung yang mereka buat belum dijadikan sesembahan, namun setelah para pembuat patung itu meninggal, dan ilmu agama dilupakan, mulai saat itulah patung-patung tersebut disembah."

Ibnul-Qayyīm berkata,"Para ulama salaf mengatakan, 'Setelah mereka itu meninggal, banyak orang yang berbondong-bondong mendatangi kuburan mereka, lalu mereka membuat patung-patung mereka, kemudian setelah waktu berjalan beberapa lama akhirnya patung-patung tersebut dijadikan sesembahan."Umar -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya." (HR. Bukhari dan Muslim).Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian."Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan!"Beliau mengulanginya tiga kali.

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Orang yang memahami bab ini dan dua bab setelahnya, akan jelas baginya tentang keterasingan Islam,

dan ia akan melihat betapa kuasanya Allah itu untuk mengubah hati manusia.

Kedua:Mengetahui bahwa awal munculnya kesyirikan di muka bumi ini adalah karena sikap berlebih-lebihan dalam mengultuskan orang-orang saleh.Ketiga:Mengetahui apa yang pertama kali diperbuat oleh manusia sehingga ajaran para Nabi menjadi berubah, dan apa faktor penyebabnya? Padahal mereka mengetahui bahwa para Nabi itu adalah utusan Allah.Keempat:Mengetahui sebab-sebab diterimanya bidah (oleh manusia), padahal syariat dan fitrah manusia menolaknya.Kelima:Faktor yang menyebabkan terjadinya hal di atas adalah bercampurnya kebenaran dengan kebatilan:

- Adapun yang pertama (kebenaran) ialah: rasa cinta kepada orang-orang saleh.

- Sedang yang kedua (kebatilan) ialah: tindakan yang dilakukan oleh orang-orang alim yang ahli dalam masalah agama, dengan maksud untuk suatu kebaikan, tetapi orang-orang yang hidup sesudah mereka menduga bahwa apa yang mereka maksudkan bukanlah hal itu.

Keenam:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Nūh.Ketujuh:Mengetahui watak manusia bahwa kebenaran yang ada pada dirinya bisa berkurang, dan kebatilan malah bisa bertambah.Kedelapan:Bab ini mengandung suatu bukti tentang kebenaran pernyataan ulama salaf bahwa bidah adalah penyebab kekafiran.Kesembilan:Setan mengetahui dampak yang diakibatkan oleh bidah, walaupun maksud pelakunya baik.Kesepuluh:Mengetahui kaidah umum, yaitu bahwa sikap berlebih-lebihan dalam agama itu dilarang, dan mengetahui pula dampak negatifnya.Kesebelas:Bahaya dari tindakan iktikaf di kuburan dengan niat untuk suatu amal saleh.Kedua belas:Mengetahui larangan adanya patung-patung, dan hikmah dibalik perintah menghancurkannya (yaitu: untuk menjaga kemurnian tauhid dan mengikis kesyirikan).Ketiga belas:Mengetahui besarnya kedudukan kisah kaum nabi Nuh ini, dan manusia sangat memerlukan akan hal ini, walaupun banyak di antara mereka yang telah melupakannya.Keempat belas:Satu hal yang sangat mengherankan, bahwa mereka (para ahli bidah) telah membaca dan memahami kisah ini, baik lewat kitab-kitab tafsir maupun hadis, tapi Allah menutup hati mereka, sehingga mereka mempunyai keyakinan bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh adalah amal ibadah yang paling utama, dan mereka pun beranggapan bahwa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya hanyalah kekafiran yang menghalalkan darah dan harta.Kelima belas:Dinyatakan bahwa tujuan mereka berlebih-lebihan terhadap orang- orang saleh tersebut adalah demi mengharapkan syafaat mereka.Keenam belas:Mereka menduga bahwa orang-orang berilmu yang membuat patung itu bermaksud demikian.Ketujuh belas:Pernyataan yang sangat penting yang termuat dalam sabda Nabi, “Janganlah kalian memujiku dengan berlebih-lebihan, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam”. Semoga selawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada beliau yang telah menyampaikan risalah dengan sebenar-benarnya.Kedelapan belas:Ketulusan hati beliau kepada kita dengan memberikan nasihat bahwa orang-orang yang berlebih-lebihan itu akan binasa.Kesembilan belas:Pernyataan bahwa patung-patung itu tidak disembah kecuali setelah ilmu agama dilupakan. Dengan demikian dapat diketahui nilai keberadaan ilmu ini dan bahayanya jika hilang.Kedua puluh:Penyebab hilangnya ilmu agama adalah meninggalnya para ulama.

 Bab Larangan Beribadah kepada Allah di Sisi Kuburan Orang-orang Saleh, Apalagi Sampai Menyembahnya

Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ; Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- bercerita kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang gereja yang ia lihat di negeri Habasyah (Ethiopia), yang di dalamnya terdapat gambar-gambar (atau patung-patung), maka Rasulullah bersabda,"Mereka itu, apabila ada orang yang saleh atau hamba yang saleh meninggal, mereka bangun di atas kuburannya sebuah tempat ibadah, dan mereka membuat di dalamnya patung-patung tersebut, dan mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah."

Mereka dicap sebagai sejelek-jelek makhluk karena melakukan dua fitnah sekaligus; yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah di atasnya dan fitnah membuat patung-patung.

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Aisyah juga berkata, Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- akan diambil nyawanya, beliau pun segera menutup mukanya dengan kain, dan ketika napasnya terasa sesak maka dibukanya kembali kain itu. Ketika beliau dalam keadaan demikian itulah beliau bersabda,"Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani; karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat peribadatan."Beliau mengingatkan umatnya agar menjauhi perbuatan mereka, dan jika bukan karena hal itu, maka pasti kuburan beliau akan ditampakkan, hanya saja beliau khawatir kalau kuburannya nanti dijadikan tempat peribadatan.(HR. Bukhari dan Muslim).Imam Muslim meriwayatkan dari Jundub bin Abdullah, ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda lima hari sebelum beliau meninggal dunia,"Sungguh, aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalīl (kekasih mulia) dari kalian, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Ia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku menjadikan seorang kekasih dari umatku, maka aku akan jadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kalian telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah, dan ingatlah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah, karena aku benar-benar melarang kalian dari perbuatan itu."Di akhir hayatnya, Nabi melarang perbuatan tersebut, dan beliau melaknat -sebagaimana dalam hadis Aisyah- orang yang melakukan perbuatan itu. Dan salat di kuburan termasuk pula dalam pengertian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, walaupun tidak dibangunkan padanya masjid;inilah maksud dari kata-kata Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah."Dan para sahabat pun belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) di sekitar kuburan beliau, karena setiap tempat yang digunakan untuk salat berarti telah dijadikan sebagai masjid, bahkan setiap tempat yang dipergunakan untuk salat disebut masjid, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-,"Telah dijadikan bumi ini untukku sebagai masjid dan alat bersuci."Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis marfū’ dengan sanad jayyid, dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-,"Sesungguhnya, termasuk sejelek-jelek manusia adalah orang yang masih hidup saat hari Kiamat tiba, dan orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah."(HR. Abu Ḥātim ibnu Ḥibbān dalam Ṣaḥīḥ-nya).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Larangan membangun tempat beribadah (masjid) di sisi kuburan orang-orang yang saleh, walaupun niatnya baik.Kedua:Larangan keras adanya patung-patung dalam tempat ibadah.Ketiga:Pelajaran penting yang dapat kita ambil dari sikap keras Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam masalah ini adalah bagaimana beliau menjelaskan terlebih dahulu kepada para sahabat, bahwa orang yang membangun tempat ibadah di sekitar kuburan orang saleh termasuk sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah; kemudian, lima hari sebelum wafat, beliau mengeluarkan pernyataan yang melarang umatnya menjadikan kuburan-kuburan sebagai tempat ibadah; terakhir, beberapa saat menjelang wafatnya, beliau masih merasa belum cukup dengan tindakan-tindakan yang telah diambilnya, sehingga beliau menambahnya dengan melaknat orang-orang yang melakukan perbuatan ini.Keempat:Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang pula perbuatan tersebut dilakukan di sisi kuburan beliau, walaupun kuburan beliau sendiri belum ada.Kelima:Menjadikan kuburan nabi-nabi sebagai tempat ibadah merupakan tradisi orang-orang Yahudi dan Nasrani.Keenam:Rasulullah melaknat mereka karena perbuatan mereka sendiri.Ketujuh:Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaknat mereka dengan tujuan memberikan peringatan kepada kita agar tidak berbuat hal yang sama terhadap kuburan beliau.Kedelapan:Alasan tidak ditampakkannya kuburan beliau (yaitu: agar tidak dijadikan sebagai tempat ibadah).Kesembilan:Penjelasan makna “menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah” (yaitu: melakukan suatu ibadah, seperti: salat di sisi kuburan, meskipun tidak dibangun di atasnya sebuah tempat ibadah).Kesepuluh:Rasulullah menggabungkan penyebutan antara orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah

dengan orang yang masih hidup di saat hari Kiamat tiba; dalam rangka memberikan peringatan pada umatnya tentang perbuatan yang menghantarkan kepada kesyirikan sebelum terjadi, di samping mengingatkan pula bahwa akhir kehidupan dunia adalah merajalelanya kesyirikan.

Kesebelas:Khotbah beliau yang disampaikan lima hari sebelum wafatnya mengandung sanggahan terhadap dua kelompok yang kedua-duanya termasuk sejelek-jelek ahli bidah.

Bahkan sebagian ulama salaf menyatakan bahwa keduanya di luar 72 golongan yang ada dalam umat Islam, yaitu Rāfiḍah dan Jahmiyyah. Sebab munculnya kesyirikan dan terjadinya penyembahan kuburan adalah orang-orang Rāfiḍah; merekalah orang pertama yang membangun tempat ibadah di atas kuburan.

Kedua belas:Penjelasan tentang kerasnya sakaratul-maut yang dirasakan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.Ketiga belas:Beliau dimuliakan oleh Allah dengan dijadikan sebagai kekasih (khalīl) Allah.Keempat belas:Pernyataan bahwa khalīl itu lebih tinggi derajatnya dari pada ḥabīb (kekasih).Kelima belas:Pernyataan bahwa Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- adalah sahabat Nabi yang paling mulia.Keenam belas:Hal tersebut merupakan isyarat bahwa Abu Bakar akan menjadi khalifah sepeninggal beliau.

 Bab Berlebih-lebihan terhadap Kuburan Orang-orang Saleh Menjadi Penyebab Dijadikannya Sesembahan Selain Allah

Imam Malik meriwayatkan dalam kitabnya Al Muwaṭṭa` bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Allah sangat murka kepada orang-orang yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah."Ibnu Jarīr meriwayatkan dengan sanadnya dari Sufyān, dari Manṣūr, dari Mujāhid, berkaitan dengan ayat:"Jelaskan kepadaku (wahai kaum musyrikin) tentang (berhala yang kamu anggap sebagai anak perempuan Allah) Al-Lāta dan al-'Uzzā."(QS. An-Najm: 19).Ia (Mujahid) berkata, "(Al-Lāta) adalah orang yang dahulunya tukang mengaduk tepung, kemudian dia meninggal, maka mereka pun senantiasa mendatangi kuburannya."

Demikian pula penafsiran Ibnu 'Abbās sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnul-Jauzā`, "Dia itu pada mulanya adalah tukang mengaduk tepung untuk para jemaah haji."

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata,"Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaknat kaum wanita yang menziarahi kuburan, serta orang-orang yang membuat tempat ibadah dan memberi lampu penerang di atas kuburannya."(HR. Ahl As-Sunan).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan berhala.Kedua:Penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan ibadah.Ketiga:Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan doanya itu tiada lain hanyalah memohon kepada Allah supaya dihindarkan dari sesuatu yang dikhawatirkan terjadi pada umatnya.Keempat:Dalam doanya, beliau sertakan pula apa yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu dengan menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat beribadah.Kelima:Penjelasan bahwa Allah sangat murka terhadap orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.Keenam:Di antara masalah yang sangat penting untuk dijelaskan dalam bab ini adalah mengetahui sejarah penyembahan Al-Lāta yang merupakan berhala terbesar orang-orang jahiliah.Ketujuh:Mengetahui bahwa berhala itu asal usulnya adalah kuburan orang saleh.Kedelapan:Al-Lāta adalah nama orang yang dikuburkan itu, pada mulanya adalah seorang pengaduk tepung untuk disajikan kepada para jemaah haji.Kesembilan:Rasulullah melaknat para wanita penziarah kubur.Kesepuluh:Beliau juga melaknat orang-orang yang memberikan lampu penerang di atas kuburan.

 Bab Upaya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam Menjaga Tauhid dan Menutup Jalan yang Menuju kepada Kesyirikan

Firman Allah -Ta'ālā-,"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) untukmu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang orang mukmin."(QS. At-Taubah: 128).Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, dan janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, serta ucapkanlah selawat untukku, karena sesungguhnya ucapan selawat kalian akan sampai kepadaku di mana saja kalian berada."(HR. Abu Daud dengan sanad hasan, dan para perawinya ṡiqāt).Ali bin Al-Ḥusain meriwayatkan, bahwa ia melihat seseorang masuk ke dalam celah yang ada pada kuburan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, kemudian berdoa, maka ia pun melarangnya seraya berkata kepadanya, “Maukah kamu aku beritahu sebuah hadis yang aku dengar dari bapakku, dari kakekku, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, dan ucapkanlah doa salam untukku, karena doa salam kalian akan sampai kepadaku dari mana saja kalian berada."(HR. Aḍ-Ḍiyā` dalam kitab Al Mukhtārah).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surah Barā`ah.Kedua:Rasulullah telah memperingatkan umatnya dan berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menjauhkan umatnya dari jalan yang menuju kepada kesyirikan, serta menutup setiap jalan yang menjurus kepadanya.Ketiga:Rasulullah sangat menginginkan keimanan dan keselamatan kita, dan amat belas kasihan lagi penyayang kepada kita.Keempat:Larangan Rasulullah untuk tidak menziarahi kuburannya dengan cara tertentu (yang tidak disyariatkan), padahal menziarahi kuburan beliau termasuk amalan yang amat baik.Kelima:Rasulullah melarang seseorang banyak melakukan ziarah kubur.Keenam:Rasulullah menganjurkan untuk melakukan salat sunah di dalam rumah.Ketujuh:Satu hal yang sudah menjadi ketetapan di kalangan kaum salaf, bahwa menyampaikan selawat untuk Nabi tidak perlu masuk ke dalam kuburannya.Kedelapan:Alasannya karena selawat dan salam seseorang untuk beliau akan sampai kepada beliau di mana pun ia berada, maka tidak perlu harus mendekat, sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang.Kesembilan:Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di alam barzakh, akan ditampakkan seluruh amalan umatnya yang berupa selawat dan salam untuknya.

 Bab Penjelasan Bahwa Sebagian Umat Ini Ada yang Menyembah Berhala

Firman Allah -Ta'ālā-,"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Kitab; mereka beriman kepada jibt dan tagut?!"(QS. An-Nisā`: 51).Firman Allah -Ta'ālā-,"Katakanlah, 'Maukah aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya daripada (orang-orang fasik) itu di hadapan Allah? Yaitu orang-orang yang dilaknati dan dimurkai, dan di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi, dan orang-orang yang menyembah Tagut."(QS. Al-Mā`idah: 61).Firman Allah -Ta'ālā-,"Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, 'Sungguh kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atas gua mereka.'"(QS. Al-Kahf: 21).Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sungguh kalian akan mengikuti tradisi umat-umat sebelum kalian selangkah demi selangkah sampai kalaupun mereka masuk ke dalam liang biawak niscaya kalian akan masuk ke dalamnya pula."

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Orang-orang Yahudi dan Nasranikah?"

Beliau menjawab, "Siapa lagi?!" (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Muslim meriwayatkan dari Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sungguh Allah telah membentangkan bumi kepadaku, sehingga aku dapat melihat belahan timur dan barat, dan sungguh kekuasaan umatku akan sampai pada belahan bumi yang telah dibentangkan kepadaku itu,

dan aku diberi dua simpanan yang berharga; merah dan putih (imperium Persia dan Romawi).

Sungguh aku meminta kepada Rabb-ku untuk umatku agar jangan dibinasakan dengan sebab kelaparan (paceklik) yang berkepanjangan, dan jangan dikuasakan kepada musuh selain dari kaum mereka sendiri, sehingga musuh itu nantinya akan merampas seluruh negeri mereka.

Lalu Rabb berfirman, 'Hai Muhammad! Jika aku telah menetapkan suatu perkara, maka ketetapan itu tak akan bisa berubah, dan sesungguhnya Aku telah memberikan kepadamu untuk umatmu agar tidak dibinasakan dengan sebab paceklik yang berkepanjangan, dan tidak akan dikuasai oleh musuh selain dari kaum mereka sendiri, sehingga mereka tidak akan bisa merampas seluruh negeri mereka, meskipun manusia yang ada di jagat raya ini berkumpul menghadapi mereka, sampai umatmu itu sendiri sebagian menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian mereka menawan sebagian yang lain."

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Barqāniy dalam Ṣaḥīḥ-nya dengan tambahan:"Dan yang aku khawatirkan terhadap umatku tiada lain adalah adanya pemimpin yang menyesatkan. Ketika terjadi pertumpahan darah di antara mereka, maka tidak akan berakhir sampai datangnya hari Kiamat, dan hari Kiamat tidak akan kunjung tiba kecuali ada di antara umatku yang mengikuti orang-orang musyrik, dan sebagian yang lain menyembah berhala. Sungguh akan ada pada umatku 30 orang pendusta, semuanya mengklaim sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi lain setelah aku. Meskipun demikian, akan tetap ada segolongan dari umatku yang tetap tegak membela kebenaran, dan mereka selalu mendapat pertolongan Allah -Ta'ālā-, mereka tak tergoyahkan oleh orang-orang yang menelantarkan mereka dan memusuhi mereka, sampai datang keputusan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah An-Nisā`.Kedua:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Al-Mā`idah.Ketiga:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Al-Kahf.Keempat:Masalah yang sangat penting sekali yaitu apa pengertian tentang beriman terhadap jibt dan tagut dalam

permasalahan ini?

Apakah sekadar mempercayainya dalam hati?

Atau mengikuti orang-orangnya, sekali pun membenci hal tersebut dan mengerti akan kebatilannya?

Kelima:Ucapan Ahli Kitab, bahwa orang-orang kafir (kaum musyrikin di Mekah) yang telah diketahui kekufuran mereka lebih benar jalannya dari pada orang-orang yang beriman.Keenam:Iman kepada jibt dan tagut pasti akan terjadi di kalangan umat ini, sebagaimana yang ditetapkan dalam hadis Abu Sa'īd. Dan inilah yang dimaksud dalam bab ini.Ketujuh:Pernyataan Rasulullah bahwa akan terjadi penyembahan berhala di kalangan umat ini.Kedelapan:Satu hal yang amat mengherankan adalah munculnya orang yang mendakwahkan dirinya sebagai nabi, seperti Al-Mukhtār bin Abu 'Ubaid Aṡ-Ṡaqafiy; padahal ia mengucapkan dua kalimat syahadat, menyatakan bahwa dirinya termasuk dalam umat Muhammad, dan meyakini bahwa Rasulullah itu hak dan Al-Qur`ān juga hak yang di dalamnya diterangkan bahwa Muhammad adalah penutup para Nabi. Walaupun demikian, ia dipercayai banyak orang, meskipun adanya kontradiksi yang jelas sekali. Ia hidup pada akhir masa sahabat dan diikuti oleh banyak orang.Kesembilan:Rasulullah menyampaikan kabar gembira bahwa kebenaran Islam tidak akan dapat dilenyapkan sama sekali, sebagaimana yang terjadi pada masa lalu, tetapi masih akan selalu ada sekelompok orang yang berpegang teguh dan membela kebenaran.Kesepuluh:Bukti konkretnya adalah: walaupun jumlah mereka sedikit, tetapi tidak tergoyahkan oleh orang-orang yang menelantarkan dan menentang mereka.Kesebelas:Kondisi seperti ini akan berlangsung sampai hari Kiamat.Kedua belas:Bukti-bukti kenabian Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang terkandung dalam hadis ini adalah:  • Pemberitahuan beliau bahwa Allah telah membentangkan kepadanya belahan bumi barat dan timur, dan menjelaskan makna dari hal itu; kemudian terjadi seperti yang beliau beritakan, berlainan halnya dengan belahan selatan dan utara.  • Pemberitahuan beliau bahwa beliau diberi dua simpanan yang berharga.  • Pemberitahuan beliau bahwa doanya untuk umatnya dikabulkan dalam dua hal, sedangkan hal yang ketiga tidak dikabulkan.  • Pemberitahuan beliau bahwa akan terjadi pertumpahan darah di antara umatnya, dan kalau sudah terjadi tidak akan berakhir sampai hari Kiamat.  • Pemberitahuan beliau bahwa sebagian umat ini akan menghancurkan sebagian yang lain, sebagian mereka menawan sebagian yang lain, dan kekhawatirannya akan ada para pemimpin zalim lagi sesat pada umat ini.  • Pemberitahuan beliau tentang munculnya orang-orang yang mendakwahkan dirinya sebagai nabi pada umat ini.  • Pemberitahuan beliau bahwa akan tetap ada sekelompok orang dari umat ini yang tegak membela kebenaran, dan mendapat pertolongan Allah.  Semua ini benar-benar telah terjadi seperti yang telah diberitahukan, padahal semua yang diberitahukan itu di luar jangkauan akal manusia.Ketiga belas:Hal yang beliau khawatirkan terhadap umatnya hanyalah munculnya para pemimpin yang menyesatkan.Keempat belas:Perlunya perhatian terhadap makna dari penyembahan berhala.

 Bab Penjelasan Tentang Sihir

Firman Allah -Ta'ālā-,"Demi Allah! Sesungguhnya mereka (orang-orang Yahudi itu) telah meyakini bahwa siapa yang menukar (kitab Allah) dengan sihir itu, maka tidak akan mendapatkan bagian (keuntungan) di akhirat."(QS. Al-Baqarah: 102).Juga firman-Nya,"Dan mereka beriman kepada jibt dan tagut."(QS. An-Nisā`: 51).Umar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata,"Jibt adalah sihir, sedangkan tagut adalah setan."Sedangkan Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- berkata,"Tagut adalah para tukang ramal yang didatangi setan; yang ada pada setiap kabilah."Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Jauhilah tujuh perkara yang membawa kehancuran!"

Para sahabat bertanya, “Apakah ketujuh perkara itu, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab, "Yaitu syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan oleh agama, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari peperangan, menuduh zina terhadap wanita yang terjaga dirinya dari perbuatan dosa yang tidak memikirkan untuk melakukan dosa serta beriman kepada Allah."

Jundub meriwayatkan dalam hadits marfū’,"Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal lehernya dengan pedang."(HR. Tirmizi, dan ia berkata, "Pendapat yang benar hadis ini adalah mauqūf/perkataan sahabat").

Dalam Ṣaḥīḥ Bukhari, dari Bajālah bin 'Abdah, ia berkata, “Umar bin Al-Khaṭṭāb telah mewajibkan untuk membunuh setiap tukang sihir, baik laki-laki maupun perempuan. Maka kami pun membunuh tiga tukang sihir."

Juga telah sahih dari Ḥafṣah -raḍiyallāhu 'anhā-, bahwa ia memerintahkan untuk membunuh budak perempuannya yang telah menyihirnya, maka ia pun dibunuh."

Hukum ini juga diriwayatkan secara sahih dari Jundub.

Imam Ahmad berkata, “(Masalah ini) diriwayatkan dari tiga orang sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (yaitu: Umar, Ḥafṣah dan Jundub)."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Al-Baqarah.Kedua:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah An-Nisā`.Ketiga:Penjelasan makna jibt dan tagut, serta perbedaan antara keduanya.Keempat:Tagut itu terkadang dari jenis jin, dan terkadang dari jenis manusia.Kelima:Mengetahui tujuh perkara yang bisa menyebabkan kebinasaan, yang dilarang secara khusus oleh Nabi.Keenam:Tukang sihir itu kafir.Ketujuh:Tukang sihir itu dihukum mati tanpa diminta tobat terlebih dahulu.Kedelapan:Jika praktik sihir itu telah ada di kalangan kaum muslimin pada masa Umar, bisa dibayangkan bagaimana pada masa sesudahnya?

 Bab Macam-macam Sihir

Imam Ahmad meriwayatkan; Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami, ia berkata, 'Auf menceritakan kepada kami, ia berkata, Ḥayyān bin Al-'Alā` menceritakan kepada kami, ia berkata, Qaṭan bin Qabīṣah menceritakan kepada kami; dari ayahnya bahwa ia telah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"'Iyāfah, ṭarq dan ṭiyarah adalah termasuk jibt."

Auf menafsirkan hadis ini dengan mengatakan, "'Iyāfah adalah meramal nasib orang dengan menerbangkan burung. Adapun ṭarq adalah meramal nasib orang dengan membuat garis di atas tanah).

Adapun makna jibt:

Al-Hasan berkata, "Ia adalah suara setan."

Hadis tersebut sanadnya jayyid. Ia diriwayatkan pula oleh Abu Daud, An-Nasā`iy, dan Ibnu Ḥibbān dalam Ṣaḥīḥ-nya dengan sanadnya.

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang mempelajari sebagian dari ilmu nujum (perbintangan) sesungguhnya dia telah mempelajari sebagian ilmu sihir. Semakin bertambah (ia mempelajari ilmu nujum) semakin bertambah pula (dosanya)."(HR. Abu Daud dengan sanad sahih).An-Nasā`iy meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-,"Siapa yang membuat suatu buhulan, kemudian meniupnya (sebagaimana yang dilakukan oleh tukang sihir) maka ia telah melakukan sihir, dan siapa yang melakukan sihir maka ia telah melakukan kesyirikan, dan siapa yang menggantungkan diri pada sesuatu benda (jimat), maka ia dijadikan Allah bersandar kepada benda itu."Ibnu Mas'ūd meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Maukah kamu aku beritahu; apakah 'Aḍhu itu? Ia adalah perbuatan mengadu-domba, yaitu banyak membicarakan keburukan dan menghasut di antara manusia."(HR. Muslim).Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya di antara susunan kata yang indah itu terdapat kekuatan sihir."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Di antara jenis sihir (jibt) adalah 'iyāfah, ṭarq dan ṭiyarah.Kedua:Penjelasan tentang makna 'iyāfah, ṭarq dan ṭiyarah.Ketiga:Ilmu nujum (perbintangan) termasuk salah satu jenis sihir.Keempat:Membuat buhulan, lalu ditiupkan kepadanya termasuk sihir.Kelima:Mengadu domba juga termasuk perbuatan sihir.Keenam:Keindahan susunan kata (yang membuat kebatilan seolah-olah kebenaran dan kebenaran seolah-olah kebatilan) juga termasuk perbuatan sihir.

 Bab Dukun, Tukang Ramal dan Sejenisnya

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya; dari salah seorang istri Nabi, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang mendatangi peramal dan menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara dan dia mempercayainya, maka salatnya tidak diterima selama 40 hari."Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,"Siapa yang mendatangi seorang dukun, dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."(HR. Abu Daud).

Ahlu As-Sunan dan Al-Ḥākim meriwayatkan

-dan Al-Ḥākim mensahihkannya sesuai syarat Bukhari dan Muslim-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang mendatangi peramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."

Abu Ya'lā pun meriwayatkan

hadis yang semakna hadis di atas dari Ibnu Mas'ūd secara mauqūf dengan sanad jayyid.

Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū':"Tidak termasuk golongan kami orang yang meminta dan melakukan Taṭayyur, meramal atau minta diramal, menyihir atau minta disihirkan, dan Siapa yang mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."(HR. Abu Daud dengan sanad jayyid).

Aṭ-Ṭabarāniy meriwayatkannya pula dalam Al-Mu'jam Al-Ausaṭ -dengan sanad hasan- dari Ibnu 'Abbās tanpa menyebutkan kalimat, "Siapa yang mendatangi dukun ..." sampai akhir hadis.

Imam Al-Bagawiy berkata,"Al-'Arrāf (peramal) adalah orang yang mengaku dirinya mengetahui banyak hal dengan menggunakan isyarat-isyarat yang dipergunakan untuk mengetahui barang curian atau tempat barang yang hilang dan semacamnya."

Ada pula yang mengatakan, "Ia adalah al-kāhin (dukun), yaitu orang yang bisa memberitahukan tentang hal-hal gaib yang akan terjadi di masa yang akan datang."

Dan ada pula yang mengatakan, "Ia adalah orang yang bisa memberitahukan tentang apa yang ada di hati seseorang."

Abul-'Abbās Ibnu Taimiyah menyatakan,"Al-'Arrāf adalah sebutan untuk dukun, ahli nujum, peramal nasib, dan sejenisnya yang mengaku dirinya bisa mengetahui hal-hal gaib dengan cara-cara tersebut."Ibnu 'Abbās berkata tentang orang-orang yang menulis huruf-huruf أبا جاد (abjad) sambil mencari rahasia huruf, dan memperhatikan bintang-bintang,"Aku tidak tahu apakah orang yang melakukan hal itu akan memperoleh bagian keuntungan di sisi Allah."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tidak dapat terkumpul dalam diri seorang mukmin antara iman kepada Al-Qur`ān dengan percaya kepada tukang ramal, dukun dan sejenisnya.Kedua:Pernyataan Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa mempercayai ucapan dukun adalah kufur.Ketiga:Ancaman bagi orang yang minta diramalkan.Keempat:Ancaman bagi orang yang meminta amalan Taṭayyur.Kelima:Ancaman bagi orang yang minta disihirkan.Keenam:Ancaman bagi orang yang menulis huruf-huruf أباجاد (untuk tujuan jimat dan lainnya).Ketujuh:Penjelasan perbedaan antara Kāhin dan 'Arrāf.

 Bab Penjelasan Tentang Nusyrah

Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang Nusyrah, maka beliau menjawab,"Hal itu termasuk perbuatan setan."(HR. Ahmad dan Abu Daud dengan sanad jayyid). Abu Daud mengisahkan: Ketika Imam Ahmad ditanya tentang nusyrah, beliau menjawab, “Ibnu Mas'ūd membenci itu semua."

Dalam Ṣaḥīḥ Bukhari; Qatādah menuturkan: Aku bertanya kepada Sa'īd bin Al-Musayyib, "Seseorang yang terkena sihir atau diguna-guna, sehingga tidak bisa menggauli istrinya, bolehkah ia diobati dengan menggunakan Nusyrah?"

Ia menjawab, "Tidak apa-apa, karena yang mereka inginkan hanyalah kebaikan untuk menolak mudarat, sedang sesuatu yang bermanfaat itu tidaklah dilarang." Selesai.

Diriwayatkan dari Al-Hasan bahwa ia berkata, "Tidak ada yang dapat melepaskan pengaruh sihir kecuali tukang sihir."

Ibnul-Qayyim menjelaskan, "Nusyrah adalah penyembuhan terhadap seseorang yang terkena sihir. Caranya ada dua macam:

Pertama: dengan menggunakan sihir serupa, dan inilah yang termasuk perbuatan setan. Dan pendapat Al-Hasan di atas termasuk dalam kategori ini, karena masing-masing dari orang yang menyembuhkan dan orang yang disembuhkan mengadakan pendekatan kepada setan dengan apa yang diinginkannya, sehingga dengan demikian perbuatan setan itu gagal memberi pengaruh terhadap orang yang terkena sihir itu.

Kedua: Penyembuhan dengan menggunakan ruqyah dan ayat-ayat yang berisikan doa perlindungan kepada Allah, juga dengan obat-obatan dan doa-doa yang diperbolehkan. Cara ini hukumnya boleh."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Larangan Nusyrah.Kedua:Perbedaan antara Nusyrah yang dilarang dan yang diperbolehkan. Dengan demikian menjadi jelas masalahnya.

 Bab Taṭayyur

Firman Allah -Ta'ālā-,"Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi mereka tidak mengetahui."(QS. An-Naml: 47).Juga firman-Nya,"Mereka (para rasul) berkata, 'Kesialan kalian itu adalah karena kalian sendiri; apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib sial)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.'"(QS. Yāsīn: 19).Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidak ada 'adwā (penyakit menular), ṭiyarah (merasa bernasib sial), hāmah (merasa bernasib sial dengan melihat hantu), dan ṣafar (merasa bernasib sial dengan bulan Safar)."(HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Muslim -dalam riwayatnya- menambahkan, "... dan tidak ada Nau` (kepercayaan bahwa turunnya hujan dikarenakan bintang), serta gūl (hantu)."

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidak ada 'adwā (penyakit menular) dan ṭiyarah (merasa bernasib sial), namun fa`l menyenangkan saya." Para sahabat bertanya, "Apakah fa`l itu?"

Beliau menjawab, "Kata-kata yang baik."

Abu Daud meriwayatkan dengan sanad sahih, dari 'Uqbah bin 'Āmir, ia berkata, Ṭiyarah disebut-sebut di hadapan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka beliau pun bersabda,"Yang paling baik adalah fa`l, dan ṭiyarah tersebut tidak boleh menggagalkan seorang muslim dari niatnya. Apabila salah seorang di antara kamu melihat sesuatu yang tidak diinginkannya, maka hendaknya ia berdoa, 'Ya Allah! Tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tiada yang dapat menolak kejahatan kecuali Engkau, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali atas pertolongan-Mu.'"Ibnu Mas'ūd meriwayatkan dalam hadis marfū':"Ṭiyarah itu perbuatan syirik, ṭiyarah itu perbuatan syirik, tidak ada seorang pun dari antara kita kecuali (telah terjadi dalam hatinya sesuatu dari hal ini), hanya saja Allah bisa menghilangkannya dengan tawakal kepada-Nya."(HR. Abu Daud dan Tirmizi; Tirmizi mensahihkannya dan menjadikan kalimat terakhir hadis ini sebagai ucapan Ibnu Mas'ūd).

Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Ibnu 'Amr, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang mengurungkan hajatnya karena ṭiyarah ini, maka ia telah berbuat kesyirikan." Para sahabat bertanya, “Lalu apa yang bisa menebusnya?" Rasulullah menjawab, "Hendaknya ia berdoa: 'Ya Allah! Tiada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu, dan tiada kesialan kecuali kesialan dari-Mu, dan tiada sesembahan kecuali Engkau.'"

Dalam riwayat lain dari Al-Faḍl bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhu-, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya ṭiyarah itu adalah yang bisa menjadikan kamu terus melangkah, atau yang bisa mengurungkan niat (dari tujuan kamu)."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Penjelasan tentang kedua ayat tersebut di atas; "Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah." (QS. Al-A'rāf: 131), dan "Kesialan kalian itu adalah karena kalian sendiri." (QS.Yāsīn:19).Kedua:Pernyataan bahwa tidak ada 'adwā (penyakit menular dengan sendirinya).Ketiga:Pernyataan bahwa tidak ada ṭiyarah.Keempat:Pernyataan bahwa tidak ada hāmah.Kelima:Pernyataan bahwa tidak ada ṣafar (merasa bernasib sial dengan bulan Safar).Keenam:Fa`l (kata-kata baik dan optimis) tidak termasuk yang dilarang oleh Rasulullah, bahkan dianjurkan.Ketujuh:Penjelasan tentang makna fa`l.Kedelapan:Apabila terjadi taṭayyur dalam hati seseorang, tetapi dia tidak menginginkannya, maka hal itu tidak apa-apa baginya, bahkan Allah akan menghilangkannya dengan bertawakal kepada-Nya.Kesembilan:Penjelasan tentang doa yang dibaca saat seseorang menjumpai hal tersebut.Kesepuluh:Ditegaskan bahwa ṭiyarah itu termasuk syirik.Kesebelas:Penjelasan tentang ṭiyarah yang tercela dan terlarang.

Keempat:

Pernyataan bahwa tidak ada hāmah.

Kelima:

Pernyataan bahwa tidak ada ṣafar (merasa bernasib sial dengan bulan Safar).

Keenam:

Fa`l (kata-kata baik dan optimis) tidak termasuk yang dilarang oleh Rasulullah, bahkan dianjurkan.

Ketujuh:

Penjelasan tentang makna fa`l.

Kedelapan:

Apabila terjadi taṭayyur dalam hati seseorang, tetapi dia tidak menginginkannya, maka hal itu tidak apa-apa baginya, bahkan Allah akan menghilangkannya dengan bertawakal kepada-Nya.

Kesembilan:

Penjelasan tentang doa yang dibaca saat seseorang menjumpai hal tersebut.

Kesepuluh:

Ditegaskan bahwa ṭiyarah itu termasuk syirik.

Kesebelas:

Penjelasan tentang ṭiyarah yang tercela dan terlarang.

 Bab Ilmu Nujum (Perbintangan)

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya, bahwa Qatādah berkata,"Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hikmah: sebagai hiasan langit, sebagai alat pelempar setan, dan sebagai tanda untuk petunjuk (arah dan sebagainya). Maka siapa yang berpendapat selain hal tersebut maka ia telah melakukan kesalahan, menyia-nyiakan nasibnya, serta membebani dirinya dengan hal di luar batas pengetahuannya."Selesai.

"Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hikmah: sebagai hiasan langit, sebagai alat pelempar setan, dan sebagai tanda untuk petunjuk (arah dan sebagainya). Maka siapa yang berpendapat selain hal tersebut maka ia telah melakukan kesalahan, menyia-nyiakan nasibnya, serta membebani dirinya dengan hal di luar batas pengetahuannya."

Selesai.

Sementara tentang mempelajari tata letak peredaran bulan, Qatādah mengatakan makruh, sedangkan Ibnu 'Uyainah tidak membolehkan; seperti yang dinukil oleh Ḥarb dari mereka berdua.

Tetapi Imam Ahmad dan Isḥāq memperbolehkan hal tersebut.

Juga diriwayatkan dari

Abu Musa, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tiga orang yang tidak akan masuk surga: pecandu khamar, orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan, dan orang yang mempercayai sihir."(HR. Ahmad dan Ibnu Ḥibbān dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya).

"Tiga orang yang tidak akan masuk surga: pecandu khamar, orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan, dan orang yang mempercayai sihir."

(HR. Ahmad dan Ibnu Ḥibbān dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Hikmah diciptakannya bintang-bintang.Kedua:Sanggahan terhadap orang yang beranggapan adanya fungsi lain selain tiga hal tersebut.Ketiga:Adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum mempelajari ilmu letak peredaran bulan.Keempat:Ancaman bagi orang yang mempercayai sihir (yang di antara jenisnya adalah ilmu perbintangan), meskipun ia mengetahui akan kebatilannya.

Hikmah diciptakannya bintang-bintang.

Kedua:

Sanggahan terhadap orang yang beranggapan adanya fungsi lain selain tiga hal tersebut.

Ketiga:

Adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum mempelajari ilmu letak peredaran bulan.

Keempat:

Ancaman bagi orang yang mempercayai sihir (yang di antara jenisnya adalah ilmu perbintangan), meskipun ia mengetahui akan kebatilannya.

 Bab Menisbahkan Turunnya Hujan Kepada Bintang

Firman Allah -Ta'ālā-,"Dan kalian membalas rezeki (yang telah dikaruniakan Allah) kepadamu dengan mengatakan perkataan yang tidak benar."(QS. Al-Wāqi'ah: 82).Abu Mālik Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliah yang susah untuk ditinggalkan: membangga-banggakan kebesaran leluhurnya, mencela nasab, mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan meratapi orang mati."Lalu beliau bersabda, "Wanita yang meratapi orang mati, bila ia mati sebelum bertobat maka ia akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam kondisi dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga panas, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal."(HR. Muslim).Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Khālid -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengimami kami pada salat Subuh di Hudaibiyah setelah semalaman turun hujan. Ketika usai melaksanakan salat, beliau menghadap kepada jemaah dan bersabda, "Tahukah kalian apakah yang difirmankan oleh Rabb pada kalian?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Lalu beliau bersabda, "Dia berfirman,"Pagi ini ada di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang mengatakan: hujan turun berkat karunia dan rahmat Allah, maka ia telah beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang, sedangkan orang yang mengatakan: hujan turun karena bintang ini dan bintang itu, maka ia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang."

"Dan kalian membalas rezeki (yang telah dikaruniakan Allah) kepadamu dengan mengatakan perkataan yang tidak benar."

(QS. Al-Wāqi'ah: 82).

Abu Mālik Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliah yang susah untuk ditinggalkan: membangga-banggakan kebesaran leluhurnya, mencela nasab, mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan meratapi orang mati."

Lalu beliau bersabda, "Wanita yang meratapi orang mati, bila ia mati sebelum bertobat maka ia akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam kondisi dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga panas, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal."

(HR. Muslim).

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Khālid -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengimami kami pada salat Subuh di Hudaibiyah setelah semalaman turun hujan. Ketika usai melaksanakan salat, beliau menghadap kepada jemaah dan bersabda, "Tahukah kalian apakah yang difirmankan oleh Rabb pada kalian?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Lalu beliau bersabda, "Dia berfirman,

"Pagi ini ada di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang mengatakan: hujan turun berkat karunia dan rahmat Allah, maka ia telah beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang, sedangkan orang yang mengatakan: hujan turun karena bintang ini dan bintang itu, maka ia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang."

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari

Ibnu 'Abbās dengan redaksi yang semakna dengannya, dan di dalamnya ada tambahan:Ada di antara mereka yang berkata, "Sungguh, telah benar bintang ini, atau bintang itu." Sehingga Allah menurunkan firman-Nya,"Maka aku bersumpah dengan tempat-tempat peredaran bintang.Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui.Sesungguhnya ia adalah Al-Qur`ān yang sangat mulia,dalam Kitab yang terpelihara (Lauḥ Maḥfūẓ).Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.Diturunkan dari Tuhan seluruh alam.Apakah kamu menganggap remeh berita ini (Al-Qur`ān)?Dan kamu menjadikan rezekimu (yang kamu terima dari Allah) justru untuk mendustakan(-Nya)?!"(QS. Al-Wāqi'ah: 75-82).

Ada di antara mereka yang berkata, "Sungguh, telah benar bintang ini, atau bintang itu." Sehingga Allah menurunkan firman-Nya,

"Maka aku bersumpah dengan tempat-tempat peredaran bintang.

Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui.

Sesungguhnya ia adalah Al-Qur`ān yang sangat mulia,

dalam Kitab yang terpelihara (Lauḥ Maḥfūẓ).

Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.

Diturunkan dari Tuhan seluruh alam.

Apakah kamu menganggap remeh berita ini (Al-Qur`ān)?

Dan kamu menjadikan rezekimu (yang kamu terima dari Allah) justru untuk mendustakan(-Nya)?!"

(QS. Al-Wāqi'ah: 75-82).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir ayat dalam surah Al-Wāqi'ah.Kedua:Menyebutkan adanya empat perkara yang termasuk perbuatan jahiliah.Ketiga:Pernyataan bahwa salah satu di antaranya termasuk perbuatan kufur (yaitu menisbahkan turunnya hujan kepada bintang tertentu).Keempat:Ada jenis kufur yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.Kelima:Adanya firman Allah (hadis qudsi), "Pagi ini, di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir"; disebabkan turunnya nikmat hujan.Keenam:Perlu pemahaman yang mendalam tentang iman dalam kasus tersebut.Ketujuh:Begitu juga tentang kufur dalam kasus tersebut.Kedelapan:Di antara pengertian kufur, adalah ucapan salah seorang dari mereka, "Sungguh telah benar bintang ini atau bintang itu."Kesembilan:Metode pengajaran kepada orang yang tidak mengerti masalah dengan melontarkan suatu pertanyaan, seperti sabda beliau, "Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Rabb kepada kalian?"Kesepuluh:Ancaman bagi wanita yang meratapi orang mati.Bab [Cinta Kepada Allah] Firman Allah -Ta'ālā-,"Dan di antara manusia ada orang-orang yang mengangkat tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah."(QS. Al-Baqarah: 165).Juga firman-Nya,"Katakanlah, 'Jika babak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai; itu lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik."(QS. At-Taubah: 24).Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya."(HR. Bukhari dan Muslim).Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah bersabda,"Ada tiga perkara, siapa yang ketiga perkara itu terdapat dalam dirinya, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; ia mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah; dan ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah ia diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana ia benci kalau dicampakkan ke dalam api."Dalam riwayat lain:"Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman, sebelum ..." dan seterusnya.Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata,"Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, membela karena Allah, dan memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan Allah itu diperoleh dengan sebab hal tersebut. Seorang hamba tidak akan bisa merasakan lezatnya iman, meskipun banyak melakukan salat dan puasa, sehingga ia bersikap demikian. Pada umumnya persahabatan yang dijalin di antara manusia dibangun atas dasar kepentingan dunia, dan itu tidak berguna sedikit pun baginya."(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarīr).

Tafsir ayat dalam surah Al-Wāqi'ah.

Kedua:

Menyebutkan adanya empat perkara yang termasuk perbuatan jahiliah.

Ketiga:

Pernyataan bahwa salah satu di antaranya termasuk perbuatan kufur (yaitu menisbahkan turunnya hujan kepada bintang tertentu).

Keempat:

Ada jenis kufur yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.

Kelima:

Adanya firman Allah (hadis qudsi), "Pagi ini, di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir"; disebabkan turunnya nikmat hujan.

Keenam:

Perlu pemahaman yang mendalam tentang iman dalam kasus tersebut.

Ketujuh:

Begitu juga tentang kufur dalam kasus tersebut.

Kedelapan:

Di antara pengertian kufur, adalah ucapan salah seorang dari mereka, "Sungguh telah benar bintang ini atau bintang itu."

Kesembilan:

Metode pengajaran kepada orang yang tidak mengerti masalah dengan melontarkan suatu pertanyaan, seperti sabda beliau, "Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Rabb kepada kalian?"

Kesepuluh:

Ancaman bagi wanita yang meratapi orang mati.

 Bab [Cinta Kepada Allah] Firman Allah -Ta'ālā-,

 "Dan di antara manusia ada orang-orang yang mengangkat tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah."

 (QS. Al-Baqarah: 165).

Juga firman-Nya,

"Katakanlah, 'Jika babak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai; itu lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik."

(QS. At-Taubah: 24).

Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya."

(HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah bersabda,

"Ada tiga perkara, siapa yang ketiga perkara itu terdapat dalam dirinya, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; ia mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah; dan ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah ia diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana ia benci kalau dicampakkan ke dalam api."

Dalam riwayat lain:

"Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman, sebelum ..." dan seterusnya.

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata,

"Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, membela karena Allah, dan memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan Allah itu diperoleh dengan sebab hal tersebut. Seorang hamba tidak akan bisa merasakan lezatnya iman, meskipun banyak melakukan salat dan puasa, sehingga ia bersikap demikian. Pada umumnya persahabatan yang dijalin di antara manusia dibangun atas dasar kepentingan dunia, dan itu tidak berguna sedikit pun baginya."

(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarīr).

Ibnu 'Abbās menafsirkan firman Allah: "Dan putuslah hubungan di antara mereka" dengan mengatakan, "Yaitu kasih sayang."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Al-Baqarah.Kedua:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Barā`ah.Ketiga:Wajib mencintai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lebih dari kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga, dan harta benda.Keempat:Pernyataan “tidak beriman” bukan berarti keluar dari Islam.Kelima:Iman itu memiliki rasa manis, kadang dapat diperoleh seseorang, dan kadangkala tidak.Keenam:Disebutkan empat sikap yang merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kecintaan Allah. Seseorang tidak akan menemukan kelezatan iman kecuali dengan keempat sikap itu.Ketujuh:Pemahaman Ibnu 'Abbās terhadap realitas, bahwa hubungan persahabatan antara sesama manusia pada umumnya dijalin atas dasar kepentingan duniawi.Kedelapan:Tafsir firman Allah: "Dan terputuslah segala hubungan antara mereka sama sekali."Kesembilan:Disebutkan bahwa di antara orang-orang musyrik ada yang mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat besar.Kesepuluh:Ancaman terhadap seseorang yang mencintai kedelapan perkara di atas (orang tua, anak-anak, paman, keluarga, istri, harta kekayaan, tempat tinggal dan perniagaan) dengan kecintaan yang lebih dari cintanya terhadap agamanya.Kesebelas:Mempertuhankan selain Allah dengan mencintainya sebagaimana mencintai Allah adalah syirik akbar.Bab [Takut Kepada Allah] Firman Allah -Ta'ālā-,"Sesungguhnya mereka itu tiada lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku saja, jika kamu benar-benar orang yang beriman."(QS. Āli 'Imrān: 175).Firman Allah:"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan salat, membayar zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah (saja), maka mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."(QS. At-Taubah: 18).Juga firman-Nya,"Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah", tetapi apabila ia mendapat perlakuan yang menyakitkan karena (imannya kepada) Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah."(QS. Al-'Ankabūt: 10).Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū':"Sesungguhnya termasuk lemahnya keyakinan adalah jika kamu mencari rida manusia dengan mendapat kemurkaan Allah, memuji mereka atas rezeki yang Allah berikan padamu melalui perantaraan mereka, dan mencela mereka atas dasar sesuatu yang belum diberikan Allah kepadamu melalui mereka. Sesungguhnya rezeki Allah tidak dapat didatangkan oleh ketamakan orang yang tamak, dan tidak pula dapat digagalkan oleh kebenciannya orang yang membenci."Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang mencari rida Allah sekali pun berakibat mendapatkan kemarahan manusia, maka Allah akan meridainya, dan akan menjadikan manusia rida kepadanya, dan Siapa yang mencari rida manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya, dan akan menjadikan manusia murka pula kepadanya."(HR. Ibnu Ḥibbān dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya).

Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Al-Baqarah.

Kedua:

Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Barā`ah.

Ketiga:

Wajib mencintai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lebih dari kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga, dan harta benda.

Keempat:

Pernyataan “tidak beriman” bukan berarti keluar dari Islam.

Kelima:

Iman itu memiliki rasa manis, kadang dapat diperoleh seseorang, dan kadangkala tidak.

Keenam:

Disebutkan empat sikap yang merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kecintaan Allah. Seseorang tidak akan menemukan kelezatan iman kecuali dengan keempat sikap itu.

Ketujuh:

Pemahaman Ibnu 'Abbās terhadap realitas, bahwa hubungan persahabatan antara sesama manusia pada umumnya dijalin atas dasar kepentingan duniawi.

Kedelapan:

Tafsir firman Allah: "Dan terputuslah segala hubungan antara mereka sama sekali."

Kesembilan:

Disebutkan bahwa di antara orang-orang musyrik ada yang mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat besar.

Kesepuluh:

Ancaman terhadap seseorang yang mencintai kedelapan perkara di atas (orang tua, anak-anak, paman, keluarga, istri, harta kekayaan, tempat tinggal dan perniagaan) dengan kecintaan yang lebih dari cintanya terhadap agamanya.

Kesebelas:

Mempertuhankan selain Allah dengan mencintainya sebagaimana mencintai Allah adalah syirik akbar.

 Bab [Takut Kepada Allah] Firman Allah -Ta'ālā-,

 "Sesungguhnya mereka itu tiada lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku saja, jika kamu benar-benar orang yang beriman."

 (QS. Āli 'Imrān: 175).

Firman Allah:

"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan salat, membayar zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah (saja), maka mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."

(QS. At-Taubah: 18).

Juga firman-Nya,

"Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah", tetapi apabila ia mendapat perlakuan yang menyakitkan karena (imannya kepada) Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah."

(QS. Al-'Ankabūt: 10).

Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū':

"Sesungguhnya termasuk lemahnya keyakinan adalah jika kamu mencari rida manusia dengan mendapat kemurkaan Allah, memuji mereka atas rezeki yang Allah berikan padamu melalui perantaraan mereka, dan mencela mereka atas dasar sesuatu yang belum diberikan Allah kepadamu melalui mereka. Sesungguhnya rezeki Allah tidak dapat didatangkan oleh ketamakan orang yang tamak, dan tidak pula dapat digagalkan oleh kebenciannya orang yang membenci."

Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Siapa yang mencari rida Allah sekali pun berakibat mendapatkan kemarahan manusia, maka Allah akan meridainya, dan akan menjadikan manusia rida kepadanya, dan Siapa yang mencari rida manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya, dan akan menjadikan manusia murka pula kepadanya."

(HR. Ibnu Ḥibbān dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir ayat dalam surah Āli 'Imrān.Kedua:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Barā`ah.Ketiga:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Al-'Ankabūt.Keempat:Keyakinan itu bisa menguat dan bisa melemah.Kelima:Adanya tanda-tanda lemahnya keyakinan, antara lain tiga perkara yang disebutkan dalam hadis Abu Sa'īd di atas.Keenam:Memurnikan rasa takut hanya kepada Allah adalah termasuk kewajiban.Ketujuh:Adanya pahala bagi orang yang melakukannya.Kedelapan:Adanya ancaman bagi orang yang meninggalkannya.Bab [Tawakal Kepada Allah] Firman Allah -Ta'ālā-,"Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman."(QS. Al-Mā`idah: 23).Juga firman-Nya,"Sesungguhnya orang-orang yang beriman (dengan sempurna) itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka karenanya, serta hanya kepada Rabb-nya mereka bertawakal."(QS. Al-Anfāl: 2).Juga firman-Nya,"Wahai Nabi! Cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu, dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu."(QS. Al-Anfāl: 64).Juga firman-Nya,"Dan siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya."(QS. Aṭ-Ṭalāq: 3).Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata,"Ayat, 'Cukuplah Allah bagi kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung',diucapkan oleh Nabi Ibrahim -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat beliau dicampakkan ke dalam kobaran api, dan diucapkan pula oleh Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di saat ada yang berkata kepada beliau,"Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, tetapi perkataan itu malah menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.'"(QS. Āli 'Imrān: 173).(HR. Bukhari dan An-Nasā`i).

Tafsir ayat dalam surah Āli 'Imrān.

Kedua:

Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Barā`ah.

Ketiga:

Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Al-'Ankabūt.

Keempat:

Keyakinan itu bisa menguat dan bisa melemah.

Kelima:

Adanya tanda-tanda lemahnya keyakinan, antara lain tiga perkara yang disebutkan dalam hadis Abu Sa'īd di atas.

Keenam:

Memurnikan rasa takut hanya kepada Allah adalah termasuk kewajiban.

Ketujuh:

Adanya pahala bagi orang yang melakukannya.

Kedelapan:

Adanya ancaman bagi orang yang meninggalkannya.

 Bab [Tawakal Kepada Allah] Firman Allah -Ta'ālā-,

 "Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman."

 (QS. Al-Mā`idah: 23).

Juga firman-Nya,

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman (dengan sempurna) itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka karenanya, serta hanya kepada Rabb-nya mereka bertawakal."

(QS. Al-Anfāl: 2).

Juga firman-Nya,

"Wahai Nabi! Cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu, dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu."

(QS. Al-Anfāl: 64).

Juga firman-Nya,

"Dan siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya."

(QS. Aṭ-Ṭalāq: 3).

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata,

"Ayat, 'Cukuplah Allah bagi kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung',

diucapkan oleh Nabi Ibrahim -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat beliau dicampakkan ke dalam kobaran api, dan diucapkan pula oleh Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di saat ada yang berkata kepada beliau,

"Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, tetapi perkataan itu malah menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.'"

(QS. Āli 'Imrān: 173).

(HR. Bukhari dan An-Nasā`i).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tawakal itu termasuk kewajiban.Kedua:Tawakal itu termasuk syarat-syarat iman.Ketiga:Tafsir ayat dalam surah Al-Anfāl.Keempat:Tafsir ayat dalam akhir surah Al-Anfāl.Kelima:Tafsir ayat dalam surah Aṭ-Ṭalāq.Keenam:Kalimat "حَسْبُنَا اللهُ ونِعْمَ الوَكِيلُ" mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena telah diucapkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihimā wa sallam- ketika dalam situasi yang sangat genting.Bab [Merasa Aman Dari Siksa Allah dan Berputus Asa Dari Rahmat-Nya] Firman Allah -Ta'ālā-,"Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tiada terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi."(QS. Al-A'rāf: 99).Juga firman-Nya,"Dan tiada yang berputus asa dari rahmat Rabb-nya kecuali orang-orang yang sesat."(QS. Al-Ḥijr: 56).Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika ditanya tentang dosa-dosa besar, beliau menjawab,"Yaitu: syirik kepada Allah, berputus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah."Abu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata,"Dosa besar yang paling besar adalah: menyekutukan Allah, merasa aman dari makar (siksa) Allah, berputus harapan dari rahmat Allah, dan berputus asa dari pertolongan Allah."(HR. 'Abdur-Razzāq).

Tawakal itu termasuk kewajiban.

Kedua:

Tawakal itu termasuk syarat-syarat iman.

Ketiga:

Tafsir ayat dalam surah Al-Anfāl.

Keempat:

Tafsir ayat dalam akhir surah Al-Anfāl.

Kelima:

Tafsir ayat dalam surah Aṭ-Ṭalāq.

Keenam:

Kalimat "حَسْبُنَا اللهُ ونِعْمَ الوَكِيلُ" mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena telah diucapkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihimā wa sallam- ketika dalam situasi yang sangat genting.

 Bab [Merasa Aman Dari Siksa Allah dan Berputus Asa Dari Rahmat-Nya] Firman Allah -Ta'ālā-,

 "Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tiada terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi."

 (QS. Al-A'rāf: 99).

Juga firman-Nya,

"Dan tiada yang berputus asa dari rahmat Rabb-nya kecuali orang-orang yang sesat."

(QS. Al-Ḥijr: 56).

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika ditanya tentang dosa-dosa besar, beliau menjawab,

"Yaitu: syirik kepada Allah, berputus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah."

Abu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata,

"Dosa besar yang paling besar adalah: menyekutukan Allah, merasa aman dari makar (siksa) Allah, berputus harapan dari rahmat Allah, dan berputus asa dari pertolongan Allah."

(HR. 'Abdur-Razzāq).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir ayat dalam surah Al-A'rāf.Kedua:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Al-Ḥijr.Ketiga:Ancaman yang keras bagi orang yang merasa aman dari siksa Allah.Keempat:Ancaman yang keras bagi orang yang berputus asa dari rahmat Allah.

Tafsir ayat dalam surah Al-A'rāf.

Kedua:

Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Al-Ḥijr.

Ketiga:

Ancaman yang keras bagi orang yang merasa aman dari siksa Allah.

Keempat:

Ancaman yang keras bagi orang yang berputus asa dari rahmat Allah.

 Bab Sabar Terhadap Takdir Allah Adalah Bagian dari Iman Kepada-Nya

Firman Allah -Ta'ālā-,"Dan siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."(QS. At-Tagābun: 11).

"Dan siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

(QS. At-Tagābun: 11).

Alqamah berkata (tentang makna orang beriman dalam ayat ini), "Yaitu: orang yang ketika ditimpa musibah, ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun rida dan pasrah (atas takdir-Nya)."

Dalam Ṣaḥīḥ Muslim; Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ada dua perkara yang masih dilakukan oleh manusia, yang kedua-duanya merupakan bentuk kekufuran: mencela keturunan, dan meratapi orang mati."Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū':"Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan orang-orang jahiliah."Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya, maka Dia percepat hukuman baginya di dunia, dan apabila Dia menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya, maka Dia tangguhkan dosanya sampai ia penuhi balasannya nanti pada hari Kiamat."Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- juga bersabda,"Sesungguhnya besarnya balasan itu sesuai dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya; siapa yang rida akan ujian itu maka baginya keridaan Allah, dan siapa yang marah/benci terhadap ujian tersebut, maka baginya kemurkaan Allah."(Dihasankan oleh Tirmizi).

"Ada dua perkara yang masih dilakukan oleh manusia, yang kedua-duanya merupakan bentuk kekufuran: mencela keturunan, dan meratapi orang mati."

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū':

"Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan orang-orang jahiliah."

Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya, maka Dia percepat hukuman baginya di dunia, dan apabila Dia menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya, maka Dia tangguhkan dosanya sampai ia penuhi balasannya nanti pada hari Kiamat."

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- juga bersabda,

"Sesungguhnya besarnya balasan itu sesuai dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya; siapa yang rida akan ujian itu maka baginya keridaan Allah, dan siapa yang marah/benci terhadap ujian tersebut, maka baginya kemurkaan Allah."

(Dihasankan oleh Tirmizi).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Penjelasan tentang ayat dalam surah At-Tagābun.Kedua:Sabar terhadap cobaan termasuk iman kepada Allah.Ketiga:Penjelasan tentang hukum mencela keturunan.Keempat:Ancaman keras bagi orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju, dan menyeru kepada seruan jahiliah (karena meratapi orang mati).Kelima:Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya.Keenam:Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya.Ketujuh:Tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.Kedelapan:Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan ketika diuji oleh Allah.Kesembilan:Pahala bagi orang yang rida atas ujian dan cobaan.

Penjelasan tentang ayat dalam surah At-Tagābun.

Kedua:

Sabar terhadap cobaan termasuk iman kepada Allah.

Ketiga:

Penjelasan tentang hukum mencela keturunan.

Keempat:

Ancaman keras bagi orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju, dan menyeru kepada seruan jahiliah (karena meratapi orang mati).

Kelima:

Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya.

Keenam:

Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya.

Ketujuh:

Tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.

Kedelapan:

Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan ketika diuji oleh Allah.

Kesembilan:

Pahala bagi orang yang rida atas ujian dan cobaan.

 Bab Ria

Firman Allah -Ta'ālā-,"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: bahwa sesungguhnya sesembahan kamu adalah sesembahan yang esa.' Maka Siapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia berbuat kemusyrikan sedikit pun dalam beribadah kepada Rabb-nya."(QS. Al-Kahf: 110).Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dalam hadis marfū’:Allah berfirman, "Aku sangat tidak memerlukan sekutu untuk dipersekutukan (kesyirikan). Siapa yang mengerjakan amal perbuatan dengan dicampuri perbuatan syirik kepada-Ku, maka Aku tinggalkan ia bersama perbuatan syiriknya itu."(HR. Muslim).Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dalam hadis marfū':"Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu yang bagiku lebih aku khawatirkan terhadap kamu dari pada Almasih Dajal?"Para sahabat menjawab, "Tentu, ya Rasulullah." Kemudian beliau bersabda,"Syirik yang tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri melakukan salat, ia perindah salatnya itu karena mengetahui ada orang lain yang melihatnya."(HR. Ahmad).

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: bahwa sesungguhnya sesembahan kamu adalah sesembahan yang esa.' Maka Siapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia berbuat kemusyrikan sedikit pun dalam beribadah kepada Rabb-nya."

(QS. Al-Kahf: 110).

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dalam hadis marfū’:

Allah berfirman, "Aku sangat tidak memerlukan sekutu untuk dipersekutukan (kesyirikan). Siapa yang mengerjakan amal perbuatan dengan dicampuri perbuatan syirik kepada-Ku, maka Aku tinggalkan ia bersama perbuatan syiriknya itu."

(HR. Muslim).

Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dalam hadis marfū':

"Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu yang bagiku lebih aku khawatirkan terhadap kamu dari pada Almasih Dajal?"

Para sahabat menjawab, "Tentu, ya Rasulullah." Kemudian beliau bersabda,

"Syirik yang tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri melakukan salat, ia perindah salatnya itu karena mengetahui ada orang lain yang melihatnya."

(HR. Ahmad).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Al-Kahf.Kedua:Masalah yang penting sekali, yaitu: pernyataan bahwa amal saleh apabila dicampuri dengan sesuatu yang bukan karena Allah, maka tidak akan diterima oleh Allah.Ketiga:Hal itu disebabkan karena Allah Mahasempurna; yang sangat tidak memerlukan sekutu.Keempat:Sebab yang lain adalah karena Allah adalah sekutu yang terbaik.Kelima:Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sangat khawatir apabila sahabatnya melakukan ria.Keenam:Penjelasan tentang ria dengan menggunakan contoh sebagai berikut: seseorang melakukan salat karena Allah, kemudian ia perindah salatnya karena ada orang lain yang memperhatikannya.

Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Al-Kahf.

Kedua:

Masalah yang penting sekali, yaitu: pernyataan bahwa amal saleh apabila dicampuri dengan sesuatu yang bukan karena Allah, maka tidak akan diterima oleh Allah.

Ketiga:

Hal itu disebabkan karena Allah Mahasempurna; yang sangat tidak memerlukan sekutu.

Keempat:

Sebab yang lain adalah karena Allah adalah sekutu yang terbaik.

Kelima:

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sangat khawatir apabila sahabatnya melakukan ria.

Keenam:

Penjelasan tentang ria dengan menggunakan contoh sebagai berikut: seseorang melakukan salat karena Allah, kemudian ia perindah salatnya karena ada orang lain yang memperhatikannya.

 Bab Melakukan Amal Saleh untuk Kepentingan Dunia Adalah Syirik

Firman Allah -Ta'ālā-,"Siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan.Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, serta sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan."(QS. Hūd: 15-16).Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ; Abu Hurairah berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham,

"Siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan.

Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, serta sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan."

(QS. Hūd: 15-16).

Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ; Abu Hurairah berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham,

celakalah hamba khamīṣah (pakaian yang terbuat dari wol atau sutera), dan

celaka hamba khamīlah (pakaian yang terbuat dari wol atau sutera);

jika diberi ia senang, dan jika tidak diberi ia marah. Celakalah ia dan tersungkurlah ia; apabila terkena duri semoga ia tidak bisa mencabutnya.

Berbahagialah seorang hamba yang memacu kudanya (berjihad di jalan Allah), kusut rambutnya, dan berdebu kedua kakinya;

bila ia ditugaskan sebagai penjaga, dia setia berada di pos penjagaan,

dan bila ditugaskan di garis belakang, dia akan tetap setia di garis belakang.

Jika ia meminta izin (untuk menemui raja atau penguasa) tidak diperkenankan, dan jika bertindak sebagai pemberi syafaat (sebagai perantara) maka tidak diterima syafaatnya (perantaraannya)."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Motivasi seseorang dalam amal ibadahnya, yang semestinya untuk akhirat malah untuk kepentingan duniawi (termasuk syirik).Kedua:Tafsir ayat dalam surah Hūd.Ketiga:Manusia muslim disebut sebagai hamba dinar, hamba dirham, hamba khamīṣah dan khamīlah (jika menjadikan kesenangan duniawi sebagai tujuan).Keempat:Tandanya adalah apabila diberi ia senang, dan apabila tidak diberi ia marah.Kelima:Doa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Celakalah dan tersungkurlah."Keenam:Juga doa beliau, "Jika terkena duri semoga ia tidak bisa mencabutnya."Ketujuh:Pujian dan sanjungan untuk mujahid yang memiliki sifat-sifat sebagaimana yang disebut dalam hadis.

Motivasi seseorang dalam amal ibadahnya, yang semestinya untuk akhirat malah untuk kepentingan duniawi (termasuk syirik).

Kedua:

Tafsir ayat dalam surah Hūd.

Ketiga:

Manusia muslim disebut sebagai hamba dinar, hamba dirham, hamba khamīṣah dan khamīlah (jika menjadikan kesenangan duniawi sebagai tujuan).

Keempat:

Tandanya adalah apabila diberi ia senang, dan apabila tidak diberi ia marah.

Kelima:

Doa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Celakalah dan tersungkurlah."

Keenam:

Juga doa beliau, "Jika terkena duri semoga ia tidak bisa mencabutnya."

Ketujuh:

Pujian dan sanjungan untuk mujahid yang memiliki sifat-sifat sebagaimana yang disebut dalam hadis.

 Bab Menaati Ulama dan Umara dalam Mengharamkan yang Halal dan Menghalalkan yang Haram Berarti Mempertuhankan Mereka

Ibnu 'Abbās berkata,"Aku khawatir kalian ditimpa hujan batu dari langit, karena aku mengatakan, 'Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda', tetapi kalian malah mengatakan, 'Abu Bakar dan Umar berkata'."Imam Ahmad bin Ḥanbal mengatakan,"Aku merasa heran terhadap orang-orang yang tahu tentang sanad hadis dan kesahihannya, tetapi mereka malah menjadikan pendapat Sufyān sebagai acuannya, padahal Allah -Ta'ālā- telah berfirman,Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa siksa yang pedih.'(QS. An-Nūr: 63).Tahukah kamu apakah yang dimaksud dengan fitnah itu? Fitnah di situ maksudnya adalah syirik, bisa jadi apabila ia menolak sabda Nabi akan terjadi dalam hatinya kesesatan sehingga dia celaka."Adiy bin Ḥātim meriwayatkan,bahwa ia mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca firman Allah:"Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Almasih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan."(QS. At-Taubah: 31).Maka saya berkata kepada beliau, “Sungguh kami tidaklah menyembah mereka.”

"Aku khawatir kalian ditimpa hujan batu dari langit, karena aku mengatakan, 'Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda', tetapi kalian malah mengatakan, 'Abu Bakar dan Umar berkata'."

Imam Ahmad bin Ḥanbal mengatakan,

"Aku merasa heran terhadap orang-orang yang tahu tentang sanad hadis dan kesahihannya, tetapi mereka malah menjadikan pendapat Sufyān sebagai acuannya, padahal Allah -Ta'ālā- telah berfirman,

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa siksa yang pedih.'

(QS. An-Nūr: 63).

Tahukah kamu apakah yang dimaksud dengan fitnah itu? Fitnah di situ maksudnya adalah syirik, bisa jadi apabila ia menolak sabda Nabi akan terjadi dalam hatinya kesesatan sehingga dia celaka."

Adiy bin Ḥātim meriwayatkan,

bahwa ia mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca firman Allah:

"Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Almasih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan."

(QS. At-Taubah: 31).

Maka saya berkata kepada beliau, “Sungguh kami tidaklah menyembah mereka.”

Beliau bersabda, "Tidakkah mereka mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kalian pun mengharamkanya; dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya?!"

Aku menjawab, "Tentu."

Maka beliau bersabda, "Itulah bentuk penyembahan kepada mereka."(HR. Ahmad dan Tirmizi, dan Tirmizi menilainya hasan).

(HR. Ahmad dan Tirmizi, dan Tirmizi menilainya hasan).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir ayat dalam surah An-Nūr.Kedua:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Barā`ah.Ketiga:Perlu diperhatikan arti ibadah yang sebelumnya telah diingkari oleh 'Adiy bin Ḥātim.Keempat:Pemberian contoh kasus yang dikemukakan oleh Ibnu 'Abbās dengan menyebut nama Abu Bakar dan Umar, dan yang dikemukakan oleh Ahmad bin Ḥanbal dengan menyebut nama Sufyān.Kelima:Hal tersebut telah berkembang sedemikian rupa, sehingga penyembahan terhadap orang-orang saleh dianggap banyak orang sebagai amal yang paling utama, dan dipercayainya sebagai wali (yang dapat mendatangkan suatu manfaat atau bencana). Penyembahan terhadap orang-orang alim melalui ilmu pengetahuan dan fikih (dengan diikuti apa saja yang dikatakan, baik sesuai dengan firman Allah dan sabda Rasul-Nya atau tidak), kemudian berkembang lebih parah lagi, dengan adanya penyembahan terhadap orang-orang yang tidak saleh, dan terhadap orang-orang bodoh yang tidak berilmu (dengan diikuti pendapat-pendapatnya, bahkan bidah dan syirik yang mereka lakukan juga diikuti).Bab [Berhakim Kepada Selain Allah Dan Rasul-Nya] Firman Allah -Ta'ālā-,"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu, dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari tagut itu, dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh- jauhnya.Apabila dikatakan kepada mereka, 'Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul', niscaya kamu lihat orang-orang munafik itu menghalangi (manusia) dari (mendekati) kamu dengan sekuat-kuatnya.Maka bagaimanakah halnya, apabila mereka ditimpa suatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu seraya bersumpah, 'Demi Allah! Sekali-kali kami tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.'"(QS. An-Nisā`: 60-62).Juga firman-Nya,"Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), 'Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi'; mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.'"(QS. Al-Baqarah: 11).Juga firman-Nya,"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik,"(QS. Al-A'rāf: 56).Juga firman-Nya,"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan tidak ada yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin."(QS. Al-Mā`idah: 50).Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidaklah beriman (dengan sempurna) seseorang di antara kamu, sebelum keinginan dirinya mengikuti apa yang telah aku bawa (dari Allah)."

Tafsir ayat dalam surah An-Nūr.

Kedua:

Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Barā`ah.

Ketiga:

Perlu diperhatikan arti ibadah yang sebelumnya telah diingkari oleh 'Adiy bin Ḥātim.

Keempat:

Pemberian contoh kasus yang dikemukakan oleh Ibnu 'Abbās dengan menyebut nama Abu Bakar dan Umar, dan yang dikemukakan oleh Ahmad bin Ḥanbal dengan menyebut nama Sufyān.

Kelima:

Hal tersebut telah berkembang sedemikian rupa, sehingga penyembahan terhadap orang-orang saleh dianggap banyak orang sebagai amal yang paling utama, dan dipercayainya sebagai wali (yang dapat mendatangkan suatu manfaat atau bencana). Penyembahan terhadap orang-orang alim melalui ilmu pengetahuan dan fikih (dengan diikuti apa saja yang dikatakan, baik sesuai dengan firman Allah dan sabda Rasul-Nya atau tidak), kemudian berkembang lebih parah lagi, dengan adanya penyembahan terhadap orang-orang yang tidak saleh, dan terhadap orang-orang bodoh yang tidak berilmu (dengan diikuti pendapat-pendapatnya, bahkan bidah dan syirik yang mereka lakukan juga diikuti).

 Bab [Berhakim Kepada Selain Allah Dan Rasul-Nya] Firman Allah -Ta'ālā-,

 "Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu, dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari tagut itu, dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh- jauhnya.

 Apabila dikatakan kepada mereka, 'Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul', niscaya kamu lihat orang-orang munafik itu menghalangi (manusia) dari (mendekati) kamu dengan sekuat-kuatnya.

 Maka bagaimanakah halnya, apabila mereka ditimpa suatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu seraya bersumpah, 'Demi Allah! Sekali-kali kami tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.'"

 (QS. An-Nisā`: 60-62).

Juga firman-Nya,

"Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), 'Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi'; mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.'"

(QS. Al-Baqarah: 11).

Juga firman-Nya,

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik,"

(QS. Al-A'rāf: 56).

Juga firman-Nya,

"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan tidak ada yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin."

(QS. Al-Mā`idah: 50).

Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Tidaklah beriman (dengan sempurna) seseorang di antara kamu, sebelum keinginan dirinya mengikuti apa yang telah aku bawa (dari Allah)."

Imam An-Nawawiy menyatakan, "Hadis ini sahih, kami meriwayatkannya di dalam kitab Al-Ḥujjah dengan sanad sahih."

Asy Sya'biy menuturkan, "Pernah terjadi pertengkaran antara orang munafik dan orang Yahudi.

Orang Yahudi itu berkata, 'Mari kita berhakim kepada Muhammad.'

Karena ia mengetahui bahwa beliau tidak menerima suap.

Sedangkan orang munafik tadi berkata, 'Mari kita berhakim kepada orang Yahudi.' Karena ia tahu bahwa mereka mau menerima suap.

Maka bersepakatlah keduanya untuk berhakim kepada seorang dukun di kabilah Juhainah, maka turunlah ayat: "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya ..."(QS. An-Nisā`: 60-62).

(QS. An-Nisā`: 60-62).

Ada pula yang menyatakan bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan dua orang yang bertengkar, salah seorang dari mereka berkata, “Mari kita bersama-sama mengadukan kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Sedangkan yang lainnya mengatakan, "Kepada Ka'ab bin Al-Asyraf saja.” Kemudian keduanya mengadukan perkara mereka kepada Umar -raḍiyallāhu 'anhu-, lalu salah seorang di antara keduanya menjelaskan kepadanya tentang permasalahan yang terjadi.

Kemudian Umar bertanya kepada orang yang tidak rela dengan keputusan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Benarkah demikian?"

Ia menjawab, "Ya, benar." Akhirnya, orang itu dihukum oleh Umar dengan dipancung pakai pedang.

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah An-Nisā`, yang di dalamnya terdapat keterangan yang bisa membantu untuk memahami makna tagut.Kedua:Tafsir ayat yang ada dalam surah Al-Baqarah, "Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), 'Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi ...'"Ketiga:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Al-A'rāf, "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi ini sesudah Allah memperbaikinya."Keempat:Tafsir ayat yang ada dalam surah Al-Mā`idah, "Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki?"Kelima:Penjelasan Asy-Sya'biy tentang sebab turunnya ayat yang pertama (yang terdapat dalam surah An-Nisā`).Keenam:Penjelasan makna iman yang benar dan iman yang palsu.Ketujuh:Pemaparan kisah Umar dengan orang munafik.Kedelapan:Seseorang tidak akan beriman sempurna dan benar sehingga hawa nafsunya (keinginan dirinya) mengikuti tuntunan yang dibawa oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

Tafsir ayat yang terdapat dalam surah An-Nisā`, yang di dalamnya terdapat keterangan yang bisa membantu untuk memahami makna tagut.

Kedua:

Tafsir ayat yang ada dalam surah Al-Baqarah, "Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), 'Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi ...'"

Ketiga:

Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Al-A'rāf, "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi ini sesudah Allah memperbaikinya."

Keempat:

Tafsir ayat yang ada dalam surah Al-Mā`idah, "Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki?"

Kelima:

Penjelasan Asy-Sya'biy tentang sebab turunnya ayat yang pertama (yang terdapat dalam surah An-Nisā`).

Keenam:

Penjelasan makna iman yang benar dan iman yang palsu.

Ketujuh:

Pemaparan kisah Umar dengan orang munafik.

Kedelapan:

Seseorang tidak akan beriman sempurna dan benar sehingga hawa nafsunya (keinginan dirinya) mengikuti tuntunan yang dibawa oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

 Bab Hukum Mengingkari Sebagian Nama dan Sifat Allah

Firman Allah -Ta'ālā-,"Dan mereka kafir (ingkar) kepada Ar-Raḥmān (Yang Maha Pengasih). Katakanlah, 'Dia adalah Tuhanku, tiada sesembahan yang hak selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat."(QS. Ar-Ra'd: 30).

"Dan mereka kafir (ingkar) kepada Ar-Raḥmān (Yang Maha Pengasih). Katakanlah, 'Dia adalah Tuhanku, tiada sesembahan yang hak selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat."

(QS. Ar-Ra'd: 30).

Dalam Ṣaḥīḥ Bukhari; Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Berbicaralah kepada orang-orang dengan apa yang dipahami oleh mereka. Apakah kalian menginginkan Allah dan Rasul-Nya didustakan?"

Abdur-Razzāq meriwayatkan dari Ma'mar; dari Ibnu Ṭāwus; dari ayahnya (Ṭāwus); dari Ibnu 'Abbās, bahwa ia melihat seseorang terkejut ketika mendengar hadis Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah, karena merasa keberatan dengan hal tersebut. Maka Ibnu 'Abbās berkata, "Apa yang dikhawatirkan oleh mereka itu? Mereka mau mendengar dan menerima ketika dibacakan ayat-ayat yang muḥkamāt (jelas pengertiannya), tapi mereka keberatan untuk menerimanya ketika dibacakan ayat-ayat yang mutasyābihāt (sulit dipahami)." Selesai.

Ketika orang-orang Quraisy mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebut “Ar Raḥmān”, mereka mengingkarinya. Maka terhadap mereka itu, Allah menurunkan firman-Nya,"Dan mereka kafir terhadap Ar Raḥmān."(QS. Ar-Ra'd: 30).

"Dan mereka kafir terhadap Ar Raḥmān."

(QS. Ar-Ra'd: 30).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Dinyatakan tidak beriman, karena mengingkari (menolak) sebagian dari nama-nama dan sifat-sifat Allah.Kedua:Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Ar-Ra’d.Ketiga:Tidak menyampaikan kepada manusia hal-hal yang tidak bisa dipahami oleh mereka.Keempat:Penyebabnya adalah karena hal itu bisa mengakibatkan mereka mendustakan Allah dan Rasul-Nya, meskipun ia tidak bermaksud demikian.Kelima:Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- menolak sikap orang yang merasa keberatan ketika dibacakan sebuah hadis yang berkenaan dengan sifat Allah dan menyatakan bahwa sikap tersebut bisa mencelakakan dirinya.Bab [Ingkar Terhadap Nikmat Allah] Firman Allah -Ta'ālā-,"Mereka mengetahui nikmat Allah (tetapi) kemudian mereka mengingkarinya, dan sungguh kebanyakan mereka adalah kufur (terhadap nikmat tersebut)."(QS. An-Naḥl: 83).

Dinyatakan tidak beriman, karena mengingkari (menolak) sebagian dari nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Kedua:

Tafsir ayat yang terdapat dalam surah Ar-Ra’d.

Ketiga:

Tidak menyampaikan kepada manusia hal-hal yang tidak bisa dipahami oleh mereka.

Keempat:

Penyebabnya adalah karena hal itu bisa mengakibatkan mereka mendustakan Allah dan Rasul-Nya, meskipun ia tidak bermaksud demikian.

Kelima:

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- menolak sikap orang yang merasa keberatan ketika dibacakan sebuah hadis yang berkenaan dengan sifat Allah dan menyatakan bahwa sikap tersebut bisa mencelakakan dirinya.

 Bab [Ingkar Terhadap Nikmat Allah] Firman Allah -Ta'ālā-,

 "Mereka mengetahui nikmat Allah (tetapi) kemudian mereka mengingkarinya, dan sungguh kebanyakan mereka adalah kufur (terhadap nikmat tersebut)."

 (QS. An-Naḥl: 83).

Mujāhid mengatakan bahwa maksud ayat itu adalah: "Kata-kata seseorang, 'Ini adalah harta kekayaan yang aku warisi dari nenek moyangku'."

Aun bin Abdullah mengatakan, "Yakni kata mereka, ‘kalau bukan karena si polan, tentu tidak akan menjadi begini'."

Ibnu Qutaibah berkata, "Mereka mengatakan, 'Ini adalah sebab syafaat sembahan- sembahan kami'."

Setelah membahas hadis Zaid bin Khālid yang di dalamnya terdapat sabda Nabi, "Sesungguhnya Allah berfirman, 'Pagi ini sebagian hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir …,'" sebagaimana yang telah disebutkan di atas, Abul-'Abbās (Ibnu Taimiyah) mengatakan,

"Hal ini banyak terdapat dalam Al-Qur`ān maupun Sunnah; Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mencela orang yang menyekutukan-Nya dengan menisbahkan nikmat yang telah Dia berikan kepada selain-Nya."

Sebagian ulama salaf mengatakan, "Hal itu (bentuk kekufuran nikmat) adalah seperti ucapan mereka: anginnya bagus, nahkodanya cerdik, pandai, dan ucapan-ucapan semisalnya, yang biasa muncul dari ucapan banyak orang."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Penjelasan tentang orang yang mengetahui nikmat Allah dan mengingkarinya.Kedua:Mengingkari nikmat ini sering terjadi dalam ucapan banyak orang.Ketiga:Ucapan seperti ini dianggap sebagai pengingkaran terhadap nikmat Allah.Keempat:Adanya dua hal yang kontradiksi (mengetahui nikmat Allah dan mengingkarinya), bisa terjadi dalam diri manusia.Bab [Larangan Menjadikan Sekutu Bagi Allah] Firman Allah -Ta'ālā-,"Maka janganlah kamu membuat sekutu untuk Allah padahal kamu mengetahui (bahwa Allah adalah Maha Esa)."(QS. Al-Baqarah: 22).

Penjelasan tentang orang yang mengetahui nikmat Allah dan mengingkarinya.

Kedua:

Mengingkari nikmat ini sering terjadi dalam ucapan banyak orang.

Ketiga:

Ucapan seperti ini dianggap sebagai pengingkaran terhadap nikmat Allah.

Keempat:

Adanya dua hal yang kontradiksi (mengetahui nikmat Allah dan mengingkarinya), bisa terjadi dalam diri manusia.

 Bab [Larangan Menjadikan Sekutu Bagi Allah] Firman Allah -Ta'ālā-,

 "Maka janganlah kamu membuat sekutu untuk Allah padahal kamu mengetahui (bahwa Allah adalah Maha Esa)."

 (QS. Al-Baqarah: 22).

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan, "Makna membuat sekutu untuk Allah adalah perbuatan syirik, suatu perbuatan dosa yang lebih sulit dikenali daripada semut kecil yang merayap di atas batu hitam, pada malam hari yang gelap gulita."

Yaitu seperti ucapan Anda, "Demi Allah dan demi hidupmu, wahai polan, juga demi hidupku."

Atau seperti ucapan, "Kalau bukan karena anjing ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu."

Atau seperti ucapan, "Kalau bukan karena angsa yang di rumah ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri tersebut."

Atau seperti ucapan seseorang kepada kawannya, "Ini terjadi karena kehendak Allah dan kehendakmu."

Atau seperti ucapan seseorang, "Kalaulah bukan karena Allah dan si polan." Oleh karena itu, janganlah Anda menyertakan “si polan” dalam ucapan-ucapan di atas, karena bisa menjatuhkan Anda dalam kesyirikan."(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ḥātim).Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang bersumpah dengan menyebut selain Allah, maka ia telah berbuat kekafiran atau kemusyrikan."(HR. Tirmizi, dan ia katakan sebagai hadis hasan, serta dinyatakan sahih oleh Al-Ḥākim).

(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ḥātim).

Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Siapa yang bersumpah dengan menyebut selain Allah, maka ia telah berbuat kekafiran atau kemusyrikan."

(HR. Tirmizi, dan ia katakan sebagai hadis hasan, serta dinyatakan sahih oleh Al-Ḥākim).

Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Sungguh bersumpah bohong dengan menyebut nama Allah, lebih aku sukai daripada bersumpah jujur tetapi dengan menyebut nama selain-Nya."

Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Janganlah kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak si polan’, tapi katakanlah, ‘Atas kehendak Allah kemudian atas kehendak si polan'."(HR. Abu Daud dengan sanad sahih).

"Janganlah kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak si polan’, tapi katakanlah, ‘Atas kehendak Allah kemudian atas kehendak si polan'."

(HR. Abu Daud dengan sanad sahih).

Diriwayatkan dari Ibrāhīm An Nakha'iy bahwa ia melarang ucapan, “Aku berlindung kepada Allah dan kepadamu”, tetapi ia memperbolehkan ucapan: “Aku berlindung kepada Allah, kemudian kepadamu”, serta ucapan: "Kalau bukan karena Allah kemudian karena si polan’, dan ia tidak memperbolehkan ucapan: "Kalau bukan karena Allah dan karena si polan".

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir ayat surah Al-Baqarah dalam makna “membuat sekutu untuk Allah”.Kedua:Penjelasan para sahabat bahwa ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah yang berkaitan dengan syirik akbar itu mencakup juga tentang syirik aṣgar (kecil).Ketiga:Bersumpah dengan menyebut nama selain Allah adalah syirik.Keempat:Bersumpah menggunakan nama selain Allah walaupun dalam kebenaran, itu lebih besar dosanya daripada sumpah palsu dengan menggunakan nama Allah.Kelima:Ada perbedaan yang jelas sekali antara (وَ) yang berarti “dan” dengan (ثُمّ) yang berarti “kemudian”.

Tafsir ayat surah Al-Baqarah dalam makna “membuat sekutu untuk Allah”.

Kedua:

Penjelasan para sahabat bahwa ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah yang berkaitan dengan syirik akbar itu mencakup juga tentang syirik aṣgar (kecil).

Ketiga:

Bersumpah dengan menyebut nama selain Allah adalah syirik.

Keempat:

Bersumpah menggunakan nama selain Allah walaupun dalam kebenaran, itu lebih besar dosanya daripada sumpah palsu dengan menggunakan nama Allah.

Kelima:

Ada perbedaan yang jelas sekali antara (وَ) yang berarti “dan” dengan (ثُمّ) yang berarti “kemudian”.

 Bab Orang yang Tidak Puas dengan Sumpah yang Menggunakan Nama Allah

Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Janganlah kalian bersumpah dengan nama nenek moyang kalian! Siapa yang bersumpah dengan nama Allah, maka hendaknya ia jujur, dan siapa yang diberi sumpah dengan nama Allah maka hendaklah ia rela (menerimanya), karena siapa yang tidak rela menerima sumpah tersebut maka lepaslah ia dari Allah."(HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).

"Janganlah kalian bersumpah dengan nama nenek moyang kalian! Siapa yang bersumpah dengan nama Allah, maka hendaknya ia jujur, dan siapa yang diberi sumpah dengan nama Allah maka hendaklah ia rela (menerimanya), karena siapa yang tidak rela menerima sumpah tersebut maka lepaslah ia dari Allah."

(HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Larangan bersumpah dengan menyebut nama nenek moyang.

Kedua:Diperintahkan kepada orang yang diberi sumpah dengan menyebut nama Allah untuk rela menerimanya.Ketiga:Ancaman bagi orang-orang yang tidak rela menerimanya.

Diperintahkan kepada orang yang diberi sumpah dengan menyebut nama Allah untuk rela menerimanya.

Ketiga:

Ancaman bagi orang-orang yang tidak rela menerimanya.

 Bab Ucapan, “Atas Kehendak Allah dan Kehendakmu"

Qutailah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa ada seorang Yahudi datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu berkata, “Sesungguhnya kamu sekalian telah melakukan perbuatan syirik;

kalian mengucapkan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’,

dan mengucapkan, ‘Demi Kakbah’."

Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan para sahabat apabila hendak bersumpah supaya mengucapkan,"Demi Rabb Pemilik Kakbah".dan mengucapkan, "Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu".(HR. An-Nasā`iy dan ia mensahihkannya).An-Nasā`iy juga meriwayatkan dari bnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Atas kehendak Allah dan kehendakmu." Maka Nabi bersabda,“Apakah kamu telah menjadikan diriku sekutu bagi Allah? Hanya atas kehendak Allah semata."

"Demi Rabb Pemilik Kakbah".

dan mengucapkan, "Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu".

(HR. An-Nasā`iy dan ia mensahihkannya).

An-Nasā`iy juga meriwayatkan dari bnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Atas kehendak Allah dan kehendakmu." Maka Nabi bersabda,

“Apakah kamu telah menjadikan diriku sekutu bagi Allah? Hanya atas kehendak Allah semata."

Ibnu Majah meriwayatkan dari Aṭ-Ṭufail, saudara seibu Aisyah, ia meriwayatkan, Aku bermimpi seolah-olah aku mendatangi sekelompok orang-orang Yahudi.

Aku berkata kepada mereka, "Sungguh kalian adalah sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan, 'Uzair putra Allah."

Mereka menjawab, "Sungguh kalian juga sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan, 'Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad'."

Kemudian aku melewati sekelompok orang Nasrani, dan aku berkata kepada mereka, "Sungguh kalian adalah sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan, 'Almasih putra Allah'."

Mereka pun balik berkata, "Sungguh kalian juga sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan, 'Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad'."

Maka pada keesokan harinya aku memberitahukan mimpiku tersebut kepada kawan-kawanku,

kemudian aku mendatangi Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan aku beritahukan hal itu kepada beliau.

Kemudian beliau bersabda, "Apakah engkau telah memberitahukannya kepada seseorang?"

Aku menjawab, "Ya."

Maka beliau pun memuji dan menyanjung Allah -Ta'ālā-, lalu bersabda, "Amabakdu:

Sesungguhnya Ṭufail telah bermimpi tentang sesuatu, dan telah diberitahukan kepada sebagian orang dari kalian.

Dan sesungguhnya kalian telah mengucapkan suatu ucapan yang ketika itu saya tidak sempat melarangnya, karena aku disibukkan dengan urusan ini dan itu.

Oleh karena itu, janganlah kalian mengatakan, 'Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad', akan tetapi ucapkanlah, 'Atas kehendak Allah semata'."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Hadis di atas menunjukkan bahwa orang Yahudi pun mengetahui tentang perbuatan yang disebut syirik aṣgar (kecil).Kedua:Pemahaman seseorang akan kebenaran tidak menjamin ia melaksanakannya, apabila ia dipengaruhi oleh hawa nafsunya.Ketiga:Peringatan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (terhadap orang yang mengultuskannya), “Apakah engkau menjadikan diriku sekutu bagi Allah?" Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengatakan pada beliau,

Hadis di atas menunjukkan bahwa orang Yahudi pun mengetahui tentang perbuatan yang disebut syirik aṣgar (kecil).

Kedua:

Pemahaman seseorang akan kebenaran tidak menjamin ia melaksanakannya, apabila ia dipengaruhi oleh hawa nafsunya.

Ketiga:

Peringatan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (terhadap orang yang mengultuskannya), “Apakah engkau menjadikan diriku sekutu bagi Allah?" Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengatakan pada beliau,

"Tak ada seorang pun bagiku sebagai tempatku berlindung kecuali engkau ...” dan dua bait selanjutnya.

Keempat:Ucapan seseorang, “Atas kehendak Allah dan kehendakmu” termasuk syirik aṣgar, tidak termasuk syirik akbar, karena beliau bersabda, "Kalian telah mengucapkan suatu ucapan yang karena kesibukanku dengan ini dan itu aku tidak sempat melarangnya."Kelima:Mimpi yang baik termasuk bagian dari wahyu.Keenam:Mimpi kadang menjadi sebab disyariatkannya suatu hukum.

Ucapan seseorang, “Atas kehendak Allah dan kehendakmu” termasuk syirik aṣgar, tidak termasuk syirik akbar, karena beliau bersabda, "Kalian telah mengucapkan suatu ucapan yang karena kesibukanku dengan ini dan itu aku tidak sempat melarangnya."

Kelima:

Mimpi yang baik termasuk bagian dari wahyu.

Keenam:

Mimpi kadang menjadi sebab disyariatkannya suatu hukum.

 Bab Siapa yang Mencaci Masa Maka Dia Telah Menyakiti Allah

Firman Allah -Ta'ālā-,"Dan mereka berkata, 'Kehidupan ini tak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja."(QS. Al-Jāṡiyah: 24).Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ; Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Anak Adam (manusia) menyakiti-Ku, mereka mencaci masa, padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Akulah yang menjadikan malam dan siang silih berganti."

"Dan mereka berkata, 'Kehidupan ini tak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja."

(QS. Al-Jāṡiyah: 24).

Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ; Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,

"Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Anak Adam (manusia) menyakiti-Ku, mereka mencaci masa, padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Akulah yang menjadikan malam dan siang silih berganti."

Dalam riwayat yang lain, “Janganlah kalian mencaci masa, karena Allah -Ta'ālā- adalah Pemilik dan Pengatur masa."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Larangan mencaci masa.Kedua:Mencaci masa berarti menyakiti Allah -Ta'ālā-.Ketiga:Perlu merenungi sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Karena Allah adalah Pemilik dan Pengatur masa."Keempat:Mencaci mungkin saja dilakukan seseorang, meskipun ia tidak bermaksud demikian dalam hatinya.

Larangan mencaci masa.

Kedua:

Mencaci masa berarti menyakiti Allah -Ta'ālā-.

Ketiga:

Perlu merenungi sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Karena Allah adalah Pemilik dan Pengatur masa."

Keempat:

Mencaci mungkin saja dilakukan seseorang, meskipun ia tidak bermaksud demikian dalam hatinya.

 Bab Penggunaan Gelar “Qaḍī Al-Quḍāt”(Hakimnya Para Hakim) dan Semisalnya

Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ; Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Sesungguhnya nama (gelar manusia) yang paling hina di sisi Allah -Ta'ālā- adalah 'Rajanya para raja', karena tiada raja yang memiliki kekuasaan mutlak kecuali Allah."

"Sesungguhnya nama (gelar manusia) yang paling hina di sisi Allah -Ta'ālā- adalah 'Rajanya para raja', karena tiada raja yang memiliki kekuasaan mutlak kecuali Allah."

Sufyān mengemukakan contoh dengan berkata, "Seperti gelar Syāhān Syāh (rajanya para raja)."

Dalam riwayat lain, "Orang yang paling dimurkai dan paling jahat di sisi Allah pada hari Kiamat... "

Sabda Nabi, "Paling hina", artinya paling tercela.

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Larangan menggunakan gelar “Rajanya para raja”.Kedua:Larangan menggunakan gelar lain yang sejenis dengan gelar di atas, seperti contoh yang dikemukakan oleh Sufyān, yaitu “Syāhān Syāh”.Ketiga:Harus menyadari kerasnya larangan dari hal tersebut dan yang semisalnya, meskipun ada keyakinan bahwa hati tidak bermaksud demikian.Keempat:Larangan ini tidak lain hanyalah untuk mengagungkan Allah.

Larangan menggunakan gelar “Rajanya para raja”.

Kedua:

Larangan menggunakan gelar lain yang sejenis dengan gelar di atas, seperti contoh yang dikemukakan oleh Sufyān, yaitu “Syāhān Syāh”.

Ketiga:

Harus menyadari kerasnya larangan dari hal tersebut dan yang semisalnya, meskipun ada keyakinan bahwa hati tidak bermaksud demikian.

Keempat:

Larangan ini tidak lain hanyalah untuk mengagungkan Allah.

 Bab Memuliakan Nama-nama Allah dan Mengganti Nama untuk Tujuan Ini

Abu Syuraiḥ meriwayatkan, bahwa ia dulu diberi kun-yah (nama panggilan) “Abul Ḥakam”, Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya,"Allah -Ta'ālā- adalah Al-Ḥakam (penentu keputusan), dan hanya kepada-Nya segala permasalahan dimintakan keputusan hukumnya."

"Allah -Ta'ālā- adalah Al-Ḥakam (penentu keputusan), dan hanya kepada-Nya segala permasalahan dimintakan keputusan hukumnya."

Kemudian ia berkata, “Sesungguhnya kaumku apabila berselisih pendapat dalam suatu masalah mereka mendatangiku, lalu aku memberikan keputusan hukum di antara mereka, dan kedua belah pihak pun sama-sama menerimanya.”

Maka Nabi bersabda, "Alangkah baiknya hal ini, apakah kamu punya anak?"

Aku menjawab, “Syuraiḥ, Muslim, dan Abdullah.”

Nabi bertanya, "Siapa yang tertua di antara mereka?"

“Syuraiḥ”, Jawabku.

Nabi bersabda, "Kalau demikian kamu adalah Abu Syuraiḥ." (HR. Abu Daud dan ahli hadis lainnya).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Wajib memuliakan nama dan sifat Allah (dengan tidak menggunakan nama atau kun-yah yang maknanya sejajar dengan nama Allah), walaupun tidak bermaksud demikian.Kedua:Dianjurkan mengganti nama yang kurang baik untuk memuliakan nama Allah.Ketiga:Memilih nama anak yang tertua untuk kun-yah (nama panggilan).

Wajib memuliakan nama dan sifat Allah (dengan tidak menggunakan nama atau kun-yah yang maknanya sejajar dengan nama Allah), walaupun tidak bermaksud demikian.

Kedua:

Dianjurkan mengganti nama yang kurang baik untuk memuliakan nama Allah.

Ketiga:

Memilih nama anak yang tertua untuk kun-yah (nama panggilan).

 Bab Mengolok-olok Sesuatu yang Berkaitan dengan Nama Allah, Al-Qur`ān Atau Rasulullah

Firman Allah -Ta'ālā-,"Dan jika kamu tanyakan kepada orang-orang munafik (tentang apa yang mereka lakukan) tentulah mereka akan menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja'. Katakanlah, 'Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?"(QS. At-Taubah: 65).

"Dan jika kamu tanyakan kepada orang-orang munafik (tentang apa yang mereka lakukan) tentulah mereka akan menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja'. Katakanlah, 'Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?"

(QS. At-Taubah: 65).

Ibnu Umar, Muhammad bin Ka'ab, Zaid bin Aslam, dan Qatādah meriwayatkan suatu hadis dengan rangkuman sebagai berikut: Bahwasanya ketika dalam peperangan Tabuk, ada seseorang yang berkata, "Belum pernah kami melihat seperti para ahli Al-Qur`ān (qurrā`) ini, orang yang lebih buncit perutnya, dan lebih dusta mulutnya, dan lebih pengecut dalam peperangan.” Maksudnya adalah: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan para sahabat yang ahli Al-Qur`ān. Maka 'Auf bin Mālik berkata kepadanya, “Kau pendusta, kau munafik, aku akan beritahukan hal ini kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.”

Lalu berangkatlah 'Auf bin Mālik kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk memberitahukan hal ini kepada beliau, akan tetapi sebelum ia sampai, telah turun wahyu kepada beliau.

Orang itu lalu datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, sedangkan beliau sudah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya.

Ia berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah! Sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang yang mengadakan perjalanan untuk menghilangkan penatnya perjalanan.” Ibnu Umar mengisahkan, "Sepertinya aku melihat orang tadi berpegangan pada sabuk pelana unta Rasulullah, sedang kedua kakinya tersandung-sandung batu, sambil berkata, 'Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja'." Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya,"Apakah dengan Allah, ayat-ayat -Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?! Janganlah kalian membuat-buat alasan, sungguh kamu telah kafir setelah beriman."Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengatakan seperti itu tanpa menoleh, dan tidak bersabda kepadanya lebih dari pada itu.

"Apakah dengan Allah, ayat-ayat -Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?! Janganlah kalian membuat-buat alasan, sungguh kamu telah kafir setelah beriman."

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengatakan seperti itu tanpa menoleh, dan tidak bersabda kepadanya lebih dari pada itu.

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama: Poin terpenting dalam bab ini, yaitu bahwa orang yang bersenda gurau dan mengolok-olok dengan menyebut nama Allah, ayat ayat -Nya dan Rasul-Nya adalah kafir.

Kedua: Ini adalah penafsiran dari ayat di atas, untuk orang yang melakukan perbuatan itu, siapa pun dia.

Ketiga: Adanya perbedaan yang sangat jelas antara menghasut (adu domba) dan setia kepada Allah dan Rasul-Nya (dengan melaporkan makar orang-orang munafik).

Keempat: Ada perbedaan yang cukup jelas antara sikap memaafkan yang dicintai Allah dengan bersikap tegas terhadap musuh-musuh Allah.

Kelima: Tidak setiap permintaan maaf dapat diterima.

 Bab [Menyukuri Nikmat Allah] Firman Allah -Ta'ālā-,"Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, 'Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya.' Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras."(QS. Fuṣṣilat: 50).

 "Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, 'Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya.' Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras."

 (QS. Fuṣṣilat: 50).

Mujāhid mengatakan (tentang makna 'ini adalah hakku'), "Ini adalah karena jerih payahku, dan akulah yang berhak memilikinya."

Sedangkan Ibnu 'Abbās mengatakan, "Ini adalah dari diriku sendiri."

Juga firman-Nya,"Ia (Karun) berkata, 'Sesungguhnya aku diberi harta kekayaan ini, tiada lain karena ilmu yang ada padaku'."Qatādah -dalam menafsirkan ucapan Karun ini- mengatakan, "Maksudnya: karena ilmu pengetahuanku tentang berbagai amal usaha."

"Ia (Karun) berkata, 'Sesungguhnya aku diberi harta kekayaan ini, tiada lain karena ilmu yang ada padaku'."

Qatādah -dalam menafsirkan ucapan Karun ini- mengatakan, "Maksudnya: karena ilmu pengetahuanku tentang berbagai amal usaha."

Ahli tafsir lainnya mengatakan, "Karena Allah mengetahui bahwa aku orang yang layak menerima harta kekayaan itu."

Ini semakna dengan penafsiran Mujāhid, yaitu: "Aku diberi harta kekayaan ini karena kemulianku."

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita penyakit kusta, orang berkepala botak, dan orang buta.

"Ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita penyakit kusta, orang berkepala botak, dan orang buta.

Kemudian Allah -Ta'ālā- ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.

Maka datanglah malaikat itu kepada penderita penyakit kusta dan bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?'

Ia menjawab, 'Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku.'

Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus dan kulit yang indah,

Kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya, 'Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?'

Ia menjawab, 'Unta -atau sapi-.' (Isḥāq, perawi hadis ini ragu antara keduanya). Lalu diberilah ia seekor unta yang sedang bunting,

Malaikat itu lalu berkata, 'Semoga Allah memberikan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.'

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang berkepala botak.

Ia bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?'

Ia menjawab, 'Rambut yang indah, dan apa yang menjijikkan manusia di kepalaku ini hilang.'

Maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah.

Kemudian malaikat tadi bertanya lagi kepadanya, 'Harta apakah yang paling kamu senangi?'

Ia menjawab, 'Sapi -atau unta-.' Maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting,

seraya didoakan, 'Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.'

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang buta,

dan bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?'

Ia menjawab, 'Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat manusia.' Maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu Allah mengembalikan penglihatannya.

Kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya, 'Harta apakah yang paling kamu senangi?'

Ia menjawab, 'Kambing.'

Maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting. Lalu berkembang-biaklah unta, sapi, dan kambing tersebut.

Sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing."

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melanjutkan, "Kemudian datanglah malaikat itu kepada orang yang sebelumnya menderita penyakit kusta, dengan menyerupai dirinya di saat ia masih dalam keadaan berpenyakit kusta. Ia berkata kepadanya, 'Aku orang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda.

Demi Allah yang telah memberi Anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan yang banyak ini! Aku meminta kepada Anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku.'

Orang itu malah menjawab, 'Hak-hak (tanggungan yang mesti aku tunaikan) masih banyak.'

Kemudian malaikat tadi berkata kepadanya, 'Sepertinya aku pernah mengenal Anda; bukankah Anda ini dahulu orang yang menderita penyakit kusta, yang membuat manusia merasa jijik melihat Anda, juga seorang yang miskin, kemudian Allah memberikan kepada Anda harta kekayaan?'

Dia malah menjawab, 'Harta kekayaan ini warisan dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.'

Maka malaikat berkata, 'Jika Anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.'"

Rasulullah melanjutkan, "Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dengan menyerupai dirinya di saat masih botak.

Ia berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakit kusta, serta ditolaknya pula permintaannya sebagaimana ia ditolak oleh orang yang pertama.

Maka malaikat itu berkata, 'Jika Anda berkata bohong niscaya Allah akan mengembalikan Anda seperti keadaan Anda semula.'

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu di saat ia masih buta, dan berkata kepadanya, 'Aku adalah orang yang miskin, yang kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan Anda.

Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan Anda! Aku meminta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.'

Maka orang itu menjawab, 'Sungguh aku dahulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah sesuka Anda, dan tinggalkan apa yang tidak Anda sukai. Demi Allah! Saya tidak akan mempersulit Anda dengan mengembalikan sesuatu yang telah Anda ambil karena Allah.'

Maka malaikat tadi berkata, 'Tahanlah harta kekayaan Anda, karena sesungguhnya kalian bertiga hanya diuji oleh Allah -Ta'ālā-, Allah telah rida kepada Anda, dan murka kepada kedua teman Anda.'" (HR. Bukhari dan Muslim).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama: Tafsir ayat di atas.

Kedua: Makna firman Allah, "Pastilah ia berkata, 'Ini adalah hakku'."

Ketiga: Makna ucapan Karun dalam ayat, "Sesungguhnya aku diberi kekayaan ini tiada lain karena ilmu yang ada padaku."

Keempat: Kisah menarik, sebagaimana yang terkandung dalam hadis ini, memuat pelajaran-pelajaran yang berharga dalam kehidupan ini.

 Bab [Nama Yang Diperhambakan Kepada Selain Allah] Firman Allah -Ta'ālā-,"Ketika Allah mengaruniakan kepada mereka seorang anak laki-laki yang sempurna (wujudnya), maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal (anak) yang dikaruniakan kepada mereka, Mahasuci Allah dari perbuatan syirik mereka."(QS. Al-A'rāf: 190).Ibnu Ḥazm berkata,"Para ulama telah sepakat mengharamkan setiap nama yang diperhambakan kepada selain Allah, seperti: 'Abdu 'Amr (hambanya 'Amr), 'Abdul-Ka'bah (hambanya Kakbah) dan yang sejenisnya, kecuali 'Abdul-Muṭṭalib."

 "Ketika Allah mengaruniakan kepada mereka seorang anak laki-laki yang sempurna (wujudnya), maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal (anak) yang dikaruniakan kepada mereka, Mahasuci Allah dari perbuatan syirik mereka."

 (QS. Al-A'rāf: 190).

Ibnu Ḥazm berkata,

"Para ulama telah sepakat mengharamkan setiap nama yang diperhambakan kepada selain Allah, seperti: 'Abdu 'Amr (hambanya 'Amr), 'Abdul-Ka'bah (hambanya Kakbah) dan yang sejenisnya, kecuali 'Abdul-Muṭṭalib."

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, "Setelah Adam menggauli istrinya, Hawa, ia pun hamil, lalu iblis mendatangi mereka berdua seraya berkata, 'Sungguh, aku adalah kawanmu berdua yang telah mengeluarkan kalian dari surga. Demi Allah! Hendaknya kalian menaati aku, jika tidak maka akan aku jadikan anakmu bertanduk dua seperti rusa, sehingga akan keluar dari perut istrimu dengan merobeknya.

Demi Allah, itu pasti akan ku lakukan!" Yakni Iblis menakut-nakuti mereka berdua.

Selanjutnya Iblis berkata, 'Namailah anakmu dengan 'Abdul-Ḥāriṡ (hamba iblis).'

Tapi keduanya menolak untuk menaatinya, dan ketika bayi itu lahir, ia lahir dalam keadaan mati.

Kemudian Hawa hamil lagi, dan datanglah Iblis itu dengan mengatakan seperti apa yang pernah dikatakan sebelumnya. Tapi keduanya menolak untuk menaatinya, dan ketika bayi itu lahir, ia lahir dalam keadaan mati.

Kemudian Hawa hamil lagi, dan datanglah Iblis itu dengan mengingatkan apa yang pernah dikatakan sebelumnya. Karena Adam dan Hawa cenderung lebih mencintai keselamatan anaknya, maka ia memberi nama anaknya dengan 'Abdul-Ḥāriṡ.

Itulah penafsiran Firman Allah -Ta'ālā-, 'Maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal (anak) yang dikaruniakan kepada mereka'."(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ḥātim).

(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ḥātim).

Ibnu Abi Ḥātim meriwayatkan pula, dengan sanad yang sahih, bahwa Qatādah dalam menafsirkan ayat ini mengatakan, "Yaitu, menyekutukan Allah dengan taat kepada Iblis, bukan dalam beribadah kepadanya."

Ibnu Abi Ḥātim meriwayatkan pula, dengan sanad yang sahih, bahwa Mujāhid menafsirkan ayat ini, "Jika Engkau mengaruniakan anak laki-laki yang sempurna (wujudnya)" dengan berkata, "Adam dan Hawa khawatir kalau anak itu lahir tidak dalam wujud manusia."

Penafsiran yang semakna dengan ini diriwayatkannya pula dari Al-Ḥasan (Al-Baṣriy), Sa'īd, dan ulama lainnya.

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Dilarang memberi nama yang diperhambakan kepada selain Allah.Kedua:Tafsir ayat yang telah disebutkan di atas.Ketiga:Kesyirikan ini disebabkan oleh sekadar pemberian nama saja, tanpa bermaksud yang sebenarnya.Keempat:Pemberian anak perempuan dengan wujud yang sempurna merupakan nikmat Allah yang wajib disyukuri.Kelima:Ulama salaf menyebutkan perbedaan antara kesyirikan dalam bentuk ketaatan dan kesyirikan dalam bentuk ibadah.Bab [Menetapkan Al-Asmā` Al-Husnā Hanya Untuk Allah Dan Tidak Menyelewengkannya] Firman Allah -Ta'ālā-,"Hanya milik Allahlah al-asmā` al-ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmā`-Nya itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyelewengkan asmā`-Nya."(QS. Al-A'rāf: 180).

Dilarang memberi nama yang diperhambakan kepada selain Allah.

Kedua:

Tafsir ayat yang telah disebutkan di atas.

Ketiga:

Kesyirikan ini disebabkan oleh sekadar pemberian nama saja, tanpa bermaksud yang sebenarnya.

Keempat:

Pemberian anak perempuan dengan wujud yang sempurna merupakan nikmat Allah yang wajib disyukuri.

Kelima:

Ulama salaf menyebutkan perbedaan antara kesyirikan dalam bentuk ketaatan dan kesyirikan dalam bentuk ibadah.

 Bab [Menetapkan Al-Asmā` Al-Husnā Hanya Untuk Allah Dan Tidak Menyelewengkannya] Firman Allah -Ta'ālā-,

 "Hanya milik Allahlah al-asmā` al-ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmā`-Nya itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyelewengkan asmā`-Nya."

 (QS. Al-A'rāf: 180).

Ibnu Abi Ḥātim meriwayatkan dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- tentang maksud firman Allah "Menyelewengkan asmā`-Nya", ia mengatakan, bahwa maksudnya adalah: "Berbuat syirik (dalam asmā`-Nya)."

Juga diriwayatkan dari Ibnu 'Abbās, ia berkata, "Orang-orang manamai al-lāta dari (penyelewengan) kata al-ilāh (Allah), dan al-'uzzā dari (penyelewengan) kata al-'azīz (Yang Mahamulia)."

Al-A'masy -dalam menafsirkan ayat tersebut- mengatakan, "Mereka memasukkan ke dalam nama-Nya nama-nama yang bukan dari-Nya."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Wajib menetapkan nama-nama Allah yang sahih.Kedua:Semua nama-nama Allah adalah ḥusnā (Mahaindah).Ketiga:Perintah untuk berdoa dengan menyebut al-asmā` al-ḥusnā.Keempat:Wajib meninggalkan orang-orang yang menentang al-asmā` al-ḥusnā dan menyelewengkannya.Kelima:Penjelasan tentang bentuk penyelewengan al-asmā` al-ḥusnā.Keenam:Ancaman terhadap orang-orang yang menyelewengkan al-asmā` al-ḥusnā.

Wajib menetapkan nama-nama Allah yang sahih.

Kedua:

Semua nama-nama Allah adalah ḥusnā (Mahaindah).

Ketiga:

Perintah untuk berdoa dengan menyebut al-asmā` al-ḥusnā.

Keempat:

Wajib meninggalkan orang-orang yang menentang al-asmā` al-ḥusnā dan menyelewengkannya.

Kelima:

Penjelasan tentang bentuk penyelewengan al-asmā` al-ḥusnā.

Keenam:

Ancaman terhadap orang-orang yang menyelewengkan al-asmā` al-ḥusnā.

 Bab Larangan Mengucapkan: "As-Salāmu 'Alallāh"

Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ; Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Ketika kami melakukan salat bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, kami pernah mengucapkan, "As-salāmu 'alallāhi min 'ibādihi, as-salāmu 'alā fulān wa fulān (semoga keselamatan untuk Allah dari hamba-hambanya, dan semoga keselamatan untuk si polan dan si polan)." Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Janganlah kamu mengucapkan, 'As-salāmu 'alallāh (semoga kesejahteraan untuk Allah)', karena sesungguhnya Allah adalah Maha Pemberi keselamatan."

"Janganlah kamu mengucapkan, 'As-salāmu 'alallāh (semoga kesejahteraan untuk Allah)', karena sesungguhnya Allah adalah Maha Pemberi keselamatan."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Penjelasan makna As-Salām.Kedua:As-Salām merupakan ucapan selamat.Ketiga:Hal ini tidak sesuai untuk Allah.Keempat:Penyebutan alasan pelarangan hal itu.Kelima:Pengajaran para sahabat tentang ucapan penghormatan yang sesuai untuk Allah.

Penjelasan makna As-Salām.

Kedua:

As-Salām merupakan ucapan selamat.

Ketiga:

Hal ini tidak sesuai untuk Allah.

Keempat:

Penyebutan alasan pelarangan hal itu.

Kelima:

Pengajaran para sahabat tentang ucapan penghormatan yang sesuai untuk Allah.

 Bab Doa: “Ya Allah! Ampunilah Aku Jika Engkau Menghendaki”

Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ; Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berdoa dengan ucapan, 'Ya Allah! Ampunilah aku jika Engkau menghendaki', atau berdoa, 'Ya Allah! Rahmatilah aku jika Engkau menghendaki'. Tetapi hendaklah meminta dengan mantap, karena sesungguhnya Allah -Ta'ālā- tidak ada sesuatu pun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu."Dalam riwayat Muslim disebutkan:"... dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah tidak diberatkan karena sesuatu yang Dia berikan."

"Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berdoa dengan ucapan, 'Ya Allah! Ampunilah aku jika Engkau menghendaki', atau berdoa, 'Ya Allah! Rahmatilah aku jika Engkau menghendaki'. Tetapi hendaklah meminta dengan mantap, karena sesungguhnya Allah -Ta'ālā- tidak ada sesuatu pun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu."

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

"... dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah tidak diberatkan karena sesuatu yang Dia berikan."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Larangan mengucapkan kata, "Jika Engkau menghendaki” dalam berdoa.Kedua:Penjelasan penyebab larangan hal tersebut.Ketiga:Perintah bersungguh-sungguh dalam doa, "Tetapi hendaklah meminta dengan mantap."Keempat:Diperintahkan untuk membesarkan harapan dalam berdoa.Kelima:Penjelasan penyebab perintah untuk hal tersebut.

Larangan mengucapkan kata, "Jika Engkau menghendaki” dalam berdoa.

Kedua:

Penjelasan penyebab larangan hal tersebut.

Ketiga:

Perintah bersungguh-sungguh dalam doa, "Tetapi hendaklah meminta dengan mantap."

Keempat:

Diperintahkan untuk membesarkan harapan dalam berdoa.

Kelima:

Penjelasan penyebab perintah untuk hal tersebut.

 Bab Larangan Mengucapkan, “'Abdī (Hamba Laki-lakiku)" atau "Amatī (Hamba Perempuanku)

Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ; Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Janganlah salah seorang di antara kalian berkata (kepada hamba sahaya atau pelayannya), 'Hidangkan makanan untuk rabb-mu (pemilikmu)', dan 'ambilkan air wudu untuk rabb-mu (pemilikmu)'. Tetapi hendaknya pelayan itu mengatakan, 'Tuanku', atau 'majikanku'. Dan janganlah salah seorang di antara kalian berkata (kepada budaknya), 'Hamba laki-lakiku', dan 'hamba perempuanku'. Tetapi, hendaknya ia berkata, 'Bujangku', 'gadisku', dan 'anakku'."

"Janganlah salah seorang di antara kalian berkata (kepada hamba sahaya atau pelayannya), 'Hidangkan makanan untuk rabb-mu (pemilikmu)', dan 'ambilkan air wudu untuk rabb-mu (pemilikmu)'. Tetapi hendaknya pelayan itu mengatakan, 'Tuanku', atau 'majikanku'. Dan janganlah salah seorang di antara kalian berkata (kepada budaknya), 'Hamba laki-lakiku', dan 'hamba perempuanku'. Tetapi, hendaknya ia berkata, 'Bujangku', 'gadisku', dan 'anakku'."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Larangan mengatakan, 'Abdī atau Amatī”, yang berarti hambaku.Kedua:Seorang hamba sahaya tidak boleh memanggil majikannya dengan ucapan, “Rabbī” (pemilikku). Juga tidak dibolehkan mengucapkan padanya, “Hidangkan makanan untuk rabb-mu (pemilikmu)'.”Ketiga:Dianjurkan kepada majikan atau tuan untuk memanggil pelayan atau hamba sahayanya dengan ucapan: fatāya (bujangku), fatātī (gadisku), dan gulāmī (anakku).Keempat:Dianjurkan kepada pelayan atau hamba sahaya untuk memanggil tuan atau majikannya dengan panggilan, sayyidī (tuanku) atau maulāya (majikanku).Kelima:Tujuan dari anjuran di atas untuk mengamalkan tauhid dengan semurni-murninya, sampai dalam hal ucapan.

Larangan mengatakan, 'Abdī atau Amatī”, yang berarti hambaku.

Kedua:

Seorang hamba sahaya tidak boleh memanggil majikannya dengan ucapan, “Rabbī” (pemilikku). Juga tidak dibolehkan mengucapkan padanya, “Hidangkan makanan untuk rabb-mu (pemilikmu)'.”

Ketiga:

Dianjurkan kepada majikan atau tuan untuk memanggil pelayan atau hamba sahayanya dengan ucapan: fatāya (bujangku), fatātī (gadisku), dan gulāmī (anakku).

Keempat:

Dianjurkan kepada pelayan atau hamba sahaya untuk memanggil tuan atau majikannya dengan panggilan, sayyidī (tuanku) atau maulāya (majikanku).

Kelima:

Tujuan dari anjuran di atas untuk mengamalkan tauhid dengan semurni-murninya, sampai dalam hal ucapan.

 Bab Larangan Menolak Permintaan Atas Nama Allah

Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang meminta perlindungan dengan menyebut nama Allah maka lindungilah; siapa yang meminta dengan menyebut nama Allah, maka berilah; siapa yang mengundangmu maka penuhilah undangannya; dan siapa yang berbuat kebaikan kepadamu, maka balaslah kebaikan itu (dengan sebanding atau lebih baik), dan jika engkau tidak mendapatkan sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka doakan ia, sampai engkau merasa yakin bahwa engkau telah membalas kebaikannya."(HR. Abu Daud dan An-Nasā`iy dengan sanad sahih).

"Siapa yang meminta perlindungan dengan menyebut nama Allah maka lindungilah; siapa yang meminta dengan menyebut nama Allah, maka berilah; siapa yang mengundangmu maka penuhilah undangannya; dan siapa yang berbuat kebaikan kepadamu, maka balaslah kebaikan itu (dengan sebanding atau lebih baik), dan jika engkau tidak mendapatkan sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka doakan ia, sampai engkau merasa yakin bahwa engkau telah membalas kebaikannya."

(HR. Abu Daud dan An-Nasā`iy dengan sanad sahih).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Perintah untuk mengabulkan permintaan orang yang meminta dengan menyebut nama Allah.Kedua:Perintah untuk melindungi orang yang meminta perlindungan dengan menyebut nama Allah.Ketiga:Anjuran untuk memenuhi undangan saudara seiman.Keempat:Perintah untuk membalas kebaikan.Kelima:Doa adalah balasan kebaikan dari orang yang tidak mampu membalasnya dengan hal lain.Keenam:Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menganjurkan untuk mendoakannya dengan sungguh-sungguh, sampai ia merasa yakin bahwa Anda telah membalas kebaikannya.

Perintah untuk mengabulkan permintaan orang yang meminta dengan menyebut nama Allah.

Kedua:

Perintah untuk melindungi orang yang meminta perlindungan dengan menyebut nama Allah.

Ketiga:

Anjuran untuk memenuhi undangan saudara seiman.

Keempat:

Perintah untuk membalas kebaikan.

Kelima:

Doa adalah balasan kebaikan dari orang yang tidak mampu membalasnya dengan hal lain.

Keenam:

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menganjurkan untuk mendoakannya dengan sungguh-sungguh, sampai ia merasa yakin bahwa Anda telah membalas kebaikannya.

 Bab Tidak Boleh Memohon Sesuatu Dengan Menyebut Wajah Allah Kecuali Permohonan Surga

Jābir -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidak boleh memohon (sesuatu) dengan menyebut wajah Allah kecuali permohonan surga."(HR. Abu Daud).

"Tidak boleh memohon (sesuatu) dengan menyebut wajah Allah kecuali permohonan surga."

(HR. Abu Daud).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Larangan memohon sesuatu dengan menyebut wajah Allah kecuali apabila yang dimohon itu adalah permohonan tertinggi, yaitu surga.Kedua:Menetapkan kebenaran adanya wajah bagi Allah -Ta'ālā-.

Larangan memohon sesuatu dengan menyebut wajah Allah kecuali apabila yang dimohon itu adalah permohonan tertinggi, yaitu surga.

Kedua:

Menetapkan kebenaran adanya wajah bagi Allah -Ta'ālā-.

 Bab Ucapan "Seandainya"

Firman Allah -Ta'ālā-,"Mereka (orang-orang munafik) mengatakan, 'Seandainya ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.'"(QS. Āli 'Imrān: 154).Juga firman-Nya,"Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka takut pergi berperang, 'Seandainya mereka mengikuti kita tentulah mereka sudah terbunuh.'"(QS. Āli 'Imrān: 16).Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ; Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan: 'Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu''. Tetapi katakanlah: 'Ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki'. Karena kata 'seandainya' itu akan membuka pintu perbuatan setan."

"Mereka (orang-orang munafik) mengatakan, 'Seandainya ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.'"

(QS. Āli 'Imrān: 154).

Juga firman-Nya,

"Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka takut pergi berperang, 'Seandainya mereka mengikuti kita tentulah mereka sudah terbunuh.'"

(QS. Āli 'Imrān: 16).

Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ; Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan: 'Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu''. Tetapi katakanlah: 'Ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki'. Karena kata 'seandainya' itu akan membuka pintu perbuatan setan."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir dua ayat dalam surah Āli 'Imrān.Kedua:Larangan mengucapkan kata “andai kata” atau “seandainya” apabila mendapat suatu musibah atau kegagalan.Ketiga:Alasannya, karena kata tersebut (seandainya/andai kata) akan membuka pintu perbuatan setan.Keempat:Petunjuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- supaya mengucapkan ucapan yang baik (meskipun dalam kegagalan).Kelima:Perintah untuk bersungguh-sungguh dalam mencari segala yang bermanfaat dengan senantiasa memohon pertolongan Allah.Keenam:Larangan bersikap sebaliknya, yaitu bersikap lemah.

Tafsir dua ayat dalam surah Āli 'Imrān.

Kedua:

Larangan mengucapkan kata “andai kata” atau “seandainya” apabila mendapat suatu musibah atau kegagalan.

Ketiga:

Alasannya, karena kata tersebut (seandainya/andai kata) akan membuka pintu perbuatan setan.

Keempat:

Petunjuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- supaya mengucapkan ucapan yang baik (meskipun dalam kegagalan).

Kelima:

Perintah untuk bersungguh-sungguh dalam mencari segala yang bermanfaat dengan senantiasa memohon pertolongan Allah.

Keenam:

Larangan bersikap sebaliknya, yaitu bersikap lemah.

 Bab Larangan Mencaci Maki Angin

Ubay bin Ka'ab -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Janganlah kamu mencaci maki angin. Apabila kamu melihat suatu hal yang tidak menyenangkan, maka berdoalah, 'Allāhumma innā nas`aluka min khairi hāżihir-rīḥ, wa khairi mā fīhā, wa khairi mā umirat bihi, wa na'ūżu bika min syarri hāżihir-rīḥ, wa syarri mā fīhā, wa syarri mā umirat bihi (Ya Allah! Sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang untuknya Kau perintahkan ia, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan yang untuknya Kau perintahkan ia)'."(Disahihkan oleh Tirmizi).

"Janganlah kamu mencaci maki angin. Apabila kamu melihat suatu hal yang tidak menyenangkan, maka berdoalah, 'Allāhumma innā nas`aluka min khairi hāżihir-rīḥ, wa khairi mā fīhā, wa khairi mā umirat bihi, wa na'ūżu bika min syarri hāżihir-rīḥ, wa syarri mā fīhā, wa syarri mā umirat bihi (Ya Allah! Sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang untuknya Kau perintahkan ia, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan yang untuknya Kau perintahkan ia)'."

(Disahihkan oleh Tirmizi).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Larangan mencaci maki angin.Kedua:Petunjuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mengucapkan doa, apabila manusia melihat sesuatu yang tidak menyenangkan.Ketiga:Pemberitahuan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa angin mendapat perintah dari Allah.Keempat:Angin yang bertiup itu kadang diperintah untuk suatu kebaikan, dan kadang diperintah untuk suatu keburukan.Bab [Larangan Berprasangka Buruk Terhadap Allah] Firman Allah -Ta'ālā-,"Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, 'Apakah ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?' Katakanlah, 'Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.' Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata, 'Sekiranya ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.' Katakanlah, 'Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.' Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi hati."(QS. Āli 'Imrān: 154).Firman Allah,"Mereka yang berprasangka buruk terhadap Allah, mereka akan mendapat giliran (keburukan) yang amat buruk, dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat kembali."(QS. Al-Fatḥ: 6).Ibnul-Qayyim dalam menafsirkan ayat yang pertama mengatakan,"Prasangka di sini maksudnya adalah bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- tidak akan memberikan pertolongan-Nya kepada Rasul-Nya, dan bahwa agama yang beliau bawa akan lenyap. Ada juga yang menafsirkan, bahwa apa yang menimpa beliau bukanlah dengan takdir (ketentuan) dan hikmah (kebijaksanaan) Allah. Jadi prasangka di sini ditafsirkan dengan tiga penafsiran:  Pertama: mengingkari adanya hikmah Allah.  Kedua: mengingkari takdir-Nya.  Ketiga: mengingkari bahwa agama yang dibawa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- akan disempurnakan dan dimenangkan Allah atas semua agama.  Inilah prasangka buruk yang dilakukan oleh orang-orang munafik dan orang-orang musyrik yang disebutkan dalam surah Al-Fatḥ.  Perbuatan ini disebut dengan prasangka buruk, karena prasangka yang demikian tidak layak untuk Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, tidak patut terhadap keagungan dan kebesaran Allah, serta tidak sesuai dengan kebijaksanaan-Nya, Puji-Nya, dan janji-Nya yang pasti benar.

Larangan mencaci maki angin.

Kedua:

Petunjuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mengucapkan doa, apabila manusia melihat sesuatu yang tidak menyenangkan.

Ketiga:

Pemberitahuan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa angin mendapat perintah dari Allah.

Keempat:

Angin yang bertiup itu kadang diperintah untuk suatu kebaikan, dan kadang diperintah untuk suatu keburukan.

 Bab [Larangan Berprasangka Buruk Terhadap Allah] Firman Allah -Ta'ālā-,

 "Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, 'Apakah ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?' Katakanlah, 'Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.' Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata, 'Sekiranya ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.' Katakanlah, 'Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.' Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi hati."

 (QS. Āli 'Imrān: 154).

Firman Allah,

"Mereka yang berprasangka buruk terhadap Allah, mereka akan mendapat giliran (keburukan) yang amat buruk, dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat kembali."

(QS. Al-Fatḥ: 6).

Ibnul-Qayyim dalam menafsirkan ayat yang pertama mengatakan,

"Prasangka di sini maksudnya adalah bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- tidak akan memberikan pertolongan-Nya kepada Rasul-Nya, dan bahwa agama yang beliau bawa akan lenyap. Ada juga yang menafsirkan, bahwa apa yang menimpa beliau bukanlah dengan takdir (ketentuan) dan hikmah (kebijaksanaan) Allah. Jadi prasangka di sini ditafsirkan dengan tiga penafsiran:  Pertama: mengingkari adanya hikmah Allah.  Kedua: mengingkari takdir-Nya.  Ketiga: mengingkari bahwa agama yang dibawa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- akan disempurnakan dan dimenangkan Allah atas semua agama.  Inilah prasangka buruk yang dilakukan oleh orang-orang munafik dan orang-orang musyrik yang disebutkan dalam surah Al-Fatḥ.  Perbuatan ini disebut dengan prasangka buruk, karena prasangka yang demikian tidak layak untuk Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, tidak patut terhadap keagungan dan kebesaran Allah, serta tidak sesuai dengan kebijaksanaan-Nya, Puji-Nya, dan janji-Nya yang pasti benar.

Oleh karena itu, siapa yang berprasangka bahwa Allah -Ta'ālā- akan memenangkan kebatilan atas kebenaran, disertai dengan lenyapnya kebenaran itu; atau berprasangka bahwa apa yang terjadi ini bukan karena kada dan takdir Allah; atau mengingkari adanya suatu hikmah yang besar sekali dalam takdir-Nya, yang dengan hikmah-Nya Allah berhak untuk dipuji; bahkan mengira bahwa yang terjadi hanya sekadar kehendak-Nya saja tanpa ada hikmah-Nya, maka inilah prasangka orang orang kafir. Sungguh bagi mereka akan ada balasan berupa neraka Wail. Kebanyakan manusia melakukan prasangka buruk kepada Allah -Ta'ālā-, baik dalam hal yang berkenaan dengan diri mereka sendiri, ataupun dalam hal yang berkenaan dengan orang lain, bahkan tidak ada orang yang selamat dari prasangka buruk ini, kecuali orang yang benar-benar mengenal Allah, nama-nama dan sifat-Nya, serta mengenal kepastian adanya hikmah dan keharusan adanya puji bagi-Nya sebagai konsekuensinya.

Maka orang yang berakal dan yang cinta kepada dirinya sendiri hendaklah memperhatikan masalah ini, dan segera bertobat kepada Allah, serta memohon ampunan-Nya atas prasangka buruk yang dilakukannya terhadap Allah.

Apabila Anda selidiki, siapa pun orangnya pasti akan Anda dapati pada dirinya sikap menyangkal dan mencemoohkan takdir Allah, dengan mengatakan bahwa hal tersebut semestinya begini dan begitu; di antara mereka ada yang sedikit sangkalannya dan ada juga yang banyak. Dan silakan periksalah diri Anda sendiri, apakah Anda bebas dari sikap tersebut?

Jika Anda selamat dari sikap tersebut, maka Anda selamat dari malapetaka yang besar... namun jika tidak, sungguh aku yakin Anda tidak akan selamat.

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir ayat dalam surah Āli 'Imrān.Kedua:Tafsir ayat dalam surah Al-Fatḥ.Ketiga:Penjelasan bahwa prasangka buruk itu banyak sekali macamnya.Keempat:Penjelasan bahwa tidak ada yang bisa selamat dari prasangka buruk ini kecuali orang yang mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah, serta mengenal dirinya sendiri.

Tafsir ayat dalam surah Āli 'Imrān.

Kedua:

Tafsir ayat dalam surah Al-Fatḥ.

Ketiga:

Penjelasan bahwa prasangka buruk itu banyak sekali macamnya.

Keempat:

Penjelasan bahwa tidak ada yang bisa selamat dari prasangka buruk ini kecuali orang yang mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah, serta mengenal dirinya sendiri.

 Bab Tentang Orang-orang yang Mengingkari Takdir Allah -Ta'ālā-

Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, “Demi Allah yang jiwa Ibnu Umar berada di tangan-Nya! Seandainya salah seorang memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu dia infakkan di jalan Allah, niscaya Allah tidak akan menerimanya, sampai ia beriman kepada kadar (ketentuan Allah)." Lalu Ibnu Umar berdalil dengan sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-:"Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada kadar baik dan buruknya."(HR. Muslim).Ubādah bin Aṣ-Ṣāmit -raḍiyallāhu 'anhu- berkata kepada anaknya, “Hai anakku! Sungguh kamu tidak akan bisa merasakan lezatnya iman sampai kamu meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan menimpa dirimu pasti tidak akan meleset, dan apa yang telah ditakdirkan tidak menimpa dirimu pasti tidak akan menimpamu. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,Sesungguhnya makhluk pertama kali yang diciptakan Allah adalah Qalam (pena), kemudian Allah berfirman kepadanya, 'Tulislah.' Maka pena itu menjawab, 'Ya Tuhanku! Apa yang mesti aku tulis?'

"Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada kadar baik dan buruknya."

(HR. Muslim).

Ubādah bin Aṣ-Ṣāmit -raḍiyallāhu 'anhu- berkata kepada anaknya, “Hai anakku! Sungguh kamu tidak akan bisa merasakan lezatnya iman sampai kamu meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan menimpa dirimu pasti tidak akan meleset, dan apa yang telah ditakdirkan tidak menimpa dirimu pasti tidak akan menimpamu. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

Sesungguhnya makhluk pertama kali yang diciptakan Allah adalah Qalam (pena), kemudian Allah berfirman kepadanya, 'Tulislah.' Maka pena itu menjawab, 'Ya Tuhanku! Apa yang mesti aku tulis?'

Allah berfirman, 'Tulislah takdir segala sesuatu sampai datang hari Kiamat.'

Hai anakku! Aku juga telah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,Siapa yang meninggal dunia tidak dalam keyakinan seperti ini, maka ia tidak tergolong umatku.'"Dalam riwayat Aḥmad:"Sesungguhnya makhluk pertama kali yang diciptakan Allah -Ta'ālā- adalah Qalam, kemudian Allah berfirman kepadanya, 'Tulislah!' Maka ditulislah saat itu apa yang akan terjadi sampai hari Kiamat.'"Dalam riwayat Ibnu Wahb; Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Maka siapa yang tidak beriman kepada takdir (ketentuan Allah); yang baik dan buruknya, maka Allah pasti akan membakarnya dengan api neraka."

Siapa yang meninggal dunia tidak dalam keyakinan seperti ini, maka ia tidak tergolong umatku.'"

Dalam riwayat Aḥmad:

"Sesungguhnya makhluk pertama kali yang diciptakan Allah -Ta'ālā- adalah Qalam, kemudian Allah berfirman kepadanya, 'Tulislah!' Maka ditulislah saat itu apa yang akan terjadi sampai hari Kiamat.'"

Dalam riwayat Ibnu Wahb; Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Maka siapa yang tidak beriman kepada takdir (ketentuan Allah); yang baik dan buruknya, maka Allah pasti akan membakarnya dengan api neraka."

Diriwayatkan dalam Al-Musnad dan As-Sunan; Ibnu Ad-Dailamiy meriwayatkan, Aku datang kepada Ubay bin Ka'ab, kemudian aku katakan kepadanya, "Ada sesuatu keraguan dalam hatiku tentang masalah takdir, maka sampaikanlah kepadaku suatu hadis dengan harapan semoga Allah -Ta'ālā- menghilangkan keraguan itu dari hatiku.” Maka ia berkata, "Seandainya kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, Allah tidak akan menerimanya darimu, sampai kamu beriman kepada takdir, dan kamu meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan mengenai dirimu pasti tidak akan meleset, dan apa yang telah ditakdirkan tidak mengenai dirimu pasti tidak akan menimpamu, dan jika kamu mati tidak dalam keyakinan seperti ini, pasti kamu menjadi penghuni neraka."

Ibnu Ad-Dailamiy melanjutkan: Lalu aku mendatangi Abdullah bin Mas'ūd, Ḥużaifah bin Al-Yamān, dan Zaid bin Ṡābit, semuanya mengucapkan kepadaku hadis yang sama dengan sabda Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di atas.(Hadis sahih; HR. Al-Ḥākim dalam Ṣaḥīḥ-nya).

(Hadis sahih; HR. Al-Ḥākim dalam Ṣaḥīḥ-nya).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Keterangan tentang kewajiban beriman kepada takdir.Kedua:Keterangan tentang cara beriman kepada takdir.Ketiga:Amal ibadah seseorang sia-sia jika tidak beriman kepada kadar.Keempat:Penjelasan bahwa seseorang tidak akan merasakan iman sebelum ia beriman kepada kadar.Kelima:Penjelasan makhluk pertama yang diciptakan Allah.Keenam:Diberitahukan dalam hadis bahwa -dengan perintah dari Allah- Qalam menulis semua takdir sampai hari Kiamat.Ketujuh:Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyatakan bahwa dirinya berlepas diri dari orang yang tidak beriman kepada kadar.Kedelapan:Tradisi para ulama salaf dalam menghilangkan keraguan, yaitu dengan bertanya kepada ulama.Kesembilan:Para ulama salaf memberikan jawaban yang dapat menghilangkan keraguannya tersebut; yaitu dengan hanya menyampaikan hadis dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

Keterangan tentang kewajiban beriman kepada takdir.

Kedua:

Keterangan tentang cara beriman kepada takdir.

Ketiga:

Amal ibadah seseorang sia-sia jika tidak beriman kepada kadar.

Keempat:

Penjelasan bahwa seseorang tidak akan merasakan iman sebelum ia beriman kepada kadar.

Kelima:

Penjelasan makhluk pertama yang diciptakan Allah.

Keenam:

Diberitahukan dalam hadis bahwa -dengan perintah dari Allah- Qalam menulis semua takdir sampai hari Kiamat.

Ketujuh:

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyatakan bahwa dirinya berlepas diri dari orang yang tidak beriman kepada kadar.

Kedelapan:

Tradisi para ulama salaf dalam menghilangkan keraguan, yaitu dengan bertanya kepada ulama.

Kesembilan:

Para ulama salaf memberikan jawaban yang dapat menghilangkan keraguannya tersebut; yaitu dengan hanya menyampaikan hadis dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

 Bab Tentang Penggambar Makhluk yang Bernyawa

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Dan tiada seseorang yang lebih zalim daripada orang yang bermaksud menciptakan makhluk seperti ciptaan-Ku. Maka cobalah mereka menciptakan seekor semut kecil, atau sebutir biji-bijian, atau sebutir biji gandum.'"(HR. Bukhari dan Muslim).Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Manusia yang paling pedih siksanya pada hari Kiamat adalah orang-orang yang membuat penyerupaan dengan makhluk Allah."Mereka berdua juga meriwayatkan dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwa ia mengabarkan, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Setiap muṣawwir (perupa) berada di dalam neraka, dan setiap gambar yang dibuatnya diberi napas untuk menyiksa dirinya dalam neraka Jahanam."Mereka berdua juga meriwayatkan dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū’:"Siapa yang membuat gambar di dunia, maka kelak (pada hari Kiamat) ia akan dibebani untuk meniupkan ruh ke dalam rupaka yang dibuatnya, namun ia tidak bisa meniupkannya."Imam Muslim meriwayatkan dari Abul-Hayyāj, ia berkata, Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- berkata kepadaku,"Maukah kamu aku utus untuk suatu tugas sebagaimana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutusku untuk tugas tersebut? Yaitu: janganlah kamu biarkan ada sebuah gambar tanpa kamu musnahkan, dan janganlah kamu biarkan ada sebuah kuburan yang menonjol kecuali kamu ratakan."

"Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Dan tiada seseorang yang lebih zalim daripada orang yang bermaksud menciptakan makhluk seperti ciptaan-Ku. Maka cobalah mereka menciptakan seekor semut kecil, atau sebutir biji-bijian, atau sebutir biji gandum.'"

(HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Manusia yang paling pedih siksanya pada hari Kiamat adalah orang-orang yang membuat penyerupaan dengan makhluk Allah."

Mereka berdua juga meriwayatkan dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwa ia mengabarkan, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Setiap muṣawwir (perupa) berada di dalam neraka, dan setiap gambar yang dibuatnya diberi napas untuk menyiksa dirinya dalam neraka Jahanam."

Mereka berdua juga meriwayatkan dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū’:

"Siapa yang membuat gambar di dunia, maka kelak (pada hari Kiamat) ia akan dibebani untuk meniupkan ruh ke dalam rupaka yang dibuatnya, namun ia tidak bisa meniupkannya."

Imam Muslim meriwayatkan dari Abul-Hayyāj, ia berkata, Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- berkata kepadaku,

"Maukah kamu aku utus untuk suatu tugas sebagaimana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutusku untuk tugas tersebut? Yaitu: janganlah kamu biarkan ada sebuah gambar tanpa kamu musnahkan, dan janganlah kamu biarkan ada sebuah kuburan yang menonjol kecuali kamu ratakan."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Ancaman berat bagi para penggambar/pembuat makhluk yang bernyawa.Kedua:Penjelasan penyebab keharamannya, yaitu ia merupakan adab yang buruk kepada Allah -Ta'ālā-, sebagaimana firman-Nya, "Dan tiada orang yang lebih zalim daripada orang yang menciptakan makhluk seperti ciptaan-Ku."Ketiga:Firman Allah, "Maka cobalah mereka ciptakan seekor semut kecil, atau sebutir biji-bijian, atau sebutir biji gandum"; menunjukkan kekuasaan Allah dan kelemahan manusia.Keempat:Penegasan bahwa para perupa adalah manusia yang paling pedih siksanya.Kelima:Allah akan membuat ruh untuk setiap gambar yang dibuat guna menyiksa perupa (pembuat gambar) tersebut dalam neraka Jahanam.Keenam:Perupa akan dibebani untuk meniupkan ruh ke dalam gambar yang dibuatnya.Ketujuh:Perintah untuk memusnahkan gambar apabila menjumpainya.

Ancaman berat bagi para penggambar/pembuat makhluk yang bernyawa.

Kedua:

Penjelasan penyebab keharamannya, yaitu ia merupakan adab yang buruk kepada Allah -Ta'ālā-, sebagaimana firman-Nya, "Dan tiada orang yang lebih zalim daripada orang yang menciptakan makhluk seperti ciptaan-Ku."

Ketiga:

Firman Allah, "Maka cobalah mereka ciptakan seekor semut kecil, atau sebutir biji-bijian, atau sebutir biji gandum"; menunjukkan kekuasaan Allah dan kelemahan manusia.

Keempat:

Penegasan bahwa para perupa adalah manusia yang paling pedih siksanya.

Kelima:

Allah akan membuat ruh untuk setiap gambar yang dibuat guna menyiksa perupa (pembuat gambar) tersebut dalam neraka Jahanam.

Keenam:

Perupa akan dibebani untuk meniupkan ruh ke dalam gambar yang dibuatnya.

Ketujuh:

Perintah untuk memusnahkan gambar apabila menjumpainya.

 Bab Larangan Banyak Bersumpah

Firman Allah -Ta'ālā-,"Dan jagalah sumpah-sumpahmu."(QS. Al-Mā`idah: 89).Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sumpah itu dapat melariskan barang dagangan namun dapat menghapus keberkahan usaha."(HR. Bukhari dan Muslim).Salmān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tiga orang yang mereka itu tidak diajak bicara oleh Allah, tidak disucikan oleh Allah (pada hari Kiamat), dan mereka menerima azab yang pedih, yaitu: orang yang sudah beruban (tua) yang berzina, orang miskin yang sombong, dan orang yang menjadikan Allah sebagai barang dagangannya, ia tidak membeli atau menjual kecuali dengan bersumpah."(HR. Aṭ-Ṭabarāniy dengan sanad sahih).Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ; 'Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sebaik-baik umatku adalah mereka yang hidup pada masaku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya lagi.” –'Imrān berkata, “Aku tidak ingat lagi apakah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan generasi setelah masa beliau dua kali atau tiga?”– “Kemudian akan ada setelah masa kalian orang-orang yang memberikan kesaksian sebelum ia diminta, mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya, mereka bernazar tapi tidak memenuhi nazarnya, dan badan mereka tampak gemuk-gemuk."Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ juga; Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sebaik-baik manusia adalah mereka yang hidup pada masaku, kemudian generasi yang datang berikutnya, kemudian generasi yang datang berikutnya lagi, kemudian akan datang orang-orang yang kesaksian mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului kesaksiannya."

"Dan jagalah sumpah-sumpahmu."

(QS. Al-Mā`idah: 89).

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Sumpah itu dapat melariskan barang dagangan namun dapat menghapus keberkahan usaha."

(HR. Bukhari dan Muslim).

Salmān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Tiga orang yang mereka itu tidak diajak bicara oleh Allah, tidak disucikan oleh Allah (pada hari Kiamat), dan mereka menerima azab yang pedih, yaitu: orang yang sudah beruban (tua) yang berzina, orang miskin yang sombong, dan orang yang menjadikan Allah sebagai barang dagangannya, ia tidak membeli atau menjual kecuali dengan bersumpah."

(HR. Aṭ-Ṭabarāniy dengan sanad sahih).

Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ; 'Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Sebaik-baik umatku adalah mereka yang hidup pada masaku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya lagi.” –'Imrān berkata, “Aku tidak ingat lagi apakah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan generasi setelah masa beliau dua kali atau tiga?”– “Kemudian akan ada setelah masa kalian orang-orang yang memberikan kesaksian sebelum ia diminta, mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya, mereka bernazar tapi tidak memenuhi nazarnya, dan badan mereka tampak gemuk-gemuk."

Dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ juga; Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Sebaik-baik manusia adalah mereka yang hidup pada masaku, kemudian generasi yang datang berikutnya, kemudian generasi yang datang berikutnya lagi, kemudian akan datang orang-orang yang kesaksian mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului kesaksiannya."

Ibrahim (An-Nakha'iy) berkata, "Mereka memukuli kami karena kesaksian dan sumpah (yang kami lakukan) ketika kami masih kecil."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Adanya wasiat untuk menjaga sumpah.Kedua:Penjelasan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa sumpah itu dapat melariskan barang dagangan, tapi ia juga dapat menghapus keberkahan usaha itu.Ketiga:Ancaman berat bagi orang yang selalu bersumpah, baik ketika menjual atau membeli.Keempat:Peringatan bahwa dosa itu bisa menjadi besar walaupun faktor yang mendorong untuk melakukannya itu kecil.Kelima:Larangan dan celaan bagi orang yang bersumpah tanpa diminta.Keenam:Pujian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk ketiga generasi atau keempat generasi (sebagaimana tersebut dalam suatu hadis), dan memberitakan apa yang akan terjadi selanjutnya.Ketujuh:Larangan dan celaan bagi orang yang memberikan kesaksian tanpa diminta.Kedelapan:Orang-orang salaf (terdahulu) memukul anak-anak kecil karena memberikan kesaksian dan melakukan perjanjian.

Adanya wasiat untuk menjaga sumpah.

Kedua:

Penjelasan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa sumpah itu dapat melariskan barang dagangan, tapi ia juga dapat menghapus keberkahan usaha itu.

Ketiga:

Ancaman berat bagi orang yang selalu bersumpah, baik ketika menjual atau membeli.

Keempat:

Peringatan bahwa dosa itu bisa menjadi besar walaupun faktor yang mendorong untuk melakukannya itu kecil.

Kelima:

Larangan dan celaan bagi orang yang bersumpah tanpa diminta.

Keenam:

Pujian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk ketiga generasi atau keempat generasi (sebagaimana tersebut dalam suatu hadis), dan memberitakan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ketujuh:

Larangan dan celaan bagi orang yang memberikan kesaksian tanpa diminta.

Kedelapan:

Orang-orang salaf (terdahulu) memukul anak-anak kecil karena memberikan kesaksian dan melakukan perjanjian.

 Bab Perjanjian dengan Allah dan Nabi-Nya

Firman Allah,"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu itu sesudah mengukuhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat."(QS. An-Naḥl: 91).Buraidah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Apabila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengangkat komandan pasukan perang atau batalion, beliau menyampaikan pesan kepadanya agar selalu bertakwa kepada Allah, dan berlaku baik kepada kaum muslimin yang bersamanya, kemudian beliau bersabda,"Seranglah mereka dengan nama Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah demi jalan Allah, seranglah dan janganlah kamu menggelapkan harta rampasan perang, jangan mengkhianati perjanjian, jangan memutilasi korban yang terbunuh, dan jangan membunuh anak-anak. Apabila kamu menjumpai musuh-musuhmu dari kalangan orang-orang musyrik, maka ajaklah mereka kepada tiga hal: apa saja yang mereka setujui, maka terimalah dan hentikanlah penyerangan terhadap mereka. Lalu ajaklah mereka kepada agama Islam; jika mereka menerima maka terimalah mereka, kemudian ajaklah mereka berhijrah dari daerah mereka ke daerah kaum muhajirin, dan beritahu mereka jika mereka mau melakukannya maka bagi mereka hak dan kewajiban sama seperti hak dan kewajiban kaum muhajirin, Tetapi, jika mereka menolak untuk berhijrah dari daerah mereka, maka beritahu mereka, bahwa mereka akan mendapat perlakuan seperti orang-orang badui dari kalangan umat Islam, berlaku bagi mereka hukum Allah, tetapi mereka tidak mendapatkan bagian dari hasil rampasan perang dan fai, kecuali jika mereka mau bergabung untuk berjihad di jalan Allah bersama orang-orang Islam. Namun, jika mereka menolak hal tersebut, maka mintalah dari mereka jizyah, kalau mereka menerima maka terimalah dan hentikan penyerangan terhadap mereka. Tetapi jika semua itu ditolak maka mohonlah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka. Dan jika kamu telah mengepung kubu pertahanan mereka, kemudian mereka menghendaki darimu agar kamu membuat untuk mereka perjanjian Allah dan Nabi-Nya, maka janganlah kamu buatkan untuk mereka perjanjian Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi buatlah untuk mereka perjanjian dirimu sendiri dan perjanjian sahabat-sahabatmu, karena sesungguhnya melanggar perjanjianmu sendiri dan sahabat-sahabatmu itu lebih ringan risikonya dari pada melanggar perjanjian Allah dan Nabi-Nya. Dan jika kamu telah mengepung kubu pertahanan musuhmu, kemudian mereka menghendaki agar kamu mengeluarkan mereka atas dasar hukum Allah, maka janganlah kamu mengeluarkan mereka atas dasar hukum Allah, tetapi keluarkanlah mereka atas dasar hukum yang kamu ijtihadkan, karena sesungguhnya kamu tidak mengetahui apakah tindakanmu sesuai dengan hukum Allah atau tidak."(HR. Muslim).

"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu itu sesudah mengukuhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat."

(QS. An-Naḥl: 91).

Buraidah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Apabila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengangkat komandan pasukan perang atau batalion, beliau menyampaikan pesan kepadanya agar selalu bertakwa kepada Allah, dan berlaku baik kepada kaum muslimin yang bersamanya, kemudian beliau bersabda,

"Seranglah mereka dengan nama Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah demi jalan Allah, seranglah dan janganlah kamu menggelapkan harta rampasan perang, jangan mengkhianati perjanjian, jangan memutilasi korban yang terbunuh, dan jangan membunuh anak-anak. Apabila kamu menjumpai musuh-musuhmu dari kalangan orang-orang musyrik, maka ajaklah mereka kepada tiga hal: apa saja yang mereka setujui, maka terimalah dan hentikanlah penyerangan terhadap mereka. Lalu ajaklah mereka kepada agama Islam; jika mereka menerima maka terimalah mereka, kemudian ajaklah mereka berhijrah dari daerah mereka ke daerah kaum muhajirin, dan beritahu mereka jika mereka mau melakukannya maka bagi mereka hak dan kewajiban sama seperti hak dan kewajiban kaum muhajirin, Tetapi, jika mereka menolak untuk berhijrah dari daerah mereka, maka beritahu mereka, bahwa mereka akan mendapat perlakuan seperti orang-orang badui dari kalangan umat Islam, berlaku bagi mereka hukum Allah, tetapi mereka tidak mendapatkan bagian dari hasil rampasan perang dan fai, kecuali jika mereka mau bergabung untuk berjihad di jalan Allah bersama orang-orang Islam. Namun, jika mereka menolak hal tersebut, maka mintalah dari mereka jizyah, kalau mereka menerima maka terimalah dan hentikan penyerangan terhadap mereka. Tetapi jika semua itu ditolak maka mohonlah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka. Dan jika kamu telah mengepung kubu pertahanan mereka, kemudian mereka menghendaki darimu agar kamu membuat untuk mereka perjanjian Allah dan Nabi-Nya, maka janganlah kamu buatkan untuk mereka perjanjian Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi buatlah untuk mereka perjanjian dirimu sendiri dan perjanjian sahabat-sahabatmu, karena sesungguhnya melanggar perjanjianmu sendiri dan sahabat-sahabatmu itu lebih ringan risikonya dari pada melanggar perjanjian Allah dan Nabi-Nya. Dan jika kamu telah mengepung kubu pertahanan musuhmu, kemudian mereka menghendaki agar kamu mengeluarkan mereka atas dasar hukum Allah, maka janganlah kamu mengeluarkan mereka atas dasar hukum Allah, tetapi keluarkanlah mereka atas dasar hukum yang kamu ijtihadkan, karena sesungguhnya kamu tidak mengetahui apakah tindakanmu sesuai dengan hukum Allah atau tidak."

(HR. Muslim).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Perbedaan antara perjanjian Allah dan perjanjian Nabi-Nya dengan perjanjian kaum muslimin.Kedua:Petunjuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk memilih salah satu pilihan yang paling ringan risikonya dari dua pilihan yang ada.Ketiga:Perintah beliau (tentang etika perang), "Seranglah mereka dengan nama Allah."Keempat:Perintah beliau, "Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah."Kelima:Perintah beliau (sebelum perang), "Mintalah pertolongan kepada Allah, lalu perangilah mereka."Keenam:Perbedaan antara hukum Allah dan hukum hasil ijtihad para ulama.Ketujuh:Disyariatkan bagi seorang komandan dalam kondisi yang diperlukan seperti yang tersebut dalam hadis, untuk berijtihad dalam menentukan hukum tertentu, walaupun ia tidak tahu apakah ijtihadnya sesuai dengan hukum Allah atau tidak?

Perbedaan antara perjanjian Allah dan perjanjian Nabi-Nya dengan perjanjian kaum muslimin.

Kedua:

Petunjuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk memilih salah satu pilihan yang paling ringan risikonya dari dua pilihan yang ada.

Ketiga:

Perintah beliau (tentang etika perang), "Seranglah mereka dengan nama Allah."

Keempat:

Perintah beliau, "Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah."

Kelima:

Perintah beliau (sebelum perang), "Mintalah pertolongan kepada Allah, lalu perangilah mereka."

Keenam:

Perbedaan antara hukum Allah dan hukum hasil ijtihad para ulama.

Ketujuh:

Disyariatkan bagi seorang komandan dalam kondisi yang diperlukan seperti yang tersebut dalam hadis, untuk berijtihad dalam menentukan hukum tertentu, walaupun ia tidak tahu apakah ijtihadnya sesuai dengan hukum Allah atau tidak?

 Bab Larangan Bersumpah Mendahului Allah

Jundub bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ada seorang laki-laki berkata, 'Demi Allah! Allah tidak akan mengampuni si polan.' Maka Allah -Ta'ālā- berfirman, “Siapa yang bersumpah mendahului-Ku, bahwa Aku tidak akan mengampuni si polan? Sungguh Aku telah mengampuni-Nya dan Aku telah menghapuskan amalmu.'"(HR. Muslim).Dalam hadis riwayat Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- disebutkan bahwa orang yang bersumpah demikian itu adalah ahli ibadah. Abu Hurairah berkata,"Ia telah mengucapkan suatu ucapan yang menghancurkan dunia

"Ada seorang laki-laki berkata, 'Demi Allah! Allah tidak akan mengampuni si polan.' Maka Allah -Ta'ālā- berfirman, “Siapa yang bersumpah mendahului-Ku, bahwa Aku tidak akan mengampuni si polan? Sungguh Aku telah mengampuni-Nya dan Aku telah menghapuskan amalmu.'"

(HR. Muslim).

Dalam hadis riwayat Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- disebutkan bahwa orang yang bersumpah demikian itu adalah ahli ibadah. Abu Hurairah berkata,

"Ia telah mengucapkan suatu ucapan yang menghancurkan dunia

dan akhiratnya."

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Peringatan untuk tidak bersumpah mendahului Allah.Kedua:Hadis di atas menunjukkan bahwa neraka itu lebih dekat kepada seseorang daripada tali sandal jepitnya.Ketiga:Begitu juga surga.Keempat:Bukti kedekatan surga atau neraka itu adalah hadis, "Sesungguhnya seseorang kadang mengatakan suatu kalimat yang ia tidak pedulikan, namun dengan sebab kalimat itu ia terjerumus ke dalam neraka ..."Kelima:Kadang-kadang seseorang mendapatkan ampunan dari Allah dengan faktor adanya sesuatu yang ia benci.

Peringatan untuk tidak bersumpah mendahului Allah.

Kedua:

Hadis di atas menunjukkan bahwa neraka itu lebih dekat kepada seseorang daripada tali sandal jepitnya.

Ketiga:

Begitu juga surga.

Keempat:

Bukti kedekatan surga atau neraka itu adalah hadis, "Sesungguhnya seseorang kadang mengatakan suatu kalimat yang ia tidak pedulikan, namun dengan sebab kalimat itu ia terjerumus ke dalam neraka ..."

Kelima:

Kadang-kadang seseorang mendapatkan ampunan dari Allah dengan faktor adanya sesuatu yang ia benci.

 Bab Larangan Menjadikan Allah Sebagai Perantara kepada Makhluk-Nya

Jubair bin Muṭ'im -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Ada seorang badui datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan mengatakan, "Ya Rasulullah! Orang-orang pada kehabisan tenaga, anak istri kelaparan, dan harta benda pada musnah, maka mintalah siraman hujan untuk kami kepada Rabb-mu, sungguh kami menjadikan Allah sebagai perantara kepadamu, dan kami menjadikanmu sebagai perantara kepada Allah.” Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Mahasuci Allah, Mahasuci Allah." Beliau masih terus bertasbih sampai tampak pada wajah para sahabat (perasaan takut akan kemarahan beliau), Kemudian beliau bersabda, “Kasihanilah dirimu, tahukah kalian siapa Allah itu? Sungguh kedudukan Allah -Ta'ālā- itu jauh lebih agung daripada yang demikian itu. Sesungguhnya tidak dibenarkan menjadikan Allah sebagai perantara kepada siapa pun dari makhluk-Nya ..."(HR. Abu Daud).

"Mahasuci Allah, Mahasuci Allah." Beliau masih terus bertasbih sampai tampak pada wajah para sahabat (perasaan takut akan kemarahan beliau), Kemudian beliau bersabda, “Kasihanilah dirimu, tahukah kalian siapa Allah itu? Sungguh kedudukan Allah -Ta'ālā- itu jauh lebih agung daripada yang demikian itu. Sesungguhnya tidak dibenarkan menjadikan Allah sebagai perantara kepada siapa pun dari makhluk-Nya ..."

(HR. Abu Daud).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengingkari seseorang yang mengatakan, "Kami menjadikan Allah sebagai perantara kepadamu."Kedua:Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- marah sekali ketika mendengar ucapan ini, dan bertasbih berkali-kali, sehingga para sahabat merasa takut.Ketiga:Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak mengingkari ucapannya, "Kami menjadikanmu sebagai perantara kepada Allah."Keempat:Penjelasan makna “Subḥānallah” (Mahasuci Allah).Kelima:Kaum muslimin meminta Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk memohon hujan kepada Allah.

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengingkari seseorang yang mengatakan, "Kami menjadikan Allah sebagai perantara kepadamu."

Kedua:

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- marah sekali ketika mendengar ucapan ini, dan bertasbih berkali-kali, sehingga para sahabat merasa takut.

Ketiga:

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak mengingkari ucapannya, "Kami menjadikanmu sebagai perantara kepada Allah."

Keempat:

Penjelasan makna “Subḥānallah” (Mahasuci Allah).

Kelima:

Kaum muslimin meminta Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk memohon hujan kepada Allah.

 Bab Upaya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam Menjaga Kemurnian Tauhid, dan Menutup Semua Sarana Kemusyrikan

Abdullah bin Asy-Syikhkhīr -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Ketika aku ikut pergi bersama suatu delegasi Bani 'Āmir menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, kami berkata pada beliau, "Engkau adalah sayyidunā (tuan kami)."

Maka beliau bersabda, "Sayyid (tuan yang sebenarnya) adalah Allah -Tabāraka Wa Ta'ālā-."

Kemudian kami berkata, "Engkau adalah yang paling utama dan paling agung kebaikannya di antara kita."

Beliau bersabda, "Ucapkanlah semua atau sebagian kata-kata yang wajar bagi kalian, dan janganlah kalian terseret oleh setan."(HR. Abu Daud dengan sanad sahih).Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa ada sebagian orang berkata, "Wahai Rasulullah! Wahai orang yang paling baik di antara kami, dan putra orang yang terbaik di antara kami! Wahai tuan kami dan putra tuan kami!" Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,Wahai saudara-saudara sekalian! Ucapkanlah kata-kata yang wajar saja bagi kamu sekalian, dan janganlah sekali-kali kalian terbujuk oleh setan. Aku adalah Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya, aku tidak senang kalian mengagungkanku melebihi kedudukanku yang telah diberikan Allah -'Azza wa Jalla- kepadaku."(HR. An-Nasā`i dengan sanad jayyid).

(HR. Abu Daud dengan sanad sahih).

Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa ada sebagian orang berkata, "Wahai Rasulullah! Wahai orang yang paling baik di antara kami, dan putra orang yang terbaik di antara kami! Wahai tuan kami dan putra tuan kami!" Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

Wahai saudara-saudara sekalian! Ucapkanlah kata-kata yang wajar saja bagi kamu sekalian, dan janganlah sekali-kali kalian terbujuk oleh setan. Aku adalah Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya, aku tidak senang kalian mengagungkanku melebihi kedudukanku yang telah diberikan Allah -'Azza wa Jalla- kepadaku."

(HR. An-Nasā`i dengan sanad jayyid).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Peringatan kepada manusia agar tidak bersikap berlebih-lebihan terhadap beliau.Kedua:Perkataan yang harus diucapkan oleh orang yang dipanggil dengan panggilan “Engkau adalah sayyidunā (tuan kami).”Ketiga:Peringatan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Janganlah kalian terseret dan terbujuk oleh setan", padahal para sahabat tidak mengatakan kecuali yang sebenarnya.Keempat:Peringatan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (kepada para sahabat), "Aku tidak senang kamu sekalian mengangkatku melebihi kedudukan yang telah diberikan kepadaku oleh Allah -Ta'ālā-."Bab [Keagungan Dan Kekuasaan Allah] Firman Allah -Ta'ālā-:"Dan mereka (orang-orang musyrik) tidak mengagung-agungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat, dan semua langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari segala perbuatan syirik mereka."(QS. Az-Zumar: 67).Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Salah seorang pendeta Yahudi datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seraya berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya kami dapati (dalam kitab suci kami) bahwa Allah meletakkan langit-langit di atas satu jari, bumi-bumi di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, kemudian Dia berfirman, 'Akulah Penguasa (raja)'." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tertawa sampai tampak gigi geraham beliau, karena membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu, kemudian beliau membacakan firman Allah,"Dan mereka (orang-orang musyrik) tidak mengagung-agungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat ..."Dalam riwayat Imam Muslim terdapat tambahan:"Gunung-gunung dan pohon-pohon di atas satu jari, kemudian Dia mengguncangnya seraya berfirman, 'Akulah penguasa, Akulah Allah'."Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan:"Allah letakkan semua langit di atas satu jari, air serta tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari."(HR. Bukhari dan Muslim).Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū':"Allah akan menggulung seluruh lapisan langit pada hari Kiamat, lalu diambil dengan tangan kanan-Nya dan berfirman, 'Akulah penguasa, di manakah orang-orang yang berlaku lalim? Di manakah orang-orang yang sombong?' Kemudian Allah menggulung ketujuh lapis bumi, lalu diambil dengan tangan kiri-Nya dan berfirman, 'Akulah penguasa, di manakah orang-orang yang berlaku lalim? Di manakah orang-orang yang sombong?'"Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwa ia berkata,"Tidaklah tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi berada di telapak tangan Ar-Raḥmān, kecuali bagaikan sebutir biji sawi yang diletakkan di telapak tangan seseorang di antara kalian."Ibnu Jarīr meriwayatkan, Yūnus menceritakan kepadaku, ia berkata, Ibnu Wahb mengabarkan kepadaku, ia berkata, Ibnu Zaid berkata, Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidaklah tujuh lapis langit berada di Kursi melainkan hanya bagaikan tujuh keping dirham yang diletakkan di atas perisai."Kemudian Ibnu Jarīr meriwayatkan, Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidaklah Kursi berada di Arasy melainkan hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dibuang di tengah-tengah padang pasir."Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata,"Antara langit yang paling bawah dengan yang berikutnya jaraknya 500 tahun, dan antara setiap langit jaraknya 500 tahun, antara langit yang ketujuh dan Kursi jaraknya 500 tahun, antara Kursi dan samudra air jaraknya 500 tahun, sedangkan Arasy berada di atas samudra air itu, dan Allah -Ta'ālā- berada di atas Arasy, tidak tersembunyi bagi Allah suatu apa pun dari perbuatan kalian."(HR. Ibnu Mahdiy dari Ḥammād bin Salamah, dari 'Āṣim, dari Zarr, dari Abdullah bin Mas'ūd. Al-Mas'ūdiy juga meriwayatkan yang semakna dengannya dari 'Āṣim, dari Abi Wā`il, dari Abdullah bin Mas'ūd. Riwayat ini diriwayatkan dari berbagai macam jalur sanad; sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Aż-Żahabiy.Al-'Abbās bin 'Abdul-Muṭṭalib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tahukah kalian berapa jarak antara langit dan bumi?" Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda,"Antara langit dan bumi itu jaraknya perjalanan 500 tahun, dan antara langit yang satu dengan yang lain jaraknya perjalanan 500 tahun, sedangkan tebalnya setiap langit adalah perjalanan 500 tahun, antara langit yang ketujuh dengan Arasy ada samudra, dan antara dasar samudra dengan permukaannya seperti jarak antara langit dengan bumi, dan Allah -Ta'ālā- di atas itu semua, dan tiada yang tersembunyi bagi-Nya sesuatu pun dari perbuatan anak Adam."

Peringatan kepada manusia agar tidak bersikap berlebih-lebihan terhadap beliau.

Kedua:

Perkataan yang harus diucapkan oleh orang yang dipanggil dengan panggilan “Engkau adalah sayyidunā (tuan kami).”

Ketiga:

Peringatan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Janganlah kalian terseret dan terbujuk oleh setan", padahal para sahabat tidak mengatakan kecuali yang sebenarnya.

Keempat:

Peringatan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (kepada para sahabat), "Aku tidak senang kamu sekalian mengangkatku melebihi kedudukan yang telah diberikan kepadaku oleh Allah -Ta'ālā-."

 Bab [Keagungan Dan Kekuasaan Allah] Firman Allah -Ta'ālā-:

 "Dan mereka (orang-orang musyrik) tidak mengagung-agungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat, dan semua langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari segala perbuatan syirik mereka."

 (QS. Az-Zumar: 67).

Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Salah seorang pendeta Yahudi datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seraya berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya kami dapati (dalam kitab suci kami) bahwa Allah meletakkan langit-langit di atas satu jari, bumi-bumi di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, kemudian Dia berfirman, 'Akulah Penguasa (raja)'." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tertawa sampai tampak gigi geraham beliau, karena membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu, kemudian beliau membacakan firman Allah,

"Dan mereka (orang-orang musyrik) tidak mengagung-agungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat ..."

Dalam riwayat Imam Muslim terdapat tambahan:

"Gunung-gunung dan pohon-pohon di atas satu jari, kemudian Dia mengguncangnya seraya berfirman, 'Akulah penguasa, Akulah Allah'."

Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan:

"Allah letakkan semua langit di atas satu jari, air serta tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari."

(HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū':

"Allah akan menggulung seluruh lapisan langit pada hari Kiamat, lalu diambil dengan tangan kanan-Nya dan berfirman, 'Akulah penguasa, di manakah orang-orang yang berlaku lalim? Di manakah orang-orang yang sombong?' Kemudian Allah menggulung ketujuh lapis bumi, lalu diambil dengan tangan kiri-Nya dan berfirman, 'Akulah penguasa, di manakah orang-orang yang berlaku lalim? Di manakah orang-orang yang sombong?'"

Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwa ia berkata,

"Tidaklah tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi berada di telapak tangan Ar-Raḥmān, kecuali bagaikan sebutir biji sawi yang diletakkan di telapak tangan seseorang di antara kalian."

Ibnu Jarīr meriwayatkan, Yūnus menceritakan kepadaku, ia berkata, Ibnu Wahb mengabarkan kepadaku, ia berkata, Ibnu Zaid berkata, Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Tidaklah tujuh lapis langit berada di Kursi melainkan hanya bagaikan tujuh keping dirham yang diletakkan di atas perisai."

Kemudian Ibnu Jarīr meriwayatkan, Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

"Tidaklah Kursi berada di Arasy melainkan hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dibuang di tengah-tengah padang pasir."

Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata,

"Antara langit yang paling bawah dengan yang berikutnya jaraknya 500 tahun, dan antara setiap langit jaraknya 500 tahun, antara langit yang ketujuh dan Kursi jaraknya 500 tahun, antara Kursi dan samudra air jaraknya 500 tahun, sedangkan Arasy berada di atas samudra air itu, dan Allah -Ta'ālā- berada di atas Arasy, tidak tersembunyi bagi Allah suatu apa pun dari perbuatan kalian."

(HR. Ibnu Mahdiy dari Ḥammād bin Salamah, dari 'Āṣim, dari Zarr, dari Abdullah bin Mas'ūd. Al-Mas'ūdiy juga meriwayatkan yang semakna dengannya dari 'Āṣim, dari Abi Wā`il, dari Abdullah bin Mas'ūd. Riwayat ini diriwayatkan dari berbagai macam jalur sanad; sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Aż-Żahabiy.

Al-'Abbās bin 'Abdul-Muṭṭalib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tahukah kalian berapa jarak antara langit dan bumi?" Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda,

"Antara langit dan bumi itu jaraknya perjalanan 500 tahun, dan antara langit yang satu dengan yang lain jaraknya perjalanan 500 tahun, sedangkan tebalnya setiap langit adalah perjalanan 500 tahun, antara langit yang ketujuh dengan Arasy ada samudra, dan antara dasar samudra dengan permukaannya seperti jarak antara langit dengan bumi, dan Allah -Ta'ālā- di atas itu semua, dan tiada yang tersembunyi bagi-Nya sesuatu pun dari perbuatan anak Adam."

(HR. Abu Daud dan lainnya).

 Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

Pertama:Tafsir ayat, "Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat."Kedua:Pengetahuan tentang sifat-sifat Allah -Ta'ālā- masih dikenal di kalangan orang-orang Yahudi yang hidup pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mereka tidak mengingkarinya dan tidak menafsirkannya dengan penafsiran yang menyimpang dari kebenaran.Ketiga:Ketika pendeta Yahudi menyebutkan tentang pengetahuan tersebut kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau membenarkannya, dan turunlah ayat Al-Qur`ān untuk menegaskannya.Keempat:Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tersenyum ketika mendengar pengetahuan yang agung ini disebutkan oleh pendeta Yahudi.Kelima:Disebutkan dengan tegas dalam hadis ini adanya dua tangan bagi Allah, dan bahwa seluruh langit itu diletakkan di tangan kanan-Nya, dan seluruh bumi diletakkan di tangan yang lain pada hari Kiamat.Keenam:Dinyatakan dalam hadis bahwa tangan yang lain itu adalah tangan kiri-Nya.Ketujuh:Disebutkan dalam hadis keadaan orang-orang yang berlaku lalim, dan berlaku sombong pada hari Kiamat.Kedelapan:Dijelaskan bahwa seluruh langit dan bumi di telapak tangan Allah itu bagaikan sebutir biji sawi yang diletakkan di tangan seseorang.Kesembilan:Kursi itu lebih besar daripada langit.Kesepuluh:Arasy itu lebih besar daripada Kursi.Kesebelas:Arasy itu bukanlah Kursi, dan bukanlah samudra air.Kedua belas:Jarak antara langit yang satu dengan langit yang lainnya adalah perjalanan 500 tahun.Ketiga belas:Jarak antara langit yang ketujuh dengan Kursi adalah perjalanan 500 tahun.Keempat belas:Jarak antara Kursi dan samudra dalah perjalanan 500 tahun.Kelima belas:Arasy berada di atas samudra tersebut.Keenam belas:Allah -Ta'ālā- berada di atas Arasy.Ketujuh belas:Jarak antara langit dan bumi itu perjalanan 500 tahun.Kedelapan belas:Tebal masing-masing langit itu perjalanan 100 tahun.Kesembilan belas:Samudra yang berada di atas seluruh langit itu, antara dasar dengan permukaannya sejauh perjalanan 500 tahun, dan hanya Allahlah yang mengetahuinya.

Tafsir ayat, "Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat."

Kedua:

Pengetahuan tentang sifat-sifat Allah -Ta'ālā- masih dikenal di kalangan orang-orang Yahudi yang hidup pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mereka tidak mengingkarinya dan tidak menafsirkannya dengan penafsiran yang menyimpang dari kebenaran.

Ketiga:

Ketika pendeta Yahudi menyebutkan tentang pengetahuan tersebut kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau membenarkannya, dan turunlah ayat Al-Qur`ān untuk menegaskannya.

Keempat:

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tersenyum ketika mendengar pengetahuan yang agung ini disebutkan oleh pendeta Yahudi.

Kelima:

Disebutkan dengan tegas dalam hadis ini adanya dua tangan bagi Allah, dan bahwa seluruh langit itu diletakkan di tangan kanan-Nya, dan seluruh bumi diletakkan di tangan yang lain pada hari Kiamat.

Keenam:

Dinyatakan dalam hadis bahwa tangan yang lain itu adalah tangan kiri-Nya.

Ketujuh:

Disebutkan dalam hadis keadaan orang-orang yang berlaku lalim, dan berlaku sombong pada hari Kiamat.

Kedelapan:

Dijelaskan bahwa seluruh langit dan bumi di telapak tangan Allah itu bagaikan sebutir biji sawi yang diletakkan di tangan seseorang.

Kesembilan:

Kursi itu lebih besar daripada langit.

Kesepuluh:

Arasy itu lebih besar daripada Kursi.

Kesebelas:

Arasy itu bukanlah Kursi, dan bukanlah samudra air.

Kedua belas:

Jarak antara langit yang satu dengan langit yang lainnya adalah perjalanan 500 tahun.

Ketiga belas:

Jarak antara langit yang ketujuh dengan Kursi adalah perjalanan 500 tahun.

Keempat belas:

Jarak antara Kursi dan samudra dalah perjalanan 500 tahun.

Kelima belas:

Arasy berada di atas samudra tersebut.

Keenam belas:

Allah -Ta'ālā- berada di atas Arasy.

Ketujuh belas:

Jarak antara langit dan bumi itu perjalanan 500 tahun.

Kedelapan belas:

Tebal masing-masing langit itu perjalanan 100 tahun.

Kesembilan belas:

Samudra yang berada di atas seluruh langit itu, antara dasar dengan permukaannya sejauh perjalanan 500 tahun, dan hanya Allahlah yang mengetahuinya.

Atas berkat karunia dan rahmat Allah -Ta'ālā-; selesailah pembahasan Kitāb At-Tauḥīd ini.