PENJELASAN TENTANG PRINSIP-PRINSIP DASAR KEIMANAN ()

Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

 

Buku ini berbicara tentang pentingnya tauhid karena ia merupakan ilmu yang paling agung. Kemudian menjelaskan tentang hakekat Islam dan penjelasan tentang rukun-rukun iman beserta pembagiannya, dan diakhiri oleh tujuan dari aqidah islam.

|

 PENJELASAN TENTANG PRINSIP-PRINSIP DASAR KEIMANAN

] Indonesia [

شرح أصول الإيمان


بسم الله الرحمن الرحيم

 PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan- Nya,  memohon  ampunan-Nya,  serta  bertaubat  kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri, serta perbuatan-perbuatan buruk Kami. Barang siapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan Allah, tidak ada seorangpun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Aku bersaksi, tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Selamat sejahtera semoga dilimpahkan kepadanya, kepada keluarga, para sahabat dan para pengikutnya.

Ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui dan memahaminya, karena cakupan ilmu ini adalah tentang Allah I, asma-asma, sifat-sifat, dan hak-hak-Nya yang harus dipenuhi oleh hamba-Nya.

Ilmu tauhid juga merupakan kunci menuju Allah I, dan kunci syari’at-Nya. Oleh karena itu para Rasul bersepakat untuk mendakwahkannya kepada seluruh umat manusia.

Allah I berfirman:

 “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. Al-Anbiya : 25).

Allah I menyaksikan serta menyatakan keesaan diri-Nya. Demikian juga para Malaikat dan para ulama.

Allah berfirman:

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali-Imran: 18).

Jika ilmu tauhid sedemikian pentingnya, maka setiap muslim tentu wajib mencurahkan perhatiannya terhadap ilmu ini dengan mempelajari dan mengajarkannya, dengan berpikir dan  beriktikad agar dapat menegakkan dinullah atas dasar yang benar, serta untuk menenangkan jiwa dan mendapatkan kebahagiaan sebagai buah dan hasilnya.

 AGAMA ISLAM

Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ‬. Dengan Islam, Allah mengakhiri serta menyempurnakan agama-agama yang terdahulu untuk para hamba-Nya. Dengan Islam pula, Allah menyempurnakan kenikmatan-Nya, dan Dia telah meridhai Islam sebagai diin-Nya.  Oleh karena itu tidak ada agama yang patut diterima selain Islam.

Allah I berfirman:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi.. (QS. Al-Ahzab: 40)

Allah berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridhai Islam menjadi agamamu…”(QS.Al-Maidah: 3).

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Ad-diin (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” (QS. Al-Imran: 19).

Allah berfirman:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Imran : 85).

Allah I telah mewajibkan seluruh umat manusia agar memeluk agama Islam karena Allah. Hal ini sesuai dengan firman Nya:

“Katakanlah , “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf 158).

Dari Abu Huraira t, ia berkata,” Rasulullah ﷺ‬ bersabda:

(( وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُوْدَيٌّ أَوْ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ))

“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorang pun dari ummat ini, Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang aku, kemudian mati tidak mengimani risalah yang aku bawa, kecuali  dia termasuk penghuni neraka.” (HR.Muslim).

Beriman kepada Nabi ﷺ‬ maksudnya: membenarkan dengan penuh penyerahan diri dan kepatuhan terhadap segala ajaran yang dibawanya, dan tidak cukup dengan hanya membenarkan saja. Oleh karena itu Abu Thalib (paman Nabi ﷺ‬) dikatakan bukan orang yang beriman kepada Nabi ﷺ‬, walaupun ia membenarkan apa yang dibawa oleh keponakannya, dan dia juga mengakui bahwa Islam adalah agama terbaik.

Agama Islam mencakup seluruh kemaslahatan yang dikandung oleh agama-agama terdahulu. Islam mempunyai keistimewaan, yaitu relevan untuk setiap masa, tempat dan umat.

Allah I berfirman kepada Rasul-Nya:

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an yang membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain… ( QS. Al-Maidah: 48).

Islam dikatakan relevan untuk setiap masa, tempat dan umat, maksudnya adalah: bahwa berpegang teguh kepada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan umat di setiap waktu dan tempat. Bahkan dengan Islam, umat akan menjadi baik. Relevan bukan berarti Islam tunduk pada waktu, tempat dan umat, seperti yang dipahami oleh sebagian orang.

Agama Islam adalah agama yang benar. Allah menjamin kemenangan bagi orang yang memegangnya dengan baik. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkannya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 33).

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalan-amalan yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) ini, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” ( QS. An-Nur: 55).

Agama Islam meliputi aqidah dan syariat. Islam adalah agama yang sempurna dalam aqidah dan syari’at, karena:

1.   memerintahkan untuk bertauhid dan melarang syirik.

2.   memerintahkan untuk bersikap jujur dan melarang berbuat bohong/dusta.

3.   memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang berbuat lalim.

Catatan:

Adil artinya: menyamakan yang sama dan membedakan yang berbeda, bukan persamaan secara mutlak seperti yang dipahami oleh sebagian orang, yang mengatakan bahwa Islam adalah agama persamaan yang mutlak. Karena Menyamakan hal-hal yang berbeda merupakan kelaliman yang tidak dianjurkan oleh Islam, dan pelakunyapun tidak terpuji.

4.   memerintahkan untuk bersikap amanat dan melarang khianat.

5.   memerintahkan untuk menepati janji dan melarang ingkar janji.

6.   memerintahkan untuk berbakti kepada ibu-bapak, serta melarang menyakiti mereka.

7.   memerintahkan untuk bersilaturrahim /menyambung hubungan dengan kerabat dekat, serta melarang memutuskannya.

8.   memerintahkan untuk berbuat baik kepada tetangga dan melarang berbuat jahat kepada mereka.

Secara umum Islam memerintahkan agar bermoral baik dan melarang bermoral buruk. Islam juga memerintahkan setiap perbuatan baik, dan melarang perbuatan buruk.

Allah I berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi nafkah kepada kaum kerabat, Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” ( QS. An Nahl : 90).


 RUKUN ISLAM

Islam didirikan atas lima dasar, sebagaimana yang tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar t, Rasulullah ﷺ‬ bersabda :

(( بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلىَ خَمْسٍ؛ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ ))

“Islam didirikan atas lima dasar; yakni : (1) Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) puasa Ramadhan, dan (5) ibadah haji.” (HR. Bukhari Muslim).

1.   Kesaksian tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta Rasul-Nya merupakan keyakinan yang kokoh, yang diungkapkan dengan lisan. Dengan kekokohannya itu, seakan-akan dapat menyaksikan-Nya.

Syahadat (kesaksian) merupakan satu rukun, padahal yang disaksikan itu ada dua hal, ini dikarenakan Rasul ﷺ‬ adalah muballigh (penyampai) sesuatu dari Allah I. Jadi, kesaksian bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah merupakan kesempurnaan kesaksian: “Tiada tuhan (yang berhak diibadahi) selain Allah”.

Atau, karena kesaksian (syahadat) itu merupakan dasar sah dan diterimanya semua amal. Amal tidak sah dan tidak akan diterima bila dilakukan tanpa keikhlasan karena Allah I dan tanpa mengikuti manhaj Rasul-Nya ﷺ‬. Jadi syahadat bahwa “Tiada tuhan (yang berhak diibadahi) selain Allah” haruslah diwujudkan dengan keikhlasan beribadah kepada-Nya, dan syahadat “bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah ”  diwujudkan dengan mengikuti tuntunan beliau dalam beribadah kepada Allah.  

Diantara hikmah syahadat (kesaksian) yang terbesar ialah membebaskan hati dan jiwa dari penghambaan terhadap makhluk, dan membebaskannya dari mengikuti selain para Rasul-Nya.

2.   Mendirikan shalat maknanya: menyembah Allah dengan mengerjakan shalat secara istiqamah serta sempurna, baik waktu maupun caranya.

Diantara hikmah shalat adalah merasakan kelapangan dada, ketenangan hati, dan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar.

3.   Membayar zakat maknanya: menyembah Allah I dengan mengeluarkan kadar (ukuran) yang wajib dari harta-harta yang harus dizakati.

Diantara hikmah mengeluarkan zakat adalah membersihkan jiwa dan moral yang tercela yakni kekikiran, serta dapat mencukupi kebutuhan kaum muslimin yang dhu`afa.

4.   Puasa Ramadhan maknanya: menyembah Allah I dengan cara meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkannya di siang hari bulan Ramadhan.

Salah satu hikmahnya adalah melatih jiwa untuk meninggalkan hal-hal yang dicintai demi mencari ridha Allah Azza wa jalla.

5.   Naik haji ke Baitullah (rumah Allah), maknanya: menyembah Allah I dengan melakukan perjalanan menuju Bait al Haram (Rumah suci) untuk melaksanakan  manasik haji.

Diantara hikmahnya adalah: melatih jiwa untuk mengerahkan segala kemampuan harta dan jiwa agar tetap taat kepada Allah I. Oleh karena itu haji merupakan salah satu bentuk jihad fi sabilillah.

Hikmah rukun Islam, baik yang sudah kami sebutkan maupun yang belum kami sebutkan, akan dapat menjadikan umat sebagai umat yang suci, bersih, beragama yang benar, dan memperlakukan manusia dengan penuh keadilan serta kejujuran. Dan ukuran baiknya syariat-syariat Islam yang lain tergantung pada baiknya rukun islam yang lima ini. Dan ukuran baiknya umatpun tergantung pada baiknya agamanya, dan hilangnya kebaikan tingkah laku umatpun akan tergantung pada kadar hilangnya kebaikan agamanya.

Bagi yang ingin mengetahui penjelasan ini, silahkan menyimak firman Allah I :

 “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan  yang mereka lakukan. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari diwaktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi.” ( QS. Al-A’raf : 96-99).

Untuk lebih jelasnya hendaklah anda pelajari sejarah orang-orang terdahulu, karena dalam sejarah terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal dan bagi orang yang hatinya “bersih” (tidak ada hijab yang menutupi hatinya).


 PRINSIP AKIDAH ISLAM

Aqidah Islam dasarnya adalah iman kepada Allah, iman kepada para Malaikat, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada para Rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Dasar-dasar ini telah dijelaskankan oleh Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya ﷺ‬.

Allah berfirman dalam kitab sucinya:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, para Malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi…” ( QS. Al-Baqarah : 177).

Dalam masalah takdir, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir (ukuran), dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.” (QS. Al-Qomar: 49-50).

Nabi ﷺ‬ bersabda disaat menjawab pertanyaan Malaikat jibril tentang iman :

 (( الإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ))

“Iman adalah: engkau beriman kepada Allah, para Malaikat, kitab-kitab, para Rasul-Nya, hari kemudian, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.”(HR. Muslim ).

 IMAN KEPADA ALLAH

  Iman kepada Allah mencakup empat hal:

 1.  Beriman kepada keberadaan Allah I.

Wujud Allah telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara’, dan indera.

a. Bukti fitrah tentang wujud Allah adalah bahwa iman kepada sang Pencipta merupakan fitrah setiap makhluk, tanpa terlebih dahulu berpikir atau belajar. Dan kenyataan ini diakui oleh setiap orang yang memiliki fitrah yang benar  yang di dalam hatinya tidak terdapat sesuatu yang memalingkannya dari fitrah ini.

          Rasulullah ﷺ‬ bersabda:

(( مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ ))

“Semua bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, ibu bapaknyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari).

b.   Bukti akal tentang wujud Allah adalah proses penciptaan semua makhluk, bahwa semua makhluk pasti ada yang menciptakan. Karena tidak mungkin makhluk menciptakan dirinya sendiri, dan tidak mungkin pula terjadi secara kebetulan.

Tidak mungkin makhluk menciptakan dirinya sendiri, karena makhluk sebelum diciptakan tentulah ia tidak ada, dan sesuatu yang tidak ada, mustahil mampu menciptakan sesuatu.

Semua makhluk tidak mungkin tercipta secara kebetulan, karena setiap yang diciptakan pasti membutuhkan pencipta. Adanya makhluk dengan aturan- aturan yang harmonis, tersusun rapi, dan adanya hubungan yang erat antara sebab dan musabab, antara alam semesta satu sama lainnya. Semua itu sama sekali menolak keberadaan seluruh makhluk secara kebetulan, karena sesuatu yang ada secara kebetulan, pada awalnya pasti tidak teratur, maka bagaimana mungkin kemudian dia menjadi teratur dan tetap bertahan teratur tanpa ada faktor lain.

Kalau makhluk tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, dan tidak tercipta secara kebetulan, maka jelaslah, makhluk-makhluk itu ada yang menciptakan, yaitu Allah Rabb semesta alam.

Allah I menyebutkan dalil aqli (akal) yang qath’i dalam surat Ath- thur:

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” ( QS. Ath-thur: 35).

Dari ayat di atas jelaslah bahwa makhluk tidak diciptakan tanpa pencipta, dan makhluk tidak menciptakan dirinya sendiri. Jadi jelaslah, yang menciptakan makhluk adalah Allah I.

Ketika Jubair bin Muth’im mendengar Rasulullah ﷺ‬ yang tengah membaca surat Ath-thur dan sampai kepada ayat-ayat ini:

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekalah yang berkuasa?”( QS. At-Thur: 35-37).

Ia, yang tatkala itu masih musyrik berkata, “jiwaku hampir saja melayang. Itulah permulaan menetapnya keimanan dalam hatiku.” (HR. Bukhari).

Dalam hal ini Kami ingin memberikan satu contoh. Kalau ada seseorang bercerita kepada anda tentang istana yang megah, yang dikelilingi kebun-kebun, dialiri sungai-sungai, dialasi oleh hamparan permadani, dan dihiasi dengan berbagai jenis hiasan utama dan pelengkap, lalu orang itu mengatakan kepada anda bahwa istana dengan segala kesempurnaanya ini ada dengan sendirinya, atau tercipta secara kebetulan tanpa pencipta, pasti anda tidak akan mempercayainya, dan menganggap perkataan itu adalah perkataan dusta dan dungu. Jika demikian halnya, apakah mungkin alam semesta yang luas ini beserta isinya; bumi, langit dan galaxy-galaxy dengan sistem yang sangat rapi dan elok tercipta dengan sendirinya atau tercipta secara kebetulan?

1.       Dalil syara’ tentang wujud Allah I bahwa seluruh kitab samawi (yang diturunkan dari langit) berbicara tentang hal ini. Seluruh hukum syara` yang mengandung kemaslahatan manusia yang dibawa kitab-kitab tersebut merupakan dalil bahwa kitab-kitab itu datang dari Rabb yang maha Bijaksana dan Mengetahui segala kemaslahatan makhluk-Nya. Berita-berita alam semesta yang dapat disaksikan oleh realitas akan kebenarannya yang dijelaskan di dalam kitab-kitab itu juga merupakan dalil atau bukti bahwa kitab-kitab itu datang dari Rabb Yang Maha Kuasa untuk mewujudkan apa yang diberitakan-Nya.

2.   Dalil logika tentang wujud Allah I dapat dibagi menjadi dua:

a.   kita mendengar dan menyaksikan terkabulnya do’a orang-orang yang berdo’a serta pertolongan-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan musibah. Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud Allah I.

Allah berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Nuh sebelum itu ketika dia berdo’a, dan Kami memperkenankan do’anya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.” ( QS. Al-Anbiya: 76).

 “Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankannya bagimu …”(QS. Al-Anfal: 9).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik t bahwa ia berkata, “Pernah ada seorang badui datang pada hari jum’at. Pada waktu itu Nabi ﷺ‬ sedang berkhutbah. Lelaki itu berkata , “Hai Rasul Allah, harta benda kami telah binasa, seluruh warga ditimpa kelaparan. Oleh karena itu mohonkanlah kepada Allah I untuk mengatasi kesulitan kami. “Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya dan berdo’a. tiba-tiba awan datang bergulung-gulung bagaikan gunung-gunung. Sebelum Rasulullah turun dari mimbar, hujan terlebih dahulu turun dan membasahi jenggot beliau. Pada hari jum’at yang kedua, orang badui atau orang lain berdiri dan berkata , ‘Hai Rasulullah, bangunan kami hancur dan harta bendapun tenggelam, berdoalah kepada Allah (agar kami selamat).’ Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya, seraya berdo’Allah, “Ya Rabbi, turunkanlah hujan di sekeliling negeri kami, dan jangan Engkau turunkan di negeri kami.” Akhirnya setiap tempat yang beliau tunjuk dengan tangannya menjadi terang  (tanpa hujan).” (HR. Bukhari).

Hingga di masa kita sekarang ini, kita menyaksikan dan mendengar terkabulnya do`a orang –orang yang benar-benar berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta`ala.

b.   Tanda-tanda kebenaran para Nabi yang disebut mukjizat, yang dapat disaksikan atau didengar banyak orang merupakan bukti yang jelas tentang wujud yang mengutus para Nabi tesebut, yaitu Allah I, karena hal-hal itu terjadi di luar kemampuan manusia. Allah melakukannya sebagai bukti penguat kebenaran, dan menolong  para Rasul.

Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa `alaihissalam untuk memukul tongkatnya ke laut, Musa memukulnya, lalu laut terbelah menjadi dua belas jalur yang kering, sementara air di antara jalur-jalur itu menjadi seperti gunung-gunung yang bergulung. Allah berfirman:

“Lalu Kami mewahyukan kepada Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” ( QS. Asy-Syuara’: 63).

Contoh kedua: mukjizat Nabi Isa u yang menghidupkan orang-orang yang sudah mati; lalu mengeluarkannya dari kubur dengan izin Allah.

Allah I berfirman:

 “…dan aku dapat menghidupkan orang mati dengan seizin Allah…” (QS. Al-Imran: 49).

 “…dan (ingatlah) ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kuburnya (menjadi hidup) dengan izin-Ku..” ( QS. Al-Maidah: 110).

Contoh ketiga: mukjizat Nabi Muhammad ﷺ‬ ketika kaum Quraisy meminta bukti kenabiannya. Beliau mengacungkan tangannya menunjuk ke arah bulan, disaat itu juga bulan terbelah menjadi dua, dan kejadian ini disaksikan oleh orang banyak.

Allah I berfirman tentang hal ini:

 “Telah dekat (datangnya) saat (kiamat) dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata , “(ini adalah) sihir yang terus-menerus.” (QS. Al-Qomar: 1-2).

Mukjizat-mukjizat di atas yang diciptakan Allah untuk membuktikan kebenaran seorang nabi, yang dapat dirasakan oleh indera manusia menjadi bukti keniscayaan wujud dan keberadaan Allah.

 2.  Beriman kepada Rububiyah Allah I.

Beriman kepada Rububiyah Allah maksudnya: beriman sepenuhnya bahwa Dialah satu-satunya Pengatur alam semesta, tiada sekutu dan tiada penolong selain Dia.

Rabb adalah Zat yang menciptakan, memiliki serta memerintah. Jadi, tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada pemilik selain Allah, dan tidak ada perintah selain perintah-Nya.

Allah I berfirman:

“…Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanya hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54).

Allah berfirman:

"…Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS. Fathir: 13).

Tidak ada makhluk yang mengingkari kerububiyahan Allah I, kecuali orang yang congkak sedang ia tidak meyakini kebenaran ucapannya, seperti yang dilakukan Fir`aun ketika berkata kepada kaumnya:

“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” ( QS. An-Naziat: 24)

Dan juga ketika berkata:

“Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (QS. Al-Qashash: 38)

Allah I berfirman:

 “Dan mereka mengingkarinya karena kezdaliman dan kesombongan mereka padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.” (QS. An-Naml: 14).

Allah berfirman:

Nabi Musa berkata kepada Fir`aun, “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir`aun, seorang yang akan binasa.” (QS. Al-Isra’: 102).

Oleh karena itu, sebenarnya orang-orang musyrik mengakui rububiyah Allah, meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam uluhiyah (penghambaan).

Allah I berfirman:

“Katakanlah,"Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui? “Mereka akan menjawab,“kepunyan Allah”. Katakanlah,“siapakah yang empunya langit yang tujuh dan yang empunya Arsy yang besar?” mereka menjawab, “kepunyaan Allah.” Katakanlah, “Maka apakah kamu tidak bertakwa? “Katakanlah, “Siapakah yang di tanganNya berada kekusaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengetahui?” mereka akan menjawab,“kepunyaan Allah.” Katakanlah, (kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (QS. Al-Mu’minun: 84-89).

 “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka,“Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab,“Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” ( QS. Az-Zukhruf : 9).

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka,“siapakah yang menciptakan mereka?”, niscaya mereka menjawab,“Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az-Zukhruf : 87).

Perintah Allah I mencakup perintah alam semesta (kauni) dan perintah syara’ (syar’i). Dia adalah pengatur alam, pemutus seluruh perkara, sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Dia juga penentu peraturan-peraturan ibadah serta hukum-hukum muamalat sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Oleh karena itu barangsiapa yang menjadikan penentu aturan-aturan ibadah selain Allah dan penentu aturan-aturan mu`amalat selain Allah berarti ia telah menyekutukan Allah serta tidak beriman kepada-Nya.

 3.  Beriman kepada Uluhiyah Allah I.

Beriman kepada Uluhiyah Allah maksudnya: benar-benar mengimani bahwa Dialah Ilah yang benar dan satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Al Ilah artinya “al ma’luh”, yakni sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.

Allah I berfirman:

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) melainkan Dia, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” ( QS. Al Baqarah: 163).

Allah berfirman:

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan, para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana.” ( QS. Al-Imran :18).

Setiap sesuatu yang disembah selain Allah, Uluhiyahnya adalah batil.

Allah I berfirman:

 (Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al-Hajj: 62).

Allah I berfirman tentang laata, uzza, dan manat yang disebut sebagai tuhan, namun tidak berhak untuk dikatakan sebagai Ilah:

Allah I berfirman:

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya…” (QS. An Najm : 23).

Allah I juga berfirman tentang Nabi Yusuf `Alaihissalam yang berkata kepada dua temannya di penjara:

“Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu…” (QS. Yusuf : 39- 40).

Oleh karena itu para Rasul ‘Alaihimussalam berkata kepada kaum-kaumnya:

 “Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Al-Mu’minun: 32).

Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil Tuhan selain Allah I. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dan menyekutukan Allah.

Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan orang-orang musyrik ini telah dibantah oleh Allah dengan dua dalil:

A. Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai sifat-sifat uluhiyah sedikitpun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat mendatangkan manfaat, tidak dapat menolak bahaya, tidak memiliki hidup dan mati, tidak memiliki sebagian kecilpun dari langit dan tidak pula ikut memiliki keseluruhannya.

Allah I berfirman:

 “Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu manfaatpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” ( QS. Al-Furqan: 3).

Allah berfirman:

“Katakanlah , “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada diantara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya, dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat…” (QS. Saba’: 22-23).

Allah berfirman:

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” ( QS. Al-A’raf : 191-192).

Kalau demikian keadaan tuhan-tuhan itu, maka sungguh sangat bodoh dan sangat keliru bila menjadikan mereka sebagai tuhan (Ilah).

B. Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah I adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya Dialah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat memberi perlindungan selain-Nya. Ini mengharuskan pengesaan uluhiyah (penghambaan), seperti mereka mengesakan Rububiyah (ketuhanan) Allah.

Allah I berfirman:

“Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu  mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22).

Allah berfirman:

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka , “Siapakah yang menciptakan mereka? “ niscaya mereka menjawab , “Allah”. Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az-Zukhruf : 87).

Allah berfirman:

“Katakanlah,“siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan dari bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah”. Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?” maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya. Tidak ada sesudah kebenaran itu, malainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Yunus: 31-32).

 4.  Beriman kepada Asma’ dan sifat Allah I.

Iman kepada Asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat Allah I , yakni : menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang sudah ditetapkan Allah untuk diri-Nya dalam kitab suci-Nya atau sunnah Rasul-Nya dengan cara yang sesuai dengan kebesaran-Nya tanpa tahrif (penyelewengan makana), ta’thil (menafikan makna), takyif (menanyakan bagaimana?), dan tamsil (menyerupakan).

Allah I berfirman:

“Allah mempunyai Asmaaul husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” ( QS. Al-A’raf : 180).

Allah berfirman:

 “Allah mempunyai sifat yang Maha tinggi; Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nahl: 60).

Allah berfirman:

 “… tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.” ( QS. Asy-syura: 11).

Dalam masalah Asma’ dan sifat ada dua golongan yang tersesat, yaitu:

1.   Golongan Mu’aththilah, yaitu mereka yang mengingkari seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah atau mengingkari sebagiannya. Menurut dugaan mereka, menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dapat menyebabkan tasybih (penyerupaan), yakni menyerupakan Allah I dengan makhluk-Nya.

Pendapat ini jelas keliru karena:

a.   Dugaan di atas akan mengakibatkan hal-hal yang batil atau salah, karena Allah I telah menetapkan untuk diri-Nya nama-nama dan sifat-sifat, serta telah menafikan sesuatu yang serupa dengan-Nya. Andaikata menetapkan nama-nama dan sifat-sifat itu menimbulkan adanya penyerupaan, berarti ada pertentangan dalam kalam Allah, yakni sebagian firman-Nya betolak belakang dengan  sebagian yang lain.

b.   Adanya persamaan nama atau sifat dari dua zat berbeda tidak mengharuskan persamaan keduanya dari segala sisi. Anda melihat ada dua orang yang keduanya manusia, sama-sama mendengar, melihat dan berbicara, tetapi tidak harus sama dalam makna-makna kemanusiaannya, pendengaran, penglihatan, dan pembicaraannya. Anda juga melihat beberapa binatang yang punya tangan, kaki dan mata, tetapi persamaan itu tidak mengharuskan tangan, kaki dan mata mereka sama persis. Apabila antara makhluk-makhluk yang serupa dalam nama atau sifatnya saja memiliki perbedaan, maka tentu perbedaan antara khaliq (pencipta) dan makhluk (yang diciptakan) akan lebih jelas lagi.

2.   Golongan Musyabbihah, yaitu golongan yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat, tetapi menyerupakan Allah I dengan makhluk. Mereka mengira hal ini sesuai dengan nash-nash Al Qur’an, karena Allah berbicara dengan hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat difahaminya. Anggapan ini jelas keliru ditinjau dari beberapa hal, antara lain :

a.   Menyerupakan Allah I dengan makhluk-Nya jelas merupakan sesuatu yang batil, menurut akal maupun syara’. Padahal tidak mungkin nash-nash kitab suci Al-Qur’an dan sunnah Rasul menunjukkan pengertian  yang batil.

b.   Allah I berbicara dengan hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat dipahami maknanya. Adapun hakikat makna yang berhubungan dengan zat dan sifat Allah hanya diketahui oleh Allah saja.

Apabila Allah menetapkan  untuk diri-Nya bahwa Dia Maha Mendengar, maka pendengaran itu sudah maklum dari segi maknanya, yaitu menangkap suara-suara. Tetapi hakikat hal itu, bila dinisbatkan kepada pendengaran Allah tidak diketahui, karena hakikat pendengaran sangat berbeda, walau pada makluk-makhluk sekalipun. Tentulah perbedaan hakikat sifat pencipta dan yang diciptakan lebih jauh berbeda.

Apabila Allah I memberitakan tentang diri-Nya bahwa Dia bersemayam di atas Arasy-Nya, maka kata "bersemayam" dari segi asal maknanya sudah maklum, tetapi hakikat bersemayamnya Allah itu tidak dapat diketahui. Karena bersemayamnya para makhluk, satu dengan lainnya sangat berbeda, seperti contoh; bersemayam di atas kursi berbeda dengan bersemayam di atas hewan tunggangan, bila bersemayamnya seorang makhluk saja berbeda apatah lagi bersemayamnya sang khalik dengan bersemayamnya para makhluk, tentu lebih jauh berbeda lagi.   

Buah iman kepada Allah:

1.   Merealisasikan pengesaan Allah I sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut kepada yang lain, dan tidak menyembah kepada selain-Nya.

2.   kesempurnaan cinta kepada Allah, serta mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Maha tinggi.

3.   Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah serta menjauhi apa yang dilarang-Nya.


 IMAN KEPADA PARA MALAIKAT

Malaikat adalah makhluk ghaib yang selalu beribadah kepada Allah I. Malaikat sama sekali tidak memiliki keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Allah menciptakannya dari cahaya, lalu memberikan kekuatan yang sempurna kepada mereka untuk tunduk dan selalu melaksanakan ketaatan kepada-Nya.

Allah I berfirman:

 “… dan Malaikat yang ada di sisi-Nya, mereka tidak angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih, mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (QS. Al Anbiya’: 19-20).

Jumlah Malaikat sangat banyak, tidak ada yang dapat menghitungnya, kecuali Allah. Dalam hadits Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Anas t tentang kisah isra-mi’raj bahwa Allah telah memperlihatkan Al-Baitul Ma’mur yang ada di langit kepada Nabi ﷺ‬. Di dalamnya selalu ada 70.000 Malaikat yang setiap hari melakukan shalat. Siapa yang keluar dari tempat itu, tidak kembali lagi.

Iman kepada Malaikat mencakup empat hal:

1.   Mengimani wujud (keberadaan) mereka.

2.   Mengimani mereka yang kita kenali nama-namanya, seperti Jibril, dan juga mengimani secara global Malaikat yang tidak kita kenal nama-namanya.

3.   Mengimani sifat-sifat mereka yang kita kenali, seperti sifat bentuk Jibril, sebagaimana yang pernah dilihat Nabi ﷺ‬, ia memiliki 600 sayap yang menutupi  ufuk.

Malaikat bisa saja menjelma menyerupai seorang laki-laki, seperti yang pernah terjadi pada Malaikat Jibril tatkala Allah I mengutusnya kepada Maryam. Jibril menjelma jadi seorang manusia yang sempurna. Demikian pula ketika Jibril datang kepada Nabi ﷺ‬, sewaktu beliau sedang duduk di tengah-tengah para sahabatnya. Jibril datang dengan bentuk seorang lelaki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat tanda-tanda dia baru saja melakukan perjalanan jauh, namun tidak seorangpun yang mengenalinya. Jibril duduk di dekat Nabi ﷺ‬, menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha nabi. Ia bertanya kepada Nabi ﷺ‬ tentang Islam, iman, ihsan, hari kiamat, dan tanda-tandanya, setelah tidak di situ lagi, barulah Nabi ﷺ‬ menjelaskan kepada para sahabatnya, “itu adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan kalian tentang agama kalian.” (HR.Muslim)

Demikian halnya dengan para Malaikat yang diutus kepada Nabi Ibrahim dan Luth `alaihimassalam. Mereka mejelma dalam bentuk laki-laki.

4.   Mengimani tugas-tugas yang diperintahkan Allah kepada mereka yang sudah kita ketahui, seperti selalu bertasbih, dan beribadah kepada Allah I siang dan malam tanpa merasa lelah dan jemu.

Diantara mereka ada yang mempunyai tugas-tugas tertentu, misalnya :

1.   Malaikat Jibril yang dipercayakan menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul.

2.   Malaikat Mikail yang diserahi tugas menurunkan hujan dan menumbuhkan tanaman.

3.   Malaikat Israfil yang diserahi tugas meniup sangkakala di hari kiamat dan di hari kebangkitan makhluk.

4.   Malaikat Maut yang diserahi tugas mencabut nyawa orang.

5.   Malaikat Malik yang diserahi tugas menjaga neraka.

6.   Para Malaikat yang diserahi tugas yang berkaitan dengan janin dalam rahim, ketika janin berumur empat bulan di dalam kandungan, Allah I mengutus Malaikat untuk meniupkan ruh dan menyuruh untuk menulis rezki, ajal, amal, derita dan bahagianya.

7.   Para Malaikat yang diserahi tugas menjaga dan menulis semua perbuatan manusia. Setiap orang dijaga oleh dua Malaikat, yang satu pada sisi kanan dan yang satunya lagi pada sisi kiri.

8.   Para Malaikat yang diserahi tugas menanyai mayat. Bila mayat sudah dimasukkan ke dalam kuburnya, maka akan datanglah dua malaikat yang bertanya kepadanya tentang; Rabb, agama dan Nabinya.

Buah iman kepada Malaikat.

1.Mengetahui keagungan Allah, kekuatan dan kekuasan-Nya. Karena kebesaran makhluk pada hakikatnya menunjukkan keagungan sang (khaliq) Pencipta.

2.Syukur kepada Allah I atas perhatian-Nya terhadap manusia sehingga menugasi Malaikat untuk memelihara, mencatat amal-amal dan berbagai kemaslahatannya yang lain.

3.Cinta kepada para Malaikat karena ibadah yang mereka lakukan kepada Allah I.

sekelompok orang sesat mengingkari keberadaan Malaikat, mereka mengatakan bahwa Malaikat ibarat “kekuatan kebaikan” yang terpendam pada diri makhluk, kelompok ini berarti tidak mempercayai kitabullah, sunnah Rasul, dan ijma’ (konsensus) umat Islam. 

Allah berfirman:

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat.” (QS. Fathir: 1).

Allah berfirman:

“Kalau kamu melihat ketika para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata),“Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar.” (QS. Al-Anfal: 50)

Allah berfirman:

“…alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata) , “Keluarlah nyawamu…” (QS. Al-An’am : 93).

Allah berfirman:

“…sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata,“apakah telah difirmankan oleh Rabbmu?” mereka menjawab,(perkataan) yang benar”, dan Dialah yang Maha tinggi lagi Maha besar.” (QS. Saba’: 23).

Allah berfirman tentang penduduk surga:

“…Malaikat-Malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), “salamun alaikum bima shabartum (salam sejahtera kepadamu dengan kesabaranmu). “Maka alangkah baiknya tempat kesudahan  itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah t, bahwa Nabi Muhammad ﷺ‬ bersabda:

(( إِذَا أَحَبَّ اللهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيْلُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحَبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ، فَيُنَادِيْ جِبْرِيْلُ أَهْلَ السَّمَاءِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوْهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوْضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِيْ الْأَرْضِ))

“Apabila Allah mencintai seorang hamba-Nya, ia memberitahu Jibril bahwa Allah I mencintai fulan, dan menyuruh Jibril untuk mencintainya, maka Jibrilpun mencintainya. Jibril lalu memberitahu para penghuni langit bahwa Allah I mencintai fulan dan menyuruh mereka untuk mencintainya maka penghuni langitpun mencintainya, kemudian para penghuni bumi mencintainya.” (HR.  Bukhari).

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah t, Nabi ﷺ‬ bersabda:

(( إِذَا كَانَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلىَ كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ مَلاَئِكَةٌ يَكْتُبُوْنَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ فَإِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ طَوَوْا الصُّحُفَ وَجَاؤُوْا يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ ))

“Di setiap hari jum’at pada setiap pintu masjid ada para Malaikat yang mencatat satu demi satu orang yang datang. Bila imam sudah berada (di atas mimbar) mereka menutup buku  catantanya dan masuk ke dalam untuk mendengarkan zdikir (khutbah).”

Dari nash-nash di atas tampak jelas bahwa para Malaikat itu benar-benar ada, bukan sekedar kekuatan maknawi yang terpendam dalam diri manusia seperti dugaan kelompok sesat tersebut. Keyakinan ini telah disepakati oleh umat Islam.


 IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

“Kitab” berarti, “sesuatu yang  ditulis”. Namun yang dimaksud disini adalah kitab-kitab yang diturunkan Allah I kepada para Rasul-Nya sebagai rahmat dan hidayah bagi seluruh manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Iman kepada kitab mencakup empat hal:

1.   Mengimani bahwa kitab-kitab tersebut benar-benar diturunkan oleh AllahI.

2.   Mengimani kitab-kitab yang sudah kita kenali namanya seperti Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ‬,  Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa u, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa u, dan Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud u. Adapun kitab-kitab yang tidak kita ketahui namaya, kita mengimaninya secara global.

3.   Membenarkan hal-hal yang diberitakan oleh kitab-kitab tersebut, seperti berita-berita yang ada di dalam Al Qur’an, dan berita kitab-kitab terdahulu yang belum diganti atau belum diselewengkan.

4.   Mengerjakan seluruh hukum yang belum dinasakh (dihapus) serta rela dan tunduk pada hukum itu, baik kita memahami hikmahnya maupun tidak. Seluruh kitab terdahulu telah dinasakh oleh Al Quran karim, sesuai dengan firman-Nya:

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an yang membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya), dan sebagai batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu…” (QS. Al-Maidah: 48).

Oleh karena itu tidak dibenarkan mengamalkan hukum apapun dari kitab-kitab terdahulu, kecuali yang benar dan telah disetujui oleh Al Qur’an.

Buah iman kepada kitabullah

1.       Mengetahui perhatian Allah I terhadap hamba-hamba-Nya dengan menurunkan kitab yang menjadi hidayah (petunjuk) bagi setiap umat manusia.

2.       Mengetahui hikmah Allah dalam syara’ atau hukum-Nya sehingga menetapkan hukum yang sesuai dengan tabiaat setiap umat, seperti firman-Nya:

“… untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang…” (QS. Al Maidah: 48).

3.       Mensyukuri ni’mat Allah.

 MAN KEPADA PARA RASUL

 “Rasul” berarti orang yang diutus untuk menyampaikan sesuatu. Namun  yang dimaksud “Rasul” disini adalah orang yang diberi wahyu syara’ untuk disampaikan kepada umatnya.

Rasul yang pertama adalah Nabi Nuh u, dan yang terakhir adalah Nabiyullah Muhammad u.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-nabi yang berikutnya…” (QS. An Nisa’: 163).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik t dalam hadits tentang syafaat, bahwa Nabi ﷺ‬ bersabda, "nanti orang-orang akan datang kepada Nabi Adam untuk meminta syafaat, tetapi Nabi Adam meminta maaf kepada mereka seraya berkata , “Datangilah Nuh, Rasul pertama yang diutus Allah..(HR. Bukhari ).

Allah I berfirman tentang Nabi Muhammad ﷺ‬:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 40).

Allah I mengutus kepada setiap umat seorang Nabi yang membawa syari’at khusus untuk kaumnya atau dengan membawa syari’at sebelumnya yang telah diperbaharui.

Allah I berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut…” (QS. An Nahl: 36).

Allah berfirman:

 “sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS. Fathir: 24)

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi…” (QS. Al Maidah: 44).

Para Rasul adalah manusia biasa, makhluk Allah yang tidak mempunyai sedikitpun keistimewan rububiyah dan uluhiyah. Allah I berfirman tentang Nabi Muhammad ﷺ‬ sebagai pimpinan para Rasul dan yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah:

“Katakanlah, “aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al A’raf : 188).

Allah berfirman:

“Katakanlah , “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan. Katakanlah , “sesungguhnya sekali-kali tidak seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada memperoleh tempat berlindung daripada-Nya.” (QS. Al Jin: 21-22).

Para Rasul juga memiliki sifat-sifat kemanusiaan, seperti sakit, mati, butuh makan dan minum dan lain sebagainya. Allah I berfirman tentang Nabi Ibrahim `alaihissalam yang menjelasakan sifat Rabbnya:

“Dan Rabbku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali)…” (QS. Asy Syuara’: 79-81).

Nabi muhammad ﷺ‬ bersabda:

(( إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيْتُ فَذَكِّرُوْنِيْ ))

“Aku tidak lain hanyalah manusia seperti kalian. Aku juga lupa seperti kalian. Karenanya, jika aku lupa, ingatkanlah aku.”

Allah I menerangkan bahwa para Rasul mempunyai ubudiyah (penghambaan) yang tertinggi kepada-Nya. Untuk memuji mereka, Allah I berfirman tentang Nabi Nuhu :

“…Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al Isra’: 3).

Allah I juga berfirman tentang Nabi Muhammad ﷺ‬:

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al Furqan: 1).

Allah juga berfirman tentang Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya’qub u:

 “Dan ingatlah hamba-hamba Kami, Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pilihan yang paling baik.” (QS. Shaad: 45-47).

Allah juga berfirman tentang Nabi Isa bin Maryam u:

 “Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya ni’mat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan) untuk Bani Israil.” (QS. Az Zukhruf: 59).

Iman kepada para Rasul mencakup empat hal:

1.Mengimani bahwa risalah mereka benar-benar dari Allah I. Barangsiapa mengingkari risalah mereka, walaupun hanya seorang, maka maka sungguh ia telah mengingkari risalah seluruh para Rasul.

Allah I berfirman:

 “Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul.” (QS. Asy Syu’ara’: 105).

Allah I menyatakan bahwa mereka mendustakan semua Rasul, padahal hanya seorang Rasul saja yang mereka dustakan. Oleh karena itu umat Nasrani yang mendustakan dan tidak mau mengikuti Nabi Muhammad ﷺ‬, berarti mereka juga telah mendustakan dan tidak mengikuti Nabi Isa Al Masih bin Maryam, karena Nabi Isa sendiri pernah manyampaikan kabar gembira dengan akan datangnya Nabi Muhammad ﷺ‬ sebagai rahmat bagi semesta alam. Kata “memberi kabar gembira” ini mengandung makna bahwa Muhammad adalah seorang Rasul kepada mereka juga, dimana Allah menyelamatkan mereka dari kesesatan dan memberi petunjuk mereka kepada jalan yang lurus melalui Nabi tersebut .

2.Mengimani orang-orang yang sudah kita kenali nama-namanya, misalnya Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, Nuh u. Kelima Nabi Rasul itu dikenal dengan “ulul azmi”. Allah I telah menyebut mereka dalam dua tempat dari Al Qur’an, yakni  dalam surat Al Ahzab dan surat Asy syura:

       Allah berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Nabi-Nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putera Maryam…” (QS. Al Ahzab: 7).

Allah berfirman:

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan juga apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya…” (QS.  Asy Syuura: 13).

Terhadap para Rasul yang tidak dikenal nama-namanya, kita juga wajib beriman kepada mereka secara global.

Allah I berfirman:

 “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu…” (QS. Al Mu’min: 78).

3.Membenarkan apa yang mereka beritakan.

4.Mengamalkan syari’at Rasul yang diutus kepada kita. Dia adalah Nabi terakhir Muhammad ﷺ‬ yang diutus Allah kepada seluruh manusia.

       Allah berfirman:

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’: 65).

Buah iman kepada para Rasul.

1.   Mengetahui rahmat serta perhatian Allah kepada hamba-hambanya sehingga mengutus para Rasul untuk menunjukkan mereka kepada jalan Allah, serta menjelaskan bagaimana seharusnya mereka menyembah Allah I, karena akal manusia tidak bisa mengetahui hal itu dengan sendirinya.

2.   Mensyukuri ni’mat Allah yang amat besar ini.

3.   Mencintai para Rasul, mengagungkan serta memuji mereka, karena mereka adalah para Rasul Allah I dan karena mereka hanya menyembah Allah, menyampaikan risalah-Nya, dan menasehati hamba-Nya.

Orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, mendustakan para Rasul dengan menganggap bahwa para Rasul Allah bukanlah manusia. Anggapan yang keliru ini dibantah Allah I dalam sebuah firman-Nya:

“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepada mereka, kecuali perkataan mereka , “Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi Rasul? Katakanlah,”andai bumi itu dihuni oleh para malaikat yang berjalan di atas permukaannya dengan tenang, niscaya Kami turunkan dari langit seorang malaikat untuk menjadi Rasul." (QS. Al Isra: 94-95).

Dalam ayat di atas Allah I mematahkan anggapan mereka yang keliru. Rasul Allah harus dari golongan manusia, karena ia akan diutus kepada penduduk bumi yang juga manusia.

Seandainya penduduk bumi itu Malaikat, pasti Allah akan menurunkan Malaikat dari langit sebagai Rasul.

Di dalam surat Ibrahim, Allah mengisahkan tentang orang-orang yang mendustakan para Rasul:

 “Mereka (orang-orang yang mendustakan Rasul) berkata, “kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. kamu menghendaki untuk menghalang-halangi kami dari apa yang selalu disembah oleh nenek moyang kami. Karena itu, datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.” Rasul-Rasul mereka berkata kepada mereka, “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambanya. Dan tidak patut bagi Kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ibrahim 10-11).

 IMAN KEPADA HARI AKHIR

Hari Akhir adalah hari kiamat,  dimana seluruh manusia dibangkitkan pada hari itu untuk dihisab dan dibalas. Hari itu disebut hari akhir, karena tidak ada hari lagi setelahnya. Pada hari itu penghuni surga dan penghuni neraka masing-masing menetap di tempatnya.

Iman kepada hari Akhir mencakup tiga hal:

1.   Beriman kepada ba’ts (kebangkitan), yaitu menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati ketika tiupan sangkakala yang kedua kali. Di saat itu semua manusia bangkit untuk menghadap Rabb alam semesta dengan tidak beralas kaki, bertelanjang, dan tidak disunat.

Allah I berfirman:

"Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS. Al Anbiya’: 104).

Kebangkitan adalah kebenaran yang pasti ada, bukti keberadaannya diperkuat oleh Al Kitab, sunnah dan ijma’ umat Islam.

Allah I berfirman:

 “Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan mati. Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” (QS. Al Mu’minun: 15- 16).

Nabi Muhammad ﷺ‬ bersabda:

(( يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً غُرَلاً ))

“Di hari kiamat seluruh manusia akan dihimpun dengan keadaan tidak beralas kaki dan tidak disunat.” (HR. Bukari & Muslim).

Umat Islam sepakat tentang adanya hari kebangkitan, Karena hal itu sesuai dengan hikmah Allah yang mengembalikan ciptaannya untuk diberi balasan terhadap segala yang telah diperintahkan-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.

Allah berfirman:

 “Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun: 115).

Allah I berfirman kepada Rasulullah ﷺ‬:

 “Sesungguhnya yang mewajibkam atasmu (melaksnakan hukum-hukum) Al Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali…” (QS. Al Qashash: 85).

2.   Beriman kepada hisab (perhitungan) dan jaza’ (pembalasan) dengan meyakini bahwa seluruh perbuatan manusia akan dihisab dan dibalas. Hal ini dipaparkan dengan jelas di dalam Al Qur’an, sunnah dan ijma’ (kesepakatan) umat Islam.

Allah I berfirman:

 “Sesungguhnya kepada Kami mereka kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami menghisab mereka.” (QS. Al Ghasyiah: 25-26).

Allah berfirman:

“Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi balasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al- An’am: 160).

Allah berfirman:

 “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiada dirugikan seorangpun barang sedikit. Dan sekalipun(amalan itu) hanya seberat biji sawi pasti Kami berikan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al Anbiya’: 47).

Dari Ibnu Umar t diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ‬ bersabda yang artinya:

“Allah nanti akan mendekatkan orang mukmin, lalu meletakkan hijab dan menutupnya. Allah bertanya , “Apakah kamu tahu dosamu ini?” “apakah kamu tahu dosamu itu?” Ia menjawab, “Ya Rabbi.” Ketika ia sudah mengakui dosa-dosanya dan melihat dirinya telah binasa, Allah I berfirman , “Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia dan sekarang Aku mengampuninya.” Kemudian diberikan kepada orang mukmin buku amal baiknya. Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafik, Allah I memanggilnya di hadapan orang banyak. Mereka orang-orang yang mendustakan Rabbnya. Ketahuilah, laknat Allah itu untuk orang-orang yang dzalim.” (HR. Bukhari Muslim).

Nabi ﷺ‬ bersabda:

(( أَنَّ مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَعَمِلَهَا كَتَبَهُ اللهُ عِنْدَهُ عَشَرَ حَسَنَاتٍ إِلىَ سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلىَ أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً ))

“Orang yang berniat melakukan satu kebaikan, lalu mengamalkannya, maka ditulis baginya sepuluh kebaikan, sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai beberapa kali lagi. Barangsiapa berniat melakukan satu kejahatan, lalu mengamalkannya, maka Allah  menulisnya satu kejahatan saja.”

Umat Islam telah sepakat tentang adanya hisab dan pembalasan amal, karena hal itu sesuai dengan kebijaksanaan Allah. Sebagaimana kita ketahui, Allah I telah menurunkan Kitab-kitab, mengutus para Rasul serta mewajibkan kepada manusia untuk menerima ajaran yang dibawa oleh Rasul-Rasul Allah dan mengamalkannya. Dan Allah telah mewajibkan agar berperang melawan orang-orang kafir yang menentang-Nya serta menghalalkan darah, anak-anak, isteri dan harta benda mereka. Kalau tidak ada hisab dan balasan tentu hal ini hanya sia-sia belaka, dan Rabb yang Maha bijaksana, Mahasuci dari melakukan perbuatan yang sia-sia.

Allah I telah menjelaskan hal itu dalam firman-Nya:

 “Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-Rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-Rasul (Kami), maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat). Sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (QS. Al A`raaf: 6-7).

3.   Mengimani surga dan neraka sebagai tempat manusia yang abadi. Surga adalah tempat keni’matan yang disediakan Allah untuk orang-orang mukmin yang bertakwa, yang mengimani apa-apa yang harus diimani, yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan untuk orang-orang yang beribadah dengan ikhlas serta mengikuti sunah Nabi.

Di dalam surga terdapat berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, serta tidak terlintas dalam benak manusia.

Allah berfirman:

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (QS. Al bayyinah: 7-8).

Allah berfirman:

“Tidak seorang pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam ni’mat) yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As Sajadah : 17).

Neraka adalah tempat azab yang disediakan Allah untuk orang-orang kafir, yang berbuat zalim serta untuk orang yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Di dalam neraka terdapat berbagai azab dan siksaan, yang tidak pernah terlintas dalam pikiran.

Allah berfirman:

“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS. Al Imran: 131).

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang yang zalim neraka yang gejolak apinya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, maka mereka akan diberi minuman dengan air seperti besi yang mendidih yang dapat menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al Kahfi: 29).

 “Sesungguhnya Allah melaknati orang-rang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata , “Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” (QS. Al Ahzab: 64-66).

Termasuk Iman kepada hari akhir adalah mengimani peristiwa-peristiwa yang akan terjadi sesudah mati, misalnya :

a.   fitnah kubur, yaitu pertanyaan yang diajukan kepada mayat ketika sudah dikubur, tentang Rabb, agama dan Nabinya. Allah akan meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kata-kata yang benar. Maka mereka menjawab pertanyaaan itu dengan tegas dan penuh keyakinan, dengan mengatakan," Allah Rabbku, Islam agamaku, dan Muhammad ﷺ‬ Nabiku". Sebaliknya Allah akan menyesatkan orang-orang yang dzalim dan kafir. Mereka tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Mereka akan berkata, “Aku… aku tidak tahu.” Begitu juga orang-orang munafik akan menjawab pertanyaan itu dengan kebingungan, "aku tidak tahu. Dulu aku pernah mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku mengikutinya.”

b.   Siksa dan ni’mat kubur. Siksa kubur diperuntukkan bagi orang-orang dzalim, yakni orang-orang munafik dan orang-orang kafir, seperti dalam firman-Nya:

“…alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang dzalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “keluarkanlah nyawamu.” Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (QS. Al an’am: 93).

Allah I berfirman tentang pengikut Fir`aun:

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada Malaikat) , “Masukkan Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Al Mu’min : 46).

Dari Zaid bin Tsabit diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ‬ bersabda:

“kalau tidak karena kalian saling mengubur (orang yang mati), pasti aku memohon kepada Allah agar memperdengarkan siksa kubur kepada kalian yang saya dengar.” Kemudian Nabi ﷺ‬ menghadapkan wajahnya seraya bersabda,“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa neraka.” Para sahabat berkata, “Kami memohon perlindungan kepada Allah dari siksa neraka.” Nabi ﷺ‬ kemudian berkata lagi, “Mohonlah perlindungan Allah dari siksa kubur.” Para sahabat berkata, “Kami memohon perlindungan Allah dari siksa kubur.” Lalu beliau berkata lagi,“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari berbagai fitnah baik yang tampak maupun yang tidak tampak.” Para sahabat lalu berkata, “Kami memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai fitnah baik yang tampak maupun yang tidak tampak.” Nabi ﷺ‬ berkata lagi , “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal.” Para sahabat berkata, “Kami mohon perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal.” (HR. Muslim).

Adapun ni’mat kubur diperuntukkan bagi orang-orang mukmin yang benar-benar beribadah kepada-Nya. Hal ini telah dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

“sesungguhnya orang-orang yang mengatakan , “Rabb Kami ialah Allah”, kemudian mereka istiqamah, para malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) , “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembiralah  dengan (memperoleh) surga yang  telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30).

Allah berfirman:

 “Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?. Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta surga keni’matan.” (QS. Al Waqi’ah: 83-89).

Diriwayatkan dari Al Bara’ bin `Aazib t bahwa Nabi ﷺ‬ bersabda tentang orang mukmin yang dapat menjawab pertanyaan Malaikat di dalam kuburnya, “ada suara yang menyeru dari langit , “hamba-Ku memang benar. Oleh karenanya berilah dia permadani dari surga, berilah pakaian dari surga, dan bukakanlah baginya pintu surga.” Lalu datanglah keni’matan dan keharuman dari surga, dan kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang …” (HR. Ahmad & Abu Daud).

Buah iman kepada hari akhir:

1.   Gemar melakukan ketaatan demi mengharap pahala di hari tersebut.

2.   Membenci perbuatan maksiat dengan rasa takut akan disiksa pada hari itu.

3.   Menghibur orang mukmin jika tidak mendapatkan balasan kebajikannya di dunia dengan mengharap keni’matan serta pahala di akhirat.

Orang-orang kafir mengingkari adanya kebangkitan setelah mati, mereka menyangka bahwa hari akhir dengan segala peristiwa-peristiwanya adalah suatu hal yang mustahil. Dugaan mereka jelas sangat keliru dan kesalahan itu dapat dibuktikan dengan syara’, indera, dan akal.

1.  Bukti syara’

Allah I berfirman:

“Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah,“Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. At Taghabun : 7).

Hal ini juga telah dijelaskan oleh kitab-kitab suci yang terdahulu.

2.  Bukti inderawi

Allah I telah memperlihatkan bagaimana Dia menghidupkan orang-orang yang sudah mati di dunia ini.

Dalam surat Al Baqarah terdapat lima contoh mengenai hal ini:

a.   Ketika kaum Musa berkata kepada Nabi Musa u bahwa mereka tidak akan percaya dengan risalah yang dibawa Musa u, sampai mereka melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Oleh karena itu Allah berfirman (yang ditujukan kepada Bani Israil):

 “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Hai Musa, Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.” Karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah mati, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 55-56).

b.   Kisah orang yang terbunuh yang pembunuhnya dipersengketakan bani Israil. Allah I lalu memerintahkan mereka untuk menyembelih sapi, kemudian salah satu anggota sapi itu dipukulkan ke tubuh orang yang terbunuh itu agar dapat menceritakan siapa sebenarnya yang telah membunuhnya. Hal ini diungkapkan dalam firman-Nya:

“Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia, lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman , “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 72-73).

c.       Kisah kaum yang meninggalkan negerinya untuk menghindari kematian. Mereka berjumlah ribuan orang. Allah mematikan mereka, lalu menghidupkan kembali. Ini dijelaskan dalam firman-Nya:

 “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati, maka Allah berfirman kepada mereka,“Matilah kamu, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 243).

d.       Kisah orang yang melewati sebuah desa yang hancur. Dia sangsi, bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur, maka Allah  mematikan orang tersebut selama seratus tahun, kemudian Allah menghidupkan kembali. Ini dikisahkan dalam firman-Nya:

 “Atau apakah (kamu memperhatikan) orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkan kembali. Allah bertanya, “Berapa lama kamu tinggal di sini? Ia menjawab, “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman,“Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah, dan lihatlah keledaimu (yang telah mejadi tulang-belulang). Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia. lihatlah tulang-belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata,“Saya yakin Allah maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Baqarah: 259).

e.   Kisah Nabi Ibrahim `alaihissalam ketika meminta kepada Allah untuk memperlihatkan kepadanya, bagaimana Dia menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Allah memerintahkannya menyembelih empat ekor burung dan memisah-misahkan bagian-bagian tubuh burung itu di atas gunung-gunung yang ada di sekelilingnya. Lalu Ibrahim memanggil burung itu, tak lama kemudian, tampaklah olehnya bagian-bagian tubuh burung-burung itu menyatu dan segera mendatangi Nabi Ibrahim kembali. Ini dikisahkan Allah dalam Al-Qur’anul Karim:

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman, “Apakah kamu belum percaya?” Ibrahim menjawab, “Saya telah percaya, akan tetapi agar hatiku bertambah tenang.” Allah berfirman (kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu, lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, sesudah itu panggillah mereka, niscaya mereka datang kepada kamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah: 260).

Inilah beberapa bukti inderawi yang menunjukkan mungkinnya Allah menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah memberikan mukjizat kepada Isa bin Maryam dengan menghidupkan orang-orang yang sudah mati serta mengeluarkannya dari kubur dengan izin Allah I.

3.  Bukti akal (logika)

Bukti akal dapat dibagi menjadi dua bagian :

a.   Allah I sebagai pencipta langit dan bumi seisinya telah menciptakannya pertama kali. Allah mampu menciptakan pertama kali, tentu mampu pula untuk menghidupkannya kembali.

Allah berfirman:

“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian kembali (menghidupkan)nya, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya…” (QS. Ar rum: 27).

Allah berfirman:

 “sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS. Al Anbiya’: 104).

Allah berfirman memerintahkan Rasul-Nya untuk membantah alasan orang yang mengingkari kekuasaan Allah menghidupkan kembali mayat yang telah menjadi tulang-belulang:

“Katakanlah,“ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yasin: 79).

b.   Bumi yang kering dan tandus akan hijau kembali dan tumbuhan yang mati akan bergerak subur setelah disirami hujan. Dzat Yang mampu  menghidupkan tumbuh-tumbuhan setelah mati, tentu mampu menghidupkan orang-orang yang sudah mati.

Allah I berfirman:

 “Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat: 39).

Allah berfirman:

 “Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-bijian tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (QS. Qaaf: 9-11).

Orang-orang yang meingkari siksa kubur dan keni’matannya mengira hal itu suatu perkara yang mustahil serta bertolak belakang dengan kenyataan karena apabila kubur digali, tidak akan didapati seperti semula, tidak bertambah luas dan tidak pula bertambah sempit. Dugaan mereka ini jelas tidak benar menurut syara’, indera, dan akal.

1-  Dalil syara’

Ibnu Abbas t berkata, “Rasululah ﷺ‬ pernah keluar dari salah satu kebun kota madinah lalu beliau mendengar ada dua orang yang disiksa di dalam kuburnya.” Dalam hadits itu disebutkan bahwa yang satu disiksa karena buang air kecil di sembarang tempat sehingga auratnya kelihatan oleh orang yang lewat, dan yang satunya lagi karena mengadu domba.” (HR. Bukhari).

2-  Dalil inderawi

Orang yang tidur terkadang mimpi bahwa dia berada di tempat yang luas, menggembirakan, dan dia bersenang-senang di sana. Atau terkadang dia juga bermimpi berada di tempat yang sempit, menakutkan, dan membuatnya tersiksa. Terkadang seseorang bisa terjaga karena mimpi buruk, padahal ia berada di atas tempat tidur di kamarnya. Tidur adalah saudara kematian.

Oleh karena itu Allah menyebut tidur dengan “wafat”, seperti dalam firman-Nya:

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia menahan jiwa (orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan…” (QS. Az zumar: 42).

3-  Dalil akal

Orang yang tidur terkadang bermimpi yang benar sesuai dengan kenyataan. Bisa jadi ia bermimpi melihat Nabi ﷺ‬ sesuai dengan sifat beliau. Barangsiapa pernah bermimpi melihat beliau sesuai dengan sifatnya, maka dia bagaikan melihatnya benar-benar. Padahal waktu itu dia berada di dalam kamarnya, di atas tempat tidur, jauh dari alam yang di mimpikan. Apabila keadaan tersebut suatu hal yang mungkin dijumpai di dunia, maka bagaimana tidak mungkin dijumpai di akhirat?

Adapun dalih mereka bahwa apabila kubur digali, akan didapati seperti semula, tidak bertambah luas dan tidak pula bertambah sempit maka jawabannya :

1.   Apa yang dibawa syara’ tidak boleh dipertentangkan dengan hal-hal yang bersifat dugaan. Kalau ia mau berpikir tentang keterangan yang dibawa oleh syara’ ia pasti mengetahui kekeliruannya.

Seorang penyair bertutur:

Berapa banyak orang yang mencela pendapat yang benar

Padahal sikap itu timbul dari pemahamannya yang salah.

2.   keadaan dalam barzakh (alam kubur) termasuk hal-hal ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh indera, kerena jika hal itu dapat diindera, maka tidak ada artinya iman kepada yang ghaib, dan sama antara orang yang beriman kepada yang ghaib dan orang yang mengingkarinya.

3.   Siksa kubur, ni’mat kubur, luas dan sempitnya kubur hanya dapat dijumpai oleh mayat itu sendiri, bukan yang lain. Ini seperti yang dilihat orang tidur dalam mimpinya, dia bisa berada di tempat yang sempit dan menakutkan, atau di tempat yang luas dan menyenangkan, padahal menurut orang yang melihatnya tidur, keadaan orang tersebut tidak berubah, ia masih di dalam kamar di antara selimut dan kasur.

Ketika menerima wahyu, Nabi Muhammad ﷺ‬ berada di tengah-tengah para sahabatnya. Beliau mendengar wahyu, tetapi para sahabatnya tidak mendengar. Terkadang wahyu itu diturunkan dengan cara Malaikat menjelma dalam bentuk rupa seorang laki-laki, lalu berbicara dengan beliau, dan para sahabat tidak melihat serta mendengarnya.

4.   Pengetahuan manusia terbatas pada sesuatu yang hanya diizinkan Allah untuk diketahuinya. Tidak mungkin manusia dapat mengetahui segala yang ada. Langit yang tujuh serta bumi seisinya semua bertasbih dengan memuji Allah, Dia memperdengarkan kejadian tersebut kepada orang yang dikehendakinya, kecuali manusia.

Dalam hal ini Allah berfirman:

 “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. Al Isra’: 44).

Demikian halnya dengan setan dan jin yang berkeliaran di atas bumi. Pernah ada jin datang kepada Nabi ﷺ‬ mendengar beliau sedang membaca Al quran, kemudian dia kembali ke kaumnya sebagai juru da’wah.

Dalam hal ini Allah I berfirman:

 “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya  untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat keduanya. Sungguh, ia dan pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al A’raf: 27).

Apabila manusia tidak dapat mengetahui segala yang ada, maka mereka tidak boleh mengingkari perkara-perkara ghaib yang ditetapkan oleh syara’ sekalipun mereka tidak dapat mengetahuinya dengan indera mereka.


 IMAN KEPADA TAKDIR

Al qadar adalah takdir Allah I untuk seluruh makhluk yang ada sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya.

Iman kepada takdir mencakup empat hal:

1.   Mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara global maupun terperinci, azali dan abadi, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan para hamba-Nya.

2.   Mengimani bahwa Allah telah menulis hal itu di “Lauh Mahfudz”.

Tentang kedua hal tersebut Allah berfirman:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfudzh)? Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al Hajj: 70).

Abdullah bin Umar t Berkata, “Aku pernah mendengar Rasululah ﷺ‬ bersabda:

(( كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ ))

“Allah telah menulis (menentukan) takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim).

3.   Mengimani bahwa seluruh yang terjadi, tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Allah I. Baik yang berkaitan dengan perbuatan Allah sendiri maupun yang berkaitan dengan perbuatan makhluk-makhlukNya.

Allah I berfirman tentang hal yang berkaitan dengan perbuatan-Nya:

 “Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih…” (QS. Al Qashash: 68).

Allah berfirman:

“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendakiNya.” (QS. Ali Imran: 6).

Allah juga berfirman tentang sesuatu yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan makhluk-makhluk-Nya:

 “…Kalau Allah menghendaki, maka Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu…” (QS. An Nisa : 90).

Allah berfirman:

 “… Dan kalau Allah menghendaki, maka mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al An’am: 137).

4.   Mengimani bahwa seluruh yang ada, wujud, sifat dan geraknya diciptakan oleh Allah I.

Allah berfirman:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” ( QS.  Az Zumar: 62).

Allah berfirman:

 “…dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al Furqan: 2 ).

Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim yang berkata kepada kaumnya:

 “Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. As Shaffat: 96).

Iman kepada takdir sebagaimana telah Kami jelaskan di atas tidak menafikan bahwa manusia mempunyai kehendak dan kemampuan dalam barbagai perbuatan yang sifatnya ikhtiari. Syara’ dan kenyataan (realita) membenarkan pernyataan di atas.

a.       Secara syara’, Allah berfirman tentang kehendak manusia:

“Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Rabbnya.” (QS. An Naba’: 39).

Allah berfirman:

“…maka datangilah tempat kamu bercocok tanam (isterimu) itu bagaimana saja kamu kehendaki…” (QS. Al Baqarah: 223).

Allah juga berfirman bahwa manusia memiliki qudrat (kemampuan):

 “maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah dan taatlah…” (QS. At Taghabun: 16).

Allah berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari (kebajikan) yang dikerjakannya serta mendapat siksa dari (kejahatan) yang dikerjakan…” (QS. Al Baqarah: 286).

b.   Secara kenyataan, manusia mengetahui bahwa dirinya memiliki iradat (kehendak) dan qudrat (kemampuan), dia mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakannya tergantung kepada dua hal tersebut.  Dia juga dapat membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya (seperti; berjalan), dan sesuatu yang terjadi di luar kehendaknya (seperti; gemetar). Dan kehendak serta kemampuan seorang makhluk tunduk di bawah iradat (kehendak) serta qudrah (kemampuan) Allah I, seperti dalam sebuah firman-Nya:

 (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (QS. At Takwir: 28-29).

Karena alam semesta ini seluruhnya milik Allah, maka tidak ada barang sedikitpun yang menjadi milik-Nya terjadi di luar ilmu (pengetahuan) serta iradat (kehendak)-Nya.

Iman kepada takdir ini tidak dapat dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban atau untuk mengerjakan maksiat. Kalau itu dijadikan alasan, maka jelas salah ditinjau dari beberapa segi:

1.   Firman Allah I:

 “orang-orang yang menyekutukan Tuhan mengatakan , “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun. Demikian juga orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, “adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga kamu dapat mengemukakannya pada Kami? Kamu tidak mengetahui kecuali prasangka belaka dan kamu tidak lain hanya menyangka.” (QS. Al An’am: 148).

Kalau alasan mereka dengan takdir dapat diterima Allah I, tentu Dia tidak akan menjatuhkan siksa kepada mereka.

2.   Firman-Nya:

(mereka Kami utus) sebagai Rasul-Rasul pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya para Rasul. Dan Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (QS. An Nisa”: 165).

Andaikan takdir dapat dijadikan alasan untuk orang-orang yang berbuat dosa, niscaya Allah I tidak menafikan alasan tersebut dengan diutusnya para Rasul, karena terjadinya perbuatan dosa setelah diutusnya para Rasul, juga terjadi sesuai dengan takdir Allah I.

3. Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi I bersabda:

(( مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ قَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ أَوْ الجَنَّةِ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: أَلاَ نَتَّكِلُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: لاَ  اِعْمَلُوْا كُلٌّ مُيَسَّرٌ، ثُمَّ قَرَأَ )

“Setiap diri kalian telah ditulis (ditetapkan) tempatnya di surga atau di neraka. Ada seorang sahabat bertanya,“Mengapa kita tidak tawakal (pasrah) saja, wahai Rasulullah?” beliau menjawab , “tidak, beramal lah karena masing-masing akan dimudahkan.” Lalu beliau membaca surat Al lail ayat 4-7 :

 “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) maka Kami menuntunnya kepada  jalan  yang benar.” (QS. Al Lail: 4-7)

Jadi, Nabi ﷺ‬ memerintahkan untuk beramal dan melarang pasrah kepada takdir.

4. Allah I memerintah, serta melarang hamba-hamba-Nya, namun tidak menuntut mereka  melakukan sesuatu di atas kemampuan mereka.

Allah I berfirman:

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (QS. At Taghabun: 16).

Allah berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS. AlBaqarah: 286).

Kalau benar anggapan bahwa manusia tidak memiliki qudrat (kemampuan), iradat (kehendak), ia terpaksa untuk berbuat sesuatu, artinya ia disuruh mengerjakan sesuatu di luar kesanggupannya, ini tentu bertentangan dengan ayat di atas. Oleh karena itu, bila maksiat dilakukan karena kebodohan atau karena lupa, atau karena dipaksa, maka pelakunya tidak berdosa. Mereka dimaafkan Allah.

5.   Takdir Allah adalah rahasia yang tersembunyi, tidak dapat diketahui sebelum terjadi, kehendak seseorang untuk mengerjakan sesuatu lebih dahulu daripada perbuatannya. Jadi, kehendak seseorang untuk mengerjakan sesuatu itu tidak berdasarkan pada pengetahuannya terhadap takdir Allah. Dengan ini gagal alasan melakukan dosa dengan takdir karena tidak ada alasan bagi seseorang terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya.

6. Kita melihat orang yang ingin mendapatkan keduniaan secara layak, dia akan menempuh jalan yang dapat mewujudkan keinginannya, dan tidak mau menempuh jalan lain, kenapa dia tidak menempuh jalan lain, lalu berdalih dengan takdir? Tetapi mengapa dalam urusan agama, ia memilih jalan yang salah dan berdalih dengan takdir? Padahal dua perkara tersebut sama halnya.  

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut:

Kalau di depan seseorang ada dua jalan. Pertama menuju ke sebuah negeri yang kacau, pembunuhan, perampokan, pelanggaran kehormatan, ketakutan, dan kelaparan terjadi. Yang kedua menuju ke sebuah negeri yang teratur, keamanan yang terkendali, kesejahteraan yang melimpah ruah, jiwa, kehormatan, dan harta benda dihargai. Jalan mana yang akan ia tempuh?

Ia pasti akan menempuh jalan yang kedua yaitu; menuju ke sebuah negeri yang teratur serta aman. Tidak mungkin orang yang berakal menempuh jalan yang menuju ke sebuah negeri yang kacau serta menakutkan dengan alasan takdir. Mengapa dalam hal akhirat ia menempuh jalan yang menuju ke neraka bukan jalan yang menuju surga, lalu berdalih takdir?

Contoh lain adalah; seorang yang sakit disuruh meminum obat, lalu ia meminumnya sedangkan dia tidak menyukai obat tersebut. Dan dilarang memakan makanan tertentu, lalu ia meninggalkannya, sementara dia sangat menyukainya. Semua itu dikarenakan dia sedang menjalani pengobatan untuk sembuh. Orang ini tidak mungkin enggan minum obat atau melanggar pantangan dengan memakan makanan yang dilarang dengan alasan pasrah kepada takdir. Maka Bagaimana seseorang  meninggalkan perintah Allah I dan Rasul-Nya ﷺ‬, atau melakukan larangan Allah dan Rasul-Nya dengan alasan takdir?

7.   Orang yang meninggalkan kewajiban serta berbuat kemaksiatan dengan alasan takdir, seandainya dianiaya oleh seseorang, dirampas hartanya dan dilanggar kehormatannya, lalu orang yang menganiayanya seraya berkata,"Anda jangan menyalahkan saya, karena kelaliman saya ini adalah takdir Allah," alasan tersebut tentu tidak akan dia terima. Maka bagaimana seseorang tidak mau menerima alasan orang lain dengan takdir di saat dia dianiaya oleh orang lain, sedangkan ia sendiri beralasan dengan takdir terhadap kelalimannya pada hak Allah I?

Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin khattab t menerima laporan tentang  seorang pencuri yang berhak dipotong tangannya. Beliau memerintahkan agar hukuman dilaksanakan. Maka si pencuri berkata,"tunggu dulu, Amirul Mukminin, aku mencuri karena takdir Allah. Umar pun menjawab,"demikian juga kami memotong tanganmu juga karena takdir Allah I.

Buah iman kepada takdir:

1.   Tawakkal kepada Allah I disaat mengerjakan sebab, tidak bersandar kepada sebab itu sendiri, karena segala sesuatu ditentukan dengan takdir Allah I.

2.   Agar seseorang tidak mengagumi dirinya ketika tercapai apa yang dicita-citakan. Karena tercapainya cita-cita merupakan ni’mat dari Allah I yang telah ditakdirkan-Nya dengan memudahkan sebab-sebab keberhasilan. Sedangkan sifat mengagumi diri akan dapat melupakan syukur kepada ni’mat Allah.

3.   Menimbulkan ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang terjadi, tidak gelisah karena hilangnya sesuatu yang disukai atau sesuatu yang tidak disukai menimpanya. Karena dia tahu bahwa hal itu terjadi dengan takdir Allah, Pemilik langit dan bumi dan bahwa hal itu pasti akan terjadi.

Allah berfirman:

“Tidak suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah ditulis dalam kitab (lauh mahfudh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan oleh-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al Hadid : 22-23).

Nabi Muhammad ﷺ‬ bersabda:

(( عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلاَ يَكُوْنُ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ))

“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Semua perkaranya baik, dan itu tidak terdapat pada seorangpun selain orang mukmin. Jika mendapatkan kegembiraan, ia bersyukur, itu lebih baik baginya. Dan jika ditimpa kesusahan ia bersabar, itupun lebih baik baginya.” (HR. Muslim).

Dalam masalah takdir ada dua golongan yang tersesat:

Pertama: golongan Jabariyyah. Yaitu mereka yang mengatakan bahwa manusia melakukan segala sesuatu secara terpaksa, tidak punya iradah (kehendak) dan qudrah (kemampuan).

Kedua: golongan Qadariyah. Yaitu mereka yang mengatakan bahwa manusia dalam perbuatannya ditentukan oleh kemauan serta kemampuannya sendiri, kehendak serta takdir Allah I tidak ada pengaruhnya sama sekali.

Untuk menjawab pendapat golongan pertama (jabariyyah), dapat digunakan dalil syara’ dan kenyataan:

a.   Adapun dalil syara’: Allah I telah menyatakan bahwa manusia mempunyai kehendak serta menyandarkan perbuatan kepadanya. Allah berfirman:

“…Diantara kamu ada yang menghendaki dunia dan ada pula yang menghendaki akhirat…” (QS. Al Imran: 152).

Allah berfirman:

“Dan katakanlah , kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang (ingin) beriman hendaklah beriman. Danbarangsiapa yang ingin (kafir) biarlah kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zdalim itu neraka yang mengepung mereka..” (QS. Al Kahfi: 29).

Allah berfirman:

 “Barangsiapa mengerjakan amal yang baik, (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) untuk dirinya sendiri (pula). Dan sekali-kali Tuhanmu tidak akan menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushilat: 46).

b.       Secara kenyataan: bahwa manusia mengetahui perbedaan antara perbuatan-perbuatan yang ikhtiari (dapat diupayakan) yang dikerjakan dengan kehendaknya, seperti makan, minum, dan jual beli, dengan perbuatan yang di luar kehendaknya seperti gemetar disaat demam, dan jatuh dari tempat tinggi. Pada perbuatan yang pertama  ia dapat mengerjakan dan memilih dengan kemauannya tanpa ada paksaan. sedangkan perbuatan yang kedua, dia tidak dapat memilih, juga tidak menginginkan terjadinya.

Pendapat golongan kedua (Qadariyah) dapat dijawab pula dengan dalil syara’ dan dalil akal:

a.   Dalil syara’: Allah I adalah Pencipta segala sesuatu, dan segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya. Allah telah menjelaskan dalam Al Qur’an bahwa perbuatan makhluk-Nya terjadi dengan kehendak-Nya, sebagaimana firman-Nya:

 “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah para Rasul, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al Baqarah: 253).

Allah berfirman:

“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) dari-Ku; sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As Sajdah: 13).

b.   Dalil akal: bahwa alam semesta ini adalah milik Allah dan berada dalam kekuasaan-Nya. Dan manusia adalah bagian dari alam semesta, ia tidak mungkin dapat berbuat dalam kekuasaan Si Penguasa kecuali dengan seizin dan kehendak-Nya.


 TUJUAN AKIDAH ISLAM

  Akidah Islam mempunyai banyak tujuan yang baik yang harus dipegang teguh, yaitu :

1.   Untuk mengikhlaskan niat dan ibadah kepada Allah I semata. Karena Dia adalah pencipta yang tidak ada sekutu bagi-Nya, maka tujuan dari ibadah haruslah diperuntukkan hanya kepada-Nya.

2.   Membebaskan akal dan pikiran dari kekeliruan yang timbul karena jiwa yang kosong dari akidah. Dan orang yang jiwanya kosong dari akidah, terkadang ia menyembah (menjadi budak) materi yang nyata saja, dan adakalanya terjatuh pada berbagai kesesatan akidah dan khurafat.

3.   Ketenangan jiwa dan pikiran, terhindar dari kecemasan dalam jiwa dan kegoncangan pikiran. Karena akidah akan menghubungkan orang mukmin dengan Penciptanya, lalu meridhai Dia sebagai Tuhan yang mengatur, Hakim yang membuat syari`at. Oleh karena itu jiwanya menerima takdir, dadanya lapang, menyerah lalu tidak mencari Tuhan pengganti.

4.   Meluruskan tujuan dan perbuatan dari penyelewengan dalam beribadah kepada Allah dan dalam bermuamalah dengan orang lain. Karena diantara dasar akidah adalah mengimani para Rasul, dengan mengikuti jalan mereka yang lurus dalam tujuan dan perbuatan.

5.   Bersungguh-sungguh dalam segala sesuatu dan tidak melewatkan kesempatan beramal kebajikan, selalu digunakannya dengan baik untuk mengharap pahala. Serta tidak melihat tempat dosa kecuali menjauhinya dengan rasa takut dari siksa. Karena diantara dasar akidah adalah mengimani hari berbangkit serta hari pembalasan terhadap seluruh perbuatan.

 “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (sesuai) dengan yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 132).

Nabi Muhammad ﷺ‬ juga menghimbau untuk tujuan ini dalam sabdanya:

(( المُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلىَ اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلىَ مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ، كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ))

“Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersemangatlah terhadap sesuatu yang berguna bagimu serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, maka jaganlah engkau katakan , seandainya aku kerjakan begini dan begitu (tentu tidak akan jadi begini). Akan tetapi katakanlah , itu takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan. Sesungguhnya ucapan "andai begini, andai begitu"  membuka kesempatan setan untuk menyesatkan.” ( HR. Muslim).

6.   Menciptakan umat yang kuat yang mengerahkan segala daya dan upaya untuk menegakkan agama Allah serta memperkuat tiang penyanggahnya tanpa peduli apa yang akan terjadi ketika menempuh jalan itu.

       Allah berfirman:

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang –orang yang benar.” (QS.  Al Hujurat: 15),

7- Meraih kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memperbaiki pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok serta meraih pahala dan kemuliaan.

Allah berfirman:

 “Barangsiapa yang mengerjakan amal baik, lelaki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan balasannya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang paling baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97)

Inilah sebagian dari tujuan akidah Islam, Kami berharap agar Allah mewujudkannya pada diri kami dan diri seluruh umat Islam.