Teori Hidup Menurut Komunis ()

Abu Bakar Zakaria

Teori Hidup Menurut Komunis: Kejahatan terbesar yang dikerjakan oleh anak manusia dimuka bumi ini ialah menjadikan sekutu bagi Dzat yang menciptakannya. Inilah kejahatan nomer wahid. Betapa tidak, dirinya memperoleh fasilitas gratis tapi justru dibalas dengan keingkaran, ibarat susu dibalas dengan air tuba. Dengan mengenal akar kesyirikan, semoga akan menjauhkan kita dari kejahatan tersebut. Nah, didalam risalah ini barangkali solusinya ……

 

|

 Teori Hidup Menurut Komunis

Teori Hidup Menurut Komunis

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang -Dia sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallamadalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba'du:

 Sisi Kelam Paham Ta'thil Masuk Dalam Syirik Rububiyah:

Tidak diragukan lagi bahwa kesyirikan merupakan musuh bebuyutan tauhid, dialah lawan dari setiap orang yang mengesakan AllahShubhanahu wa ta’alla. sebagaimana aqidah tauhid mencakup didalamnya keyakinan untuk menetapkan rububiyah, asma dan sifat serta perbuatan Allah azza wa jalla. Begitu juga mencakup keyakinan untuk menolak adanya orang yang menjadikan tandingan bersama AllahShubhanahu wa ta’alla, baik dalam hal rububiyah, asma dan sifat maupun perbuatan -Nya. Lagi tidak memalingkan satupun jenis ibadah kepada selain -Nya.

Begitu pula, sungguh dalam kesyirikan juga mencakup secara jelas bentuk pengingkaran kepada Allah Shubhanahu wa ta’alladari aspek rububiyah, asma dan sifat serta perbuatan -Nya, lagi terkandung didalamnya untuk menjadikan tandingan bersama AllahShubhanahu wa ta’alla, dari segi rububiyah, asma dan sifat serta perbuatan -Nya, dan bisa dipastikan pelakunya akan memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah jalla wa 'ala.

Atas dasar inilah kita dapat melihat bahwa keberagaman perbuatan syirik, walaupun pada awal mulanya masuk dalam keragaman perbuatan kufur, kecuali bagi orang yang mencoba lebih cermat dalam melihat pendalilan yang ada pada harfiah tauhid dan syirik niscaya dirinya akan mendapat pencerahan yang sangat jelas bahwa hukum perilaku kufur tersebut tetap masuk dalam keberagaman syirik. Masuknya penamaan dalam hukum syirik ini tidak menjadikan adanya kontradiksi antara syirik dan kufur, sebab kekufuran memilik berbagai macam cabang yang sangat banyak, dan kesyirikan merupakan bagian dari cabang-cabang kekufuran tersebut yang sangat berlawanan dengan tauhid.

Kemudian sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, bahwa pangkal kesyirikan itu ada pada bentuk tasybih (penyerupaan makhluk pada penciptanya). Dan bagi orang yang menta'thil, tanpa sadar dirinya telah menyerupakan Rabbnya dengan suatu khayalan atau sebenarnya dirinya telah menjadikan -Nya dalam bagian alam khayalan, sehingga bisa dikatakan pada pelakunya, bahwa dirinya adalah seorang musyrik, yang menyekutukan Allah azza wa jalla. Bila ada yang menyangkal, "Sesungguhnya kesyirikan harus berada ditengah-tengah antara dua hal, dimana salah satu dari yang lain menjadi sekutu (serikatnya)".

Kita katakan padanya, "Sesungguhnya kesyirikan dengan cara menta'thil terkandung juga didalamnya bentuk mempersekutuan AllahShubhanahu wa ta’alla. Yaitu bisa dalam bentuk kesombongan, atau dengan ajakan jiwanya untuk menjadi sekutu bagi –Nya yaitu dengan cara memperbudak dirinya kepada hawa nafsunya". Oleh sebab itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam sebuah keterangan yang berkaitan dengan masalah ini, beliau mengatakan, "Setiap orang yang sombong maka dia adalah seorang musyrik, lihat kepada Fir'aun bagaimana dia menjadi orang yang paling sombong untuk mau beribadah kepada Allah azza wa jalla, disamping predikat sombong yang dikenakan, juga stempel musyrik telah melekat padanya.

Bahkan penelitian mendalam menyimpulkan bahwa setiap orang, semakin sombong untuk mau beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’allamaka dirinya semakin jauh terjatuh ke dalam lubang kesyirikan. Sebab setiap kali dirinya menolak untuk beribadah kepada -Nya, akan semakin menambah kebutuhan dan kefakirannya kepada AllahShubhanahu wa ta’alla, untuk dapat merealisasikan pada keinginan yang dicintainya, yang menjadi tujuan inti -yakni tujuan hati- harus menggunakan tujuan pertama, sehingga dirinyamenjadi seorang musyrik dengan sebab keingkarannya akan hal tersebut".[1]

Hal senada juga dijelaskan oleh Imam Ibnu Qoyim dalam sebuah pernyataannya, "Salah satu diantara keduanya yaitu menyekutukan Allah Shubhanahu wa ta’alladengan cara menta'thil. Yang merupakan bentuk kesyirikan yang paling buruk diantara bentuk kesyirikan yang ada, sebagaimana kesyirikan yang dilakukan oleh Fir'aun. Kesyirikan dan menta'thil adalah dua perkara yang saling berkaitan. Maka bisa dikatakan, setiap orang yang menyekutukan Allah Shubhanahu wa ta’allasama dengan mu'athil (orang yang sedang menta'thil), demikian pula sebaliknya, setiap mu'athil pasti musyrik. Namun, kesyirikan tidak melazimkan berada pada pokok menta'thil, karena terkadang orang yang menyekutukan Allah Shubhanahu wa ta’allamasih menetapkan adanya pencipta, yakni Allah Shubhanahu wa ta’allabersama dengan sifat-sifat yang dimiliki -Nya.

Tapi, bersamaan dengan itu dirinya menta'thil (meniadakan) hak tauhid pada -Nya. Maka kesimpulannya, pondasi kesyirikan serta pilar yang menjadi asas sebagai tempat untuk dijadikan rujukan dalam segala hal ialah masalah menta'thil ini".[2]Dalam kesempatan lain beliau menjelaskan dalam bentuk qasidahnya yang isinya hampir sama dengan pernyataan diatas, beliau mengatakan:

Ketahuilah sesungguhnya kesyirikan dan ta'thil

 Semenjak lahir menjadi dua bersaudara yang tak terpisahkan

Setiap orang yang menta'thil pasti menjadi musyrik

Itu adalah kepastian yang sangat jelas

Seorang hamba tertuntut pada dzat yang menghilangkan musibah

Serta mencukupi segala kebutuhannya

Segala kebutuhan dilabuhkan Kepadanya

Hanya kepadanya tempat berlindung dari ketakutan

Jika sirna sifat dan kemampuan untuk berbuat

Serta ketinggian dzat atas seluruh makhluk

Niscaya orang akan melabuhkan kepada dzat lain

Itulah efek dari sikap mengingkari tuhan dan menta'thilnya

Ada yang menta'thil sifat-sifatnya

Ada pula yang meniadakan keesaannya

Semua telah dibantah oleh para rasul

Mulai dari Nuh hingga rasul terakhir

Manusia dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok

Tidak ada yang ke empatnya

Salah satunya yang suka menyekutukan Ilah

Jika berdo'a menyeru kepada sesembahan yang lain

Inilah pengagung berhala yang masuk dalam kategori pertama

Ada lagi yang beribadah kepada selain Allah[3]

Berkata Syaikh Muhammad Khalil Haras, didalam bukunya tatkala mencoba untuk menjabarkan bait-bait diatas, "Penulis sedang menegaskan didalam lantuan bait-bait ini, bahwasannya menta'thil dan menafikan sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’allamerupakan saudara kembar kesyirikan dan melakukan peribadahan kepada berhala. Dimana keduanya, semenjak muncul, keberadaannya menjadi 2 hal yang tidak mungkin berpisah.

Dan yang terdepan ialah menta'thil yang akan mendorong untuk berbuat syirik, bahkan konsekuensi dari setiap orang yang menta'thil, sebagaimana hal ini juga merupakan konsekuensi dari pangkal keyakinan tersebut. Sehingga setiap mu'athil dan orang yang ingkar terhadap sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’allamaka dia adalah seorang yang telah menyekutukan -Nya dan sebagai penyembah thagut.

Hal tersebut, dikarenakan setiap hamba dalam kehidupan ini menghadapi dua kondisi, yaitu sisi yang baik maupun buruk. Sedangkan dia sendiri tidak mampu untuk memisahkan diri untuk bisa mendapat kebaikan dengan sendirinya, atau menolak kejelekan yang menimpanya. Oleh karena itu dia sangat butuh kepada dzat yang mampu menolak keburukan yang akan menimpanya, dan memberi kecukupan atasnya. Dzat tersebut sebagai tempat untuk menggantungkan segala kebutuhannya dengan harapan nantinya akan memenuhi kebutuhannya. Dirinya akan berlindung kepadanya dari kekhawatiran yang sedang menimpa agar melimpahkan rasa aman.

Sehingga apabila kita menafikan sifat-sifat tuhan dan perbuatannya seperti di atas ini, yang menjadi tujuan, demikian pula tatkala kita menafikan keberadaannya diatas Arsynya, maka para hamba tidak memiliki sesuatu yang bisa dijadikan sebagai tempat berlindung, bahkan mereka tidak mendapatkan apapun, karena kosong. Akhirnya mereka meminta perlindungan kepada selainnya. Dan yang menyeret mereka pada kesyirikan semacam ini, berawal dari menta'thil dan ingkar kepada Allah azza wa jalla.

Maka bagi orang yang menta'thil sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’allasesungguhnya dirinya sedang meniadakan tauhid kepada -Nya. Dua ta'thil ini sama dengan meniadakan dua perkara yang dengannya diutuslah para rasul, mulai dari rasul pertama yaitu Nuh 'alaihi sallam hingga penutup para rasul yaitu Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, disebabkan karena mengingkari dan membatalkan kedua perkara tadi. Dan manusia dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok, tidak ada kelompok yang keempatnya.

Pertama : kelompok yang menyekutukan Allah Shubhanahu wa ta’alladalam peribadahan yaitu dengan menyeru bersama -Nya sesembahan yang lain. Dan ini merupakan kesyirikan yang paling banyak dilakukan oleh orang-orang yang menyekutukan Allah ta'ala. Dimana mereka masih menetapkan keberadaan Allah azza wa jalla, Dialah Maha Esa dalam rububiyah -Nya, dalam mencipta, memberi rizki, mengurusi serta menguasainya. Akan tetapi, mereka menyertakan sesembahan yang lain bersama -Nya dalam peribadahan yang mereka kerjakan.

Kedua: kelompok yang mengingkari Allah jalla wa 'ala, ingkar terhadap keberadaan -Nya, dan sifat-sifat -Nya yang maha sempurna. Maka kelompok ini, hakekatnya tidak menyembah AllahShubhanahu wa ta’alla, namun sedang menyembah selain AllahShubhanahu wa ta’alla. Karena terkumpul dalam dirinya antara menyekutukan Allah dan menta'thilnya.

Dari dua kelompok ini diambil dua tonggak yang dibangun diatasnya kekufuran dan pengingkaran. Dan ini merupakan dua kelompok yang paling buruk, sebab orang yang menyeru sesembahan lain bersama Allah Shubhanahu wa ta’allasambil berdo'a kepada-Nya itu lebih ringan dibanding orang yang sama sekali tidak mau berdo'a kepada -Nya, tapi menyeru kepada selain -Nya".[4]

Selanjutnya dalam bait syairnya Imam Ibnu Qoyim menjelaskan:

Orang yang menafikan sifat-sifat Allah pasti melakukan kesyirikan

Dan orang yang berbuat syirik pasti sedang menafikan salah kekhususan Allah

Atau meniadakan sebagian kesempurnaan sifat

Oleh sebab itu, kalian jangan gegabah mengingkari

Dalam penjabarannya dijelaskan, "Orang yang menta'thil sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’allamaka dicap sebagai seorang musyrik, begitu pula seorang musyrik maka dicap sebagai mu'athil.   Maka hendaknya perhatikan perkara ini dan cermatilah. Dan jangan gegabah untuk menolaknya sebelum memahami dengan baik".[5]

Kemudian Imam Ibnu Qayim mengatakan:

Tapi, menta'thil lebih buruk tindakannya

Dari pada perbuatan syirik secara logika dan dalil

Sebab, seorang mu'athil hakekatnya mengingkari dzat Allah

Atau kesempurnaan yang dimiliki -Nya, dan keduanya termasuk menta'thil

Dalam syarhnya dijelaskan, "Maka apabila ta'thil, sebagaimana telah kami jelaskan, sebagai saudara kandung kesyirikan serta pengikutnya, maka seorang yang menta'thil kedudukannya lebih buruk daripada seorang musyrik, dan lebih jelek aqidahnya dibanding seorang musyrik kepada Allah jalla wa 'ala. Tuduhan ini bukanlah omong kosong yang sepi dari dalil, namun, ucapan ini didukung oleh dalil dan bukti akurat.

Sesungguhnya ta'thil terbagi menjadi dua:

Pertama: Mengingkari Dzatnya Allah Shubhanahu wa ta’alladan tidak mau menetapkan keberadaan -Nya. Ini termasuk paham ta'thil yang dianut oleh sekte Dahriyah yang mengingkari adanya pencipta, dimana mereka mengatakan, sebagaimana diabadikan oleh Allah ta'ala didalam firman -Nya:

﴿ إِنۡ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَانَحۡنُ بِمَبۡعُوثِينَ ٣٧﴾ [المؤمنون:37]

"Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi". (QS al-Mukminuun: 37).

Kedua: Menta'thil sifat-sifat -Nya yang maha sempurna sebagaimana telah tetap pada -Nya. Dan kedua jenis ta'thil semacam inimengandung konsekuensi didalamnya pencemaran hakekat uluhiyah serta celaan pada kedudukan Allah azza wa jalla".[6]

Oleh sebab itu, tatkala membicarakan ragam jenis kesyirikan, Imam Ibnu Qayim menjelaskan, "Syirik itu terbagi menjadi dua, syirik yang berkaitan secara langsung dengan dzat yang disembah, nama dan sifat serta perbuatannya.Lalu yang kedua, syirik yang berkaitan dengan peribadahan dan hubungan kepadanya.Apabila pelakunya sampai meyakini bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak mempunyai sekutu dalam dzatnya, tidak pula dalam sifat-sifat dan perbuatan -Nya".

Hingga ucapan beliau, "Syirik jenis pertama terbagi lagi menjadi dua, salah satunya, syirik ta'thil.Dan syirik jenis ini termasuk yang paling buruk dan ini terbagi lagi menjadi tiga, menta'thil hasil ciptaan dari pembuat dan penciptanya.Yang kedua, menta'thil pencipta dari kesempurnaan yang suci, yaitu dengan menta'thil nama-nama dan sifat-sifat serta perbuatan -Nya.Ketiga, menta'thil interaksi bersama -Nya yang wajib ditunaikan oleh seorang hamba yang merupakan hakekat tauhid. Dan syirik jenis kedua yaitu menyekutukan Allah Shubhanahu wa ta’alladengan cara mengambil tandingan bersama -Nya tanpa menta'thilnya".[7]

Hal senada juga dikatakan oleh al-Miqrizi, "Syirik terbagi menjadi dua, syirik yang berkaitan dengan dzat yang disembah (Allah), nama-nama dan sifat-sifat -Nya serta perbuatan -Nya.Yang kedua, syirik yang ada pada peribadahan dan hubungan antara hamba bersama Rabbnya.

Adapun syirik jenis pertama, maka inipun terbagi lagi menjadi dua; Salah satunya, syirik dengan cara menta'thil, dan ini merupakan jenis syirik yang paling jelek, seperti kesyirikan yang dilakukan oleh Fir'aun. Dan kesyirikan seperti ini terbagi lagi menjadi tiga:

Pertama: Menta'thil hasil ciptaan dari penciptanya.

Kedua: Menta'thil pencipta dari sifat kesempurnaanya yang telah melekat padanya.

Ketiga: Menta'thil hubungan yang wajib ditunaikan oleh seorang hamba dari menyempurnakan hakekat tauhid.

Dari ushul inilah pokok ideologi yang dianut oleh paham wihdatul wujud.Begitu pula dikolaborasi oleh para atheis yang menegaskan bahwa alam semesta sudah ada dengan sendirinya serta abadi tanpa mengalami kehancuran pada hari kiamat. Bercabang pula dari ushul ini kesyirikan yang muncul dari mu'athilah yang meniadakan nama-nama dan sifat-sifat AllahShubhanahu wa ta’alla, semisal sekte Jahmiyah, Qaramitah dan Mu'tazilah yang berpaham ekstrim.

Sedangkan yang kedua: Syirik dengan cara menyerupakan. Syirik ini banyak dianut oleh orang yang menjadikan sekutu bersama  -Nya dengan mengambil sesembahan yang lain. Semisal, kesyirikan yang dilakukan oleh Nasrani terhadap Isa putera Maryam, Yahudi terhadap Uzair, Majusi yang membikin statmen penyandaran kejadian baik terhadap cahaya dan kejadian buruk kepada kegelapan.Dan kesyirikan yang dilakukan oleh Qadariyah dan Majusiyah berkisar pada hal ini".[8]

Dari penjelasan ini kita menjadi paham bahwasannya ta'thil termasuk perbuatan menyekutukan AllahShubhanahu wa ta’alla. Bahkan para ulama memasukan dalam jenis kesyirikan yang paling buruk.Dengan melihat pada cabang-cabang jenis kesyirikan ini dan keberadaanya pada zaman modern ini maka pembahasan kita akan lebih terfokus pada beberapa perkara, yaitu:

Pertama: Penjelasan tentang syirik dalam rububiyah dengan cara menta'thil hasil ciptaan dari pencitpanya.

Kedua: Penjelasan tentang syirik dalam rububiyah dengan cara menta'thil pencipta (Allah) dari kesempurnaan yang maha suci, yaitu dengan menta'thil nama, sifat dan perbuatan -Nya.

Ketiga: Penjelasan tentang syirik dalam rububiyah dengan cara menta'thil kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang hamba dari menyempurnakan hakekat tauhid.

Maka paragraf-paragraf berikut ini sebagai bentuk perincian dari masing-masing sub pembahasan tadi, yang akan kita studikan dalam pembahasan yang lebih terfokus lagi, berikut penjelasannya:

 Pertama: Penjelasan tentang syirik dalam rububiyah dengan cara menta'thil hasil ciptaan dari pencitpanya.

Sebagaimana telah kita sebutkan sebelum ini, bahwa jenis kesyirikan semacam ini tidak lah banyak dianut oleh umat manusia melainkan segelintir saja dari kalangan bani Adam dari zaman dahulu kala.Dan tidak ada yang mendorong mereka untuk ingkar kepada Allah ta'ala dalam perkara ini melainkan karena kesombongan dan sikap keras kepala yang mereka lestarikan tanpa ada bukti dan dalil yang mendukungnya. Seperti yang Allah ta'ala singgung didalam firman -Nya:

﴿وَمَالَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ  إِنۡ هُمۡ  إِلَّايَظُنُّونَ ٢٤﴾ [ الجاثية: 24]

"Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja". (QS al-Jaatsiyah: 24).

Dan sebelumnya pula, telah kami nukilkan tentang beberapa kelompok yang terkenal menganut pada paham kesyirikan jenis ini dari kalangan bani Adam serta orang-orang yang terpengaruh dengan ideologinya orang Jahiliah pada pembahasan yang lalu.Sehingga tidak pernah terlintas dalam benak seseorang adanya kesyirikan jenis ini didalam tubuh umat ini (umat dakwah), karena banyak sekali prasarana ilmu yang bisa mendorong mereka untuk mengetahui dan sampai pada keimanan.Akan tetapi, sangat disayangkan ternyata kesyirikan jenis ini justru banyak didapati dikalangan generasi umat ini, mereka telah terjatuh didalamnya. Berikut akan saya sebutkan beberapa kelompok yang memiliki paham syirik jenis ini, pada materi berikut:

 Pertama: Ideologi Komunis.

Ideologi yang dipegang oleh orang komunis, salah satunya ialah mengingkari keberadaan Allah azza wa jalla dan segala perkara gaib, mereka juga mengatakan bahwa material adalah asas terwujudnya segala benda dan perkara. Dan di antara semboyan dan syiar mereka ialah kami mengimani tiga perkara, Marks, Lenin dan Stalin. Kami juga mengingkari tiga hal, adanya AllahShubhanahu wa ta’alla, agama dan kekuasaan khusus -sungguh ucapan yang penuh dengan kesombongan dan kedustaan-.

 Kerancuan ideologi komunis secara global serta bantahannya.

Jika kita perhatikan kerancuan ideologi komunis dalam keyakinan atheis yang dianutnya maka bisa kita simpulkan sebagai berikut:

1.          Ucapan mereka yang mengatakan, azalinya sebuah material atau alam, yang dikatakan keduanya memiliki sifat abadi. Karena segala wujud benda, apapun jenisnya merupakan hasil dari kumpulan sebuah material.

2.          Keyakinannya, adanya evolusi pada benda atau perkembangan material yang akhirnya membentuk sebuah kehidupan.

3.          Pendapatnya yang mengatakan bahwa adanya alam semesta ini hanya kebetulan saja.

Kerancuan-kerancuan seperti tadilah yang banyak dipegang oleh paham komunis sebagai usaha untuk mengingkari Allah azza wajalla. Berikut ini akan kami paparkan syubhat-syubhat mereka satu persatu dengan dalil yang mereka pegangi, dibarengi dengan bantahan atas kerancuan tersebut, sehingga kita bisa lebih yakin insya Allah.

 Syubhat pertama: Ucapannya yang mengatakan bahwa material adalah bersifat azali dan kekal abadi.

Sebelum kita masuk dalam bantahan atas syubhat mereka ini, maka ada baiknya kita terangkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan material (unsur sebuh benda ini), serta sifat yang diberikan oleh mereka, sehingga kita mampu menjawabnya secara detail tanpa menyisakan celah sedikitpun bagi mereka untuk berkelit.

Definisi Maadah (material, unsur benda, elemen) menurut Stalin:

Stalin memberikan definisi kepada ini dengan ucapannya, "Dia adalah ucapan yang diadopsi dari filsafat yang digunakan untuk mendefinisikan hakekat suatu masalah yang diberikan oleh manusia untuk menentukan detailnya, baik dalam penukilan, gambaran, ilustari, atau sinonim yang ada pada suatu benda dengan memberikan ilustrasi bebas yang bisa dipahami oleh panca indera".[9]

Atas dasar definisi ini, yang dianggap oleh mereka cukup mewakili deskripsi kata Maadah secara sempurna, untuk menjelaskan seluruh pengertian setiap wujud benda, semisal bunga, rumah, pohon, atau yang lainnya -sebab setiap benda yang ada wujudnya tentu ada pengertiannya-, di sini kata Maadah didefinisikan secara khusus yang dapat diketahui sebelum melihat dan merasakan efeknya. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa ilmu filsafat adalah sebuah metode yang mempelajari pengertian dan definisi suatu kata atau benda secara mendalam dan sempurna hingga pada pengertian yang paling rinci sekalipun.

Dalam definisi diatas, secara bebas bisa dipahami bahwa hasil studi menyimpulkan secara defakto kalau kata ini adalah kata yang diadopsi dari ucapan ahli filsafat. Dan sebagaimana kata Maadah ini dipelajari secara sempurna hingga pada pengertian yang paling rinci sekalipun, tapi tetap menunjukan bahwa asas ini dibikin dengan cara mengadopsi dari ucapannya ahli fisafat. Fungsi dari ilmu ini ialah mendefinisikan hakekat sebuah masalah.Yakni hakekat wujud suatu benda yang bersifat jasmani bukan yang bersifat konsepsi, yaitu benda yang mampu memberi efek langsung pada anggota inderawi manusia dan bisa dirasakan oleh panca indera.

Jika demikian pengertiannya maka akal pikiran adalah lawan dari material yang berada pada otak manusia. Yang bisa digunakan untuk berfikir tentang apa itu maadah yang bertolak belakang dengannya, dan sebelum pemantulan maadah ini menuju otak tentu tidak ada yang namanya sebuah pemikiran. Maka kesimpulannya maadah ialah perkara yang lebih dahulu ada dari pada pemikiran, ini semua menurut mereka.[10]

Setelah kita mengetahui arti maadah ini yang memberi sinkronisasi –menurut mereka- lebih dahulu ada sebelum munculpemikiran, berikut akan saya nukilkan pendapat mereka berkaitan dengan azaliyahnya maadah dan abadinya. Orang-orang yang berpaham materialisme mengatakan, "Maka dengan ini, tidak ada bagi alam semesta ini kata berakhir tidak pula mempunyai batasan. Jagad raya adalah sebuah alam yang kekal abadi tidak mempunyai waktu permulaan dan tidak akan mengalami waktu berakhir, dari sini, bisa disimpulkan bahwa setiap alam gaib (supranatural) maka tidak termasuk dalam deretan sifat duniawi sehingga tidak ada dan tidak mungkin pernah ada.

Dalam fenomena nyata, jika tidak ada suatu benda pun melainkan dari unsur materi, maka tidak dijumpai lagi selain dunia yang bersifat materi, ini berarti menunjukan, bahwa ketika ada wujud suatu benda dan bentuk yang berbeda-beda di alam yang mengitari kita  maka disana ada kekhususan yang menyatu menjadi satu yaitu tinggal tersisa materinya".[11]Maka, tidak ada sesuatu –mengikut pada ungkapan mereka- kecuali tinggal dunia materi.Tidak mungkin ada disana yang dinamakan dengan alam untuk arwah atau hari akhir, sebagaimana dibawa oleh kebanyakan ideologi agama samawi.

Seorang manusia, menurut pandangan mereka, tercipta dari hasil gugusan materi semata, tidak lebih daripada itu, dan unsur benda yang bernama material inilah yang telah membentuk dan menciptakan dirinya.Maadah ini mempunyai sifat-sifat khusus yang dimiliki oleh pencipta, dan tidak ada disana yang dinamakan dengan dunia gaib, karena alam semesta terbatas pada material yang bisa ditangkap oleh indera.

Bahkan, tidak cukup sampai disitu mereka mengingkari keberadaan Allah Shubhanahu wa ta’alla, mereka begitu keblinger sampai mengatakansecara terang-terangan bahwa keberadaan Allah Shubhanahu wa ta’allahanyalah hasil kreasi khayalan manusia. Masalahnya bukan pada masalah keberadaan -Nya, namun, pangkal masalahnya ada pada pemikiran ada tidaknya AllahShubhanahu wa ta’alla.[12]

Dari sini kita mengetahui, bahwa prinsip dasar yang menjadi pijakan mereka yaitu bahwa Allah Shubhanahu wa ta’allatidak mampu memberi efek apapun, dan provokasi perdebatan yang berkaitan dengan wujudnya Allah Shubhanahu wa ta’allamenjadi perkara yang tidak berfaedah sama sekali, disebabkan mereka punya satu standar pemikiran yang tidak mungkin berubah yaitu bahwa dibelakang alam materi adalah khayalan dan omong kosong belaka.

Maadah ini adalah pokok segala sesuatu, terkadang datang bermakna naturalisme sebagaimana natural itu sendiri bermakna maadah.Adapun ucapan mereka tentang langgengnya material, maka mereka memberi teori dengan pernyataannya, "Sesungguhnya di alam ini tidak ada yang mampu menimbulkan sesuatu yang tidak ada, tidak bisa melahirkan (sesuatu) selama-lamanya tanpa ada efek yang bisa dirasakan, jika perkaranya seperti itu maka maadah atau alam itu akan senantiasa ada selama-lamanya.

Karena, misalkan benar bahwa suatu ketika ada suatu masa yang dimana tidak dijumpai lagi sesuatu apapun di alam ini, yakni tidak dijumpai adanya unsur benda, lalu dari mana unsur benda itu muncul? Akan tetapi, tidak mungkin unsur benda itu hilang, ini berarti bahwa unsur benda tersebut tidak muncul pada suatu waktu, namun, dirinya senantiasa ada dengan sendirinya, dan akan tetap ada dan kekal abadi.Oleh sebab itu material ini tidak mungkin diciptakan, dan tidak mungkin menciptakan sesuatu yang tidak akan binasa, berdasarkan hal ini maka material tidak mungkin diciptakan selama-lamanya, justru dirinya ada dan akan senantiasa ada, itulah yang dinamakan kekekalan abadi".[13]

Intinya, materi adalah unsur benda yang kekal abadi.Tidak diciptakan dari materi yang tidak ada sebelumnya, sebab tidak mungkin ada materi yang diciptakan dari unsur yang tidak bisa punah.Oleh karenanya tidak boleh mempersoalkan tentang permulaan material dan kapan berakhirnya, sebab efeknya bisa dirasakan secara jelas.Demikian pula gerakan juga mustahil diciptakan dan musnah, karena hasil dari produksi unsur benda.

Fredrick Angel mengatakan, "Unsur benda tanpa gratifitas adalah perkara yang tidak bisa dicerna oleh akal, begitu pula sebaliknya.Jadi, gratifitas merupakan perkara yang mustahil diciptakan diluar unsur benda dan bisa sirna sebagaimana unsur benda ini, juga mustahil dengan sendirinya diciptakan dan musnah".[14]

 Bantahan atas syubhat ini:

Sebelum kita mulai membantah syubhat mereka, saya ingin menyampaikan disini tentang asas pemikiran mereka yang dijadikan sebagai pijakan tentang teori maadiyah (materialisme) ini.Sesungguhnya asas pemikiran konsep materialisme ini yang diusung oleh paham komunis berada pada pembatasan definitive konsep maadah tadi.

Pemikiran ini, walaupun tumbuh dan berkembang di masyarakat Eropa pada abad ke tujuh belas, namun ternyata ini adalah sebuah pemikiran lawas yang pernah dicuatkan oleh anak manusia pada zaman dahulu kala semenjak munculnya penyelewengan aqidah pada umat manusia. Sehingga bisa disimpulkan bahwa pemikiran ini merupakan buah adopsi dari paham lama yang diusung oleh kelompok materialisme dan atheisme pertama yang mengusung pemikiran ingkar terhadap hari kebangkitan dengan menisbatkan kematian pada masa sebagai ganti penisbatan pada Allah ta'ala, hal ini, sebagaimana di isyaratkan oleh Allah ta'ala didalam firman -Nya:

﴿وَقَالُواْ مَاهِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّاٱلدَّهۡرُۚ٢٤﴾ [الجاثية: 24]

"Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa". (QS al-Jaatsiyah: 24).

Begitu juga, kebanyakan para penentang rasul adalah orang-orang yang menganut paham materialisme. Oleh karena itu, engkau bisa melihat bagaimana mereka begitu ambisius dalam meraih materi lalu mengingkari adanya hari kebangkitan serta hari kiamat. Mereka berpikiran bahwa ganjaran yang akan diperoleh oleh anak manusia hanya terbatas pada kenikmatan mereka menikmati perhiasan dunia semata. Sinyalemen itu bisa kita tangkap dari firman Allah Shbhanahu wa ta’alla berikut ini, Allah mengatakan:

﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِي قَرۡيَة مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُمبِهِۦ كَٰفِرُونَ٣٤  وَقَالُواْ نَحۡنُ أَكۡثَرُ أَمۡوَٰلا وَأَوۡلَٰدا وَمَانَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ٣٥﴾ [ سبأ: 34-35]

"Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya Kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya". Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan Kami sekali-kali tidak akan diazab". (QS Saba': 34-35).

Begitu juga bisa kita tangkap didalam firmanNya yang lain, Allah mengatakan:

﴿ أَيَعِدُكُمۡ أَنَّكُمۡ إِذَامِتُّمۡ وَكُنتُمۡ تُرَابا وَعِظَٰمًا أَنَّكُم مُّخۡرَجُونَ ٣٥ ۞هَيۡهَاتَ هَيۡهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ ٣٦ إِنۡ هِيَ إِلَّاحَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوثِينَ ٣٧﴾ [ المؤمنون: 35-37]

"Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu Sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu). Jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu. Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi". (QS al-Mukminuun: 35-37).

Sebagaimana yang diabadikan oleh al-Qur'an tatkala mengkisahkan ucapan kelompok materialisme diawal-awal munculnya agama Islam. Allah ta'ala mengatakan:

"Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami, atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca". Katakanlah: "Maha suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?". (QS al-Israa': 90-93).

Sungguh al-Qur'an telah menjelaskan, bahwa tuntutan yang diminta oleh pemilik paham materialisme sebagai ganti mau membenarkan ajaran yang dibawa oleh rasul terakhir bukanlah perkara aneh yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia. Namun, kejadiannya hampir sama dialami oleh para penggemban risalah pada umat-umat dahulu. Hal ini bisa kita lihat dari firman Allah Ta’ala yang mengkisahkan hal tersebut. Allah ta'ala berfirman:

"Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa". (QS al-Baqarah: 118).

Maksudnya, hati-hati kaum musyrikin Arab serupa dengan hati-hati yang dimiliki oleh orang kafir sebelum mereka yang keras kepala. Begitu juga Allah Shbhanahu wa ta’allasinggung didalam firman         -Nya:

﴿يَسۡ‍َٔلُكَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ أَن تُنَزِّلَ عَلَيۡهِمۡ كِتَٰبا مِّنَ ٱلسَّمَآءِۚ فَقَدۡ سَأَلُواْ مُوسَىٰٓ أَكۡبَرَ مِن ذَٰلِكَ فَقَالُوٓاْ أَرِنَا ٱللَّهَ جَهۡرَة فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّٰعِقَةُ بِظُلۡمِهِمۡۚ ١٥٣﴾ [النساء: 153]

"Ahli kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir karena kezalimannya". (QS an-Nisaa': 153).

Hal senada juga Allah Shbhanahu wa ta’allasebutkan dalam firman -Nya yang lain, yang bebunyi:

﴿كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ ٥٢ أَتَوَاصَوۡاْ بِهِۦۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡم طَاغُونَ ٥٣﴾ [ الذريات: 52-53]

"Demikianlah tidak seorang Rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila". Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas". (QS adz-Dzariyaat: 52-53).

Pola pikir mereka semua sama, ucapan generasi belakangan sama persis dengan ucapan para pendahulunya tak ada yang berbeda. Yang nampak secara dhohir, bahwa konsep mereka lebih menitik beratkan pada materi, dan mengingkari sesuatu yang tidak bisa diraba dan dilihat. Mereka tidak pernah mengenal yang namanya rasa puas dan cukup.[15]

Tapi, jika diperhatikan secara seksama ada beberapa sisi perbedaan antara atheis zaman dahulu dengan atheis di era modern zaman sekarang. Diantara yang paling mencolok yaitu:

Pertama: Yang dimaksud dengan atheis ialah paham yang asasnya mengingkari keberadaan Allah Shbhanahu wa ta’allasecara mendasar -inilah arah pemikiran mereka yang paling jelas yang banyak dianut oleh orang atheis era modern sekarang-, yang justru tidak nampak secara mencolok dan menyebar secara luas pada orang atheis zaman pertama. Tapi, yang populer atheis mereka lebih pada makna kesyirikan yaitu dengan memberikan kekhususan uluhiyah kepada selain Allah azza wa jalla. Lalu menyekutukan –Nya bersama sesembahan yang mereka jadikan sebagai sekutu bagi Allah ta'ala.

Memang benar kalau atheis dahriyah pahamnya sudah sangat tua dan sudah ada pada masa lampau –sebagaimana kami isyaratkan diatas- tapi, mereka sangat sedikit, boleh dibilang minoritas plus ditambah perbedaan pendapat yang ada ditengah-tengah mereka dalam masalah ini. Dan kelompok tersebut bisa diklasifikasikan menjadi dua aliran[16]:

Pertama: Ahli filsafat yang beraliran atheis ingkar tuhan. Yang mengatakan kekalnya alam semesta. Diantara tokohnya adalah Aristoteles dan para pengikutnya. Mereka tidak pernah mengatakan, bahwa unsur benda dialah yang menciptakan, tapi yang ada mereka menetapkan bagi jagad raya ada penyebab yang menjadikan terbentuk serupa dengan alam semesta[17].

Kedua: Ahli filsafat yang beraliran dahriyah atheis atau sering di istilahkan dengan nama filsafat alam. Kelompok inilah yang ucapannya di nukil oleh Allah didalam firman -Nya:

 ﴿ وَقَالُواْ مَاهِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ ٢٤﴾ [الجاثية: 24]

"Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa". (QS al-Jaatsiyah: 24).

Paham ini hampir mirip pada beberapa sisi dengan paham komunis yang ada di era sekarang. Dan ucapan mereka telah dibantah secara langsung oleh Allah ta'ala didalam firman -Nya:

﴿وَمَالَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ  إِنۡ هُمۡ  إِلَّايَظُنُّونَ ٢٤﴾ [ الجاثية: 24]

"Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja". (QS al-Jaatsiyah: 24).

Maksudnya, mereka hanya menerka-nerka saja serta mengkhayalkannya. Paham mereka ini sama sekali tidak disandarkan pada bukti dan ilmu yang yakin, tapi, hanya sekedar praduga saja dan terkaan belaka[18].

Akan tetapi, ideologi komunis yang ada dewasa ini, walaupun mempunyai sisi kesamaan dari pola pikir yaitu dari segi ingkar terhadap tuhan, namun, mereka memiliki perbedaan mencolok pada beberapa sisi dengan yang pertama -sebagaimana nanti akan kita jelaskan-.

Kedua: Paham atheis yang ada pada zaman ini ialah paham yang asasnya didasari dengan ingkar pada keberadaan AllahShbhanahu wa ta’alla. Sebuah ideologi baru yang menyebar secara luas pada era modern ini di negeri-negeri Eropa sebagai pola pikir baru, lalu dilanjutkan dengan adanya Negara yang menjadikan sebagai ideologinya, dan negara yang turut serta mengkampanyekannya. Bahkan, mereka memerangi negeri-negeri Islam hingga ada sebagian mereka yang berteriak lantang untuk mengkampanyekan dan menyebarkan pemikiran sesatnya tersebut.

Ketiga: Sesungguhnya paham atheis yang ada pada zaman ini, menggunakan sarana ilmu pengetahuan modern. Dengan klaim bahwa hal tersebut lebih ilmiah dan semakin mendukung riset ilmu pengetahuan.

Hal itu, dikarenakan pakaian yang dikenakan oleh penganut paham materialisme, baik generasi pertama maupun yang ada pada era modern sekarang ini ialah sama yaitu sama-sama tertumpu pada materi sebagai elemen yang bisa dilihat dan diraba bukan suatu hipotesa yang sulit diraba. Sehingga mereka meletakan pola pikir ilmiah untuk menggambarkan sesuatu yang bisa diletakan pada ruang uji coba, yang semua bisa dibuktikan dengan analisis. Dan sebaliknya, sesuatu yang tidak bisa diangkat dalam ruang uji coba maka tidak dinamakan sebagai ilmu pengetahuan, menurut mereka.

Dari situlah mereka berusaha menjauhkan prinsip-prinsip agama dan perkara gaib dari forum kajian dan penelitian ilmiah, dikarenakan tidak adanya bukti akurat menurut mereka.Bahkan perkaranya lebih lanjut dari sekedar itu, dimana bagi sebagian besar ilmuwan Eropa meyakini bahwa agama tidak lebih dari khurafat, sehingga mereka menolak mentah-mentah keyakinan iman kepada AllahShbhanahu wa ta’alla dengan argumen ilmu pengetahuan telah menolaknya.

Mereka membenci para juru dakwah secara khusus dan pada agama Islam secara umum, bahkan ideologi dan pemikiran ini perkaranya sampai pada tingkatan menjadi modul pada kebanyakan universitas-universitas di negeri Islam, terkadang memakai istilah filsafat, atau geologi, atau ekonomi modern dan yang lainnya.[19]Pola pikir diatas barangkali bisa kita bantah menjadi beberapa poin, diantaranya:

1.         Kurang konsisten pada metodologi tertentu.

Ini bisa ditinjau dengan berbagai alasan, diantaranya yaitu:

·       Plin-plan dalam memberi definisi kepada kata maadah (material).

Sebelumnya telah kita nukilkan definisi maadah, mengacu pada pengertian yang mereka buat. Yang akhirnya definisi tersebut juga diamini oleh orang komunis, tapi kemudian mereka meralat kembali definisi tersebut sambil mengatakan, "Yang dimaksud dengan maadah ialah benda abstrak diluar kekuatan energi".

Coba bandingkan dengan ucapan mereka sebelumnya, tatkala memberi definisi maadah ini, awalnya mereka mendefinisikan maadah dengan, "Segala sesuatu yang bisa ditangkap dengan panca indera". Mereka membatasi elemennya hanya terbatas pada empat perkara, yaitu, air, angin, tanah dan api.

Ketika didebat, maka orang yang berpaham materialisme biasanya akan memukul meja dengan tangannya secara kasar, untuk menjelaskan teorinya yang bisa diraba,  atau menginjak tanah dengan kakinya, sembari berkata pada orang yang mendebatnya, "Inilah hakekat (benda), yang bisa saya tangkap melalui indera saya, dengan tangan, kaki, atau yang saya lihat melalui kedua mataku, atau yang saya dengar lewat kedua telinga".[20]

Kemudian setelah riset-riset ilmiah semakin berkembang, penelitian dan ilmu uji coba terus menyebar pada era belakangan ini, yang dibarengi dengan menyebarnya pula hukum-hukum gratifasi benda dan cahaya, serta konsep-konsep lainya yang lebih dikenal dengan hukum positif.

Dimana ilmu sains modern lebih maju daripada ilmu pengetahuan yang hanya sekedar mengandalkan daya tangkap panca indera, sampai akhirnya ditemukan dalam riset ilmiah mereka tentang molekul terkecil yaitu atom.

Hal itulah yang mendasari mereka untuk segera meralat ungkapan dalam mengistilahkan kata maadah yang sebelumnya mereka jadikan sebagai pegangan, mereka meralat definisi maadah menjadi, "Benda abstrak diluar kekuatan energi.[21]

·       Mereka meralat kalau material sudah lebih dahulu ada dari pada sebuah pemikiran.

Pada awalnya orang-orang komunis mengatakan bahwa material sudah lebih dulu ada dari pada pikiran. Tujuan yang ingin mereka capai dari konsep ini ialah mengingkari perkara-perkara gaib karena termasuk perkara yang teorisme. Makanya dikatakan maadah sudah lebih dulu ada daripada teori. Sehingga jangan memikirkan tentang maadah, karena asalnya adalah maadah.

Akan tetapi mereka buru-buru meralat pernyataan tersebut yang mengatakan maadah lebih dahulu ada daripada teori.

Para pengamat pemikiran Markisme dalam penyimpulan asas pemikirannya mengatakan, "Sesungguhnya pergerakan otak atau pikiran secara khusus, lebih istimewa daripada sebuah materi. Akan tetapi, keistimewaannya tidak dalam bentuk dan dari bentuk unsur benda.

Pada pokok permasalahan ilmu filsafat menentang adanya pikiran itu sama seperti menolak adanya maadah, dan menentang adanya roh sama seperti menolak fisika. Maka yang dimaksud dengan maadah ialah segala benda yang ada diluar konteks akal pikiran serta tidak terhenti pada akal saja. Oleh sebab itu, suatu kekeliruan besar jikaberanggapan bahwa pikiran termasuk bagian dari maadah, pada waktu yang bersamaan bisa dianggap bahwa tauhid berada pada pemikiran dan maadah, dari prinsip-prinsip materialisme yang komprehensif".[22]

Jadi, orang-orang komunis telah mensifati sendiri konsep materi pada abad kesembilan belas yang menjadi tonggak berdirinya paham Markisme dan Komunisme yang dibangun diatas pondasinya, dimana mereka menyamakan antara konsep materi dan teori. Menganggap bahwa teori adalah bentuk perkembangan dari bentuk-bentuk materi sebagai akibat dari pantulan pertengahan materi. Mereka mensifati ucapan ini sebagai prinsip yang komprehensif.

Dari sini kita bisa melihat, bagaimana bentuk plin-plannya mereka didalam mendefinisikan pikiran (teori), sebagian mereka menganggap bagian dari materi, sebagian lain memasukan pada gabungan antara materi dan pikiran, dan menganggapnya sebagai definisi yang paling universal. Sekarang kita ingin bertanya pada kalian, "Mana yang benar menurut kalian tentang masalah ini? Apakah keduanya hakekatnya satu, atau keduanya mempunyai perbedaan?

·       Mereka juga meralat ucapannya jika material sebagai asal segala sesuatu.

Yaitu, tatkala di abad kedua puluh muncul ledakan atom, dan ilmuwannya berusaha merubah maadah menjadi alat kekuatan, sehingga membuka pada masalah ini definisi-definisi baru tentang maadah. Diantaranya, dikatakan maadah hanya partikel-partikel energi yang berbeda-beda. Sebagian ulama mereka mengatakan, "Sesungguhnya maadah susunan dari proteinesme dan elektronisme. Maksudnya lemak yang dihasilkan dan diperoleh dari proses pembakaran".

Manakala pengertian maadah berubah maka mereka berpendapat tidak benarnya ucapan bahwa maadah sebagai asas dari segala sesuatu. Bahkan, telah berhasil diungkap belakangan ini bahwa material pada dasarnya ialah energi dengan elemen khusus yang dimilikinya sehingga membentuk sebuah material kecil.

Sehingga mereka mengatakan, "Bagaimana perkaranya? Bisa kita katakan tentang material pengertianya telah berubah pada energi yang menjadi sumber material tersebut". Itulah yang dilakukan oleh Lenin.[23]

Dari pemaparan diatas berkaitan dengan definisi material, dan nukilan ucapan-ucapan mereka yang berkaitan denganya, kita bisa menarik kesimpulan bahwa material yang dikatakan oleh orang komunis dan atheis, yang dengan teori tersebut mereka membangun asas pemahamannya, definisinya telah berubah total. Hingga tidak masuk dalam pengertian yang komprehensif yang dahulunya orang-orang komunis begitu mendewakannya. Sebab material pada abad kedua puluh telah berubah menjadi sebuah energi (yaitu atom, sebagai elemen benda yang terkecil).

Sebagaimana telah diumumkan belakangan ini hasil riset yang telah ditemukan kepada publik, bahwa suatu benda keras yang kita sentuh dan lihat tidak lain adalah susunan dan kumpulan dari pembakaran energi dan elektronik.[24]Bahkan dunia material yang terkumpul di sebuah gunung, sungai, tanah, pohon dan seterusnya yang bisa kita saksikan melalui panca indera kita, semuanya merupakan partikel-partikel kecil yang tertahan dari cahaya elektronik kecil yang senantiasa bergerak.

Dengan ini kita telah menyelesaikan bantahan yang mengatakan bahwa material merupakan asal dari segala benda, yang dengan sendirinya sebagai kritikan atas ucapan mereka tentang azaliyah dan abadinya sebuah materi.

 Tidak adanya bukti autentik yang mendukung akan kelanggengan dan azaliyahnya materi.

Sesungguhnya orang-orang atheis tatkala diarahkan pertanyaan pada mereka –yang menjadi tantangan bagi mereka- siapa yang menciptakan material? Maka mereka akan menjawab, "Sesungguhnya ilmu pengetahuan menetapkan bahwa material telah ada semenjak dahulu kala". Kita mengarahkan pertanyaa kepada mereka tentu harus ada jawaban untuk mendukung dan membuktikan klaim tersebut. Yaitu, mana dalil ilmiah autentik yang membuktikan kebenaran pendapat kalian kalau partikel materi sudah ada semenjak zaman dahulu kala.

Semua yang kalian sebutkan berkaitan dengan dalil-dalil yang kalian klaim bahwa partikel lebih dahulu dari pikiran, serta mengatakan partikel tidak diciptakan dari sesuatu. Sehingga sampai pada kesimpulan sesuatu yang tidak mungkin musnah tentu tidak perlu diciptakan.

Inilah tiga syubhat yang didengung-dengungkan oleh mereka, yang bila diperhatikan tidak ada melainkan terkaan dan persangkaan yang tidak dibangun diatas satupun dalil autentik yang ilmiah.Bagaimana mungkin kalian mau mempercayai dengan teori-teori semacam ini sedangkan kalian sendiri membangunya diatas terkaan dan persangkaan belaka, lalu kalian menolak mengimani adanya pencipta yang maha pencipta sedangkan efeknya bisa dirasakan secara jelas dan gamblang!

 Kontradiksinya metode komunis dengan metodologi ilmiah.

Yaitu, bahwa filsafat yang dianut paham materialisme ialah filsafat ilmiah semata yang selaras dengan seluruh disiplin ilmu pengetahuan. Dan diantara tugas metedologi ilmu sains –sebagaimana ma'ruf- hanya terbatas pada dunia partikel saja, tidak lebih menjerumus pada pembahasan dibelakangnya, sebab sarana yang dijadikan sebagai sandaran hanya riset dan ingkar kepada AllahShbhanahu wa ta’alla. Ini merupakan sarana dangkal yang menjadikan sulit bagi mereka untuk mengetahui siapa pencipta dibalik dunia material.

Terlebih lagi, sarana yang mereka tempuh ini tidak punya kekuatan untuk menafikan atau menetapkan. Maka kewajiban bagi Markisme dan Komunisme untuk konsisten didalam memegang metodologinya jangan kebablasan, seharusnya mereka lebih fokus pada studi dan riset tentang dunia materi dan mengabaikan yang lain, akan tetapi, mereka menjeburkan diri pada perkara yang berada diluar kapasitasnya dan jalurnya. Yaitu masuk dalam alam gaib, tapi, mengingkari keberadaan Allah azza wa jalla.

 Kontradiksi konsep material -yang diklaim oleh mereka azali- dengan kekhususan yang dimiliki oleh benda azali yang telah diketahui oleh semua orang yang berakal, dan tentunya oleh orang-orang komunis.

Sesungguhnya sifat azali (yaitu kekekalan benda tanpa disertai permulaan. Pent) sebagaimana telah disepakati oleh semua orang yang berakal harus terpenuhi beberapa syarat berikut:

Pertama: Keberadaan dzatnya harus sesuai dengan dzatnya. Artinya, dia tidak membutuhkan pada keberadaan, wujudnya, dan keberlangsungannya dari benda lain, dirinya tidak bisa dipengaruhi oleh benda lain, baik dari segi yang menjadikan dirinya ada, atau merubahnya menjadi benda lain, atau menjadikan dirinya sirna.

Kedua: Hendaknya sudah ada lebih dahulu tanpa didahului dengan permulaan, sebab jika dia didahului dengan permulaan, dirinya akan berubah menjadi sesuatu yang baru yang tadinya tidak ada, sehingga gugur stempel azaliyah pada dirinya.

Ketiga: Hendaknya dia tetap awet tanpa mengalami kepunahan. Sebab kalau dirinya mempunyai batas, maka ini tentunya menunjukan adanya pihak lain yang menjadikan dirinya bisa sirna.

Dan orang-orang materialisme secara umum menyepakati syarat-syarat wajib ini, untuk mengatakan suatu benda azali. Akan tetapi, mereka berusaha berpaling ketika mengaplikasikan kepada material, dimana mereka tetap ngotot kalau material mempunyai sifat azali[25]. Apakah memang betul kalau material seperti yang mereka sangka itu? Berikut jawabannya, yang ada pada poin atas jawaban syubhat mereka yang kelima dan setelahnya.

 Bukti autentik menjelaskan, bahwa alam semesta dan material adalah seuatu yang baru.

Bukti-bukti ini, barangkali bisa kita gabungkan menjadi dua bagian:

Kelompok pertama: Bukti-bukti akal yang digunakan oleh ahli filsafat kuno.

Pokok dalil ini ialah menetapkan kejadian baru bagi semesta alam dengan menggunakan perubahan yang nampak jelas bagi benda-benda yang ada diatasnya. Hal tersebut, karena perubahan termasuk bentuk kejadian baru bagi rupa, fisik, dan sifat. Dan kejadian baru ini harus ada alasan mendasar yang jelas, dan alasan-alasan ini yang senantiasa bersambung bagi perubahan-perubahan yang ada pada akhirnya akan mengantarkan pada satu titik yang dengannya akan menguatkan bagi kita bahwa alam semesta ada awal permulaannya dari segi sifat ataupun hamparanya sangatlah luas, dari sisi dzat ataupun partikelnya.

Dan tatkala kita telah sampai pada hakekat ini tentunya kita semakin kuat menetapkan bahwa disana ada pencipta yang punya sifat azali –yang tidak boleh disifati dengan sifat-sifat yang mengandung konsekuensi baru ada-. Pencipta inilah yang telah menciptakan alam semesta ini, menjadikan ada bentuknya dengan sifat-sifat yang saling berbeda satu benda dengan yang lainnya[26]. Dan yang menjelaskan hal tersebut ialah:

Pertama: Bukti logika yang menunjukan adanya kemusnahan dan kelahiran. Allah azza wa jalla menyebutkan didalam firman    -Nya:

﴿ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ ﴾ [ الطور: 35]

"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?". (QS ath-Thuur: 35).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Ada yang mengatakan,  bahwa maksud firman Allah ta'ala:

﴿ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ ﴾ [ الطور: 35]

"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?". (QS ath-Thuur: 35).

Maksudnya adalah Allah Shubhanahu wa ta’allayang menciptakan mereka. Ada yang mengatakan, "Bukan Allah Shubhanahu wa ta’allatapi dari materi".  Ada yang mengatakan, "Tanpa adanya balasan dan ganjaran". Pendapat yang pertama inilah yang dimaksud dalam ayat ini. Sesungguhnya setiap benda yang diciptaan, baik berupa unsur benda yang paling kecil hingga yang paling besar tentu harus ada yang menciptakan. Fitrah yang selamat mengetahui bahwa sesuatu yang baru pasti ada yang menjadikan ada, ini dalil yang paling jelas yang menerangkan bahwa segala sesuatu yang baru, baik dari benda yang paling kecil elemenya hingga yang terbesar tentu ada yang menciptakannya. Bahkan, kebanyakan orang yang berakal akan menolak pada perkara yang kedua dan ketiga, tapi, tidak pada makna yang pertama.

Ada sebuah kelompok mengatakan, "Bahwa jagad raya ini adalah sesuatu yang baru tanpa ada dzat yang menjadikan menjadi baru". Bahkan ada lagi kelompok yang lain mengatakan, "Bahwa jagad raya sudah ada dengan sendirinya yang mengharuskan dengan sendirinya tanpa perlu yang mencipta". Adapun yang mengatakan, "Sesungguhnya jagad raya sesuatu yang ada dengan sendirinya tanpa adanya pencipta". Maka ucapan ini tidak dikenal secara jelas dari kelompok yang terkenal, namun, hanya dinukil dari kelompok yang tidak jelas identitasnya".[27]

Dalam kesempatan lain beliau mengatakan, "Firman Allah ta'ala:

﴿ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ ﴾ [ الطور: 35]

"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?". (QS ath-Thuur: 35).

Ada dua pendapat, kebanyakan para ulama tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud, apakah mereka diciptakan tanpa adanya yang mencipta, bahkan murni dari ketidak adaan. Sebagaimana dikatakan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alladidalam firman -Nya:

"Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya". (QS al-Jaatsiyah: 13).

            Sebagaimana dinyatakan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alladalam firman -Nya:

﴿وَكَلِمَتُهُۥٓ أَلۡقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرۡيَمَ وَرُوح مِّنۡهُۖ ١٧١﴾ [ اانساء: 171]

"Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya". (QS an-Nisaa': 171).

Demikian pula yang Allah Shubhanahu wa ta’allasinggung didalam firman -Nya:

"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)". (QS an-Nahl: 53).

Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud, apakah mereka diciptakan tanpa melalui elemen. Dan pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Berdasarkan firman Allah Shubhanahu wa ta’allasetelahnya, yang artinya, "Ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?". (QS ath-Thuur: 35).

Ini menunjukan bahwa sumpah yang ada dalam ayat bermakna apakah mereka diciptakan tanpa ada yang menciptakan? Kalau yang dimaksud, diciptakan dari selain elemen, niscaya dikatakan padanya, apakah mereka diciptakan dari sesuatu ataukah dari air yang rendah (mani)? Ini menunjukan bahwa yang dimaksud ialah Aku lah pencipta mereka bukan diciptakan oleh unsur elemen yaitu air mani. Karena keadaan mereka yang diciptakan tanpa melalui unsur bukan berarti sedang meniadakan adanya pencipta, walaupun mereka mengira bahwa hal tersebut tidak mencela keimananya kepada sang pencipta, tapi justru itu menunjukan akan kebodohannya.

Karena bagi setiap orang, ia tidak akan pernah menyangka hal tersebut, dan anehnya setan tidak memasukan perasaan was-was pada anak keturunan Adam dalam masalah ini, karena, semua orang mengetahui bahwa mereka diciptakan oleh orang tuanya. Karena pengetahuan mereka akan hal itu tidak mengharuskan adanya keimanan bagi mereka tidak pula mencegah kekufuran mereka.

Bentuk pertanyaan yang ada dalam ayat ialah pertanyaan pengingkaran, maksudnya, menegaskan bila mereka tidak diciptakan begitu saja tanpa ada yang menciptakannya, maka jika mereka mengakui hal tersebut, bahwa disana ada pencipta maka penciptaan mereka mempunyai arti, tapi, jika mereka meyakini bahwa mereka diciptakan dari unsur benda maka hal tersebut tidak memberikan efek apapun pada Allah azza wa jalla".[28]

Maksud dari ini semua yaitu menjelaskan bahwa didalam ayat diatas, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan dua perkara dalam masalah penciptaan. Yaitu:

Pertama: Bisa jadi mereka diciptakan dari sesuatu yang tadinya belum ada, sedangkan asalnya memang tidak ada.

Kedua: Atau mereka diciptakan dari sesuatu, dan mereka menciptaan diri mereka sendiri, maka berarti ekstitensinya sebagai asal yang lebih dulu ada.

Maka makna ayat, apakah mereka urbanisasi dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada tanpa adanya yang menciptakan? Atau, mereka adalah orang-orang yang menciptakan dirinya sendiri, dari urbanisasi benda yang sebelumnya tidak ada menjadi ada? Dan tentunya, kedua perkara diatas sesuatu yang mustahil terjadi, yang sangat jelas seterang matahari![29]

Sesuatu yang menjadi ada tidak mungkin tidak ada sebab sesuatu yang tidak ada mustahil menjadi hukum asal karena akan menafikan hukum umum bagi setiap benda yang hadir dipikiran, demikian pula akan menafikan sifat-sifat -Nya, sehingga tidak ada dzat, kekuatan, keinginan,  tidak pula pengetahuan, kehidupan serta kosong tanpa mempunyai sesuatu apapun.

Dan tentunya, tidak mungkinsesuatu yang tidak ada ini dapat berubah menjadi ada. Dan tidak mungkin datang dari sesuatu yang tidak ada ini secara umum, baik bentuk, sifat, kekuatan yang muncul dari dirinya, yang mendorong sehingga bisa menjadi ada. Sebagaimana telah tetap bagi kita bahwa sesuatu yang tadinya tidak ada tidak mungkin menjadi hukum asal. Seperti dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam salah satu keterangannya, beliau mengatakan, "Tidak pernah al-Qur'an membicarakan penciptaan sesuatu dari sesuatu yang tidak ada, namun, al-Qur'an mengisyaratkan bahwa makhluk diciptakan setelah sebelumnya tidak ada. Sebagaimana yang Allah Shubhanahu wa ta’allajelaskan didalam firman -Nya:

﴿وَقَدۡ خَلَقۡتُكَ مِن قَبۡلُ وَلَمۡ تَكُ شَيۡ‍ٔا٩﴾[ مريم: 9]

"Dan sesunguhnya telah aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali". (QS Maryam: 9).

Bersamaan dengan itu AllahShubhanahu wa ta’alla telah mengabarkan bahwasannya Dirinya telah menciptakan mereka melalui sarana air mani".[30]Jika perkaranya menunjukan bahwa sesuatu yang tidak ada menjadi hukum asal maka mengharuskan wujud menjadi hukum asal, karena lawan dari tidak ada. Oleh sebab itu sangat mustahil secara rasio sesuatu yang tidak ada datang secara tiba-tiba menjadi ada, maka kita yakini bahwa wujud merupakan hukum asal.[31]

Kalau kita perhatikan kepada benda-benda yang ada, yang bisa kita tangkap dengan panca indera dijagad raya yang maha luas ini, bisa kita dapatkan bahwa benda-benda yang ada tadi -diantaranya manusia- sebelumnya adalah sesuatu yang tidak ada lalu menjadi ada.[32]Bahwa benda-benda besar yang ada disekeliling kita, tadinya tidak ada bentuk dan rupanya kemudian menjadi ada, sebagaimana yang bisa kita saksikan secara kontiyu.

Sebagaimana nampak bagi kita proses perubahan yang terjadi, yang berlalu secara terus-menerus disekeliling kita dari partikel dan benda-benda yang ada dialam semesta ini, baik yang bisa kita lihat atau raba atau kita bisa merasakan efek kekuatan atau kekhususannya. Semisal, dari kematian menjadi hidup, dari hidup menjadi mati, dari perubahan bentuk dan rupa menjadi perubahan pada sifat dan energi.

Dan itu semua tidak bisa masuk dalam akal kita -sesuai dengan hukum alam ini yang tetap yang bisa kita ambil pelajarannya dari alam itu sendiri- melainkan dengan faktor efek yang didapat yang membawa rahasia perubahan-perubahan ini yang sangat banyak yang berlangsung secara terus menerus, yang terjadi pada segala benda dijagad raya ini dengan perbedaan bentuk dan sifatnya. Mulai dari partikel yang paling kecil hingga yang paling besar.

Dari sini bisa kita katakan, kalau seandainya hukum asal pada benda-benda yang familiar dipanca indera kita (partikel) sebagai benda yang ada secara azali, tentunya tidak bisa menjadi media konversi, perubahan, pertambahan, pengurangan, berkembangan dan kebinasaan. Dan tidak membutuhkan pada bentuk keberadaan dan perubahannya pada motif serta efeknya.

Dengan sebab adanya penghalang untuk sebuah proses perubahan dan konversi, aturan serta konsekuensinya yang menolak pada tuntutan yang dibutuhkannya pada motif dan efek yang dihasilkan, maka hal itu mengharuskan bahwa hukum asal ialah wujud. Hanya saja yang mewajibkan secara rasio bahwa hukum asal adalah ketiadaan, sebab akan menjadikan diantara sebab adanya adalah karena ketiadaan yaitu Allah Shubhanahu wa ta'ala.[33]

Kedua: Dalil adanya kemungkinan-kemungkinan lain yang ada pada alam semesta atau dalam material.

Melalui proses pengamatan kita yang ada di jagad raya ini, baik yang berasal dari unsur partikel yang mungkin dapat kita tangkap dengan daya panca indera kita, semisal bumi, planet, atau bintang. Atau yang bisa kita rasakan sifatnya dari sifat-sifat yang ada pada benda yang kita jadikan sebagai bukti keberadaannya melalui rasio kita, semisal sifat memikat secara khusus yang ada pada batu permata. Atau benda-benda khusus yang tersusun dari partikel-partikel kecil yang tidak bisa dibatasi jumlahnya di alam semesta, baik yang nampak, semisal zat kimia atau fisika.

Dari pengamatan kita bagi benda-benda di jagad raya ini, kita dapati adanya permulaan pada setiap bendanya yang memungkinkan secara logika untuk membentuk dan memposisikan diri sebagai benda tidak seperti sekarang ini. Bukankah sangat rasionalis, tidak yang menghalangi kalau seandainya akal diletakkan pada binatang ternak, dan lisan pada

buah-buahan? Tidak pula ada yang menghalangi kalau sekiranya jarak bumi lebih dekat lagi dengan matahari dan bulan dari posisinya seperti sekarang? Atau perkara-perkara lain yang sangat banyak sekali contohnya.[34]

Kalau ada yang menyanggah, sesungguhnya hikmah lah yang mengharuskan benda-benda tersebut berada pada posisinya seperti sekarang ini. Karena jika tidak, niscaya ekosistem dan peraturan hidup yang ada di alam semesta akan hancur.Kami jawab, sesungguhnya hikmah termasuk di antara sifat dari sifat-sifat Allah yaitu al-Hakim. Selagi segala sesuatu yang ada di alam semesta memiliki kemungkinan menjadi bentuk yang berbeda-beda, bukan seperi posisinya semula.

Maka sangat logis untuk menghukumi permulaan, yaitu sesuatu yang posisinya seperti itu mengharuskan ada yang menentukan dan itu telah ditentukan dengan adanya kemungkinan sesuai dengan hikmah, penciptaan, dan berkesesuaian dengan kemungkinan-kemungkinan yang sangat banyak, jika seandainya tidak ada perkara yang menentukan niscaya melazimkan untuk menguatkan salah satu dari dua perkara yang mempunyai kesamaan. Atau ucapan sebagian orang yang mengatakan, bahwa perkara yang sesuai dengan hikmah -yang tidak terhitung jumlahnya- hanyalah kebetulan semata[35]. Dan kedua alasan tersebut tidak bisa diterima oleh rasio.

Ketiga: Bukti yang menunjukan betapa perfeknya alam semesta ini.

Diantara perkara terbesar yang membuat kita takjub terhadap benda-benda yang ada di alam semesta, yang ada di sekeliling kita ialah begitu sempurnanya susunan dan pengerjaannya. Tidak adanya sesuatupun yang ada dibumi maupun dilangit yang datang secara kebetulan melainkan semuanya menunjukan begitu professional dan perfeknya dalam proses pembuatan dan pengerjaannya.

Bukankah ini merupakan bentuk perfektivitas dalam penciptaan alam semesta yang menakjubkan ini, yang terkandung dalam diagram alur planet dan bintang-bintang, yang mana kalau seandainya ada sedikit perubahan saja niscaya akan mengantarkan pada kekacauan, ketidakteraturan, kehancuran hingga kemusnahan.

Begitu pula, bukankan termasuk bentuk perfektivitas yang sangat menakjubkan dalam penciptaan manusia dengan susunan anggota tubuhnya, demikian pula dalam penciptaan hewan dengan aneka ragamnya. Jawaban itu semua benar, bahwa dalam segala benda, kita mampu menangkap betapa sempurnanya penciptaan setiap makhluk tersebut yang tentunya hal tersebut tidak mungkin datang melainkan dari dzat yang maha sempurna yang tersemat pada dirinya dan sempurna didalam penciptaanya.[36]

Dalil ilmiah yang selaras dengan rasio ini, semuanya menunjukkan bahwa alam semesta dengan segala isian partikelnya adalah sesuatu yang baru ada bentuknya setelah sebelumnya semua benda tersebut belum ada wujudnya. Dan sesuatu yang baru tentunya melazimkan adanya yang membuat menjadi ada. Dengan ini maka runtuhlah argumen ahli materialisme yang mengatakan azaliyahnya material sebuah benda, sebagaimana nampak bahwa sebuah materi pada awal mulanya adalah sesuatu yang baru lalu berubah yang mana itu menjadi suatu kelazimannya. Dan permulaan serta perubahan materi tersebut sebagai bukti akurat bahwa materi memiliki waktu permulaan.

Dan secara langsung bukti ini membawa kita pada kesimpulan yang pasti bahwa material juga mempunyai waktu berakhir yang pasti akan dilaluinya. Sebab hukum alam menjelaskan, segala sesuatu yang mempunyai waktu permulaan pasti pada akhirnya menemui waktu berakhirnya.[37]

Jika argumen yang mereka kemukaan tidak bisa diterima secara akal maupun logika, justru dalil-dalil ilmiah menunjukan bahwa dunia material adalah sesuatu yang baru, yang mempunyai waktu permulaan dan akan menemui waktu berakhir, maka kita sodorkan pada mereka dalil-dalil yang diperoleh dari ilmu pengetahuan dan hukum asalnya yang telah menetapkan bahwa alam semesta adalah sesuatu yang baru, maka tentunya itu semua mengharuskan adanya Tuhan yang menjadikannya ada, dari yang sebelumnya tida ada sama sekali. Begitu pula, bahwa alam semesta mempunyai waktu berakhir yang pasti akan dilaluinya.

Kumpulan kedua: Dalil-dalil ilmiah menunjukan akan ketidak langgengannya unsur benda serta tidak melalui proses azaliyah.

Berkaitan dengan dalil-dalil ini maka bisa kita klasifikasikan menjadi dua:

Pertama: Dalil-dalil ilmu pengetahuan modern, dewasa ini menunjukan secara klinis bahwa material benda tidak mempunyai sifat azaliyah. Hal itu dengan dua alasan sebagai berikut:

Alasan pertama: Riset ilmiah dewasa ini telah membuktikan bahwa material mempunyai waktu permulaan. Dimana para ilmuwan yang bergerak pada bidang ini mengamati bahwa pergerakan semua partikel dijagad raya ini berbentuk perputaran atom yang tersusun dari partikel kecil berbentuk elektrik yang dinamakan dengan proton, sisi negatifnya dinamakan dengan elektron, dan sebagian atom ada yang mengandung unsur ketiga yang tenang dinamakan  dengan nitron. Ini semua, menggambarkan antara proton dan nitron keberadaannya membentuk satuan masa atom atau inti atom, adapun elektron maka perputarannya begitu cepat sekali. Yang kalau sekiranya bukan karena pergerakan yang cepat ini antara satuan masa atom dengan satuan masa electron niscaya tidak akan ada perputaran partikel dijagad raya ini, bahkan, kalau bukan karena perputaran ini niscaya bumi ini –sebagaimana dikatakan- bentuknya hanya seukuran telor.[38]

Perputaran ini termasuk dari hukum alam yang Allah Shubhanahubwa ta’alla berikan, bulan berputar mengelilingi bumi, dan bumi berputar mengelilingi matahari, demikian pula satuan masa atom tersebut berputar dialam ini. Adapun yang kita ingin tekankan disini ialah bahwa sesuatu yang berputar pasti harus ada titik permulaan waktu maupun tempat sebagai awal mulanya.

Alasan Kedua: Berkata ilmuwan mereka, Edward Laterkaissel tatkala membantah teori azaliyahnya jagad raya, dirinya mengatakan, "Akan tetapi hukum kedua dari hukum dinamika panas menetapkan salahnya teori yang terakhir ini, sebab ilmu pengetahuan menetapkan secara jelas bahwa alam semesta ini tidak mungkin azali, karena disana dijumpainya adanya perpindahan unsur panas yang terus menerus dari benda-benda dingin menjadi benda-benda panas. Artinya, bahwa alam semesta mengarah pada tingkatan yang searah pada seluruh benda yang meresap menjadi satu kekuatan tertentu, dan ketika itu tidak ada lagi disana proses kimia atau natural, begitu pula tidak ada lagi disana bekas kehidupan di alam semesta ini.

Dan tatkala kehidupan masih ada, maka proses kimiawi dan naturalisasi masih terus berjalan direlnya, sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa alam semesta ini tidak mungkin azali, jika tidak tentu kekuatannya akan hancur semenjak dulu, dan akan menghentikan setiap perkembangan setiap benda yang ada".

Demikianlah ilmu pengetahuan mencapai pada kemajuan semacam ini yang menyimpulkan bahwa alam semesta ini ada permulaan penciptaan, yang secara tidak langsung berarti menetapkan keberadaan AllahShubhanahubwa ta’alla, sebab sesuatu yang ada permulaannya maka tidak mungkin bisa menciptakan dirinya sendiri, tentunya harus ada yang menciptakannya, atau ada yang menggerakan untuk pertama kalinya, atau ada yang menciptakan yaitu tuhan.[39]Inilah dalil-dalil ilmiah yang secara tegas menetapkan bahwa unsur materi tidak azaliyah, berikut ini akan saya sampaikan dalil-dalil ilmiah yang membuktikan bahwa unsur materi tidak abadi.

 Kedua: Bukti ilmiah yang menetapkan bahwa material tidak abadi.

Diantara bukti-bukti tersebut yang paling rasionalis ialah:

Pertama: Sebagaimana tadi telah kita jelaskan tentang aturan dinamika panas, maka disebutkan didalamnya, "Bahwa susunan alam semesta ini akan kehilangan atsmosfernya sedikit demi sedikit, dengan demikian, secara pasti suatu ketika panas tersebut akan membentuk sebuah benda dibawah tingkatan panas yang luar biasa hingga sampai pada puncaknya, lalu pada akhirnya menurun hingga sampai pada nol derajat, pada saat itulah tidak ada lagi di jagad raya ini kekuatan, dan mustahil adanya kehidupan disana. Dan kejadian ini tak mungkin bisa terelakkan lagi, kondisi dimana tidak ada lagi kekuatan, yaitu tatkala derajat panas suatu benda telah sampai pada nol derajat, dengan perjalanan waktu yang cukup panjang. Maka tidak diragukan lagi, bahwa fenomena alam ini membuktikan jika unsur material suatu saat pasti akan sampai pada kebinasaan".[40]

Kedua: Teori bola matahari yang meluap-luap. Dijelaskan dalam teori tersebut, "Bahwa partikel-partikel yang ada dalam bola matahari menghasilkan luapan dan lidah api dari dalam yang bisa menghasilkan panas yang luar biasa. Yang di hasilkan dari hasil ledakan-ledakan partikel, yang terjadi secara terus menerus yang pada akhirnya melahirkan kekuatan panas yang tidak ada yang sanggup menyamainya.

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa material yang semasa dengan atom tersebut, bila selalu berbenturan maka akan menghilangkan sebagian intinya, dimana bagian yang hilang ini akan merubah menjadi sebuah kekuatan. Dan ketika hal itu terjadi setiap hari, bahkan setiap detik yang di alami oleh bola matahari maka hal tersebut sejatinya menandakan adanya bagian yang hilang darinya walaupun hanya satuan dari masa atom. Artinya, secara absolute bahwa suatu saat nanti akan datang waktu dimana matahari akan kehilangan satuan masa atomnya secara sempurna, artinya, bola matahari yang menghasilkan energi panas luar biasa tersebut suatu saat nanti akan padam".[41]

Ketiga: Seorang ahli fisika dan matematika, yang bernama John Clavind Catren menyatakan, "Ilmu kimia memberi sumbangan pada kita bahwa sebagian partikel akan mengalami masa kemusnahan dan kehilangan unsur materinya. Bahkan, ada sebagian diantaranya yang mengalami masa kepunahan secara cepat sekali, dan ada pula yang secara berlahan. Sehingga dengan hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa partikel benda tidak mungkin abadi".[42]Inilah bukti-bukti autentik dari para pakar, yang semuanya menunjukan bahwa material benda bukan azaliyah dan tidak mengalami keabadian. Tapi, material tersebut tidak lain hanyalah sebuah makhluk yang suatu saat nanti akan mengalami kemusnahan.

Dengan demikian, maka gugurlah klaim yang didengungkan oleh orang-orang Komunis bahwa material benda sebagai sumber segalanya dan mengklaim bahwa kehidupan ini adalah hasil dari evolusi material tersebut. Dan berikut ini kita sebutkan kerancuan selanjutnya yang mereka usung, dibarengi dengan bantahan terhadap pemikiran tersebut. 

 Syubhat kedua: Teori evolusi dzati atau teori kejadian dzat bagi materi dan kehidupan.

Teori ini bermula, dalam stagmen yang mereka katakana, bahwa kehidupan ini tidak lain adalah hasil dari evolusi material tanpa ada campur tangan makhluk apapun dibelakangnya. Menurut mereka kehidupan tidak lain adalah hasil dari proses evolusi dzat yang berkembang begitu saja selaras dengan hukum-hukum perkembangan material alam. Teori ini juga sering di istilahkan dengan hukum alam. Kalau kita perhatikan maka bisa kita simpulkan, bahwa syubhat ini dibangun diatas tiga pilar:

Pilar pertama: Pendapat yang mengatakan adanya evolusi dzat. Inilah pendapat yang dianut oleh orang komunis pada awal mulanya.[43]

Pilar kedua: Pendapat yang mengatakan adaya teori evolusi. Pendapat ini lebih condong dianut oleh mereka tatkala mereka mendengar ada seorang ilmuwan yang bernama Darwin telah mengumumkan hasil risetnya ke dunia luas gagasannya sebagai sebuah teori, maka segera orang komunis mendukungnya karena selaras dengan pemikiran mereka.[44]

Pilar ketiga: Pendapat yang menyandarkan penciptaan dan kehidupan kepada alam semata. Inipun, walaupun mereka padahakekatnya tidak terlalu peduli mencari siapa yang menciptakan atau yang menjadikan ada, tapi mereka berpendapat semacam ini walaupun mereka sendiri mengingkari hal tersebut didalam buku-buku literatur mereka dalam rangka melarikan diri dari gereja dan tuhan yang disembah oleh di gereja.[45]

 Pilar pertama: Pendapat yang mengatakan adanya evolusi dzat.

Adapun jawaban atas syubhat ini maka sebagai berikut:

[46]Sesungguhnya statmen ini tidak lain hanyalah sebuah usaha penafsiran yang mereka lakukan tatkala menangkap benda-benda abstrak dalam kehidupan ini yang ada dalam unsur material. Manakala mereka mengingkari adanya pencipta, menuntut untuk mengatakan, bahwa materi adalah benda pertama yang ada dijagad raya, yang sebelumnya tidak ada kehidupan sama sekali, tidak mempunyai rasa, akal dan pikiran. Lalu terus berkembang menjadi sebuah dzat hingga tumbuh menjadi embrio kehidupan, sebagai tahapan yang lebih sempurna dan modern dari materi benda yang ada pada pertama kalinya. Selanjutnya terus berkembang dalam kehidupan, rasa-rasa yang tinggi hingga sampai pada tingkat pemikiran, yang mampu memahami apa saja yang ada di alam semesta bersamaan dengan prosesnya. Dengan sebab itulah unsur materi mampu menyadari dzatnya, yang barangkali bisa di ilustrasikan pada alat canggih yang baru pertama kali ditemukan dengan perkembangannya yang terus meningkat, yaitu otak.[47]

Sebelum memberi sanggahan pada masalah ini.Ada pertanyaan yang harus di jawab, yaitu apakah ada dalil ilmiah yang menjelaskan bahwa ruh, pikiran dan rasa adalah bagian dari unsur materi? Sesungguhnya penjelasan yang paling luas tentang masalah ini yang dimiliki oleh orang Komunis sampai saat ini ialah bahwa kehidupan berkembang dari sebuah energi dan pergerakannya yang akhirnya menghasilkan pertumbuhan, dalam kata lain gerak ditambah energi maka hasilnya adalah kehidupan.[48]

Kita gunakan metode yang sama seperti yang digunakan oleh Marxisme untuk menjelaskan kebenaran pemahaman kita yaitu mari buktikan secara ilmiah apakah benar bahwa gerak bila ditambah dengan energi akan menghasilkan kehidupan ataukah tidak? Kita bertanya-tanya siapa yang menggabungkan dua hal yang kontradiktif ini masuk pada salah satu bagiannya –walaupun dengan usaha keras untuk menerapkan teori ini secara khusus- dengan pertanyaan sederhana ini.Atau bila perlu dari hukum kimia untuk dapat mengeluarkan teori diatas untuk menjelaskan hakekat kehidupan.

Maka disini, kita akan mencoba mengembalikan terlebih dahulu kepada hasil kongres yang di ikuti oleh enam ilmuwan biologi dari seluruh dunia yang diadakan di New York pada tahun 1959. Dan diantara ke enam ilmuwan tersebut ada salah seorang ilmuwan yang bernama Auprin yang berasal dari Rusia, seorang dosen ilmu biologi di Akademi Ilmu Biologi Uni Soviet.Mereka berkumpul dalam rangka ingin menyibak misteri asal mula kehidupan serta perkembangannya di muka bumi ini, dan untuk mengungkap seberapa besar kemungkinan adanya kehidupan ini melalui proses kimia.

Diakhir kongres tersebut, setelah melakukan riset secara mendalam, semua sepakat untuk memutuskan, bahwa kehidupan ini perkaranya masih misteri, sesuatu yang memacu untuk terus diteliti hingga memungkinkan pada suatu ketika dapat diketahui oleh ilmu pengetahuan, dan misteri ini sangat jauh sekali kalau hanya sekedar rangkaian dari beberapa organ tertentu dan naturalisasi yang nampak secara khusus.[49]

Kemudian, bila diperhatikan bahwa hakekat yang telah disepakati oleh para ilmuwan hingga hari ini –baik kafir maupun muslim- bahwa ilmu pengetahuan hingga detik ini, belum bisa mengungkapkan secara pasti, tentang hidup dan roh, apakah kolaborasi antara energi dan gerak inilah yang menghasilkan kehidupan, dengan teori yang sangat sederhana ini? Dan diantara perkara yang tidak perlu diragukan, bahwa setiap gerak dan energi merupakan tanda yang paling jelas dari inti kehidupan, akan tetapi, dalam kaidah filsafat yang ada, mengharuskan bahwa inti sesuatu bukan lah bagian dari elemen yang menjadi sumbernya. Kita ambil contoh, air misalnya, dalam kondisi mendidih dirinya tersifati dengan gerak dan panas (energi), akan tetapi, secara jelas bahwa anasir air adalah sesuatu lain yang keluar dari gerak dan energi.

Demikian pula, yang kita ketahui bahwa gerak dan energi adalah dua hal diantara bagian inti dari inti kehidupan yang ada, sama semisal Hidrogen, Karbon, Ozon, dan Oksigen serta lainnya dari inti sari kehidupan yang paling mendasar. Adapun bentuk anasir kehidupan maka ini adalah sesuatu lain yang tidak bisa ditangkap oleh manusia. Oleh sebab ini, seorang ilmuwan bernama Angel menegaskan, "Tidak mungkin ilmu alam hingga waktu yang akan datang untuk mengungkap inti dari inti-inti dasar kehidupan".[50]

Pengakuan mereka yang jujur ini,  mengatakan, bahwa mereka tidak mungkin bisa sampai pada hasil untuk mengungkap inti dari kehidupan secara ilmiah. Sehingga secara klinis membuktikan bahwa pernyataan orang atheis hanya sekedar klaim dusta tanpa ada bukti, omong kosong yang bertentangan dengan prinsip dasar akal pikiran seorang manusia.

Maka kesimpulannya, manusia bukan hasil dari ciptaan material, karena sesuatu yang diciptakan tidak mungkin bisa menguasai yang menciptakan.Karena manusia terkadang meliputi material dan mengeluarkannya dalam bentuk lingkaran ether, bahkan, lebih jauh lagi dalam riset-riset ilmu pengetahuan mengacu pada kemampuan manusia untuk mengungkapnya.Dan ini tidak mungkin terjadi, melainkan jika terdapat didalam tabiat manusia sesuatu yang lebih tinggi dari unsur yang ada dalam material.Ini adalah sesuatu yang sangat bertentangan dengan setiap inti sari dari ilmu pengetahuan yang ada.[51]

Unsur material pertama yang ada di dalam alam semesta ini, Yang tidak mengandung didalamnya susunan yang meyakinkan, tidak pula mengandung didalamnya kehidupan, perasaan dan pemahaman, tentunya hal ini menjadikan tidak mungkin untuk berevolusi menjadi lebih sempurna dalam bentuknya, begitu juga tidak mungkin sanggup untuk menciptakan partikel-partikel lain yang lebih sempurna dan lebih maju dari diri sendiri. Hal tersebut, dikarenakan sesuatu yang tidak memiliki tidak bisa memberi.

Adanya karya cipta yang lebih baik dan sempurna dari pencipta yang serba kurang, maka ini setara dengan perubahan dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada, dalam perubahan bentuk.Sebab, nilai tambah terkadang murni tidak ada, dan sesuatu yang murni tidak ada tidak mungkin mendorong untuk menjadikannya ada kecuali adanya kekuatan besar yang mendorongnya menjadi ada, atau sesuatu yang lebih kuat darinya.

Sedangkan dalam unsur material yang buta lagi tidak tahu apa-apa ini tentunya tidak mungkin lebih kuat tidak pula mampu mendorong materi kehidupan yang punya keinginan, perasaan dan akal pikiran, bahkan sebaliknya, justru realitanya membuktikan bahwa material nilainya lebih rendah dari kehidupan.Jika demikian, maka membuktikan kalau material ini sangat lemah untuk bisa mencipta sesuatu yang lebih baik dari dirinya.[52]

Klaim ini –yaitu mengklaim bahwa keberadaan hidup ini adalah hasil proses pembentukan dari material-material kecil- adalah pendapat yang di pegang oleh orang Komunis di awal perkaranya, dimana mereka mengatakan, "Sesungguhnya unsur material berkembang secara berlahan membentuk bilangan sehingga menyusun menjadi sebuah benda, sehingga secara kebetulan membentuk material lain. Dan kehidupan tidaklah ada melainkan dari hasil proses pembentukan yang serba kebetulan dari partikel-partikel ini melalui beberapa tahapan yang dikenal dengan evolusi".[53]

Lalu orang komunis mengilustrasikan dengan air, sesunguhnya air apabila bertambah mendidih akan bertambah panas, akan tetapi, tatkala air tersebut sampai pada puncak panasnya, yaitu di titik 100%  derajat celcius maka air tersebut berubah menjadi uap. Air tersebut berubah menjadi benda lain dalam beberapa proses.

Sanggahan: Sesungguhnya evolusi pada beberapa kasus semacam ini adalah pembentukan menjadi unsur partikel lain, akan tetapi, hakekat nama bendanya tidak berubah wujud, tapi terjadi dikarenakan adanya orang yang melakukannya.

kemudian perubahan uap dari dalam air adalah sesuatu yang mungkin sekali dibuktikan dengan penelitian. Terus, logikanya apakah hidup bisa dimisalkan dengan ini? Apakah mungkin membuktikan kehidupan dari dalam unsur material sebagai benda mati melalui sebuah riset atau penelitian?Selanjutnya, pilar ini sebagai salah satu pilar pemikiran Marxis, tidak mungkin bisa dijadikan sebagai patokan hukum secara umum yang dapat diaplikasikan pada setiap benda yang bergerak yang mengalami proses pertumbuhan secara natural. Justru, ilmu sains yang dimiliki manusia tidak mengakuinya, walaupun pada beberapa kasus bisa diterapkan, tapi, tetap berseberangan dengan kasus-kasus lain yang sangat banyak sekali.

Sesungguhnya akumulasi data dalam kwatintas tidak serta merta selalu bisa dijadikan sebagai patokan dalam proses evolusi pada semua kasus. Selagi hukum alam tersebut tidak mengharuskan kejadiannya seperti itu. Karena, pengamatan yang mendalam membuktikan bahwa setiap proses kondisi yang ada dijagad raya mempunyai ketentuan tertentu yang berlaku, didalam keserasian dan hukum alamnya. Sehingga, setiap kali ketentuan tersebut berjalan maka proses alami tersebut akan terbentuk. Kita ambil contoh analoginya:

Contoh Pertama: Telor ayam yang telah dibuahi oleh pejantan.

Apabila terkandung suhu panas dengan derajat tertentu, dan kelembaban dengan suhu tertentu, maka mulailah didalam telor tersebut membentuk itik secara berkala dan bertahap hingga akhirnya terbentuk secara sempurna didalam kulit telor, lalu pada akhirnya, setelah mengalami proses kurang lebih selama tiga minggu itik tersebut terbentuk secara sempurna. Lalu mulailah kulit telor tersebut retak dari dalam hingga akhirnya pecah, pada saat itulah anak ayam tersebut keluar menuju alam dunia, babak baru kehidupannya di muka bumi ini mulai berjalan.

Disini kita bisa melihat sebuah proses evolusi telah terjadi. Akan tetapi, menyelisihi semua yang diklaim oleh pilar pemikiran yang dianut oleh Marxisme. Bukan akumulasi data suhu panas, yang menjadikan secara abstrak proses perubahan, tidak pula akumulasi data kelembabannya, akan tetapi, justru kontinyunitas suhu panas, dan juga suhu kelembaban, yang membantu untuk membentuk janin telor secara berkala, selaras dengan proses waktu yang telah ditentukan oleh hukum alam hingga akhirnya terbentuk secara sempurna. Yang kalau seandainya suhu panas ditambah presentasenya dari ukuran yang ditentukan oleh hukum pembuahan tersebut, niscaya akan mengupas telor tersebut, dan tentunya bila ditambah lagi suhu panasnya maka akan membunuh janin telor tadi sehingga telornya akan terpanggang menjadi gosong.

Maka bisa disimpulkan, bahwa hukum alam adalah hukum yang telah ditentukan ukurannya bagi masing-masing benda, selaras dengan alur yang pasti, bukan sebuah perubahan yang dihasilkan dari proses pengukuran data. Inilah realita yang telah dibuktikan oleh hasil riset dan penelitian sains modern, dan ini pula yang jauh-jauh hari telah ditegaskan oleh Allah ta'ala didalam firman -Nya:

﴿وَكُلُّ شَيۡءٍ عِندَهُۥ بِمِقۡدَارٍ٨ ﴾ [ الرعد: 8]

"Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya". QS ar-Ra'du: 8.

Sesungguhnya contoh diatas sudah cukup untuk membungkam teori akumulasi data yang dijadikan sebagai pilar pemikiran orang-orang komunis. Yang dianggap sebagai hukum menyeluruh bagi setiap proses evolusi yang terjadi pada setiap benda. Misal diatas juga cukup sebagai sanggahan bagi pemikiran teori proses evolusi cepat yang datang secara tiba-tiba, sebab, mayoritas proses pertumbuhan yang terjadi mengalami proses secara berkala.

Contoh kedua: Makhluk hidup.

Mereka mulai bergerak diawali dari pembuahan semenjak bertemunya sel sperma laki-laki dengan sel telur perempuan. Perjalanan panjang untuk menjadi makhluk hidup di laluinya melalui proses pertumbuhan yang dialaminya secara bertahap. Hingga tatkala telah terpenuhi semua ketentuan yang lazim untuk mengantarkan pada kehidupan maka secara perlahan-lahan dia akan sampai pada proses kehidupan tersebut.

Kemudian dirinya berjalan sesuai dengan hukum pertumbuhan yang dilalui secara bertahap. Hingga tatkala telah sempurna pertumbuhan janin, maka ibunya akan mengeluarkan dan melahirkannya. Kemudian diapun akan mengalami proses alami perkembangan secara bertahap hingga akhirnya dewasa, tumbuh secara bertahap menjadi seorang pemuda, yang mapan, selanjutnya kembali menuju proses penuaan, menjadi orang tua, lalu tua renta, selanjutnya dirinya menghabiskan jatah usia yang telah ditentukan baginya, kemudian diapun mati.  Jasadnya larut dan kembali menjadi tanah sebagaimana awal mulanya juga dari tanah.

Terkadang dirinya bisa saja mati pada awal perjalanan hidup yang dijalaninya sebelum tua, lalu kembali menjadi periode pertama kali diciptakan, tanpa melewati proses perjalanan hidup yang biasa dialami oleh makhluk hidup. Dan setiap babak kehidupan yang dilalui oleh makhluk hidup tunduk terhadap aturan hukum alam yang telah ditentukan bagi setiap individunya, entah itu dari segi unsur, sifat, zaman, suhu panas, serta setiap unsur yang bisa menjadikan adanya kehidupan, yang masing-masing punya tugas sendiri-sendiri. Contoh yang kedua ini juga cukup sebagai bantahan untuk menyanggah setiap orang yang punya pemikiran asas evolusi dan pemikiran akumulasi data yang mereka peroleh didalam proses kejadian alam, sebagai pemikiran yang kontradiktif. Hal tersebut, karena kehidupan tunduk terhadap hukum alam yang telah ditentukan ukuran dan batasannya, baik dari sisi elemennya maupun fisiknya, bukan tunduk kepada kumpulan data yang berbilang.

Demikian pula pemikiran pada teori evolusi cepat yang muncul secara tiba-tiba yang diakui sebagai asas pemikiran orang komunis, juga hasilnya kontradiksi.Karena kehidupan berjalan selaras dengan hukum alam yang berjalan secara bertahap, bukan dengan evolusi cepat yang datang secara tiba-tiba.Dua contoh diatas termasuk dari beribu contoh yang membatalkan dasar pemikiran orang komunis dalam  statmennya yang berkaitan dengan teori evolusi –sesuai dengan penafsiran yang mereka inginkan-, sehingga dengan terbantahnya asas pemikiran teori evolusi tersebut sekaligus membantah asas pemikiran lain yang menyatakan bahwa kehidupan adalah tugas dari tugas-tugas yang dimiliki oleh material. Tatkala sampai pada susunan partikel sehingga menjadi benda lain melalui proses evolusi.

Sesungguhnya ilmu sains modern yang telah dicapai oleh umat manusia yang dilakukan oleh orang barat dan timur dari para penganut paham Marxisme, dengan biaya yang tidak sedikit, sehingga mereka harus rela merogoh kocek untuk dana pembiayaan proyek tersebut, serta dengan waktu yang sangat lama, maka hasilnya sampai pada sebuah kesimpulan ilmiah, bahwa sebuah kehidupan tidak mungkin lahir melainkan dari makhluk hidup. Bahkan sarana teknologi modern yang dibuat oleh manuisa, itupun tidak mempunyai kemampuan untuk merubah partikel benda yang tidak punya kehidupan, menjadi partikel yang mempunyai sel kehidupan.

Sebagaimana dimaklumi bahwa sebuah kesadaran sangat erat kaitannya dengan kehidupan, bahkan dia merupakan indikator-indikator kehidupan, dan bagian dari sifat-sifatnya, maka tidak mungkin ada sarana yang mengantarkan unsur material sebagai benda mati untuk menjadikan kesadaran sebagai salah satu tugasnya, walaupun secanggih apapun teknik yang ditempuhnya. Ilmu sains yang diperoleh oleh manusia, telah mencukupkan kita pada tugas penting didalam membantah asas pemikiran batil ini yang dianut oleh Marxisme dan seluruh paham materialisme yang tidak mempercayai adanya Tuhan.

Begitu juga asas pemikiran mereka ini, pada awalnya adalah sebuah teori yang sama sekali tidak didukung dengan dalil rasio maupun ilmiah, sehingga melazimkan asas mereka yang menganggap bawah unsur material sebagai pilar keberadaan benda dan elemennya menjadi pemikiran yang batil.[54]

 Sisi Kedua: Teori Evolusi.

Sebagaimana telah lewat bahwa teori ini mereka ambil setelah diteorikan dan diperkenalkan oleh Darwin ke dunia luas. Seakan-akan mereka mendapat angin segar, sebab dalam teorinya Darwin tersebut bisa dijadikan sebagai pendukung pemikirannya, sehingga mereka ikut mempromosikannya, karena sesuai dengan pemahamannya, dan dengan bangga mereka mengatakan, konsep material  mendapat dukungan penting.[55]

Seorang ilmuwan yang bernama John Lois mengatakan, "Darwin telah menggembara untuk memahami konsep yang dibikin oleh berbagai ilmuwan, lalu dirinya berusaha untuk mengembangkan menjadi sebuah konsep yang realistis dan meyakinkan.Yaitu, bahwa dunia hewan tidak terbentuk dari satu penciptaan, namun, itu merupakan buah dari perubahan evolusi yang bekerja untuk merubah berbagai jenis makhluk hidup yang muncul pada generasi pertama menjadi berbagai macam bentuk secara pasti, yang muncul pada generasi berikutnya.

Seperti manusia, dia tidak diciptakan dengan sistem khusus yang terpisah, tapi dia merupakan hasil dari evolusi. Dan teori evolusi tidak menganggap mustahil kekuatan yang berada pada alam dari proses penciptaan semata, tapi meletakkan pengganti kekuatan ini dengan evolusi hidup secara alami. Dan sungguh, konsep yang ada dalam teori evolusi ini sebagai pembaharuan yang sangat mencengangkan".[56]Pemahaman ini, semakin menjelaskan kepada kita seberapa jauh efektifitas teori evolusi ini mempengaruhi pemikiran materalisme. Dan akan datang penjelasan secara rinci tentang teori ini beserta bantahannya pada pembahasan yang akan datang.

 Ketiga: Pendapat yang mengatakan adanya pencipta dari alam.

Sebagaimana telah kita sebutkan, bahwa yang namanya unsur material dan alam bagi mereka adalah sama, akan tetapi, tatkala mereka mendapat tekanan dari gereja Paulus yang telah diselewengkan, maka mereka akhirnya berkilah, "Penciptaan hanya berasal dari alam".

Maka mari kita lihat seberapa besar kebenaran ucapan ini. Apakah pantas alam menjadi seorang pencipta?Realitanya, bahwa kedustaan ini sangat laris dizaman kita sekarang, sangat laku hingga diakui oleh orang-orang –yang menyangka bahwa- mereka lahir dari ilmu pengetahuan material. Kebanyakan mereka memberi alasan bahwa itu sebagai faktor terwujudnya suatu benda dan proses kejadiannya, mereka mengatakan, "Alam lah yang mewujudkan dan menjadikan adanya benda".

Sebelumnya mari kita tanyakan pada mereka pertanyaan ini, apa yang kalian inginkan dengan alam? Apakah yang kalian maksud dengan alam itu adalah yang dipenuhi dengan berbagai habitat makhluk hidup? Atau yang kalian inginkan dengan alam tersebut adalah rangkaian zaman yang terdiri dari tahun, hukum, dan aturan, yang mengikat jagad raya? Atau opsi terakhir, bahwa yang kalian inginkan dengan alam adalah kekuatan lain yang berada diluar jagad ini, yang telah mewujudkan dan menjadikan adanya alam semesta ini? Dan bila kita merujuk, bahwa alam secara etiomologi bermakna tabiat[57]. Adapun ditinjau dari akal pemikiran manusia dewasa ini maka alam ini mempunyai beberapa pengertian, diantaranya:

Pengertian pertama: Bahwa yang dimaksud dengan alam ialah ungkapan tentang habitat makhluk hidup (yaitu alam itu sendiri), yang berisikan benda mati, tumbuhan, binatang dan lain sebagainya. Ini semua dinamakan dengan alam.

Bila dicermati, maka pengertian ini kurang komprehensif dan justifikasi yang tidak pas. Sebab, pendapat ini hampir mirip dengan pendapat pertama, yang mengatakan bahwa segala sesuatu ada dengan sendirinya, namun, diungkapkan dengan menggunakan bahasa lain. Artinya, mereka ingin membikin opini kepada publik, bahwa alam yang menciptakan alam. Langit menciptakan langit, bumi menciptakan bumi, alam menciptakan manusia dan binatang.

Hakekatnya, pendapat ini tidak keluar dari teori natural, dari segi menciptakan keberadaan dirinya, dengan penafsiran bahwa air asalnya dari air.Habitat makhluk hidup menciptakan dirinya sendiri, tak ubahnya seperti menyamakan pelaku dengan obyeknya,dalam waktu yang bersamaan menyetarakan antara pencipta dan hasil ciptaan.

Sebagaimana telah lewat penjelasannya, bahwa akal manusia menolak kalau segala sesuatu ada didunia hasil dari kreasinya sendiri tanpa campur tangan orang ketiga. Sebagaimana suatu benda tidak bisa menciptakan sesuatu yang lebih maju darinya. Sedangkan benda-benda alam, semisal langit, bumi, bintang, matahari, bulan, tidak memiliki akal, pendengaran dan penglihatan, lantas bagaimana mampu menciptakan manusia yang punya pendengaran, penglihatan dan illmu? Tentu ini tidak mungkin terjadi. Dan batilnya ucapan ini sangat jelas, yang bisa diklasifikasikan pada dua pokok:

1.         Adakalanya mengklaim bahwa seluruh benda ada dengan sendiri tanpa ada faktor dari luar.

2.         Adakalanya mengatakan kalau pencipta dan ciptaannya berada pada satu taraf. Penyebab sama dengan hasil. Tentu ini adalah perkara yang mustahil ada bentuknya, justru yang ada hanyalah bualan dan kontradiktif yang muncul disana sini yang tidak perlu lagi dikomentari secara panjang lebar.

Jika mereka menyanggah, segala sesuatu diciptakan secara tiba-tiba. Maka kita jawab, bahwa telah terbukti secara klinis tidak ada yang namanya penciptaan alam semesta secara tiba-tiba, sebagaimana akan datang penjelasannya.Diantara yang mendukung penyebaran teori ini ialah bukti klinis adanya makhluk hidup yang terlahir dari dzat tertentu. Dan diantara argumentasi yang mereka dengungkan ialah, apa yang ditemukan oleh para ilmuwan yang bergelut dengan alam, yaitu adanya cacing yang lahir dari kotoran manusia atau kotoran hewan. Yang berubah menjadi sebuah bakteri yang akan memakan makanan serta membuatnya rusak. Mereka menyatakan, "Binatang-binatang kecil tersebut lahir secara alami dengan sendirinya".

Teori ini dengan cepat menyebar dan dianggap sebagai kebangkitan bagi teori alam, dan langsung laris dan di amini oleh orang-orang yang hatinya tersesat dan tertipu, yang tentunya jauh dari petunjuk dari Allah Shubhanahu wa ta’alla. Tapi kebenaran selalu menang, tidak berapa lama kemudian teori ini dibantah kembali oleh seorang ilmuwan terkenal dari Prancis yang bernama Baster, yang berhasil menemukan bahwa cacing kecil yang terlahir dari kotoran serta adanya bakteri yang di isyaratkan dimuka, tidak murni terlahir dari alam secara sendirinya. Tapi, itu semua terjadi melalui proses pembentukan dari hasil kuman yang sangat kecil yang tidak bisa terlihat dengan mata telanjang.

Selanjutnya, dia membuktikan penelitiannya dengan bukti-bukti akurat yang semakin meyakinkan ilmuwan lain akan kebenaran penemuannya. Yaitu dengan mengambil makanan lalu ditutup, tidak terkena angin, sehingga bakteri yang ada didalamnya mati karena kepanasan. Sehingga tidak ada bakteri baru yang mampu merusak makanan tersebut. Inilah salah satu riset yang diuji cobakan kepada makanan yang tertutup rapi dengan kaleng. Maka dengan ini menjadi jelas kebatilan pengertian yang pertama tadi secara jelas dan gamblang.

Pengertian kedua: Bahwa yang dimaksud dengan alam ialah sebuah ungkapan untuk menggambarkan tentang aturan dan hukum alam. Maknanya, bahwa alam konsepnya ialah sifat-sifat dan kekhususan yang dimilik oleh makhluk hidup. Diantara sifat-sifat tersebut yaitu panas dan dingin, basah dan kering, halus dan kasar. Dan dua hal yang saling berlawanan, semisal, gerak dan diam, mati dan hidup, kawin dan lahir. Semua sifat-sifat dan dua hal yang berlawanan inilah yang dimaksud dengan alam.

Inilah penafsiran yang dikemukan oleh mereka yang mengatakan bahwa alam lah yang menciptakan dirinya sendiri, dan dianggap bahwa ini merupakan ilmu sains. Mereka mengatakan, "Sesungguhnya alam semesta ini berjalan diatas jutaan tahun dengan hukum dan akurasi aturan yang ada pada setiap partikelnya, dan seluruh kejadian yang ada terjadi sesusai dengan hukum-hukum tersebut". Lalu mereka memfisualisasikan dengan jam yang berjalan dengan akurat dan teratur sepanjang tahun, demikian pula alam, maka berjalan apa adanya dengan dzatnya tanpa ada arah tujuan tertentu.

 Sanggahan:

Pertama: Bahwa keterangan diatas bukanlah sebagai jawaban, namun, lebih tepatnya ingin lari dari jawaban. Hal tersebut, dikarenakan mereka pada hakekatnya sedang tidak menjawab pertanyaan yang sedang diajukan, yaitu siapa sih yang menciptakan alam semesta?Akan tetapi, lebih pasnya, mereka sedang menyampaikan kepada kita tentang bagaimana proses yang terjadi dialam semesta. Mereka sedang menjelaskan kepada kita bagaimana sistem kerja pada hukum yang ada di alam semesta ini. Sedangkan yang kami inginkan yaitu jawaban siapa yang menjadikan alam ini ada, dan yang menjadikan keakurasian hukum alam itu ada.

Orang purba dahulu mengira bahwa yang menurunkan hujan adalah langit. Tapi, sekarang ini kita bisa mengetahui secara detail proses terjadinya hujan turun yaitu dengan adanya penguapan air laut hingga akhirnya menjadi sebuah hujan.Dan pada realitanya, bahwa semua yang kita saksikan yang ada di alam adalah visualisasi dari fenomena alam. Bukan sebagai bentuk penafsiran bagi dzatnya. Ilmu sains tidak mengetahui bagaimana fenomena alam ini berubah menjadi sebuah hukum alam? Bagaimana pembentukan bumi dan langit ini yang sangat menakjubkan, hingga demikian bermanfaat bagi penghuninya, sampai para ilmuwan menjadikan sebagai bahan eksperiman untuk mengungkap fenomena alam ini secara ilmiah?Sesungguhnya klaim yang dikatakan oleh seorang manusia setelah berhasil mengungkap fenomena alam bahwa secara absolute sebagai bentuk penafsiran alam adalah tipuan belaka. Yang diletakan pada rangkaian hipotesa dan teori yang tidak jelas arahnya.

Kedua: Pengungkapan alam belum bisa menafsirkan sedikitpun tentang hakekat keberadaan jagad raya. Yang pada hakekatnya lafad tersebut membutuhkan penafsiran yang lebih gamblang lagi. Hal tersebut dikarenakan, jika anda bertanya kepada dokter anda, apa faktor yang menyebabkan warna merah pada darah?

Niscaya dia akan menjawab, bahwa didalam darah ada sel-sel yang berwarna merah, dan ukuran setiap sel tersebut 1/700 dari setiap butirannya. Ok, tapi tolong jelaskan kenapa sel-sel ini berwarna merah? Karena didalam sel-sel darah tersebut terdapat hormon yang bernama Hemogolobin, yaitu hormon yang memproduksi warna merah tatkala bercampur dengan Oksigen didalam hati.Cukup menarik, tapi, tolong jelaskan dari mana datangnya sel-sel darah yang membawa Hemogologin tersebut?Itu diproduksi oleh limpa yang ada dalam tubuhmu.

Luar biasa, lantas, bagaimana cara menjabarkan tentang keterkaitan benda-benda yang sangat banyak ini dalam darah, mulai adanya sel, hati serta lainnya. Satu sama lain saling menopang secara sempurna, sehingga bisa menjalankan tugas sesuai dengan kewajibannya hingga perkaranya sangat akurat? Inilah yang kami namakan dengan hukum alam.Akan tetapi, apa yang anda maksudkan dengan hukum alam tersebut, duhai dokter? Maksudnya, ialah pergerakan dari dalam, yang tidak bisa dicerna, yang dihasilkan dari kekuatan alam dan dorongan kimia.

Namun, tolong jelaskan, kenapa kekuatan ini selalu menghasilkan pada produk yang pasti bisa diketahui? Bagaimana bisa begitu teratur dan demikian rapi, hingga ada burung yang terbang diatas langit, ikan hidupnya didalam air, manusia hidup dimuka bumi, dengan segala kemungkinan yang dimiliki serta kemampuan yang begitu menakjubkan sebagai motor penggeraknya?

Ini tidak masuk kapasitas saya, maka jangan tanyakan hal ini. Sebab ilmu yang saya milik hanya berkaitan dengan apa yang terjadi, bukan untuk menjawab kenapa terjadi.

Demikianlah, dari diskusi diatas kita bisa menangkap secara jelas, akan ketidak cukupan ilmu modern untuk menjabarkan permasalahan yang berkaitan dengan faktor-faktor yang berada dibalik adanya jagad raya ini. Dan bagi orang yang mencoba mendalami ungkapan yang diberikan oleh orang yang berteori tabiat, dirinya akan mendapatkan bahwa semua hipotesa-hipotesa yang mereka buat hanyalah dibangun diatas sesuatu yang tidak jelas, disebabkan karena kebodohan mereka atau pura-pura bodoh akan pencipta hakiki.

Ketiga: Sesungguhnya prinsip penyebab adanya jagad raya telah diakui bersama antara orang-orang yang beriman dengan orang yang berpaham athies secara teori tapi dimana aplikasinya secara ilmiah?

Dan yang dimaksud dengan sababiyah disini yaitu bahwa manusia yang telah diberi karunia dengan akal pikiran, semenjak akalnya bisa berfungsi untuk berpikir dan mencerna benda-benda yang ada disekelilinya, mulai bertanya, dan senantiasa dan akan terus bertanya mulai dari pertumbuhannya, mau kemana akhir perjalanan hidupnya? Dan bertanya tentang benda-benda yang ada disekitarnya, makhluk hidup yang ada, bagaimana bisa ada? Siapa yang menjadikannya ada? Siapakah aktor utama dibalik ini semua?

Prinsip dasar ini, merupakan bagian dari prinsip kokoh yang ada pada setiap insan, yang tidak mungkin bisa tergoyahkan sepanjang masa.Dan masalah ini telah disepakati bersama antara orang-orang beriman dengan orang-orang atheis.Adapun orang-orang beriman maka mereka mengungkapkan dalam bentuk teori dan aplikasi nyata.Dan hal ini tidak membutuhkan bukti yang lebih banyak.Sedangkan orang-orang atheis maka mereka pun menyatakan hal yang sama dari segi teori, bukti akurat yang menjelaskan hal itu ialah ucapan para tokoh mereka, diantaranya:

Berkata ulama mereka yang bernama Sparkin Wyhart, "Dalam setiap aktivitas yang kita kerjakan akan senantiasa muncul sebuah pertanyaan, tentang alasan adanya benda-benda yang nampak disekeliling kita, dan pertanyaan tersebut sebagai salah satu sarana yang akan membantu untuk menjabarkan unsur yang berada didalam semua makhluk hidup yang berada disekitar kita, hingga sampai pada titik kesimpulan bahwa mereka semua ada bukan perkara yang terjadi begitu saja.

Sehingga filosof Yunani yang bernama Demokratos menulis dan membuat statmen, "Saya lebih menguatkan bahwa adanya penyebab hakiki walaupun hanya mewujudkan satu benda, hingga sekedar untuk merubah saya menjadi seorang raja di negeri Persia".Bila demikian, lalu apa maksud dari teori kita sabab (penyebab) dan natijah (hasilnya)? Ilmu pengetahuan mengajarkan kepada kita bahwa hasilnya adalah nol. Sebab, setiap benda tentu ada yang melahirkannya, inilah yang mereka namakan dengan sabab. Dan sabab inilah yang menciptakan dan memproduksi serta melahirkan benda-benda yang ada. Dan hasil produksi yang berada dibawah tali kendali sabab dinamakan dengan hasil atau pengaruh".

Inilah hipotesa umum yang dijelaskan oleh orang-orang yang berpemahaman matrealisme dan atheis, yang mereka ambil dari sisi teori, tapi, apakah mereka mengaplikasikan hasil terorinya dalam kehidupan nyata?Hal ini akan menjadi jelas tatkala kita ajukan pertanyaan –yang menjadi akar perdebatan antara orang-orang beriman dari satu sisi, dan antara paham matrealisme dengan atheis dari sisi yang lain- pertanyaan yaitu: Siapakah penyebab yang tidak terlihat dibalik adanya seluruh benda ini, mulai dari bumi, langit, tumbuhan, binatang, manusia dan lainya dari makhluk-makhluk yang ada?

Dalam pertanyaan ini, kita jumpai mereka telah mempersiapkan jawabannya secara taktis, yaitu bahwa semua perkara diatas masuk dalam kategori ilmu Metafisika yang tidak terlalu penting bagi kami untuk mengetahui satu kondisi dari kondisi-kondisi yang ada. Kita tidak mau menyibukan akal untuk masalah ini, karena percuma saja, terlalu larut didalamnya akan menghabiskan waktu. Kita bisa lihat, semua perkara yang menyelisihi teori mereka –walaupun benar- langsung ditolak, lalu mereka berlindung dengan menyembunyikan semua cacatnya lalu melegalkan sambil berdalih bahwa itu termasuk dalam kawasan ilmu Metafisika atau idealisme yang diungkapkan dalam pengertian mereka dengan melawan kodrat. Mereka tidak mengenal kecuali dunia yang berisikan materi. Dunia yang telah ada wujudnya tanpa ada yang menciptakannya, oleh sebab itu tidak ada yang namanya tokoh utama dibalik adanya seluruh benda ini.

Hal ini sebagaimana dituangkan oleh tokoh mereka, Lenin dalam tulisannya tatkala mencoba untuk mempresentasikan hipotesa tentang unsur partikel menurut filosof generasi pertama yang bernama Hipokrates, dia menerjemahkan ucapannya secara harfiah, "Dunia, satu kesatuan, yang tidak diciptakan oleh seorang tuhan, tidak pula atas turut campur seorang manusia, akan tetapi, dunia ini akan tetap ada api kehidupan abadi yang menyulut kehidupan dan padam selaras dengan hukum alam". Ini merupakan pemaparann yang sangat baik dalam penjelasan tentang teori materi".

Dalam redaksi ucapannya Lenin ini kita bisa melihat bahwa dia menafikan aktor utama yang menjadikan alam semesta yang penuh dengan material ini menjadi ada.Penafikan ini sangat gamblang dalam peraturan yang mereka tetapkan untuk kelompoknya. Tatkala mereka berhenti pada penafsiran suatu benda tertentu, mereka tidak akan berani melampaui peraturan tersebut, sebab, sekali mereka berani melampaui batasan yang telah mereka buat maka akan mengantarkan untuk mengetahui siapa pencipta alam semesta. Dengan itu, mendorong mereka untuk mengetahui agama, sedangkan hal itu sama sekali tidak di inginkan oleh mereka.

Maksud dalam penjelasan ini ialah menerangkan penafsiran yang mereka ungkapkan dalam menggambarkan pembentukan jagad raya dan isinya serta perubahan yang terjadi secara alami dan kenapa mereka enggan menafsirkan tentang hakekat alam tersebut. Itu semua dilakukan oleh mereka dalam rangka ingin lari dari peraturan sababiyah –yang terkenal dalam istilah mereka-. Sebab dengan mengaplikasikan hipotesanya akan mengantarkan mereka untuk mengenali siapa pencipta alam semesta ini. Dan hal ini, sama sekali tidak di sukai oleh mereka.

Dari sini menjadi jelas, bagaimana rapuhnya pemahaman kedua ini berkaitan dengan penafsiran alam menurut mereka. Maka tinggal tersisa bagi mereka pemahaman yang ketiga, walaupun sikap mereka dengan jelas mengingkari pengertian yang ketiga ini dikarenakan akan berdampak pada tuntutan bagi mereka untuk menetapkan keberadaan Allah Shubhanahu wa ta'ala, dan tentunya dengan penetapan ini mengharuskan mereka untuk mau beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta'alasemata tanpa menyekutukan       -Nya. Dan pemahaman yang ketiga ini, konsepnya sebagai berikut:

Pengertian ketiga: Mengatakan, "Sesungguhnya alam adalah kekuatan yang mendorong proses pembentukan jagad raya, dan kekuatan tersebut ialah yang maha hidup, mendengar, melihat, bijak, mampu".

Maka kita katakan pada mereka, "Inilah yang benar dan hak. Adapun kesalahan kalian yaitu tatkala menamakan kekuatan ini dengan kekuatan alam. Sedangkan bukti akurat menunjukan kepada kita bahwa kekuatan yang mampu untuk menjadikan sesuatu yang baru dan dapat menciptakan ialah sebuah nama yang berhak untuk menyandangnya yaitu Allah azza wa jalla. Dialah yang telah mengajari kita dengan nama-nama -Nya yang indah serta sifat-sifat -Nya yang mulia.Oleh karena itu wajib bagi kita untuk memberi nama sesuai dengan nama yang telah Dia berikan untuk dirinya sendiri".

Dalam hal ini Imam Ibnu Qoyim menjelaskan, "Seakan-akan saya mendengar engkau mengatakan duhai miskin, "Jagad raya ini semuanya termasuk hasil produksi alam". Sedangkan bila diperhatikan didalam alam tersebut dijumpai banyak sekali rahasia dan keajaibannya. Kalau seandainya Allah Shubhanahu wa ta'alamenghendaki hidayah kepadamu, niscaya engkau akan bertanya pada dirimu sendiri, dan engkau akan mengatakan, "Kabarkan padaku tentang alam ini, apakah dia benda yang berdiri sendiri yang mempunyai pengetahuan serta kemampuan pada peristiwa dan kejadian alam yang sangat menakjubkan ini? Atau bukan seperti itu yang kalian inginkan? Namun, realitanya alam ialah bentangan benda yang mempunyai sifat yang tegak bersama kepribadiannya yang selalu mengiringi dan disandang oleh benda tersebut.

Saya katakan pada anda, "Dia adalah dzat yang berdiri sendiri, yang mempunyai ilmu yang sempurna dan kemampuan, keinginan serta hikmah. Katakan padanya, Dia lah pencipta, yang maha mencipta serta menguasai. Tidak dinamakan dirinya dengan alam! Demi Allah, dengan mengamati alam semesta akan mendorong untuk mengetahui siapa penciptanya? Maka mari kita namakan pencipta tersebut sesuai dengan nama yang diberikan oleh diri -Nya melalui lisan para rasul -Nya, sehingga engkau masuk dalam barisan orang-orang cerdas dan bahagia. Karena sesungguhnya benda yang anda sifati dengan alam ini adalah sifat Allah ta'ala.

Jika ada yang berkata padamu, "Bahkan, fenoma alam ini adalah bentangan benda yang dibawa yang membutuhkan pada dzat yang membawanya. Dan ini semua dilakukan tanpa pengetahuan darinya tidak pula keinginan dan perasaan. Dan buahnya bisa disaksikan secara seksama".Katakan padanya, "Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dipercaya oleh seorang yang akalnya masih waras. Bagaimana bisa muncul fenomena-fenomena alam ini yang begitu menakjubkan serta rotasi yang begitu detail yang sangat sulit bisa diketahui oleh seorang paling jenius sekalipun, adanya kekuatan dari seseorang yang tidak mampu berbuat, tidak punya kemampuan serta perasaan. Apakah masih percaya dengan omong kosong ini, tidak ada yang percaya kecuali orang gila dan hatinya sakit".

Lalu katakan pula, "Kalau seandainya benar apa yang anda klaim, maka sebagaimana dimaklumi bahwa semisal sifat ini bukanlah dikatakan telah menciptakan dirinya sendiri serta tidak membuat kreasi baru bagi bentuknya. Sebab masih menyisakan pertanyaan, siapakah rabbnya, yang membentuknya, serta yang menciptakanya? Siapa yang menjadikan alami dan membuatnya seperti itu?Maka hal itu sebagai dalil terakurat yang menjelaskan tentang adanya penguasa alam serta yang mengurusinya, dengan kesempurnaan ilmu, hikmah serta kemampuan -Nya.Tidak ada yang membawa rasa engganmu, dengan meniadakan rabb penguasa alam yang mempunyai sifat serta mampu bertindak melainkan kenylenehanmu yang menyelisihi akal sehat dan fitrah yang selamat.

Kalau seandainya kita hukumi anda sebagai alam niscaya kita akan mendapati engkau keluar dari konsepnya. Anda berada diluar jauh dari tuntutan akal sehat, fitrah, tabiat, bahkan sebagai seorang manusia. Maka cukup hal itu sebagai bentuk kebodohan dan kesesatan yang nyata. Apa engkau ingin untuk menggunakan akal sehat, maka saya sarankan pada anda, "Tidak mungkin dijumpai hikmah yang luar biasa dibalik alam semesta ini melainkan dari Dzat yang maha bijak, maha mampu lagi mengetahui. Tidak mungkin ada keserasian yang demikian hebat melainkan dari Dzat yang maha mencipta, maha kuasa lagi menguasai serta mengetahui, apa yang di inginkan pasti mampu teralisasi. Tidak ada kata-kata sulit bagi -Nya serta tidak ada yang mampu untuk menghalangi -Nya.

Bila demikian engkau telah berada dipersimpangan jalan yang sangat jauh dari jalur yang telah ditetapkan, yang tidak ada sesembahan yang hak melainkan AllahShubhanahu wa ta'ala, tidak ada rabb yang menguasai selain diri -Nya. Maka segera tinggalkan penamaan batil dengan dalih alam atau tuntutan akal atau kewajiban dzatnya. Dia lah AllahShubhanahu wa ta'ala, maha pencipta, penguasa, yang mencipta semua makhluk, pemilik semesta alam. Yang menjadikan langit dan bumi tegak, penguasa belahan timur dan barat, yang begitu sempurna dalam mencipta serta akurat dalam ciptaan.

Lantas apa yang menyebabkan engkau ingkar terhadap nama-nama dan sifat-sifat -Nya –bahkan terhadap dzat -Nya- lantas engkau menyandarkan ciptaan dan hasil kreasi -Nya kepada selain AllahShubhanahu wa ta'ala? Sedangkan dirimu di tuntut untuk menetapkan pada -Nya, engkau diharuskan untuk mengakui ke elokan ciptaan -Nya, rububiyah -Nya, serta kekuasaan -Nya. Segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta'ala rabb semesta alam.

Bersamaan dengan itu jika anda perhatikan secara seksama dari konsepmu yaitu thabi'ah (alam) serta makna dari lafad ini, niscaya lafad tersebut akan mengantarkan dirimu untuk mengenal dzat yang maha mencipta dan menguasai, sebagaimana akal sehat juga akan mengiyakan hal tersebut.  Bagaimana tidak, sebab thabi'ah adalah kata yang berpola fa'ilah yang bermakna maf'ulah, artinya kata tersebut bermakna mathbu'ah. Dan tidak bisa dibawa pada makna lain kecuali makna ini. Dikarenakan thabi'ah dibangun diatas beberapa benda yang tersusun dari tubuh yang berada dalam anggotanya. Seperti karakter dan tabiat, insting dan watak, itulah yang menjadi pembawaan seluruh binatang.

Dan sebagaimana diketahui bahwa tabiat tanpa mempunyai pembawaan dasar adalah perkara yang mustahil. Sehingga didalam lafad thabi'ah ini menunjukan pada keberadaan Allah ta'ala, sebagaimana terkandung dalam makna yang ada dalam lafat tersebut. Kaum muslimin mengatakan, "Bahwa thabi'ah adalah makhluk diantara makhluk-makhluknya Allah Shubhanahu wa ta'alayang diciptakan dan dikuasai.Dan dia termasuk dari sunahtullah didalam ciptaan yang telah ditentukan oleh -Nya. Kemudian AllahShubhanahu wa ta'ala mengaturnya sesuai dengan kehendak -Nya. Jika Allah Shubhanahu wa ta'alamenghendaki maka bisa saja efeknya diangkat, dan bila Allah Shubhanahu wa ta'alamenghendaki bisa saja membalikkan kondisinya berlawanan dari yang semula, untuk menunjukan kepada para hamba -Nya akan kekuasaan -Nya dalam mencipta dan mengurusi, bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta'alamaha mencipta sesuai dengan kehendaknya. Sebagaimana disebutkan dalam firman -Nya:

﴿ إِنَّمَآ  أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡ‍ًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٨٢﴾ [ يس : 82]

"Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia". (QS Yaasin: 82).

Sesungguhnya thabi'ah yang berhasil diamati dari binatang semisal kelelawar menunjukan bahwa thabi'ah yang dibawa hanyalah makhluk dari makhluk-makhluk -Nya yang sama kedudukannya seperti makhluk-makhluk yang lainnya".[58]



[1].  Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 10/197-198.

[2]. Jawabul Kaafi hal: 310 oleh Ibnu Qayim.

[3]. Nuuniyah 2/283 oleh Ibnu Qayim bersama penjabarannya oleh Syaikh Muhammad Khalil Haras.

[4]. Syarh Qashidah Nuuniyah 2/283-284 oleh Syaikh Muhammad Khalil Haras.

[5]. Syarh Qashidah Nuuniyah 2/283-284 oleh Syaikh Muhammad Khalil Haras.

[6]. Ibid.

[7]. Jawabul Kaafi hal: 310-312.

[8]. Tajridu Tauhid Mufid hal: 14 oleh Imam al-Miqrizi.

[9]. Dafaatir Falsafiyah 1/32 oleh Lenin.

[10]. Lihat dalam kitabnya Stalin yang berjudul al-Maadiyah Deyalkiyah wa Maadiyah Tarikhiyah hal: 29.

[11]. Asas Madiyah hal: 29 Alih bahasa Muhammad al-Jundi.

[12]. Ushul Falsafah Marksiyah 1/206 alih bahasa oleh Sya'ban Barakat.

[13]. Sparkin dalam kitabnya Asas Maadiyah hal: 30-31.

[14]. Nushushu Mukhtar hal: 98.

[15]. Itijahaat Fikriyah al-Mu'ashirah wa Mauqif Islam minha hal: 44-45 oleh D. Jum'ah al-Khawali.

[16]. Lihat dalam kitab Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 5/538-539, dan Dar'u Ta'arudh al-Aql wa Naql 1/122.

[17]. Ibid.

[18]. Tafsir Ibnu Katsir 4/150.

[19]. Lihat keterangannya dalam kitab Itijahaat Fikriyah Mu'ashirah hal: 46-47. D. Jum'ah al-Khawali.

[20]. Lihat keterangannya dalam kitab Aqa'id Fikriyah fil Qarn I'syrin hal: 36 oleh Abbas Mahmud.

[21]. Ibid.

[22]. Asas Marksiyah Leniniyah hal: 102-103. Kumpulan Ilmuwan Uni Soviet.

[23]. Kafasyif Zuyuf hal: 487 oleh Prof Abdurahman bin Hasan al-Maidani.

[24]. Itijahaat Fikriyah hal: 181 oleh D. Jum'ah al-Khuwali.

[25]. Lihat bantahan atas mereka secara luas dalam kitab Marksiyah fii Muwajahah Diin, Haqaiq wa Watsaiq hal: 25-26 oleh D. Abdul Mu'thi Muhammad Bayumi.

[26]. Shara' ma'al Mulahidah hatta Idham hal: 105-106. D. Hasan al-Maidani.

[27]. Majmu Fatawa 13/151 Ibnu Taimiyah.

[28]. Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 18/236-237.

[29]. Lihat keterangannya dalam kitab Dar'u Ta'arudh al-Aql wa Naql 3/113.

[30]. Majmu Fatawa 18/235-236.

[31]. Seperti disinyalir oleh Allah dalam firmanNya, artinya: "Dan bertawakkal lah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya". QS al-Furqan: 58.

[32]. Sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam firmanNya, artinya: "Dan sesunguhnya telah aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali". QS Maryam: 99. Dan juga dalam firmanNya, yang artinya: "Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?". QS al-Insaan: 1.

[33]. Lihat keterangannya dalam kitab Aqidah Islamiyah wa Asasuha hal: 125-130 oleh Abdurahman bin Hasan al-Midani.

[34]. Lihat penjelasannya oleh Imam Ibnu Qayim dalam bukunya Miftah Daa'rus Saa'adah 2/62-63.

[35]. Sebagaimana dalam firman Allah ta'ala, artinya: "Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu". QS al-Furqaan: 45.

Dan juga firmanNya: "Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak? jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru". QS Ibrahim: 19.

Demikian dalam firmanNya: "Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; Maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?". QS al-Mulk: 30.

[36]. Sebagaimana kesempurnaan ciptaan Allah ini telah di isyaratkan didalam firmanNya: "Dan kamu Lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan". QS an-Naml: 88.

[37]. Seperti di sinyalir oleh Allah didalam firmanNya: "Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan". QS ar-Rahman: 26-27.

[38]. Lihat beberapa buku yang menjelaskan masalah ini, semisal: ad-Durah wa manafi'uha salmiyah hal: 14 oleh Martin Man terjemah D. Abdul Hamid Amin. Maadah Didhu Maadah hal: 17. oleh Mauris Dokke. Dan lain-lain.

[39]. Allah Yatajalla fii Ashri Ilmi hal: 27 oleh sekumpulan Ilmuwan Amerika.

[40]. Itijahaat Fikriyah Mu'ashirah hal: 128 oleh D. Jum'ah al-Khawali.

[41]. Itijahaat Fikriyah Mu'ashirah hal: 182 oleh D. Jum'ah al-Khawali.

[42]. Allah Yatajalla fii Ashri Ilmi hal: 25 oleh sekumpulan Ilmuwan Amerika.

[43]. Asas Maadiyah hal: 60-61 oleh Sparkin Yahut.

[44]. Insan wal Irtiqa' hal: 8-10 oleh John Lees.

[45]. Mauqif Islam min Nadhariyah Marks hal: 290 oleh Ahmad al-Awayisyah.

[46]. Bantahan ini banyak mengambil dari kitab Itijahaat Fikriyah Mu'ashirah hal: 182-183 oleh D. Jum'ah al-Khawali.

[47]. Kawasyif Zuyuf hal: 516-517 oleh al-Midani.

[48]. Lihat keterangannya dalam kitab Itijahaat Fikriyah Mu'ashirah hal: 182-183 oleh D. Jum'ah al-Khawali.

[49]. Lihat berita tentang kongres ini dalam kitab Qishah Tathawur hal: 11-23 oleh D.Anwar Abdul Halim.

[50]. Lihat penukilannya dalam kitab Itijahaat Fikriyah Mu'ashirah hal: 182-183 oleh D. Jum'ah al-Khawali.

[51]. Ibid.

[52]. Lihat keteranganya dalam kitab Kawasyif Zuyuuf hal: 517 oleh Al-Maidani. Shura'u ma'a Mulahidah hal: 116 oleh Abdul Halim Khafaji. Dan Hiwaar ma'a Syuyu'iyiin hal: 104-105.

[53]. Asaas Maadiyah hal: 60-61 oleh Sparkin.

[54]. Kawasyif Zuyuuf hal: 560-562 oleh Abdurahman Hasan al-Maidani.

[55]. Lihat penukilannya dalam kitab Kawasyif Zuyuuf hal: 492 oleh Abdurahman Hasan al-Maidani. 

[56]. al-Insan wal Irtiqa' hal: 8-10 oleh John Lewis.

[57]. Lihat dalam Lisanul Arab 8/118 oleh Ibnu Mandhur.

[58]. Miftah Daar Sa'adah 2/196-198 oleh Ibnu Qayim.