Keutamaan Menghapal Al-Qur`an al-Karim

Keterangan

Lupa adalah bagian dari kehidupan manusia. Banyak sekali yang kita ingat dan kita hapal di masa sekarang, namun kita sudah lupa di lain waktu. Bagaimana kalau lupa terhadap hapalan al-Qur`an? Fatwa ini menjawab pertanyaan tersebut, juga nasehat bagi setiap muslim bagaimana seharusnya dalam menghapal al-Qur`an. Untuk lebih lengkap silahkan simak fatwa ini.

Download
Kirim komentar untuk Webmaster

Deskripsi terperinci

Keutamaan Menghapal Al-Qur`an

﴿فضل حفظ القرآن الكريم﴾

] Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي

Penyusun :

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Terjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali

Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

2010 - 1431

﴿ فضل حفظ القرآن الكريم﴾

« باللغة الإندونيسية »

إفتاء:

الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز رحمه الله

ترجمة: محمد إقبال أحمد غزالي

مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو

2010 - 1431

 بسم الله الرحمن الرحيم

Keutamaan Menghapal Al-Qur`an

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Pertanyaan 1: Saya banyak menghapal ayat-ayat al-Qur`an, akan tetapi setelah beberapa waktu saya lupa. Demikian pula saat saya membaca ayat, saya tidak tahu apakah bacaan saya benar atau salah? Kemudian saya ketahui setelah itu bahwa bacaan saya salah, berilah petunjuk kepada saya, jika anda tidak keberatan.

Jawaban 1: Yang disyari'atkan bagimu, wahai saudaraku, adalah agar engkau bersungguh-sungguh menghapal yang mudah dari Kitabullah (al-Qur`an), membaca (al-Qur`an) kepada para saudara (guru-guru) yang baik, di sekolah, di rumah atau di masjid-masjid, dan engkau serius dalam hal itu sehingga mereka membetulkan bacaanmu, berdasarkan sabda Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam:

قال رسول الله e : (خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ)

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar al-Qur`an dan mengajarkannya."[1]

Sebaik-baik manusia adalah ahli al-Qur`an yang mempelajarinya dan mengajarkannya kepada orang lain serta mengamalkannya. Dan berdasarkan sabda Nabi shalallahu’alaihi wasallam:

قال رسول الله e : (أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى بُطْحَانَ فَيَأْتِي بِنَاقَتَيْنِ عَظِيْمَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ إِثْمٍ وَلَاقَطِيْعَةِ رَحِمٍ؟) فقالوا: كُلُّنَا يُحِبُّ ذَلِكَ. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَتَعَلَّمُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ عَظِيْمَتَيْنِ, وَثَلاَثٌ خَيْرٌ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِمْ مِنَ اْلإِبِلِ)

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: "Apakah seseorang kamu ingin pergi ke Buthhan lalu datang dengan dua ekor unta besar tanpa dosa dan tanpa memutuskan silaturrahim?' Mereka menjawab: 'Kami semua menghendaki hal itu. Kemudian Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: "Sungguh seseorang kamu pergi ke masjid lalu mempelajari dua ayat dari al-Qur`an lebih baik baginya dari pada dua ekor unta besar, tiga ayat lebih baik daripada tiga ekor, empat ayat lebih baik dari pada empat ekor, dan dari hitungannya dari unta."[2] Atau sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

Hadits ini menjelaskan kepada kita keutamaan mempelajari al-Qur`an yang mulia. Maka wahai saudaraku, engkau harus belajar al-Qur`an kepada guru-guru yang terkenal bagus bacaan al-Qur`annya sehingga engkau mengambil faedah dan bisa membaca dengan bacaan yang benar.

Adapun sifat lupa yang mendatangimu, maka tidak mengapa atasmu. Setiap manusia bisa lupa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam:

قال رسول الله e : (إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ)

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kamu, aku bisa lupa sebagaimana kamu lupa."[3]

Dan beliau mendengar seseorang membaca al-Qur`an lalu bersabda:

قال رسول الله e : (رَحِمَهُ اللهُ لَقَدْ أَذْكَرَنِي كَذَا وَكَذَا آيَةً أَسْقَطْتُهُنَّ مِنْ سُوْرَةِ كَذَا وَكَذَا أُنْسِيْتُهَا)

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: 'Semoga Allah subhanahuwata’ala memberi rahmat kepadanya, dia telah mengingatkan aku ayat ini dan ini yang telah saya gugurkan dari surah ini dan ini yang aku dilupakan akan dia."[4]

Maksudnya adalah bahwa manusia terkadang lupa sebagian ayat kemudian teringat kembali atau diingatkan oleh orang lain. Yang utama adalah mengucapkan (nusitu/aku dilupakan) dengan dhammah nun dan tasydid sin, atau unsitu. Berdasarkan hadits yang berbunyi:

قال رسول الله e : (لاَيَقُلْ أَحَدُكُمْ نَسِيْتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِيَ)

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: "Janganlah seseorang darimu mengatakan 'aku lupa ayat ini dan ini', tetapi ia dilupakan."[5] Maksudnya: syetan melupakan dia. Adapun hadits yang berbunyi:

قال رسول الله e : (مَنْ حَفِظَ الْقُرْآنَ ثُمَّ نَسِيَهُ لَقِيَ اللهَ وَهُوَ أَجْذَمُ)

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang hapal al-Qur`an kemudian melupakannya, niscaya ia bertemu Allah subhanahuwata’ala sedang dia terputus tangan/tidak ada berkah."[6] Ia adalah hadits dha'if (lemah) menurut para ulama, tidak tsabit dari Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam.

Lupa bukanlah pilihan (kehendak) manusia dan tidak ada yang selamat darinya. Maksudnya bahwa disyari'atkan bagimu menghapal yang mudah dari al-Qur`an, menjaga hapalan tersebut, dan membacanya dihadapan orang yang bagus bacaannya agar ia membetulkan bacaanmu. Semoga Allah subhanahuwata’ala memberi taufik kepadamu dan memudahkan urusanmu.

Syaikh Bin Baz – Majalah Dakwah – Edisi 38 hal. 133-135.

Pertanyaan 2: Apakah hukumnya orang yang hapal al-Qur`an kemudian melupakannya, apakah disiksa atasnya atau tidak?

Jawaban 2: Segala puji hanya bagi Allah subhanahuwata’ala semata, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada rasul-Nya, keluarga dan para sahabatnya. Amma ba'du: al-Qur`an al-Karim adalah firman Allah subhanahuwata’ala, ia adalah ucapan yang paling utama dan kumpulan hukum. Membacanya adalah ibadah yang melembutkan hati, menundukkan hawa nafsu, dan berbagai keutamaan lainnya yang tidak terhingga. Karena itulah Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam menyuruh menjaganya sehingga tidak dilupakan dalam hadits yang berbunyi:

قال رسول الله e : (تَعَاهَدُوْا هذَا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ اْلإِبِلِ فِى عُقُلِهَا)

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: "Jagalah (hapalan) al-Qur`an ini. Maka sungguh demi (Allah subhanahuwata’ala) yang diri Muhammad di tangan-Nya, sungguh ia lebih mudah lepas dari pada unta di ikatannya."[7]

Tidak pantas orang yang hapal al-Qur`an melupakan bacaannya dan tidak wajar ia lalai dalam menjaganya. Tetapi seharusnya ia mengatur waktu untuk menjadikan al-Qur`an sebagai wirid harian agar terbantu untuk mengingat dan menjaganya agar tidak lupa, karena mengharap pahala dan faedah dari hukum-hukumnya secara akidah dan pengamalan.

Akan tetapi siapa yang hapal sesuatu dari al-Qur`an kemudian lupa karena sibuk atau lupa, ia tidak berdosa, dan riwayat-riwayat tentang ancaman lupa terhadap hapalan al-Qur'an tidak shahih dari Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam.

Wabillahit taufiq, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Fatawa Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmu Dan Fatwa 4/64-65.

[1] HR. al-Bukhari 5027.

[2] HR. Muslim no. 803. Buthhan adalah nama lembah di Madinah al-Munawwarah.

[3] HR. al-Bukhari 401 dan Muslim 572.

[4] HR. al-Bukhari 2655 dan athrafnya di sisinya, Muslim 788. al-Hafizh berkata dalam al-Fath 11/138. Jumhur berkata: boleh saja Nabi e lupa sesuatu dari al-Qur`an setelah menyampaikannya akan tetapi tidak ditetapkan atasnya. Dan seperti ini pula boleh saja beliau lupa sesuatu yang tidak berkaitan dengan menyampaikan agama, dan ditunjukkan oleh firman Allah Y dalam surah al-A'la 6-7 yang artinya (Kami akan membacakan kepada engkau maka engkau tidak akan lupa, kecuali yang dikehendaki Allah I.)

[5] HR. al-Bukhari 5032 dan Muslim 790

[6] HR. Ahmad 5/284, 185, 323, 327, Abu Daud 1474, ad-Darimi 2/529 (3340), Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya 6/124 (29995) dan selain mereka dengan semisalnya. Ini adalah hadits dha'if dan dihasankan oleh sebagian mereka. Lihat: Majma' Zawaid (7/167), Faidhul Qadir (5/472, 473), at-Taisir Syarh Jami'ish Shaghir (2/358). Arti ajdzam adalah terputus tangan atau dalil, atau kosong dari kebaikan dan pahala.

[7] HR. al-Bukhari5033 dan Muslim 791.

Tanggapan anda