Macam-macam Syirik ()

Abu Bakar Zakaria

Macam-macam Kesyirikan: Kesyirikan, dosa tanpa ampun sebagai balasan bagi pelakunya. Bukan hanya itu pelakunya juga terancam kekal didalam neraka, belum lagi bila meninggal hartanya tidak boleh diwarisi serta tidak boleh dikubur jenazahnya dipekuburan kaum muslimin. Nah, agar kita semakin mendapat pencerahan apa saja jenis-jenisnya, maka silahkan baca makalah ini semoga diberi pemahaman yang lurus…

|

 Macam-macam Syirik

Macam-Macam Syirik

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang   -Dia beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang -Dia sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba'du Begitu beragam ungkapan yang dipakai oleh para ulama ketika menjabarkan ragam dan jenis kesyirikan, akan tetapi, semuanya tidak keluar dari ruang lingkup pengertian syirik dalam tinjauan syariat yang telah kita jelaskan diawal. Diantara ungkapan yang mereka pakai tatkala menjelaskan ragam dan jenis kesyirikan ialah:

1.     Kesyirikan terbagi menjadi dua bentuk, syirik besar dan syirik kecil[1].

2.     Sebagian mengungkapkan, sejatinya syirik itu terbagi menjadi tiga jenis, syirik besar, kecil dan syirik yang tersembunyi[2].

3.     Yang lain lagi membagi dengan mengikuti pembagian tauhid yang tiga[3].

4.     Sebagian diantara mereka ada yang membagi menjadi dua, syirik dalam rububiyah dan syirik dalam uluhiyah. Dan menjadikan syirik dalam asma dan sifat masuk dalam kelompok yang pertama yakni syirik dalam rububiyah [4].

Bila dicermati, pada hakekatnya ucapan para ulama diatas tidak saling bertentangan, bahkan yang ada justru memiliki keselarasan satu sama lain. Bagi yang membagi menjadi dua yaitu besar dan kecil, mereka melihat dari sisi hakekat syirik serta hukumnya, apakah pelakunya keluar dari agama atau tidak. Sedang yang menjadikan tiga jenis, yaitu : syirik besar, kecil dan samar.

Maka itupun tidak menyelisihi pendapat yang pertama tadi, sebab mereka hanya ingin mengingatkan urgensinya penjelasan syirik yang samar ini, karena pada dasarnya syirik jenis ini masih masuk dalam ruang lingkup dua jenis syirik diawal, dikarenakan syirik yang tersamar ini sebagiannya masuk dalam syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari agama, dan sebagiannya masuk dalam syirik kecil yang dosanya lebih besar dari pada dosa besar, akan tetapi, jenis syirik ini tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama, hanya saja para ulama menjadikan secara terpisah untuk menerangkan pada manusia betapa tersamarnya jenis syirik ini hingga tidak sedikit yang terjerumus ke dalamnya, sebagaimana nanti akan datang penjelasannya lebih lengkap.

Adapun ulama yang membagi dengan meruntut pada pembagian tauhid, kemudian menjadikan adanya jenis syirik dalam rububiyah dan syirik dalam uluhiyah, maka antara keduanya tidak ada perbedaan yang signifikan melainkan hanya sekedar penjelasan secara global dan rinci saja. Dan ungkapan para ulama tersebut absah dan universal. Di samping itu ada juga pendapat lain dari sebagian ulama yang menerangkan pembagian syirik diluar konteks diatas, namun, sayangnya penjelasan pendapat ini tidak terlalu universal, hanya bersifat parsial, semisal diantaranya:

5.     Bahwa syirik terbagi menjadi empat:

a.     Syirik Ihtiyaaz, yang dimaksud ialah menjadikan adanya makhluk selain Allah yang menguasai satu perkara tanpa membutuhkan bantuan Allah azza wa jalla, walaupun sesuatu tersebut sangat remeh dipandangan orang, semisal biji dzarah.

b.     Syirik asy-Syiyaa' yakni menjadikan makhluk selain Allah mempunyai bagian kepemilikan makhluk bersama Allah, entah bagaimana bentuk bagian tersebut apakah dalam hal ruang ataupun tempat.

c.     Syirik al-I'anah yang dimaksud yaitu menjadikan Allah Shhubhanahu wa ta’alla mempunyai penolong dan pembantu yang dimiliki -Nya tanpa mempunyai andil dalam kekuasaan     -Nya, sebagaimana halnya kita ketika menolong seseorang untuk menaikan barang bawaannya.

d.     Syirik Syafa'ah yakni (meyakini) adanya makhluk yang menghadap kepada Allah Shhubhanahu wa ta’alla untuk menjelaskan kedudukan dirinya, agar nantinya di izinkan untuk bisa memilih seseorang dengan memberi syafaat kepadanya[5].

Yang nampak dari ucapan ulama tadi, maka sejatinya dia sedang membagi syirik sesuai dengan keterkaitannya dan sesusai dengan dorongan yang ada dalam diri manusia untuk melakukan perbuatan syirik. Dan bila diteliti maka semua jenis kesyirikan yang disebutkan diatas tadi maka masuk dibawah jenis syirik besar, sehingga pembagian tadi lebih tepatnya penjelasan dari parsial kesyirikan, barangkali hal tersebut terinspirasi dari firman Allah tabaraka wa ta'ala:

﴿ قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ لَا يَمۡلِكُونَ مِثۡقَالَ ذَرَّة فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا لَهُمۡ فِيهِمَا مِن شِرۡك وَمَا لَهُۥ مِنۡهُم مِّن ظَهِير ٢٢ وَلَا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ عِندَهُۥٓ إِلَّا لِمَنۡ أَذِنَ لَهُۥۚ حَتَّىٰٓ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمۡ قَالُواْ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمۡۖ قَالُواْ ٱلۡحَقَّۖ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ ٢٣ [سبأ: 22-23]

"Katakanlah: "serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi -Nya. dan tiadalah berguna syafa'at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan -Nya memperoleh syafa'at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?" mereka menjawab: (perkataan) yang benar", dan Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar". (QS Saba': 22-23).

6.     Ada lagi sebagian ulama yang mengatakan bahwa syirik terbagi menjadi enam yaitu:

a.     Syirik Istiqlal yakni menetapkan dua sekutu yang saling berbeda, semisal kesyirikan yang dilakukan oleh orang Majusi.

b.     Syirik Tab'iidh yaitu membikin teori percampuran dari satu tuhan ke tuhan yang lain, semisal kesyirikan yang dilakukan oleh orang Nashrani.

c.     Syirik Taqriib yaitu beribadah pada makhluk dengan persangkaan bisa mendekatkan dirinya kepada Allah Shhubhanahu wa ta’alla sedekat-dekatnya, seperti kesyirikan generasi pertama umat Jahiliyah.

d.     Syirik Taqlid yakni beribadah kepada makhluk dengan cara mengekor pada orang lain, seperti kesyirikan yang dilakukan oleh generasi belakangan dari kaum Jahiliyah.

e.     Syirik Asbaab yaitu menyandarkan adanya pengaruh yang membikin fenomena alam. Seperti kesyirikan yang dilakukan oleh ahli filsafat, dan ilmu fisika serta orang-orang yang sependapat dengan mereka.

f.      Syirik Aghraadh yaitu beramal di tujukan kepada selain Allah Shhubhanahu wa ta’alla [6].

Perhatikan, bahwa pembagian syirik seperti diatas sebetulnya hanya sekedar menjelaskan tentang potret perilaku perbuatan syirik yang terjadi di sebagian masyarakat muslim, disebabkan oleh kebodohan yang meliputi mereka, sedangkan disana tidak menutup kemungkinan masih ada jenis-jenis kesyirikan lain yang tidak dicantumkan disini, sehingga tidak bisa kita membatasi potret kesyirikan lalu kita buat skema pembagiannya seperti metode diatas.

7.     Diantaranya juga ada pembagian yang disebutkan oleh Imam Ibnu Qoyim dalam kitabnya Jawabul Kaafi liman Sa'ala 'an Dawaa'u Syaafi, yang barangkali perlu pemahaman sempurna dan lebih teliti untuk memahami pembagian syirik ini, dimana beliau menjelaskan, "Syirik terbagi menjadi dua, Syirik yang berkaitan dengan dzat yang disembah, nama, sifat dan perbuatannya. Dan syirik dalam peribadatan dan interaksi dengannya. Kalau seandainya sang pelaku meyakini bahwasannya Allah ta'ala tidak mempunyai sekutu dalam Dzat -Nya, tidak pula dalam sifat dan perbuatan -Nya…."[7]. selanjutnya beliau menjelaskan pembagian dan rincian hukum dua jenis syirik diatas.

 PEMBAGIAN SYIRIK YANG TERPILIH:

Barangkali pembagian yang mencakup seluruh pembagian-pembagian diatas, ialah pendapat yang membagi kesyirikan menjadi dua, syirik besar dan kecil.

Syirik besar; Yakni menjadikan sekutu atau tandingan bersama Allah ta'ala dalam Dzat, nama dan sifat-sifat -Nya. Atau menyamakan makhluk dengan Allah azza wa jalla pada sebagian hak yang di miliki oleh Allah Shhubhanahu wa ta’alla semata[8].

Bisa juga didefinisikan secara ringkas, yang dimaksud dengan syirik besar ialah seseorang menjadikan sekutu bagi Allah Shhubhanahu wa ta’alla dalam hak rububiyah -Nya, atau uluhiyah      -Nya atau nama dan sifat-sifat -Nya[9].

Dan hal itu bila dikaitkan dengan tauhid maka terbagi lagi menjadi dua:

a.     Syirik yang berkaitan dengan Dzat yang disembah, nama, dan sifat-sifat -Nya serta perbuatan -Nya. Sama dengan ungkapan syirik dalam rububiyah, asma dan sifat-sifat -Nya. Adapun definisi syirik dalam rububiyah, seperti dikatakan oleh:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau menjelaskan, "Adapun jenis kedua, yaitu syirik dalam rububiyah. Sesungguhnya Allah ta'ala adalah penguasa yang mengatur, pemberi dan yang menahan, pemberi mara bahaya dan manfaat, yang merendahkan dan yang mengangkat, memuliakan dan menghinakan. Maka barangsiapa bersaksi bahwa ada selain Allah Shhubhanahu wa ta’alla yang memberi dan mencegah, atau memberi mara bahaya dan manfaat, atau yang memuliakan dan menghinakan, maka dirinya telah terjatuh dalam syirik rububiyah"[10].

Dalam kesempatan lain beliau mengatakan, "Adapun yang pertama syirik dalam rububiyah yaitu menetapkan adanya pelaku (yang menciptakan dan mengurusi makhluk) selain Allah Shhubhanahu wa ta’alla, seperti halnya orang yang beranggapan bahwa binatang mampu menciptakan perbuatannya sendiri. Atau berasumsi bahwa gugusan bintang, atau benda alam, akal, ruh, malaikat, dan seterusnya mampu menciptakan perbuatannya sendiri. Pada hakekatnya dalam ucapan mereka terkandung peniadaan kejadian dan fenomena alam pada selain Allah…"[11].

Atau dengan bahasa ringkas orang yang menyekutukan Allah Shhubhanahu wa ta’alla bersama yang lain dalam hal khasais (kekhususan) rububiyah, atau mengingkari sedikit diantaranya, atau menyamakan dengan yang lain, atau menyerupakan yang lain bersama -Nya, maka itu terhitung syirik kepada Allah Shhubhanahu wa ta’alla, baik dalam masalah Dzat, perbuatan atau sifat-sifat -Nya.

Dan jenis syirik ini terbagi menjadi besar dan paling besar, dan keduanya tidak ada ampunan bagi pelakunya[12]. Dan hal itu terbagi menjadi dua:

1.     Syirik ta'thil (Pengosongan) dan ini merupakan kesyirikan yang paling jelek. Seperti kesyirikan yang dilakukan oleh Fir'aun tatkala mengatakan dengan sombongnya:

﴿ قَالَ فِرۡعَوۡنُ وَمَا رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢٣ [ الشعراء: 23 ]

"Fir'aun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?". (QS asy-Syu'araa: 23).

Allah Shhubhanahu wa ta’alla berfirman dengan menukil ucapan Fir'aun tatkala berkata kepada Haman:

﴿ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبۡنِ لِي صَرۡحا لَّعَلِّيٓ أَبۡلُغُ ٱلۡأَسۡبَٰبَ ٣٦ أَسۡبَٰبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِباۚ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ وَمَا كَيۡدُ فِرۡعَوۡنَ إِلَّا فِي تَبَاب ٣٧ [ غافر: 36-37 ]

"Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang Tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta". Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan Dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian". (QS Ghaafir: 36-37).

         Kenapa kita katakan bahwa peniadaan (ta'thil) semacam ini termasuk syirik, karena syirik dan ta'thil merupakan dua perkara yang kaitannya sangat erat (dua sejoli). Setiap mu'athil (pelaku ta'thil) adalah musyrik dan setiap musyrik pasti mu'athil[13]. Akan tetapi, kesyirikan tidak melazimkan untuk melakukan pokok ta'thil, bahkan, bisa jadi pelaku syirik menetapkan adanya Allah dan sifat-sifat yang dimilikiNya. Akan tetapi, dia menta'thil hak tauhid yang dimiliki Allah. Dan pokok kesyirikan serta pondasi yang dibangun diatasnya adalah ta'thil, dan ini terbagi menjadi tiga kelompok:

a.     Menta'thil hasil ciptaan dari kreator dan penciptanya, diantara contoh nyata dalam hal ini ialah syirik yang dilakukan oleh orang-orang Atheis yang membuat pernyataan tentang keberadaan alam semesta yang berdiri sendiri serta mempunyai keabadian. Bahwa alam semesta memang sudah ada dengan sendirinya, dan sentiasa akan terus ada, adapun kejadian-kejadian yang ada di alam semesta hanyalah terjadi akibat adanya sebab dan akibat yang menjadikan ada bentuk dan wujudnya, mereka menamakan dengan ilmu metafisika dan jiwa (psikologi)[14], diantara hasil dari ilmu tersebut ialah ilhad (atheis) mengingkari adanya pencipta untuk alam semesta dan isinya.

b.     Menta'thil pencipa yakni Allah Shhubhanahu wa ta’alla dari ke maha sucian yang dimiliki -Nya, yaitu dengan cara menta'thil nama-nama dan sifat-sifat -Nya serta perbuatan  -Nya. Diantara potret kesyirikan jenis ini adalah yang dilkaukan oleh orang yang menghilangkan nama-nama       –Nya sifat dan perbuatan -Nya dari kalangan ghulat (ekstrim) Jahmiyah, Qaramithah, yang sama sekali tidak mau menetapkan bagi -Nya satu nama dan sifat pun. Jutsru mereka menjadikan makhluk lebih baik dari segi nama dan sifat bila dibanding Allah azza wa jalla, sebab kesempurnaan dzat itu terwujud dengan kesempurnaan nama dan sifat-sifat yang dimilikinya.

Masuk dalam kategori ini ialah kesyirikan dengan cara mengingkari adanya risalah yang diemban oleh para Rasul, dan mengingkari adanya takdir, serta kesyirikan tidak adanya pembuat syariat, yang menghalalkan dan mengharamkan selain Allah azza wa jalla.

c.     Menta'thil dengan enggan berinteraksi bersama Allah Shhubhanahu wa ta’alla dengan baik dari perkara yang telah diwajibkan atas hamba yang merupakan hakekat tauhid. Diantara yang terjatuh dalam jenis kesyirikan ini ialah kelompok wihdatul wujud (bersatunya Rabb dengan ciptaanya), yang mengatakan, tidak ada bedanya antara pencipta dan makhluk, dua hal yang sejatinya satu bentuk. Maha suci Allah Shhubhanahu wa ta’alla dari apa yang mereka katakan, justru yang benar Allah suci dari penyerupaan bersama makhluk -Nya.

2.     Syirik andaad (membuat tandingan) tanpa menta'thilnya. Yaitu kesyirikan orang yang menjadikan tandingan bersama Allah Shubhanahu wa ta’alla, tanpa harus menghilangkan nama-nama dan sifat-sifat -Nya serta rububiyah -Nya. Diantaranya adalah:

a.     Syiriknya orang Nashrani yang menjadikan Allah Shhubhanahu wa ta’alla itu ada tiga. Yang dikenal dengan konsep trinitas, mereka menjadikan al-Masih sebagai Ilah, dan ibunya sebagai Ilah.

b.     Syiriknya orang Majusi[15] , yang menyandarkan seluruh kejadian baik pada cahaya dan seluruh kejadian buruk pada kegelapan.

c.     Syiriknya orang Qodariyah[16], yang menyatakan kalau binatang mampu menciptakan gerak perbuatannya sendiri, bahwa perilaku binatang tersebut terjadi tanpa melalui masyi'ah (kehendak) dan kemampuan Allah Shubhanahu wa ta’alla terlebih dahulu. Oleh karenanya orang Qodariyah mirip dengan keyakinannya orang Majusi.

d.     Kesyirikan orang yang mendebat Nabi Ibrahim dalam masalah siapa rabbnya. Sebagaimana kejadiannya diabadikan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam firman -Nya:

﴿ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِي حَآجَّ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ فِي رَبِّهِۦٓ أَنۡ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلۡمُلۡكَ إِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ رَبِّيَ ٱلَّذِي يُحۡيِۦ وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا۠ أُحۡيِۦ وَأُمِيتُۖ قَالَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأۡتِي بِٱلشَّمۡسِ مِنَ ٱلۡمَشۡرِقِ فَأۡتِ بِهَا مِنَ ٱلۡمَغۡرِبِ فَبُهِتَ ٱلَّذِي كَفَرَۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٢٥٨ [البقرة: 258]

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah Dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim". (QS al-Baqarah: 258).

Disini orang tersebut menjadikan dirinya sebagai tandingan bersama Allah ta'ala. Mengklaim bisa menghidupkan dan mematikan,  sebagaimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menghidupan dan mematikan. Maka nabi Ibrahim melazimkan untuk membantah ucapannya agar dapat mendatangkan matahari dari selain arah yang Allah Shubhanahu wa ta’alla terbitkan. Karena rotasi matahari bukan hanya sekedar perindahan biasa seperti disangka oleh tukang debat, tapi, sebuah kepastian untuk membukam persangkaan mereka jika memang benar.

e.     Syiriknya Fir'aun manakala mengucapkan:

﴿ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَأُ مَا عَلِمۡتُ لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرِي٣٨   [ القصص: 38 ]

"Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku". (QS al-Qashash: 38).

        Serta penukilan yang Allah Shubhanahu wa ta’alla kisahkan tentang ucapan pembesar terhadap kaumnya:

﴿ وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِ فِرۡعَوۡنَ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوۡمَهُۥ لِيُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَيَذَرَكَ وَءَالِهَتَكَۚ ١٢٧ [ الأعراف: 127 ]

"Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". (QS al-A'raaf: 127).

Dalam salah satu qiro'ah dengan bacaan: (( وَيَذَرَكَ وَإلاِهَتَكَۚ. [17]

f.      Masuk dalam kategori jenis ini ialah kesyirikan yang banyak dilakukan oleh orang yang menyekutukan Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan bintang-bintang dilangit. Dimana mereka menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai tuhan yang ikut mengatur alam semesta ini, sebagaimana banyak dilakukan oleh sekte Shabi'ah dan para pengikutnya.

g.     Masuk juga dalam kelompok ini, kesyirikan orang yang menyandarkan nikmat pada selain Allah azza wa jalla. Seperti disebutkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam firman -Nya:

﴿ وَلَئِنۡ أَذَقۡنَٰهُ رَحۡمَة مِّنَّا مِنۢ بَعۡدِ ضَرَّآءَ مَسَّتۡهُ لَيَقُولَنَّ هَٰذَا لِي وَمَآ أَظُنُّ ٱلسَّاعَةَ قَآئِمَة ٥٠ [ فصلت: 50 ]

"Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah Dia berkata: "Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang". (QS Fushshilat: 50).

h.     Termasuk jenis kesyirikan ini ialah para penyembah matahari, penyembah api dan yang lainnya. Dan diantara mereka ada yang menyangka bahwa sesembahannya adalah tuhan yang hakiki. Sebagian lagi mengira bahwa sesembahannya merupakan tuhan terbesar. Ada pula yang menyangka sesembahannya adalah termasuk bagian dari tuhan. Yang apabila mengkhususkan ibadah padanya dan meninggalkan dunia untuk berkhidmah padanya serta memutus kenikmatan dunia niscaya tuhannya akan menolong dan membantu serta memperhatikannya. Diantara mereka juga ada yang mengira bahwa sesembahan yang berada dibawah, yang dekat dengan dirinya akan mengantarkan pada sesembahan yang berada diatasnya, yang diatasnya akan mengantarkan pada sesembahan yang berikutnya, terus seperti itu hingga sesembahan-sembahan tersebut sampai kepada Allah ta'ala. Terkadang dijumpai tuhan dan wasilahnya menjadi banyak, bisa pula menjadi sedikit.[18]

Dari apa yang telah kami paparkan dimuka tadi, menghasilkan pada sebuah kesimpulan, bahwa jenis kesyirikan ini terbagi menjadi dua macam:

A.    Masuk dalam jenis kesyirikan tauhid Rububiyah. Dan ini terkumpul dari dua sisi:

1.     Dengan metode ta'thil, yaitu bisa dengan cara mengingkari seperti ucapannya Fir'aun, sebagaimana diabadikan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla didalam firman -Nya:

﴿ قَالَ فِرۡعَوۡنُ وَمَا رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢٣ [ الشعراء: 23 ]

"Fir'aun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?". (QS asy-Syu'araa: 23).

Dan keyakinan seperti ini banyak diadopsi pada zaman sekarang oleh komunisme, sosialisme, nasionalisme serta yang lainnya dari pemikiran-pemikiran yang merusak yang senantiasa berubah-ubah. Bisa pula melalui cara menghilangkan ciptaan dari sang penciptanya. Seperti ucapan orang yang mengatakan tentang sudah adanya terlebih dahulu alam semesta ini sebelum yang lainnya.

Atau dengan cara menghilangkan interaksi pada Pencipta yang harus di kerjakan oleh seorang hamba, yang merupakan bagian inti dari tauhid. Seperti ucapan tentang Wihdatul wujud. Atau dengan cara menta'thil Pencipta dari perbuatannya, seperti kelompok yang mengingkari Allah mengutus para Rasul, kelompok yang mengingkari takdir, yang mengingkari hari kebangkitan dan kiamat, serta yang lainnya.

2.     Dengan metode menjadikan sekutu, adakalanya dengan persangkaan ada yang mengurusi di alam semesta ini selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, seperti kesyirikan kaumnya nabi Ibrahim, ash-Sha'ibah, orang sufi yang mengatakan adanya penolong, pemuka dan penguasa yang merubah dan mengatur alam semesta ini, sebagaimana yang mereka klaim.

Adakalanya dengan memberikan kekuasaan pada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, dalam menentukan halal dan haram. Seperti perbuatan orang Nashrani. Dan sebagian para pemimpin yang ada pada umat ini serta yang ada pada hukum-hukum bikinan manusia.

Atau dengan persangkaan adanya pengaruh dialam semesta ini dari bintang yang besar dan kecil, seperti yang dilakukan oleh ash-Sha'ibah kaumnya nabi Ibrahim, para wali dan jampi-jampi.

B.     Masuk dalam kesyirikan tauhid Asma dan sifat. Dan itu terkumpul dari dua sisi pula:

1.     Dengan metode ta'thil, yaitu dengan cara menta'til pencipta untuk mendapatkan kesempurnaan yang suci. Seperti yang dilakukan oleh kelompok Jahmiyah ekstrim, dan Qaramithah yang mengingkari nama dan sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’alla.

2.     Dengan metode membuat tandingan. Yaitu dengan cara:

a.      Menyematkan sifat-sifat Pencipta kepada para makhluk. Hal tersebut, dengan cara menyamakan dalam nama dan sifat. Seperti kesyirikan yang terjadi pada orang yang menyematkan keluasan ilmu yang hanya dimiliki oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan masuk dalam kategori ini ialah ilmu perbintangan, dukun dan paranormal. Dan mengaku ada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla yang mengetahui perkara ghaib, seperti kesyirikan orang yang meragukan kemampuan Allah Shubhanahu wa ta’alla yang maha sempurna, yaitu dengan mengkau bahwa ada selain -Dia yang turut campur mengurusi ciptaan -Nya. Takut akan terkena musibah atau mendapat mara bahaya atau mencari manfaat dari selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, atau istighosah kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, atau memberi nama pada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla tempat untuk meminta tolong, atau praktek sihir dan perdukunan dan yang lainnya.

b.     Atau dengan menyematkan sifat-sifat makhluk kepada Pencipta azza wa jalla. Seperti orang Yahudi yang terkutuk, yang menyerupakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh makhluk. Begitu pula Nashrani dengan ucapannya yang menyatakan dengan kenabian dan bapak dan  lain sebagainya dari sifat-sifat makhluk kepada Allah azza wa jalla.

             Dan masuk dalam kategori kesyirikan ini setiap orang yang menyerupakan dan menyamakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan makhluk -Nya dari kalangan umat ini.

             Dari semua yang kita sebutkan tadi termasuk dalam kategori syirik besar, yang terbagi menjadi besar dan terbesar. Dan tidak ada dari jenis kesyirikan ini yang pelakunya diampuni menurut kesepakatan para ulama.[19]

c.     Syirik dengan makna khusus. Yaitu syirik dalam Uluhiyah dan Ibadah.

Yang dimaksud disini ialah syirik dalam peribadatan kepada Allah azza wa jalla. walaupun pelakunya meyakini bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak memiliki sekutu dalam Dzat      -Nya, sifat dan perbuatan -Nya. Inilah yang dinamakan dengan syirik dalam ibadah, yang paling banyak terjadi serta paling banyak menyebar dikalangan kaum muslimin, bila dibanding dengan jenis kesyirikan yang sebelumnya (syirik dalam rububiyah, nama dan sifat serta perbuatan -Nya. Pent).

Dan Kesyirikan ini muncul dari orang-orang yang punya keyakinan bahwasannya tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla. Mengakui bahwa tidak ada yang mampu memberi mara bahaya tidak pula memberi manfaat, dan meyakini tidak ada yang memberi rizki, tidak pula ada yang mampu mencegah kecuali Allah ta'ala. Meyakini bahwasannya tidak ada Ilah selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, tidak ada Rabb selain -Nya. Akan tetapi, dirinya tidak memurnikan dalam peribadatan dan mua'amalah (hubungannya) bersama Allah Shubhanahu wa ta’alla, namun, terkadang dirinya mengerjakan ibadah secara murni untuk dirinya sendiri, atau mempunyai tujuan ingin mendapat dunia, atau kedudukan, jabatan serta kehormatan di sisi makhluk.  Dengan membagi aktifitas ibadahnya tersebut menjadi dua, bagian untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan bagian untuk dirinya, tujuan serta hawa nafsunya, plus bagian untuk setan  dan untuk makhluk.

Inilah kondisi kebanyakan orang, sebagaimana diketahui bahwa orang yang tidak memurnikan ibadahnya kepada Allah ta'ala pada dasarnya dia belum memenuhi perintahnya -Nya, bahkan, pekerjaannya yang ia lakukan hakekatnya bukan seperti apa yang -Dia perintahkan, sehingga ibadahnya tidak sah dan tidak akan diterima, Allah ta'ala menyatakan, sebagaimana dinukil dalam hadits Qudsi:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ » [أخرجه مسلم]

"Allah berfirman: Aku tidak membutuhkan sekutu dari amal kesyirikan, barangsiapa yang melakukan suatu amalan lalu menjadikan sekutu bersama Ku, maka akan Aku tinggalkan dirinya bersama sekutunya".[20]

Kelak para pelaku kesyirikan ini akan dikumpulkan di neraka Jahanam lalu mereka saling berucap, seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla kabarkan dalam firman -Nya:

﴿ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰل مُّبِينٍ ٩٧ إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٩٨ [ الشعراء: 97-98 ]

"Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam". (QS asy-Syu'araa: 97-98).

Sebagaimana diketahui, bahwa mereka sama sekali tidak menyamakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam masalah mencipta, memberi rizki, mematikan serta menghidupkan makhluk, kekuasaan serta kemampuan yang dimiliki -Nya, akan tetapi, mereka hanya menyamakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam masalah kecintaan, menyembah, tunduk dan merendahkan diri serta mengagungkan ilah yang disembahnya.[21]

 MAKNA IBADAH:

Dan sebelum masuk pada pokok masalah, yaitu penjelasan pembagian syirik dalam uluhiyah atau ibadah, saya rasa cocok sekali untuk menerangkan terlebih dulu apa makna ibadah dalam kacamata syari'at.

Ibadah menurut kaca mata syari'at berasal dari kata yang mempunyai makna dalam bahasa merendahkan diri dan ketundukan. Seorang pakar bahasa yang bernama al-Azhari menjelaskan, "Makna ibadah dalam tinjauan bahasa bermakna ketaatan sambil dibarengi ketundukan. Seperti dikatakan, "Jalan mu'abad, apabila yang melintas merendahkan diri karena saking seringnya melintas diatasnya. Dan ucapan Arab, 'Onta mu'abad, apabila onta tersebut menarik untuk mengulur".[22]

Ulama lain menerangkan, "Pokok dari kata ubudiyah adalah ketundukan dan merendahkan diri, sehingga makna at-Ta'biid ialah at-Tadzlil, dan makna ibadah adalah ketaatan, sedang makna at-Ta'abud adalah an-Nusuk (ritual ibadah)".[23]

Ini dari sisi bahasa, adapun ibadah dalam makna bebas yang ada dalam kacamata syar'i. Dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tatkala mendefinisikan makna ibadah secara syar'i, dengan ucapannya, "Ibadah ialah semua nama yang mencakup seluruh perkara yang dicintai dan di ridhoi oleh Allah dari setiap ucapan dan perbuatan baik amalan batin maupun dhohir". [24] Ulama lain mendefinisikan dengan ucapannya, "Ibadah ialah sebuah ungkapan yang menggambarkan setiap perkara yang terkumpul didalamnya kecintaan yang sempurna, merendahkan diri serta di barengi rasa takut".[25]

Sebab kecintaan yang sempurna dengan dibarengi ketundukan yang sempurna, akan membuahkan didalamnya kecintaan serta ketundukan padanya, maka seorang hamba adalah yang merendahkan diri dengan kecintaan dan ketundukannya kepada dzat yang dicintainya. Sehingga ketaatan hamba kepada Rabbnya selaras dengan kecintaan dan ketundukan kepada –Nya.

Ada pula yang mendefinisikan secara simpel, ibadah ialah ketaatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan.[26] Imam Ibnu Hiban[27] punya definisi lain tentang ibadah, beliau menjelaskan, "Beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla ialah menetapkan dengan lisan, membenarkan dengan hati serta menuangkan dalam amal anggota badan".[28] Barangkali pokok perbedaan yang terdapat diantara para ulama salaf ketika mendefinisikan makna ibadah bila ditilik dari segi pengungkapannya bisa disimpulkan kembali kepada dua hal, yaitu:

·       Bahwa ibadah sering diartikan secara bebas sebagai bentuk mashdar (plural) yang mempunyai arti at-Ta'bud dengan makna perbuatan hamba (ritual ibadah).

·       Yang kedua adalah sebuah nama yang mempunyai arti yang disembah oleh pelakunya (fokus ibadah).[29]

Sehingga makna ibadah menurut definisi yang pertama mengerucut pada makna ketundukan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, cinta dan mengagungkan -Nya, yaitu diwujudkan dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan sesuai dengan aturan yang ada dalam syari'at.[30] Dengan arti ini dibawa makna ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tatkala mendefiniskan ibadah dengan ucapannya, "Terkumpul kecintaan yang sempurna bersama ketundukan yang murni".[31]Demikian pula ucapannya Ibnu Qoyim, "at-Ta'abud ialah kecintaan dan ketundukan yang sampai klimaksnya". Dan ucapannya, "Peribadatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla semata ialah kecintaan pada -Nya secara sempurna sambil dibarengi ketundukan dan merendahkan diri kepada -Nya".

Dan ucapan, "al-Ubudiyah berkisar pada dua pondasi yang keduanya merupakan pokok ubudiyah yaitu kecintaan yang sempurna dan ketundukan yang baik". Dan ucapannya, "at-Ta'abud ialah kecintaan sambil dibarengi ketundukan dan merendahkan diri".[32]

Begitu pula ucapannya Imam Ibnu Katsir, "Ibadah ialah sebuah ungkapan yang menggambarkan setiap perkara yang terkumpul didalamnya kecintaan yang sempurna, merendahkan diri dengan di sertai rasa takut".[33]

Dan juga ucapannya Ibnu Rajab, "Barangsiapa yang mencintai sesuatu dan mentaatinya, dan menjadikan sebagai tujuan inti, bersikap loyal padanya serta memusuhi orang yang menentangnya, maka orang tersebut adalah hambanya, dan yang disembah tersebut adalah ilah dan sesembahannya".[34] Artinya, apabila ibadah dengan makna pekerjaan hamba maka kondisi tersebut bermakna cinta yang sempurna bersama ketundukan dan merendahkan diri yang sempurna.

Imam Ibnu Qoyim menjelaskan, "Barangsiapa yang mencintainya namun tidak mau merendahkan diri padanya maka tidak dikatakan sebagai hambanya, dan barangsiapa yang merendahkan diri padanya namun tidak dibarengi rasa cinta juga tidak dinamakan sebagai hambanya, hingga dirinya mau tunduk dan mencintainya. Dari sini diketahui bahwa orang-orang yang mengingkari kecintaan hamba kepada Rabbnya pada hakekatnya sedang mengingkari peribadatan, dan mengingkari Allah Shubhanahu wa ta’alla sebagai Dzat yang mereka cintai…mengingkari kalau Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah ilahnya".[35]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan, "Maksudnya adalah bahwa kebutuhan dan kecintaan hanya ditujukan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam rangka merealisasikan peribadatan kepada -Nya. Hanya saja ada sebagian orang yang keliru dalam masalah ini yang mengira kalau peribadatan hanya sekedar ketundukan dan merendahkan diri semata, tidak dibarengi dengan kecintaan bersamanya, atau mengira bahwa cinta dalam ibadah akan membuka hawa nafsu dan kegenitan yang tidak layak dalam rububiyah".[36]

Apabila ibadah bermakna at-Ta'abud yakni perbuatan hamba, maka bisa diartikan dengan ketaatan yang di iringi sikap merendahkan diri yang maksimal bercampur dengan kecintaan yang sampai pada klimaksnya. Terus dengan perkara apa ketaatan ini diwujudkan? inilah yang akan kita jelaskan dalam memahami definisi ibadah dengan makna sebuah nama, yakni media yang digunakan untuk beribadah. Adapun ibadah dengan ungkapan sebuah nama, maksudnya ialah sarana untuk beribadah. Dan definisinya ialah semua nama yang mencakup didalam semua perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dari setiap ucapan dan perbuatan baik yang batin maupun yang dhohir.[37]

Syaikhul Islam menjelaskan, "Maka sholat, zakat, puasa, haji, ucapan jujur, menunaikan amanah, berbakti pada kedua orang tua, menyambung tali silaturahim, memenuhi janji, menyuruh pada perkara yang baik dan mengingkari kemungkaran, memerangi orang kafir dan orang-orang munafik, berbuat bajik pada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, dan budak, baik dari kalangan bani insan maupun binatang. Berdo'a, dzikir, membaca al-Qur'an, dan lain sebagainya yang semisal dengannya maka itu semua adalah ibadah.

Begitu juga mencintai Allah Shubhanahu wa ta’alla dan rasul -Nya, takut kepada -Nya, mengikhlaskan agama pada -Nya, sabar atas hikmah -Nya, syukur atas karunia -Nya, rela terhadap takdir -Nya, tawakal pada -Nya, berharap akan rahmat -Nya, takut akan siksa         -Nya, dan lain sebagainya maka itu semua adalah ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla ".

Dalam kesempatan lain beliau menambahkan, "Diantara bentuk ketaatan dan ibadah kepada -Nya ialah amar ma'ruf dan mencegah yang mungkar…berjuang dijalan Allah Shubhanahu wa ta’alla ". Beliau juga mengatakan, "Masuk dalam makna ibadah ialah Khasyah (takut) dan Inabah (kembali), Islam (berserah diri) dan taubat". Beliau mengatakan, "Macam-macam ibadah, sholat secara garis besarnya, demikian juga sholat dari sisi ritualnya mulai dari sujud, ruku', tasbih, do'a, membaca al-Qur'an, berdiri, yang tidak layak bila ditujukan kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla ….begitu juga zakat secara umum atau sedekah secara khusus, maka tidak boleh bersedekah kecuali karena -Nya…begitu juga haji, maka tidak boleh berhaji melainkan di rumah Allah Shubhanahu wa ta’alla (Ka'bah), tidak boleh melakukan thowaf selain disekitarnya, tidak boleh mencukur rambut untuk tujuan ritual kecuali dalam haji atau umrah, tidak boleh wukuf kecuali di Arafah…begitu juga puasa, maka tidak boleh berpuasa dalam rangka ibadah kecuali hanya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla..".[38]

Artinya, bahwa ibadah dengan makna media yang digunakan untuk beribadah adalah seperti yang di ucapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kesempatan lain, "Mentaati Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan mengerjakan perintah melalui lisan para rasul".[39] Beliau juga mengatakan, "Setiap perkara yang diperintahkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada hamba -Nya untuk mencari sebab dan akibat maka itulah ibadah".[40]

Itulah yang maksud oleh Ibnu Qoyim dalam pernyataannya, "Ibadah bisa terlealisasi dengan mengikuti perintah -Nya dan menjauhi larangan -Nya".[41] Dan ucapannya Imam Ibnu Hibban, "Beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla ialah menetapkan dengan lisan, membenarkan dengan hati serta menuangkan dalam amal anggota badan".[42]

Dan ucapannya al-Hafidh Ibnu Katsir, "Ibadah ialah mentaati Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan".[43] Dan ucapan senada yang disampaikan oleh al-Hafidh Ibnu Hajar dalam bukunya al-Fath.[44]

Imam Ibnu Qoyim mengatakan tatkala menjelaskan makna ini secara gamblang, "Dan dibangun diatas Iyaka Na'budu (yakni) ibadah empat pondasi, memenuhi apa yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya, dari ucapan lisan dan hati, dari pekerjaan hati dan anggota badan. Maka ubudiyah adalah seluruh nama untuk empat tingkatan diatas tadi. Maka para pelaku Iyaka na'budu (yakni peribadatan) merekalah pelaku sejati dalam hal tersebut. Ucapan hati ialah dengan meyakini apa yang dikabarkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla tentang diri -Nya, nama dan sifat-sifat, dan perbuatan -Nya, para malaikat -Nya serta perjumpaan dengan -Nya melalui lisan para Rasul.

Ucapan lisan ialah dengan mengabarkan hal tersebut diatas, mendakwahkannya, membelanya, membantah kebatilan orang yang menyelisihi dan melakukan kebid'ahan, menunaikan untuk mengingatnya, dan menyampaikan perintah-perintah -Nya.

Pekerjaan hati ialah dengan mencintainya, bertawakal pada   -Nya, kembali pada -Nya, takut kepada -Nya, berharap pada -Nya, mengikhlaskan agama pada -Nya, sabar diatas perintah-perintah         -Nya, dari larangan-larangan -Nya, dan atas ketentuan takdir -Nya, ridho dengan takdir, memusuhi karena -Nya, tunduk dan merendahkan diri kepada -Nya, Ikhbat kepada -Nya, thuma'ninah dengan -Nya, dan lain sebagainya dari pekerjaan hati yang diwajibkan sebagaimana kewajiban pekerjaan anggota badan.

Pekerjaan anggota badan ialah dengan mengerjakan sholat, berjihad, melangkahkan kaki untuk mendatangi sholat jum'at dan jama'ah. Membantu orang lemah, berbuat bajik kepada makhluk dan lain sebagainya. Kemudian beliau melanjutkan, "Dan ruh Ubudiyah berkisar lima belas kaidah, bagi siapa yang mampu menyempurnakannya maka dia telah menyempurnakan tingkatan ubudiyah. Penjelasannya ialah bahwa ubudiyah terbagi menjadi amalan hati, lisan dan anggota badan. Dan tiap-tiap anggota tadi mempunyai ubudiyah yang khusus baginya. Sedangkan hukum bagi ubudiyah itu ada lima, wajib, mustahab, haram, makruh dan mubah. Dan lima hukum ini berlaku bagi semua amalan hati, lisan dan anggota badan".[45]

Dari situ kita ketahui bahwa seluruh urusan agama dari keyakinan, keinginan (tujuan), ucapan, dan amalan (pekerjaan) semuanya masuk dalam nama ibadah. Maka ibadah dalam Islam pengertiannya sangat komprehensif dan universal sekali. Yang mencakup seluruh agama sebagaimana mencakup semua kehidupan dan eksistensi manusia seluruhnya.

Hal tersebut nampak jelas dalam jawaban yang diberikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tatkala beliau ditanya tentang makna firman Allah ta'ala:

﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ٢١ [ البقرة: 21 ]

"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa". (QS al-Baqarah: 21).

Apa yang dimaksud dengan ibadah? Apa saja cabang-cabangnya? Apakah kumpulan ritual yang ada didalam agama masuk didalamnya atau tidak?

Maka beliau rahimahullah menjawab dengan jawaban yang tadi kita sebutkan. Yaitu ibadah adalah seluruh nama yang mencakup semua perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dari setiap ucapan dan perbuatan baik berupa amalan batin maupun yang dhohir.[46] Beliau berdalil atas ucapannya tadi dengan haditsnya Jibril yang menjelaskan bahwa Islam, Iman dan Ihsan adalah bagian dari agama. Kemudian diakhir hadits tersebut nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan, "Itu adalah Jibril yang datang untuk menjelaskan agama pada kalian". Disini Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam menjadikan kandungan hadits sebagai agama.[47]

 RUKUN IBADAH

                Yang kami maksud di sini adalah penjelasan rukun ibadah dari sisi makna ta'abud (pekerjaan hamba). Dari penjelasan dimuka tadi tentang definisi ibadah dari sisi pekerjaan hamba maka menjadi jelas, bahwa hal itu memiliki dua rukun yaitu kesempurnaan dalam ketundukan dan merendahkan diri serta cinta yang sempurna.

Rukun pertama: Kesempurnaan dalam ketundukan dan merendahkan diri. Maksudnya ialah senangnya hamba kepada Allah ta'ala, merendahkan diri serta tunduk pada -Nya. Dan hal itu mempunyai empat tingkatan sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Qoyim.

Tingkatan pertama: Yang dimiliki oleh seluruh makhluk yakni ketundukan karena hajat dan kebutuhan mereka kepada Allah azza wa jalla. Dikarenakan, seluruh penduduk bumi dan langit sangat memerlukan dan membutuhkan Allah subhanahu wa ta'ala, karena Allah lah satu-satunya Dzat yang maha kaya atas mereka, seluruh penduduk langit dan bumi membutuhkan kepada -Nya sedang Ia tidak membutuhkan pada siapapun.

Tingkatan kedua: Ketundukan dalam ketaatan dan peribadatan. Yakni ketundukan dalam bingkai pilihan hamba, maka tingkatan ini khusus bagi orang yang mentaati -Nya, dan inilah rahasia dibalik ubudiyah.

Tingkatan ketiga: Ketundukan dalam cinta. Sesungguhnya orang yang mencintai akan tunduk terhadap Dzat yang ia cintai. Sesuai dengan kadar cintainya maka selaras dengan ketundukan yang akan dihasilkan.

Tingkatan keempat: Ketundukan dalam maksiat dan kejahatan.

Apabila terkumpul empat tingkatan ini maka ketundukannya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla serta merendahkan diri kepada -Nya telah lengkap dan sempurna. Sebab, orang yang tunduk kepada -Nya akan merasa takut, khasyah, cinta, inabah, taat, dan membutuhkan serta memerlukan hajat kepada -Nya.

Rukun kedua: Kecintaan yang sempurna. Karena sesungguhnya yang menunjukan pada sisi kecintaan yang sempurna bersama ketundukan yang sempurna adalah pokok dari penyembahan yakni peribadatan.

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qoyim, "Penyembahan merupakan tangga terakhir dari tingkatan cinta. Seperti dikatakan orang Arab, 'Cinta telah memperbudak dan menjadikan ia seperti budaknya. Apabila dia tunduk kepada orang yang dicintainya". Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Seorang hamba adalah yang mencintai dan merendahkan diri, berbeda dengan orang yang mencintai namun tidak mau merendahkan diri pada -Nya, namun, ia mencintainya untuk bisa sampai pada kecintaan yang lain, berbeda dengan orang tunduk bagi orang yang tidak ia cintai seperti ketundukan terhadap orang yang lalim, maka kedua contoh diatas bukan termasuk bentuk ibadah yang murni".

Sehingga menjadi jelas, bahwa mengesakan Allah ta'ala dengan kecintaan merupakan pokok ibadah. Dan ini melazimkan seluruh cinta tersebut harus diberikan kepada -Nya, karena -Nya dan untuk -Nya. Dan syarat sahnya cinta ini ialah mutaba'ah (mengikuti) yang harus ada didalamnya kejujuran dan keikhasan. Maka apabila tidak tercapai mutaba'ah dalam dirinya, maka ia di cap hanya mengklaim dalam pengakuan cintanya yang dusta tersebut.

 Pertanyaanya sekarang ialah dari berbagai macam jenis ibadah tersebut, lantas mana yang bisa kemasukan syirik?

Pengertian ibadah sangat luas sekali, seperti telah lewat penjelasannya. Yaitu mencakup dengan pengertiannya yang komprehensif pada seluruh parsial agama dan semua sisi kehidupan, sebagaimana mencakup pula eksistensinya manusia secara utuh. Lalu, apakah memalingkan salah satu diantaranya kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menjadikan sebuah kesyirikan dalam ibadah?

Jawabannya, Di perinci, dan yang nampak ketika mengamati  ucapannya para ulama salaf, bahwa mereka hanya memasukan dalam kesyirikan dari perkara-perkara tadi sesuatu yang menyelisihi tauhid ibadah, dan mereka tidak menginginkan hal tersebut melainkan ibadah itu sendiri.[48] Sebagaimana telah jelas bahwa ibadah sangat erat kaitannya dengan lisan, hati dan anggota badan. Maka kesyirikan juga bisa masuk kedalam ketiga hal tadi,  adakalanya kesyirikan terjadi pada amalan hati, terkadang pada amalan anggota badan, dan terkadang kesyirikan terjadi melalui ucapan dan pembicaraan, dan kadang satu sama lain bisa berkumpul menjadi satu.

Oleh karenanya Imam Ibnu Qoyim membagi jenis kesyirikan ini menjadi tiga macam, "Ikut serta dalam kesyirikan macam ini, kesyirikan dalam ibadah, dan menyekutukan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam hal perbuatan nya, ucapan, tujuan dan niat". Sedang syirik dalam perbuatan seperti sujud kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, thawaf diselain rumah Allah (Ka'bah), mencukur rambut dalam rangka beribadah dan merendahkan diri kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, mencium batu selain Hajar Aswad, mencium kubur serta mengusap-usapnya dan sujud kepadanya.

Dan syirik perbuatan dalam ucapan seperti bersumpah dengan menyebut selain nama Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan ucapan seseorang kepada sesama makhluk, 'Menurut kehendakmu dan kehendak Allah Shubhanahu wa ta’alla '. dan ucapan, 'Saya bertawakal kepadamu dan kepada -Nya'. atau ucapan, 'Saya berada diatas tanggungan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan tanggunganmu'. Atau ucapan, 'Tidak ada dalam hatiku kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla dan dirimu'. Dan ucapan, 'Ini dari Allah Shubhanahu wa ta’alla dan darimu'. Atau ucapan, "Ini termasuk dari keberkahan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan keberkahanmu'. Atau ucapan, 'Allah Shubhanahu wa ta’alla bagiku apa yang ada dilangit dan anda bagiku yang ada dibumi'. Atau seseorang yang mengatakan, 'Demi Allah dan kehidupan si fulan'. Atau mengucapkan, 'Aku bernadzar untuk Allah dan si Fulan'. Atau mengucapkan, 'Aku bertaubat kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan fulan'. Atau berkata, 'Aku berharap kepada -Dia dan fulan'. Dan seterusnya.[49]

Adapun syirik dalam tujuan dan niat, seperti beramal dengan tujuan untuk mencari selain wajah Allah Shubhanahu wa ta’alla, atau berniat untuk melakukan amal tertentu bukan untuk mendekatkan diri kepada -Nya tidak pula mengharap balasan dari       -Nya.[50] Inilah syirik yang terkait dengan pekerjaan hati.

Dengan ini kita mengetahui pembagian syirik ibadah selaras dengan pembagian ibadah. Dan ibadah adakalanya murni dengan hati, bisa juga dengan hati dan anggota badan secara bersamaan, dan adakalanya dengan lisan sebagaimana bisa juga dengan hanya anggota badan, maka kesyirikan bisa juga berlaku pada hati, lisan dan anggota badan.

Adapun syirik hati. Diantaranya hanya sekedar keyakinan saja. Yaitu syirik dalam rububiyah, sebagaimana telah lewat penjelasannya. Adakalanya bisa juga berkaitan dengan sebagian jenis-jenis syirik dalam ibadah. Yaitu apabila ada seseorang yang berpendapat bahwa sebagian makhluk memiliki serikat dalam kepemilikan jenis-jenis ibadah. Atau meyakini kalau di sana ada orang yang mempunyai kedudukan mulia yang apabila ia ridho terhadapnya niscaya dirinya akan memperoleh apa yang di inginkannya. Seperti orang yang menyangka adanya syafaat yang disandang oleh seorang makhluk yang terpisah dari Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan tanpa izin dan ridho -Nya. Diantaranya ada yang berkaitan dengan pekerjaan hati, dalam hal ini ada beberapa sisi, yaitu:

1.     Syirik dalam ibadah yang hanya sempurna dengan hati saja. Diantaranya, seperti mahabah (cinta yang berkonotasi ibadah) kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla. Tawakal, Khasyah, takut, berharap, Inabah, taubat, niat, tujuan, keinginan, ketaatan dan seterusnya.

2.     Syirik dalam ibadah yang sempurna bila dikerjakan dengan hati dan anggota badan secara bersamaan. Yaitu syirik dalam mendekatkan diri dan tata cara penyembahan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Seperti mengerjakan sholat, ruku', sujud, thowaf disekeliling Ka'bah, dan seluruh jenis ibadah badan semisal puasa dan haji, berjihad dijalan -Nya. Masuk diantaranya juga, bernadzar dan menyembelih, membayar zakat yang merupakan ibadah harta.

3.     Syirik dalam ibadah yang sempurna bila dikerjakan dengan hati dan lisan. Dan ini sangat banyak, diantaranya adalah berdo'a, baik yang berkaitan memohon syafaat atau yang lainnya dari berbagai macam permohonan. Atau yang berkaitan dengan do'a pujian dan ibadah atau do'a permohonan dan permintaan. Dan do'a seluruhnya adalah ibadah dan merupakan inti sarinya. Oleh karena itu datang penjelasan dalam sebuah hadits shahih: "Do'a adalah ibadah".[51]  Diantaranya juga adalah beristighotsah kepada makhluk yang tidak mampu melainkan Allah azza wa jalla. masuk juga dalam hal ini, meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla yang tidak mampu untuk memenuhinya, dan seterusnya.

Adapun syirik lisan. Yaitu seperti halnya berdzikir kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan dikerjakan mirip seperti ritual ibadah, seperti juga mengucapkan kalimat tauhid dengan kesyirikan yang masih dikerjakan. Karena barangsiapa yang mengucapkan kalimat tauhid ini lalu memasukan didalamnya selain Allah Shubhanahu wa ta’alla maka dirinya terjatuh dalam kesyirikan. Sebagaimana yang lakukan oleh musyrikin Arab didalam ucapan talibiyah mereka, '..Tidak ada sekutu bagi -Mu melainkan sekutu yang Engkau miliki yang  tidak memiliki kekuasaan -Mu".

Masuk didalam syirik lisan berbagai macam jenis dzikir yang seharusnya khusus ditujukan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, apabila dikerjakan dengan tujuan kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, seperti kalimat tahmid dan istighfar dan meminta perlindungan dan ucapan syahadat serta yang lainnya.

Inilah pembagian syirik dalam ibadah. Seperti yang anda lihat adakalanya dengan ucapan bisa juga dengan perbuatan. Dan akan datang perincian dari sebagian pembagian ini yang sangat banyak kejadiannya baik pada masa lampau maupun sekarang pada bab ke empat insya Allah.

 HUKUM SYIRIK BESAR

Seperti diketahui bahwa syirik ini merupakan perkara terbesar yang telah dilarang oleh Allah azza wa jalla. seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sebutkan dalam firman -Nya:

﴿ وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔاۖ ٣٦ [ النساء: 36 ]

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan -Nya dengan sesuatupun". (QS an-Nisaa': 36).

Didalam ayat diatas, Allah Shubhanahu wa ta’alla menggandeng larangan -Nya dengan perintah terbesar yang diperintahkan yaitu beribadah hanya kepada -Nya. Yang dengan sebab itu Allah Shubhanahu wa ta’alla menciptakan seluruh makhluk, sebagaimana Allah Shubhanahu wa ta’alla nyatakan hal tersebut dalam firman        -Nya:

﴿ وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦ [ الذريات: 56 ]

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku". (QS adz-Dzariyaat: 56).

Dan kesyirikan merupakan keharaman pertama sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah ta'ala:

﴿ قُلۡ تَعَالَوۡاْ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمۡ عَلَيۡكُمۡۖ أَلَّا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰناۖ وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُم مِّنۡ إِمۡلَٰق نَّحۡنُ نَرۡزُقُكُمۡ وَإِيَّاهُمۡۖ وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَۖ وَلَا تَقۡتُلُواْ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ١٥١ [ الأنعام: 151 ]

"Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami (nya)". (QS al-An'aam: 151).

Syirik akbar ini akan mengeluarkan pelakunya dari agama, dan halal darah serta hartanya. Sedangkan hukum diakhirat kekal abadi didalam neraka. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:

﴿ فَٱقۡتُلُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ حَيۡثُ وَجَدتُّمُوهُمۡ وَخُذُوهُمۡ وَٱحۡصُرُوهُمۡ وَٱقۡعُدُواْ لَهُمۡ كُلَّ مَرۡصَدۚ ٥ [ التوبة: 5 ]

"Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian". (QS at-Taubah: 5).

Dan Allah ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا ٤٨ [ النساء: 48 ]

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki -Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar". (QS an-Nisaa': 48).

Dan Allah ta'ala juga berfirman:

﴿ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَار ٧٢ [ المائدة: 72 ]

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun". (QS al-Maa-idah: 72).

Sebagaimana kesyirikan ini juga akan menghapus seluruh amal kebaikan. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:

﴿ وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٨٨ [ الأنعام: 88 ]

"Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan".  (QS al-An'aam: 88).

Dan Allah ta'ala juga berfirman:

﴿ وَلَقَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكَ لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٦٥ [ الزمر: 65 ]

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi". (QS az-Zumar: 65).

Dan orang yang terjerumus dalam amal kesyirikan sembelihannya tidak halal untuk di makan. Berdasarkan firman Allah tabaraka wa ta'ala:

﴿ وَلَا تَأۡكُلُواْ مِمَّا لَمۡ يُذۡكَرِ ٱسۡمُ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ ١٢١ [ الأنعام: 121 ]

"Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya". (QS al-An'aam: 121).[52]

Dan pelaku kesyirikan ini hartanya  tidak boleh diwarisi oleh ahli warisnya begitu juga dirinya tidak mewarisi harta muslim. Dan harta peninggalannya diserahkan ke baitul mal.

Bila meninggal jenazahnya tidak boleh disholati, dan tidak di kubur di pemakaman kaum muslimin, hal tersebut sebagai bentuk balasan baginya, karena orang musyrik telah melakukan kejahatan yang paling besar, serta kedzaliman yang paling jelek. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:

﴿ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا ٤٨ [ النساء: 48 ]

"Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar". (QS an-Nisaa': 48).

Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu dari Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ » [أخرجه البخاري]

"Barangsiapa mati sedang dirinya dalam keadaan berdo'a kepada selain Allah niscaya dirinya akan masuk ke dalam neraka".

Dalam redaksi lain, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ مَاتَ يَجْعَلُ لِلَّهِ نِدًّا أُدْخِلَ النَّارَ » [أخرجه البخاري ]

"Barangsiapa meninggal dan mengambil sekutu bagi Allah niscaya dirinya akan dimasukan ke dalam neraka".[53]

Sebagaimana juga disebutkan dalam haditsnya Jabir radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ لَقِىَ اللَّهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارِ » [أخرجه مسلم]

"Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun maka dirinya akan dimasukan ke dalam surga. Dan barangsiapa bertemu Allah dalam keadaan menyekutukan Allah maka dirinya akan dimasukan ke dalam neraka".[54]

Sebagaimana datang penjelasannya dalam hadits Ibnu Mas'ud berkata, "Aku pernah mendengar Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ » [أخرجه البخاري]

"Barangsiapa meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah maka dia masuk kedalam neraka".[55]

Dalam hadistnya Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menziarahi kubur ibunya, lantas beliau menangis sehingga sahabat yang ada sekelilingnya pun ikut menangis. Beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى » [أخرجه مسلم]

"Aku meminta izin kepada Rabb ku supaya di bolehkan untuk memintakan ampun pada ibuku namun aku tidak di izinkan".[56]

Dalam haditsnya Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau mengkisahkan, "Suatu ketika ada Arab badui yang datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'alihi wa sallam lalu bertanya, "Wahai Rasul, sesungguhnya bapak ku adalah orang yang suka menyambung tali silaturahim, dan beliau….terus dimana dia sekarang? Beliau menjawab, "Didalam neraka". Seakan-akan orang ini belum puas, maka dia bertanya kembali, "Lalu dimana ayahmu? Maka Rasulallah menjawab:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « حيثما مررت بقبر مشرك فبشره بالنار» [ أخرجه ابن ماجه ]

"Dimanapun engkau lewat pekuburan orang musyrik maka kabarkan pada mereka dengan neraka".

 Ibnu Umar menceritakan, "Lalu arab badui tadi masuk Islam setelahnya. Dan sungguh Rasulallah telah menyuruhku, tidaklah aku melewati pekuburan orang kafir melainkan supaya mengabarkan pada mereka dengan neraka".[57]

Didalam haditsnya Salamah bin Yazid al-Ju'fi[58] radhiyallahu 'anhu, berkata: "Aku bersama saudaraku pernah mendatangi Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam, kemudian kami katakan, "Wahai Rasul, sesungguhnya ibu kami adalah seorang ratu yang punya kebiasaan baik menyambung tali silaturahim, memuliakan tamu, melakukan kebaikan ini dan itu, akan tetapi, dirinya telah meninggal pada waktu Jahiliyah, apakah kebaikannya tadi bisa bermanfaat untuknya? Beliau menjawab, "Tidak ada faidahnya".[59]

Didalam haditsnya Aisyah radhiyallahu juga disebutkan, Rasulallah Shalalahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الدَّوَاوِينُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثَلَاثَةٌ دِيوَانٌ لَا يَعْبَأُ اللَّهُ بِهِ شَيْئًا وَدِيوَانٌ لَا يَتْرُكُ اللَّهُ مِنْهُ شَيْئًا وَدِيوَانٌ لَا يَغْفِرُهُ اللَّهُ فَأَمَّا الدِّيوَانُ الَّذِي لَا يَغْفِرُهُ اللَّهُ فَالشِّرْكُ بِاللَّهِ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ } » [أخرجه أحمد]

"Mahkamah yang ada di sisi Allah ta'ala itu ada tiga,  mahkamah yang Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak menyediakan apa-apa baginya, mahkamah yang -Dia tidak meninggalkan sedikitpun (pasti dihisab), dan mahkamah yang Allah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin mengampuni (pelakunya). Adapun dua mahkamah yang -Dia tidak akan mengampuni pelakunya adalah menyekutukan -Nya, sebab Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:

﴿ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ ٧٢ [المائدة: 72 ]

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka". (QS al-Maa-idah: 72).[60]

Dan yang senada dalam haditsnya Aisyah dari Nabi Muhammad Shalallahu 'alihi wa sallam, Aisyah menceritakan, "Aku pernah bertanya, 'Wahai Rasul, sesungguhnya Ibnu Jad'an[61] waktu Jahiliyah adalah orang yang suka menyambung tali kekerabatan, memberi makan orang fakir, apakah itu semua bermanfaat baginya? Beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا يَا عَائِشَةُ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ » [أخرجه أحمد]

"Tidak wahai Aisyah, sesungguhnya dia belum pernah mengucapkan sepanjang hayatnya, 'Ya Allah ampuni kesalahanku kelak pada hari kiamat".[62]

Dan hadits-hadits dalam konteks semacam ini sangatlah banyak, dan kami rasa cukup apa yang kami bawakan tadi diatas.

Adapun ijma ulama, maka bukan hanya seorang ulama saja yang telah menyatakan tentang ijma' kaum muslimin bahwa seorang musyrik kelak akan kekal didalam neraka.[63] Sedangkan ucapan para ulama salaf dalam masalah ini, maka cukup banyak sekali, diantaranya ialah:

1)         Ucapannya Imam Ahmad bin Hanbal[64], "Seseorang akan keluar dari iman menuju Islam, dan tidak ada sesuatu yang bisa mengeluarkan dari keislamannya kecuali syirik kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha agung, atau menolak kewajiban yang telah -Dia bebankan padanya karena ingkar dengannya".[65]

2)         Dimana Imam Bukhari membawakan dalam kitabnya hadits-hadits diatas dalam sebuah bab yang berjudul, "Bab yang menjelaskan kalau maksiat merupakan perkara Jahiliyah, dan tidak akan dihukum kafir pelakunya kecuali dosa syirik".[66]

3)         Dan al-Alamah Ibnu Jarir menjelaskan tatkala menafsirkan firman Allah tabaraka wa ta'ala:

﴿ وَلَقَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكَ لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٦٥ [ الزمر: 65 ]

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi". (QS az-Zumar: 65).

         Beliau mengatakan, "Makna firman -Nya, dan telah kami wahyukan kepadamu jika seandainya engkau berbuat kesyirikan benar-benar amalanmu akan terhapus karenanya dan engkau akan menjadi orang yang merugi. Dan kepada orang-orang sebelum kamu, maksudnya telah kami wahyukan pula hal tersebut kepada orang-orang sebelum kamu dari kalangan para Rasul, semisal yang diwahyukan kepadamu, maka berhati-hatilah dari perbuatan syirik kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan suatu apapun karena bila engkau mengerjakan dirimu akan binasa. Dan makna firman -Nya, dan janganlah engkau menjadi orang-orang yang binasa dengan kesyirikan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla yaitu apabila kamu sampai menyekutukan -Nya dengan sesuatu".[67]

4)         Imam Qurthubi[68] berkata mengomentari hadits, "Barangsiapa berjumpa dengan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam keadaan tidak menyekutukan -Nya dengan suatu apapun maka dirinya akan dimasukan ke dalam surga. Dan barangsiapa bertemu Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam keadaan menyekutukan -Nya maka dirinya akan dimasukan ke dalam neraka".[69] Sesungguhnya orang yang meninggal diatas kesyirikan tidak mungkin masuk ke dalam surga, tidak akan memperoleh rahmat Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan dirinya akan kekal abadi didalam neraka. Tanpa berhenti siksaan yang diperolehnya walau barang sejenak, dan tidak akan terputus selama-lamanya".[70]

5)         Imam Nawawi[71] menerangkan, "Adapun masuknya seorang musyrik kedalam neraka maka keadaannya sesuai dengan keumuman nash. Dirinya akan masuk ke dalam nereka dan kekal didalamnya. Dan tidak ada bedanya dalam hal itu, apakah dia seorang ahli kitab, yahudi dan nashrani, atau dia seorang penyembah patung dan seluruh orang kafir. Begitu juga tidak ada bedanya antara orang yang menyelisihi agama Islam atau yang menisbatkan padanya kemudian dia di hukumi dengan kafir karena keingkarannya dengan perkara yang menjadikan dia dihukumi kafir dengan sebab itu dan lain sebagainya".[72]

6)         Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Termasuk penentangan, permusuhan, kehinaan serta kebodohan yang paling besar ialah seseorang berdo'a kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, karena hal tersebut termasuk kesyirikan. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak akan mengampuni dosa syirik. Karena kesyirikan adalah kedzaliman yang sangat nyata…".[73]

7)         Imam Ibnu Katsir juga mengatakan, "Allah ta'ala mengabarkan bahwasannya Dia tidak akan mengampuni dosa syirik. Artinya Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak akan mengampuni orang yang meninggal dalam keadaan musyrik, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla akan mengampuni dosa selain dari pada syirik. Artinya dari dosa-dosa selain syirik yang Allah Shubhanahu wa ta’alla kehendaki dari kalangan para hamba -Nya".[74]

8)         Imam Ibnu Qoyim menjelaskan, "Dan tatkala kesyirikan merupakan tiga pengadilan yang paling besar disisi Allah azza wa jalla, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla mengharamkan surga bagi pelakunya, dan tidak mungkin pelaku syirik masuk kedalam surga, sebab surga hanya akan dimasuki orang yang bertauhid".[75]

9)         Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan, "Bahwa bagi siapa yang bertemu Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam keadaan tidak menyekutukan -Nya dengan sesuatu apapun maka dirinya akan masuk ke dalam surga, dan bagi siapa yang berjumpa dengan -Nya dalam keadaan menyekutukan dengan       -Nya maka dia akan masuk ke dalam neraka. Walaupun dirinya termasuk orang yang paling banyak beribadah".[76]

10)     Dan berkata Ahmad bin Hajar Alu Buthami asy-Syafi'i rahimahullah, "Syirik terbagi menjadi dua, besar dan kecil. Maka barangsiapa yang berlepas diri dari keduanya niscaya dirinya dijamin masuk surga, adapun yang terjatuh dalam syirik besar maka pasti masuk ke dalam neraka".[77]

 SYIRIK KECIL

Tentang definisi syirik kecil ini, telah datang beberapa pengertian, diantaranya adalah;

§  Bermakna setiap sarana atau wasilah yang akan mengantarkan pada syirik besar.[78] Tapi, dalam pengertian tadi dijumpai kurang sempurna, sebab pengertian tadi lebih tepat bila di tujukan pada definisi dosa besar.

§  Yang dimaksud syirik kecil ialah seluruh ucapan maupun perbuatan yang dapat mengantarkan pada kesyirikan. Seperti sikap ekstrim terhadap makhluk yang tidak sampai pada tingkatan ibadah. Seperti halnya bersumpah dengan nama selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang akan mengakibatkan riya dan yang semisalnya.[79]

Definisi diatas juga kurang luas dan mencakup. Karena lebih cocoknya sebagai definisi dosa besar. Kemudian, tidak semua sarana yang bisa mengantarkan pada kesyirikan di anggap sebagai syirik kecil. Seperti halnya bertawasul kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan orang-orang sholeh dan yang semisalnya.

§  Syirik kecil ialah setiap yang dilarang oleh syari'at dari perkara yang dapat mengantarkan pada syirik besar, dan sarana preventif untuk terjerumus kedalamnya, yang dinamakan dalam bahasa nushus sebagai kesyirikan.[80]

Pengertian ini hampir sama komentarnya dengan yang sebelumnya. Kemudian, tidak semua syirik kecil telah datang penamaannya dalam nash sebagai kesyirikan. Karena disana ada beberapa macam syirik kecil yang tidak ada penamaannya didalam nash sebagai kesyirikan.

§  Yang dimaksud syirik kecil ialah menyamakan makhluk dengan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam bentuk amalan, atau ucapan lisan. Syirik dalam bentuk amalan seperti halnya riya. Syirik dalam bentuk ucapan lisan seperti lafad yang mengandung didalamnya bentuk menyamakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan makhluk -Nya. Seperti ucapan, 'Menurut kehendak Allah Shubhanahu wa ta’alla dan kehendakmu'…dan ucapan, 'Abdul Harits', dan yang semisalnya.[81]

§  Syirik kecil yaitu penjagaan selain Allah bersama -Nya dalam beberapa perkara.[82]

§  Tidak memberikan pengertian, akan tetapi, hanya sekedar memberi contoh.[83]

Dan yang terakhir ini yang saya anggap lebih menentramkan, sebab pendefinisian semacam ini dari kesyirikan tidak bisa seratus persen pas dikarenakan saking banyak bentuknya.

 Asal muasal penamaan ini, syirik besar dan kecil:

Telah datang penjelasan dalam beberapa nash yang memberikan nama dengan syirik kecil. Diantara yang menunjukan hal tersebut ialah sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari Mahmud bin Walid[84], bahwa Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ .قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ. اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً » [أخرجه أحمد]

"Tidak ada yang paling aku takutkan atas kalian dari pada syirik kecil". Para sahabat bertanya: 'Apa syirik kecil itu wahai Rasul? Beliau menjelaskan, "Riya, kelak pada hari kiamat Allah akan berkata, ketika membalas amal perbuatan manusia, 'Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu didunia kalian berbuat riya padanya, carilah apakah kalian menjumpai balasan disisi mereka".[85]

Penamaan ini dengan syirik kecil pada perbuatan riya telah di sahkan dengan ketetapan hadits. Begitu juga ditetapkan penamaan ini dengan syirik kecil melalui lisan para sahabat. Diantara dalil yang menjelaskan hal itu ialah riwayat yang dibawakan oleh sahabat Syadad bin Aus[86], beliau mengatakan; "Dahulu kami pada zaman Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam menganggap riya sebagai syirik kecil".[87]

 BENTUK-BENTUK SYIRIK KECIL:

Ada begitu banyak ragam ucapan ulama tatkala menjelaskan tentang jenis-jenis syirik kecil, diantara mereka ada yang mengatakan, "Syirik kecil terbagi menjadi dua, yang dhohir (nampak) dan khafi (samar/ tersembunyi)". Yang dhohir terjadi dengan perbuatan riya'. Seperti orang yang berbuat untuk selain Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan amalan yang menampilkan kepada  selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, namun, di dalam batinnya tidak ikhlas karena Allah Shubhanahu wa ta’alla. dan hal itu, bisa terjadi dengan sebuah lafad semisal bersumpah dengan nama selain Allah Shubhanahu wa ta’alla.

Yang samar/ tersembunyi adalah sesuatu yang tidak terlalu mendapat perhatian orang dalam ucapan maupun perbuatan pada beberada kondisi tanpa disadari kalau ternyata ucapan atau perbuatan tersebut adalah kesyirikan[88]. Dalil yang menunjukan akan hal tersebut ialah sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الشرك في أمتي أخفى من دبيب النمل على الصفا » [أخرجه أبو يعلى]

"Kesyirikan yang ada pada umatku lebih tersembunyi dari semut hitam di atas padang pasir".[89]

Namun, pendapat ini perlu ditinjau kembali, sebab, tidak semua perkara yang tidak terlalu mendapat perhatian orang, baik ucapan maupun perbuatan pada beberapa kondisi yang tanpa disadari ternyata ucapan atau perbuatan tersebut adalah kesyirikan pasti masuk dalam syirik kecil saja, bahkan, dalam kondisi tertentu bisa masuk dalam syirik besar, sebagaimana nanti akan datang penjelasannya tentang maksud syirik yang tersembunyi.

Ada pula ulama yang berpendapat bahwa syirik kecil itu terklasifikasi menjadi dua:

1.     Syirik yang ada didalam niat dan tujuan, dan masuk dalam kategori ini ialah;

           i.     Riya' adalah amalan yang ditujukan untuk tujuan dunia.

2.     Syirik yang ada dalam lafad pengucapan, masuk dalam kategori ini adalah;

a.     Bersumpah dengan nama selain Allah Shubhanahu wa ta’alla.

b.     Ucapan seseorang yang mengatakan, 'Menurut kehendak Allah Shubhanahu wa ta’alla dan kehendakmu', atau ucapan, 'Kalau bukan karena Allah Shubhanahu wa ta’alla dan karenamu'. Dan ucapan-ucapan yang senada dengan ini.

c.     Menyandarkan kejadian yang ada dialam kepada selain Allah azza wa jalla serta meyakini adanya peran serta dzat tersebut. Seperti ucapan orang, 'Kalau tidak ada fulan niscaya akan begini kejadiannya'. Atau ucapan, 'Kalau tidak ada anjing pasti rumah kita kemasukan maling'.

d.     Ucapan sebagian orang yang mengatakan, 'Hujan turun karena sebab bintang ini dan itu'. Walaupun ucapan tersebut mengalir begitu saja tanpa memiliki maksud tertentu.[90]

Barangkali pendapat yang paling sesuai dalam masalah penjelasan macam-macam syirik kecil adalah sebagai berikut, sesungguhnya syirik kecil ini memiliki banyak ragam serta jenis, dan barangkali bisa kita simpulkan sebagai berikut;

3.     Ucapan, yaitu terjadi dengan perantara lisan. Masuk dalam kategori kesyirikan jenis ini ialah;

a.     Bersumpah dengan nama selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, tentunya sesuai dengan rincian hukum yang berkaitan dengan masalah itu.

b.     Ucapan orang yang mengatakan, 'Menurut kehendak Allah Shubhanahu wa ta’alla dan kehendakmu'. Atau ucapan, 'Saya bersandar kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan kepadamu'. Atau ucapan, 'Saya dalam kecukupan -Nya dan anda'. Atau ucapan, 'Saya tidak butuh melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan kamu'. Atau ucapan, 'Rizki ini dari Allah Shubhanahu wa ta’alla dan darimu'. Atau ucapan, 'Ini dari keberkahan yang Allah Shubhanahu wa ta’alla dan anda berikan'. Atau ucapan, 'Bagiku Allah Shubhanahu wa ta’alla tempat bersandarku yang dilangit dan anda yang di bumi'. Atau mengucapkan, 'Demi Allah Shubhanahu wa ta’alla dan kehidupan fulan'. Atau mengucapkan, 'Aku bernadzar untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla dan fulan'. Atau ucapan, 'Saya bertaubat kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan kepada si fulan'. Atau mengucapkan, 'Saya berharap kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan fulan'. Atau ucapan yang semisal. [91]

Barangkali kaidah dalam masalah ini ialah menjadikan sesuatu yang menjadi kekhususan Allah jalla wa 'ala lalu menggandengkan kepada makhluk, bukan karena ingin menjadikan sebagai sekutu bagi -Nya, akan tetapi hanya menyamakan dari segi pengucapan saja. Adapun jika sampai meyakini sebagai sekutu Allah Shubhanahu wa ta’alla maka hal tersebut masuk dalam kategori syirik besar.

c.     Ucapan orang yang menjuluki, 'Hakim agung'.[92]

1.     Begitu juga masuk dalam masalah ini, menggunakan nama untuk penghambaan kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla. Seperti misalkan menamai orang dengan hamba nabi (Abdu Nabi) atau Abdu Rasul. Jika tidak punya tujuan hakekat ubudiyah.

2.     Menyandarkan kejadian-kejadian yang ada dialam semesta kepada selain Allah azza wa jalla. Seperti ucapan orang, 'Kalau tidak ada fulan niscaya akan seperti itu'. Atau ucapan, 'Kalau tidak ada anjing niscaya kami kemalingan'. Atau ucapan seseorang, 'Kalau bukan karena Allah Shubhanahu wa ta’alla dan fulan'. Atau ucapan, 'Kalau bukan karena engkau niscaya fulan begini'. Atau ucapan, 'Kalau bukan karena itik didalam rumah niscaya kita kemalingan'. Dan ucapan, 'Aku berlindung kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan kamu'.[93]

3.     Ucapan sebagian orang, ''Hujan turun karena sebab bintang ini dan itu'. Dengan cara tidak langsung. Barangkali kaidah dalam hal ini ialah menyandarkan pada sebab yang tidak dijadikan sebagai sebab oleh syari'at untuk hal itu.[94]

4.     Perbuatan. Yaitu yang terjadi dengan sebab amal anggota badan. Dan masuk dalam kategori ini, ialah:

a.     Tathayur. Apabila tidak sampai pada tingkat meyakini pada benda yang di tathayuri mempunyai qudrah (kemampuan).

b.     Mendatangi paranormal dan dukun lalu membenarkannya. Apabila tidak sampai meyakini mereka mempunyai pengetahuan ghaib.

c.     Meminta bantuan kepada dukun untuk menemukan pencuri atau yang semisal. Apabila tidak dibarengi keyakinan kalau mereka mengetahui perkara ghaib.

d.     Mempercayai tukang ramal dan ahli astronomi dan lain sebagainya dan tukang sihir. Dengan catatan apabila tidak dibarengi keyakinan kalau mereka mengetahui perkara ghaib.

e.     Memakai cincin atau kalung dan yang semisal untuk mengangkat atau menolak bala. Apabila tidak meyakini benda tersebut memiliki kelebihan.

5.     Hati. Dan masuk dalam kategori ini adalah;

a.     Riya. Dan jika sedikit maka tidak lepas dari beberapa keadaan:

1.     Adakalanya riya terjadi dari segi pekerjaan. Seperti seseorang yang sedang mengerjakan sholat lalu memanjangkan berdiri, ruku dan sujudnya, serta memperlihatkan dalam keadaan khusyu manakala dilihat oleh orang lain. Seperti orang yang sedang berpuasa, lalu memperlihatkan pada orang lain bahwa dirinya sedang berpuasa. Seperti mengatakan kepada orang yang diajak bicara, misalkan; 'Hari ini hari senin atau kamis, bukankah begitu? Tidakkah anda berpuasa? Atau dia mengatakan padanya, "Saya undang kamu untuk buka puasa bersama saya". Demikian juga dalam ibadah haji, atau berjihad, dirinya pergi melaksanakan ibadah haji, atau pergi ke medan perang, akan tetapi tujuannya supaya diperhatikan orang lain. Seperti halnya orang yang ingin diperhatikan ketika bersedekah, dan seterusnya.

2.     Adakalanya riya timbul dari segi pembicaraan. Seperti riya yang terjadi dalam ceramah atau khutbah, memiliki hafalan hadits atau atsar, dengan tujuan untuk menunjukan kalau dirinya banyak menguasai ilmu. Atau menggerakkan bibir tatkala sedang berdzikir ditengah-tengah orang banyak. Atau menunjukan kemarahannya ketika melihat kemungkaran dihadapan orang. Atau merendahkan dan melembutkan suara ketika membaca al-Qur'an untuk menunjukan pada orang akan ketakutan dan kesedihannya,  atau yang semisal dengannya. Tapi, tujuannya ialah untuk riya. Diantara contoh lain ialah menggerakan kedua bibirnya ketika berdzikir ditengah-tengah orang banyak, tapi ketika di rumah dirinya lalai.

3.     Adakalanya riya timbul dari segi penampilan. Seperti membiarkan bekas sujud di keningnya. Atau memakai pakaian kumal atau lusuh lagi kasar dengan menunjukan sikap yang arif, supaya dikatakan seorang yang ahli ibadah dan zuhud. Atau mengenakan pakaian tertentu yang biasa dikenakan oleh ulama pada masyarakat tertentu, agar dirinya dikatakan sebagai orang yang berilmu.

4.     Adakalanya riya timbul bersama sahabat atau tamu. Seperti orang yang membebani dirinya dengan meminta orang alim atau ahli ibadah untuk mengunjungi rumahnya, supaya dikatakan si alim fulan telah mengunjungi fulan. Atau mengajak orang banyak untuk datang berkunjung kerumahnya,  supaya dirinya dikatakan, sesungguhnya banyak orang baik yang sering berkunjung kerumahnya. Begitu juga orang yang riya dengan banyaknya guru yang ia menimba ilmu darinya, supaya dikatakan, si fulan telah berjumpa dengan banyak syaikh dan belajar kepada mereka, lalu dirinya merasa bangga dengan pujian tersebut.

5.     Adakalanya riya timbul untuk penduduk dunia. Seperti orang yang berjalan dengan lagak dan gaya yang bagus dan indah, dengan mengayunkan tangan dan langkah yang kerap. Atau menyincing ujung bajunya, atau memalingkan wajah, atau melipat pakaiannya, atau mengemudikan mobilnya dengan gaya khusus.

6.     Adakalanya riya timbul dari segi penampilan badan. Seperti halnya orang yang menampakkan pada orang lain wajah pucat dan badan kurus untuk memberi persangkaan pada mereka kalau dirinya orang yang banyak beribadah dan sering takut dan sedih. Atau orang yang membiarkan rambutnya acak-acakan untuk menunjukan pada orang lain kalau dirinya hanya sibuk dengan urusan agama sehingga tidak ada waktu senggang untuk merapikan rambutnya. Atau riya dengan cara mencukur kumis dan membiarkan rambutnya panjang untuk menunjukan pada orang banyak kalau dirinya sedang meniru ahli ibadah. Atau riya dengan cara melirihkan suara dan membikin mata layu dan bibir kering untuk menunjukan padamu kalau dirinya orang yang sering berpuasa.

Inilah beberapa keadaan yang biasanya dijadikan sebagai media untuk riya, tujuannya adalah untuk mencari kehormatan atau kedudukan dimata manusia.[95]

Amalan yang dilakukan manusia dengan orentasi dunia.

Maksudnya ialah seseorang yang melakukan sebuah amal sholeh yang orientasinya untuk mencari dunia, baik bertujuan untuk memperoleh harta atau kedudukan. Seperti orang yang berjihad atau belajar untuk mengambil upahnya, atau untuk memperoleh jabatan, atau mempelajari al-Qur'an, atau mengerjakan sholat secara rutin untuk bisa menjadi takmir masjid, atau yang semisalnya dari amal sholeh. Akan tetapi, niatnya untuk memperoleh duniawi bukan untuk mencari ridho Allah azza wa jalla.

Perbedaanya antara ini dengan riya adalah kalau orang riya biasanya melakukan amal sholeh supaya mendapat pujian dan sanjungan, adapun orang yang bertujuan dunia biasanya melakukan amal sholeh dengan orentasi  untuk bisa memperoleh harta atau jabatan.[96] Dan macam-macam syirik kecil ini bisa terjadi dalam perkara khusus yang berkaitan dengan rububiyah, atau dalam perkara uluhiyah. Sebagaimana juga, setiap macam dari syirik kecil ini memungkinkan untuk berubah menjadi syirik besar. Hal itu dilihat dari dua sisi:

Pertama: Apabila dibarengi dengan keyakinan dalam hati. Yaitu mengagungkan selain Allah Shubhanahu wa ta’alla sebagaimana dia mengagungkan -Nya. Seperti orang yang bersumpah dengan nama selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, dalam rangka mengagungkan dzat tersebut seperti halnya dia mengagungkan Allah Shubhanahu wa ta’alla.

Kedua: Atau hal tersebut berada dipokok keimananya, atau kejadiannya terlalu sering sehingga dirinya terkalahkan, seperti riya yang ada dipokok keimanan, atau terlalu sering melakukan riya dalam tiap amalannya, atau terlalu sering menjadikan dunia sebagai orentasi dalam amal sholehnya bukan untuk mencari wajah Allah. inilah gambaran syirik kecil secara global.

 HUKUM SYIRIK KECIL

Hukum syirik kecil adalah haram, dan termasuk dosa besar yang paling besar dibawah tingkatan syirik besar, akan tetapi, bedanya tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.[97] Oleh karena itu banyak sekali datang peringatan dalam banyak nash, seperti diantaranya dari al-Qur'an, firman Allah ta'ala:

﴿ قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَر مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰه وَٰحِدۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلا صَٰلِحا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا ١١٠ [الكهف: 110 ]

"Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS al-Kahfi: 110).

Ayat ini mencakup syirik besar dan kecil. Dan juga firman Allah tabaraka wa ta'ala:

﴿ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٢٢ [ البقرة: 22 ]

"Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui". (QS al-Baqarah: 22).

Ayat ini sedang berbicara dalam konteks syirik besar. Akan tetapi, ada sebagian ulama salaf diantaranya sahabat Ibnu Abbas berhujah dengan ayat ini masuk didalamnya syirik kecil, karena keduanya merupakan kesyirikan.[98]

Demikian juga firman Allah ta'ala:

﴿ وَٱلَّذِينَ يَمۡكُرُونَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِ لَهُمۡ عَذَاب شَدِيدۖ وَمَكۡرُ أُوْلَٰٓئِكَ هُوَ يَبُورُ١٠ [فاطر10]

"Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur". (QS Faathir: 10).

Berkata Imam Mujahid, "Mereka adalah para pelaku riya".[99] Seperti telah diketahui bahwa riya merupakan pokok syirik kecil. Diantara dalil yang datang dari sunah ialah. Firman Allah tabaraka wa ta'ala didalam hadits Qudsi, Allah mengatakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ » [أخرجه مسلم]

"Allah berfirman: Aku tidak membutuhkan sekutu dari kesyirikan, barangsiapa mengerjakan amalan yang menyertakan sekutu bersama -Ku maka akan Aku tinggalkan dia bersama sekutunya".[100]

Didalam hadits yang lain, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ » [أخرجه أحمد]

"Tidak ada perkara yang lebih aku takutkan atas kalian dari pada syirik kecil".[101]

Dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu[102], menceritakan; "Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami yang tatkala itu sedang berbincang tentang al-masih Dajjal, lalu beliau bersabda: "Maukah aku beritahu kalian perkara yang lebih aku takutkan atas kalian dari pada al-Masih Dajjal? Tentu saja wahai Rasul, jawab kami. Beliau mengatakan, "Syirik kecil..".[103]

Adapun ucapan syirik kecil merupakan dosa besar dibawah tingkatan syirik besar, meruntut kepada pernyataanya sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu yang mengatakan, "Kalau sekiranya aku bersumpah dengan menyebut nama Allah Shubhanahu wa ta’alla untuk kedustaan itu lebih aku sukai dari pada bersumpah dengan menyebut nama selain Allah Shubhanahu wa ta’alla walau untuk kejujuran".[104]

Sisi pengambilan dalil dari ucapannya beliau adalah bahwa bersumpah dengan menyebut nama Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam keadaan dusta merupakan dosa besar, akan tetapi, dosa syirik lebih besar dari pada dosa besar walaupun hanya sekedar syirik kecil, jika tidak, bagaimana mungkin Abdullah bin Mas'ud berani mengucapkan pernyataan semacam ini yang terkandung didalamnya dosa besar. Wallahu a'lam.

Alasan yang lain, karena bersumpah dengan menyebut nama Allah Shubhanahu wa ta’alla bagian dari tauhid, dan bersumpah kepada selain –Nya adalah kesyirikan. Kalau seandainya dirinya jujur ketika bersumpah dengan menyebut nama selain Allah Shubhanahu wa ta’alla maka kebaikan tauhid jauh lebih tinggi dari pada kebaikan dalam kejujuran, dan keburukan dusta lebih ringan dari pada keburukan syirik, maka hal ini menunjukan bahwa syirik kecil lebih besar dari pada dosa besar".[105]

Kemudian jenis syirik ini yakni syirik kecil akan mengapus amal sholeh, dan dirinya akan berdosa apabila amalan yang dibarengi syiri kecil tersebut adalah amal wajib, karena kedudukanya sama seperti orang yang belum mengerjakan kewajiban tadi, dirinya berdosa dengan sebab tidak mau menjalankan perintah[106]. Lalu sarana syirik kecil tersebut lambat laun akan mengantarkan pada syirik besar.

 HUKUM PELAKU KESYIRIKAN:

         Para ulama telah bersepakat kalau pelaku kesyirikan kecil tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama. Dan dirinya tidak kekal didalam neraka. Akan tetapi, apakah dia berada dibawah masyiah Allah Shubhanahu wa ta’alla jika tidak bertaubat, seperti halnya keadaan para pelaku dosa besar dan dosa-dosa lainnya, seperti dinyatakan oleh Allah didalam firman -Nya:

 ﴿ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ ٤٨ [النساء:48]

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki -Nya". (QS an-Nisaa': 48).

Atau berada pada ancaman yang keras yaitu dirinya tidak akan diampuni jika tidak bertaubat sebelumnya, karena sudah dikatakan telah melakukan perbuatan syirik? Para ulama dalam hal ini berbeda pendapat menjadi dua kubu:

Pendapat pertama: Bahwa pelaku syirik kecil berada dibawah masyi'ah Allah Shubhanahu wa ta’alla. pendapat ini yang lebih condong dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[107], sebagaimana pendapat yang pegang oleh muridnya Imam Ibnu Qoyim, dalam bukunya al-Jawabul Kaafi.[108]

Pendapat Kedua: Dirinya dalam ancaman yang keras, yaitu dimasukan kedalam neraka, dan pendapat ini yang dipegang oleh sebagian ulama.[109]

 Perbedaan antara syirik besar dan syirik kecil:

Disana ada beberapa perbedaan mencolok antara syirik besar dan syirik kecil, diantaranya ialah:

1.     Syirik akbar pelakunya tidak akan diampuni oleh Allah azza wa jalla kecuali bila dirinya bertaubat terlebih dahulu. Adapun syirik kecil maka para ulama berbeda pendapat, ada yang berpendapat dirinya dibawah masyi'ah Allah Shubhanahu wa ta’alla, ada lagi yang mengatakan, jika pelakunya mati maka dirinya harus diadzab oleh -Nya, namun, tidak kekal didalam neraka.

2.     Syirik akbar akan menghapus seluruh amalan, adapun syirik kecil menurut pendapat yang kuat, tidak menghapus seluruh amal melainkan amalan yang disertai kesyirikan saja.

3.     Syirik akbar mengeluarkan pelakunya dari agama islam. Adapun syirik kecil maka tidak sampai mengeluarkan dari agama. Oleh karena itu salah satu kandungan hukum yang berlaku baginya ialah dipergauli dengan muamalah kaum muslimin, boleh menikahkan dengannya, halal hewan sembelihannya, mewarisi dan di warisi harta peninggalannya, jika meninggal jenazahnya disholati, dan dikubur di pekuburan kaum muslimin.

4.     Bahwa syirik besar pelakunya akan kekal didalam neraka selama-lamanya, adapun syirik kecil maka tidak menjadikan kekal pelakunya didalam neraka, dirinya masuk kedalam neraka sama seperti para pelaku dosa besar lainnya.[110]

5.     Bahwa syirik besar menjadikan pelakunya halal darah dan hartanya, berbeda dengan syirik kecil maka pelakunya dihukumi muslim seorang mukmin yang kurang imannya, dari segi agama dihukumi orang yang fasik.[111]

6.     Lalu kedua pelaku, antara syirik besar dan syirik kecil sama-sama diancam dengan api neraka, dan keduanya merupakan dosa besar diatas dosa-dosa besar lainya.[112]

Apa yang dimaksud dengan syirik khafi (yang samar)? Apakah dia masuk dalam kelompok syirik besar atau dia masuk dalam kelompok syirik kecil? Definisi syirik khafi, telah lewat bersama kita definisi syirik kecil dimana syirik khafi merupakan bagian dari syirik kecil menurut sebagian para ulama. Berpijak dari itu maka mereka mendefinisikan syirik khafi dengan mengatakan, suatu perbuatan yang tidak disadari oleh orang, baik ucapan maupun tindakan yang dilakukan pada keadaan dan kondisi tertentu tanpa mengetahui bahwa ucapan dan perbuatan tersebut adalah kesyirikan.[113]

Sebagian ulama mendefinisikan dengan mengatakan, 'Syirik khafi adalah sesuatu yang tersembunyi dari hakekat keinginan hati, dan ucapan yang terkandung didalamnya penyamaan Allah Shubhanahu wa ta’alla  dengan makhluk -Nya'.[114] Jenis kesyirikan ini yang disebut oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau merasa takut bila menimpa kepada kita, serta mengingatkan kita agar jangan sampai terjerumus kedalamnya.

Dalil yang menunjukan akan hal tersebut ialah sebuah hadits yang dibawakan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الشرك في أمتي أخفى من دبيب النمل » [أخرجه أبو يعلى]

"Kesyirikan pada umatku lebih tersembunyi dari pada semut hitam dipadang pasir".[115]

Dalam redaksinya Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersabda;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الشرك فيكم أخفى من دبيب النمل قال : قلنا : يا رسول الله وهل الشرك إلا ما عبد من دون الله أو ما دعي مع الله - شك عبد الملك - قال : ثكلتك أمك ياصديق الشرك فيكم أخفى من دبيب النمل ألا أخبرك بقول يذهب صغاره وكباره - أو صغيره وكبيره - قال : قلت : بلى يا رسول الله قال : تقول كل يوم ثلاث مرات : اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك وأنا أعلم وأستغفرك لما لا أعلم والشرك أن يقول : أعطاني الله وفلان والند أن يقول الإنسان : لولا فلان لقتلني فلان » [أخرجه أبو يعلى]

"Kesyirikan yang ada ditengah-tengah kalian lebih samar dari pada semut hitam? Abu Bakar menceritakan, maka kami bertanya, 'Wahai Rasul, bukankah kesyirikan itu ada pada seseorang yang menyembah selain Allah atau berdo'a kepada selain Allah? Beliau mengatakan, "Celaka engkau wahai Shidiq, kesyirikan yang ada pada kalian lebih samar dari pada semut hitam, maukah aku beri tahu kalian dengan sebuah ucapan yang akan memberangus (syirik) yang besar maupun yang kecil? Saya menjawab, 'Tentu wahai Rasul'. Beliau bersabda; "Ucapkan setiap hari tiga kali, 'Ya Allah sesungguhnya hamba memohon perlindungan kepada -Mu dari menyekutukan Dirimu dengan sesuatu yang diriku sadar dan hamba meminta ampun dari yang tidak hamba sadari. Kesyirikan adalah engkau mengatakan, 'Allah dan fulan yang memberiku'. Dan membikin tandingan adalah seseorang mengatakan, 'Kalau bukan karena fulan barangkali saya sudah dibunuh sama si fulan".[116]

Dalam redaksi yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu yang menceritakan, 'Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami yang tatkala itu sedang membincangkan tentang al-Masih Dajjal, maka beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ألا أخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال. قال قلن بلى . فقال: الشرك الخفي أن يقوم الرجل يصلي فيزين صلاته لما يرى من نظر رجل » [أخرجه أحمد و ابن ماجه ولفظ له]

"Maukah aku beritahu kalian dengan perkara yang lebih aku takuti dari perkaranya al-Masih Dajjal? Kami menjawab, 'Tentu wahai Rasul'. Beliau mengatakan, "Syirik khafi, yaitu seseorang yang sedang mengerjakan sholat lalu dirinya memperbagusi sholatnya manakala di lihat oleh orang lain".[117]

Hadits-hadits diatas tadi menunjukan bahwa disana ada jenis kesyirikan yang di namakan dengan syirik khafi, pertanyaannya sekarang adalah apakah syirik khafi ini masuk dalam dua jenis kesyirikan –syirik besar dan syirik kecil- atau dia merupakan jenis kesyirikan tersendiri? Terjadi silang pendapat dikalangan para ulama.

Diantara mereka ada yang mengatakan; "Mungkin saja kita jadikan syirik khafi ini bagian dari jenis syirik kecil, sehingga kita simpulkan syirik terbagi menjadi dua, syirik besar yang terjadi dalam keyakinan-keyakinan hati, yang kedua syirik kecil yang berkaitan dengan bentuk perbuatan dan ucapan lisan, serta keinginan yang tersembunyi".[118] Dan pendapat ini banyak dipegang oleh ulama kontemporer.[119]

Akan tetapi, konteks nushus yang ada diawal tadi menjelaskan bahwa syirik khafi bisa berada pada syirik besar, sebagaimana juga bisa terjadi di dalam syirik kecil, karena dia tidak mempunyai sifat yang bisa dijadikan sebagai patokan, namun, keberadaanya berubah-ubah bisa masuk dalam syirik besar bisa juga masuk dalam syirik kecil, bahkan, syirik khafi ini adalah setiap perkara yang samar dari macam-macam kesyirikan. Dan inilah pendapat yang kuat menurutku.[120]

Berdasarkan hal tersebut maka wajib bagi kita untuk menjauhi syirik khafi ini dikarenakan begitu samar dan tersembunyinya. Bisa jadi dia mengira dalam suatu perkara masuk dalam kategori syirik kecil namun ternyata perkaranya masuk dalam syirik besar, demikian juga sebaliknya.

Hal tersebut dikarenakan begitu samar perkaranya, sangat rumit urusannya, dan sangat susah untuk mendeteksinya, sehingga menjadikan perkaranya musytabih (tidak jelas) yang tidak mudah diketahui melainkan oleh orang-orang yang dalam keilmuannya. Yang bisa saja tersamar bagi sebagian orang disebabkan karena belum sempurna pengamatannya, dan kurang sempurna didalam memahami dalil al-Qur'an dan Sunah.



[1] . Ibnu Qoyim, Madarijus Salikin 1/339. Ibnu Samhaan, ad-Durarus Saniyah 2/85.

[2] . Lihat ucapannya Syaikh Abdurahman bin Hasan Alu Syaikh dalam risalah Anwa'u Tauhid wa Anwa'u Syirki, gabungan al-Jami'ul Farid hal: 341.

[3] . Sulaiman bin Abdillah, Taisirul Azizil Hamid hal: 43.

[4] . Ibnu Taimiyah, Majmu Fatawa 1/91-94. Dar'u Ta'arudh al-'Aql wa Naql 7/390. al-Muqrizi, Tajridut tauhidil Mufid hal: 8.

[5] . Muhammad Mubarak al-Maili, asy-Syirku wa Madhahiruhu hal: 66.

[6] . Abul Baqa al-Kafawi, al-Kuliyaat hal: 216. Ahmad ar-Rumi, Majalisul Abraar hal: 150-152.

[7] . Ibnu Qoyim, Jawabul Kaafi hal: 309-310.

[8] . Ibnu Taimiyah, al-Istiqomah 1/344. Ibnu Qoyim, Madarijus Salikin 1/339.

[9] . Hafidh Hakami, Ma'arijul Qobul 2/483. Fatawa lajnah Daimah 1/516-517. Lihat juga Iqtidho Shirotol Mustaqim, Ibnu Taimiyah 2/3,7. al-Irsyaad hal: 2,5, oleh Ibnu Sa'di.

[10] . Majmu Fatawa 1/92.

[11] . Dar'u Ta'arudh al-'Aql wa Naql, Ibnu Taimiyah 7/390.

[12] . Ibnu Qoyim, Jawabul Kaafi hal: 309.

[13] . Ibnu Qoyim, Jawabul Kafi hal: 310.

[14] . al-'Aql dan an-Nufus sebagaimana dinyatakan oleh ahli mantik, mereka mengatakan, "Sesungguhnya alam semesta sudah ada lebih dulu yang muncul darinya sebab yang mengharuskan ada dzatnya, kemudian muncul darinya akal kemudian akal kemudian akal hingga sempurna sampai sepuluh akal dan Sembilan jiwa". Mereka menjadikan akal sama kedudukannya dengan pria dan jiwa seperti wanita. Lihat pembahasannya dalam Majmu' Fatawa 17/286 oleh Ibnu Taimiyah.

[15] . Majusi adalah kelompok yang beriman pada dua unsur, cahaya abadi dan kegelapan yang kelam. Mereka berselisih tentang sebab terjadinya kedua hal tersebut. dan mereka dalam hal ini terbagi menjadi empat sekte. Zawarotiyah, Maskhiyah, Kharmadiniyah, dan Bahafaridiyah. Diantara pokok keyakinan sebagian mereka ialah bahwa manusia semuanya bersekutu dalam harta, wanita dan seluruh kelezatan dunia. Lihat perinciannya dalam kitab al-Milal wan Nihal 2/73. al-Firaq bainal Firaq hal: 276.

[16] . al-Qodariyah ialah para pengikut Ma'bad bin Khalid al-Juhani, sebagai pencetus yang mengingkari adanya takdir. Diantara pemikiran yang mereka usung ialah menafikan kemampuan seorang hamba untuk berbuat. Dia seorang yang shoduq (jujur) dalam periwayatan hadits, dan pendirinya Ma'bad hukum mati oleh Abdul Malik dan disalib hingga mati di Damaskus pada tahun 85 H. lihat al-Firaq banial Firaq hal: 18-20. Tadzhibu Tahdzibil Kamal hal: 383.

[17] . Qior'ah ini termasuk qiro'ahnya Ibnu Abbas dan Mujahid. Lihat penjelasannya oleh Thabari dalam tafsirnya 6/9/17.

[18] . Jawabul Kaafi  3141, Ibnu Qoyim.

[19] . Sesuai dengan apa yang sebutkan oleh Ibnu Qoyim dalam kitabnya Jawabul Kaafi hal: 309-314.

[20] . HR Muslim no: 2985, Ibnu Majah no: 4202, dan redaksi ini dari riwayat al-Baghawi dalam Syarh Sunah 14/325.

[21] . Madariju Salikin 1/339, Jawabul Kaafi hal: 318, keduanya oleh Ibnu Qoyim.

[22] . Tahdzibul Lughah 2/234, al-Azhari.

[23] . al-Jauhari dalam ash-Shihah 2/503. dan makna ini disepakati oleh para pakar bahasa, lihat Fairuz Abadi dalam Qamus Muhith 1/311. Zabidi dalam Tajul Arus 2/410. Ibnu Faris dalam Mu'jan Maqayis Lughah 4/205-206. Ibnu Mandhur dalam Lisanul Arab 9/11,12.

[24] . Majmu Fatawa 10/149. al-Ubudiyah hal: 38.

[25] . Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 1/25.

[26] . Ibid 1/25.

[27] . Beliau adalah al-Hafidh Abu Hatim, Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Mu'adz bin Ma'bad at-Tamimi al-Busti. Banyak memiliki karya tulis, diantara murid yang meriwayatkan hadits darinya Nasa'i, al-Hasan bin Sufyan, Abu Ya'la al-Mushili. Beliau menjadi Qodhi di Samarkandi, termasuk dari ulama umat dan penghafal hadits, sangat paham dengan ilmu perbintangan kedokteran dan disiplin ilmu lainnya, menulis buku Musnad, kitab shahih dan sejarah. Beliau seorang yang tsiqoh, cerdas dan cepat paham, meninggal pada tahun 354 H. lihat biografinya dalam Bidayah wa Nihayah 11/295 oleh Ibnu Katsir, Tadzkiratu Hufaadh 2/920 oleh Dzahabi, Lisanul Mizan 5/112 oleh Ibnu Hajar dan Thabaqaat Hufaadh hal: 375 oleh Imam Suyuthi.

[28] . Dinukil ucapannya ini oleh Ibnu Hajar dalam al-Fath 11/347. Dan bila kita lihat seksama sekilas definisi yang dibuat oleh Imam Ibnu Hiban sama persis dengan definisi iman yang dijelaskan oleh para ulama salaf.

[29] . Taqribu Tadmuriyah hal: 129 oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin.

[30] . Majmu' Tsamin min Fatawihi 2/25 oleh Ibnu Utsaimin. Lihat pula ucapan senada oleh Imam al-Qurthubi dalam Tafsirnya 4/195.

[31] . Majmu' Fatawa 10/153, 10/249. Jaami'ur Rasail 2/284, Dar'u Ta'arudh al-Aql wa Naql 6/62 semuanya oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

[32] . Raudhatul Muhibin hal: 68, 77. Wabilus Shayib hal: 6, Jawabul Kaafi hal: 327, 437. Madariju Salikin 1/74. Thariqul Hijratain hal: 245, Ighatsatul Lahfan 2/553.

[33] . Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 1/25.

[34] . Kalimatul Ikhlas wa Tahqiqu ma'naha hal: 36, oleh al-Hafidh Ibnu Rajab.

[35] . Madariju Salikin 1/74 oleh Ibnu Qoyim.

[36] . Majmu Fatawa 10/206, 207.

[37] . Ibid 10/149. al-Ubudiyah hal: 38.

[38] . Ibid 10/ 70, 74, 75, 149, 150, 163.

[39] . Ibid 7/49. lihat penukilan ucapan beliau oleh Abdurahman bin Hasan Alu Syaikh dalam Fathul Majid 1/21.

[40] . Ibid 10/ 172. al-Ubudiyah hal: 73.

[41] . Madarijus Salikin 1/99.

[42] . Dinukil ucapannya ini oleh Ibnu Hajar dalam al-Fath 11/347.

[43] . Tafsir Ibnu Katsir 4/238.

[44] . Fathul Bari 11/347, Ibnu Hajar.

[45] . Madariju Salikin 1/100, 101.

[46] . Majmu Fatawa 10/149. al-Ubudiyah hal: 38.

[47] . Ibid 10/152.

[48] . Lihat perincian secara detail dalam beberapa maraji ini. Minhaju Sunah 3/490. Majmu Fatawa 1/74,75, 91. 8/ 49. 10/ 172, 180-190, 607,608 oleh Ibnu Taimiyah. Madariju Salikin 1/344-146. Jawabul Kaafi hal: 334, oleh Ibnu Qoyim. Tajridu Tauhid al-Mufid hal: 13, oleh al-Maqrizi. Ad-Durarus Saniyah 2/35, 37, 152, 153. oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Taqwiyatul Iman hal: 32, 33 oleh ad-Dahlawi. Dll.

[49] . Apabila pelakunya meyakini dalam ucapan-ucapannya tersebut bahwa si fulan tadi mengetahui apa yang ia ucapkan atau mampu berkehendak dengan kedudukan dan kehormatannya. Maka dirinya terjerumus kedalam syirik besar. Adapun apabila pelakunya hanya mengucapkan begitu saja tanpa adanya keyakinan seperti diatas tadi, maka dirinya telah terjerumus ke dalam syirik kecil.

[50] . Jawabul Kaafi hal: 319-325, oleh Ibnu Qoyim dengan sedikit perubahan.

[51] . HR Abu Dawud no: 1479.

[52] . Dan makna ayat ini umum, setiap binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Allah, dan para ulama berbeda pendapat apakah mencakup juga sembelihannya seorang muslim. Setelah sebelumnya mereka sepakat akan tidak halalnya sembelihan penyembah patung, orang majusi dan yang semisalnya.

[53] . HR Bukhari no: 4497. riwayat kedua no: 6683.

[54] . HR Muslim no: 93.

[55] . HR Bukhari no: 1238.

[56] . HR Ibnu Majah no: 1572. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah, Kitab Janaiz, bab ma ja'a fii ziyarotil qubur.

[57] . HR Ibnu Majah no: 1573. Dinyatakan shahih oleh al-Bushairi dalam az-Zawaid.

[58] . Beliau adalah Salamah bin Yazid al-Ju'fi, seorang sahabat yang tinggal di Kufah. Yang meriwayatkan darinya Alqomah bin Yunus dan Alqomah bin Wa'il. Lihat biografinya dalam al-Khulashah oleh al-Khajrazi hal: 149. al-Ishabah 2/69 no: 2405, oleh al-Hafidh Ibnu Hajar. Dan beliau tidak menyebutkan tahun kematiannya.

[59] . HR Ahmad 3/478.

[60] . HR Ahmad 6/240.

[61] . Beliau adalah Abdullah bin Jad'an, salah seorang yang paling dermawan dikalangan Arab, yang dimuliakan dan banyak dipuji oleh mereka. Dirinya punya tempat khusus untuk menjamu setiap orang yang singgah di Makah. Dia adalah seorang pemimpin suku Bani Tamim pada masanya. Lihat biografinya oleh Mus'ab az-Zabiri dalam Nasab Quraisy hal: 291. al-Ya'qubi dalam Tarikhnya 1/215. al-Baghdadi dalam Khazanatul Adab wa Lubi Libabi Lisanil Arab 3/537. dan Ibnu Qudamah dalam Tabyiin fii Asma'il Quraisyiyin hal: 302.

[62] . HR Ahmad 6/93, 120. dengan sanad yang shahih.

[63] . Lihat penukilan ijma ini oleh Ibnu Hazm dalam Maratibul Ijma' hal: 173. Imam Nawawi dalam Syarh Muslim 1/277, 430. 2/20.

[64] . Beliau adalah Imam sejati, Abu Abdillah, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani. Lahir pada tahun 164 H. dirinya merupakan tanda kebesaran Allah dalam hal ilmu dan hafalan serta ibadah. Penolong sunah, pemberantas bid'ah dan tetap sabar dalam menghadapi ujian. Beliau banyak mempunyai karya tulis. Meninggal pada tahun 241 H. Ada sekitar seratus ribu orang yang turut menyolati jenazah beliau. Lihat biografinya dalam Siyar 'alamu Nubala oleh Dzahabi 11/177.

[65] . Thabaqaatu al-Hanabilah 1/343, oleh Abu Ya'la.

[66] . Imam Bukhari dalam Shahihnya 1/84.

[67] . Jami'ul Bayan 23/24.

[68] . Beliau adalah Abul Abbas al-Qurthubi. Ahmad bin Umar bin Ibrahim al-Anshari, al-Maliki, ahli Hadits. Beliau termasuk pembesar para Imam. Lahir pada tahun 578 H. Beliau banyak sekali mempunyai karya tulis, diantaranya, Kitabul Mufhim fii Syarhi Mukhtashar Muslim. Meninggal pada tahun 656 H. Lihat biorgrafinya dalam Syadratu Dzahab 3/273-274 oleh Ibnul Ma'ad al-Hanbali, dan dalam Bidayah wa Nihayah oleh Ibnu Katsir 13/191.

[69] . HR Muslim no: 93.

[70] . al-Mufham 1/290 oleh al-Qurthubi.

[71] , Beliau adalah Imam, al-Faqih, al-Hafidh, Muhyiyudin, Abu Zakaria, Yahya bin Syafar an-Nawawi. Lahir pada tahun 731 H. Beliau memiliki banyak tulisan yang sangat bermanfaat. Diantaranya, al-Minhaj fii Syarhi Muslim, al-Adzkar, Riyadhus Shalihin, Syarh Muhadzab dan yang lainnya. Meninggal pada tahun 676 H. Lihat biografinya oleh Imam Suyuthi dalam Thabaqatu Hufaadh hal: 513.

[72] . Syarh Shahih Muslim 2/97.

[73] . ar-Radd 'alal Bukairi hal: 95, oleh Ibnu Taimiyah.

[74] . Tafsir Ibnu Katsir 2/308.

[75] . Wabilus Shayib hal: 18.

[76] . Kitab Tauhid dan syarhnya Fathul Majid 1/100.

[77] . Tathiruul Janan wal Arkan 'an Darki Syirki wal Kufran hal: 38, 39, oleh Ahmad bin Hajar Alu Buthi.

[78] . al-Kafasyiful Jaliyah hal: 321. oleh Abdul Aziz al-Muhammad as-Salman.

[79] . Qaulus Sadid fii Maqashidi Tauhid hal: 15, oleh Abdurahman as-Sa'di.

[80] . Fatawa Lajnah Daimah 1/517. Dan dikatakan oleh Awad bin Abdullah al-Mu'tiq dalam Majalah al-Buhuts Islamiyah 37/204.

[81] . al-Madkhal lii Dirasatil Aqidah hal: 126-127. oleh D. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan.

[82] . al-Mufradaat hal: 260, oleh Raghib al-Asfahan.

[83] . Seperti yang saya pahami dari perkataannya Imam Ibnu Qoyim dalam Madarijus Salikin 1/344.

[84] . Beliau adalah Mahmud bin Labid bin Uqbah bin Rafi', Abu Nu'aim al-Anshari, al-Ausi, al-Asyhali, al-Madani. Lahir di madinah ketika Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam masih hidup. Dan dirinya meriwayatkan hadits dari beliau dengan cara mursal. Lihat biografinya dalam Siyar a'lamu Nubala 3/485 oleh Imam Dzahabi.

[85] . HR Ahmad 5/428, 429. Dengan sanad hasan, sebagaimana di hasankan oleh al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram hal: 187.

[86] . Beliau adalah sahabat Syadad bin Aus bin Tsabit al-Anshari, al-Najari, al-Madani. Berkata Ubadah bin Shamit, "Syadad termasuk orang-orang yang dikarunia ilmu yang banyak oleh Allah, dan sikap bijak". Meninggal pada tahun 58 H. lihat biografinya dalam al-Khulashah hal: 164, oleh al-Khajrazi.

[87] . HR Thabarani no: 7160, al-Hakim 4/329. Dinilai shahih oleh beliau dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Demikian pula oleh dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Targhib 1/18.

[88] . Syarh Nawaqidhu Tauhid hal: 25, oleh Hasan al-'Awaji.

[89] . Musnad Abu Ya'la 1//60, Majmu' Zawaid 1/224, dan hadits dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahihul Jami' no: 3624, 3625.

[90] . Majalah Buhuts Islamiyah edisi 37 hal: 207-234.

[91] . Lihat pembahasannya dalam Jawabul Kafi hal: 324, Ibnu Qoyim.

[92] . Hal ini masuk dalam kategori syirik kecil karena terkandung didalamnya penyerupaan terhadap kekhususan yang dimiliki oleh Allah, walaupun hanya sekedar penamaan saja. Di analogikan dengan nama, Raja diraja, yang telah jelas akan larangannya dalam hadits yang shahih. Lihat penjelasannya dalam Fathul Majid 2/595.

[93] . Sebagaimana telah tsabit contoh-contoh tadi dalam atsar yang datang dari Ibnu Abas dengan sanad yang hasan, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya, dan juga dalam tafsir Ibnu Katsir 1/57. Lihat penjelasannya dalam an-Nahji Sadid hal: 422, oleh ad-Duwaisiri.

[94] . al-Qaulu Mufid 2/93, oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin.

[95] . Lihat penjelasannya dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin hal: 215-217, oleh Ibnu Qudamah. Maqashidil Mukalifiin hal: 442-443, oleh Umar bin Sulaiman al-Asyqar.

[96] . Taisir Azizil Hamid hal: 273, oleh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab, Alu Syaikh. Dengan sedikit perubahan.

[97] . Fatawa Lajnah Daimah 1/518.

[98] . Taisiri Azizil Hamid hal: 522, 523. oleh Sulaiman bin Abdullah alu Syaikh.

[99] . Ibnu Hajar al-Haitsami dalam az-Zawajir 1/31.

[100] . HR Muslim no: 2985. Ibnu Majah 2/1405 no: 3202. Dan hadits dengan redaksi ini dari Imam Muslim.

[101] . HR Ahmad 5/428, 429.

[102] . Beliau adalah Abu Sa'id Sa'ad bin Malik bin Sinan al-Khudri, ikut serta dalam bait Ridwan dan peristiwa penting lainnya. Beliau termasuk salah satu ulamanya para sahabat. Memiliki 1170 hadits, dan yang meriwayatkan darinya adalah Thariq bin Syihab, Ibnu Musayib, asy-Sya'bi, Nafi' dan yang lainnya. Meninggal pada tahun 74 H. Lihat biografinya dalam al-Khulashah 135, karya al-Khajrazi.

[103]. HR Ahmad 3/230. Ibnu Majah 2/1406 no: 4203. Dinilai hasan oleh syaikh al-Albani dalam shahih sunan Ibni Majah.

[104] . Atsar ini diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam Mu'jamul Kabir no: 8902 dengan sanad shahih. Sebagaimana dikatakan oleh al-Mundziri dalam at-Targhib 3/607. dan juga oleh al-Haitsami dalam Majma Zawaid 4/177.

[105] . Lihat penjelasannya dalam kitab Taisir Azizil Hamid hal: 530, oleh Syaikh Sulaiman bin Abdullah.

[106] . Jawabul Kaafi hal: 316, oleh Imam Ibnu Qoyim.

[107] . Lihat pembahasanya dalam kitab beliau Tafsir Ayaat Asykalat 'ala Katsirin minanas 1/361-365.

[108] . Jawabul Kaafi hal: 317.

[109] . Talkhis Kitab al-Istighatsah 1/301. oleh Ibnu Taimiyah. Dan dipilih oleh Syaikh Abdul Aziz as-Salman dalam al-Kawasyif Jaliyah hal: 322.

[110] . Syaikh Abdul Aziz as-Salman dalam al-Kawasyif Jaliyah hal: 187. Fatawa Lajnah Daimah 1/517.

[111] . Lihat penjelasannya dalam kitab Madkhal lii Dirasaat Aqidah Islamiyah hal: 127-128 oleh al-Buraikan.

[112] . Ibid.

[113] . Hasan Abu Usamah al-Awaji dalam kitabnya Syarh Nawaqidhu Tauhid hal: 25. akan tetapi, definisi ini kurang sempurna, karena tidak mengharuskan adanya perkara dari suatu perkara yang tidak diketahui secara otomatis dikatakan samar.

[114] . Lihat penjelasannya dalam kitab Madkhal lii Dirasaat Aqidah Islamiyah hal: 127, oleh al-Buraikan. Definisi ini juga masih kurang sempurna, sebab amal yang tersembunyi yang dihitung masuk dalam kesyirikan belum tentu semuanya dalam potret menyamakan Allah dengan makhluk -Nya.

[115] . Telah lewat takhrij hadits ini.

[116] . Musnad Abu Ya'la 1/60-61 no: 54. Majma Zawaid 10/224, oleh al-Haitsami. Diriwayatkan oleh Abu Ya'ala melalui jalur Laits bin Abi Salim dari Abu Muhammad dari Hudzaifah. Dan Laits tadi adalah seorang mudalis, dan Abu Muhammad kemungkinan dia yang meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud atau dari Utsman bin Affan, dirinya dinyatakan tsiqoh oleh Ibnu Hibban, 'Kalau bukan dari dia dua riwayat tadi maka saya tidak mengetahuinya'. Adapun sisa perawi maka semuanya shahih, dan matan hadits ini shahih dengan banyak pendukung sebagaimana dinyatakan oleh Syu'aib al-Arnauth dalam Takhrij Musnad Abu Bakar Shidiq karya al-Marwazi 17, lihat dalam kitab Shahih at-Targhib oleh al-Albani. 

[117] . HR Ahmad 3/30, Ibnu Majah 2/1407 no: 3404. Dengan sanad yang hasan. Sebagaimana dinilai hasan oleh al-Albani dalam Shahih Targhib 1/17.

[118] . Madkhal lii Dirasaat Aqidah Islamiyah hal: 127, oleh al-Buraikan.

[119] . al-Awaji dalam Syarh Nawaqidhu Tauhid hal: 24.

[120] . Dan pendapat ini yang dipilih oleh guru kami Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Ghaniman dalam beberapa kajian beliau di Masjid Nabawi.