Bersalaman Dengan Wanita Ajnabi Bagi Orang Yang Puasa

Keterangan

Apa hukum menyalami wanita ajnabi yang bukan mahram atau berbicara dengannya di siang Ramadhan pada keadaan puasa. Apakah perbuatan tersebut merusak puasa atau menodainya? Kami minta beri petunjuk dan apakah ada kafaratnya?.

Download
Kirim komentar untuk Webmaster

Deskripsi terperinci

    Bersalaman Dengan Wanita Ajnabi Bagi Orang Yang Puasa

    ] Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي

    Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bâz

    Terjemah : Syafar Abu Difa

    Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

    2011 - 1432

    ﴿ حكم مصافحة الصائم للمرأة الأجنبية ﴾

    « باللغة الإندونيسية »

    الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز

    ترجمة: شفر أبو دفاع

    مراجعة: إيكو أبو زياد

    2011 - 1432

    Bersalaman Dengan Wanita Ajnabi Bagi Orang Yang Puasa

    Tanya:

    Apa hukum menyalami wanita yang bukan mahram atau berbicara dengannya di siang Ramadhan pada keadaan puasa. Apakah perbuatan tersebut merusak puasa atau menodainya? Kami minta beri petunjuk dan apakah ada kafaratnya?

    Jawab:

    Bersalaman dengan wanita yang bukan mahram tidaklah boleh. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,

    «إني لا أُصافِحُ النساء»؛ رواه أحمد والنسائي.

    “Aku tidak menyalami perempuan.” [1]

    Aisyah -radiallahu'anha- berkata,

    “Demi Allah, Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan perempuan sama sekali. Dahulu beliau membaiat para wanita hanya dengan ikrar.”[2]

    Maksudnya adalah wanita ajnabi yang bukan mahram. Adapun wanita mahram seperti saudara perempuan, bibi maka tidak mengapa menyalaminya. Mengenai berbicara dengan wanita ajnabi tidaklah mengapa, selama pembicaraan mubah, tidak mencurigakan dan mengandung syak wasangka, seperti menanyakan tentang anak-anaknya atau ayahnya atau menanyakan tentang keperluan-keperluan sebagai tetangga atau kerabat, maka tidak mengapa. Adapun jika pembicaraannya menyangkut kerusakan, zina atau tentang syahwat, memperlihatkan aurat kepadanya, maka semua itu tidak boleh.

    Jika pembicaraannya dengan menutup aurat, mengenakan hijab (jilbab), jauh dari syak wasangka dan bukan berkenaan dengan syahwat, maka tidaklah mengapa. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- berbincang dengan para wanita dan para wanita pun berbincang kepada Rasulullah. Hal itu tidaklah mengapa. Puasanya sah, tidak terganggu dengan jabat tangan dan percakapan, selama tidak sampai keluar mani karenanya. Jika keluar mani, wajib baginya mandi dan batal puasanya. Wajib baginya mengganti puasanya itu jika puasa wajib.

    Orang yang beriman wajib menghindari apa-apa yang Allah haramkan. Janganlah menyalami wanita yang tidak halal baginya dan jangan berbicara kepadanya dengan syahwat atau memperhatikan kecantikannya. Allah -subhânahu wata'âla- berfirman,

    قال الله تعالى: âقُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ ٣٠á [النور: 30]

    “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS.an-Nûr:30)

    Menjaga diri dari sebab-sebab kejelekan adalah wajib bagi setiap mukmin di manapun berada.

    Kami meminta kepada Allah untuk kami dan seluruh kaum muslimin keselamatan dan keafiatan dari segala keburukan. [Nûr ‘Ala Darb. Lihat Majmu Fatwa wa Maqolât Mutanawi’ah juz XV]

    [1] HR. Ahmad dalam Baqi Musnadul an-Shar, Hadits Umaimah bint Ruqoyyah no.26466. an-Nasai dalam al-Bai’ah bab: an-Nisâ no.4181.

    [2] HR.al-Bukhari dalam As-Syurût Bâb Mâ Yajûzu Minas Syurûti Fil Islâm no.2713. Muslim dalam al-Imarah bab: Kaifiah bai’atun Nisâ`(tata cara membaiat wanita) no.1866.

    Tanggapan anda