RAUḤ WA RAYĀḤĪN SYARAH KITAB RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN ()

Abdul Hadi bin Saeed Al-Bustani

 

RAUḤ WA RAYĀḤĪN SYARAH KITAB RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN

|

 RAUḤ WA RAYĀḤĪN SYARAH KITAB RIYĀḌUṢ-ṢĀLIḤĪN

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Segala puji bagi Allah Yang Maha Terpuji dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna nan agung, serta pengaruhnya yang komprehensif mencakup dunia dan akhirat.Kita menghaturkan selawat dan salam kepada junjungan para rasul; hamba yang paling sempurna karakter mulianya, akhlaknya, dan tutur katanya,juga kepada keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau.

Amabakdu:

Selain firman Allah, tidak ada yang lebih benar, lebih bermanfaat, dan lebih mencakup kebaikan dunia akhirat daripada sabda sang Rasul dan hamba tercinta-Nya, Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.Sebab beliau adalah manusia yang paling berilmu, paling benar ucapannya, paling besar nasihat dan bimbingannya, paling tinggi penjelasannya, dan paling bagus pengajarannya, serta dianugerahi jawāmi'ul-kalim; yaitu ucapan yang ringkas namun memiliki makna luas.Dari sini kita dapat mengetahui faktor keharusan manusia untuk mengenal sosok Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beserta ajaran yang beliau bawa, membenarkan berbagai hal yang beliau sampaikan, menaati segala yang beliau perintahkan, menjauhi segala yang beliau larang dan peringatkan, dan agar menyembah Allah -Ta'ālā- hanya dengan ibadah yang beliau syariatkan.Semua itu karena tidak ada jalan untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan bagi umat tercinta ini kecuali dengan mengikuti nabi mereka -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- secara lahir dan batin; lantaran tidak ada jalan kepada Allah dan surga kecuali dengan petunjuk Al-Qur`ān dan Sunnah.Oleh karena itu, orang yang mencintai dirinya serta menginginkan kesuksesan dan kebahagian berkewajiban untuk mengenal petunjuk, biografi, dan perilaku mulia beliau yang penuh berkah, agar ia keluar dari golongan orang yang jahil tentang beliau dan termasuk ke dalam barisan pengikut Sunnah beliau.Namun dalam persoalan mengenal Sunnah ini manusia berbeda-beda; ada yang sama sekali tidak mengetahuinya, ada yang mengetahuinya sedikit saja, dan ada yang mengetahui banyak, sebab hidayah hanya ada di Tangan Allah yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, karena Dia Maha Pemilik segala karunia.

Di antara cara yang dapat membantu kita dalam persoalan ini adalah memberikan perhatian terhadap kitab-kitab induk yang bermanfaat dan ringkas dalam mengenalkan petunjuk dan Sunnah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, di antaranya:

Kitab "Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn min Aḥādīṡ Sayyidil-Mursalīn",karya ulama besar nan zuhud; Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawiy (631-676H) -raḥimahullāh-.Di dalamnya beliau mengumpulkan secara ringkas hadis-hadis sahih untuk jadi bekal bagi pembacanya menuju akhirat, yang mencakup adab-adab batin dan lahir, yang menggabungkan antara targīb (motivasi) dan tarhīb (peringatan) serta berbagai macam adab orang-orang saleh;berupa hadis-hadis tentang zuhud, pembinaan jiwa, pembersihan akhlak, kesucian hati dan obatnya, penjagaan anggota badan dan penghilang keburukannya, dan lain sebagainya.Para ulama sangat mewasiatkan buku ini dan memberikan perhatian besar terhadapnya dengan mensyarah dan mengajarkannya kepada seluruh umat Islam.Ini menunjukkan keikhlasan penyusunnya serta besarnya hajat manusia terhadap buku yang bermanfaat dan lengkap seperti ini.

Dalam rangka meneladani langkah dan amal saleh para ulama kita, maka lahirlah partisipasi penulisan buku ini dengan tujuan menjelaskan kandungan kitab Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn agar lebih mudah dipahami oleh semua pencintanya. Di balik penyusunannya kami bertujuan sebagai berikut:

1) Sebagai nasihat kepada orang-orang beriman agar mengikuti petunjuk Sayyidul-Mursalīn -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang merupakan sebaik-baik petunjuk.

2) Agar meneladani sahabat-sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terkait sikap kesegeraan mereka dalam mengagungkan perintah Allah -Ta'ālā- dan Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-,karena para sahabat adalah generasi paling ideal yang sangat tulus dalam mengikuti petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.3) Agar manusia dapat mengetahui keagungan syariat yang lurus dan penuh kelapangan ini, yang dengannya Allah menyelamatkan dunia sehingga kebaikannya merata kepada semua manusia.Kemudian Allah mengistimewakan umat Muhammad dengan berbagai keberkahan, rahmat, dan kemudahan yang mereka dapatkan dari keberkahan meneladani petunjuk Al-Qur`ān dan Sunnah.

Metode kami dalam penyusunan buku ini terangkum dalam lima poin berikut:

1- Menjelaskan kosa kata dalam hadis yang tidak dipahami pembaca dan tidak diterangkan maknanya oleh penulis. Kosa kata ini dikenal dengan istilah garībul-hadīṡ (kosa kata asing dalam hadis).

2- Menyebutkan berbagai pelajaran dari bab dan dalil-dalil dalam kitab ini (di bawah judul "Pelajaran dari Ayat" atau "Pelajaran dari Hadis"), yang kita harapkan akan menjadi nasihat dan bimbingan dalam meneladani petunjuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.Sebagai bentuk upaya kami agar pembahasan pelajaran tersebut sesuai dengan dalil yang ada di setiap bab,maka kami memisahkan berbagai pelajaran tambahan penting dan bermanfaat yang berasal dari sebagian dalil di bawah judul "Faedah Tambahan" atau "Peringatan" untuk membedakannya dari ucapan penulis.3- Ketika ada pengulangan hadis di beberapa bab maka kami tetap mengulang penjelasan kosa kata yang sulit serta menyebutkan pelajaran darinya yang sesuai dengan bab tersebut; untuk mengikuti metode Al-Qur`ān Al-Karīm, sebagaimana disebutkan dalam ayat:"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur`ān yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang."(QS. Az-Zumar: 23)Yaitu di dalamnya terjadi pengulangan terhadap berita, kisah, hukum, dan semua tema-tema yang bermanfaat karena adanya berbagai hikmah yang besar, di antaranya:untuk menanamkan berbagai prinsip darinya dalam hati manusia lewat pengulangannya, karena jika sesuatu diulang-ulang maka akan melekat di hati. Sebab itu, kami sengaja mengulang penjelasan makna hadis-hadis yang berulang agar maknanya tertanam dalam hati.Dan perlu dketahui bahwa di dalam kitab Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn terdapat 168 hadis yang berulang.4- Kami mengingatkan pembaca yang budiman terhadap sejumlah hadis yang dinilai daif oleh para ulama dalam kitab yang diberkahi ini. Jumlah hadis-hadis daif tersebut sedikit bila dibandingkan dengan keseluruhan hadisnya, dan pembaca akan melihat keterangan daifnya di catatan kaki.Dalam hal ini kami berpedoman pada cetakan kitab Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn dari hasil taḥqīq (suntingan) Syekh 'Iṣām Hādī yang diterbitkan oleh Mu`assasah Ar-Rayyān.Namun, bagi yang menginginkan penjelasan sebab kelemahan hadis-hadisnya agar melihat buku-buku takhrīj hadis yang khusus membahas persoalan itu.Saudaraku -semoga Allah memberimu taufik-! Kita telang mengetahui bahwa kewajiban semua umat Islam adalah beribadah kepada Allah Rabb alam semesta sesuai dengan hadis-hadis Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang sahih, dan apa yang ada dalam hadis-hadis sahih telah mencukupkan kita dari yang daif.Adapun hadis daif -yang ringan tingkat kedaifannya- yang disebutkan oleh para ulama di buku-buku mereka, maka alasannya adalah karena kandungan hadis-hadis itu memiliki pijakan yang sahih dalam Al-Qur`ān dan Sunnah; yaitu hadis-hadis tersebut sahih secara makna walaupun daif secara sanad.

Oleh karena itu, kami menyamakan hadis-hadis yang daif dengan seluruh hadis-hadis kitab ini terkait penjelaskan makna kosa katanya yang sulit dan menyebutkan pelajaran-pelajarannya, karena hadis-hadis tersebut memiliki penguat yang menguatkan maknanya. Kecuali beberapa hadis langka yang maknanya tidak bisa diterima (mungkar), maka kami meninggalkannya, dan sesuatu yang langka tidak dianggap sesuatu yang berarti.

5- Kami menyertakan di akhir buku ini tiga indeks yang akan membantu pembaca, yaitu:

Pertama: indeks hadis dan aṡar; berupa

menyebutkan potongan awal dari hadis-hadis Nabi dan aṡar yang diriwayatkan dari para sahabat agar pembaca mudah mendapatkan hadis atau aṡar mana pun yang ada dalam buku ini.

Kedua: indeks hadis-hadis yang berulang; berupa

menyebutkan tempat pengulangan hadis tersebut di dalam buku ini. Tujuannya agar pembaca dapat melihat keistimewaan metode penulis -raḥimahullāh- ketika menempatkan satu hadis dalam banyak bab.Juga dengan itu akan diketahui makna dari jawāmi'ul-kalim yang diberikan secara khusus kepada nabi kita -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, yaitu beliau berbicara dengan lafal yang sedikit tetapi memiliki makna luas, sehingga satu hadis bisa digunakan sebagai dalil dalam berbagai persoalan.

Ketiga: indeks tema pembahasan; berupa

menyebutkan semua tema pembahasan yang ada dalam buku ini dan diurut berdasarkan bab yang mencapai 372 bab; setiap bab berisikan sejumlah dalil agama, dan di sebagian besar bab berisikan ayat-ayat Al-Qur`ān dan hadis-hadis Nabi.Jumlah hadis yang ada dalam bab-bab tersebut mencapai 1.896 hadis berdasarkan cetakan-cetakan kitab yang terkenal.

Kemudian, dalam menerbitkan kitab Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn ini kami berpedoman pada cetakan yang disunting oleh Syekh Syu'aib Al-Arnā`uṭ yang terbitkan oleh Mu`assasah Ar-Risālah disertai dengan meluruskan beberapa kesalahan kecil yang ada di dalamnya dengan merujuk kepada kitab-kitab induk.

Pada bagian awal buku ini, kami juga menyuguhkan biografi ringkas Imam An-Nawawiy -raḥimahullāh- serta cuplikan singkat seputar ucapan para ulama tentang kedudukan kitab Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn dan wasiat mereka tentangnya.

Di penutup mukadimah ini, kami memberi judul buku ini dengan nama "Rauḥ wa Rayāḥīn Syarḥ Riyāḍiṣ-Ṣāliḥīn".

Kami hadiahkan buku ini kepada semua orang beriman yang ingin meneladani petunjuk Sayyidul-Mursalīn -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta jalan generasi awal umat Islam terdahulu.Kami memohon kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- agar buku ini bermanfaat dan penuh berkah sebagaimana manfaat dan keberkahan kitab induknya.Apapun yang benar dalam kandungan buku ini maka berasal dari karunia dan taufik Allah -Ta'ālā-, sedangkan yang salah maka berasal dari kekurangan, kejahilan, dan dosa kami yang menghalangi antara kami dan karunia Rabb kami.

Kita memohon kepada Allah -Ta'ālā- Yang Mahaagung, Rabb Arasy Yang Mahamulia agar kita tidak dihalangi dari kebaikan yang ada di sisi-Nya lantaran adanya keburukan pada diri kita, karena sesungguhnya Allah Mahabaik dan Pemurah.

Segala puji hanya milik Allah yang telah memberi kita petunjuk kepada agama ini; kita tidak mungkin mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kita petunjuk.

Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada nabi kita Muhammad, serta keluarga dan sahabatnya.

Negeri Syam yang diberkahi

Damaskus

Cetakan ke-3, Rajab 1434 H (1)

 Biografi Penulis Kitab Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn, Al-'Allāmah Yahya bin Syaraf An-Nawawiy -raḥimahullāh- (631-676 H)

 Nasab beliau:

Beliau Al-Allāmah Al-Faqīh Az-Zāhid Abu Zakaria Muḥyiddīn Yahya bin Syaraf bin Murriy bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum'ah bin Ḥizām An-Nawawiy Ad-Dimasyqiy Asy-Syafi'iy, seorang imam besar Mazhab Syafii dan ulama besar di zamannya. An-Nawawiy merupakan penisbahan kepada Nawā, nama sebuah perkampungan di daerah Ḥaurān di Suriah, Ad-Dimasyqi Asy-Syafi'i; syekh mazhab Syafii dan ahli fikih besar di zamannya.

 Kelahiran dan masa kecil beliau:

An-Nawawiy -raḥimahullāh- lahir pada bulan Muharram tahun 631 H di perkampungan Nawā dari sepasang orang tua yang saleh.Ketika menginjak umur 10 tahun beliau mulai menghafal Al-Qur`ān dan mempelajari ilmu fikih di hadapan sebagian ulama yang ada di sana.Secara kebetulan, saat itu Syekh Yāsīn bin Yusuf Al-Murrākisyiy lewat di perkampungan tersebut dan melihat sekelompok anak-anak memaksa An-Nawawiy kecil untuk bermain, sedangkan beliau menghindar dari mereka sambil menangis karena dipaksa dan lebih memilih membaca Al-Qur`ān. Maka Syekh Yāsīn pun mendatangi ayahnya dan memberinya saran agar An-Nawawiy diarahkan fokus menuntut ilmu, dan ayahnya pun memenuhinya.Pada tahun 649 H beliau bersama ayahnya datang ke Damaskus untuk melanjutkan jenjang pendidikannya di Madrasah Dārul-Hadīṡ.Beliau lalu tinggal di Madrasah Ar-Rawāḥiyyah yang menempel dengan Masjid Al-Umawiy di sebelah timur.Pada tahun 651 H beliau menunaikan ibadah haji bersama ayahnya kemudian kembali lagi ke Damaskus.

 Kehidupan ilmiah beliau:

Pada tahun 665 H beliau menjabat sebagai pimpinan Dewan Guru Dārul-Hadīṡ dan mengajar di sana hingga meninggal dunia pada umur 45 tahun.Kehidupan ilmiah An-Nawawiy setelah berada di Damaskus memiliki tiga keistimewaan:Pertama: Ketekunannya dalam menuntut ilmu sejak kecil dan ketika dewasa. Ilmu seakan telah menyatu dengan diri beliau, sampai-sampai beliau merasakan kenikmatan ilmu ada di atas segala-galanya. Beliau sangat rajin membaca dan menghafal,sehingga berhasil menghafal buku At-Tanbīh dalam jangka waktu empat bulan setengah dan menghafal seperempat bab ibadah dari buku Al-Muhażżab selama tujuh bulan setengah.Dalam waktu singkat beliau berhasil mendapatkan kekaguman dan kecintaan dari guru beliau, Abu Ibrahim Isḥāq bin Ahmad Al-Magribiy dan ditunjuk sebagai mentor materi pelajaran di halakahnya.Kedua: Keluasan ilmu dan wawasannya; beliau mengumpulkan dalam dirinya sikap kesungguhan menuntut ilmu, keluasan ilmu, dan wawasan yang beraneka ragam.Murid beliau, 'Alā`uddīn bin Al-'Aṭṭār mengisahkan tentang waktu belajar beliau, bahwa dalam sehari beliau mempelajari 12 pelajaran di hadapan para syekh dalam bentuk syarah dan tashih, yaitu;2 pelajaran di kitab Al-Wasīṭ, 1 pelajaran dari buku Al-Muhażżab, 1 pelajaran dari buku Al-Jam'u baina Aṣ-Ṣaḥīḥain, 1 pelajaran di kitab Ṣaḥīḥ Muslim, 1 pelajaran di kitab Al-Luma' karya Ibnu Jinnī di dalam Ilmu Nahwu, 1 pelajaran di kitab Iṣlāḥ Al-Manṭiq karya Ibnu As-Sikkīt dalam Ilmu Bahasa, 1 pelajaran tentang Ilmu Saraf, 1 pelajaran dalam Ilmu Usul Fikih; kadang-kadang dari kitab Al-Luma' karya Abu Isḥāq, dan terkadang dari kitab Al-Muntakhab karya Al-Fakhr Ar-Rāziy, 1 pelajaran dalam Ilmu Asma`ur-Rijāl (perawi hadis), dan 1 pelajaran dalam Ilmu Usuludin.Beliau menulis semua yang terkait dengan pelajaran-pelajaran ini, berupa syarah terhadap kalimat yang sulit dipahami, penjelasan ungkapan tertentu, dan penetapan harakat kosa kata.Ketiga: Memiliki banyak karya tulis. Beliau memiliki perhatian besar untuk menulis dan telah memulainya sejak tahun 660 H ketika umur beliau genap 30 tahun.Sungguh Allah telah memberkahi waktu beliau serta memberikannya taufik. Beliau mengalirkan buah pikirannya di dalam buku dan karya-karya besar nan menakjubkan. Dalam karya-karya tersebut, Anda dapat merasakan adanya kemudahan bahasa, kejernihan dalil, kejelasan pandangan, serta sikap adilnya dalam memaparkan pendapat-pendapat para fukaha. Hingga sekarang karya-karya beliau senantiasa mendapat perhatian besar dari semua umat Islam serta diambil manfaatnya di semua negeri.

Di antara karya beliau yang terpenting adalah: Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Al-Majmū' Syarḥ Al-Muhażżab, Riyāḍuṣ-Ṣaliḥīn, Al-Ażkār, Tahżībul-Asmā` wal-Lugāt, Al-Arba'ūn An-Nawawiyyah, dan Al-Minhāj fil-Fiqh.

 Akhlak dan sifat beliau:

Semua penulis buku biografi sepakat bahwa An-Nawawiy adalah tokoh panutan dalam sifat zuhud, figur teladan dalam sifat warak, dan tidak memiliki tandingan dalam hal menasihati penguasa serta amar makruf nahi mungkar.Dalam biografi singkat An-Nawawiy ini, sangat penting bagi kita untuk sejenak mencermati sifat-sifat penting tersebut dalam kehidupan beliau:1- Sifat Zuhud. Dalam kenikmatan ilmu, An-Nawawiy menemukan pengganti kenikmatan-kenikmatan duniawi yang fana sehingga beliau merasakan kepuasan dengan manisnya ilmu dan iman.Yang menarik perhatian adalah bahwa beliau berpindah dari lingkungan yang sederhana menuju Damaskus yang penuh dengan limpahan kekayaan dan kenikmatan, padahal saat itu beliau sedang dalam usia muda ketika syahwat sedang menguat dalam jiwa. Kendati demikian, beliau tetap berpaling dari semua kenikmatan dan kesenangan tersebut, dan lebih memilih hidup yang serba sulit dan keras.2- Sifat Warak. Dalam kehidupan beliau terdapat banyak contoh yang menunjukkan sifat warak yang tinggi, di antaranya; beliau tidak mengonsumsi buah-buahan Damaskus. Ketika ditanya tentang alasannya, beliau menjawab,"Di Damaskus terdapat banyak tanah wakaf dan tanah berkepemilikan yang pemiliknya di bawah cekalan undang-undang. Semua itu tidak boleh dikelola kecuali untuk maslahat umum. Sementara pengurusan terhadap tanah-tanah tersebut menggunakan sistem musaqat yang di dalamnya terdapat ikhtilaf di antara para ulama. Adapun yang memperbolehkannya menetapkan bahwa syaratnya adalah untuk kemaslahatan anak-anak yatim dan orang-orang yang dihukum cekal. Sementara orang-orang tidak melakukannya kecuali dengan sistem pembagian satu bagian perseribu dari hasil buah-buahan untuk pemilik. Bagaimana aku akan merasa tenang dengan kehalalannya?!"Beliau lebih memilih tinggal di Madrasah Ar-Rawāḥiyyah daripada madrasah-madrasah lainnya karena dibangun oleh sebagian pengusaha.Dahulu Madrasah Dārul-Ḥadīṡ memberikan gaji besar kepada pengajar di dalamnya, namun beliau tidak mengambilnya sedikit pun. Melainkan beliau tabung di pengelola madrasah, setiap setelah satu tahun beliau pergunakan gaji yang ditabung tersebut untuk membeli tanah lalu diwakafkan ke Dārul-Ḥadīṡ. Atau beliau membeli kitab-kitab lalu mewakafkannya ke perpustakaan madrasah. Beliau tidak pernah mengambil untuk digunakan pada yang lainnya sedikit pun.Beliau tidak menerima hadiah ataupun pemberian dari siapa pun, kecuali beliau butuh sesuatu dan datang dari orang yang diyakini kesalehannya.Beliau tidak menerima pemberian apa pun kecuali dari kedua orangtuanya atau kerabatnya. Dahulu ibunya senantiasa mengirimkan pakaian untuk beliau pakai, sedangkan ayahnya mengirimkan makanan. Beliau selalu tidur di kamar tempat tinggalnya ketika awal mula datang ke Damaskus, yaitu di Madrasah Ar-Rawāḥiyyah. Beliau tidak pernah meminta lebih dari itu sedikit pun.3- Nasihat Beliau kepada Penguasa. Dalam diri An-Nawawiy terkumpul sifat-sifat ulama nan pemberi nasihat yang berjihad di jalan Allah dengan lisannya serta menegakkan kewajiban amar makruf nahi mungkar. Beliau senantiasa tulus dalam menyampaikan nasihatnya,tidak memiliki tujuan dan kepentingan pribadi apa pun. Beliau juga seorang pemberani yang tidak takut terhadap celaan siapa pun di jalan Allah.Beliau seringkali memiliki dalil dan hujah kuat untuk mendukung pernyataannya.

Dahulu, orang-orang selalu meminta pertolongan kepadanya dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang sulit dan sukar, serta dalam meminta fatwa. Beliau menyambut mereka secara terbuka dan berusaha menyelesaikan permasalahan mereka, seperti dalam kasus penembokan perkebunan di Syam berikut:

Ketika Raja Aẓ-Ẓāhir Baibars datang dari Mesir ke Damaskus setelah perang melawan Tatar dan mengusir mereka dari negeri Syam, petugas baitul-māl memberi laporan bahwa banyak di antara perkebunan di Syam adalah milik negara, sehingga Raja memerintahkan agar dibuatkan tembok serta mewajibkan orang-orang yang mengklaim memilikinya untuk membuktikan kepemilikannya serta memperlihatkan surat-suratnya.Maka orang-orang pun datang mengadu kepada Syekh (An-Nawawiy) di Dārul-Ḥadīṡ, lalu beliau menulis surat kepada Raja yang di antara isinya:"Penembokan terhadap tanah milik umat Islam ini telah mengakibatkan berbagai macam mudarat yang tidak bisa diungkapkan. Mereka diminta untuk membuktikan sesuatu yang bukan kewajibannya. Penembokan ini tidak sah menurut siapa pun dari kalangan ulama umat Islam. Tetapi, siapa yang sesuatu ada di tangannya maka itu adalah miliknya dan tidak sah untuk dilawan ataupun diwajibkan membuktikannya."Sehingga Sultan marah akibat keberanian Imam An-Nawawiy kepada dirinya dan memerintahkan agar gajinya diputus serta diturunkan dari jabatannya. Maka orang-orang pun berkata kepada Raja, "Syekh (An-Nawawiy) tidak memiliki gaji dan tidak pula jabatan."Ketika Syekh melihat penulisan surat tidak mendatangkan hasil, beliau pergi sendiri dan menghadap kepada Sultan lalu memperingatkannya dengan kata-kata yang keras, sampai-sampai Sultan hendak memukulnya. Tetapi Allah memalingkan hatinya dari hal itu dan melindungi Syekh. Sultan kemudian membatalkan perintah penembokan tersebut dan Allah selamatkan manusia dari dampak buruknya.

 Kematian beliau:

Pada tahun 676 H beliau pulang ke Nawā setelah mengembalikan kitab-kitab wakaf yang beliau pinjam, dan menziarahi kubur guru-gurunya; beliau mendoakan mereka dan menangis, serta setelah mengunjungi rekan-rekannya yang masih hidup dan berpamitan pada mereka.Setelah mengunjungi kedua orangtuanya, beliau berziarah ke Baitulmaqdis dan daerah Al-Khalīl (tempat makam Nabi Ibrahim), lalu pulang ke Nawā. Di Nawā beliau jatuh sakit dan meninggal pada tanggal 24 Rajab.Ketika berita kematian beliau sampai di Damaskus, kaum muslimin di sana dan sekitarnya langsung berduka cita dan sangat berkabung karenanya. Pimpinan para hakim, 'Izzuddīn Muhammad bin Aṣ-Ṣā`ig dan sejumlah rekannya berangkat menuju Nawā untuk menyalatkannya di kuburnya, dan adapun sebagian lainnya menyatakan duka cita untuknya.Demikianlah lembaran hidup salah satu tokoh umat Islam berakhir setelah meniti beratnya perjuangan menuntut ilmu. Beliau meninggalkan bagi umat Islam harta kekayaan berupa ilmu. Dunia Islam senantiasa mengenang kebaikan beliau dan berdoa kepada Allah -Ta'ālā- agar beliau mendapat rahmat dan rida-Nya.

Semoga Allah merahmati Imam An-Nawawiy dengan rahmat yang luas dan mengumpulkan beliau bersama orang-orang yang Allah berikan nikmat, (yaitu) para nabi, orang-orang sidik, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang saleh; sebab mereka itulah teman yang sebaik-baiknya [1].

 Kedudukan Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn di Kalangan Ulama

- Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn adalah kitab agung; para ulama banyak mewasiatkan untuk dipelajari sehingga tersebar di berbagai negeri dan manfaatnya merata di kalangan umat Islam.Dan yang demikian itu kembali ke beberapa faktor, yang terpenting ada dua:Pertama: keikhlasan penyusunnya, Syekh An-Nawawiy -raḥimahullāh-. Buah dari keikhlasan beliau adalah Allah menjadikan kitab beliau diberkahi dan bermanfaat.Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- pernah mengatakan,"Seseorang akan mendapatkan pencapaian sesuatu sesuai kadar niatnya."Kedua: besarnya kebutuhan umat terhadap sebuah buku yang merangkum tema akhlak, adab, serta targīb dan tarhīb seperti Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn.Hal itu karena membahas tema-tema ini termasuk yang diterima oleh fitrah yang lurus dan diterima baik oleh manusia.Sehingga kitab ini mendapatkan tempat yang besar di hati mereka, sampai-sampai dianggap seperti kesehatan bagi badan dan matahari bagi dunia; keduanya tidak bisa tergantikan.Hal ini ditegaskan oleh ucapan penulis sendiri,

"Aku berharap jika penyusunan buku ini telah selesai agar menjadi pemandu bagi orang yang menelaahnya kepada kebaikan, serta penghalang dirinya dari perbuatan-perbuatan buruk dan yang membinasakan."

- Al-Ḥāfiẓ Aż-Żahabiy (wafat: 748 H) berkata,

"Kita memohon kepada Allah ilmu yang bermanfaat. Tahukah Anda apa ilmu yang bermanfaat? Yaitu ilmu yang Allah turunkan dalam Al-Qur`ān dan yang telah dijelaskan oleh Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melalui ucapan dan perbuatannya, serta tidak ada larangannya. Beliau bersabda,"Siapa yang tidak suka dengan Sunnahku maka ia bukan golonganku."Maka, wajib bagimu -wahai Saudaraku- untuk menadaburi Kitab Allah serta membaca Aṣ-Ṣaḥīḥain, Sunan An-Nasā`iy, Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn dan Al-Ażkār karya An-Nawawiy; niscaya Anda beruntung dan sukses." (Siyar A'lām An-Nubalā`: 19/340)

- Al-'Allāmah Ibnul-Wazīr Al-Yamāniy (wafat: 840 H) berkata,

"Bagian kedua ilmu: ilmu yang dibutuhkan dalam agama. Ia terbagi dua; pertama, bagian yang tidak ada ikhtilaf tentang kebaikannya, semisal nas-nas hadis dan ijmak tentang pembahasan makna Islam, iman yang wajib, dan ilmu zuhud.Buku paling bagus yang membahas tentang ini adalah Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn karya An-Nawawiy, karena hanya berisikan hadis-hadis yang kuat, dan termasuk buku yang aman dari bidah."(Īṡār Al-Ḥaqq 'alā Al-Khalq, hal. 33)- Al-Ḥāfiẓ As-Sakhāwiy (wafat: 902 H) berkata,"Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn adalah buku yang agung; tidak ada yang tidak membutuhkannya."(Tarjamah An-Nawawiy, hal. 12)

- Syekh Ibnu 'Allān Aṣ-Ṣiddīqiy (wafat: 1057 H) berkata,

"Beliau (An-Nawawiy) telah mengumpulkan semua yang dibutuhkan oleh orang yang beribadah kepada Allah dalam semua keadaan; mencakup semua akhlak yang sepatutnya diterapkan serta ucapan dan perbuatan yang harus dipegang teguh. Semua itu disarikan dari aliran Al-Qur`ān dan Sunnah Nabi serta permata-permata itu dipindahkan dari logam-logam yang bercahaya." (Muqaddimah Dalīl Al-Fāliḥīn: 1/4)

Semua ulama kontemporer juga sepakat mewasiatkan untuk mempelajari kitab Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn.

Di antaranya:

Wasiat Syekh Faiṣal bin Mubārak An-Najdiy (wafat: 1376 H) ketika beliau memberikan wasiat kepada penuntut ilmu,

"Agar penuntut ilmu membaca kitab Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn; menghafal bagian akhir kitab dimulai dari Kitab Al-Faḍā`il hingga akhir kitab. Karena kitab ini mengumpulkan perintah-perintah dan larangan, juga mendidik orang yang membacanya serta memotivasinya untuk melakukan ketaatan."

(Waṣiyah Jāmi'ah, hal. 76)

- Syekh Syu'aib Al-Arnā`ūṭ -raḥimahullāh- berkata,

"Di antara kitab paling bagus yang pernah ditulis adalah Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn. Ini merupakan kitab hadis yang paling luas dan paling banyak beredar. Kepopulerannya merata di seluruh dunia dan menempati kedudukan tinggi di dalam hati para ulama, penulis, khatib, dan masyarakat umum."(Muqaddimah Taḥqīq Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn, hal. 6)

Secara umum, semua ulama dan penuntut ilmu yang memberikan perhatian kepada kitab ini dengan melakukan taḥqīq (suntingan) dan takhrīj (penilaian hadis-hadis)nya bersepakat tentang keurgenan kedudukan kitab ini serta kebesaran faedahnya.

Kita memohon kepada Allah Yang Mahaagung untuk mengangkat kedudukan penyusunnya dalam tingkatan surga, memberikan pahala besar yang sempurna, serta menganugerahkan kita dan kaum muslimin husnulkhatimah di atas keteguhan memurnikan tauhid dan mengikuti Sunnah.

Terakhir, saya hanya bisa menghaturkan Alḥamdulillāhi rabbil-'ālamīn; segala puji hanya bagi Allah Tuhan seluruh alam.

 Mukadimah Penulis, Imam An-Nawawiy -Raḥimahullāh Ta'ālā-

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa, Yang Mahamulia lagi Maha Pengampun; Yang memasukkan malam ke dalam siang sebagai peringatan kepada orang-orang yang memiliki hati dan mau berpikir serta petunjuk bagi orang-orang yang berakal dan mau mengambil pelajaran. Dialah yang telah menyadarkan orang-orang yang Dia pilih dari makhluk-Nya lalu menjadikan mereka zuhud terhadap dunia ini serta menyibukkan mereka dengan rasa takut kepada-Nya, terus-menerus memikirkan tanda-tanda kebesaran-Nya, dan senantiasa mengambil pelajaran dan berzikir kepada-Nya; Allah beri mereka taufik untuk rutin melakukan ketaatan kepada-Nya, menyiapkan bekal untuk negeri akhirat, juga waspada terhadap apa yang akan mendatangkan murka-Nya dan yang menjerumuskan ke lembah kebinasaan, serta menjaga hal itu sesuai perubahan kondisi dan keadaan.Aku memuji-Nya dengan pujian yang paling tinggi dan luhur, yang paling luas dan berkah.Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Yang Mahabaik dan Mahamulia, Yang Maha Pengasih lagi Penyayang.Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya serta kekasih-Nya, yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus dan yang mengajak kepada agama yang benar.Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada beliau dan seluruh nabi, kepada semua keluarga mereka, dan orang-orang saleh.Amabakdu:  Allah -Ta'ālā- telah berfirman,"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menginginkan sedikit pun rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku."(QS. Aż-Żāriyāt: 56-57)Ini adalah pernyataan tegas bahwa mereka diciptakan untuk beribadah. Mereka berkewajiban untuk memerhatikan tujuan mereka diciptakan dan berpaling dari kemewahan dunia dengan menerapkan sikap zuhud. Karena dunia adalah negeri yang akan berakhir, bukan tempat yang kekal; kendaraan untuk lewat, bukan tempat tinggal untuk bergembira; serta tempat berjalan untuk berpisah bukan tempat yang abadi.Oleh karena itu, penduduk dunia yang pintar adalah orang-orang yang ahli ibadah, dan manusia yang paling cerdas dalam kehidupan dunia ini adalah orang-orang yang zuhud.Allah -Ta'ālā- berfirman,"Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan menjadi cantik, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam dan siang, lalu Kami jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir."(QS. Yūnus: 24)Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Sungguh benar orang yang mengatakan,mereka (ahli zuhud) meninggalkan dunia dan takut fitnah."Sungguh Allah memiliki hamba-hamba cerdas,bahwa ia bukanlah tempat tinggal abadi manusia,Mereka selalu memerhatikannya, maka tatkala mereka mengetahuiamal saleh di dalamnya sebagai perahu (yang menyampaikan mereka ke akhirat)."mereka menganggapnya sebagai lautan, dan menjadikanBila keadaan dunia ini seperti yang aku terangkan, dan tujuan kita diciptakan seperti yang aku paparkan, maka kewajiban kita sebagai hamba untuk membawa dirinya di jalan orang-orang pilihan, mengikuti jalan orang-orang yang cerdas dan berakal, serta bersiap kepada yang telah aku sebutkan, juga memerhatikan apa yang telah aku ingatkan.Jalan paling benar untuk hal itu adalah menerapkan adab menurut hadis-hadis sahih dari Nabi kita, junjungan orang-orang pertama dan yang terakhir, yang paling mulia di antara orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada beliau dan kepada semua nabi-nabi lainnya.Allah -Ta'ālā- telah berfirman,"Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan."(QS. Al-Mā`idah: 2)Juga disebutkan dalam sahih dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,"Allah senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya."Beliau juga bersabda,"Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya."Beliau juga bersabda,"Siapa yang mengajak kepada suatu petunjuk, baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, yang demikian itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun."Beliau pernah bersabda kepada Ali -raḍiyallāhu 'anhu-,"Demi Allah, sungguh jika satu orang diberi hidayah oleh Allah melalui dirimu maka itu lebih baik bagimu dibandingkan unta-unta merah (yang paling berharga)."

Sebab itu, aku bertekad untuk mengumpulkan secara ringkas hadis-hadis sahih yang berisikan pedoman yang akan menerangkan jalan bagi pembacanya kepada akhirat, menampung adab-adab yang batin dan lahir, yang mengumpulkan hadis-hadis targīb dan tarhīb serta adab-adab ahli ibadah lainnya; berupa hadis-hadis tentang zuhud, pembinaan jiwa, pembersihan akhlak, kesucian hati dan obatnya, penjagaan anggota badan dan penghilang keburukannya, dan tujuan para ahli ibadah lainnya.

Dalam buku ini saya berkomitmen untuk tidak menyebutkan kecuali hadis yang sahih dan jelas, dengan menyandarkannya ke kitab-kitab sahih yang terkenal. Saya akan mengawali tema bab dengan ayat-ayat mulia dari Al-Qur`ān Al-'Azīz dan menambahkan catatan-catatan penting pada kosa kata yang perlu diketahui harakatnya atau penjelasan kalimat yang masih samar maknanya.Jika di akhir hadis aku mengatakan: Muttafaq 'Alaih, maka maksudnya diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.Aku berharap jika buku ini telah selesai penyusunannya bisa menjadi pemandu bagi orang yang menelaahnya kepada kebaikan serta penghalang dirinya dari perbuatan-perbuatan buruk dan kebinasaan.Aku juga meminta kepada setiap Saudaraku yang mengambil satu faedah dari buku ini untuk mendoakanku, kedua orangtuaku, guru-guruku, dan semua orang yang kami cintai serta semua kaum muslimin.Hanya kepada Allah Yang Mahamulia aku bertumpu. Hanya kepada-Nya aku berserah dan bersandar. Cukuplah Allah bagiku; Dia adalah sebaik-baik penolong.Tidak ada daya dan kekuata kecuali dengan izin Allah Yang Mahaagung lagi Maha Bijaksana.

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

 1- BAB IKHLAS DAN MENGHADIRKAN NIAT DI SEMUA AMALAN DAN UCAPAN BAIK YANG TAMPAK ATAUPUN TERSEMBUNYI

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama yang lurus, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang benar."(QS. Al-Bayyinah: 5)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu."(QS. Al-Ḥajj: 37)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Katakanlah, 'Jika kamu sembunyikan apa yang ada dalam hati kamu atau kamu nyatakan, Allah pasti mengetahuinya.'"(QS. Āli 'Imrān: 29)

Pelajaran dari Ayat:

1) Niat adalah keinginan, dan tempatnya di hati; niat tidak bertempat di lisan dalam semua perbuatan;karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang merupakan teladan kita semua melakukan wudu, salat, puasa, sedekah, dan haji dengan tidak pernah melafalkan niatnya.2) Seorang hamba wajib menghadirkan niat di semua ibadah; yaitu meniatkan niat ibadah, dan meniatkannya untuk Allah, bahwa dia melakukannya dalam rangka mengimplementasikan perintah Allah -Ta'ālā-.Inilah niat yang paling sempurna. Misalnya, ketika berwudu, ia meniatkan bahwa ia berwudu karena Allah, dan dalam rangka melaksanakan perintah Allah -Ta'ālā-.1/1- Amīrul-Mu`minīn Abu Ḥafṣ Umar bin Al-Khaṭṭāb bin Nufail bin Abdul-'Uzzā bin Riyāḥ bin Abdullah bin Qurṭ bin Razāḥ bin 'Adī bin Ka'ab bin Lu`ai bin Gālib Al-Qurasyiy Al-'Adawiy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,“Sesungguhnya semua amalan itu ‎tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang (balasan dari) apa yang ‎diniatkannya. Maka siapa yang niat hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada ‎Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin dia dapatkan, atau karena ‎seorang wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang dia tuju."(Muttafaq 'Alaih)(HR. Dua imam ahli hadis: Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mugīrah bin Bardizbah Al-Ju'fiy Al-Bukhāriy,dan Abul-Ḥusain Muslim bin Al-Ḥajjāj bin Muslim Al-Qusyairiy An-Naisābūriy-semoga Allah meridai mereka berdua- dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab hadis yang paling sahih)

Kosa Kata Asing:

اَلْهِجْرَةُ (Al-Hijrah): berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam.

يَنْكِحُهَا (yankiḥuhā): menikahinya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Hadis ini menjadi tolok ukur bagi seseorang untuk mengukur semua amalnya yang bersifat batin; apakah di dalamnya dia ikhlas karena Allah -Ta'ālā- ataukah tidak?

2) Perbedaan manusia dalam amal perbuatan sesuai perbedaan niat mereka; sebagian orang niatnya mencapai puncak keikhlasan dan mutāba'ah (sesuai Sunnah) dalam perbuatan-perbuatan baik dan amal saleh, dan sebagian yang lain niatnya di bawah itu.

3) Berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam wajib bagi setiap orang yang mampu, sebagaimana kondisi orang-orang mukmin terdahulu dari kalangan sahabat yang mulia yang berhijrah dari Mekah ke Madinah sebelum Mekah menjadi negeri Islam dan iman.

Faedah Tambahan:

Hijrah berlaku pada perbuatan, pelaku (orang), dan tempat.

Pertama: hijrah perbuatan; yaitu seseorang meninggalkan berbagai macam maksiat yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dalam hadis:"Orang yang hijrah adalah yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah."(HR. Bukhari)

Kedua: hijrah pelaku (orang); seperti berhijrah meninggalkan orang yang terang-terangan melakukan maksiat, jika meninggalkannya memiliki maslahat dan manfaat, misalnya dia akan meninggalkan larangan Allah, maka dia harus ditinggalkan.

Ketiga: hijrah tempat; yaitu seseorang berpindah dari daerah yang terdapat banyak maksiat dan dosa ke daerah yang tidak ada maksiatnya atau ada tapi sedikit, karena seseorang biasanya terpengaruh oleh kondisi lingkungan sekitarnya, baik pengaruh baik ataupun buruk.

Faedah Tambahan:

Apa hukumnya seorang muslim melakukan safar ke negeri orang kafir?

Perjalanan seorang muslim ke negeri orang kafir tidak diperbolehkan, yaitu haram, kecuali jika terpenuhi syarat-syarat yang khusus, maka diperbolehkan; yaitu:

1) Muslim tersebut memiliki ilmu agama yang kuat untuk menolak syubhat kekafiran dari dirinya; karena bisa jadi orang-orang kafir akan menyodorinya permasalahan-permasalan yang rumit dan sulit tentang perkara agama, Al-Qur`ān, Rasulullah, dan lain sebagainya, lalu dia tidak mengetahui jawabannya.

2) Dia memiliki kekuatan agama dan ketakwaan yang akan melindunginya dari berbagai maksiat haram yang tersebar di sana, seperti khamar, zina, begadang yang haram, dan lain sebagainya.

3) Dia memang sangat butuh untuk melakukan perjalanan tersebut. Adapun sebatas pergi untuk rekreasi maka tidak diperbolehkan. Misalnya; dia melakukan safar untuk berobat dan belajar ilmu yang tidak didapatkan di negeri kaum muslimin, atau bisnis yang bermanfaat untuk dirinya dan kaum muslimin secara umum.

Di antara perjalanan yang dianjurkan ataupun wajib adalah perjalanan para dai dan ulama jika dilakukan dengan tujuan berdakwah kepada agama Allah -Ta'ālā-.

2/2- Ummul-Mu`minīn Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, Rasulullah ṣallallāhu -'alaihi wa sallam- bersabda,“Ada satu pasukan hendak menyerang Kakbah, tatkala berada di sebuah tanah yang lapang mereka dibenamkan (seluruhnya ke dalam bumi) dari yang paling depan hingga yang paling akhir dari mereka.”Aisyah berkata, "Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana mereka semua dari yang terdepan hingga yang terakhir dibenamkan sementara di antara mereka ada para pedagang biasa (yang tak bersalah) dan yang tidak termasuk dari golongan mereka?'" Beliau bersabda,"Mereka dibenamkan semuanya dari yang terdepan hingga yang terakhir, kemudian mereka dibangkitkan sesuai niatnya masing-masing."(Muttafaq 'Alaih, dan ini redaksi Bukhari)

Kosa Kata Asing:

بَيْدَاءَ (baidā`): tanah lapang

يُخْسَفُ (yukhsafu): bila dikatakan "خُسِفَتْ بِهِمُ الأَرْضُ" (khusifat bihimul-arḍ), maka artinya; mereka hilang dan terbenam ke dalam bumi.

أَسْوَاقُهُمْ (aswāquhum): orang-orang yang datang untuk berdagang.

Pelajaran dari Hadis:

1) Orang yang bergabung bersama pelaku kebatilan dan kezaliman akan disamakan dalam siksaan, karena siksaan bersifat umum.

2) Hadis ini menyamai sekaligus menjelaskan makna hadis:"Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya."Yaitu setiap orang akan diberi balasan sesuai niatnya.3) Suatu azab jika terjadi akan menimpa orang saleh dan pelaku maksiat. Lalu di hari Kiamat kelak semuanya akan dibangkitkan sesuai niat mereka. Sebab itu, orang-orang beriman harus saling mengingatkan di antara mereka tentang kebaikan agar azab tidak diturunkan kepada mereka.Karena amal ketaatan adalah sebab dihilangkannya bala dan azab, sedangkan perbuatan maksiat adalah sebab diturunkannya azab dan musibah.3/3- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidak ada hijrah setelah penaklukan Mekah, tetapi yang ada hanya jihad dan niat. Jika kalian diperintahkan untuk berangkat berjihad, maka penuhilah."(Muttafaq 'Alaih)

Maksudnya: tidak ada lagi hijrah dari Mekah karena telah menjadi negeri Islam.

Kosa Kata Asing:

اُسْتُنْفِرْتُمْ (ustunfirtum): kalian diminta segera berangkat; yaitu keluar untuk berjihad di jalan Allah -Ta'ālā-.

Pelajaran dari Hadis:

1) Adanya kabar gembira bagi orang beriman bahwa Mekah Mukarramah tidak akan kembali menjadi negeri kafir, melainkan akan tetap menjadi negeri Islam hingga terjadi kiamat.

2) Seorang muslim hendaknya selalu membela agama Allah dan berjihad melawan musuh-musuh Allah agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi; maka dia akan membela negaranya karena merupakan negeri Islam; dia membelanya untuk menjaga Islam dan membela kehormatan kaum muslimin.

Faedah Tambahan:

- Maksud dari sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Tidak ada hijrah setelah penaklukan Mekah" ditujukan kepada orang yang belum berhijrah ke tempat beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Adapun hijrah dari negeri kafir maka tetap disyariatkan hingga hari kiamat,karena seorang muslim diperintahkan untuk berhijrah ke negeri yang di sana dia bisa menegakkan syiar agama Allah serta menjaga agamanya. Allah -Ta'ālā- berfirman,"Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, 'Bagaimana kamu ini?' Mereka menjawab, 'Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).' Mereka (para malaikat) bertanya, 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?' Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali."(QS. An-Nisā`: 97)

- Kapan hukum jihad menjadi fardu ain?

Yaitu dalam beberapa keadaan:

1) Bila penguasa memerintahkan semua orang untuk berangkat berjihad fi sabilillah.

2) Bila musuh telah datang ke suatu negeri maka jihad menjadi fardu ain; setiap penduduk yang mampu wajib berperang karena perang di sini untuk membela kehormatan mereka.

3) Bila dua pasukan -pasukan kafir dan pasukan Islam- telah berhadap-hadapan maka tidak ada yang boleh mundur;"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang akan menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)."(QS. Al-Anfāl: 15)Dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah menetapkan bahwa salah satu dari tujuh dosa yang membinasakan adalah"melarikan diri saat berkecamuknya perang."(Muttafaq 'Alaih)

4) Bila seseorang dibutuhkan dalam jihad dan tidak ada orang lain yang bisa melakukan tugas tersebut maka dia secara personal wajib berjihad; seperti kondisi seseorang yang dibutuhkan karena memiliki keahlian pada senjata tertentu, maka dia secara personal wajib berjihad.

4/4- Abu Abdillah Jabir bin Abdullah Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Kami pernah bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam sebuah peperangan lalu beliau bersabda,"Sungguh di Madinah terdapat beberapa laki-laki yang tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan atau melewati sebuah lembah melainkan mereka menyertai (pahala) kalian; mereka tertahan oleh sakit."Dalam riwayat lain:"melainkan mereka menyertai kalian dalam pahala."(HR. Muslim)Juga diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Kami pulang dari perang Tabuk bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu beliau bersabda,"Sungguh ada sejumlah orang yang kita tinggalkan di Madinah; tidaklah kita melewati suatu jalan ataupun lembah kecuali mereka menyertai kita; mereka tertahan oleh uzur."

Pelajaran dari Hadis:

1) Orang yang keluar berperang dan berjihad di jalan Allah mendapatkan pahala perjalanannya. Ini adalah karunia Allah karena menjadikan pahala sarana sebuah perbuatan seperti pahala perbuatan tersebut; sebab sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuan.

2) Bila seseorang telah berniat melakukan amal saleh, kemudian dia terhalangi darinya, maka ditulis baginya pahala yang dia niatkan.

5/5- Abu Yazīd Ma'an bin Yazīd bin Al-Akhnas (dia, ayah, dan kakeknya adalah sahabat Nabi) -raḍiyallāhu 'anhum- berkata, Ayahku, Yazid mengeluarkan sejumlah dinar untuk disedekahkan lalu menitipkannya kepada seorang laki-laki di masjid, maka aku datang dan mengambilnya lalu membawanya pulang ke ayahku; dia berkata, "Demi Allah, bukan kamu yang kuniatkan." Maka aku mengadukannya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau bersabda,"Engkau mendapatkan apa yang telah engkau niatkan wahai Yazīd, sedangkan engkau mendapatkan apa yang telah engkau ambil, wahai Ma'an."(HR. Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Amal perbuatan tergantung niatnya; seseorang akan dituliskan baginya pahala apa yang dia niatkan, sekalipun realitasnya berbeda dari yang dia niatkan.

2) Seseorang diperbolehkan bersedekah terang-terangan jika ada maslahat dalam menampakkan sedekah tersebut.

3) Seorang ayah boleh memberikan zakat kepada anaknya jika anak tersebut termasuk yang berhak menerima zakat, dengan catatan sang ayah tidak bertujuan menggugurkan kewajiban menafkahi anaknya dengan pemberian tersebut.

6/6- Abu Isḥāq Sa'ad bin Abi Waqqāṣ Mālik bin Uhaib bin 'Abdu Manāf bin Zuhrah bin Kilāb bin Murrah bin Ka'ab bin Lu`aiy bin Gālib Al-Qurasyiy Az-Zuhriy -raḍiyallāhu 'anhu- (salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin dengan surga) -raḍiyallāhu 'anhum- berkata,Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang menjengukku di tahun Haji Wadak karena sakit parah yang menimpaku. Aku berkata, "Wahai Rasulullah, sakitku sudah parah sebagaimana Anda lihat, sedangkan aku orang yang berharta, dan tidak ada yang akan mewarisi hartaku kecuali hanya seorang anak perempuanku. Apakah aku boleh menyedekahkan dua pertiga hartaku?" Beliau menjawab, "Tidak." Aku berkata, "Separuhnya, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Tidak." Aku berkata, "Sepertiga?" Beliau menjawab, "(Ya) sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya jika engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, lalu mereka meminta-minta pada manusia. Sungguh, tidaklah engkau mengeluarkan satu nafkah karena menginginkan wajah Allah kecuali engkau diberi pahala karena itu, bahkan hingga nafkah (makanan) yang engkau suapkan ke mulut istrimu." Aku berkata, "Wahai Rasulullah, apakah aku akan ditinggal (di Mekah) setelah (kepulangan) sahabat-sahabatku (ke Madinah)?" Beliau menjawab, "Tidaklah engkau ditinggalkan (di Mekah) lalu melakukan suatu amalan karena mengingkan wajah Allah melainkan derajat dan kedudukanmu akan bertambah naik. Semoga engkau diberi usia panjang hingga orang-orang (mukmin) bisa memperoleh manfaat darimu dan yang lainnya (kafir) mendapatkan mudaratmu. Ya Allah, lanjutkanlah hijrah sahabat-sahabatku dan jangan Engkau kembalikan mereka pada kesesatan (atau negeri yang mereka tinggalkan), kecuali orang yang malang, Sa'ad bin Khaulah (yang terlanjur wafat di Mekah)." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyampaikan duka untuknya karena ia meninggal di Mekah.(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

يَتكَفَّفُونَ (yatakaffafūna): mereka mengemis dengan mengangkat kedua tangan.

عَالَةٌ ('ālah): miskin. Ini bentuk jamak dari "عَائِلٌ" ('ā`il).

أُخَلَّفُ بَعْدَ أَصْحَابِي؟ (ukhallafu ba'da aṣḥābī?): apakah aku akan pulang lebih akhir dari sahabat-sahabatku?

تُخَلَّفُ (tukhallafu): dipanjangkan umurnya di dunia.

يَرْثِيْ لَهُ (yarṡī lahu): berduka atas keadaannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Indahnya akhlak Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terhadap sahabat-sahabatnya; beliau senantiasa berkunjung dan mencari tahu keadaan mereka serta mendoakan mereka.

2) Perintah dan anjuran menjenguk orang yang sakit karena di dalamnya terdapat petunjuk bagi yang berkunjung dan yang sakit.

3) Dianjurkan kepada setiap orang agar bermusyawarah dengan orang yang berilmu; yaitu Sa'ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- meminta saran kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika berkeinginan untuk mengalokasikan sebagian hartanya. Ini termasuk cara untuk menguatkan hubungan antara masyarakat dengan ulama.

4) Tidaklah seseorang mengerjakan suatu amalan karena menginginkan wajah Allah kecuali kemuliaan dan derajatnya akan bertambah tinggi, termasuk menafkahi keluarga dan istrinya serta kepada dirinya sendiri.Karena itu, hendaklah seorang hamba menghadirkan niat ibadah kepada Allah pada semua yang ia infakkan agar mendapatkan pahala sempurna.7/7- Abu Hurairah Abdurrahman bin Ṣakhr -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh (fisik) kalian, tidak pula kepada bentuk rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Standar cinta dan rida adalah pada amal saleh dan niat ikhlas; keduanya adalah tolok ukur diterimanya seorang hamba di sisi Tuhannya. Boleh jadi amal yang kecil bisa menjadi besar nilainya karena niat, dan sebaliknya amal yang banyak bisa menjadi kecil nilainya karena niat.

2) Di antara indikasi adanya taufik Allah kepada hamba: dia berusaha memperbaiki niat dan menyucikan hatinya dengan amal saleh.

8/8- Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang laki-laki yang berperang agar dikatakan berani, berperang karena fanatisme, dan berperang karena pamer; siapakah yang dianggap berperang di jalan Allah? Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab,"Siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, maka dialah yang berperang di jalan Allah."(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

حَمِيَّةً (ḥamiyyah): sikap fanatik kepada suku atau negerinya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan perbedaan manusia dalam persoalan niat ketika perang; yang paling baik niatnya adalah yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi.

2) Jalan Allah ada satu, sedangkan jalan setan ada banyak; orang yang mendapat petunjuk adalah yang diberikan taufik oleh Allah -Ta'ālā- untuk menempuh jalan-Nya, sebagaimana firman-Nya:"Bahwa inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya."(QS. Al-An'ām: 153)9/9- Abu Bakrah Nufai' bin Al-Ḥāriṡ Aṡ-Ṡaqafiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Apabila dua orang muslim berhadap-hadapan dengan pedangnya, maka yang membunuh dan yang dibunuh sama-sama berada dalam neraka."Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, ini yang membunuh (jelas masuk neraka). Lalu ada apa dengan yang dibunuh?" Beliau bersabda,"Karena dia sangat ingin membunuh saudaranya."(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Mengingatkan kaidah besar "amal perbuatan tergantung niatnya"; yaitu orang ini ketika telah berniat untuk membunuh saudaranya, dan telah melakukan upaya untuk mewujudkannya, tetapi hal itu tidak terwujud karena dikalahkan oleh lawannya, maka dia sama seperti lawannya yang melakukan pembunuhan.

2) Mengingatkan perbedaan antara orang yang membunuh karena membela diri untuk menghalangi orang yang zalim, dan antara orang yang bertarung dengan niat membunuh rekannya.

3) Peringatan keras terhadap besarnya dosa membunuh; sebab membunuh adalah salah satu sebab masuk neraka.

4) Memperlihatkan cara para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- dalam menuntut ilmu; yaitu mereka membawa permasalahan kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu beliau memberikan jawabannya.Tidak ada di dalam Al-Qur`ān maupun Sunnah sesuatu yang samar kecuali ada penjelasannya sejak awal atau lewat jawaban pertanyaan seputarnya.10/10- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,“Salat seseorang secara berjemaah lebih banyak pahalanya daripada salat sendirian di pasar atau di rumahnya, dengan selisih dua puluh sekian derajat. Hal ini karena ketika seseorang menyempurnakan wudunya kemudian pergi ke masjid karena dorongan salat; tidak ada niat lain kecuali salat, maka tidaklah ia melangkah satu langkah kecuali diangkat baginya satu derajat dan dihapuskan darinya satu dosa, sampai dia masuk masjid. Apabila ia telah masuk ke dalam masjid, ia dianggap mengerjakan salat selama ia menunggu hingga salat dilaksanakan. Para malaikat mendoakan kalian yang senantiasa duduk di tempat salatnya, mereka berdoa, 'Ya Allah, rahmatilah dia. Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya. Ya Allah, terimalah tobatnya' selama ia tidak berbuat kejelekan (mengganggu orang lain) dan tidak berhadas di masjid.”(Muttafaq 'Alaih, dan ini redaksi Muslim)

Ucapan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-: "يَنْهَزُه" (yanhazuhu) dengan memfatahkan huruf "yā`" dan "hā`", dan dengan huruf "zāy", bermakna: mengeluarkannya.

Kosa Kata Asing:

بِضْعًا (biḍ'an), dengan mengkasrahkan huruf "bā`": nama bilangan dari tiga hingga sepuluh.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan menghadiri salat berjemaah di masjid.

2) Anjuran berwudu dari rumah ketika menghadiri salat berjemaah agar pahalanya lebih besar.

3) Diperhitungkannya niat untuk mendapat pahala yang besar ini; siapa yang tidak menghadirkan niat ikhlas pahalanya berkurang.

4) Seorang hamba senantiasa dalam kebaikan selama ia menunggu kebaikan tersebut.

Faedah Tambahan:

Wahai Saudaraku yang semoga Allah memberimu taufik! Ketahuilah, salat berjemaah hukumnya fardu ain atas setiap muslim yang mendengar azan dan ia tidak memiliki uzur. Ada banyak dalil tentang kewajibannya, di antaranya; firman Allah -Ta'ālā-,"Dan apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu engkau hendak melaksanakan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu."(QS. An-Nisā`: 102)Di sini Allah mewajibkan salat berjemaah ketika kondisi perang meskipun adanya rasa takut. Maka ketika dalam kondisi aman dan damai tentu Dia lebih pantas mewajibkannya.

Sedangkan di dalam Sunnah telah ada kewajiban berjemaah atas laki-laki yang buta. Maka lantas bagaimana dengan orang yang dapat melihat?!

11/11- Abdullah bin 'Abbās bin 'Abdul-Muṭṭalib -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya -Tabāraka wa Ta'ālā-, Dia berfirman,"Sesungguhnya Allah telah mencatat kebaikan dan keburukan, kemudian telah menjelaskan yang demikian itu. Siapa yang meniatkan satu kebaikan lalu tidak bisa melakukannya, Allah menulisnya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Bila ia meniatkannya lalu melakukannya, Allah menulisnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan-kelipatan yang banyak. Tetapi, bila ia meniatkan satu keburukan lalu tidak jadi melakukannya, Allah menulisnya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Bila ia meniatkannya lalu melakukannya, Allah menulisnya sebagai satu keburukan.(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Niat yang baik akan mengantarkan pemiliknya kepada kebaikan.

2) Perbedaan pahala kebaikan didasarkan pada kadar keikhlasan dan mutāba'ah; semakin ikhlas seorang hamba kepada Allah dan berupaya lebih meneladani Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- maka ibadahnya akan semakin sempurna dan pahalanya semakin banyak.

3) Siapa yang meninggalkan perbuatan maksiat karena takut kepada Allah akan diberikan pahala atas hal itu, sebagaimana diterangkan dalam hadis, "Sungguh dia meninggalkannya semata karena-Ku."(HR. Muslim dari Abu Hurairah)

4) Di antara bentuk rahmat Allah -Ta'ālā- adalah bahwa Dia memberi balasan kepada pelaku maksiat atas dasar keadilan-Nya dan kepada pelaku ketaatan atas dasar kemurahan dan kebaikan-Nya.

12/12- Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tiga orang dari umat sebelum kalian pernah bepergian, hingga mereka harus bermalam di sebuah goa. Mereka pun masuk ke dalamnya. Tiba-tiba sebuah batu besar menggelinding dari gunung hingga menutup mereka di dalam goa itu. Mereka pun berkata, 'Sungguh, tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu besar ini kecuali jika kalian berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amal-amal saleh kalian.'Salah satu mereka berdoa, 'Ya Allah! Aku memiliki dua orang tua yang sudah tua; aku tidak pernah mendahulukan memberi minum keluargaku ataupun ternakku sebelum mereka. Suatu hari aku pergi jauh mencari kayu sehingga aku tidak pulang kecuali setelah mereka tidur. Maka aku membuatkan mereka minuman, dan ternyata aku menemukan mereka telah tidur. Tetapi aku tidak mau membangunkan mereka juga memberi minum keluarga ataupun ternakku sebelum mereka. Maka aku tetap diam dengan wadah di tanganku. Aku menunggu mereka bangun sampai fajar terbit. Sementara anak-anakku yang kecil berteriak menangis di kakiku. Maka keduanya bangun lalu meminum minuman mereka. Ya Allah! Bila aku melakukannya karena menginginkan rida-Mu, maka bukakanlah kami batu ini.' Maka batu tersebut terbuka sedikit; tetapi mereka belum bisa keluar darinya.Orang yang kedua berdoa, 'Ya Allah! Aku memiliki sepupu perempuan. Dia perempuan yang paling aku cintai (di sebagian riwayat: Aku teramat mencintainya seperti cinta paling besar laki-laki kepada perempuan). Kemudian aku menginginkan dirinya, tetapi dia menolakku. Hingga dia mengalami kesulitan di salah satu kemarau, dan dia pun datang kepadaku. Aku memberinya 120 dinar dengan syarat dia menyerahkan dirinya kepadaku. Dia pun menyanggupinya. Ketika aku telah leluasa melakukannya (di sebagian riwayat: ketika aku telah ada di antara dua kakinya), dia berkata, 'Takutlah kepada Allah! Janganlah kamu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar.' Maka aku meninggalkannya sekalipun dia adalah perempuan yang paling aku cintai, dan aku biarkan emas yang kuberikan kepadanya. Ya Allah! Bila aku melakukannya karena menginginkan rida-Mu maka bukalah dari kami apa yang menimpa kami.' Maka, batu tersebut terbuka; tetapi mereka belum bisa keluar darinya.Sedangkan orang yang ketiga berdoa, 'Ya Allah! Aku menyewa para pekerja dan memberikan upah mereka. Kecuali satu orang; dia meninggalkan haknya dan menghilang. Lalu aku mengembangkan upahnya itu hingga menjadi harta yang banyak. Setelah sekian lama, dia datang dan berkata, 'Wahai hamba Allah, tunaikan upahku kepadaku.' Aku berkata, 'Semua yang kamu lihat berasal dari upahmu; unta, sapi, kambing, dan budak.' Dia berkata, Wahai hamba Allah, janganlah mengolok-olokku!' Aku berkata, 'Aku tidak sedang mengolok-olokmu.' Maka dia mengambil semuanya dan menggiringnya; ia tidak menyisakan sedikit pun. Ya Allah! Bila aku melakukannya karena menginginkan rida-Mu, maka hilangkan dari kami kesulitan yang menimpa kami.' Maka batu itu terbuka. Mereka pun keluar dengan berjalan."(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

نَفَرٌ (nafar): sejumlah laki-laki

اَلْمَبِيْتُ (al-mabīt): tempat bermalam.

أَغْبِقُ (agbiqu: saya memberi minuman sore). Dari asal kata "اَلْغَبُوْقُ" (al-gabūq): minuman sore hari.

نأىٰ (na`ā): pergi jauh.

أَرِحْ (ariḥ): pulang

يَتَضَاغَوْنَ (yataḍāgauna): berteriak karena sangat lapar

سَنَة (sanah): kemarau

لَا تَفُضَّ الْخَاتَمَ (lā tafuḍḍal-khātam: jangan membuka cincin); peringatan agar tidak melakukan zina.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keikhlasan merupakan sebab dihilangkannya kesulitan; yaitu masing-masing mereka berkata,"Ya Allah! Bila aku melakukannya karena menginginkan rida-Mu, maka bukalah dari kami kesulitan yang menimpa kami."

2) Amal saleh merupakan sebab dihilangkannya kesulitan.

3) Keutamaan berbakti kepada orang tua, menjaga diri dari zina, serta sifat amanah dan berbuat baik kepada orang lain.

4) Allah mendengar doa; Allah tidak menyia-nyiakan doa orang yang berdoa dengan tulus, sehingga orang beriman harus mengikhlaskan doa kepada Allah.

5) Di antara jenis tawasul yang disyariatkan: bertawasul kepada Allah dengan amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas.

Faedah Tambahan:

Seorang imam yang zuhud, Muṭarrif bin Abdullah Asy-Syikhkhīr -raḥimahullāh- berkata,

"Hati yang baik diraih dengan amal yang baik, dan amal yang baik diraih dengan niat yang baik."

(Dinukil oleh Al-Ḥāfiẓ Ibnu Rajab dalam buku beliau "Jāmi'ul-'Ulūm wal-Ḥikam")

 2- BAB TOBAT

Para ulama berkata, "Tobat wajib dari semua dosa. Jika maksiat itu terkait hak antara hamba dengan Allah -Ta'ālā yang tidak terkait dengan hak manusia, maka tobat memiliki tiga syarat:

Pertama: meninggalkan maksiat tersebut.

Kedua: menyesal telah melakukannya.

Ketiga: bertekad tidak kembali melakukannya selamanya. Apabila salah satu dari tiga syarat ini tidak terpenuhi maka tobatnya tidak sah.

Adapun jika merupakan maksiat yang berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat; ketiga syarat di atas dan ditambah membebaskan diri dari hak pemiliknya,yaitu bila berupa harta dan semisalnya maka dia kembalikan kepada pemiliknya, bila berupa tudahan zina dan semisalnya maka dia mempersilakan dirinya dihukum atau meminta maaf,dan bila berupa gibah dia minta dimaafkan. Tobat dari semua dosa hukumnya wajib.Bila seseorang bertobat hanya dari sebagiannya maka tobatnya sah dari dosa tersebut menurut pendapat yang benar, dan tersisa yang belum.Banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur`ān, Sunnnah, dan ijmak umat tentang kewajiban bertobat.Allah -Ta'ālā- berfirman,"Bertobatlah kalian semuanya, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung."(QS. An-Nūr: 31)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Rabb-mu dan bertobat kepada-Nya."(QS. Hūd: 3)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya."(QS. At-Taḥrīm: 8)

Faedah Tambahan:

Tiga syarat tobat yang telah disebutkan sebelumnya mesti ditambah dengan syarat yang disebutkan penulis -raḥimahullāh-, yaitu:

Tobat tersebut dilakukan selama masa tobat diterima, dan yang demikian itu memiliki dua macam:

Pertama: dilihat dari sisi orang per orang; maka tobat harus dilakukan sebelum datang kematian.

Kedua: dilihat dari sisi keseluruhan manusia; maka Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Hijrah tidak terputus hingga tobat terputus, dan tobat tidak akan terputus hingga matahari terbit dari arah terbenamnya."(HR. Ahmad)Ketika matahari terbit dari arah terbenamnya maka tobat tidak lagi berguna.

Pelajaran dari Ayat:

1) Kewajiban bertobat dari maksiat dan menjelaskan keutamaan serta pahalanya; yaitu Allah mencintai orang-orang yang bertobat.

2) Tobat merupakan sebab kesuksesan; hamba Allah yang mendapat taufik adalah yang berjalan menuju salah satu pintu kesuksesan.

1/13- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Demi Allah, sungguh aku beristigfar dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali."(HR. Bukhari)2/14- Al-Agarr bin Yasār Al-Muzaniy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Wahai sekalian manusia, bertobatlah kepada Allah dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban bertobat; karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memerintahkannya dengan sabda beliau, "Wahai sekalian manusia, bertobatlah kepada Allah" dan dahulu beliau selalu bersegera kepada tobat.Hal ini mengandung implementasi terhadap perintah Allah -Ta'ālā- dan perintah Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta peneladanan terhadap beliau.

2) Menjelaskan besarnya ibadah Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada Allah serta pemurnian tobatnya kepada-Nya.

3) Di antara petunjuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau mengajarkan manusia dengan bahasa ucapan dan perbuatan.

4) Di antara adab dai ketika mengajak orang kepada suatu perkara agar dia menjadi orang pertama yang melaksanakannya, dan ketika ia melarang mereka dari sesuatu agar menjadi orang pertama yang meninggalkannya.

3/15- Abu Ḥamzah Anas bin Mālik Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu- (pembantu Rasulullah) berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sungguh Allah lebih gembira dengan tobat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang kalian yang menemukan untanya setelah hilang di padang luas."(Muttafaq ‘Alaih)Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:"Sungguh Allah lebih gembira dengan tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada kegembiraan salah seorang kalian yang mengendarai tunggangannya di padang luas, kemudian tunggangannya itu lepas meninggalakannya, padahal bekal makan dan minumnya ada di atasnya. Dia pun putus asa untuk mendapatkannya, lalu datang ke sebuah pohon dan berbaring di bawah bayangnya. Dia benar-benar putus asa untuk mendapatkan kembali tunggangannya. Ketika ia dalam keadaan demikian itu, tiba-tiba ia mendapatkan tunggangannya berdiri di sisinya. Dia pun mengambil tali kekangnya, kemudian berujar karena kegirangan, 'Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu.' Dia keliru karena teramat gembira."

Kosa Kata Asing:

فَلَاة (falāh): padang yang luas dan tidak berair

الخِطَام (al-khiṭām): tali yang digunakan untuk mengendalikan unta

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran kepada tobat; karena Allah menyukai dan meridainya pada hamba-Nya.

2) Kecintaan Allah -Ta'ālā- kepada tobat hamba-Nya termasuk kebaikan bagi hamba; yaitu Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- cinta memberi maaf dan ampunan, dan memaafkan lebih Allah cintai daripada menyiksa. Oleh karena itu, Allah sangat gembira dengan tobat hamba-Nya.

3) Menetapkan sifat gembira bagi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-; bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- bisa gembira dan murka, cinta dan benci, namun:"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."(QS. Asy-Syūrā: 11)Yaitu kegembiraan yang pantas dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, tidak serupa dengan kegembiraan makhluk.

Faedah Tambahan:

Seseorang tidak disiksa karena ucapan kekufurannya jika dilontarkan secara tidak sengaja atau keseleo lidah yang tidak dimaksudkan maknanya. Berbeda dengan orang yang sengaja atau yang mengolok-olok dengan mengucapkan ucapan kufur.Ini merupakan bagian dari kasih sayang Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- kepada hamba-hamba-Nya. Seperti halnya laki-laki yang mengatakan, "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu."4/16- Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,"Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- membentangkan Tangan-Nya pada waktu malam agar bertobat orang yang berbuat kesalahan di waktu siang, dan Allah membentangkan Tangan-Nya di waktu siang agar bertobat orang yang berbuat kesalahan di waktu malam hingga matahari terbit dari arah terbenamnya."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Allah menerima tobat hamba sekalipun terlambat; dan ini bagian dari rahmat Allah -Ta'ālā- kepada hamba-Nya yang berbuat dosa.

2) Kecintaan Allah -Ta'ālā- kepada amalan tobat; oleh karena itu Allah menerimanya dari hamba dan membentangkan Tangan-Nya untuk itu.

3) Menyegerakan tobat termasuk sebab adanya rida Allah kepada hamba-Nya.

5/17- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari arah terbenamnya, Allah pasti menerima tobatnya."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Di antara syarat tobat adalah ia dilakukan pada waktunya yang disyariatkan secara umum; berdasarkan hadis: "Tobat tidak terputus hingga matahari terbit dari arah terbenamnya." (HR. Ahmad)

2) Matahari terbit dari arah barat termasuk tanda kiamat yang besar; setelahnya keimanan tak lagi berguna bagi seseorang yang belum beriman dari sebelumnya atau tidak mendapat kebaikan dalam imannya.

3) Keimanan yang berguna adalah iman yang berasal dari kemauan; adapun iman yang lahir setelah datang tanda-tanda azab maka tidak lagi berguna; karena merupakan keimanan yang terpaksa. Sebagaimana ucapan Firaun yang dikisahkan Allah -Ta'ālā-,“Aku beriman bahwa tidak ada tuhan (yang benar) melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim (berserah diri).”(QS. Yūnus: 90)6/18- Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,"Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- masih menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan")

Kosa Kata Asing:

يُغَرْغِرْ (yugargir): nyawanya sampai ke tenggorokan

Pelajaran dari Hadis:

1) Waktu sekarat adalah saat di mana tobat tak lagi berguna. Oleh karena itu, tobat harus dilakukan pada waktunya yang disyariatkan secara khusus pada hamba sebelum tiba kematian.

2) Keimanan yang terpaksa ketika kematian telah datang tidak berguna bagi hamba; karena ia telah menyaksikan kematian di hadapannya. Maka, orang yang beriman harus berupaya memaksimalkan hidupnya sebelum kematian menyapanya tiba-tiba.

7/19- Zirr bin Ḥubaisy berkata, "Aku datang kepada Ṣafwān bin 'Assāl -raḍiyallāhu 'anhu- menanyakan tentang mengusap khuff (terompah); dia berkata, 'Apa yang membuatmu datang, wahai Zirr?', Aku menjawab, 'Karena hendak menimba ilmu.' Maka dia berkata,"Sungguh para malaikat meletakkan sayapnya untuk penuntut ilmu karena rida kepada apa yang dia timba."Aku berkata, "Sungguh, telah terjadi keraguan dalam hatiku untuk mengusap khuff (terompah) sehabis buang air besar atau kecil, sedangkan engkau termasuk salah seorang sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka aku datang untuk bertanya, apakah engkau pernah mendengar beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menerangkan sesuatu tentang hal itu?" Ṣafwān menjawab, "Ya. Beliau memerintahkan jika kami sedang melakukan safar, agar kami tidak melepaskan sepatu selama tiga hari tiga malam, kecuali karena junub. Adapun kalau karena buang air besar, buang air kecil, dan tidur; maka tidak perlu dilepas." Aku berkata lagi, "Apakah engkau pernah mendengar beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan sesuatu tentang persoalan cinta?" Dia menjawab, "Ya, pernah. Yaitu kami sedang bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan. Ketika kami sedang bersama beliau, tiba-tiba ada seorang arab badui memanggil dengan suara yang keras sekali, "Wahai Muhammad!" Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawabnya dengan suara yang sama, “Kemarilah!” Lalu aku berkata kepada orang tersebut, "Celaka engkau! Rendahkanlah suaramu, sebab engkau sedang berada di hadapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan engkau dilarang seperti itu." Orang itu berkata, "Demi Allah, aku tidak akan memelankan suara." Laki-laki badui itu lalu berkata kepada Rasulullah, "(Bagaimana bila) seseorang mencintai suatu kaum tetapi ia belum bisa menyamai amalan mereka?" Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-,"Seseorang akan bersama orang yang dia cintai pada hari Kiamat."Ṣafwān terus menceritakan kepada kami, hingga dia menyebutkan hadis tentang sebuah pintu di arah tempat terbenam matahari, luas lebarnya atau pengendara akan melewati lebarnya selama empat puluh atau tujuh puluh tahun. Sufyān -salah satu perawi dalam sanad itu- berkata, "Yaitu di arah Syam. Allah -Ta'ālā- menciptakannya ketika menciptakan langit dan bumi dalam keadaan terbuka untuk menerima tobat, tidak akan ditutup hingga matahari terbit dari tempat itu."(HR. Tirmidzi dan lainnya. Tirmidzi berkata, "Hadisnya hasan sahih")

Kosa Kata Asing:

هَاؤُمُ (hā`um): ambillah/kemarilah; yakni jawaban kepada orang yang memanggil.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan ilmu dan menimba ilmu; ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang ada dalam Al-Qur`ān dan Sunnah Nabi; menimbanya termasuk jihad fi sabilillah.

2) "Para malaikat meletakkan sayapnya untuk penuntut ilmu karena rida kepada apa yang mereka cari"; hadis ini kita imani sesuai makna lahirnya, karena bila ada berita yang benar berita dari Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- maka kita mesti terima sepenuhnya; kita imani dan benarkan tanpa ragu dan sangsi. Apalagi biasanya hadis-hadis dan kebenaran datang berseberangan dengan logika dan hawa nafsu kita.

3) Mengusap khuff (terompah) merupakan bagian dari syiar Ahli Sunnah, dan ini telah disebutkan dalam hadis yang mutawatir dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

4) Orang beriman bila mencintai suatu kaum dari kalangan orang-orang beriman maka ia akan bersama mereka, sekalipun amalnya kurang.

5) Motivasi terhadap wasiat mulia, yaitu "seseorang akan bersama yang dia cintai". Maka wajib mencintai orang berilmu dan beriman serta membenci orang-orang kafir dan zalim.

6) Di antara keberkahan negeri Syam adalah bahwa pintu tobat diciptakan oleh Allah -Ta'ālā- di arah Syam.

8/20- Abu Sa'īd Sa'ad bin Mālik bin Sinān Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,"Dahulu, pada umat sebelum kalian ada seorang laki-laki yang membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian ia bertanya tentang orang paling alim di negeri itu, maka ia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Dia pun mendatanginya dan menerangkan bahwa sesungguhnya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang; apakah ia masih berkesempatan untuk bertobat? Pendeta itu menjawab, "Tidak bisa." Maka ia membunuh pendeta itu. Dengan demikian genaplah seratus. Lantas ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim di negeri itu, maka ia ditunjukkan kepada seorang yang alim. Maka ia terangkan bahwa sebenarnya ia telah membunuh seratus orang; apakah ia masih berkesempatan untuk bertobat? Orang alim itu menjawab, "Ya, masih bisa. Tidak ada yang menghalangimu dari tobat. Pergilah ke suatu negeri, di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka. Dan janganlah engkau kembali ke negerimu, sebab negerimu adalah negeri yang buruk." Ia pun bergegas pergi. Sehingga ketika ia telah melewati setengah perjalanan, ajal datang menjemputnya. Terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab mengenai orang tersebut. Malaikat rahmat berkata, "Orang ini datang bertobat dan menghadap kepada Allah -Ta'ālā- dengan hatinya." Malaikat azab berkata, "Orang ini sama sekali belum melakukan satu kebaikan." Lalu seorang malaikat dalam wujud manusia mendatangi mereka, lalu mereka sepakat menjadikannya sebagai penengah. Malaikat (berwujud manusia) itu berkata, "Ukurlah jarak antara kedua negeri itu. Ke mana ia lebih dekat, maka ia dihukumi kepadanya." Mereka pun melakukan pengukuran. Ternyata mereka mendapatkannya lebih dekat kepada negeri yang dituju. Maka ia pun diambil oleh malaikat rahmat."(Muttafaq 'Alaih)Pada riwayat lain dalam Aṣ-Ṣāḥīḥ disebutkan:"Ternyata dia lebih dekat satu jengkal kepada negeri yang baik, maka dia dimasukkan ke dalam penghuni negeri tersebut."Pada riwayat lain lagi dalam Aṣ-Ṣāḥīḥ disebutkan:"Maka Allah -Ta'ālā- memerintahkan kepada negeri yang ini (negeri asalnya) agar menjauh, dan kepada negeri yang satu lagi (negeri tujuannya) agar mendekat. Lalu Allah berfirman (kepada para malaikat), "Hitunglah jarak antara keduanya." Maka mereka mendapatkannya lebih dekat satu jengkal ke negeri tujuannya, maka dia pun diampuni."Dan dalam riwayat lain disebutkan:"Maka ternyata dadanya lebih condong ke arah sana (negeri tujuannya)."

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan ilmu dan orang-orang berilmu. Orang berilmu akan membimbing manusia dan tidak membuat mereka putus asa dari rahmat Allah -Ta'ālā-, berbeda dengan ahli ibadah semata yang tidak memiliki ilmu.

2) Pengaruh lingkungan kepada seseorang dalam hal kebaikan dan kerusakan; negeri ketaatan akan mendorong orang beriman kepada kebaikan, sedangkan negeri keburukan akan melemahkan orang beriman atau menghalanginya dari berbuat kebaikan.

3) Niat yang benar akan menyempurnakan amal orang beriman, sekalipun dia tidak melakukannya.

4) Luasnya rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya; yaitu Allah membuka pintu tobat bagi orang-orang yang melampaui batas serta menerima tobat mereka.

5) Siapa yang melakukan sebuah dosa kemudian menyesal telah melakukannya, maka penyesalannya adalah bukti kebenaran tobatnya; berdasarkan sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-,"Penyesalan adalah tobat."(HR. Ahmad)

Faedah Tambahan:

Bila pelaku pembunuhan melakukan pembunuhan maka ia terkait dengan tiga hak:

Pertama: hak Allah; kedua: orang yang dibunuh; ketiga: ahli waris orang yang dibunuh.

Adapaun hak Allah, maka Allah akan mengampuninya dengan bertobat.

Adapun hak orang yang dibunuh, maka tobat pelaku tidak berguna karena dia tidak mungkin melakukan permintaan maaf kepadanya. Hak ini akan tetap ditanggung oleh pelaku, dan Allah akan memutuskan perkaranya di antara mereka pada hari Kiamat.

Adapun hak ahli waris orang yang dibunuh; maka tobat pelaku tidak akan dianggap benar hingga ia menyerahkan diri kepada keluarga yang dibunuh; setelahnya antara mereka memaafkannya, atau mereka akan meminta kisas atau diat.

9/21- Abdullah bin Ka'ab bin Mālik (putra Ka'ab -raḍiyallāhu 'anhu- yang menjadi penuntunnya ketika buta) berkata, Aku mendengar Ka'ab bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- menceritakan kisahnya ketika tidak ikut bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam perang Tabuk; Ka'ab bercerita,"Belum pernah sama sekali aku tidak mengikuti peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selain pada perang Tabuk. Kecuali perang Badar, aku tidak mengikutinya, dan tidak ada seorang pun yang dicela karena tidak mengikutinya. Karena Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama kaum muslimin sebenarnya keluar untuk menghadang rombongan dagang Quraisy, tetapi akhirnya Allah -Ta'ālā- mempertemukan antara mereka dan musuh tanpa ada kesepakatan perang. Sungguh, aku telah ikut berikrar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di malam Bai'atul-Aqabah; yaitu ketika kami berjanji setia untuk Islam. Aku tidak akan mau bila itu ditukar dengan perang Badar, walaupun perang Badar lebih dikenang di tengah umat Islam daripada Bai'atul-Aqabah. Adapun kisahku ketika tidak ikut bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam perang Tabuk, maka sungguh, belum pernah sama sekali aku dalam keadaan lebih kuat dan lebih berkecukupan daripada ketika aku tidak ikut dalam perang itu. Demi Allah! Belum pernah aku membeli dua tunggangan kecuali ketika perang tersebut. Dan belum pernah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- merencanakan perang melainkan beliau akan menyamarkannya dengan yang lain, kecuali ketika perang tersebut, karena Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukannya ketika cuaca sangat panas, sementara beliau akan melalui perjalanan yang jauh dan tandus serta akan menyongsong musuh yang banyak. Maka beliau terangkan kepada umat Islam tentang hal itu agar mereka mempersiapkan bekal perang. Beliau mengabarkan kepada mereka tentang arah tujuan yang beliau inginkan, dan umat Islam yang bergabung bersama Rasulullah berjumlah banyak, sampai-sampai mereka tidak muat tercatat semuanya dalam buku catatan (maksudnya arsip)."Ka'ab melanjutkan, "Kecil kemungkinan orang berencana tidak ikut kecuali dia yakin hal itu tidak akan beliau ketahui selama tidak ada wahyu dari Allah yang turun menerangkannya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan perang tersebut ketika buah-buahan dan pepohonan sedang bagus, dan aku lebih condong kepadanya.Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan umat Islam yang bersamanya pun melakukan persiapan. Aku segera berangkat untuk mempersiapkan diri bersama beliau, lalu aku pulang dan aku belum melakukan persiapan apa-apa. Aku bergumam, 'Aku mampu melakukannya bila mau.' Aku terus menunda padahal orang-orang terus melakukan persiapan. Ketika pagi hari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan umat Islam yang bersama beliau telah siap berangkat, sementara aku belum menyelesaikan persiapan sedikit pun. Kemudian aku keluar, lalu kembali, dan aku belum menyelesaikan persiapan apa pun. Aku terus menunda hingga hingga pasukan telah berjalan cepat dan perang makin dekat. Aku berpikir untuk berangkat menyusul mereka, aduhai sekiranya aku benar melakukannya. Tetapi kemudian hal itu tidak ditakdirkan bagiku. Mulailah, bila aku keluar menemui manusia setelah keberangkatan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- aku merasa sedih karena tidak melihat orang yang bisa kujadikan panutan, kecuali laki-laki yang diketahui sebagai munafik atau laki-laki dari kalangan orang-orang lemah yang memiliki uzur.Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sama sekali tidak mengingatku kecuali setelah beliau sampai di Tabuk. Beliau bertanya ketika sedang duduk bersama para sahabat di Tabuk, 'Apa yang dilakukan Ka'ab bin Mālik?' Seorang laki-laki dari Bani Salimah berkata, 'Wahai Rasulullah, dia tertahan karena lebih mementingkan pakaian serta penampilannya.' Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- menyanggahnya, 'Jelek sekali yang kamu ucapkan! Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui padanya kecuali kebaikan.' Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terdiam.Ketika dalam keadaan seperti itu, beliau melihat seorang laki-laki berpakaian putih yang digerakkan oleh fatamorgana. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Ia adalah Abu Khaiṡamah.' Ternyata benar dia adalah Abu Khaiṡamah Al-Anṣāriy. Dialah orang yang bersedekah dengan satu ṣā' (sak) kurma ketika diolok-olok oleh orang-orang munafik."Ka'ab melanjutkan, "Ketika sampai kabar kepadaku bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah berangkat pulang dari Tabuk, muncul rasa sedih yang sangat berat dalam diriku. Mulailah aku berpikir untuk berbohong. Aku berpikir, dengan alasan apakah aku bisa keluar dari murka beliau besok? Aku meminta saran untuk hal itu kepada orang-orang yang kuanggap bisa dari semua keluargaku. Ketika diberitakan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- benar-benar telah datang, kebatilan tersebut lenyap dariku. Hingga ketika aku benar-benar yakin bahwa tidak akan bisa selamat dengan alasan apa pun selamanya, maka aku bertekad untuk jujur kepada beliau. Tibalah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan kebiasaan beliau bila pulang dari perjalanan diawali dengan pergi ke masjid lalu salat dua rakaat kemudian duduk menyambut orang-orang. Ketika beliau melakukan itu, orang-orang yang tidak ikut sambil datang menemui beliau menerangkan uzurnya dan bersumpah untuk itu. Jumlah mereka delapan puluh sekian orang. Maka beliau menerima uzur mereka sesuai lahirnya serta memohonkan ampunan untuk mereka dan menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah -Ta'ālā-. Hingga aku pun datang menghadap. Ketika aku mengucapkan salam, beliau tersenyum dengan senyum orang yang marah. Kemudian beliau berkata, 'Kemarilah.' Maka aku datang dengan berjalan hingga duduk di hadapan beliau; beliau bertanya, 'Apa yang membuatmu tidak ikut serta? Bukannya kamu sudah membeli kendaraan?'"Ka'ab berkata, Aku menjawab, "Ya Rasulullah! Demi Allah, sekiranya aku duduk di hadapan manusia selainmu, aku yakin akan bisa bebas dari murkanya dengan sebuah alasan. Aku telah diberi kelihaian bicara, akan tetapi, demi Allah, aku yakin, bila hari ini aku bisa berbicara dusta kepadamu yang akan membuatmu rida kepadaku, sungguh Allah akan segera menjadikanmu murka kepadaku. Tetapi bila aku berbicara jujur kepadamu maka engkau pasti akan marah kepadaku, namun sungguh aku benar-benar mengharapkan kesudahan yang baik dari Allah -'Azza wa Jalla-. Demi Allah, aku tidak memiliki uzur. Demi Allah, belum pernah aku sekuat dan berkecukupan seperti ketika aku tidak ikut bersamamu."Ka'ab melanjutkan, "Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Adapun ini, dia telah berkata jujur. Silakan pergi, hingga Allah memberi keputusan padamu.' Beberapa orang dari Bani Salimah berjalan mengikutiku; mereka mengatakan, 'Demi Allah! Belum pernah kami mengetahuimu melakukan satu kesalahan sebelum ini. Sungguh engkau tidak mampu menyampaikan uzur kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebagaimana orang-orang lainnya yang juga tidak ikut serta! Padahal istigfar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untukmu akan menutupi kesalahanmu.'" Ka'ab berkata, "Demi Allah, mereka terus-menerus mencelaku hingga aku berniat kembali kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mendustakan diri.Kemudian aku bertanya kepada mereka, 'Adakah orang lain yang mengalami hal ini bersamaku?' Mereka menjawab, 'Ya. Ada dua orang mengalami hal yang sama denganmu; mereka mengatakan seperti yang engkau katakan, dan dikatakan kepadanya seperti yang dikatakan kepadamu.' Aku bertanya, 'Siapakah mereka?' Mereka menjawab, 'Murārah bin Rabī'ah Al-'Umriy dan Hilāl bin Umayyah Al-Wāqifiy.'" Ka'ab melanjutkan, "Mereka menyebutkan nama dua laki-laki saleh yang telah menghadiri perang Badar; mereka berdua adalah teladan.Aku pun lanjut pergi ketika mereka menyebutkan nama dua orang itu. Rasululullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang berbicara kepada kami; khusus kepada kami bertiga di antara orang-orang yang tidak ikut." Ka'ab berkata, "Maka orang-orang pun menghindari kami (atau dia mengatakan: orang-orang berubah sikap kepada kami) hingga aku merasa bumi ini telah berubah, tidak lagi seperti bumi yang kukenal. Kami dalam keadaan seperti itu selama lima puluh hari. Adapun kedua rekanku, mereka menetap di rumahnya sambil terus menerus menangis. Adapun aku, aku yang paling muda dan paling teguh di antara orang-orang tersebut. Aku tetap keluar dan hadir salat bersama kaum muslimin serta keliling di pasar, dan tidak ada seorang pun yang berbicara kepadaku. Aku juga datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengucapkan salam ketika beliau duduk setelah salat; dalam hati aku bergumam, 'Apakah beliau akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salam, ataukah tidak?'Kemudian aku salat dekat dari beliau sambil mencuri pandang untuk melihat beliau. Bila aku melakukan salat, beliau memandangku; bila aku menoleh ke beliau, beliau berpaling ke arah lain. Hingga ketika sikap tidak bersahabat para sahabat terasa lama bagiku, aku berjalan hingga memasuki pagar kebun Abu Qatādah. Dia adalah sepupuku dan orang yang paling aku cintai. Aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi dia tidak menjawab salamku. Aku berkata, "Wahai Abu Qatādah, aku mohon kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah engkau mengetahuiku mencintai Allah dan Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?" Tetapi dia diam. Aku mengulang lagi pertanyaanku, dia tetap diam. Kemudian aku mengulanginya lagi, maka dia menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Kedua mataku langsung berlinang. Aku berlalu hingga hingga keluar dari pagar. Ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba seorang petani dari penduduk Syam yang datang menjual makanan di Madinah berkata, "Siapakah yang bisa menunjukkan kepadaku Ka'ab bin Mālik?"Orang-orang segera menunjukinya kepadaku. Dia pun mendatangiku, lalu menyodorkan sebuah surat dari Raja Gassān. Aku orang yang bisa menulis; maka aku pun membacanya. Ternyata isinya, "Amabakdu: Telah sampai kepada kami bahwa sahabatmu (Muhammad) telah menjauhimu, dan Allah tidak akan membiarkanmu tinggal di negeri yang engkau dihinakan maupun disia-siakan. Datanglah kepada kami, kami akan membahagiakanmu." Aku berkata ketika membacanya, "Ini juga ujian." Lalu aku membawanya menuju tungku lalu membakarnya. Hingga ketika telah genap empat puluh hari, sementara wahyu belum turun, tiba-tiba utusan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang kepadaku, seraya mengatakan, "Sungguh, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu." Aku bertanya, "Apakah aku harus menceraikannya, ataukah apa yang harus aku lakukan?" Dia menjawab, "Tidak. Tetapi, engkau menjauhinya, tidak mendekatinya." Beliau juga mengirim perintah yang sama kepada kedua rekanku. Aku berkata kepada istriku, "Pulanglah ke rumah keluargamu. Tinggallah bersama mereka hingga Allah memutuskan padaku perkara ini." Adapun istri Hilāl bin Umayyah ia datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan berkata, "Ya Rasulullah! Sesungguhnya Hilāl bin Umayyah telah tua, dia miskin dan terlantar, tidak punya pembantu. Apakah engkau tidak suka bila aku melayaninya?" Beliau menjawab, "Tidak apa-apa. Tetapi dia tidak boleh mendekatimu." Dia menjawab, "Sungguh, demi Allah, dia tidak memiliki hasrat untuk apa pun. Demi Allah, dia masih menangis sejak perkara ini hingga hari ini."Sebagian keluargaku berkata, "Sekiranya engkau memintakan izin untuk istrimu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau telah mengizinkan istri Hilāl bin Umayyah untuk tetap melayaninya." Aku menjawab, "Aku tidak akan memintakannya izin kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Aku tidak tahu apa jawaban Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jika aku memintakan izin untuknya sedangkan aku masih muda." Aku tetap dalam keadaan seperti itu selama sepuluh hari. Sehingga genap sudah lima puluh hari sejak beliau melarang berbicara kepada kami.Kemudian setelah aku salat Subuh, ketika pagi hari setelah genap lima puluh hari di atas loteng rumah kami. Ketika aku sedang duduk meratapi keadaan yang Allah sebutkan tentang kami; hatiku telah sempit dan bumi yang luas pun menjadi sempit, tiba-tiba aku mendengar suara teriakan orang yang naik ke atas Gunung Sala'; dia berteriak dengan setinggi-tingginya, "Wahai Ka'ab bin Mālik, bergembiralah!" Aku langsung tersungkur sujud. Aku yakin itu adalah pertanda telah datangnya pertolongan. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengumumkan kepada para sahabat ketika salat Subuh bahwa Allah -'Azza wa Jalla- telah menerima tobat kami. Maka orang-orang bergegas pergi menyampaikan kabar gembira itu kepada kami. Orang-orang pergi ke kedua rekanku memberi kabar gembira. Seorang laki-laki bersegera kepadaku dengan memacu kuda, sedangkan seorang laki-laki dari Aslam berjalan dengan cepat ke tempatku, lalu naik ke atas gunung itu. Sampainya suaranya lebih cepat daripada sampainya kuda itu. Ketika laki-laki yang kudengar suaranya datang kepadaku memberi kabar gembira, aku langsung melepas pakaianku lalu memakaikannya kepadanya lantaran kabar gembira yang disampaikannya. Demi Allah, hari itu aku tidak punya selain pakaian tersebut. Maka aku meminjam pakaian dan memakainya, lalu berangkat menuju Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Para sahabat berbondong-bondong menyambutku sambil memberikan ucapan selamat. Mereka berkata, "Berbahagialah dengan tobat yang Allah berikan kepadamu." Hingga aku masuk masjid sedangkan Rasulullah sedang duduk dikelilingi para sahabatnya. Ṭalḥah bin Ubaidillah -raḍiyallāhu 'anhu- berdiri sambil berlari hingga menjabat tanganku dan memberikan ucapan selamat. Demi Allah, tidak ada seorang Muhajirin selainnya yang berdiri. Dahulu Ka'ab tidak pernah melupakan hal itu pada Ṭalḥah.Ka'ab melanjutkan, "Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau menjawab dengan wajah bercahaya karena bahagia, 'Berbahagialah dengan hari terbaik yang engkau telah lalui sejak dilahirkan oleh ibumu.' Aku bertanya, 'Apakah ini dari dirimu, wahai Rasulullah, ataukah dari sisi Allah?' Beliau menjawab, 'Bukan. Tetapi dari sisi Allah -'Azza wa Jalla.'"Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bila senang maka wajahnya akan bercahaya hingga seakan-akan potongan bulan. Kami mengetahui seperti itu pada beliau. Ketika aku duduk di hadapan beliau, aku berkata, "Wahai Rasulullah, sebagai bagian dari tobatku, aku akan melepas semua hartaku sebagai sedekah kepada Allah dan kepada Rasul-Nya." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Tahanlah sebagian hartamu. Itu lebih baik bagimu." Aku menjawab, "Aku akan pertahankan bagianku yang ada di Khaibar." Aku juga berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah -Ta'ālā- telah menyelamatkanku dengan kejujuran, maka sebagai bagian dari tobatku, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur selama hidupku." Demi Allah, belum pernah aku mengetahui seorang pun dari kaum muslimin yang diuji oleh Allah karena berbicara jujur sejak aku menyampaikan itu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang lebih bagus daripada ujian yang diberikan kepadaku. Demi Allah, aku belum pernah sengaja berdusta satu kata pun sejak mengucapkan itu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hingga hari ini.Sungguh, aku berharap agar Allah -Ta'ālā- menjagaku selama aku masih hidup. Maka Allah -Ta'ālā- menurunkan firman-Nya,"Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit",hingga ayat:"Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka. Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas..."hingga ayat:"Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama dengan orang-orang yang jujur."(QS. At-Taubah: 117-119)Ka'ab berkata, "Demi Allah, tidaklah Allah memberiku nikmat setelah menunjukiku kepada Islam yang lebih besar dalam diriku daripada kata jujurku kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan tidak berdusta kepada beliau sehingga aku akan binasa seperti orang-orang yang berdusta. Sungguh Allah telah berfirman tentang orang-orang yang berdusta ketika wahyu turun dengan kalimat yang paling buruk; Allah -Ta'ālā- berfirman,"Mereka akan bersumpah kepada kamu dengan nama Allah, ketika kamu kembali kepada mereka, agar kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu berjiwa kotor dan tempat mereka neraka Jahanam, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu bersedia menerima mereka. Tetapi sekalipun kamu menerima mereka, Allah tidak akan rida kepada orang-orang yang fasik." (QS. At-Taubah: 95-96)Ka'ab berkata, "Kami bertiga ditinggalkan dalam perkara orang-orang tersebut yang diterima oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika mereka bersumpah kepadanya. Beliau membuat janji bersama mereka dan memohonkan ampunan, sedangkan perkara kami ditinggalkan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sampai Allah -Ta'ālā- memutuskannya. Itulah yang Allah -Ta'ālā- terangkan,"... dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan."Bukanlah yang Allah sebutkan tentang kami ditinggalkan adalah perkara kami tidak ikut dalam perang. Tetapi maksudnya adalah beliau meninggalkan kami serta mengakhirkan urusan kami dari orang-orang yang bersumpah kepada beliau serta menyebutkan alasannya kepada beliau dan beliau menerimanya." (Muttafaq 'Alaih)Dalam riwayat lain disebutkan:"Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar dalam perang Tabuk pada hari Kamis, dan beliau senang keluar bepergian pada hari Kamis."Dalam riwayat lain:"Beliau tidak pulang dari sebuah perjalanan kecuali siang hari ketika waktu duha. Bila sampai, beliau lebih dulu ke masjid lalu melakukan salat dua rakaat, kemudian duduk di sana."

Kosa Kata Asing:

عِيْر ('īrun): unta yang bermuatan. وَرَّى (warrā): menampakkan seakan ingin yang lain.

مَفَازًا (mafāzan): kawasan yang panjang dan jauh. أُهْبَة (uhbah): bekal orang yang melakukan perjalanan.

أَصْعَرُ (aṣ'aru): lebih condong. تَفَارَطَ (tafāraṭa): lenyap dan berlalu.

مَغْمُوْصًا (magmūṣan): tertuduh.

حَبَسَهُ بُرْدَاهُ وَالنَّظَرُ فِى عِطْفيْهِ (ḥabasahu burdāhu wan-naẓaru fī 'iṭfaihi): dia tertahan karena berbangga-bangga dengan pakaiannya.

مُبَيِّضًا (mubayyiḍan): memakai pakaian putih. بَثِّيْ (baṡṡī): rasa sedihku yang mendalam.

اِبْتَعْتُ (ibta'tu): aku membeli. حَائِطٌ (ḥā`iṭ): kebun.

نَبطِىٌّ (nabaṭiy): petani. فَطَفِقَ (faṭafiqa): bersegera.

فَسَجَرْتُهَا (fasajartuhā): aku membakarnya dengan api. اسْتَلبَثَ (istalbaṡa): terlambat.

سَلْع (sal'un): nama sebuah bukit di Madinah. أَتَامَّمُ (ata`ammamu): menuju.

أَنْخَلِعُ (ankhali'u): keluar. أَرْجَأَ (arja`a): mengakhirkan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Seseorang diperbolehkan menceritakan kelalaiannya dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta akibatnya; karena di dalamnya terkandung peringatan dan nasihat serta penjelasan jalan kebaikan agar diikuti dan jalan keburukan agar dijauhi.

2) Ketika seseorang mendapatkan kesempatan berbuat taat, hendaknya dia sigap sesigap-sigapnya untuk memaksimalkannya serta segera melakukannya, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- bisa jadi akan menyiksa orang yang dibukakan baginya pintu kebaikan lalu dia tidak memasukinya berupa tidak diberikan taufik dan kemudahan kepada kebaikan lainnya, bahkan mungkin akan disibukkan dengan perkara yang mendatangkan mudarat kepadanya.

3) Dianjurkan tidak memberi salam kepada orang yang mengadakan suatu bidah sebagai bentuk pelajaran kepadanya sesuai maslahat, dan seseorang diperbolehkan mencela rekannya dengan niat memberi pelajaran.

4) Maksiat adalah sebab rasa aneh dan asing dalam hati seorang hamba, tetapi untuk merasakan itu tergantung kepada materi kehidupan dalam hati seorang mukmin.

5) Boleh memusnahkan sesuatu yang dikhawatirkan akan mendatangkan keburukan dalam agama; maka nasihat bagi orang beriman agar mengeluarkan kemungkaran-kemungkaran yang ada di rumahnya supaya hatinya tidak lemah lalu dia jatuh ke dalamnya.

6) Hari yang terbaik dan paling afdal bagi hamba secara keseluruhan adalah hari ketika Allah menerima dan mengabulkan tobatnya.

7) Orang yang menyesal atas perbuatan dosa akan diberikan taufik dan kemudahan oleh Allah untuk bertobat.

10/22- Abu Nujaid 'Imrān bin Ḥuṣāin Al-Khuzā'iy -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa ada seorang wanita dari Juhainah menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam keadaan hamil karena zina, dia berkata, "Wahai Rasulullah! Aku telah melanggar perbuatan (zina) yang memiliki hukum had, terapkanlah had itu padaku!" Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memanggil walinya dan bersabda, "Berbuat baiklah padanya! Apabila ia telah melahirkan, bawalah dia kepadaku!" Walinya pun melakukan apa yang beliau perintahkan. Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan agar pakaian wanita itu dilipat dan diikatkan kepadanya dengan erat lalu beliau memerintahkan (para sahabat) untuk merajamnya. Setelah itu beliau menyalatinya. Kemudian berkatalah Umar, "Wahai Rasulullah! Apakah engkau menyalatinya, padahal ia telah berzina?" Beliau menjawab,"Sungguh, ia benar-benar telah bertobat. Seandainya tobatnya itu dibagikan kepada tujuh puluh orang dari penduduk Madinah, pasti akan mencukupi mereka. Adakah engkau pernah menemukan seseorang yang lebih utama dari orang yang dengan suka rela mengorbankan jiwanya semata-mata karena Allah -'Azza wa Jalla-?!"(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

أصَبْتُ حَدّاً (aṣabtu ḥaddan): aku melakukan sesuatu yang berkonsekuensi had.

شُدّت (syuddat): pakaiannya dilipat dan diikat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Pelaku zina bila melakukannya sementara dia sudah menikah maka dia wajib dirajam. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah menerapkan rajam, begitu juga khalifah-khalifah setelah beliau. Hukuman had ini adalah wujud rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk membersihkan mereka dari dosa.

2) Balasan sesuai dengan jenis perbuatan; karena pelaku zina seluruh tubuhnya menikmati perbuatan haram itu, sehingga bijak bila seluruh tubuhnya mendapatkan hukuman tersebut sesuai ukuran kenikmatan yang dia rasakan.

3) Seseorang diperbolehkan melaporkan diri telah berzina untuk dibersihkan dengan hukuman had, bukan untuk mempermalukan diri dan mengumumkan kemaksiatan.

11/23- Ibnu Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seandainya manusia memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin punya dua. Padahal (pada akhirnya) tenggorokannya tidak akan terisi selain tanah. Dan Allah menerima tobat mereka yang bertobat."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Tabiat manusia suka memperbanyak harta, kecuali orang yang membersihkan hatinya dan selalu mengingatkannya pertemuan dengan Allah -Ta'ālā-.

2) Tobat kepada Allah -Ta'ālā- adalah sebab untuk berhenti melakukan perbuatan haram serta adanya rida dengan rezeki yang Allah bagikan kepada hamba.

3) Dengan tobat Allah akan menghapus kesalahan sekalipun berkaitan dengan hak dalam harta dengan syarat dia mengembalikannya kepada pemiliknya.

12/24- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda,"Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- tertawa terkait dua orang; yang satu membunuh yang lain, namun keduanya masuk surga. Yaitu orang pertama (yang terbunuh) berperang di jalan Allah hingga terbunuh (oleh si pembunuh). Selanjutnya Allah memberikan tobat kepada si pembunuh hingga ia masuk Islam kemudian mati syahid."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Penduduk surga akan dibersihkan dari dengki dan hasad; bahkan hingga pelaku pembunuhan dan yang dibunuh keduanya masuk surga tanpa ada rasa hasad dan dengki. Inilah sebab Allah tertawa kepada dua orang ini.

2) "Islam menggugurkan dosa sebelumnya", juga "Tobat menghapus kesalahan sebelumnya"; maka hendaklah orang yang beriman berusaha kuat untuk memperbaharui tobatnya secara terus-menerus.

 3- BAB SABAR

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah, dan teguhkanlah kesabaranmu."(QS. Āli 'Imrān: 200)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."(QS. Al-Baqarah: 155)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."(QS. Az-Zumar: 10)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia."(QS. Asy-Syūrā: 43)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."(QS. Al-Baqarah: 153)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu."(QS. Muḥammad: 31)Ayat-ayat yang berisikan perintah sabar dan menjelaskan keutamaannya banyak sekali dan sangat populer.

Faedah Tambahan:

Sabar secara bahasa artinya menahan. Sedangkan secara syariat adalah menahan diri pada tiga perkara. Pertama: pada ketaatan kepada Allah; kedua: dari perbuatan yang Allah haramkan; ketiga: terhadap takdir Allah yang mendatangkan rasa sakit.

Pelajaran dari Ayat:

1) Perintah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- kepada orang-orang beriman agar bersabar di atas ketaatan kepada-Nya, meninggalkan maksiat, dan rida kepada ketentuan dan takdir-Nya.

2) Musibah akan senantiasa menimpa orang-orang beriman sebagai ujian bagi mereka dan untuk memberikan pahala atas kesabaran mereka; masing-masing sesuai kadar iman dan sabar yang dimiliki.

3) Sabar termasuk akhlak mulia dan perbuatan terpuji yang tidak akan kuasa melakukannya kecuali orang-orang yang jantan.

1/25- Abu Mālik Al-Ḥāriṡ bin 'Āṣim Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Bersuci itu setengah dari iman, ucapan alhamdulillah memenuhi timbangan, ucapan subḥānallāh dan alḥamdulillāh memenuhi antara langit dan bumi, salat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, sabar sebagai sinar, dan Al-Qur`ān sebagai hujah yang akan membelamu atau yang akan memberatkanmu. Semua orang keluar bekerja di pagi hari lalu menjual dirinya; maka antara dia memerdekakannya atau membinasakannya.(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

يَغْدُو (yagdū): keluar bekerja.

مُعْتِقُهَا (mu'tiquhā): memerdekakannya dari azab.

مُوبِقُهَا (mūbiquhā): menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan bersuci dalam Islam, hingga dianggap setengah dari iman.

2) Menjelaskan keutamaan berzikir kepada Allah -'Azza wa Jalla- serta besarnya pahalanya.

3) Salat akan memberi cahaya bagi pelakunya kepada jalan kebenaran di dunia dan di atas sirat di akhirat.

4) Keutamaan sabar; yaitu merupakan perkara terpuji yang menerangi hamba ketika mengalami kesulitan besar. Ia disifati sebagai sinar karena dapat membakar dan menerangi disebabkan karena berat dan sulitnya kesabaran.

5) Memberikan perhatian kepada Kitab Allah -'Azza wa Jalla- dengan membaca, memahami, mengamalkan, dan mendakwahkannya serta mencukupkan diri dengan wahyu yang ada di dalamnya daripada yang lain. Inilah yang dilakukan oleh orang beriman yang antusias kepada Kitab Allah -Ta'ālā-.

2/26- Abu Sa'īd Sa'ad bin Mālik bin Sinān Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa beberapa orang Ansar datang meminta kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- maka beliau memberi mereka, kemudian mereka minta lagi dan beliau memberi mereka lagi hingga habis yang ada pada beliau, maka Nabi berkata kepada mereka setelah memberikan seluruh yang beliau punya,"Apa pun harta yang aku punya, aku tidak akan menahannya dari kalian, namun siapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaga kehormatannya, siapa yang mencukupkan diri (dengan karunia Allah), maka Allah akan mencukupinya, dan siapa yang melatih diri untuk bersabar, maka Allah akan menjadikannya penyabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada anugerah kesabaran."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Bila hamba menjaga diri dari perbuatan haram maka Allah -'Azza wa Jalla- akan menjaga serta melindunginya dan keluarganya dari perkara-perkara yang haram serta fitnah-fitnahnya.

2) Bila hamba mencukupkan diri dengan pemberian Allah dari apa yang ada di tangan orang lain maka Allah akan menjadikannya tidak butuh kepada manusia serta Allah menjadikannya berjiwa mulia dan jauh dari perbuatan minta-minta.

3) Di antara nikmat yang paling afdal untuk seorang hamba adalah bila dia sabar dalam semua urusannya.

3/27- Abu Yahya Ṣuḥaib bin Sinān -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sangat mengagumkan sekali keadaan orang mukmin itu. Semua keadaannya itu merupakan kebaikan baginya, dan yang demikian itu berlaku hanya bagi orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kelapangan hidup, ia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya. Apabila dia ditimpa oleh kesulitan (musibah), ia pun bersabar dan hal ini pun merupakan kebaikan baginya."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran agar bersyukur ketika lapang; yang demikian itu termasuk sebab adanya tambahan nikmat.

2) Orang beriman yang sempurna imannya serta tulus keyakinannya akan bersyukur kepada Allah ketika lapang dan bersabar ketika sulit.

3) Keutamaan sabar; yaitu merupakan sifat orang beriman yang paling khusus.

4/28- Anas raḍiyallāhu 'anhu mengisahkan, Ketika sakit Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- semakin berat dan mengalami sekarat, Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Aduhai sangat berat sakit ayahku!", Maka beliau bersabda,"Ayahmu tidak akan menderita lagi sesudah hari ini."Ketika beliau telah wafat, Fatimah berkata, "Duhai sang ayah, dia menyambut Tuhan yang memanggilnya. Duhai sang ayah, surga Firdaus menjadi tempatnya. Duhai sang ayah, kepada Jibril kami menyampaikan berita duka." Setelah beliau dikubur, Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Apakah hati kalian merasa tenang menimbunkan tanah kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?!"(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

يَتَغَشَّاه الْكَرْبُ (yatagasysyāhul-karbu): beliau mengalami beratnya sekarat.

نَنْعَاه (nan'āhu): menyampaikan kabar kematian.

Pelajaran dari Hadis:

1) Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sama seperti manusia lainnya; mengalami sakit serta merasakan lapar dan dahaga, sehingga tidak boleh meminta pertolongan (istigasah) kepada beliau, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian awam. Semoga Allah membimbing mereka untuk mewujudkan tauhid dan keikhlasan kepada Rabb alam semesta.

2) Tidak mengapa adanya ratapan yang ringan jika tidak disebabkan karena ketidakridaan kepada Allah -'Azza wa Jalla-, melainkan disebabkan oleh rasa sedih yang besar.

3) Anjuran untuk bersabar ketika musibah dan tidak murka.

5/29- Abu Zaid Usāmah bin Zaid bin Ḥāriṡah, mantan budak Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, kesayangan beliau dan putra orang kesayangan beliau -raḍiyallāhu 'anhumā- mengisahkan bahwa putri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengirim utusan, "Sungguh, putraku sedang sekarat. Kunjungilah kami." Beliau lantas mengirim utusan dan menitip salam. Beliau berpesan,"Sesungguhnya milik Allahlah segala yang Dia ambil, dan kepunyaan-Nya pula segala yang Dia beri, dan segala sesuatu di sisi-Nya telah ditentukan, maka hendaklah kamu bersabar dan mengharap pahala dari Allah."Maka putri beliau mengirim utusan dan bersumpah agar beliau datang.Beliau lalu bangkit dan bersama beliau Sa'ad bin Ubādah, Mu'āż bin Jabal, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Ṡābit, dan beberapa orang lainnya -raḍiyallāhu 'anhum-. Lalu anak kecil itu diangkat kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan beliau mendudukkannya di pangkuan beliau sementara napasnya tersengal-sengal sehingga kedua mata beliau berlinang. Sa'ad berkata, "Wahai Rasulullah! Apa ini?" Beliau bersabda,"Kesedihan ini adalah rasa kasih sayang yang Allah -Ta'ālā- berikan ke hati hamba-hamba-Nya."Dalam riwayat lain:"ke hati siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan Allah hanya akan mengasihi hamba-hamba-Nya yang pengasih."(Muttafaq 'Alaih)

تَقَعْقَعُ (taqa'qa'u): bergerak dan bergetar.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban sabar ketika musibah dan tidak murka.

2) Sifat tawaduk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta perhatian beliau pada urusan para sahabat; yaitu beliau berbahagia dengan kebahagiaan mereka dan bersedih dengan kesedihan mereka.

3) Boleh menangis karena kasihan kepada orang yang mengalami musibah, tetapi dengan syarat tidak disertai ratapan; yaitu para wanita berkumpul kemudian menangis berlebihan serta meninggikan suara karena kematian seseorang; ini hukumnya haram.

4) Orang-orang yang saling menyayangi di dunia maka Allah akan menyayangi mereka di dunia dan akhirat, karena di antara sebab rahmat Allah -'Azza wa Jalla- adalah kasih sayang di antara makhluk.

6/30- Ṣuhaib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ada seorang raja yang hidup sebelum kalian, ia memiliki tukang sihir. Ketika tukang sihir ini sudah tua, ia berkata kepada raja, 'Aku sudah tua, maka kirimlah seorang pemuda kepadaku untuk aku ajari sihir.' Lalu raja mengirimkan seorang pemuda yang bisa ia ajari sihir. Di jalan yang dilalui pemuda tersebut ada seorang pendeta. Pemuda ini mendatanginya dan mendengar petuahnya, lalu ia suka pada petuah tersebut. Sehingga, apabila ia ingin mendatangi tukang sihir, ia pasti melewati pendeta itu dan duduk menyimak ajarannya. Ketika ia datang pada tukang sihir ia pasti dipukul. Maka ia mengeluhkan hal itu kepada pendeta. Pendeta berkata, 'Bila engkau takut dipukul tukang sihir, katakan kepadanya, 'Keluargaku menahanku.' Bila engkau takut pada keluargamu (karena terlambat pulang), katakan, 'Si tukang sihir menahanku.' Tatkala ia masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ia bertemu seekor hewan besar yang menghalangi jalan orang banyak. Ia berkata, 'Hari ini aku akan tahu, apakah tukang sihir lebih baik ataukah pendeta yang lebih baik?' Ia mengambil batu lalu berkata, 'Ya Allah! Bila ajaran pendeta lebih Engkau sukai dari ajaran tukang sihir itu maka bunuhlah binatang ini agar orang-orang bisa lewat.' Ia lalu melemparkan batu itu padanya dan berhasil membunuhnya. Orang-orang pun bisa lewat. Lalu ia mendatangi pendeta dan memberitahukan peristiwa itu kepadanya. Pendeta berkata, 'Wahai anakku! Hari ini engkau lebih baik dariku. Perkaramu telah sampai satu tingkatan seperti yang aku lihat, dan engkau akan mendapat ujian. Apabila engkau mendapat ujian jangan memberitahukan keberadaanku.' Pemuda ini bisa menyembuhkan orang buta, belang, dan mengobati orang-orang dari penyakit-penyakit lainnya. Maka salah seorang menteri raja yang buta mendengar kehebatan pemuda ini. Ia pun mendatanginya dengan membawa hadiah yang banyak. Ia berkata, 'Apa yang ada di sini menjadi milikmu semuanya jika engkau bisa menyembuhkanku.' Pemuda itu berkata, 'Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun. Hanya Allah yang bisa menyembuhkan. Jika engkau beriman pada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya lalu Dia akan menyembuhkanmu.' Maka ia beriman, lalu Allah menyembuhkannya. Menteri ini pun mendatangi raja lalu duduk di dekatnya seperti biasa. Raja berkata, 'Siapa yang menyembuhkan matamu?' Ia menjawab, 'Rabb-ku.' Raja berkata, 'Engkau memiliki tuhan selain aku?' Ia berkata, 'Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah.' Maka raja menangkapnya lalu terus menyiksanya hingga ia memberitahukan tentang pemuda itu. Lalu pemuda itu ditangkap dan dibawa menghadap raja. Raja pun berkata, 'Wahai anakku! Ilmu sihirmu telah mencapai tingkatan tinggi sehingga bisa menyembuhkan orang buta dan belang, dan engkau bisa melakukan ini dan itu.' Pemuda itu berkata, 'Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun, hanya Allah yang menyembuhkan.' Raja menangkapnya dan terus menyiksanya hingga ia memberitahukan keberadaan si pendeta. Lalu pendeta itu didatangkan, dan dikatakan padanya, 'Tinggalkan agamamu!' Namun ia tidak mau. Lalu raja meminta gergaji yang kemudian diletakkan tepat di tengah kepalanya, lalu raja membelahnya hingga kedua sisi tubuhnya terjatuh di tanah. Setelah itu, menteri raja didatangkan dan dikatakan padanya, 'Tinggalkan agamamu!' Namun ia tidak mau, lalu raja meminta gergaji kemudian diletakkan tepat di tengah kepalanya lalu membelahnya hingga kedua sisi tubuhnya jatuh di tanah. Setelah itu pemuda tadi didatangkan lalu dikatakan padanya, 'Tinggalkan agamamu!' Namun pemuda itu tidak mau. Lalu raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya, dan berpesan, 'Bawalah ia ke gunung ini dan ini. Bawalah ia naik. Apabila kalian telah sampai di puncaknya, lalu jika ia mau meninggalkan agamanya, (biarkanlah dia) dan bila tidak mau, lemparkan ia dari atas gunung.' Mereka pun membawanya hingga naik ke puncak gunung. Pemuda itu berdoa, 'Ya Allah! Selamatkan aku dari mereka dengan sekehendak-Mu.' Gunung itu lantas mengguncangkan mereka hingga mereka jatuh. Pemuda itu lalu mendatangi raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi dengan orang-orang yang membawamu?' Pemuda itu menjawab, 'Allah menyelamatkanku dari mereka.' Lalu raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya yang lain, raja berkata, 'Bawalah ia pergi lalu naikkan ia ke sebuah perahu, lalu bawalah ia ke tengah laut. Jika ia mau meninggalkan agamanya, (bawalah dia pulang) dan bila ia tidak mau meninggalkannya, lemparkan dia.' Mereka pun membawanya ke tengah laut. Pemuda itu berdoa, 'Ya Allah! Selamatkan aku dari mereka dengan sekehendak-Mu.' Perahu itu akhirnya terbalik dan mereka semua tenggelam. Pemuda itu lalu mendatangi raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi pada orang-orang yang membawamu?' Ia menjawab, 'Allah telah menyelamatkanku dari mereka.' Maka ia berkata kepada raja, 'Engkau tidak bisa membunuhku sampai engkau mau melakukan apa yang aku perintahkan.' Raja bertanya, 'Apa yang kau perintahkan?' Pemuda itu berkata, 'Engkau kumpulkan semua orang di satu tanah lapang dan engkau menyalibku di atas pelepah. Kemudian ambillah anak panah dari tempat anak panahku, kemudian letakkan anak panah itu di tengah-tengah busur, selanjutnya ucapkan: Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini. Kemudian bidiklah aku. Bila engkau melakukannya pasti engkau bisa membunuhku.' Maka raja mengumpulkan orang-orang di satu tanah lapang dan ia menyalib pemuda itu di atas pelepah. Kemudian ia mengambil anak panah dari tempat anak panahnya, selanjutnya meletakkan anak panah itu di tengah-tengah busur. Kemudian ia mengucapkan, 'Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini.' Kemudian ia membidiknya hingga anak panah itu tepat mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya di pelipisnya tepat di tempat panah menancap lalu ia mati. Orang-orang berkata, 'Kami beriman pada Rabb pemuda itu. Kami beriman pada Rabb pemuda itu. Kami beriman pada Rabb pemuda itu.' Raja didatangi dan diberi laporan, 'Tahukah Anda apa yang Anda khawatirkan? Demi Allah, kekhawatiran Anda itu telah menimpa Anda. Orang-orang telah beriman.' Maka raja itu memerintahkan pembuatan parit di jalanan. Parit-parit pun dibuat dan api dinyalakan (di dalamnya). Raja berkata, 'Siapa yang tidak meninggalkan agamanya, lemparkan ke dalamnya.' Atau dikatakan padanya, 'Masuklah.' Mereka pun melakukan perintah itu, hingga datang seorang wanita yang bersama bayinya. Ia mundur agar tidak terjatuh dalam parit api. Maka bayi itu berkata, 'Wahai ibuku! Bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.'"(HR. Muslim)ذِرْوَةُ الْجَبَلِ (żirwatul-jabal): puncak gunung. Huruf "Żāl" dapat dikasrahkan dan didamahkan.الْقُرْقُورُ (al-qurqūr): salah satu jenis kapal.الصَّعِيدُ (aṣ-ṣa'īd): tanah yang terbuka.الأُخْدُودُ (al-ukhdūd): galian di tanah mirip sungai kecil (parit).أُضْرِمَ (uḍrimu): menyalakan.انْكَفَأَتْ (inkafa`at): terbalik.تَقَاعَسَتْ (taqā'asat): berhenti dan takut.

Kosa Kata Asing:

اَلْأَكْمَهُ (al-akmah): orang yang buta sejak lahir.اَلْأَبْرَصُ (al-abraṣ): orang yang memiliki penyakit warna putih di kulit dan keluar di atas permukaan badan (kusta).

اَلْأَدْوَاءُ (al-adwā`): penyakit.

فِيْ كَبِدِ الْقَوْسِ (fī kabidil-qaus): di bagian tengah busur; yaitu bagian pegangannya ketika memanah.

صُدْغه (ṣudgah): bagian muka antara mata dan daun telinga.

بِأَفْوَاهِ السِّكَكِ (bi afwāhis-sikak): di gang-gang jalan.

خُدَّتْ (khuddat): digali.فَأَقْحِمُوْه (fa aqḥimūhu): mereka melemparkannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran belajar sejak kecil; belajar di masa kecil seperti memahat di atas batu.

2) "Orang-orang yang beriman dan mereka bertakwa", merekalah wali-wali Allah -Ta'ālā-, dan mereka memiliki keramat yang berasal dari Allah -Ta'ālā- karena keutamaan mereka di sisi-Nya.

3) Di antara bentuk kasih sayang Allah -'Azza wa Jalla- bahwa Allah mengabulkan doa orang dalam kondisi terjepit ketika dia berdoa kepada-Nya.

4) Anjuran untuk berkorban di jalan dakwah kepada Allah -'Azza wa Jalla- dan menampakkan kebenaran.

5) Bersabar terhadap gangguan orang-orang kafir, ahli bidah, dan ahli maksiat adalah salah satu pintu jihad fi sabilillah, dan merupakan amal saleh paling besar ketika masa fitnah.

6) Menauhidkan Allah -'Azza wa Jalla- serta mengikhlaskan amal kepada-Nya merupakan hak Allah -Ta'ālā- yang paling besar terhadap seluruh hamba, dan merupakan alat untuk mengukur dekat dan jauhnya seorang hamba kepada Allah -'Azza wa Jalla-. Semakin kuat iman seorang hamba serta semakin besar kedudukan tauhid di dalam hatinya maka dia akan semakin dekat dan semakin mulia di sisi Allah -'Azza wa Jalla-. Juga, semakin lemah iman dan tauhidnya, maka dia akan semakin jauh dan hina.

7) Perkara terpenting untuk didakwahkan oleh orang yang berilmu kepada manusia adalah perkara tauhid dan larangan melakukan kesyirikan dengan berbagai model dan macamnya. Apakah kita telah tahu apa yang pertama kita harus dakwahkan kepada manusia?!

7/31- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- mengisahkan, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melewati seorang perempuan yang menangis di sisi sebuah kubur, maka beliau bersabda,"Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah."Dia berkata, "Menjauhlah dariku. Sungguh kamu tidak pernah ditimpa seperti musibah yang menimpaku." Sementara dia tidak mengenal beliau. Maka ada yang berkata kepadanya, "Sesungguhnya beliau adalah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Maka dia mendatangi rumah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan dia tidak menemukan penjaga di rumah beliau, lalu dia berkata, "Aku tidak mengenal engkau." Nabi bersabda,"Sesungguhnya kesabaran itu saat goncangan pertama."(Muttafaq 'Alaih)Dalam riwayat Imam Muslim:"Dia menangisi anak kecil laki-lakinya."

Pelajaran dari Hadis:

1) Akhlak baik Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam berdakwah kepada kebenaran serta kasih sayang beliau kepada manusia.

2) Sabar yang dipuji pelakunya adalah kesabaran ketika goncangan pertama.

8/32- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda,"Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Tidak ada balasan (yang pantas) dari-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, apabila Aku mewafatkan orang yang dicintainya dari penghuni dunia, kemudian dia rida dengan musibah tersebut, melainkan Surga.'"(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

الصَّفِيُّ (aṣ-ṣafiy): yang dicintai; yaitu orang pilihan baik anak, ibu, ayah, saudara, paman, atau teman.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan sabar menghadapi wafatnya orang yang kita cintai dari dunia; seorang hamba bila mengharapkan pahalanya kepada Allah maka baginya surga.

2) Allah -'Azza wa Jalla- menampakkan kebaikan dan kemurahan-Nya kepada hamba-hamba-Nya; yaitu Allah memberikan mereka ganti berupa pahala yang besar karena sabar, maka berbahagialah orang-orang yang sabar.

9/33- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang taun (penyakit wabah),maka beliau mengabarinya, bahwa "Taun adalah azab yang Allah -Ta'ālā- kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Kemudian Allah -Ta'ālā- menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seorang hamba diuji berada di negeri yang dilanda taun lalu dia diam bertahan di negerinya itu dengan penuh sabar dan mengharap pahala, yaitu dia meyakini bahwa dia tidak akan ditimpa kecuali oleh sesuatu yang telah Allah takdirkan untuknya, melainkan dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid."(HR. Bukhari)10/34- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata; Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, 'Apabila Aku menguji hamba-Ku pada kedua matanya (dibutakan), lalu dia bersabar, Aku akan menggantinya dengan surga.'"(HR. Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan sabar dan mengharap pahala; keduanya saling terkait. Bila hamba ingin meraih pahala sabar maka sabarnya harus karena Allah -'Azza wa Jalla-, bukan untuk kepentingan duniawi.

2) Seharusnya orang mengalami musibah taun (wabah) agar tetap tinggal di negerinya serta bersabar dan mengharap pahala, berdasarkan sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-,"Bila kalian mendengar taun menimpa suatu tempat maka janganlah datang ke sana. Tetapi bila taun terjadi di sebuah tempat dan kalian ada di sana, maka janganlah kalian keluar karena lari darinya." (HR. Bukhari)

3) Siapa yang dicintai oleh Allah -Ta'ālā- maka Allah akan mengujinya, untuk menghilangkan dari dirinya satu keburukan, atau menghapus satu dosa, atau mengangkat satu derajat baginya di dunia dan akhirat."

4) Surga adalah balasan paling besar, karena nikmat-nikmatnya kekal abadi. Sebab itu, setiap kali seseorang ditimpa satu keburukan hendaknya dia meminta surga sebagai gantinya.

11/35- 'Aṭā` bin Abi Rabāh berkata, Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata kepadaku, "Maukah engkau aku tunjuki seorang wanita penghuni surga?" Aku berkata, "Tentu." Dia menjelaskan, "Dialah wanita berkulit hitam yang datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, seraya berkata, 'Aku mengalami penyakit kesurupan, akibatnya auratku tersingkap. Berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku.' Beliau bersabda,Jika engkau mau bersabar, maka bagimu surga. Tetapi jika mau, aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu.'Dia berkata, 'Aku akan bersabar. Tetapi auratku tersingkap (saat kesurupan), berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.' Maka Nabi mendoakannya." (Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan sabar; yaitu sebab untuk masuk surga.

2) Boleh memberi kesaksian masuk surga bagi orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

3) Rasa malu yang tinggi pada wanita-wanita sahabat -raḍiyallāhu 'anhunna-; maka wajib bagi para wanita muslimah hari ini untuk meneladani mereka serta memakai pakaian yang menutup aurat, karena Allah telah memuji mereka atas hal itu.

12/36- Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Seakan-akan aku sedang melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika menirukan perbuatan seorang Nabi yang dipukul oleh kaumnya hingga ia terluka dan berdarah, kemudian ia mengusap darah tersebut dari wajahnya sambil berdoa,Ya Allah! Ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.'"(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

يَحْكِي نَبيّـاً (yaḥkī nabiyyan): menirukan seorang nabi serta melakukan seperti yang dilakukan oleh nabi terdahulu yang mengalami ujian seperti ujian yang dialami oleh nabi kita pada perang Uhud. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada mereka.

Pelajaran dari Hadis:

1) Meneladani kesabaran para nabi dalam menghadapi gangguan ketika menyampaikan dakwah kepada manusia.

2) Tidak menyikapi orang-orang yang jahil sebanding dengan perlakuan mereka, tetapi orang yang beriman akan sangat memaafkan gangguan orang-orang yang jahil.

3) Tidak meminta disegerakan azab untuk para penentang dan musuh agama.

13/37- Abu Sa'īd dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,"Tidaklah seorang muslim ditimpa kepayahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, penderitaan, dan kesusahan bahkan duri yang menusuknya melainkan Allah menghapus dosa-dosanya dengan itu."(Muttafaq ‘Alaih)

الْوَصَبُ (al-waṣab): penyakit.

14/38- Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika beliau sedang demam, aku berkata, "Ya Rasulullah, engkau mengalami demam yang sangat tinggi." Beliau berkata,"Ya, tentu saja. Sesungguhnya aku menderita sakit panas sebagaimana yang diderita oleh dua orang dari kalian."Aku bertanya, "Yang demikian karena engkau diberi pahala dua kali lipat?" Beliau menjawab,"Benar, persis demikian. Tidaklah seorang muslim ditimpa satu keburukan, berupa duri ataupun yang lebih besar, kecuali dengannya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan digugurkan dosa-dosanya seperti pohon menggugurkan dedaunannya."(Muttafaq 'Alaih)

الوَعْكُ (al-wa'ku): serangan demam, atau bermakna demam.

Kosa Kata Asing:

نَصَبٌ (naṣab): kepayahan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang beriman, Allah menghapus kesalahan-kesalahannya dengan ujian kegelisahan dan kesusahan yang menimpanya, serta kepayahan dan penyakit, dan lain sebagainya.

2) Semakin berat penyakit dan penderitaan yang dialami seorang hamba, lalu dia bersabar, Allah akan melipatgandakan pahalanya serta menggugurkan dosa-dosanya.

3) Seseorang jangan sampai menggabungkan antara penderitaan dan kehilangan pahala; maka hendaknya dia bersabar dan tidak murka ketika ada musibah.

15/39- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang Allah kehendaki (mendapat) kebaikan, Allah akan memberinya musibah."(HR. Bukhari)

Kata (يُصِبْ) harakatnya dengan mengkasrahkan huruf "ṣād" dan memfatahkannya.

Kosa Kata Asing:

يُصِبْ مِنْهُ (yuṣib minhu): Allah menakdirkan musibah kepadanya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menghadapi ujian dengan sabar dan mengharap pahala menjadi sebab Allah mengangkat derajat dan menghapus dosa.

2) Musibah yang dialami orang beriman adalah bukti Allah mencintainya dan menginginkan kebaikan baginya.

16/40- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Janganlah sekali-kali kalian mengharapkan kematian lantaran satu keburukan yang menimpanya. Jika terpaksa melakukan, hendaklah dia mengucapkan; Ya Allah, panjangkanlah hidupku selama kehidupan lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku bila kematian itu lebih baik bagiku."(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Larangan mengharapkan kematian ketika ada ujian dan musibah, karena hal ini bertentangan dengan kewajiban bersabar serta menunjukkan ketidakridaan pelakunya.

2) Hamba yang beriman menyerahkan urusannya kepada Allah disertai keinginan bertemu Allah -'Azza wa Jalla-; sebab manusia yang paling baik adalah yang panjang usianya dan baik perbuatannya.

17/41-Abu Abdillah Khabbāb bin Al-Aratt -raḍiyallāhu 'anhu- dia berkata, Kami datang mengadu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika beliau sedang berbaring berbantalkan selimutnya di bawah naungan Kakbah; kami berkata, "Tidakkah engkau memohonkan pertolongan bagi kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?" Maka beliau berkata,"Sungguh, dahulu orang-orang sebelum kalian diuji; seseorang diambil lalu dibuatkan galian di tanah dan dia dimasukkan ke dalamnya. Kemudian didatangkan gergaji lalu diletakkan di atas kepalanya, lalu dia digergaji menjadi dua, dan disisir dengan sisir besi antara daging dan tulangnya. Tapi itu semua tidak membuatnya murtad dari agamanya. Demi Allah, Allah benar-benar akan menyempurnakan agama ini hingga seorang pengendara berjalan dari San'a menuju Hadramaut tidak ada yang ditakuti kecuali Allah dan kecuali serilaga terhadap kambingnya. Tetapi kalian terlalu terburu-buru."(HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain: "Beliau sedang berbaring berbantalkan selimut, sementara kami mendapatkan ujian berat dari orang-orang musyrikin."

Kosa Kata Asing:

مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً (mutawassidun burdatan): menjadikan selimutnya sebagai bantal di bawah kepalanya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban bersabar terhadap gangguan dari musuh-musuh umat Islam, disertai melakukan upaya-upaya meraih kemenangan dan pertolongan.

2) Di antara bukti kenabian: kebenaran apa yang dikabarkan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; yaitu terwujudnya akhir manis dari kesabaran yang beliau kabarkan berupa disempunakannya agama ini.

14/42- Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Ketika perang Ḥunain, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi bagian yang lebih dari hasil rampasan perang untuk beberapa orang. Beliau memberi Al-Aqra' bin Ḥābis seratus unta dan memberi 'Uyainah bin Ḥiṣn juga seperti itu. Juga, beliau memberi bagian yang lebih kepada beberapa pemuka Arab. Lantas seseorang berkata, 'Demi Allah, ini pembagian yang tidak adil dan tidak diridai Allah.' Maka aku bergumam, 'Demi Allah, aku akan melaporkannya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.' Aku pun melaporkan apa yang dia katakan tadi. Maka wajah beliau berubah dan memerah. Kemudian beliau bersabda,Lalu siapa yang bisa adil jika Allah dan Rasul-Nya tidak adil?!'Lantas beliau melanjutkan,Semoga Allah merahmati Nabi Musa; beliau disakiti lebih dari ini, tetapi tetap bersabar.'Maka aku pun berkata, 'Sungguh, saya tidak akan melaporkan lagi kepada beliau suatu pembicaraan setelahnya.'"(Muttafaq 'Alaih)

Ucapan Ibnu Mas'ūd: (كَالصِّرْفِ), dengan huruf "ṣād" yang kasrah, bermakna warna merah.

Kosa Kata Asing:

لَا جَرَمَ (lā jarama): sungguh, artinya hal itu terwujud.

Pelajaran dari Hadis:

1) Pemimpin boleh memberi bagian yang lebih kepada orang yang dilihat ada maslahat dalam memberinya, misalnya untuk meluluhkan hati.

2) Manusia harus mengikuti para nabi dalam kesabaran menghadapi penderitaan dan mengharap pahala di sisi Allah -Ta'ālā-; bila disakiti maka dia menghibur diri dengan mengingat penderitaan yang menimpa nabi-nabi sebelum kita -ṣallallāhu 'alaihim wa sallam-.

19/43- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia segerakan balasan dosanya di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya, Dia tahan balasan dosanya hingga Dia memberinya dengan sempurna pada hari Kiamat."Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- juga bersabda,"Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, Dia pasti menguji mereka. Siapa yang rida maka baginya keridaan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan")

Pelajaran dari Hadis:

1) Hukuman di dunia menggugurkan dosa.

2) Manusia wajib bersabar terhadap musibah agar mendapat keridaan dari Allah -'Azza wa Jalla-.

3) Penundaan hukuman oleh Allah -'Azza wa Jalla- kepada para pelaku maksiat adalah bentuk istidraj kepada mereka; hukumannya itu diakhirkan karena satu hikmah dan menunggu waktu yang telah Allah -Ta'ālā- tetapkan.Sebagaimana dalam firman-Nya, "Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa."

Faedah Tambahan:

Di dalam hadis-hadis ini terdapat petunjuk yang jelas bahwa orang beriman ketika semakin kuat imannya maka ujiannya akan bertambah, dan ketika imannya semakin lemah maka ujiannya akan berkurang.Ini mengandung bantahan terhadap orang-orang yang lemah akal dan kecerdasan yang menyangka bahwa orang beriman ketika ditimpa ujian menunjukkan dia tidak diridai di sisi Tuhannya. Ini adalah sangkaan yang batil dan tolok ukur yang salah karena mengukur rida Allah di akhirat dengan kelapangan di dunia.Allah berfirman, "Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya."20/44- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- memiliki seorang anak laki-laki, dia sakit. Abu Ṭalḥah keluar, lalu anak itu dicabut nyawanya. Ketika Abu Ṭalḥah kembali dia bertanya, 'Apa yang dilakukan anakku?' Ummu Sulaim, ibu anak itu, berkata, 'Dia sangat tenang.' Lalu dia menyuguhkan kepadanya makan malam. Maka Abu Ṭalḥah segera makan malam, kemudian menggauli istrinya. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata, 'Kuburkanlah anak kita.' Ketika pagi hari, Abu Ṭalḥah mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu mengabarkannya kepada beliau. Beliau bertanya, 'Apakah kalian berhubungan tadi malam?' Dia menjawab, 'Ya.' Beliau berdoa, 'Ya Allah, berkahilah mereka berdua.' Kemudian Ummu Sulaim melahirkan seorang anak. Abu Ṭalḥah berkata kepadaku, 'Bawalah dia kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.' Abu Ṭalḥah juga mengirim beberapa biji kurma. Nabi bertanya, 'Apakah ada sesuatu bersamanya?' Dia menjawab, 'Ya, beberapa biji kurma.' Lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambilnya, kemudian mengunyahnya, selanjutnya mengeluarkan dari mulutnya dan menempatkannya di mulut anak kecil tersebut kemudian menahniknya dan memberinya nama Abdullah."(Muttafaq 'Alaih)Dalam riwayat Bukhari:Ibnu 'Uyainah mengisahkan bahwa seorang laki-laki dari kaum Ansar berkata, "Aku melihat sembilan anak, semuanya penghafal Al-Qur`ān." Maksudnya anak-anak Abdullah yang disebutkan kelahirannya di atas.Dalam riwayat Imam Muslim:"Putra Abu Ṭalḥah dari istrinya Ummu Sulaim meninggal dunia. Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya, 'Jangan beritahukan Abu Ṭalḥah tentang anaknya. Nanti aku yang memberitahunya.' Abu Ṭalḥah datang, lalu dia menyuguhkan makan malam kepadanya. Maka Abu Ṭalḥah makan dan minum. Kemudian Ummu Sulaim berhias untuknya dengan yang lebih bagus dari sebelum-sebelumnya. Maka Abu Ṭalḥah berhubungan badan dengannya. Ketika Ummu Sulaim telah melihatnya kenyang serta telah berhubungan dengannya, dia berkata, 'Ya Abu Ṭalḥah, apa pendapatmu, bila suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada sebuah keluarga, lalu mereka meminta apa yang mereka pinjamkan itu; apakah mereka boleh tidak memberikannya?' Abu Ṭalḥah menjawab, 'Tidak boleh.' Lalu Ummu Sulaim berkata, 'Berharaplah pahala dengan kematian putramu.' Abu Ṭalḥah pun marah seraya berkata, 'Engkau biarkan aku, kemudian ketika aku telah junub (karena jimak), baru engkau mengabariku tentang putraku?!' Dia bergegas pergi dan menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengabarkan beliau apa yang telah terjadi. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lantas berdoa, 'Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.' Kemudian Ummu Sulaim pun hamil." Anas melanjutkan ceritanya, "Pernah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam sebuah perjalanan sedangkan Ummu Sulaim ikut bersamanya. Sementara Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bila masuk Madinah setelah dari perjalanan, beliau tidak akan mendatangi keluarganya malam-malam. Maka saat mereka telah dekat dari Madinah, Ummu Sulaim mengalami kontraksi, sehingga Abu Ṭalḥah tertahan karena menemani istrinya. Sementara Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah berangkat. Abu Ṭalḥah berkata, 'Ya Rabb, sesungguhnya Engkau mengetahui aku senang bila pergi bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika beliau bersafar serta pulang bersama beliau ketika beliau pulang. Tetapi aku tertahan, seperti yang Engkau lihat.' Ummu Sulaim berkata, 'Wahai Abu Ṭalḥah, aku tidak lagi merasakan yang tadi kurasakan. Berangkatlah.' Kemudian kami pun berangkat. Lalu dia mengalami kontraksi lagi setelah mereka berdua masuk Madinah dan melahirkan seorang anak." Anas bercerita, "Ibuku berkata, 'Wahai Anas, tidak boleh ada seorang pun yang menyusuinya kecuali setelah kamu membawanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.' Ketika pagi hari, aku segera membawanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."Kemudian dia menyebutkan kelanjutan hadis di atas.

Kosa Kata Asing:

أَعَرَسْتُمُ اللَّيْلَةَ (a 'arastum al-lailah): apakah kalian berhubungan badan tadi malam?

تَلَطَّخْتُ (talaṭṭakhtu): adalah kiasan bagi kotor karena berhubungan badan.

لا يَطْرُقُهَا طُروُقًا (lā yaṭruquhā ṭurūqan): tidak masuk padanya di malam hari.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban para wanita hari ini adalah menjadikan para wanita sahabat -raḍiyallāhu 'anhunna- sebagai teladan dalam kesabaran mereka, seperti Ummu Sulaim -raḍiyallāhu 'anhā-.

2) Di antara bentuk kepandaian seseorang adalah memilihkan nama yang paling baik bagi putra dan putrinya.

3) Siapa yang bersabar serta mengharap pahala ketika musibah, maka Allah -'Azza wa Jalla- akan memberinya ganti yang lebih baik daripada apa yang menimpanya pada diri dan keluarganya.

21/45- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda,"Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat. Sesungguhnya ‎orang kuat ialah siapa yang dapat menahan dirinya ketika marah.‎"(Muttafaq ‘Alaih)

الصُّرَعَةُ (aṣ-ṣur'ah) dengan mendamahkan huruf "ṣād" dan memfatahkan huruf "rā`"; makna aslinya di kalangan Arab adalah orang yang banyak membanting musuh.

22/46- Sulaiman bin Ṣurad -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku sedang duduk bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika dua orang laki-laki saling bertengkar, muka salah satunya telah merah dan urat lehernya menggelembung, maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sungguh, aku mengetahui satu kalimat kalau dia mengucapkannya niscaya kemarahan yang dialaminya akan hilang. Yaitu kalau dia mengucapkan, 'A'ūżu billāhi minasy-syaiṭānir-rajīm (Saya berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)', niscaya kemarahan yang dirasakannya akan hilang.”Maka para sahabat berkata kepadanya, "Sesungguhnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah berkata,"Berlindunglah kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk (dengan membaca istiazah)."(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran agar manusia menguasai diri ketika marah.

2) Berlindung (membaca istiazah) kepada Allah dari setan yang terkutuk termasuk tindakan yang akan membantu hamba untuk bersabar dan menolak hawa nafsu. Karena setan adalah sumber semua keburukan, dan setan akan terus-menerus membakar hati orang yang marah hingga dia mengucapkan ucapan mungkar serta melakukan perbuatan yang menyelisihi rida Allah Yang Maha Pengasih.

3) Marah yang bukan karena Allah -Ta'ālā- berasal dari tipu daya setan, adapun marah yang disebabkan karena perkara yang Allah haramkan dilanggar merupaka tanda iman yang benar.

23/47- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda,"Siapa yang menahan amarah, padahal ia mampu untuk meluapkannya, maka Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari Kiamat lalu dipersilakan untuk memilih bidadari yang ia sukai."(HR. Abu Daud dan Tirmizi, dan ia berkata, "Hadisnya hasan")

24/48- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Berilah aku wasiat?" Beliau bersabda, "Jangan marah!" Orang itu mengulangi permintaannya berkali-kali, beliau tetap bersabda, "Jangan marah!" (HR. Bukhari)

25/49- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Cobaan akan senantiasa menimpa orang beriman laki-laki dan perempuan pada diri, anak, dan hartanya hingga dia berjumpa dengan Allah -Ta'ālā- (meninggal) dalam keadaan tidak memiliki dosa."(HR. Tirmidzi dan dia berkata, "Hadisnya hasan sahih")

Kosa Kata Asing:

كَظَمَ غَيْظًا (kaẓama gaiẓan): bersabar menahan amarah dan pemicunya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan sabar; yaitu merupakan ibadah paling besar untuk mendekatkan diri kepada Allah -'Azza wa Jalla- serta perkara paling penting untuk diwasiatkan kepada manusia.

2) Bila seseorang bersabar dan mengharap pahala di sisi Allah -Ta'ālā- maka Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.

3) Di antara bentuk rahmat Allah -Azza wa Jalla- kepada hamba-hamba-Nya yang beriman adalah mengampuni dosa-dosa mereka karena musibah dan bencana-bencana dunia yang menimpa mereka.

26/50- Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Uyainah bin Ḥiṣn datang lalu menginap di tempat keponakannya, Al-Ḥurr bin Qais. Dia termasuk salah seorang yang dekat dengan Umar -raḍiyallāhu 'anhu, karena dahulu, Umar mengangkat para penghafal Al-Qur`ān sebagai dewan majelis dan musyawarahnya, yang tua maupun yang muda. 'Uyainah berkata kepada keponakannya, 'Wahai anak saudaraku, kamu adalah orang yang memiliki kedudukan di hadapan Amīrul-Mu`minīn, maka mintalah izin kepadanya agar aku dapat menemuinya.' Lantas keponakannya memintakan izin dan Umar mengizinkannya. Ketika 'Uyainah masuk, ia berkata, 'Heh. Wahai Ibnul-Khaṭṭāb, demi Allah, engkau tidak memberi yang banyak kepada kami dan engkau tidak menetapkan hukum kepada kami dengan adil.' Umar -raḍiyallāhu 'anhu- marah hingga berniat untuk memukulnya. Al-Ḥurr berkata kepada Umar, 'Amīrul-Mu`minīn, sesungguhnya Allah -Ta'ālā- telah berfirman kepada Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-,"Berikanlah maaf, perintahkanlah untuk berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang jahil."(QS. Al-A'rāf: 199)Sesungguhnya orang ini termasuk orang yang jahil. Demi Allah, Umar tidak mengabaikan ayat itu ketika dia membacanya, sebab Umar adalah orang yang sangat patuh terhadap Al-Qur`ān."(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

هِيْ (hī): ucapan ancaman.

مَا تُعْطِينَا الْجَزْل (mā yu'ṭīnal-jazal): engkau tidak memberi kami pemberian yang banyak.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban seseorang ketika sedang marah atau murka agar mengingat Kalam Allah -'Azza wa Jalla- dan hadis Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta perbuatan dan kesabaran para sahabat agar dia menjadi orang yang patuh kepada batasan-batasan Allah -Ta'ālā-.

2) Keutamaan besar yang dimiliki sahabat yang mulia Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-. Dia sangat patuh menjaga batasan-batasan Allah -'Azza wa Jalla-. Maka sudah menjadi kewajiban orang Islam pada hari ini untuk menjadikan orang-orag seperti sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- sebagai teladan, serta menjauhi teladan buruk dari kalangan orang kafir, fasik, dan lalai.

3) Kewajiban para penguasa untuk memilih dewan majelis dari kalangan orang-orang berilmu dan beriman.

27/51- Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya, setelah aku wafat akan ada (penguasa) yang mementingkan diri sendiri serta perkara-perkara yang kalian ingkari." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab, "Tunaikanlah hak yang menjadi kewajiban kalian dan mohonlah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian."(Muttafaq ‘Alaih)

الأثَرَة (al-aṡarah): mengkhususkan diri pada sesuatu dari orang lain yang memiliki hak di dalamnya.

87/52- Abu Yahya Usaid bin Ḥuḍair -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa seorang laki-laki kaum Ansar telah berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengangkatku (sebagai pejabat) sebagaimana engkau mengangkat fulan?" Beliau bersabda,"Sesungguhnya kalian akan mendapatkan (penguasa) yang mementingkan diri setelah aku wafat. Karena itu, bersabarlah sampai kalian menjumpaiku di telaga."(Muttafaq 'Alaih)

أُسَيْدٌ (Usaid), dengan mendamahkan huruf "hamzah". حُضَيْرٌ (Ḥuḍair), dengan huruf "ḥā`" yang didammahkan dan "ḍād" yang difatahkan. Wallahu a'lam

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran kepada manusia agar bersabar menghadapi kezaliman penguasa di dalam hak rakyat serta tetap menunaikan kewajiban mereka untuk mendengar dan taat pada kebaikan.

2) Memohon karunia Allah -'Azza wa Jalla- merupakan sebab paling besar untuk meraih apa yang diinginkan dan menolak apa yang dikhawatirkan.

3) Di antara balasan bagi orang-orang yang sabar pada hari Kiamat adalah diperkenankan minum dari telaga Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan sikap orang beriman bila kehilangan sebagian kenikmatan dunia agar ingat kepada pahala besar yang ada di akhirat.

29/53- Abu Ibrahim Abdullah bin Abi Aufā -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di beberapa kesempatan ketika bertemu musuh, beliau menunggu (tidak menyerang) hingga ketika matahari telah condong, beliau berdiri di tengah-tengah sahabat seraya berpidato,"Wahai sekalian manusia! Janganlah kalian berharap bertemu musuh. Mohonlah kepada Allah keselamatan. Lalu, bila kalian telah bertemu musuh, maka bersabarlah. Ketahuilah, bahwa surga di bawah bayang-bayang pedang."Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdoa,"Ya Allah! Rabb Yang menurunkan hujan, Yang menjalankan awan, Yang mengalahkan sekutu orang-orang musyrikin. Kalahkanlah mereka dan menangkanlah kami atas mereka."(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Larangan mengharap bertemu musuh; tetapi bila telah bertemu maka seorang hamba wajib bersabar dan memohon kepada Allah -'Azza wa Jalla- agar diberikan pertolongan dalam tugas tersebut.

2) Anjuran mendoakan kekalahan musuh; karena mujahid itu seharusnya memohon kepada Allah -Ta'ālā- agar dimenangkan atas musuhnya.

Faedah Tambahan:

Larangan mengharap bertemu musuh bukan berarti membenci jihad dan tidak mengajak diri untuk berperang atau mengharap mati syahid di jalan Allah, karena semua itu termasuk yang dianjurkan oleh agama dan dijadikan sebagai sifat orang-orang yang bertakwa dan tingkatan orang-orang sidik.

 4- BAB KEJUJURAN

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur."(QS. At-Taubah: 119)Allah -Ta'ālā- juga berfirman (tentang salah satu kriteria yang diberikan ampunan dan pahala besar),"Dan orang-orang yang jujur laki-laki maupun perempuan."(QS. Al-Aḥzāb: 35)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Sekiranya mereka selalu jujur kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka."(QS. Muḥammad: 21)

Pelajaran dari Ayat:

1) Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk jujur serta menjaga kejujuran agar termasuk dari orang-orang yang jujur.

2) Jujur adalah sifat terpuji yang dituntut dari orang-orang beriman secara keseluruhan, laki-laki dan perempuan.

3) Kejujuran adalah kebaikan dan sebab kemenangan; kejujuranlah yang menjadikan ucapan, perbuatan, dan kondisi memiliki nilai dan berharga.

Adapun tentang hadis-hadisnya, maka sebagai berikut:

1/54- Pertama: Hadis dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda,"Sungguh, kejujuran mengarahkan kepada kebajikan dan kebajikan mengarahkan kepada surga. Seseorang akan bersikap jujur hingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sungguh, kedustaan mengarahkan kepada keburukan dan keburukan mengarahkan kepada neraka. Seseorang akan berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta."(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

البِرّ (al-birr): istilah yang mencakup untuk semua kebaikan.

الفُجُوْرُ (al-fujūr): perbuatan buruk.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran bersikap jujur dan mengusahakannya, karena jujur adalah sebab semua kebaikan. Juga peringatan terhadap dusta serta bermudah-mudah di dalamnya, karena kedustaan adalah sebab semua keburukan.

2) Dusta hukumnya haram; seseorang tidak diperbolehkan berdusta secara mutlak, walaupun untuk membuat kelucuan atau bercanda.Termasuk apa yang disebut di kalangan awam sebagai "dusta putih" hukumnya haram, karena dusta seluruhnya hitam dan buruk bagi manusia dan bagi pelakunya, kecuali dusta yang diperbolehkan yang dikecualikan oleh agama.

Faedah Tambahan:

Ada beberapa perkara yang diboleh berdusta karena maslahat sebagaimana diriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, yaitu:

1) berdusta (tipu daya) dalam perang,

2) berdusta untuk mendamaikan perselisihan orang-orang, dan

3) dusta dalam ucapan perempuan kepada suaminya serta suami kepada istrinya.

Sebagaimana ditunjukkan dalam hadis Ummu Kulṡūm binti 'Uqbah, dia berkata,"Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi keringanan (rukhsah) dalam berdusta pada tiga perkara: dalam perang, mendamaikan orang, dan ucapan laki-laki kepada istrinya."Dalam riwayat lain:"... dan ucapan laki-laki kepada istrinya dan ucapan istri kepada suaminya."(HR. Ahmad)2/55- Kedua: Hadis dari Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhuma-, ia berkata, Aku menghafal dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam,"Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukan. Sungguh, kejujuran itu mendatangkan ketenangan dan kebohongan itu mendatangkan keraguan."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan")

Sabda beliau: يَرِيبُكَ (yarībuka) -dengan memfatahkan atau mendamahkan huruf "yā`"-, bermakna tinggalkan apa yang kehalalannya meragukanmu dan beralihlah kepada yang tidak mengandung keraguan.

Kosa Kata Asing:

يَرِيبُكَ (yarībuka): menjatuhkanmu dalam keraguan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Seseorang wajib meninggalkan dusta dan menggantinya dengan kejujuran, karena dusta mendatangkan keraguan sedangkan kejujuran mendatangkan ketenangan.

2) Sikap hati-hati seseorang dari berbagai syubhat dan hal-hal yang samar hukumnya serta meninggalkannya merupakan salah satu bentuk sikap warak.

3/56- Ketiga: Hadis Abu Sufyan Ṣakhr bin Ḥarb -raḍiyallāhu 'anhu- dalam hadis yang panjang tentang kisah Heraklius, Heraklius berkata, "Apa yang dia (yakni Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-) perintahkan pada kalian?" Abu Sufyan menjawab, "Dia berkata,Sembahlah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan tinggalkanlah apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian. Dia memerintahkan kami untuk salat, jujur, menjaga kesucian, dan menyambung rahim (silaturahmi)'."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Inti agama ini adalah menauhidkan Allah -Ta'ālā-, karena tauhid sumber semua kebaikan. Maka wajib bagi semua kaum muslimin untuk memberikan perhatian yang besar kepada tauhid, karena amal perbuatan tidak diterima kecuali dengannya, dan masuk surga hanya dengannya. Jadi, tauhid adalah kunci surga.

2) Peringatan terhadap taklid buta kepada nenek moyang, pimpinan, dan para figur besar, khususnya dalam urusan agama. Karena agama harus diambil dari sumbernya yang asli, yaitu Al-Qur`ān dan Sunnah dan dipahami dengan petunjuk generasi para salaf.Adapun tradisi masyarakat yang menyelisihi agama yang Allah turunkan maka tidak boleh dijadikan sebagai agama yang diikuti.

3) Jujur adalah akhlak paling urgen yang harus diwujudkan, ia juga merupakan sifat para nabi dan rasul.

4/57- Keempat: Hadis dari Abu Ṡābit, atau disebut juga Abu Sa'īd dan Abu Al-Walīd, Sahl bin Ḥunaif, salah satu ahli Badar -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang memohon mati syahid kepada Allah -Ta'ālā- dengan tulus, niscaya Allah akan menyampaikannya ke derajat orang-orang yang mati syahid meskipun ia mati di atas tempat tidurnya."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Kejujuran hati menjadi sebab diraihnya cita-cita; siapa yang meniatkan suatu amal kebajikan akan diberi pahala atas niatnya itu sekalipun tidak ditakdirkan melakukannya atau dia tidak mampu menyempurnakannya.

2) Anjuran meminta mati syahid serta ketulusan di dalamnya.

5/358 Kelima: Hadis dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ada salah seorang nabi -ṣalawātullāh wa salāmuhu 'alaihim- hendak berperang. Dia berkata kepada kaumnya, 'Jangan mengikutiku (berperang) laki-laki baru menikah yang hendak menggauli istrinya, sementara ia belum melakukannya; Tidak juga orang yang membangun rumah sedangkan ia belum selesai menaikkan atapnya; Dan tidak pula orang yang baru membeli kambing atau unta yang sedang bunting sementara ia menunggu kelahiran anaknya.' Lantas nabi itu berangkat perang. Dia merapat ke negeri (yang diperangi) pada waktu salat Asar atau mendekati waktu itu. Nabi itu berkata kepada matahari, 'Wahai matahari, sesungguhnya engkau diperintah dan aku pun diperintah. Ya Allah, tahanlah matahari itu untuk kami.' Kemudian matahari itu pun tertahan jalannya hingga Allah memberikan kemenangan kepada nabi tersebut. Lalu nabi itu mengumpulkan harta rampasan perang, kemudian datanglah api untuk melahapnya, tetapi api itu tidak dapat melahapnya. Nabi itu berkata, 'Sesungguhnya di antara kalian ada yang berbuat gulūl (menyembunyikan harta rampasan perang), maka setiap kabilah harus mengirimkan seorang laki-laki untuk berbaiat kepadaku.' Lantas ada seorang laki-laki yang tangannya melekat dengan tangan Nabi itu, maka Nabi itu berkata, 'Sungguh, di pihak kabilahmu ada yang berbuat gulūl, oleh sebab itu hendaklah seluruh orang dari kabilahmu memberikan pembaiatan kepadaku.' Kemudian ada dua atau tiga orang (dari kabilah tersebut) yang tangannya melekat dengan tangan Nabi itu, lalu Nabi itu berkata, 'Kalianlah yang melakukan perbuatan gulūl itu.' Lalu mereka membawa emas sebesar kepala sapi, kemudian meletakkannya. Lantas datanglah api dan melahapnya. Ganimah (harta rampasan perang) tidak dihalalkan bagi siapa pun sebelum kita. Kemudian Allah menghalalkan ganimah untuk kita karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita. Dia pun menghalalkannya untuk kita."(Muttafaq ‘Alaih)

الْخَلِفَاتُ (al-khalifāt) -dengan memfatahkan huruf "khā`" dan mengkasrahkan huruf "lām"-, ia adalah bentuk jamak dari kata خَلِفَةٍ (khalifah), yaitu unta yang bunting.

Kosa Kata Asing:

بُضْعٌ (buḍ'un): bisa bermakna kemaluan, pernikahan, dan hubungan badan.

الغُلُوْلُ (al-gulūl): pengkhianatan dalam ganimah, yaitu mengambilnya sebelum dibagi.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban seseorang ketika meniatkan satu ketaatan agar memfokuskan hati dan badan untuk itu serta menunaikannya dengan penuh hati-hati, tenang serta dada lapang.

2) Besarnya karunia Allah -'Azza wa Jalla- kepada umat ini; yaitu Allah halalkan bagi mereka ganimah ketika hal itu diharamkan kepada umat-umat sebelum kita. Ini merupakan bagian dari rahmat Allah kepada umat yang tercinta ini.

3) Menjelaskan akibat buruk dusta serta urgensi jujur dan buah terpujinya.

Faedah Tambahan:

Nabi yang disebutkan dalam hadis di atas adalah Yūsya' bin Nūn, berdasarkan hadis Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam hadis yang sahih,"Sesungguhnya matahari tidak pernah ditahan untuk menusia kecuali untuk Nabi Yūsya` ketika malam perjalanannya menuju Baitulmaqdis."(HR. Ahmad dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-)6/59- Keenam: Hadis dari Abu Khālid Ḥakīm bin Ḥizām -raḍiyallāhu 'anhu- dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Dua orang yang berjual beli memiliki hak khiyār (pilihan) selama belum berpisah. Jika mereka jujur dan menjelaskan kekurangan yang ada, mereka diberkahi dalam jual belinya itu. Tetapi jika mereka berbohong dan menyembunyikannya, maka hilanglah keberkahan jual beli mereka itu."(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

البَيِّعَان (al-bayyi'ān): penjual dan pembeli.

بالخيار (bil-khiyār): masing-masing mereka memiliki hak khiyār (memilih melanjutkan atau membatalkan) sesuai yang mereka mau.

مُحِقَتْ (muḥiqat): hilang dan lenyap.

Pelajaran dari Hadis:

1) Wajib menjelaskan aib barang, dan haram menyembunyikannya. Maka, di manakah para pelaku pasar dari petunjuk hadis ini?!

2) Jujur dalam perniagaan adalah cita-cita tinggi, tidak akan sabar melakukannya kecuali orang yang memiliki keutamaan yang besar.

3) Jujur dalam jual beli adalah sumber keberkahan dan keuntungan.

 5- BAB MURĀQABAH

Allah -Ta'ālā- berfirman,"(Allah) Yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk salat), dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud."(QS. Asy-Syu'arā`: 218-219)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan Dia senantiasa bersama kamu di mana pun kamu berada."(QS. Al-Ḥadīd: 4)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit."(QS. Āli 'Imrān: 5)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Sungguh, Rabb-mu benar-benar mengawasi."(QS. Al-Fajr: 14)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada."(QS. Gāfir: 19)Ayat-ayat tentang bab ini banyak nan populer.

Pelajaran dari Ayat:

1) Kewajiban hamba agar menanamkan sifat murāqabatullāh, yakni selalu meyakini bahwa Allah mengawasi dirinya.

2) Makna "ma'iyyatullāh (kebersamaan Allah dengan hamba)" yang Allah sematkan kepada Diri-Nya dalam Al-Qur`ānul-Karīm terbagi menjadi beberapa macam:

Pertama: bermakna menguasai seluruh makhluk baik dari segi pengetahuan, penguasaan, ataupun pengaturan terhadap mereka, sebagaimana dalam firman-Nya,"Dan Dia senantiasa bersama kamu di mana pun kamu berada." (QS. Al-Ḥadīd: 4)Kedua: bermakna ancaman dan peringatan, sebagaimana dalam firman-Nya:"Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Dan Allah Maha Meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan."(QS. An-Nisā`: 108)Ketiga: bermakna pertolongan dan peneguhan hati, sebagaimana dalam firman Allah -Ta'ālā-,"Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan."(QS. An-Naḥl: 128)Konsekuensi dari kebersamaan Allah terhadap hamba ini adalah agar Anda selalu merasa diawasi oleh Allah serta takut kepada-Nya, lalu Anda melakukan ketaatan dan meninggalkan larangan-larangan-Nya serta membenarkan wahyu-Nya.

Adapun hadis-hadis yang berkaitan dengan bab ini, sebagai berikut:

1/60- Pertama: Hadis dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata,"Suatu hari ketika kami duduk bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang memakai pakaian yang sangat putih dan rambutnya hitam pekat, tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan padanya sementara tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya hingga dia duduk di hadapan Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas dia menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya seraya berkata, 'Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam!' Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, 'Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, mendirikan salat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah apabila engkau mampu.' Orang itu berkata, 'Engkau benar.' Kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya. Orang itu berkata lagi, 'Terangkanlah kepadaku tentang iman!' Beliau menjawab, 'Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.' Orang itu berkata, 'Engkau benar. Terangkanlah kepadaku tentang ihsan!' Beliau bersabda, 'Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.' Orang itu berkata lagi, 'Beritahukan kepadaku tentang waktu hari Kiamat!' Beliau menjawab, 'Orang yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.' Orang itu berkata, 'Terangkan tentang tanda-tandanya!' Beliau menjawab, 'Yaitu ketika budak perempuan telah melahirkan tuannya, ketika engkau melihat orang-orang yang tak beralas kaki, tanpa mengenakan pakaian, sangat miskin, dan pekerjaannya menggembalakan kambing, mereka berlomba-lomba mendirikan bangunan yang megah.' Lantas orang itu pergi dan aku diam sekian lama. Kemudian beliau berkata, 'Wahai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?' Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.' Beliau bersabda, 'Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.'"(HR. Muslim)

Makna "budak perempuan melahirkan tuannya" yaitu akan banyak tawanan perempuan, sehingga tawanan yang dijadikan budak melahirkan anak perempuan bagi tuannya, sedangkan anak tuan sama kedudukannya dengan sang tuan. Ada juga sebagian ulama yang berpendapat selain ini. (الْعَالَةُ: al-'ālah) artinya orang-orang miskin. Perkataan Umar (مَلِياً: maliyyan) artinya jarak waktu yang panjang, yaitu tiga hari.

Kosa Kata Asing:

رِعَاءَ الشَّاءِ (ri'ā` asy-syā`i): para penggembala kambing.

Pelajaran dari Hadis:

1) Syahadat tauhid (لا إله إلا الله محمد رسول الله) merupakan rukun Islam paling besar, bahkan di atasnyalah keislaman seseorang tegak.

2) Kewajiban penuntut ilmu ketika duduk bersama orang yang berilmu (ulama) dalam sebuah majelis agar bertanya masalah-masalah yang penting bagi orang-orang yang hadir, sekalipun dia sendiri telah mengetahui hukumnya, tujuannya untuk berbagi ilmu dengan orang-orang yang hadir, dan dengan itu dia telah menjadi pengajar bagi mereka.

3) Seorang hamba hendaknya menghadirkan rasa kedekatan Allah -'Azza wa Jalla- dari dirinya, bahwa Allah mengawasinya; mengetahui segala yang ia tampakkan dan yang ia sembunyikan, sebab hal itu akan melahirkan rasa takut dan pengagungan kepada Allah dalam hatinya serta melahirkan ketulusan dalam ibadah dan usaha kuat untuk memperbaiki dan menyempurnakannya.

4) Indahnya adab para sahabat kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; yaitu ketika mereka mengembalikan wewenang keilmuan kepada Allah -Ta'ālā- dan kepada Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada masa hidup beliau.

5) Sunnah Nabi adalah wahyu yang diturunkan dari Allah, sehingga tidak boleh dianggap rendah kedudukannya dalam penetapan syariat; karena kita diperintahkan untuk mengikuti kedua wahyu; Al-Qur`ān dan Sunnah.

2/61- Kedua: Hadis dari Abu Żarr Jundub bin Junādah dan Abu Abdirrahman Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhumā-, mereka meriwayatkan dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,"Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, ikutilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapus keburukan itu, dan perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan")

Pelajaran dari Hadis:

1) Senantiasa bertakwa kepada Allah -'Azza wa Jalla- merupakan buah dari sifat murāqabatullāh di semua perkataan dan perbuatan, yang sir dan yang tampak.

2) Kebaikan akan menghapus keburukan, dan ini termasuk rahmat Allah -Ta'ālā- kepada hamba-Nya.

3) Besarnya kedudukan akhlak baik; yaitu merupakan jalan keberuntungan di dunia dan akhirat, sehingga orang beriman harus berusaha kuat untuk memperbaiki akhlaknya.

3/62- Ketiga: Hadis dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, Suatu hari aku dibonceng di belakang Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu beliau bersabda,"Wahai Ananda! Aku akan mengajarimu beberapa kalimat: Peliharalah (agama) Allah, niscaya Allah akan memeliharamu. Peliharalah (agama) Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu. Bila engkau minta, mintalah kepada Allah. Bila memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya umat ini bersepakat untuk memberi suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberimu manfaat sedikitpun kecuali sesuatu yang telah Allah tuliskan bagimu. Dan bila mereka bersepakat untuk mencelakaimu dengan sesuatu, mereka tidak akan mencelakaimu kecuali dengan yang telah Allah tuliskan atasmu. Pena takdir telah diangkat, dan lembaran-lembaran takdir telah kering."(HR. Tirmidzi dan dia berkata, "Hadisnya hasan sahih")Dalam riwayat selain Tirmizi disebutkan:"Peliharalah (agama) Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu. Beribadahlah kepada Allah ketika lapang, niscaya Allah akan mengenalmu ketika sulit. Ketahuilah, apa yang Allah tidak takdirkan kepadamu maka dia tidak akan menimpamu. Dan apa yang telah ditetapkan menimpamu maka tidak akan meleset darimu. Ketahuilah, kemenangan bersama kesabaran, pertolongan bersama kesusahan, dan kemudahan bersama kesulitan."

Kosa Kata Asing:

احْفَظِ اللهَ (iḥfażillāh): peliharalah agama Allah dengan senantiasa bertakwa kepada-Nya, juga dengan memelihara batasan dan hak-hak Allah serta memelihara hak manusia.

رُفِعَتِ الأقْلامُ، وَجَفَّتِ الصُّحُفُ (rufi'atil-aqlām wa jaffatiṣ-ṣuḥuf): pena (takdir) ditinggalkan atau tidak lagi digunakan menulis karena perkaranya telah selesai, yaitu penulisan takdir seluruhnya telah berlalu.

Pelajaran dari Hadis:

1) Diharamkan meminta kepada selain Allah -Ta'ālā- dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, seperti memberi rezeki, kesembuhan, ampunan, kemenangan, dan lainnya. Maka orang yang beriman hendaknya berupaya kuat untuk memperbaiki tauhidnya kepada Allah -Ta'ālā- dengan tidak berdoa kepada selain-Nya.

2) Mengetahui kelemahan seluruh makhluk serta kebergantungan mereka kepada Allah -Ta'ālā- akan mendorong hamba untuk bergantung kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, serta akan memutus kebergantungannya kepada makhluk.

3) Manusia tidak mampu mendatangkan manfaat untuk dirinya, juga tidak mampu mengusir keburukan, kecuali dengan izin Allah -Ta'ālā-. Hal ini mengharuskan hamba untuk menauhidkan Allah -Ta'ālā- serta memohon pertolongan kepada-Nya; tidak menggantungkan hati kepada salah satu makhluk, seperti apa pun tinggi kedudukannya atau besar pengaruhnya, karena dia lemah sama seperti dirinya serta butuh kepada Allah -Ta'ālā-.

4) Murāqabatullāh dan memelihara batasan-batasan-Nya ketika sendiri maupun di hadapan umum akan melahirkan penjagaan dari Allah terhadap pelakunya.Karena balasan sejenis dengan perbuatan.4/63- Keempat: Hadis dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata,"Sungguh, kalian benar-benar akan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang lebih tipis (kecil) dari rambut dalam pandangan kalian, sedangkan kami pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memasukkannya ke dalam dosa-dosa besar yang membinasakan."(HR. Bukhari, dan dia berkata, "الْمُوبِقَاتُ -al-mūbiqāt- artinya yang membinasakan")5/64- Kelima: Hadis dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- itu cemburu dan kecemburuan Allah -Ta'ālā- itu terjadi jika seseorang melakukan apa yang diharamkan oleh Allah kepadanya."(Muttafaq 'Alaih)

الْغَيْرَةُ (al-gairah) -dengan memfatahkan huruf "'ain"-, makna aslinya: tidak bersahabat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Sikap meremehkan dosa menunjukkan minimnya rasa takut hamba kepada Allah -Ta'ālā-; sebaliknya, menganggap besar dosa menunjukkan sempurnanya rasa takut tersebut serta besarnya rasa murāqabatullāh.

2) Seorang hamba wajib menjauhi maksiat karena merupakan sebab kemurkaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.

3) Rasa murāqabah hamba serta kehati-hatiannya dari berbuat maksiat merupakan bentuk iman yang sempurna.

Peringatan:

Dalam hadis Anas terdapat bukti pengagungan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- terhadap apa-apa yang Allah haramkan serta rasa takut mereka kepada dosa. Ini menunjukkan mereka adalah manusia yang paling berilmu tentang Allah -Ta'ālā-, paling warak, dan paling takut kepada Allah setelah para nabi.Maka wajib bagi setiap hamba untuk meneladani mereka serta meyakini bahwa pemahaman mereka terhadap Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah yang paling benar, karena jalan mereka itulah jalannya orang-orang beriman.Siapa yang berjalan di atas jalan mereka akan selamat; tetapi siapa yang menyimpang dari jalan mereka akan binasa dan membinasakan.6/65- Keenam: Hadis dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa dia mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ada tiga orang dari Bani Israil; yaitu yang kusta, botak, dan buta. Allah hendak menguji mereka, lalu mengutus seorang malaikat. Malaikat itu datang kepada yang kusta dan bertanya, 'Apa yang paling kamu inginkan?' Dia menjawab, 'Warna kulit yang bagus, kulit yang bagus, dan penyakit (kusta) yang menyebabkan orang menjauhiku lenyap dariku.' Malaikat tersebut lalu mengusapnya, dan segera penyakitnya lenyap serta diberikan warna kulit yang bagus. Malaikat bertanya lagi, 'Harta apa yang paling kamu sukai?' Dia menjawab, 'Unta -atau dia berkata, sapi-.' Perawinya ragu. Maka dia diberi unta yang bunting. Malaikat berkata, 'Semoga Allah memberi keberkahan bagimu padanya.' Lalu malaikat itu datang kepada yang botak dan bertanya, 'Apa yang paling kamu inginkan?' Dia menjawab, 'Rambut yang bagus dan penyakit yang menyebabkan orang menjauhiku lenyap dariku.' Malaikat tersebut mengusapnya, dan segera penyakitnya lenyap serta diberikan rambut yang bagus. Malaikat bertanya lagi, 'Harta apa yang paling kamu sukai?' Dia menjawab, 'Sapi.' Maka dia diberi sapi yang bunting. Malaikat berkata, 'Semoga Allah memberi keberkahan bagimu padanya.'

Lalu malaikat itu datang kepada yang buta dan bertanya, 'Apa yang paling kamu sukai?' Dia menjawab, 'Agar Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku bisa melihat orang.' Malaikat tersebut mengusapnya dan segera Allah mengembalikan penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi, 'Harta apa yang paling kamu sukai?' Dia menjawab, 'Kambing.' Maka dia diberi kambing yang bunting.' Kemudian masing-masing mereka mengembangbiakkan. Hingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua satu lembah sapi, dan yang ketiga satu lembah kambing.

Kemudian malaikat itu datang kepada laki-laki yang dulu menderita kusta dalam rupa dan penampilannya dahulu seraya berkata, 'Aku orang miskin. Aku telah kehabisan bekal dalam perjalanan. Tidak ada yang dapat menolongku hari ini kecuali Allah kemudian dirimu. Dengan nama Allah yang telah memberimu warna kulit yang bagus, kulit yang bagus, dan harta, aku minta kepadamu seekor unta sebagai bekalku dalam perjalanan.' Dia menjawab, 'Ada banyak hak (yang mesti kutunaikan).' Malaikat itu berkata, 'Sepertinya aku mengenalmu. Bukankah kamu dahulu menderita kusta, dijauhi oleh manusia, juga kamu sangat miskin, lalu Allah memberikanmu karunia?' Dia menjawab, 'Sesungguhnya harta ini aku warisi dari harta warisan yang turun temurun .' Malaikat itu berkata, 'Bila kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.'

Lalu malaikat itu datang kepada laki-laki yang dulunya botak dalam rupa dan keadaannya dahulu dan mengucapkan apa yang dia ucapkan kepada laki-laki yang pertama, dan dia memberinya jawaban seperti jawaban laki-laki yang pertama. Malaikat itu berkata, 'Bila kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.'

Kemudian malaikat itu datang kepada laki-laki yang dulunya buta dalam rupa dan keadaannya dahulu seraya berkata, 'Aku orang miskin dan ibnu sabīl. Aku kehabisan bekal dalam perjalanan. Tidak ada yang dapat menolongku hari ini kecuali Allah kemudian dirimu. Dengan nama Allah yang telah mengembalikan penglihatanmu, aku minta kepadamu seekor kambing sebagai bekalku dalam perjalanan.' Dia menjawab, 'Dahulu aku buta. Kemudian Allah mengembalikan penglihatanku. Ambillah sesukamu, dan tinggalkan sesukamu. Demi Allah, aku tidak akan menyulitkanmu dengan sesuatu yang kamu ambil, karena Allah -'Azza wa Jalla-.' Maka malaikat itu berkata, 'Tahanlah hartamu. Sesungguhnya kalian telah diuji. Allah telah rida kepadamu dan murka kepada kedua rekanmu.'"(Muttafaq 'Alaih)النَّاقَةُ الْعُشَرَاءُ (an-nāqah al-'usyarā`) -dengan mendamahkan "'ain" dan memfatahkan "syīn" disertai mad-: unta yang bunting.Kata: (أنْتَجَ: antaja), di sebagian riwayat: (فَنَتَجَ: fa nataja), maksudnya: mengurus kelahirannya. Istilah nātij (bidan hewan) pada unta seperti istilah qābilah (bidan) pada perempuan.Kalimat "ولَّدَ هذا" (wallada hāża), maksudnya: mengurus kelahirannya. Ia semakna dengan kata (نتَجَ: nataja) pada unta. Istilah muwallid, nātij, dan qābilah memiliki makna yang sama (yaitu bidan). Bedanya, muwallid untuk hewan sedangkan yang dua lainnya untuk yang lain.Kalimat الحِبَالُ (al-ḥibāl): sebab/sarana.Kalimat لا أجْهَدُكَ (lā ajhaduka), maksudnya: aku tidak memberatkanmu untuk mengembalikan apa yang engkau ambil atau yang engkau minta dari hartaku.Dalam riwayat Bukhari: لا أحْمَدُكَ (lā aḥmaduka); maksudnya aku tidak menyanjungmu karena meninggalkan sesuatu yang engkau butuhkan. Sebagaimana ungkapan mereka: لَيْسَ علىٰ طُولِ الحياةِ نَدَمٌ (laisa 'alā ṭūlil-ḥayāh nadamun); maksudnya tidak ada sesal pada hilangnya kehdupan yang panjang.

Pelajaran dari Hadis:

1) Mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada hamba termasuk sebab kelanggengan dan penambahannya.

2) Keutamaan sedekah dan anjuran berbuat baik kepada orang-orang yang lemah, memuliakan mereka, dan memenuhi hajat mereka.

3) Bila keberkahan hadir pada sesuatu maka yang sedikit menjadi banyak, dan bila hilang maka yang banyak menjadi sedikit.

4) Mengingat besarnya nikmat Allah kepada hamba terkait indranya dan pemenuhan kebutuhannya akan mendorongnya menggunakan nikmat tersebut pada ketaatan dan ibadah kepada Allah, sehingga dia tidak mengabdikannya untuk siapa pun selain Allah -Ta'ālā- serta tidak menggunakannya kecuali pada sesuatu yang mendatangkan rida Allah -'Azza wa Jalla-, karena Allahlah yang memberikannya karunia di dunia dan akhirat.

5) Di antara bentuk kemudahan (taufik) dari Allah kepada hamba adalah Allah memudahkan baginya melakukan amal saleh, membantunya untuk merealisasikan amalan tersebut, kemudian diberi pahala. Hamba selalu butuh kepada pertolongan Allah -Ta'ālā- sebelum melakukan ketaatan, ketika melakukannya, dan setelah menunaikannya.

7/66ــ- Ketujuh: Hadis dari Abu Ya'lā Syaddād bin Aus -raḍiyallāhu 'anhu-, ia meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Orang yang cerdas adalah yang mampu menundukkan nafsunya dan beramal untuk menghadapi apa yang akan terjadi setelah kematian. Dan orang yang lemah adalah yang memperturutkan hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah."(HR. Tirmidzi dan dia berkata, "Hadisnya hasan") [2].

Tirmidzi dan ulama lainnya mengatakan, "Makna (دَانَ نَفْسَه: dāna nafsahu): mengintrospeksi dirinya.

Kosa Kata Asing:

الكَيِّس (al-kayyis): orang yang cerdas nan kuat.

دانَ (dāna): mengintrospeksi.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran untuk memanfaatkan kesempatan pada sesuatu yang mendatangkan rida Allah -'Azza wa Jalla-.

2) Kewajiban mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian dengan amal saleh.

3) Malas, lalai, dan angan-angan kosong termasuk sebab hilangnya kesempatan beramal saleh di dunia.

8//67- Kedelapan: Hadis dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak penting bagi dirinya."(Hadis hasan riwayat Tirmizi dan lainnya)9/68- Kesembilan: Hadis dari Umar -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seorang suami tidak ditanyai apa penyebab dia memukul istrinya."(HR. Abu Daud dan lainnya) [3]

Pelajaran dari Hadis:

1) Hamba wajib menyibukkan diri dengan sesuatu yang memiliki maslahat dan manfaat dalam urusan dunia dan akhirat serta meninggalkan perkara lainnya yang tidak dibutuhkan, bahkan membahayakan dan menyakitinya. Ini termasuk tanda bagusnya keislaman seseorang.

2) Orang beriman wajib untuk introspeksi diri dalam tindak-tanduk, ucapan, dan perbuatannya serta menanamkan dalam diri bahwa Allah mengawasinya dan mengetahui rahasianya, lalu berusaha kuat agar tidak dilihat oleh Allah kecuali pada kondisi yang mendatangkan rida-Nya.

Faedah Tambahan:

Penulis -raḥimahullāh- menyebutkan hadis yang terakhir setelah hadis Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- untuk memberi contoh perkara yang tidak penting bagi seseorang. Yakni bahwa di antara tanda bagusnya keislaman seorang hamba adalah dia tidak ikut campur dalam urusan antara seseorang dan istrinya, karena hal itu tidak penting baginya.

 6-BAB TAKWA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan takwa sebenar-benarnya."(QS. Āli 'Imrān: 102)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Maka bertakwalah kepada Allah semampumu."(QS. At-Tagābun: 16)Ayat ini menjelaskan maksud dari ayat yang pertama.Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar."(QS. Al-Aḥzāb: 70)Ayat-ayat yang memerintahkan kepada takwa sangatlah banyak dan populer.Allah -Ta'ālḥ- juga berfirman,"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."(QS. Aṭ-Ṭalāq: 2-3)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqān (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu, dan Allah memiliki karunia yang besar."(QS. Al-Anfāl: 29)Ayat-ayat tentang bab ini juga sangat banyak dan populer.

Kosa Kata Asing:

Takwa adalah seseorang melakukan apa yang akan melindunginya dari azab Allah -'Azza wa Jalla-; yaitu dengan melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Pelajaran dari Ayat:

1) Seseorang berusaha dengan amal perbuatannya untuk menyempurnakan ketakwaan sesuai dengan kadar kemampuan yang dimilikinya, karena Allah tidak membebani seseorang kecuali yang dia mampu.

2) Di antara buah takwa adalah dihilangkan kesusahan, dilapangkan rezeki, dihapuskan kesalahan, dan diampunikan dosa.

3) Takwa adalah cahaya bagi orang beriman untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan, yang mudarat dan manfaat, dan antara sunnah dan bidah.

Adapun hadis-hadis yang berkaitan dengan bab ini adalah:

1/69- Pertama: Hadis dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia bercerita, bahwa ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia paling mulia?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang paling bertakwa di antara mereka." Mereka berkata, "Bukan itu yang kami tanyakan." Beliau bersabda, "Kalau begitu, manusia yang paling mulia adalah Nabi Allah Yusuf putra dari Nabi Allah (Ya'qūb), putra dari Nabi Allah (Isḥāq), putra dari kekasih Allah (Ibrahim)" Mereka berkata, "Bukan itu yang kami tanyakan." Beliau bersabda, "Apakah kalian bertanya kepadaku tentang orang-orang berkualitas dari kalangan Bangsa Arab? Sesungguhnya orang-orang terbaik dari mereka di masa jahiliah adalah orang-orang yang terbaik di masa Islam jika mereka memahami (Islam)."(Muttafaq ‘Alaih)

فَقُهُوْا (faquhū) -dengan mendamahkan "qāf" sebagaimana yang populer, dan konon dikasrahkan-, artinya: mereka memahami hukum-hukum agama.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kemuliaan seseorang hanya didapatkan dengan bertakwa kepada Allah -'Azza wa Jalla-.

2) Menjelaskan keutamaan Nabi Yusuf -'alaihi aṣ-ṣalātu was-salām-, karena dia telah megumpulkan akhlak-akhlak yang mulia di samping kemuliaan kenabian, nasab, dan ilmu.

3) Menjelaskan keutamaan ilmu, bahwa ilmu lebih afdal dari nasab, kedudukan, jabatan, dan harta benda.

2/70- Kedua: Hadis dari Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya dunia itu manis nan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, dan Allah melihat apa yang kalian lakukan. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia, dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama pada Bani Israil adalah dalam masalah wanita."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

مُسْتَخْلِفُكُمْ (mustakhlifukum): menjadikan kalian sebagai khalifah.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran bersikap zuhud kepada dunia dan tidak mengejar harta kekayaannya, tetapi menjadikannya sebagai bekal menuju akhirat. Ia hendaknya mengambil bagian rezekinya di dunia sembari mengharapkan kehidupan akhirat.

2) Waspada terhadap fitnah dunia secara umum, khususnya perempuan, karena mereka adalah fitnah dunia yang paling besar dan paling berat.

3/71- Ketiga: Hadis dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Permohonan hamba kepada Rabb -'Azza wa Jalla- agar memperbaiki keadaan dunia dan agamanya termasuk merupakan tanda adanya taufik.

2) Menjelaskan keutamaan doa yang penuh berkah ini; karena itu doa ini termasuk di antara doa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Jadi, memohon hidayah (petunjuk), istikamah di atas ketakwaan, disertai sikap rida pada pembagian Allah -Ta'ālā-, dan tidak mengejar apa yang ada di tangan orang lain merupakan doa yang paling agung.

Peringatan:

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memohon kepada Rabb-nya petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan; beliau tidak mampu mendatangkan sendiri manfaat untuk dirinya dan tidak juga menghilangkan mudarat, karena yang menguasai itu hanyalah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.Hal ini mementahkan keyakinan rusak pada orang-orang yang bergantung kepada wali dan orang saleh dalam mewujudkan manfaat maupun menolak mudarat. Karena orang-orang yang dimintai itu sendiri tidak memiliki apa-apa. Maka seorang hamba tidak boleh menggantungkan hatinya kepada selain Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.4/72- Keempat: Hadis dari Abu Ṭarīf 'Adiy bin Ḥātim Aṭ-Ṭā`iy -raḍiyallāhu 'anhu- , dia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang bersumpah dengan suatu sumpah lalu dia melihat ada hal lain yang lebih bernilai takwa kepada Allah, hendaknya ia mengambil yang lebih kepada ketakwaan itu."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Bila seseorang bersumpah dengan nama Allah -Ta'ālā- pada sesuatu, kemudian dia melanggar sumpahnya itu, maka dia wajib menunaikan kafarat. Kecuali kalau dia menyertakan kata insya Allah dalam sumpahnya. Misalnya kita mengatakan: "Aku akan melakukan ini, insya Allah." Yang seperti ini tidak ada kafaratnya, walaupun dia melanggarnya.

2) Orang yang diberi taufik di antara hamba-hamba Allah adalah orang yang memilih untuk dirinya amal yang lebih bernilai takwa, yang akan mengangkat derajatnya pada hari Kiamat, lalu dia melakukannya.

5/73- Kelima: Hadis dari Abu Umāmah Ṣuday bin 'Ajlān Al-Bāhiliy -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhotbah ketika Haji Wadak, beliau bersabda,"Bertakwalah kalian kepada Allah. Tunaikanlah kelima salat kalian, kerjakanlah puasa kalian di bulan (Ramadan), tunaikanlah zakat harta kalian, dan patuhilah para pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga Rabb kalian."(HR. Tirmizi di bagian akhir Kitab Aṣ-Ṣalāh, dan dia berkata, "Hadisnya hasan sahih")

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban melaksanakan rukun-rukun Islam; rukun-rukun itu bersama ketakwaan adalah jalan menuju surga.

2) Kewajiban mematuhi para pemimpin dan penguasa kaum muslimin, karena mematuhi mereka termasuk ketakwaan. Kecuali bila mereka memerintahkan kemaksiatan kepada Allah -'Azza wa Jalla-, maka tidak ada ketaatan kepada mereka dalam maksiat, karena ketaatan hanya dalam kebaikan.

 7- BAB YAKIN DAN TAWAKAL

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu menambah keimanan dan kepasrahan mereka."(QS. Al-Aḥzāb: 22)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"(Yaitu) orang orang (yang menaati Allah dan Rasul) ketika ada orang yang mengatakan kepadanya, 'Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.' Ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.' Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mereka mengikuti keridaan Allah. Dan sungguh Allah mempunyai karunia yang besar."(QS. Āli 'Imrān: 173-174)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan bertawakallah kepada Allah Yang Mahahidup, Yang tidak mati."(QS. Al-Furqān: 58)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin itu bertawakal."(QS. Ibrāhīm: 11)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."(QS. Āli 'Imrān: 159)Ayat-ayat yang memerintahkan kepada sikap tawakal terdapat banyak dan makruf.Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberi kecukupan kepadanya."(QS. Aṭ-Ṭalāq: 3)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah maka gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal."(QS. Al-Anfāl: 2)Ayat-ayat yang berisikan keutamaan tawakal juga banyak dan makruf.

Kosa Kata Asing:

-Yakin adalah kekuatan iman dan keteguhan hati, sampai-sampai orang yang beriman seakan melihat langsung dengan mata kepalanya apa yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya disebabkan karena kesempurnaan yakin mereka.

-Tawakal adalah hamba bertumpu kepada Rabb-nya -'Azza wa Jalla- secara lahir dan batin untuk meraih manfaat dan menolak mudarat. Tawakal adalah buah dari sifat yakin.

Pelajaran dari Ayat:

1) Husnuzan kepada apa yang ada di sisi Allah -Ta'ālā- termasuk tanda iman yang benar.

2) Tawakal kepada Allah -Ta'ālā- secara benar termasuk sifat orang beriman.

3) Orang yang bertawakal kepada Allah akan diberi kecukupan oleh Allah, karena Dia tidak akan menyia-nyiakan orang yang berharap kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya:"Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya?!" (QS. Az-Zumar: 36)

Adapun hadis-hadis yang berkaitan dengan ini:

1/74- Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Umat-umat diperlihatkan kepadaku. Maka aku melihat ada nabi yang diikuti sekelompok kecil pengikut, ada nabi bersama satu dan dua pengikut, dan ada nabi tidak ada seorang pun pengikut bersamanya. Tiba-tiba ditampilkan kepadaku kelompok orang yang banyak, lalu aku mengira mereka itu umatku. Maka dikatakan, 'Ini adalah Musa bersama pengikutnya. Tetapi lihatlah ke ufuk itu.' Ternyata aku melihat ada kelompok orang dalam jumlah besar. Lalu dikatakan kepadaku, 'Lihatlah ke ufuk yang lain.' Dan ternyata ada kelompok orang dalam jumlah yang besar lagi. Dikatakan, 'Inilah umatmu. Bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa.'"Kemudian beliau bangkit dan masuk rumah. Orang-orang kemudian larut membicarakan orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab tersebut. Sebagian mereka berkata, "Barangkali mereka adalah orang yang menyertai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam." Sebagian yang lain berkata, "Barangkali mereka adalah orang yang lahir dalam Islam sehingga belum pernah berbuat kesyirikan kepada Allah sedikit pun." Mereka menyebutkan berbagai hal. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar menemui mereka seraya berkata, "Apa yang kalian perbincangkan?" Mereka pun mengabarkan beliau. Lalu beliau bersabda,"Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan ruqyah, tidak meminta dibacakan ruqyah, tidak melakukan taṭayyur (meyakini sial karena melihat atau mendengar sesuatu), dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka."Ukkāsyah bin Muḥṣin berdiri lalu berkata, "Berdoalah kepada Allah agar menjadikanku termasuk dari mereka." Beliau menjawab, "Ya. Engkau termasuk dari mereka." Lalu seorang laki-laki lain berdiri dan berkata, "Berdoalah kepada Allah agar menjadikanku termasuk dari mereka." Beliau menjawab,"Engkau telah didahului oleh 'Ukkāsyah."(Muttafaq ‘Alaih)الرُّهَيطُ (ar-ruhaiṭ) bentuk taṣgīr (sebutan untuk makna kecil) dari رَهط (rahṭun); yaitu sekelompok orang kurang dari sepuluh.الأفقُ (al-ufuq): arah dan sisi.عُكَّاشَةُ ('Ukkāsyah) -dengan mendamahkan "'ain", "kāf" tasydid, dan boleh tidak ditasydid, tetapi dengan tasydid lebih fasih.

Kosa Kata Asing:

سَوَادٌ عَظِيمٌ (sawādun 'aẓīm): kelompok orang yang banyak.

خَاضَ (khāḍa): berbicara.

لَا يَرْقُوْنَ (lā yarqūna): tidak melakukan ruqyah dengan membaca sesuatu untuk meminta perlindungan dari keburukan yang telah terjadi atau dikhawatirkan akan terjadi.

Redaksi ini: (لَا يَرْقُوْنَ), disebutkan oleh ulama hadis sebagai lafal yang syāż (daif), yaitu diriwayatkan secara sendiri oleh Muslim dan menyelisihi petunjuk Nabi yang telah sah berupa anjuran melakukan ruqyah untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain, baik secara ikhlas demi mendapatkan rida Allah -Ta'ālā- maupun dengan upah.

يَسْتَرْقُوْنَ (yastarqūna): minta dibacakan ruqyah oleh orang lain.

لَا يَتَطَيَّرُوْنَ (lā yataṭayyarūna): tidak melakukan taṭayyur, yakni meyakini adanya kesialan karena melihat atau mendengar burung dan lain sebagainya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan kedudukan beliau; yaitu umat-umat dipaparkan dan diperlihatkan kepada beliau dan umat beliaulah yang paling besar di hari Kiamat.

2) Keutamaan tawakal dan berserah diri kepada Allah -Ta'ālā-. Dengan ini nyatalah kesesatan dan ketelantaran orang yang bertawakal dan bertumpu kepada makhluk dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah -Ta'ālā- dalam meraih manfaat dan menolak mudarat.

3) Menggunakan kesempatan untuk memetik buah kebaikan, sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat mulia, 'Ukkāsyah bin Miḥṣan -raḍiyallāhu 'anhu-.

4) Menjelaskan keutamaan sahabat-sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; maka siapa yang mengikuti jalan dan jejak mereka akan mendapat petunjuk, sedangkan yang menempuh selain jalan mereka akan tersesat dari petunjuk itu.

2/75- Kedua: Juga dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah berdoa,"Ya Allah! Hanya kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dan dengan-Mu aku melawan. Ya Allah! Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu. Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau. Janganlah Engkau menyesatkanku. Engkau Yang Mahahidup yang tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati."(Muttafaq 'Alaih)

Ini adalah redaksi riwayat Muslim, sedangkan Bukhari meringkasnya.

Kosa Kata Asing:

إِلَيْكَ أنَبْتُ (ilaika anabtu): aku kembali beribadah menyembah-Mu dan menyambut apa yang mendekatkan kepada-Mu.

بِكَ خَاصَمْتُ (bika khāṣamtu): dengan pertolongan-Mu aku mendebat (melawan) musuh-musuh-Mu, demi mengharap rida-Mu.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban bertawakal hanya kepada Allah saja, karena hanya Allah yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan. Hanya kepada Allah kita bertumpu, kita tidak bertumpu kepada makhluk yang lemah dari semua sisi. Kita semua butuh kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan pertolongan-Nya.

2) Meneladani Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam mengucapkan kata-kata yang sempurna ini dalam berdoa, menasihati, dan berdakwah, karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

3/76- Ketiga: Juga dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata,"Doa: Ḥasbunallāh wani'mal-wakīl (cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung),dibaca oleh Ibrahim -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika dilemparkan ke dalam api. Juga dibaca oleh Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika mereka mengatakan,Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.' Ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.'"(HR. Bukhari)Juga dalam riwayat Bukhari yang lain dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- dia berkata,"Ucapan terakhir Ibrahim -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika dilemparkan ke dalam api: Ḥasbunallāh wani'mal-wakīl."

Pelajaran dari Hadis:

1) Bertawakal kepada Allah adalah Sunnah semua nabi -'alaihim aṣ-ṣalātu was-salām-. Hendaklah mereka diteladani dalam berdoa dan bertawakal kepada Allah, karena mereka orang yang paling berat ujiannya.

2) Keutamaan bertawakal kepada Allah -Ta'ālā- dalam urusan-urusan sulit dan musibah.

Peringatan:

Sebagian orang-orang jahil yang menggantungkan hati mereka kepada selain Allah -Ta'ālā- ketika ditimpa musibah dan peristiwa-peristiwa berat, mereka meminta pertolongan kepada makhluk serta berdoa kepada selain Allah -'Azza wa Jalla- untuk menghilangkan perkara-perkara tersebut.Demi Allah! Hal ini adalah puncak kehinaan, dan ketika itu iman menjadi padam. Orang yang antusias agar iman tetap bersinar dalam hatinya berkewajiban untuk menggantung harapannya kepada Allah serta memutus harapannya dari makhluk.4/77- Keempat: Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,"Akan ada segolongan orang masuk surga, hati mereka seperti hati burung."(HR. Muslim)

Ada ulama berpendapat, bahwa maksudnya adalah mereka yang bertawakal. Ulama lain mengatakan, maksudnya adalah mereka yang berhati lembut.

Pelajaran dari Hadis:

1) Bertawakal kepada Allah dan berhati lembut termasuk sebab masuk surga dan meraih nikmat-nikmatnya.

2) Menjelasakan karakter penduduk surga; yaitu semua yang memiliki hati lembut dan jernih.

5/78- Kelima: Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa dia pernah berperang bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ke arah Najd. Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kembali, beliau kembali bersama mereka. Mereka mendapatkan waktu qailūlah (istirahat siang) di sebuah lembah yang banyak memiliki pohon besar berduri. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan para sahabat berpencar mencari tempat teduh di bawah pohon. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beristirahat di bawah pohon Samurah dan menggantung pedangnya di sana. Kami pun tidur sejenak. Tiba-tiba Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyeru kami, dan ternyata di samping beliau ada seorang badui. Beliau berkata,"Sungguh, orang ini telah menghunus pedangku untuk mencelakaiku saat aku tidur. Aku bangun sedang pedang itu terhunus di tangannya. Ia berkata, 'Siapa yang bisa melindungimu dariku?' Aku menjawab, 'Allah,' (sebanyak tiga kali)."Beliau tidak menghukum laki-laki tersebut, lalu beliau duduk.(Muttafaq 'Alaih)

Dalam riwayat lain, Jābir bercerita, "Kami bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada perang Żātur-Riqā'. Ketika mendapatkan pohon yang memiliki rindang, kami membiarkannya untuk tempat berteduh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lalu datang seorang laki-laki musyrik sementara pedang Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- digantung pada pohon itu. Maka dia menghunusnya seraya berkata, 'Anda takut kepadaku?' Beliau menjawab, 'Tidak.' Dia bertanya, 'Siapa yang bisa melindungimu dariku.' Beliau menjawab, 'Allah.'"

Dalam riwayat Abu Bakr Al-Ismā'īliy di Kitab Ṣaḥīḥ-nya, laki-laki itu berkata, "Siapakah yang akan melindungimu dariku?" Beliau menjawab, "Allah." Jabir bercerita, Tiba-tiba pedang itu lepas dari tangannya. Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambil pedang itu seraya bersabda, "Siapa yang akan melindungimu dariku?" Dia berkata, "Jadilah sebaik-baik orang yang membalas." Nabi bertanya, "Apakah kamu bersyahadat lā ilāha illallāh dan Muḥammad rasūlullāh?" Dia menjawab, "Tidak. Tetapi aku berjanji padamu tidak akan memerangimu. Juga aku tidak akan bergabung bersama orang-orang yang memerangimu." Maka Rasulullah membebaskannya. Lalu orang itu mendatangi teman-temannya dan berkata, "Aku datang kepada kalian dari manusia terbaik (Rasulullah)."

Ucapan Jabir (قَفَلَ), maksudnya: pulang.(الْعِضَاهُ): pohon yang berduri.السَّمُرَةُ, dengan memfatahkan "sīn" serta mendamahkan "mīm", yaitu pohon berduri yang besar.اِخْتَرَطَ السَّيْفَ: menghunus pedang.Sementara pedang itu ada di tangannya (صَلْتاً), yaitu terhunus.

Kosa Kata Asing:

القائلة (al-qā`ilah): waktu tidur siang.

Pelajaran dari Hadis:

1) Buah tawakal kepada Allah -Ta'ālā- dalam menghilangkan keburukan dan kesusahan.

2) Menampakkan sifat pemaaf Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, akhlak mulia dan sikap beliau yang tidak membalas dendam untuk kepentingan dirinya. Juga visi beliau yang jauh ke depan serta cara beliau yang bagus dalam menarik hati untuk kepada kebenaran. Maka, kita wajib meneladani Sunnah beliau dan mengikuti petunjuk beliau, karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-:"Sungguh, telah ada teladan yang baik bagi kalian pada diri Rasulullah."6/79- Keenam: Umar -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; yaitu dia pergi pagi dalam keadaan perutnya kosong dan pulang sore hari dalam keadaan buncit (kenyang)."(HR. Tirmizi)Dia berkata, "Hadisnya hasan."

Maksudnya, burung itu pergi di awal hari dalam keadaan perut kosong, yaitu kempis karena lapar, lalu dia akan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.

Pelajaran dari Hadis:

1) Melakukan berbagai cara dan usaha halal demi mendapatkan rezeki termasuk bukti kuatnya tawakal kepada Allah -Ta'ālā-.

2) Hakikat tawakal adalah bersandarnya hati serta penyerahan segala urusan kita dengan penuh jujur dan yakin kepada Allah.

7/80- Ketujuh: Abu 'Umārah Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Wahai si polan! Bila engkau pergi ke tempat tidurmu, maka bacalah doa: 'Allāhumma aslamtu nafsī ilaika, wa wajjahtu wajhī ilaika, wa fawwaḍtu amrī ilaika, wa alja`tu ẓahrī ilaika, rahbatan wa ragbatan ilaika, lā malja`a wa lā manjā minka illā ilaika, āmantu bi kitābikallażī anzalta, wa bi nabiyyikallażī arsalta' (Ya Allah! Aku serahkan diriku kepada-Mu. Aku hadapkan wajahku kepada-Mu. Aku serahkan urusanku kepada-Mu. Aku sandarkan punggungku kepada-Mu. Karena penuh harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak pula menyelamatkan diri dari diri-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada Kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus) Bila engkau meninggal malam itu, niscaya engkau meninggal di atas fitrah (Islam). Dan bila engkau selamat memasuki pagi hari, engkau akan mendapatkan kebaikan."(Muttafaq 'Alaih)Dalam riwayat lain di Aṣ-Ṣaḥīḥain, dari Al-Barā` dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah berkata kepadaku,"Bila engkau hendak pergi ke tempat tidurmu, maka berwudulah seperti engkau berwudu untuk salat. Kemudian berbaringlah ke sisi kananmu, dan bacalah: (beliau menyebutkan doa yang semisal di atas)." Kemudian beliau berkata, "Jadikanlah bacaan-bacaan itu sebagai akhir bacaanmu."

Pelajaran dari Hadis:

1) Sifat orang beriman adalah mereka bersandar kepada Allah -Ta'ālā- dalam semua keadaan.

2) Memperbaharui perjanjian bersama Allah -'Azza wa Jalla- setiap malam serta memperkuat makna keimanan secara ucapan dan perbuatan.

3) Anjuran tidur dalam keadaan suci serta menjadikan bacaan-bacaan ini sebagai zikir yang terakhir.

8/81- Kedelapan: Hadis dari Abu Bakr Aṣ-Ṣiddīq Abdullah bin Usman bin 'Āmir bin Umar bin Ka'ab bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu`ai bin Gālib Al-Qurasyiy At-Taimiy -raḍiyallāhu 'anhu- (dia, ayahnya, dan ibunya adalah sahabat semua -raḍiyallāhu 'anhum-). Dia mengisahkan, Aku melihat kaki orang-orang musyrikin sementara kami ada di dalam gua itu; mereka di atas kepala kami. Aku berkata, "Wahai Rasulullah! Sekiranya salah satu mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya dia akan melihat kita." Beliau lalu bersabda,"Wahai Abu Bakr! Apa yang engkau bayangkan pada dua orang, sedang yang ketiganya adalah Allah?"(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Tawakal Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang sempurna serta keyakinan beliau kepada Allah -'Azza wa Jalla- yang sangat kuat.

2) Kewajiban hamba agar senantiasa mendidik diri untuk bertawakal secara utuh kepada Allah -Ta'ālā-. Inilah yang akan melahirkan rasa yakin dalam dirinya, dan hal itu jika telah masuk ke dalam hati maka dia tidak lagi takut kecuali kepada Allah -'Azza wa Jalla-. Dia akan mengucapkan serta mengerjakan kebenaran, tidak takut dalam menjalankan agama Allah terhadap celaan orang yang mencela.

3) Menjelaskan keutamaan Abu Bakr Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu-. Dia sahabat yang paling afdal setelah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Allah -'Azza wa Jalla- telah memilihnya untuk menyertai Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta memujinya dalam ayat-ayat yang akan terus dibaca hingga hari Kiamat.

9/82- Kesembilan: Hadis dari Ummul-Mu`minīn, Ummu Salamah, nama beliau Hindun binti Abi Umayyah Ḥużaifah Al-Makhzūmiyyah -raḍiyallāhu 'anhā-, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bila keluar rumah selalu membaca:"Bismillāhi tawakkaltu 'alallāh. Allāhumma innī a'ūżu bika an aḍilla aw uḍalla aw azilla aw uzalla aw aẓlima aw uẓlama aw ajhalu aw yujhalu 'alayya" (Dengan menyebut nama Allah. Aku bertawakal kepada Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar tidak tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, berbuat zalim atau dizalimi, dan berbuat yang jahil atau dijahili).(Hadis sahih riwayat Abu Daud, Tirmizi, dan lainnya dengan sanad yang sahih.Tirmidzi berkata, "Hadisnya hasan sahih", dan ini adalah redaksi riwayat Abu Daud)10/83- Kesepuluh: Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang mengucapkan -maksudnya ketika keluar rumah-, 'Bismillāhi tawakkaltu 'alallāhi, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh (Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah dan tidak ada daya serta kekuatan selain dengan pertolongan Allah),' maka dikatakan kepadanya, 'Engkau telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dijaga.' Serta setan pun menjauh darinya."(HR. Abu Daud, Tirmizi, An-Nasā`iy, dan lainnya.Tirmizi berkata, "Hadisnya hasan")Dalam riwayat Abu Daud ada tambahan:"... lalu dia berkata -maksudnya setan kepada setan yang lain-, 'Bagaimana mungkin engkau mengganggunya sedang dia telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dijaga?!'"

Kosa Kata Asing:

أَضِل (aḍill): aku menjadi sebab orang lain tersesat dari jalan yang lurus.

أضَل (uḍall): aku tersesat dari jalan yang lurus.

أَزِل (azill): aku melakukan kesalahan.

أَجْهَل (ajhal): aku melakukan perbuatan jahil.

يُجْهَل عَلَيَّ (yujhal 'alayya): seseorang berbuat jahil kepadaku.

وُقِيْتَ (wuqīta): engkau telah dijaga.

Pelajaran dari Hadis:

1) Terus bertawakal kepada Allah -Ta'ālā-, berlindung, serta berdoa kepada-Nya untuk mendapatkan manfaat dan menolak mudarat.

2) Kewajiban hamba agar membentengi dirinya dengan zikir-zikir yang disyariatkan, yang telah diajarkan kepada kita oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Kemudian meninggalkan zikir-zikir yang dibuat-buat oleh manusia. Karena mengikuti apa yang disyariatkan akan mendatangkan kebaikan dan keberkahan.

Peringatan:

Tidak mungkin bagi seseorang untuk merutinkan zikir-zikir yang dicontohkan oleh Nabi kecuali bila dia mengetahuinya. Jadi, harus ada ilmu sebelum berucap dan berbuat. Maka kita wajib mempelajari syariat yang telah diturunkan oleh Allah kepada kita, lalu merasa senang dan mencukupkan diri dengannya, dan meninggalkan zikir-zikir bidah yang merupakan syariat yang telah diubah:

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran."(QS. Al-A'rāf: 3)11/84- Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Ada dua orang bersaudara pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Salah satunya selalu datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (untuk belajar), dan yang lainnya bekerja. Lantas yang bekerja itu mengadukan saudaranya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka beliau bersabda,Bisa jadi kamu diberi rezeki karenanya.'"(HR. Tirmidzi dengan sanad yang sahih sesuai syarat Imam Muslim)

يَحْتَرِفُ (yaḥtarif): bekerja dan berusaha.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran agar membantu orang-orang berilmu dan para penuntut ilmu.

2) Berinfak kepada penuntut ilmu termasuk kunci rezeki.

3) Anjuran agar membantu sebagian masyarakat untuk menuntut ilmu dan mendalami agama.

 8-BAB ISTIKAMAH

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Maka tetaplah engkau (Muhammad di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu."(QS. Hūd: 112)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami adalah Allah', kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.' Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."(QS. Fuṣṣilat: 30-32)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah', kemudian mereka tetap istikamah, maka tidak ada rasa khawatir pada mereka, tidak (pula) bersedih hati. Mereka itulah para penghuni surga, kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."(QS. Al-Aḥqāf: 13-14)

Pelajaran dari Ayat:

1) Istikamah di atas agama Allah harus mengandung sikap moderat dalam segala hal; tidak berlebih dan tidak kurang, tidak juga bidah.

2) Adanya kabar gembira besar bagi orang-orang yang istikamah di dunia dan akhirat.

1/85- Abu 'Amr, dikatakan juga Abu 'Amrah, Sufyan bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku berkata, "Wahai Rasulullah! Katakan kepadaku, tentang Islam, sebuah ucapan yang tidak akan aku tanyakan kepada seorang pun selain engkau." Beliau bersabda,"Katakanlah! Aku beriman kepada Allah, lalu beristikamahlah."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Iman tidak cukup dengan ucapan lisan saja, tetapi harus dibuktikan dengan mengerjakan amal saleh.

2) Istikamah tidak akan ada kecuali setelah beriman secara batin dan lahir.

2/86- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Berusahalah mendekati yang benar, dan berusahalah tepat dengan kebenaran. Ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak seorang pun dari kalian yang selamat karena amalnya semata."Mereka bertanya, "Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab,"Tidak juga aku. Kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku."(HR. Muslim)الْمُقَارَبَةُ (mendekati kebenaran): bersikap pertengahan yang tidak mengandung sikap guluw (berlebihan) dan tidak juga lalai.السَّدَادُ (tepat dengan kebenaran): istikamah disertai kesesuaian dengan yang benar.يَتَغَمَّدَني: melimpahkan kepadaku.

Para ulama menerangkan, makna istikamah: melazimkan ketaatan kepada Allah -Ta'ālā-. Mereka juga berkata, istikamah termasuk jawāmi'ul-kalim, yaitu tertatanya semua urusan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Beristikamah sesuai kemampuan; Allah tidak membebani seseorang kecuali yang dia mampu.

2) Seperti apa pun tingginya kedudukan dan kewalian seseorang, amalnya semata tidak akan bisa menyelamatkannya, melainkan amal tersebut adalah sebab untuk mendapatkan limpahan rahmat dari Allah serta keselamatan dari api neraka.

3) Seorang hamba tidak boleh ujub dengan diri dan amal perbuatannya, tetapi dia harus merendah kepada Allah -'Azza wa Jalla-, Rabb alam semesta.

4) Keutamaan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum-; mereka orang yang paling antusias mencari ilmu, tidak ada sesuatu pun yang dibutuhkan dalam urusan agama kecuali mereka tanyakan dan laksanakan. Sebab itu, kita wajib mengikuti Sunnah mereka, meniti jejak mereka, mencermati kondisi dan keadaan mereka, lalu mengikuti mereka di dalamnya.

 9- BAB TAFAKUR TERHADAP KEAGUNGAN MAKHLUK ALLAH, KEFANAAN DUNIASERTA HURU-HARA AKHIRAT DAN SEMUA URUSAN KEDUANYA, DAN MENGENDALIKAN DIRI SERTAMEMBERSIHKAN DAN MENGARAHKANNYA KEPADA KEISTIKAMAHANAllah -Ta'ālā- berfirman,"Katakanlah, 'Aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu agar kamu mencari kebenaran karena Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian agar kamu berpikir."(QS. Saba`: 46)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka."(QS. Āli 'Imrān: 190-191)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan? Dan langit, bagaimana ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan? Dan bumi, bagaimana dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan."(QS. Al-Gāsyiyah: 17-21)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Maka apakah mereka tidak pernah mengadakan perjalanan di bumi, sehingga dapat memperhatikan ... ?"(QS. Muḥammad: 10)Ayat-ayat dalam bab ini sangatlah banyak.

Sedangkan dari hadis, yaitu hadis terdahulu: "Orang yang cerdas adalah yang mengintrospeksi dirinya."

Faedah:

Tafakur yaitu seseorang menggunakan pikirannya pada suatu perkara hingga sampai pada satu kesimpulan. Tafakur akan melahirkan ingat akhirat dan rasa takut kepada Allah.

Pelajaran dari Ayat:

1) Anjuran untuk bertafakur memikirkan amal saleh dan ketaatan yang dilakukan oleh hamba untuk mengetahui sejauh mana dia memanfaatkannya dan sejauh mana dia menghasilkan pahalanya serta hal itu diterima di sisi Allah -'Azza wa Jalla-.

2) Anjuran untuk memikirkan keagungan makhluk-makhluk ciptaan Allah -'Azza wa Jalla-, karena hal itu akan melahirkan rasa takut dan ingat (zikir) kepada Allah -Ta'ālā- serta tambahan keyakinan terhadap janji dan ancaman-Nya. Juga akan melahirkan amal saleh disertai mengikhlaskan niat kepada Allah semata.

3) Merenungkan sifat-sifat hamba Allah yang ikhlas serta yang berzikir kepada-Nya dan yang memikirkan makhluk ciptaan-Nya.

4) Anjuran agar memperhatikan amal perbuatan yang bermanfaat di dunia dan akhirat serta mencela hawa nafsu dan syahwat yang diharamkan, begitu juga tindakan menyibukkannya dengan angan-angan yang kosong dari amal perbuatan.

Betapa banyak orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan tidak peduli menyelisihi syariat Allah -Ta'ālā- demi maslahat dunia mereka. Maka, waspadalah dengan kewaspadaan yang tinggi agar tidak termasuk di antara mereka.

 10- BAB BERSEGERA MELAKUKAN KEBAIKAN

DAN MOTIVASI UNTUK ORANG YANG HENDAK MELAKUKAN KEBAIKAN AGAR BERSUNGGUH-SUNGGUH TANPA RAGU

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan."(QS. Al-Baqarah: 148)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa."(QS. Ali 'Imrān: 133)

Pelajaran dari Ayat:

1) Bersegera melakukan kebaikan dan tidak menunda-nunda amal saleh agar tidak terlambat.

2) Di antara sifat orang yang bertakwa adalah bersegera kepada negeri akhirat dan meraih rida Allah -'Azza wa Jalla- dengan beristigfar dan melakukan ketaatan.

Adapun hadis-hadis yang berkaitan dengan bab ini adalah:

1/87- Pertama: Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda,"Bersegeralah untuk beramal (saleh) sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap, di mana pada pagi hari seseorang beriman namun di sore hari ia menjadi kafir, dan pada sore hari ia beriman namun di pagi hari ia kafir, ia menjual agamanya dengan harta dunia."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

بَادِرُوا بالأَعْمَالِ: bersegeralah kepada amal saleh. عَرَض: harta.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban berpegang teguh dengan agama serta bersegera melakukan amal saleh sebelum datang penghalang dan rintangan-rintangan.

2) Peringatan agar tidak jatuh dalam fitnah, karena fitnah akan mendatangkan bagi hamba keraguan dalam agama dan kelemahan iman.

3) Anjuran untuk berilmu dan beramal karena keduanya menjadi benteng pada zaman fitnah.

2/88- Kedua: Abu Sirwa'ah -boleh juga Abu Sarwa'ah- 'Uqbah bin Al-Ḥāriṡ -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku salat Asar di belakang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di Madinah. Beliau kemudian bersalam dan tergesa-gesa bangkit. Beliau melangkahi para sahabat menuju kamar sebagian istrinya. Orang-orang pun merasa cemas melihat ketergesaan beliau. Lalu beliau kembali lagi kepada mereka dan melihat mereka keheranan akibat ketergesaan beliau. Beliau bersabda,"Aku teringat sebuah emas yang ada pada kami, dan aku tidak mau bila batang emas itu menahanku. Lantas Aku pun memerintahkan agar dibagikan."(HR. Bukhari)Dalam riwayat Bukhari yang lain:"Aku meninggalkan sebatang emas dari harta sedekah di rumah, dan aku tidak mau bila sampai menginapkannya (tidak dibagikan)."

التِّبْر (at-tibr): potongan emas atau perak.

Pelajaran dari Hadis:

1) Bersegera melakukan kebaikan, menunaikan hak kepada yang berhak menerimanya serta tidak meremehkannya.

2) Antusiasme Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk melakukan kebaikan serta bersegera untuk menunaikan amanah kepada pemiliknya. Maka ikutilah petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan berpegangteguhlah dengan Sunnah beliau. Karena kebaikan seluruhnya ada dalam petunjuk beliau, dan keburukan seluruhnya ada pada orang yang mengikuti hawa nafsunya.

3) Perhatian para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- dalam mempelajari ucapan dan perbuatan Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam; ini termasuk keutamaan mereka.

3/89- Ketiga: Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada saat Perang Uhud, 'Kabarkan kepadaku, jika aku terbunuh, di manakah aku?' Beliau menjawab, 'Di Surga.' Maka laki-laki itu segera membuang kurma yang ada di tangannya, lalu berperang hingga gugur." (Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Semangat para sahabat -raḍiyallahu 'anhum- serta bersegeranya mereka melakukan amal saleh dan perhatian mereka kepada urusan agama dan akhirat mereka.

2) Kabar gembira bagi orang yang gugur di jalan Allah, yaitu dia dijanjikan surga.

3) Hal terpenting yang diperhatikan oleh seorang muslim adalah masa depannya di hari Kiamat, apakah ke surga atau neraka. Maka bersemangatlah kepada apa yang akan mendekatkanmu kepada surga dan menjauhkanmu dari neraka.

4/90- Keempat: Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Seorang laki-laki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seraya bertanya, "Wahai Rasulullah! Sedekah apakah yang paling besar pahalanya?" Beliau bersabda,"Yaitu engkau bersedekah pada saat sehat dan kikir, saat engkau takut miskin dan berangan-angan kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sedekah, hingga ketika nyawa telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, 'Untuk si polan sekian dan untuk si polan sekian, padahal harta itu telah (berpindah) menjadi hak si polan (ahli waris).'"(Muttafaq 'Alaih)الْحُلْقُوم (al-ḥulqūm): saluran nafas.الْمَرِيءُ (al-marī`): saluran makanan dan minuman.

Kosa Kata Asing:

الشّحّ (asy-syuḥḥ): pelit yang disertai rakus.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban hamba agar bersegera melakukan amal saleh sebelum kematian datang.

2) Sedekah ketika sehat lebih afdal daripada sedekah ketika sakit.

5/91- Kelima: Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambil sebuah pedang pada waktu perang Uhud, kemudian beliau bertanya, "Siapakah yang siap menerima pedang ini dariku?" Maka para sahabat menjulurkan tangan mereka, setiap orang di antara mereka berkata, "Aku. Aku." Beliau bertanya, "Siapakah yang siap mengambilnya dengan menunaikan haknya?" Maka orang-orang itu menarik diri. Lalu Abu Dujānah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku yang siap menerimanya dengan menunaikan haknya." Lantas dia mengambilnya, lalu membelah kepala orang-orang musyrik dengannya.(HR. Muslim)Nama Abu Dujānah: Simāk bin Kharsyah.Ucapan Anas: (أَحْجَمَ الْقَوْمُ), maksudnya mereka diam.(فَلَقَ بهِ): membelah.هَامَ الْمُشْرِكينَ: kepala orang-orang musyrikin.

Pelajaran dari Hadis:

1) Bagusnya kepemimpinan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada sahabat-sahabat beliau; yaitu beliau tidak mengkhususkan pedang tersebut kepada salah satu mereka, tetapi beliau menjadikan perkara tersebut sebagai ajang perlombaan bagi semua sahabat, hingga beliau menemukan laki-laki yang tepat pada tempat yang tepat.

2) Menjelaskan keberanian Abu Dujānah -raḍiyallāhu 'anhu- serta pengorbanan dan ketulusannya ketika berjihad.

3) Seorang hamba seharusnya tidak bersikap malas atau menganggap amalan ibadah sulit dilakukan, tetapi hendaklah dia memohon pertolongan kepada Allah, bertawakal kepada-Nya, dan bersegera melakukan kebaikan tanpa ada keraguan.

Peringatan:

Sikap para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- di sini tidak menunjukkan rasa takut atau pengecut. Mereka diam tidak mengambil pedang tersebut karena sifat warak mereka, yakni mereka khawatir tidak mampu memenuhi persyaratan mereka bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.Hal ini, bila menunjukkan sesuatu maka dia menunjukkan sejauh mana sifat warak mereka serta sikap penghargaan terhadap janji dan hak nabi mereka -'alaihi aṣ-ṣalātu was-salām-.6/92- Keenam: Az-Zubair bin 'Adiy mengabarkan, Kami datang kepada Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- lalu mengeluhkan kekejaman yang kami hadapi dari Al-Ḥajjāj, maka dia berkata,"Bersabarlah! Sungguh, tidaklah datang kepada kalian suatu zaman melainkan yang setelahnya lebih buruk darinya, hingga kalian berjumpa dengan Tuhan kalian.Aku telah mendengar itu dari nabi kalian -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."(HR. Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban bersabar terhadap para penguasa sekalipun mereka berbuat zalim dan lalim.

2) Melakukan ketaatan ketika masa fitnah, karena ketaatan akan menjadi benteng dari fitnah-fitnah tersebut.

Peringatan:

Pengarahan kepada manusia ketika masa fitnah adalah menjadi tugas para ulama rabani. Orang beriman wajib meminta arahan para ulama yang mereka tetapkan dalam masalah fitnah dan persoalan kontemporer. Karena merekalah yang paling paham tentang agama, realitas, dan keadaan manusia. Allah -Ta'ālā- berfirman,"(Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil-Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil-Amri)."(QS. An-Nisa`: 83)7/93- Ketujuh: Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda,"Bersegeralah melakukan amal saleh sebelum datang tujuh perkara. Apakah kalian mesti menunggu kemiskinan yang dapat melupakan, kecukupan yang dapat berakibat melampaui batas, sakit yang dapat merusak, usia tua yang melemahkan, kematian yang menyergap tiba-tiba, Dajal yang merupakan seburuk-buruk makhluk gaib yang ditunggu, ataukah kiamat, padahal kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit!"(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan") [4]

Kosa Kata Asing:

مُطْغِيًا (muṭgiyan): membawa pemiliknya untuk melampaui batas dalam dosa.

مُفْنِدًأ (mufnidan): mengakibatkan jatuh dalam ucapan yang menyimpang dari kebenaran.

مُجْهِزًا (mujhizan): mematikan dengan cepat. أَدْهَى (adhā): lebih besar keburukannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Memberi contoh dengan penghalang paling besar yang dapat memalingkan hamba dari kebaikan dan ketaatan, agar dia menghindarinya dan menyibukkan dirinya dengan yang bermanfaat baginya.

2) Memaksimalkan waktu sehat, waktu luang, dan saat sedikitnya fitnah dan kesibukan untuk memperbanyak ketaatan dan perbuatan baik.

3) Dajal adalah fitnah paling besar yang pernah diperingatkan oleh para nabi -ṣallallāhu 'alaihim wa sallam-.

8/94- Kedelapan: Masih dari riwayat Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda ketika peristiwa perang Khaibar,"Sungguh aku akan menyerahkan bendera ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah akan memberikan kemenangan dengan tangannya."Umar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Belum pernah aku menginginkan kekuasaan kecuali hari itu. Aku menampakkan diri dengan harapan akan dipanggil untuk itu. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memanggil Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- dan menyerahkannya kepadanya. Beliau bersabda,"Berjalanlah. Jangan engkau menoleh hingga Allah memberimu kemenangan."Ali berjalan beberapa langkah, kemudian berhenti tetapi tidak menoleh. Lalu dia mengangkat suara, "Wahai Rasulullah! Atas dasar apa aku memerangi orang-orang itu?" Beliau menjawab,"Perangilah mereka hingga bersyahadat 'Lā ilāha illallāh, Muḥammad rasūlullāh'. Bila mereka telah melakukannya, mereka telah melindungi darah dan harta mereka kecuali dengan haknya, dan perhitangn hisab mereka di tangan Allah."(HR. Muslim)

(فَتَسَاوَرْت) maksudnya, aku melompat menampakkan diri.

Pelajaran dari Hadis:

1) Para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- tidak menginginkan kekuasaan karena beratnya tanggung jawab yang ada padanya.

2) Bersegera melaksanakan perintah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- termasuk bersegera kepada kebaikan dan ketaatan.

3) Besarnya komitmen para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- terhadap wasiat-wasiat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta kesegeraan mereka melaksanakannya tanpa banyak bertanya dan melakukan interupsi.Kita wajib mengikuti Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan penuh tunduk dan taat kepada Allah -'Azza wa Jalla- dalam hal itu serta meniti jalan dan jejak para sahabat bersama Al-Qur`ān dan Sunnah.Inilah kunci kesuksesan umat. Tidak akan baik urusan akhir umat ini kecuali dengan perkara yang menjadikan baik generasi pertama.

 11- BAB MUJĀHADAH

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan orang-orang yang berjuang untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik."(QS. Al-'Ankabūt: 69)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan sembahlah Rabb-mu sampai ajal datang kepadamu."(QS. Al-Ḥijr: 99)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan sebutlah nama Rabb-mu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati."(QS. Al-Muzzammil: 8)Maksudnya, beribadahlah kepada-Nya secara total.Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Maka siapa yang mengerjakan kebajikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."(QS. Az-Zalzalah: 7)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya."(QS. Al-Muzzammil: 20)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui."(QS. Al-Baqarah: 273)Ayat-ayat dalam bab ini banyak dan masyhur.

Faedah:

Mujāhadah adalah mengerahkan usaha untuk memperbaiki diri dan memperbaiki orang lain.

- Memperbaiki diri, yaitu dengan mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan. Jalan untuk itu adalah ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.

- Adapun memperbaiki orang lain adalah dengan berdakwah dan menjelaskan agama serta bersabar terhadap berbagai rintangan di dalamnya.

Adapun orang-orang yang ingkar dan melenceng dari agama, maka mujāhadah untuk melawan mereka ialah dengan pedang dan senjata untuk meredam keburukan mereka dan mengingatkan orang-orang yang semisal mereka.

Pelajaran dari Ayat:

1) Anjuran meniti jalan jihad (perjuangan) karena hidayah bersama orang-orang yang berjuang (ber-mujāhadah):"Dan orang-orang yang berjuang untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."(QS. Al-'Ankabūt: 69)

2) Siapa yang berbuat kebaikan akan menemukan balasannya, walaupun sedikit. Maka tidak boleh seseorang menganggap kecil kebaikan sekecil apa pun juga.

Adapun hadis-hadis tentang hal ini, yaitu:

1/95- Pertama: Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,Allah -Ta'ālā- telah berfirman, "Siapa yang memusuhi wali-Ku, Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri dengan sesuatu yang lebih Aku sukai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku akan terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia pergunakan mendengar, sebagai penglihatannya yang ia pergunakan melihat, sebagai tangannya yang ia pergunakan berbuat, dan sebagai kakinya yang ia pergunakan berjalan. Jika dia meminta pada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika dia memohon perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya."(HR. Bukhari)آذَنْتُهُ (āżantuhu): aku mengumumkan perang kepadanya.اسْتَعَاذَنِي (ista'āżanī), diriwayatkan dengan "nūn" (ista'āżanī), dan juga dengan "bā`" (ista'āża bī)

Kosa Kata Asing:

وليّاً: wali, yaitu semua orang beriman dan bertakwa."Ingatlah! Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa."(QS. Yūnus: 62-63)

اسْتَعَاذَنِي (ista'āżanī), berasal dari kata الاِسْتِعَاذَة (al-isti'āżah); meminta perlindungan kepada Allah -Ta'ālā-.

Pelajaran dari Hadis:

1) Wali adalah yang mendekatkan diri kepada Allah -Ta'ālā- dengan ibadah-ibadah yang wajib -terutama merealisasikan tauhid kepada Allah- kemudian memperbanyak ibadah sunah.

2) Menetapkan kewalian orang-orang beriman; yaitu Allah menjaga mereka, membimbing ucapan dan perbuatan mereka, dan membela mereka:"Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman."(QS. Al-Ḥajj: 38)

3) Ibadah yang wajib paling dicintai oleh Allah -Ta'ālā- untuk digunakan hamba mendekatkan diri kepada-Nya.

4) Mengerjakan ibadah sunah bersama melaksanakan yang wajib akan mendatangkan cinta Allah -Ta'ālā- kepada hamba.

Faedah Tambahan:

Firman Allah -Ta'ālā- dalam hadis qudsi di atas, "Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia pergunakan mendengar, sebagai penglihatannya yang ia pergunakan melihat ..." dan seterusnya, telah ditafsirkan dalam riwayat lain, "... maka dengan-Ku dia mendengar dan dengan-Ku dia melihat."

Maksudnya: hamba tersebut di semua keadaannya selalu dalam ucapan dan perbuatan yang mendatangkan rida Allah -Ta'ālā-; dia tidak mendengar kecuali yang dicintai Allah, tidak melihat kecuali yang Allah izinkan untuk dilihat, dan tidak mengerjakan dengan tangan dan kakinya kecuali yang diperbolehkan dan sesuai syariat. Ketika itu, hamba ini termasuk di antara wali Allah.

2/96- Kedua: Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya -'Azza wa Jalla-, bahwa Allah berfirman,"Jika seorang hamba mendekati-Ku sejengkal, niscaya Aku mendekatinya satu hasta. Jika dia mendekati-Ku satu hasta, niscaya Aku mendekatinya satu depa. Jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan kaki, niscaya Aku mendatanginya dengan berlari kecil."(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

فيمَا يَرْوِيهِ عَنْ رَبِّهِ: dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya; lafal ini berlaku dalam hadis qudsi (ilahi).

باعاً: sedepa; yaitu seukuran bentangan dua tangan ditambah badan antara keduanya.

هَرْوَلَة (harwalah): salah satu jenis lari yaitu mengandung percepatan langkah.

Pelajaran dari Hadis:

1) Allah -Ta'ālā- memuliakan hamba yang taat kepada-Nya, yaitu dengan memberikan pahala amal mereka serta melipatgandakannya.

2) Siapa yang tulus kepada Allah -Ta'ālā- di dalam ketaatan, akan dimudahkan oleh Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- untuk menambah berbagai ibadah.

3/97- Ketiga: Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ada dua nikmat yang banyak manusia terlena di dalamnya, yakni kesehatan dan waktu luang."(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

مَغْبُونٌ فِيهِمَا: terkalahkan di dalamnya, diambil dari kata (الغُبن), yaitu dijual dengan sekian kali lipat dari harganya atau dijual di bawah harga.

Pelajaran dari Hadis:

1) Seorang hamba wajib memanfaatkan nikmat sehat dan waktu luang dengan ketaatan kepada Allah -'Azza wa Jalla- sesuai kemampuannya.

2) Nikmat-nikmat Allah bertingkat-tingkat. Di antara nikmat Allah yang paling besar kepada seorang hamba -setelah keimanan- adalah nikmat sehat dan luangnya waktu dari berbagai kesibukan.

3) Membalas nikmat Allah -'Azza wa Jalla- dengan ketaatan dan syukur merupakan sebab terjaganya dan langgengnya nikmat tersebut; yaitu nikmat akan bertambah dengan disyukuri.

4/98- Keempat: Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan salat malam sampai kedua kakinya bengkak. Aku pun bertanya, "Wahai Rasulullah! Kenapa engkau lakukan sampai seperti ini, padahal telah diampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?" Beliau menjawab, "Tidak bolehkah aku senang bila menjadi hamba yang bersyukur?"(Muttafaq ‘Alaih)Ini adalah redaksi riwayat Bukhari. Ada riwayat yang semisal dalam Aṣ-Ṣāḥīḥain dari Al-Mugīrah bin Syu'bah.

Kosa Kata Asing:

تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ: kedua kakinya bengkak.

Pelajaran dari Hadis:

1) Bersyukur ialah melakukan ketaatan kepada Allah -Ta'ālā-, di antaranya syukur dalam bentuk perbuatan dengan beribadah kepada Allah -Ta'ālā-.

2) Di antara keistimewaan Rasul -'alaihiṣ-ṣalātu was-salām- adalah bahwa Allah telah mengampuni dosa beliau yang terdahulu dan yang akan datang.

3) Keutamaan salat malam disertai dengan berdiri lama, keduanya termasuk ibadah yang paling dicintai Allah.

5/99- Kelima: Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata,"Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dahulu, apabila masuk sepuluh malam terakhir (bulan Ramadan) beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, serta bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikatan sarung."(Muttafaq 'Alaih)Maksudnya: sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.(الْمِئْزَرُ) artinya sarung; yaitu kiasan untuk menjauhi istri.Konon, maksudnya menyingsingkan sarung untuk beribadah. Dikatakan: شَدَدْتُ لِهذَا الأَمْرِ مِئْزَرِي, maksudnya aku menyingsingkan sarung untuk perkara ini serta konsentrasi kepadanya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan sepuluh malam terakhir Ramadan, yaitu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memperhatikannya dan menghidupkan malamnya karena di dalamnya terdapat lailatulkadar.

2) Di antara petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah beliau tidak beribadah dalam satu malam penuh kecuali di sepuluh malam terakhir Ramadan.

3) Orang yang beriktikaf tidak boleh menggauli istrinya ketika iktikaf.

4) Seorang hamba wajib melakukan mujāhadah melawan kelalaian dirinya pada waktu-waktu yang utama supaya ia bisa mengisi seluruhnya dengan ketaatan kepada Allah -Ta'ālā-, karena waktu-waktu itu adalah kesempatan untuk "bisnis yang menguntungkan" serta meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.

6/100- Keenam: Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, meskipun masing-masing memiliki sisi kebaikan. Maka fokuslah kepada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah! Jika ada sesuatu yang menimpamu, maka jangan katakan, 'Andai aku melakukan ini itu, tentu hasilnya seperti ini.' Tetapi ucapkanlah, 'Telah ditetapkan oleh Allah. Apa yang Allah kehendaki, maka Dia melakukannya.' Karena kata-kata 'andai' bisa membuka peluang untuk setan."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

Orang mukmin yang kuat, maksudnya kuat dalam iman dan banyak ketaatan.

Orang mukmin yang lemah, maksudnya lemah dalam iman dan sedikit ketaatan.

Jangan lemah; lemah maksudnya tidak mampu melakukan kebaikan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Upaya kuat orang beriman untuk meningkatkan iman dan melakukan ketaatan serta meninggalkan yang haram.

2) Orang yang berakal (yaitu yang menerima wasiat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-) akan bersemangat pada sesuatu yang bermanfaat baginya di dalam agama dan dunianya serta meninggalkan semua yang tidak bermanfaat.

3) Anjuran untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam semua urusan, sekalipun pada sesuatu yang kecil. Dengan meminta pertolongan akan hilang sifat ketidakmampuan.

4) Di antara petunjuk Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah agar seseorang menyelesaikan amalannya dan tidak malas serta harus memulai dari yang paling penting kemudian yang lain.

5) Beriman kepada takdir disertai kewajiban rida, karena segala sesuatu terjadi dengan ketetapan dan takdir.

Faedah Tambahan:

Sabda Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, "Fokuslah pada apa yang bermanfaat bagimu" adalah dalil kaidah mengedepankan manfaat yang paling besar atas manfaat yang kurang besar.Di antaranya, bila terjadi kontradiksi antara manfaat agama dan manfaat dunia, maka manfaat agama didahulukan. Karena ketika agama baik, maka dunia akan ikut baik bersamanya, sedangkan dunia tidak akan bagus bila disertai kerusakan agama.7/101- Ketujuh: Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda,"Neraka itu dikelilingi dengan syahwat (sesuatu yang disukai) dan surga dikelilingi dengan sesuatu yang tidak disukai."(Muttafaq ‘Alaih)

Dalam riwayat Muslim, dengan menggunakan lafal "حُفَّتْ" (ḥuffat) sebagai ganti lafal "حُجِبَتْ" (ḥujibat). Lafal ini semakna dengannya. Yaitu antara dia dengan neraka dan surga dihalangi dengan penghalang ini, bila dia melakukannya maka dia akan memasukinya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Syahwat yang diharamkan adalah salah satu pintu masuk neraka, yaitu memperturutkan hawa nafsu pada sesuatu yang menyelisihi agama.

2) Perkara-perkara yang tidak disukai adalah sebab meraih kemuliaan dan masuk surga.

3) Apabila seorang hamba melakukan mujāhadah melawan diri di dalam ketaatan kepada Allah maka dia akan mencintai ketaatan tersebut dan akan terbiasa dengannya.

8/102- Kedelapan: Abu Abdirrahman Hużaifah bin Al-Yamān -raḍiyallāhu 'anhumā- bercerita, "Suatu malam aku salat bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau memulai dengan bacaan Al-Baqarah. Dalam hati aku bergumam, 'Mungkin beliau akan rukuk kalau sudah seratus ayat.' Ternyata beliau meneruskan bacaannya. Dalam hati aku bergumam, 'Mungkin beliau akan membaca Surah Al-Baqarah dalam satu rakaat.' Beliau meneruskan bacaannya. Dalam hati aku berkata, 'Beliau akan rukuk setelahnya.' Selanjutnya beliau membaca Surah An-Nisā` dan beliau membacanya sampai selesai. Setelah itu beliau membaca Surah Āli 'Imrān dan beliau membacanya sampai selesai. Beliau membaca dengan bacaan perlahan (tartil). Jika melewati ayat yang mengandung tasbih, beliau pun bertasbih. Jika melewati ayat yang menyuruh memohon, beliau pun memohon. Jika melewati ayat yang menyuruh untuk memohon perlindungan, beliau pun memohon perlindungan. Setelah itu beliau rukuk dan membaca, 'Subḥāna Rabbiyal-'Aẓīm' (Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung) Lama rukuk beliau hampir sama dengan lama berdirinya. Lantas beliau mengucapkan, 'Sami'allāhu liman Ḥamidah. Rabbanā Lakal-Ḥamdu' (Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Wahai Tuhan kami, hanya bagi-Mulah segala pujian) Selanjutnya beliau berdiri lama hampir sama lamanya dengan rukuk. Lalu beliau bersujud dan membaca, 'Subḥāna Rabbiyal-A'lā' (Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi) Lama sujud beliau hampir sama dengan lama berdirinya."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

مُتَرَسِّلًا (mutarassilan): tidak terburu-buru, yaitu perlahan secara tartil hingga setiap huruf jelas dan diberikan haknya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beramal layaknya amalan orang yang berjuang, yaitu yang berjuang melawan dirinya untuk melakukan ketaatan.

2) Diperbolehkan kadang-kadang melakukan salat malam secara berjemaah, tanpa direncanakan dan tanpa terus-menerus. Adapun di bulan Ramadan, maka disunahkan agar orang-orang salat secara berjemaah.

3) Orang yang salat seharusnya menggabungkan antara zikir, doa, dan tadabur; ia hendaknya memohon rahmat ketika membaca ayat yang mengandung rahmat, memohon perlindungan ketika membaca ayat yang mengandung ancaman dan azab, dan bertasbih ketika membaca ayat yang mengandung tasbih.

4) Keutamaan lamanya berdiri dalam salat malam, dan ini bagian dari mujāhadah (kesungguhan) melawan diri di jalan Allah -Ta'ālā-.

9/103- Kesembilan: Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Suatu malam aku salat bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau terus berdiri (lama) sampai aku bermaksud untuk melakukan sesuatu yang jelek." Ibnu Mas'ūd ditanya, "Apa yang hendak engkau lakukan?" Ia menjawab, "Aku bermaksud untuk duduk dan meninggalkan beliau." (Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

(هَمَمْت) berasal dari kata (الهَمّ بالشيء), yaitu berkeinginan kuat melakukan sesuatu.

Pelajaran dari Hadis:

1) Termasuk sunah bila seseorang melakukan salat malam dan memanjangkan durasi berdirinya.

2) Berdiri lama untuk beribadah di malam hari termasuk petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; maka siapa yang berniat untuk mujāhadah melawan kemalasan diri untuk salat malam, hendaklah dia mengikuti Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

10/104- Kesepuluh: Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,“Orang yang wafat akan diikuti oleh tiga hal; keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan pulang kembali, dan yang satu akan tinggal (bersamanya). Keluarga dan hartanya akan kembali pulang, dan yang tinggal adalah amalnya."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Seharusnya seorang hamba bersemangat melakukan amal saleh, karena amal salehlah yang merupakan harta tabungan yang kekal.

2) Anjuran agar orang beriman bersungguh-sungguh dalam ketaatan, agar dia memiliki amal saleh yang akan menemaninya di dalam kuburnya.

Faedah Tambahan:

Korelasi antara hadis ini dengan Bab Mujāhadah, bahwa banyaknya amal saleh menuntut jihad melawan diri. Seorang hamba akan senantiasa merutinkan ketaatan hingga ketaatan itu menjadi kebiasaannya dan mengangkatnya ke derajat yang mulia.

11/105- Kesebelas: Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Surga itu lebih dekat kepada seseorang dari kalian daripada tali sendalnya. Neraka juga seperti itu."(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

شِرَاكِ نعله (syirāk na'lihi): tali sendal yang terletak di atas telapak kaki; dijadikan sebagai perumpamaan dari sisi kedekatan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Seorang hamba kadang berbicara dengan satu kata, atau melakukan satu perbuatan yang diridai oleh Allah, dia tidak menyangka besarnya efek positifnya, tapi ternyata mengantarkannya kepada surga An-Na'īm.

Sebaliknya, dia kadang berbicara dengan satu kata, atau melakukan satu perbuatan yang dimurkai oleh Allah, dia tidak menyangka besarnya efek negatifnya, tapi ternyata mengantarkannya kepada neraka Jahīm.

2) Memberi contoh ketika mengajar lebih meresap dalam diri dan lebih mudah dipahami.

12/106- Kedua belas: Abu Firās Rabī'ah bin Ka'ab Al-Aslamiy -raḍiyallāhu 'anhu- (pembantu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan termasuk Ahli Sufah) berkata,Aku pernah bermalam bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Kemudian aku membawakan air wudu dan kebutuhan beliau. Lantas beliau berkata, "Mintalah sesuatu kepadaku!" Aku Menjawab, "Aku minta kepadamu agar menemanimu di dalam surga." Beliau berkata, "Adakah yang lainnya?" Aku menjawab, "Permintaanku hanya itu." Beliau berkata, "Bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu itu dengan banyak sujud."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

Ahli Sufah ialah para tamu Islam, yaitu orang-orang yang berhijrah ke Madinah dan tidak memiliki tempat tinggal. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikan mereka tempat tinggal di bagian belakang Masjid Nabawi.Jumlah mereka mencapai 80 orang. Kadang kurang dari itu. Para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- membawakan untuk mereka makanan, susu, dan lainnya untuk bersedekah kepada mereka.

- الوَضُوْء (al-waḍū`), bermakna air yang digunakan berwudu. Sedangkan الوُضوء (al-wuḍū`), bermakna perbuatan berwudu.

- حَاجَتُه (ḥājatuhu): kebutuhan beliau seperti pakaian dan lainnya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan sahabat mulia ini serta ketinggian cita-citanya, yaitu dia meminta sesuatu yang merupakan perkara akhirat.

2) Keutamaan sujud dibandingkan gerakan-gerakan salat lainnya. Sebagaimana juga dalam hadis:"Posisi paling dekat antara hamba dengan Rabb-nya adalah saat ia sujud."3) Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak kuasa memasukkan seseorang ke dalam surga, karena itu beliau tidak bisa memberi jaminan surga kepada laki-laki ini padahal dia pembantu beliau dan orang yang sangat dekat dengan beliau.Hendaklah orang beriman waspada agar tidak bertumpu hanya kepada nasab, jabatan, dan kedudukan. Semua itu tidak bermanfaat jika tidak disertai dengan iman yang benar dan amal saleh.13/107- Ketiga belas: Abu Abdillah, juga dikatakan Abu Abdirrahman, Ṡaubān Maulā Rasulillāh -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Hendaknya engkau memperbanyak sujud. Sungguh, tidaklah engkau melakukan sujud satu kali melainkan dengannya Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menggugurkan satu kesalahan darimu."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

عَلَيْكَ ('alaika): engkau hendaknya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Sujud dalam salat dan memperbanyaknya adalah wasiat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan merupakan bagian dari mujāhadah.

2) Dengan sujud akan terwujud bagi hamba dua faedah besar, yaitu; Allah mengangkatnya satu derajat dan menghapuskan darinya satu dosa.

14/108- Keempat belas: Abu Ṣafwān Abdullah bin Busr Al-Aslamiy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sebaik-baik manusia adalah yang berusia panjang dan amalnya baik."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnys hasan")بُسْر (busr), dengan mendamahkan "bā`".

Pelajaran dari Hadis:

1) Seharusnya seseorang berdoa kepada Allah agar menjadikannya orang yang panjang usia dan bagus perbuatannya.

2) Sebatas panjang usia bukanlah kebaikan bagi seseorang, kecuali jika amalnya bagus.

Faedah Tambahan:

Sebagian ulama menilai makruh hukumnya mendoakan panjang umur kepada seseorang jika tidak disertai doa kebaikan. Tetapi, harusnya dikatakan, "Semoga Allah memanjangkan umurmu di atas ketaatan kepada-Nya." Ummu Ḥabībah, istri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-pernah berdoa, "Ya Allah! Berilah aku kebahagiaan dengan memanjangkan umur suamiku Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, umur ayahku Abu Sufyān, dan umur saudaraku Mu'āwiyah." Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Engkau telah meminta kepada Allah terkait ajal yang sudah ditentukan dan hari yang sudah dihitung serta rezeki yang telah dibagi; doamu tidak akan menyegerakan sesuatu sebelum waktunya maupun mengakhirkan sesuatu dari waktunya. Sekiranya engkau meminta kepada Allah agar dilindungi dari azab di neraka atau azab di kubur, tentu itu lebih baik dan lebih utama."(HR. Muslim)15/109- Kelima belas: Anas -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan, Pamanku, Anas bin An-Naḍr -raḍiyallāhu 'anhu- absen dari perang Badar. Lantas dia berkata, "Ya Rasulullah! Aku telah absen dari peperangan pertamamu melawan orang-orang musyrik. Sekiranya Allah menakdirkanku mengikuti perang melawan kaum musyrikin, niscaya Allah akan memperlihatkan apa yang aku perbuat." Anas melanjutkan, ketika perang Uhud terjadi, sebagian orang-orang Islam lari meninggalkan tempat mereka. Maka Anas bin An-Naḍr berkata, "Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang dilakukan oleh mereka itu (yakni rekan-rekannya), dan aku berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh mereka itu (yakni orang-orang musyrik)." Kemudian dia maju dan disambut oleh Sa'ad bin Mu'āż. Dia berkata, "Wahai Sa'ad bin Mu'āż! Demi Rabb-nya An-Naḍr! Di sanalah surga. Sungguh, aku mencium aroma surga di dekat Uhud." Sa'ad berkata, "Ya Rasulullah! Aku tidak mampu seperti yang dia lakukan!"Anas berkata, "Kami menemukan padanya ada delapan puluh sekian luka antara tebasan pedang, tusukan tombak, ataupun lemparan panah. Kami menemukannya telah terbunuh dan dicincang oleh orang-orang musyrik. Tidak ada yang dapat mengenalnya kecuali saudarinya melalui jari jemarinya."Anas berkata, "Kami meyakini atau menduga bahwa ayat ini turun menjelaskan keadaannya dan orang-orang yang semisalnya:"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah."(QS. Al-Aḥzāb: 23)(Muttafaq ‘Alaih)

Perkataannya: (لَيُرِيَنَّ الله), diriwayatkan dengan mendamahkan "yā`" dan mengkasrahkan "rā`". Maksudnya: Allah benar-benar akan memperlihatkannya kepada manusia. Juga diriwayatkan dengan memfatahkan keduanya. Wallāhu a'lam.

Kosa Kata Asing:

بِبَنَانِه (bi banānihi): dengan ujung jari jemarinya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Tekad seseorang untuk melakukan ketaatan dan kebaikan serta melakukan sebab-sebab yang membantu mewujudkannya.

2) Berlepas diri dari perbuatan orang-orang kafir dan pelaku maksiat adalah bukti benarnya iman seorang hamba.

3) Keutamaan sahabat Anas bin An-Naḍr -raḍiyallāhu 'anhu- karena kepahlawanannya di medan perang dan keberaniannya melawan orang-orang kafir.

4) Anjuran agar teguh bertahan di medan jihad sekalipun rekan-rekan mundur.

6/110- Keenam belas: Abu Mas'ūd 'Uqbah bin 'Amr Al-Anṣāriy Al-Badriy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Ketika turun ayat perintah bersedekah, kami mengambil upah panggul. Datanglah seseorang lalu menyedekahkan sesuatu dalam jumlah banyak, mereka (orang-orang munafik) berkata, 'Ini orang yang ria (pamer).' Seorang yang lain datang lalu bersedekah satu ṣā', mereka berkata, 'Allah tidak membutuhkan satu ṣā' orang ini.' Maka turunlan ayat,"(Orang-orang munafik) yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan yang (mencela) orang-orang yang hanya memperoleh sekadar kesanggupannya (untuk disedekahkan), maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka, dan mereka akan mendapat azab yang pedih."(QS. At-Taubah: 79)(Muttafaq ‘Alaih)

نُحَامِلُ (nuḥāmil) dengan mendamahkan "nūn", yaitu sebagian kami mengambil upah panggul dan bersedekah dengannya.

Kosa Kata Asing:

- مُراءٍ (murā`), berasal dari kata المُرَاءاة (al-murā`āt), yaitu berbuat agar dilihat orang, sehingga dia mendapatkan manfaat duniawi dari mereka.

- صاع (ṣā'): satu ṣā', yaitu takaran empat mud. Sedangkan satu mud seukuran dua telapak tangan penuh, tidak dihamparkan ataupun digenggam.

- يَلۡمِزُونَ (yalmizūn): mencela.

- المُطّوعين (al-muṭṭawwi'īn): orang-orang yang beramal sukarela.

- جُهْدَهُم (juhdahum): kemampuan mereka.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban orang beriman bila datang sesuatu dari Allah -'Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, agar dia bersegera melakukan apa yang diwajibkan kepadanya berupa melaksanakan perintah ataupun menjauhi larangan. Sebagaimana sahabat-sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah melaksanakan perintah bersedekah sesuai kemampuan mereka.

2) Semangat para sahabat untuk berlomba kepada kebaikan serta berjihad melawan diri untuk itu. Ini bagian dari keutamaan mereka -raḍiyallāhu 'anhum-.

3) Allah -'Azza wa Jalla- akan membela orang-orang beriman, dan ini termasuk buah dari iman.

17/111- Ketujuh belas: Sa'īd bin 'Abdul-'Azīz meriwayatkan dari Rabī'ah bin Yazīd, dari Abu Idrīs Al-Khaulāniy, dari Abu Żarr Jundub bin Junādah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Allah -Tabāraka wa-Ta'ālā-, bahwa Allah berfirman,"Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku telah mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zalim dan perbuatan zalim itu pun Aku haramkan di antara kalian. Maka, janganlah kalian saling berbuat zalim!Wahai hamba-hamba-Ku! Kamu sekalian tersesat kecuali yang Aku beri petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu petunjuk.Wahai hamba-hambaKu! Kamu sekalian lapar kecuali yang Aku beri makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian makan.Wahai hamba-hamba-Ku! Kamu sekalian tidak berpakaian kecuali yang Aku beri pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian pakaian.Wahai hamba-hamba-Ku! Kamu sekalian senantiasa berbuat salah pada malam dan siang hari, sementara Aku mengampuni dosa semuanya. Maka mohonlah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian.Wahai hamba-hamba-Ku! Kamu sekalian tidak akan dapat menimpakan mara bahaya kepada-Ku, sehingga kalian melakukannya. Kamu sekalian juga tidak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku, sehingga kalian melakukannya.Wahai hamba-hamba-Ku! Seandainya orang-orang yang terdahulu dan yang belakangan serta manusia dan jin, semuanya bertakwa dengan tingkat ketakwaan orang yang paling bertakwa di antara kamu, hal itu sedikit pun tidak akan menambahkan kekuasaan-Ku.Wahai hamba-hamba-Ku! Seandainya orang-orang yang terdahulu dan yang belakangan serta manusia dan jin, semuanya berdosa dengan tingkat dosa orang yang paling berdosa di antara kamu, hal itu sedikit pun tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku.Wahai hamba-hamba-Ku! Seandainya orang-orang yang terdahulu dan yang belakangan serta semua jin dan manusia berkumpul di atas tanah lapang lalu semuanya memohon kepada-Ku dan masing-masing Aku penuhi permohonannya, hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada di sisi-Ku melainkan hanya seperti air yang berkurang oleh jarum ketika dimasukkan ke dalam lautan.Wahai hamba-hamba-Ku! Itu semua tidak lain adalah amal perbuatan kalian, Aku akan menghitungnya untuk kalian, kemudian Aku akan berikan balasannya secara sempurna kepada kalian. Siapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah dia memuji Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Dan siapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri."Sa'īd berkata, "Dahulu, bila Abu Idrīs meriwayatkan hadis ini, dia duduk berlutut." (HR. Muslim)

Juga telah diriwayatkan kepada kami dari Imam Ahmad bin Hanbal -raḥimahullāh-, bahwa dia berkata, "Tidak ada hadis yang lebih mulia yang dimiliki penduduk Syam daripada hadis ini."

Kosa Kata Asing:

صَعِيْد (ṣa'īd): satu tanah dan satu tempat.

المِخْيَط (al-mikhyaṭ): jarum.

Pelajaran dari Hadis:

1) Ketergantungan hamba kepada Rabb mereka di semua kebutuhan agama dan dunia. Hidayah pada hati dan berbagai nikmat dunia seperti makanan, minuman, dan keperluan seluruhnya adalah karunia yang berasal dari Allah -Ta'ālā-.

2) Perbendaharaan Allah -Ta'ālā- melimpah, tidak akan berkurang oleh satu nafkah; maka hendaklah hamba bersungguh-sungguh dalam berdoa dengan penuh yakin terhadap kebaikan dari sisi Allah -Ta'ālā-. Sesungguhnya husnuzan kepada Allah -Ta'ālā- lebih baik bagi hamba.

3) Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengharamkan diri-Nya dari sesuatu dan mewajibkan diri-Nya pada sesuatu; berdasarkan hikmah dan kesempurnaan ilmu-Nya.

4) Ilmu yang manfaat dan amal saleh adalah asupan bagi hati, sebagaimana makanan dan minuman asupan bagi badan.

5) Manusia akan diberi balasan sesuai amalnya; jika amalnya baik maka baiklah balasannya, dan jika buruk maka buruk pula balasannya.

6) Kewajiban seorang hamba agar berjihad melawan dirinya untuk mengerjakan kebaikan supaya mendapat pahalanya di dunia dan akhirat.

 12- BAB MOTIVASI MENINGKATKAN KEBAIKAN DI AKHIR USIA

Allah -Ta'ālā- berfirman,“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?!"(QS. Fāṭir: 37)Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- dan para ulama menjelaskan bahwa maknanya: bukankah Kami telah memanjangkan usia kalian 60 tahun? Juga dikuatkan oleh hadis yang akan kami sebutkan insya Allah.Konon, juga bermakna: delapan belas tahun.Dan konon: empat puluh tahun; sebagaimana dikatakan oleh Hasan Al-Baṣriy, Al-Kalbiy, dan Masrūq,dan juga telah dinukil dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-.Mereka juga menukilkan, bahwa penduduk Madinah bila telah berumur empat puluh tahun maka dia akan berkonsentrasi untuk beribadah. Ada juga yang mengatakan bahwa itu ketika usia balig.Firman Allah -Ta'ālā-: "Padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan"; dijelaskan oleh Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- dan jumhur ulama, bahwa dia adalah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.Ada juga yang berpendapat bahwa maksudnya adalah uban, sebagaimana diterangkan oelh 'Ikrimah, Ibnu 'Uyainah, dan lainnya. Wallāhu a'lam.

Pelajaran dari Ayat:

1) Yang menjadi ukuran dalam hidup adalah pada akhir umur, karena amal perbuatan tergantung penutupnya. Ada hadis sahih dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,"Siapa yang akhir perkataannya (sebelum meninggal dunia): lā ilāha illallāh, maka dia akan masuk surga."(HR. Ahmad)

2) Seseorang harus memperbanyak amal saleh karena dia tidak tahu kapan akan meninggal.

3) Semakin panjang usia seorang hamba maka semakin pantas untuk sadar dan bertobat, karena semakin dekat waktu menghadapnya kepada Allah -Ta'ālā-.

Adapun hadis-hadis yang berkaitan dengan ini, sebagai berikut:

1/112- Pertama: Hadis dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beliau bersabda,"Allah telah menegakkan hujah kepada seseorang yang ditangguhkan ajalnya hingga mencapai 60 tahun."(HR. Bukhari)

Para ulama berkata, maksudnya: Allah tidak menyisakan baginya alasan karena telah menangguhkannya selama itu. Bila dikatakan: (أَعْذَرَ الرَّجُل: a'żara ar-rajul), maka bermakna: orang itu telah mencapai puncak uzur.

Pelajaran dari Hadis:

1) Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memiliki hujah yang sempurna kepada hamba-hamba-Nya; yaitu Allah telah menganugerahi mereka akal dan pemahaman, mengutus rasul, menurunkan kitab, dan menjaga agama.

2) Hamba wajib memanfaatkan kesempatan untuk melakukan ketaatan kepada Allah dan menginvestasikan waktunya pada sesuatu yang mendatangkan rida Allah, menjauhi dosa dan maksiat, dan mempersiapkan diri untuk suatu hari yang tidak menyisakan uzur bagi hamba.

2/113- Kedua: Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Dahulu Umar -raḍiyallāhu 'anhu- mengikutsertakanku bersama tetua-tetua Badar, sehingga sepertinya sebagian mereka merasa tidak nyaman dengan hal itu. Mereka berkata, "Mengapa anak ini ikut masuk bersama kita sedang kita juga memiliki anak semisalnya?!" Umar menjawab, "Dia seperti yang kalian ketahui." Kemudian suatu hari, Umar memanggilku dan memasukkanku bersama mereka. Aku tidak melihat bahwa dia memanggilku hari itu kecuali untuk memperlihatkan kepantasanku kepada mereka. Umar berkata,"Apa pendapat kalian tentang firman Allah -Ta'ālā-,"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan."(QS. An-Naṣr: 1)Sebagian mereka menjawab, "Kita diperintahkan untuk memuji Allah dan memohon ampunan kepada-Nya bila kita diberi kemenangan dan penaklukan." Adapun sebagian yang lain hanya berdiam dan tidak menjawab apa pun. Lantas dia bertanya kepadaku, "Seperti itukah pendapatmu, wahai Ibnu 'Abbās?" Aku menjawab, "Tidak." "Lalu apa pendapatmu?," Tanyanya lagi. Aku menjawab, "Itu adalah pemberitahuan ajal Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepadanya. Allah berfirman,"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan..."Itu adalah tanda ajalmu."Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat."(QS. An-Naṣr: 3)Umar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku tidak mengetahui tafsirnya kecuali seperti yang engkau katakan." (HR. Bukhari)3/114- Ketiga: Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak pernah melakukan satu salat sejak diturunkan kepadanya,"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan..."kecuali beliau membaca,Subḥānaka rabbanā wa biḥamdika, allāhumma-gfir lī (Mahasuci Engkau, wahai Rabb kami, aku memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah aku)."(Muttafaq 'Alaih)

Pada riwayat lain di dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain, dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terbiasa banyak mengucapkan doa berikut dalam rukuk dan sujudnya: Subḥānaka allāhumma rabbanā wa biḥamdika, allāhumma-gfir lī" (Mahasuci Engkau, Ya Allah Rabb kami, aku memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah aku). Beliau mengimplementasikan perintah Al-Qur`ān."

Makna "Beliau mengimplementasikan perintah Al-Qur`ān" adalah beliau melaksanakan apa yang diperintahkan kepada beliau di dalam firman Allah -Ta'ālā-,"Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan mohonlah ampunan kepada-Nya."Dalam riwayat Muslim: "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebelum meninggal banyak membaca,Subḥānaka allāhumma wa biḥamdika, astagfiruka wa atūbu ilaika (Mahasuci Engkau, Ya Allah, aku memuji-Mu. Aku mohon ampunan dan bertobat kepada-Mu)."Aisyah bercerita, aku bertanya, "Wahai Rasulullah, kalimat apakah ini yang kulihat engkau banyak membacanya?" Beliau menjawab,"Telah dijadikan sebuah tanda bagiku pada umatku, bila telah melihatnya maka aku akan mengucapkan kalimat-kalimat itu. Yaitu,"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan..."Hingga akhir surah.Masih dalam riwayat Muslim: "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- banyak membaca,Subḥānallāhi wa biḥamdihi, astagfirullāh wa atūbu ilaihi (Mahasuci Allah, aku memuji-Nya. Aku mohon ampunan dan bertobat kepada Allah)."Aisyah berkata, aku bertanya, "Ya Rasulullah, aku melihatmu banyak membaca: Subḥānallāhi wa biḥamdihi, astagfirullāh wa atūbu ilaihi."Beliau menjawab,"Rabb-ku telah mengabariku bahwasanya aku akan melihat sebuah tanda pada umatku, bila telah melihatnya maka aku akan memperbanyak bacaan: Subḥānallāhi wa biḥamdihi, astagfirullāh wa atūbu ilaihi. Sungguh aku telah melihatnya:"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan..."Yaitu penaklukan Makkah."Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat."

Kosa Kata Asing:

وَجَدَ فِيْ نَفْسِهِ (wajada fī nafsihi): ada dalam dirinya sesuatu yang membuatnya marah.

Pelajaran dari Hadis:

1) Tingginya kedudukan Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- di antara anak-anak para sahabat.

2) Anjuran menadaburi makna ayat-ayat Al-Qur`ān.

3) Merutinkan istigfar dan tobat selamanya karena merupakan kunci kebaikan dan kunci ilmu.

4) Dianjurkan bagi orang yang salat untuk memperbanyak zikir ini ketika rukuk dan sujud:Subḥānakallāhumma rabbanā wa biḥamdika, allāhumma-gfir lī (Mahasuci Engkau, wahai Rabb kami, dan segala puji bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku).

4/115- Keempat: Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- menurunkan wahyu secara berturut-turut kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebelum wafatnya, hingga beliau tutup usia dengan wahyu yang sangat banyak." (Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

تَابعَ الْوَحْيَ (tāba'a al-waḥya): wahyu banyak diturunkan menjelang beliau wafat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Banyaknya wahyu yang turun di akhir hidup Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah tanda dekatnya ajal beliau.

2) Disempurnakannya nikmat Allah kepada umat ini dengan terpeliharanya wahyu yang dibacakan kepada mereka, yaitu Al-Qur`ān Al-Karīm dan Sunnah yang suci. Sekalipun wahyu berhenti turun setelah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat, tetapi agama Allah tetap terjaga di tengah-tengah manusia:"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Aż-Żikr (Al-Qur`ān), dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya."(QS. Al-Ḥijr: 9)5/116- Kelima: Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal dunia." (HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Yang menjadi ukuran keselamatan ialah amal-amal penutup; sehingga seorang hamba harus terus memperbaiki amalnya agar dibangkitkan dengan amal saleh yang ia lakukan di akhir hidupnya.

2) Anjuran memperbanyak ketaatan di semua waktu karena kematian datang tiba-tiba.

 13- BAB PENJELASAN TENTANG BANYAKNYA JALAN KEBAIKAN

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Kebaikan apa pun yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."(QS. Al-Baqarah: 215)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Kebaikan apa pun yang kamu kerjakan, niscaya Allah mengetahuinya."(QS. Al-Baqarah: 197)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Maka siapa yang mengerjakan kebajikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."(QS. Az-Zalzalah: 7)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Barang siapa yang mengerjakan kebajikan, maka itu untuk dirinya sendiri."(QS. Al-Jāṡiyah: 15)Ayat-ayat dalam bab ini sangat banyak.

Pelajaran dari Ayat:

1) Anjuran untuk memaksimalkan pintu-pintu kebaikan, masing-masing sesuai keadaannya. Pokok jalan kebaikan ada tiga:

upaya badan, upaya harta, dan gabungan antara keduanya.

- Upaya badan yaitu amalan-amalan anggota badan, seperi salat, puasa, dan jihad.

- Upaya harta; misalnya zakat, sedekah, dan nafkah.

- Adapun gabungan antara keduanya, misalnya jihad di jalan Allah, yaitu dilakukan dengan harta dan jiwa.

2) Hikmah Allah di dalam keberagaman jalan-jalan kebaikan adalah agar pahala menjadi besar dan jiwa tidak bosan melakukan suatu ibadah tertentu. Yang dianjurkan kepada hamba adalah melakukan berbagai macam ibadah-ibadah yang disyariatkan, masing-masing sesuai kemampuannya dan sesuai kebaikan yang Allah mudahkan baginya.

Adapun dalil dari hadis, banyak sekali dan tidak terhitung. Tetapi kita akan menyebutkan sebagiannya, yaitu:

1/117- Pertama: Abu Żarr Jundub bin Junādah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku bertanya, "Ya Rasulullah! Amalan apakah yang paling afdal?" Beliau menjawab,"Beriman kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya."Aku bertanya lagi, "Budak yang bagaimanakah yang paling afdal?" Beliau menjawab, "Yang paling bagus menurut pemiliknya dan yang paling mahal." Aku bertanya, "Jika aku tidak mampu melakukannya?" Beliau menjelaskan, "Hendaklah engkau membantu orang yang kurang mampu atau berbuat sesuatu untuk orang yang tidak mampu melakukannya." Aku bertanya, "Ya Rasulullah, terangkan kepadaku bila aku tidak mampu melakukan sebagian pekerjaan itu?" Beliau menjawab,"Hendaklah engkau menahan keburukanmu dari manusia, hal itu adalah sedekahmu untuk dirimu sendiri."(Muttafaq ‘Alaih)(الصَّانعُ) ini lafal yang masyhur. Juga diriwayatkan dengan lafal (ضَائعاً) yang berarti tidak mampu, memiliki banyak tanggungan, dan lain sebagainya.(الأخْرَق): yang tidak mampu melakukan dengan baik apa yang dia berusaha melakukannya.

Kosa Kata Asing:

- الرِّقاب (ar-riqāb): budak, hamba sahaya.

- أنفَسِها (anfasuhā): yang paling dicintai oleh pemiliknya, yang paling disenangi.

Pelajaran dari Hadis:

1) Antusias para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- untuk bertanya tentang amal perbuatan yang paling afdal agar mereka mengerjakannya. Beginilah keadaan hamba-hamba Allah yang diberi taufik. Maka, hamba berkewajiban untuk bersemangat melakukan amalan paling afdal yang akan mendekatkannya kepada Allah -'Azza wa Jalla- agar pahalanya besar.

2) Perbuatan baik untuk manusia termasuk ibadah paling afdal di sisi Allah.

3) Menahan diri dari menyakiti orang lain merupakan bagian dari akhlak muslim, dan semua berkewajiban agar menghias diri dengannya.

4) Seorang hamba wajib bertahap di dalam melakukan ketaatan dan ibadah sesuai dengan kemampuan dan usahanya. Dia harus bersemangat melakukan amalan yang paling bermanfaat dan tidak malas. Sesungguhnya amal yang paling Allah -'Azza wa Jalla- cintai adalah yang paling berkesinambungan sekalipun sedikit.

2/118- Kedua: Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda,"Setiap persendian salah seorang kalian wajib bersedekah setiap hari. Setiap ucapan tasbih adalah sedekah, setiap ucapan tahmid adalah sedekah, setiap ucapan tahlil adalah sedekah, dan setiap ucapan takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan adalah sedekah, serta mencegah kemungkaran adalah sedekah. Tapi, semua itu dapat dicukupi dengan salat dua rakaat yang ia kerjakan di waktu duha."(HR. Muslim)

السُّلامَى (as-sulāmā) -dengan mendamahkan "sīn" dan memfatahkan "mīm": artinya persendian.

Pelajaran dari Hadis:

1) Salat Duha adalah salat sunah yang dianjurkan setiap hari, dan dapat mewakili sedekah yang diwajibkan kepada anggota badan hamba.

2) Besarnya karunia Allah -'Azza wa Jalla- kepada hamba, yaitu Allah buka bagi mereka pintu-pintu kebaikan yang banyak.

Faedah Tambahan:

Waktu salat Duha dimulai ketika matahari naik setinggi satu tombak, yaitu setelah matahari terbit sempurna beberapa menit hingga menjelang pertengahan siang ketika matahari berada tepat di tengah lagit, di mana saat itu, tidak boleh melakukan salat hingga matahari bergeser ke barat beberapa menit.

3/119- Ketiga: Abu Żarr juga berkata, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah bersabda,"Dibentangkan kepadaku amal-amal umatku; yang baik dan buruk. Aku dapati di antara kebaikan amal mereka adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan aku dapati di antara keburukan amal mereka adalah dahak di masjid yang tidak ditimbun (dibersihkan)."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

يماطُ (yumāṭu): dihilangkan.

النخاعة (an-nakhā'ah): dahak.

Pelajaran dari Hadis:

1) Seseorang, ketika melihat sesuatu yang mengganggu, dianjurkan untuk menyingkirkannya dari jalan, karena ini bagian dari cabang iman.

2) Tidak menganggap remeh amalan sekalipun kecil, karena pahalanya besar di sisi Allah.

3) Anjuran untuk merawat dan membersihkan masjid karena pahala besar yang terkandung di dalamnya.

Faedah Tambahan:

Menghilangkan dahak dan sesuatu yang mengganggu dapat dilakukan dengan cara apa saja, seperti mencuci dan mengelap dengan tisu atau pembersih lainnya.

4/120- Keempat: Abu Żarr juga meriwayatkan bahwasanya ada beberapa orang berkata, "Ya Rasulullah! Orang-orang yang kaya harta mendapatkan pahala banyak. Mereka salat seperti kami melaksanakan salat, mereka berpuasa seperti kami berpuasa, namun mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka." Beliau bersabda,"Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa yang bisa kalian sedekahkan? Sungguh, setiap ucapan tasbih adalah sedekah, setiap ucapan takbir adalah sedekah, setiap ucapan tahmid adalah sedekah, setiap ucapan tahlil adalah sedekah, mengajak kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan kalian mendatangi istri kalian adalah sedekah."Mereka bertanya, "Ya Rasulullah! Apakah jika seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya dia bisa mendapatkan pahala?" Beliau menjawab,"Terangkan kepadaku, sekiranya dia menempatkannya pada yang haram, apakah dia mendapatkan dosa? Demikian juga bila dia menempatkannya pada yang halal, dia akan mendapatkan pahala."(HR. Muslim)

الدُّثُورُ (ad-duṡūr), bentuk tunggalnya دَثْرٌ (daṡrun), artinya harta.

Kosa Kata Asing:

فُضُوْلٌ (fuḍūl): kelebihan dari kebutuhan dan kecukupan.

بُضع (buḍ'un): jimak.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan berzikir kepada Allah -Ta'ālā-, yaitu merupakan sedekah yang paling afdal.

2) Mengajak kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar termasuk sedekah yang paling afdal, dan hal itu merupakan pilar kejayaan umat dan sebab kebaikannya:"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar." (QS. Āli 'Imrān: 110)

3) Orang yang mengajak kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar hendaknya meniatkan amalnya untuk memperbaiki manusia, bukan untuk menampakkan kemenangan atas mereka.

4) Bila seseorang mencukupkan dirinya dengan yang halal dan meninggalkan yang haram, dengan itu dia akan diberikan pahala.

5) Kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, yaitu Allah memberi mereka pahala sekalipun dalam memenuhi syahwat mereka yang halal.

5/121- Kelima: Juga dari Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah berkata kepadaku, "Janganlah engkau menganggap remeh kebaikan sekecil apa pun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah ceria." (HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

طَلِيْقٌ (ṭalīq): senyum ceria.

Pelajaran dari Hadis:

1) Bermuka ceria di hadapan seorang mukmin adalah sedekah yang akan mendatangkan pahala bagi hamba.

2) Berusaha menjaga perbuatan baik walaupun dalam pandangan orang dianggap sedikit dan remeh, karena seringkali amal yang sedikit melahirkan kemuliaan dan pahala.

6/122- Keenam: Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Setiap persendian manusia wajib bersedekah (yang dikeluarkan) setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang (yang sedang berselisih) adalah sedekah, menolong seseorang pada kendaraannya, yaitu menaikkannya ke atas kendaraan atau membantunya mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya itu adalah sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah berjalan untuk melaksanakan salat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah."(Muttafaq 'Alaih)Juga diriwayatkan oleh Muslim dari riwayat Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- dia berkata bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya setiap orang dari keturunan Adam diciptakan dengan 360 persendian. Maka siapa yang bertakbir kepada Allah, bertahmid, bertahlil, bertasbih, dan bersitigfar, mengambil satu batu, duri, atau tulang dari jalan orang, atau mengajak kepada satu kebaikan atau mencegah satu kemungkaran sebanyak 360 kali, maka hari itu dia memasuki sore sedang dia telah menjauhkan dirinya dari neraka."

Pelajaran dari Hadis:

1) Seorang mukmin bila berniat melakukan kebaikan lalu mengerjakannya, maka dia akan diberi pahala, walaupun hanya satu langkah yang dia langkahkan kepada sebuah ketaatan.

2) Ibadah dan ketaatan dalam kehidupan orang-orang beriman sangat bervariasi, dan ini termasuk rahmat Allah -Ta'ālā- kepada mereka agar pahala mereka bertambah dan motivasi mereka dalam kebaikan semakin besar.

7/123- Ketujuh: Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang pergi ke masjid pada waktu pagi atau sore hari, niscaya Allah menyediakan satu hidangan untuknya di surga setiap kali ia pergi di pagi atau sore hari."(Muttafaq 'Alaih)

النُّزُلُ (an-nuzul): bekal, rezeki, dan apa saja yang dihidangkan bagi tamu.

Kosa Kata Asing:

غَدَا (gadā): pergi di waktu pagi.

رَاحَ (rāḥa): pergi di waktu sore.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan salat di masjid dan keutamaan memperbanyak pergi ke sana pagi dan sore.

2) Menjelaskan karunia Allah -'Azza wa Jalla- kepada hamba; yaitu Allah menganugerahinya pahala yang melimpah atas amalan yang ringan seperti ini.

8/124- Kedelapan: Juga dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Wahai para wanita muslimah! Janganlah seorang tetangga meremehkan untuk berbuat baik kepada tetangganya, meskipun hanya dengan memberi telapak kaki kambing."(Muttafaq 'Alaih)

Al-Jauhariy berkata, "Istilah (فِرْسِنُ) -yang bermakna tapak kaki- pada unta seperti istilah (حافِرِ) pada kuda. Kadang digunakan pada kambing."

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran saling memberi hadiah di antara umat Islam.

2) Seseorang harus memperhatikan tetangganya serta berbuat baik kepada mereka, karena hal itu termasuk satu di antara jalan kebaikan.

3) Wasiat khusus untuk para wanita dalam rangka menganjurkan mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik; ini merupakan perhatian agama kepada hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita.

9/125- Kesembilan: Masih dari Abu Hurairah raḍiyallāhu 'anhu, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Iman terdiri dari tujuh puluhan atau enam puluhan cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan lā ilāha illallāh, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu juga salah satu cabang dari iman."(Muttafaq ‘Alaih)البِضْعُ (al-biḍ'u): dengan mengkasrahkan atau memfatahkan "bā`", bermakna: jumlah antara 3-9.الشُّعْبَةُ (asy-syu'bah): bagian, cabang.

Kosa Kata Asing:

إِمَاطَةٌ (imāṭah): menghilangkan.

الحياءُ (al-ḥayā`): perangai yang mendorong melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan kalimat tauhid lā ilāha illallāh, yaitu cabang iman yang paling tinggi. Maka, hendaklah hamba berjuang keras untuk mengamalkan kandungannya.

2) Di antara akhlak terpuji adalah bila seorang hamba bersifat pemalu, kecuali dalam kebenaran, tidak boleh malu.

10/126- Kesepuluh: Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda,"Ketika seorang laki-laki berjalan di suatu jalan, dia merasa sangat haus. Dia pun mendapatkan sebuah sumur, lalu dia turun dan minum. Kemudian dia keluar. Tiba-tiba ada seekor anjing yang menjulurkan lidah menjilat tanah karena kehausan. Laki-laki itu berkata, 'Sungguh, anjing ini telah mencapai puncak haus seperti yang aku alami.' Lalu dia turun ke dalam sumur dan mengisi air ke dalam terompahnya kemudian memegangnya dengan mulut hingga naik ke atas dan segera memberi minum anjing itu. Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya." Mereka (para sahabat) bertanya, "Ya Rasulullah! Apakah kita akan mendapatkan pahala pada hewan ternak?" Beliau bersabda, "Menolong setiap hewan bernyawa akan mendatangkan pahala."(Muttafaq ‘Alaih)Dan dalam riwayat Bukhari:"Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya lalu memasukkannya ke dalam surga."Dalam riwayat Bukhari dan Muslim lainnya:“Ketika seekor anjing berkeliling mengitari sumur; anjing itu hampir mati karena kehausan, tiba-tiba ia dilihat oleh seorang wanita pelacur Bani Israil. Maka ia melepas terompahnya kemudian mengambilkan air untuknya seraya memberinya minum. Maka ia pun diampuni karenanya.”الْمُوق (al-mūq): terompah.يُطِيْفُ (yuṭīfu): berkeliling mengitari rakiyyah (رَكِيةِ), yaitu sumur.

Kosa Kata Asing:

يَلْهَثُ (yalhaṡ): menjulurkan lidah karena kehausan.

الثُّرَى (aṡ-ṡurā): tanah yang basah.

رَقِيَ (raqiya): naik.

كَبِدٍ رَطْبَةٍ (kabid raṭbah): semua yang bernyawa.

Pelajaran dari Hadis:

1) Amalan yang sedikit bila diterima oleh Allah -'Azza wa Jalla- maka akan menjadi sebab masuk surga.

2) Amalan yang kecil bila disertai dengan niat yang benar akan menjadi besar nilainya. Sebaliknya, amalan yang besar bila tidak disertai niat akan menjadi kecil nilainya. Sebab, inti amalan perbuatan ada pada niat yang ada dalam hati.

3) Tujuan dari kisah-kisah yang dibawakan oleh Nabi adalah agar kita mengambil pelajaran dan nasihat.

Faedah Tambahan:

Sebagian tabiin berkata, "Siapa yang banyak dosanya hendaklah dia bersedekah air minum. Bila dosa orang yang memberi minum anjing diampuni, maka bagaimana dengan orang yang memberi minum seorang mukmin yang bertauhid dan dia telah membantunya bertahan hidup dengan itu."

11/127- Kesebelas: Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sungguh aku telah melihat seseorang yang bersenang-senang di dalam surga disebabkan ia menebang pohon yang berada di tengah jalan karena mengganggu kaum muslimin yang lewat."(HR. Muslim)Dalam riwayat lain:"Seorang laki-laki berjalan melewati dahan yang melintang ke tengah jalan, lalu ia berkata, 'Demi Allah, aku akan menyingkirkan dahan ini dari jalan agar tidak mengganggu kaum muslimin yang lewat.' Maka ia pun dimasukkan ke surga."

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang lain: "Ketika seorang laki-laki berjalan di sebuah jalan, dia menemukan ranting duri di tengah jalan, lalu dia meminggirkannya. Maka Allah pun menerima amalnya dan mengampuninya."

Kosa Kata Asing:

يَتَقلَّبُ (yataqallabu): bersenang-senang.

لأُنحِّيَنَّ (la-unaḥḥiyanna): aku pasti menyingkirkan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan menyingkirkan gangguan dari jalan, yaitu sebab masuk surga.

2) Siapa yang menghilangkan gangguan dari umat Islam dalam perkara nyata yang dapat menyakiti badan mereka maka dia mendapatkan pahala besar ini, maka bagaimana dengan orang yang menghilangkan gangguan yang bersifat maknawi yang dapat membahayakan agama mereka, semisal akhlak buruk, ideologi sesat, akidah rusak, dan bidah menyesatkan?!

12/128- Kedua belas: Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang berwudu lalu menyempurnakan wudunya dan mendatangi (salat) Jumat, lantas menyimak (khotbah) dengan seksama dan diam, maka akan diampuni (dosanya) antara Jumat (itu) dengan Jumat (sebelumnya) dan ditambah 3 hari. Siapa yang memegang (memainkan) kerikil, maka ia telah berbuat sia-sia."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

لَغَا (lagā) ditafsirkan dengan makna salat Jumat itu menjadi bernilai salat zuhur, sebagaimana dalam riwayat Abu Daud dan lainnya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Datang menghadiri salat Jumat disertai wudu yang sempurna dan mendengar khotbah dengan seksama akan menjadi penghapus dosa hingga Jumat berikutnya ditambah 3 hari.

2) Keutamaan mendengar khotbah dengan seksama untuk mengambil pahala secara sempurna.

Faedah Tambahan:

Memainkan kerikil dan berbuat sia-sia dengannya saat khotbah, hari ini mirip dengan memainkan HP, jam, dan semisalnya. Orang yang beriman hendaknya meninggalkan perbuatan sia-sia ketika khotbah, agar kehadiran dan duduknya bernilai ibadah hingga dia selesai menunaikan salat.

13/129- Ketiga belas: Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- juga meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Apabila seorang muslim atau mukmin berwudu, lalu membasuh wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya setiap dosa akibat pandangan kedua matanya bersamaan dengan air itu, atau bersama dengan tetesan air terakhir. Lalu jika dia membasuh kedua tangannya, akan keluarlah setiap dosa akibat perbuatan yang dilakukan kedua tangannya bersamaan dengan air itu, atau bersama dengan tetesan air yang terakhir. Lalu jika ia membasuh kedua kaki, akan keluarlah setiap dosa akibat langkah kedua kakinya bersamaan dengan air itu, atau bersama tetesan air terakhir. Sehingga ia keluar (dari wudu) dalam keadaan bersih dari dosa.”(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Wudu termasuk penghapus dosa.

2) Bersuci dalam wudu berlaku secara fisik dan maknawi; secara fisik dengan membersihkan anggota-anggota wudu, dan secara maknawi dengan membersihkan dosa yang dilakukan anggota tersebut.

3) Besarnya rahmat Allah -Ta'ālā- kepada umat ini; yaitu Allah mensyariatkan bagi mereka penghapus dosa dan pembawa rahmat.

14/130- Keempat belas: Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Salat lima waktu, (salat) Jumat ke Jumat berikutnya, (puasa) Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya jika dosa besar dijauhi."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

- مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ (mukaffirāt limā bainahunna): penghapus dosa dan kesalahan yang ada di antaranya.

- الكَبَائِرُ (al-kabā`ir), bentuk jamak dari kata كَبِيْرَة (kabīrah), artinya dosa besar; yaitu semua dosa yang memiliki sanksi dalam syariat berupa penafian iman, laknat kepada pelakunya, hukuman had di dunia, atau ancaman azab di akhirat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Penghapus dosa yang paling besar ialah salat lima waktu, menghadiri salat Jumat, dan puasa Ramadan.

2) Dosa besar harus dihapus lewat tobat yang khusus, disebabkan besarnya risikonya terhadap keimanan.

15/131- Kelima belas: Juga dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?"Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah!" Beliau bersabda,"Menyempurnakan wudu sampai ke bagian-bagian yang tidak disukai, banyak berjalan ke masjid, dan menunggu salat berikutnya setelah salat, yang demikian itu ibarat berjaga dalam jihad melawan musuh."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

إسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَىٰ الْمَكَارِهِ: menyempurnakan wudu dengan memberi setiap anggota wudu apa yang menjadi haknya ketika ada kesulitan dan kesusahan yang tidak disengajakan.

الرِّبَاط (ar-ribāṭ): berjaga dalam rangka berjihad fi sabilillah.

Pelajaran dari Hadis:

1) Di antara penghapus dosa dan yang mengangkat derajat ialah berwudu, banyak berjalan menuju masjid, dan menghadiri salat di masjid.

2) Merutinkan ketaatan bagian dari bentuk jihad fi sibalillah, bahkan lebih didahulukan daripada jihad dengan senjata melawan musuh-musuh Allah -Ta'ālā-, karena selama hamba tidak berjihad melawan dirinya serta memperbaikinya kepada Allah -Ta'ālā- tidak akan mungkin ia bisa berjihad melawan musuh-musuh Allah.

16/132- Keenam belas: Abu Musa Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang melaksanakan salat Subuh dan Asar niscaya masuk surga."(Muttafaq ‘Alaih)

الْبَرْدَانِ (al-bardān): Subuh dan Asar.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan salat subuh dan asar; yaitu keduanya adalah salat yang paling afdal.

2) Menjaga dua salat ini serta menegakkannya termasuk sebab masuk surga.

17/133- Ketujuh belas: Juga dari Abu Musa Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Apabila seorang hamba sakit atau melakukan perjalanan, maka (amal ibadah yang ia tinggalkan) akan dicatat baginya seperti amalan yang biasa ia lakukan ketika dalam keadaan mukim dan sehat."(HR. Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban orang beriman adalah bersemangat melakukan amal saleh ketika dalam kondisi sehat dan luang.

2) Melakukan ketaatan ketika sehat dan lapang akan menambal bagi hamba kekurangan ketika sibuk, sehingga seorang yang beriman hendaknya bersemangat untuk memperbanyak amalan-amalan saleh setiap kali hembusan iman bertiup.

18/134- Kedelapan belas: Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Setiap kebaikan itu adalah sedekah."(HR. Bukhari) Juga diriwayatkan oleh Muslim dari jalur Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu-.

Kosa Kata Asing:

المَعْرُوْف (al-ma'rūf): hal yang dikenal baik secara agama dan menurut manusia.

Pelajaran dari Hadis:

1) Antusias mengerjakan kebaikan karena merupakan ibadah yang akan mendekatkan kepada Allah -Ta'ālā-, sekaligus penghapus dosa dan kesalahan.

2) Kebaikan yang disukai memiliki pintu yang banyak, berupa ucapan dan perbuatan. Bahkan, akhlak baik juga bagian dari kebaikan. Sungguh hebat para dai yang berdakwah dalam diam!Yaitu orang-orang yang mengajak manusia dengan perbuatan dan akhlak baik mereka.19/135- Kesembilan belas: Juga dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu menjadi sedekah baginya. Juga apa yang dicuri dari tanaman tersebut menjadi sedekah baginya. Dan tidaklah kepunyaan seseorang dikurangi (diambil) orang lain melainkan menjadi sedekah baginya."(HR. Muslim)Dalam riwayat Muslim yang lain:"Tidaklah seorang muslim menanam pohon lalu dimakan oleh orang, hewan, ataupun burung kecuali menjadi sedekah baginya hingga hari Kiamat."Dan dalam riwayat Muslim yang lain lagi:"Tidaklah seorang muslim menanam pohon ataupun bertani tanaman, lalu dimakan oleh orang, hewan, dan apa saja, kecuali menjadi sedekah baginya."(Hadis ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari jalur Anas -raḍiyallāhu 'anhu-)

Sabda beliau, (يَرْزَؤُهُ) maksudnya menguranginya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran menanam pohon dan bertani karena memiliki maslahat agama dan dunia.

2) Menjelaskan banyak dan bervariasinya jalan kebaikan.

3) Bila suatu harta atau jasa dimanfaatkan oleh orang maka hal itu menjadi kebaikan bagi pemiliknya walaupun dia tidak meniatkannya, dan bila diniatkan maka kebaikannya akan bertambah:"Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar."(QS. An-Nisā`: 114)20/136- Kedua puluh: Masih dari Jābir, dia mengisahkan, Orang-orang Bani Salimah hendak pindah ke dekat Masjid Nabawi, lalu berita itu sampai kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka beliau berkata kepada mereka,"Sesungguhnya telah sampai kepadaku berita bahwa kalian hendak berpindah tempat tinggal dekat dari Masjid." Mereka menjawab, "Benar, ya Rasulullah. Kami menginginkan demikian." Beliau bersabda,"Wahai Bani Salimah! Tetaplah di tempat tinggal kalian sekarang, karena langkah-langkah kalian (ke masjid) dicatat. Tetaplah di tempat tinggal kalian sekarang, karena langkah-langkah kalian (ke masjid) dicatat."(HR. Muslim)Dalam riwayat lain:"Sesungguhnya dengan setiap satu langkah, kamu akan memperoleh satu derajat."(HR. Muslim)Juga diriwayatkan oleh Bukhari yang semakna dengannya dari jalur Anas -raḍiyallāhu 'anhu-.بَنُو سَلِمَهَ (Banū Salimah), dengan mengkasrahkan "lām": kabilah terkenal dari kalangan Ansar -raḍiyallāhu 'anhum-.آثَارُهُمْ (āṡāruhum): langkah-langkah mereka.

Kosa Kata Asing:

ديارَكم تُكتب آثارُكم: Tetaplah di tempat tinggal kalian sekarang, walaupun jauh dari masjid, sebab langkah-langkah kalian dicatat, setiap satu langkah dibalas satu kebaikan atau satu derajat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Banyak langkah menuju masjid termasuk penghapus dosa dan mengangkat derajat.

2) Klarifikasi berita sebelum membuat keputusan, yaitu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya kepada mereka sebelum memutuskan.

21/137- Kedua puluh satu: Abul-Munżir Ubay bin Ka'ab -raḍiyallāhu 'anhu- bercerita, "Ada seorang laki-laki, sepanjang pengetahuanku tidak ada yang lebih jauh tempatnya dari masjid dari dia. Namun, dia tidak pernah tertinggal salat berjemaah di masjid. Ada yang berkata kepadanya, atau aku berkata kepadanya, 'Seandainya kamu membeli keledai untuk kamu naiki ketika gelap dan ketika panas.' Dia menjawab, 'Aku tidak mau rumahku dekat dengan masjid. Sesungguhnya aku menginginkan agar perjalananku menuju masjid dan perjalananku pulang ke keluargaku (rumahku), itu selalu dicatat.' Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Allah telah mengumpulkan semua catatan itu bagimu."(HR. Muslim)Dalam riwayat lain, "Sesungguhnya engkau mendapatkan pahala yang engkau inginkan."

الرَّمْضَاءُ (ar-ramḍā`): tanah yang disulut panas yang keras.

Kosa Kata Asing:

لا تُخْطِئُهُ (lā tukhṭi`uhu): dia tidak pernah tertinggal.

Pelajaran dari Hadis:

1) Niat memiliki pengaruh besar di dalam kesahihan amal dan pahalanya. Semakin ikhlas seseorang kepada Allah dan lebih kuat mengikuti Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- maka akan semakin besar pahala dan balasannya di sisi Allah -'Azza wa Jalla-.

2) Siapa yang mengerjakan satu kebaikan, walau satu langkah kaki ke masjid, Allah akan mengumpulkan pahalanya untuknya dan tidak akan hilang sedikit pun.

22/138- Kedua puluh dua: Abu Muhammad Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhuma- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ada empat puluh macam perangai (perbuatan) Yang paling atas adalah mendermakan seekor kambing (untuk diperah susunya). Tidaklah seseorang mengerjakan salah satu dari perangai-perangai tersebut karena mengharap pahalanya dan meyakini balasannya yang dijanjikan, melainkan Allah akan memasukkannya dengan amalannya itu ke dalam surga."(HR. Bukhari)

الْمَنِيحَة (al-manīḥah): menyerahkan kambing betina kepada orang lain untuk diperah susunya lalu dikembalikan lagi kepadanya.

Kosa Kata Asing:

خَصْلَة (khaṣlah): macam/perbuatan

مَوْعُوْدُهَا (maw'ūduhā): janji balasan yang disebutkan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Beragam dan banyaknya jenis kebaikan serta kunci-kunci kebajikan; sesungguhnya orang yang mendapat taufik adalah orang yang Allah berikan taufik, dan orang yang dihalangi sesungguhnya adalah yang dihalangi dari taufik.

2) Inti amal perbuatan kembali kepada keyakinan dan keikhlasan kepada Allah -Ta'ālā- agar orang yang berbuat mendapat pahalanya.

3) Amal saleh sebab untuk masuk surga setelah rahmat Allah -Ta'ālā-.

23/133- Kedua puluh tiga: 'Adiy bin Ḥātim -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan: Aku mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Berlindunglah kalian dari api neraka meskipun hanya dengan (bersedekah) separuh kurma."(Muttafaq ‘Alaih)Dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang lain, juga dari 'Adiy bin Ḥātim -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidaklah ada salah seorang dari kalian kecuali Rabb-nya akan bicara kepadanya, tanpa ada seorang penerjemah. Lalu dia melihat ke sebelah kanannya, tidak ada yang dia lihat kecuali amal yang telah dia kerjakan. Dia melihat ke sisi kirinya, tidak ada yang dia lihat kecuali amal yang telah dia kerjakan. Dia melihat ke depannya, tidak ada yang dia lihat kecuali neraka di hadapannya. Maka berlindunglah dari neraka walau dengan bersedekah setengah kurma. Siapa yang tidak menemukan apa-apa, maka bersedekahlah dengan kata-kata yang baik."

Kosa Kata Asing:

تُرْجُمَان (turjumān): penerjemah, yaitu orang yang melakukan alih bahasa dari satu bahasa ke bahasa yang lain.

أَشْأَم (asy`am): sisi kiri, kebalikan kata اليَمِيْنُ (al-yamīn): sisi kanan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Seorang hamba akan berdiri di hadapan Allah -Ta'ālā-, dia dikelilingi oleh amalnya, sedangkan neraka dipaparkan di hadapannya. Maka, apa yang telah Anda lakukan?!

2) Menetapkan sifat berbicara bagi Allah -'Azza wa Jalla-; bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- akan berbicara pada hari Kiamat dengan ucapan yang didengar dan dipahami, tidak membutuhkan penerjemah. Seperti inilah yang dikabarkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

3) Sedekah, walaupun sedikit, akan menyelamatkan dari neraka.

4) Membaca Al-Qur`ān, berzikir, belajar dan mengajarkan ilmu; semuanya termasuk kata-kata baik yang paling agung.

24/140- Kedua puluh empat: Anas -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya Allah rida kepada seorang hamba ketika dia menyantap makanan lalu dia memuji Allah atas makanan itu, atau minum lalu dia memuji Allah atas minuman itu."(HR. Muslim)

(الأكْلَة) dengan memfatahkan hamzah, yaitu satu kali makan pagi atau sore.

Pelajaran dari Hadis:

1) Rida Allah -'Azza wa Jalla- kadang didapat dengan sebab yang sangat sederhana.

2) Makan dan minum memiliki adab-adab yang berupa perbuatan seperti makan dengan tangan kanan. Juga adab-adab yang berupa bacaan seperti membaca "bismillah" di awal makan dan bacaan "alhamdulillah" di akhirnya.

Peringatan:

Sabda Nabi: "ketika dia menyantap makanan", bukan berarti setiap kali Anda menyantap satu suap segera membaca "alhamdulillah". Tetapi maksudnya ketika Anda selesai makan agar memuji Allah -'Azza wa Jalla-.Itulah petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan adab makan beliau.25/141- Kedua puluh lima: Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Setiap muslim itu wajib bersedekah."Dia bertanya, “Bagaimana jika dia tidak punya apa-apa?” Beliau menjawab, “Hendaklah dia bekerja dengan tangannya, lalu manfaatnya untuk dirinya dan untuk disedekahkan.” Dia bertanya, “Bagaimana jika dia tidak mampu?” Beliau menjawab, “Hendaklah dia membantu orang yang butuh dibantu.” Dia bertanya, “Bagaimana jika dia juga tidak mampu?” Beliau menjawab, “Hendaklah dia mengajak kepada kebaikan.” Dia bertanya, “Bagaimana jika dia tidak bisa melakukannya?” Beliau menjawab,“Hendaklah dia menahan diri dari berbuat jahat, sesungguhnya itu adalah sedekah.”(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

المَلْهُوْفُ (al-malhūf): orang yang mengalami kesulitan dan butuh dibantu.

Pelajaran dari Hadis:

1) Semua manfaat untuk diri sendiri ataupun orang lain termasuk kebaikan yang dianjurkan.

2) Menahan diri dari berbuat jahat adalah sedekah, dan ini termasuk beragamnya kunci kebaikan.

3) Semakin besar sebuah manfaat sehingga umum untuk semua orang, tidak terbatas secara personal, maka pahalanya lebih besar dan efeknya lebih bagus.

 14- BAB SEDERHANA DALAM KETAATAN

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Ṭā hā. Kami tidak menurunkan Al-Qur`ān ini kepadamu (Muhammad), agar engkau menjadi susah."(QS. Ṭāhā: 1-2)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu."(QS. Al-Baqarah: 185)

Pelajaran dari Ayat:

1) Agama Islam dibangun di atas dasar memberi kemudahan dan menghilangkan kesulitan dari hamba.

2) Anjuran bersikap sederhana, yaitu pertengahan antara sikap guluw (berlebihan) dan sikap tafrīṭ (meremehkan).

1/142- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk menemuinya, sementara ada seorang perempuan bersamanya. Beliau bertanya, "Siapakah ini?" Aisyah menjawab, "Ini si polan. Dia menceritakan banyak salatnya." Beliau bersabda,"Tinggalkanlah. Lakukanlah ibadah yang kalian mampu. Demi Allah, Allah tidak akan bosan meskipun kalian sendiri bosan."Dan dahulu, ibadah yang paling beliau sukai adalah yang dikerjakan secara rutin dan kontinu.(Muttafaq 'Alaih)مَهْ (mah) adalah kata larangan."Allah tidak bosan" maksudnya Allah tidak akan menghentikan pahala-Nya dan balasan perbuatan kalian, yaitu Dia tidak memperlakukan kalian seperti sikap orang yang bosan, hingga kalian sendiri yang bosan dan meninggalkannya. Seharusnya kalian melakukan apa yang kalian mampu rutinkan, agar pahala dan keutamaannya tetap mengalir kepada kalian.

Pelajaran dari Hadis:

1) Petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- agar mengerjakan amal saleh secara kontinu sekalipun sedikit.

2) Wasiat kepada hamba-hamba Allah agar bersikap pertengahan dan tidak memaksakan diri, yaitu dengan melakukan ibadah secara sederhana, agar bisa berkelanjutan, karena amal ibadah yang paling Allah cintai adalah yang berkelanjutan walaupun sedikit.

2/143- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- mengisahkan, "Tiga orang laki-laki datang ke rumah istri-istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menanyakan tentang ibadah beliau. Ketika mereka telah dikabari, sepertinya mereka menganggap (ibadah mereka) sedikit. Mereka berkata, "Siapa kita ini dibanding Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-? Beliau telah diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang." Salah satu mereka berkata, "Adapun aku, aku akan salat malam selamanya." Yang kedua berkata, "Aku akan berpuasa setiap hari, tidak akan berbuka." Yang ketiga berkata, "Aku akan menjauhi perempuan, tidak akan menikah selamanya." Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendatangi mereka seraya bersabda,"Kaliankah yang telah mengatakan begini dan begini? Ketahuilah! Demi Allah, sungguh aku orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian. Tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku salat malam dan tidur, dan aku menikahi perempuan. Siapa yang tidak suka dengan Sunnahku maka dia bukan dari golonganku."(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

رَهْطٍ (rahṭ): sekelompok laki-laki di bawah sepuluh orang, tidak ada perempuan di dalamnya.

تَقَالّوهَا (taqāllūhā): mereka memandangnya sedikit.

أَرْقُدُ (arqudu): aku tidur.

Pelajaran dari Hadis:

1) Sederhana dalam beribadah termasuk Sunnah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Wasiat Nabi untuk memperhatikan semua hak; yakni hamba itu sendiri memiliki hak yang harus ditunaikan, keluarganya memiliki hak yang harus dia tunaikan, dan istrinya juga memiliki hak yang wajib dia tunaikan. Orang yang diberi taufik adalah yang memberi hak kepada semua orang yang memiliki hak.

3) Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.Orang yang berbahagia adalah yang dibimbing untuk mengikuti Sunnah beliau, sehingga dia hidup dan mati di atas petunjuk Nabi. Sebaliknya, orang yang sengsara adalah yang dihalangi dari Sunnah beliau lantaran kejahilannya atau karena hawa nafsu dalam dirinya, sehingga dia hidup sementara urusannya terbengkalai.

Faedah Tambahan:

An-Nawawiy -raḥimahullāh- berkata, "Dekat dan takut kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- harus sesuai dengan yang diperintahkan, bukan dengan khayalan dan memaksakan diri melakukan amalan-amalan yang tidak pernah diperintahkan."

(Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim)

3/144- Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan." Beliau mengucapkannya tiga kali.(HR. Muslim)

الْمُتَنَطِّعُونَ (al-mutanaṭṭi'ūn) artinya orang-orang yang berlebihan dan memaksakan diri bukan pada tempatnya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Larangan mempersulit diri dalam masalah agama, karena akan mengakibatkan kerusakan dan kerugian di dunia dan akhirat.

2) Wasiat agar tidak mencari perkara-perkara rumit yang tidak memiliki faedah, sebaliknya hanya mencari yang bermanfaat bagi hamba di dunia dan akhirat.

4/145- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,"Sesungguhnya agama ini mudah. Tidaklah seseorang berlebih-lebihan dalam urusan agama melainkan dia akan kalah. Maka, hendaklah kalian melakukan yang seharusnya atau berusahalah mendekati, dan bergembiralah. Manfaatkanlah waktu pagi, sore, dan sebagian malam hari (untuk melakukan ketaatan).(HR. Bukhari)

Dalam riwayat Bukhari yang lain: "Berusahalah melakukan yang seharusnya atau yang mendekati, dan manfaatkanlah waktu pagi, sore, dan sebagian malam. Bersikaplah sederhana (dalam ibadah), niscaya kalian akan sampai."

Kata (الدِّينُ) diriwayatkan secara marfū' sebagai nā`ibul-fā'il. Juga diriwayatkan manṣūb (لَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ).

Sabda beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Melainkan dia akan kalah", maksudnya orang yang berlebihan tersebut akan kalah dan melemah dalam urusan agama karena saking banyaknya.الْغَدْوَةُ (al-gadwah): berjalan di waktu pagi.الرَّوْحَةُ (ar-rauḥah): berjalan di waktu sore.الدُّلْجَةُ (ad-duljah): akhir malam. Ini adalah bentuk kiasan dan perumpamaan. Maksudnya: carilah bantuan untuk melakukan ketaatan kepada Allah -'Azza wa Jalla- dengan mengerjakan amal saleh di waktu-waktu kalian bersemangat dan hati tidak sibuk, maka kalian akan menikmati ibadah dan tidak bosan, serta kalian akan sampai pada tujuan ibadah tersebut.Sebagaimana seorang musafir yang cerdas dia akan melakukan perjalanan di waktu-waktu ini lalu beristirahat bersama kendaraannya di waktu yang lain, sehingga dia akan sampai tujuan tanpa lelah. Wallāhu a'lam.

Pelajaran dari Hadis:

1) Cara beragama yang benar adalah hamba mengerjakan ibadah secara sempurna dan menurut yang seharusnya, bila tidak memungkinkan maka dia berupaya mendekati yang seharusnya.

2) Anjuran agama untuk beramal disertai sikap optimis dengan pahala yang berlimpah dari Allah -'Azza wa Jalla-.

3) Seorang hamba wajib memasukkan kebahagiaan ke dalam hati saudara-saudaranya dengan memberi kabar gembira serta muka ceria sebisa mungkin.

4) Sederhana dalam ketaatan disertai kesinambungan adalah jalan yang akan mengantarkan kepada kesuksesan di dunia dan akhirat.

5) Memanfaatkan kecenderungan hati dan ketidaksibukannya di dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah -'Azza wa Jalla-.

5/146- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah masuk masjid dan beliau melihat sebuah tali terbentang antara dua tiang. Beliau bertanya, "Tali apakah ini?" Para sahabat menjawab, "Ini milik Zainab. Bila dia telah kelelahan (karena salat), maka dia berpegangan pada tali itu." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Lepaskan tali itu. Hendaklah salah seorang kalian mengerjakan salat selama dia segar. Bila telah kelelahan, hendaklah dia tidur."(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

فَتَرَتْ (fatarat): dia (perempuan) merasa lelah.

Pelajaran dari Hadis:

1) Orang yang beriman hendaknya tidak memaksakan diri dengan ibadah yang dia tidak mampui.

2) Anjuran agar bersikap sederhana (pertengahan) dalam beribadah, yaitu mengerjakan ibadah selama dia bersemangat, karena amal yang paling Allah -Ta'ālā- cintai adalah yang dilakukan secara berkesinambungan.

6/147- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Jika salah seorang kalian telah mengantuk ketika salat, hendaklah dia tidur hingga kantuk itu hilang. Karena jika salah seorang di antara kalian salat dalam keadaan mengantuk, dia tidak sadar, mungkin dia hendak meminta ampunan, namun ternyata dia justru mencela dirinya sendiri."(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

ناعس (nā'is): orang yang mengantuk.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran bersikap pertengahan di dalam beribadah. Adapun bila seorang hamba memaksakan diri untuk beribadah disertai dengan kesulitan, sungguh dia telah menzalimi dirinya.

2) Anjuran beribadah disertai semangat dan tadabur, serta memberikan kepada badan hak beristirahat.

7/148- Abu Abdillah Jābir bin Samurah -raḍiyallāhu 'anhuma- berkata,"Aku pernah mengikuti sekian salat Jumat bersama Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Salat beliau pertengahan, juga khotbah beliau pertengahan."(HR. Muslim)

Perkataan Jābir: "pertengahan", yaitu antara panjang dan pendek.

Pelajaran dari Hadis:

1) Sederhana dan pertengahan dalam beribadah merupakan petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Anjuran pertengahan dalam memberi nasihat serta tidak membuat bosan, karena khotbah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pertengahan antara panjang dan pendek.

8/149- Abu Juḥaifah Wahb bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah mempersaudarakan antara Salmān dan Abu Ad-Dardā`. Salmān datang mengunjungi Abu Ad-Dardā`, dan dia melihat Ummu Ad-Dardā` berpakaian kerja. Salman bertanya, “Ada apa denganmu?” Ummu Ad-Dardā` menjawab, “Saudaramu, Abu Ad-Dardā` tidak memiliki minat kepada dunia.” Kemudian Abu Ad-Dardā` datang dan membuatkan makanan untuknya. Da berkata kepada Salman, “Makanlah. Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Salmān berkata, “Aku tidak akan makan hingga engkau juga makan.” Maka Abu Ad-Dardā` pun makan. Ketika malam tiba, dia hendak bangun (mengerjakan salat) Maka Salmān berkata, “Tidurlah!” Dia pun tidur. Setelahnya dia kembali hendak bangun (mengerjakan salat), namun Salmān tetap berkata, “Tidurlah!” Ketika tiba akhir malam, Salmān berkata, “Sekarang, bangunlah (untuk salat).” Keduanya pun mengerjakan salat bersama. Salmān berkata, “Sesungguhnya Rabb-mu memiliki hak yang wajib engkau tunaikan, dirimu juga memiliki hak yang wajib engkau tunaikan, dan keluargamu pun memiliki hak yang wajib engkau tunaikan. Tunaikan kepada setiap pemilik hak apa yang menjadi haknya.” Lalu Abu Ad-Dardā` datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan menyebutkan hal itu kepada beliau. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata, “Salmān benar.”(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

مُتَبذِّلةً (mutabażżilah): memakai pakaian kerja, tidak menggunakan pakaian berhias.

Pelajaran dari Hadis:

1) Dimakruhkan memaksa diri berpuasa dan salat malam lebih dari kemampuan.

2) Seorang muslim hendaknya mengunjungi saudaranya seagama, menanyakan keadaannya, serta mencari tahu kondisi diri dan keluarganya.

3) Kewajiban menunaikan hak kepada pemiliknya, karena orang yang diberi taufik adalah yang menunaikan hak kepada setiap pemiliknya.

9/150- Abu Muhammad Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata bahwa telah dikabarkan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa aku mengatakan, "Demi Allah, aku akan berpuasa di siang hari dan akan melakukan salat malam sepanjang malam selama hidupku." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya, "Benarkah engkau yang mengatakan demikian?" Aku menjawab, "Benar aku telah mengatakannya, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, ya Rasulullah." Beliau bersabda, "Sungguh, engkau tidak akan mampu yang demikian. Tetapi, berpuasalah dan berbuka. Juga tidurlah dan lakukan salat malam. Berpuasalah tiga hari di setiap bulan. Karena kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Dan itu setara puasa sepanjang tahun." Aku menjawab, "Sungguh, aku mampu yang lebih dari itu." Beliau berkata, "Berpuasalah satu hari dan berbuka dua hari." Aku menjawab, "Sungguh, aku mampu yang lebih dari itu." Beliau berkata, "Maka berpuasalah satu hari dan berbuka satu hari. Yang demikian itu adalah puasa Nabi Daud -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan itu adalah puasa paling pertengahan." (Dalam riwayat lain, "... puasa paling afdal"). Aku berkata, "Sungguh, aku masih mampu yang lebih dari itu." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak ada yang lebih afdal dari itu." Seandainya aku dulu menerima tiga hari yang diterangkan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, itu lebih aku sukai daripada keluarga dan hartaku.Dalam riwayat lain, "Benarkah, aku dikabari bahwa engkau berpuasa setiap hari dan salat malam sepanjang malam?" Aku menjawab, "Benar, Ya Rasulullah." Beliau berkata, "Jangan lakukan seperti itu. Tetapi, berpuasalah dan berbuka. Tidurlah dan lakukan salat malam. Karena badanmu memiliki hak yang wajib engkau tunaikan, kedua matamu memiliki hak yang wajib engkau tunaikan, istrimu memiliki hak yang wajib engkau tunaikan, juga tamumu memiliki hak yang wajib engkau tunaikan. Cukup bagimu berpuasa setiap bulan tiga hari, karena dengan setiap satu kebaikan, engkau akan mendapatkan sepuluh kali lipatnya. Sehingga yang demikian itu semisal dengan puasa sepanjang tahun." Tetapi aku berlebihan sehingga aku kesulitan. Aku berkata, "Ya Rasulullah, aku masih mampu." Beliau berkata, "Berpuasalah dengan puasa Nabi Daud, dan jangan lebih dari itu." Aku bertanya, "Seperti apa puasa Daud?" Beliau menjawab, "Puasa setengah tahun." Duhai, sekiranya aku dahulu menerima keringanan yang diberikan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.Dalam riwayat lain:"Benarkah, aku dikabari bahwa engkau berpuasa sepanjang tahun serta mengkhatamkan Al-Qur`ān setiap malam?" Aku menjawab, "Benar, ya Rasulullah. Aku tidak melakukannya kecuali karena menginginkan kebaikan." Beliau berkata, "Berpuasalah seperti puasa Nabi Daud, sebab ia adalah orang yang paling banyak ibadahnya. Dan khatamkan Al-Qur`ān sekali setiap bulan." Aku menjawab, "Ya Nabi Allah, sungguh aku mampu yang lebih dari itu?" Beliau berkata, "Kalau begitu, khatamkanlah Al-Qur`ān setiap dua puluh hari." Aku menjawab, "Ya Nabi Allah, sungguh aku masih mampu yang lebih dari itu?" Beliau berkata, "Kalau begitu, khatamkanlah Al-Qur`ān setiap sepuluh hari." Aku menjawab, "Ya Nabi Allah, sungguh aku masih mampu yang lebih dari itu?" Beliau berkata, "Kalau begitu, khatamkanlah Al-Qur`ān setiap tujuh hari, dan jangan lebihkan dari itu." Tetapi aku berlebihan sehingga aku kesulitan. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata kepadaku, "Karena engkau tidak tahu, mungkin engkau diberi umur panjang." Benar, aku mendapatkan apa yang disebutkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ketika telah tua, aku berharap sekiranya dahulu aku menerima keringanan dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.Dalam riwayat lain:"Anakmu juga memiliki hak yang wajib engkau tunaikan." Dalam riwayat lain, "Tidak benar puasa orang yang berpuasa selamanya." Beliau menyebutkannya tiga kali.Dalam riwayat lain:"Puasa yang paling Allah cintai adalah puasa Daud, dan salat yang paling Allah cintai adalah salat Nabi Daud‎. Beliau biasa tidur separuh malam, lalu salat di sepertiganya, dan tidur lagi di seperenamnya. Beliau biasa berpuasa ‎sehari dan berbuka di hari berikutnya. Dan beliau tidak lari bila telah bertemu musuh."Dalam riwayat lain, Abdullah bercerita,Aku dinikahkan oleh ayahku dengan seorang perempuan keturunan terhormat. Ayahku terbiasa menjenguk menantunya (istri anaknya) dan menanyakan tentang suaminya. Dia menjelaskan, "Suamiku sebaik-baik lelaki. Tetapi dia tidak pernah menginjak tempat tidur kami, tidak juga membuka selimut kami sejak kami datang kepadanya." Ketika hal itu berlangsung lama, ayahku menyampaikannya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau berkata, "Temui aku bersamanya." Lantas aku bertemu beliau setelahnya. Beliau bertanya, "Bagaimana engkau berpuasa?" Aku menjawab, "Setiap hari." Beliau bertanya lagi, "Bagaimana engkau mengkhatamkan Al-Qur`ān?" Aku menjawab, "Setiap malam." Abdullah kemudian menyebutkan seperti sebelumnya. Dia membaca sepertujuh Al-Qur`ān yang biasa dia baca kepada keluarganya di siang hari agar lebih ringan baginya di malam hari. Bila dia hendak mencari tenaga, dia berbuka sekian hari dan menghitungnya, lalu berpuasa sebanyak itu. Dia tidak ingin meninggalkan sesuatu yang telah dia sepakati bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Semua riwayat ini sahih. Sebagian besarnya ada dalam Aṣ-Ṣāḥīḥain, dan sebagian kecil ada di salah satunya.

Kosa Kata Asing:

بِأَبي أَنْتَ وَأُمِّي (bi abī anta wa ummī): engkau berhak ditebus dengan ayah dan ibuku.

لِزُوْرِكَ (li zūrika): untuk tamumu.

بَعْلُهَا (ba'luhā): suaminya.

Dia belum pernah menginjak tempat tidur kami, tidak juga membuka selimut kami: istrinya hendak mengungkapkan ketidakmauan suaminya berhubungan badan, bahwa suami belum pernah mendekatinya, dan belum pernah terjadi padanya apa yang biasa terjadi antara laki-laki dengan istrinya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Luasnya rahmat Allah -'Azza wa Jalla-, yaitu Allah melipatgandakan kebaikan sepuluh kali lipat.

2) Kesempurnaan dan kebaikan seluruhnya ada pada mengikuti mengikuti manhaj para nabi -'alaihimuṣ-ṣalātu was-salām- secara ilmu dan amalan.

3) Sedikit ibadah tetapi berkesinambungan disertai sesuai petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lebih baik daripada banyak tetapi tidak berkesinambungan atau menyelisihi petunjuknya.

4) Islam adalah agama moderat, syariat yang mudah, dan menghilangkan kesulitan.

10/151- Abu Rib'ī Ḥanẓalah bin Ar-Rabī' Al-Usayyidiy Al-Kātib -raḍiyallāhu 'anhu-, salah seorang juru tulis Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata, Aku bertemu dengan Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, "Bagaimana keadaanmu, wahai Ḥanẓalah?" Aku jawab, "Ḥanẓalah kini telah munafik." Abu Bakar berkata, "Mahasuci Allah! Apa yang engkau katakan itu?!" Aku menjawab, "Ketika kita berada di hadapan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu beliau menceritakan tentang surga dan neraka, maka seakan-akan kita melihatnya langsung dengan mata dan kepala. Namun, bila kita telah meninggalkan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, kita bergurau dengan istri dan anak-anak serta mengurusi urusan-urusan dunia, maka kita sering lupa." Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Demi Allah! Kami juga mendapati seperti itu." Lantas aku dan Abu Bakar pergi menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Aku berkata, "Ya Rasulullah! Ḥanẓalah telah munafik." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya, "Mengapa demikian?" Aku jawab, "Ya Rasulullah! Ketika kami berada di hadapanmu kemudian engkau menceritakan tentang neraka dan surga, seolah-olah kami melihatnya langsung dengan mata dan kepala kami. Namun, bila kami telah keluar dan bergurau bersama istri dan anak-anak serta mengurusi berbagai urusan dunia, maka kami sering lupa." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lantas bersabda,"Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya! Seandainya kalian terus-menerus sebagaimana keadaan kalian di hadapanku dan selalu ingat, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur dan di jalan-jalan kalian. Hanya saja, wahai Ḥanẓalah, sesaat dan sesaat." Beliau mengulangnya tiga kali.(HR. Muslim)(رِبْعِيّ) dengan mengkasrahkan "rā`".(الأُسَيِّدِي) dengan mendamahkan "hamzah", memfatahkan "sīn", lalu mengkasrahkan "yā`" dan mentasydidnya.Kata (عَافَسْنَا): maksudnya kami mengurusi dan mencandai.(الضَّيْعَاتُ): urusan kehidupan.

Kosa Kata Asing:

نَافَقَ (nāfaqa): menyerupai perbuatan munafikin.

رَأْيَ عَيْنٍ (ra`ya 'ain): seakan kita melihat surga dan neraka langsung dengan mata lantaran rasa yakin yang kuat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Semangat para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- dalam menjaga kesahihan iman mereka serta rasa takut mereka kepada kemunafikan.

2) Keutamaan berzikir, yaitu merupakan ibadah yang paling dicintai oleh Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia.

3) Seorang hamba tidak boleh memberatkan dirinya, tetapi hendaklah dia menjaga hak-hak Allah dan hak-hak manusia, dan agar dia memberikan kepada setiap pemilik hak apa yang menjadi hak mereka.

4) Motivasi untuk mendapatkan surga dan ancaman terhadap neraka termasuk yang dapat menguatkan iman dalam hati hamba.

11/152- Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhotbah, tiba-tiba beliau melihat seorang lelaki berdiri, lalu beliau bertanya tentang laki-laki tersebut. Para sahabat menjawab, "Dia adalah Abu Isrā`īl. Dia bernazar akan berdiri di bawah panas matahari, tidak akan duduk, tidak akan berteduh, tidak akan berbicara, dan akan berpuasa." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bersabda,"Perintahkan dia supaya berbicara, berteduh, duduk, dan supaya dia melanjutkan puasanya."(HR. Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Allah -Ta'ālā- tidak akan menerima satu amalan yang tidak pernah Allah syariatkan dan perkenankan, karena ibadah dibangun di atas syariat dan itibak (mengikuti Nabi) serta melarang perbuatan-perbuatan bidah.

2) Tidak ada ketaatan dalam nazar maksiat, misalnya bernazar melakukan sesuatu yang diharamkan, dimakruhkan, atau yang tidak mampu dia penuhi.

3) Nazar berupa ketaatan seharusnya disempurnakan oleh orang yang bernazar, dan tidak dibatalkan (sebagaimana nazar sahabat ini untuk berpuasa).

4) Larangan memaksakan diri pada perbuatan yang tidak dimampui.

 15- BAB MENJAGA AMALAN

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik."(QS. Al-Ḥadīd: 16)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Kemudian Kami susulkan rasul-rasul Kami mengikuti jejak mereka dan Kami susulkan (pula) Isa putra Maryam; dan Kami berikan Injil kepadanya dan Kami jadikan rasa santun dan kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya. Mereka mengada-adakan rahbāniyyah (praktik kerahiban), padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, (yang Kami wajibkan) hanyalah mencari keridaan Allah, tetapi tidak mereka pelihara dengan semestinya."(QS. Al-Ḥadīd: 27)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali."(QS. An-Naḥl: 92)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan sembahlah Rabb-mu sampai ajal datang kepadamu."(QS. Al-Ḥijr: 99)

Pelajaran dari Ayat:

1) Menjaga ketaatan adalah bukti menyukai ketaatan itu.

2) Seorang hamba dinasihati agar menjaga amalan dan tidak meninggalkan ibadah serta bosan, agar dia tetap istikamah, karena amalan yang sedikit tetapi kontinu lebih baik daripada banyak tetapi terhenti.

Adapun hadis-hadis yang terkait tema ini:

Di antaranya adalah hadis Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-:"Ibadah yang paling beliau (Rasulullah) sukai adalah yang dikerjakan secara rutin dan kontinu."Hadis ini telah dibawakan dalam bab sebelumnya.1/153- Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang tertidur dari bacaan wirid hariannya (dari Al-Qur`ān) di malam hari atau sebagiannya, lalu dia mengadanya di waktu antara subuh dan zuhur, akan ditulis untuknya seolah-olah ia mengerjakannya di malam hari."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

حِزْبُهُ مِنَ اللَّيْلِ (ḥizbuhu minal-lail): wirid Al-Al-Qur`ān dalam salat malamnya. Ḥizb artinya bagian dari sesuatu. Di antara maknanya adalah ḥizb Al-Qur`ān (yang bermakna setengah juz).

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran melakukan kebaikan secara berkesinambungan, termasuk qiamulail.

2) Kewajiban seorang hamba bila telah membiasakan suatu ibadah agar dia menjaganya, sekalipun waktunya telah lewat, bila ibadah itu termasuk yang bisa dikada.

2/154- Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- bercerita, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah berpesan kepadaku,"Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si polan. Dia dulu mengerjakan salat malam, kemudian dia meninggalkan salat malam itu."(Muttafaq 'Alaih)3/155- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengisahkan, "Dahulu, Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallambila terlewatkan dari salat malam karena sakit atau lainnya, maka beliau mengadanya di siang hari sebanyak dua belas rakaat."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Istikamah di atas ketaatan serta merutinkannya adalah metode ibadah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Peringatan terhadap tindakan melakukan amal saleh lalu meninggalkannya setelah itu.

3) Ibadah yang memiliki batas waktu bila terlewatkan dari seorang hamba karena suatu uzur maka bisa dikada.

4) Yang disyariatkan ketika mengada salat witir di siang hari adalah agar dilakukan dengan bilangan genap; siapa yang melakukan witir tiga rakaat di malam hari maka dia mengadanya di siang hari dengan empat rakaat, dan begitu seterusnya.

Faedah Tambahan:

Di antara bentuk sikap bijak dalam memberi nasihat agar tidak menyebut nama orang yang dinasihati. Dalam hal ini terkandung dua pelajaran. Pertama: menutupi aib orang tersebut. Kedua: orang ini tidak menutup kemungkinan akan berubah keadaannya, maka pada waktu itu dia tidak selayaknya menyandang hukum yang diberikan kepadanya sekarang ini.

 16- BAB PERINTAH MENJAGA SUNNAH DAN ADAB-ADABNYA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah."(QS. Al-Ḥasyr: 7)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan yang diucapkannya itu bukanlah menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur`ān itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."(QS. An-Najm: 3-4)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."(QS. Āli 'Imrān: 31)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu karakter teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."(QS. Al-Aḥzāb: 21)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa berat dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."(QS. An-Nisā`: 65)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul."(QS. An-Nisā`: 59)Dijelaskan oleh para ulama, bahwa maksudnya Al-Qur`ān dan Sunnah.Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Barang siapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah."(QS. An-Nisā`: 80)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus."(QS. Asy-Syūrā: 52)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi Sunnah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih."(QS. An-Nūr: 63)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabimu)."(QS. Al-Aḥzāb: 34)Ayat-ayat dalam bab ini sangatlah banyak.

Faedah:

Yang dimaksud dengan Sunnah adalah Sunnah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, yaitu jalan yang beliau berada di atasnya, mencakup perkataan, perbuatan, ketetapan, dan yang beliau tinggalkan.Jadi, makna Sunnah adalah petunjuk yang diriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

Pelajaran dari Ayat:

1) Tidak mungkin seseorang menjaga Sunnah Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kecuali setelah dia mengamalkannya. Di sini terdapat pelajaran berupa anjuran untuk menuntut ilmu dan mempelajari petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Kita diperintahkan untuk meneladani Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan baik, dengan tidak menambah maupun mengurangi syariat beliau, karena menambah dan menguranginya adalah kebalikan dari meneladani dengan baik.

3) Perbuatan-perbuatan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah hujah dalam agama, kecuali yang ditunjukkan oleh dalil bahwa hal itu khusus untuk beliau.

4) Kewajiban kembali kepada Allah -Ta'ālā- dan kepada Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- karena hal itu bagian dari konsekuensi iman, yang demikian itu yang terbaik bagi umat dan paling bagus kesudahannya.

5) Kewajiban berhukum kepada agama Allah serta mengamalkannya, sebab ini adalah tanda kesahihan iman yang memiliki beberapa syarat:

- Berhukum kepada Sunnah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

- Tidak merasa berat dengan apa yang diputuskan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

- Menerimanya dengan sepenuh hati.

6) Apa yang terdapat dalam Sunnah sama dengan yang terdapat dalam Al-Qur`ān, tidak boleh dibeda-bedakan antara Al-Qur`ān dan Sunnah dalam berdalil. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Apakah salah seorang kalian mengira, sementara dia duduk-duduk di atas sofa, bahwa Allah tidak pernah mengharamkan sesuatu kecuali yang ada dalam Al-Qur`ān?! Ketahuilah, demi Allah! Sungguh aku telah menasihati, memerintahkan, dan melarang banyak hal. Dan sungguh, yang demikian itu sama banyaknya seperti Al-Qur`ān, atau bahkan lebih banyak."(HR. Abu Daud)

Adapun hadis-hadis yang berkaitan dengan bab ini adalah:

1/156- Pertama: Abu Hurairah raḍiyallāhu 'anhu meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,"Janganlah bertanya kepadaku tentang apa yang aku tidak terangkan! Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah karena banyak bertanya dan karena mereka menyelisihi nabinya. Jika aku melarang sesuatu, maka jauhilah! Jika aku memerintahkan sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian!"(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Bertanya tentang agama dan mempelajarinya hukumnya wajib bagi semua orang beriman, sedangkan yang dilarang adalah sikap berlebihan yang dapat menyulitkan umat.

2) Apa yang didiamkan oleh Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- atau oleh Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, hal itu dimaafkan, tidak harus dikerjakan maupun ditinggalkan. Ini bagian dari rahmat Allah -'Azza wa Jalla- kepada hamba-hamba-Nya.

3) Menyelisihi petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah sebab perselisihan dan pertikaian di tengah umat.

2/157- Kedua: Abu Najīḥ Al-'Irbāḍ bin Sāriyah -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menasihati kami dengan nasihat yang dalam, menggetarkan hati dan membuat mata berlinang. Kami berkata, "Ya Rasulullah! Sepertinya ini nasihat perpisahan. Maka berilah kami wasiat." Beliau bersabda,"Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah serta mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun yang menjadi penguasa kalian seorang budak. Sesungguhnya, siapa yang berumur panjang di antara kalian akan melihat perpecahan yang banyak. Maka berpeganglah kepada Sunnah-ku dan Sunnah para khulafa yang diberi petunjuk; gigitlah dengan gigi geraham. Hindarilah perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama, karena semua bidah adalah kesesatan."(HR. Abu Daud dan Tirmizi. Tirmidzi berkata, "Hadisnya hasan sahih")

(النَّواجِذُ) ialah gigi taring, atau gigi geraham.

Kosa Kata Asing:

وَجِلَتْ (wajilat): takut

التَّقْوَى (at-taqwā): ketakwaan, yaitu berlindung dari azab Allah dengan melaksanakan perintah dan menjauhkan larangan-Nya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban bertakwa kepada Allah -'Azza wa Jalla- ketika sendiri dan di depan umum.

2) Kewajiban taat kepada penguasa, karena dengan itu manusia akan terjaga dari fitnah. Tetapi ketaatan tersebut harus dalam kebaikan, yaitu pada perkara yang dilegalkan oleh agama. Adapun dalam perkara yang tidak diterima agama, maka tidak ada ketaatan kepada siapa pun dalam kemungkaran.

3) Berpegang sepenuhnya dengan Sunnah Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan Sunnah para khulafa yang diberi petunjuk setelah beliau.

4) Semua bidah dalam agama adalah kesesatan, walaupun pelakunya mengira itu adalah kebaikan, sebab semua kebaikan ada pada sikap mengikuti petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

3/158- Ketiga: Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda,"Semua umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan."Dikatakan, "Siapakah yang enggan itu, ya Rasulullah?" Beliau menjawab,"Siapa saja yang taat kepadaku, maka dia akan masuk surga. Siapa yang mendurhakaiku, sungguh dia telah enggan (masuk surga)."(HR. Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Surga adalah tempat bagi orang-orang yang taat kepada perintah Allah -Ta'ālā- dan perintah Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Menyelisihi petunjuk Nabi merupakan penyebab tidak bisa masuk surga.

3) Waspada dari mendurhakai perintah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, karena hal itu merupakan tanda berpaling dan meninggalkan beliau.

4/159- Keempat: Abu Muslim, atau Abu Iyās, Salamah bin 'Amr bin Al-Akwa' -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki makan di dekat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan tangan kirinya, lantas beliau berkata, "Makanlah dengan tangan kananmu!" Dia menjawab, "Aku tidak bisa." Beliau berkata, "Semoga benar kamu tidak bisa."Tidak ada yang menghalanginya kecuali keangkuhan. Maka dia pun tidak bisa mengangkat tangannya ke mulut.(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Menyelisihi perintah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- merupakan sebab turunnya azab kepada hamba.

2) Anjuran makan dengan tangan kanan serta membiasakan anak-anak melakukannya sehingga akan tumbuh generasi di atas Sunnah Nabi.

5/160- Kelima: Abu Abdillah An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata: Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Hendaklah kalian meluruskan saf kalian, atau (jika tidak), Allah akan menjadikan kalian berselisih pada wajah-wajah kalian."(Muttafaq 'Alaih)Dalam riwayat Imam Muslim:"Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meluruskan saf-saf kami sampai seakan meluruskan bulu anak panah, hingga beliau meyakini kami telah memahami hal itu dari beliau. Kemudian beliau keluar di suatu hari, lalu berdiri hendak salat dan hampir bertakbir, ternyata beliau melihat seseorang dadanya maju, maka beliau bersabda,Wahai hamba-hamba Allah! Hendaklah kalian meluruskan saf kalian, atau (jika tidak), Allah akan menjadikan kalian berselisih pada wajah-wajah kalian.'"

Kosa Kata Asing:

القِدَاحُ (al-qidāḥ): bulu anak panah, yaitu mereka meluruskannya selurus-lurusnya. Hal itu dijadikan sebagai perumpamaan dalam meluruskan saf, disebabkan karena bulu anak panah sangat lurus dan rata.

عَقَلْنَا ('aqalnā): kami paham apa yang beliau inginkan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban meluruskan saf dalam salat, dan hal ini memiliki pengaruh dalam kelurusan hati orang-orang beriman agar tidak saling bertentangan.

2) Para imam berkewajiban memeriksa dan meluruskan saf serta mengingatkan yang menyelisihinya karena ini adalah petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

3) Keserasian antara kondisi lahir dan batin; yaitu lihatlah bagaimana ketidaklurusan dalam meluruskan saf berpengaruh terhadap perselisihan hati di antara orang-orang yang salat?!

6/161- Keenam: Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan, Sebuah rumah di Madinah terbakar bersama pemiliknya pada malam hari. Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diceritakan tentang kondisi mereka, beliau bersabda,"Sesungguhnya api ini musuh bagi kalian. Jika kalian tidur, maka padamkanlah!"(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Manusia harus berhati-hati dengan perkara-perkara yang dikhawatirkan bahayanya (seperti gas dan arus listrik).

2) Mematikan lampu di waktu malam hari termasuk petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; yaitu lampu yang dinyalakan dengan api. Adapun lampu listrik, maka tidak termasuk dalam hukum ini. Wallāhu a'lam.

3) Wajib menjaga diri dari api akhirat dengan penjagaan yang lebih besar dari menjaga diri dari api dunia.

Faedah Tambahan:

Hadis ini salah satu contoh yang menerangkan bahwa menjaga Sunnah dan adab-adabnya adalah faktor terbesar dalam menjaga kesehatan manusia serta melindungi mereka dari keburukan. Betapa agung Sunnah Nabi seandainya kita menerapkannya dalam kehidupan dan di rumah-rumah kita!!

7/1162- Ketujuh: Juga dari Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku dengannya, bagaikan hujan yang turun ke bumi. Sebagian jenis tanah ada yang baik dan dapat menyerap air lalu menumbuhkan rerumputan dan tumbuhan yang banyak. Sebagian ada yang keras dan menahan air, maka Allah menjadikannya bermanfaat bagi manusia, yaitu mereka bisa minum, melakukan pengairan, dan bercocok tanam. Sedang sebagian yang lain adalah tanah gersang yang tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanaman. Demikianlah perumpamaan orang yang paham agama Allah dan mendapat manfaat dari apa yang Allah utus aku dengannya, yaitu dia belajar lalu mengajarkan ilmunya. Demikian pula perumpamaan orang yang tidak peduli dan yang tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus."(Muttafaq 'Alaih)

(فَقُهَ) dengan mendamahkan "qāf" sebagaimana yang masyhur, dan ada yang berpendapat dikasrahkan. Maknanya: dia menjadi paham.

Kosa Kata Asing:

الغَيْثُ (al-gaiṡ): hujan.

الكَلَأْ (al-kala`): tanaman dan rerumputan yang tumbuh di tanah.

طَائِفَةٌ (ṭā`ifah): sebidang, sekelompok.

أَجَادِب (ajādib), bentuk jamak dari kata أَجْدَب (ajdab), yaitu tanah yang tidak menumbuhkan tumbuhan.

قِيْعَانٌ (qī'ān), bentuk jamak dari kata قَاعٍ (qā'), yaitu tanah yang tidak memiliki tumbuhan; dalam pendapat lain: tanah yang rata.

لَمْ يَرْفَعْ بِذلِكَ رَأْساً (lam yarfa' bi żālika ra`san): kiasan tentang orang yang tidak mengambil manfaat dari ilmunya atau ilmu orang lain serta tidak mengamalkannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Bagusnya metode pengajaran Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; yaitu dengan membuat permisalan. Cara ini termasuk yang paling bagus dalam pengajaran dan medianya.

2) Anjuran belajar dan menyebarkan ilmu di tengah manusia, karena ini termasuk menghidupkan Sunnah dalam kehidupan umat Islam.

3) Orang yang belajar dan mengajar orang lain serta mengamalkan ilmunya, dia berada pada derajat yang paling mulia.

8/163- Kedelapan: Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Perumpamaanku dengan kalian bagaikan seseorang yang menyalakan api, lalu belalang-belalang dan laron segera datang hinggap, sedangkan orang itu berusaha mengusirnya (serangga-serangga tersebut) dari api. Aku (selalu berusaha) memegang (menarik) ujung pakaian kalian agar tidak terjerumus ke dalam api itu, namun kalian justru melepaskan diri dari tanganku."(HR. Muslim)

الْجَنَادبُ (al-janādib) ialah serangga mirip belalang dan laron, yang terkenal hinggap di api. Sedangkan الْحُجَزُ (al-ḥujaz) adalah bentuk jamak dari kata حُجْزَةٍ (ḥujzah), yaitu bagian belakang sarung dan celana yang diduduki.

Kosa Kata Asing:

يَذُبُّهُنَّ (yażubbuhunna): menjaganya, melindunginya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Antusiasme Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk menjaga umatnya dari neraka.

2) Seorang hamba harus tunduk kepada Sunnah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- karena hidayah tidak akan terwujud kecuali dengan mengikuti Sunnah.

3) Besarnya hak Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada umat beliau, yaitu beliau tidak menyisakan satu upaya pun untuk melindungi umat ini dari semua yang membahayakannya dalam agama dan dunia mereka. Semoga Allah memberi balasan kepada beliau dengan balasan terbaik yang Dia berikan kepada seorang nabi.

9/164- Kesembilan: Masih dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan agar menjilat jari dan piring (ketika makan), dan beliau bersabda,"Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di mana letak keberkahan (makanannya)."(HR. Muslim)Dalam riwayat Muslim yang lain:"Bila suapan salah seorang kalian jatuh hendaklah dia memungutnya lalu membuang kotoran yang melekat dan memakannya. Janganlah dia membiarkannya untuk setan. Jangan pula dia mengelap tangannya dengan kain hingga dia mengisap jarinya, karena dia tidak tahu di bagian makanan mana yang terdapat keberkahan."Juga dalam riwayat Muslim yang lain:"Sesungguhnya setan hadir kepada salah seorang kalian di semua urusannya, bahkan hingga ketika makan. Bila ada sesuap makanan jatuh dari salah seorang kalian, hendaklah dia membuang kotoran yang menempel, lalu dia memakannya serta tidak meninggalkannya untuk setan."

Kosa Kata Asing:

الصَّحْفَةُ (aṣ-ṣaḥfah): wadah.

فَلْيُمِطْ (fal-yumiṭ): hendaklah dia menghilangkan.

يَلْعَقُ (yal'aq): mengisap.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban mengikuti petunjuk Nabi dalam semua hal, baik kita mengetahui hikmahnya ataupun tidak.

2) Melakukan adab-adab nabawi tekait makam dan minum mengandung berbagai kebaikan, yaitu sebagai potret implementasi perintah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, sikap rendah hati, dan menghalangi setan dari ikut serta dalam aktifitas makan dan minum kita.

3) Meninggalkan makanan bila telah jatuh ke tanah menunjukkan sifat sombong dan menyelisi petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, karena yang dianjurkan saat itu adalah agar ia membersihkan kotoran yang menempel padanya dan memakannya.

10/165- Kesepuluh: Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri di tengah-tengah kami memberi nasihat seraya berkata,"Wahai sekalian manusia, sungguh kalian akan dibangkitkan menghadap Allah -Ta'ālā- dalam keadaan bertelanjang kaki dan badan serta belum disunat;Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati; sungguh, Kami akan melaksanakannya.'(QS. Al-Anbiyā`: 104)Ketahuilah! Orang pertama yang diberi pakaian pada hari Kiamat ialah Ibrahim -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ketahuilah! Sungguh akan didatangkan sejumlah orang dari umatku, lalu mereka di bawa ke sebelah kiri (jalan penghuni neraka). Aku berkata, 'Ya Rabb, mereka itu umatku.' Dikatakan, 'Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.' Maka aku hanya akan mengatakan seperti yang dikatakan oleh hamba yang saleh (Nabi Isa),Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka...'Hingga firman-Nya:... sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.'(QS. Al-Mā`idah: 117-118)Lalu dikatakan kepadaku, 'Sungguh mereka terus-menerus murtad sejak engkau meninggalkan mereka.'"(Muttafaq ‘Alaih)

غُرْلاً (gurlan): tidak disunat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban semua orang, baik hakim, mufti, ulama, ataupun dai agar berbicara dan menasihati manusia tentang apa yang mereka butuhkan berupa penjelasan agama yang akan mendatangkan bagi mereka kebaikan dan manfaat di dunia dan akhirat.

2) Allah kadang memberi keistimewaan kepada sebagian nabi tanpa yang lain, dan hal itu tidak menunjukkan keutamaan yang bersifat mutlak. Sebagaimana Ibrahim -'alaihis-salām- diistimewakan sebagai orang pertama yang diberi pakaian pada hari Kiamat.Ini tidak menunjukkan bahwa Ibrahim adalah rasul yang paling afdal, karena rasul yang paling afdal secara mutlak adalah nabi kita, Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

3) Hati-hati agar tidak menyelisihi Sunnah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- karena yang demikian itu adalah faktor terhalanginya seorang hamba dari mendatangi telaga Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta dihalangi dari syafaat beliau pada hari Kiamat.

Peringatan:

Sejumlah orang dari kalangan ahli bidah yang sesat berpegang dengan makna lahir hadis ini untuk mencela para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum-. Hal ini tidaklah lahir kecuali dari keburukan hati mereka serta tingginya kejahilan mereka tentang keutamaan sahabat-sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.Kemudian juga, ini adalah kedustaan dan fitnah besar. Karena keumuman para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- tidak pernah murtad berdasarkan ijmak umat Islam. Kecuali sebagian orang dari kalangan badui, ketika Nabi -'alaihiṣ-ṣalātu was-salām- meninggal dunia, mereka termakan fitnah dan murtad serta tidak mau menunaikan zakat. Hingga Khalifah Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- memerangi mereka, lalu mayoritas mereka kembali kepada Islam. Orang-orang yang mati di atas kemurtadan, merekalah yang dimaksudkan dalam hadis ini.

Para pencela sahabat -raḍiyallāhu 'anhum-, di dalam celaan mereka terkandung empat dosa besar:

1) Mencela para sahabat.

2) Mencela agama, karena para sahabat adalah kaum yang pertama kali menyampaikan agama ini kepada umat manusia.

3) Mencela Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; yaitu bagaimana bisa beliau memuji sahabat-sahabatnya sementara mereka adalah orang-orang yang murtad menurut sangkaan orang-orang itu?!

4) Mencela Allah yang merupakan Tuhan alam semesta, Yang Mahasuci lagi Mahatinggi; yaitu bagaimana bisa Allah memerintahkan umat ini untuk meniti jalan para sahabat bila seperti ini keadaan mereka?!

11/166- Kesebelas: Abu Sa'īd Abdullah bin Mugaffal -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah melarang khażf (melontar kerikil dengan jari) dan bersabda,"Sesungguhnya hal itu tidak akan mematikan buruan dan tidak pula melukai musuh, akan tetapi hanya bisa membutakan mata dan mematahkan gigi."(Muttafaq ‘Alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa sebagian kerabat Ibnu Mugaffal bermain khażf, sehingga dia melarangnya. Dia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang khażf. Beliau menjelaskan, 'Sesungguhnya hal itu tidak akan menangkap buruan.'" Kemudian dia mengulangnya, maka Ibnu Mugaffal berkata, "Aku mengabarimu, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarangnya, tapi kamu malah mengulanginya! Aku tidak akan berbicara denganmu, selamanya."

Kosa Kata Asing:

الخَذْفُ (al-khażfu) maksudnya seseorang meletakkan kerikil di antara telunjuk dan ibu jarainya lalu melemparnya dengan mendorongkan telunjuk. Atau diletakkan di telunjuk dan didorong dengan ibu jari.

Pelajaran dari Hadis:

1) Pengagungan para sahabat --raḍiyallāhu 'anhum- terhadap Sunnah dan keteguhan mereka dengannya.

2) Bagi seseorang ketika disampaikan kepadanya hukum Allah -Ta'ālā- atau hukum Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- agar mengatakan: kami mendengar dan taat. Jangan membuka pintu masuk setan dengan mengatakan: kami tidak mengetahui hikmah pada dalil itu sehingga kami tidak harus mengamalkannya.

3) Menjauhi semua sebab yang dapat mendatangkan keburukan bagi kaum muslimin.

4)Seorang muslim boleh memboikot saudaranya seagama bila dia melanggar agama, yaitu ketika kuat dugaannya bahwa boikot tersebut akan berguna bagi orang yang diboikot serta akan mengembalikannya kepada Sunnah dan kebenaran. Jika tidak, maka hukum asalnya orang beriman tidak boleh memboikot saudaranya seiman lebih dari tiga hari.5) Orang yang berbuat dosa kemudian bertobat, maka Allah akan menerima tobatnya.12/167- Kedua belas: 'Abbās bin Rabī'ah berkata, Aku melihat Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- mencium Hajar Aswad dan berkata, "Sesungguhnya aku mengetahui, engkau hanyalah sebuah batu, tidak dapat memberi manfaat dan tidak juga mudarat. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menciummu, aku tidak akan menciummu."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Allah -'Azza wa Jalla- mensyariatkan kepada hamba-hamba-Nya untuk mencium Hajar Aswad dalam rangka kesempurnaan penghambaan kepada Allah -Ta'ālā- di dalam melaksanakan agama-Nya.

2) Kesempurnaan ibadah kepada Allah -Ta'ālā- agar hamba tunduk kepada perintah agama, baik dia mengetahui sebab dan hikmah dalam perkara yang disyariatkan ataupun tidak.

3) Mencium Hajar Aswad bagian dari potret mengikuti Sunnah Nabi; adapun batu itu sendiri maka tidak memberi mudarat dan tidak juga manfaat.

 17- BAB KEWAJIBAN TUNDUK KEPADA HUKUM ALLAH DAN UCAPAN ORANG YANG DIAJAK KEPADA HAL ITU SERTA YANG DIAJAK KEPADA KEBAIKAN DAN DILARANG DARI KEMUNGKARAN

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa berat dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."(QS. An-Nisā`: 65)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Hanyalah ucapan orang-orang mukmin itu, bila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, 'Kami mendengar dan kami taat.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."(QS. An-Nūr: 51)

Hadis-hadis yang menunjukkan itu di antaranya hadis Abu Hurairah yang disebutkan di awal bab sebelumnya dan hadis-hadis lain yang ada di dalamnya.

1/168- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Manakala turun kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ayat:"Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah akan memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."(QS. Al-Baqarah: 284)Hal itu terasa sangat berat bagi sahabat-sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka mereka datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu duduk berlutut seraya berkata, "Ya Rasulullah! Sebelumnya kami telah dibebani dengan amalan perbuatan yang kami sanggupi; salat, jihad, puasa, dan sedekah. Namun, kini diturunkan kepadamu ayat ini dan kami tidak sanggup melakukannya." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Apakah kalian hendak berucap seperti ucapan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebelum kalian: kami dengar dan kami durhakai?! Tetapi, ucapkanlah: kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Hanya kepada-Mu kami kembali."Mereka pun berkata, "Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Hanya kepada-Mu kami kembali." Manakala hal itu telah mereka baca serta lisan mereka telah tunduk, Allah -Ta'ālā- menurunkan ayat setelahnya:"Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`ān) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya. Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali."(QS. Al-Baqarah: 285)Tatkala mereka telah melakukan itu, Allah -Ta'ālā- memansukhkannya dan menurunkan ayat:"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan."Allah berfirman, "Ya.""Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami."Allah berfirman, "Ya.""Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."Allah berfirman, "Ya."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

اِقْتَرَأَهَا (iqtara`ahā): membacanya

ذَلَّتْ (żallat): tunduk dengan sepenuhnya.

إِصْرًا (iṣran): perkara yang berat kami pikul.

Pelajaran dari Hadis:

1) Ketika mendengar perintah Allah -Ta'ālā- dan perintah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- maka seorang Muslim wajib menyambutnya dengan melaksanakannya.

2) Keutamaan para sahabat dalam hal melaksanakan perintah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; yaitu mereka tidak mendahulukan pendapat dan selera mereka sendiri.

3) Pujian Allah -'Azza wa Jalla- kepada Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan kepada orang-orang beriman lantaran mereka melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

4) Di antara kasih sayang Allah -Ta'ālā- kepada hamba-hamba-Nya adalah bahwa Allah tidak membebani mereka apa yang mereka tidak sanggup, serta tidak membebani mereka kecuali apa yang mereka mampu.

5) Lintasan-lintasan pikiran yang buruk bila kita tidak ikuti dan tidak kita kerjakan maka tidak akan membahayakan.

Faedah Tambahan:

Di dalam hadis ini terdapat potret yang indah dalam kehidupan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- tentang pembinaan iman dan kejiwaan yang pasrah kepada Allah -Ta'ālā- disertai ketundukan kepada syariat yang diturunkan.Kewajiban kita bila menginginkan kesuksesan dan kebahagiaan serta peneguhan dan kekuasaan adalah kita harus kembali kepada jalan generasi pertama.

 18- BAB LARANGAN MELAKUKAN BIDAH DAN PERKARA-PERKARA YANG BARU DALAM AGAMA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)?!"(QS. Yūnus: 32)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab."(QS. Al-An'ām: 38)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`ān) dan Rasul (Sunnahnya)."(QS. An-Nisā`: 59)Yaitu Al-Qur`ān dan Sunnah. Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya."(QS. Al-An'ām: 153)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS. Āli 'Imrān: 31)Ayat-ayat yang berkaitan dengan bab ini banyak dan masyhur.

Pelajaran dari Ayat:

Peringatan terhadap bidah dan perkara-perkara baru dalam agama yang diada-adakan. Seseorang tidak akan mengetahui bahaya bidah kecuali bila dia mengetahui kerusakan-kerusakannya. Di antara kerusakan bidah adalah:

1) Perbuatan bidah adalah bentuk kedurhakaan terhadap Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta penolakan terhadap makna syahadat Muhammad Rasulullah.

2) Di dalam bidah terkandung celaan terhadap Islam, seakan-akan agama ini belum sempurna sama sekali.

3) Di dalam bidah terkandung celaan terhadap Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, yakni bahwa beliau tidak menyampaikan agama ini kepada kita dengan sempurna.

4) Di dalamnya juga terdapat celaan terhadap sahabat, karena mereka yang merupakan umat terbaik tidak melaksanakannya, sehingga seakan-akan mereka telah lalai di dalam beribadah.

5) Bidah bila tersebar di tengah umat maka Sunnah akan hilang dari kehidupan orang-orang beriman.

6) Orang yang berbuat bidah tidak menjadikan Al-Qur`ān dan Sunnah sebagai dasar hukum, melainkan telah menjadikan hawa nafsu dan seleranya sebagai hakim.

Adapun dalil dari hadis, jumlahnya banyak sekali dan masyhur. Tetapi kita akan mencukupkan diri dengan sebagiannya:

1/169- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang membuat perkara baru dalam agama kami ini yang bukan berasal darinya maka amalan tersebut tertolak."(Muttafaq ‘Alaih)Dalam riwayat Muslim:“Siapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Kosa Kata Asing:

رَدٌّ (radd): dikembalikan lagi kepada pelakunya, tidak diterima.

Pelajaran dari Hadis:

1) Ibadah bila tidak diketahui berasal dari agama Allah maka ibadah itu tertolak.

2) Perbuatan yang disebutkan ancamannya dalam hadis ini mencakup perbuatan-perbuatan dalam agama berupa ibadah dan muamalah. Adapun perkara duniawi, maka mengadakan hal baru di dalamnya hukumnya diperbolehkan pada perkara yang bermanfaat dan tidak menyelisihi agama kita yang lurus.

3) Menjauhi bidah dalam agama karena ia termasuk pembatal amalan.

4) Kewajiban mengikuti petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan menjalankan Sunnah beliau.

2/170- Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Dahulu, bila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhotbah, kedua matanya merah, suaranya naik, dan amarahnya tinggi. Seperti seorang panglima yang sedang mengingatkan ada pasukan musuh, yang mengatakan, "Musuh akan menyerang kalian di waktu pagi! Musuh akan menyerang kalian di waktu sore!" Beliau bersabda, "Jarak antara aku diutus dengan kiamat seperti dua jari ini." Beliau menyandingkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Beliau bersabda,"Amabakdu: Sungguh, sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Seburuk-buruk perkara dalam agama adalah yang diada-adakan (bidah), dan semua bidah adalah kesesatan."Kemudian beliau melanjutkan,"Aku lebih pantas bagi semua orang beriman daripada dirinya. Siapa yang meninggalkan harta maka hartanya bagi keluarganya. Siapa yang meninggalkan hutang atau anak-anak kecil yang terlantar maka menjadi urusan dan tanggunganku."(HR. Muslim)

Juga hal ini diriwayatkan dalam hadis Al-'Irbāḍ bin Sāriyah -raḍiyallāhu 'anhu-, yaitu hadis sebelumnya dalam Bab Menjaga Sunnah.

Kosa Kata Asing:

ضياعاً (ḍayā'an): anak-anak kecil yang terlantar.

Pelajaran dari Hadis:

1) Mata beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang merah, suaranya yang naik, dan amarahnya yang tinggi menunjukkan perhatian beliau kepada umatnya serta peringatan beliau terhadap mereka dalam urusan mereka.

2) Umur dunia sudah dekat, hendaklah seorang hamba bersungguh-sungguh dalam menyiapkan bekal akhirat.

3) Kebaikan seluruhnya ada dalam mengikuti Kitabullah -Ta'ālā- dan Sunah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Sedangkan keburukan seluruhnya ada dalam bidah dan perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama.

4) Bahaya utang yang ada dalam tanggungan seseorang. Sebab itu, hendaknya seorang hamba tidak berhutang kecuali bila sangat terdesak yang disertai kemauan kuat untuk segera melunasinya dan membebaskan diri darinya.

 19- BAB TENTANG ORANG YANG MEMULAI SUNAH YANG BAIK ATAU BURUK

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami! Anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.'”(QS. Al-Furqān: 74)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami."(QS. Al-Anbiyā`: 73)

Pelajaran dari Ayat:

1) Seorang hamba hendaknya bersegera dan berlomba kepada kebaikan dan ketaatan, serta menjadi pemimpin atau figur yang diteladani dalam perkara-perkara kebaikan. Hal ini merupakan nikmat Allah yang paling besar kepada hamba-Nya.

2) Kepemimpinan dalam agama harus disertai dengan kesabaran atas apa yang akan menimpa hamba berupa kelelahan, gangguan, dan godaan hawa nafsu. Juga harus disertai keyakinan, yaitu ilmu yang kukuh sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai syubhat, karena hanya dengan sabar dan yakin kepemimpinan dalam agama akan dapat diraih.

1/171- Abu 'Amr Jarīr bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- menceritakan, Kami sedang berada di sisi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di awal siang, tiba-tiba beliau didatangi oleh sekelompok orang yang telanjang badan, hanya mengenakan kain wol bergaris atau mantel yang dilubangi tengahnya sambil menyandang pedang. Mayoritas mereka dari kabilah Muḍar, atau bahkan semuanya dari kabilah Muḍar. Sehingga wajah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- karena kasihan melihat kemiskinan mereka. Maka beliau masuk ke rumahnya kemudian keluar lagi, sesudah itu beliau menyuruh Bilal mengumandangkan azan dan iqamat, lantas beliau salat. Kemudian beliau berkhotbah seraya membacakan,"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) ..."Hingga akhir ayat:"... Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."Juga ayat lain di bagian akhir Surah Al-Ḥasyr:"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)."Hendaklah setiap orang bersedekah dengan sebagian dinarnya, atau dirham, pakaian, gandum, dan kurma yang dia punya, dan bahkan walau dengan setengah kurma." Maka, datanglah seorang laki-laki Ansar membawa seikat emas yang hampir tidak kuat dipegang dengan tangannya. Bahkan, benar-benar tidak kuat. Kemudian orang-orang susul-menyusul hingga aku melihat dua gunungan besar makanan dan pakaian dan aku melihat wajah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berbinar bak dipoles emas. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bersabda,"Siapa yang mencontohkan (memulai) sunah (perbuatan) yang baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan sunah tersebut setelahnya, tanpa berkurang sedikit pun dari pahala mereka. Dan siapa yang mencontohkan sunah yang buruk maka ia menanggung dosa dari perbuatannya dan dosa orang yang melakukannya setelahnya, tanpa berkurang sedikit pun dari dosa mereka."(HR. Muslim)Perkataan Jarīr bin Abdullah: "مُجتَابي النِّمَارِ" (mujtābī an-nimār), dengan menggunakan huruf "jīm", kemudian "bā`" setelah alif.النِّمَارُ (an-nimār), bentuk jamak dari "نَمِرَةٍ" (namirah), yaitu kain motif bergaris terbuat dari wol. Sedangkan "مُجتَابي النِّمَارِ" (mujtābī an-nimār), maksudnya: orang yang memakai kain wol bergaris yang telah dilobangi di bagian kepalanya.الْجَوبُ (al-jaub): memotong. Di antaranya disebutkan dalam firman Allah -Ta'ālā-:"... dan (terhadap) kaum Ṡamūd yang memotong batu-batu besar di lembah." (QS. Al-Fajr: 9)جَابُواْ (jābū) dalam ayat ini bermakna: memahat dan memotong.Perkataannya: "تَمَعَّرَ" (tama''ara), artinya berubah.رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ (ra`aitu kaumain), dengan memfatahkan huruf "kāf", dan boleh didamahkan (kūmain), artinya: aku melihat dua tumpukan.كَأَنَّهُ مُذهَبَةٌ (ka`annahu mużhabatun), menggunakan huruf "żāl", kemudian "hā`" yang fatah, setelahnya "bā`", sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qāḍī 'Iyāḍ dan lainnya. Tapi sebagian ulama menulisnya dengan "مُدهُنـَةٌ" (mudhunatun), dengan menggunakan huruf "dāl", kemudian "hā`" yang damah, setelahnya huruf "nūn". Demikian dinyatakan oleh Al-Ḥumaidiy. Tetapi yang benar dan masyhur adalah yang pertama. Makna kedua kata itu adalah bersih dan bercahaya.

Kosa Kata Asing:

صَدْرُ النًّهَارِ (ṣadrun-nahār): awal siang.

الفاقة (al-fāqah): sangat fakir atau miskin.

Pelajaran dari Hadis:

1) Besarnya antusiasme Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan kasih sayang beliau kepada umatnya serta perhatian beliau terhadap keadaan mereka.

2) Para penguasa berkewajiban melihat keadaan rakyatnya serta memperhatikan maslahat mereka.

3) Keutamaan sedekah, sehingga seorang hamba harus memperbanyaknya karena di dalamnya terkandung manfaat bagi dirinya dan orang lain.

4) Anjuran untuk mengerjakan amalan-amalan sunah yang telah ditinggalkan dan dilalaikan, karena menghidupkannya adalah menghidupkan Sunnah.

5) Peringatan terhadap sunah (kebiasaan) yang buruk, yaitu orang yang memulai kebiasaan buruk akan menanggung dosanya dan yang semisal dosa orang-orang yang mengikutinya.

Peringatan:

Sebagian orang yang cinta kebaikan dan amalan baik berdalil dengan hadis ini terhadap bolehnya mengerjakan sebagian amalan bidah. Mereka mengatakannya sebagai bidah ḥasanah (yang baik), berdalil dengan sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Siapa yang memulai sunah yang baik dalam Islam."Tentu ini kesalahpahaman. Karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah menyampaikan hadis yang bersifat umum, "Setiap bidah itu sesat." Beliau tidak memberi pengecualian sedikit pun dari kesesatan bidah, sehingga semuanya adalah kesesatan dan buruk, tidak ada yang baik di dalamnya.Tetapi, maksud hadis ini adalah anjuran agar berlomba kepada kebaikan dan bersegera mengerjakannya. Sebagaimana terlihat jelas dari sebab adanya hadis ini. Sunah yang baik memiliki dasar dalam syariat, tetapi kadang samar dan lenyap di sebagian waktu. Lalu datang orang yang menghidupkannya di tengah-tengah manusia. Dengan demikian, dia telah memulai sunah yang baik.Adapun bidah maka tidak memiliki dasar dalam agama sama sekali. Betapa bagus ucapan yang disampaikan oleh Imam Asy-Syāfi'iy -raḥimahullāh-, "Siapa yang meyakini istihsan, sungguh dia telah membuat-buat syariat."Yang semakna dengan ini diucapkan juga oleh Imam Negeri Hijrah, Malik bin Anas -raḥimahullāh-,"Apa yang hari itu (pada masa Nabi) bukan bagian dari agama, maka hari ini ia tidak menjadi bagian dari agama."2/172ـ- Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidaklah seorang jiwa dibunuh secara zalim, melainkan anak Adam yang pertama ikut mendapatkan bagian dosa pembunuhan tersebut, karena dialah yang pertama kali memulai pembunuhan."(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

Anak Adam yang pertama adalah Qābīl, yaitu tatkala dia membunuh saudaranya, Hābīl.

كِفْلٌ (kiflun): bagian.

Pelajaran dari Hadis:

1) Siapa yang memulai sunah yang buruk maka dia menanggung dosa perbuatannya dan dosa setiap orang yang melakukan perbuatan yang sama dengan perbuatannya itu hingga hari Kiamat.

2) Di antara bentuk hukuman terhadap keburukan bahwa keburukan tersebut akan menyeret berbagai keburukan lainnya kepada pelakunya, kecuali bila pelakunya bertobat.

3) Pembunuhan tanpa alasan yang benar termasuk dosa besar yang dengannya Allah -Ta'ālā- didurhakai.

 20- BAB MENGAJAK KEPADA KEBAIKAN DAN PETUNJUK ATAU KEPADA KESESATAN

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu."(QS. Al-Qaṣaṣ: 87)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik."(QS. An-Naḥl: 125)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan."(QS. Al-Mā`idah: 2)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan hendaklah di antara kalian ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan."(QS. Āli 'Imrān: 104)

Pelajaran dari Ayat:

1) Seorang hamba diperintahkan agar berdakwah kepada kebaikan dengan ucapan, perbuatan, ataupun akhlak baik.

2) Ilmu dibutuhkan pada juru dakwah karena orang yang mengajak dan yang melarang harus berilmu tentang apa yang dia dakwahkan.

3) Anjuran menggunakan perilaku hikmah dan pengajaran yang baik dalam mendakwahi manusia.

4) Wasiat Allah -Ta'ālā- kepada umat ini agar ada di antara mereka sekelompok orang yang mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran; ini termasuk tanda kesuksesan.

1/173- Abu Mas'ūd 'Uqbah bin 'Amr Al-Anṣāriy Al-Badriy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya."(HR. Muslim)2/174- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa mengajak kepada petunjuk (kebajikan), maka ia mendapatkan pahala sebesar pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosa sebesar dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Ajakan kepada petunjuk ataupun ajakan kepada kesesatan dapat dilakukan dengan ucapan atau perbuatan.

2) Orang yang menjadi sebab terjadinya sesuatu sama dengan yang mengerjakannya secara langsung. Oleh karena itu, siapa yang mengajak kepada kebaikan atau keburukan akan mendapatkan yang semisal dengan pahala atau dosa orang yang mengerjakannya.

3) Perhatian terhadap dakwah kepada kebaikan dan perbaikan serta pencegahan keburukan dan kerusakan.

3/175- Abul-'Abbās Sahl bin Sa'ad As-Sā'idiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda pada saat perang Khaibar,"Demi Allah! Besok aku akan memberikan bendera perang ini kepada seorang laki-laki yang Allah akan memberikan kemenangan lewat tangannya; dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya."Orang-orang pun bergadang semalaman membicarakan siapa yang akan diberi bendera itu. Saat pagi tiba, mereka datang menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, semuanya berharap dirinyalah yang diberi bendera tersebut. Lantas Nabi bertanya, "Di mana Ali bin Abi Ṭālib?" Dijawab, "Ya Rasulullah! Dia sedang sakit kedua matanya." Beliau berkata, "Kirimlah utusan kepadanya." Maka dia dibawa kepada beliau. Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meludah di kedua matanya dan mendoakannya. Seketika dia sembuh, sampai seakan-akan tidak pernah mengalami sakit. Selanjutnya beliau menyerahkan bendera tersebut kepadanya. Ali -raḍiyallāhu 'anhu- bertanya, "Ya Rasulullah! Apakah aku memerangi mereka hingga mereka seperti kita?" Beliau menjawab,"Majulah dengan perlahan sampai engkau tiba di tempat mereka. Lalu serulah mereka kepada Islam dan beritahukan kepada mereka tentang kewajiban yang harus mereka tunaikan terhadap hak Allah -Ta'ālā- dalam Islam. Demi Allah! Bila Allah memberikan hidayah kepada satu orang lewat perantaramu, itu lebih baik bagimu dari unta-unta merah."(Muttafaq 'Alaih)Perkataan Sahl bin Sa'ad: "يَدُوكُونَ" (yadūkūna), maksudnya memperbincangkan dan membicarakan.Sabda Rasulullah: "رِسْلِكَ" (rislika), dengan mengkasrahkan "rā`", dan boleh difatahkan, tetapi kasrah lebih fasih.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan sahabat mulia, Ali bin Abi Talib -raḍiyallāhu 'anhu-; yaitu dia termasuk orang yang dicintai oleh Allah dan Rasulullah. Sungguh, inilah nikmat yang teramat mulia! Oleh karena itu, Allah telah memberikan kemenangan lewat tangannya.

2) Seorang hamba kadang diberikan oleh Allah -Ta'ālā- keutamaan yang tidak pernah terbesit dalam hatinya.

3) Seorang hamba kadang dihalangi dari sesuatu bersama kegigihannya untuk mendapatkannya, dan kadang diberi sesuatu padahal dia tidak gigih mengejarnya.

4) Anjuran agar seseorang mengusahakan kebaikan dan bersegera kepadanya.

5) Berdakwah kepada Islam termasuk kewajiban paling penting karena adanya pahala besar yang akan didapatkan lewat memberi petunjuk kepada manusia.

4/176- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa seorang pemuda dari Bani Aslam berkata, "Ya Rasulullah! Aku ingin ikut berperang. Tetapi aku tidak punya harta sebagai bekal perang?" Beliau berkata,"Datanglah kepada polan. Dia telah mempersiapkan bekal perang, tetapi jatuh sakit."Lantas pemuda itu datang kepadanya dan berkata, "Sungguh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengucapkan salam kepadamu. Beliau menyampaikan agar engkau memberikan persiapan perang yang telah engkau siapkan kepadaku." Maka laki-laki itu berkata kepada istrinya, "Ya fulānah! Berikan dia persiapan perang yang telah aku siapkan. Jangan sisakan sedikit pun. Demi Allah! Jangan engkau sisakan sedikit pun. Semoga Allah memberkahimu di dalamnya."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Seorang hamba bila menunjuki orang lain kepada suatu kebaikan, maka dia akan diberi pahala atas hal itu.

2) Bila seorang hamba telah merencanakan suatu amal saleh lalu dia tertahan oleh suatu halangan, seperti sakit, hendaknya dia memberikan apa yang telah dia persiapkan untuk hal itu kepada orang yang bisa mengerjakannya, supaya dia diberikan pahala sempurna dan manfaat itu tidak hilang.

 21- BAB TOLONG-MENOLONG DALAM KEBAJIKAN DAN KETAKWAAN

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan."(QS. Al-Mā`idah: 2)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Demi masa.Sungguh, semua manusia berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."(QS. Al-'Aṣr: 1-3)

Imam Asy-Syāfi'iy -raḥimahullāh- berkata yang maknanya, bahwa manusia atau kebanyakan mereka lalai untuk menadaburi surah ini.

Pelajaran dari Ayat:

1) Tolong-menolong di atas kebajikan dan ketakwaan adalah perkara terbaik yang kepadanya orang-orang beriman berkumpul dan saling nasihati.

2) Semua manusia rugi kecuali yang memiliki empat sifat; yaitu dia beriman kepada apa yang wajib diimani, melakukan amal saleh yang menjadi konsekuensi imannya, mengajak kepada kebenaran, dan bersabar terhadap ujian di jalan dakwah tersebut.

1/177- Abu Abdirrahman Zaid bin Khālid Al-Juhaniy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang mempersiapkan bekal untuk orang yang berperang di jalan Allah, maka sungguh dia telah (ikut) berperang. Dan siapa yang mengurus keluarga orang yang berperang di jalan Allah, maka sungguh dia telah (ikut) berperang."(Muttafaq ‘Alaih)2/178- Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengirim sebuah pasukan ke Bani Liḥyān dari kabilah Hużail; beliau bersabda,"Hendaklah berangkat salah satu dari setiap dua orang, sedangkan pahala bagi keduanya."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Setiap orang yang membantu orang lain dalam ketaatan kepada Allah, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang itu, tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.

2) Dua orang yang bergabung dalam satu kebaikan akan dituliskan bagi keduanya pahala tanpa terkecuali.

3) Anjuran kepada manusia agar saling tolong-menolong dalam mengerjakan kebaikan.

Faedah Tambahan:

Membantu orang yang berperang memiliki dua bentuk:

Pertama: membantunya dalam menyiapkan kendaraan, logistik, senjata, dan semua bekal perang.

Kedua: membantunya dengan cara mengurus dengan baik keluarga yang ditinggal.

3/179- Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertemu serombongan pengendara di Rauḥā` dan bertanya, "Rombongan siapakah kalian?" Mereka menjawab, "Rombongan orang-orang Islam. Lalu Anda, siapa?" Beliau menjawab, "Rasulullah." Lantas seorang perempuan mengangkat anak kecil dan bertanya, "Apakah anak kecil ini sah berhaji?" Beliau menjawab, "Ya, sah. Dan engkau juga mendapatkan pahala."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

Rauḥā` adalah sebuah tempat di perbatasan antara Mekah dan Madinah.

Pelajaran dari Hadis:

1) Wajib bagi orang beriman yang semangat belajar agar memanfaatkan nikmat keberadaan seorang ulama dengan bertanya kepadanya tentang perkara yang membingungkannya dan yang bermanfaat baginya dalam perkara agamanya.

2) Sahnya haji anak kecil walaupun belum mumayiz, dan bila dia berhaji bersama walinya maka pahala haji didapakan oleh mereka berdua.

4/180- Abu Musa Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Seorang bendahara muslim yang terpercaya dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, lalu dia memberikan harta itu dengan utuh dan sempurna dengan senang hati dan menyalurkannya kepada siapa yang diperintahkan untuk diberi; dia adalah satu dari orang yang bersedekah."(Muttafaq 'Alaih)

Dalam sebuah riwayat: "... yang memberikan apa yang diperintahkan kepadanya." Kata "المُتَصدِّقَيْنِ" (al-mutaṣaddiqaini), disebutkan oleh para ulama dengan memfatahkan huruf "qāf", lalu "nūn" yang berharakat kasrah sebagai bentuk muṡannā (yang menunjukkan jumlah dua). Juga sebaliknya, ada yang menyebutkannya dengan mengkasrahkan "qāf", dan memfatahkan "nūn" ((al-mutaṣaddiqīna) sebagai bentuk jamak (yang menunjukkan jumlah banyak). Kedua-duanya benar.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran menjaga amanah dan menunaikan semua nafkah yang dititipkan kepada seorang hamba.

2) Besarnya pahala tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, yaitu pahala dituliskan bagi orang yang membantu seperti yang dituliskan bagi yang mengerjakannya.

 22- BAB NASIHAT

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara."(QS. Al-Ḥujurāt: 10)Allah -Ta'ālā- juga berfirman mengisahkan perkataan Nūḥ -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-,"Dan aku memberi nasihat kepadamu."(QS. Al-A'rāf: 62)Juga tentang perkataan Hūd -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-,"Dan aku adalah pemberi nasihat yang amanah kepada kamu."(QS. Al-A'rāf: 68)

Faedah:

Nasihat adalah memberi kebaikan kepada orang lain. Nasihat mengharuskan orang yang memberi nasihat mencintai kebaikan bagi saudaranya serta mengajaknya kepada nasihat tersebut. Kebalikan nasihat: makar, tipu daya, khianat, dan tipu muslihat.

Pelajaran dari Ayat:

1) Nasihat adalah buah dari persaudaraan dalam agama, bahkan merupakan konsekuensi paling penting dari persaudaraan ini.

2) Seseorang muslim wajib menasihati saudaranya dengan memperlihatkan kepadanya kebaikan agar dengan hal itu persaudaraan keimanan terwujud.

Adapun hadis-hadis yang berkaitan dengan bab ini:

1/181- Pertama: Abu Ruqayyah Tamīm bin Aus Ad-Dāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah bersabda,"Agama itu nasihat." Kami bertanya, "Untuk siapa?" Nabi menjawab, "Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan semua kaum muslimin."(HR. Muslim

Pelajaran dari Hadis:

1) Di antara bentuk nasihat untuk Allah -'Azza wa Jalla- adalah mewujudkan keikhlasan kepada Allah -Ta'ālā-, beribadah kepadanya dengan cinta dan pengagungan, cemburu bila perbuatan-perbuatan yang Allah -Ta'ālā- haramkan dilanggar, membela agama Allah -Ta'ālā- dan mendakwahkannya.

2) Di antara bentuk nasihat untuk Kitab Allah adalah seorang hamba menegakkan huruf-hurufnya dengan cara dibaca dan ditadaburi, menyebarkan maknanya yang sahih di tengah-tengah umat Islam, dan mengimplementasikan kandungannya dengan melaksanakan kewajiban yang diperintahkannya, meninggalkan apa yang diharamkannya serta membenarkan beritanya.

3) Di antara bentuk nasihat untuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah mengimani kerasulan beliau dengan iman yang sempurna, membenarkan berita yang beliau sampaikan, mengikuti beliau dengan benar dan tulus, membela dan menjaga syariat yang beliau bawa, melawan bidah dan para pelakunya serta menghormati para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum-, memuliakan mereka, mencintai mereka, dan membela mereka.

4) Di antara bentuk nasihat untuk pemimpin kaum muslimin adalah menghormati ulama, bersemangat menimba ilmu yang mereka miliki, tidak mencari-cari kekeliruan dan kesalahan mereka karena mereka tidak maksum, dan mesti membela mereka.Adapun pemimpin umat Islam dari kalangan penguasa, nasihat untuk mereka adalah dengan menahan diri dari keburukan mereka (tidak menyebarkannya) serta menasihati mereka sesuai kemampuan.

5) Di antara bentuk nasihat kepada kalangan umum masyarakat Islam adalah mencintai kebaikan untuk mereka seperti untuk diri Anda, mengarahkan mereka kepada kebaikan, menunjuki mereka kepada kebenaran, dan bersikap kasih sayang kepada semua orang.

2/182- Kedua: Jarīr bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku berbaiat kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan menasihati setiap muslim."(Muttafaq ‘Alaih)3/183- Ketiga: Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri."(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran memberi nasihat kepada setiap muslim, yang dekat dan jauh, kecil dan besar, laki-laki dan perempuan.

2) Di antara bentuk nasihat kepada kaum muslimin adalah mencintai kebaikan untuk mereka seperti yang Anda cintai untuk diri Anda sendiri.

3) Tidak sempurna iman seorang hamba hingga dia mencintai kebaikan bagi saudaranya seperti yang dia cintai untuk dirinya sendiri.

Faedah Tambahan:

Penafian iman hamba pada hadis di atas maksudnya menafikan kesempurnaan iman, bukan menafikan iman secara total dari dasar. Karena iman memiliki dasar dan cabang, dapat bertambah dan berkurang. Sedangkan mukmin yang diberikan taufik akan berusaha untuk mengontrol dan menambah imannya."Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,yang memberikan buahnya setiap saat dengan izin Tuhannya."(QS. Ibrāhīm: 24-25)

 23- BAB AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."(QS. Āli 'Imrān: 104)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar."(QS. Āli 'Imrān: 110)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Berikanlah maaf, perintahkanlah untuk berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang jahil."(QS. Al-A'rāf: 199)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar."(QS. At-Taubah: 71)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat."(QS. Al-Mā`idah: 78-79)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan katakanlah (Muhammad), 'Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Siapa yang menghendaki (beriman), hendaklah dia beriman. Dan barangsiapa menghendaki (kafir), biarlah dia kafir.'”(QS. Al-Kahfi: 29)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik."(QS. Al-Ḥijr: 94)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang orang yang berbuat jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik."(QS. Al-A'rāf: 165)Ayat-ayat dalam bab ini banyak dan makruf.

Faedah:

- Makruf (kebaikan) adalah sesuatu yang dikenal baik menurut agama, akal, dan 'urf (adat istiadat). 'Urf yang dimaksud adalah kebiasaan orang yang baik dan saleh, yaitu orang-orang yang pertengahan, bukan orang yang ekstrem ataupun lalai.

- Mungkar (kemungkaran) adalah sesuatu yang dikenal buruk menurut agama, akal, dan 'urf (adat istiadat). Yaitu mencakup semua yang diingkari dan dilarang oleh syariat berupa berbagai macam maksiat seperti kekufuran, bidah, dan kefasikan.

Pelajaran dari Ayat:

1) Wajib ketika melakukan amar makruf nahi mungkar menggunakan sikap hikmah, dan itu tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu dan sabar.

2) Kewajiban amar makruf nahi mungkar bukan hanya tugas khusus laki-laki, tetapi juga mencakup perempuan.

3) Kewajiban saling melarang dari kemungkaran karena meninggalkan nahi mungkar adalah sebab adanya laknat dan pengusiran dari rahmat Allah -Ta'ālā-.

4) Amar makruf dan nahi mungkar merupakan sebab keselamatan dan keterjagaan umat dari bencana dan siksa.

Adapun hadis-hadis yang berkaitan dengan bab ini:

1/184- Pertama: Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,Siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia ubah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu dengan tangannya, hendaklah dengan lisannya. Jika ia tidak mampu dengan lisannya, maka hendaklah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.'"(HR. Muslim)2/185- Kedua: Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidak ada seorang Nabi pun yang Allah utus untuk satu umat sebelumku kecuali ia memiliki para pengikut setia dan sahabat-sahabat yang mengamalkan Sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian muncul generasi pengganti setelah mereka yang mengatakan apa yang tidak mereka perbuat dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Maka siapa yang berjihad melawan mereka dengan tangannya ia adalah seorang mukmin, siapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya ia adalah seorang mukmin, dan siapa yang berjihad melawan mereka dengan lisannya ia adalah seorang mukmin. Adapun selain pengingkaran itu, maka bukanlah suatu bentuk keimanan meskipun sebesar biji sawi."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

حَوارِيُّون (ḥawāriyyūn): orang-orang pilihan, teman setia para nabi dan pembela mereka yang berjihad.

خُلُوْفٌ (khulūf), bentuk jamak kata "خَلْف" (khalf) dengan mensukunkan "lām", artinya pengganti yang buruk. Sedangkan "خَلَفَ" (khalaf), dengan memfatahkan "lām", artinya pengganti yang baik. Maksudnya: muncul para pengganti yang buruk.

خَرْدلٌ (khardal): biji kecil terkenal (sawi).

Pelajaran dari Hadis:

1) Mengingkari kemungkaran terbagi menjadi beberapa tingkatan sesuai kadar kemampuan dan tanggung jawab setiap insan.

2) Siapa yang menginginkan kesuksesan hendaklah mengikuti manhaj atau metode para nabi di dalam berdakwah kepada Allah -'Azza wa Jalla-.

3) Anjuran berjihad melawan orang-orang yang menyelisihi agama, masing-masing sesuai kemampuan, karena meninggalkannya secara total adalah bukti hilangnya iman dari hati seseorang.

4) Orang-orang terbaik setelah para nabi adalah sahabat-sahabat mereka.

5) Peringatan agar seseorang tidak mengucapkan apa yang tidak dia kerjakan atau mengerjakan apa yang tidak diperintahkan.

3/186- Ketiga: Abu Al-Walīd 'Ubādah bin Aṣ-Ṣāmit -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan,"Kami berbaiat kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk selalu mendengar dan taat dalam kondisi susah dan longgar, semangat (mudah) dan berat (sulit), dalam kondisi monopoli atas kami, dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya, kecuali bila telah melihat ada kekufuran yang terang dan ada bukti yang nyata dalam perkara tersebut dari Allah. Serta agar kami menyampaikan kebenaran di mana pun kami berada tanpa takut celaan orang yang mencela dalam rangka membela Allah."(Muttafaq 'Alaih)Kalimat المَنْشَط (al-mansyaṭ) dan المَكْره (al-makrah), dengan memfatahkan huruf "mīm" pada keduanya, artinya: dalam kondisi mudah dan sulit.الأثَرةُ (al-aṡarah): memonopoli hak bersama, sebagaimana telah dijelaskan.بَوَاحاً (bawāḥan), dengan "bā`" yang berharakat fatah, setelahnya ada huruf "wāw" kemudian "ḥā`", artinya: yang terang/jelas, tidak berpotensi ditakwil.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa ketika semangat dan berat, dan ketika sulit dan longgar (mudah), kecuali dalam kemaksiatan kepada Allah maka tidak boleh taat kepada mereka.

2) Menasihati dan membimbing para pemimpin kaum muslimin dengan cara yang terbaik adalah petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

3) Anjuran untuk menyampaikan dan melaksanakan kebenaran dan tidak takut terhadap celaan manusia karena membela agama. Maka, di manakah orang beriman hari ini yang berani menyuarakan kebenaran?!

4/187- Keempat: An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Perumpamaan orang yang melakukan penjagaan terhadap batasan-batasan Allah dan orang yang terjerumus di dalamnya seperti suatu kaum yang berundi di atas sebuah kapal. Lalu sebagian menempati tingkat atas dan sebagian menempati tingkat bawah. Orang-orang yang di lantai bawah apabila mengambil air, mereka melewati orang-orang yang di atas mereka. Maka mereka berkata, "Seandainya kita membuat lubang kecil di bagian kita ini hingga kita tidak perlu mengganggu orang-orang di atas kita." Jika orang-orang yang di atas membiarkan apa yang mereka inginkan, niscaya mereka semua binasa. Namun, jika orang-orang yang di atas mencegah mereka, niscaya mereka selamat dan semuanya selamat."(HR. Bukhari)القَائمُ في حُدُودِ الله تَعالى: orang-orang melakukan penjagaan atau pengingkaran terhadap perbuatan-perbuatan yang melanggar batasan-batasan Allah; menolak dan menghilangkannya. Yang dimaksud dengan batasan Allah adalah apa yang dilarang.اسْتَهَمُوا (istahamū): berundi.

Kosa Kata Asing:

الْوَاقِع فيها (al-wāqi' fīhā): orang yang melakukan yang haram atau meninggalkan yang wajib.

اِسْتَقَوْا (istaqau): mencari air minum.

خَرْقاً (kharqan): lubang.

Pelajaran dari Hadis:

1) Bila orang berilmu dan beragama menggandeng tangan orang yang jahil dan bodoh, maka mereka semua akan selamat. Tetapi bila tidak, maka mereka semua akan binasa.

2) Pengajar hendaknya membuat contoh untuk mendekatkan sesuatu yang bersifat logika dalam wujud nyata.

3) Menetapkan disyariatkannya undian ketika jumlah yang mesti mendapatkan suatu hak lebih banyak sementara tidak ada cara lain untuk menentukan solusinya. Di antara contohnya seperti firman Allah -Ta'ālā- tentang Yunus -'alaihis-salām-:"Kemudian dia ikut diundi, ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian)."(QS. Aṣ-Ṣāffāt: 141)

4) Amar makruf dan nahi mungkar adalah bahtera keselamatan bagi umat, siapa yang naik akan selamat dan yang tidak ikut akan tenggelam. Keadaan menyakitkan yang kita hadapi hari ini adalah hukuman terhadap perilaku meninggalkan petunjuk Nabi dalam hal amar makruf dan nahi mungkar. Adakah yang mau kembali kepada Allah dan bertobat?!

5/188- Kelima: Ummul-Mu`minīn Ummu Salamah Hindun binti Abi Umayyah Ḥużaifah Al-Makhzūmiyyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sungguh akan diangkat untuk kalian penguasa-penguasa. Sebagian amalnya kalian kenali, dan sebagiannya kalian ingkari. Siapa yang membencinya (dalam hati) maka dia telah bebas (dari dosa), dan siapa yang mengingkari (dengan lisan) maka dia selamat. Namun, siapa yang rida serta mengikuti mereka (akan ikut celaka)." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Bolehkah kita memerangi mereka?" Beliau menjawab, "Jangan, selama mereka masih mendirikan salat di tengah kalian!"(HR. Muslim)

Maknanya: siapa yang membenci dengan hati dan tidak mampu mengingkari dengan tangan maupun lisan maka dia telah bebas dari dosa dan telah menunaikan tugasnya. Siapa yang mengingkari sesuai kemampuannya maka telah selamat dari maksiat itu. Tetapi, siapa yang rida dan mengikuti perbuatan mereka maka dia telah berbuat maksiat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Cara mengingkari kemaksiatan penguasa sesuai keadaan, disertai dengan pertimbangan maslahat dan mafsadatnya.

2) Disyariatkan mengangkat senjata bila mereka tidak menegakkan salat, dengan syarat hal tersebut tidak menimbulkan mafsadat dan mewujudkan maslahat besar.

3) Menjunjung tinggi kedudukan salat, karena siapa yang meninggalkannya berarti telah kafir.

4) Mengingkari kemungkaran adalah jalan keselamatan dan kemenangan. Di manakah orang-orang yang menegakkan syiar yang agung ini?

6/189- Keenam: Ummul-Ḥakam Zainab binti Jaḥsy -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk menemuinya dalam kondisi sangat cemas sambil mengucapkan,"Lā ilāha illallāh! Celakalah orang-orang Arab dari keburukan yang telah dekat. Hari ini telah dibuka sebesar ini dari tembok penghalang Yakjuj dan Makjuj." Beliau ucapkan ini sambil melingkarkan dua jarinya, yakni ibu jari dan yang dekat dengannya (telunjuk). Aku berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kami akan binasa sementara di tengah kami ada orang-orang saleh?" Beliau menjawab, "Ya, apabila banyak keburukan."(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

الرَّدْمُ (ar-radm): tembok penghalang. Bila Anda katakan, "Radamtu" maka maknanya: Anda memasang tembok penghalang.

الخَبَثُ (l-khabaṡ): keburukan berupa kefasikan dan perbuatan fujur, dan macam-macam maksiat lainnya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran berzikir kepada Allah ketika merasa cemas dan takut untuk mengukuhkan tauhid dan menenangkan hati.

2) Mengabarkan fitnah Yakjuj dan Makjuj untuk diwaspadai karena termasuk fitnah yang paling buruk.

3) Bila perbuatan buruk telah banyak menyebar di masyarakat tanpa pengingkaran, maka itu adalah sebab kebinasaan sekalipun ada orang-orang saleh, karena yang menjadi ukuran keselamatan adalah adanya usaha orang-orang yang memperbaiki di tengah umat. Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama (sebagian) penduduknya orang-orang yang melakukan perbaikan."(QS. Hūd: 117)7/190- Ketujuh: Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Hindarilah duduk-duduk di jalan!" Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Kami tidak bisa tidak mengadakan majelis guna berbincang-bincang." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika kalian tidak bisa kecuali harus duduk-duduk, maka berikanlah hak-hak jalan!" Mereka bertanya, "Apa hak jalan itu?" Beliau bersabda, "Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, serta menegakkan amar makruf dan nahi mungkar."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Larangan duduk-duduk di jalan karena dapat berakibat kepada keburukan-keburukan yang telah jelas.

2) Menundukkan pandangan termasuk ibadah yang wajib bagi orang yang duduk di jalan.

3) Wajib menahan diri dari mengganggu orang, baik berupa gangguan lisan maupun perbuatan.

4) Menebarkan salam di antara umat Islam akan melahirkan rasa saling cinta dalam hati mereka.

5) Amar makruf dan nahi mungkar termasuk kewajiban orang-orang yang duduk di jalan.

8/191- Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melihat cincin emas di tangan seorang laki-laki, lantas beliau melepasnya dan membuangnya. Beliau bersabda,"Salah seorang di antara kalian mengambil bara api neraka lalu meletakkannya di tangannya!"Setelah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pergi, dikatakan kepada laki-laki itu, "Ambillah cincinmu itu dan manfaatkan." Laki-laki tersebut menjawab, "Tidak, Demi Allah! Aku tidak akan mengambil cincin itu selamanya, karena cincin itu telah dibuang oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Diharamkan memakai emas bagi laki-laki; karena hal itu menyebabkan azab neraka.

2) Termasuk bijaksana menggunakan sikap keras dalam mengingkari kemungkaran bila dibutuhkan, karena bijaksana hakikatnya adalah menempatkan sesuatu pada tempat yang tepat.

3) Pengagungan para sahabat terhadap perintah-perintah Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta penjelasan ketulusan iman mereka ketika mereka melaksanakannya dengan cepat. Maka, di manakah orang-orang yang mau mengikuti mereka?!

9/192- Kesembilan: Abu Sa'īd Hasan Al-Baṣriy meriwayatkan bahwa 'Ā`iż bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhu- masuk menemui 'Ubaidillāh bin Ziyād. Lantas dia berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,Sesungguhnya sejelek-jelek penggembala (pemimpin) itu adalah yang kejam.'Maka jangan sampai engkau menjadi salah seorang dari mereka." 'Ubaidillāh berkata, "Duduklah, engkau hanyalah satu di antara kalangan rendahan sahabat Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." 'Ā`iż berkata, "Adakah pada generasi sahabat orang-orang rendahan? Sesungguhnya orang rendahan hanyalah ada di kalangan orang-orang setelah mereka atau di selain mereka."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

"الرِّعَاء" (ar-ri'ā`), dengan mengkasrah huruf "rā`" yang bermad, adalah bentuk jamak dari "رَاعٍ" (rā'in), artinya penggembala.

الحُطَمَة (al-ḥuṭamah): yang kejam terhadap rakyatnya, tidak bersikap lembut, melainkan dia membinasakan mereka.

نُخَالَةٌ (nukhālah), dikatakan "نُخَالَةُ الدَّقِيْقِ" artinya ampas. Maksudnya ialah ungkapan untuk sesuatu yang tidak dihiraukan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Komitmen para sahabat dalam mengerjakan amar makruf dan nahi mungkar serta mereka tidak takut dalam menyampaikan kebenaran.

2) Para sahabat seluruhnya adalah orang-orang mulia dan afdal, mereka adalah sebaik-baik generasi umat.

3) Orang yang paling baik adalah yang memberikan kemudahan dan lembut, khususnya bila ia seseorang yang memiliki jabatan.

10/193- Kesepuluh: Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya! Hendaklah kalian mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Atau (jika tidak) Allah akan menimpakan kepada kalian siksaan-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya lalu doa kalian tidak dikabulkan."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan")

Pelajaran dari Hadis:

1) Boleh bersumpah pada perkara-perkara yang penting.

2) Amar makruf dan nahi mungkar termasuk kewajiban yang paling besar.

3) Ancaman keras apabila umat meninggalkan amar makruf nahi mungkar. Tahukah kita bahwa dengan sebab itulah musibah menimpa kita?!

4) Meninggalkan perilaku saling mengingatkan kepada amar makruf nahi mungkar merupakan sebab tidak dikabulkannya doa.

11/194- Kesebelas: Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Jihad paling utama adalah menyampaikan keadilan di hadapan penguasa yang lalim."(HR. Abu Daud dan Tirmizi; Tirmizi berkata, "Hadisnya hasan")12/195- Kedua belas: Abu Abdillah Ṭāriq bin Syihāb Al-Bajaliy Al-Aḥmasiy -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- padahal dia sudah meletakkan kakinya pada pelana, "Jihad apakah yang paling utama?" Beliau menjawab,"Mengucapkan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim."(HR. An-Nasā`iy dengan sanad sahih)

الْغَرْز (al-garz), dengan "gain" berharakat fatah, kemudian "rā`" berharakat sukun dan "zāy", yaitu: kaki pelana unta yang terbuat dari kulit atau kayu. Sebagian berpendapat tidak khusus pada yang terbuat dari kulit dan kayu.

Kosa Kata Asing:

جَائِرٌ (jā`ir): orang zalim.

Pelajaran dari Hadis:

1) Di antara jihad yang paling besar adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang zalim karena hal itu akan mencegahnya dari kezalimannya.

2) Kewajiban menasihati penguasa zalim serta mengajak mereka kepada kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran.

Faedah Tambahan:

Mengingkari penguasa memiliki empat keadaan:

1) Menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang adil; ini hal yang mudah.

2) Menyampaikan kebatilan kepada penguasa yang adil; ini berbahaya karena dapat mengakibatkan sang penguasa dan yang menyampaikannya terfitnah.

3) Menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang zalim; ini adalah jihad yang paling utama.

4) Menyampaikan kebatilan kepada penguasa yang zalim; ini menyesatkan umat.

13/196- Ketiga belas: Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya awal mula terjadinya kekurangan (kesalahan) pada Bani Isrā`īl adalah dahulu seseorang (yang baik) bertemu dengan seseorang (yang berbuat maksiat) seraya berkata, 'Hai kamu! Takutlah kepada Allah dan tinggalkan apa yang kamu lakukan, sesungguhnya itu tidak halal bagimu.' Kemudian esoknya ia bertemu lagi dengan orang itu sementara orang itu masih dalam keadaan seperti sebelumnya. Namun hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi teman makan, minum, dan duduknya. Tatkala mereka melakukan itu, Allah hitamkan hati sebagian mereka karena hati yang lain."Kemudian beliau membaca ayat:"Orang-orang kafir dari Bani Isrā`īl telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Daud dan Isa Putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.Kamu melihat banyak di antara mereka tolong menolong dengan orang-orang kafir (musyrik). Sungguh, sangat buruk apa yang mereka lakukan untuk diri mereka sendiri ...Hingga firman-Nya:... orang-orang yang fasik."(QS. Al-Mā`idah: 78-81)Kemudian beliau bersabda,"Sungguh demi Allah! Hendaklah kalian mengajak kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar; agar kalian ambil tangan orang yang zalim dan kalian belokkan dia kepada kebenaran serta kalian menahannya pada kebenaran! Atau Allah akan menghitamkan hati sebagian kalian atas yang lain, lalu kalian dilaknat seperti mereka dilaknat."(HR. Abu Daud dan Tirmizi; Tirmizi berkata, "Hadisnya hasan") [5].

Ini adalah redaksi riwayat Abu Daud. Sedangkan dalam redaksi Tirmizi: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Manakala Bani Isrā`īl jatuh dalam maksiat, orang-orang berilmu dari mereka melakukan pengingkaran. Tetapi mereka tidak berhenti. Lalu orang-orang itu ikut duduk di majelis mereka, makan dan minum bersama. Maka Allah hitamkan hati sebagian mereka dengan yang lain, dan Allah melaknat mereka lewan lisan Daud dan Isa Ibnu Maryam. Yang demikian itu disebabkan maksiat mereka dan mereka selalu melampaui batas."Lٌalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk seraya bersandar. Kemudian beliau bersabda,"Tidak! Demi Allah yang jiwaku ada di Tangan-Nya! (Kalian tidak selamat) hingga kalian membelokkan mereka kepada kebenaran."Kalimat "تَأْطِرُوهم" (ta`ṭirūhum): kalian membelokkan mereka."ولْتَقْصُرُنَّهُ" (wal-taqṣurunnahu): agar kalian menahannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Waspada terhadap perilaku orang Yahudi yang menggabungkan antara mengerjakan kemungkaran dan menampakkannya serta tidak saling melarang darinya.

2) Diam terhadap perbuatan maksiat akan mendorong orang mengerjakannya serta menjadi sebab penyebarannya. Tidaklah kemungkaran tersebar pada umat ini kecuali dengan sebab didiamkan dan tidak diingkari.

3) Haram duduk bersama orang yang sedang melakukan kemungkaran, kecuali dengan tujuan untuk mengingkarinya.

4) Mengambil tangan orang zalim dan pelaku maksiat akan melahirkan kebahagiaan dan kesatuan kalimat umat. Sedangkan meninggalkannya akan mendatangkan laknat Allah -'Azza wa Jalla- serta perpecahan dan ketidakakuran.

5) Pengingkaran hati terhadap kemungkaran mengharuskan menjauhi pelaku kemungkaran itu.

14/197- Keempat belas: Abu Bakr Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Wahai sekalian manusia! Sungguh kalian telah membaca ayat ini:"Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk."(QS. Al-Mā`idah: 105)Sungguh aku telah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sungguh, apabila manusia melihat orang yang berbuat kezaliman lalu mereka tidak berusaha mencegahnya, hampir pasti Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka semua."(HR. Abu Daud, Tirmizi, dan An-Nasā`iy dengan sanad-sanad yang sahih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Wajib memperhatikan pemahaman kepada Kitab Allah -'Azza wa Jalla- dan Sunnah Nabi-Nya ṣallallāhu 'alaihi wa sallam; karena pada keduanya tersimpan permata ilmu.

2) Diharamkan menafsirkan Al-Qur`ān dengan akal semata, karena banyak orang jahil berdalil dengan ayat-ayat Al-Qur`ān untuk hal yang tidak benar.

3) Azab Allah akan menimpa orang yang berbuat zalim lantaran kezalimannya dan yang tidak berbuat zalim karena pembiarannya.

4) Wajib atas umat Islam saling tolong-menolong di atas kebajikan dan ketakwaan serta saling mengingatkan kepada kebenaran dan kesabaran.

 24- BAB HUKUMAN BERAT BAGI ORANG YANG MENGAJAK KEPADA KEBAIKAN ATAU MENCEGAH KEMUNGKARAN TETAPI PERBUATANNYA MENYELISIHI UCAPANNYA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Al-Qur`ān)? Tidakkah kamu mengerti?"(QS. Al-Baqarah: 44)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."(QS. Aṣ-Ṣaff: 2-3)Allah Ta'ālā juga berfirman mengisahkan perkataan Syu'aib -'alaihissalām-,"Aku tidak bermaksud menyalahi kalian terhadap apa yang aku larang darinya."(QS. Hūd: 88)

Pelajaran dari Ayat:

1) Besarnya ancaman dan murka Allah terhadap orang yang mengajak kepada kebaikan atau mencegah kemungkaran, namun perbuatannya menyelisihi ucapannya.

2) Orang yang melakukan itu maka dia telah menyelisihi jalan para rasul -'alaihim aṣ-ṣalātu was-salām-.

1/198- Abu Zaid Usāmah bin Zaid bin Ḥāriṡah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seseorang akan didatangkan pada hari Kiamat nanti, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka sehingga usus-usus dalam perutnya terburai. Lalu ia membawanya berputar seperti keledai berputar pada batu penggilingan. Para penghuni neraka lalu mengerumuninya seraya bertanya, "Wahai si polan! Kenapa kamu? Bukankah engkau dulu mengajak kepada perbuatan baik dan mencegah perbuatan mungkar?" Dia menjawab, "Benar. Dulu aku mengajak kepada kebaikan tapi tidak melaksanakannya, dan aku mencegah kemungkaran tapi justru melakukannya."(Muttafaq 'Alaih)Sabda Nabi: "تَنْدَلِقُ" (tandaliqu), dengan huruf "dāl", artinya keluar.الأَقْتَابُ (al-aqtāb): usus. Bentuk tunggalnya "قِتْبٌ" (qitbun).

Kosa Kata Asing:

الرَّحَا (ar-raḥā): batu penggilingan

Pelajaran dari Hadis:

1) Pemberitahuan serta peringatan terhadap siksaan orang yang perbuatannya menyelisihi ucapannya.

2) Di antara perkara gaib yang dikabarkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah sifat neraka dan penghuninya, sehingga wajib beriman kepada berita yang dibawa Nabi dan membenarkannya.

3) Mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran mencegah seseorang dari masuk neraka.

4) Wasiat Nabi agar seseorang memulai dengan memperbaiki diri sendiri secara ucapan dan perbuatan.

 25- BAB PERINTAH MENUNAIKAN AMANAH

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya."(QS. An-Nisā`: 58)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu amat zalim dan sangat bodoh."(QS. Al-Aḥzāb: 72)

Pelajaran dari Ayat:

- Amanah terbagi dua:

1) Amanah dalam hak-hak Allah; misalnya ibadah-ibadah kepada Allah -'Azza wa Jalla-, terutama tauhid, salat, dan lainnya.

2) Amanah dalam hak-hak manusia; misalnya berbakti kepada kedua orang tua, silaturahmi, mendidik anak, dan lainnya.

1/199- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tanda orang munafik ada tiga; apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyelisihi, dan apabila diberi amanah ia berkhianat." (Muttafaq 'Alaih)Dalam riwayat lain:"... sekalipun dia puasa dan salat dan meyakini dirinya muslim."

Kosa Kata Asing:

آيَةٌ (āyah): tanda

أخَلَفَ (akhlafa): tidak menunaikan janji

Pelajaran dari Hadis:

1) Pemberitaan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terhadap hadis ini mengandung dua hal: mengenal orang munafikin dan sifat mereka serta peringatan agar tidak jatuh ke dalam sifat-sifat ini. Sehingga hadis ini adalah berita sekaligus sebagai arahan.

2) Jujur dalam ucapan, memenuhi janji, dan menunaikan amanah merupakan sifat orang beriman, dan merupakan perkara yang wajib.

3) Orang muslim itu perbuatannya sesuai ucapannya:"Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."(QS. Aṣ-Ṣaff: 3)2/200- Ḥużaifah bin Al-Yamān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah menyampaikan dua peristiwa kepada kami; salah satunya telah kulihat dan aku masih menunggu yang lain. Beliau mengabarkan bahwa amanah turun ke lubuk hati orang-orang, kemudian Al-Qur`ān turun sehingga mereka mengetahuinya dari Al-Qur`ān, dan juga dari Sunnah. Kemudian beliau mengabarkan tentang diangkatnya amanah. Beliau bersabda,"Seseorang tidur sekali, lalu sifat amanah dicabut dari hatinya hingga jejaknya tinggal sedikit seperti titik. Kemudian ia tidur sekali lagi, lalu sifat amanah dicabut dari hatinya hingga jejaknya menjadi seperti bekas lepuhan, seperti bara api yang engkau gelindingkan di atas kakimu maka timbullah lepuhan; engkau melihatnya kembung tetapi tidak berisi apa pun."Kemudian beliau mengambil kerikil dan menggelindingkannya di atas kakinya."Lalu orang-orang melakukan jual beli tetapi hampir tidak ada seorang pun yang menunaikan amanah. Sehingga dikatakan di bani polan ada seorang yang amanah. Dikatakan kepada orang itu, 'Alangkah sabarnya, alangkah beruntungnya, alangkah cerdiknya!' Padahal di dalam hatinya tidak terdapat keimanan walau seberat biji sawi. Telah datang kepadaku sebuah zaman di mana aku tidak peduli berjual beli dengan siapa di antara kalian. Bila dia seorang muslim, maka agamanya akan mencegahnya. Bila dia seorang nasrani atau yahudi, maka dia akan dicegah oleh penguasanya. Adapun hari ini, aku tidak berjual beli kecuali dengan si polan dan polan di antara kalian."(Muttafaq ‘Alaih)Ucapan Nabi: "جَذْرُ" (jażrun), dengan memfatahkan huruf "jīm", dan mensukunkan "żāl", artinya: pokok sesuatu.الْوَكْتُ (al-waktu), dengan huruf "tā`", artinya: sedikit bekas.Sedangkan "الْمَجْلُ" (al-majlu), dengan memfatahkan "mīm" dan mensukunkan "jīm", yaitu lepuhan pada tangan atau lainnya akibat bekerja dan semisalnya.Perkataan Ḥużaifah: "مُنْتَبِراً" (muntabiran), artinya kembung.سَاعِيهِ (sā'īhi): penguasanya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Akhlak dalam Islam lebih dalam dan tinggi dari definisi kemanusiaan di masa sekarang, karena akhlak menembus perkara lahiriah yang dapat dilihat kepada perbuatan hati dan rahasia jiwa.

2) Akhlak Islam lahir dari Al-Qur`ān dan Sunnah karena keduanya mengandung akhlak dan pendidikan sempurna.

3) Akhlak dapat dirubah, kalau tidak maka pendidikan tidak ada gunanya.

4) Akhlak dan iman adalah dua hal yang bergandengan; bila salah satunya hilang maka yang lain juga hilang.

5) Di antara tanda kiamat; hilangnya amanah, sehingga orang yang amanah dianggap pengkhianat dan pengkhianat dianggap orang yang amanah.

3/201- Ḥużaifah dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- kelak akan mengumpulkan manusia, kemudian orang-orang mukmin berdiri hingga surga didekatkan kepada mereka. Lantas mereka mendatangi Adam -ṣalawātullāh 'alaihi- seraya berkata, 'Wahai bapak kami! Mintakanlah agar surga ini dibukakan untuk kami.' Beliau menjawab, 'Bukankah yang mengeluarkan kalian dari surga adalah dosa bapak kalian? Aku tidak pantas memintakan hal ini untuk kalian. Pergilah ke tempat anakku, Ibrahim Khalīlullāh.' Lantas mereka mendatangi Ibrahim. Ibrahim berkata, 'Aku tidak pantas memintakan hal ini untuk kalian. Aku hanyalah khalīlullāh yang berada di belakang sekali. Pergilah kepada Musa yang diajak bicara langsung oleh Allah.' Mereka akhirnya mendatangi Musa. Musa berkata, 'Aku tidak pantas memintakan hal ini untuk kalian. Pergilah kepada Isa; kalimat dan ruh Allah.' Isa berkata, 'Aku tidak pantas memintakan hal ini untuk kalian.' Selanjutnya mereka mendatangi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka beliau berdiri dan diizinkan untuk membukanya. Kemudian amanah dan kasih sayang diutus, dan keduanya berdiri di kedua sisi jembatan (sirat); sisi kanan dan kiri. Orang pertama dari kalian melintasinya secepat kilat." Aku bertanya, "Bapak dan ibuku sebagai tebusan engkau, seperti apa secepat kilat itu?" Beliau menjawab, "Tidakkah kalian melihat bagaimana kilat datang dan pergi hanya dalam sekejap mata? Lalu ada yang melewatinya secepat angin, lalu secepat burung dan bagaikan orang yang berlari kencang. Semua itu tergantung amal mereka. Sementara itu Nabi kalian berdiri di atas jembatan sambil berdoa, 'Wahai Rabb-ku! Selamatkanlah. Selamatkanlah.' Sampai pada giliran orang-orang yang amal baiknya sedikit, hingga datang seseorang yang tidak bisa berjalan melainkan dengan merangkak. Di kedua sisi jembatan tergantung alat-alat pengait dari besi yang diperintahkan untuk mengambil orang-orang yang harus diambilnya. Di antara mereka ada yang terluka tetapi selamat, dan ada pula yang tercabik-cabik lalu dilemparkan ke dalam neraka.'" Abu Hurairah berkata, "Demi Zat yang jiwa Abu Hurairah berada di tangan-Nya! Sesungguhnya dasar neraka Jahanam itu sejauh perjalanan tujuh puluh tahun."(HR. MuslimUcapan Ibrahim: "وَرَاءَ وَرَاءَ" (warā`a warā`a), dengan memfatahkan "hamzah" pada keduanya, ada yang berpendapat dengan damah tanpa tanwin (warā`u warā`u), maknanya: aku tidaklah setinggi tingkatan itu. Ini adalah ungkapan yang disebutkan sebagai bentuk tawaduk.Adapun maknanya maka telah aku paparkan secara luas dalam Syarah Ṣaḥīḥ Muslim. Wallāhu a'lam.

Kosa Kata Asing:

تُزْلَفَ (tuzlafu): didekatkan

شَدُّ الرِّجَالِ (syaddur-rijāl): lari kencang.

تَعْجِزَ أَعْمَالُ الْعِبَادِ: amal saleh mereka tidak kuat membawa mereka berjalan.

كَلَالِيْب (kalālīb), bentuk jamak dari "كَلُّوب" (kallūb), artinya: kayu yang di ujungnya dipasang pengait dari besi.

مُكَرْدَسٌ (mukardas): sesuatu ditumpuk sebagian di atas yang lain.

مَخْدُوْشٌ (makhdūsy): terluka dan tercabik.

الخَرِيْفُ (al-kharīf): tahun.

Pelajaran dari Hadis:

1) Surga tidak dibuka kecuali setelah diminta oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebagai pemberi syafaat.

2) Ketawadukan para nabi -'alaihimuṣ-ṣalātu was-salām-; masing-masing mengalihkan perkara itu kepada yang lain.

3) Mengagungkan kedudukan amanah dan rahim; keduanya akan berdiri di kedua sisi sirat.

4) Kondisi seorang hamba ketika melewati sirat sesuai dengan amal salehnya. Sebab itu, hendaklah seseorang mengusahakan amal saleh yang akan membawanya berjalan di atas sirat secara mudah.

4/202- Abu Khubaib -dengan "khā`" yang berharakat damah- Abdullah bin Az-Zubair -raḍiyallāhu 'anhumā- menceritakan, "Ketika Az-Zubair berdiri (menghadapi musuh) pada perang Jamal, ia memanggilku. Aku pun berdiri di sampingnya. Dia berkata, 'Wahai anakku! Sungguh, tidaklah terbunuh pada hari ini melainkan orang yang zalim atau dizalimi. Aku melihat bahwa aku akan terbunuh pada hari ini sebagai orang yang dizalimi. Sesungguhnya beban terbesar yang membuatku gusar adalah utangku. Apakah menurutmu utang kita (bila terlunasi) masih menyisakan sebagian dari harta kita?' Lalu ia berkata, 'Wahai anakku! Jual sajalah harta kita (yang tersisa) dan lunasilah utangku!' Az-Zubair mewasiatkan sepertiga hartanya dan sepertiga dari sepertiga (sepersembilan) untuk anak-anaknya, yaitu anak-anak Abdullah bin Az-Zubair. Ia berkata, 'Jika ada kelebihan harta kita setelah pelunasan utang, maka sepertiganya untuk anak-anakmu.' Hisyām menyatakan bahwa saat itu beberapa orang anak Abdullah sepadan usianya dengan sebagian anak-anak Az-Zubair; yaitu Khubaib dan 'Abbād. Ketika itu, Az-Zubair memiliki sembilan orang putra dan sembilan putri." Abdullah berkata, "Selanjutnya Az-Zubair mewasiatkan kepadaku perihal utangnya dan berkata, 'Wahai anakku, jika ada dari utang itu tidak engkau mampu lunasi, mintalah pertolongan kepada penolongku!'" Abdullah berkata, "Demi Allah, aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya, hingga aku bertanya, 'Wahai ayahanda! Siapakah penolongmu itu?' Dia menjawab, 'Allah.'" Abdullah berkata, "Demi Allah! Tidaklah setiap kali aku mengalami kesulitan untuk melunasi utangnya melainkan aku berkata, 'Wahai Penolong Az-Zubair! Lunasilah utangnya.' Maka Allah pun melunasinya." Abdullah berkata, "Maka Az-Zubair pun terbunuh. Dan dia tidak meninggalkan sekeping dinar ataupun dirham kecuali beberapa bidang tanah, di antaranya tanah hutan (di Awālī kota Madinah), 11 buah rumah di Madinah, 2 buah rumah di Baṣrah, 1 buah rumah di Kufah, dan 1 buah rumah di Mesir." Abdullah berkata, "Sebenarnya, sebab utang Az-Zubair ialah ketika ada seseorang datang membawa harta guna menitipkannya, maka Az-Zubair berkata, 'Jangan dititipkan. Tetapi jadikanlah sebagai pinjaman. Sesungguhnya aku khawatir kalau harta itu hilang.' Sama sekali Az-Zubair tidak pernah memegang jabatan negara, amil zakat, pekerja kharāj (cukai tanah), dan lainnya. Dia hanya berperang bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Abu Bakar, Umar, dan Usman -raḍiyallāhu 'anhum-." Abdullah berkata, "Lantas aku menghitung utangnya. Ternyata aku dapatkan utang itu sebanyak dua juta dua ratus ribu (dirham)! Ḥakīm bin Ḥizām lalu menemuiku dan berkata, 'Wahai anak saudaraku! Berapa utang tanggungan saudaraku?' Aku menyembunyikan jumlah sebenarnya dan berkata, 'Seratus ribu.' Ḥakīm berkata, 'Demi Allah! Aku lihat harta kalian tidak akan cukup untuk melunasi utang itu.' Abdullah berkata, 'Kalau begitu, bagaimana pendapatmu jika utangnya yang sebenarnya adalah dua juta dua ratus ribu?' Hakīm menjawab, 'Aku kira kalian tidak akan mampu melunasi utang itu. Jika kalian merasa tidak mampu untuk melunasi utang itu, silakan menghubungiku!' Abdullah berkata, "Az-Zubair pernah membeli tanah hutan itu seharga seratus tujuh puluh ribu." Lantas Abdullah menjual tanah itu seharga satu juta enam ratus ribu. Dia berdiri dan berkata, "Siapa yang pernah mengutangi Az-Zubair, agar dia mengambil uangnya dalam bentuk tanah hutan itu." Kemudian datanglah Abdullah bin Ja'far. Dia pernah memberi utang kepada Az-Zubair sebanyak empat ratus ribu. Ia berkata kepada Abdullah, "Jika engkau mau, utang itu aku bebaskan untuk kalian?" Abdullah berkata, "Tidak." Abdullah bin Ja'far berkata, "Sekiranya kalian mau, pelunasannya bisa diakhirkan." Abdullah bin Az-Zubair menjawab, "Tidak." Abdullah bin Ja'far berkata, "Kalau begitu, tentukanlah bagian tanahku." Abdullah bin Az-Zubair berkata, "Bagianmu dari batas ini sampai ke batas itu." Abdullah bin Az-Zubair lalu menjual sebagian tanah itu dan ia pun melunasi semua utang ayahnya. Tersisa dari tanah itu empat setengah kaveling. Lalu dia datang ke Muawiyah dan ketika itu di dekatnya ada 'Amr bin Uṡmān, Munżir bin Az-Zubair, dan Ibnu Zam'ah. Muawiyah bertanya, "Berapa engkau hargai tanah itu?" Abdullah menjawab, "Tiap satu bagian seharga seratus ribu." Ia bertanya pula, "Kini tinggal berapa bagian?" Ia menjawab, "Empat setengah bagian." Al-Munżir bin Az-Zubair berkata, "Aku ambil satu bagian seharga seratus ribu." 'Amr bin Uṡmān berkata, "Aku ambil satu bagian seharga seratus ribu." Ibnu Zam'ah berkata, "Aku ambil satu bagian seharga seratus ribu." Mu'awiyah berkata, "Berapa bagian kini yang tersisa?" Ia menjawab, "Satu setengah bagian." Ia berkata, "Baiklah, aku ambil satu setengah bagian dengan harga seratus lima puluh ribu." Abdullah bin Az-Zubair berkata, "Abdullah bin Ja'far menjual bagiannya kepada Mu'awiyah dengan harga enam ratus ribu. Setelah Abdullah bin Az-Zubair menyelesaikan utang ayahnya, anak-anak Az-Zubair berkata, "Bagilah hak warisan kita masing-masing!" Abdullah bin Az-Zubair berkata, "Demi Allah! Aku tidak akan membagikannya kepada kalian semua, sampai aku membuat pengumuman pada musim haji selama empat tahun, 'Siapa yang pernah memberikan utang kepada Az-Zubair, hendaklah datang ke tempat kami, kami akan melunasinya!' Demikianlah setiap tahun dia mengumumkannya pada musim haji. Setelah berlalu empat tahun, Abdullah membagikan harta warisan itu di antara mereka dan menyerahkan sepertiga wasiatnya. Az-Zubair meninggalkan empat orang istri, masing-masing memperoleh jatah satu juta dua ratus ribu. Jadi, total harta peninggalan Az-Zubair ialah lima puluh juta dua ratus ribu (dirham)."(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

يَوْمُ الْجَمَلِ (perang Jamal): perang terkenal yang terjadi di antara kaum muslimin, dua pihak yang berperang adalah Amīrul-Mu`minīn Ali bin Abi Ṭālib dan Ummul-Mu`minīn Aisyah Aṣ-Ṣiddīqah -raḍiyallāhu 'anhā-.

الغَابَةُ (al-gābah): tanah terkenal di bagian 'Awālī, Kota Madinah.

الضَّيْعَةُ (aḍ-ḍai'ah): hilang dan musnah.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran untuk menjaga penunaian amanah.

2) Beratnya perkara utang dan anjuran bersegera menunaikan utang sebelum mati.

3) Siapa yang mengetuk pintu langit dengan doa dan kembali kepada Allah serta menjadikan Allah sebagai penolongnya, maka Allah akan mencukupinya, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- tidak akan menyia-nyiakan hamba yang berharap kepada-Nya.

Faedah Tambahan:

Perang yang terjadi di antara para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- memiliki takwil atau alasan yang benar. Imam Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh- menjelaskan di dalam buku Al-'Aqīdah Al-Wāṣīṭīyyah,

"Ahli Sunah menahan diri dari apa yang terjadi di antara para sahabat. Mereka mengatakan, bahwa riwayat-riwayat yang disampaikan tentang keburukan mereka sebagiannya dusta dan yang lainnya ditambah dan dikurangi serta dirubah dari alur sebenarnya. Sedangkan yang sahih, mereka memiliki uzur dalam hal itu. Antara mereka berijtihad dan benar atau berijtihad tetapi salah ... Mereka memiliki kelebihan dan keutamaan-keutamaan yang akan menghapuskan apa yang terjadi pada mereka -jika benar terjadi-, bahkan mereka akan diampuni pada kesalahan-kesalahan yang tidak diampuni bagi orang setelah mereka, karena mereka memiliki kebaikan yang akan menghapuskan kesalahan-kesalahan di mana hal itu tidak akan diberikan kepada orang setelah mereka ...Kemudian, bila benar telah terjadi dari salah seorang mereka sebuah dosa, bisa jadi dia telah bertobat darinya, atau dia telah mengerjakan kebaikan-kebaikan yang akan menghapusnya, ataupun dia diampuni dengan keutamaan sebagai orang yang pertama-tama masuk Islam atau dengan syafaat Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ... atau dia diuji dengan sebuah ujian dunia lalu dengan itu dia diampuni ...Lagi pula hal yang diingkari dari perbuatan sebagian mereka berjumlah sedikit sekali bila dibandingkan dengan banyaknya keutamaan dan kebaikan mereka, berupa iman kepada Allah dan Rasul-Nya, jihad di jalan Allah, hijrah, pembelaan agama, penyebaran ilmu bermanfaat, dan amal saleh. Siapa yang memperhatikan perjalanan hidup mereka dengan ilmu dan pengetahuan, serta memperhatikan keutamaan-keutamaan yang Allah anugerahkan kepada mereka, dia dapat menyimpulkan secara pasti bahwa mereka adalah sebaik-baik makhluk setelah para nabi, tidak ada yang menyamai mereka di zaman dahulu dan yang akan datang. Mereka adalah orang-orang pilihan di antara umat ini yang merupakan sebaik-baik dan semulia-mulia umat bagi Allah."Selesai secara ringkas.

 26- BAB PENGHARAMAN KEZALIMAN DAN PERINTAH MENGEMBALIKAN HAK ORANG YANG TERZALIMI

Allah --Ta'ālā-- berfirman,"Tidak ada seorang pun teman setia bagi orang zalim dan tidak ada baginya seorang pemberi syafaat yang diterima (syafaatnya)."(QS. Gāfir: 18)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Bagi orang-orang yang zalim tidak ada seorang penolong pun."(QS. Al-Ḥajj: 71)

Faedah:

 Kezaliman terbagi dua:

1- Kezaliman terkait hak Allah -'Azza wa Jalla-; seperti kesyirikan, bidah, dosa besar, dan dosa kecil.

2- Kezaliman terkait hak manusia; yaitu pada darah, harta, dan kehormatan mereka.

Adapun hadis-hadis yang terkait bab ini adalah:

Di antaranya hadis Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- yang telah disebutkan di akhir Bab Mujāhadah.

1/203- Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Jauhilah perbuatan zalim, karena sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan pada hari Kiamat. Dan jauhilah sifat kikir, karena kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir telah menyebabkan mereka menumpahkan darah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan atas mereka."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

اتَّقُوا الظُّلْمَ: jauhilah perbuatan zalim.

الشُّحُّ (asy-syuḥḥ): tamak terhadap harta disertai kikir.

Pelajaran dari Hadis:

1) Perbuatan zalim dan sikap kikir termasuk dosa besar yang dapat menyebabkan kebinasaan di dunia dan kesengsaraan besar hari Kiamat.

2) Kikir bukanlah sifat orang beriman, karena di antara sifat orang beriman adalah dermawan dan murah hati.

2/204- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sungguh, hak-hak itu akan ditunaikan kepada pemiliknya pada hari Kiamat, sampai-sampai seekor kambing tanpa tanduk pun diberi hak membalas kepada kambing yang bertanduk."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

يُقاد (yuqādu): dikisas.

الْجَلْحَاءِ (al-jalḥā`): yang tidak bertanduk.

الْقَرْنَاءُ (al-qarnā`): yang bertanduk.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban menunaikan hak kepada pemiliknya.

2) Hak makhluk tidak akan dilewatkan sampai ditunaikan kepada pemiliknya.

3) Sempurnanya keadilan Allah -'Azza wa Jalla- hingga dalam menunaikan hak di antara sesama hewan. Karena itu, hendaklah orang yang menzalimi manusia takut kepada Allah!

3/205- Ibnu Umar -raḍiyyallāhu 'anhumā- menceritakan, Kami berbincang-bincang tentang haji wadak sedangkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masih hidup di tengah-tengah kami. Kami tidak tahu apa haji wadak itu? Hingga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhotbah dengan memuji dan menyanjung Allah kemudian menyebutkan tentang Almasih Dajal dan menjelaskan tentangnya secara panjang lebar. Beliau bersabda,"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali dia mengingatkan umatnya tentang Dajal. Nuh telah memperingatkannya kepada umatnya dan juga nabi-nabi yang datang setelahnya. Sungguh, jika Dajal keluar pada kalian maka kalian tidak akan susah mengetahuinya. Tidak samar bagi kalian bahwa Rabb kalian tidaklah buta sebelah, sedangkan Dajal buta mata sebelah kanannya. Matanya seperti buah anggur yang menonjol. Ketahuilah! Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada sesama kalian darah dan harta kalian, sebagaimana haramnya hari ini, di negeri ini, dan bulan ini. Ketahuilah! Apakah aku telah menyampaikan?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Ya Allah, saksikanlah! (sebanyak tiga kali). Celakah kalian, janganlah kalian kembali menjadi kafir sepeninggalku, sehingga sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lainnya!"(HR. Bukhari, dan sebagiannya diriwayatkan juga oleh Muslim)

Kosa Kata Asing:

أَطْنَبَ (aṭnaba): berlebihan, panjang lebar.

طَافِيَةٌ (ṭāfiyah): menonjol

Pelajaran dari Hadis:

1) Besarnya bahaya fitnah Dajal terhadap manusia serta peringatan semua nabi darinya.

2) Pengharaman darah, harta, dan kehormatan kaum muslimin dan sikap melampauinya termasuk kezaliman yang diharamkan.

3) Larangan saling memerangi, karena ia merupakan perbuatan orang-orang kafir dan termasuk kezaliman hamba kepada yang lain.

4/206- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang berbuat zalim (dengan mengambil) sejengkal tanah, maka itu akan dikalungkan padanya sejumlah tujuh lapis bumi."(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

قِيدَ شِبْرٍ (qaida syibrin): seukuran satu jengkal.

طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ: tujuh lapis bumi dijadikan sebagai kalung di lehernya, dia memikulnya di hadapan manusia, untuk menghinakannya pada hari Kiamat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Merampas tanah termasuk dosa besar, karena merupakan kezaliman yang diancam dengan siksa.

2) Balasan akan sejenis dengan perbuatan, yaitu orang yang berbuat zalim akan disiksa oleh Allah -Ta'ālā- sejenis dengan kezalimannya.

Faedah Tambahan:

Orang yang memiliki tanah dengan kepemilikan yang sah juga memiliki apa yang terkandung di bawah tanah tersebut. Sehingga tidak boleh bagi siapa pun untuk membuat saluran di bawah tanahnya kecuali dengan seizinnya. Apa yang didapatkan di dalam perut tanahnya menjadi miliknya.

5/207- Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya Allah membiarkan orang yang zalim. Namun, apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya." Selanjutnya beliau membaca ayat:"Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, lagi sangat berat."(QS. Hūd: 102)(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

يُمْلِيْ (yumlī): membiarkan dan menunda.

Pelajaran dari Hadis:

1) Orang yang berbuat zalim tidak boleh tertipu dengan dirinya maupun dengan pembiaran Allah kepadanya.

2) Allah akan menangguhkan orang-orang yang zalim agar dosa mereka bertambah lalu diazab dengan azab yang berlipat.

6/208- Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- mengisahkan: Aku diutus oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seraya beliau bersabda,"Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka serulah mereka kepada syahadat bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan aku adalah utusan Allah. Jika mereka menaatimu dalam masalah ini, sampaikan kepada mereka bahwasanya Allah telah mewajibkan kepada mereka lima kali salat setiap hari dan malam. Jika mereka telah menaatimu dalam masalah itu, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat kepada mereka, yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang-orang miskin mereka. Jika mereka menaatimu dalam masalah itu, maka tinggalkanlah harta-harta mereka yang bagus. Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi karena tidak ada penghalang apapun antara doanya dengan Allah."(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

كَرَائِم (karā`im): yang bagus.

Pelajaran dari Hadis:

1) Perkara pertama yang didakwahkan kepada manusia adalah syahadat lā ilāha illallāh, karena tauhid adalah kewajiban paling pertama terhadap hamba.

2) Urgensi salat dan zakat karena keduanya adalah rukun Islam paling utama setelah dua kalimat syahadat.

3) Diharamkan berbuat zalim sehingga tidak boleh bagi amil zakat untuk mengambil lebih dari yang diwajibkan.

4) Doa orang yang dizalimi mustajab, baik dia muslim maupun kafir, karena Allah telah mengharamkan perbuatan zalim di antara hamba.

7/209- Abu Ḥumaid As-Sā'idiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengangkat seorang dari Bani Al-Azd bernama Ibnu Al-Lutbiyyah sebagai amil zakat. Ketika dia datang (ke Madinah), dia berkata, "Ini (zakat) untuk kalian dan ini hadiah yang diberikan untukku." Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri di atas mimbar dan memuji Allah serta menyanjung-Nya lalu bersabda,"Ammā ba'du. Sesungguhnya aku telah mengangkat seseorang di antara kalian untuk melakukan tugas yang telah diberikan Allah kepadaku lalu orang itu datang dan berkata, 'Ini (zakat) untuk kalian dan ini hadiah untukku.' Sekiranya dia benar, kenapa dia tidak duduk saja di rumah bapak atau ibunya hingga hadiah itu datang. Demi Allah, tidaklah seseorang di antara kalian mengambil sesuatu tanpa hak, kecuali dia bertemu dengan Allah -Ta'ālā- sambil membawa apa yang diambilnya pada hari Kiamat. Maka jangan sampai aku mengetahui salah seorang dari kalian bertemu Allah sambil membawa unta yang bersuara atau sapi yang melenguh atau kambing yang mengembik."Selanjutnya beliau mengangkat kedua tangannya hingga terlihat warna putih kedua ketiaknya, lalu bersabda, "Ya Allah! Aku sudah menyampaikan." (tiga kali)(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

رُغَاءٌ (rugā`): suara unta.

خُوَار (khuwār): suara sapi.

تَيْعَر (tai'ar): mengembik. Adapun "اليَعَارُ" (al-ya'ār) adalah suara kambing.

عُفْرَةُ إِبْطَيْهِ ('ufrah ibṭaihi): warna putih tidak terang pada kedua ketiaknya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Hadiah kepada para petugas atau pegawai adalah bentuk suap dan sogokan, dan petugas tidak boleh memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi.

2) Tidak ada orang yang berbuat zalim kecuali akan datang pada hari Kiamat dengan membawa kezalimannya. Kezaliman adalah amalan mudah yang membawa bahaya bagi pelakunya.

3) Metode Nabi dalam memberi nasihat dan peringatan adalah menggunakan bahasa umum, tidak bertujuan membuat malu di depan umum, karena yang seperti ini lebih meluas faedahnya dan tidak mencemarkan nama orang.

8/210- Abu Hurairah raḍiyallāhu 'anhu meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Siapa saja yang pernah melakukan suatu kezaliman terhadap saudaranya, baik itu pada harga diri ataupun ‎perkara lain, maka hendaklah ia meminta untuk dihalalkan pada saat ini sebelum datang hari ketika dinar dan ‎dirham sudah tidak berlaku; yaitu jika dia memiliki amal saleh maka akan diambil dari pahala amalan salehnya sebanyak kezalimannya, dan ‎jika ia tidak memiliki kebaikan, maka akan diambil dosa orang yang dizaliminya kemudian dibebankan kepadanya."(HR. Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Seorang hamba wajib meminta maaf dari perbuatan zalimnya kepada saudaranya, sekalipun perbuatan zalim itu kecil.

2) Perkara kezaliman sangat berbahaya dan hak manusia pasti akan dikembalikan kepadanya, baik di dunia maupun di akhirat.

Faedah Tambahan:

Sebagian ulama berpendapat dalam masalah celaan terhadap kehormatan atau nama baik; bila celaan itu belum sampai kepada orang yang dizalimi maka dia tidak butuh untuk diberitahukan agar pemberitahuan itu tidak merusak hubungan mereka. Orang yang mencela itu cukup meminta ampun dan berdoa untuk orang yang dia zalimi serta menyebutkan kebaikannya di tempat dia mencelanya. Dengan cara itu dia telah melepaskan dirinya dari dosa tersebut.

9/211- Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah."(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Muslim sejati adalah orang yang selamat kaum muslimin lainnya dari lisan dan tangannya; yaitu dia tidak mencela dan melaknat mereka, tidak menggibah, dan tidak menzaliminya dengan pukulan, gangguan, atau semisalnya.

2) Perbuatan zalim bisa terjadi dengan lisan dan anggota badan, sementara pelakunya berada pada bahaya yang besar.

10/212- Masih dari Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia meriwayatkan, "Dahulu ada seseorang yang bekerja membawa barang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang dipanggil Kirkirah. Lalu dia meninggal dunia. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Dia di neraka.' Para sahabat pun pergi untuk melihat keadaannya dan mereka dapati padanya pakaian (mantel) hasil rampasan perang (ganimah) yang diambilnya dengan diam-diam."(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

ثَقْلٌ (ṡaql): barang-barang yang berat dibawa.

الغُلُوْلُ (al-gulūl): bentuk pengkhianatan, yaitu mengambil sebagian ganimah sebelum dibagi.

Pelajaran dari Hadis:

1) Pengharaman gulūl, baik sedikit maupun banyak; yaitu harta yang diambil tidak dengan cara yang benar.

2) Berkhianat dalam harta kaum muslimin yang bersifat umum merupakan dosa besar, baik sedikit maupun banyak.

11/213- Abu Bakrah Nufai' bin Al-Ḥāriṡ Aṡ-Ṡaqafiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan dan di antaranya ada empat bulan yang suci. Tiga berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah dan Muharam. Kemudian Rajab Muḍar, antara Jumadil akhir dan Syakban." Kemudian Nabi bertanya, "Bulan apakah sekarang?"Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau kemudian diam, sehingga kami menyangka bahwa beliau akan memberinya nama lain. Beliau berkata, "Bukankah ini bulan Zulhijah?" Kami menjawab, "Ya, benar."Beliau bertanya lagi, "Negeri apakah ini?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau terdiam lagi sehingga kami menyangka bahwa beliau akan memberinya nama lain selain dari nama yang biasa. Kemudian beliau bersabda, "Bukankah ini tanah haram?" Kami menjawab, "Benar."Beliau bertanya lagi, "Hari apakah ini?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Kemudian beliau diam sehingga kami menyangka beliau akan memberinya nama lain selain dari namanya yang biasa. Lalu beliau bersabda, "Bukankah hari ini hari Nahar?" Kami menjawab, "Benar." Beliau bersabda,"Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah terlindungi bagi kalian semua sebagaimana sucinya hari kalian ini, di negeri kalian ini, dan di dalam bulan kalian ini. Dan kalian semua akan menemui Rabb kalian, lalu Dia akan menanyakan semua perihal amalan perbuatan kalian. Ingatlah! Janganlah kalian semua kembali menjadi orang-orang kafir sepeninggalku nanti, dengan saling membunuh. Ingatlah! Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Mungkin saja orang yang diberi tahu akan lebih paham daripada yang mendengar langsung." Kemudian beliau bersabda, "Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan ini?! Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan ini?!" Kami menjawab, "Benar." Beliau bersabda, "Ya Allah, saksikanlah!"(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

اِسْتَدَارَ (istadāra): berputar, dan dijelaskan dengan sabda beliau: "Setahun itu ada dua belas bulan."

رَجَبُ مُضَرَ (rajab muḍar); Rajab dinisbahkan kepada kabilah Muḍar karena mereka yang paling menjaga kesuciannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Peringatan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terhadap umat beliau agar tidak saling memerangi di antara mereka.

2) Menyiarkan momen besar ketika haji wadak, di dalamnya terdapat wasiat agar menunaikan hak-hak sesama muslim dan menahan diri dari perbuatan zalim.Orang yang diberikan taufik adalah yang menjaga wasiat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

3) Darah, harta, dan kehormatan seorang muslim terlindungi (haram) bagi saudaranya seagamaو dan melanggar hak ini merupakan kezaliman besar.

12/214- Abu Umāmah Iyās bin Ṡa'labah Al-Ḥāriṡiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang mengambil hak seorang muslim secara zalim dengan sumpahnya maka Allah menetapkan neraka baginya serta mengharamkan surga baginya." Seorang lelaki berkata, "Meskipun sesuatu yang remeh, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Meskipun satu batang pohon Arāk (yang batangnya sebagai siwak)."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

أَرَاك (arāk): pohon terkenal, batangnya digunakan sebagai siwak.

Pelajaran dari Hadis:

1) Haram merampas hak orang lain. Hak itu harus diberikan kepada pemiliknya, walaupun sesuatu yang kecil.

2) Hak manusia akan menghalangi perampasnya dari masuk surga hingga ditunaikan kepada pemiliknya.

13/215- 'Adī bin 'Umairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa saja yang kami serahi sebuah tugas, lalu ia menyembunyikan sebuah jarum atau yang lebih besar dari itu maka itu termasuk gulūl (pengkhianatan), kelak pada hari Kiamat ia akan datang dengan membawanya."Lantas seorang laki-laki hitam dari golongan Ansar berdiri menuju beliau. Seolah-olah aku masih melihatnya. Dia berkata, "Ya Rasulullah! Bebaskan aku dari pekerjaan yang engkau tugaskan aku mengerjakannya." Rasulullah bertanya, "Ada apa denganmu?" Ia menjawab, "Aku mendengar engkau bersabda begini dan begini." Beliau bersabda,"Sekarang aku katakan, siapa saja yang kami serahi suatu tugas pekerjaan hendaklah dia membawanya, sedikit maupun banyak. Apa yang diberikan kepadanya dari pekerjaan itu, maka ia boleh mengambilnya. Dan apa yang dilarang untuk dirinya, maka janganlah ia mengambilnya."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

مِخْيَطًا (mikhyaṭan): jarum yang keras.

اقْبَلْ عَنِّي عَمَلَكَ: bebaskan aku dari pekerjaan yang engkau tugaskan aku mengerjakannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Siapa yang diamanahi harta kaum muslimin, maka dia wajib menjaganya dan menyampaikannya kepada yang berhak.

2) Kegigihan seseorang untuk menjauhkan diri dari jabatan, karena hal itu rentan menimbulkan kelalaian dalam memenuhi haknya.

14/216- Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Seusai perang Khaibar, beberapa orang sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pulang dan mengatakan, "Polan syahid, polan syahid." Hingga ketika mereka menyebut seseorang dengan mengatakan, "Polan mati syahid", Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidak, sungguh aku melihatnya di neraka mengenakan pakaian atau mantel yang dia sembunyikan."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

غلّها (gallahā): menyembunyikannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Tidak boleh menyatakan kata syahid kepada orang tertentu, karena syahid di sisi Allah -Ta'ālā- adalah yang berperang dengan niat demi meninggikan kalimat Allah, dan tidak ada yang dapat mengetahui isi hati kecuali Allah -'Azza wa Jalla-.

2) Terbunuh di jalan Allah tidak menggugurkan hak manusia.

15/217- Abu Qatādah Al-Ḥāriṡ bin Rib'iy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwasanya beliau berdiri di tengah-tengah para sahabat lalu menyebutkan bahwa jihad di jalan Allah dan iman kepada-Nya adalah amal yang paling utama. Lantas seorang lelaki berdiri lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan dihapus?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ya, jika engkau terbunuh di jalan Allah dalam keadaan bersabar mengharapkan pahala, dan maju menghadapi musuh tidak mundur."Kemudian Rasululullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bagaimana pertanyaanmu?" Orang itu menjawab, "Bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan dihapus?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ya, kalau engkau bersabar dan mengharap pahala, maju menghadap musuh tidak mundur, kecuali bila Anda memiliki utang. Sesungguhnya Jibril mengatakan hal itu kepadaku."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Syahid adalah orang yang mati di jalan Allah dengan sabar penuh ikhlas dan maju menghadapi musuh, tidak lari; yang seperti ini diharapkan dosanya akan dihapus, kecuali bila ia berutang.

2) Wajibnya memperhatikan hak manusia dan menunaikannya karena menahannya akan menghalangi penghapusan dosa-dosa hamba.

16/218- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut menurut kami adalah yang tidak punya dirham dan harta benda.” Lalu beliau bersabda,“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat dengan membawa (pahala) salat, puasa dan zakat. Namun ia datang telah mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si ini. Maka yang ini diberi sebagian kebaikannya, dan yang ini juga sebagian kebaikannya. Hingga jika semua kebaikannya habis padahal semua dosanya belum habis, diambillah kesalahan orang-orang yang dizaliminya, lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia pun dilemparkan ke dalam neraka.”(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

قَذَفَ (qażafa): menuduh zina dan tuduhan lain yang tertuju pada kehormatan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Peringatan dari perbuatan menzalimi orang serta kewajiban menunaikan hak-hak tersebut sebelum meninggal.

2) Perlakuan Allah kepada makhluk dibangun di atas sikap adil kepada yang berbuat buruk dan sikap murah kepada yang berbuat baik.

3) Ancaman keras terhadap sikap zalim berupa hilangnya kebaikan dan pahala. Karena itu, hendaklah orang beriman berupaya keras untuk menjaga kebaikannya hingga hari akhirat.

172196- Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya aku ini seorang manusia, dan kalian mengadukan persengketaan kalian kepadaku. Mungkin sebagian kalian lebih cerdas dalam menyampaikan argumentasi dari yang lain, lalu aku memutuskan perkara berdasarkan apa yang aku dengar. Maka siapa yang aku menangkan pada hak saudaranya, sesungguhnya aku telah mengambilkan potongan dari api neraka untuknya."(Muttafaq 'Alaih)أَلْحَنَ (alḥana): lebih pandai.

Kosa Kata Asing:

أَلْحَنَ (alḥana), berasal dari kata "اللَّحْن" (al-laḥn), artinya: belok dari arah yang lurus. Maksudnya dalam hadis ini: sebagian kalian lebih pandai dan lebih cerdas dalam menyampaikan argumentasinya dari yang lain.

Pelajaran dari Hadis:

1) Ancaman keras bagi orang yang memakan hak orang secara zalim dan melampaui batas.

2) Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah seorang manusia, tidak tahu perkara gaib sehingga kita tidak boleh berdoa kepada beliau ataupun mengharapkan beliau untuk menghilangkan keburukan maupun memberikan kebaikan. Ini bertentangan dengan syahadat tauhid.Karena hanya Allah -'Azza wa Jalla- sendiri yang mengetahui perkara gaib. Kita tidak boleh meminta kecuali kepada Allah dan tidak berharap mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan kecuali kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.

3) Keputusan hakim tidak menghalalkan yang haram dan juga tidak mengharamkan yang halal.

4) Hakim wajib tidak memberikan keputusan sebelum mendengar dua pihak yang bersengketa secara adil.

18/220- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seorang mukmin akan senantiasa dalam kelonggaran agamanya selama dia tidak menumpahkan darah yang terjaga tanpa alasan yang dihalalkan."(HR. Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Menumpahkan darah yang terjaga merupakan dosa besar.

2) Tindakan melampaui batas terkait darah kaum muslimin merupakan kezaliman yang paling besar dan akan mendatangkan kerusakan pada agama seseorang.

19/221- Khaulah binti 'Āmir Al-Anṣāriyyah, istri Ḥamzah -raḍiyallāhu 'anhumā-meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sungguh banyak orang yang membelanjakan harta yang Allah ‎titipkan kepada mereka dengan cara yang tidak benar, maka api neraka ‎untuk mereka pada hari Kiamat."(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

يَتَخَوّضُونَ (yatakhawwaḍūn): bertindak buruk yang tidak didasari dengan pokok-pokok ajaran syariat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Larangan mempergunakan (membelanjakan) harta milik umum tanpa dasar syariat karena termasuk perbuatan zalim.

2) Peringatan agar tidak membelanjakan harta pada sesuatu yang tidak bermanfaat karena hal ini akan mendatangkan azab pada hari Kiamat.

 27- BAB MENGAGUNGKAN KEHORMATAN MUSLIM DAN PENJELASAN TENTANG HAK MEREKA SERTA KASIH SAYANG KEPADA MEREKA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan siapa yang mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah (ḥurumāt), maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya."(QS. Al-Ḥajj: 30)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati."(QS. Al-Ḥajj: 32)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan berendah hatilah engkau terhadap orang yang beriman."(QS. Al-Ḥijr: 88)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Siapa yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia."(QS. Al-Mā`idah: 32)

Pelajaran dari Ayat:

1) Kewajiban menjunjung tinggi kehormatan kaum muslimin serta menempatkan mereka sesuai tempatnya.

2) Orang beriman diperintahkan untuk merendah kepada saudaranya; agar bersikap lembut dalam ucapan dan perbuatan.

3) Melanggar kehormatan seorang muslim sama dengan melanggar kehormatan semua muslim.

1/222- Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Orang beriman terhadap orang beriman lainnya bagaikan satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan." Beliau lalu mencontohkannya dengan menyilangkan jari-jemarinya.(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban saling tolong-menolong di antara orang beriman di atas kebajikan dan ketakwaan.

2) Orang beriman selalu butuh kepada saudaranya, karena dia akan kuat dengan mereka. Orang-orang yang beriman saling menyempurnakan antara yang satu dengan yang lain.

2/223- Juga dari Abu Musa Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu-, dia meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang melewati masjid-masjid kami, atau pasar-‎pasar kami dengan membawa anak panah maka hendaklah ia ‎memegangnya erat-erat dan menjaga ujungnya, agar tidak melukai seorang muslim pun.‎"(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

نَبْلٌ (nabl): anak panah.

النِّصَالُ (an-niṣāl): mata tombak, panah, dan pisau.

Pelajaran dari Hadis:

1) Seseorang harus menjauhi segala sesutu yang dapat menyakiti kaum muslimin, baik yang bersifat maknawi ataupun fisik, seperti menyerang kehormatan mereka atau menipu harta kekayaan mereka.

2) Petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berisikan kelembutan dan kasih sayang kepada semua muslim.

3/224- An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan, kasih sayang, dan tolong-menolong di antara mereka seperti satu tubuh. Jika ada satu anggota tubuh mengalami sakit, maka sekujur tubuh ikut mengeluh tidak dapat tidur dan merasakan demam."(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

تَدَاعَىٰ (tadā'ā): menyambut dan datang.

Pelajaran dari Hadis:

1) Ajakan untuk menjunjung hak-hak muslim dan anjuran agar mereka saling menolong dan bersikap lembut satu dengan yang lain, serta menebar cinta dan kasih sayang di antara mereka.

2) Masyarakat yang dipenuhi oleh sikap bahu-membahu serta tolong-menolong adalah masyarakat yang kuat dan solid.

3) Anjuran agar seorang muslim memperhatikan keadaan muslim lainnya serta mencari tahu tentang kondisi mereka.

4/225- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- mengisahkan, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mencium Al-Ḥasan bin Ali -raḍiyallāhu 'anhumā-, dan pada saat itu di sisi beliau ada Al-Aqra' bin Ḥābis. Al-Aqra' berkata, "Sungguh, aku mempunyai sepuluh anak. Namun belum pernah aku mencium seorang pun di antara mereka." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memandanginya lalu bersabda,"Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi."(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Memperlakukan anak kecil dan semisalnya dengan kasih sayang termasuk petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Di antara faktor adanya rahmat Allah -'Azza wa Jalla- kepada hamba-hamba-Nya adalah sikap kasih sayang di antara mereka.

3) Bagusnya cara mengajar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta cara beliau mengarahkan umatnya.

5/226- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Sekelompok orang dari Arab Badui mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan bertanya, 'Apakah kalian mencium anak-anak kecil kalian?' Nabi menjawab, 'Ya.' Mereka berkata, 'Namun, demi Allah, kami tidak mencium mereka.' Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Aku tak dapat berbuat apa-apa jika Allah telah mencabut rasa sayang dari hati kalian."(Muttafaq ‘Alaih)

6/227- Jarīr bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang tidak menyayangi manusia, tidak akan disayangi oleh Allah." (Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Mencium anak-anak karena sayang kepada mereka termasuk Sunnah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Ketika Allah -Ta'ālā- memberikan rasa kasih sayang dalam hati seseorang maka hal itu termasuk sebab turunnya rahmat Allah -Ta'ālā- kepada hamba tersebut.

7/228- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Jika salah seorang dari kalian menjadi imam salat, maka ringankanlah. Karena di antara mereka (para jemaah) ada orang lemah, orang sakit, dan orang tua. Adapun jika salah seorang dari kalian salat sendirian, maka silakan ia memanjangkan salat sesukanya."(Muttafaq 'Alaih)

Di sebagian riwayat, "... dan orang yang memiliki hajat."

Kosa Kata Asing:

السَّقِيْمُ (as-saqīm): orang sakit.

Pelajaran dari Hadis:

1) Imam wajib memperhatikan keadaan saudara-saudaranya yang salat bersamanya, serta dia melaksanakan salat sesuai kemampuan salat orang yang paling lemah di antara mereka.

2) Meringankan salat terbagi menjadi dua; meringankan secara terus-menerus, yaitu salat yang sesuai petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-,dan meringankan yang bersifat situasional, ia lebih ringan dari yang pertama, yaitu meringankannya ketika ada hajat tertentu seperti adanya tangisan anak kecil sementara ibunya salat.

Peringatan:

Perintah meringankan salat adalah yang sesuai Sunnah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Maksudnya bukan yang sesuai selera manusia. Terdapat banyak hadis tentang bacaan salat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seperti membaca Surah As-Sajdah dan Al-Insān pada hari Jumat.Juga perintah beliau kepada Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- untuk membaca Surah Al-A'lā dan Al-Gāsyiyah.Sehingga ukuran dalam meringankan salat bukanlah pada sedikitnya bacaan dan cepatnya gerakan, tetapi meringankannya sesuai dengan Sunnah Nabi.

8/229- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Sungguh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kadang meninggalkan suatu amalan, padahal beliau ingin mengerjakannya, karena khawatir orang-orang mengikuti beliau lalu hal itu diwajibkan kepada mereka." (Muttafaq 'Alaih)

9/230- Juga dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia meriwayatkan, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang mereka (para sahabat) berpuasa wiṣāl karena kasihan kepada mereka. Para sahabat bertanya, "Tetapi engkau berpuasa wiṣāl?" Beliau menjelaskan,"Keadaanku tidak seperti kalian. Sungguh, aku melewati malam dalam keadaan Rabb-ku memberiku makan dan minum."(Muttafaq 'Alaih)

Maksudnya: Allah memberiku seperti kekuatan orang yang makan dan minum.

Kosa Kata Asing:

الوِصَالُ (al-wiṣāl): salah satu jenis puasa, yaitu seseorang berpuasa dua hari atau lebih secara bersambung tanpa berbuka.

Pelajaran dari Hadis:

1) Besarnya cinta dan kasih sayang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada umatnya.

2) Seseorang kadang harus meninggalkan sebagian perkara sunah demi mewujudkan maslahat yang lebih besar bagi dirinya dan kaum muslimin.

3) Hendaknya perhatian dan kesibukan seorang muslim tertuju pada kondisi kaum muslimin, lalu mengerjakan apa yang baik bagi mereka dan menjauhkan apa yang buruk bagi mereka.

10/231- Abu Qatādah Al-Ḥāriṡ bin Rib'ī -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sungguh aku berdiri salat dan hendak memanjangkannya. Lalu aku mendengar tangisan seorang anak kecil. Maka aku ringankan salatku karena aku tidak mau memberatkan ibunya."(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

أتجوَّز (atajawwazu): saya meringankan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Perempuan boleh ikut hadir ke masjid -kadang-kadang- untuk ikut melaksanakan salat secara berjemaah, dan anak-anak juga boleh ikut menghadiri salat berjemaah.

2) Orang yang salat boleh merubah niatnya dari niat memanjangkannya menjadi memendekkannya, atau sebaliknya.

11/232- Jundub bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,“Siapa yang melaksanakan salat subuh maka dia berada dalam jaminan (lindungan) Allah. Oleh karena itu, jangan sampai Allah menuntut pada kalian dari jaminan-Nya sedikit pun. Karena siapa yang Allah tuntut dengan jaminan-Nya, Allah pasti akan menemukannya, kemudian Allah menelungkupkan wajahnya ke dalam neraka Jahanam.”(HR. Muslim),

Kosa Kata Asing:

Jaminan Allah ialah perlindungan dan pertolongan dari Allah -Ta'ālā-.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan urgensi salat Subuh dan keutamaan menghadirinya bersama jemaah.

2) Menjaga batasan-batasan Allah serta menjauhi hal-hal yang Dia haramkan adalah sebab penjagaan dan pertolongan Allah bagi hamba-Nya.

3) Siapa yang Allah berlepas diri dari menjaganya maka dia akan terlunta-lunta dan binasa.

12/233- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak boleh menzaliminya dan tidak pula membiarkannya (terzalimi). Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesulitan dari seorang muslim di dunia, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan di antara kesulitan hari Kiamat. Dan siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat."(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

لا يُسْلِمُهُ (lā yuslimuhu): tidak membiarkannya dizalimi oleh musuh ataupun yang membencinya, baik dizalimi di hadapannya ataupun di belakangnya, ia tetap membelanya.

فَرَّجَ (farraja): menghilangkan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Berusaha memenuhi hajat kaum muslimin serta menghilangkan kesusahan mereka adalah ketaatan kepada Allah dan menjadi sebab hajat seorang hamba dipenuhi dan kesusahannya dihilangkan.

2) Seorang muslim wajib membela saudaranya terkait kehormatannya, badannya, dan harta kekayaannya.

3) Jenis balasan sesuai dengan jenis perbuatan.

13/234- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain. Dia tidak boleh mengkhianatinya, tidak berdusta kepadanya, juga tidak menelantarkannya. Seorang muslim atas muslim lainnya haram untuk mengganggu kehormatannya, hartanya, dan menumpahkan darahnya. Takwa itu berada di sini (yakni dalam hati). Cukuplah seseorang itu berbuat buruk apabila dia menghina saudaranya yang muslim."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan")

Kosa Kata Asing:

لا يَكْذِبُهُ (lā yakāibuhu): tidak memberinya kabar bohong.

بِحَسْبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ: cukuplah baginya berbuat buruk.

Pelajaran dari Hadis:

1) Merendahkan muslim adalah tanda kesombongan, dan sombong itu semuanya buruk.

2) Keharaman menzalimi seorang muslim terkait darah, kehormatan, dan hartanya kecuali ada satu sebab menurut syariat yang membolehkannya.

3) Takwa kepada Allah akan mencegah kezaliman dan kesombongan; tidaklah terjadi kezaliman di antara hamba kecuali ketika takwa mereka lemah.

Peringatan:

Sebagian orang salah memahami hadis ini. Yaitu, ketika Anda mengajaknya kepada kebaikan atau mencegahnya dari kemungkaran dia menjawab, "Takwa itu ada di sini (yakni hati)."Maknanya yang benar, bahwa hati adalah pangkal ketakwaan. Bila hati bertakwa maka anggota tubuh juga bertakwa. Tetapi jika hati tenggelam dalam maksiat kepada Allah, maka akan diikuti oleh anggota tubuh. Pasti, jejak amal hati akan terlihat pada anggota badan.14/235- Juga dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Janganlah saling mendengki, saling meninggikan harga lelang tidak untuk membeli (najasy), saling membenci, saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian melakukan jual beli di atas jual beli orang lain. Tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya. Dia tidak boleh menzalimi, menghina, dan merendahkannya. Takwa itu di sini -beliau menunjuk dadanya tiga kali-. Cukuplah seseorang itu berbuat buruk kala menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim lain haram darah, harta, dan kehormatannya."(HR. Muslim)النَّجّش (an-najasy): menambah harga barang di atas penawaran di pasar atau lainnya sementara dia tidak berniat membeli, melainkan tujuannya memprovokasi orang lain. Ini hukumnya haram.التَّدَابُرُ (at-tadābur): berpaling dari seseorang dan menjadikannya seperti sesuatu yang berada di belakang punggung dan pantat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Pengharaman jual beli najasy karena dibangun di atas tipu daya dan tindakan merugikan.

2) Diharamkan saling boikot antar sesama muslim karena masalah duniawi karena akan berujung pada saling membelakangi dan memutuskan silaturahmi.

3) Makhluk paling mulia di sisi Allah ialah orang bertakwa.

4) Haram menyakiti muslim dengan cara apa pun, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Faedah Tambahan:

Hasad adalah penyakit hati paling berat dan akan melahirkan pada pelakunya lima perkara tercela:

1- Merusak ketaatan; karena orang yang hasad akan datang pada hari Kiamat sebagai orang yang bangkrut, yaitu dia telah menyalakan api dalam hatinya dan menjadikan amal salehnya sebagai kayu bakarnya.

2- Perbuatan maksiat dan perbuatan buruk; karena orang yang hasad memiliki tiga tanda: menjilat ketika bersaksi, melakukan gibah ketika di belakang, dan mencela ketika ada musibah.

3- Merasa lelah dan gundah yang tidak berfaedah.

4- Buta hati dan buruk niat.

5- Dihalangi dan dihinakan; karena orang yang hasad hampir tidak pernah mendapatkan apa yang diinginkannya, yaitu berupa hilangnya nikmat Allah dari orang beriman.

Adapun orang yang dia hasadi maka tidak mengalami kerugian apa pun dalam perkara agama dan dunianya.

15/236- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Di antara tanda kebenaran iman bila orang yang beriman mencintai kebaikan bagi saudaranya seperti yang dia cintai untuk dirinya sendiri.

2) Iman yang benar akan memiliki pengaruh positif yang terlihat pada orang-orang beriman secara keseluruhan. Cinta orang-orang beriman pada dirinya akan tampak sesuai dengan tingkat ketulusan imannya.

16/237- Juga dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, dia meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tolonglah saudaramu itu, baik ketika dia menzalimi atau dizalimi."Lantas seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah! Aku akan menolongnya ketika dia terzalimi. Kabarkan kepadaku, bila dia yang zalim, maka bagaimana aku menolongnya?" Beliau menjawab,"Engkau harus mencegahnya dari kezalimannya itu. Itulah cara menolongnya."(HR. Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Wajib menolong orang yang terzalimi sekaligus yang berbuat zalim menurut cara yang disebutkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Memenuhi hak-hak persaudaraan termasuk konsekuensi keimanan.

3) Masyarakat Islam adalah yang tampak padanya hakikat tolong-menolong di atas kebajikan dan ketakwaan.

172384- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada lima; menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan, dan mendoakan orang yang bersin."(Muttafaq ‘Alaih)Dalam riwayat Muslim:"Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ‎ada enam, yaitu: apabila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; apabila dia mengundangmu maka ‎penuhilah undangannya; bila dia meminta nasihat kepadamu maka nasihatilah; bila dia bersin dan ‎mengucapkan, 'alḥamdulillāh', maka ucapkanlah, 'yarḥamukallāh' (semoga Allah merahmatimu); bila dia sakit ‎jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)."

Kosa Kata Asing:

تَشْمِيتُ الْعَاطِسِ: memohonkan rahmat untuk orang yang bersin dengan mengucapkan: yarḥamukallāh.

Pelajaran dari Hadis:

1) Di antara hak muslim yang wajib ditunaikan saudaranya adalah mengucapkan salam, baik memberi maupun menjawab salam.

2) Menjenguk orang sakit termasuk hak muslim atas muslim lainnya.

3) Saling menunaikan hak di antara sesama muslim akan melahirkan rasa cinta dan kasih sayang serta menghilangkan sifat dengki dan hasad dari hati.

Faedah Tambahan:

Bila dalam menghadiri undangan terdapat kemungkaran, apakah wajib bagi orang yang diundang untuk hadir? Jawab: Bila seseorang mampu untuk mengingkarinya, maka dia wajib menghadiri undangan tersebut karena dua hal:  Pertama: untuk menghilangkan kemungkaran tersebut.  Kedua: memenuhi undangan saudaranya.

Adapun jika kemungkaran tersebut tidak mungkin dihilangkan maupun diminimalisir, maka dia tidak boleh menghadiri undangan tersebut.

18/239- Abu 'Umārah Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kami dengan tujuh hal dan melarang kami dari tujuh hal. Beliau menyuruh kami untuk menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, mendoakan orang yang bersin, membantu melaksanakan sumpah, menolong orang yang dianiaya, memenuhi undangan orang yang mengundang, dan menebarkan salam. Beliau melarang kami mengenakan cincin emas, minum dengan (wadah) dari perak, mengenakan mayāṡir (pelana sutra), qassiy, harīr (sutra), istabraq, dan dībāj (semua jenis pakaian yang terbuat dari sutra atau campuran sutra)."(Muttafaq 'Alaih)

Dalam riwayat lain: "... dan dari mengumumkan hewan hilang", sebagai tambahan pada tujuh hal yang pertama.

المَياثِرِ (al-mayāṡir), dengan huruf "yā`" sebelum alif, lalu setelahnya "ṡā`". Ia adalah bentuk jamak dari "مِيْثَرَةٍ" (maiṡarah), yaitu sesuatu yang terbuat dari sutra lalu diisi dengan kapas atau lainnya lalu dipasang pada pelana sebagai alas duduk pengendara.الْقَسِّيُّ (al-qassiy), dengan memfatahkan "qāf" dan mengkasrah "sīn" yang bertasydid, yaitu pakaian yang terbuat dari bahan campuran sutra dan linen.إنْشَادُ الضَّالَّة (insyād aḍ-ḍāllah): mengumumkan hewan hilang.

Kosa Kata Asing:

Membantu melaksanakan sumpah artinya memfasilitasi dan membantunya untuk melaksanakan sumpahnya sehingga dia bisa dianggap telah menunaikan sumpah.

Menebar salam adalah menebarkannya di antara kaum muslimin serta mengucapkannya kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal.

الإِسْتَبْرَقِ (al-istabraq) dan الدِّيْبَاج (ad-dībāj) adalah jenis pakaian mewah.

Pelajaran dari Hadis:

1) Syariat Islam mengajak kepada kebaikan dan melarang kerusakan; apa yang diperintah oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seluruhnya adalah kebaikan, dan apa yang beliau larang maka seluruhnya adalah keburukan.

2) Kewajiban membela orang yang terzalimi bagi yang mampu dengan cara mengembalikan haknya kepadanya dan mencegah orang yang menzaliminya.

3) Pengharaman menggunakan bejana emas dan perak.

4) Pengharaman memakai sutra dan cincin emas bagi laki-laki.

5) Larangan mengumumkan hewan hilang berlaku khusus di masjid, tidak pada tempat yang lain.

 28- BAB MENUTUP AURAT (AIB) MUSLIM DAN LARANGAN MENYEBARKANNYA TANPA HAJAT

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."(QS. An-Nūr: 19)

Faedah:

Aurat terbagi dua macam: aurat fisik dan aurat maknawi.

- Aurat fisik yaitu yang haram dilihat, seperti kubul, dubur, dan semisalnya.

- Aurat maknawi yaitu aib dan keburukan berupa akhlak ataupun perbuatan.

Setiap orang dituntut untuk menutup aurat-aurat tersebut secara umum.

Adapun sikap menginginkan tersiarnya kekejian di tengah orang-orang beriman, maka mencakup:

- Menginginkan tersiarnya kekejian di tengah masyarakat muslim.

- Menginginkan agar kekejian itu tersiar ke orang tertentu.

1/240- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Tidaklah seorang hamba menutupi (aib) hamba lainnya di dunia melainkan Allah akan menutupi (aib)nya pada hari Kiamat."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Balasan sesuai jenis perbuatan; siapa yang menutup aib seorang muslim, Allah -Ta'ālā- akan memberinya balasan berupa ditutup aibnya pada hari Kiamat.

2) Penutupan aib harus mengikuti maslahat; bila maslahat terdapat pada penutupan aib maka kita menutupnya, tetapi kalau maslahat terdapat pada membukanya maka kita buka.

Faedah Tambahan:

Menutup aib terbagi dua:

Pertama: hal yang terpuji; yaitu bila aib itu ada pada orang yang baik, aibnya harus ditutupi dan dirinya harus diberi nasihat.

Kedua: hal yang tercela; yaitu menutupi aib orang yang terkenal menggampangkan perbuatan haram dan menzalimi hamba-hamba Allah, yang seperti ini tidak boleh ditutupi, tetapi harus disebarkan dan diterangkan.

2/241- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia mengatakan, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Semua umatku diberikan maaf kecuali yang terang-terangan bermaksiat. Termasuk terang-terangan bermaksiat ialah seseorang melakukan suatu perbuatan (maksiat) di malam hari lalu ketika pagi tiba dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupinya. Yaitu dia berkata, 'Wahai polan! Tadi malam aku melakukan ini dan itu.' Padahal Allah telah menutupi perbuatannya di malam hari, tetapi ketika pagi tiba, dia menyingkap tabir Allah atas dirinya."(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

المُجَاهِرِينَ (al-mujāhirīn) ialah orang-orang yang selalu memperlihatkan maksiat kepada Allah -'Azza wa Jalla- secara terang-terangan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Diri Anda adalah amanah bagi Anda; Anda wajib menjaga hak-haknya dengan baik dan jangan dibiarkan mendapatkan murka Allah -Ta'ālā-.

2) Termasuk dalam bentuk bermaksiat secara terang-terangan adalah semua perilaku yang memberikan contoh tidak baik.

3/242- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Jika seorang budak wanita melakukan zina dan terbukti perzinaannya, maka cambuklah dia dengan hukuman had dan jangan dicerca. Jika dia berzina lagi yang kedua kali, maka cambuklah dia dengan hukuman had dan jangan dicerca. Kemudian jika dia berzina lagi yang ketiga kali, silakan dijual meskipun seharga sebuah tali dari bulu."(Muttafaq 'Alaih). "التَّثْرِيبُ" (at-taṡrīb) artinya mencerca.

Kosa Kata Asing:

الأمة (al-amah): perempuan hamba sahaya yang diperjualbelikan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan bahwa kadar hukuman had bagi perempuan hamba sahaya adalah setengah dari hukuman had perempuan merdeka.

2) Larangan mencerca dan memaki budak perempuan yang melakukan zina agar dia tidak menggampangkan maksiat karena sering mendapat celaan.

3) Petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang cara yang benar dalam memberikan hukuman terhadap sebuah dosa. Ini mengandung penjelasan bahwa petunjuk Nabi telah mendahului metode-metode pendidikan modern berupa celaan terhadap sikap mencerca dan banyak mencela.

4/243- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia meriwayatkan, "Seorang laki-laki yang telah minum khamar dibawa ke hadapan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau bersabda, 'Deralah dia!' Abu Hurairah melanjutkan, "Di antara kami ada yang memukul dengan tangannya, ada yang memukul dengan sandalnya, ada yang memukul dengan pakaiannya. Setelah orang itu pergi, sebagian orang berkata, 'Semoga Allah menghinakanmu!' Nabi lantas bersabda,"Janganlah kalian mengatakan demikian. Janganlah kalian membantu setan memperdayakannya!"(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

الخِزْيُ (al-khizyu): aib dan hina. Adapun ucapan: "أَخْزَاكَ اللهُ", maksudnya: semoga Allah menghinakanmu.

Pelajaran dari Hadis:

1) Bila seorang hamba berbuat suatu dosa dan dia dihukum atas dosanya itu, maka hal itu sebagai penggugur dosanya. Sehingga, seharusnya kita tidak mendoakan keburukan dan aib kepadanya. Tetapi, kita mohonkan dia kepada Allah agar diberikan hidayah dan ampunan.

2) Seorang hamba jangan menjadi pembantu setan dalam membahayakan saudaranya seagama.

 29- BAB MEMBANTU KEBUTUHAN KAUM MUSLIMIN

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung."(QS. Al-Ḥajj: 77)

Pelajaran dari Ayat:

1) Memenuhi kebutuhan kaum muslimin termasuk kebaikan yang diperintahkan.

2) Mengerjakan kebaikan termasuk sebab keberuntungan yang paling besar.

1/244- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak boleh menzaliminya dan tidak pula membiarkannya terzalimi. Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesulitan dari seorang muslim di dunia, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan di antara kesulitan hari Kiamat. Dan Siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat."(Muttafaq 'Alaih)2/245- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Siapa yang meringankan satu kesulitan dunia dari seorang mukmin maka Allah akan hilangkan satu kesulitan di hari Kiamat baginya.Siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.Siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.Allah akan senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.Siapa yang menempuh sebuah jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah di antara rumah-rumah Allah -Ta'ālā-, di mana mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya dengan sesama mereka kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah -'Azza wa Jalla- akan menyebut-nyebut mereka di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya.Siapa yang diperlambat oleh amalnya maka tidak akan bisa dipercepat oleh nasabnya."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

لا يُسْلِمُه (lā yuslimuhu): tidak menyerahkannya kepada musuhnya.

كُرْبَةً (kurbah): kesulitan besar.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran untuk meringankan kesulitan kaum muslimin serta memenuhi kebutuhan mereka. Siapa yang melakukan demikian itu maka Allah akan memberinya balasan yang semisalnya di dunia dan hari Kiamat.

2) Anjuran kepada orang beriman agar saling tolong-menolong di antara mereka, sebagaimana dalam ayat:"Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan." (QS. Al-Mā`idah: 2)

3) Orang-orang beriman saling melengkapi di antara mereka dalam memenuhi hajat sesama mereka.

 30- BAB SYAFAAT (MEMBANTU SEBAGAI PERANTARA)

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Siapa yang memberi pertolongan (syafaat) dengan pertolongan yang baik, niscaya dia akan memperoleh bagian (pahala)-nya."(QS. An-Nisā`: 85)1/246- Abu Musa Al-Asy‘ariy -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan, Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jika didatangi oleh orang yang membutuhkan bantuan, beliau menoleh kepada para sahabat yang ada di dekatnya lalu bersabda,"Berilah syafaat, niscaya kalian akan diberi pahala. Dan Allah pasti akan menetapkan melalui lisan Nabi-Nya apa yang Dia inginkan."(Muttafaq ‘Alaih)

Dalam riwayat lain: "... apa yang Dia kehendaki."

2/247- Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan tentang kisah Barīrah dan suaminya, dia berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata kepada Barīrah, 'Sekiranya engkau rujuk dengannya?' Dia menjawab, 'Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkan aku?' Beliau bersabda, 'Aku hanya memberi syafaat.' Maka dia berkata, 'Saya tidak membutuhkannya.'"(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

Syafaat artinya menjadi perantara bagi orang lain, baik untuk mewujudkan kebaikan ataupun menghilangkan keburukan. Syafaat yang dimaksudkan dalam ucapan penulis ialah syafaat di dunia.

Pelajaran dari Hadis:

1) Syafaat dalam perkara haram adalah bentuk tolong-menolong dalam dosa dan kezaliman. Seperti memberi syafaat kepada orang yang menzalimi orang lain.

2) Syafaat pada perkara yang tidak haram termasuk perbuatan baik kepada orang lain dan di dalamnya terdapat pahala bagi yang memberi syafaat.

3) Para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- sangat menjunjung perintah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lihatlah Barīrah ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata kepadanya, "Sekiranya engkau rujuk dengannya?"Dia lalu kembali bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa bila hal itu adalah perintah, dia akan mendengar dan taat.Beginilah seharusnya orang beriman; bersegera mengerjakan perintah Allah -Ta'ālā- dan perintah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

 31- BAB MENDAMAIKAN MANUSIA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia."(QS. An-Nisā`: 114)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)."(QS. An-Nisā`: 128)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu."(QS. Al-Anfāl: 1)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih)."(QS. Al-Ḥujurāt: 10)

Faedah:

النَّجْوَى (an-najwā): pembicaraan dengan suara pelan antara seseorang dengan rekannya (berbisik-bisik).

المَعْرُوْفُ (al-ma'rūf): semua kebaikan yang diperintahkan dan dianjurkan oleh agama serta diketahui kebaikannya secara syariat, akal, dan 'urf (adat istiadat).

Pelajaran dari Ayat:

1) Kebaikan akan diperoleh oleh orang yang mengajak kepada sedekah, kebaikan, ataupun perdamaian.

2) Orang yang menyerukan perdamaian, sedekah, ataupun kebaikan hendaknya meniatkan perbuatannya itu untuk mendapatkan pahala dari Allah -Ta'ālā-, tanpa disertai sikap ria dan sumah, agar pahalanya besar.

3) Wasiat Allah kepada orang beriman supaya berdamai di antara mereka.

1/248- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Setiap persendian manusia ada sedekahnya (yang wajib dikeluarkan) setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang (yang sedang berselisih) adalah sedekah, menolong seseorang pada kendaraannya, yaitu menaikkannya ke atas kendaraan atau membantunya mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya itu adalah sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah berjalan untuk melaksanakan salat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah."(Muttafaq ‘Alaih)

Maksud (تَعْدِلُ بَيْنَهُمَا): mendamaikan mereka dengan cara adil.

Kosa Kata Asing:

السُّلَامّى (as-sulāmā): tulang dan persendian.

الصَّدَقَةُ (aṣ-ṣadaqah): semua yang mendekatkan kepada Allah adalah sedekah, sebagaimana menurut makna yang umum.

الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ (perkataan baik) yaitu yang baik dari segi kalimatnya maupun baik dari segi tujuannya. Adapun perkataan yang baik dari segi kalimatnya, misalnya zikir. Dan sebaik-baik zikir adalah membaca Al-Qur`ān. Adapun yang baik dilihat dari tujuannya ialah kalimat yang mubah, seperti berbicara bersama orang, bila Anda meniatkannya agar akrab dan memberikan kebahagiaan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Sedekah (pemberian yang tulus) tidak khusus dengan harta, karena semua yang mendekatkan kepada Allah -Ta'ālā- menunjukkan ketulusan pelakunya dalam mencari rida Allah -'Azza wa Jalla-.

2) Semua yang sesuai syariat adalah keadilan, dan semua yang menyelisihi syariat adalah kezaliman dan kelaliman. Sehingga mendamaikan manusia termasuk perbuatan adil yang diperintahkan.

3) Ketika berdamai harus dengan sikap lapang, dan tidak mempersulit (menuntut). Orang yang menjadi juru damai ketika mendamaikan harus menjauhi hawa nafsu dan penyakit-penyakit hati.

2/249- Ummu Kulṡūm binti 'Uqbah bin Abi Mu'aiṭ -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan antara manusia, lalu ia menyampaikan kebaikan atau mengatakan kebaikan."(Muttafaq ‘Alaih)

Dalam riwayat Muslim lainnya terdapat tambahan: Ummu Kulṡūm berkata, "Aku tidak pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikan dispensasi kedustaan yang diucapkan oleh manusia kecuali dalam tiga kondisi." Maksud tiga kondisi ini adalah: perang, mendamaikan manusia, dan percakapan laki-laki kepada istrinya dan percakapan perempuan kepada suaminya.

Kosa Kata Asing:

يَـنْمِي (yanmī): menyampaikan dan membawakan berita.

Pelajaran dari Hadis:

1) Orang yang mendamaikan antara kaum muslimin boleh berdusta jika diperlukan, untuk menghilangkan perpecahan dan menyambung silaturahmi serta mengembalikan kezaliman.

2) Berdusta ketika perang diperbolehkan berdasarkan dispensasi dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam hal itu, untuk memberi kemudahan bagi kaum muslimin sebab mereka membutuhkannya serta menimpakan kekalahan terhadap orang-orang kafir dan menyulut kemarahan mereka.

3) Berdusta dalam percakapan laki-laki kepada istrinya dan percakapan perempuan kepada suaminya diperbolehkan jika bertujuan memperbaiki serta tidak mengandung keburukan bagi orang lain, ataupun gibah dan namimah.

Faedah Tambahan:

Juru damai tidak boleh berlebihan dalam dusta yang diperbolehkan ketika mendamaikan, agar hal itu tidak menyeretnya kepada dusta yang tidak diperbolehkan, karena rukhsah atau dispensasi tidak boleh melampaui ruangnya.

3/250- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendengar orang bertengkar dengan suara sangat keras di depan pintu. Salah satu mereka meminta keringanan utang dan belas kasihan. Orang yang mengutangi menjawab, "Demi Allah! Aku tidak akan melakukannya." Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar menuju keduanya dan bertanya, "Mana yang bersumpah kepada Allah untuk tidak berbuat kebaikan?" Orang itu menjawab, "Saya, wahai Rasulullah! Dia boleh memilih apa yang disukainya dari itu."(Muttafaq ‘Alaih)Makna "يَسْتَوْضِعُهُ" (yastawḍi'uhu): meminta diberikan potongan/keringanan dari sebagian utangnya.يَسْتَرْفِقُهُ (yastarfiquhu): meminta belas kasihannya.الْمُتَأَلِّي (al-muta`allī): orang yang bersumpah.4/251- Abul-'Abbās Sahl bin Sa'ad As-Sā'idiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa sampai kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berita bahwa terjadi perselisihan di antara kalangan Bani 'Amr bin 'Auf. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama beberapa orang pergi untuk mendamaikan mereka. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tertahan di sana, padahal waktu salat telah tiba. Maka Bilal menghampiri Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhumā- lalu berkata, “Wahai Abu Bakar, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tertahan, sementara waktu salat telah tiba. Maukah engkau menjadi imam orang-orang ini?” Ia menjawab, “Ya, jika engkau menginginkan.” Lantas Bilal mengumandangkan ikamah salat. Abu Bakar maju lalu bertakbir dan orang-orang pun bertakbir. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tiba-tiba datang, beliau berjalan membelah saf hingga berdiri di saf pertama. Orang-orang pun bertepuk. Namun Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- tidak menoleh dalam salatnya. Ketika orang-orang terus bertepuk, ia pun menoleh, ternyata ada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Tetapi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberinya isyarat (agar tetap di tempatnya). Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- mengangkat tangannya dan memuji Allah. Dia berjalan mundur ke belakang hingga berdiri di tengah saf pertama. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu maju dan memimpin salat para sahabat. Ketika telah selesai, beliau menghadap kepada jemaah dan bersabda,“Wahai sekalian manusia! Kenapa ketika ada sesuatu menimpa kalian dalam salat, kalian bertepuk tangan? Sesungguhnya tepuk tangan itu untuk wanita. Siapa yang ditimpa sesuatu dalam salat hendaknya ia mengucapkan, 'Subḥānallāh'. Karena tak seorang pun mendengar ucapan 'Subḥānallāh' kecuali ia akan menoleh. Wahai Abu Bakar! Apa yang menghalangimu terus salat mengimami orang-orang ketika aku memberimu isyarat?”Abu Bakar menjawab, “Tidak sepantasnya putra Abu Quḥāfah mengimami salat sedang Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hadir.”(Muttafaq ‘Alaih)

Makna "حُبِسَ" (ḥubisa), yaitu beliau ditahan untuk dijamu.

Pelajaran dari Hadis:

1) Seseorang boleh ikut campur dalam pertikaian antara dua orang jika hal itu bukan rahasia mereka.

2) Respon cepat para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- untuk kembali kepada apa Allah cintai dan ridai serta tidak kukuh dalam kemungkaran.

3) Menjelaskan petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam mendamaikan orang-orang yang bertikai serta anjuran beliau pada perdamaian lewat ucapan dan perbuatan beliau.

4) Memperkuat hubungan antara masyarakat dengan ulama umat melalui keterlibatan para ulama dalam menyelesaikan pertikaian yang terjadi di tengah masyarakat. Beginilah amalan pimpinan para ulama, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau terjun mengupayakan perdamaian antara Bani 'Amr bin 'Auf!

5) Anjuran dan motivasi untuk mendamaikan orang yang bertikai serta menghindari dampak buruknya, karena perdamaian mendatangkan kasih sayang, keamanan, dan jalan keselamatan. Sebaliknya, rusaknya hubungan dan perselisihan merupakan hal yang membinasakan agama.

 32- BAB KEUTAMAAN MUSLIM YANG LEMAH DAN MISKIN YANG TIDAK DIKENAL

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka."(QS. Al-Kahfi: 28)

Pelajaran dari Ayat:

1) Menghibur orang yang lemah secara fisik, akal, harta, atau lainnya yang dianggap sebagai kelemahan oleh manusia, agar dia merasa kuat dengan adanya pahala dan ganjaran yang ada di sisi Allah -'Azza wa Jalla-.

2) Menjelaskan petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama orang-orang lemah dan miskin di kalangan kaum muslimin; yaitu beliau duduk bersama mereka dan memenuhi kebutuhan mereka.

1/252- Ḥāriṡah bin Wahb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Maukah kalian aku kabarkan mengenai penghuni surga? Yaitu setiap orang yang lemah dan dipandang lemah, seandainya ia bersumpah kepada Allah niscaya Allah akan mewujudkan untuknya. Maukah kalian aku kabarkan mengenai penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang keras, kikir dan gemar mengumpulkan harta, serta berlaku sombong."(Muttafaq 'Alaih)الْعُتُلُّ (al-'utull): orang yang keras dan kasar.الجَوَّاظُ (al-jawwāẓ), dengan memfatahkan "jīm", setelahnya "wāw" bertasydid kemudian "ẓā`", yaitu orang yang rakus dan pelit. Ada juga yang berpendapat, maknanya: orang yang gempal dan sombong dalam cara jalannya. Juga ada yang mengatakan orang yang pendek dan besar perutnya.

Kosa Kata Asing:

متضَعَّف (mutaḍa''af), dengan memfatahkan "'ain" bertasydid, yaitu dianggap lemah dan dihinakan orang.

لَأَبَرَّهُ (la`abarrahu): maksudnya, bila dia bersumpah mengharapkan kemurahan Allah, niscaya dia akan mendapatkan sesuatu yang disebutkan dalam sumpahnya.

المُسْتَكْبِرُ (al-mustakbir; sombong): orang yang menggabungkan antara dua sifat tercela; merendahkan orang lain (gamṭun-nās) dan menolak kebenaran (baṭarul-ḥaqq).

Pelajaran dari Hadis:

1) Di antara tanda penghuni surga adalah mereka tidak menghiraukan karunia dunia yang tidak mereka dapatkan; bila karunia dunia menghampiri, mereka akan menerimanya, dan kalau karunia dunia itu lepas mereka membiarkannya.

2) Di antara tanda penghuni neraka ialah sombong dan angkuh. Seorang hamba hendaknya waspada jangan sampai memiliki sifat-sifat orang yang disiksa.

3) Di antara hamba Allah ada orang yang apabila bersumpah (berdoa) kepada Allah maka Allah pasti mewujudkan untuknya disebabkan karena dia yakin dan mengharapkan apa yang ada di sisi Allah -'Azza wa Jalla-.

2/253- Abul-'Abbās Sahal bin Sa'ad As-Sā'idiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Seorang pria melintas di depan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau bertanya kepada seseorang yang duduk bersama beliau, "Apa pendapatmu tentang orang ini?" Orang itu menjawab, "Dia termasuk orang terhormat. Demi Allah! Jika ia melamar maka layak untuk dinikahkan. Jika ia memberi syafaat, maka ia layak diterima syafaatnya." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diam. Kemudian melintas pria lain, maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya lagi kepadanya, "Apa pendapatmu tentang orang ini?" Dia menjawab, "Wahai Rasulullah! Ini adalah orang fakir di antara kaum muslimin. Jika orang ini melamar, ia pantas ditolak. Jika ia memberi syafaat, maka syafaatnya akan ditolak. Jika ia berucap, maka ucapannya tidak didengar." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Orang ini lebih baik dari sepenuh bumi orang seperti tadi."(Muttafaq ‘Alaih)Ucapannya: "حَرِيٌّ" (ḥariyyun), dengan memfatahkan "ḥā`", setelahnya "rā`" yang kasrah, kemudian "yā`" bertasydid, artinya: layak, pantas.Sedangkan "شَفَعَ" (syafa'a), dengan memfatahkan "fā`".

Kosa Kata Asing:

يُنكح (yunkaḥu): dinikahkan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Seseorang kadang memiliki kedudukan yang tinggi di dunia, tetapi tidak memiliki kedudukan di sisi Allah -Ta'ālā-.

2) Yang menjadi ukuran adalah hakikat amal serta iman yang ada dalam hati, bukan potret fisik.

3/254- Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Surga dan neraka saling mengadu. Neraka berkata, 'Penghuniku adalah orang-orang yang angkuh dan sombong.' Surga berkata, 'Penghuniku adalah orang-orang lemah dan miskin.' Lalu Allah memutuskan di antara keduanya, 'Sesungguhnya engkau, wahai Surga, adalah rahmat-Ku. Denganmu Aku merahmati siapa yang Aku kehendaki. Dan sesungguhnya engkau, wahai Neraka, adalah azab-Ku. Denganmu Aku mengazab siapa yang Aku kehendaki. Dan masing-masing (dari) kalian berdua, menjadi wewenang-Ku untuk memenuhinya (dengan penghuninya).'”(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

احْتَجَّتِ الجَنَّةُ وَالنَّارُ: surga dan neraka saling mengadu.

"Sesungguhnya engkau, wahai surga, adalah nikmat-Ku", maksudnya bahwa surga adalah negeri yang diciptakan dari rahmat Allah. Adapun rahmat Allah -Ta'ālā- yang merupakan sifat-Nya, maka bukan makhluk.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban mengimani perkara-perkara gaib ini, walaupun tidak masuk akal, sebab orang beriman akan tunduk kepada perintah Allah -Ta'ālā- dan perintah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Karunia dan rahmat Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- lebih luas dari murka-Nya. Allah -'Azza wa Jalla- telah mewajibkan kepada diri-Nya untuk mengisi surga dan neraka, tetapi rahmat-Nya mendahului murka-Nya.

3) Orang fakir dan lemah adalah penduduk surga; karena umumnya merekalah yang tunduk kepada kebenaran. Sedangkan orang-orang jahat, mereka angkuh dari kebenaran dan tidak tunduk kepada-Nya.

4/255- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,“Sesungguhnya kelak hari Kiamat akan datang seseorang yang sangat besar dan gemuk, akan tetapi berat timbangannya di sisi Allah tidak menyamai sayap nyamuk sekalipun"(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Menetapkan adanya mizan atau timbangan amalan pada hari Kiamat, yaitu timbangan adil yang tidak mengandung kezaliman.

2) Peringatan agar seseorang tidak hanya memperhatikan kebahagiaan fisiknya, tetapi seorang hamba berkewajiban untuk memperhatikan kebahagiaan hatinya dengan ilmu dan iman. Bila hati bahagia, fisik pun akan bahagia.

Peringatan:

Sebab disebutkannya hadis ini di dalam Bab Keutamaan Muslim yang Lemah dan Miskin yang Tidak Dikenal, karena kegemukan umumnya disebabkan karena banyak makan, sedangkan banyak makan kadang menunjukkan banyak harta dan keadaan sombong, kufur nikmat, dan lupa terhadap kaum muslimin yang lemah.

Faedah Tambahan:

Apa yang ditimbang pada mizan atau timbangan?

Makna lahir hadis ini menunjukkan bahwa yang ditimbang pada mizan adalah manusia, dan berat dan ringannya tergantung amal perbuatannya. Sebagian ulama berpendapat, yang ditimbang adalah catatan amal, berdasarkan hadis biṭāqah:"Lalu dikeluarkan sebuah biṭāqah (kartu) yang di dalamnya tercatat: 'Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah serta Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.' Lalu kartu tersebut diletakkan di satu mata timbangan." Ulama lain berpendapat, bahwa yang ditimbang adalah amalan, berdasarkan firman Allah:"Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat ..." (QS. Al-Anbiyā`: 47)Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- juga bersabda,"Ada dua kalimat yang berat di timbangan ..."Dalam ayat dan hadis ini, yang ditimbang adalah amalan. Tetapi, tidak ada pertentangan di antara pendapat-pendapat ini, karena bisa dikatakan, yang ditimbang adalah semuanya. Yaitu, yang ditimbang adalah pelaku, catatan amal, dan amal perbuatan. Wallāhu a'lam.5/256- Masih dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang wanita hitam -atau seorang pemuda- yang biasa menyapu masjid. Tiba-tiba Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak mendapatkannya sehingga beliau menanyakannya. Para sahabat menjelaskan, "Dia telah meninggal." Beliau bersabda,"Mengapa kalian tidak memberitahuku?"Sepertinya mereka meremehkannya. Maka beliau bersabda, "Tunjuki aku tempat kuburnya." Lantas mereka menunjukkannya dan beliau menyalatinya. Kemudian beliau bersabda,"Sesungguhnya kuburan ini dipenuhi oleh kegelapan terhadap para penghuninya, dan Allah -Ta'ālā- memberinya cahaya dengan salatku kepada mereka."(Muttafaq ‘Alaih)Perkataan: "تَقُمُّ" (taqummu), dengan memfatahkan "tā`", dan mendamahkan "qāf", artinya: menyapu.Al-Qumāmah artinya sampah.آذَنْتُموني (āżantumūnī), dengan mad pada "hamzah", artinya: kalian memberitahuku.

Pelajaran dari Hadis:

1) Tingginya kedudukan orang beriman berdasarkan amal perbuatan mereka; semua orang yang mengerjakan kebaikan, maka dia berada di atas kebaikan.

2) Anjuran membersihkan dan menyingkirkan sampah dari masjid, juga tanpa diberikan hiasan dan lukisan-lukisan yang akan mengganggu dan menyibukkan pikiran orang yang salat.

3) Menjelaskan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak mengetahui perkara gaib; oleh sebab itu beliau bersabda, "Tunjuki aku tempat kuburnya."Bila beliau tidak mengetahui sesuatu yang nyata padahal dekat, maka sesuatu yang gaib beliau lebih pantas tidak ketahui!

4) Perhatian yang sangat bagus oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya; yaitu beliau mencari dan menanyakan mereka.

6/257- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidak sedikit orang dengan rambut berantakan, warna berubah dan ditolak di pintu-pintu, seandainya ia bersumpah (berdoa) kepada Allah, niscaya Allah mewujudkan untuknya."(HR. Muslim)7/258- Usāmah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Aku berdiri di pintu surga, ternyata mayoritas orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Sedangkan orang-orang kaya tertahan. Namun penghuni neraka telah diperintahkan untuk masuk ke neraka. Aku berdiri di pintu neraka, ternyata mayoritas orang yang memasukinya adalah wanita."(Muttafaq 'Alaih)الجَدُّ (al-jadd), dengan memfatahkan "jīm", artinya: kekayaan.Sabda beliau: مَحْبُوسُونَ (maḥbūsūna), maksudnya: mereka belum diperkenankan masuk surga.

Kosa Kata Asing:

أَشْعَث (asy'aṡ): rambut berantakan; dia tidak memiliki apa yang bisa digunakan membaguskan rambutnya.

أَغْبَر (agbar): warnanya berubah, karena sangat miskin.

Pelajaran dari Hadis:

1) Takwa kepada Allah adalah ukuran kemuliaan hamba, siapa yang paling bertakwa kepada Allah maka dialah yang paling mulia di sisi Allah.

2) Mayoritas penghuni neraka dari kalangan perempuan karena banyak di antara mereka yang membuat fitnah, kecuali perempuan yang dijaga oleh Allah -Ta'ālā-.

3) Seorang hamba harus menjaga diri dari fitnah kekayaan, karena kekayaan dapat mendatangkan perilaku zalim dan dapat mengantarkan pelakunya kepada kebinasaan dan kerusakan.Sebab itu, sikap sabar dituntut pada seorang hamba ketika miskin dan kaya.8/259- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Tidak ada anak yang berbicara ketika masih dalam buaian kecuali tiga orang. (Pertama), Isa bin Maryam. (Kedua), seorang anak dalam kisah Juraij. Juraij adalah orang yang taat beribadah. Dia membangun tempat ibadah dan selalu ada di dalamnya. Suatu saat, ibunya datang menemuinya ketika dia sedang salat. Ibunya memanggil, 'Wahai Juraij!' Juraij berkata (dalam hati), 'Ya Rabbi! Apakah aku memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan salatku.' Akhirnya dia meneruskan salatnya, sementara sang ibu akhirnya pulang. Keesokan harinya, sang ibu datang lagi sementara Juraij sedang salat. Dia memanggil, 'Wahai Juraij!' Juraij berkata (dalam hati), 'Ya Rabbi! Apakah aku memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan salatku.' Akhirnya dia memilih meneruskan salatnya. Keesokan harinya lagi, sang ibu datang lagi sementara Juraij sedang salat. Dia memanggil, 'Wahai Juraij!' Juraij berkata (dalam hati), 'Ya Rabbi! Apakah aku memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan salatku.' Akhirnya dia memilih meneruskan salatnya. Maka berkatalah sang ibu, 'Ya Allah! Jangan matikan dia sebelum melihat wajah pelacur.' Ketika orang-orang Bani Israil berbincang-bincang tentang Juraij dan ibadahnya, ada seorang wanita pelacur yang terkenal cantik, dia berkata, 'Kalau kalian mau, aku akan menggodanya.' Lantas dia menggodanya, namun Juraij tak mempedulikannya. Maka wanita pelacur itu mendatangi seorang penggembala yang sedang berteduh di bawah rumah ibadah itu, lalu menggodanya untuk berbuat zina. Terjadilah perzinaan di antara mereka. Kemudian wanita itu hamil. Ketika telah melahirkan, dia berkata, 'Ini anak dari Juraij.' Masyarakat pun mendatangi Juraij dan memaksanya turun lalu rumah ibadahnya dirobohkan. Mereka memukulinya. Juraij bertanya, 'Ada apa dengan kalian ini?' Mereka menjawab, 'Engkau telah berzina dengan wanita pelacur ini sehingga dia melahirkan anak darimu.' Juraij berkata, 'Mana anaknya?' Mereka kemudian membawakan bayi tersebut. Juraij berkata, 'Biarkan aku salat dulu!' Kemudian Juraij salat. Setelah selesai salat dia mendatangi anak bayi tersebut dan menekan perutnya seraya berkata, 'Wahai anak kecil, siapa bapakmu?' Anak itu menjawab, 'Fulan si penggembala.' Maka orang-orang mengerumuni Juraij, mencium dan mengusap-usapnya. Mereka berkata, 'Kami akan bangun ulang rumah ibadahmu dengan bahan emas.' Dia menjawab, 'Tidak, bangunlah kembali dengan tanah liat seperti semula!' Lantas mereka mengerjakannya. (Ketiga), ketika seorang bayi sedang menyusu pada ibunya, lalu lewat seorang penunggang kendaraan yang tampak mewah dan berpenampilan bagus. Sang ibu berkata, 'Ya Allah! Jadikanlah anakku seperti orang itu.' Sang bayi melepas tetek ibunya lalu menoleh dan memandang orang itu seraya berkata, 'Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti orang itu!' Kemudian dia kembali ke teteknya dan menyusu kembali."Abu Hurairah bercerita: Seakan aku masih melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mencontohkannya menyusu dengan jari telunjuk beliau ke mulut dan mengisapnya. Beliau lanjut bersabda,"Kemudian mereka melewati seorang budak wanita yang sedang dipukuli. Mereka berkata, 'Kamu telah berzina dan mencuri.' Sedangkan wanita tersebut hanya berkata, 'Ḥasbiyallāhu wa ni'mal wakīl.' Maka sang ibu berkata, 'Ya Allah! Jangan jadikan anakku seperti dia.' Anak itu melepas teteknya dan memandang wanita tersebut, kemudian dia berkata, 'Ya Allah! Jadikanlah aku seperti dia.' Ketika itu terjadilah dialog antara ibu dan anak. Sang ibu berkata, 'Ketika ada orang yang berpenampilan bagus, aku berdoa, 'Ya Allah! Jadikan putraku seperti dia.' Engkau mengatakan, 'Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia.' Lalu ketika ada seorang budak wanita dipukuli sambil dikatakan, engkau telah berzina dan mencuri, aku berdoa, 'Ya Allah! Jangan jadikan putraku seperti dia.' Engkau berkata, 'Ya Allah! Jadikan aku seperti dia?!' Anak itu berkata, 'Laki-laki itu adalah orang yang zalim, maka aku berdoa, 'Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia.' Sedangkan terhadap wanita yang kalian katakan: engkau telah berzina dan mencuri, dia tidak pernah berzina dan tak pula mencuri. Maka aku berdoa, 'Ya Allah! Jadikan aku seperti dia.'"(Muttafaq ‘Alaih)المومِسَاتُ (al-mūmisāt), dengan mendamahkan "mīm" yang pertama, setelahnya "wāw", kemudian mengkasrahkan "mīm" yang kedua, dan setelahnya "sīn", yaitu: para pezina. المُومِسَةُ (al-mūmisah) artinya wanita pezina.دَابَّةٌ فَارِهَةٌ (dābbah fārihah), dengan huruf "fā`", maksudnya: kendaraan yang cerdas dan bagus.الشَّارَةُ (asy-syārah), dengan "syīn", kemudian "rā`" tanpa tasydid, yaitu: keindahan yang tampak pada penampilan dan pakaian.Dan makna (تَرَاجَعَا الحديث), yaitu sang ibu berbicara ke anaknya dan sang anak bicara ke ibunya. Wallāhu a'lam.

Kosa Kata Asing:

الصَّوْمَعَةُ (aṣ-ṣauma'ah): bangunan tinggi di bagian ujungnya lancip, yaitu tempat beribadah para rahib.

بَغِيٌّ (bagyun): wanita pezina yang melakukan perzinaan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kesabaran sang ahli ibadah, Juraij, ketika dia tidak balas dendam, tetapi rida bersikap kanaah dan memilih hidup bersama orang-orang lemah dan miskin.

2) Seorang hamba bila mendekatkan diri kepada Allah -Ta'ālā- pada kondisi lapang, maka Allah akan menolongnya pada kondisi sulit. Orang yang imannya tulus tidak akan celaka oleh berbagai fitnah. Dan termasuk bentuk kasih sayang Allah, Dia memberikan jalan keluar bagi wali-wali-Nya ketika mereka diuji. Kadang hal itu terlambat demi membersihkannya dari dosa serta memberikan tambahan pahala baginya.

3) Tekad seorang hamba agar bergaul dengan keumuman manusia, bukan bersama orang-orang yang sombong dan zalim.

4) Anjuran untuk mendahulukan panggilan ibu dari salat sunah.

5) Merupakan bentuk dalamnya pemahaman seseorang bila dia segera melaksanakan salat ketika terjadi kesulitan.

 33- BAB SIKAP RAMAH, BAIK, SAYANG, TAWADUK, DAN RENDAH HATI KEPADA YATIM, ANAK PEREMPUAN, ORANG LEMAH, MISKIN, DAN MENDERITA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan berendah hatilah engkau terhadap orang yang beriman."(QS. Al-Ḥijr: 88)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang berdoa kepada Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena menginginkan perhiasan kehidupan dunia."(QS. Al-Kahfi: 28)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik(nya)."(QS. Aḍ-Ḍuḥā: 9-10)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan pembalasan?Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,dan tidak mendorong memberi makan orang miskin."(QS. Al-Mā'ūn: 1-3)

Pelajaran dari Ayat:

1) Anjuran berbuat baik kepada orang-orang yang hatinya terluka dan tidak ada yang mengurusnya seperti anak yatim, janda, dan lainnya.

2) Memperhatikan orang miskin dengan menghibur, memberi makan, dan membantu keperluannya termasuk perangai orang beriman.

3) Anjuran bersabar bersama kaum muslimin yang lemah, serta bersikap rendah hati dan tawaduk terhadap mereka.

1/260- Sa'ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Pada suatu hari, kami berenam menyertai Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Kemudian orang-orang musyrik berkata kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, 'Usirlah orang-orang ini, agar mereka tidak lancang kepada kami!' Orang-orang tersebut adalah saya, lbnu Mas'ūd, seorang laki-laki dari Hużail, Bilal, dan dua orang lagi yang tidak kuingat namanya. Lalu terlintas di benak Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk melakukannya. Maka Allah pun menurunkan firman-Nya:"Janganlah kamu mengusir orang-orang yang berdoa kepada Tuhannya di pagi dan petang hari, sedangkan mereka sangatlah mengharapkan keridaan-Nya."(QS. Al-An'ām: 52)(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

لا يَجْتَرِئُونَ عَلَيْنَا: agar mereka tidak lancang kepada kami.

فَوَقَعَ في نَفْسِ رسول الله صلى الله عليه وسلم: terbesit di benak Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, yaitu untuk mengusir mereka.

Pelajaran dari Hadis:

1) seorang hamba hendaknya menjadikan orang-orang yang baik dan senang melakukan ketaatan sebagai teman duduknya, dan tidak berteman dengan orang-orang besar dan mulia yang memiliki sifat sombong dan angkuh.

2) Keikhlasan kepada Allah -Ta'ālā- adalah alat ukur diterima atau ditolaknya amalan seorang hamba, karena Allah -Ta'ālā- hanya melihat pada keikhlasan hamba dan amalnya, bukan pada rupa dan fisiknya.

2/261- Abu Hubairah 'Ā`iż bin 'Amr Al-Muzaniy -raḍiyallāhu 'anhu- (sahabat yang ikut serta dalam Baiat Ar-Riḍwān) meriwayatkan bahwa Abu Sufyān melewati Salmān, Ṣuhaib, dan Bilāl yang sedang bersama sejumlah orang. Mereka berkata, "Pedang-pedang Allah tidak mendapatkan haknya dari leher musuh Allah." Abu Bakar berkata, "Apakah kalian mengatakan seperti ini kepada sesepuh dan pemuka Quraisy?" Lantas Abu Bakar datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan memberitahu beliau. Beliau bersabda, "Wahai Abu Bakar, mungkin engkau membuat mereka marah? Jika benar engkau telah membuat mereka marah, berarti kamu telah membuat marah Rabb-mu." Kemudian Abu Bakar kembali menemui mereka dan berkata, "Wahai saudara-saudaraku, apakah aku telah membuat kalian marah?" Mereka menjawab, "Tidak, saudaraku. Semoga Allah mengampunimu."(HR. Muslim)Perkataan mereka: "مَأْخَذَهَا" (ma`khżahā), maksudnya: tidak mendapatkan haknya sepenuhnya.Ucapan: "يَا أُخيَّ" (yā ukhayya), diriwayatkan dengan memfatahkan "hamzah", setelahnya huruf "khā`" yang kasrah, kemudian "yā`" tanpa bertasydid (yakni, yā akhī). Juga diriwayatkan dengan mendamahkan "hamzah", setelahnya "khā`" yang fatah, lalu "yā`" yang bertasydid (yā ukhayya).

Pelajaran dari Hadis:

1) Seorang hamba tidak boleh menyombongkan diri kepada orang fakir dan miskin serta orang-orang yang tidak terpandang dalam budaya masyarakat, karena tolok ukur kemuliaan hamba terletak pada kemuliaannya di sisi Allah -Ta'ālā-.

2) Menjelaskan sifat warak Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- serta upayanya untuk membebaskan diri dari dosa.Kewajiban seorang hamba bila pernah menzalimi seseorang, baik dengan ucapan atau perbuatan maupun lainnya, agar meminta dihalalkan di dunia sebelum dia akan dikisas nanti di akhirat.

Faedah Tambahan:

Munasabah keberadaan hadis ini di dalam bab ini, bahwa Salmān, Suhaib, dan Bilāl -raḍiyallāhu 'anhum- semuanya adalah mantan budak, sehingga wajib bersikap lembut dan berbuat baik kepada mereka. Oleh karena itu, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membela mereka dengan sabda beliau, "Wahai Abu Bakar, mungkin engkau telah membuat mereka marah?"

3/262- Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Aku akan bersama orang-orang yang mengurus anak yatim dalam surga seperti ini." Beliau lalu mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah, serta merenggangkan sedikit di antara keduanya.(HR. Bukhari)

كَافِلُ اليَتِيم (kāfilul-yatīm): yang mengurus urusan anak yatim.

4/263- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Orang yang mengurus anak yatim, baik keluarganya atau orang lain, maka aku dan dia seperti dua jari ini di surga." Perawi, yaitu Malik bin Anas, berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah.(HR. Muslim)Sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-:"... baik keluarganya atau orang lain", maksudnya kerabatnya ataupun bukan (orang asing). Maksud kerabatnya, misalnya dia diurus oleh ibunya, kakeknya, saudaranya, atau kerabat lainnya. Wallāhu a'lam.

Kosa Kata Asing:

السَّبَّابَةُ (as-sabbābah): jari yang terletak antara jari tengah dan ibu jari. Dinamakan "sabbābah" (yang berarti pencela), karena digunakan menunjuk ketika melakukan "sabb" (celaan). Juga dinamakan "sabbāḥah", karena digunakan berisyarat ketika bertasbih.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran mengurus anak yatim, yaitu dengan mengurus semua yang akan memperbaiki agama dan dunianya.

2) Menjelaskan pahala orang yang mengurus urusan anak yatim, yaitu dia akan bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di dalam surga. Cukuplah dengan ini dia mendapatkan kedudukan yang tinggi.

3) Orang yang miskin wajib bersabar dan menunggu pertolongan dari Allah, agar tidak meminta-minta kepada orang lain; antara mereka akan memberikannya atau tidak memberikannya. Karena manusia bila menggantungkan hatinya kepada makhluk, maka dia akan diserahkan kepadanya. Bila Anda diserahkan kepada makhluk, maka Anda telah diserahkan kepada kebinasaan.

5/264- Juga dari Abu Hurairah-raḍiyallāhu 'anhu-, ia meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Orang miskin itu bukanlah orang yang bisa diberikan sebiji dua biji kurma, atau sesuap dua suap makanan. Akan tetapi, orang miskin sebenarnya adalah yang menjaga diri dari minta-minta."(Muttafaq 'Alaih)Dalam riwayat lain dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain:"Bukanlah orang miskin itu yang berkeliling minta-minta kepada manusia dan diberikan sesuap dua suap makanan, atau sebiji dua biji kurma. Tetapi orang miskin sebenarnya adalah yang tidak mendapatkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya sementara dia tidak diperhatikan sehingga akan diberi sedekah dan tidak juga melakukan minta-minta kepada orang."

Kosa Kata Asing:

يَتَعَفَّفُ (yata'affaf): tidak minta-minta kepada orang sekalipun dia tidak punya.

لا يُفْطَنُ (lā yufṭanu bihi): tidak diperhatikan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan sifat sebenarnya orang miskin yang membutuhkan, yaitu yang menunggu pertolongan Allah -Ta'ālā- tanpa minta-minta.

2) Kewajiban hamba yang miskin adalah bersabar hingga rezeki Allah -Ta'ālā- datang. Karena bila hamba menggantungkan harapannya kepada Allah Yang Maha Pencipta, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya. Tetapi bila dia menggantungkan harapannya kepada makhluk, maka justru dia bertambah miskin dan butuh.

6/265- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beliau bersabda,"Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah."Dan aku mengira beliau bersabda,"Dan seperti orang yang bangun malam tanpa henti, dan orang yang berpuasa tanpa berbuka."(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

لَا يَفْتُرُ (lā yaftur): tidak pernah meninggalkan salat malam.

Pelajaran dari Hadis:

1) Pahala mengurus orang yang tidak mampu dan yang membutuhkan setara dengan pahala ibadah-ibadah besar dalam Islam seperti jihad di jalan Allah.

2) Anjuran kepada orang beriman agar saling tolong-menolong di antara mereka; yaitu orang yang kaya dan yang miskin saling melengkapi satu sama lain.

7/266- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seburuk-buruk makanan ialah makanan pada walimah yang dihalangi darinya orang yang akan datang dan diundang kepadanya orang yang enggan. Siapa yang tidak memenuhi undangan walimah, sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya."(HR. Muslim)

Dalam riwayat lain di Aṣ-Ṣaḥīḥain dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa beliau bersabda, "Sejelek-jelek makanan makanan walimah yang diundang kepadanya orang yang kaya dan tidak diundang orang yang miskin."

Kosa Kata Asing:

الوَلِيْمَةُ (al-walīmah): hidangan walimah pernikahan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran mengundang fakir miskin ke acara walimah, karena mereka lebih pantas daripada orang kaya dan berharta.

2) Memenuhi undangan walimah hukumnya wajib, karena istilah maksiat tidak berlaku kecuali pada meninggalkan sesuatu yang wajib. Yang demikian itu dari hadis Rasulullah -'alaihiṣ-ṣalātu was-sallām-,"Siapa yang tidak memenuhi undangan, sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya."

Faedah Tambahan:

Undangan walimah adalah undangan untuk menghadiri hidangan makanan pada acara pernikahan saja.

Adapun syarat wajib memenuhi undangan walimah:

Pertama: yang mengundang adalah orang muslim. Jika bukan muslim maka memenuhi undangan itu tidak wajib. Tetapi boleh memenuhi undangan orang kafir, jika ada maslahatnya, seperti mengajaknya kepada Islam atau untuk membela agama.

Kedua: harta orang yang mengundang tersebut halal. Bila hartanya haram maka tidak wajib dipenuhi undangannya.

Ketiga: dalam acara undangan itu tidak mengandung kemungkaran. Bila ada kemungkarannya, maka memenuhi undangan itu tidak wajib. Kecuali jika orang yang diundang mampu untuk mengubah kemungkaran tersebut atau meminimalisirnya.

Keempat: orang yang diundang ditentukan, yaitu dikatakan, "Ya polan! Anda aku undang untuk menghadiri walimah pernikahan." Bila tidak ditentukan, yaitu dia mengundang secara umum, maka tidak wajib hadir, tetapi tetap dianjurkan.

8/267- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Siapa yang mengurus dua orang anak perempuan sampai balig, maka ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan aku bersamanya seperti ini." Beliau sambil merapatkan jari-jarinya.(HR. Muslim)

جَارِيَتَيْنِ (jāriyatain): dua anak perempuan.

Kosa Kata Asing:

عَالٍ - العَوْلُ ('ālin - al-'aul), artinya: mengerjakan apa yang dibutuhkan. Dikatakan, "'Āla ar-rajulu 'iyālahu, ya'ūluhum", artinya: dia melakukan apa yang dibutuhkan oleh keluarganya berupa makanan, pakaian, dan lainnya.Al-'aul adalah dengan memenuhi hajat badan dan hajat ruh. Sehingga dia mencakup kebutuhan badan dan ruh (tarbiah badan dan hati).

حَتَّىٰ تَبْلُغَا (hattā tablugā): hingga kedua anak perempuan itu mencapai usia balig dengan melihat tanda-tandanya yang telah diketahui bersama di kalangan wanita.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan mengurus anak perempuan karena anak perempuan kemampuannya terbatas dan lemah, dan umumnya tidak diperhatikan oleh keluarga seperti halnya mereka memperhatikan anak laki-laki.

2) Seorang hamba harus memperhatikan perkara yang akan mendekatkannya kepada Allah -Ta'ālā-, khususnya dalam mendidik dan mempersiapkan generasi muslim. Karena di antara tanda paling tampak bagi lemahnya umat Islam adalah hilangnya pendidikan iman bagi generasi mudanya.

9/268- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, Ada seorang wanita masuk ke tempatku bersama dua anak perempuannya. Wanita itu meminta sesuatu, tetapi aku tidak mempunyai apa pun selain satu butir kurma. Aku pun memberikan kurma itu kepadanya. Lantas wanita itu membagi dua kurma itu di antara kedua anak perempuannya, sedangkan dia sendiri tidak memakannya sedikit pun. Kemudian wanita itu berdiri dan keluar. Tiba-tiba Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk menemui kami dan aku menceritakan beliau mengenai hal itu. Beliau bersabda,"Siapa yang diuji dengan suatu ujian dari anak-anak perempuan ini, lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang baginya dari api neraka."(Muttafaq ‘Alaih)10/269- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, Aku didatangi oleh seorang wanita miskin yang membawa kedua anak perempuannya. Lantas aku memberikannya makan tiga butir kurma. Wanita itu memberikan setiap satu butir kurma kepada masing-masing anaknya dan sebutir lagi dia angkat ke mulutnya hendak dimakan. Namun, kedua anaknya itu meminta kurma yang hendak dimakannya tersebut. Maka wanita tadi membagi kurma yang hendak dimakannya itu di antara kedua anaknya. Kelakuan wanita itu membuat aku takjub, lalu menceritakan apa yang dilakukan wanita tersebut kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas beliau bersabda,"Sesungguhnya Allah telah menetapkan surga untuk wanita itu disebabkan karena perbuatannya, atau Dia membebaskannya dari neraka."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

مَنِ ابْتُلِيَ (man ubtuliya): orang yang diuji. Ia dari kata "الاِبْتِلَاء" (al-ibtilā`), artinya: ujian.

فَاسْتَطعَمَتْهَا (fa-staṭ'amathā): ia minta memakannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan sifat īṡār (mendahulukan orang lain) yang dimiliki oleh para sahabat, karena Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- tidak memiliki apa-apa kecuali beberapa butir kurma, kendati demikian dia tetap mendahulukan wanita miskin ini atas dirinya.

2) Keutamaan orang yang berbuat baik kepada anak-anak perempuan, baik dengan harta maupun pakaian karena mereka lemah dan kemampuannya terbatas.

3) Keutamaan amalan yang sedikit bila disertai dengan ketulusan hati, sehingga amal yang sedikit kadang menjadi sebab adanya pahala besar bagi hamba.

4) Bersikap lembut dan kasih sayang kepada anak-anak termasuk sebab masuk surga serta selamat dari neraka.

11/270- Abu Syuraiḥ Khuwailid bin 'Amr Al-Khuzā`iy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ya Allah! Sesungguhnya aku mewanti-wanti hak dua golongan orang yang lemah, yaitu anak yatim dan wanita."(Hadis ḥasan riwayat An-Nasā`iy dengan sanad jayyid).

Makna "أُحَرِّجُ" (uḥarriju): menimpakan ḥaraj, yaitu dosa, pada orang yang menelantarkan hak mereka berdua serta memperingatkan hal itu dengan keras.

12/271- Muṣ'ab bin Sa'ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Sa'ad melihat dirinya memiliki keutamaan di atas yang lainnya (dari para sahabat). Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Bukankah kalian diberi pertolongan dan rezeki karena adanya orang-orang yang lemah di antara kalian?!"(HR. Bukhari secara mursal,karena Muṣ'ab bin Sa'ad adalah seorang tabiin. Dan diriwayatkan oleh Al-Ḥāfiẓ Abu Bakar Al-Barqāniy dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya secara muttaṣil dari Muṣ'ab, dari ayahnya -raḍiyallāhu 'anhu-).13/272- Abu Ad-Dardā` 'Uwaimir -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Carikanlah untukku orang-orang yang lemah, karena sesungguhnya kalian diberi pertolongan dan rezeki melalui orang-orang yang lemah di antara kalian."(HR. Abu Daud dengan sanad jayyid).

Kosa Kata Asing:

فضلاً (faḍlan), al-faḍl artinya kelebihan, yaitu dia melihat dirinya lebih tinggi dan memiliki kedudukan lebih.

ابْغُوني (ubgūnī): carikanlah untukku.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keberadaan orang-orang lemah dari kalangan orang beriman adalah sebab diraihnya kemenangan atas musuh-musuh Islam, serta sebab mendapatkan rezeki.

2) Kasih sayang kepada orang miskin adalah sebab mendapatkan kasih sayang Allah -Ta'ālā-; berdasarkan sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-:"Sayangilah orang yang ada di bumi, niscaya kalian disayangi oleh Zat yang di langit."(HR. Ahmad)

3) Menjelaskan kasih sayang Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada orang lemah dan wajib bagi orang yang diberi taufik dari kalangan hamba Allah -Ta'ālā- untuk meneladani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam perkara-perkara kebaikan.

 34- BAB WASIAT TERHADAP WANITA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut."(QS. An-Nisā`: 19)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."(QS. An-Nisā`: 129)

Pelajaran dari Ayat:

1) Anjuran kepada para suami agar bersikap lembut kepada para wanita serta bergaul dengan mereka menurut cara yang terbaik; yaitu agar suami tidak menuntut haknya secara sempurna, karena hal itu tidak akan mungkin diberikan oleh perempuan secara sempurna, sebagaimana dia pun tidak akan mampu menunaikan kewajibannya secara sempurna.

2) Batasan cara bergaul yang disyariatkan adalah menurut yang makruf, yaitu yang biasa dikenal di tengah-tengah budaya masyarakat.

1/273- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Laksanakanlah wasiatku kepada kalian agar berbuat baik kepada para wanita, karena seorang wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya; jika engkau berusaha meluruskannya sempurna, maka kamu akan mematahkannya, dan jika engkau biarkan saja, maka ia tetap bengkok. Oleh sebab itu, berbuat baiklah kalian kepada para wanita."(Muttafaq ‘Alaih)Dalam riwayat lain dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain:"Wanita itu bagaikan tulang rusuk, bila kamu memaksa untuk meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya. Dan jika kamu bermesraan dan menurutinya, maka kamu dapat bermesraan namun padanya terdapat kebengkokan."Dalam riwayat Muslim lainnya:"Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk; dia tidak akan lurus kepadamu di atas satu jalan. Jika kamu bermesraan dengannya, maka kamu dapat bermesraan namun padanya ada kebengkokan. Jika kamu memaksa untuk meluruskannya sempurna, niscaya kamu akan mematahkannya. Mematahkannya adalah menceraikannya."

Kalimat "عَوَجٌ" ('awaj), dengan memfatahkan huruf "'ain" dan "wāw".

Kosa Kata Asing:

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ: terimalah wasiat yang aku wasiatkan kalian terkait para wanita.

Pelajaran dari Hadis:

1) Arahan dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- agar seorang laki-laki bergaul secara baik dengan keluarganya, yaitu agar suami bersikap memaafkannya dan memberinya kemudahan.

2) Bila ada satu perilaku yang Anda tidak sukai dari istri Anda, masih ada perilaku lain yang Anda ridai darinya. Maka, bandingkan antara kebaikan dan keburukannya, disertai sikap sabar dan pemberian arahan padanya, hingga urusan menjadi baik.

3) Upaya syariat untuk mempertahankan kasih sayang di antara suami istri serta mewujudkan semua yang akan memperkuatnya dengan menganjurkan sifat memaafkan dan lapang dada disertai nasihat yang terus-menerus.

2/274- Abdulllah bin Zam'ah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa ia mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhotbah dan menyebutkan unta (Nabi Ṣāliḥ) dan orang yang menyembelihnya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca ayat (artinya):"... ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka." (QS. Asy-Syams: 12)Beliau menjelaskan, "Yaitu seorang laki-laki yang perkasa, yang jahat dan merusak serta dilindungi oleh kaumnya." Kemudian beliau menyebut kaum wanita, lalu memberi nasihat yang terkait dengan mereka. Beliau bersabda,"Salah seorang dari kalian marah lalu mendera istrinya seperti mendera budak, padahal boleh jadi ia menggaulinya di penghujung hari itu."Kemudian beliau menasihati mereka terkait tawa mereka karena kentut, beliau bersabda,"Mengapa salah seorang kalian menertawakan apa yang ia (sendiri juga) melakukannya?"(Muttafaq ‘Alaih)الْعَارِمُ (al-'ārim), dengan "'ain", kemudian "rā`", yaitu: orang yang jahat dan merusak.انْبَعَثَ (inba'aṡa): bangkit dengan cepat.

Kosa Kata Asing:

جَلْدَ الْعَبْدِ (jaldal-'abdi): yakni dia mendera istrinya seakan-akan budak yang tertawan.

يُضَاجِعُهَا (yuḍāji'uhā): menggauli istrinya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kebahagiaan rumah tangga antara laki-laki dan istrinya dibangun di atas cinta dan keramahan.

2) Walaupun syariat membolehkan laki-laki memukul istrinya, tetapi itu adalah pukulan dengan tujuan mendidik dan menasihati, bukan sebagai hukuman dan penyiksaan.

Faedah Tambahan:

Khotbah Rasulullah -'alaihiṣ-ṣalātu was-salām- memiliki dua jenis: khotbah rutin dan khotbah situasional.

- Khotbah yang rutin seperti khotbah salat Jumat, salat Idain, salat dua hari raya, salat Kusuf, dan semisalnya.

- Khotbah situasional adalah yang memiliki sebab secara tiba-tiba, lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri dan berkhotbah menasihati para sahabat dan memberikan mereka penjelasan.

3/275- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Janganlah seorang laki-laki mukmin itu membenci seorang mukminah! Sebab, jika ia tidak senang satu perangai wanita itu, tentunya ia menyukai perangai lainnya." Atau beliau bersabda, "selainnya."(HR. Muslim)

Kata يَفْرَك (yafraku), yaitu dengan memfatahkan "yā`", kemudian "fā`" yang sukun, setelahnya "rā`" yang fatah, artinya: membenci. Dikatakan, "Farakat al-mar`ah zaujahā, wa farikahā zaujuhā -dengan mengkasrahkan "rā`"-, yafrakuhā -dengan harakat fatah-, artinya: membencinya. Wallāhu a'lam.

Pelajaran dari Hadis:

1) Seorang hamba harus menjadi pengambil keputusan yang adil. Jika istri Anda berbuat buruk, maka janganlah melihat keburukan yang dilakukannya waktu sekarang. Tetapi lihatlah ke waktu yang telah lalu yang dihiasi dengan interaksi yang bagus; karena ini akan membawa suami untuk berlapang dada dan memaafkan.

2) Syariat mengajak kepada sikap adil; sikap adil dalam kehidupan rumah tangga adalah dengan menimbang antara kebaikan dan keburukan, serta melihat mana yang lebih banyak terjadi lalu mengambil yang paling sering dan yang besar pengaruhnya.

3) Apa yang disebutkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di dalam muamalah bersama istri juga berlaku untuk orang lain yang Anda memiliki hubungan interaksi, pertemanan, atau lainnya dengannya.

4/276- 'Amr bin Al-Aḥwaṣ Al-Jusyamiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa dia mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda ketika haji wadak setelah sebelumnya beliau memuji dan menyanjung Allah -Ta'ālā- serta memberi peringatan dan nasihat,"Ingatlah! Berbuat baiklah kalian terhadap wanita, karena mereka adalah tawanan kalian. Kalian tidak berhak atas mereka lebih dari itu, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka melakukannya, jauhilah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika kemudian mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Ingatlah! Kalian memiliki hak atas istri kalian dan istri kalian memiliki hak atas kalian. Hak kalian atas istri kalian ialah dia tidak boleh memasukkan orang yang kalian benci ke tempat tidur kalian dan tidak boleh memasukan seseorang yang kalian benci ke dalam rumah kalian. Ingatlah! Hak istri kalian atas kalian ialah kalian berbuat baik kepada mereka dalam (memberikan) pakaian dan makanan (kepada) mereka."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan sahih")

Ucapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-: "عَوَان" ('awānun), yaitu tawanan wanita. Ia merupakan bentuk jamak dari kata "عَانِيَةٍ" ('āniyah), artinya wanita yang ditawan. Sedangkan "الْعَانِي" (al-'ānī), artinya: laki-laki yang ditawan.

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengumpamakan perempuan yang masuk di bawah kekuasaan seorang suami seperti orang yang ditawan. Sedangkan (الضَّرْبُ المُبَرحُّ) atau pukulan yang melukai, yaitu pukulan yang berat dan keras. Sabda Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam:فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبيلاً, (maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya)maksudnya: janganlah kalian mencari-cari celah untuk dijadikan sebagai alasan untuk menyakiti mereka. Wallāhu a'lam.

Kosa Kata Asing:

الفَاحِشَةُ (al-fāḥisyah: perbuatan keji), maksudnya di sini adalah kedurhakaan istri kepada suaminya. Berdasarkan firman Allah -Ta'ālā- setelah itu:"Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi lagi Mahabesar."

Sabda beliau: "Tidak boleh memasukkan orang yang kalian benci ke tempat tidur kalian", maksudnya: janganlah mereka memuliakan orang yang kalian benci.

Pelajaran dari Hadis:

1) Seorang perempuan tidak boleh membawa orang lain masuk ke tempat tidur sementara suaminya tidak suka hal itu. Juga tidak boleh memuliakan siapa yang dia tidak sukai, dan tidak memberi izin ke rumahnya orang yang tidak dia senangi. Ini semua adalah hak suami yang wajib ditunaikan istri.

2) Suami adalah yang memberi nafkah kepada istrinya, sekalipun istrinya kaya. Karena suami memiliki hak kepemimpinan rumah tangga disebabkan adanya nafkah yang dia berikan dari rezeki Allah -Ta'ālā-.

Faedah Tambahan:

Tahapan menasihati perempuan disebutkan oleh Allah -Ta'ālā- dalam firman-Nya:"Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan melakukan nusyūz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka."Yaitu tiga tahapan:

1) Menasihatinya dengan baik; bila dia tidak menerima, maka silakan berpindah ke tahapan kedua.

2) Memboikotnya di tempat tidur tanpa meninggalkan tempat tidur; yaitu dengan tidur membelakanginya atau tidak berbicara dengannya. Adapun mereka yang memahami agar suami meninggalkan tempat tidur saja, maka dia telah salah paham. Bila metode ini tidak berhasil, silakan berpindah ke tahapan ketiga.

3) Memukulnya dengan pukulan yang tidak melukai bila dia tetap durhaka.

5/277- Mu'āwiyah bin Ḥaidah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku bertanya, "Ya Rasulullah! Apa hak istri yang harus kami tunaikan?" Beliau bersabda,"Hendaknya engkau memberinya makan ketika engkau makan, memberinya pakaian ketika engkau berpakaian, tidak memukul wajah, tidak mencela, dan tidak melakukan pengucilan terhadapnya kecuali di dalam rumah."(Hadis hasan riwayat Abu Daud). Abu Daud berkata, "Makna 'tidak mencela' yaitu, jangan mengatakan, 'semoga Allah menjelekkanmu.'"

Pelajaran dari Hadis:

1) Suami wajib memberi nafkah kepada istrinya sebagaimana dia menafkahi dirinya sendiri, sebab nafkah terhadapnya adalah hak yang wajib ditunaikan oleh suami.

2) Boleh memukul dengan pukulan yang tidak melukai, tidak boleh diarahkan ke muka, karena muka adalah bagian paling terhormat pada manusia, dan syariat telah melarang memukul muka.

3) Larangan melakukan celaan yang bersifat fisik serta maknawi terhadap istri, seperti mencelanya dengan aib fisiknya atau mengatakan: kamu berasal dari keluarga buruk atau lainnya.

4) Boikot (pengucilan) terhadap istri terbatas dilakukan di rumah; artinya, Anda tidak mengucilkannya secara terang-terangan dan tidak menampakkan bahwa Anda sedang memboikotnya. Karena termasuk bijak bila urusan rumah tangga ditutupi, sehingga ketika mereka berdua (suami istri) telah berdamai maka segala sesuatu akan kembali seperti yang diinginkan, tanpa diketahui oleh orang lain. Beginilah seharusnya keadaan rumah tangga orang yang beriman dan mendapat taufik.

6/278- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya."(HR. Tirmidzi dan dia berkata, "Hadisnya hasan sahih")

Pelajaran dari Hadis:

1) Iman bertingkat-tingkat dan tidak satu derajat, sebagaimana firman Allah -Ta'ālā-:"... agar orang yang beriman bertambah imannya." (QS. Al-Muddaṡṡir: 31)Semakin tinggi akhlak seorang hamba semakin menunjukkan kekuatan imannya.

2) Manusia yang terbaik adalah yang paling baik kepada keluarganya.

3) Orang-orang terdekat adalah yang paling berhak mendapat kebaikan, sehingga ketika Anda memiliki kebaikan maka hendaklah keluarga Anda adalah orang pertama yang mendapatkan manfaat kebaikan tersebut.

Faedah Tambahan:

Akhlak baik berlaku terhadap Allah dan terhadap hamba-hamba-Nya. Akhlak baik terhadap Allah -Ta'ālā- adalah dengan bersikap rida dan tunduk sepenuhnya kepada syariat-Nya serta rida dan bertawakal dengan ketetapan takdir Allah -'Azza wa Jalla-. Sedangkan akhlak baik terhadap sesama manusia adalah dengan memberi kebaikan, tidak menyakiti, dan bersabar ketika disakiti.

7/279- Iyās bin Abdullāh bin Abi Żubāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Janganlah kalian memukul hamba-hamba perempuan Allah."Lalu Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan berkata, "Para wanita telah lancang kepada suami mereka." Maka Nabi pun mengizinkan mereka dipukul. Lalu berkumpullah banyak wanita kepada keluarga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengeluhkan suami mereka. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sungguh banyak wanita menemui keluarga Muhammad guna mengadukan apa yang telah dilakukan oleh suami mereka. Mereka (para suami itu) bukanlah orang terbaik di antara kalian."(HR. Abu Daud dengan sanad sahih)

Kata "ذَئِرنَ" (ża`irna), dengan huruf "żāl" yang fatah, setelahnya "hamzah" yang berharakat kasrah, lalu "rā`" sukun, kemudian "nūn"; artinya lancang. Sedangkan "أَطَافَ" (aṭāfa), maksudnya: mengelilingi.

Kosa Kata Asing:

إِمَاءُ اللَّه (imā`ullāh: hamba-hamba perempuan Allah), maksudnya: para wanita. Kata "amatullāh/imā`ullāh" (untuk wanita), seperti mengatakan "abdullāh/ibādullāh" (untuk laki-laki).

Pelajaran dari Hadis:

1) Seseorang tidak boleh berlebihan dalam memukul keluarganya. Hal itu diperbolehkan bila ada sebab yang mengharuskan memukul. Tetapi jika tidak, maka dia tidak boleh memukul. Sehingga memukul harusnya menjadi solusi terakhir.

2) Orang yang terbiasa memukul keluarganya menunjukkan dia kurang baik, karena orang terbaik adalah yang paling baik kepada istrinya.

8/280- Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Dunia itu kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita salehah."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

مَتَاعُ (matā'): sesuatu yang dinikmati, sebagaimana seorang musafir menikmati bekalnya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Bila seorang hamba diberikan kemudahan untuk memiliki istri wanita yang baik dalam agama dan akalnya, maka ini adalah sebaik-baik kenikmatan dunia.

2) Wanita salehah adalah sebaik-baik bekal yang dapat mengantarkan seorang hamba ke akhiratnya.

Faedah Tambahan:

Manakala Allah -Ta'ālā- menyebutkan nikmat-Nya kepada hamba-Nya Zakaria -'alaihiṣ-ṣalātu was-sallām-, Dia berfirman,"... dan Kami jadikan istrinya salehah." (QS. Al-Anbiyā`: 90)Maka di antara kecerdasan seorang hamba adalah bila dia mengupayakan berbagai faktor untuk kesalehan istrinya, karena hal itu akan menjadikan seluruh anggota keluarganya baik. Hal itu dapat diwujudkan dengan beberapa hal, di antaranya:

1- Suami harus istikamah di atas ketaatan kepada Allah -Ta'ālā-, karena kesalehan suami menjadi sebab kesalehan istri.

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Dirikanlah salat, tunaikan zakat, berhaji dan berumrahlah, dan berbuat istikamahlah niscaya akan terwujud keistikamahan dengan keistikamahanmu."(HR. Aṭ-Ṭabarāniy dalam ketiga Kitab Mu'jam-nya dari hadis Samurah)2- Mengajar dan mendidiknya di bawah naungan penghambaan kepada Allah -Ta'ālā-:"Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik."(QS. An-Naḥl: 97)3- Terus-menerus berdoa agar Allah menjadikan istrinya salehah:"Dan orang-orang yang berdoa, 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami).'"(QS. Al-Furqān: 74)4- Bersabar terhadap akhlak buruk yang kadang muncul dari istri:"Karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya."(QS. An-Nisā`: 19)5- Memperbaiki mata pencahariannya dan mengupayakan yang halal; hal ini akan menjadi sebab keberkahan dan kesalehan serta kemudahan dan keberuntungan:“Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik, dan kerjakanlah kebajikan."(QS. Al-Mu`minūn: 51)

 35- BAB HAK SUAMI ATAS ISTRI

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Laki-laki (suami) itu pemimpin bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)."(QS. An-Nisā`: 34)

Pelajaran dari Ayat:

1) Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, karena Allah -Ta'ālā- telah mengistimewakan mereka dengan hal itu. Juga karena laki-laki yang memberi nafkah kepada perempuan.

2) Kemuliaan perempuan ada di rumahnya, yaitu dia menjaga rahasia suaminya serta menjaga diri ketika suaminya tidak ada karena Allah -Ta'ālā- menjaga mereka, merutinkan ibadah kepada Rabb-nya, dan taat kepada suaminya.

Adapun dari hadis-hadis yang berkaitan dengan bab ini;

di antaranya hadis 'Amr bin Al-Aḥwaṣ yang telah disebutkan di bab sebelumnya.

1/281- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu istrinya menolak sehingga si suami melalui malam itu dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknat istri itu hingga pagi."(Muttafaq ‘Alaih)Dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang lain:"Apabila seorang wanita bermalam sementara ia tidak memenuhi ajakan suaminya di tempat tidur, maka malaikat melaknatnya hingga pagi."Dalam riwayat yang lain, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Demi Allah yang jiwaku berada di Tangan-Nya! Tidaklah seorang suami mengajak istrinya ke ranjang lalu dia menolak, melainkan yang ada di langit murka kepadanya sampai suaminya memaafkannya."

Kosa Kata Asing:

"Malaikat melaknatnya" yaitu, malaikat berdoa memohonkan laknat untuk perempuan tersebut. Laknat ialah pengusiran dan penjauhan dari rahmat Allah.

تَأْبىٰ (ta`bā): ia menolak.

Pelajaran dari Hadis:

1) Ia adalah dalil yang tegas bagi pendapat Ahli Sunah wal Jamaah, bahwa Allah -'Azza wa Jalla- di atas langit, berada di atas Arasy-Nya. Arasy Allah ada di atas tujuh langit, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh nas syariat dan ijmak.

2) Menjelaskan besarnya hak suami atas istrinya, dan hak ini semakin kuat bagi suami yang menunaikan hak istrinya.

3) Peringatan terhadap murka Allah -Ta'ālā- serta laknat malaikat terhadap perempuan yang menolak ajakan suaminya ke tempat tidur karena membangkang dan durhaka tanpa sebab yang dibenarkan syariat.

2/282- Juga dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa (sunah) sedang suaminya ada kecuali dengan seizinnya. Dan tidak boleh memberi izin (orang masuk) di rumah suaminya kecuali dengan seizinnya."(Muttafaq 'Alaih, dan ini redaksi Bukhari)

Kosa Kata Asing:

شَاهِدٌ (syāhid): hadir, ada.

Pelajaran dari Hadis:

1) Bila suami tidak ada maka seorang perempuan boleh berpuasa sesukanya.

2) Suami memimpin istrinya menurut cara yang makruf; dia boleh melarang siapa yang dikhawatirkan kedatangannya akan membawa keburukan di rumah tangganya.

Faedah Tambahan:

Apakah hukum salat sunah sama seperti puasa sunah, harus ada izin suami?

Para ulama berkata, "Salat sunah tidak seperti puasa. Karena waktu salat pendek. Ini berbeda dengan puasa yang dilakukan sepanjang siang. Sehingga seorang wanita boleh melakukan salat walaupun suaminya ada, kecuali kalau dia melarangnya. Tetapi, seharusnya seorang suami tidak menghalangi istrinya dari amalan kebaikan. Bahkan dia harus menyemangatinya."

Faedah Lain:

Izin memasukkan orang ke rumah terbagi dua:

- Izin menurut kebiasaan; yaitu kebiasaan dan budaya masyarakat, seperti masuknya istri tetangga, kerabat, dan semisalnya.

- Izin secara ucapan, misalnya suami berkata, "Masukkan siapa saja yang kamu kehendaki, kecuali orang yang kamu lihat berbahaya maka jangan dimasukkan." Jika demikian, maka perkara ini harus mengikuti izinnya.

3/283- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Semua kalian adalah pemimpin, dan semua kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Seorang amir adalah pemimpin, laki-laki adalah pemimpin untuk keluarganya, wanita adalah pemimpin di rumah suami dan anak-anaknya. Jadi setiap kalian adalah pemimpin, dan semua kalian bertanggung jawab atas yang dipimpinnya."(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

الرَّاعِي (ar-rā'ī): orang yang mengurus sesuatu (pemimpin), yaitu memperhatikan kemaslahatannya serta mempersiapkannya dan memperhatikan yang membahayakannya lalu menjauhkannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Hadis ini ditujukan untuk semua umat Islam. Di dalamnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menerangkan tingkatan tanggung jawab yang wajib ditunaikan demi mewujudkan kemaslahatan.

2) Para pemimpin berbeda tingkat kepemimpinannya, antara tanggung jawab besar dan luas dan tanggung jawab yang kecil dan sempit.

3) Besarnya hak suami atas istrinya, dan wajib ditunaikan oleh istri.

4/284- Abu Ali Ṭalq bin Ali -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Apabila seorang suami mengajak istrinya kepada hajatnya, maka ia harus memenuhinya walaupun sedang memasak di depan tungku api."(HR. Tirmizi dan An-Nasā`iy; Tirmizi berkata, "Hadisnya hasan sahih")5/285- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Andaikan aku boleh memerintah seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri agar bersujud kepada suaminya."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan sahih")

Kosa Kata Asing:

حَاجَتُهُ (ḥājatuhu): hajat suami memenuhi syahwatnya pada istrinya. Tetapi juga ada kemungkinan bahwa maksudnya adalah hajat suami secara umum.

التَّنُّوْر (at-tannūr): dapur membuat roti.

Pelajaran dari Hadis:

1) Penegasan tentang kewajiban perempuan untuk segera melakukan ketaatan kepada suaminya, walaupun dalam kondisi yang paling sulit.

2) Syariat menutup pintu fitnah perempuan bagi laki-laki, sehingga syariat menghalalkan istrinya baginya serta menganjurkan istri tentang kewajiban menaatinya.

3) Menjunjung hak suami serta menganjurkan istri untuk taat kepada suaminya menurut cara yang makruf.

6/286- Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Wanita mana saja yang meninggal dunia sedangkan suaminya rida kepadanya maka dia akan masuk surga."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan") [6].

Pelajaran dari Hadis:

1) Taat kepada suami merupakan sebab masuk surga.

2) Islam memuliakan perempuan, yaitu dengan menyiapkan baginya sebuah amalan yang dengan sebabnya dia akan masuk surga bila dia bersabar dan taat menurut yang makruf.

3) Bila seorang suami meninggal dunia sementara dia tidak rida kepada istrinya, niscaya istrinya berada dalam bahaya besar yang diancam dengan siksa.

7/287- Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan calon istrinya di akhirat dari kalangan bidadari akan berkata, 'Janganlah kamu menyakitinya! Semoga Allah mencelakakanmu. Sesungguhnya ia hanya sementara berkumpul denganmu. Sebentar lagi ia meninggalkanmu menuju kami.'"(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan")

Pelajaran dari Hadis:

1) Bidadari surga mencela perempuan yang menyakiti suaminya di dunia; ini adalah dalil bahayanya tidak menaati suami.

2) Anjuran kepada para suami dan istri agar saling bergaul dengan baik, karena dunia ini hanyalah negeri sementara, bukan negeri abadi.

8/288- Usāmah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Tidaklah aku meninggalkan fitnah yang paling berbahaya bagi laki-laki melebihi wanita." (Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Berita tentang fitnah yang disampaikan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ini sebenarnya sebagai peringatan terhadap fitnah wanita.

2) Menutup semua celah yang akan menyebabkan seorang laki-laki terfitnah dengan wanita, di antaranya pengharaman ikhtilāṭ (campur-baur) antara laki-laki dan perempuan.

Faedah Tambahan:

- Allah -Ta'ālā- telah berfirman,"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang."(QS. Āli 'Imrān: 14)Semua yang disebutkan ini termasuk yang dijadikan indah bagi manusia di dunia dan menjadi sebab mereka terfitnah. Tetapi yang paling berat adalah fitnah wanita. Oleh karena itu, Allah memulai dengan penyebutannya. Allah berfirman,"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa wanita-wanita ..."- Sebagian laki-laki salah memahami hadis-hadis ini sehingga dia bersikap keras dan menyakiti istrinya. Dia tidak tahu bahwa hadis-hadis ini tidak membukakannya jalan untuk berbuat zalim. Bahkan, dia harus bersikap adil dan proporsional kepada istrinya, agar dia bergaul bersamanya dengan baik, serta menunaikan hak-hak istri yang harus dia tunaikan:"Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Tetapi para suami, mempunyai kelebihan di atas mereka."(QS. Al-Baqarah: 228)Suami yang cerdas akan membangun hubungannya bersama istrinya di atas cinta dan kasih sayang serta lapang dada dan ketulusan, agar dia dapat meraih kesuksesan dan kesalehan. Yang menjadi teladannya dalam masalah itu adalah rumah tangga Nabi serta hubungan antara beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama istri dan keluarganya. Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah dalam menjalaninya.

 36- BAB MENAFKAHI KELUARGA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut."(QS. Al-Baqarah: 233)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya."(QS. Aṭ-Ṭalāq: 7)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya."(QS. Saba`: 39)

Faedah:

المَوْلُوْدُ لَهُ (al-maulūd lahu): ayah, dan itu mencakup ayah terdekat dan ayah jauh seperti kakek dan seterusnya ke atas.

Pelajaran dari Ayat:

1) Anjuran memberi nafkah kepada keluarga sesuai kemampuan seorang suami, tanpa beban berlebihan yang akan memberatkannya.

2) Allah -Ta'ālā- menjamin akan memberi ganti kepada orang yang menafkahi keluarganya; siapa yang dijamin oleh Allah, maka dia tidak akan terlantar.

Faedah Tambahan:

Syarat-syarat kewajiban nafkah:

Pertama: ia mampu memberi nafkah; jika dia tidak mampu maka dia tidak wajib memberi nafkah itu kecuali apa yang dia mampui.

Kedua: orang yang memberi nafkah merupakan ahli waris bagi orang yang dinafkahi; jika orang yang memberi nafkah merupakan kerabat yang bukan ahli waris, maka nafkah itu tidak wajib baginya.

1/289- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau berikan kepada orang-orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu."(HR. Muslim)2/290- Abu Abdillah, juga dikatakan Abu Abdirrahman, Ṡaubān bin Bujdud, Maulā Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sebaik-baik dinar yang diinfakkan seseorang adalah dinar yang dia nafkahkan untuk keluarganya, dinar yang dia nafkahkan untuk kendaraan yang dia gunakan di jalan Allah, dan dinar yang diinfakkan kepada teman-temannya yang turut berjuang di jalan Allah."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan memberikan nafkah kepada keluarga, yaitu merupakan nafkah wajib yang paling utama disebabkan karena kebaktian yang terkandung di dalamnya.

2) Nafkah kepada keluarga hukumnya fardu ain, sedangkan nafkah kepada selain mereka hukumnya fardu kifayah, dan fardu ain lebih afdal daripada fardu kifayah menurut mayoritas ulama.

3/291- Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- menceritakan, Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah aku akan mendapat pahala apabila memberi nafkah kepada putra-putra Abu Salamah, sedangkan aku tidak akan membiarkan mereka berkeliaran mencari makan kesana-kemari, karena mereka adalah anak-anakku?" Beliau menjawab,"Ya, kamu akan mendapatkan pahala atas apa yang kamu nafkahkan pada mereka."(Muttafaq ‘Alaih)4/292- Sa'ad bin Abī Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dalam hadis panjang yang telah kami sebutkan di awal kitab ini dalam Bab Niat, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya,"Sungguh, tidaklah engkau memberi sebuah nafkah karena menginginkan wajah Allah melainkan engkau akan diberi pahala padanya, termasuk apa yang engkau berikan ke mulut istrimu."(Muttafaq ‘Alaih)5/293- Abu Mas'ūd Al-Badriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Apabila seorang laki-laki mengeluarkan nafkah untuk keluarganya dengan mengharap pahala dari Allah, maka nafkah itu bernilai sedekah baginya."(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

لَسْتُ بِتَارِكَتِهمْ هكَذَا وَهكَذَا: aku tidak membiarkan mereka berkeliaran ke sana kemari mencari makan.

في فيِّ امرأتك: ke mulut istrimu.

يَحْتَسِبُهَا: mengharap wajah Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Di antara pintu ketaatan yang dianjurkan adalah memberi nafkah kepada keluarga dan orang-orang yang ditanggung.

2) Perkara yang merupakan kebiasaan dapat berubah bernilai ibadah dengan sebab niat yang benar. Lihatlah nafkah yang biasa diberikan seseorang kepada keluarganya, ia menjadi bernilai sedekah tatkala dia meniatkannya ikhlas di jalan Allah. Hendaklah orang yang memberi nafkah berusaha memperbaiki niat.

6/294- Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Cukuplah seseorang berdosa dengan menyia-nyiakan orang yang wajib dia nafkahi."(Hadis sahih riwayat Abu Daud dan lainnya)Muslim juga meriwayatkan dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya dengan redaksi yang semakna. Beliau bersabda,"Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa ketika dia menahan nafkah orang yang menjadi tanggungannya."

Kosa Kata Asing:

يَقُوْتُ (yaqūtu): yang wajib dia nafkahi.

Pelajaran dari Hadis:

1) Peringatan keras serta ancaman terhadap siapa saja yang menelantarkan orang yang wajib dia nafkahi, dan itu mencakup manusia dan lainnya yang wajib dia nafkahi.

2) Kewajiban memperhatikan orang yang Allah wajibkan kepadamu untuk menafkahinya.

7/295- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidaklah hamba memasuki suatu hari, melainkan ada dua malaikat turun (ke bumi). Salah satu mereka berdoa, 'Ya Allah! Berikanlah ganti (yang baik) kepada orang yang bersedekah.' Sedang malaikat yang lain mengatakan, 'Ya Allah! Timpakanlah kehancuran pada orang yang menahan hartanya (kikir).'"(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

خَلَفًا (khalafan): ganti dari apa yang dia nafkahkan.

تَلَفًا (talafan): kehancuran akibat apa yang tidak dia berikan kepada yang berhak menerimanya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran mendoakan tambahan ganti bagi orang yang dermawan, yaitu agar Allah memberinya ganti yang lebih baik dari yang dia nafkahkan, serta mendoakan orang yang bakhil agar dihancurkan harta yang dia tahan dan simpan.

2) Allah akan mengabulkan doa seorang hamba kepada saudaranya dari jauh tanpa sepengetahuannya.

3) Malaikat mendoakan kebaikan dan keberkahan kepada orang-orang beriman yang saleh dan berinfak, dan dalam hal ini terkandung anjuran untuk memberi nafkah.

4) Infak fi sabilillah termasuk bentuk syukur nikmat dan merupakan sebab bertambahnya nikmat tersebut:“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrāhīm: 7)8/296- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tangan di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan di bawah (penerima). Mulailah dari orang yang wajib engkau nafkahi. Sebaik-baik sedekah adalah yang disedekahkan setelah memenuhi kebutuhan diri. Siapa yang menjaga kehormatan dirinya maka Allah akan menjaga kehormatannya, dan siapa yang mencukupkan dirinya, maka Allah akan mencukupkannya."(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

الْيَدُ الْعُلْيَا (al-yad al-'ulyā): tangan di atas, yaitu yang memberi.

الْيَدُ السُّفْلَى (al-yad as-suflā): tangan di bawah, yaitu yang menerima.

ظَهْرِ غِنىً (ẓahr ginā): tidak butuh (berkecukupan), yaitu setelah dia memenuhi kebutuhan keluarga dan tanggungannya.

يَسْتَعْفِفْ (yasta'fif): mengharapkan kesucian dari Allah, yaitu menjaga diri dari yang haram.

يَسْتَغْنِ (yastagni): mencukupkan diri dengan pemberian Allah kepadanya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan kaya bagi laki-laki saleh yang menunaikan hak harta adalah lebih utama; sebab sebaik-baik harta adalah yang ada pada hamba yang saleh.

2) Makruhnya meminta-minta; tidak diperbolehkan kecuali karena darurat, butuh, atau karena sebuah alasan yang dibenarkan oleh syariat.

3) Menjaga kehormatan dan sifat kanaah (merasa berkecukupan) termasuk sifat orang beriman.

4) Siapa yang memohon pertolongan kepada Allah untuk menyempurnakan amal saleh yang dia niatkan dalam dirinya, maka Allah akan membantunya serta menyampaikannya kepada niatnya.

 37- BAB MENGINFAKKAN HARTA YANG DICINTAI DAN YANG BAGUS

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sehingga kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai."(QS. Āli 'Imrān: 92)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usaha kamu yang baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu infakkan."(QS. Al-Baqarah: 267)

Pelajaran dari Ayat:

1) Sedekah dinamakan dengan sedekah/ṣadaqah (berasal dari kata "ṣidq" yang bermakna ketulusan), karena menunjukkan ketulusan iman seorang hamba.

2) Mengingatkan tabiat manusia, yaitu tidak rida mengambil yang jelek sebagai tukaran yang baik. Lalu bagaimana dia sendiri rela memberi yang jelek sebagai ganti yang baik?!

3) Seorang hamba harus memiliki semangat yang tinggi dalam kebaikan, dengan menginfakkan hartanya yang paling baik dan yang dia cintai. Ketika itulah jiwanya akan suci dan tenteram.

1/297- Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- adalah seorang kaum Ansar yang paling banyak kebun kurmanya di Madinah. Dahulu, kebun kurma yang paling dicintainya adalah kebun bernama Bairaḥā` yang berhadapan dengan Masjid Nabawi. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sering masuk ke kebun itu dan minum air bersih yang ada di dalamnya. Anas melanjutkan, Ketika turun ayat:"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sehingga kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai."Abu Ṭalḥah mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan berkata, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu,Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sehingga kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.'Sedangkan harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaḥā'. Kebun itu aku sedekahkan untuk Allah -Ta'ālā-. Aku mengharapkan kebajikan dan pahala dari Allah. Untuk itu, wahai Rasulullah, pergunakanlah dia sesuai yang Allah tunjukkan kepadamu!" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Bagus. Itu adalah harta (yang mendatangkan) untung. Itu adalah harta (yang mendatangkan) untung. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku sarankan agar engkau membagikannya kepada kerabatmu!"Abu Ṭalḥah berkata, "Wahai Rasulullah! Aku akan melaksanakan petunjukmu." Selanjutnya Abu Ṭalḥah membagi-bagi kebun itu kepada kerabat dan sepupu-sepupunya.(Muttafaq ‘Alaih)

Sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-: "مَالٌ رَابح" (māl rābiḥ), diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain: "رَابحٌ" (rābiḥ), dan "رَايحٌ" (rāiḥ), yaitu dengan huruf "bā`", dan "yā`". "رَايحٌ" (rāiḥ) artinya: manfaatnya sampai kepadamu. Sedangkan "بَيْرَحَاءُ" (bairaḥā`) adalah nama kebun kurma. Diriwayatkan dengan mengkasrahkan "ba", dan juga memfatahkannya.

Kosa Kata Asing:

مسْتَقْبلَةَ المَسْجِدِ (mustaqbalah al-masjid): di arah kiblat Masjid Nabawi.

ذُخرها (żukhruhā): pahalanya.

بَخٍ (bakhin): ungkapan yang dipakai untuk menyatakan kagum kepada sebuah perkara dan membesarkannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kesegeraan dan respon cepat para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- kepada kebaikan karena mereka mengetahui nilai dunia dan harta, bahwa keduanya tidak sebanding dengan pahala abadi yang ada di sisi Allah -Ta'ālā-.

2) Harta Anda yang sebenarnya adalah yang Anda infakkan dan sedekahkan; adapun harta yang Anda tahan maka akan hilang dari Anda atau Anda yang akan meninggalkannya. Oleh karena itu, hendaklah seorang hamba berupaya keras supaya memiliki bekal yang akan mengantarkannya kepada Allah dan negeri akhirat.

 38- BAB KEWAJIBAN MEMERINTAHKAN KELUARGA, PUTRA-PUTRI YANG SUDAH BERUSIA TAMYIZ, DAN SEMUA YANG ADA DALAM TANGGUNG JAWABNYA AGAR TAAT KEPADA ALLAH -TA'ĀLĀ-, MENDIDIK MEREKA, SERTA MELARANG MEREKA DURHAKA DAN MELANGGAR BERBAGAI LARANGAN

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabarlah dalam mengerjakannya."(QS. Ṭāha: 132)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."(QS. At-Taḥrīm: 6)

Pelajaran dari Ayat:

1) Korelasi antara bab ini dengan bab sebelumnya, yaitu setelah penulis -raḥimahullāh- menyebutkan kewajiban asupan fisik bagi keluarga, selanjutnya beliau menyebutkan hak mereka berupa kewajiban asupan ruh, dan hal pertama yang diperintahkan kepada mereka ialah menegakkan tauhid dan salat.

2) Memerintahkan keluarga agar taat kepada Allah -Ta'ālā- dan kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ialah cara untuk menghindari azab Allah di dunia dan akhirat.

1/298- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Al-Ḥasan bin Ali -raḍiyallāhu 'anhumā- mengambil satu butir kurma sedekah lalu dia meletakkannya di mulutnya. Maka Rasulullah -'alaihiṣṣalātu was sallām- menegurnya,"Eak, eak, buanglah kurma itu! Tidakkah kau tahu bahwa kita tidak boleh makan barang (harta) sedekah?"(Muttafaq 'Alaih)

Dalam riwayat lain, "Kita tidak dihalalkan makan harta sedekah." Sabda beliau: "كِخْ كِخْ" (kikh, kikh), dikatakan dengan mensukunkan "kha". Ada juga yang mengatakannya dengan mengkasrahkannya disertai tanwin (كِخٍ كِخٍ: kikhin, kikhin). Yaitu ungkapan pelarangan kepada anak-anak dari sesuatu yang kotor. Ketika itu Al-Ḥasan -raḍiyallāhu 'anhu- masih kanak-kanak.

Pelajaran dari Hadis:

1) Barang sedekah tidak dihalalkan bagi keluarga Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, karena mereka adalah orang-orang mulia sementara sedekah dan zakat adalah kotoran manusia, sehingga tidak tepat bagi orang-orang yang mulia untuk menerima kotoran manusia.

2) Wajib bagi seorang pendidik agar mendidik anak-anak dan murid-muridnya untuk meninggalkan yang haram, sebagaimana juga wajib mendidik mereka untuk mengerjakan kewajiban.

2/299- Abu Ḥafṣ Umar bin Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad, anak tiri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata, Dahulu aku seorang anak kecil yang hidup dalam pengasuhan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Suatu ketika tanganku kesana-kemari (mengambil makanan) di nampan makanan. Sehingga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadaku,"Nak, bacalah bismillāh, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu." Setelah itu, cara makanku senantiasa seperti itu.(Muttafaq ‘Alaih)

تَطِيشُ (taṭīsyu): keliling ke semua sisi nampan.

Kosa Kata Asing:

رَبيبِ رَسولِ الله (rabīb Rasūlillāh): anak istri Rasulullah, Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā-.

في حِجْرِ رسولِ الله (fī ḥijri Rasūlillāh): dalam pengasuhan dan penjagaan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

طِعْمتي (ṭi'matī), dengan mengkasrahkan "ṭā`", artinya: cara makanku.

Pelajaran dari Hadis:

1) Seorang wali wajib mendidik anaknya tentang cara makan minum dan adab-adab nabi serta akhlak Islam lainnya.

2) Baiknya akhlak Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan cara mengajar beliau; yaitu beliau tidak menghardik anak tersebut ketika dia melakukan kesalahan dalam adab makan, tetapi beliau mengajarinya dengan lembut.

3) Mengajarkan anak kecil adab-adab seperti ini merupakan bentuk pengajaran yang baik, karena anak tidak akan lupa apa yang dipelajarinya ketika kecil.

Faedah Tambahan:

Adab-adab yang diajarkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada anak kecil dalam hadis ini ada tiga:

1) Wajib membaca 'bismillāh' ketika memulai makan. Bila dia meninggalkan bacaan basmalah, maka setan akan menemaninya dalam makannya itu. Bila dia lupa, dia masih bisa membaca doa, "Bismillāhi awwalahu wa ākhirahu."

2) Sabda beliau, "Makanlah dengan tangan kananmu" adalah kata perintah yang menunjukkan hukum wajib. Sehingga wajib atas seseorang untuk makan dan minum dengan tangan kanannya. Karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang makan dan minum dengan tangan kiri. Beliau bersabda, "Sesungguhnya setan makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri."

3) Sabda beliau, "Makanlah yang ada di hadapanmu." Maksudnya, jangan makan selain yang ada di hadapanmu. Bila Anda melampaui batas hingga ke hadapan orang lain, maka ini adalah bentuk buruknya adab.

Faedah Tambahan:

Bolehkah makan dengan tangan kiri? Atau mengambil makanan selain yang ada di hadapannya?

1) Bila terdapat alasan sehingga terpaksa makan dengan tangan kiri, seperti uzur sakit dan semisalnya, maka tidak mengapa dia melakukan itu.

2) Bila makanan memiliki banyak variasi atau jumlah piringnya banyak, maka dia boleh makan dari piring yang bukan di hadapannya.

18/3- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.Seorang penguasa adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.Seorang pembantu adalah pemimpin di harta majikannya, dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Maka, semua kalian adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Semua individu dalam masyarakat Islam memiliki tanggung jawab yang harus dia laksanakan sesuai dengan yang diridai oleh Allah -Ta'ālā-.

2) Dengan berbagi tanggung jawab maka urusan akan menjadi sempurna dan baik. Sebab itu, orang-orang yang beriman harus saling melengkapi satu sama lain.

Faedah Tambahan:

Dalam hadis ini terdapat wasiat yang besar agar kita kembali kepada para ulama, berpijak pada arahan mereka, dan mengikuti petunjuk mereka. Dasarnya adalah apa yang disampaikan oleh Alamah Aṭ-Ṭāhir bin Āsyūr (wafat 1393 H) -raḥimahullāh- dalam pelajaran dari hadis ini:"Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak menyebutkan ulama sebagai pemimpin umat dan tidak juga yang bertanggung jawab atas rakyat karena mereka adalah referensi bagi para pemimpin."

Beliau juga berkata, "Petaka dan musibah-musibah yang terjadi pada umat ini tidaklah mulai muncul tanduknya kecuali setelah kebanyakan mereka menyimpang dari bimbingan para ulama dan tidak kembali kepada mereka dalam perkara-perkara yang muskil. Ketika kebanyakan mereka lancang mengandalkan diri dalam mengatur urusan-urusan besar tanpa bimbingan ahli agama, tetapi justru mengikuti dai-dai yang sesat... maka umat Islam ditimpa kegagalan dan mereka dituntun oleh pedang dan tombak." (Disadur secara ringkas dari Uṣūl An-Niẓām Al-Ijtimā'iy fil-Islām)

4/301- 'Amr bin Syu'aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa dia berkata, Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda,"Perintahkan anak-anak kalian untuk melaksanakan salat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan salat ketika berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah di antara mereka di tempat tidur."(Hadis hasan; HR. Abu Daud dengan sanad hasan)5/302- Abu Ṡurayyah Sabrah bin Ma'bad Al-Juhaniy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ajarkan anak-anak mengerjakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkannya ketika berusia sepuluh tahun."(Hadis hasan; HR. Abu Daud dan Tirmizi, Tirmizi berkata, "Hadisnya hasan")

Adapun redaksi riwayat Abu Daud: "Perintahkan anak-anak mengerjakan salat bila telah berusia tujuh tahun."

Kosa Kata Asing:

"Pukullah mereka" maksudnya: pukulan yang bertujuan mendidik dan tidak menyisakan celaka.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan hak anak kepada orang tuanya, yaitu memerintahkan mereka untuk melaksanakan salat bila telah berusia tujuh tahun dan memukul mereka bila meninggalkannya ketika telah berusia sepuluh tahun.

2) Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan memukul anak untuk mendidik dan meluruskan mereka, bukan untuk menyakiti dan menyiksa. Karena sudah merupakan konsekuensi dari kasih sayang adalah agar anak belajar taat kepada Allah -Ta'ālā-, supaya dia tumbuh di atas ketakwaan.

 39- HAK TETANGGA DAN WASIAT BERBUAT BAIK KEPADANYA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabīl, dan hamba sahaya yang kamu miliki."(QS. An-Nisā`: 36)

Pelajaran dari Ayat:

1) Memenuhi hak tetangga adalah wasiat Allah -Ta'ālā- kepada hamba-Nya, bahkan Allah menggabungkan antara kewajiban menunaikan ibadah kepada-Nya, dan wasiat berbuat baik kepada tetangga.

2) Menjaga hak tetangga adalah dengan berbuat baik kepadanya, berupa ucapan dan perbuatan, dan tidak menyakitinya.

1/303- Ibnu Umar dan Aisyah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Malaikat Jibril -'alaihissalām- senantiasa berpesan kepadaku (untuk berbuat baik) terhadap tetangga, sampai aku mengira bahwasanya dia akan memberikan hak waris kepada tetangga."(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

"Memberi hak waris kepadanya" yaitu akan turun wahyu yang memerintahkan menjadikannya sebagai ahli waris karena perhatian yang sangat besar itu.

Pelajaran dari Hadis:

1) Tetangga memiliki hak yang besar sehingga kita wajib untuk menjaga haknya sebagai tetangga serta memperhatikannya dengan berbuat baik kepadanya dan menghilangkan keburukan darinya.

2) Boleh mengucapkan perkara-perkara kebaikan yang terlintas dalam pikiran.

2/304- Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Wahai Abu Żarr! Apabila kamu memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya, dan berikanlah kepada tetanggamu."(HR. Muslim)Dalam riwayat Muslim lainnya, dari Abu Żarr, dia berkata, Sesungguhnya kekasihku, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah berpesan kepadaku,"Apabila kamu memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah jumlah keluarga tetanggamu dan berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan baik."

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran saling memberi hadiah di antara tetangga karena hal itu akan melahirkan rasa cinta dan menambah kasih sayang.

2) Tidak meremehkan perbuatan baik apa pun, sekalipun sedikit, karena itu semua termasuk kebaikan.

3) Sempurnanya petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, yaitu beliau menganjurkan semua hal yang dapat memperkuat hubungan antara orang beriman.

3/305- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Demi Allah! Tidak beriman. Demi Allah! Tidak beriman. Demi Allah! Tidak beriman." Ditanyakan kepada beliau, "Siapakah itu, ya Rasulullah?" Beliau bersabda, "Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya."(Muttafaq ‘Alaih)

Dalam riwayat Muslim lainnya, "Tidak akan masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya."

الْبَوَائِق (al-bawā`iq): gangguan dan keburukan.

Kosa Kata Asing:

لَا يُؤْمِنُ (Tidak beriman), ini adalah penafian kesempurnaan iman.

Pelajaran dari Hadis:

1) Diharamkan menzalimi tetangga, baik dengan perkataan, seperti dia mendengar sesuatu yang mengganggunya maupun yang menyedihkannya, ataupun dengan perbuatan, seperti membuang sesuatu yang mengganggu di dekat rumahnya dan semisalnya.

2) Tidak menyakiti dan menzalimi tetangga bagian dari kesempurnaan iman, dan orang yang diberi taufik di antara hamba Allah -Ta'ālā- adalah yang berusaha menyempurnakan imannya.

4/306- Juga dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Wahai para wanita muslimah! Janganlah seorang tetangga meremehkan untuk berbuat baik kepada tetangganya, meskipun hanya dengan memberi kaki kambing."(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

فِرسن (firsin): artinya kaki (pada kambing), yaitu seperti istilah ḥāfir (telapak kaki) pada hewan dan qadam (telapak kaki) pada manusia.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kebaikan, walaupun terlihat sedikit dan kecil, tetapi nilainya besar di sisi Allah -Ta'ālā-, dan merupakan tanda baiknya iman seorang hamba.

2) Anjuran untuk memberi nasihat dan motivasi kepada para wanita agar berbuat baik kepada tetangga.

5/307- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seorang tetangga tidak boleh melarang tetangganya untuk menyandarkan kayu pada dinding rumahnya."Kemudian Abu Hurairah berkata, "Mengapa aku melihat kalian berpaling darinya?! Demi Allah! Aku akan melemparkannya di antara pundak kalian."(Muttafaq 'Alaih)

Diriwayatkan "خَشَبَهُ" (khasyabahu), dengan bentuk iḍāfah dan jamak. Juga diriwayatkan "خَشَبَةً" (khasyabatan), dengan tanwin dan bentuk tunggal. Ucapan Abu Hurairah: "Mengapa aku melihat kalian berpaling", maksudnya dari sunah ini.

Pelajaran dari Hadis:

1) Tidak boleh seseorang melarang tetangganya melakukan sesuatu untuk memperbaiki rumahnya bila hal itu tidak akan menimpakan celaka kepadanya.

2) Saling tolong-menolong di antara tetangga serta saling berlapang dada di antara mereka termasuk hak bertetangga.

3) Mengingkari orang yang meninggalkan satu perkara agama pada situasi yang tepat, karena mengajar manusia dan mengajak kepada kebaikan termasuk amal saleh yang paling baik.

6/308- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia ‎menyakiti tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah ‎dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa yang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia mengucapkan perkataan yang baik atau diam!"‎(Muttafaq 'Alaih)7/309- Abu Syuraiḥ Al-Khuzā'iy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah ‎dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa yang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia mengucapkan perkataan yang baik atau diam!"‎(HR. Muslim dengan redaksi ini, dan sebagiannya diriwayatkan oleh Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Menyakiti tetangga, baik berupa ucapan ataupun perbuatan, bertentangan dengan kesempurnaan iman dan bertentangan dengan sifat hamba Ar-Raḥmān.

2) Menunaikan hak tetangga termasuk karakter orang beriman.

3) Wajib bagi seorang hamba agar mengontrol lisannya, antara mengucapkan perkataan yang baik sehingga mendapat pahala, atau diam sehingga ia selamat. Sebab, kebaikan seluruhnya ada dalam menahan lisan dari ucapan dosa dan sia-sia. Di antara kata bijak yang sering diriwayatkan: petaka tergantung kata.

8/310- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan: Aku pernah bertanya, "Wahai Rasulullah! Aku memiliki dua tetangga, kepada siapa aku memberi hadiah?" Nabi menjawab, "Kepada yang paling dekat pintu rumahnya darimu."(HR. Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Wasiat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- agar memperhatikan perasaan tetangga yang paling dekat.

2) Semakin dekat rumah tetangga maka haknya semakin besar. Dan dekat yang menjadi ukuran adalah dekat dari sisi pintu.

3) Kegigihan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- untuk belajar ilmu sebelum beramal. Seperti inilah orang yang diberi taufik; belajar kemudian beramal.

9/311- Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sebaik-baik teman di sisi Allah -Ta'ālā- adalah yang paling baik kepada ‎temannya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah -Ta'ālā- adalah yang ‎paling baik kepada tetangganya.‎"(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan")

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran untuk menjunjung pertemanan atas dasar iman, sebab teman terbaik adalah yang paling banyak kebaikannya kepada temannya.

2) Orang yang menjaga hak tetangga dan berbuat baik kepadanya, maka dia adalah tetangga yang paling baik di sisi Allah -Ta'ālā-.

3) Mengikuti petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- akan mendatangkan semua kebaikan, cinta, dan keakraban di antara orang beriman. Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk." (QS. An-Nūr: 54)

 40- BAB BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA DAN SILATURAHMI

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabīl, dan hamba sahaya yang kamu miliki."(QS. An-Nisā`: 36)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan (silaturahmi)."(QS. An-Nisā`: 1)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan orang-orang yang menyambung apa yang diperintahkan Allah agar disambung, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk."(QS. Ar-Ra'd: 21)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya."(QS. Al-'Ankabūt: 8)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah', janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Ya Rabbi! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.'"(QS. Al-Isrā`: 23-24)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu."(QS. Luqmān: 14)

Pelajaran dari Ayat:

1) Menjunjung tinggi hak kedua orang tua lalu karib kerabat. Karena Allah -Ta'ālā- telah menggabungkan antara ibadah yang merupakan hak murni Allah dengan hak orang tua. Hal ini menunjukkan besarnya kedudukan mereka.

2) Orang yang paling berhak mendapatkan pertemanan hamba adalah kedua orang tuanya. Karena urutan hak keduanya berada setelah hak Allah -Ta'ālā-: "Orang tua adalah sebab keberadaan seseorang. Keduanya telah sangat berbuat baik kepadanya; ayahnya memberi nafkah, ibunya memberi kasih sayang."(Tafsīr Ibni Kaṡīr, dalam tafsir firman Allah -Ta'ālā-:"Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya.")1/312- Abu Abdirraḥmān Abdullāh bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Amalan apakah yang paling Allah -Ta'ālā- cintai?" Beliau menjawab, "Salat di awal waktunya." Aku bertanya, "Kemudian amalan apa?" Beliau menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua." Aku bertanya lagi, "Kemudian amalan apa?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah."(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Hak Allah yang paling utama setelah tauhid ialah salat.

2) Keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. Berbakti maksudnya berbuat baik kepada keduanya dengan ucapan dan perbuatan.

3) Lalai dalam berbakti kepada kedua orang tua, baik yang bersifat ucapan maupun perbuatan, termasuk kedurhakaan.

4) Para sahabat berlomba-lomba melakukan kebaikan dan kebaktian serta mereka bertanya tentang induk-induk permasalahan yang bermanfaat.

5) Tingginya kedudukan jihad di jalan Allah -Ta'ālā- karena di dalamnya terkandung maslahat besar, seperti melindungi negara kaum muslimin serta tercapainya kemenangan Islam di belahan timur dan barat bumi.

2/313- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seorang anak tidak akan bisa membalas (jasa) orang tua kecuali ia menemukannya sebagai budak lalu ia membelinya dan memerdekakannya."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

لا يَجزْي (lā yajzī): tidak akan bisa membalas jasa.

Pelajaran dari Hadis:

1) Besarnya hak kedua orang tua dalam Islam, yaitu urutan hak mereka berada setelah kewajiban menunaikan hak beribadah kepada Allah -Ta'ālā-.

2) Seorang anak tidak boleh memperbudak kedua orang tuanya atau salah satunya. Jika itu terjadi, maka hal itu termasuk tanda kiamat yang menandakan keburukan yang ada pada manusia yang rusak.

3) Memerdekan orang tua yang menjadi budak secara otomatis terjadi hanya dengan sebatas sang anak membelinya. Sehingga membelinya adalah sebab merdeka, dan tidak dibutuhkan si anak mengatakan: aku telah memerdekakannya.

3/314- Juga dari riwayat Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa yang beriman kepada Allah ‎dan hari Akhir, hendaklah ia menyambung kerabatnya. Siapa yang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia mengucapkan perkataan yang baik atau diam!"‎(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Silaturahmi -yaitu menyambung kerabat yang memiliki ikatan rahim- termasuk bagian dari keimanan.

2) Petunjuk Islam mengandung penguatan dan pengukuhan ikatan kerabat serta peringatan agar menjauhi semua yang dapat melemahkan ikatan tersebut atau merusaknya.

4/315- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya Allah -Ta’ālā- menciptakan makhluk. Hingga ketika Allah selesai menciptakan mereka, rahim berdiri dan berkata, ‘Ini adalah berdirinya sesuatu yang memohon perlindungan kepada-Mu dari pemutusan (silaturahmi).’ Allah berfirman, ‘Ya. Tidakkah engkau rida jika Aku menyambung siapa yang menyambungmu, dan memutuskan siapa yang memutusmu?’ Rahim menjawab, ‘Tentu saja.’ Allah berfirman, ‘Itu semua untukmu.’” Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Bacalah jika kalian mau (ayat):Maka apakah sekiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; dan dibuat tuli (pendengarannya) dan dibutakan penglihatannya.'"(QS. Muḥammad: 22-23)(Muttafaq ‘Alaih)Dalam riwayat Bukhari yang lain:"Maka Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Siapa yang menyambungmu, maka Aku akan menyambungnya. Siapa yang memutuskanmu, maka Aku akan memutusnya.'"

Kosa Kata Asing:

العَائِذُ (al-'ā`iż): orang yang berlindung dan memohon pertolongan kepada-Mu.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran menyambung silaturahmi serta menekankan haramnya memutus silaturahmi.

2) Memohon perlindungan (istiazah) hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sehingga tidak boleh memohon perlindungan kepada makhluk, sekalipun makhluk tersebut memiliki kedudukan di sisi Allah -Ta'ālā-.

3) Menyambung silaturahmi adalah sebab turunnya rahmat Allah kepada hamba-Nya dan tersebarnya kebaikan di antara manusia. Sedangkan memutus silaturahmi adalah sebab adanya permusuhan, kerusakan, dan pengrusakan.

Faedah Tambahan:

Alat menafsirkan Al-Qur`ān Al-Karīm yang paling bagus dan yang paling baik dalam menjelaskan makna kalāmullāh -'Azza wa Jalla- adalah hadis Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Karena Al-Qur`ān Al-Karīm dan hadis Nabi keduanya adalah wahyu dari Allah -Ta'ālā-.Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman,"Dan Kami turunkan Aż-Żikr kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka."Maksudnya, Kami telah turunkan kepadamu Sunnah agar engkau menjelaskan kepada manusia Kitab Al-Qur`ān yang diturunkan. Hadis di atas adalah contohnya.5/316- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia meriwayatkan: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata,"Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik?" Beliau bersabda, "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Lalu siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Nabi bersabda, "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Lalu siapa?" Beliau bersabda, "Bapakmu."(Muttafaq 'Alaih)Dalam riwayat lain disebutkan, "Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang lebih berhak aku pergauli dengan baik?" Beliau menjawab,"Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, lalu bapakmu. Lalu orang yang terdekat denganmu, dan yang terdekat denganmu."

الصَّحَابَةُ (aṣ-ṣaḥābah), artinya: pergaulan, pertemanan. Kalimat: "ثُمَّ أَبَاكَ", demikian diriwayatkan secara "manṣūb", dengan kata kerja yang dihapus, yaitu: (ثم بِرَّ أَباك). Dalam riwayat lain: (ثُمَّ أَبُوكَ). Tentunya ini jelas.

Kosa Kata Asing:

أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ: yang terdekat, lalu yang terdekat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Orang yang paling berhak mendapatkan sikap dan pergaulan yang baik adalah ibu, karena dia lemah dan sangat membutuhkannya. Juga karena ibu mengalami lelah dan sulit yang tidak dialami oleh yang lain. Kemudian, dia memang lemah secara dasar penciptaan. Lalu bagaimana ketika dia telah berumur?!

2) Anjuran agar seorang hamba memperbaiki muamalah kepada ibunya dan kepada bapaknya sesuai kemampuan karena keduanya adalah sebab kehidupannya setelah Allah -Ta'ālā-. Mereka berdua memiliki keutamaan melahirkan, merawat, dan memberi manfaat.

3) Mengurutkan hak serta menempatkannya pada tempatnya adalah keadilan yang didengungkan oleh agama.

4) Menjelaskan antusiasme para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- untuk mengetahui urutan kebaikan serta mengetahui hak-hak manusia.

6/317- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Celakalah, kemudian celakalah, kemudian celakalah orang yang mendapati kedua orang tuanya di usia lanjut, salah satunya atau keduanya, namun dia tidak masuk surga."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

رَغِمَ أَنْفُ (ragima anf): semoga hidungnya melekat pada rugām, yaitu tanah yang bercampur pasir. Ungkapan ini digunakan untuk menunjukkan kehinaan, ketidakmampuan, dan ketundukan secara terpaksa.

Pelajaran dari Hadis:

1) Berbakti kepada kedua orang tua adalah sebab besar untuk masuk surga.

2) Ketika kedua orang tua telah tua adalah saat ketika mereka paling butuh kepada bakti anaknya karena kondisi kelemahan mereka. Bakti kepada mereka adalah dengan semua bentuk perbuatan baik; ucapan dan perbuatan.

3) Durhaka kepada kedua orang tua adalah sebab masuk neraka. Oleh karena itu, hendaklah seorang hamba waspada agar tidak menutup pintu yang dibukakan untuknya menuju surga, dan agar tidak membuka pintu yang mengantarkannya kepada neraka.

7/318- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya saya mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan silaturahmi dengan mereka, tetapi mereka malah memutuskannya. Aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka berbuat buruk kepadaku. Aku senantiasa bersikap ramah kepada mereka, tetapi mereka berbuat perbuatan jahil kepadaku." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seandainya apa yang engkau katakan itu benar, maka seakan-akan engkau menyuapkan abu panas ke mulut mereka. Allah senantiasa menolongmu terhadap mereka, jika kamu tetap berbuat demikian."(HR. Muslim)تُسِفّهُمْ (tusiffuhum), dengan mendamahkan "tā`", kemudian "sīn" yang kasrah, setelahnya "fā`" yang bertasydid.المَلُّ (al-mall), dengan memfatahkan "mīm" dan mentasydidkan "lām", artinya: abu panas. Maksudnya: seakan-akan engkau menyuapi mereka abu yang panas. Ini merupakan perumpamaan terhadap dosa yang akan mereka dapatkan dengan rasa sakit yang dirasakan oleh orang yang memakan abu panas. Tidak ada keburukan apa pun terhadap orang yang berbuat baik kepada mereka. Tetapi mereka yang akan mendapatkan dosa yang besar lantaran kelalaian mereka dalam menunaikan haknya, bahkan justru menimpakan keburukan kepada orang yang berbuat baik tersebut. Wallāhu a'lam.

Kosa Kata Asing:

ظهِيرٌ (ẓahīr): penolong.

Pelajaran dari Hadis:

1) Silaturahmi tegak di atas prinsip segera menyambung silaturahmi tanpa menunggu timbal balik.

2) Keberuntungan besar bagi seorang hamba yang membalas perbuatan buruk dengan perbuatan baik, serta membalas tindakan memutus silaturahmi dengan tindakan menyambungnya;"Tolaklah perbuatan buruk dengan yang lebih baik." (QS. Fuṣṣilat: 34)Tetapi,"(Ia) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang yang memiliki keberuntungan yang besar." (QS. Fuṣṣilat: 35)

3) Melaksanakan perintah Allah ialah sebab adanya pertolongan bagi hamba. Maka, orang yang mendapat taufik di antara hamba Allah adalah yang melaksanakan syariat Allah -Ta'ālā- dengan baik dan tidak menoleh kepada kelalaian makhluk, melainkan dia mengharap pahala perbuatannya di sisi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.

4) Kadang, menabung pahala sabar lebih baik daripada mendapatkan hak di dunia, tergantung maslahat dari memaafkan atau menuntut hak:"Siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya pada Allah." (QS. ASy-Syūrā: 40)8/319- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung tali silaturahmi."(Muttafaq 'Alaih)

Makna "يُنْسَأَ لَهُ في أثَرِهِ", yaitu: diakhirkan ajal dan umurnya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Silaturahmi merupakan sebab besar untuk menambah rezeki dan memanjangkan umur.

2) Balasan sejenis dengan perbuatan; yaitu siapa yang berbuat baik kepada kerabatnya dengan melakukan silaturahmi maka Allah akan berbuat baik kepadanya dengan disambung dalam rezeki dan umurnya.

Faedah Tambahan:

Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dengan hikmah-Nya telah menjadikan silaturahmi sebagai sebab yang disyariatkan untuk memanjangkan umur dan melapangkan rezeki, dan ini tidak bertentangan dengan apa yang telah diketahui bersama bahwa hal itu telah ditakdirkan dan tercatat.

Sebagaimana keimanan dan petunjuk serta kekafiran dan kesesatan telah ditakdirkan dan masing-masing memiliki sebab, demikian juga halnya umur dan rezeki dapat bertambah dan berkurang dilihat dari sebabnya.Oleh karena itu, terdapat sejumlah aṡar yang berisi doa panjang umur dan lapang rezeki. Anda yang sangat menginginkan panjang umur dan rezeki lapang, segeralah mengerjakan ketakwaan kepada Allah -Ta'ālā- dan melakukan silaturahmi karena ini adalah jalan yang paling baik kepada yang demikian itu.9/320- Masih dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- adalah seorang kaum Anṣār yang paling banyak kebun kurmanya di Madinah. Kebun kurma yang paling dicintainya adalah kebun bernama Bairaḥā` yang berhadapan dengan masjid. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sering masuk ke kebun itu dan minum air bersih yang ada di dalamnya. Anas melanjutkan: Ketika turun ayat:"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai."(QS. Āli 'Imrān: 92)Abu Ṭalḥah mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan berkata, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu:"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai."Sedangkan harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaḥā`. Kebun itu aku sedekahkan untuk Allah -Ta'ālā-. Aku mengharapkan kebajikan dan pahala dari Allah. Untuk itu, wahai Rasulullah, pergunakanlah dia sesuai yang Allah tunjukkan kepadamu!" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bersabda,"Bagus. Itu adalah harta yang (mendatangkan) untung. Itu adalah harta yang (mendatangkan) untung. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku sarankan agar engkau membagikannya kepada kerabatmu!"Abu Ṭalḥah berkata, "Wahai Rasulullah! Aku akan melaksanakan petunjukmu." Selanjutnya Abu Ṭalḥah membagi-bagi kebun itu kepada kerabat dan sepupu-sepupunya.(Muttafaq ‘Alaih)

Penjelasan kosa katanya telah dibahas dalam Bab Menginfakkan Harta yang Disukai.

Pelajaran dari Hadis:

1) Orang yang paling berhak diberikan kebaikan dan disambung silaturahminya adalah kerabat.

2) Berinfak kepada kerabat bernilai silaturahmi sekaligus sedekah.

3) Anjuran berkonsultasi kepada orang berilmu dalam perkara-perkara penting karena ulama adalah penerusnya para nabi.

10/321- Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Seseorang datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Aku berbaiat kepadamu untuk hijrah dan jihad demi mencari pahala dari Allah -Ta'ālā-." Beliau bertanya,"Apakah masih ada di antara kedua orang tuamu yang masih hidup?"Dia menjawab, "Ya, bahkan keduanya." Beliau bersabda,"Apakah engkau ingin pahala dari Allah -Ta'ālā-?"Dia berkata, "Ya." Beliau bersabda,"Pulanglah kepada kedua orang tuamu dan dampingi mereka dengan baik!"(Muttafaq 'Alaih, dan ini redaksi Muslim)

Dalam riwayat lain milik keduanya (Bukhari dan Muslim): Seseorang datang dan meminta izin kepada beliau (Nabi) untuk berjihad. Maka Nabi bersabda, "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Dia berkata, "Ya." Beliau bersabda, "Berjihadlah untuk (berbakti pada) keduanya!"

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban membuat urutan skala prioritas dalam kehidupan seorang hamba; yaitu dia mulai dari orang yang paling besar haknya pada dirinya kemudian yang setelahnya. Yang seperti ini berasal dari pemahaman hamba dan taufik Allah -Ta'ālā- kepadanya.

2) Berbakti kepada kedua orang tua termasuk kewajiban (fardu ain) yang paling wajib karena ia lebih wajib dari jihad yang fardu kifayah.

3) Jihad terdiri dari beberapa tingkatan dan cabang; semua orang yang mengerjakan ketaatan untuk meraih rida Allah -Ta'ālā-, seperti berbakti kepada kedua orang tua, maka hal itu termasuk jihad di jalan Allah -Ta'ālā-.

11/322- Masih dari Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Orang yang menyambung silaturahmi bukanlah yang membalas orang yang menyambungnya. Tetapi, orang yang menyambung silaturahmi sesungguhnya adalah yang menyambung kerabat yang memutusnya."(HR. Bukhari)

قَطَعَتْ (qaṭa'at), dengan memfatahkan "qāf" dan "ṭā`". Sedangkan "رَحِمُهُ" (raḥimuhu), harakatnya marfū'.

Kosa Kata Asing:

المُكَافِئ (al-mukāfi`): yang menyambung kerabatnya untuk membalas silaturahmi dan kebaikan mereka.

Pelajaran dari Hadis:

1) Orang yang menyambung silaturahmi adalah yang memulai silaturahmi, sekalipun kerabatnya tidak membalas kebaikan dan silaturahminya.

2) Kewajiban mengikhlaskan amal perbuatan kepada Allah -Ta'ālā-; sebab buahnya adalah kebaikan yang abadi bagi hamba di dunia dan akhirat.

12/323- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Rahim (ikatan kekerabatan) bergantung di Arasy seraya berkata, 'Siapa yang yang menyambungkanku, maka Allah akan menyambungnya; barangsiapa yang memutuskanku, niscaya Allah akan memutusnya'."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Tingginya kedudukan ikatan rahim (kekerabatan) dan silaturahmi, karena keagungan derajatnya yang langsung berada di bawah Arasy dan dekat dari Ar-Raḥmān Yang Mahamulia.

2) Orang yang bersilaturahmi kepada kerabatnya maka Allah -Ta'ālā- akan menyambungnya dengan kebaikan dan rahmat, sedangkan yang memutuskan kerabatnya maka Allah -Ta'ālā- akan memutus rahmat darinya.

13/324- Ummul-Mu`minīn Maimūnah binti Al-Ḥāriṣ -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, bahwasanya dia memerdekakan seorang budak perempuan tanpa meminta izin lebih dahulu kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ketika tiba hari giliran Nabi bersamanya, Maimūnah berkata, "Apakah engkau sudah tahu, wahai Rasulullah, bahwa aku telah memerdekakan budak perempuanku?" Beliau bertanya, "Apakah itu sudah engkau lakukan?" Maimūnah menjawab, "Ya." Beliau bersabda,"Ketahuilah, andai budak itu engkau berikan kepada paman-pamanmu, pasti pahalamu lebih besar."(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

وَلِيْدَةٌ (walīdah): budak perempuan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Sedekah kepada kerabat lebih utama dan pahalanya lebih besar karena bernilai sedekah sekaligus silaturahmi.

2) Merupakan wujud ilmu seorang hamba adalah bila dia rajin berkonsultasi kepada ulama sehingga dia dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya.

14/325- Asmā` binti Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Pada masa era diterapkannya perjanjian damai oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (dengan kaum Quraisy), ibuku datang menemuiku sementara saat itu ia masih musyrik. Lalu aku meminta pendapat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Aku katakan, "Ibuku datang menemuiku. Dia sangat berharap kepadaku. Apakah aku boleh menyambung silaturahmi dengan ibuku?" Beliau menjawab, "Ya, sambunglah silaturrahim dengan ibumu."(Muttafaq 'Alaih)

Perkataan Asmā`: "رَاغِبَةٌ" (rāgibah), maksudnya: dia sangat berharap padaku; yaitu dia meminta sesuatu kepadaku. Disebutkan bahwa dia adalah ibunya dari nasab. Yang lain mengatakan, ibunya dari persusuan. Tetapi pendapat yang benar ialah yang pertama.

Kosa Kata Asing:

فِي عَهْدِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم: pada masa perjanjian Ḥudaibīyah antara Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama kaum musyrikin Quraisy.

Pelajaran dari Hadis:

1) Seorang hamba wajib menyambung hubungan dengan kerabatnya sekalipun mereka kafir karena mereka masih memiliki hak kekerabatan.

2) Bersilaturahmi dengan kerabat yang kafir bukan bentuk walā`(loyalitas) dengan orang kafir yang dilarang, tetapi bentuk kebajikan dan sikap adil yang tidak dilarang.

3) Sempurnya sikap adil Islam dalam memberi hak kepada setiap orang yang memiliki hak, tanpa ada kezaliman ataupun melampaui batas. Sehingga kerabat yang kafir, meskipun ia kafir, kita tetap tidak boleh meninggalkan haknya untuk bersilaturahmi dengannya, karena dia memiliki hak kekerabatan.

15/321- Zainab Aṡ-Ṡaqafīyyah, istri Abdullāh bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Wahai para wanita! Bersedekahlah walaupun dengan perhiasan kalian." Zainab berkata, Lantas aku pulang menemui Abdullah dan berkata, "Sesungguhnya engkau seorang laki-laki yang miskin tidak punya harta, sementara Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memerintahkan kami agar bersedekah. Datanglah kepada beliau dan tanyakanlah; jika aku boleh memberikannya kepada kalian, aku akan lakukan. Tetapi jika tidak, maka aku akan memberikannya kepada yang lain." Abdullah berkata, "Jangan. Tetapi, silakan engkau saja yang datang ke beliau." Lantas aku beranjak pergi. Ternyata telah ada seorang perempuan Ansar menunggu di depan pintu rumah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; keperluanku sama seperti keperluannya. Tetapi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah sosok yang disegani, sehingga Bilāl datang kepada kami dan kami berkata, "Datanglah kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan kabarkan kepada beliau bahwa dua orang wanita di depan pintu mau bertanya; apakah mereka boleh bersedekah kepada suami dan anak-anak yatim yang ada dalam pengasuhan mereka? Jangan kabarkan kepada beliau siapa kami." Lalu Bilāl pun masuk menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan bertanya kepada beliau. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya, "Siapa mereka berdua?" Bilāl menjawab, "Seorang wanita Anṣār bersama Zainab." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya lagi, "Zainab yang mana?" Bilāl menjawab, "Zainab istri Abdullah." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Bagi mereka dua pahala. Yaitu pahala menyambung kerabat dan pahala sedekah."(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

خَفِيفُ ذَاتِ اليَدِ: orang yang memiliki sedikit harta.

فِي حُجُورِهِمَا: dalam pengasuhan keduanya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Bersilaturahmi kepada kerabat dengan memberi mereka sedekah akan mendatangkan dua pahala: pahala sedekah dan pahala silaturahmi.

2) Istri boleh bersedekah kepada keluarganya.

3) Perempuan boleh keluar rumah untuk keperluannya dan juga bertanya tentang urusan agama dengan syarat diizinkan suami.

4) Menuntut ilmu dan bertanya tentang perkara-perkara yang bermanfaat termasuk kewajiban yang paling penting.

16/327- Abu Sufyān Ṣakhr bin Ḥarb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dalam hadis yang panjang tentang kisah Heraklius, bahwa Heraklius berkata kepada Abu Sufyān, "Apa yang dia (Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-) perintahkan kepada kalian?" Aku menjawab, "Dia berkata,"Sembahlah Allah semata dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan tinggalkanlah apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian. Dia memerintahkan kami untuk salat, jujur, menjaga kesucian, dan bersilaturahmi."(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Kerasulan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tegak di atas dasar beribadah kepada Allah dengan baik, yaitu dengan menauhidkan Allah, dan berbuat baik kepada sesama makhluk dengan bersilaturahmi dan menunaikan hak-hak mereka.

2) Perintah bersilaturahmi termasuk ajaran syariat yang pertama kali turun dalam agama Islam, dan ini menunjukkan kepada Anda tentang urgensinya.

17/328- Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya kalian akan menaklukkan sebuah negeri yang terkenal padanya Qīrāṭ."Dalam riwayat lain:"Kalian akan menaklukkan Mesir, yaitu negeri yang terkenal padanya Qīrāṭ. Maka saling ingatkanlah untuk berbuat baik kepada penduduknya, karena mereka memiliki hak żimmah (perlindungan) dan hak silaturahmi."Dalam riwayat lain, "Apabila kalian telah menaklukkannya, maka berbuat baiklah kepada penduduknya. Karena mereka memiliki żimmah (perlindungan) dan hak silaturahmi." Atau beliau berkata, "hak żimmah (perlindungan) dan hak perbesanan."(HR. Muslim)Para ulama berkata, "Ikatan silaturahmi yang mereka sandang disebabkan karena Hājar ibu Nabi Ismā'īl -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berasal dari mereka.Sedangkan ikatan perbesanan adalah karena Māriah, ibu Ibrāhīm putra Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berasal dari mereka."

Kosa Kata Asing:

القِيْرَاطُ (al-qīrāṭ): nama jenis uang logam yang digunakan sebagai alat transaksi.

ذِمَّةٌ (żimmah): hak dan kehormatan.

صِهْرًا (ṣihran): keluarga dari istri (ikatan perbesanan)

Pelajaran dari Hadis:

1) Ikatan rahim memiliki hak untuk disambung walaupun jauh. Sehingga istilah ikatan rahim lebih luas dari ikatan kerabat dekat.

2) Bersilaturahmi dengan kerabat dari jalur ibu sama seperti bersilaturahmi dengan kerabat dari jalur ayah.

3) Anjuran berbuat baik kepada orang-orang yang memiliki ikatan kerabat, ikatan rahim, dan ikatan pernikahan sekalipun mereka musyrik, selama mereka tidak memusuhi Allah -Ta'ālā- dan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan selama mereka tidak melakukan permusuhan secara terang-terangan.

18/329- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Ketika turun ayat ini (artinya):"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat,"(QS. Asy-Syu'arā`: 214)Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memanggil orang-orang Quraisy. Mereka pun berkumpul. Lalu beliau mengingatkan mereka secara umum dan khusus. Beliau bersabda,"Wahai Bani Abdu Syams! Bani Ka'ab bin Lu`aiy! Selamatkan diri kalian dari neraka. Wahai Bani Murrah bin Ka'ab! Selamatkan diri kalian dari neraka. Wahai Bani Abdu Manāf! Selamatkan diri kalian dari neraka. Wahai Bani Hāsyim! Selamatkan diri kalian dari neraka. Wahai Bani Abdul Muṭṭalib! Selamatkan diri kalian dari neraka. Wahai Fatimah! Selamatkan dirimu dari neraka. Sungguh, aku tidak memiliki sesuatu apa pun untuk menyelamatkan kalian dari siksa Allah. Hanya saja kalian memiliki ikatan rahim (denganku) yang aku akan membasahinya dengan airnya (menyambungnya)."(HR. Muslim)Kalimat ببلاَلِهَا (bi balālihā), dengan memfatahkan "bā`" yang kedua. Boleh juga dikasrahkan (bi bilālihā). "البِلالُ" (al-bilāl), artinya: air.Makna hadis ini: aku akan menyambungnya. Beliau membuat perumpamaan terhadap perbuatan memutusnya dengan hawa panas yang dapat dipadamkan dengan air. Sedangkan ini dapat didinginkan dengan bersilaturahmi.

Kosa Kata Asing:

عَشِيرَتَكَ ٱلۡأَقۡرَبِينَ: kerabatmu yang paling dekat, kemudian yang lebih dekat.

فعَمَّ وخَصَّ: yaitu beliau memanggil mereka dengan panggilan yang bersifat umum untuk semua, kemudian menyebutkan sebagian mereka secara khusus karena adanya hubungan kerabat yang kuat dengan mereka.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban bersilaturahmi dengan kerabat serta memperhatikan mereka, terus-menerus memperbaiki hubungan dengan mereka, dan mengarahkan mereka kepada kebaikan. Ini semua adalah konsekuensi dari silaturahmi.

2) Kewajiban pertama dai yang berdakwah kepada Allah agar mengingatkan keluarganya, lalu kerabat-kerabatnya, karena mereka lebih pantas mendapat perbuatan baik sebelum yang lainnya, baru kemudian orang-orang di bawah mereka, sehingga kebaikan akan merata kepada semua manusia.

3) Bersemangat untuk memberi petunjuk kepada manusia adalah ciri-ciri dai yang diberikan taufik. Sehingga dia menampakkan kecintaannya kepada manusia serta berupaya untuk menyampaikan kebaikan kepada mereka.

4) Anjuran untuk beramal saleh dan agar tidak bersandar ataupun berbangga kepada nasab.

19/330- Abu Abdillah 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda secara terang-terangan tanpa sembunyi-sembunyi,"Sesungguhnya keluarga Bani polan bukan penolongku. Penolongku ialah Allah dan orang-orang mukmin yang saleh. Tetapi mereka memiliki ikatan rahim dan aku akan membasahinya dengan airnya."(Muttafaq 'Alaih, dan ini redaksi Bukhari)

Kosa Kata Asing:

وليِّـي (waliyyī): penolongku yang aku akan loyal kepadanya dalam semua perkara.

Pelajaran dari Hadis:

1) Di antara bentuk iman yang paling penting adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah; sehingga wajib bagi seorang mukmin untuk berlepas diri dari cinta atas dasar agama kepada orang kafir, karena tidak ada saling cinta antara orang muslim dan kafir.

2) Kerabat yang kafir memiliki hak silaturahmi yang mesti disambung, tetapi tidak berhak untuk diberikan walā` (loyalitas) yang merupakan cinta dan pembelaan.

3) Persaudaraan atas dasar agama serta ikatan atas dasar Islam lebih agung daripada ikatan darah, nasab, dan berbagai kepentingan duniawi lainnya.

Faedah Tambahan:

Ikatan rahim yang disambung terbagi menjadi umum dan khusus:

- Ikatan rahim yang umum; yaitu ikatam rahim atas dasar iman dan ilmu, yang ini wajib disambung dengan saling mencintai, saling menasihati, saling mengingatkan kepada kebenaran dan kesabaran, serta melaksanakan hak-hak yang wajib dan sunah.

- Adapun ikatan rahim yang khusus; yaitu kerabat yang memiliki hubungan nasab dengan Anda, pernikahan, atau persusuan.

Definisi yang lengkap tentang bersilaturahmi dengan mereka yaitu memberikan mereka kebaikan yang mampu dilakukan dan menghilangkan dari mereka keburukan sesuai kemampuan dan sesuai keadaan.

20/331- Abu Ayyūb Khālid bin Zaid Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa seorang laki-laki berkata, "Ya Rasulullah! Beri tahukan kepadaku tentang sebuah amal yang dapat memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka." Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Hendaklah engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran untuk melaksanakan kewajiban syariat, di antaranya silaturahmi. Dan silaturahmi termasuk sebab yang akan memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka.

2) Di antara tanda baiknya pemahaman seorang hamba adalah bila dia berusaha untuk menjauh dari api neraka, serta berupaya masuk surga dan meraih rida Allah -Ta'ālā-.

21/332- Salmān bin 'Āmir -raḍiyallāhu 'anhu- berkata bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Jika seseorang dari kalian berbuka maka hendaknya dia berbuka dengan kurma, karena kurma adalah keberkahan. Bila dia tidak mendapatkan kurma, maka dengan air, karena air mensucikan."Beliau juga bersabda,"Sedekah pada orang miskin bernilai satu sedekah. Sedang sedekah pada kerabat bernilai dua, yakni sedekah dan silaturahmi."(HR. Tirmiżī dan dia berkata, "Hadisnya hasan")

Pelajaran dari Hadis:

1) Penjelasan syariat tentang adanya perbedaan tingkat keutamaan sedekah tergantung tempat pengalokasiannya; yakni semakin dekat hubungan kerabat dengan objek silaturahmi maka sedekah itu semakin bagus.

2) Sedekah pada orang miskin bernilai satu sedekah, sedangkan sedekah pada kerabat bernilai dua; yakni sedekah dan menyambung kekerabatan.

Peringatan:

Hadis ini tidak benar penisbahannya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Penisbahan yang benar yaitu kepada perbuatan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Yaitu diriwayatkan oleh Tirmizi, dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- senantiasa berbuka sebelum salat menggunakan beberapa ruṭab (kurma mengkal). Bila kurma mengkal tidak ada, maka dengan beberapa kurma kering (tamr). Bila kurma kering tidak ada, maka beliau meneguk beberapa teguk air."

22/333- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Dulu aku memiliki seorang istri yang aku cintai, tetapi Umar tidak menyukainya. Umar berkata kepadaku, "Ceraikan dia!" Tetapi aku enggan. Maka Umar -raḍiyallāhu 'anhu- datang menghadap Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan menceritakan hal itu kepada beliau. Sehingga Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berpesan, "Ceraikan dia!"(HR. Abu Daud dan Tirmizi; Tirmizi berkata, "Hadisnya hasan sahih")

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban taat kepada orang tua, bahkan dalam perkara yang tidak disukai jiwa sekalipun.

2) Taat kepada kedua orang tua harus menurut cara yang makruf; sehingga apabila salah satu mereka memerintahkannya untuk melakukan sesuatu yang dapat merusak si anak dalam agamanya, maka tidak ada kewajiban untuk taat.

23/334- Abu Ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa seorang laki-laki datang kepadanya dan berkata, "Sesungguhnya aku memiliki seorang istri, sedangkan ibuku menyuruhku untuk menceraikannya." Abu Ad-Dardā` berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau mau, sia-siakanlah pintu tersebut atau jagalah'."(HR. Tirmizi, dan dia berkata, "Hadisnya hasan sahih")

Kosa Kata Asing:

"Pintu surga yang paling tengah" ialah pintu yang paling bagus.

Pelajaran dari Hadis:

1) Mengejar rida orang tua lebih didahulukan daripada mengejar rida istri.

2) Menjelaskan cara para sahabat dalam berfatwa; yaitu dengan membawakan hadis Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tanpa memaksakan untuk berpendapat sendiri.

Peringatan penting:

Tidak semua orang tua yang memerintahkan anaknya untuk menceraikan istrinya harus ditaati. Tetapi harus dilihat kondisi kesalehan dan keistikamahan orang tua; bila dia orang yang saleh dan memiliki pandangan yang bagus, yaitu dapat melihat maslahat yang tidak dapat dilihat oleh anaknya, ketika itu dia ditaati perintahnya.Adapun jika dia orang yang fasik dan tidak memiliki pandangan yang bagus, maka dia tidak ditaati dalam perkara yang mengandung mafsadat bagi anaknya.24/335- Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Bibi (saudari ibu) sama kedudukannya dengan ibu."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan sahih")Dalam hal ini terdapat banyak hadis yang masyhur dalam Kitab Aṣ-Ṣaḥīḥ. Di antaranya hadis tentang kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua, hadis tentang kisah Juraij yang juga sudah disebutkan sebelumnya, dan hadis-hadis lainnya yang masyhur dalam kitab Aṣ-Ṣaḥīḥ, sengaja aku tidak sebutkan supaya lebih ringkas.Di antara yang paling penting ialah hadis panjang yang diriwayatkan oleh 'Amr bin 'Abasah -raḍiyallāhu 'anhu- yang mengandung banyak sekali kaidah dan adab Islam.Insya Allah, nanti aku akan menyebutkannya secara lengkap dalam Bāb Ar-Rajā`, di dalamnya disebutkan: "Aku datang menghadap Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di Mekah -maksudnya di awal kenabian- aku berkata, 'Siapa Anda?' Beliau menjawab, 'Seorang nabi.' Aku bertanya, 'Apa nabi itu?' Beliau menjawab, 'Allah -Ta'ālā- telah mengutusku.' Aku bertanya, 'Dengan apa Allah mengutusmu?' Beliau menjawab,Allah mengutusku untuk mengajak kepada silaturahmi, menghancurkan berhala, dan agar Allah ditauhidkan dan tidak disekutukan dengan apa pun.'" Kemudian dia menyebutkan hadis ini secara sempurna.Wallāhu a'lam.

Kosa Kata Asing:

المَنْزِلَةُ (al-manzilah): kedudukan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban berbakti dan berbuat baik kepada bibi (saudari ibu) sebagaimana berbuat baik kepada ibu, karena ibu dan bibi satu tingkatan. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bibi (saudari ibu) sama kedudukannya dengan ibu."(HR. Bukhari)

2) Bibi (saudari ibu) sama seperti ibu dalam hal kasih sayang kepada anak-anak saudarinya. Demikian juga dalam hal mengasuh mereka.

 41- BAB PENGHARAMAN DURHAKA KEPADA ORANG TUA DAN MEMUTUS SILATURAHMI

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Maka apakah sekiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; dan dibuat tuli (pendengarannya) dan dibutakan penglihatannya."(QS. Muḥammad: 22-23)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan orang-orang yang melanggar janjinya kepada Allah setelah diikrarkannya, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah agar disambung dan berbuat kerusakan di bumi; mereka itu memperoleh kutukan dan tempat kediaman yang buruk (Jahanam)."(QS. Ar-Ra'd: 25)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Ya Rabbi! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.'"(QS. Al-Isrā`: 23-24)

Pelajaran dari Ayat:

1) Memutus hubungan silaturahmi merupakan sebab adanya azab dan siksa Allah yang bersifat umum; hal ini menunjukkan bahwa memutus silaturahmi termasuk dosa besar.

2) Larangan menyakiti kedua orang tua sekecil apa pun, walaupun dengan kata "ah", karena hal itu bagian dari jenis durhaka.

1/2336- Abu Bakrah Nufai' bin Al-Ḥāriṡ -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa-dosa besar yang paling besar?" Beliau mengulanginya tiga kali. Kami menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." Sebelumnya beliau duduk bersandar, lalu beliau duduk dan bersabda, "Ingatlah, juga perkataan dusta dan kesaksian palsu." Beliau terus-menerus mengulanginya sampai kami berkata, "Andai saja beliau diam (berhenti)."(Muttafaq 'Alaih)2/337- Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Dosa-dosa besar itu ialah menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa, dan sumpah palsu."(HR. Bukhari)

Sumpah palsu (al-yamīn al-gamūs) adalah sumpah yang dilakukan secara dusta dan sengaja. Disebut gamūs (yang menenggelamkan), karena sumpah tersebut menenggelamkan pelakunya ke dalam dosa.

Kosa Kata Asing:

قَوْلُ الزُّوْرِ (qaul az-zūr): ucapan dusta, batil, dan semua perkataan keji. Sedangkan شَهَادَةُ الزُّوْرِ (syahādah az-zūr): kesaksian yang dibuat secara dusta. Kesaksian palsu masuk di dalam ucapan dusta (qaul az-zūr).

Pelajaran dari Hadis:

1) Durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa yang paling besar. Oleh karena itu, dia digabung bersama dosa syirik kepada Allah -Ta'ālā-.

2) Peringatan terhadap dampak buruk kesaksian palsu. Yaitu orang yang melakukan kesaksian palsu telah berbuat buruk terhadap dirinya karena telah melakukan salah satu dosa besar. Juga dia telah berbuat buruk kepada orang yang dia untungkan dengan kesaksiannya itu,karena dia telah memberinya jalan kepada sesuatu yang bukan haknya, sehingga dia memakannya secara batil. Begitu juga dia telah berbuat buruk kepada orang yang dia rugikan dengan kesaksiannya itu, karena dia telah menzaliminya. Oleh karena itu, kesaksian palsu termasuk di antara dosa yang paling besar.

3) Waspada terhadap dosa-dosa besar ini: menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, ucapan dusta, dan kesaksian palsu, karena kesemuanya mendatangkan kerusakan-kerusakan yang besar di dunia dan akhirat.

4) Penjelasan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada umat beliau tentang jalan-jalan kebaikan agar mereka menempuhnya, dan jalan-jalan keburukan agar mereka mewaspadainya.

3/338- Juga dari Abdullah bin 'Amr, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Termasuk dosa besar, seseorang memaki kedua orang tuanya." Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah! Apakah seseorang akan memaki kedua orang tuanya?!" Beliau menjawab,"Ya. Yaitu dia memaki ayah seseorang lalu orang itu balas memaki ayahnya. Juga dia memaki ibu seseorang lalu orang itu balas memaki ibunya."(Muttafaq 'Alaih)Dalam riwayat lain:"Di antara dosa besar yang paling besar adalah bila seseorang melaknat kedua orang tuanya!" Ada yang bertanya, "Ya Rasulullah! Bagaimana seseorang melaknat kedua orang tuanya?!" Beliau menjawab, "Yaitu seseorang memaki ayah orang lain lalu orang itu balas memaki ayahnya. Juga dia memaki ibu orang lain lalu orang itu balas memaki ibunya."

Pelajaran dari Hadis:

1) Peringatan agar seseorang tidak menjadi sebab kedua orang tuanya dimaki dan dihina, yaitu dengan cara dia memulai memaki kerabat orang.

2) Orang yang menjadi sebab dilakukannya sesuatu serta terjadinya sesuatu sama kedudukannya dengan yang melakukannya secara langsung. Orang dalam hadis ini, ketika dia menjadi sebab kedua orang tuanya dimaki, maka dia sama seperti orang yang memaki mereka secara langsung.

4/339- Abu Muḥammad Jubair bin Muṭ'im -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidak akan masuk surga orang yang memutus."Sufyān menerangkan ketika meriwayatkannya, "Maksudnya, yang memutus silaturahmi."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Peringatan keras terhadap perbuatan memutus silaturahmi karena merupakan sebab yang menghalangi seseorang dari masuk surga.

2) Penafian masuk surga yang disebutkan adalah ancaman terhadap hukuman ini. Bukan maksudnya kekal abadi dalam neraka dan tidak masuk surga selamanya.

Faedah Tambahan:

An-Nawawiy -raḥimahullāh- berkata, "Hadis ini dapat dipahami dengan dua penafsiran:

- Pertama: hadis ini dibawa maknanya pada orang yang menghalalkan perbuatan memutus tali silaturahmi tanpa sebab dan syubhat disertai dia mengetahui pengaharamannya. Orang yang seperti ini telah kafir dan akan dikekalkan dalam neraka, dia tidak akan masuk surga, selamanya.

- Kedua: bahwa maksudnya, dia tidak akan masuk surga pertama kali bersama orang-orang pertama masuk surga, melainkan dia akan dihukum dengan diakhirkan sesuai ukuran yang Allah -Ta'ālā- kehendaki." (Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim)

5/340- Abu Īsā Al-Mugīrah bin Syu'bah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- telah mengharamkan kepada kalian durhaka kepada ibu, man'an wa hāt (tidak suka memberi namun suka meminta-minta), dan mengubur anak perempuan hidup-hidup. Allah juga mengharamkan kepada kalian suka desas-desus, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta."(Muttafaq ‘Alaih)Kata "مَنْعاً" (man'an), maksudnya: menahan (tidak memberikan) apa yang diwajibkan kepadanya; dan "هَاتِ" (hāti), ialah: meminta sesuatu yang bukan haknya.وَأْدَ البَنَاتِ (wa`dul-banāt): mengubur anak perempuan hidup-hidup.قيلَ وقَالَ (qīla wa qāla), maksudnya: membicarakan semua yang didengar. Yaitu dia berkata, "Konon begini", "Polan berkata begini", lalu membicarakan sesuatu yang dia tidak ketahui kebenarannya dan tidak pula dia duga dengan dugaan yang kuat. Cukuplah seseorang berdusta bila dia menceritakan semua yang dia dengar.إضَاعَةَ المَالِ (iḍā'atul-māl; menyia-nyiakan harta): memubazirkan harta serta membelanjakannya pada sesuatu yang tidak diperkenankan dalam urusan akhirat dan dunia dan tidak menyimpannya padahal bisa disimpan.كَثْرَةَ السُّؤَالِ (kaṡratas-su`āl)): banyak meminta sesuatu yang tidak dia butuhkan.Dalam hal ini terdapat sejumlah hadis yang telah disebutkan dalam bab sebelumnya, seperti hadis:"Aku akan memutuskan siapa yang memutusmu."Juga hadis:"Siapa yang memutusku niscaya Allah akan memutusnya."

Pelajaran dari Hadis:

1) Diharamkan durhaka kepada ibu, demikian juga ayah. Tetapi ibu disebutkan secara khusus karena dia lemah dan sangat membutuhkan kebaktian anaknya.

2) Harta adalah amanah pada hamba yang wajib dijaga, sehingga dia tidak boleh meletakkannya kecuali pada sesuatu yang mengandung maslahat agama atau dunia.

3) Orang yang menggunakan harta pada sesuatu yang haram, maka dia telah melanggar dua larangan: menyia-nyiakan harta dan berbuat yang haram, sehingga seorang hamba harus mewaspadainya.

4) Penjagaan agama terhadap semua yang dapat merusak agama, akal, atau harta, dan ini bagian dari kesempurnaan agama yang agung ini.

Faedah Tambahan:

Bersilaturahmi dan berbuat baik kepada orang lain termasuk di antara yang pahalanya dapat dilihat di dunia sebelum di akhirat. Begitu juga memutus silaturahmi dan perbuatan zalim terhadap hak orang lain termasuk yang disegerakan hukumannya terhadap pelakunya di dunia sebelum di akhirat.Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidak ada suatu ketaatan kepada Allah yang lebih cepat balasannya daripada silaturahmi. Dan tidak ada sesuatu yang lebih cepat hukumannya daripada kezaliman dan memutus silaturahmi."(HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubrā dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-)

 42- BAB BERBUAT BAIK KEPADA SAHABAT AYAH, IBU, KERABAT, ISTRI, DAN SEMUA ORANG YANG MESTI DIMULIAKAN

1/341- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sebaik-baik perbuatan bakti (kepada orang tua) ialah seseorang yang menyambung tali persaudaraan kepada sahabat ayahnya."2/342- Abdullah bin Dīnār meriwayatkan dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwa seorang laki-laki badui bertemu dengannya di jalan menuju Mekah. Abdullah bin Umar mengucapkan salam kepadanya, lalu memberikannya keledai yang dikendarainya serta serban yang dipakai di kepalanya. Ibnu Dīnār menuturkan, maka kami berkata, "Semoga Allah memperbaikimu. Mereka itu orang-orang badui. Mereka terbiasa puas dengan pemberian yang sedikit. Abdullah bin Umar berkata, "Sesungguhnya ayah orang ini adalah orang yang dicintai oleh Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-. Dan aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,Sesungguhnya sebaik-baik perbuatan bakti (kepada orang tua) adalah seseorang menyambung tali persaudaraan dengan keluarga sahabat ayahnya'."Dalam riwayat lain Ibnu Dīnār, dari Ibnu Umar, bahwa ketika dia pergi menuju Mekah, biasanya dia membawa keledai miliknya untuk bersantai ketika dia telah bosan berkendara unta dan membawa serban untuk mengikat kepalanya. Suatu hari ketika dia tengah mengendarai keledai tersebut, tiba-tiba seorang laki-laki badui melewatinya. Ibnu Umar bertanya, "Bukankah engkau polan bin polan?" Orang itu menjawab, "Ya." Lantas Ibnu Umar memberikannya keledai itu seraya berkata, "Kendarailah ini." Ibnu Umar juga memberinya serban itu dan berkata, "Gunakanlah ini untuk mengikat kepalamu." Sahabat-sahabatnya berkata, "Semoga Allah mengampunimu. Engkau telah memberi orang badui ini keledai yang engkau biasa gunakan bersantai serta serban yang engkau biasa pakai mengikat kepala?" Ibnu Umar menjawab, "Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,Sesungguhnya sebaik-baik perbuatan bakti kepada orang tua adalah seseorang menyambung tali persaudaraan dengan keluarga sahabat ayahnya setelah dia meninggal dunia.'Dahulu, ayah orang ini adalah teman Umar -raḍiyallāhu 'anhu-."(Semua riwayat ini diriwayatkan oleh Muslim)

Kosa Kata Asing:

أَبَرُّ البِرِّ (abarrul-birr): perbuatan bakti yang paling sempurna dan paling tinggi.

وُدٌّ (wudd): cinta, kasih sayang, dan persahabatan.

يَتَرَوَّحُ عَلَيْهِ (yatarawwaḥu 'alaih): bersantai dengannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Termasuk bakti yang besar kepada kedua orang tua adalah Anda memuliakan siapa saja yang memiliki hubungan saling cinta dengan keduanya.

2) Implementasi para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- terhadap Sunnah Nabi, kecintaan mereka kepada kebaikan dan respon mereka yang cepat kepadanya, serta banyaknya keutamaan Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-.

3) Termasuk penyempurna bakti kepada orang tua yaitu berinfak kepada sahabat kedua orang tuanya dengan harta pribadinya serta apa yang dia ridai untuk dirinya.

3/343- Abu Usaid (dengan mendamahkan "hamzah" dan memfatahkan "sīn"), Malik bin Rabī'ah As-Sā'idiy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Ketika kami kami sedang duduk bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tiba-tiba beliau didatangi oleh seorang laki-laki dari Bani Salimah dan berkata, "Ya Rasulullah! Masih adakah sebagian dari kebaktian kepada kedua orang tuaku yang bisa aku lakukan setelah mereka meninggal?" Beliau menjawab,"Ya. Yaitu mendoakan dan memohonkan ampunan untuk mereka, menunaikan wasiat mereka setelah mereka meninggal, menyambung silaturahmi kepada orang-orang yang tidak tersambung kecuali lewat mereka, dan memuliakan sahabat mereka."(HR. Abu Daud dan lainnya) [7]

Kosa Kata Asing:

الصَّلاةُ عَلَيْهِمَا (aṣ-ṣalātu 'alaihimā): mendoakan mereka berdua.

إنْفَاذُ عَهْدِهِمَا (infāżu 'ahdihimā): menunaikan wasiat mereka berdua.

Pelajaran dari Hadis:

1) Termasuk perbuatan berbakti yang dapat dilakukan anak kepada orang tuanya setelah mereka meninggal: mendoakan mereka, memohonkan ampunan, berbuat baik kepada sahabat mereka, menunaikan wasiat mereka, dan bersilaturahmi kepada orang-orang yang tidak memiliki hubungan denganmu kecuali dengan perantara mereka.

2) Bersungguh-sungguh mendidik anak dengan pendidikan yang baik akan mendatangkan manfaat bagi kedua orang tua; yaitu pada masa hidup, anak-anak tersebut bisa berbakti kepada keduanya, dan setelah meninggal, anak-anak tersebut mendoakan mereka berdua.

3) Antusiasme para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- kepada kebaikan serta konsistensi mereka di dalamnya. Orang beriman yang mendapat petunjuk adalah yang meneladani sahabat-sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam segala perangai baik mereka.

4/344- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengisahkan: Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seperti cemburuku kepada Khadijah -raḍiyallāhu 'anhā- padahal sama sekali aku tidak pernah melihatnya. Akan tetapi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sering sekali menyebutnya. Terkadang beliau menyembelih kambing lalu memotong-motongnya menjadi beberapa bagian, kemudian beliau mengirimnya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Sampai-sampai pernah aku berkata kepada beliau, "Sepertinya tidak ada wanita lain di dunia ini kecuali Khadijah!" Maka beliau menjawab,"Khadijah itu begini dan begini, dan dari dialah aku mempunyai anak."(Muttafaq ‘Alaih)

Dalam salah satu riwayat disebutkan, "Jika beliau menyembelih kambing, maka beliau selalu menghadiahkan sebagiannya kepada sahabat-sahabat dekat Khadijah dengan kadar yang secukupnya."

Dalam riwayat lain, "Apabila beliau menyembelih kambing, maka beliau mengatakan, 'Kirimkanlah daging kambing itu kepada sahabat-sahabat Khadijah.'"

Dan dalam riwayat lain, Aisyah berkata, "Hālah binti Khuwailid, saudari Khadijah pernah meminta izin untuk masuk ke rumah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau lalu mengenal suara minta izinnya mirip dengan suara Khadijah sehingga membuat beliau merasa senang. Lalu beliau bersabda, "Ya Allah! Ini adalah Hālah binti Khuwailid."

Kalimat "فَارْتَاحَ" (fartāḥa), yaitu dengan "ḥā`" (yang berarti: merasa senang). Sementara dalam kitab Al-Jam'u baina Aṣ-Ṣaḥīḥain karya Al-Ḥumaidy: "فَارْتَاعَ" (fartā'a) dengan "'aīn", artinya: memperhatikan.

Kosa Kata Asing:

صَدَائِقُ (ṣadā`iq), bentuk jamak dari "صَدِيْقَةٌ" (ṣadīqah), artinya: sahabat.

خَلَائِلُهَا (khalā`iluhā), bentuk jamak dari "خليلة" (khalīlah), artinya: sahabat.

وَكَانَ لي مِنْهَا وَلَدٌ: yaitu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memiliki empat anak perempuan dan tiga anak laki-laki, semuanya dari Khadījah -raḍiyallāhu 'anhā-. Kecuali anak beliau Ibrāhīm -raḍiyallāhu 'anhu-, dia adalah dari Māriah Al-Qibṭīyyah -raḍiyallāhu 'anhā-.

فَعَرَفَ اسْتِئْذَانَ خَديجَةَ: ketika Hālah minta izin, beliau mengingat Khadījah -raḍiyallāhu 'anhā- karena suara Hālah mirip suara Khadījah -raḍiyallāhu 'anhumā-.

Pelajaran dari Hadis:

1) Memuliakan sahabat seseorang setelah orang itu meninggal terhitung sebagai perbuatan memuliakan orang itu serta berbuat baik kepadanya.

2) Menyiarkan keutamaan dan kebaikan Ummul-Mu`minīn Khadījah binti Khuwailid -raḍiyallāhu 'anhā-.

3) Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjaga dengan baik hak istri pertama beliau yang telah membelanya dan tegar bersamanya. Semoga Allah meridai-Nya. Dalam hal ini terkandung pesan besar kepada para suami untuk menjaga hak istrinya setelah meninggal dunia. Lalu bagaimana ketika masih hidup?! Hendaknya lebih menjaganya.

5/345- Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku pernah keluar bersama Jarīr bin Abdillāh Al-Bajaliy -raḍiyallāhu 'anhu- dalam suatu perjalanan. Ternyata ia melayaniku. Aku berkata, "Jangan lakukan!" Dia menjawab, "Sungguh aku telah melihat orang-orang Ansar melayani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sehingga aku bersumpah pada diriku bahwa aku tidak akan menyertai salah seorang dari mereka kecuali aku akan melayaninya."(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

آليتُ (ālaitu): aku bersumpah.

Pelajaran dari Hadis:

1) Memuliakan orang-orang yang memuliakan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; karena memuliakan sahabat seseorang adalah memuliakan orang tersebut serta menghormati mereka sama dengan menghormatinya.

2) Menerangkan tawaduknya para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- dan mengenal keutamaan mereka. Jarīr melayani Anas -raḍiyallāhu 'anhumā- karena Anas berasal dari kaum Ansar yang telah membela Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

 43- BAB MEMULIAKAN AHLI BAIT RASULULLAH -ṢĀLLALLĀHU 'ALAIHI WA SALLAM- DAN MENJELASKAN KEUTAMAAN MEREKA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahli Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."(QS. Al-Aḥzāb: 33)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati."(QS. Al-Ḥajj: 32)

Pelajaran dari Ayat:

1) Ahli Bait Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ialah kerabat beliau yang beriman serta istri-istri beliau para ummahātul-mu`minīn. Mereka semua adalah Ahli Bait beliau yang memiliki hak kerabat.

2) Ahli Bait Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memiliki dua hak, yaitu hak sebagai orang beriman dan hak kekerabatan. Kita wajib memuliakan mereka dan memelihara hak mereka. Tetapi, tanpa sikap guluw (ekstrem) dan fanatik sebagaimana yang dilakukan sebagian kelompok bidah yang bersikap guluw kepada sebagian imam dengan menyelisihi pokok-pokok agama.

1/346- Yazīd bin Ḥayyān berkata, Aku pergi menemui Zaid bin Arqam -raḍiyallāhu 'anhu- bersama Ḥuṣain bin Sabrah dan 'Amr bin Muslim. Setelah kami duduk, Ḥuṣain berkata kepada Zaid bin Arqam, “Wahai Zaid! Engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Engkau telah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, engkau mendengar hadis beliau, engkau berperang bersama beliau, dan engkau salat di belakang beliau. Sungguh, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak, wahai Zaid! Oleh karena itu, sampaikanlah kepada kami apa yang engkau dengar dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."Zaid bin Arqam berkata, “Wahai keponakanku! Demi Allah, aku ini sudah tua dan masa hidupku bersama beliau sudah lama. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku hafal dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu maka terimalah, dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah engkau memaksaku untuk menyampaikannya.” Kemudian Zaid bin Arqam mengatakan,"Pada suatu hari, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri di tengah-tengah kami untuk menyampaikan khotbah di suatu tempat (persinggahan) yang memiliki air bernama Khumm yang terletak antara Mekah dan Madinah. Beliau memuji dan memuja Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan. Kemudian beliau bersabda,Ammā ba’du. Ketahuilah, wahai saudara-saudara sekalian, bahwa aku adalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu Malaikat maut) akan datang dan aku harus memperkenankannya. Aku tinggalkan untuk kalian aṡ-ṡaqalain (dua hal yang berat). Pertama, Kitābullāh (Al-Qur`ān) yang di dalamnya terkandung petunjuk dan cahaya. Maka ambillah Kitab Allah dan berpegang teguhlah kepadanya!' Beliau lantas menghimbau serta memotivasi kepada Kitab Allah. Kemudian beliau melanjutkan, '(Kedua), dan ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah terhadap ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah terhadap ahli baitku.' Ḥuṣain bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Wahai Zaid! Siapakah ahli bait Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-? Bukankah istri-istri beliau termasuk ahli bait beliau?” Zaid bin Arqam menjawab, “Istri-istri beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- termasuk ahli bait beliau. Namun ahli bait yang beliau maksud adalah semua (keluarganya) yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau.” Ḥuṣain berkata, “Siapakah mereka itu?” Zaid menjawab, “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga 'Aqīl, keluarga Ja’far, dan keluarga 'Abbās.” Ḥuṣain berkata, “Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat?” Zaid menjawab, “Ya.”(HR. Muslim)Dalam riwayat yang lain:“Ketahuilah! Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat berat. Salah satunya adalah Kitābullāh (Al-Qur`ān); yaitu tali (agama) Allah, Siapa yang mengikutinya maka dia akan mendapat petunjuk, dan Siapa yang meninggalkannya maka dia akan tersesat.”2/347- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- secara mauqūf bahwa dia berkata, "Muliakanlah Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan memuliakan ahli baitnya!"(HR. Bukhari)

Makna "ارْقُبُوا" (urqubū) adalah peliharalah, hormatilah, dan muliakanlah mereka. Wallāhu a'lam.

Kosa Kata Asing:

أَعِيْ (a'ī): aku hafal.

ثَقَلَيْن (ṡaqalain): segala sesuatu yang besar dan berharga; keduanya dinamakan sebaga "ṡaqalain" untuk menjunjung dan membesarkan perkaranya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban berpegang dengan Kitab Allah, karena di dalamnya terkandung petunjuk dan cahaya. Sesungguhnya petunjuk yang sempurna dan cahaya yang paripurna ada pada memahami dan mengamalkan Kitab Allah -Ta'ālā-.

2) Wasiat tentang ahli bait Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; yaitu agar kita mengenal hak mereka dan menjaganya, karena mereka memiliki hak yang lebih di atas hak semua umat ini selain mereka.

3) Ahli bait Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh yang lain, juga kemuliaan dan kehormatan yang sesuai dengan kedudukan mereka. Mereka tidak halal diberikan sedekah dan zakat yang wajib karena ia merupakan kotoran manusia, sementara mereka lebih mulia dan lebih terhormat daripada mendapatkan sedekah.

4) Para Ummahātul-Mu`minīn -raḍiyallāhu 'anhunna-, yaitu istri-istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- termasuk ahli bait beliau. Siapa yang meyakini selain itu maka dia telah tersesat dan menyimpang dari jalan Ahli Sunnah wal Jamaah.

 44- BAB MENGHORMATI ULAMA, ORANG TUA, DAN ORANG-ORANG MULIA SERTA MENDAHULUKAN MEREKA, MEMULIAKAN MAJELIS MEREKA, DAN MEMPERLIHATKAN KEDUDUKAN MEREKA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Katakanlah, 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran."(QS. Az-Zumar: 9)

Pelajaran dari Ayat:

1) Yang dimaksud dengan ulama adalah orang yang berilmu tentang agama, yaitu ahli waris Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Sesungguhnya para ulama adalah penerus para Nabi. Menghormati ulama merupakan sebab untuk memuliakan ajaran agama, karena merekalah orang yang mengembannya, sehingga memuliakan mereka adalah memuliakan agama.

2) Menjelaskan perbedaan antara orang berilmu dengan orang jahil; karena orang berilmu akan memiliki sifat terpuji, sedangkan orang jahil akan memiliki sifat tercela.

1/348- Abu Mas'ūd 'Uqbah bin 'Amr Al-Badriy Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Yang berhak mengimami suatu kaum adalah orang yang paling paham Al-Qur`ān. Jika mereka setara dalam Al-Qur`ān, maka yang paling memahami Sunnah. Jika dalam Sunnah mereka sama, maka yang yang paling dahulu hijrah (ke Madinah). Jika dalam hal hijrah mereka sama, maka yang paling tua umurnya. Jangan sekali-kali seseorang mengimami orang lain di tempat kekuasaannya. Dan tidak boleh duduk di tempat khusus tuan rumah kecuali atas izinnya."(HR. Muslim)

Dalam riwayat Muslim yang lain: "... maka yang paling dahulu masuk Islam." Sebagai ganti dari kata "umur".

Dan dalam riwayat lain:"Orang yang paling berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling paham Al-Qur`ān dan yang paling dahulu menghafalnya. Jika mereka setara dalam Al-Qur`ān, maka yang mengimami mereka adalah yang paling dahulu hijrah. Jika dalam hal hijrah mereka sama, hendaklah yang mengimami mereka yang paling tua usianya."Yang dimaksud dengan "سُلْطَانُهُ" (kekuasaanny) adalah tempat kekuasaannya atau tempat yang khusus untuknya.تكْرِمَتُهُ (takrimatuhu), dengan memfatahkan "tā`" dan mengkasrahkan "rā`", yaitu tempat khususnya seperti tikar atau ranjang dan semisalnya.

Kosa Kata Asing:

تكْرِمَتُهُ (takrimatuhu): tempat penghormatan seperti barisan depan majelis.

Pelajaran dari Hadis:

1) Orang yang berilmu didahulukan atas yang lain dalam tugas-tugas agama, seperti imam salat. Sehingga orang yang paling paham Al-Qur`ān lebih diutamakan, kemudian yang paling paham Sunnah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Ilmu yang paling agung adalah ilmu tentang Kitābullāh dan Sunnah Nabi. Maka, hendaklah orang yang beriman bersungguh-sungguh untuk memperhatikan dua fondasi besar ini; yaitu Al-Qur`ān dan Sunnah, serta mencukupkan diri dengan keduanya dari yang lain.

2/349- Masih dari Abu Mas'ūd 'Uqbah bin 'Amr Al-Badriy Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selalu meluruskan pundak kami dalam salat dan bersabda,"Luruskanlah saf kalian dan jangan berselisih sehingga akan menyebabkan hati kalian berselisih. Hendaknya yang berada di belakangku adalah orang yang dewasa dan berakal, lalu yang setelahnya, kemudian yang setelahnya."(HR. Muslim)Sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-: "لِيَلِنِي" (liyalinī), dengan tidak mentasydidkan "nūn", dan tanpa "yā`" sebelumnya. Juga diriwayatkan dengan mentasydidkan "nūn" disertai "yā`" sebelumnya (لِيَلِيَنِّيْ liyaliyannī).النُّهَى (an-nuhā): akal.أُولُو الأَحْلام (ulul-aḥlām): orang-orang yang berusia balig. Ada yang berpendapat, yaitu orang-orang yang dewasa dan mulia.

Kosa Kata Asing:

لِيَلِني (li yalinī): hendaklah mendekat kepadaku dalam salat, dan berada di belakangku.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kewajiban meluruskan saf, menutup celah, dan menyejajarkan pundak dan kaki dalam salat.

2) Kewajiban imam agar sungguh-sungguh memeriksa dan meluruskan saf makmum, dengan ucapan dan perbuatannya, sebagai bentuk meneladani amalan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

3) Anjuran agar orang-orang yang dewasa dan mulia merapat kepada imam ketika bersaf.

3/350- Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Hendaklah yang berada tepat di belakangku orang dewasa dan berakal. Kemudian yang setelahnya." Beliau mengulanginya tiga kali. Lalu melanjutkan, "Dan hendaklah kalian menjauhi kebisingan dan perselisihan pasar."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

هَيْشَاتُ الأَسْوَاقِ (haisyātul-aswāq): kebisingan yang ada di pasar berupa campur baur, perselisihan, pertengkaran, dan adanya suara tinggi.

Pelajaran dari Hadis:

1) Masjid memiliki hak yang wajib dipelihara, sehingga orang yang salat tidak boleh menciptakan fitnah dalam masjid seperti pertengakaran dan mengangkat suara, karena hal itu dapat menghilangkan kekhusyukan.

2) Anjuran agar orang-orang yang lebih dewasa dan berakal berdiri di belakang imam, kemudian setelahnya orang-orang yang ada di bawah mereka.

Faedah Tambahan (1):

Sebagian orang memahami hadis ini sebagai larangan bagi anak-anak untuk berdiri di belakang imam. Ini adalah pandangan yang salah. Karena berbeda antara ungkapan: "Jangan berada di belakangku kecuali orang-orang dewasa",dengan sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-: "Hendaklah yang berada di belakangku di antara kalian orang-orang yang lebih dewasa."Ungkapan kedua menganjurkan kepada orang-orang yang dewasa dan berakal untuk berada di depan. Sedangkan ungkapan pertama maknanya larangan berada di belakang imam bagi yang belum balig atau berakal. Adapun hadis Nabi maka menggunakan ungkapan yang kedua.Berdasarkan hal itu, tidak boleh mengusir anak-anak dari saf depan, kecuali mereka melakukan hal yang mengganggu, karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak pernah melarang anak kecil berdiri di belakang imam. Tetapi beliau menganjurkan kepada orang-orang yang besar supaya mendekat kepada imam. Renungkanlah perbedaannya.

Faedah Tambahan (2):

Orang-orang yang melarang anak-anak berdiri di saf depan telah jatuh dalam beberapa kesalahan, di antaranya:

1) Mereka salah dari sisi menghalangi hak orang yang berhak mendapatkannya, karena anak kecil itu memiliki hak walaupun dia kecil.

2) Mereka menjadikan masjid dibenci oleh anak-anak kecil, dan hal ini dapat mengakibatkan anak-anak lari dari masjid serta membenci orang yang mengusirnya.

3) Bila kita mengusir anak-anak dari saf-saf terdepan, mereka akan hanya bermain-main ketika berada di saf-saf terakhir. Hal ini dapat mengakibatkan masjid ribut dan orang yang ada di sana terganggu.

4/351- Abu Yaḥyā, konon Abu Muḥammad, Sahl bin Abi Ḥaṡmah -dengan memfatahkan "ḥā`" dan mensukunkan "ṡā`"- Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu-berkata, Abdullah bin Sahl dan Muḥayyiṣah bin Mas'ūd pergi menuju Khaibar. Khaibar waktu itu masih dalam masa perjanjian damai. Kemudian mereka berpisah. Lalu Muḥayyiṣah pergi ke Abdullah bin Sahl sementara dia berguncang penuh darah karena terbunuh. Muḥayyiṣah langsung menguburkannya, kemudian pulang ke Madinah. Lantas Abdurraḥmān bin Sahl bersama Muḥayyiṣah dan Ḥuwayyiṣah, keduanya putra Mas'ūd, mereka pergi menghadap Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Abdurraḥmān memulai berbicara, tetapi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Hendaknya yang lebih tua yang berbicara dahulu. Hendaknya yang lebih tua yang berbicara dahulu." Pada saat itu dia paling muda di antara mereka. Maka dia pun diam. Lalu Muḥayyiṣah dan Ḥuwayyiṣah yang berbicara. Nabi bersabda, "Apakah kalian mau bersumpah (lima puluh kali) sehingga kalian berhak terhadap diat saudara kalian?" Kemudian dia menyebutkan hadis ini secara sempurna.(Muttafaq ‘Alaih)

Sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-: "كَبِّرْ كَبِّرْ" (kabbir, kabbir), maksudnya: hendaklah yang lebih tua yang berbicara dahulu.

Kosa Kata Asing:

يَتَشَحَّطُ (yatasyaḥḥaṭu): berguncang penuh darah.

أَحْدَثُ القَوْمِ (aḥdaṡul-qaum): orang yang paling muda usianya di antara mereka.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran untuk mendahulukan yang paling tua usianya dalam berbicara. Ini adalah adab nabawi yang diajarkan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Mempelajari adab-adab nabawi termasuk kepentingan paling urgen dalam kehidupan hamba yang beriman.

5/352- Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengumpulkan dua jenazah di antara syuhada Uhud dalam satu kubur. Kemudian beliau bersabda,"Siapakah di antara mereka yang paling banyak menghafal Al-Qur`ān?"Bila ditunjukkan kepada beliau salah satunya maka beliau mendahulukannya di dalam liang lahad. (HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

اللَّحْدُ (al-laḥd): lahad; ceruk atau relung di sisi kubur di arah kiblat, tempat meletakkan mayat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Diperbolehkan pembuatan kubur dengan model lahad (ceruk ke samping) ataupun syaqq (lubang ke bawah) karena keduanya dilakukan di zaman Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Tetapi lahad lebih afdal.

2) Boleh mengubur dua atau tiga orang dalam satu kubur ketika dibutuhkan ataupun terpaksa.

3) Mendahulukan orang berilmu dan mulia dilakukan di masa hidup mereka dan setelah mereka meninggal; hal ini dikarenakan kemuliaan ilmu yang mereka emban dalam dada mereka.

6/353- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Aku bermimpi sedang bersiwak dengan sepotong kayu siwak. Tiba-tiba ada dua orang mendatangiku, salah satunya lebih tua dari yang lain. Aku memberikan kayu siwak itu kepada orang yang lebih muda. Lantas dikatakan kepadaku, 'Dahulukan yang lebih tua!' Aku pun memberikannya kepada yang lebih tua."(HR. Muslim dengan sanad bersambung dan Bukhari secara mu'allaq)

Pelajaran dari Hadis:

1) Mempertimbangkan usia yang lebih tua, sehingga yang lebih tua harus didahulukan dalam pemberian sesuatu bila mereka ada di hadapan Anda.

2) Memulai dari kanan ketika orang-orang yang hadir terpencar di kanan dan kiri.

7/354- Abū Mūsā -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya di antara bentuk mengagungkan Allah -Ta'ālā- ialah menghormati orang muslim yang tua dan penghafal Al-Qur`ān dengan cara tidak berlebih-lebihan dan tidak pula lalai darinya, serta menghormati penguasa yang adil."(Hadis hasan; HR. Abu Daud)

Kosa Kata Asing:

إِجْلَالُ الله (ijlālullāh): mengagungkan Allah.

الغَالِيْ (al-gālī): berlebihan dan ekstrim.

الجَافِيْ (al-jāfī): meninggalkannya dan tidak mengamalkannya.

المُقْسِطُ (al-muqsiṭ): orang yang adil.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran memuliakan orang yang memiliki keutamaan atau lebih tua serta memuliakan mereka dalam majelis sebagai bentuk pengakuan terhadap keutamaan dan usia mereka.

2) Sikap guluw (berlebihan) dalam urusan adalah sebab kebinasaan, sikap jafā` (melalaikan) adalah bentuk kelalaian, sedangkan sikap pertengahan adalah sikap paling adil.

3) Agama Allah pertengahan antara orang yang guluw dan jafā`;semua orang yang komitmen pada Sunnah Nabi dan petunjuk sahabat dan generasi salaf dalam ucapan, perbuatan serta tingkah lakunya, maka dia akan diberikan taufik kepada sikap pertengahan.8/355- 'Amr bin Syu'aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya -raḍiyallāhu 'anhum-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil (di antara kami), dan tidak mengetahui kemuliaan orang yang tua (di antara kami)."(Hadis sahih; HR. Abu Daud dan Tirmizi.Tirmizi berkata, "Hadisnya hasan sahih")

Dalam riwayat lainnya oleh Abu Daud, "... hak orang yang tua."

Kosa Kata Asing:

لَيْسَ مِنَّا (laisa minnā): ia tidak termasuk golong yang mengikuti sunah, petunjuk, dan jalan kami.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran memulikan dan menghormati orang yang tua serta kasih sayang kepada anak yang kecil, dengan seperti itu urusan akan sempurna.

2) Orang beriman saling menyempurnakan satu sama lain dalam masyarakat muslim.

9/356- Maimūn bin Abi Syabīb -raḥimahullāh- meriwayatkan, bahwa seorang yang minta-minta lewat pada Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, lantas Aisyah memberinya sepotong roti. Setelah itu lewat seorang laki-laki yang berpakaian dan berpenampilan bagus, lantas Aisyah mengajaknya duduk. Kemudian orang itu makan. Aisyah ditanya mengenai sikapnya tersebut, maka dia menjawab, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Tempatkanlah manusia sesuai kedudukannya'."(HR. Abu Daud, tetapi Maimūn tidak bertemu dengan Aisyah) [8]

Hadis ini telah disebutkan oleh Muslim di awal kitab Ṣaḥīḥ-nya secara mu'allaq, dia berkata: Diriwayatkan dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kami agar menempatkan manusia sesuai kedudukan mereka."Hadis ini disebutkan oleh Al-Ḥākim Abu Abdillāh dalam kitabnya Ma'rifah Ulūmil-Ḥadīṡ, dan dia berkata, "Ini hadis sahih."

Kosa Kata Asing:

كِسْرَةٌ (kisrah): sepotong roti.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran untuk memperhatikan kedudukan dan posisi manusia tanpa ada kezaliman, melainkan sesuai tuntutan keadilan, sehingga orang yang berkedudukan tinggi tidak diturunkan dari posisinya dan yang berkedudukan rendah tidak diangkat melebihi kedudukannya.

2) Perbedaan tingkat manusia merupakan sunah ilahiah yang telah Allah -Ta'ālā- tetapkan sejak awal penciptaan.Adapun seruan kepada kesetaraan manusia dalam segala hal, maka ini adalah seruan jahiliah yang hampa dari pengetahuan yang benar dan pemahaman yang lurus.10/357- Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, 'Uyainah bin Ḥiṣn datang lalu menginap di tempat keponakannya, Al-Ḥurr bin Qais. Dia termasuk salah seorang yang dekat dengan Umar -raḍiyallāhu 'anhu-, dan dahulu Umar mengangkat para penghafal Al-Qur'ān sebagai dewan majelis dan musyawarahnya, yang tua maupun yang muda. 'Uyainah berkata kepada keponakannya, "Wahai anak saudaraku, kamu adalah orang yang memiliki tempat pada Amīrul-Mu`minīn, maka mintalah izin kepadanya agar aku dapat menemuinya." Lantas keponakannya memintakan izin dan Umar mengizinkannya. Ketika 'Uyainah masuk, ia berkata, "Wahai Ibnul-Khaṭṭab! Demi Allah, engkau tidak memberi yang banyak kepada kami dan engkau tidak menetapkan hukum kepada kami dengan adil." Umar -raḍiyallāhu 'anhu- marah hingga berniat untuk memukulnya. Al-Ḥurr berkata kepada Umar, "Wahai Amīrul-Mu`minīn! Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- telah berfirman kepada Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-,Berikanlah maaf, perintahkanlah untuk berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang jahil.'Sesungguhnya orang ini termasuk orang yang jahil." Demi Allah! Umar tidak mengabaikan ayat itu ketika dia membacanya, sebab Umar adalah orang yang sangat patuh terhadap Al-Qur`ān.(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

يُدْنِيْهِمْ (yudnīhim): mendekatkan mereka.

هِيْ (hī): ucapan ancaman.

الجَزْلُ (al-jazl): murah dalam memberi.

Pelajaran dari Hadis:

1) Berbicara kepada setiap orang sesuai kedudukannya; tidak boleh berbicara kepada amir atau orang yang terpandang seperti berbicara kepada masyarakat umum.

2) Keutamaan Umar -raḍiyallāhu 'anhu- dalam pengagungannya terhadap ayat-ayat Allah; yaitu ketika mendengar ayat yang memerintahkan memberi maaf dan meninggalkan orang yang jahil dia langsung mengimplementasikannya dan memaafkan laki-laki tersebut. Maka, adakah orang yang akan meneladani Al-Fārūq -raḍiyallāhu 'anhu-?!

11/358- Samurah bin Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- aku masih muda belia. Aku hafal apa yang disampaikan oleh Rasulullah. Tidak ada yang menghalangiku untuk ikut berbicara, kecuali karena di sana ada orang-orang yang lebih tua dariku."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Larangan menyampaikan sesuatu bila di antara yang hadir ada yang lebih berilmu ataupun lebih berumur.

2) Menghormati dan memuliakan orang yang tua termasuk yang harus diajarkan kepada anak kecil agar mereka tumbuh di atas adab mulia.

3) Pengetahuan kalangan junior sahabat-sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang keutamaan para sahabat yang senior; yaitu mereka mengetahui bahwa mereka akan senantiasa ada di atas kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari kalangan senior.

Faedah Tambahan:

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Keberkahan bersama kalangan senior." (HR. Al-Ḥākim, dari Ibnu Abbās -raḍiyallāhu 'anhuma-)

Ini adalah manhaj Nabi yang harus ditempuh dalam segenap lini kehidupan, baik ilmiah maupun amaliah. Orang yang lebih besar dalam hal ilmu dan umur harus didahulukan di atas yang lebih rendah. Tidaklah keadaan kita hari ini lemah dan tak menentu kecuali setelah kita kehilangan manhaj agung ini. Yaitu orang-orang yang junior mengambil alih kendali dengan menyisihkan yang senior.Semoga Allah meridai Al-Fārūq Umar bin Al-Khaṭṭāb manakala dia berkata, "Aku telah tahu kapan manusia baik dan kapan mereka rusak. Jika ilmu datang dari kalangan junior maka akan ditentang oleh senior. Dan jika ilmu datang dari kalangan senior maka akan diikuti oleh junior, sehingga mereka semua mengikuti petunjuk."(Riwayat Ibnu 'Abdil-Barr dalam Jāmi' Bayānil-'Ilmi wa Faḍlihi)12/359- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidaklah seorang pemuda menghormati yang lanjut usia karena umurnya, melainkan Allah menetapkan baginya orang yang akan menghormatinya ketika dia sudah tua."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya garīb) [9]

Kosa Kata Asing:

قيَّض (qayyaḍa): menetapkan, menakdirkan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran memuliakan para tetua kaum muslimin lantaran usia tua mereka dan mereka lebih dulu beriman. Maka, memuliakan mereka dilihat dari dua sisi ini.

2) Balasan sejenis dengan perbuatan, dan kebaikan tidak akan hilang walaupun sedikit.

3) Anjuran mempelajari adab-adab agama yang diajarkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam-, di antaranya memuliakan orang yang tua.

 45- BAB BERKUNJUNG KEPADA ORANG-ORANG BAIK, BERGAUL DAN BERTEMAN DENGAN MEREKA,

SERTA MEMINTA KUNJUNGAN DAN DOA MEREKA, DAN MENGUNJUNGI TEMPAT-TEMPAT MULIA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut, atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.'”Hingga firman Allah -Ta'ālā-:"Musa berkata kepadanya, 'Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?'”(QS. Al-Kahf: 60-66)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Janganlah kamu mengusir orang-orang yang berdoa kepada Tuhannya di pagi dan petang hari, sedangkan mereka sangatlah mengharapkan keridaan-Nya."(QS. Al-Kahf: 28)

Pelajaran dari Ayat:

1) Anjuran agar bersilaturahmi kepada orang-orang baik, yaitu orang-orang berilmu, beriman, dan saleh.

2) Bersabar dan menahan diri dalam rangka berteman dengan orang-orang saleh adalah wasiat Allah -Ta'ālā- kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

1/360- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, bahwa Abu Bakar berkata kepada Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- setelah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat, "Mari kita pergi berkunjung ke rumah Ummu Aiman -raḍiyallāhu 'anhā- sebagaimana dulu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa mengunjunginya." Ketika keduanya sampai, Ummu Aiman menangis. Keduanya bertanya, "Apa yang membuatmu menangis? Tidak tahukah engkau bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?" Ummu Aiman menjawab, "Aku menangis bukan karena tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit." Ummu Aiman pun membuat keduanya terharu, sehingga keduanya ikut menangis bersamanya.(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

أُمُّ أَيْمَن (Ummu Aiman): mantan budak perempuan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sekaligus pengasuh beliau di masa kecilnya, lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerdekakannya ketika beliau telah beranjak tua.

فَهَيَّجَتْهُمَا (fahayyajathumā): dia membuat keduanya terharu untuk menangis.

Pelajaran dari Hadis:

1) Upaya para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- untuk meneladani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam segala hal, bahkan sampai dalam hal kunjungan beliau kepada orang-orang yang berhak dikunjungi.

2) Pengagungan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- terhadap wahyu (Al-Qur`ān dan Sunnah), yaitu mereka menangis karena wahyu terhenti.Lalu mengapa orang-orang yang menelantarkan dan meninggalkannya tidak menangis?!

3) Menangis karena merasa sedih dengan alasan berpisah dengan orang-orang saleh dan terputusnya kebaikan bukan termasuk meratap yang diharamkan.

4) Anjuran melakukan kunjungan kepada orang-orang baik karena ini termasuk hak persaudaraan di antara orang beriman.

2/361- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Ada seorang laki-laki mengunjungi saudaranya di kampung lain. Lalu Allah -Ta'ālā- mengutus seorang malaikat untuk menunggu di jalan yang dilaluinya. Ketika laki-laki itu bertemu dengannya, dia bertanya, 'Engkau mau kemana?' Orang itu menjawab, 'Aku ingin menemui saudaraku di kampung ini.' Malaikat bertanya, 'Apakah ada satu kebaikan yang ingin engkau dapatkan padanya?' Orang itu menjawab, 'Tidak. Hanya saja aku mencintainya karena Allah -Ta'ālā-.' Malaikat itu berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah (untuk mengabarkan) kepadamu bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah."(HR. Muslim)Dikatakan: أَرْصَدَه لِكَذا, artinya: dia ditugaskan untuk menjaganya.المَدْرَجَةُ (al-madrajah), dengan memfatahkan "mīm" dan "rā`", artinya: jalan. Dan makna تَرُبُّهَا (tarubbuhā): mengerjakannya serta berusaha memperbaikinya.3/362- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, seorang penyeru akan berseru, 'Bagus hidupmu, dan bagus perjalananmu, serta engkau akan mendapatkan satu rumah di surga.'"(HR. Tirmizi, dan dia berkata, "Hadisnya hasan." Di sebagian manuskrip disebutkan, "Hadisnya garīb")

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran berkunjung ke saudara seiman karena Allah, karena persaudaraan iman lebih tinggi daripada ikatan darah, nasab, dan kepentingan duniawi.

2) Keutamaan saling mencintai dan saling mengunjungi karena Allah; Siapa yang mencintai karena Allah sungguh dia telah tulus mencintai Rabb-nya.

3) Saling mengunjungi karena Allah adalah sebab masuk surga dan mendapatkan pahala melimpah.

4) Motivasi agama pada setiap yang akan mendatangkan kasih sayang di antara saudara seperti saling berhubungan baik dan mengunjungi.

4/363- Abu Musa Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya perumpamaan teman bergaul yang saleh dan teman bergaul yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi, antara dia akan memberimu atau engkau yang akan membeli darinya, atau paling tidak engkau mendapatkan aroma yang wangi. Sedangkan pandai besi, antara dia akan membakar pakaianmu atau engkau akan mendapatkan aroma tidak sedap."(Muttafaq ‘Alaih)

يُحْذِيكَ (yuḥżīka): memberimu.

Kosa Kata Asing:

الكِيْرُ (al-kīr): alat yang digunakan oleh pandai besi untuk meniup api.

تَبْتَاعُ (tabtā'): membeli.

Pelajaran dari Hadis:

1) Perumpamaan-perumpamaan yang ada dalam hadis Nabi merupakan bagian dari metode pengajaran untuk lebih memahamkan sesuatu yang bersifat maknawi (abstrak) kepada pendengar.

2) Larangan berteman dengan orang-orang yang buruk dan pelaku kejahatan karena berteman dengan mereka dapat merusak agama dan dunia.

3) Anjuran untuk mencari teman yang saleh karena perumpamaan mereka seperti penjual minyak wangi yang Anda tidak akan dapatkan darinya kecuali kebaikan.

5/364- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Perempuan dinikahi karena empat alasan: karena hartanya, karena nasabnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang agamais, niscaya engkau akan beruntung."(Muttafaq ‘Alaih)

Maksudnya: bahwa umumnya manusia menginginkan empat perkara ini pada perempuan. Maka bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan wanita yang taat beragama dan untuk hidup bersamanya.

Kosa Kata Asing:

تَرِبَتْ يَدَاكَ: ungkapan ini biasa diucapkan oleh kalangan Arab untuk menganjurkan sesuatu, dan maknanya adalah mendoakannya kebaikan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Sebaik-baik perkara yang dicari oleh laki-laki yang melamar pada perempuan yang ingin dinikahinya adalah agama, karena perempuan yang seperti ini akan membantunya dalam agamanya, menjaga amanahnya, dan merawat anak-anaknya.

2) Pernikahan yang paling diberkahi adalah yang dibangun di atas fondasi agama.

6/365- Ibnu Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya kepada Jibril -'alaihissalām-,"Apa yang menghalangimu untuk mengunjungi kami lebih sering dari biasanya?" Maka turunlah ayat ini:"Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali atas perintah Tuhanmu. Milik-Nya segala yang ada di hadapan kita, yang ada di belakang kita dan segala yang ada di antara keduanya, dan sekali-kali Tuhanmu tidak lupa."(HR. Bukhari)

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran meminta orang-orang baik untuk berkunjung ke rumah Anda supaya Anda mendapatkan manfaat lewat persahabatan dengan mereka.

2) Besarnya cinta Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada Jibril -'alaihissalām- karena dia datang dengan membawa wahyu yang berisikan petunjuk dan cahaya iman.

3) Malaikat tidak akan bertindak dan tidak pula turun ke bumi kecuali dengan adanya perintah Allah. Demikian juga keadaan hamba yang beriman, dia tidak bertindak dalam perkara-perkara agama kecuali setelah mengetahui hukum Allah -Ta'ālā- dan hukum Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di dalamnya agar urusannya mengikuti perintah Allah dan perintah Rasul-Nya.

7/366- Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang beriman dan janganlah ada yang memakan makananmu selain orang yang bertakwa!"

(HR. Abu Daud dan Tirmizi dengan sanad lā ba`sa bih/hasan)

Pelajaran dari Hadis:

1) Larangan keras dari berteman dan bersahabat dengan orang kafir dan jahat, serta larangan memuliakan mereka walaupun dengan makan dan minum bersama.

2) Perintah berteman dan bergaul dengan orang-orang beriman yang bertakwa; ini adalah wasiat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang wajib dijaga.

8/367- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman dekat."

(HR. Abu Daud dan Tirmizi dengan sanad sahih, Tirmizi berkata, "Hadisnya hasan")

Kosa Kata Asing:

الخَلِيْلُ (al-khalīl): teman dan sahabat dekat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Seorang hamba harus berteman dengan orang-orang yang baik, karena pergaulan memiliki pengaruh yang nyata dalam perilaku manusia.

2) Seseorang akan bertambah imannya ketika berteman dengan orang-orang beriman, sebaliknya akan berkurang ketika berteman dengan orang-orang fasik. Karena teman biasanya akan menarik kita, antara menarik kepada kebaikan atau kepada keburukan. Dan juga karena pergaulan akan melahirkan kesamaan.

9/368- Abu Musa Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seseorang itu akan bersama orang yang dicintainya."(Muttafaq ‘Alaih)Dalam sebagian riwayat dia berkata, Ada yang bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Seseorang mencintai suatu kaum sementara dia tidak mampu menyusul perbuatan mereka?" Nabi menjawab,"Seseorang itu akan bersama orang yang dicintainya."

Pelajaran dari Hadis:

1) Seorang muslim harus mencintai orang-orang bertakwa agar bisa bersama mereka karena seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dia cintai.

2) Cinta karena Allah adalah ketaatan, dengannya seseorang akan bisa mendapatkan ketaatan yang luput darinya ataupun yang tidak sempurna dia kerjakan.

3) Perbedaan tingkat ibadah orang-orang beriman tidak menghalangi orang yang kurang ibadahnya untuk menyusul orang yang banyak ibadahnya karena mereka digabungkan oleh fondasi saling mencintai atas dasar iman, dan itu adalah ibadah hati yang paling tinggi.

4) Keutamaan mencintai orang-orang saleh dari kalangan ahli ilmu dan ahli agama, terutama para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- dan generasi salaf. Sungguh, kebahagiaan besar diperuntukkan kepada orang-orang yang membela dan mencintai mereka, dan kesengsaraan diperuntukkan pada orang yang memusuhi dan membenci mereka.

10/369- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa seorang badui bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Kapan waktu terjadinya kiamat?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apa yang telah engkau siapkan untuk kiamat?" Orang itu menjawab, "Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya." Beliau bersabda,"Engkau akan bersama orang yang engkau cintai."

(Muttafaq 'Alaih, dan ini redaksi Muslim)

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang lain, "Saya tidak mempersiapkan banyak puasa, salat, maupun sedekah untuk itu. Tetapi, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya."

11/370- Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Seseorang datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seraya bertanya, "Ya Rasulullah! Bagaimanana pendapatmu tentang orang yang mencintai suatu kaum sementara dia tidak mampu menyusul perbuatan mereka?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seseorang itu akan bersama orang yang dicintainya."(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Seharusnya seorang hamba mengintrospeksi diri, apakah aku telah beramal? Apakah aku telah kembali kepada Allah? Apakah aku telah bertobat? Ini yang penting. Bukan menunggu kematian tanpa amal perbuatan!

2) Sikap bijaksana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika menjawab penanya? Yaitu beliau hanya menunjukinya sesuatu yang penting baginya dan yang akan menyelamatkannya, yaitu mempersiapkan diri kepada akhirat dengan sesuatu yang bermanfaat.

3) Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- merahasiakan ilmu tentang waktu kiamat dari semua makhluk agar manusia tetap siap dan sedia untuk bertemu Allah:"Jangan sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Āli 'Imrān: 102)Apabila seseorang telah mati, maka kiamatnya telah terjadi.

4) Mencintai Allah dan taat kepada-Nya serta mencintai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan taat kepada beliau merupakan ketaatan yang paling utama dan paling sempurna yang akan menyelamatkan hamba ketika di dunia dan di hari Kiamat.

Faedah Tambahan:

Dalam sebagian riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan:Anas berkata, "Sesungguhnya aku mencintai Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap bisa bersama mereka karena cintaku kepada mereka, sekalipun aku tidak mampu beramal seperti amalan mereka."

Syaikhul-Islām Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh- telah berkata dalam kitabnya, Al-Lāmiyyah,

Mencintai sahabat semuanya adalah mazhabku  dengan mencintai ahli bait aku bertawasul

Bagi semua mereka kedudukan dan keutamaan yang tinggi  tetapi Aṣ-Ṣiddīqlah yang paling afdal di antara mereka.

12/371- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Manusia ibarat logam berharga seperti emas dan perak; orang-orang terbaik pada masa jahiliah adalah yang terbaik setelah masa Islam jika mereka berilmu. Ruh-ruh manusia bagaikan tentara yang berkelompok-kelompok; ruh yang saling kenal akan bersatu, dan yang tidak saling kenal maka akan berpisah."(HR. Muslim)

Bukhari juga meriwayatkan hadis Nabi: "Ruh-ruh manusia ..." dari riwayat Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-.

Kosa Kata Asing:

فَقِهُوا (faqihū): mereka berilmu dan memahami apa yang datang dari Allah -Ta'ālā- dan Rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran kepada hamba agar berusaha memperbaiki dirinya serta menyempurnakan kebaikan yang ada dalam dirinya.

2) Ilmu dan pemahaman agama merupakan media paling besar untuk menyucikan jiwa manusia;"Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)." (QS. Asy-Syams: 9)

3) Ruh akan saling kenal sesuatu tabiat yang Allah ciptakan padanya. Tetapi wajib hukumnya menyucikan jiwa agar dia cinta dan bersahabat dengan orang-orang mukmin yang saleh, dan agar dia menjauh serta lari dari orang-orang kafir dan fasik.

13/372- Usair bin 'Amr (dengan menḍamahkan "hamzah" dan memfatahkan "sīn"), yang juga dikenal dengan nama Ibnu Jābir, dia bercerita, Dahulu bila Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- kedatangan pasukan bantuan dari penduduk Yaman dia selalu bertanya, "Apakah di antara kalian ada Uwais bin 'Āmir?" Sampai dia berhasil bertemu Uwais -raḍiyallāhu 'anhu-. Umar berkata kepadanya, "Apakah engkau Uwais bin 'Āmir?" Uwais menjawab, "Ya, benar." Umar berkata, "Apakah engkau berasal dari kabilah Murād, anak kabilah Qarn?" Dia menjawab, "Ya." Umar bertanya lagi, "Engkau dulu mengidap penyakit belang, kemudian sembuh, kecuali bagian sebesar dirham?" Dia menjawab, "Ya." "Engkau memiliki ibu masih hidup?" Dia menjawab, "Ya." Umar berkata, "Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,Akan datang kepada kalian Uwais bin 'Āmir bersama pasukan bantuan dari penduduk Yaman. Dia dari kabilah Murād, anak kabilah Qarn. Dia pernah mengidap penyakit belang, kemudian sembuh, kecuali bagian sebesar dirham. Dia memiliki ibu dan dia berbakti kepadanya. Seandainya dia bersumpah kepada Allah pasti Allah mewujudkan untuknya. Jika engkau bisa (memintanya) agar dia memohonkan ampunan untukmu, maka lakukanlah.'Umar melanjutkan, "Maka, mohonkanlah ampunan untukku." Lantas Uwais memohonkan ampunan untuk Umar. Lalu Umar berkata kepadanya, "Engkau akan ke mana?" Uwais menjawab, "Kufah." Umar berkata, "Maukah aku tuliskan untukmu surat kepada gubernurnya?" Uwais menjawab, "Aku lebih senang tetap bersama orang-orang miskin yang tidak dikenal.” Pada tahun berikutnya, salah seorang pemuka penduduk Kufah berhaji lalu bertemu dengan Umar, dan Umar menanyakan Uwais kepadanya. Laki-laki itu menjawab, “Aku meninggalkannya dalam keadaan sangat miskin; perabot rumahnya usang dan dan hartanya sedikit.” Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,Akan datang kepada kalian Uwais bin 'Āmir bersama pasukan bantuan dari penduduk Yaman. Dia dari kabilah Murād, anak kabilah Qarn. Dia pernah mengidap penyakit belang, kemudian sembuh, kecuali bagian sebesar dirham. Dia memiliki ibu dan dia berbakti kepadanya. Seandainya dia bersumpah kepada Allah pasti Allah mewujudkan untuknya. Jika engkau bisa (memintanya) agar dia memohonkan ampunan untukmu, maka lakukanlah.'Kemudian laki-laki itu mendatangi Uwais, lalu berkata, “Mohonkanlah ampunan untukku.” Uwais berkata, “Justru engkau baru saja menempuh perjalanan ibadah. Mohonkanlah ampunan untukku.” Uwais bertanya, “Apakah engkau bertemu Umar?” Laki-laki itu menjawab, “Ya.” Lantas Uwais memintakan ampunan untuknya. Setelah itu orang-orang mengenalnya (dan berbondong-bondong mendatanginya). Sehingga dia pergi menghilang (dari Kufah).(HR. Muslim)Dalam riwayat Muslim yang lain, juga dari Usair bin Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa penduduk Kufah datang sebagai utusan kepada Umar -raḍiyallāhu 'anhu-. Di antara mereka ada seseorang yang selalu mengolok-olok Uwais. Umar bertanya, “Apakah di sini ada seseorang dari kabilah Qarn?” Orang itu pun maju. Umar berkata, “Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah bersabda,Sesungguhnya ada seorang yang akan datang pada kalian dari Yaman, namanya Uwais. Dia tidak meninggalkan di Yaman selain ibunya. Dia dulu mengidap penyakit belang, lalu dia berdoa kepada Allah -Ta'ālā-, dan Allah menyembuhkannya kecuali bagian sebesar dinar atau dirham. Siapa yang di antara kalian bertemu dengannya, maka mintalah agar dia memohonkan ampunan untuk kalian'.”Juga dalam riwayat Muslim lainnya, dari Umar -raḍiyallāhu 'anhu- dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,Sungguh, sebaik-baik tabiin adalah seseorang yang bernama Uwais. Dia memiliki seorang ibu, dan dia dulu pernah mengidap penyakit belang. Mintalah kepadanya supaya dia bersedia memohonkan ampunan untuk kalian!'”Frasa "غَبراء النَّاس" (gubarā` an-nās), dengan memfatahkan "gain" dan mensukunkan "bā`", setelahnya ada mad, artinya: orang-orang fakir, tidak punya harta, dan tidak dikenal oleh orang-orang sepergaulannya.الأَمدادُ (al-amdād), bentuk jamak dari "مَدَدٍ" (madad), yaitu pasukan bantuan bagi kaum muslimin dalam jihad.

Kosa Kata Asing:

مَوْضِعَ دِرْهَمٍ (mauḍi' dirhamin): ukuran yang kecil seukuran dirham.

لَأبَرَّهُ (la`abarrahu): kalau dia bersumpah kepada Allah pada suatu urusan niscaya Allah akan mewujudkan sumpahnya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Besarnya keutamaan Uwais bin 'Āmir Al-Qarniy -raḥimahullāh-; yaitu dia adalah sebaik-baik tabiin, sebagaimana Aṣ-Ṣiddīq Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- adalah sebaik-baik sahabat.

2) Boleh meminta doa kepada orang saleh, walaupun yang meminta lebih afdal dari tempatnya meminta doa, dan juga memanfaatkan doa orang yang diharapkan dikabulkan karena ilmu dan kesalehannya. Ini termasuk jenis tawasul yang dibenarkan oleh agama.

3) Berbakti kepada kedua orang tua adalah sebab terkabulnya doa serta adanya taufik Allah kepadanya.

4) Tawaduknya Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- serta antusiasmenya kepada kebaikan, padahal waktu itu dia adalah khalifah kaum muslimin. Semoga Allah merahmati dan meridai Ibnul-Khaṭṭāb. Dia telah mengalahkan orang yang datang setelahnya!

14/373- Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku meminta izin kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk melaksanakan umrah. Beliau pun memberiku izin dan bersabda,"Wahai Saudaraku! Janganlah engkau melupakan kami dalam doamu."Lantas beliau menyebutkan sebuah perkataan, aku tidak akan menukarnya dengan dunia."Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau bersabda, "Wahai Saudaraku! Sertakanlah kami dalam doamu!"(Hadis sahih; HR. Abu Daud dan Tirmizi, Tirmizi berkata, "Hadisnya hasan sahih") [10]

Pelajaran dari Hadis:

1) Doa seorang musafir sangat mustajab. Hendaklah orang yang beriman antusias mencari waktu-waktu mustajabnya doa.

2) Diperbolehkan meminta doa dari orang saleh, jika maksud orang yang minta adalah untuk memberi manfaat kepada orang yang berdoa, yaitu agar dia mendapatkan yang semisal dengan doanya. Ini berdasarkan hadis yang sahih bahwa orang yang berdoa untuk saudaranya maka malaikat berkata, "Bagimu yang semisalnya."

15/374- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhuma- meriwayatkan, "Dahulu, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa mengunjungi Masjid Qubā` dengan berkendara dan berjalan kaki, lalu salat dua rakaat di sana."(Muttafaq 'Alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa datang ke Masjid Qubā` setiap hari Sabtu dengan berkendara dan berjalan kaki. Dan dahulu Ibnu Umar pun melakukan hal itu."

Kosa Kata Asing:

قُبَاء (Qubā`): yaitu Masjid Qubā`, terletak di salah satu distrik Kota Madinah, kurang lebih sejauh 3 km dari Masjid Nabawi. Masjid inilah yang menjadi sebab turunnya ayat:"Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya."

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran berkunjung ke Masjid Qubā` untuk meneladani perbuatan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Antusiasme Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- untuk meneladani Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beginilah keadaan orang beriman yang mendapat taufik; dia akan berusaha untuk meneladani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

Faedah Tambahan:

Terdapat beberapa hadis tentang keutamaan Masjid Qubā`, di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Umāmah, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang bersuci di rumahnya kemudian datang ke Masjid Qubā` lalu melakukan salat di dalamnya, maka dia akan mendapatkan semisal pahala umrah."(HR. Ahmad dengan sanad yang sahih)

Al-Ḥāfiẓ Ibnu Kaṡīr -raḥimahullāh- berkata dalam Tafsirnya,

"Allah menganjurkan kepada Nabi-Nya agar mengerjakan salat di Masjid Qubā` yang sejak hari pertama pembangunannya dibangun di atas ketakwaan... Oleh karena itu, Allah berfirman,Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya.' (QS. At-Taubah: 108). Konteks ayat ini berbicara tentang Masjid Qubā`...Bahkan sebagian salaf menegaskan bahwa maksudnya ialah Masjid Qubā`...Tetapi, disebutkan dalam hadis yang sahih: bahwa Masjid Rasulullah (Masjid Nabawi) yang ada di tengah Kota Madinah itulah masjid yang didirikan di atas ketakwaan. Ini benar. Namun, tidak ada kontradiksi antara ayat dan hadis ini. Karena, jika Masjid Qubā` didirikan di atas ketakwaan sejak hari pertama, maka Masjid Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lebih utama dan lebih pantas seperti itu."

 46- BAB KEUTAMAAN DAN ANJURAN CINTA KARENA ALLAH, UCAPAN CINTA KEPADA ORANG YANG DICINTAI, DAN JAWABAN KEPADA ORANG YANG MENGUCAPKANNYA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka."[(QS. Al-Fatḥ: 29, hingga akhir ayat)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka."(QS. Al-Ḥasyr: 9)

Pelajaran dari Ayat:

1) Saling cinta di antara orang-orang beriman adalah tanda ketulusan iman dan konsekuensi persaudaraan karena Allah.

2) Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling cinta kepada makhluk dan paling bermanfaat kepada hamba-hamba Allah -Ta'ālā-.

1/375- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Ada tiga perkara, Siapa yang memilikinya niscaya dia merasakan manisnya iman. Yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada yang lain, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan benci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Cinta kepada Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengikuti dan sekaligus lahir dari cinta kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, berdasarkan sabda Rasulullah dalam hadis di atas: "Allah dan Rasul-Nya", beliau tidak mengatakan: kemudian Rasul-Nya.

2) Rasa manisnya iman adalah dengan merasakan nikmatnya ketaatan dan senang kepadanya serta mendahulukannya di atas hawa nafsu.

2/376- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Tujuh golongan orang yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Yaitu: penguasa yang adil,pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah,orang yang hatinya terpaut dengan masjid,dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka bertemu dan berpisah karena Allah,orang yang diajak berzina oleh perempuan mulia nan cantik lalu dia mengatakan: aku takut kepada Allah,orang yang memberi sedekah dan dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya,dan orang yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian lalu mengucur air matanya."(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

سَبْعَةٌ (tujuh): bukan bermakna tujuh orang menurut hakikat bilangan, tetapi maksudnya tujuh golongan/kelompok; dari setiap golongan terdapat sejumlah orang yang tidak diketahui banyaknya kecuali oleh Allah -'Azza wa Jalla-.

الإِمَامُ (penguasa): orang yang mengurus berbagai urusan kaum muslimin.

تَفَرُّقًا عَلَيْهِ (berpisah karena Allah): yaitu berpisah badan karena suatu perjalanan atau kematian.

Pelajaran dari Hadis:

1) Orang-orang yang saling mencintai karena Allah, ikatan cinta mereka tidak akan diputuskan oleh urusan dunia dan tidak akan dipisahkan oleh kematian.

2) Makna yang benar tentang cinta karena Allah adalah bahwa cinta tersebut tidak dibangun di atas kepentingan dunia yang apabila kepentingan tersebut hilang atau berkurang cinta juga menjadi hilang.

3/377- Juga dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- berfirman pada hari Kiamat, 'Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku menaungi mereka dalam naungan-Ku ketika tidak ada naungan selain naungan-Ku'."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan mencintai karena Allah serta anjuran kepada orang-orang beriman supaya saling mencintai karena Allah -Ta'ālā-.

2) Balasan sesuai jenis perbuatan; yaitu orang yang mengedepankan cinta kepada Allah di atas hawa nafsu serta dia lelah di dalam ketaatan, maka Allah -Ta'ālā- akan mengutamakannya pada naungan di hari Kiamat.

4/378- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Demi Allah yang jiwaku berada di Tangan-Nya! Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu, jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!"(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Tidak sempurna iman seorang hamba sampai dia mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana yang dia cintai untuk dirinya.

2) Di antara sebab saling mencintai adalah menghidupkan salam di tengah-tengah saudara seIslam, yaitu memberi salam kepada siapa pun yang dia jumpai di antara kaum muslimin, baik dia mengenalnya maupun tidak.

3) Wajib atas seorang hamba untuk mengerjakan semua faktor yang akan melahirkan cinta dan kasih sayang di antara kaum muslimin.

4) Ucapan salam tidak diberikan kecuali kepada orang Islam; berdasarkan sabda Nabi -'alaihiṣ-ṣalātu was-sallām-: "di antara kalian", sehingga tidak boleh memulai salam kepada orang kafir.

5/379- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di desa lain. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat untuk menunggunya di jalan yang dia lalui...Dia membawakan hadis ini sampai di ucapan:"... bahwasanya Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah."(HR. Muslim, dan telah dibawakan di bab sebelumnya)

Kosa Kata Asing:

مَدْرَجَتِهِ (madrajatihi): jalannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Siapa yang mencintai orang beriman maka Allah -Ta'ālā- akan mencintainya.

2) Keuntungan terbesar yang didapatkan oleh seorang hamba yaitu meraih cinta Allah -Ta'ālā- kepadanya. Sehingga keuntungan yang paling besar adalah ketika Allah -Ta'ālā- mencintai hamba-Nya karena dia mengikuti dan meneladani Rasulullah. Bukan urusan hamba itu mencintai Rabb-nya dengan klaim semata;"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.'" (QS. Āli 'Imrān: 31)6/380- Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda tentang orang-orang Anṣār,"Tidaklah mencintai mereka kecuali orang beriman, dan tidak membenci mereka kecuali orang munafik. Siapa yang mencintai mereka niscaya Allah mencintainya, dan siapa yang membenci mereka niscaya Allah membencinya."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Mencintai orang-orang Ansar adalah bagian dari keimanan, sedangkan membenci mereka adalah bagian dari cabang kemunafikan dan kekafiran; karena merekalah yang membela Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan kaum Muhajirin. Semoga Allah meridai mereka semuanya.

2) Mencintai dan membela wali Allah adalah sebab Allah mencintai hamba-Nya.

Faedah Tambahan:

Imam Aṭ-Ṭaḥāwiy -raḥimahullāh- berkata,"Kita (Ahli Sunnah) mencinta sahabat-sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Kita tidak berlebihan dalam mencintai sebagian mereka dan tidak berlepas diri dari sebagian yang lain. Kita membenci orang yang membenci mereka dan yang menyebut mereka dengan sebutan yang buruk. Kita tidak menyebut mereka kecuali dengan yang baik. Mencintai mereka adalah bagian dari agama, iman, dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan kezaliman."7/381- Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Allah berfirman, 'Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para nabi dan orang-orang yang syahid.'"(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan sahih")

Kosa Kata Asing:

يَغْبِطُهُمُ (yagbiṭuhum): berharap seandainya dia mendapatkan kedudukan dan kemuliaan semisal mereka tanpa mengharapkan hilangnya kedudukan dan kemuliaan tersebut dari mereka. Inilah yang disebut hasad jenis gibṭah.

Pelajaran dari Hadis:

1) Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan kedudukan yang besar dan tempat yang mulia; yaitu mereka berada di atas cahaya di dunia dan akan mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya di hari Kiamat.

2) Berlomba dalam kebaikan adalah jalannya orang-orang beriman yang tulus.

8/382- Abu Idrīs Al-Khaulāniy -raḥimahullāh- berkata: Aku pernah masuk Masjid Damaskus, ternyata ada seorang pemuda yang murah senyum, dan orang-orang mengerumuninya; apabila mereka berbeda pendapat, mereka menyerahkan dan meminta pertimbangannya lalu melaksanakannya. Lantas aku bertanya tentang orang itu. Ada yang menjawab, "Dia adalah Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu-." Keesokan harinya, pagi-pagi aku datang ke masjid tetapi dia telah datang lebih pagi dariku. Aku mendapatinya sedang salat. Lantas aku menunggunya sampai dia menyelesaikan salatnya. Lalu aku mendekatinya dari arah depan. Aku mengucapkan salam lalu berkata, "Demi Allah! Aku mencintaimu karena Allah." Dia berkata, "Apakah benar, karena Allah?" Aku menjawab, "Ya, karena Allah." Dia bertanya, "Apakah benar, karena Allah?" Aku menjawab, "Ya, karena Allah." Lantas dia menarik ujung selendangku dan mendekatkanku kepadanya. Dia berkata, "Bergembiralah! Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Kecintaan-Ku pasti diperoleh oleh orang yang saling mencintai karena-Ku, saling berkumpul karena-Ku, saling mengunjungi karena-Ku, dan saling memberi karena-Ku.'"(Hadis sahih; HR. Malik dalam Al-Muwaṭṭa` dengan sanad sahih)

Kata: "هَجَّرْتُ" (hajjartu) maksudnya: aku pergi dengan segera; yaitu dengan mentasydidkan "jīm". Kalimat: (آلله، فَقُلْتُ: الله), yang pertama dengan "hamzah" yang bermad yang menunjukkan pertanyaan, sedangkan yang kedua tanpa mad.

Kosa Kata Asing:

بَرَّاقُ الثَّنَايَا: giginya mengkilat, tidak terlihat kecuali tersenyum.

صدَرُوا عَنْ رَأْيِهِ: mereka berkonsultasi kepadanya dan mengamalkannya.

المُتبَاذِلِينَ فِيَّ: orang-orang yang saling bantu dan saling memberi karena-Ku.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran agar orang yang mencintai memberi tahu orang yang dicintainya dengan mengatakan: aku mencintaimu karena Allah.

2) Di antara adab menemui orang lain karena suatu keperluan agar datang dari arah depannya supaya dia tidak terkejut.

3) Masyarakat harus memiliki orang berilmu yang akan membimbing mereka kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan sebagai tempat mereka bertanya dan berkonsultasi.

4) Menjelaskan besarnya keutamaan cinta karena Allah yang akan melahirkan sikap saling mengunjungi, saling membantu, dan saling menolong, di mana kesemuanya adalah bentuk pertalian yang akan menguatkan tali cinta karena Allah.

9/383- Abu Karīmah Al-Miqdām bin Ma'dī Karib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Jika seseorang mencintai saudaranya, hendaklah ia memberitahukan kepadanya bahwa dia mencintainya."(HR. Abu Daud dan Tirmizi; Tirmizi berkata, "Hadisnya hasan")

Pelajaran dari Hadis:

1) Siapa yang mencintai saudaranya karena Allah hendaklah dia memberitahukan hal itu kepadanya; ini termasuk petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Pemberitahuan seseorang kepada saudaranya bahwa dia mencintainya karena Allah adalah sarana memperkuat persaudaraan, meningkatkan keakraban, dan memperkukuh tali kasih sayang.

10/384- Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menggandeng tangannya dan bersabda,"Wahai Mu'āż! Demi Allah! Sungguh aku mencintaimu. Kemudian, aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu'āż, jangan sekali-kali engkau tinggalkan di akhir setiap salat membaca, 'Allāhumma a'innī 'alā żikrika wa syukrika wa ḥusni 'ibādatika (Ya Allah! Bantulah aku untuk berzikir mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu serta beribadah dengan baik kepada-Mu)."(Hadis sahih; HR. Abu Daud, Tirmizi, dan An-Nasā`iy dengan sanad sahih)

Kosa Kata Asing:

دُبُرِ كُلِّ صَلاةٍ: di akhir setiap salat fardu, sebelum salam.

Pelajaran dari Hadis:

1) Termasuk Sunnah, ketika Anda mencintai seseorang untuk mengatakan kepadanya: aku mencintaimu.

2) Besarnya keutamaan Mu'āż bin Jabar -raḍiyallāhu 'anhu- karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengkhususkannya dengan wasiat khusus ini lantaran kecintaan beliau kepadanya.

3) Anjuran merutinkan doa ini di dalam salat sebelum salam.

Faedah Tambahan:

Para ulama berkata, "Hadis-hadis Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang menyebutkan (دُبُرِ كُلِّ صَلاةٍ/di akhir setiap salat) hendaknya dilihat konteksnya; jika terkait pujian dan zikir seperti tasbīḥ, taḥmīd, dan takbīr, maka momen membacanya adalah setelah salat.Tetapi bila terkait doa, seperti hadis Mu'āż ini, maka momen membacanya adalah sebelum salam."

Al-'Allāmah Ibnul Qayyim -raḥimahullāh- berkata,

"Secara umum... tidak diragukan, bahwa mayoritas doa yang beliau baca dan yang beliau ajarkan kepada Aṣ-Ṣiddīq adalah doa dalam salat. Adapun hadis yang diriwayatkan oleh Mu'āż bin Jabal: "Jangan lupa membaca di setiap akhir salat..." Kata akhir salat "dubur aṣ-ṣalāh" maksudnya akhir salat sebelum salam... Juga, kadang maksudnya setelah salam, seperti dalam sabda beliau: "Agar kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid kepada Allah di akhir setiap salat..."

Beliau juga berkata, "Dubur aṣ-ṣalāh (akhir salat) berpotensi memiliki makna sebelum salam dan juga setelah salam."

(Zādul-Ma'ād fī Hadyi Khairil-'Ibād)

11/385- Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa ada seorang laki-laki yang sedang berada di sisi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Tiba-tiba ada orang yang melintas. Laki-laki itu berkata, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku mencintai orang itu." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya, "Apakah engkau sudah memberitahukan kepadanya tentang itu?" Dia menjawab, "Belum." Beliau bersabda, "Beri tahukan kepadanya!" Lantas orang itu menyusulnya dan berkata, "Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah." Orang itu menjawab, "Semoga Allah yang engkau mencintaiku karena-Nya mencintai dirimu." (HR. Abu Daud dengan sanad sahih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Memberi tahu seseorang bahwa Anda mencintainya akan memperkuat hubungan persaudaraan dan meningkatkan keakraban.

2) Siapa yang diberitahukan oleh saudaranya bahwa dia mencintainya hendaklah dia mengabarkannya serta mendoakannya dengan doa: Aḥabbakallāh al-lażī aḥbabtanī lahu (Semoga Allah yang engkau mencintaiku karena-Nya mencintai dirimu).

3) Tidak ada suatu kebaikan kecuali telah ditunjukkan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada umat ini, di antaranya beliau mengajarkan mereka cara agar mereka saling mencintai dan cara agar cinta tersebut dapat bertambah.Maka, di manakah sebagian kaum muslimin hari ini dari petunjuk Nabi mereka -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam?

 47- BAB TANDA ALLAH MENCINTAI HAMBA SERTA ANJURAN UNTUK BERPERANGAI DENGANNYA DAN MENGUSAHAKANNYA

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."(QS. Āli 'Imrān: 31)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Wahai orang-orang yang beriman! Siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui."(QS. Al-Mā`idah: 54)

Pelajaran dari Ayat:

1) Ayat yang pertama:"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu,'"dinamakan ayat ujian; karena dengannya orang yang mengklaim cinta kepada Allah diuji, yaitu dilihat jika dia mengikuti Rasulullah -'alaihiṣ-ṣalātu was-salām- maka itu menunjukkan kebenaran klaimnya.

2) Bila Allah -Ta'ālā- mencintai hamba-Nya maka dengan sebab cinta tersebut dia akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

3) Siapa yang berpaling dari mencintai Allah -Ta'ālā- dan meninggalkan ibadah kepada-Nya maka Allah akan menggantinya dengan orang yang lebih pantas mendapatkan cinta-Nya.

1/386- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,Allah -Ta'ālā- telah berfirman, "Siapa yang memusuhi wali-Ku, Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri dengan sesuatu yang lebih Aku sukai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku akan terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia pergunakan mendengar, sebagai penglihatannya yang ia pergunakan melihat, sebagai tangannya yang ia pergunakan berbuat, dan sebagai kakinya yang ia pergunakan berjalan. Jika dia meminta pada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika dia memohon perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya."(HR. Bukhari)Makna "آذَنْتُهُ" (āżantuhu): Aku mengumumkan kepadanya bahwa Aku memeranginya.Kata "اسْتَعَاذَني" (ista'āżanī), juga diriwayatkan dengan "bā`" dan dengan "nūn" (اِسْتَعَاذَ بِيْ: ista'āża bī).

Kosa Kata Asing:

وليّاً (waliyyan): wali, yaitu orang yang beriman dan bertakwa.

Pelajaran dari Hadis:

1) Ibadah fardu lebih Allah cintai daripada ibadah sunah; semua yang lebih wajib dalam syariat maka lebih dicintai oleh Allah -Ta'ālā-.

2) Di antara sarana untuk meraih cinta Allah adalah memperbanyak ibadah-ibadah sunah.

3) Istikamah adalah buah dari ketaatan, sehingga menjaga ibadah-ibadah yang Allah -Ta'ālā- wajibkan serta menjaga yang sunah akan membuahkan keistikamahan dalam ucapan, perbuatan, dan semua keadaan.

2/387- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Jika Allah -Ta'ālā- mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril, 'Sesunnguhnya Allah -Ta'ālā- mencintai si polan, maka cintailah dia.' Maka Jibril pun mencintainya. Selanjutnya Jibril berseru di tengah-tengah para penghuni langit, 'Sesungguhnya Allah mencintai si polan, maka cintailah dia.' Para penghuni langit pun mencintainya. Setelah itu, dia dijadikan dicintai di muka bumi."(Muttafaq ‘Alaih)Dalam riwayat Imam Muslim:Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sungguh, jika Allah -Ta'ālā- mencitai seorang hamba maka Allah memanggil Jibril seraya berfirman, 'Sesungguhnya Aku mencintai polan, maka cintailah dia.' Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril menyeru di langit, 'Sesungguhnya Allah mencintai polan, maka cintailah dia.' Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian dia dijadikan dicintai di muka bumi. Dan jika Allah membenci seorang hamba, Allah memanggil Jibril seraya berfirman, 'Sesungguhnya Aku membenci polan, maka bencilah dia.' Maka Jibril pun membencinya. Setelah itu Jibril menyeru di penduduk langit, 'Sesungguhnya Allah telah membenci polan, maka bencilah dia. Maka penduduk langit pun membencinya. Kemudian dia dijadikan dibenci di muka bumi."

Kosa Kata Asing:

أَهْلُ السَّمَاءِ (ahlus-samā`): penduduk langit, yaitu malaikat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Di antara tanda Allah mencintai seorang hamba adalah bila dia diterima dan dicintai di muka bumi, yaitu dia diterima dan dicintai oleh orang-orang beriman.

2) Ukuran seseorang dicintai dan dibenci adalah kepada orang-orang mulia dan baik, dalam hal ini tidak ada masalah bila orang fasik membenci orang saleh dan mencintai orang-orang fasik semisal mereka.

3/388- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mengutus seseorang memimpin sebuah pasukan. Ketika salat bersama rekan-rekannya dia selalu mengakhiri bacaannya denganQul Huwallāhu Aḥad (Surah Al-Ikhlāṣ)'.Setelah kembali ke Madinah mereka melaporkan hal itu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau lalu bersabda,"Tanyakan kepadanya, apa alasannya melakukan hal itu?"Maka mereka menanyakan hal itu kepadanya. Dia menjawab, "Karena di dalamnya terdapat sifat Ar-Raḥmān. Sehingga aku senang membacanya." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Beri tahu kepadanya bahwa Allah -Ta'ālā- mencintainya."(Muttafaq ‘Alaih)

Kosa Kata Asing:

سَرِيَّةٌ (sariyyah): sekelompok pasukan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Para sahabat -riḍwānullāhi 'alaihim- selalu bersegera untuk bertanya dan meminta fatwa kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam setiap perkara yang baru dan mereka tidak tahu hukumnya. Ini menunjukkan tingginya sifat warak dan keutamaan mereka. Raḍiyallāhu 'anhum.

2) Keutamaan Surah Al-Ikhlāṣ; karena di dalamnya terkandung tauhid yang merupakan hak Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Surah ini berbicara tentang sifat-sifat Ar-Raḥmān Yang Mahasuci.

3) Siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang dicintai oleh Allah niscaya Allah -Ta'ālā- akan mencintainya.

4) Perkara terbesar yang dapat dilakukan oleh seorang hamba untuk meraih cinta Allah -Ta'ālā- adalah mewujudkan tauhid, oleh karena itu surah ini ada untuk menjelaskan tauhid yang diwajibkan terhadap hamba.

 48- BAB PERINGATAN DARI TINDAKAN MENYAKITI ORANG SALEH, LEMAH, DAN MISKIN

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata."(QS. Al-Aḥzāb: 58)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik(nya)."(QS. Aḍ-Ḍuḥā: 9-10)

Pelajaran dari Ayat:

1) Larangan menyakiti orang beriman dengan ucapan dan perbuatan.

2) Siapa yang menyakiti orang beriman lantaran kesalahan yang mereka perbuat, seperti menegakkan hukuman had terhadap penjahat dan orang zalim, ini tidak masuk dalam ancaman ini.

Adapun hadis-hadis yang berkaitan dengan ini,

maka sangatlah banyak, di antaranya: hadis riwayat Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dalam bab sebelumnya:"Siapa yang memusuhi wali-Ku sungguh Aku telah mengumumkan perang kepadanya."Juga di antaranya, hadis riwayat Sa'ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- yang telah disebutkan sebelumnya dalam Bab Bersikap Lembut kepada Anak Yatim. Dan juga sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-:"Wahai Abu Bakar! Jika benar kamu telah membuat mereka marah, berarti kamu telah membuat marah Rabb-mu."1/389- Jundub bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,“Siapa yang melaksanakan salat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, sedikit pun jangan sampai Allah menuntut pada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah tuntut dengan jaminan-Nya, Allah pasti akan menemukannya, kemudian Allah menelungkupkan wajahnya ke dalam neraka Jahanam.”(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

ذِمَّةُالله (żimmatullāh): penjagaan dan jaminan Allah.  يَكُبُّهُ (yakubbuhu): melemparkannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menyakiti orang saleh termasuk jenis perbuatan yang menyakiti Allah -Ta'ālā- serta menyakiti Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sehingga akan menjadi sebab adanya siksaan.

2) Siapa yang diancam dengan siksaan oleh Allah maka tidak ada tempat untuk lari darinya kecuali Allah menghendaki. Karena "Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- akan menangguhkan siksa bagi orang yang berbuat zalim; hingga ketika Allah hendak menghukumnya, maka Dia tidak akan membiarkannya lepas.""Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat." (QS. Hūd: 102)

 49- BAB MENETAPKAN HUKUM TERHADAP MANUSIA SESUAI KEADAAN LAHIRIAH MEREKA DAN MENYERAHKAN URUSAN BATIN MEREKA KEPADA ALLAH -TA'ĀLĀ-

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Jika mereka bertobat dan melaksanakan salat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka."(QS. At-Taubah: 5)

Pelajaran dari Ayat:

Yang menjadi standar dalam hukum di dunia ialah pada yang tampak, yaitu lisan dan anggota tubuh. Sedangkan di akhirat pada apa yang tersembunyi dalam hati."Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabb-mu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah)." (Al-Ḥaqqah: 18)1/390- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka melakukan hal itu, maka mereka telah melindungi darah dan hartanya dariku kecuali dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan amalan mereka terserah kepada Allah -Ta'ālā-."(Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Perang terhadap orang-orang kafir terus berlanjut hingga mereka masuk ke dalam Islam, dan bukti mereka masuk di dalam Islam yaitu mereka melafalkan dua kalimat syahadat serta mengerjakan syarat-syarat kalimat tauhid.

2) Menerima amalan sesuai lahiriahnya dan menetapkan hukum berdasarkan padanya dalam hukum dunia.

Faedah Tambahan:

Kata kunci untuk masuk dalam Islam ialah Lā ilāha illallāh. Kalimat ini adalah kunci pembuka Islam. Setiap kunci memiliki gigi, dan gigi kalimat lā ilāha illallāh adalah amal saleh, di mana amal saleh yang paling tinggi yaitu menunaikan kewajiban-kewajiban agama serta penyempurna iman dan meninggalkan larangan.

2/391- Abu Abdillah Ṭāriq bin Usyaim -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang mengucapkan, 'Lā ilāha illallāh' dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah, maka harta dan darahnya terjaga. Sedangkan perhitungan amalannya terserah kepada Allah."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Syarat ketauhidan adalah berlepas diri dari sesembahan-sesembahan batil yang disembah selain Allah -Ta'ālā-.

2) Seorang muslim terlindungi dalam perkara darah, harta, dan kehormatannya; semua itu tidak boleh dizalimi dan tidak juga disakiti.

3) Menjalankan hukum berdasarkan keadaan lahiriah atau yang tampak, sedangkan kondisi batin maka terserah kepada Allah.

3/392- Abu Ma'bad Al-Miqdād ibn Al-Aswad -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wasallam, "Bagaimana menurutmu, jika aku bertemu seorang kafir, kemudian kami saling serang. Dia menyerang salah satu tanganku dengan pedang hingga putus, kemudian dia berlindung dariku di balik pohon dan berkata, 'Aku masuk Islam.' Apakah aku boleh membunuhnya setelah dia mengucapkan itu?" Nabi menjawab, "Jangan kau bunuh dia." Aku pun berkata, "Wahai Rasulullah! Dia telah memutus sebelah tanganku, kemudian dia mengatakan itu setelah dia memutusnya?!' Beliau bersabda, "Jangan bunuh dia! Jika engkau tetap membunuhnya, sungguh dia di posisimu sebelum engkau membunuhnya dan engkau di posisinya sebelum mengatakan perkataan yang diucapkannya."(Muttafaq 'Alaih)Makna bahwa "dia di posisimu", yaitu terjaga darahnya dan dihukumi muslim.Sedangkan makna "engkau di posisinya", ialah halal darahnya untuk dikisas oleh ahli warisnya, bukan di posisinya dari sisi kekafiran. Wallāhu a'lam.

Kosa Kata Asing:

لاذَ مِنِّي بِشَجَرَةٍ: berlindung di balik sebuah pohon.

Pelajaran dari Hadis:

1) Siapa yang masuk Islam dengan mengucapkan kalimat tauhid maka darahnya terjaga walaupun sebelumnya perbuatannya melampaui batas, kecuali bila dia dituntut dengan alasan yang hak.

2) Seharusnya hasrat dan nafsu seorang muslim mengikuti aturan agamanya, bukan mengikuti semangat fanatisme dan sikap balas dendam, karena tidak ada balas dendam dalam Islam. Jiwa tidak akan bersih dan suci hingga dia meninggalkan hawa nafsunya sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhannya.

4/393- Usāmah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengirim kami ke penduduk Ḥuraqah dari kabilah Juhainah. Kami menyerang mereka pada pagi buta di pusat air mereka. Aku dan seorang laki-laki Ansar mengejar salah seorang mereka. Setelah kami berhasil mengejarnya, dia mengucapkan, "Lā ilāha illallāh". Sehingga laki-laki Ansar tersebut menahan diri tidak membunuhnya. Tetapi, aku menikamnya dengan tombakku hingga terbunuh. Setelah kami sampai di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau berkata kepadaku,"Wahai Usāmah! Apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan 'Lā ilāha illallāh'?"Aku menjawab, "Wahai Rasulullah! Sebenarnya orang itu hanya ingin menyelamatkan diri." Beliau bersabda lagi,"Wahai Usāmah! Apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan 'Lā ilāha illallāh'?"Beliau terus-menerus mengulang ucapan itu kepadaku hingga aku berangan-angan andai aku belum masuk Islam sebelum hari itu."(Muttafaq ‘Alaih)Dalam riwayat yang lain, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Apakah setelah dia mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' kamu tetap membunuhnya?"Aku berkata, "Wahai Rasulullah! Dia mengucapkan itu semata-mata karena takut senjata." Beliau bersabda,"Mengapa kamu tidak membelah hatinya hingga kamu mengetahui apakah dia mengucapkannya karena takut senjata atau tidak?!"Beliau terus-menerus mengulang-ulang ucapannya itu hingga aku berangan-angan andai aku masuk Islam setelah hari itu.

الحُرَقَةُ (al-ḥuraqah), dengan mendamahkan "ḥā`" dan memfatahkan "rā`", adalah salah satu anak suku dari Juhainah, sebuah kabilah terkenal. Kata مُتعَوِّذاً (muta'awwiżan), artinya: melindungi diri dengannya agar tidak dibunuh, bukan karena meyakininya dapat melindungi.

Kosa Kata Asing:

غَشِينَاهُ (gasyīnāhu): kami telah dekat darinya.

متعوِّذاً (muta'awwiżan): berlindung, yaitu dia melindungi diri dengan sesuatu karena takut.

Pelajaran dari Hadis:

1) Wajib memperlakukan manusia di dunia menurut kondisi lahiriahnya; adapun apa yang ada dalam hatinya maka urusannya terserah kepada Allah -Ta'ālā-.

2) Pengingkaran yang keras terhadap orang yang melampaui batasan agama, walaupun dia berijtihad dan salah.

5/394- Jundub bin Abdullāh -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengirimkan sebuah pasukan kecil dari kaum muslimin kepada suatu kaum dari kalangan musyrikin. Mereka lalu bertemu dan berhadap-hadapan. Ada seseorang di antara kaum musyrikin itu, bila ia hendak mengincar salah seorang dari kaum muslimin, ia akan berhasil mengincar dan membunuhnya. Lantas ada salah seorang dari kaum muslimin mengincar kelengahan orang itu untuk membunuhnya. Kami berbincang bahwa dia adalah Usāmah bin Zaid. Ketika dia mengangkat pedang kepadanya, seketika orang itu mengucapkan, "Lā ilāha illallāh". Namun dia tetap membunuhnya. Lantas pembawa berita gembira datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau bertanya dan dia bercerita. Sampai akhirnya dia menceritakan pula tentang laki-laki yang membunuh itu dan apa yang dia lakukan. Sehingga beliau memanggilnya dan bertanya. Beliau bersabda, "Mengapa engkau membunuhnya?" Dia menjawab, "Wahai Rasulullah! Orang itu telah membawa petaka bagi kaum muslimin. Dia telah membunuh si polan dan si polan." Dia menyebutkan nama beberapa orang. Dia melanjutkan, "Sungguh aku telah berjuang untuk membunuhnya. Tetapi setelah dia melihat pedangku, dia mengucapkan, 'Lā ilāha illallāh'." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apakah engkau membunuhnya?!" Dia menjawab, "Ya." Beliau bersabda,"Lalu apa yang akan engkau lakukan terhadap 'Lā lāha illallāh' ketika kalimat itu datang pada hari Kiamat?!"Dia berkata, "Wahai Rasulullah! Mohonkanlah ampunan untukku." Beliau kembali bersabda,"Lalu apa yang akan engkau lakukan terhadap 'Lā lāha illallāh' ketika kalimat itu datang pada hari Kiamat?!"Beliau tidak menjawab lebih selain berkata,"Lalu apa yang akan engkau lakukan terhadap 'Lā lāha illallāh' ketika kalimat itu datang pada hari Kiamat?!"(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

أوجع في المسلمين: menimpakan petaka terhadap kaum muslimin dan menyakiti mereka.

Pelajaran dari Hadis:

1) Membela diri harus atas dasar cemburu terhadap agama Allah -Ta'ālā-, sehingga dia hanya akan membunuh orang yang diyakini kekafirannya. Adapun orang yang tidak kita ketahui hakikat kekafirannya, maka urusannya diserahkan kepada Allah -Ta'ālā-.

2) Keagungan kalimat tauhid ketika dia datang pada hari Kiamat. Sehingga orang yang berbahagia adalah yang diberikan taufik untuk merealisasikan tauhid.

6/395- Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ūd berkata, Aku pernah mendengar Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, "Sesungguhnya sebagian orang pada zaman Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diberi hukuman sesuai dengan petunjuk wahyu. Sementara wahyu kini sudah terputus. Sehingga kami memberi putusan pada kalian hanya berdasarkan perbuatan kalian yang tampak bagi kami. Siapa yang menampakkan kepada kami perbuatan baik, maka kami anggap ia orang yang amanah serta kami muliakan, sedangkan urusan dalam hatinya kami tidak mengetahuinya sedikit pun. Allahlah yang akan menghisab isi hatinya. Namun, siapa yang menampakkan kepada kami kelakuan buruk, maka kami tidak menganggapnya orang yang amanah dan tidak memercayai ucapannya, sekalipun dia mengatakan bahwa niat hatinya baik."(HR. Bukhari)

Kosa Kata Asing:

"Sesungguhnya sebagian orang dihukumi sesuai dengan petunjuk wahyu", yaitu sekelompok kaum munafikin; mereka dipermalukan oleh wahyu yang turun kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menghukumi perkara batin termasuk perkara gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah -'Azza wa Jalla-. Orang-orang yang menegakkan perintah agama harus menghukumi rakyat berdasarkan keadaan lahiriah mereka, dan Allah yang akan mengurus perkara hati mereka.

2) Hisab pada hari Kiamat berlaku terhadap yang disimpan oleh hamba dalam hati; bila hatinya baik maka hisabnya akan baik, tetapi jika hatinya buruk maka balasannya akan setimpal dengan perbuatannya.

3) Orang yang dicintai dan dimuliakan di antara orang beriman adalah yang baik perbuatannya dan menampakkan kebaikan.

 50- BAB KHAUF (TAKUT)

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Dan takutlah hanya kepada-Ku."(QS. Al-Baqarah: 40)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Sungguh, azab Tuhanmu sangat keras."(QS. Al-Burūj: 12)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat.Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Itulah hari ketika semua manusia dikumpulkan (untuk dihisab), dan itulah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).Dan Kami tidak akan menunda, kecuali sampai waktu yang sudah ditentukan.Ketika hari itu datang, tidak seorang pun yang berbicara kecuali dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang sengsara dan ada yang berbahagia.Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka; di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik napas (dengan merintih)."(QS. Hūd: 102-106)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya."(QS. Āli 'Imrān: 28)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Pada hari itu manusia lari dari saudaranya,dan dari ibu dan bapaknya,dan dari istri dan anak-anaknya.Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya."(QS. 'Abasa: 34-37)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan (hari) Kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar.(Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras."(QS. Al-Ḥajj: 1-2)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga."(QS. Ar-Raḥmān: 46)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan sebagian mereka berhadap-hadapan satu sama lain saling bertegur sapa.Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab).Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.Sesungguhnya kami menyembah-Nya sejak dahulu. Dialah Yang Maha Melimpahkan Kebaikan, Maha Penyayang.'"(QS. Aṭ-Ṭūr: 25-28)Ayat-ayat dalam hal ini sangat banyak sekali dan masyhur, tetapi kita cukup mengingatkan sebagiannya saja.

Pelajaran dari Ayat:

1) Kewajiban seorang hamba untuk takut kepada Rabb-nya dengan rasa takut yang akan mendorongnya untuk mengagungkan Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

2) Peringatan keras terhadap huru-hara hari Kiamat; Siapa yang yang takut terhadap hari itu maka Allah -Ta'ālā- akan memberinya keamanan.

Adapun hadis-hadis yang berkaitan dengan hal ini

sangat banyak sekali, dan kami akan sebutkan sebagiannya. Semoga Allah memberikan kami kemudahan.

1/396- Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah bercerita kepada kami dan beliau adalah orang yang selalu benar dan dibenarkan,"Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah (air mani), kemudian menjadi 'alaqah (segumpal darah) selama itu juga, lalu menjadi muḍgah (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutus kepadanya malaikat untuk meniupkan ruh padanya dan diperintahkan menulis empat kalimat; yaitu menulis rezeki, ajal, dan amalnya serta sengsara atau bahagia. Demi Zat yang tidak ada ilah selain Dia, sesungguhnya salah seorang kalian akan beramal dengan amalan penghuni surga hingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tersisa satu hasta, namun catatan takdir mendahuluinya, maka dia beramal dengan amalan ahli neraka sehingga dia pun masuk neraka. Dan sesungguhnya salah seorang kalian akan beramal dengan amalan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tersisa satu hasta, namun catatan takdir mendahuluinya, maka dia beramal dengan amalan ahli surga, sehingga dia pun masuk surga."(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

الصَّادِقُ المَصدوقُ (aṣ-ṣādiq al-maṣdūq): aṣ-ṣādiq adalah yang benar atau jujur dalam ucapannya, yaitu beliau tidak mengabarkan kecuali dengan kebenaran. Adapun al-maṣdūq adalah yang dibenarkan dengan wahyu yang disampaikan kepadanya, sehingga beliau tidak dberikan wahyu kecuali dengan kebenaran.

يُجْمَعُ خَلْقُهُ (yujma'u khalquhu): ditentukan masa penciptaannya, menetap, dan diciptakan darinya.  عَلَقَةٌ ('alaqah): darah yang beku.

المُضْغَةُ (al-muḍgah): segumpal daging.

الكِتَابُ (al-kitāb): catatan hamba tentang segala yang ditakdirkan untuknya selama masa hidupnya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Beriman kepada kada dan kadar dari Allah -'Azza wa Jalla-, baik yang baik ataupun yang buruk .

2) Seorang hamba wajib untuk selalu meminta kepada Allah keteguhan iman dan husnulkhatimah (kematian yang baik), serta takut dari suulkhatimah (kematian yang buruk) dan catatan takdir yang telah ditetapkan untuknya.

3) Antusiasme untuk memberi petunjuk kepada manusia.

4) Anjuran untuk bersegera melakukan amal saleh serta istikamah dan konsisten di atasnya karena hal itu merupakan sebab utama untuk meraih husnulkhatimah.

2/397- Juga dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Pada hari itu (kiamat), Jahanam akan didatangkan dengan tujuh puluh ribu tali kendali, pada setiap tali kendali itu ada tujuh puluh ribu malaikat yang menariknya."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

الزِّمَامُ (az-zimām): tali yang dipasang di hidung unta untuk menahannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan dahsyatnya neraka Jahanam; yaitu malaikat penjaganya dengan jumlah besar ini, tidak ada yang mengetahui kekuatan mereka kecuali Allah -'Azza wa Jalla-, mereka akan menyeretnya. Lalu kira-kira seperti apa neraka Jahanam itu?!

2) Allah menakuti hamba-hamba-Nya agar mereka bertakwa dan beribadah kepada-Nya; sehingga pantas bagi hamba yang mengetahui kedahsyatan Jahanam agar takut kepada Rabb -'Azza wa Jalla-.

3/398- An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya siksa ahli neraka yang paling ringan pada hari Kiamat ialah orang yang di bawah kedua telapak kakinya bagian dalam diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada dirinya, padahal dia adalah ahli neraka yang paling ringan siksanya."(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ (akhmaṣi qadamaihi): telapak kaki bagian dalam.

Pelajaran dari Hadis:

1) Peringatan terhadap hamba agar tidak jatuh dalam maksiat sehingga tidak menjadi bagian dari ahli neraka yang diancam dengan azab.

2) Azab neraka bertingkat-tingkat dan penghuninya berada dalam siksa yang berbeda-beda, orang yang paling ringan siksanya mengira bahwa dia adalah orang yang paling berat siksanya.

4/399- Samurah bin Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Di antara mereka ada yang dibakar (disiksa) oleh api neraka hingga kedua mata ‎kakinya, ada yang sampai kedua lututnya, ada ‎yang sampai ke pinggangnya, dan ada yang sampai ke lehernya.”‎(HR. Muslim)الحُجْزَةُ (al-ḥujzah): bagian bawah pusar tempat mengikat sarung.التَّرْقُوَةُ (at-tarquwah), dengan memfatahkan "fā`" dan mendamahkan "qāf", yaitu: tulang di samping lekukan leher. Manusia memiliki dua tulang tarquwah di kanan dan kiri leher.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menanamkan rasa takut terhadap api neraka serta ancaman terhadap orang yang mengerjakan perbuatan ahli neraka.

2) Azab pada hari Kiamat akan sesuai dosa. Oleh karena itu, seorang mukmin harus bersungguh-sungguh supaya nanti menghadap kepada Rabb-nya dalam keadaan bersih dari dosa agar dia selamat dari pembersihan dosa oleh api neraka.

5/400- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Manusia bangkit untuk menghadap Tuhan alam semesta, hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya yang mencapai separuh telinganya."(Muttafaq 'Alaih)

الرَّشْحُ (ar-rasyḥ): keringat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kedahsyatan padang mahsyar di hari Kiamat, hingga keringat manusia mencapai tingkat yang besar seperti dalam hadis.

2) Keringat yang menenggelamkan manusia akan berbeda sesuai amal mereka; amal mereka berpengaruh terhadap derajat tempat dan kondisi mereka di mahsyar. Beruntunglah hamba yang telah mempersembahkan kebaikan untuk masa depannya, dan termasuk di antara orang yang diberikan naungan oleh Allah.

6/401- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah menyampaikan kepada kami sebuah pidato yang belum pernah sama sekali aku mendengar pidato semisalnya, beliau bersabda,"Kalau saja kalian tahu apa yang kutahu, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis."Maka sahabat-sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menutup wajah mereka sambil menangis.(Muttafaq 'Alaih)Dalam riwayat lain: Sebuah berita sampai kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang para sahabat, lalu beliau berkhotbah, seraya bersabda,"Diperlihatkan kepadaku surga dan neraka. Aku belum pernah melihat yang seperti hari ini dalam kebaikan dan keburukan. Kalau saja kalian tahu apa yang kutahu, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Belum pernah sahabat-sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melewati suatu hari yang lebih berat dari hari itu, mereka saat itu menutup kepala sambil menangis.

الخَنِين (al-khanīn), dengan huruf "khā`", yaitu tangis yang disertai sengau dan tertahannya suara dari hidung

Pelajaran dari Hadis:

1) Para nabi -'alaihimus-salām- mengetahui apa yang tidak diketahui manusia selain mereka lewat perantara wahyu; yaitu Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memperlihatkan kepada mereka apa yang Dia kehendaki dari perkara gaib sehingga mereka lebih takut kepada Allah.

2) Anjuran menangis karena takut terhadap siksa Allah. Adapun banyak tertawa, hal itu menunjukkan kelalaian dan hati yang keras. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati."(HR. Ahmad)

3) Tanggap dan sensitifnya hati para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- terhadap nasihat karena mereka adalah orang-orang yang paling tulus imannya. Siapa yang mengikuti jalan mereka, maka dialah orang yang mendapat taufik di dunia dan akhirat.

7/402- Al-Miqdād -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Pada hari Kiamat, matahari didekatkan kepada segenap makhluk hingga jaraknya kira-kira hanya satu mil."Sulaim bin 'Āmir selaku perawi yang meriwayatkan hadis ini dari Al-Miqdād berkata, "Demi Allah! Aku tidak tahu apa yang beliau maksudkan dengan mil; apakah ukuran jarak bumi, ataukah mīl yang merupakan alat bercelak mata?"Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melanjutkan, "Manusia dalam keringat mereka sesuai amal perbuatannya. Ada yang keringatnya sampai mata kaki, ada yang sampai lututnya, ada yang sampai pinggangnya, dan ada yang ditenggelamkan oleh keringatnya hingga mulut." Sembari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menunjuk mulutnya.(HR. Muslim)8/403- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Manusia akan berkeringat pada hari Kiamat hingga keringatnya mengalir ke dalam tanah sejauh tujuh puluh hasta dan menenggelamkan mereka hingga telinganya."(Muttafaq 'Alaih)

Makna (يَذْهَبُ في الأَرْضِ): turun dan masuk ke dalam tanah.

Kosa Kata Asing:

حِقْوَيْهِ (ḥiqwaihi): tempat mengikat sarung, maksudnya: yang sejajar dengan tempat tersebut dari dua sisi.

يُلْجِمُهُ (yuljimuhu): sampai ke mulut dan telinganya, sehingga keringatnya laksana tali kekang pada mulut hewan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan dahsyatnya hari Kiamat serta alam mahsyar agar hamba waspada supaya tidak menyelisihi Rabb mereka.

2) Menyebutkan motivasi dan pahala bagi perbuatan baik dan menyebutkan ancaman bagi perbuatan buruk adalah metode para nabi -'alaihimus-salām- dalam menasihati dan mendidik manusia.

9/404- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Kami pernah bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau mendengar suara sebuah benda jatuh, beliau bertanya,"Tahukah kalian suara apa ini?"Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Beliau bersabda,"Ini adalah batu yang dilontarkan ke neraka sejak tujuh puluh tahun, sekarang ia baru saja jatuh di neraka hingga dasarnya, lalu kalian pun mendengar dentuman suara jatuhnya."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

وَجْبَةٌ (wajbah): suara jatuh.

خَرِيْفًا (kharīfan): tahun.

Pelajaran dari Hadis:

1) Memperingatkan kedalaman Jahanam serta kejauhan dasarnya. Bagi seorang mukmin, pengetahuan tentang ini akan melahirkan rasa takut yang besar terhadap neraka Jahanam.

2) Di antara metode mengajar ialah guru membangkitkan perhatian anak didik sebelum menjelaskan; sebagaimana halnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan mereka tentang perkara ini dalam format pertanyaan.

10/405- 'Adiy bin Ḥātim -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidaklah ada salah seorang dari kalian kecuali Rabb-nya akan berbicara kepadanya, tanpa ada seorang penerjemah pun sebagai perantara. Lalu dia melihat ke sebelah kanannya, tidak ada yang dia lihat kecuali amal yang telah dia kerjakan. Dia melihat ke sisi kirinya, tidak ada yang dia lihat kecuali amal yang telah dia kerjakan. Dia melihat ke depannya, tidak ada yang dia lihat kecuali neraka di hadapan mukanya. Maka berlindungkan dari neraka walau dengan bersedekah setengah kurma."(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Dekatnya seorang hamba kepada Rabb-nya pada hari Kiamat untuk diperlihatkan kepadanya seluruh amal perbuatannya; merupakan perkara yang akan melahirkan rasa takut yang besar pada seorang hamba terhadap situasi ini.

2) Anjuran untuk menyelamatkan diri dari azab dengan mengerjakan amal saleh berupa ucapan dan perbuatan, walaupun sedikit.

11/406- Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhya aku bisa melihat apa yang tidak bisa kalian lihat dan aku bisa mendengar apa yang tidak kalian dengar. Langit berbunyi karena menahan beban, dan wajar saja langit berbunyi. (Sebab) tidak tersisa satu tempat pun di langit seukuran empat jari melainkan ada satu malaikat meletakkan keningnya bersujud kepada Allah -Ta'ālā-. Demi Allah! Seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa, banyak menangis dan kalian tidak akan bersenang-senang dengan wanita di atas ranjang. Tetapi kalian pasti akan keluar ke jalan-jalan memohon pertolongan kepada Allah -Ta'ālā- dengan sepenuh hati."(HR. Tirmizi, dan dia berkata, "Hadis hasan")أَطَّتْ (aṭṭat), dengan memfatahkan hamzah dan mentasydid "ṭā`";تَئِطُّ (ta`iṭṭu), dengan memfatahkan "tā`", setelahnya hamzah yang kasrah. الأَطِيطُ (al-aṭīṭ) ialah suara pelana dan semisalnya ketika memikul beban yang berat. Maksudnya, bahwa saking banyaknya malaikat yang beribadah di langit menjadikan langit terbebani hingga berbunyi.الصُّعُدَات (aṣ-ṣu'udāt), dengan mendamahkan "ṣād" dan "'ain", artinya: jalan.Makna "تَجْأَرُونَ" (taj`arūn): memohon pertolongan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Di antara sifat orang beriman adalah takut kepada Allah -Ta'ālā- dan tidak putus asa dari rahmat-Nya; sehingga orang beriman menggabungkan antara rasa khauf (takut) dan rajā` (harapan).

2) Penduduk langit semuanya taat kepada Allah dan bersujud; mereka tidak lalai dari mengingat Allah karena mereka paling tahu tentang Allah -Ta'ālā-. Seorang hamba yang semakin mengenal Allah, maka dia akan semakin takut kepada-Nya.

3) Anjuran untuk berdoa dan merendah kepada Allah -Ta'ālā-, karena tidak ada tempat bagi hamba untuk lari menyelamatkan diri dari Allah kecuali kepada-Nya.

12/407- Abu Barzah Naḍlah bin 'Ubaid Al-Aslamiy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari Kiamat hingga ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, untuk apa ia pergunakan? Tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan? Dan tentang tubuhnya, untuk apa ia persembahkan?"(HR. Tirmizi, dan dia berkata, "Hadis hasan sahih")

Pelajaran dari Hadis:

1) Hamba yang beriman akan menggunakan nikmat-nikmat Allah pada perkara yang diridai oleh Rabb-nya, dan ini termasuk mensyukuri nikmat.

2) Mengingatkan tentang pertanggungjawaban hamba pada hari Kiamat; yaitu dia akan dihisab tentang umurnya, ilmunya, hartanya, dan amalnya.

13/408- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca ayat:"Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya,"(QS. Az-Zalzalah: 4)Kemudian beliau bertanya,"Tahukah kalian apa berita bumi itu?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Berita bumi maksudnya bumi akan menjadi saksi terhadap perbuatan semua manusia di atasnya, baik laki-laki ataupun perempuan. Bumi itu akan berkata, "Kamu telah berbuat begini dan begitu pada hari ini dan hari itu." Inilah berita yang diberitakan bumi."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadis hasan")

Pelajaran dari Hadis:

1) Metode tafsir yang terbaik ialah agar kita menafsirkan Al-Qur`ān dengan hadis Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Oleh karena itu, orang beriman yang belajar tafsir harus bersungguh-sungguh memperhatikan metode ini.

2) Anjuran untuk mengerjakan ketaatan dan menjauhi maksiat, dan ini adalah buah dari ibadah hati berupa khauf (takut).

3) Menjelaskan kekuasaan Allah -Ta'ālā- untuk menjadikan sebagian makhluk-Nya berbicara seperti yang Dia kehendaki, hingga bumi pun akan bersaksi tentang apa yang terjadi di atasnya.

14/409- Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Bagaimana aku bisa bersenang-senang padahal malaikat peniup sangkakala telah memasukkan (sangkakala) ke dalam mulutnya (siap siaga) dan hanya menunggu izin, kapan diperintahkan untuk meniup sangkakala maka dia segera meniupnya."Ternyata berita ini tampaknya sangat berat di hati sahabat-sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, sehingga Rasulullah bersabda kepada mereka,"Ucapkanlah, 'Ḥasbunallāh wa ni'mal-wakīl' (cukuplah Allah sebagai Penolong kami, dan Dialah sebaik-baik Pelindung)."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadis hasan")

الْقَرْنُ (al-qarn): sangkakala yang telah Allah -Ta'ālā- sebutkan dalam firman-Nya: "Lalu ditiuplah sangkakala." Demikianlah juga yang ditafsirkan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

Kosa Kata Asing:

كَيْفَ أَنْعَمُ: bagaimana aku akan merasa nyaman dan senang.

صَاحِب الْقَرْنِ: malaikat yang ditugaskan untuk meniup sangkakala, yaitu Israfil -'alaihis-salām-.

الْتَقَمَ الْقَرْنَ: dia telah meletakkan sangkakala di mulutnya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Meninggalkan kehidupan bersenang-senang karena takut terhadap hari Kiamat merupakan petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Anjuran agar memohon pertolongan kepada Allah -Ta'ālā- semata serta bersegera mengerjakan amal saleh.

3) Rasa iba Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada umat beliau serta kekhawatiran beliau bila kiamat terjadi pada masa mereka, karena beliau telah mengetahui bahwa kiamat tidak akan terjadi kecuali kepada orang-orang yang terburuk.

4) Siapa yang merasakan beratnya sesuatu atau suatu kesedihan lalu membaca,"Ḥasbunallāh wa ni'mal-wakīl",maka dia tidak akan ditimpa suatu keburukan. Maka, berzikir kepada Allah dapat meringankan sesuatu yang sulit bagi hamba.15/410- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang takut musuh, hendaklah ia segera berjalan di awal malam. Siapa yang berjalan di awal malam, niscaya dia sampai rumah. Ketahuilah, bahwa barang dagangan Allah itu mahal. Ingatlah, bahwa barang dagangan Allah itu adalah surga."(HR. Tirmizi dan dia berkata, "Hadisnya hasan")

أَدْلَجَ (adlaja), dengan mensukunkan "dāl", artinya: berjalan di awal malam. Maksudnya dalam hadis ini: bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Wallāhu a'lam.

Pelajaran dari Hadis:

1) Memerhatikan ketaatan serta bersegera meninggalkan maksiat.

2) Surga adalah barang mahal, tidak akan bisa didapatkan oleh para pelamarnya kecuali dengan mahar berharga berupa berbagai ketaatan dan ibadah. Hanya orang yang berantusias tinggi yang akan mendapatkan surga dengan sebab rahmat Allah -Ta'ālā-.

16/411- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan tidak dikhitan." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Laki-laki dan perempuan semuanya, sebagian akan melihat (aurat) yang lain?" Beliau bersabda, "Wahai Aisyah! Perkaranya lebih dahsyat daripada mereka memerhatikan hal itu."

Dalam riwayat lain: "Perkaranya lebih dahsyat daripada sebagian mereka melihat kepada (aurat) sebagian yang lain." (Muttafaq 'Alaih)

غُرلاً (gurlan), dengan mendamahkan "gain", artinya: tidak berkhitan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Manusia akan keluar dari kubur mereka seperti ketika mereka dilahirkan oleh ibu mereka pertama kali.

2) Menjelaskan huru-hara hari Kiamat; pada hari itu seseorang tidak akan dipalingkan oleh apa pun dari hisab dan amalnya.

3) Kesempurnaan sifat malu para wanita di zaman Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lihatlah Ummul-Mu`minīn Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-! Dia merasa kaget bercampur takut ketika mendengar bahwa manusia, laki-laki dan perempuan, akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang. Dia takut sebagian akan melihat yang lain.Oleh karena itu, masyarakat sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- adalah masyarakat yang terhormat, suci, dan bertakwa:"Mereka itulah yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutlah petunjuk mereka." (QS. Al-An'ām: 90)

 51- BAB RAJĀ` (HARAPAN)

Allah -Ta'ālā- berfirman,"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhanya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."(QS. Az-Zumar: 53)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir."(QS. Saba`: 17)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Sungguh telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) pada siapa pun yang mendustakan (ajaran agama yang kami bawa) dan berpaling (tidak memperdulikannya)."(QS. Ṭāhā: 48)Allah -Ta'ālā- juga berfirman,"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu."(QS. Al-A'rāf: 156)

Pelajaran dari Ayat:

1) Khauf (takut) dan rajā` (harapan) adalah dua hal yang saling bertalian; Siapa yang yang takut kepada Allah -Ta'ālā- niscaya akan mengharapkan pahala yang ada di sisi-Nya.

2) Di dalam hati orang beriman akan terkumpul rasa takut dan harapan. Rasa takut dan harapan bagi orang beriman ibarat dua sayap bagi burung. Bila salah satunya lebih dominan di sebagian waktu, maka yang lain hendaknya lebih dominan di waktu lainnya, agar keduanya setara.

Faedah Tambahan:

Apa perbedaan antara rajā` (harapan) dan tamannī (angan-angan)?

- Rajā` (harapan) adalah merencanakan kebaikan dan dekatnya waktu terjadinya disertai mengerjakan sebab-sebabnya. Sehingga rajā` disertai oleh perbuatan dan usaha. Rajā` juga akan mendorong kepada ketaatan kepada Allah. Kalaulah bukan karena harapan, tentu tidak akan ada amal saleh.

- Adapun tamannī (angan-angan), maka dibangun di atas ketidakmampuan dan kemalasan. Sehingga pelakunya tidak akan melakukan usaha dan kesungguhan dalam rangka ketaatan kepada Allah.

1/412- 'Ubādah bin Aṣ-Ṣāmit -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, bahwa Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya, serta kalimat-Nya yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya, juga bersaksi bahwa surga benar adanya serta neraka benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amalnya."(Muttafaq 'Alaih)Dalam riwayat Muslim lainnya:"Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah haramkan atasnya api neraka."

Kosa Kata Asing:

رُوحٌ مِنْهُ: ruh dari ciptaan-Nya dan dari sisi-Nya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang beriman yang membuktikan imannya dengan amal saleh.

2) Kedudukan mukmin yang paling tinggi adalah menjadi hamba Allah -Ta'ālā- secara benar dan tulus, yaitu dia bersaksi dengan kesaksian yang tulus sehingga mengantarnya kepada amal saleh.

2/413- Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, 'Siapa yang mengerjakan satu kebaikan, baginya balasan sepuluh kali lipatnya atau lebih. Dan Siapa yang mengerjakan satu keburukan, maka balasan satu keburukan adalah satu keburukan yang setimpal atau Aku akan mengampuninya. Siapa yang mendekatkan diri kepada-Ku satu jengkal, Aku akan mendekatinya satu hasta. Siapa yang mendekatkan diri kepada-Ku satu hasta, Aku akan mendekatinya satu depa. Siapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan biasa, Aku akan datang kepadanya dengan berjalan cepat. Siapa yang menjumpai-Ku dengan memiliki seisi bumi kesalahan, namun dia tidak menyukutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan yang semisalnya.'"(HR. Muslim)Makna "mendekatkan diri kepada-Ku", yaitu dengan melakukan ketaatan kepada-Ku. "Aku mendekatinya", yaitu dengan rahmat-Ku; bila dia tambah, Aku akan tambah. "Bila dia datang kepada-Ku dengan berjalan biasa" yaitu dia bersegera mengerjakan ketaatan kepada-Ku, "Aku akan datang kepadanya dengan berjalan cepat"; yaitu Aku akan menuangkan rahmat kepadanya, serta Aku akan mendahuluinya tanpa memaksanya melakukan perjalanan yang banyak untuk menuju apa yang diinginkan.Sedangkan "قُرَابُ الأرْضِ" (qurābul-arḍ), dengan mendamahkan "qāf". Ada yang mengatakan, dengan mengkasrahkannya. Tetapi damah lebih fasih dan lebih masyhur. Maknanya: yang mendekati isi bumi.Wallāhu a'lam.

Kosa Kata Asing:

الباع (al-bā'; depa): ukuran sepanjang dua tangan manusia ketika dibentangkan disertai lebar dadanya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran untuk mengharapkan ampunan dan rahmat Allah serta tidak berputus asa dari ampunan-Nya.

2) Bila hamba mengerjakan ketaatan kepada Allah -Ta'ālā-, maka Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- akan memberinya balasan sekian kali lipat dari perbuatannya. Ini termasuk kabar gembira bagi orang-orang beriman.

Faedah Tambahan:

Sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di dalam hadis ini: "Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, ... Aku mendekatinya satu hasta... Aku mendekatinya sedepa..."

Hadis ini termasuk hadis tentang sifat-sifat Allah Rabb semesta alam. Kita wajib menetapkannya sebagaimana dia datang dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan merupakan mazhab para salaf -raḍiyallāhu 'anhum-. Kita tidak memaksakan diri untuk larut membahasnya, tidak juga menafikannya. Semoga Allah merahmati hamba yang berpegang dengan Sunnah para salaf.

3/414- Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa seorang laki-laki badui datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seraya berkata, "Wahai Rasulullah! Apakah dua hal yang pasti itu?" Beliau menjawab,"Siapa yang meninggal dalam kondisi tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun maka pasti akan masuk surga. Dan Siapa yang yang meninggal dengan dosa mempersekutukan Allah dengan sesuatu maka pasti akan masuk neraka."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

المُوجِبَتَانِ (al-mūjibatān): perkara yang mengharuskan masuk surga dan perkara yang mengharuskan masuk neraka.

Pelajaran dari Hadis:

1) Fondasi tauhid menghalangi hamba dari kekal dalam neraka dan merupakan sebab masuk surga.

2) Syirik kepada Allah -Ta'ālā- adalah penghalang masuk surga dan merupakan sebab terbesar masuk neraka.

4/415- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah membonceng Mu'āż di atas hewan tunggangan, lalu ‎beliau berkata, "Wahai Mu'āż!" Mu'āż menjawab, "Aku memenuhi ‎panggilanmu dengan senang hati, wahai Rasulullah." Beliau berkata lagi‎‎, "Wahai Mu'āż!" Mu'āż menjawab, "Aku memenuhi panggilanmu dengan senang hati, wahai Rasulullah." Beliau berkata lagi, "wahai Mu'āż!" Mu'āż menjawab, "Aku memenuhi panggilanmu dengan senang hati, wahai Rasulullah." Sebanyak tiga kali. Lalu beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidaklah seorang hamba bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak ‎diibadahi dengan benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan ‎utusan-Nya dengan tulus dari hatinya, melainkan Allah akan mengharamkan dirinya dari api neraka.‎"Mu'āż ‎bertanya, "Wahai Rasulullah! Bolehkah aku memberitahukan hal ini kepada manusia agar mereka merasa gembira?" Beliau menjawab, "(Apabila ‎engkau memberitahukan hal ini kepada mereka), niscaya mereka akan ‎menyandarkan diri (pada hal ini saja)." Mu'āż kemudian menyampaikan hadis ini menjelang kematiannya karena takut berdosa (jika tidak disampaikan).(Muttafaq 'Alaih)

Kata "تَأَثما" (ta`aṡṡuman)) maksudnya: karena takut berdosa bila tidak menyampaikan hadis ini.

Kosa Kata Asing:

رَدِيْفُهُ (radīfuhu): dia ikut naik hewan tunggangan tersebut di belakang beliau.

لَبَّيْكَ (labbaika): senantiasa memenuhi panggilanmu.

سَعْدَيْكَ (sa'daika): terus-menerus membantu dalam rangka taat kepadamu.

Pelajaran dari Hadis:

1) Keutamaan tauhid dan syahadat "Lā ilāha illallāh Muḥammad Rasulullāh"; yaitu siapa yang mengamalkan konsekuensinya maka Allah mengharamkan dirinya dari neraka dan memasukkannya ke dalam surga.

2) Waspada agar tidak menyembunyikan ilmu; sehingga para pendidik harus menerangkan kepada manusia ilmu-ilmu yang bermanfaat serta menerangkan pemahamannya, agar sebagian mereka tidak salah dalam memahami dalil agama secara tidak benar.

5/416- Abu Hurairah atau Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhumā- (perawi ragu di antara keduanya, tetapi keraguan tentang sahabat siapa tidak bermasalah karena mereka semua 'udūl/terpercaya), berkata, Ketika terjadi perang Tabuk orang-orang ditimpa kelaparan sehingga mereka berkata, "Wahai Rasulullah! Sekiranya engkau mengizinkan, kami akan menyembelih unta-unta kami untuk dimakan dan diambil lemaknya?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Lakukanlah!" Lantas Umar -raḍiyallāhu 'anhu- datang dan berkata, "Wahai Rasulullah! Jika engkau melakukannya, maka binatang tunggangan menjadi sedikit, akan tetapi mintalah sisa bekal mereka, lalu mohonkanlah kepada Allah untuk mereka keberkahan. Mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan padanya." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Ya." Lantas beliau meminta karpet kulit lalu membentangnya. Selanjutnya beliau meminta sisa bekal mereka. Ada yang datang membawa satu genggam jagung, yang lain datang membawa segenggam kurma, dan yang lainnya datang membawa sepotong roti. Sehingga terkumpullah sedikit sisa bekal di atas karpet kulit itu. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdoa memohon keberkahan, lalu bersabda, "Ambillah dan simpanlah di bejana-bejana kalian." Lantas mereka mengambil dan menyimpannya di bejana mereka sehingga tidak ada satu pun bejana di tengah pasukan melainkan mereka isi. Lalu mereka makan hingga kenyang dan masih menyisakan sisa. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak di sembah selain Allah dan sesungguhnya aku utusan Allah. Tidaklah seorang hamba menghadap Allah dengan membawa dua kalimat itu tanpa ada keraguan lalu dia dihalangi masuk surga."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

نَوَاضِحَنا (nawāḍiḥanā): bentuk jamak dari kata "ناضحِ" (nāḍiḥ), yaitu unta yang digunakan untuk mengangkut air.

الظَّهْر (aẓ-ẓahr): hewan yang dijadikan kendaraan.

فَضْلِ أَزْوَادِهِمْ (faḍl azwādihim): sisa bekal makanan mereka.

البَرَكَةُ (al-barakah): keberkahan, yaitu bertambah dan banyaknya kebaikan.

نِطَع (niṭa'): karpet (alas) terbuat dari kulit.

Pelajaran dari Hadis:

1) Adab para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; yaitu mereka meminta izin kepada beliau dalam perkara yang ingin mereka kerjakan. Para ulama umat hari ini, mereka adalah penerus para nabi -'alaihimuṣ-ṣalātu was-salām-. Sehingga, sepantasnya hamba-hamba Allah rajin bertanya kepada ulama-ulama mereka yang mengamalkan Al-Qur`ān dan Sunnah serta berjalan dengan petunjuk para pendahulu umat ini.

2) Anjuran saling bekerja sama antara kaum muslimin dalam semua urusan mereka, karena orang-orang beriman saling melengkapi satu sama lain.

3) Keutamaan kalimat tauhid; yaitu sebagai kunci surga bagi yang membawanya serta mengamalkan konsekuensinya berupa mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan.

6/417- 'Itbān bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, salah seorang sahabat yang mengikuti perang Badar, ia meriwayatkan: Aku menjadi imam salat pada kaumku Banī Sālim, sedangkan antara tempat tinggalku dan tempat mereka dipisahkan oleh sebuah lembah, bila terjadi hujan maka aku kesulitan untuk melewatinya menuju masjid mereka. Sehingga aku menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan aku berkata kepada beliau, "Sesungguhnya penglihatanku sudah buruk, sementara lembah yang memisahkan antara tempat tinggalku dan tempat kaumku mengalami banjir jika terjadi hujan, sehingga sulit bagiku untuk melewatinya. Aku berharap engkau bisa datang lalu salat di rumahku di tempat yang akan aku jadikan sebagai tempat salat (musalla)." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata, "Aku akan lakukan." Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang kepadaku bersama Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- ketika sudah siang. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta izin untuk masuk, maka aku pun mempersilakan beliau. Belum sempat duduk beliau langsung bertanya,"Di mana tempat yang engkau inginkan agar aku salat di rumahmu?"Maka aku menunjukkan kepada beliau tempat yang aku inginkan agar beliau salat di sana. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri lalu bertakbir. Kami pun berdiri membuat saf di belakang beliau. Beliau mengerjakan salat dua rakaat kemudian bersalam. Dan kami pun ikut bersalam ketika beliau bersalam. Lalu aku menahan beliau untuk menunggu makanan dari tepung yang sedang dibuat untuk beliau. Kemudian penduduk tempat itu mendengar kehadiran Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di rumahku, sehingga sebagian mereka datang berkumpul. Maka orang-orang pun menjadi banyak di rumahku. Salah seorang berkata, "Apa yang dikerjakan oleh Mālik? Aku tidak melihatnya." Yang lain berkata, "Dia ini munafik. Dia tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata,"Jangan ucapkan seperti itu. Bukankah engkau lihat dia mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dengan mengharap rida Allah?!"Orang itu berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Adapun kami, demi Allah, kami tidak lihat kecuali cinta dan percakapannya kepada orang-orang munafik." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya Allah mengharamkan dari neraka orang yang mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dengan mengharap rida Allah."(Muttafaq 'Alaih)عِتْبَان ('itbān) dengan mengkasrahkan "'ain" dan mensukunkan "tā`", setelahnya huruf "bā`". Sedangkan "الخَزِيرَةُ" (al-jazīrah) dengan "khā`" dan "zāy", yaitu tepung yang dimasak dengan lemak.Kalimat "ثَابَ رِجَالٌ", artinya: kaum laki-laki datang dan berkumpul.

Kosa Kata Asing:

اِجْتِيَازُهٌ (ijtiyāzuhu): melewatinya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Siapa yang mengucapkan "Lā ilāha illallāh" karena mengharap rida Allah maka dia diharamkan dari neraka. Ini menegaskan keagungan kalimat tauhid yang diberkahi ini.

2) Membuka pintu harapan bagi orang-orang beriman yang bertauhid yang mengerjakan amal saleh serta bersungguh-sungguh di dalamnya.

3) Wajib bagi seorang muslim untuk memenuhi undangan saudara muslimnya, karena ini adalah hak seorang muslim atas saudaranya.

7/418- Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah dibawakan tawanan. Ternyata ada seorang wanita dalam tawanan itu berkeliling. Bila dia menemukan anak kecil dalam rombongan tawanan tersebut, dia mengambil dan mendekapnya di perutnya lalu menyusuinya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Menurut kalian, apakah wanita ini tega melemparkan anaknya ke dalam api?"Kami menjawab, "Tidak. Demi Allah!" Maka beliau bersabda,"Sungguh, Allah itu lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya melebihi sayangnya perempuan ini kepada anaknya."(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- lebih sayang kepada hamba-Nya daripada sayangnya seorang ibu kepada anaknya. Oleh karena itu, Allah mensyariatkan bagi mereka apa yang akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya dan menjauhkan mereka dari azab-Nya.

2) Mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa dan menghubungkannya dalam pengarahan dan pengajaran dengan membuat permisalan agar sesuatu dapat dipahami secara sempurna. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi sang Pengajar kebaikan. Betapa bagus cara pengajarannya!

3) Seharusnya seseorang selalu bergantung kepada Allah semata di semua keadaan dan waktunya.

8/419- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Ketika Allah menciptakan semua makhluk, Allah menulis di dalam sebuah kitab yang ada di sisi-Nya di atas Arasy: 'Sesungguhnya rahmat-Ku akan mengalahkan murka-Ku.'"Dalam suatu riwayat, "telah mengalahkan murka-Ku."Dalam riwayat lain, "telah mendahului murka-Ku."(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Menetapkan ketinggian Allah di atas makhluk-Nya, yaitu Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berada di atas Arasy-Nya;"(Yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas Arasy." (QS. Ṭāhā: 5)

2) Menetapkan sifat rahmat dan sifat murka bagi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-sesuai yang pantas bagi-Nya, tanpa disamakan dengan makhluk dan tanpa ditolak. Dan rahmat Allah -Ta'ālā- lebih dekat kepada hamba daripada murka-Nya.

9/420- Juga dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Allah telah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Sembilan puluh sembilan Allah tahan di sisi-Nya, sedangkan satu bagian Allah turunkan ke bumi. Dari satu bagian itulah semua makhluk saling menyayangi hingga seekor binatang mengangkat kakinya karena khawatir akan menginjak anaknya."Dalam riwayat lain: "Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat, kemudian Allah menurunkan satu rahmat di tengah-tengah jin, manusia, binatang, dan serangga. Dengan satu rahmat itulah mereka saling mengasihi. Dengan satu rahmat itulah mereka saling menyayangi. Dengan satu rahmat itulah hewan buas mengasihi anak-anaknya. Dan Allah mengakhirkan sembilan puluh sembilan rahmat, dengannya Allah merahmati hamba-Nya pada hari Kiamat."(Muttafaq 'Alaih)Juga diriwayatkan oleh Muslim dari Salmān Al-Fārisiy -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Allah memiliki seratus rahmat. Di antaranya satu rahmat, dengan satu rahmat itu seluruh makhluk saling sayang di antara sesama mereka (di dunia). Sedang sembilan puluh sembilan lainnya untuk hari Kiamat kelak."

Dalam riwayat lain: "Allah telah menciptakan seratus rahmat ketika menciptakan langit dan bumi. Setiap satu rahmat memenuhi antara langit dan bumi. Lalu satu rahmat di antaranya diletakkan di bumi; dengannya seorang ibu menyayangi anaknya, dan binatang buas dan burung saling sayang satu sama lain. Bila tiba hari Kiamat, Allah akan menyempurnakannya dengan rahmat ini."

Kosa Kata Asing:

حَافِرُهَا (ḥāfiruhā): kakinya.

طِبَاق (ṭibāq): lapisan, maksudnya: hal itu akan memenuhi antara langit dan bumi karena saking besarnya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Kasih sayang yang Allah berikan ke dalam hati hamba-hamba-Nya adalah satu bagian dari rahmat Allah secara keseluruhan.

2) Kabar gembira bagi orang-orang beriman tentang luasnya rahmat Allah, Tuhan semesta alam. Yaitu, bila mereka mendapatkan semua bentuk kasih sayang di antara mereka dengan satu rahmat yang Allah ciptakan pada mereka, maka bagaimana dengan seratus rahmat di hari Kiamat?!

10/421- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia meriwayatkan dari Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu riwayat yang beliau riwayatkan dari Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-, beliau bersabda,"Ada seorang hamba melakukan suatu dosa, lalu dia berkata, 'Ya Allah! Ampunilah dosaku.' Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, 'Hamba-Ku melakukan dosa dan dia mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan siksa karena dosa.' Kemudian hamba tersebut mengulangi dosa lagi lalu berkata, 'Ya Rabbi! Ampunilah dosaku.' Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, 'Hamba-Ku berbuat dosa, tetapi dia mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan memberikan siksa karena dosa.' Kemudian hamba tersebut kembali mengulangi dosa lagi lalu berkata, 'Ya Rabbi! Ampunilah dosaku.' Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, 'Hamba-Ku berbuat dosa, tetapi dia mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan memberikan siksa karena dosa. Aku telah mengampuni dosa hamba-Ku ini. Silakan dia berbuat sekehendak hatinya."(Muttafaq 'Alaih)

Firman Allah Ta'ālā: "Silakan dia berbuat sekehendak hatinya" maksudnya: selama dia mengerjakan seperti itu; yakni dia berbuat dosa kemudian bertobat, Aku akan mengampuninya, karena tobat menghapuskan dosa-dosa sebelumnya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan karunia dan rahmat Allah kepada hamba-Nya selama mereka meyakini bahwa Allah -Ta'ālā- adalah Maha Pemelihara di semua keadaan mereka, dan ini menunjukkan keutamaan tauhid.

2) Tobat yang benar akan menghapus dosa; oleh karena itu, setiap kali hamba berbuat dosa dia harus melakukan tobat darinya.

11/422- Masih dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah akan menghilangkan kalian dan mendatangkan satu kaum yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampunan kepada Allah -Ta'ālā-, kemudian Allah memberi mereka ampunan."(HR. Muslim)12/423- Abu Ayyūb Khālid bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun dan Allah mengampuni mereka."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Anjuran kepada para hamba untuk meraih rahmat Allah -Ta'ālā- karena Allah telah membuka untuk mereka pintu rajā` (harapan) lewat istigfar dan tobat dari dosa.

2) Kecintaan hamba kepada Rabb-nya dengan terus-menerus bertobat dan beristigfar serta merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun adalah bagian dari ketaatan yang dicintai oleh Allah -Ta'ālā-. Beruntunglah hamba yang terus-menerus mengetuk pintu langit dengan tobat dan doa.

Peringatan:

Hadis ini mengandung berita gembira berupa ampunan bagi orang yang berbuat dosa lalu beristigfar. Dan jangan sekali-kali ada yang mengira bahwa hadis ini mengandung anjuran untuk berbuat maksiat.

13/424- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Kami pernah duduk bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Bersama kami ada Abu Bakar, Umar, dan sejumlah sahabat lainnya -raḍiyallāhu 'anhum-. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri dan beranjak pergi meninggalkan kami. Tetapi beliau lama tidak kembali. Sehingga kami khawatir jangan-jangan beliau diculik tanpa sepengetahuan kami. Kami pun merasa cemas. Segera kami bangun (mencari beliau), dan aku adalah orang yang pertama kali merasakan kekhawatiran itu. Lantas aku keluar untuk mencari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hingga aku mendatangi salah satu kebun milik kaum Ansar..." Dia menyebutkan kisah itu secara lengkap, sampai pada: "... Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Pergilah! Siapa saja yang engkau temukan di balik kebun ini, dia bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dengan yakin sepenuh hati, maka berilah dia berita gembira berupa surga!"(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

نَفَرٌ (nafar): sejumlah orang, antara tiga sampai sembilan.

يُقْتَطَعَ دُوننا (yuqtaṭa' dūnanā): beliau diculik dan disiksa.

حَائطاً (hā`iṭan): kebun.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan besarnya kecintaan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta kegigihan mereka terhadap keselamatan beliau dari semua keburukan di masa hidup beliau. Adapun setelah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat, maka kegigihan orang-orang yang bertauhid serta pengikut Sunnah terhadap keselamatan Sunnah beliau serta pembelaan mereka kepadanya adalah bagian dari menjaga keselamatan beliau.

2) Anjuran memberi kabar gembira serta membuka pintu harap kepada orang-orang beriman.

3) Tauhid adalah kunci pintu surga; oleh karena itu, hamba harus giat menjaga kebenaran tauhidnya.

14/425- Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca firman Allah -'Azza wa Jalla- yang mengisahkan perkataan Ibrāhīm -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-:"Ya Rabbi! Berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia. Siapa yang mengikutiku, maka orang itu termasuk golonganku."(QS. Ibrāhīm: 36)Juga firman Allah tentang perkataan Isā -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-:"Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Mahaperkasa, Mahabijaksana."(QS. Al-Mā`idah: 118)Lalu beliau mengangkat tangan sambil berdoa,"Ya Allah! Umatku, umatku." Beliau sambil menangis.Maka Allah -'Azza wa Jalla- berfirman,"Wahai Jibril! Pergilah kepada Muhammad. Meskipun Rabb-mu lebih tahu kenapa dia menangis, tanyakanlah kepadanya apa yang membuatnya menangis?"Jibril pun datang kepada beliau. Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan kepadanya tentang doa yang dipanjatkannya, meskipun Allah lebih tahu tentang apa yang beliau katakan. Lalu Allah -Ta'ālā- berfirman,"Wahai Jibril! Pergilah kepada Muhammad. Sampaikanlah, 'Bahwa Kami akan membuatmu rida terkait umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu sedih.'"(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Kasih sayang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada umatnya serta perhatian beliau terhadap maslahat mereka. Seperti inilah seharusnya sikap seorang muslim; yaitu gigih untuk memberikan kebaikan pada hamba-hamba Allah serta tidak menyulitkan mereka, sebagai wujud mengikuti Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

2) Membuka pintu harap bagi umat yang tercinta ini manakala dia lurus sebagai bentuk memuliakan Nabi mereka -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

15/426- Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku pernah dibonceng Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di atas keledai, beliau berkata,"Wahai Mu'āż! Apakah engkau mengetahui apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak hamba kepada Allah?"Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Beliau bersabda,"Hak Allah atas hamba adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Sedangkan hak hamba kepada Allah ialah Allah tidak akan menyiksa siapa yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Tidakkan aku mengabarkan kabar gembira ini kepada orang-orang?" Beliau menjawab, "Jangan kabarkan kepada mereka, karena mereka nanti akan bersandar kepadanya (tidak mau beramal)."(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Kabar gembira kepada orang-orang beriman berupa rahmat yang luas dari Allah -Ta'ālā- diperuntukan bagi orang yang membuktikan imannya dengan amal serta beramal dengan baik. Adapun jika lemah dan malas beramal, maka yang demikian itu hanyalah angan-angan.

2) Menafikan kesyirikan dari seorang hamba menunjukkan keikhlasan dan ketauhidan; oleh karena itu, hendaklah orang yang beriman berjuang kuat terhadap kebenaran tauhidnya.

16/427- Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Seorang muslim apabila ditanya di kubur, tentu dia bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Itulah (makna) firman Allah -Ta'ālā-,"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat."(QS. Ibrāhīm: 27)(Muttafaq 'Alaih)

Pelajaran dari Hadis:

1) Besarnya rahmat Allah kepada hamba-Nya yang beriman di dunia dan akhirat; siapa yang merealisasikan tauhid dan hidup di atas tauhid maka Allah akan memberikannya keteguhan di masa hidupnya, di kubur, dan hari kebangkitannya.

2) Tafsir yang paling baik untuk menafsirkan Kitab Allah adalah hadis Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

17/428- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Sesungguhnya orang kafir itu apabila melakukan kebaikan, maka dia langsung diberi balasan sebagian rezeki dunia. Sedangkan orang mukmin, sesungguhnya Allah menyimpan balasan kebaikan-kebaikannya di akhirat dan dia diberi rezeki di dunia karena ketaatannya."Dalam riwayat lain: "Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi seorang mukmin walau satu kebaikan; dia akan diberi balasannya di dunia dan balasannya di akhirat. Adapun orang kafir, maka dia akan diberikan balasan berupa rezeki dengan sebab kebaikan-kebaikan yang dia kerjakan karena Allah -Ta'ālā- di dunia, hingga ketika dia telah berpulang ke akhirat dia tidak lagi memiliki satu kebaikan pun yang akan dibalas."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

أَفْضَىٰ (afḍā): berpindah ke akhirat.

Pelajaran dari Hadis:

1) Menjelaskan keadilan Allah terhadap hamba-hamba-Nya; yaitu Allah akan memberikan balasan pahala mereka secara sempurna, sekalipun terhadap orang-orang kafir lagi durhaka, sebab keadilan termasuk perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah.

2) Orang kafir akan diberikan balasan terhadap perbuatan baiknya di dunia. Adapun orang beriman, maka akan diberikan balasannya di dunia dan akhirat. Ini adalah kabar gembira serta harapan bagi orang-orang beriman.

18/429- Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Perumpamaan salat lima waktu seperti sebuah sungai yang mengalir dan melimpah di depan pintu rumah salah seorang kalian, dia mandi di sungai itu lima kali sehari."(HR. Muslim)الْغَمْرُ (al-gamr): banyak, melimpah.

Pelajaran dari Hadis:

1) Salat akan menghapus dosa, dan ini termasuk rahmat Allah kepada orang beriman, karena Allah mensyariatkan berbagai ibadah untuk mereka gunakan dalam rangka membersihkan dosa mereka.

2) Apabila Allah memberi taufik kepada hamba untuk memelihara lima salat, maka itu adalah kabar baik baginya bahwa dia termasuk di antara orang-orang yang diharapkan dosanya dihapuskan.

19/430- Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, lalu jenazahnya disalati oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, kecuali Allah menerima syafaat (doa) mereka untuknya."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Menetapkan adanya syafaat orang beriman untuk orang yang meninggal bila ia termasuk yang berhak menerima syafaat. Bentuk syafaat mereka untuknya adalah doa agar Allah mengampuni dosanya.

2) Anjuran memperbanyak orang yang bertauhid dalam salat jenazah dengan harapan orang yang meninggal tersebut akan mendapatkan ampunan dengan karunia Allah -Ta'ālā-.

3) Keutamaan tauhid dan orang bertauhid serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan.

20/431- Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Dahulu kami pernah bersama Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- dalam sebuah kemah, kami berjumlah sekitar empat puluh orang. Beliau bersabda, "Apakah kalian rida seandainya kalian seperempat penduduk surga?" Kami menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Apakah kalian rida seandainya kalian sepertiga penduduk surga?" Kami menjawab, "Ya." Kemudian beliau bersabda, "Demi Zat yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya! Sungguh aku berharap kalian adalah separuh penduduk surga. Karena surga itu tidak dimasuki kecuali oleh jiwa yang beriman. Tidaklah perumpamaan kalian di tengah-tengah orang musyrik melainkan seperti sehelai bulu putih pada lembu hitam atau seperti sehelai bulu hitam pada lembu putih."(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

قُبَّة (qubbah): kemah, tenda.

Pelajaran dari Hadis:

1) Orang beriman dari kalangan umat Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah mayoritas penghuni surga, dan ini menunjukkan mulianya kedudukan umat yang tercinta ini di sisi Allah -Ta'ālā-.

2) Sedikitnya jumlah orang beriman bila dibandingkan dengan jumlah orang kafir; sehingga orang beriman yang cerdas tidak akan menakar sesuatu dengan banyaknya jumlah pengikut, melainkan dia mengukur kebenaran berdasarkan kesesuaiannya dengan syariat Tuhan semesta alam, dan petunjuk generasi pertama umat ini.

3) Penyebutan kabar gembira secara bertahap dan pengulangannya beberapa kali untuk lebih memancing pembaharuan rasa syukur dari waktu ke waktu.

21/432- Abū Mūsā Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Pada hari Kiamat nanti Allah menyerahkan seorang yahudi atau nasrani kepada setiap muslim lalu berfirman, 'Ini menjadi tebusanmu dari neraka.'"Dalam riwayat lain, juga dari Abū Mūsā Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda, "Akan didatangkan pada hari Kiamat sejumlah orang dari kalangan muslim dengan dosa seperti gunung, tetapi Allah mengampuninya bagi mereka."(HR. Muslim)

Sabda Rasulullah: "Allah menyerahkan seorang yahudi atau nasrani kepada setiap muslim lalu berfirman, 'Ini menjadi tebusanmu dari neraka'" maknanya ialah apa yang disebutkan dalam hadis riwayat Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-: "Setiap orang memiliki tempat di surga dan tempat di neraka. Ketika orang beriman masuk surga, dia digantikan oleh orang kafir di neraka, karena sebenarnya dia berhak terhadap yang demikian itu disebabkan kekafirannya."

Makna "menjadi tebusanmu": bahwa Anda pun terancam masuk neraka, lalu ini menjadi tebusanmu, karena Allah -Ta'ālā- telah menetapkan bagi neraka jumlah orang yang akan mengisinya, sehingga ketika orang kafir masuk neraka dengan sebab dosa dan kekafiran mereka, maka seakan-akan mereka sebagai tebusan bagi orang Islam.Wallāhu a'lam.

Pelajaran dari Hadis:

1) Allah telah memuliakan umat ini karena mereka beriman kepada Allah serta menjadi saksi bagi manusia.

2) Kehinaan orang yahudi dan nasrani yang telah menyelewengkan Kalam Allah -Ta'ālā- dan membunuh rasu-rasul utusan Allah -ṣallallāhu 'alaihim wa sallam-, sehingga mereka menjadi tebusan bagi orang Islam.

18/22- Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Pada hari Kiamat, orang mukmin didekatkan kepada Tuhannya, lalu Allah meletakkan tabir-Nya kepadanya. Kemudian Allah mengingatkannya dosa-dosanya; Allah bertanya, 'Apakah kamu mengenal dosa ini? Apakah kamu mengenal dosa ini?' Dia menjawab, 'Ya Rabbi! Aku mengenalnya.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku telah menutupi dosamu itu di dunia, dan hari ini Aku ampuni dosa-dosamu.' Lantas Allah memberikan kepadanya catatan kebaikan-kebaikannya."(Muttafaq 'Alaih)

كَنَفُهُ (kanafuhu): tabir dan rahmat-Nya.

Kosa Kata Asing:

يُدنىٰ (yudnī): mendekatkan.

Pelajaran dari Hadis:

1) Adanya perhatian besar Allah kepada orang-orang beriman serta menutup aib-aib mereka di dunia dan akhirat.

2) Hamba yang beriman tidak akan berdusta; karena kedustaan adalah perangai orang munafik, sedangkan kejujuran adalah perangai orang beriman.

Peringatan:

Di Antara nama Allah yang indah: As-Sittīr (Maha Menutupi), yaitu Allah senang menutupi aib orang-orang beriman. Maka, semoga Allah merahmati hamba yang membantu menutupi aib saudaranya yang mukmin.

Banyak beredar di tengah masyarakat nama "'Abdus-Sattār", dan ini salah. Karena yang merupakan nama Allah -Ta'ālā- adalah As-Sittīr. Adapaun As-Sattār, bukan termasuk Al-Asmā` Al-Ḥusnā. Sementara kewajiban kita harus terikat dengan nas agama, karena nama-nama Allah termasuk perkara tauqiīfīyah (berdasarkan wahyu);"Katakanlah, 'Kamukah yang lebih tahu atau Allah?!'" (QS. Al-Baqarah: 140)23/434- Ibnu Mas‘ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa ada seorang laki-laki yang mencium seorang wanita, lalu dia datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan menyampaikan hal itu. Maka Allah -Ta'ālā- pun menurunkan ayat:“Dan tegakkanlah salat di kedua ujung siang (pagi dan petang), dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.”(QS. Hūd: 114)Laki-laki itu berkata, “Apakah ini (khusus) untukku, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Untuk semua umatku secara keseluruhan.”(Muttafaq 'Alaih)

Kosa Kata Asing:

طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ (ṭarafain-nahār): kedua ujung siang, yaitu pagi dan petang.

زلفاً من الليل (zulafan minal-lail): sebagian malam yang dekat dari siang.

Pelajaran dari Hadis:

1) Salat adalah amal orang beriman yang paling afdal serta perkara paling baik untuk mereka saling mengingatkan.

2) Membuka pintu harapan bagi semua umat Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-; siapa saja yang berbuat dosa agar segera mengerjakan salat setelahnya untuk menghapus dosanya. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Kerjakan kebaikan setelah melakukan keburukan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya."24/435- Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Seorang lelaki datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan berkata, "Wahai Rasulullah! Aku telah melanggar sebuah larangan, tegakkanlah hukumnya kepadaku!" Lantas waktu salat tiba dan dia pun salat bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Setelah selesai melaksanakan salat, orang itu berkata lagi, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah melanggar sebuah larangan, karena itu tegakkanlah kepadaku Kitab Allah!" Beliau bertanya, "Apakah engkau ikut salat bersama kami?" Orang itu menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Engkau sudah diampuni."(Muttafaq 'Alaih)

Ucapan: (أَصَبْتُ حَدّاً), maksudnya: saya melakukan sebuah maksiat yang mengharuskan hukuman ta'zīr, bukan hukuman hudud yang sebenarnya seperti zina, minum khamar, dan lainnya, karena hukuman hudud tidak gugur dengan salat, dan tidak boleh bagi pemimpin untuk meninggalkannya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Bila seorang hamba menunaikan salat secara benar sesuai syariat dan mengikuti tata cara salat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- secara lahir dan batin, maka ibadah ini akan menghapus dosanya, walaupun besar.

2) Besarnya rahmat Allah kepada hamba-Nya; yaitu Allah membuka untuk mereka pintu-pintu penghapus dosa, di antaranya salat.

25/436- Juga dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Sesungguhnya Allah rida kepada seorang hamba ketika dia menyantap makanan lalu dia memuji Allah atas makanan itu, atau minum lalu dia memuji Allah atas minuman itu."(HR. Muslim)

الأَكْلَةُ (al-aklah), dengan memfatahkan hamzah, yaitu satu kali makan seperti makan siang atau sore. Wallāhu a'lam.

Pelajaran dari Hadis:

1) Memuji Allah -Ta'ālā- ketika setiap kali makan dan minum adalah bentuk harapan hamba kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.

2) Orang beriman mengharap rida Allah dalam aktifitas makan dan minumnya serta memanfaatkannya dalam rangka ketaatan kepada-Nya.

26/437- Abū Mūsā -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- membentangkan Tangan-Nya pada waktu malam agar orang yang berbuat kesalahan di waktu siang bertobat, dan Allah membentangkan Tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat kesalahan di waktu malam bertobat, hingga matahari terbit dari arah terbenamnya."(HR. Muslim)

Pelajaran dari Hadis:

1) Tobat adalah pintu yang selalu terbuka, siapa yang mengetuk pintu tersebut maka akan dibukakan baginya.

2) Besarnya rahmat Allah kepada hamba-Nya dengan menerima tobat pelaku maksiat serta membimbing mereka untuk bertobat.

27/438- Abu Najīḥ 'Amr bin 'Abasah -dengan memfatahkan "'ain" dan "bā`"- As-Sulamiy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Dahulu ketika aku masih di masa jahiliah, aku meyakini semua manusia dalam kesesatan dan tidak melakukan sesuatu yang berguna karena mereka menyembah berhala-berhala. Lalu aku mendengar ada seorang laki-laki di Mekah yang menyampaikan berbagai berita (wahyu). Aku pun bergegas mengendarai kendaraanku dan menuju orang itu. Ternyata orang itu adalah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang sembunyi-sembunyi dan diperlakukan dengan lancang oleh kaumnya. Aku pun bersikap hati-hati hingga berhasil menemui beliau di Mekah. Aku bertanya pada beliau, "Siapakah engkau ini?" Beliau menjawab, "Aku seorang nabi." Aku bertanya, "Apa itu nabi?" Beliau menjawab, "Yaitu Allah telah mengutusku." Aku bertanya, "Dengan ajaran apakah Allah mengutusmu?" Beliau menjawab,"Allah mengutusku dengan (perintah) bersilaturahmi, menghancurkan berhala, dan mengesakan Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun."Aku bertanya, "Siapa yang mengikutimu dalam hal ini?" Beliau menjawab, "Satu orang merdeka dan satu hamba sahaya." Saat itu Abu Bakar dan Bilal -raḍiyallāhu 'anhuma- bersama beliau. Aku berkata, "Sesungguhnya aku siap mengikutimu." Beliau bersabda,"Sesungguhnya engkau tidak akan kuat melakukannya saat ini. Tidakkah engkau melihat keadaanku dan keadaan orang-orang itu? Tetapi kembalilah dulu kepada keluargamu. Jika engkau sudah mendengar berita aku telah menang, datanglah kembali kepadaku."Dia melanjutkan: Maka aku pun pulang kembali ke keluargaku. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hijrah ke Madinah, sementara aku tinggal bersama keluargaku. Aku berusaha mencari kabar dan bertanya kepada orang-orang ketika beliau datang ke Madinah. Hingga akhirnya sekelompok orang dari penduduk Madinah datang. Aku bertanya, "Apa yang dilakukan oleh orang yang datang ke Madinah itu?" Mereka menjawab, "Orang-orang bersegera menyambutnya. Kaumnya telah berusaha membunuhnya, tetapi mereka tidak berhasil melakukan itu." Lantas aku pergi ke Madinah dan menemui beliau. Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah engkau mengenaliku?" Beliau menjawab, "Ya, engkau adalah orang yang dulu menemuiku di Mekah." Dia melanjutkan, maka aku berkata, 'Wahai Rasulullah! Beritahukan kepadaku apa yang diajarkan oleh Allah kepadamu sedangkan aku tidak mengetahuinya. Beritahukan kepadaku tentang salat?" Beliau bersabda,"Laksanakanlah salat Subuh. Setelah itu jangan mengerjakan salat hingga matahari naik seukuran satu tombak, karena ketika matahari terbit, dia terbit di antara dua tanduk setan. Saat itulah orang-orang kafir bersujud kepadanya. Setelah itu salatlah, karena salat pada waktu itu disaksikan dan dihadiri (para malaikat), hingga bayangan tombak sampai titik paling pendek. Setelah itu berhentilah melakukan salat karena pada saat itu Jahanam dinyalakan. Jika bayangan datang lagi (setelah matahari tergelincir), maka kerjakanlah salat, karena salat pada waktu itu disaksikan dan dihadiri (para malaikat), hingga engkau mengerjakan salat Asar. Kemudian berhentilah melakukan salat hingga matahari terbenam, karena matahari terbenam di antara dua tanduk setan. Ketika itulah orang-orang kafir bersujud kepadanya."Dia melanjutkan, aku berkata, "Wahai Nabi Allah! Sampaikan kepadaku tentang wudu." Beliau bersabda,"Tidaklah salah seorang kalian menghadirkan air wudunya, lalu berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung kemudian mengeluarkannya, melainkan gugur dosa-dosa mulut dan hidungnya. Kemudian ketika dia membasuh wajahnya sebagaimana yang diperintahkan Allah, gugurlah dosa-dosa wajahnya dari ujung janggutnya bersama air itu. Kemudian ketika dia membasuh kedua tangannya hingga siku, gugurlah dosa-dosa tangannya dari jari-jarinya bersama air itu. Selanjutnya ketika dia mengusap kepalanya, gugurlah dosa-dosa kepalanya dari ujung rambutnya bersama air itu. Kemudian ketika dia membasuh kedua kakinya sampai kedua mata kaki, gugurlah dosa-dosa kakinya dari jari-jarinya bersama air itu. Kemudian jika dia berdiri lalu mengerjakan salat; dia memuji, memuja dan mengagungkan Allah -Ta'ālā- dengan pujian yang pantas untuk-Nya, serta mengosongkan hatinya hanya untuk Allah -Ta'ālā- maka dia keluar dari dosanya seperti saat dia dilahirkan ibunya."Kemudian 'Amr bin 'Abasah menuturkan hadis ini kepada Abu Umāmah, seorang sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Abu Umāmah berkata kepadanya, "Wahai 'Amr bin 'Abasah! Perhatikanlah apa yang engkau katakan itu! Mungkinkah seseorang akan diberi pahala sebanyak itu hanya dalam satu amalan saja?!" 'Amr menjawab, "Wahai Abu Umāmah! Umurku sudah tua, tulangku sudah rapuh, dan ajalku sudah dekat. Aku tidak memiliki kepentingan untuk berdusta atas nama Allah -Ta'ālā-, dan tidak juga atas nama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Seandainya aku tidak pernah mendengarnya dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sekali, dua kali, atau tiga kali -hingga dia menyebutkan tujuh kali- aku tidak akan menceritakan hadis ini selama-lamanya. Tetapi aku telah mendengarnya lebih banyak dari itu."(HR. Muslim)Perkataan 'Amr bin 'Abasah: "جُرآءُ عليهِ قومُه", yaitu dengan "jīm" yang damah dan hamzah yang bermad, sama seperti pola: "عُلماءَ". Maksudnya: berani dan lancang, tidak takut. Inilah riwayat yang masyhur. Dan telah diriwayatkan oleh Al-Ḥumaidiy dan lainnya: "حِرَاءٌ", dengan "ḥā`" yang kasrah. Al-Ḥumaidiy berkata, "Maknanya: mereka murka dan penuh susah dan galau, telah hilang kesabaran mereka, hingga membekas di tubuh mereka. Ia berasal dari perkataan mereka, 'Ḥarā jismuhu, yaḥrā', yakni tubuhnya menyusut karena sakit, galau, dan semisalnya. Tetapi yang benar ialah menggunakan 'jīm'."Sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-: "بينَ قَرنَي شيطانٍ": di antara dua sisi kepala setan. Maksudnya ialah sebagai perumpamaan; bahwa saat itu adalah waktu setan dan tentaranya bergerak dan berkuasa.يُقَرِّبُ وَضَوءه, maksudnya: menghadirkan air yang akan digunakan berwudu.إلَّا خَرّتْ خَطايا, dengan huruf "khā`", artiya: gugur, jatuh. Sebagian meriwayatkannya: "جرَتْ", dengan "jīm". Namun, yang benar dengan "khā`", dan ini adalah riwayat mayoritas.فَيَنْتَثِرُ, maksudnya: mengeluarkan kotoran yang ada dalam hidungnya. Adapun makna "النَّثرَةُ" (an-naṡrah): pangkal hidung.

Kosa Kata Asing:

فَتَلَطَّفْتُ (fatalaṭṭaftu): aku berhati-hati.

مُتَّبِعُكَ (muttabi'uka): siap mengikutimu untuk memenangkan Islam serta tinggal bersamamu di Mekah.

قَيْدَ رُمْحٍ (qaida rumḥin): seukuran sebuah tombak, yaitu seukuran beberapa menit setelah matahari terbit.

تُسْجَر (tusjar): dinyalakan dengan bahan bakar.

الفيء (al-fai`): bayangan setelah matahari tergelincir.

فيه (fīhi): mulutnya.

خَيَاشِيْمِهِ (khayāsyīmihi): hidungnya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memulai dakwah beliau dalam keadaan asing dan secara sembunyi-sembunyi, kemudian Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memuliakan beliau dan memuliakan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- dengan diberikan kemenangan di atas muka bumi berkat kesabaran mereka terhadap gangguan dan ujian serta konsistensi mereka dalam mengharap kemenangan kepada Allah. Ini adalah pesan yang agung bagi para dai agar tidak tergesa-gesa ingin melihat pertolongan dari Allah -Ta'ālā-.

2) Menjelaskan keutamaan Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq dan Bilāl; keduanya termasuk golongan sahabat yang paling pertama masuk Islam. Semoga Allah meridai mereka.

3) Larangan melakukan tasyabbuh atau menyerupai kelakuan orang kafir, sekalipun pelakunya tidak meniatkan hal itu; karena orang yang mengerjakan salat ketika matahari terbit atau tenggelam bisa jadi tidak berniat untuk menyerupai orang kafir, walaupun demikian salat pada waktu tersebut tetap dilarang.

4) Menjelaskan keutamaan wudu; bahwa wudu merupakan penghapus dosa dan kesalahan, dan ini termasuk harapan bagi orang-orang mukmin yang bersuci.

28/439- Abū Mūsā Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,"Jika Allah -Ta'ālā- menghendaki rahmat bagi suatu umat, maka Allah mewafatkan nabi mereka sebelum mereka, lalu menjadikannya sebagai pendahulu dan panutan bagi umat itu. Dan jika Allah menghendaki kebinasaan suatu umat, maka Allah menyiksa mereka sedangkan nabi mereka masih hidup. Selanjutnya Allah membinasakan mereka sedangkan nabi mereka hidup dan menyaksikan kebinasaan mereka. Sehingga Allah menyejukkan matanya dengan kebinasaan mereka lantaran mereka mendustakan nabi tersebut dan mendurhakai perintahnya."(HR. Muslim)

Kosa Kata Asing:

فَرَطًا (faraṭan): pendahulu.

بَيْنَ يَدَيْهَا (baina yadaihā): di hadapannya.

فأَقَرَّ عيْنَهُ (fa`aqarra 'ainahu): dia merasakan bahagia dengan kebinasaan mereka akibat mereka mendustakannya dan tidak mematuhinya.

Pelajaran dari Hadis:

1) Besarnya kasih sayang dan rahmat Allah kepada umat Muhammad yang tercinta -semoga Allah menambah kemuliaan mereka-, karena Allah mewafatkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebelum mereka.

2) Perhatian para nabi -'alaihimus-salām- kepada kaum mereka, serta kepedualian mereka dalam memelihara dan memperbaiki urusan mereka.

3) Siksaan dan pembinasaan terhadap orang kafir mengandung pembelaan terhadap agama para nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan pengikut mereka.

 52- BAB KEUTAMAAN RAJĀ` (HARAPAN)

Allah -Ta'ālā- berfirman mengisahkan hamba-Nya yang saleh,"Dan aku menyerahkan urusanku kapada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka."(QS. Gāfir: 44-45)

Pelajaran dari Ayat:

1) Menyerahkan urusan kepada Allah -Ta'ālā- adalah tanda kebenaran tawakal.

2) Siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan hajatnya.

1/440- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda,Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, "Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Demi Allah! Sungguh Allah lebih senang dengan tobat hamba-Nya daripada salah seorang kalian yang menemukan hewan kendaraannya yang hilang di padang tandus. Siapa yang mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadanya satu hasta. Siapa yang mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku mendekatinya satu depa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan biasa, Aku datang kepadanya dengan berjalan cepat."(Muttafaq 'Alaih)Ini adalah redaksi salah satu riwayat Muslim.Dan telah dijelaskan dalam bab sebelumnya.

Juga diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain: "Dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku." Yaitu menggunakan kata "حينَ" (