Hukum Bersih dari Nifas Sebelum 40 Hari

Keterangan

Pertanyaan yang dijawab oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah- yang berbunyi: “Apabila wanita yang nifas sudah bersih sebelum empat puluh hari, apakah ia wajib puasa dan shalat atau tidak? Apabila ia kedatangan haidh setelah itu apakah ia harus berbuka? Dan apabila ia suci yang kedua kalinya, apakah ia harus puasa dan shalat atau tidak?

Download
Kirim komentar untuk Webmaster

Deskripsi terperinci

    Hukum Bersih dari Nifas Sebelum 40 Hari

    [ Indonesia - Indonesian - إندونيسي ]

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz

    Dinukil dari Kumpulan Fatwa Untuk Wanita Di Bulan Ramadhan

    Disusun oleh : Dar al-Qasim

    Terjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali

    Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

    2012 - 1433

    حكم الطهر من النفاس قبل أربعين يوما

    « باللغة الإندونيسية »

    الشيخ عبدالعزيز بن باز

    مقتبسة من فتاوى النسائية الرمضانية

    دار القاسم

    ترجمة: محمد اقبال أحمد غزالي

    مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو

    2012 - 1433

    Hukum Bersih Dari Nifas Sebelum 40 Hari

    Pertanyaan: Apabila wanita yang nifas sudah bersih sebelum empat puluh hari, apakah ia wajib puasa dan shalat atau tidak? Apabila ia kedatangan haidh setelah itu apakah ia harus berbuka? Dan apabila ia suci yang kedua kalinya, apakah ia harus puasa dan shalat atau tidak?

    Jawaban: Apabila wanita yang nifas sudah bersih sebelum empat puluh hari, ia harus mandi, shalat dan puasa Ramadhan, dan ia sudah halal untuk suaminya. Jika darah kembali lagi padanya di masa empat puluh hari, ia harus meninggalkan shalat dan puasa, serta haram terhadap suaminya menurut pendapat para ulama yang paling shahih, dan jadilah ia dalam hukum nifas sehingga ia suci atau menyempurnakan empat puluh hari. Apabila ia suci sebelum empat puluh hari atau pas empat puluh hari, ia mandi, shalat, puasa, dan halal bagi suaminya. Dan apabila darah terus keluar setelah empat puluh hari maka itu adalah darah penyakit, dan ia tidak boleh meninggalkan shalat dan puasa karenanya, bahkan ia wajib shalat dan puasa Ramadhan serta halal bagi suaminya seperti wanita mustahadhah. Dan ia harus beristinja dan menutup (kemaluan) dengan sesuatu yang meringankan darah berupa kapas dan semisalnya, dan berwudhu dalam waktu setiap shalat, karena Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam menyuruh wanita yang istihadhah seperti itu, kecuali bila datang kepadanya waktu haidh maka ia harus meninggalkan shalat.

    Tanggapan anda